Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Saat kecil, saya selalu serem tiap mendengar kata tumor. Buat saya yang masih polos itu, tumor berarti kanker. Belum lagi terbayang pemandangan para pasien tumor yang ditayangkan di TV, bikin hati ini terenyuh. Ternyata tumor dan kanker berbeda. Saya enggak pernah menyangka bahwa ketika dewasa saya terkena tumor, bahkan dua kali, di tempat yang berbeda.

Begini ceritanya….

Tahun 2016 lalu saya terkena kista ginjal. Ceritanya bisa dibaca di “Kista Ginjal Mengantarkan Saya Pada Salah Satu Momen Luar Biasa Dalam Hidup”. Operasinya dilakukan pada Bulan Mei. Saya percaya ini bukan kebetulan ketika Allah menghendaki saya menjalankan operasi lagi di bulan yang sama, tepat setahun kemudian. Pasti ada tujuan Allah membuat timing seperti itu. Kali ini, saya terkena tumor yang tumbuh di mata.

Tentang Tumor

Intinya sih kata dokter tumor itu adanya ‘benjolan’ di mana pun letaknya. Saya baru tahu kalau ‘semua’ benjolan itu tumor. Termasuk kista. Tumor jenisnya banyak, tapi secara umum sih dibagi ke dalam tumor jinak dan tumor ganas. Nah, tumor jinak dibagi-bagi lagi.

Dari artikel yang saya baca, tumor secara medis diartikan sebagai berikut:

Penyakit tumor secara medis adalah terbentuknya sebuah neoplasma yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak wajar. Dan beberapa sel yang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat akan mengakibatkan sebuah benjolan pada permukaan organ tertentu.

Sumber: penyakittumorjinak.blogspot.co.id

Seperti yang sudah saya ceritakan di “Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit”, benjolan di mata ini tidak serta merta langsung besar. Beberapa tahun sebelumnya, muncul benjolan kecil. Benjolan itu karena tidak sakit, merah, atau pun membesar, saya biarkan saja. Hingga di tahun 2017 benjolan itu mulai membesar, lambat tapi pasti. Sampai suatu pagi benjolan itu tumbuh menyerupai jerawat batu. Besar, merah, dan sakit. Sebagai orang yang panikan dan penakut sekaligus, waktu melihat itu saya pun saya langsung berpikir yang bukan-bukan. Daripada kecemasan saya makin meliar, saya lalu memeriksakannya ke Puskesmas. Dokter Puskesmas langsung memberi rujukan ke rumah sakit. Kemudian oleh dokter pertama, saya diberi obat tetes mata dan salep. Dicoba untuk rawat jalan dulu. Sambil beliau merekomendasikan saya dokter temannya yang biasa melakukan ‘tindakan’. Saya diminta datang seminggu kemudian.

Lipoma di mata saya dulu waktu masih kecil, kelihatan tapi tidak kentara

Namun rupanya benjolan itu malah makin menjadi. Tidak menunggu sampai seminggu, saya sudah memeriksakan mata lagi. Masih di RS yang sama, tapi saya mendatangi dokter kedua yang direkomendasikan itu. Dokter kedua memijit-mijit benjolannya, lalu katanya, “Ini sih bukan cairan, tapi daging. Enggak bisa dikasih tindakan biasa.” Saya tanyakan jenis penyakitnya, tapi dokter menjawab belum tahu. Dokter lalu memberi saya obat salep yang baru. Salep ini memiliki kandung berbeda dari sebelumnya. Dokter meminta saya datang seminggu atau lima hari lagi. Tapi kalau benjolannya hilang, saya tak perlu datang lagi. Begitu kata beliau.

Waktu itu saya berharap sepenuh hati agar salepnya berhasil membuat benjolannya kempes, tapi nihil. Benjolannya terus saja bertumbuh sampai hampir sebesar kelereng. Kecemasan dalam diri saya makin tak terbendung. Saya menjadi kian sulit tidur dan rasanya stres berat. Apalagi benjolannya gatal sekali. Tiga hari kemudian saya datang lagi. Saya masih ingat bagaimana wajah khawatir dokter ketika memeriksa saya.

“Benjolannya diangkat saja ya. Saya beri rujukan ke RS Cicendo,” ucap beliau.

“Dok, apa enggak bisa dioperasi di sini saja?” tanya saya.

“Bisa saja. Tapi kalau ada apa-apa, kalau… misalnya ternyata tumor ganas atau apa, tetap saja nanti akan dirujuk ke sana, karena di sana ada dokter spesialisnya,” jawab dokter dengan nada hati-hati.

Dokter bilang saya tak usah lagi meneruskan memakai salep yang beliau beri karena tidak memberi efek apa-apa. Tapi saya tetap memakainya sekadar untuk menenangkan hati bahwa benjolan saya sedang diobati. Lagipula saya masih merawat harapan adanya keajaiban seandainya ketika saya bercermin keesokan harinya, saya akan melihat mata saya telah sembuh. Sayangnya itu tidak terjadi.

Tidak membuang waktu, besoknya saya langsung ke RS Cicendo. Dokter yang menangani saya langsung memberi putusan untuk operasi. Saya bertanya lagi sebenarnya di mata saya ada penyakit apa?

“Kami belum tahu, nanti kita cek di lab setelah diangkat. Ini jelas bukan kista karena bukan cairan. Letaknya juga tidak lazim.”

Karena dokter khawatir benjolannya akan pecah saat operasi, maka saya akan dibius umum atau bius total. Untuk itu, saya harus menjalani serangkaian pemeriksaan.

Persiapan Operasi

Seperti mengalami deja vu, saya melakukan serangkaian pemeriksaan yang pernah saya lakukan tahun lalu. Yaitu pengecekan paru-paru, tes urine, tes darah, dan tes denyut jantung (elektrogram). Alhamdulillah hasilnya baik semua.

Selanjutnya hasil berbagai tes itu harus diserahkan pada dokter mata yang langsung memberi saya jadwal operasi besoknya. Artinya, hari itu saya mesti menginap di RS untuk persiapan. Terus terang saja secara psikologis saya sama sekali tidak siap. Rasa takut mencengkeram erat. Tapi saya kuatkan diri, toh besok atau minggu depan saya tetap harus menghadapi hari operasi. Lalu saya diminta menemui dokter ahli penyakit dalam dan dokter anestesi untuk mendapatkan acc. Tentunya berbekal seluruh hasil tes. Saat bertemu dokter penyakit dalam bernama Maria, saya ceritakan ketakutan saya. Dengan senyum lembut keibuan beliau berkata, “Saya buang takutnya ya,” sambil beliau seperti mencerabut sesuatu dari tubuh saya. Saya tahu itu sekadar sugesti saja, tapi entah bagaimana saya merasa sedikit tenang.

Oh iya, sekadar info mungkin ada yang belum tahu, dokter anestesi itu dokter yang membius pasien saat operasi. Supaya lebih mengerti, saya kutip penjelasan tentang dokter anestesi berikut ini:

Dokter anestesi merupakan dokter spesialis yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi kepada pasien yang hendak menjalani prosedur bedah atau operasi. Selain memastikan agar pasiennya mati rasa, dokter anestesi juga memantau manajemen rasa sakit dan perawatan intensif pasien
Dokter spesialis ini tak hanya membuat pasien menjadi tidak sadar seluruhnya, mati rasa hanya di sebagian tubuh, atau memberi obat penenang untuk menghilangkan rasa nyeri dan kecemasan pasien. Dia juga memantau secara terus-menerus dan mempertahankan fungsi kritis hidup pasien ketika pasien menjalani seluruh rangkaian prosedur medis bedah, bedah kandungan, atau prosedur lainnya.

Setelah mendapat persetujuan dari kedua dokter, saya mengurus administrasi rawat inap. Sayangnya karena sudah terlalu sore, tidak ada kamar kelas 3 yang tersedia. Sempat terbesit untuk naik ke kelas 2 saja meskipun harus menambah biaya. Namun dipikir-pikir lagi, sesudah operasi biasanya masih butuh banyak biaya untuk pemulihan dan perawatan. Hasil dari konsultasi dengan kakak dan adik saya yaitu Teh Yunis, Teh Ika, dan Evi pun semua sepakat agar saya tak usah naik kelas. Maka saya pun tidak jadi mengajukan kenaikan kelas. Eh, ini kesannya kayak sekolah ya 😀 Bagian administrasi menganjurkan saya untuk menunggu dulu sampai jam 5 sore. Akhirnya saya mendapat kamar juga, tapi masalah lain muncul. Bulan lalu memang saya terlambat membayar BPJS, akibatnya untuk pemakaian operasi dan rawat inap, harus diurus dulu ke kantor pusat. Kalau itu dibilang kesialan, saya malah merasa itu keberuntungan. Karenanya saya malah lega mendengar bahwa operasinya mesti diundur. Memang psikologi saya waktu itu nge-drop sekali.

Besoknya Prajurit Rumput mewakili saya ke RS untuk mengurus penjadwalan ulang operasi dan pergi ke kantor BPJS pusat. Jadwal operasinya diubah ke hari Selasa. Maka pada Senin siang, saya mulai rawat inap. Sebelum masuk ke ruangan yang terdiri dari 10 tempat tidur, seorang suster menjelaskan secara terperinci tentang persiapan operasi yang harus dilakukan. Salah satunya adalah saya diminta untuk keramas dan mandi sore itu. Memang tahun lalu sebelum operasi kista ginjal, saya menyengajakan diri keramas dulu di rumah untuk antisipasi bahwa akan agak lama dari operasi saya bisa keramas lagi, belajar dari pengalaman waktu operasi caesar sebelumnya. Namun saya tidak menyangka bahwa sebelum operasi mata, semua pasien memang diharuskan keramas dulu. Tujuannya adalah karena saat memasuki ruang operasi kondisi pasien dalam keadaan bersih dan steril. Ditakutkan kuman di rambut yang letaknya begitu dekat dengan mata akan masuk saat operasi.

“Jangan khawatir kedinginan, ada air hangat kok di kamar mandi,” ujar Suster.

Sebenarnya saya agak khawatir dengan kondisi fisik yang sepertinya akan terkena flu. Soalnya hidung agak tersumbat. Takutnya gara-gara itu operasinya diundur lagi. Kali ini saya ingin segera melaluinya, tidak ingin terus-terusan merasa takut. Setelah keramas dan mandi, saya banyak makan, baru saat rambut kering saya tidur supaya fit. Malamnya saya disuruh puasa dari jam 2 dini hari. Untungnya saya kebangun untuk sahur. Padahal saya tidak menyetel alarm. Paginya dokter mengecek keadaan saya. Beliau bilang operasi sekitar jam 9 pagi, saya akan dipanggil sekitar setengah jam sebelumnya. Sambil menunggu waktu itu, saya tidur lagi dengan alasan tetap menjaga kondisi kesehatan. Saya bangun dengan kaget karena sudah dipanggil suster untuk naik ke ruang tunggu operasi. Jadinya saya hanya sempat cuci muka alakadarnya.

Untuk prosedur rawat inap dan operasi memakai BPJS akan saya bahas di postingan terpisah.

Operasi Mata

Dulu saya suka heran dengan operasi katarak masal. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin melakukan operasi langsung berjamaah begitu dan sesudahnya pasien bisa pulang hari itu juga. Soalnya sepengalaman saya, dua kali operasi, saya baru bisa jalan setelah beberapa hari. Rupanya memang operasi mata itu berbeda.

Setelah saya berganti baju dengan pakaian khusus operasi, seorang suster memberi infus. Infusnya akan dijalankan sesudah operasi nanti. Kemudian saya diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Di sana ada banyak pasien menunggu giliran dipanggil. Operasinya macam-macam, ada yang retina, katarak, dan lainnya. Kami bertukar cerita dan saling mendoakan. Saya sedikit nge-drop lagi karena ada salah satu pasien yang membicarakan tentang kematian. Rasanya kepengin bilang, “Pak, kalau bisa di ruang tunggu operasi topiknya yang menyenangkan saja.” Dua jam kemudian nama saya dipanggil.

Saya berjalan melewati satu ruang lainnya. Rupanya memang ada banyak ruang operasi di RS itu. Udara ruang operasi sangat dingin, tapi bukan itu yang membuat saya menggigil, lebih karena takut. Saya menahan diri untuk tidak melihat-lihat peralatan medis di sana supaya tidak tambah takut. Mungkin saya memang terlalu berlebihan, karena kalau melihat pasien lain sih tampak tenang-tenang saja. Untunglah tidak lama dari situ saya dibius hingga tidak sadarkan diri.

Pasca Operasi

Saya terbangun dengan cepat, saat melihat sekitar, saya berada di ruang tunggu operasi. Rasa sakit langsung menerpa mata kiri saya yang sudah berhasil dioperasi. Saya lalu dibawa ke ruangan. Sakit di mata bertahan seharian. Namun selain sakit di area mata dan tubuh lemas, selebihnya saya bisa duduk dan mengobrol dengan normal. Satu jam sesudahnya saya malah sudah bisa ke kamar mandi. Karena saya dibius total, maka saya harus puasa lagi selama tiga jam. Setelah 3 jam saya boleh minum sesedok air per lima menit. Kalau tidak muntah dan mual, saya boleh makan. Rupanya saya tidak kehilangan selera makan sama sekali, meskipun sambil menahan sakit, sambil disuapi Evi (kembaran saya) sepiring nasi plus roti tandas tak bersisa.

Mata kiri saya yang diperpan penuh dibuka malam harinya. Suster tidak memasangkan perban penuh lagi, hanya di area luka saja. Meskipun bisa melihat normal, mata saya menjadi bengkak beberapa hari. Ini normal saja katanya. Suster juga membuka infusan yang sudah habis. Beda dengan operasi terdahulu, untuk operasi mata, infusan cukup diberikan satu labu saja. Katanya untuk menjaga cairan tubuh saat puasa.

Besoknya dokter yang mengecek keadaan mata saya mengatakan bahwa saya sudah boleh pulang hari itu. Alhamdulillah. Bekas operasinya pun tidak begitu sakit lagi, hanya sesekali saja terasa nyerinya. Saya dibekali salep dan dua macam obat untuk diminum tiap hari. Mata kiri saya tidak boleh dulu kena air selama seminggu supaya jahitannya kering.

Selama sebulan pakai perban. Perbannya kegedean jadi kesannya yang luka jidatnya ya. Jahitannya padahal kecil di dekat alis.

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Satu minggu di rumah saya berusaha setelaten mungkin merawat luka bekas operasi, mengganti kain kasanya dua kali sehari, memakaikan salep, dan minum obat secara teratur. Sampai hari kedelapan saya kontrol sekalian membuka jahitan.

Terus terang saja, saya deg-degan menunggu hasil pengecekan lab. Takut ini itu. Alhamdulillah ternyata tumor di mata saya itu jenis lipoma yang merupakan tumor jinak. Memang menurut dokter tidak tertutup kemungkinan akan muncul lagi. Namun kebanyakan kasus lipoma tidak muncul lagi.

Tentang Lipoma

Lipoma itu benjolan lemak yang tumbuh di kulit dan lapisan otot. Sifatnya tidak berbahaya, karena tidak sakit dan pertumbuhannya lambat. Sebenarnya Lipoma seringnya muncul di area punggung, paha, leher, lengan, perut, atau bahu. Meskipun bisa tumbuh di mana saja. Memang kan, nyata pada kasus saya muncul di kelopak mata.

Lebih jelasnya saya kutip penjelasan dari artikel berikut:

Lipoma biasanya memiliki diameter 1-3 cm. Lipoma dapat tumbuh dan menjadi lebih besar, namun umumnya diameternya tidak lebih dari 5 cm. Jika ditekan menggunakan jari, Lipoma akan mudah bergerak, serta terasa lembek seperti karet. Jika lipoma tumbuh makin besar dan mengandung banyak pembuluh darah atau menekan saraf di sekitarnya, lipoma akan terasa sakit.Jika bertahan selama beberapa tahun, ukuran lipoma tidak akan berubah dan pertumbuhannya sangat lambat. Lipoma bisa tumbuh lebih besar dan lebih dalam, namun hal ini jarang terjadi.

Sumber: http://www.alodokter.com/lipoma

Saya lalu bertanya pada dokter, apa penyebab munculnya Lipoma? Kata dokter, penyebabnya belum diketahui. Pada beberapa orang muncul begitu saja tanpa sebab. Namun kemungkinan karena faktor keturunan. Kalau dari artikel yang saya baca, biasanya lipoma ini muncul pada orang dengan range usia 40-60 tahun. Untuk mengetahui benjolan itu lipoma atau bukan harus dicek ke lab atau CT Scan. Pantesan waktu memeriksa saya dokter tidak memastikan dulu penyakitnya apa, karena memang harus dicek dulu ke lab. Saya juga bertanya, bagaimana cara mencegah agar lipoma tidak muncul lagi? Atau adakah perawatan khusus untuk mencegah munculnya lipoma? Jawabannya: tidak ada. Karena asal-usul lipoma ini masih misterius, jadi tidak ada langkah pencegahan maupun cara agar tidak muncul. Namun menurut dokter, untuk mencegah penyakit tumor secara umum adalah dengan menjaga pola dan gaya hidup, serta konsumsi makanan sehat. Semoga saja ke depannya akan diketahui sehingga tidak akan banyak lagi orang yang terkena lipoma.

Kalau kamu mengalami gejala yang saya alami, jangan takut kalau memang harus dioperasi. Serahkan segalanya pada Tuhan.

Itulah cerita saya, semoga bisa bermanfaat.

Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit

Bulan Mei tepat setahun lalu, saya dioperasi kista ginjal. Penyakit kista ginjalnya sendiri saya ketahui mendadak. Selang tiga hari setelahnya, saya masuk ruang operasi, lalu menginap beberapa hari di rumah sakit. Waktu itu, terus terang saya merasa takut. Berbagai macam pikiran berseliweran di kepala. Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran dan kesehatan. Saya pun bisa berkegiatan lagi dan mewujudkan beberapa impian saya.

Namun, saya tak pernah menyangka. Setahun kemudian, saya harus kembali menjalani operasi. Apalagi di bulan yang sama. Cerita kali ini bermula dari beberapa tahun lalu. Seingat saya–yang sebenarnya tak yakin waktu detailnya–sekitar 5 tahunan lalu, muncul benjolan kecil di kelopak mata kiri. Tidak merah dan tidak sakit. Maka saya biarkan saja. Tak pernah sekali pun saya periksakan ke dokter. Tiba-tiba tahun ini secara perlahan tapi pasti, benjolan kecil itu mulai membesar. Hingga 2 minggu lalu saat saya pergi ke Jakarta mengikuti sebuah acara, benjolan itu telah jelas terlihat namun tidak memerah. Esoknya, saat bangun tidur, saya mendapati benjolan itu sudah memerah dan membesar. Saya ingat-ingat, apa yang saya lakukan sebelumnya yang mungkin membuat keadaannya menjadi begitu. Tiap saya migrain, saya memang sering memainkan benjolan itu, seolah pusingnya akan menghilang. Mungkin itu menjadi salah satu penyebabnya.

Saya agak panik melihatnya. Takut mulai menyergap. Takut ada apa-apa. Maka saya pun memeriksakannya ke dokter. Saya diberi obat untuk beberapa hari. Dari dokter pertama itu, saya diberi rekomendasi untuk periksa ke dokter lain yang katanya sering menangani ‘tindakan’ mengangkat benjolan begini. Tapi baru 2 hari, saya sudah datang lagi, pasalnya benjolannya malah makin membesar. Kali ini menemui dokter kedua. Dari beliaulah saya tahu kalau benjolan ini daging, bukan cairan nanah. Sehingga tidak bisa diberi ‘tindakan’ pengangkatan biasa. Harus melalui operasi. Maka saya dirujuk ke RS Cicendo yang merupakan rumah sakit pusat mata nasional.
Di sana, saya ditangani oleh dokter ketiga. Menurut dokter, nantinya benjolan tersebut harus dicek lab untuk mengetahui jenis penyakit tumor apa.

Berita itu tentu saja membuat saya gentar. Terus terang saja, kali ini saya lebih takut lagi. Setelah menjalani dua kali operasi, saya bukan lantas menjadi kebal mendengar kata ‘operasi’, saya malah makin tercenung. Memori saya yang merekam tahap demi tahap operasi membuat tubuh kian menggigil. Selama dua minggu ini tiap malam saya dihantui mimpi buruk. Saya didera kecemasan dan insomnia. Kadang berkelebat pertanyaan, “Mengapa saya lagi, Tuhan?” Namun di kala datang kesadaran, saya paham, segalanya tentu memiliki arti.

Saya pun enggan bercermin dan bertemu orang. Beberapa pekerjaan yang mengharuskan tatap muka atau liputan saya batalkan. Tapi tak lantas saya memperlihatkan kemurungan di media sosial. Saya masih berceloteh tentang drama Korea dan film-film yang saya tonton untuk melepas gundah. Saya hanya mengerjakan pekerjaan yang sudah saya terima jauh sebelumnya. Mengejar sesegera mungkin selesai sebelum jadwal operasi. Di tengah stres yang melanda, saya bersyukur masih bisa bekerja di rumah, meski saya bahkan merasa mendapat sebuah keajaiban tiap kali ada tulisan atau postingan yang saya selesaikan.
Entah Allah merencanakan apa untuk saya. Namun, di waktu-waktu ini saya menjadi lebih dekat dengan Rasi dan keluarga. Bermain bersamanya bersama Prajurit Rumput di rumah. Memang, kalau saya tak mesti pergi ke RS untuk pemeriksaan ini itu yang menghabiskan waktu seharian, saya akan stay sepenuhnya di rumah.

Saya pernah cerita tahun lalu, saya sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Karena sewaktu kecil Rasi sering sakit, belum lagi saat saya yang sakit. Entah berapa lama kalau waktu-waktu itu dikalkulasikan.
Ke depannya, saya tak keberatan berada di rumah sakit, tapi untuk hal-hal membahagiakan seperti menjenguk teman yang melahirkan. Bukan hal-hal murung. Bukan yang mengguratkan kecemasan di wajah keluarga.
Saya berdoa sepenuh hati untuk itu. Saya serahkan segalanya kepada Allah. Karena hanya Tuhan satu-satunya pelindung dan penyembuh.

Insya Allah, operasi saya dilaksanakan besok. Saya minta doa teman-teman semua untuk kelancarannya.
Peluklah saya dengan doa.
Semoga Allah mengijabah, mengusir segala ketakutan dan memberi kesehatan. Dan semoga segala doa baik itu memeluk kalian juga.

Bismillahirrahmannirrahim.

***Ditulis di ruang tunggu pemeriksaan

Digital Financial Literacy For Children: Metode Seru Belajar Keuangan Untuk Anak

Saya termasuk bocah yang tumbuh di pedesaan. Tahun-tahun zaman itu, belum banyak toko mainan di daerah yang saya tinggali. Sehingga hasrat belanja saya belum membumbung. Paling banter hanya ketika lebaran saja saya jajan agak banyak. Karena tertanam dalam pikiran saya bahwa hanya di waktu itulah boleh membeli apa saja. Sehari-hari saya jadi agak terobsesi menabung untuk lebaran. Sayangnya, obsesi itu punah setelah saya pindah ke kota Bandung. Seperti melihat gemerlap cahaya ibu kota, saya pun waktu itu langsung silau oleh banyaknya toko buku dan toko-toko mainan yang mudah diakses dari rumah. Sehingga saya tak lagi ingin menyimpan uang untuk dibelanjakan setahun sekali, tapi tiap kali saya “menginginkan” sesuatu.  Untungnya, saya enggak akan merengek minta pada orang tua saat ingin memiliki buku atau mainan. Pasalnya, sedari kecil, saya dibiasakan keluarga untuk membeli sendiri barang-barang yang saya inginkan. Kepengin buku, boneka barbie, atau mainan? Nabunglah dulu sampai uangnya cukup. Saya jadi terbiasa tak jajan apa pun di sekolah selama berhari-hari. Moment yang terus terputar dalam kenangan saya soal keuangan adalah ketika kakak tertua saya dengan wajah serius mengatakan, “Keadaan keuangan keluarga kita enggak baik. Eva sama Evi harus ngerti. Kalau mau apa-apa nabung sendiri.” Kira-kira begitulah kalimatnya kakak yang disampaikan dalam bahasa Sunda dengan ekspresi super serius. Metode kakak saya berhasil membangunkan rasa heroik saya sebagai anak.

Beda lagi saat saya telah menjadi orang tua. Metode kakak saya ternyata enggak berhasil saya terapkan ke anak sendiri. Banyak faktor yang menggaggalkannya. Kadang karena anaknya yang enggak sabar menabung, sering juga karena tahu-tahu barangnya dibelikan neneknya. Maklum ya kalau ke cucu tuh suka manjain. Kalau saya sendiri, urusan mainan atau buku sih bisa saya tahan, tapi buat urusan kuota… saya enggak bisa ngerem. Sebagai generasi digital, anak saya memang sudah fasih bergawai ria. Dari urusan belajar, main game, ngevlog, sampai nonton kartun. Saya jadi pusing gimana metode yang tepat ngajarin anak mengelola keuangan.

Digital Financial Literacy For Children: Metode Seru Belajar Keuangan Untuk Anak

Metode ngajarin anak dengan menakut-nakuti atau mengintimidasi memang sudah ketinggalan zaman dan tidak efektif. Saya jadi keingetan buku anak Totochan, dalam buku itu diceritakan metode belajar mulai dari apa yang disukai. Kalau anak-anak masa kini begitu menggemari gawai, berarti anak-anak bisa belajar dengan memanfaatkan gawai. Fenomena ini rupanya ditangkap oleh Citi Indonesia (Citi Foundation). Bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) sebagai mitra pelaksana, Citi Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan Citibank menggelar Digital Financial Literacy For Children, yaitu program belajar mengelola keuangan untuk anak sekolah dasar. Program yang menerapkan strategi atau cara mendidik anak di era digital ini menyusur siswa-siswi kelas 3, 4, dan 5.

Anak-anak SDPN Sabang Bandung sedang mengikuti program “Digital Financial Literacy for Children

Program ini memilih edukasi pada anak-anak agar anak-anak mendapat pemahaman mengenai pengelolaan keuangan sedini mungkin. Tujuannya untuk mendorong para siswa agar mengerti literasi digital terkait dengan industri keuangan, terutama perbankan. Kalau kata Mr. Robert Gardiner dari PJI sih diharapkan mereka nantinya bisa jadi duta keuangan buat keluarganya dengan menyampaikan bermacam-macam informasi dari ruang kelas pada anggota keluarga dan menerapkannya dalam keseharian.

Ada enggak sih yang mikir kayak gini, “Kayaknya anak sekecil itu belum waktunya deh dikasih edukasi soal keuangan. Entar ajalah ngedidik anak soal keuangannya kalau anak udah gede.” Mungkin memang sih ya uang jajan anak saat ini enggak gede, kebayang kita sebagai orang dewasa, ngelola uang segitu mah gampang. Tapi buat anak kan uang jajannya itu besar. Selain itu, kalau anak enggak dikasih pengertian soal keuangan sejak dini, kemungkinan anak bakalan ngegampangin saat menginginkan sesuatu. Karena dipikirnya barang-barang yang diinginkannya enggak butuh uang untuk membelinya. Apalagi mainan anak sekarang mahal-mahal. Ya bukan persoalan diajak prihatin atau mikirin keuangan keluarga juga. Tapi biar anak setidaknya mengerti cara mengelola uang secara sederhana dan mengelola keinginannya memiliki sesuatu. Saya jadi teringat sama kata-kata Mbak Novita Tandry, seorang psikolog anak, intinya begini: Lebih sulit meluruskan pemahaman anak yang terlanjur salah saat sudah berusia 9 tahun ke atas. Jadi belajar mengelola keuangan buat anak-anak itu memang penting.

Program “Digital Financial Literacy for Children” ini sudah dimulai sejak Agustus 2016, dan untuk periode kali ini berakhir pada Juli 2017. Programnya menjangkau 2.244 siswa yang terdiri dari 7 SD di 4 kota besar Indonesia. Selain Bandung, tiga kota lainnya yaitu Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Untuk teknis pemilihan sekolahnya, Citi Indonesia meminta rekomendasi dari Dinas Pendidikan. Di Bandung sendiri, terpilih SDPN Sabang yang berlokasi di Jalan Sabang No. 2 Cihapit, Bandung Wetan. Acaranya dilaksanakan tanggal 18 April 2017 lalu.

Awalnya saya pikir bakalan ribet banget ngasih edukasi anak-anak soal keuangan. Ekspektasinya berdasarkan pengalaman pribadi sih ya XD Ternyata enggak sama sekali loh. Karena Citi Peduli Berkarya dan PJI menerapkan metode belajar yang seru buat anak-anak. Mereka diajak bermain dengan menggunakan barang favorit mereka, apalagi kalau bukan gawai. Jadi nih tiap siswa dikasih fasilitas masing-masing satu tablet buat belajar interaktif plus berkelompok. Enggak kurang seru gimana coba? Belajarnya interaktif dua arah biar anak-anak semangat dan enggak bosen. Kalau udah menyenangkan begitu belajarnya, pelajarannya jadi gampang diserap dong sama mereka.

Konten pembelajarannya sendiri sejalan dengan Kurikulum Pendidikan Nasional, jadi ikut mendukung pelajaran di sekolah. Pembelajarannya dibagi dalam 3 modul bertema-tema. Yaitu tema “Keluarga Kami”, “Daerah Kami”, dan “Kota Kami”. Para siswa belajar soal manfaat menabung, perbedaan kebutuhan dan keinginan, metode pembayaran yang tersedia di pasar (tunai, kredit, debit). sampai pengetahuan dasar kewirausahaan. Semuanya disampaikan dengan fun! Beneran enggak bikin mumet, mudah banget dicerna. Kalau ada bingung-bingung gitu, anak-anak bakalan dibantu sama kakak-kakak Citi Volunteers alias para karyawan Citi Indonesia yang terlibat dalam program ini. Tapi sih ya, sesi bagian menjelaskan antara ‘kebutuhan’ dan ‘keinginan’ itu agak-agak jleb gimana gitu ya. Soalnya udah segede ini kok susah banget memisahkan antara keduanya XD

Pulangnya, anak-anak juga dibekali komik pembelajaran buat belajar keuangan di rumah. Yeaay! Pada seneng deh mereka. Komik memang media pembelajaran yang efektif buat anak-anak. Seperti belajar di kelas memakai gawai dan metode games, nanti di rumah saat membaca komik, mereka enggak akan bosen juga belajarnya.

Ngeliat program sebagus ini, saya jadi berandai-andai, semoga tahun-tahun ke depan dilaksanakan di lebih banyak sekolah. Dan sekolah anak saya kebagian juga ^_^ Memang kan program ini rencananya bakal diadain tiap tahun. Atau kayaknya bagus juga kalau ada program untuk diikuti anak-anak umum. Jadi anak-anak yang kepengin ikutan bisa daftar sendiri untuk mengikuti programnya. Saya mengharap juga nih ada program buat para orang tuanya supaya bisa menerapkan metode belajar keuangan untuk anak.

[Ask Author] Dini Fitria Penulis Novel Islah Cinta

Proses kreatif menulis novel selalu seperti perjalanan panjang melewati terowongan. Kadang kala cahaya di ujungnya tidak tampak sama sekali. Ketika penulis menyerah, maka kata-katanya tak akan sampai pada para pembaca di luar terowongan sana. Namun, pengalaman batin penulis tentu berbeda-beda. Ada pula yang  merasa proses kreatif menulis novel ibarat sedang bersenang-senang di taman bermain, atau menjadi detektif yang menyatukan teka-teka. Saya selalu penasaran dengan perjalanan penulisan seseorang. Termasuk pada Mbak Dini Fitria, penulis novel Islah Cinta. Senangnya, Mbak Dini ini orangnya ramah banget. Permintaan saya untuk wawancara disambut terbuka 😀

Pertama-tama, kita kenalan dulu dengan sosok Mbak Dini Fitria. Berikut biodata narasinya:

Ask Author Dini Fitria Penulis Novel Islah Cinta

1. Saya: Untuk menulis novel “Islah Cinta” tentunya Mbak Dini melakukan riset yang mendalam. Risetnya seperti apa? Dan apa saja yang menjadi tantangan selama melakukan riset?

Mbak Dini :

Sebenarnya aku tidak pernah terpikir untuk bikin novel yang berlatar India. Kunjungan aku pertama kali ke India di akhir maret 2011 lalu itu murni karena ingin liputan untuk sebuah program televisi yang aku produseri.
Tidak ada niat untuk menjadikan semua peristiwa atau kenangan selama liputan menjadi sebuah buku. Apa yang kualami di India selama liputan membuat ku juga tidak betah dan nyaman berlama-lama, karena banyak sekali tantangan dan kesulitan liputan saat itu. Bahkan, aku dan cameraman (kami liputan hanya berdua), menamakan perjalanan kami ke india ini “neraka”, tak seindah yang ada di televisi dan tak segampang yang kami bayangkan. India, cukup menguras emosi dan energi. Itu sebabnya, kami bersumpah untuk tidak akan pernah kembali lagi ke India dengan alasan apa pun, termasuk bila gratis sekalipun. Aku masih ingat sumpah itu kami ikrarkan di India Gate,Delhi.

5 tahun kemudian, cerita berkata lain. Aku diminta untuk membuat sebuah novel dengan genre travel religi oleh Falcon Publishing. Terinspirasi dari bukuku sebelumnya yang berlatar di benua Eropa dan Amerika Latin. Tadinya aku ingin menulis China atau negara lain yang pernah aku kunjungi, tapi entah kenapa pilihan akhirku jatuh ke negeri para dewa, India. Setidaknya bekal memori tahun 2011 silam masih jelas teringat dan tergiang. Modal itu yang aku pakai untuk membuat cerita. Tapi saat menuliskan semua kisah dan pengalaman itu kayaknya feel-nya ada yang kurang, tidak ada jiwanya. Walaupun aku berusaha kembali membuka diary yang berisi reportase  selama berkegiatan di sana dan menonton kembali rekaman program dulu rasanya tetap saja ada yang kurang. Om google dan youtube pun tidak bisa menghidupkan “jiwa” tulisanku. Akhirnya aku bertekad kembali ke India untuk memberi “jiwa” pada tulisanku agar tidak kehilangan napas kehidupannya. Dan Allhamdullilah Falcon pun mendukung. Oktober 2016 aku berangkat dan menetap selama dua minggu di sana, kembali menjelajahi india dengan melanggar janjiku sendiri.

Tapi ada yang berbeda di perjalananku yang kedua ini, semua kesan “buruk” dan kenangan “pahit” yang dulu pernah aku alami malah tak senyata dulu. Entah karena tujuan kedatanganku berbeda karena memiliki target yang tak sama atau karena point of view-ku melihat India yang berubah. Ibaratnya, bisa dibilang aku seperti seorang gadis yang sedang kasmaran dengan pria tampan yang dulu pernah aku abaikan.

India memberi banyak pelajaran hidup dan pengalaman yang mendewasakan. Tidak hanya dari segi agama tetapi juga kehidupan itu sendiri. Seperti yang saya bilang di novel Islah Cinta yang saya tulis “if you can survive in India, you can survive in any part of the world.”

Selama di India aku kembali mendatangi tempat-tempat yang pernah aku kunjungi dan juga beberapa tempat yang belum pernah kudatangi tapi masuk ke dalam latar cerita. Bertemu dan berbaur dengan masyarakatnya, kebudayaanya, keseharianya  dan merasakan menjadi “gadis India” yang hidup di zaman kerajaan dan masa sekarang.   Semua orang, tempat dan peristiwa yang kutemui selama perjalanan ikut mengilhami kisah yang kubuat, bisa dibilang semua yang kutulis adalah based on true story. Sekali lagi sensasi perjalanan kali kedua ini sangat membuatku “ketagihan” dan malah sangat betah.

Tantangan saat kedua kali mengunjungi India tentu tidak sama dengan yang pertama. Sekarang malah lebih ke soal waktu yang terasa kurang di tengah keasyikan saya menggali dan menyusun cerita. Dua kisah kunjungan inilah yang saya ramu di novel Islah Cinta ini.

Saya: Ya ampun, Mbak. Ini sih behind the book-nya udah bisa dibikin novel sendiri saking menariknya 😀

2. Saya: Islah Cinta sebenarnya terusan dari dua novel seri ‘Scapa Per Amore’ ya, Mbak? Ini sebelumnya, apakah memang sudah dikonsep untuk menjadi novel berseri? Bagaimana mengonsep novel berseri, Mbak? Soalnya tampak susah bikin pemetaan ceritanya berseri.

Mbak Dini:

Iya, Islah Cinta adalah novel ketigaku dari dua judul sebelumnya. Sebenarnya konsep berseri ini tidak ada unsur kesengajaan. Semua berjalan begitu saja. Dari novel pertama tentang perjalananku ke benua Eropa memang aku berpikir, rasanya aku tak sanggup menampung sendiri sekian banyak hikmah yang kudapat selama perjalanan, makanya aku bagi dengan mengabadikannya ke dalam bentuk buku. Dan berharap kisah-kisah yang tertuang dapat bermanfaat bagi yang membaca.

Sebenarnya tidak susah juga membuat novel berseri karena tokoh dan alur kisah Diva antara buku 1, 2 dan 3 ini tetap tak kehilangan benang merahnya. Bahkan antara satu yang dengan yang lainya saling melengkapi. Jadi bisa dibilang membaca buku 1, 2 dan 3 ini seperti sedang membuka puzzle-puzzle kehidupan sang tokoh, yaitu Diva. Tirai-tirai rahasia diva satu persatu terkuak hingga orang bisa jatuh cinta atau patah hati dengan Diva di saat yang bersamaan.

Pengalaman Mbak Dini ketika jadi presenter dan produser acara (foto dokumentasi milik Mbak Dini)

3.  Saya: Tolong ceritakan kejadian menarik dan mengesankan dalam proses menulis novel “Islah Cinta”.

Mbak Dini:

Aku tadinya merasa tidak yakin kalau akhirnya bisa menulis bahkan merampungkan buku ketiga ini di tengah riuh gelombang kehidupan. Saat itu aku juga sedang banyak kesibukan dan silih berganti diterpa ujian hidup. Proses aku menulis buku ini juga mengalami jatuh bangun di mana aku benar-benar disungkurkan kenyataan hidup oleh Tuhan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Ternyata benar, skenario Tuhan itu lebih indah dari yang saya perkirakan. Kuncinya cuma satu, ikhlas dan sabar. Perjalanan saya ke India turut membantu saya menyembuhkan “penyakit batin” yang saya punya. Ternyata masih banyak orang yang hidup dalam kenestapaan hingga membuat saya merasa lebih bisa bersyukur dan berpikir positif terhadap apa yang sudah saya miliki sekarang.

Saya: Peluuuk Mbak Dini…. Masalah pribadi penulis pasti bisa memperkaya tulisannya juga ya, Mbak.
4. Saya: Siapakah tokoh-tokoh yang menginspirasi Mbak Dini di dunia penulisan dan presenter?

Mbak Dini:
Sejak kecil aku terbiasa membaca buku-buku filsafat, psikologi, sejarah dan agama karena latar belakang orang tua yang berprofesi sebagai pendidik. Aku bahkan tidak terlalu senang membaca komik atau cerita anak-ana. Mungkin itu sebabnya aku lebih tertarik kepada hal-hal yang berkaitan dengan bidang ilmu di atas. Tulisan ku juga banyak terinspirasi dari semua buku yang aku baca. Kemudian aku menganalisa sendiri dan meramunya sesuai dengan apa yang aku alami.

Tapi bukan berarti aku tidak senang membaca buku-buku fiksi. Aku pengaggum berat buku-buku Buya Hamka dengan tulisan jenius dan romantisnya. Aku juga senang membaca karya NH Dini, Pramoedya, Ahmad Tohari, dan Jane Austin. Tapi yang sangat mempengaruhiku untuk giat menulis itu adalah papaku sendiri yang memang juga seorang penulis buku. Aku sering membaca tulisanya di koran-koran dan ikut mendengar ceramahnya di masjid dan kampus. Bahkan mamaku bilang saat tidak ada uang membeli susu waktu aku kecil, papa harus mengirim artikel dulu ke koran lokal supaya dapat uang. Itu yang membuatku sangat trenyuh dan termotivasi.  Membaca memang kesenanganku, sama halnya dengan menulis yang menjadi kegemaranku sejak di bangku sekolah dasar.

Kalau di dunia presenter aku lebih belajar otodidak dan mengambil kiblat ke orang-orang yang pakar di bidangnya. Tapi pengenya menjadi presenter hijaber dengan style masa kini tapi tetap Islami dan mempunyai pengetahuan yang luas.

5. Saya: Apa impian pencapaian Mbak Dini dalam dunia penulisan?

Mbak Dini:

Aku ingin kisah-kisah dari bukuku diangkat ke layar lebar dan bisa dinikmati banyak orang tanpa terhalang perbedaan agama, suku bangsa dan ras. Karena semua yang kutuliskan tidak menghujat atau menyudutkan pihak mana pun. Aku ingin menyebarkan benih-benih Islam yang rahmatan lil alamin. Sebagai penulis aku ingin menyumbangkan sedikit ilmu dan pengalaman yang kumiliki agar bisa ikut berdakwah walau hanya di ujung pena.

Saya: Amiin. Semoga terwujud ya, Mbak.

Mbak Dini sedang menanda-tangani karyanya. (foto dokumentasi Mbak Dini)

Itu dia hasil obrolan singkat kami. Semoga menginspirasi ya. Kalau kamu masih kepengin tanya-tanya sama Mbak Dini. Silakan loh mention Mbak Dini di media sosialnya. ^^