Review blog saya tahun 2014 ini dari WordPress

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here's an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 11,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Advertisements

2014 Saya

Kilas Balik Tahun 2014 saya

Pada awal tahun ini, saya enggak bikin resolusi secara khusus. Tapi dalam hati menetapkan beberapa target dan… bisa dibilang harapan XD Saya mendapat beberapa kejutan baik dan buruk, semacam twist kalau di buku-buku ya ^^ Ada yang bagus dan ada yang yah… bikin dada sesak. Ini dia kilas balik keseruan saya tahun ini:

Januari

Saya lagi sibuk-sibuknya sama program promosi novel Love Puzzle. Setelah sekian lama vakum menerbitkan novel. Dengan sangat tumben selama bulan ini tiba-tiba saya getol posting di blog, menceritakan behind the scene pembuatan book trailer Love Puzzle. Dan promo-promo lomba novelnya. Kegiatan yang seruuu dan melelahkan sekaligus :’)

 

Ini book trailer-nya:

 

Akhir bulan ini Evi dan saya mendapat undangan mengisi talkshow Bandung TV secara live di acara “Halo-halo Bandung” membahas tentang blogger—tepatnya komunitas Warung Blogger. Mulai dari program sampai kegiatan menulis yang bisa jadi buku, bahkan blog juga nantinya yang menjadi sarana promo bukunya.

Ada satu kejadian yang menyebalkan sewaktu dirias. Evi diriasanya lamaaa bangeet, sampe ngabisin waktu. Saya jadi keki karena tampaknya si perias enggak ngeuh kalau saya pembicara juga. Mungkin disangkanya saya cuman nganterin Evi aja. Huuuh. *nasib tampang yang enggak ngartis* Sambil menatap tajam Evi, saya misuh-misuh. Dengan keadaan hampir putus asa dan pasrah tampil seadanya, akhirnya saya dirias juga dalam waktu lima menit, tergesa-gesa dan ngasal. Rasanya kepengin banget minta ditraktir novel mahal sama Evi sebagai peredam kekesalan. Berhubung udah waktunya syuting, keinginan itu saya pendam sampai sekarang.

 

DSC_1344

 

Februari

Februari waktunya ikutan #30HariMenulisSuratCinta yang niatnya mau rajin, dan kenyataannya cuman nulis … dua surat cinta aja >.< Hadeuuh banget, kan. Dua surat itu buat Evi dan Rasi. Sayangnya yang terpilih cuman surat cinta buat Evi. Tapi syukurlah, tahun ini enggak bikin Evi marah karena dikasih giliran dibuatin surat cinta kesekian 😀

Bulan ini perjuangan menulis buku duet TwiRies yang menyiksa dan penuh drama selesai juga. Rasanya terharu banget pas ngirim surel ke editor. Berdebar-debar menunggu kelahiran bayi kami yang pertama :’)

Setelah mengonsep dan melakukan riset, saya memberanikan diri menulis novel berseting luar negeri. Dan ternyata susaaaaah. Nulis satu paragraf aja nyocokin datanya berjam-jam (err … iya iya, itu karena sambil twitteran ^^V ) Novel ini satu-satunya novel yang konsepnya baru alias enggak dari ide dan draf bertahun-tahun lalu. Biasanya saya selalu menerapkan waiting list, menuliskan draf lama-lama dulu, tapi ini pengecualian. Saya sebut novel anomali, hohoho. Sayangnyaaaa, novelnya belum juga selesai sampai akhir tahun ini. Berhubung tiga kali stuck. Sekali karena kurang bahan, dua kali karena saya kehilangan semangat menulis.

 

Maret

Rangkaian promo novel Love Puzzle selesai juga. *bernapas lega* Etapi sedih juga melepas hape-hape unyu ke para pemenang *plak!*

Dan … bulan ini teramat spesiaaaaal, karenaaaaa … Evi menikaaaaaah!!! Setelah bertualang ke mana-mana, akhirnya Evi memilih seseorang juga buat pendamping seumur hidupnya :’) Selama sebulanan sibuk bantuin Evi nyiapin pernikahannya. Sampai H-1 saya masih tenang-tenang aja, Evi jadi kesel sama saya karena ngerasa kurang berharga. Mau melepas kembaran kok kalem banget. Ehm, saya kan mikirnya ikut sangat bahagia aja. Tapi ternyata, malam sebelum pernikahan saya diserang kesedihan luar biasa. Rasanya enggak rela melepas Evi. Mau saya bawa kabur aja tapi takut dikutuk dua keluarga besar (keluarga saya dan suami Evi). Akhirnya ya sudah saya relakan Evi dengan berurai air mata.

1488024_10152110142334613_258795147_n

Evi dan Isna

1003586_10152110071874613_22739177_n

Bersama Teh Yunis

April

Bulan ini … ehm … sangat spesial juga karena saya yang menikah. *berbicara dengan nada selempeng mungkin padahal malu-malu*

Cukup membuat teman-teman dunia nyata dan maya terkaget-kaget. Karena yah, saya memang enggak pernah memperlihatkan kedekatan dengan seseorang. Jadi wajar kalau teman-teman jadi heboh, hohoho. Dan omong-omong ini pertama kalinya saya mem-publish foto nikahan saya >.<

 

DSC_4917edit

 

Tiga minggu sebelum menikah, saya terkena penyakit aneh. Selama tiga minggu terbaring sakit dan enggak jelas juga penyakitnya. Waktu itu saya pikir mungkin bakalan meninggal. Minum air aja dimuntahin lagi. Saya merasa berada di gua gelap dan panjang. Berjalan tersaruk-saruk. Mengerikan! Dan keluarga saya memberi support penuh agar saya berjuang untuk sehat, begitupun Mas Fuan yang menemani tanpa lelah. Alhamdulillah akhirnya saya sehat seperti sedia kala.

Ada kejadian lucu. Mas Fuan waktu itu bermaksud melamar saya dengan memberi kejutan. Dia dan Evi menyusun rencana jail. Ceritanya, Evi menelepon saya dengan keheranan, katanya ada paket aneh dikirim entah oleh siapa. Ayah saya yang membukanya. Ternyata … isinya tiga kaleng. Satu berisi surat ajakan kencan penuh ancaman (sungguh enggak romantis dan bikin saya takut), yang lain berisi kecoa mati (yang ternyata hanya kecoa mainan), dan satu lagi enggak berisi apa-apa. Si pengirim meminta saya datang ke Hoka-hoka Bento BIP, kalau enggak, dia bakalan bunuh diri dari atap gedung, persis kayak salah satu tokoh dalam novel saya. Dan karena takut saya enggak dateng. Anehnya, waktu itu Mas Fuan maksa banget buat nemenin saya menemui si pengirim. Dalam rencananya dia bakalan nyerahin kotak cincin untuk melamar. Apa daya, hujan turun lebat dan saya keukeuh enggak mau pergi. Gagallah rencana itu dengan meninggalkan kehebohan seantero keluarga saya—yang tentu aja bikin Evi dan Mas Fuan ngerasa bersalah, geli, sekaligus takut ketahuan. Malamnya diapun mengaku. Dan saya ngerasa gendok -___-“

DSC_5055edit

 

Sampailah pada hari H-nya, tanggal 18 April 2014 Allah meridhoi pernikahan kami. Dengan acara yang sederhana dan dihadiri oleh keluarga. Pada hari itu Teh Yunis dan Evi mengurus pernikahan saya. Buat saya mereka pahlawan saya ^^

 

DSC_4596

Sahabat-sahabat saya kebanyakan enggak bisa hadir karena tempatnya di luar kota. Lagipula saya ngasih kabarnya H-3, jadi mereka enggak sempat mempersiapkan apa-apa. Namun saya yakin mereka mendoakan kebahagiaan saya dengan tulus.

 

Mei

Mei ini juga spesial karena dua impian saya dan Evi terwujud. Pertama, buku personal literature kami terbit. Kedua, karena kami bisa main di book trailer-nya ^^ Diam-diam kami ini kepengin main film *eh* Bagian ini udah banyak dibahas di blog ini.

Pertama kali jadi salah satu pembicara di acara Jakarta Book Fair bersama para penulis Noura Books. Dan seperti biasa saya merasa konyol tiap-tiap ngomong di depan. Dapat dibayangkan muka saya yang aneh dan pembicaraan yang bikin pendengarnya memunculkan keringat besar-besar kayak di komik >.<

 

IMG_20140524_162554

 Di acara Jakarta Book Fair

 

Juni

Bulan ini pertama kalinya saya merasakan yang namanya “launching” buku. Sebelum-sebelumnya saya selalu enggak mau mengadakan acara itu. Berhubung saya orangnya pemalu dan gugupan kalau ngomong di depan banyak orang *plaaak!

Lengkapnya bisa dibaca di sini http://www.twivers.com/2014/12/launching-buku-personal-literature.html

Pertama kali ikut acara Sejuta Inspirasi Mizan. Ketemu banyak penulis keren, termasuk Orizuka, Oka Aurora, Rizka Amalia, dan teman-teman seperjuangan di Noura Books ^^

IMG_20140629_165255

Di acara Mizan Sejuta Inspirasi

Juli

Bulannya Eva-Evi, karena kami berulang tahun tanggal 17. Yeaaay! Ulang tahun ini dirayain sahabat-sahabat Evi yang sudah saya anggap sahabat sendiri—semoga enggak platonis. Hohoho, saya kecipratan kado dan kuenya ^^V Berhubung Mas Fuan anti acara ulang tahun, saya enggak dapet apa-apa dari dia XD

Dapet hadiah istimewa juga dari Luckty.

10409320_10204114485642757_5634460558311259398_n

 

Agustus

Saya pindah ke Bogor mengikuti Mas Fuan. Rasi pertama kali sekolah, dan dia sangat bersemangat. Meskipun ketinggalan, tapi dia bisa menyesuaikan diri dan menyukai sekolahnya *bernapas lega* Bulan ini untuk pertama kalinya kami merayakan ulang tahun Rasi di sekolah. Dia seneng banget dan untuk beberapa lama selalu menceritakannya ke sana-kemari XD Terus terang saya deg-degan banget mempersiapkannya, takut gagal. Alhamdulillah, meskipun sederhana tapi lancar.

10365931_10152378219477872_4293297404189795970_n

Hari pertama Rasi sekolah ^^

IMG_20140822_102524

Ulang tahun Rasi

 

September

Masih sibuk dengan serangkaian promo TwiRies. Dan mulai tersiksa dengan keadaan kembar LDR sama Evi. Sungguh, menjalin hubungan kembar jarak jauh itu … menyedihkan. Benar-benar kehilangan partner segala bidang 😥

Bulan ini dapet undangan lagi ngisi acara TV, yeay ^^ Kali ini ngebahas buku TwiRies di acara Tepas Bandung-nya I-Channel. Alhamdulillah, secara tumben kali ini saya bisa ngomong–rada–lancar XD Seru banget tapingnya. Sayangnya enggak nonton acaranya. Huaaa … huaaa …. Meskipun pasti kalau nonton saya bakalan nutup muka saking malu, hohoho.

10686999_10152424761612872_1384192437739531955_n

 

Oktober

Setelah berbulan-bulan berhenti menulis karena kehilangan gairah dan ispirasi, akhirnya di bulan ini semangat menulis muncul kembali. Kabar baiknya saya bisa menghasilkan dua cerpen, dan satu bab novel. Berkat itu, saya jadi bisa memenuhi janji menyertakan satu cerpen di antologi teman yang terlampau sabar mau menunggu berbulan-bulan buat satu cerpen yang kualitasnya patut dipertanyakan *plaak! Iya-iya-iya bukan prestasi yang membanggakan. Tapi buat saya itu udah luar biasa. Berhubung kecepatan menulis saya enggak setara sama ratusan twit yang muncul di TL. Saya memberanikan diri ikutan lomba dan hasilnya … enggak menang, hohoho.

Satu malam saya membuka email dan mendapatkan satu email yang membuat mata saya berkaca-kaca. Begini isinya:

“Dear Eva,

Nggak terasa 3 tahun sudah kita bekerja sama dan terikat dalam MoU penerbitan buku “Dunia Trisa” ya?

Sudah menginjak tahun ketiga, dan terhitung sejak 9/8/2014 kontrak penerbitan buku Dunia Trisa di Stiletto Book sudah berakhir. 3 tahun yang terlewat, jika ada kesalahan, aku pribadi mohon maaf ya, Eva.

Dan Eva akan tetap menjadi keluarga besar Stiletto Book selamanya 🙂

 

From Jogja with Love,

Dewi.”

 

Kalimat terakhir itu sukses membuat saya berlinang-linang air mata. Bagi sayapun, Stiletto Book akan menjadi keluarga selamanya. Duh-duh-duh, ini nangis lagi deh. Buat saya Stiletto sudah memberi banyak kehangatan dan semangat. Rasanya jutaan terima kasih pun enggak bisa mewakili keharuannya :’) Ini tulisan saya buat Stillo https://tamanbermaindropdeadfred.wordpress.com/2014/01/27/dear-stiletto-book-kalau-bukan-karenamu-hampir-saja-aku-berhenti-bermimpi/

 

Buat ketiga kalinya di tahun ini dapet undangan syuting acara TV. Kali ketiga ini bareng temen-temen penulis di Noura Books buat acara Coffee Break. Uhm … uhm … dengan sangat yakin saya ngerasa tampil konyol sekonyol-konyolnya. Sehabis syuting kepengin nangis dan nyungsep di balik bantal. Untung–asli ini saya ngerasa untung–enggak nonton acaranya. Yeah, tiga kali enggak nonton pas masuk TV. Gubraaag!

10678834_10152508579767872_1748661911444972842_nBersama crew TV One

 

November

Pertama kalinya Rasi dan papa mamanya ikutan acara main yang diadakan sekolah. Yeaaay! Kami main ke Ancol. Seruuu. Rasi yang pecinta petualangan itu bersemangat menonton satu wahana ke wahana lain. Kami bermain pasir di pantai. Saya bisa ngeliatin keakraban dia dengan dua sahabatnya—yang omong-omong cowok semua.

IMG_20141105_122110

 

 

IMG_20141105_091646

Pertama kalinya juga Rasi ikutan lomba mewarnai. Kami sangat bersemangat ikutannya, meskipun Rasi kalah, tapi dia dapet pengalaman seru. Pulangnya dia nangis karena enggak dapet piala, hiks. Tapi dia jadi kepengin ikutan lomba lagi dan lagi XD Setelah itu dia ikutan lomba mewarnai memakai bahan alam. Kali ini karena dia dapet piagam, meskipun kalah, Rasi tetep seneng, hohoho.

 

10359509_10152582445842872_3871616170221783909_n

Satu pagi saya membuka salah satu situs favorit: Goodreads. Saya seneeeng bangeet karena melihat buku TwiRies masuk ke longlist Anugerah Pembaca Indonesia kategori buku non fiksi. Rasanya kepengin jejingkrakan. Dengan heboh saya menelepon Evi dan mengabari editor kami. Sejak beberapa tahun, kami memang selalu mengikuti event ini. Diam-diam kami menyimpan harapan masuk nominasi API. Ternyata terwujud tahun ini. Makanya bahagia banget XD Rasanya amazing aja bisa terpilih dari banyak buku. Dalam perjalanannya menuju lima besar, kami benar-benar merasakan dukungan para pembaca. Terharuuuuu bangeeet :’) Buku yang pada awalnya enggak pede kami luncurkan, ternyata mendapat tempat di hati pembaca. Buku ini memang surprise banget!

Setelah berabad-abad enggak punya buku antologi, bulan ini akhirnya punya lagi. Judulnya Mealova. Meskipun hanya menyumbangkan satu cerpen, saya bahagia banget ❤ Apalagi satu buku sama para penulis keren.

 

Desember

Bulan penghujung yang luar biasa. Awal bulan saya dan Evi datang ke acara Indonesia Readers Festival 2014. Waktu pengumuman, meskipun tampak santai dan udah ada feeling kalah, sempet deg-degan juga XD TwiRies memang enggak menang, tapi pengalaman masuk ke lima besar ini sangat mengagumkan. Setiap langkahnya menyertakan banyak tangan dan dukungan dari pembaca, sahabat, dan penerbit. Event ini juga menjadi satu suntikan agar kami menulis karya yang jauh lebih baik :’)

 

10408585_10152611621237872_3141022287482135635_n

Bersama Evi di Indonesia Readers Festival

Desember ini saya dan Evi meluncurkan website komunitas www.twivers.com Kami memberanikan diri mengasuh komunitas, berharap semoga bisa berkarya dan memberi manfaat untuk masyarakat luas ^^ Buat yang tertarik gabung bisa langsung buka websitenya loh *Promo tiada henti* Karena mengasuh web ini saya juga jadi rajin menulis artikel lagi. Menggairahkan sekali saat kami menyusun banyak program dan mewujudkannya satu persatu.

Rasi mendapat raport pertamanya. Hasilnya cukup bagus. Sungguh saya enggak membebaninya dengan prestasi akademik, bagi saya, pelajaran pertamanya adalah menyukai sekolah. Dan dia sudah mendapat itu ^_^

 

10403400_10152636078672872_5864800083251195502_n

Ayah ulang tahun ke-64, haru sekali melihat Ayah bahagia. Ayah, cinta kami selalu memelukmu. Semoga Ayah selalu sehat dan bahagia. Ayah, terima kasih sudah menjadi ayah yang hebat untuk kami.

10487424_10152651653637872_700087014088328478_n

Penghujung tahun ini, menghabiskan dengan berkumpul dengan para sahabat. Bersyukur memiliki mereka. Semoga persahabatan kami selamanya.

 10806412_10152661433327872_7599718238548485866_nBersama Heliana Sinaga ^^

1926749_10204049254486330_6932917876506172566_n
Bersama Teh Ika ^^

10898161_10205282529852316_7649026922610604009_n

Bersama Lily yang dateng jauh-jauh dari Pontianak ^^

Tahun yang mengagumkan, meskipun sedih karena enggak menyelesaikan novel satupun. Semoga tahun depan bisa lebih produktif ^^

Ini kilas balik saya, gimana sama kamu?

Ibuku Yang Kedua

Mama Uwa

Mama Uwa dan Rasi

Sewaktu kecil, saya dan kembaran dipisahkan hingga umur 4 tahun. Seminggu sekali, saya akan dibawa untuk mengunjungi Evi agar tidak sakit. Namanya anak kembar, punya ikatan yang kuat. Kalau terlalu lama tidak dipertemukan, kami akan sakit. Setiap kali kunjungan ke rumah Uwa yang mengurus Evi, saya merasakan iri. Iya, saya tahu ini konyol. Seharusnya saya bersyukur penuh bahwa bukan sayalah yang dititipkan. Tapi mungkin itulah kepolosan dan kejujuran perasaan kanak-kanak. Saya merasa Evi dilimpahi empat cinta sekaligus. Dua dari kedua ibu, dan dua dari kedua ayah. Sementara saya hanya memiliki dua cinta.

Mungkin mulanya karena hal sederhana semacam melihat barang-barang Evi yang diberikan Papa dan Mama Uwa—sebutan untuk orangtua keduanya. Sementara tiap kali mereka pelesiran, mereka hanya membawakan satu oleh-oleh saja. Ya, wajar, tentu saja, karena anak mereka hanya satu. Sementara saat saya datang barulah Mama Uwa sadar bahwa Evi tidak sendirian. Makanya beliau akan mencarikan barang-barang lain, lungsurannya untuk saya. Saya menerimanya dalam diam, dan diam-diam juga menangis dalam hati. Salah satu kenangan yang paling melekat tentang kejadian itu adalah ketika Mama Uwa membelikan oleh-oleh kalung kayu untuk Evi. Kalung cantik itu hanya satu. Maka saya diberinya kalung leher dari batu hitam kecil-kecil. Kalau boleh terus terang, kalung hitam saya lebih cantik, tapi karena sudah tua, talinya melonggar dan tidak lagi pas dileher. Tentu saja itu membuat kecantikannya menurun lima puluh persen. Segala hal yang baru memang sering tampak jauh lebih menarik.

Lalu saya pun tumbuh besar dengan menyimpan perasaan-perasaan itu. Seringkali kurang nyaman tiap kali bertemu beliau. Sampai saya bisa berdamai dengan keadaan dan beliau yang tidak begitu membedakan lagi kasih sayangnya pada Evi dan saya. Kemudian satu hari saya keguguran, Mama Uwa membantu Mama mengurus saya dengan telaten. Begitu pula saat saya melahirkan. Proses kehamilan dan kelahiran yang berat. Setelah itupun Mama Uwa adalah orang yang saya titipi anak saya ketika saya kerja. Saya bisa merasakan kasih sayangnya yang besar pada anak saya. Mengurusnya sepenuh hati, bahkan seringkali terlampau memanjakan.

Mama Uwa adalah orangtua yang kurang tegas pada anak-anaknya, hingga dia yang telah serenta itu masih menjadi tulang punggung keluarganya. Mengurus kebutuhan anak-anak dan cucu-cucunya. Diam-diam saya memperhatikan tiap kali kami—anak-anak Mama—merayakan ulang tahun Mama, saya merasakan kesedihan yang dipendamnya. Mungkin karena beliau tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh anak-anaknya. Sebenarnya saya ikut merasakan sedihnya. Saya merasa beliau menjelma menjadi saya di masa kecil, dan Mama adalah Evinya. Mereka memang bukan anak kembar, tapi sudah seperti kesatuan. Ke manapun Mama pergi, Mama selalu mengajak kakaknya itu. Karena merasakan empati itulah, ketika kami bepergian, kami akan membelikan oleh-oleh untuk keduanya. Saya selalu melihat sorot haru tiap kali itu terjadi. Karena bagi kami, beliau sudah menjelma menjadi mama kedua.

Mungkin ucapan tidak cukup mewakili rasa terima kasih saya untuknya, tetapi dalam doa saya selalu menyebutkan nama beliau. Selamat hari Ibu, Mama Uwa dan Mama. Kedua ibu saya yang saya tahu di mana nama saya tidak pernah putus dan pupus dalam detik ingatan. Semoga kalian selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan.

 

 

10850112_769564393122860_6471991773078292761_nBanner KEB untuk Hari Ibu

Bincang Seputar Lomba Dengan Editor Diva Press Nisrina Lubis

Dalam beberapa tahun ini, banyak lomba yang diadakan oleh penerbit-penerbit. Baik itu lomba cerpen maupun lomba novel. Tentunya dengan berbagai tema dan genre. Salah satu penerbit yang rajin membuat lomba adalah Diva Press. Tertarik dengan hal itu, saya mewawancarai salah satu editor senior sekaligus pimpinan redaksi salah satu penerbitan imprint Diva Press, Mbak Nisrina Lubis yang akrab dipanggil Mbak Rina. Saya pikir selain saya, mungkin banyak orang yang ingin mengetahuinya juga. Berikut obrolan kami seputar lomba, naskah, sampai proses penjurian.

 

Saya: Mbak Rina, apa tujuan penerbit membuat lomba novel?

Mbak Rina: Lomba-lomba novel yang diadakan setiap penerbit tentunya punya goal yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Ada yang ditujukan untuk mengumpulkan beberapa naskah dengan tema tertentu dalam waktu singkat, perayaan ulang tahun penerbit, mencari bibit penulis baru berbakat, atau hanya untuk mengajak penulis traveling. DIVA pernah mengadakan lomba-lomba novel dengan tujuan-tujuan seperti itu tadi. Bisa jadi, penerbit lain pun demikian. Misalnya di lomba #ter-TEEN, redaksi mencari novel-novel remaja, di #InspiratifRomantik ditujukan untuk mengajak 3 orang penulis nonton bareng MotoGP di Sepang, #lombanoveljepang untuk mencari naskah-naskah bersetting Jepang yang punya tema-tema unik.

 

 

Mbak Rina2

Mbak Nisrina Lubis (dokumentasi milik Mbak Mbak Rina)

Saya: Kriteria apa saja yang diberlakukan untuk menjaring pemenang?

Mbak Rina: Masih berkaitan dengan jawaban sebelumnya, sebuah lomba bertujuan untuk mencari beberapa naskah berkualitas dalam waktu singkat (anggaplah masa pengerjaan 2-3 bulan). Semakin besar hadiah yang akan diberikan, maka akan semakin mudah ditebak jika kualitas naskah yang dicari akan dibebani dengan standardisasi yang makin tinggi pula. Sebelum sebuah penjurian lomba digelar, para juri (biasanya adalah para editor fiksi dan CEO DIVA) akan melakukan briefing mengenai lomba ini secara keseluruhan, tujuan apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara untuk sampai ke sana. Secara umum, penilaian akan dibagi ke dalam 2 poin besar: konten (naskah) dan editing (teknik penulisan). Konten jika diuraikan lebih dalam lagi akan menyangkut dengan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sementara editing, fokus pada kelihaian seseorang dalam menulis dan menyampaikan maksud dengan tepat, misalnya peletakan tanda kutip dalam dialog, tanda baca, huruf kapital, pembagian paragraf, pembagian paragraf, bab, dan banyak sekali.

 

Saya: Mbak, naskah seistimewa apakah yang dicari penerbit dalam perlombaan novel?

Mbak Rina: Dewan juri selalu menyebutkan “istimewa” sebagai parameter naskah pemenang lomba. Tapi seberapa istimewa? Istimewa menurut siapa? Apanya yang istimewa? Mengapa istimewa? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu berseliweran dalam benak kita. Istimewa adalah parameter yang relatif, antara satu orang dengan yang lainnya berbeda-beda, tapi sebuah naskah layak mendapatkan predikat istimewa jika dewa juri bersepakat dengan hal itu. Jika tidak mendapatkan suara mutlak, mala level naskah itu hanya sampai di tahap “potensial”, poin relatifnya bisa jadi sudah dipengaruhi subjektivitas masing-masing juri, mungkin karena sesuai dengan selera, penulisnya dikenal secara pribadi dan sebagainya. Naskah itu bagus, namun “ada tapinya”.

 

Saya: Mbak, meski relatif adakah parameter standardisasi sebuah naskah istimewa dalam lomba?

Mbak Rina: Dalam hal apa pun selalu akan ada perkembangan dan penyempurnaan, sehingga tidak ada parameter yang benar-benar baku itu sendiri. Tahun kemarin, kami memilih naskah A karena 1, 2, 3, 4, 5 dst. Tahun sekarang tentu dengan adanya #KampusFiksi-di mana kami memberikan semakin banyak materi dan pelatihan menulis dan juga silabus menulis fiksi-maka poin-poin penjurian akan bertambah banyak jadi 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, 2c dst. Kemarin kesalahan ketik masih kami beri toleransi, sekarang menjadi poin utama. Kemarin halaman kurang masih kami pertimbangkan, sekarang tidak. Banyak rahasia dapur redaksi yang sudah kami ungkap di depan peserta #KampusFiksi dan juga di media sosial kami untuk menjadi pengetahuan baru bagi teman-teman yang  ingin mengikuti lomba-lomba novel DIVA maupun menawarkan naskahnya. Kasus-kasus di lapangan yang tidak perlu terulang-ulang kembali ke depannya. Jika berkenan silakan dicatat, jika tidak pun tidak apa-apa.

 

Saya: Teman-teman, Kampus Fiksi adalah program Penerbit Diva Press grup untuk membina para penulis pemula lewat workshop. Mereka juga diberi fasilitas bimbingan oleh para editor untuk naskah yang sedang ditulis. Bulan ini juga Diva meluncurkan program Kampus Non Fiksi. Para alumni tidak dibatasi harus menulis untuk penerbit Diva Press, tetapi sangat bebas mengirim karya untuk penerbit lain.

Saya: Apa sih perbedaan naskah regular dan naskah untuk lomba dari segi kematangan naskah, Mbak?

Mbak Rina: Kita bicara tentang DIVA Press Group, tidak bisa digeneralisir ke penerbit lainnya, sumber naskah kami ada 3 jalur. Pertama adalah reguler, yaitu dengan sistem kirim naskah jadi ke redaksi kemudian dievaluasi lalu dikonfirmasi. Ini berlaku untuk naskah apa pun yang kelak diterbitkan oleh DIVA dan imprint. Jalur kedua adalah order atau pesanan. Ini adalah jalur khusus dan sifatnya internal. Kami menjalin kerja sama dengan jaringan penulis untuk mendapatkan naskah-naskah tertentu sesuai dengan momen. Novel sangat jarang menggunakan sistem ini karena untuk menghasilkan novel saja butuh waktu lama, sementara order bisa jadi lebih cepat dari itu. Terlambat naskah diselesaikan, maka lewatlah momen yang ditargetkan oleh marketing. Namun ada juga naskah order yang tidak kejar momen, artinya sifat naskah itu bisa terbit kapan pun, seperti buku pelajaran dan psikotes, panduan dan sebagainya. Jalur ketiga adalah lomba. Redaksi Fiksi (yang menghadapi naskah-naskah novel) paling sering mengadakan lomba untuk mengumpulkan naskah tematik dalam waktu singkat. Siapa pun bebas mengikutinya dan gratis. Naskah-naskah yang masuk dalam rentang waktu yang ditentukan akan “dievaluasi” namun dengan nama “penjurian”, orang-orang yang menyeleksi naskah sama dengan tim yang mengevaluasi naskah reguler yaitu para editor dan melibatkan CEO DIVA untuk tahap final alias pengambilan keputusan. Jika dalam seleksi reguler, penulis bebas mengirim naskah, berbeda dengan lomba. Naskah harus sesuai dengan ketentuan lomba sepenuhnya. Kelebihan dan kekurangan halaman bisa menjadi sebuah naskah terdiskualifikasi sejak awal, apalagi tidak sesuai dengan tema yang ditentukan dan “pelanggaran” lainnya.

 

Saya: Oh ya, Mbak, Diva sudah dua kali memutuskan tidak ada pemenang dalam lomba yang diadakannya. Mengapa bisa demikian? Apakah pihak Diva sudah mengantisipasi gelombang protes yang mungkin datang?

Mbak Rina: Dalam sebuah lomba idealnya adalah ada juara dan nominasi. Jika dalam lomba lari, yang pertama mencapai garis finish sudah mutlak menjadi pemenang, di dalam lomba novel perlakuannya tidak demikian. Sebelumnya saya ralat, sudah 3 kali DIVA mengadakan lomba yang tanpa pemenang, yaitu yang berhadiah umrah, ke Sepang, dan ke Lombok. Cukup mengherankan hal ini dan mengundang reaksi publik. Saya pun cukup panjang mendiskusikan hal ini dengan CEO, pikiran kami sejalan, pasti ada pihak yang akan sulit memahami situasi ini dan mengekspresikannya dengan cara masing-masing. Tapi kami tidak punya pilihan lain. Dalam setiap lomba, ada 5 editor (6 dengan saya) yang akan membaca naskah-naskah peserta, melakukan penilaian plus minus, merapatkannya dan mengajukan nominasu. Setiap lomba pasti ada nominasi, untuk juara nanti dulu. Dengan hadiah-hadiah yang tidak murah, rasanya tidak salah ketika kami mengharapkan naskah yang 99% matang dari sisi konten dan editing. Dan tambahan satu lagi, perbandingan dengan naskah juara tahun lalu. Jika kemudian di satu naskah masih banyak poin penjurian yang belum terpenuhi dan harus melewati revisi sampai konten, kami berpikir, mengapa naskah ini disebut juara? Demi etika, kami tidak mungkin “memperlihatkan” naskah itu kepada publik, meski itu adalah cara untuk membuktikan bahwa mencari naskah “juara” sama sekali bukan hal mudah. Kami sudah memikirkan dampak ini sejak awal, sampai yang terburuk. Kami siap. Kami memilih untuk meniadakan juara, dengan konsekuensi seperti itu, ketimbang, naskah tetap diterbitkan tanpa revisi (karena sepatutnya naskah juara adalah yang paling matang) kemudian publik melihat bahwa naskah tersebut jauh dari standar yang dimiliki DIVA, apalagi yang berekspektasi bahwa juara tahun ini jauh-jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Buah simalakama. Tapi lagi-lagi kami harus mengambil keputusan.

 

Saya: Saya pernah beberapa kali membaca tanggapan pembaca yang kecewa dengan novel pemenang lomba yang mungkin membuat pembaca menjadi kurang antusias kembali membaca dan membeli novel-novel pemenang lomba. Apakah Diva mengantisipasi hal itu sehingga menerapkan aturan dan persyaratan ketat untuk memilih pemenang lomba? Adakah kaitannya dengan marketing dan lainnya?

Mbak Rina: Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, begitu ujaran CEO DIVA. Puas atau tidak, relatif, tiap orang berbeda. Sebuah karya bebas untuk dihakimi begitu sudah sampai ke publik. Ada yang senang, ada yang kecewa, itu di luar kuasa kami. Tinggi atau tidaknya standardisasi yang kami buat dalam sebuah lomba, tidak akan berpengaruh banyak dalam mengubah opini publik. Pembaca A yang terbiasa dengan buku-buku “berat” akan menilai buku-buku “ringan” sebagai karya tidak bermutu. Itu sangat mungkin. Pembaca B yang senang dengan buku-buku populer, tidak dengan mudahnya menyukai karya-karya sastra dengan kritik sosial yang tajam. Sekarang berbicara soal marketing. Bisa dibilang, lomba-lomba novel yang diadakan DIVA tidak melulu tujuan utamanya mendapatkan omzet sebesar-besarnya. Adakalanya merupakan proyek idealis CEO yang benar-benar bertujuan mendapatkan naskah berkualitas tinggi dan penulis berbakat. Temanya bukan yang populer di pasaran. Kontribusi terhadap omzet bukan nomor 1 di sini. Kami butuh kaderisasi penulis, butuh bibit-bibit baru dengan ide-ide cerita yang gila. Maka dari itu dilakukanlah “audisi” semacam ini.

 

Saya: Ada aspirasi dari para peserta lomba yang mengharapkan Diva mencantumkan pernyataan bahwa “Kemungkinan tidak ada pemenang apabila tidak ada naskah yang memenuhi seluruh persyaratan penjurian”. Apakah pihak Diva menerima aspirasi itu dengan lapang dan akan mencantumkan pernyataan itu di lomba berikutnya? Atau tidak? Alasannya?

Mbak Rina: Bisa jadi hal itu kami pertimbangkan, meskipun kami tidak mengharapkan di lomba-lomba selanjutnya kembali kami mengeluarkan surat keputusan yang berisi bahwa kami tidak memilih juara sehingga hadiah jalan-jalan ke Sepang, umrah, dan sebagainya hangus dengan sendirinya. Kami optimis, pasti ada naskah-naskah “yang bersinar” di masa mendatang. Di sisi lain, pencantuman bahwa “kemungkinan tidak ada naskah pemenang” dalam ketentuan lomba akan memunculkan kesan, bisa saja penerbit mencari-cari alasan untuk tidak memunculkan pemenang dan peserta lomba sudah pesimis sejak awal atau beranggapan lomba ini tidak serius dan hadiahnya tidak benar-benar disediakan tapi hanya untuk sensasi belaka.

 

Saya: Baik, bisa dipahami.

Mbak, untuk seluruh naskah yang masuk, apakah Diva menjamin pengembalian haknya pada penulis dan pihak Diva tidak akan menyalahgunakan naskah itu? Penyalahgunaan di sini maksudnya idenya diambil, atau naskah diterbitkan tanpa sepengetahuan penulis.

Mbak Rina: Semua naskah yang tidak diterbitkan, kami serahkan kembali ke penulis untuk ditawarkan ke penerbit lain, tidak ada masalah. naskah yang kami terbitkan hanyalah yang sudah ada surat perjanjian terbit (MoU) kedua belah pihak dengan ikatan hukum yang kuat (bermaterai) itu pun untuk jangka waktu tertentu. Sama sekali tidak ada keuntungan yang kami dapatkan dengan menerbitkan naskah tanpa sepengetahuan penulisnya, malah itu akan sangat merugikan kami dalam hal branding. Tidak perlu khawatir naskah-atau bahkan ide-itu akan kami ambil dengan semena-mena. Tentu tidak, kami memastikan itu.

 

Mbak Rina1

Mbak Nisrina Lubis saat menjadi pembicara di Kampus Fiksi (Dokumentasi Mbak Rina)

 

 

Saya: Diva beberapa waktu ini hanya menerima naskah fiksi dari Kampus Fiksi saja, kenapa?

Mbak Rina: #KampusFiksi merupakan sebuah proyek idealis CEO untuk para penulis pemula. Sudah setahun lebih berjalan dan sudah 200 lebih alumni hingga angkatan 10. Tagline #KampusFiksi adalah membimbingmu jadi novelis, ada fasilitas bimbingan khusus yang kami sediakan untuk para alumni. Tagline ini hanya akan jadi omong besar belaka jika tidak ada pembuktian. Ada slot khusus untuk karya mereka-mereka ini diterbitkan. Jika pintu penerimaan naskah fiksi kami tutup setahun lebih, para alumni punya privilege, boleh tetap mengirimkan karya kapan saja. Tentu saja, tidak semua naskah dari alumni otomatis kami terbitkan. Semua naskah harus melalui jalur evaluasi, ada yang diterima ada yang ditolak. Jumlahnya sangat sedikit. Hanya saja, terlihat banyak karena dari 5 novel terbit 3-4 naskah adalah karya alumni #KampusFiksi. Untuk non-alumni, tidak kami buka dulu karena cadangan naskah fiksi kami terlalu banyak dengan masa antrean sampai 3 tahun. Tidak terbayang jika terus kami buka jalur itu maka antrean itu tidak akan ada habisnya, bahkan naskah-naskah nominasi lomba pun juga ada yang mengantre hampir 1 tahun lamanya.

 

Saya: Bagaimana langkah-langkah Diva meningkatkan kualitas buku-buku yang diterbitkan?

Mbak Rina: Buku adalah benda mati, penulis adalah yang paling mungkin kami dekati untuk meningkatkan kualitas produk. Kami memulainya dengan menetapkan standardisasi internal, dari tahap editor. Dimulai dari penyeragaman cara pandang atas sebuah naskah, yang bagus itu aspeknya mencakup apa saja. Batasan sebuah naskah bermasalah itu apa saja. Naskah perlu direvisi itu atas alasan apa saja. Kemudian setelah mendapatkan cara pandang yang sama, maka dilanjutkan dengan aplikasi di lapangan. Melihat kondisi yang ada, melihat tren masa kini, menciptakan apa yang belum ada. Kami punya catatan tersendiri, naskah-naskah siapa saja yang berkualitas dan mana yang tidak. Secara marketing, kami menganalisis buku-buku mana saja yang laris dan mana yang sama sekali potensi pasarnya rendah. Penulis-penulis yang memang sudah punya gaya sendiri tentu tidak akan kami usik atau ubah semaunya. Biarkan dia berada di jalurnya. Untuk penulis-penulis yang masih mencari jati diri, sebisa mungkin kami rangkul untuk bisa berkembang dalam karya-karyanya.

 

Saya: Diva memiliki grup resensor, kan. Saya perhatikan Diva benar-benar membebaskan para resensor untuk memberikan review-nya, tidak ada unsur tekanan untuk memberikan rating dan review bagus. Mengapa? Bukankah adanya review-review ini untuk meningkatkan gaung karya-karya Diva? Kalau hasil resensinya tidak begitu baik, apa tidak khawatir buku-buku Diva justru jadi kurang diminati pembaca?

Mbak Rina: Kami sangat terbantu dengan adanya resensor, karena hasil pekerjaan mereka jauh lebih baik dari ekspektasi kami sebenarnya, jujur saja. Kami tidak mengenal mereka sama sekali dan mempertaruhkan nama baik produk yang kami akan pasarkan. Sempat kami menimbang-nimbang, apakah harus ada pembatasan dalam ulasan yang mereka berikan nantinya karena itu ditulis di blog dan siapa pun bisa membaca, apakah harus isinya memuji-muji belaka dan menyembunyikan kekurangan. Tapi itu sama sekali tidak menantang. Masukan mereka sangat jitu mengubah kami untuk lebih memperhatikan produk tidak hanya isi, tapi sampai ke tata letak dan kemasan. Merekalah yang mencambuk kami untuk lebih peka terhadap cacat logika yang kemudian kami aplikasikan ke seluruh aspek. Kami sangat berterima kasih pada 7 resensor yang begitu baik hati dan menyayangi kami selama ini. Soal nantinya buku itu laku atau tidak, bukanlah semata-mata karena mereka, tapi penilaian publik yang telah membaca sendiri.

 

Terima kasih atas obrolan panjangnya, Mbak Rina ^^

Mbak Rina: Sama-sama ^^

 

Teman-teman, semoga informasi-informasi di atas bisa bermanfaat, dan menambah pengetahuan untuk hal-hal yang belum begitu kita ketahui.