Selayang Pandang Mengenai Pentingnya Melestarikan Aksara dan Bahasa Nusantara

Selayang Pandang Mengenai Pentingnya Melestarikan Aksara dan Bahasa Nusantara
Sumber gambar merajutindonesia.id

‘Menjadi turis di negeri sendiri’ tampaknya kalimat yang tepat untuk saya sematkan pada diri sendiri. Meski mengaku mencintai bangsa ini, hampir tak ada usaha untuk mengenal lebih dalam jati dirinya. Katakanlah, dulu, saya pernah turut berkecimpung dalam ‘ngamumule’ budaya Sunda lewat kegiatan kesenian. Namun, apa yang saya lakukan hanya berkutat di kulit luar. Jangankan paham esensi yang terkandung dalam budayanya, mau menggali saja tidak. Bahkan, pernah ada masa, saya merasa sebal pada isu-isu kearifan lokal. Apa-apa kearifan lokal, seolah budaya urban tak memiliki nilai adiluhung. Bagi saya waktu itu, segala tentang kearifan lokal hanyalah glorifikasi yang berlebihan. Bukan saya menganggap kearifan lokal kampungan, masalahnya ada pada ‘ketertarikan’. Saya lebih tertarik pada mitologi Yunani atau peninggalan Mesir. Bisa jadi, ketertarikan itu datang dari bacaan dan tontonan Barat yang kemasannya berhasil membuat saya terkesan.

Hingga suatu hari saya mendapat pekerjaan mentranskrip diskusi-diskusi budaya. Saya tergelitik pada beragam pembahasan mereka. Terdapat banyak ilmu pengetahuan yang terasa asing, padahal akarnya ada di tanah sendiri. Hasil dari cita, cipta, karsa, rasa, dan karya leluhur sendiri. Setelah itu, rasa penasaran membawa saya pada pencarian-pencarian. Kebudayaan memiliki konsep gunung es, apa yang terlihat di luar hanya sebagian kecilnya saja. Terbukalah mata saya, bahwa wawasan kearifan lokal bukan sesuatu yang mengawang-awang, tapi menyentuh ranah keseharian. Sangat membumi, dan sesuai diaplikasikan di tanah ini. Jauh dari sekadar glorifikasi sejarah kejayaan masa lampau.


Kesenjangan yang terlampau jauh dengan budayanya mengakibatkan sulitnya menumbuhkan regenerasi. Tentu munculnya kesenjangan ini tidak terjadi sekonyong-konyong. Ada proses gradasi. Mungkin, salah satu solusinya adalah menanamkan kesadaran pentingnya melestarikan 7 unsur kebudayaan: Bahasa dan aksara, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian.
Ketika memperhatikan geliat pegiat budaya saat ini, terutama riak-riak usaha pelestarian dari kaum muda, tampaknya saya tetap bisa optimis, bahwa budaya Nusantara tak akan punah. Ekosistem usaha pelestariannya pun inovatif, seperti pemanfaatan ruang-ruang virtual. Kalau kata orang Sunda ‘ngigelan jaman’. Sekarang kita sudah tak lagi aneh melihat tutorial belajar tarian atau menulis aksara Nusantara di berbagai media sosial. Kemasannya pun jauh dari usang. Contohnya acara daring ‘Bincang MIMDAN #1’ yang diinisiasi Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI)—lewat program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN)—bekerja sama dengan Writing Traditional Project bertajuk “Aksara-Aksara di Nusantara Seri Ensiklopedia”. Menariknya lagi, Ridwan Maulana sebagai narasumber adalah generasi muda yang berkat keingintahuan tinggi pada aksara Nusantara, berhasil membukukan hasil risetnya bertahun-tahun.


Usaha kedua wadah tersebut dalam mendigitalisasi maupun membukukan aksara Nusantara patut diapresiasi. Bagaimanapun dunia sepakat bahwa zaman ‘sejarah’ ditandai dengan munculnya aksara. Sistem pendokumentasian berupa tulisan. Kehadiran aksara memiliki arti krusial dalam suatu peradaban.


‘Bincang MIMDAN #1’ ini membuat saya tergelitik, apalagi ketika pembicara dan pemandu–Evi Sri Rezeki–mendiskusikan jawaban dari pertanyaan salah satu peserta, “Penting nggak, sih, kita mempelajari aksara Nusantara?” Pertanyaan itu tampak remeh, tapi justru menyentuh esensi. Pemikiran itu wajar adanya. Tampaknya, persoalan sulitnya regenerasi penutur bahasa dan pemakai aksara Nusantara bukan hanya terletak pada ‘tertarik atau tidaknya’, tapi kurangnya pemahaman pentingnya mempelajari bahasa dan aksara daerah. Benar adanya bahwa aksara-aksara Nusantara merupakan kekayaan intelektual bangsa ini, tapi apakah dengan melestarikannya memengaruhi kehidupan keseharian? Memengaruhi perekonomian, misalnya.


Kita boleh berharap, akan bermunculan generasi muda seperti Ridwan Maulana lainnya. Namun, kita tetap harus mengedukasi masyarakat mengenai betapa pentingnya aksara dan Bahasa daerah, agar tergerak menjadi bagian pelestarian itu.


Untuk menjawab pertanyaan tadi, menurut saya, setidaknya ada beberapa tujuan pelestarian aksara dan bahasa Nusantara:

  1. Bahasa dan aksara daerah merupakan pintu gerbang memahami ilmu pengetahuan leluhur.
    Leluhur kita mendokumentasikan ilmu pengetahuannya dalam bentuk kitab, kidung, prasasti, dan lainnya. Pengetahuan-pengetahuan itu sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita dapat menggali dan lebih jauh lagi menguasai ilmu tersebut apabila tidak mengerti bahasa dan aksaranya? Seringkali kita mendengar stigma bahwa wawasan leluhur, pranata mangsa, misalnya, sebagai pseudosains. Bagaimana membuktikan sesuatu dari ilmu semu menjadi ilmu pengetahuan yang sesuai kaidah ilmiah bila membacanya saja kita tidak mampu. Ketika kita memahami teks dan konteks yang disampaikan leluhur, kita dapat mengembangkannya pengetahuan-pengetahuan tersebut untuk kemajuan segala aspek kehidupan.
  2. Memperjuangkan suara masyarakat termarginalkan.
    Tak dapat dipungkiri, masyarakat adat merupakan kaum termarginalkan. Sistem kebudayaan mereka tidak kita pahami, sehingga seringkali mengecap mereka sebagai masyarakat primitif. Hal itu dapat dijembatani lewat pemahaman terhadap bahasa dan aksaranya, sehingga kita dapat menghapuskan ketidakadilan dan diskredit terhadap mereka, bukan sekadar menjadikan mereka sekadar objek wisata.
  3. Eksistensi dan jati diri sebuah bangsa.
    Meski Indonesia kaya akan rempah dan mineral, masyarakat dunia lebih mengenal Bali. Karena Bali masih menjujung tinggi budayanya. Keunikan inilah yang menjadikan Bali eksis di mata dunia. Bukti bahwa tidak menanggalkan jati diri justru membuat suatu bangsa diakui dunia. Menurut saya, eksistensi dan jati diri juga sangat terkait dengan mental suatu bangsa. Bangsa yang menggenggam jati dirinya, akan lebih produktif dan berdaulat.

Setelah mengikuti Bincang MIMDAN tempo hari, yang mematik kegelisahan positif, saya sangat menunggu-nunggu acara serupa. Saya berharap, kegiatan-kegiatan semacam itu menghapus atau minimal mengikis anggapan kuno dan tak faktual pada aksara dan bahasa Nusantara. Nah, bila kamu tertarik mempelajari bahasa dan aksara Nusantara, kamu bisa mengawalinya dengan membaca beragam informasi di media sosial dan laman merajutindonesia.id

Kepunahan satu bahasa dan aksara turut mengubur wawasan, keahlian, dan kebijakan yang hanya dapat dibuka oleh kunci tersebut.

Bandung, 2021

Eva Sri Rahayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s