Sempurnakan ‘Aku Cantik Indonesia’ Dengan Sariayu Color Trend Inspirasi Gili Lombok 2017

img_20170225_123304_20170228224627924

Sempurnakan ‘Aku Cantik Indonesia’ Dengan Sariayu Color Trend Inspirasi Gili Lombok 2017 – Saya punya muka yang sensitif, karena itu selain saat bepergian, saya selalu membiarkan muka saya polos dari makeup. Biasanya itu pun dipulas memakai warna eyeshadow coklat atau oranye tipis dan lipstik oranye juga biar enggak kentara. Sebenernya ceritanya bukan bermaksud ‘makeup no makeup‘, tapi emang enggak pede aja kalau pakai warna mentereng. Sayangnya, kadang warnanya enggak sesuai sama baju yang saya pakai. Saya pikir mesti sekali-sekali saya berani mendobrak dinding rasa enggak pede itu dengan berani mengeksplorasi warna.

Momen itu pas banget kedatangannya dengan undangan launching product Sariayu Color Trend Inspirasi Gili Lombok 2017, tanggal 25 Februari lalu. Saya pun berangkat dengan semangat ke Leon – Jakarta Selatan, dengan mengenakan dresscode baju berwarna hijau yang beraroma budaya. Ada sekitar 80 beauty blogger yang diundang ke perhelatan tersebut. Kami langsung disambut oleh fotografer yang mengambil foto kami dengan antusias di photobooth cantik yang disediakan Sariayu.

img_20170225_112429

Antrean beauty athusiast di depan photobooth Sariayu

Selain menu utama memperkenalkan produk baru Trend Warna Sariayu 2017, di acara itu Sariayu juga menghadirkan dua brand ambassador tahun ini, yaitu Tika Bravani dan Brenda. Keduanya terpilih karena sesuai dengan kriteria Sariayu, yaitu cantik luar dalam. Menurut saya sendiri, Tika ini memang punya wajah khas yang sangat Indonesia sekali. Cocok bangetlah sebagai brand ambassador Sariayu dengan tema tahun ini: Aku Cantik Indonesia. Ibu Wulan Tilaar sempat menjelaskan Gili – Lombok menjadi inspirasi Sariayu karena keindahan alam dan budayanya. Lombok ini memang salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas buat sektor wisata bahari. Luar biasanya, Sariayu ini bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata lewat program Wonderful Indonesia, jadinya tren warna 2017 ini sekaligus buat mempromosikan pariwisata Indonesia. Karena inspirasinya dari Indonesia, udah pasti dong tren warna terbaru ini sesuai dengan warna kulit dan karakter wajah wanita Indonesia.

img_20170225_123107

Warna Kain Tenun Lombok Dalam Makeup

Tren warna Sariayu Gili Lombok 2017 ini terdiri dari empat produk, yaitu liquid lipstick, liquid eyeshadow, eyeshadow palette, dan two way cake. Kamu bakalan menemukan warna-warna khas kain tenun Lombok. Mulai dari warna cerah seperti pink, oranye, hingga ungu dengan sentuhan keemasan. Sampai warna gelap seperti biru tua, coklat, dan hitam. Warna-warnanya cakep-cakep deh.

img_20170225_143304

Selain warna-warna baru, produk tren 2017 ini juga punya kandungan istimewa, yaitu ekstrak tanaman Flamboyan, Amethys powder, vitamin E, dan tabir surya. Fungsinya buat merawat kulit kelopak mata dan bibir, sekaligus melindungi dari iritasi dan pengaruh buruk sinar matahari. Lengkap banget ya. Buat saya yang jarang care merawat kulit kelopak mata, jadi berasa lega gitu.

Duo Lip Color

Lipstik tren Gili Lombok ini punya tipe duo lip color karena tiap item-nya memiliki dua pilihan glossy dan matte. Jadi enggak usah beli lagi glossy terpisah. Kalau saya pribadi sih lebih suka matte, cuman dalam mood dan keadaan tertentu aja pakai yang glossy. Duo lip color ini punya enam warna pilihan, ada pink, oranye, sampai ungu. Warnanya langsung bikin saya jatuh hati. Kalau biasanya saya selalu pakai lipstik dengan paduan dua sampai tiga warna buat menghasilkan satu warna yang saya sukai, kali ini cukup satu warna asli si lipstiknya. Terutama nih warna pink dan oranyenya. Enggak mentereng dan nge-blend sama warna bibir saya. Dan saya juga suka banget wewangian yang menguar dari lipstiknya.

Memakai duo lip color tipe GL-02 matte

Memakai duo lip color tipe GL-02 matte

Liquid Eyeshadow

Liquid eyeshadow ini punya dua warna dalam satu stik, cocok buat kamu yang suka memadumadankan warna. Koleksi warnanya sendiri ada 12. Mulai dari warna cerah kuning emas, hingga oranye bernuasa keemasan. Ada juga warna dark seperti coklat hingga hitam. Di tempat acara saya sempat mencoba warna gelap dan warna paduan hijau muda-tua. Karena belum pernah pakai liquid eyeshadow, saya minta tolong dipakein Mbak dari Sariayu yang cekatan membantu. Tapi pas di rumah saya coba sendiri, ternyata cara pakainya gampang. Cukup diratakan pakai tangan. Karena bentuknya cairan, jadi cepet menyatu dengan kulit. Kerasa lembut dan gak gak bikin kering.

img_20170225_115826

Memakai liquid eyeshadow tipe GL-05

Eyeshadow Kit

Ada delapan pilihan warna natural dalam eyeshadow kit. Semuanya berwarna lembut, termasuk pinknya. Saya suka semua warnanya, terutama si coklat yang bakalan paling sering saya pakai.

Two Way Cake

Saat tahu two way cake Sariayu ini mengandung paduan ekstrak bunga Gardenia yang berperan sebagai antioksidan, dan vitamin E yang membantu melindungi kulit dari tanda-tanda penuaan dini sekaligus antipolusi, saya bersorak senang. Maklumlah ya, sebagai yang sudah berumur thirty something, saya mesti merawat muka dari tanda-tanda penuaan. Two way cake ini juga punya SPF 15 buat melindungi wajah dari pengaruh buruk sinar matahari.

img_20170225_132452

Saya dan kembaran memakai riasan Trend Warna Sariayu 2017 Inspirasi Gili Lombok dengan pilihan warna beda

Saya memilih two way cake berwarna natural dari tiga pilihan warna yaitu light, natural, dan dark. Soalnya warna itu yang paling sesuai di wajah saya. Pas diusapin di wajah, kerasa deh teksturnya yang lembut. Soalnya two way cake Sariayu ini memakai teknologi micronization technology yang ngasilin micronized powder. Sekali usap aja bedaknya udah menempel sempurna. Senengnya, bedaknya tahan lama, bikin wajah saya enggak mengkilap.

Ramah di Kulit Sensitif dan Halal

Seperti yang saya sempet ceritain tadi, kulit saya ini sensitif banget. Setelah percobaan pertama di acara, saya yang tergoda banget kepengin nyoba-nyoba warna-warna lain dari Seri Trend Warna Sariayu Gili Lombok ini bereksplorasi di rumah. Ternyata memang cocok di kulit sensitif saya. Soalnya sepulang acara dan keterusan pakai di hari-hari setelahnya, enggak ada tanda-tanda kulit saya alergi. Kulit muka enggak gatel dan tetep adem ayem. Memang seri terbaru Sariayu ini terbuat dari bahan-bahan alami yang aman di kulit. Plus, kita bisa tenang pakainya karena sudah bersertifikasi halal.

pixlr_20170228215748750

Eksplorasi Seri Trend Warna Sariayu 2017 Inspirasi Gili Lombok memakai duo lip color GL-05, liquid eyeshadow GL-05 dan GL-06, dan two way cake natural-02.

So, kamu siap dong ngadepin tantangan explore your liquid beauty memakai seri Trend Warna Sariayu 2017 Inspirasi Gili Lombok. Sempurnakan cantikmu, lalu katakan dengan bangga: Aku Cantik Indonesia.

[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Carlos: Persahabatan Lintas Perbedaan

img_20170221_232414

Kisah persahabatan antara manusia dengan hewan ini menarik perhatian saya, karena saya sendiri mengalaminya. Bersahabat dengan kucing. Yang menggelitik kemudian adalah bagaimana penulis mengeksekusinya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang novel Carlos, mari kita kupas dulu tentang penulisnya.

erin-cipta

Kenalan Dengan Erin Cipta

Erin Cipta, ibu dua anak gadis kelahiran Cilacap, 16 April 1979. Tinggal di desa, bertani, dan mengelola perpustakaan umum di lingkungannya.  Kesehariannya mengurus anak dan kucing-kucing piaraan sambil menulis. Hindarilah memintanya bernyanyi, demi kesehatan telinga Anda. Namun jangan sungkan untuk minta dibuatkan mendoan  dan teh sereh jika Anda berkunjung ke rumahnya. Dengan senang hati ia kan membuatkannya.

Alumni Kampus Fiksi ankatan 14 ini kadang menulis untuk media massa, baik di Indonesia maupun di Taiwan. Tentu pula, lebih sering di sosial media. Jika sedang sangat santai, ia akan menulis di storial.co dan blognya.

Bisa dikunjungi di Desa Karangjati, Kec. Sampang, Kab. Cilacap. Atau melalui akun media sosial yang dimilikinya. FB: Erin Cipta, Twitter: @erin_cipta, IG: @erincipta, dan Email: erincipta@gmail.com.

Mengenal Lebih Jauh Erin Cipta Di Sesi Wawancara

Seperti biasa, saya selalu kepengin nanya-nanya sama penulis novel yang saya review bukunya. Berikut wawancaranya:

  1.  Selama proses menulis Carlos, apakah ada kesulitan yang sempat membuat ingin menyerah?
Ketika mencoba menambah jumlah halaman agar memenuhi kouta minimal yang disyaratkan penerbit, aku tak pernah berhasil dengan baik. Dari 3x percobaan, 3x pula naskah ditolak karena jelek sekali. Cerita melebar dan lepas dari rel.
Naskah baru diterima justru ketika kembali ke awal yang hanya berjumlah 102 halaman saja. Itulah mengapa novel ini jadinya tipis sekali

Mau novel Carlos bertanda tangan Mbak Erin Cipta dari Penerbit Diva Press? Mau dong ngikutin kisah sahabat sejati Ye Feng dan anjingnya yang bernama Carlos yang menggetarkan hati.

2. Apa impian Mbak Erin dalam dunia penulisan?

Aku ingin melihat buku yang kutulis diterjemahkan dalam bahasa asing

3. Ceritakan pengalaman pahit dan paling luar biasa sebagai penulis.

Pengalaman menulisku selalu menyenangkan. Bahkan ketika ditolak atau dikritik pedas pun, aku masih bisa bersenang-senang 😀

carlos

Data Buku

Judul : Carlos

Penulis : Erin Cipta

Penerbit : Diva Press

Tebal : 152 Halaman

Editor : Gunawan Tri Atmojo

ISBN : 9786023913664

Blurb :

CARLOS adalah anjing ras Akita yang diadopsi oleh Ye Feng semenjak masih bayi. Anjing itu bukan sekadar hewan piaraan di rumah ini. Ia adalah anggota keluarga. Sejak tiga belas tahun yang lalu Carlos menemani Ye Feng tumbuh dan melalui hari-harinya. Kedekatan Ye Feng dengan anjingnya melebihi kedekatannya dengan anggota keluarga yang lain. Mereka adalah sepasang sahabat baik yang saling tergantung. Cinta melampaui segala sekat antar keduanya.

Anda bayangkan!

Maka sungguh tak masuk di akal bila disuatu hari, dalam papah dan lelahnya, ada anggota keluarga yang mengusulkan supaya Carlos dieuthanasia. Sungguh kejam, jahat –seperti tidak muncul dari lidah manusia yang disebut-sebut menyimpan hati!

Cerita anjing ini bukan sekadar novel tentang kehidupan seekor anjing, tetapi adalah kehidupan itu sesungguhnya. Sebuah cinta, sebuah hubungan batin tak tepermanai, sebuah keagungan yang denyar-denyarnya sungguh mengharukan dan mengguncang jiwa manusia-manusia yang masih merawat kelembutan hatinya.
Bacalah, tahanlah air mata Anda bila mampu!

Review Buku

Tak salah jika dibilang novel Carlos memiliki gaya penceritaan yang sederhana. Namun bukan dalam artian tak memiliki kosakata yang kaya. Erin Cipta menceritakan kisah Carlos dengan lugu, apa adanya, tapi sarat emosi. Begitu memasuki halaman pertama, pembaca belum disuguhkan konflik, tapi bangunan suasana yang langsung menghangatkan hati. Sebagai pembaca, saya langsung dapat merasakan ikatan kuat antara Ye Feng dan anjingnya yang bernama Carlos.

Ia punya cinta yang sangat besar pada sahabat anjingnya. Cinta yang membuatnya mampu menerobos batas-batas kemampuan diri. Cinta yang membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. –Halaman 58

Novel ber-cover yang juga menarik oleh kesederhanaannya ini, dibangun oleh banyak sekali narasi. Sehingga dialog yang tercipta, meski tanpa tambahan keterangan bagaimana si tokohnya berekspresi, ditulis dengan kuat dan terbayang jelas di benak pembaca. Bagi pencinta narasi seperti saya, menyenangkan sekali membacanya, tapi untuk yang lebih menyukai banyak dialog pun, novel ini tidak membuat lelah.

Carlos tipe buku yang lebih banyak menceritakan kisah lewat teknik tell, bukan menggambarkan kejadian. Namun saya dibuat terkejut karena itu bukan ganjalan sama sekali, meskipun kebanyakan kejadian hanya diceritakan saja, saya merasa itu pas-pas saja.  Meski memang ada adegan yang berpotensi menyumbangkan dramitasi lebih jika didetailkan dalam satu kejadian.

Perselisihan mereka bukan untuk perkara yang membuat hati masing-masing terkoyak. Betapa pun beberapa kali mereka tak saling sepakat pada satu hal namun ikatan cinta mereka sudah terlalu kuat untuk memupuk rindu. –Halaman 75

Penokohan dalam novel ini dijelaskan cukup terperinci, termasuk bagaimana fisik anjing Carlos. Terkadang penjelasannya padat dalam beberapa paragraf, lain waktu ditebar ke dalam beberapa bagian. Hubungan emosi antar tokohnya pun terasa kuat. Pembaca dapat merasakan seperti apa kedekatan Ye Feng dengan Carlos, dan bagaimana hubungannya dengan setiap anggota keluarganya. Begitu pula dengan latar tempat kejadian, lewat tugas A Ling, pembantu rumah tangga mereka, pembaca diajak mengenal sudut-sudut rumah. Suasana kejadian pun seringkali diceritakan melalui penalaran panca indera A Ling. Atau dari rasa takutnya pada badai Soudelor, pembaca diberi pengetahuan bagaimana keadaan di Taiwan  sana, mulai dari kerusakan hingga reaksi warga. Kemunculan A Ling ini sempat mendominasi di beberapa bab, tapi saya tak merasa sedikit pun tokoh ini mencuri adegan alias mengambil alih posisi tokoh utama.

Carlos dikisahkan dengan jalinan kata yang baik. Rapi secara penulisan, enak dibaca, dan untaian kata yang bagus. Meski masih ditemukan beberapa kali penjelasan yang berulang. Antara bermaksud memberi ‘penegasan’ atau luput dari editan. Namun yang pasti, kalimat-kalimatnya menyihir karena terasa ber-roh sehingga sampai ke hati pembaca. Saya memang menemukan kata yang typo di beberapa bagian, yaitu kata-kata yang seharusnya dipisah spasi, tapi jadinya berdempetan. Namun tidak mengurangi keasyikan membaca.

Nada lagunya tak teratur,, syairnya pun terbata-bata. Namun sangat jelas terasa itu adalah senandung dari kedalaman hatinya yang paling pingit. Senandung tulus seorang pencinta. –Halaman 81

Konflik dalam novel Carlos, tidak hanya berkutat antara persahabatan Carlos dan Ye Feng, ada pula konflik kuat antara orangtua Ye Feng dalam membesarkannya. Carlos memang bukan novel yang menyampaikan konfliknya dengan ambisius. Konflik tidak disajikan dengan runcing, tapi halus namun mengena. Terus terang novel Carlos berhasil membuat saya menangis sesenggukan. Mulai dari pertengahan hingga akhir. Emosi saya diaduk-aduk, dibawa naik turun. Saya dapat merasakan ketulusan dari cinta lintas perbedaan. Cinta yang memupus keterbatasan, dan membuat percaya cinta memang penuh keajaiban. Seperti juga konfliknya yang halus, penyampaian pesan moralnya pun tersampaikan tanpa membuat pembaca digurui. Dan novel ini memberikan saya pengetahuan tentang anjing.

Saya rekomendasikan novel ini bagi kamu pecinta novel bertema persahabatan dan keluarga. 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

picsart_02-06-01-29-43

Giveaway Time

Cara ikutannya gampang kok:

1. Follow akun twitter @erin_cipta dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GACarlos dan mention akun twitter saya dan Mbak Erin.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter dan goodreads kamu.

Ceritakan kisahmu yang paling berkesan dengan binatang peliharaanmu

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal sampai 22– 28 Februari 2017. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 1 Maret jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Ada satu novel Carlos bertanda tangan penulis sebagai hadiah

Ditunggu partisipasinya 😀

 

Review Novel Distance Blues Karya Agustine W

novel-distance-blues1

Pernah ngalamin long distance relationship? Gimana rasanya? Berat sih… tapi ada sisi romantisnya juga kan. Lalu bagaimana kalau seandainya sudah didera hubungan jarak jauh, salah satunya ternyata kena gangguan psikologis? Novel ini memiliki konflik seperti itu. Premisnya promising banget untuk racikan sebuah novel romantis yang menggetarkan.

Simpan dulu rasa penasaranmu tentang ulasan novel Distance Blues, kita kenalan dulu dengan penulisnya.

agustine-w

Kenalan Dengan Agustine

Agustine W. lahir di Kediri, Jawa Timur, tanggal 8 Juni. Karya-karyanya yang pernah dipublikasikan masuk dalam antologi Crazy Writing (2013), Curhatku untuk Semesta (2013), My Life as Blogger (2013) dan Ground Zero: A Crime Behind the Shadow (2014). Selain itu, cerpen duet “Lelakiku, Wanitaku” bersama sahabat, Altami N. D, berhasil menyabet posisi ke-2 nasional dalam ajang “Kompetisi Internasional Dialog Muda” tahun 2014 untuk wilayah Indonesia (diselenggarakan di Indonesia, Guatemala, dan Kenya) oleh organisasi non-pemerintah peduli kesehatan reproduksi anak muda dan HIV/AIDS (pamflet, GWL Muda, dan Hivos) Jakarta.

Bisa dihubungi di surel lioluby@gmail.com dan akun Twitter @agustine_w

Mengenal Lebih Jauh Agustine di Sesi Wawancara

1. Kenapa mengambil tema OCD? Ada kisah pribadi yang melatarinyakah?

Topik OCD itu tema psikologi, latar belakang pendidikanku. Meskipun sekarang nggak menekuni psikologi lagi, aku masih tertarik dengan dunia psikologi. Sekaligus pengen berbagi topik2 psikologi yang mungkin belum dipahami atau dianggap tabu atau dipukul rata dianggap sebagai aib/gangguan jiwa dan sejenisnya, padahal gangguan psikologis itu banyak banget jenisnya. Ya, walau sederhana, semoga bisa menginspirasi pembaca di luar sana.

Selain itu, aku pernah ngalamin kayak Elmi tapi sekarang ragu benarkah aku OCD atau nggak? Soalnya juga kayak Elmi, self-diagnosis gitu, terus konsul sama dosen cuma sekali. Jadi, nggak ada diagnosis sahih yang mengarah ke situ. Tapi gejala yang aku alami bener-bener udah mengganggu sekali. Akhirnya ya berupaya gimana caranya bisa mengendalikan diri. Salah satu cara yang menurutku lumayan ampuh yakni menanamkan kata-kata all is well dari film 3 Idiots di hati dan pikiran. Dari sini aku percaya, apa yang kita pikirkan baik, semuanya akan perlahan membaik. Tuhan mengikuti prasangka hamba-Nya, bukan?

Nah, bedanya aku dan Elmi di sini, Elmi beruntung punya Dirga, bahkan ada Rasyad. Hahaha. Dua tokoh ini fiksi, pun karakter ayah, ibu, Ersa, dan semuanya juga fiksi. Jadi, mencampurkan beberapa persen kisah nyata dengan imajinasi.

2. Riset seperti apa yang dilakukan Titin untuk menulis novel ini? Ada kesulitan ketika melakukannya?

Riset OCD-nya selain ke diri sendiri juga ke dosen dan sempet ngobrak-ngabrik kardus berisi literatur OCD yang sempat dipakai pas zaman kuliah. Hahahaha…

Tantangannya sih, begini… gangguan psikologis itu bisa beda gejala satu orang dengan orang lain sekalipun ‘judul’ gangguannya sama. Jadi, bisa jadi di Elmi gejala yang menonjol adalah terkait ibadah, tapi orang lain mengalami gejala menonjol misalnya yang bahkan nerima uang dari orang lain aja takutnya minta ampun. Takut karena tangan orang lain penuh bakteri. Atau yang semua benda di sekitarnya kudu rapi dan simetris, dll

Jadi, dari situ aku nanya ke dosen (di sini adalah senior ketika kuliah) sama artikel di internet plus bahan pas kuliah itu. Berusaha ‘menerjemahkan’ teori ke bahasa yang lebih dipahami (semoga niat ini tersampaikan :)).

3. Kenapa ya Titin nyiptain tokoh Rasyad yang keturunan Arab?

Awalnya tuh gara-gara kepincut sama aktor India di serial drama Jodha Akbar, si kakak sepupunya Jodha, Jamal. Ini orangnya, Vicky Batra.
Nah, kenapa ‘membelok’ ke Arab? Karena serta merta kepikiran di Indonesia (terutama yang sering aku temui) itu keturunan Arab, bukan India. Jadilah, aku bikin itu Rasyad orang keturunan Arab tapi fisiknya nggak beda jauh dari si Jamal. Anggaplah mereka 11-12 lah walaupun beda asal muasal 😀

Lagian, orang keturunan Arab terkenal cakep-cakep ya… jadi pengen bikin ‘rival’ tokoh cowok utama yang lebih sempurna–katakanlah demikian. Hehehehe. Pengen nunjukin gejolak cewek udah punya pacar tapi digoda sama cowok yang lebih oke dari pasangannya. Hahahaha.

distance-blues2

Data Buku

Judul : Distance Blues

Penulis : Agustine W.

Penerbit : Ping (Diva Press Group)

Tebal : 288 Halaman

Editor : Diara Oso

ISBN : 9786023911097

Blurb :

Memilihmu, haruskah merasa ragu?

Nyatanya, Elmi memang sedang mempertanyakan isi hatinya sendiri. Bukan maunya jauh Dirga, sang kekasih. Lagian, Dirga bekerja untuk masa depan mereka juga, kan? Tapi, Rasyad–chef pemilik restoran Timur Tengah yang ganteng banget–membuat sesuatu di dalam dada Elmi tercampur baur.

Rasyad rajin memberi Elmi kejutan. Ia juga siap jadi “sopir” kalau saja Elmi mau. Sesekali, tindakan Rasyad yang spontan malah membuat Elmi tersentak–Dirga saja belum pernah melakukannya. Apalagi, Dirga bukan tipe cowok romantis yang suka memberi Elmi surprise.

Rasyad yang hadir saat LDR-an, OCD yang butuh terapi, belum lagi Mama yang cerewet dan berputar-putar di kepala Elmi.

Tapi, urusan hati harus diurai, kan? Berarti, Elmi memang harus memutuskan….

Review Buku

Kapan hari jauh sebelum mengikuti program #BacaBarengAlumni KF (acara membaca novel bersama alumni Kampus Fiksi, sebuah sekolah menulis dengan sistem pemberian materi beberapa hari yang didirikan oleh Penerbit Diva Press), sebenarnya saya sudah mengincar novel ini karena cover-nya. Memang sih kalau blurbnya terasa kurang menggigit meskipun berhasil menggambarkan cerita di dalamnya. Namun seperti yang saya ceritakan sebelumnya, premis novel ber-cover cantik ini sangat menjanjikan cerita cinta mengharu biru.

Bab-bab awal Distance Blues sudah menyajikan permasalah OCD yang menimpa Elmi tokoh utamanya. Satu langkah yang tidak menyia-nyiakan waktu pembaca, karena sudah langsung menggiring ke konflik dan membuat penasaran. Masalah psikologis Elmi bahkan digambarkan secara detail. Mulai dari kecarutmarutan pikirannya, sampai teknis bagaimana tingkah laku Elmi yang akhirnya memberinya satu kesadaran bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Penulis memakai bahasa baku yang cukup mengalir di narasi, dan gaya bahasa sehari-hari untuk dialog. Penulisannya pun rapi. Good job untuk Agustine dan editor. Namun, teknik penulisan Agustine di beberapa bagian cukup mengganggu saya karena tata bahasanya agak aneh. Seperti kalimat:

Tak ada sanggahan lebih lanjut selain dengusan kecil dari Elmi (Halaman 197)

Atau

Terdengan suara dehaman dari Dirga.

Novel ini terlalu banyak tell ketimbang show. Padahal banyak hal akan lebih sampai ke pembaca bila diceritakan dalam bentuk peristiwa ketimbang narasi yang tergesa. Kemudian teknik penulisan kebanyakan flasback yang tidak perlu. Mengapa tidak perlu? Karena bukan menceritakan masa lalu. Satu peristiwa diputus begitu saja, digantung, tapi kemudian diceritakan lagi detailnya di bagian lain. Biasanya teknik flashback dipakai untuk memancing atau membuat pembaca penasaran. Namun saya menangkap, penulis membuat rangkaian seperti itu bukan untuk menyusur penasaran pembaca, tapi penulis kesulitan saja menggulirkan peristiwanya dari awal sampai akhir.

Pasti ada satu itik hitam di antara banyak itik putih. Lagi pula, namanya dunia pekerjaan, sikut-sikutan pasti ada.

Di luar itu, banyak sekali kalimat quotable yang ‘nyes’ di novel ini. Sudut pandang novel ini adalah orang ketiga serba tahu. Saya menemukan bagian yang merupakan pandangan penulis terhadap sesuatu. Sah-sah saja. Namun, baik itu pandangan penulis maupun pemikiran tokohnya, saya merasa sedang digurui. Tokoh Elmi pun memang digambarkan judging. Luarannya memang pengalah, tapi dalamannya Elmi ini mudah sekali men-judge seseorang. Mungkin karena terpengaruh oleh karakter mamanya yang sangat mendikte.

Bukankah sesuatu terjadi karena pikiran kita yang mengendalikan? Kalau pikiran kita negatif, ya kejadian yang menimpa kita negatif.

Dari sekian banyak tokoh di Distance Blues, saya tak memiliki tokoh favorit. Penggambaran karakter tokoh-tokohnya jelas, dari segi fisik maupun sifat, tapi buat saya semuanya tidak lovable. Hal yang saya sayangkan dari pemilihan karakter novel ini adalah penulis menciptakan tokoh-tokoh wanita saingan Elmi yang bersifat bitchy. Buat saya itu old school. Tokoh saingan bitchy tak lagi mampu menyedot simpati karena sudah terlalu banyak diangkat di novel lain. Dan hal ini mempermudah konflik batin tokoh pria, karena jelas sekali siapa yang menang. Mengurangi gereget pembaca.

Chemistry antar tokohnya terjalin baik. Namun porsi Dirga yang minim membuat pembaca kurang terikat dengan tokoh itu. Di tengah novel, Dirga seakan hilang dari peredaran. Padahal meskipun mereka diceritakan LDR, bukan berarti Dirga tak bisa dihadirkan. Saat kembali diceritakan, perkembangan karakter Dirga pun tak mampu menyentuh simpati. Saya sampai berpikir, saking banyaknya porsi Rasyad, pembaca malah terasa seperti sengaja digiring untuk lebih memihak padanya. Agustine sepertinya lupa, selain harus membangun chemistry antar tokoh, penulis juga sebaiknya membangun chemistry tokoh dengan pembacanya.

Aku selalu percaya orang bisa berubah seiring berjalannya waktu –Elmi

Maju ke pembahasan konflik. Konflik sudah mencuat dari awal. Membuat saya penasaran dari mana asal boom OCD Elmi? Kenapa harus muncul di keadaan Elmi sekarang. Saya memang menjadi tahu kenapa Elmi bisa terkena OCD, tapi tidak menemukan jawaban kenapa gangguan psikologis itu baru mencapai klimaksnya di usia Elmi sekarang. Konflik keluarga dan asmara berimbang di novel ini. Saya suka jalinan konfliknya yang kompleks. Apalagi bagian-bagian konflik psikologi Elmi. Penulis dapat menyampaikan dengan baik bagaimana perasaan tertekannya Elmi yang terkena OCD.  Saya juga memuji bagaimana Agustine menjelaskan mengenai OCD lewat pencarian artikel dan konsultasi dengan psikolog. Sehingga pembaca mendapat cukup banyak penjelasan yang benar. Lalu Agustine pun memberi gambaran terapi apa saja yang mesti dilakukan oleh penderita OCD, selain menambah pengetahuan pembaca, saya kira itu akan membantu pembaca yang mungkin merasa terkena OCD tapi takut berkonsultasi dengan psikolog. Ending novel ini merupakan akhir yang realistis. Meskipun ada konflik yang penyelesaiannya terkesan dipermudah. Namun saya kira itu sudah pilihan yang paling pas.

Aku dan kamu terserak dalam jarak –Distance Blues

Untuk kamu yang menyukai novel kisah percintaan, keluarga, dan masalah psikologis, saya merekomendasikan Distance Blues. 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

Tips Membuat Program Video (Vlog) Anak

screenshot_20170214_111213

Seringkali teman yang denger atau liat anak saya Rasi ngomong bahasa Inggris, bertanya pada saya, “Diajarin siapa? Kok bahasa Inggrisnya lancar gitu.” Dengan malu-malu saya selalu menjawab jujur, kalau bukan saya yang mengajarinya. Terang aja, bahasa Inggris saya di bawah pas-pasan. Mana bisa saya ngajarin, ada juga menyesatkan XD Justru karena Rasi sering ngajak ngobrol bahasa Inggris, saya jadi mulai mau belajar lagi. Mengais-ngais lagi kosakata yang terbang-terbang entah ke mana itu. Selain itu, Rasi juga seneng banget bikin origami. Mulai dari sederhana kayak bikin bookmark, sampai yang rumit sejenis Pikachu. Diajarin saya? Bukan… jelas bukan. Boro-boro bikin seribu bangau kertas, bikin satu aja enggak kelar-kelar meskipun udah lewat ratusan purnama. Jadi, sebenernya Rasi belajar dari mana? Jawabannya, Rasi belajar dari… youtube. Yep, di zaman serba digital kayak gini, ada guru yang bisa ngajarin setiap saat di channel-channel Youtube. Tinggal bagaimana orangtua mengarahkan ke tontonan yang mengembangkan kreativitas anak.

Dari situlah saya kepikiran buat bikin channel youtube anak sendiri. Saya pikir, anak-anak perlu makin banyak disodorkan tontonan yang sesuai dengan usianya. Saya pun bertanya pada Rasi, apakah dia mau bikin program sendiri? Ternyata dia tertarik. Dia mau divideoin. Itu kejutan buat saya. Soalnya, sebelum-sebelumnya Rasi itu anaknya pemalu. Saya minta foto aja susahnya setengah mati. Tapi sejak sering melihat anak-anak nge-host di video, pelan-pelan keberanian dan rasa percaya dirinya terbangun. Saya dan Rasi berharap semoga program video Rasi bisa ngasih inspirasi juga buat penonton.

Tips Membuat Program Video Anak

 screenshot_20170214_111301

Mungkin ada di antara teman-teman yang tertarik untuk membuat program video anak juga. Saya mau berbagi pengalaman dan sedikit tips.

  1. Libatkan anak dalam merancang program video

Karena program ini anak yang menjalankan, kita mesti melibatkannya dalam merancang program. Ajak anak berdiskusi tentang segala hal mengenai programnya. Mulai dari nama program, waktu pembuatan video, waktu tayang program—seperti berapa kali dalam sebulan, memilih tempat pengambilan gambar, sampai baju apa yang mau dipakai. Dengan begitu, anak merasa benar-benar memiliki programnya. Kalau sudah merasa memiliki, dia belajar bertanggung jawab untuk konsisten mengurus program videonya.

img_20170214_214450

Pengalaman saya, waktu mau nentuin nama channel dan judul acara, saya ajak Rasi ngasih pendapat. Eh, ternyata dia malah ngasih nama sendiri. Jadi nama channel “Rasi Cutie Mark” itu dia kasih karena terinspirasi dari kartun kuda poni. Artinya bakat-bakat yang dimiliki Rasi.

  1. Cari hal yang disukai anak

Anak-anak biasanya masih moody banget. Kalau lagi semangat mengerjakan sesuatu bakalan teruuuus aja nguplek di bidang itu. Tapi bosennya juga cepet, dan mudah ke-distract hal lain. Maka dari itu kita sebagai orangtua yang kepenginnya program video ini terus berjalan mesti mencari hal-hal yang disukai si anak untuk meminimalisir kebosanan. Misalnya anak sukanya melukis, ya bikin program video belajar lukis atau proses berkaryanya. Rasi sendiri seperti yang saya ceritakan di awal hobinya berorigami ria. Dia kepengin berbagi dan ngajarin anak-anak lain yang kepengin belajar origami juga.

img_20170214_214543

Program acara video di satu channel enggak mesti dipatok satu. Kalau anaknya memang suka bermacam-macam hal, bisa banget dibikin beberapa program. Kalau Rasi sih baru dua. Selain program origami, ada juga video-video jalan-jalan untuk menampung hasrat petualangnya. Dia seneng banget kalau berhasil mengenalkan satu destinasi wisata ke penontonnya.

  1. Syuting yang menyenangkan

Kunci dari berjalannya program video anak ini adalah proses pengambilan gambar yang menyenangkan. Anak sebagai talent enggak bisa kita perlakukan dengan kaku. Ada treatment khusus buat mereka saat syuting. Bangun suasana yang menyenangkan sehingga mood mereka terjaga. Misalnya syuting di tempat yang didekorasi sesuai dengan tokoh favorit anak, ajak mendongeng dulu, atau bernyanyi-nyanyi untuk menghilangkan ketegangan. Jangan sampai karena bete, anak jadi ngambek dan ujung-ujungnya berenti di tengah proses pengambilan gambar. Hati-hati juga saat meminta anak mengulang satu adegan. Itu juga bisa membuat si anak jadi ngerasa enggak percaya diri karena merasa sering melakukan kesalahan. Sebisa mungkin kita cuman mengarahkan bukan mendikte, sehingga anak memunculkan potensi terbaiknya.

Pengalaman saya sih, biasanya anak saya biarkan saja nge-host ala-ala sebisanya dia. Kalau saya ngerasa kurang puas, saya ajak anak untuk menonton preview, biasanya kalau Rasi juga ngerasa enggak maksimal, dia sendiri yang minta diulang. Ngasih referensi tontonan juga bisa membuka wawasan anak, dia belajar sendiri mengeksplore kemampuan.

img_20170214_214408

Buat tempat syuting sendiri, saya memakai rumah. Simpelnya, kalau anak lagi enggak mood, banyak amunisi di rumah yang bisa saya pergunakan untuk mengembalikan semangatnya. Sedang untuk program jalan-jalan, saya baru membawa anak ke tempat-tempat wisata terdekat dulu. Waktu yang dibutuhkan buat perjalanannya pendek, anak jadi enggak kecapean di jalan. Yang penting destinasi itu pertama kali dia datangi sehingga selalu semangat tiap diajak syuting.

  1. Buat program yang simpel

Buat awal-awal, baiknya kita bikin program video yang simpel aja dulu. Simpel dalam artian enggak membutuhkan ruang khusus dan bahan-bahan baku yang sulit dicari. Misalkan nih, kita kepenginnya bikin program video dengan konsep memasak ala chef kecil, tapi peralatan dapur rumah kita enggak support buat hal itu. Daripada bikin susah sendiri, mendingan pilih konsep lain yang lebih memungkinkan dieksekusi. Program simpel juga berarti secara pengetahuan dikuasai oleh anak, atau anak bisa belajar sedikit demi sedikit meningkat kemampuannya tanpa harus memaksakan diri menjejali pikirannya dengan pengetahuan yang harus dikuasi secara cepat. Soalnya saya pernah ngalamin sendiri. Satu ketika saya mengajak anak jalan-jalan ke museum, saking banyaknya informasi yang saya berikan, Rasi bukannya paham, dia malah pusing. Ujung-ujungnya pas direkam, Rasi bingung mau ngomong apa.

screenshot_20170214_111201

  1. Siapkan alat tempur

Bikin program video anak di channel youtube tentu aja harus siap alat tempurnya. Yang dimaksud alat temput itu peralatan membuat video. Bukan berarti mesti pakai kamera yang mahal loh. Minimal banget pakai smartphone aja. Yang penting hasil gambarnya jelas, enggak burem. Kalau punya tripod lebih bagus lagi, tapi kalau enggak punya, masih bisa diakalin sama barang-barang lain seperti tumpukan buku, pokoknya gimana caranya supaya si kamera enggak goyang-goyang. Lampu merupakan elemen penting juga, tapi enggak ada, baiknya pengambilan gambar selalu di tempat terang dan siang hari. Selain smartphone, yang mesti dimiliki sebagai harga mati itu kartu memori. Soalnya video itu ngabisin memori banget kan. Apalagi kalau ngedit videonya juga langsung di hape pakai aplikasi, butuh ruang penyimpanan besar. Karena itu, selalu pakai memory card ya. Enggak mahal kok. Coba cek deh harga micro sd Sandisk, banyak yang terjangkau kok.

Satu lagi peralatan yang bisa kamu sediakan, cuman ini sifatnya pelengkap, yaitu background. Background disesuaikan dengan tema videonya. Fungsinya untuk memanjakan mata penonton. Kan enak ya kalau latarnya rapi, bukan tumpukan cucian yang enggak sengaja masuk ke dalam frame XD Hati-hati juga memilih latar. Kalau bisa pilih yang bahannya enggak memantulkan cahaya.

  1. Lengkapi keahlian

Dalam pembuatan video anak ini, kita punya banyak jabatan sekaligus. Ya produser, kreatif, penulis skrip, bahkan sampai editing video. Syukur-syukur kalau punya partner, bisa bagi tugas. Kalau semuanya dikerjain sendirian? Nah loh… ngebul ya XD Jangan panik dulu. Serencengan tugas-tugas itu bisa banget kok dikerjain, cuman kita mesti membekali diri dengan keahlian. Belajar step by step aja, enggak usah ngoyo. Kayak ngedit video misalnya. Kesannya kok susaah banget. Padahal sekarang banyak aplikasi editing video yang mudah cara pakainya.

Membuat program video anak itu seru-seru gemesin deh. Kalau udah dijalanin bikin ketagihan. Selain membuat kita dan anak makin kreatif, mendekatkan juga hubungan orangtua dan anak. Semoga tipsnya membuat kamu bersemangat mewujudkan ide-ide video anak ^_^

(Tak) Usah Menanti Suatu Hari

yunis2

Dear Sista Yunis,

Saat aku menulis surat ini, aku tengah duduk di kursi tempatmu biasa menghabiskan hari-hari di depan laptop. Kursi ini bila berubah wujud menjadi seseorang, kukira dia pastilah seorang yang paling memahamimu. Dia bisa mengisahkan hidupmu dengan detail. Karena di kursi ini pulalah, kamu kerap kali membagi cerita dengan orang-orang terdekatmu. Bahkan dia hafal benar bahasa tubuhmu. Termasuk apa-apa yang tak mampu kamu katakan, yang kamu sembunyikan lewat gelisah tubuh. Bahagia, cemburu, kepedihan, kebosanan, hingga ketegaranmu. Duduk di sini membantuku menyelamimu, menatap sekitar pada posisi dan sudut pandangmu.

Sis, tadi malam kita bercerita panjang tentang segala hal. Dari hal remeh temeh hingga persoalan krusial hidup: impian, keluarga, dan cinta. Perbincangan itu bukan sekadar bicara persoalan dan hati, kita berusaha saling menguatkan satu sama lain.

Menyoal impian. Sis, aku suka ketika melihatmu larut berkarya. Kegelisahan dan luka-luka menjadi roh yang menghidupkan karyamu. Kerasnya kenyataan tak mampu menumpulkan daya hidupmu. Justru diolah menjadi bahan baku. Kadang kamu tuangkan dalam kanvas, atau tanah liat, seringkali pula di atas kertas. Meski karya kadang tak sepadan bila ditimbangkan dengan angka-angka. Berbentur dengan kenyataan yang datang dari tumpukkan tagihan yang harus dibayarkan. Belum lagi pedihnya saat tak mampu menghapus tatapan nanar anak karena tak bisa mewujudkan keinginannya. Namun kepuasan memang tak bisa dinilai oleh angka, bukan? Tapi karya belumlah menjadi karya sebelum selesai. Proses selalu serupa penyakit yang meringkihkan tubuh. Menjadi tanda tanya besar, apakah kita akan sampai pada ujungnya? Kita mesti sadar betul, tak kan beranjak ketika tidak bergerak. Meski mesti terseret-seret, kadang terbawa arus.

yunis1

Kemudian tentang cinta. Lucunya kita. Kita sama-sama perempuan yang tak cukup dinafkahi oleh perbuatan, materi, dan cinta. Tapi juga mesti diberi makan kata-kata. Mungkin karena setengah hidup kita berada di dunia kata-kata. Namun jangan sampai kata-kata menjadi menu utama. Kuharap kamu tak akan terpedaya. Selalu lihatlah bagaimana seseorang memperlakukanmu. Apa dia mampu menjaga kehormatan pikirannya padamu. Menempatkanmu sebagai seseorang yang mesti dia jaga lahir dan batinnya. Ah, tapi intuisimu selalu membimbing pada jalan kebenaran. Tinggal apakah kamu mau mendengarnya atau tidak.

Kamu mempertanyakan, kapan waktu mempertemukan dengan orang yang tepat? Pertanyaan yang jawabannya paling berkabut. Aku tahu beratnya membesarkan anak sendirian. Menjadi seorang ibu sekaligus ayah. Mengasuh dan bekerja. Di waktu-waktu kelam, rasanya ingin bersandar. Aku paham karena pernah mengalaminya. Penantian memang waktu-waktu yang melelahkan. Namun, menjadi “KITA” dengan orang yang tak tepat justru lebih menyakitkan, bukan? Hanya menyisakan lebam dan luka bernanah. Memang, cinta selalu menyeret kita pada titik nol. Meniadakan banyak pelajaran yang padahal telah kita bukukan untuk dibaca berulang. Bukankah kamu ingin menjadi rumah, bukan tempat persinggahan. Dan kamu pun ingin menghabiskan hidup dengan lelaki yang mampu menjadi rumah, bukan seseorang yang kamu jadikan teman selintas perjalanan.

Sis, berkali-kali patah hati, nyatanya tak membuat rohmu tercerabut dari raga. Karena kamu memang pencinta yang sungguh pemberani. Hatimu yang memar-memar masih mampu merasa. Maka aku percaya, kesendirian hanya memberi jeda panjang untuk membenahi luka. Kedukaan yang ditinggalkan seseorang tak pernah tertambal oleh kehadiran orang lain. Karena itu tak perlu menunggu menjadi genap untuk bahagia.

Kamu telah melewati banyak hari berat. Seringkali menunggu suatu hari gemilang di depan sana. Namun kita kadang lupa, hari ini adalah masa depan dari waktu lalu. Maka hari depan pun selalu menjadi waktu kini. Karena itu, tak usah menanti suatu hari, bersinarlah dari detik ini. Berbahagialah dari sekarang.

Selesai surat ini ditulis, aku pun beranjak dari kursimu. Aku yakin kelak ke depan kursi ini akan merekam jejakmu yang semerlang.

***Surat untuk Yunis Kartika sebelumnya Chibi, Langkah Kecil Kita Untuk Berlari, Idola Masa Kecilku.

Surat Cinta Pertama, Buat Siapa?

evaevi

Surat Cinta Pertama, Buat Siapa?

: Evi Sri Rezeki

Dear Evi, tergesa aku menulis surat ini sebelum kamu bangun dari tertidur lagi pagi ini setelah tadi kita ngobrol ngalor-ngidul. Jangan kecewa ya kalau isi surat ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena kali ini isinya hanya kepingan kejadian dan perbincangan saja. Namun bukan berarti aku menulis alakadarnya. Percayalah, tiap huruf di surat ini kutulis dengan hati.

Segalanya bermula dari surat pertamamu di Pos Cinta. Semuanya ditunjukkan untukku, maka secara tak tertulis, kita pun mensahkan bahwa surat pertama haruslah untuk kembaran. Ini bukan demi merawat tradisi, tapi memang atas dasar kecintaan. Seperti yang kita tahu, menulis surat cinta bukan perkara mudah. Kita selalu melibatkan rasa terdalam di tiap katanya. Karena itulah, saat menulis, kita selalu dibimbing perasaan. Untuk siapa surat itu ditulis, dikompaskan oleh  hati dan pikiran yang sedang tertuju pada siapa.

Tahun ini, seperti sebelum-sebelumnya, kita selalu menyambut hangat program menulis surat cinta. Kita sebut sebagai “bulan curhat” karena hanya pada saat itulah kita bisa mengungkapkan perasaan habis-habisan dan cerita pribadi yang dipublikasikan secara terang benderang.  Namun, tahun ini ada yang beda. Muncul perasaan, di awal bulan pembuka saja, kita sudah banyak mengumbar kehidupan pribadi lewat caption-caption di Instagram. Ada rasa terlalu mengeksploitasi. Orang-orang pun mungkin akan jenuh menyimak kisah kita. Ah, lebih dari itu kita takut orang menjadi jengah. Padahal sungguh pun, tak ada maksud mengeksploitasi sama sekali. Benar-benar tulus adanya. Karena itu aku tak rela jika tahun ini tak mengirimu sepucuk surat pun. Karena ini momen sangat spesial buat kita.

Bulan ini setiap hari, kita mengecek tanggal bukan untuk sekadar mengejar deadline pekerjaan, tapi melihat tinggal berapa hari lagi para KangPos bisa mengantarkan surat cinta. Makin hari terlewati, makin gelisah dibuatnya. Obrolan kita pagi ini pun bergulir apakah akan menulis surat? Ingin, tapi….. Setahun terlewati, tak mungkin tidak ada banyak peristiwa yang bisa diceritakan. Banyak, sangat malah. Seperti, kita masih selalu stres sekaligus bahagia tiap kali berjuang menyelesaikan novel yang tak kunjung menemu kata “Tamat”, atau kita masih selalu berdebat dari mana satu gagasan muncul dari diskusi panjang–darimu atau dariku, sampai rumah yang kebersihannya berbanding terbalik dengan terkejarnya deadline. Lupakan juga soal usaha kita yang belum menemu titik terang dalam menjawab pertanyaan dari tahun ke tahun, “Kapan kita merealisasikan pembuatan web series Twiries The Series?” Bahan tulisan begitu berserak tiap detiknya. Namun tema perbicanganku tadi hanya berkisar: Pada siapa surat cinta pertama dialamatkan? Jawabannya selalu jelas, surat itu untukmu. Meski isinya tak lagi menyoal babakan drama besar kehidupan kita.

img_1604edit

Vi, beberapa hari lalu kita bertemu kawan yang membacakan karakter kita lewat zodiak. Katanya kita pribadi pengasuh. Tapi kian hari aku semakin tak melihat sosok itu dalam diriku. Lewat surat ini aku juga ingin minta maaf jika aku bertumbuh menjadi pribadi yang makin jauh dari sosok seorang ibu. Ketimbang bertambah bijak, aku makin merasa kian kanak-kanak. Kata teman baru kita itu pula, kita adalah cancer yang menyukai segala sesuatu tentang gemini. Gemini, sosok kembar. Kupikir yang dimaksud adalah obsesiku tentang kehidupan kembar kita. Dalam satu perenungan aku berpikir, aku kembar yang terus belajar menjadi kembar. Meski aku tak paham, sejatinya kembar itu seperti apa. Jadi, jangan lelah menjadi kembaranku ya. Mari terus seduh segelas kopi untuk menemani saat-saat perdebatan kita. Segelas saja, sebagai simbol kita akan terus berbagi segala, selamanya…. Vi, jangan pernah habis semangat kita untuk saling menjaga kewarasan satu sama lain. Keberadaanmu masih selalu menjadi titik tolakku menginjak bumi ketika langit serasa tak mampu menopang diri.

Duh, alarm wekerku berbunyi kencang sekali. Aku khawatir kamu terbangun, maka aku mengintip ke kamarmu. Untungnya kamu masih sibuk bergelung dengan selimut tebal, bersembunyi dari cuaca dingin Bandung. Namun, kucukupkan suratnya. Jangan sampai ini menjadi kejutan yang gagal.

Semoga surat paling pendek ini tetap menghangatkan hatimu saat membacanya, meski tak membuat matamu tergenang-genang.

***Surat-surat untuk Evi Sri Rezeki sebelumnya: Serupa Kita, 7 Hari Sebelum, Menembus Ruang Dan Waktu, Arti Kita