(Tak) Usah Menanti Suatu Hari

yunis2

Dear Sista Yunis,

Saat aku menulis surat ini, aku tengah duduk di kursi tempatmu biasa menghabiskan hari-hari di depan laptop. Kursi ini bila berubah wujud menjadi seseorang, kukira dia pastilah seorang yang paling memahamimu. Dia bisa mengisahkan hidupmu dengan detail. Karena di kursi ini pulalah, kamu kerap kali membagi cerita dengan orang-orang terdekatmu. Bahkan dia hafal benar bahasa tubuhmu. Termasuk apa-apa yang tak mampu kamu katakan, yang kamu sembunyikan lewat gelisah tubuh. Bahagia, cemburu, kepedihan, kebosanan, hingga ketegaranmu. Duduk di sini membantuku menyelamimu, menatap sekitar pada posisi dan sudut pandangmu.

Sis, tadi malam kita bercerita panjang tentang segala hal. Dari hal remeh temeh hingga persoalan krusial hidup: impian, keluarga, dan cinta. Perbincangan itu bukan sekadar bicara persoalan dan hati, kita berusaha saling menguatkan satu sama lain.

Menyoal impian. Sis, aku suka ketika melihatmu larut berkarya. Kegelisahan dan luka-luka menjadi roh yang menghidupkan karyamu. Kerasnya kenyataan tak mampu menumpulkan daya hidupmu. Justru diolah menjadi bahan baku. Kadang kamu tuangkan dalam kanvas, atau tanah liat, seringkali pula di atas kertas. Meski karya kadang tak sepadan bila ditimbangkan dengan angka-angka. Berbentur dengan kenyataan yang datang dari tumpukkan tagihan yang harus dibayarkan. Belum lagi pedihnya saat tak mampu menghapus tatapan nanar anak karena tak bisa mewujudkan keinginannya. Namun kepuasan memang tak bisa dinilai oleh angka, bukan? Tapi karya belumlah menjadi karya sebelum selesai. Proses selalu serupa penyakit yang meringkihkan tubuh. Menjadi tanda tanya besar, apakah kita akan sampai pada ujungnya? Kita mesti sadar betul, tak kan beranjak ketika tidak bergerak. Meski mesti terseret-seret, kadang terbawa arus.

yunis1

Kemudian tentang cinta. Lucunya kita. Kita sama-sama perempuan yang tak cukup dinafkahi oleh perbuatan, materi, dan cinta. Tapi juga mesti diberi makan kata-kata. Mungkin karena setengah hidup kita berada di dunia kata-kata. Namun jangan sampai kata-kata menjadi menu utama. Kuharap kamu tak akan terpedaya. Selalu lihatlah bagaimana seseorang memperlakukanmu. Apa dia mampu menjaga kehormatan pikirannya padamu. Menempatkanmu sebagai seseorang yang mesti dia jaga lahir dan batinnya. Ah, tapi intuisimu selalu membimbing pada jalan kebenaran. Tinggal apakah kamu mau mendengarnya atau tidak.

Kamu mempertanyakan, kapan waktu mempertemukan dengan orang yang tepat? Pertanyaan yang jawabannya paling berkabut. Aku tahu beratnya membesarkan anak sendirian. Menjadi seorang ibu sekaligus ayah. Mengasuh dan bekerja. Di waktu-waktu kelam, rasanya ingin bersandar. Aku paham karena pernah mengalaminya. Penantian memang waktu-waktu yang melelahkan. Namun, menjadi “KITA” dengan orang yang tak tepat justru lebih menyakitkan, bukan? Hanya menyisakan lebam dan luka bernanah. Memang, cinta selalu menyeret kita pada titik nol. Meniadakan banyak pelajaran yang padahal telah kita bukukan untuk dibaca berulang. Bukankah kamu ingin menjadi rumah, bukan tempat persinggahan. Dan kamu pun ingin menghabiskan hidup dengan lelaki yang mampu menjadi rumah, bukan seseorang yang kamu jadikan teman selintas perjalanan.

Sis, berkali-kali patah hati, nyatanya tak membuat rohmu tercerabut dari raga. Karena kamu memang pencinta yang sungguh pemberani. Hatimu yang memar-memar masih mampu merasa. Maka aku percaya, kesendirian hanya memberi jeda panjang untuk membenahi luka. Kedukaan yang ditinggalkan seseorang tak pernah tertambal oleh kehadiran orang lain. Karena itu tak perlu menunggu menjadi genap untuk bahagia.

Kamu telah melewati banyak hari berat. Seringkali menunggu suatu hari gemilang di depan sana. Namun kita kadang lupa, hari ini adalah masa depan dari waktu lalu. Maka hari depan pun selalu menjadi waktu kini. Karena itu, tak usah menanti suatu hari, bersinarlah dari detik ini. Berbahagialah dari sekarang.

Selesai surat ini ditulis, aku pun beranjak dari kursimu. Aku yakin kelak ke depan kursi ini akan merekam jejakmu yang semerlang.

***Surat untuk Yunis Kartika sebelumnya Chibi, Langkah Kecil Kita Untuk Berlari, Idola Masa Kecilku.

Surat Cinta Pertama, Buat Siapa?

evaevi

Surat Cinta Pertama, Buat Siapa?

: Evi Sri Rezeki

Dear Evi, tergesa aku menulis surat ini sebelum kamu bangun dari tertidur lagi pagi ini setelah tadi kita ngobrol ngalor-ngidul. Jangan kecewa ya kalau isi surat ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena kali ini isinya hanya kepingan kejadian dan perbincangan saja. Namun bukan berarti aku menulis alakadarnya. Percayalah, tiap huruf di surat ini kutulis dengan hati.

Segalanya bermula dari surat pertamamu di Pos Cinta. Semuanya ditunjukkan untukku, maka secara tak tertulis, kita pun mensahkan bahwa surat pertama haruslah untuk kembaran. Ini bukan demi merawat tradisi, tapi memang atas dasar kecintaan. Seperti yang kita tahu, menulis surat cinta bukan perkara mudah. Kita selalu melibatkan rasa terdalam di tiap katanya. Karena itulah, saat menulis, kita selalu dibimbing perasaan. Untuk siapa surat itu ditulis, dikompaskan oleh  hati dan pikiran yang sedang tertuju pada siapa.

Tahun ini, seperti sebelum-sebelumnya, kita selalu menyambut hangat program menulis surat cinta. Kita sebut sebagai “bulan curhat” karena hanya pada saat itulah kita bisa mengungkapkan perasaan habis-habisan dan cerita pribadi yang dipublikasikan secara terang benderang.  Namun, tahun ini ada yang beda. Muncul perasaan, di awal bulan pembuka saja, kita sudah banyak mengumbar kehidupan pribadi lewat caption-caption di Instagram. Ada rasa terlalu mengeksploitasi. Orang-orang pun mungkin akan jenuh menyimak kisah kita. Ah, lebih dari itu kita takut orang menjadi jengah. Padahal sungguh pun, tak ada maksud mengeksploitasi sama sekali. Benar-benar tulus adanya. Karena itu aku tak rela jika tahun ini tak mengirimu sepucuk surat pun. Karena ini momen sangat spesial buat kita.

Bulan ini setiap hari, kita mengecek tanggal bukan untuk sekadar mengejar deadline pekerjaan, tapi melihat tinggal berapa hari lagi para KangPos bisa mengantarkan surat cinta. Makin hari terlewati, makin gelisah dibuatnya. Obrolan kita pagi ini pun bergulir apakah akan menulis surat? Ingin, tapi….. Setahun terlewati, tak mungkin tidak ada banyak peristiwa yang bisa diceritakan. Banyak, sangat malah. Seperti, kita masih selalu stres sekaligus bahagia tiap kali berjuang menyelesaikan novel yang tak kunjung menemu kata “Tamat”, atau kita masih selalu berdebat dari mana satu gagasan muncul dari diskusi panjang–darimu atau dariku, sampai rumah yang kebersihannya berbanding terbalik dengan terkejarnya deadline. Lupakan juga soal usaha kita yang belum menemu titik terang dalam menjawab pertanyaan dari tahun ke tahun, “Kapan kita merealisasikan pembuatan web series Twiries The Series?” Bahan tulisan begitu berserak tiap detiknya. Namun tema perbicanganku tadi hanya berkisar: Pada siapa surat cinta pertama dialamatkan? Jawabannya selalu jelas, surat itu untukmu. Meski isinya tak lagi menyoal babakan drama besar kehidupan kita.

img_1604edit

Vi, beberapa hari lalu kita bertemu kawan yang membacakan karakter kita lewat zodiak. Katanya kita pribadi pengasuh. Tapi kian hari aku semakin tak melihat sosok itu dalam diriku. Lewat surat ini aku juga ingin minta maaf jika aku bertumbuh menjadi pribadi yang makin jauh dari sosok seorang ibu. Ketimbang bertambah bijak, aku makin merasa kian kanak-kanak. Kata teman baru kita itu pula, kita adalah cancer yang menyukai segala sesuatu tentang gemini. Gemini, sosok kembar. Kupikir yang dimaksud adalah obsesiku tentang kehidupan kembar kita. Dalam satu perenungan aku berpikir, aku kembar yang terus belajar menjadi kembar. Meski aku tak paham, sejatinya kembar itu seperti apa. Jadi, jangan lelah menjadi kembaranku ya. Mari terus seduh segelas kopi untuk menemani saat-saat perdebatan kita. Segelas saja, sebagai simbol kita akan terus berbagi segala, selamanya…. Vi, jangan pernah habis semangat kita untuk saling menjaga kewarasan satu sama lain. Keberadaanmu masih selalu menjadi titik tolakku menginjak bumi ketika langit serasa tak mampu menopang diri.

Duh, alarm wekerku berbunyi kencang sekali. Aku khawatir kamu terbangun, maka aku mengintip ke kamarmu. Untungnya kamu masih sibuk bergelung dengan selimut tebal, bersembunyi dari cuaca dingin Bandung. Namun, kucukupkan suratnya. Jangan sampai ini menjadi kejutan yang gagal.

Semoga surat paling pendek ini tetap menghangatkan hatimu saat membacanya, meski tak membuat matamu tergenang-genang.

***Surat-surat untuk Evi Sri Rezeki sebelumnya: Serupa Kita, 7 Hari Sebelum, Menembus Ruang Dan Waktu, Arti Kita

Di Balik Foto Kita

IMG_20150701_165954edit

Dear Mercy Sitanggang.

Dear, masih ingat cerita di balik foto kita? Foto yang memperlihatkanmu sedang memegang novel Hujan Bulan Juni. Foto yang hasilnya buram seakan diambil dari balik kaca berembun itu diambil tanggal 1 bulan Juli tahun lalu, Dear. Pertemuan itu bersejarah buatku. Karena pertemuan itu telah mengembalikanmu padaku.

Dear, tahun lalu aku mengirimi surat yang ternyata malah menyakitimu. Sungguh itu membuatku sedih. Katamu, setelah membacanya, kamu langsung terdiam. Seingatku, berhari-hari kamu membisu. Diammu makin mengundang gelisahku. Sampai akhirnya kita kembali bertukar kata-kata, berterus terang tentang perasaan kita. Namun rupanya luka belum tuntas mengering.

Lama berselang dari sana, raga kita menemu perjumpaan juga. Kala itu, takut-takut aku menghubungimu, meminta pertemuan, tak apa meski singkat. Cukup lama aku menunggu jawabanmu. Betapa hatiku meloncat girang saat kamu mengiyakan. Selama menunggumu, aku mereka-reka seperti apa jadinya perjumpaan kita itu? Akankah kita kembali erat serupa dulu, ataukah jarak akan terus merajai sanubari. Ternyata kamu pun punya kegalauan yang sama. Dalam detik-detik penantian entah berapa kali aku mengecek handphone, cemas kalau-kalau tiba-tiba kamu membatalkan perjumpaan. Betapa leganya ketika kulihat tubuhmu perlahan nampak dari balik eskalator dengan senyum mengembang yang begitu khas di wajahmu.

Awalnya kita terlibat obrolan basa-basi, sepertinya kita perlu jeda untuk sama-sama menenangkan hati. Kemudian kusodorkan kado ulang tahunmu yang terlambat kuberikan. Novel berjudul hujan, karena aku tahu kamu perempuan penggila hujan. Kamu balik menghadiahkanku novel karyamu sendiri. Setelah itulah foto itu diambilkan oleh seorang tak dikenal yang kita mintai pertolongan. Akhirnya lama-lama pembicaraan kita bermuara pada rasa, perbincangan dari hati ke hati. Kamu telah menanggalkan topengmu, kembali menjadi Mercy-ku. Ada beberapa salah paham yang harus kita luruskan. Sejatinya memang masalah tak mungkin kita elakkan dalam persahabatan.

Ada kelegaan menghangatkan hatiku ketika pulang. Aku telah diberi kado ulang tahun lebih awal: Persahabatan kita. Dear, perasaanku makin bahagia saat membaca ucapan terima kasih di novelmu. Katamu, persahabatan kita tak akan pernah jadi fiksi. Kubayangkan kamu menuliskannya di balkon rumah sambil menyesap kopi yang ruapnya seakan membentuk wajahku.

Dear, mungkin di depan nanti, bakal banyak lagi masalah menyambangi kita. Mungkin ada saatnya kamu malas membalas pesan-pesanku, atau mungkin ada kalanya prinsip kita tak bertemu. Namun aku kini telah sangat yakin, persahabatan kita seperti rintik hujan yang saling menguntai. Kekalnya sebanyak jumlah anak-anak rambut di kepalamu. Foto buram kita itulah yang selalu meyakinkanku.

PS: Selamat atas kelahiran anak karyamu yang baru. Kamu selalu dan selalu membuatku bangga.

 

***Surat sebelumnya Jangan Jadi Fiksi

 

 

 

Kutunggu Di Kotaku Anak Marmut

lia2

Dear Lia chan si anak marmut.

Anak marmut, aku heran tiap melihat fotomu, kok bisa-bisanya sering berjemur di Bali kamu tetep putih gitu? Oke, ini bukan pembukaan surat yang bagus. Tapi aku memang tetep Emak Gajah yang selelu kepo pada hal-hal gak penting. Plis, aku jangan ditabok, dikasih cium atau bundelan buku aja XD Aku enggak akan nanya kabarmu, karena aku tahu kamu lagi pulang kampung ke Pontianak dari BBMmu kemarin 😀

Li, aku baca semua suratmu di #30HariMenulisSuratCinta meskipun enggak komentar. Bukan, bukan karena enggak ada surat buatku kok, tapi belum komen aja *ngeles* Surat yang paling berkesan tentu saja suratmu buat diri sendiri, karena dari sana aku membaca curhatmu 😀 Isinya bernuasa tegar-tegar galau gitu. Apalah serunya kalau enggak ada sedikit warna galau dalam hidup kita *apainiiii*

Li, aku senang, sedikit demi sedikit impianmu tercapai. Aku selalu ikut senang tiap kamu jalan-jalan. Penginnya sih aku ikut jalan sama kamu ke negara sebrang atau keliling Indonesia. Atau ikut nyicip makanan yang bikin ngiler di instagram kamu. Duh, itu tolong ya kalau kita ketemu tahun ini kita mesti kuliner sepuasnya *nabung* Btw, aku inget ceritamu soal kebingungan masalah kerjaan. Anak marmut, kerjain aja apa yang kamu suka, ikuti passion-mu, enggak ada kata “terlambat” buat memulai. Singkirkan persoalan usia. Sayang kalau energi kita dipakai buat memaksa diri melakukan hal yang enggak bikin kita bahagia. Itu juga salah satu cara bertanggungjawab terhadap diri sendiri.

Anak marmut, aku sendiri seperti yang kamu liat, sedang mulai serius nge-blog. Menyenangkan, karena blog ternyata mempertemukanku dengan banyak orang, petualangan seru, dan orang-orang hebat. Dan cukup menyembuhkan perasaan nelangsaku yang belum juga menulis revisi novel. Hampir tiga tahun, dan naskahku belum rampung sepenuhnya :’) Dan ngomong-ngomong drafnya belum kamu baca juga, hiks. Nanti aja bacanya pas udah kurevisi, yang entah kapan tahun itu. Aku juga masih nunggu naskah Bella-mu selesai. Sengaja ku-mention biar aku gak stres sendiri. Sahabat macam apa aku ini? XD Namun sepertinya kegelisahan perihal karya memang enggak akan pernah usai selama kita ingin mencipta. Soalnya selesai satu tulisan, lega dan bahagia sebentar, lalu muncul kegalauan baru untuk karya ke depan. Terus terang meskipun suka stres-stres, aku menikmati itu.

lia1

Li, aku lega membaca ceritamu yang enggak lagi galau soal kapan menikah. Ini bukan penghiburan, tapi aku selalu percaya kamu akan menjadi salah satu pengantin tercantik di dunia pada suatu hari nanti. Seperti katamu, saat ini di sisimu telah hadir Max, pria berbahagia pemilik hatimu. Perasaan “saling mencintai” itu sungguh berharga. Tidak semua orang memilikinya bukan. Aku suka mengintip foto-foto kalian yang kamu update di DP BBM. Senyum cerah kalian itu menggemaskan. Seperti yang kualami, kadang salah paham dan bertengkar itu pasti terjadi dalam hubungan. Heuheu dan saat itu terjadi aku suka menghubungimu buat curhat. Bahagia itu menurutku memang cukup menjadi sederhana. Namun tidak sesederhana itu untuk mempraktikannya.

Anak marmut, bagaimana kalau kita bertemu di gathering #30HariMenulisSuratCinta ? Kamu belum pernah ikut, kan? Sekalian kamu ketemu para Kang dan Ceu Pos yang mengantarkan surat-surat kita. Oh iya, sekalian aku ngasiin buku TwiRies yang belum aku kirim juga 😥  Selepas itu, kita bisa ngobrol sepuasnya, lalu kita karokean dan nonton film. Kamu aja yang pilih filmnya, soalnya kalau aku yang pilih nanti kamu mencak-mencak XD Kangen momen itu, Li. Kangen kamu :’)

Li, aku tunggu kamu di kotaku lagi. Maaf ya aku nyebelin. Sementara aku belum mengunjungimu di Pontianak apalagi di Bali, aku sudah memintamu datang lagi ke Bandung. Tapi aku tetap memegang janjiku itu kok. Beneran. Karena aku sangat ingin ke sana.

PS: Aku pede banget ya gathering-nya di Bandung, heuheu.

*big hug*

 

***Surat-surat untuk Vincentia Natalia sebelumnya: My Girl – Anak Marmut Vincentia Natalia, Di Balik “Stalker G1N4” Ada Anak Marmut, Anak Marmut Kesayangan

 

Hari Untuk Ayah

6029_10153437488262872_3160395912356592117_n

Dear Ayah: KM. Isa Ansori

Ayah,

Terkadang aku bertanya-tanya bagaimana Ayah kecil membayangkan masa tuanya? Seperti sekarangkah? Menjadi ayah dari lima anak, sibuk berdagang, dan dikelilingi cucu-cucu serta kucing-kucing? Ah sepertinya Ayah kecil tak pernah memikirkan itu karena terlalu sibuk berpetualang. Mengukir pengalaman-pengalaman menakjubkan.

Yah, aku selalu senang mendengar kisah-kisahmu kecilmu. Tentang sungai-sungai bersih, petualangan di hutan, bertemu buaya dan harimau, juga kura-kura besar yang cangkangnya Ayah belah memakai samurai. Aku juga tak lupa bahwa di balik jiwa petualang Ayah, Ayah kecil adalah kutu buku yang suka melalap bermacam buku bantal hasil pinjaman dari tetanggamu yang seorang guru.

Ayah, kegandrunganku pada kucing sepertinya diturunkan olehmu. Seingatku, dari semenjak kecil, di rumah kita tak pernah absen dari kehadiran kucing. Namanya aneh-aneh, dari mulai Otot, Oting, dan O-O lainnya. Sampai sekarang, pagi Ayah seringkali diisi dengan memberi kucing-kucing di rumahku sisa makanan dari rumah Ayah. Aku sudah hafal benar, biasanya jam setengah tujuh pagi, akan terdengar suara gemerincing kunci bertemu gemboknya. Kemudian disusul suara eongan kucing-kucing menyambut Ayah. Mereka pasti bahagia benar melihat kedatangan Ayah. Lalu Ayah akan memeriksa air pam, apakah lancar atau macet, memastikan rumah kembar dan penyewa di depan tak kekurangan pasokan air. Terkadang Ayah membangunkanku yang sedang tidur-tidur ayam, untuk memberikan paket, atau sekadar mengobrol-ngobrol ringan.

Ayah, waktu kutanya apakah Ayah bosan dengan rutinitas itu-itu saja? Ayah jawab tidak. Ayah sepertinya jarang sekali merindukan perjalanan apalagi petualangan. Mungkin pikiran Ayah telah terlalu sibuk memikirkan kami anak-anak dan cucumu. Aku memerhatikan, mata Ayah selalu dipenuhi binar ketika bermain bersama para cucu. Meski terkadang aku memergoki kekhawatiran di sana. Mungkin memikirkan masa depan mereka di dunia yang makin absurd. Tenanglah, Ayah, manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Ayah, meski Ayah tak keberatan menjalani hari yang isinya berulang. Aku, Evi, dan Teh Yunis ingin sesekali mewarnai harimu dengan sesuatu yang baru. Kami pernah merancang satu hari bersama Ayah. Hari itu kita akan makan makanan kesukaan Ayah, apa saja. Lalu kita menonton film ke bioskop, tentunya genre film action biar seru. Setelahnya, kita minum kopi favorit Ayah, dengan aromanya yang khas Ayah. Kami berharap itu jadi hari sempurna untuk Ayah. Seperti Ayah selalu berusaha menyenangkan kami sejak kecil. Tapi ternyata Ayah tidak mau. Ayah lebih memilih menghabiskan hari seperti biasanya. Mungkin buat Ayah, rutinitas bukan jebakan, tapi keindahan tersendiri.

Kami kemudian bingung bagaimana cara membahagiakan Ayah. Namun diam-diam kami tahu jawabannya. Pernah suatu kali seorang kurir mengantarkan paket berisi bukuku dan Evi. Ayah bertanya, “Bukunya cetak ulang?” Ayah, rupanya Ayah selalu berharap dan mendoakan kesuksesan kami. Ayah memang selalu memberi dukungan pada impian-impian kami. Sekalipun impian itu membuat orang melontarkan kata-kata nyinyir, “Anak-anak Bapak padahal lulus sekolah semua, tapi enggak mau kerja.” Mereka tidak paham, kalau pekerjaan anak-anak Ayah bukan jenis yang pergi pukul 8 pulang jam 5. Tapi Ayah menerimakan itu. Ayah, sungguh pun aku tak pernah diam, kami pun selalu ingin menemu hari dimana Ayah bangga menjadi Ayah kami. Tapi… Aku yakin, hari-hari itu telah menjelma seumur kelahiran kami. Sekalipun di hari paling sedih.

Ayah, aku tak pernah lupa, saat-saat Ayah menghiburku dalam diam. Lewat tepukan di bahu atau pelukan. Ayah yang selalu membelaku dan pasang badan ketika badai menghantam.

Ayah, terima kasih telah memberi cinta paling tulus. Jangan pernah berpikir tak pernah membahagiakan kami. Karena aku sangat bahagia menjadi anakmu, selamanya.

 

10487424_10152651653637872_700087014088328478_n

Perempuan Yang Menyekap “Masa Lalu” Di Matanya

IMG_20160211_161001

Dear Perempuan,

Sudah sembilan tahun kita bersahabat. Kita telah menjadikan satu sama lain kotak pandora. Tempat menyimpan segala kisah. Cerita-cerita dari masa lampau hingga impian masa depan.

Perempuan, di matamu aku selalu melihat masa lalu. Tempat kamu menyekap cinta tanpa masa depan. Cinta diam-diam yang tak kunjung enyah meski diusir berkali-kali. Cinta yang kamu harap sepurba penciptaan semesta.

Perempuan, aku tahu sakitnya saling mencintai tanpa pengakuan. Pada setiap hening malam kamu jahit sudut-sudut bibirmu agar lidah tetap menjaga rahasia, agar nama lelaki itu tak terucap bahkan pada udara yang kamu hirup. Meskipun jari-jari tak kuasa menuliskan namanya dalam diary yang kamu kubur dalam-dalam. Hatimu menjerit sakit, berontak dengan mengatakan bahwa ‘pernah’ ada cinta di antara kalian, bahwa sesungguhnya dia membalas perasaanmu. Bahkan darinyalah segala cinta ini berasal.

Perempuan, di satu waktu aku pernah berucap, bahwa bukan hanya kamu yang merasa tersiksa oleh keadaan, bahwa dia pun merasakan luka yang sama. Hanya saja dia mampu bertahan dalam wajah datar dan dingin laku, semata-mata karena hidup memang tak pernah bisa sekehendaknya. Namun kita tak pernah mengenal kepastian, barangkali saja perih yang dideritanya tak seberapa. Karena kakinya telah sampai pada kepulangan, sementara kamu adalah sepotong pengembaraan. Perempuan, sikap tak acuhnya sebenarnya obat bagimu, karena kalian mungkin memang tak akan pernah bisa bersatu. Justru ucap cintanya adalah racun paling mematikan, yang membombardir benteng-benteng pertahanan yang telah kamu bangun bertahun-tahun. Bukankah itu lebih kejam? Ketika dia membisikan cinta yang membuatmu mati perlahan oleh harapan usang, melambungkan angan yang bahkan hati kecilmu pun tahu tak akan pernah menjadi kenyataan. Ingatkah ketika dia hadir kembali memporak-porandakan hidupmu? Untuk kemudian pergi lagi dan menyisakan punggung yang terus kamu tatap sampai hilang di ujung jalan. Dia tak akan berbalik lagi, Perempuan. Kali ini dia telah menemu batas, jalan buntu bertembok yang tak akan pernah berani dia runtuhkan hanya ‘demi’ untukmu.

Perempuan, ketika rindu itu datang menyusup, bertahanlah pada gigil rasa kehilangan. Rindumu hanya menjadi amunisi kesakitan untuk kalian. Maka berjuanglah untuk menepisnya. Atau tuliskan saja pada bait-bait puisi yang cukup kamu baca sendiri. Biarkan rindu menjadi ambigu. Biarkan rindu lelap dalam kata-kata.

Perempuan, berhentilah menyekap masa lalu di matamu. Biarkan mengalir bersama air mata yang derasnya menguras ingatan tentangnya. Perempuan, aku paham benar, cinta tak bisa dipadamkan, sekalipun dikikis oleh kebencian yang sengaja ditumbuhkan. Seperti kataku, cinta yang tak pernah memiliki adalah keabadian. Namun Perempuan, demi hidup yang tak mau kamu lalui dengan kesia-siaan, berpeganglah pada melupa. Berjalanlah meski kaki penuh luka. Karena pandoramu ini berharap matamu di masa kini dan masa depan akan memerangkap binar bahagia. Bukan semu yang ditawarkan masa lalu.

***untuk Triska Fauziah***

Super Cat – Untuk Rasi Kautsar

IMG_20151130_132154edit

Rasi super cat, begitu kamu menyebut dirimu sendiri, si pahlawan kucing super.

Masih ingat ketika tahun lalu Mama membacakan tiga surat untukmu? Waktu itu usiamu masih lima tahun. Mungkin kamu belum mengerti isi surat-surat Mama. Tapi kamu mendengarkan dengan khidmat. Anehnya, di akhir-akhir surat ketiga, kamu menangis tanpa isakan. Saat Mama selesai membacakan, kamu berkomentar, “Ma, nanti lagi jangan nulis surat yang sedih ya.” Mama lalu bertanya, “Memangnya Rasi ngerti?” Kamu menggeleng sambil menjawab polos, “Enggak, Ma, tapi sedih aja dengernya.”

Tahun ini Mama belum tahu akan menulis surat seperti apa. Apa bisa membuatmu tergelak, membuatmu menangis, atau justru kamu hanya menampakkan ekspresi datar saat membacanya. Iya, Sayang, kali ini Mama mau kamu membacanya sendiri. Karena tahun ini kamu sudah hampir lancar membaca, meski masih terbata-bata di beberapa kata sulit. Baiklah, kita mulai dari kepulangan kita ke Bandung.

Super Cat, ingat ketika pertengahan tahun lalu kita kembali ke rumah kembar selepas petualangan di negeri hujan? Kamu bilang senang karena bisa berkumpul lagi dengan kucing-kucing yang sudah kita anggap keluarga. Tahun itu juga, kamu masuk ke SD. Usiamu belum genap enam tahun, karena itu Mama memberimu pilihan, mengulang TK atau masuk ke SD. Dengan semangat kamu memilih SD saja. Sebenarnya Mama agak khawatir, takut secara psikologis kamu belum siap. Sedang urusan pelajaran, seperti kata guru TK-mu, Mama percaya kamu bisa mengikuti. Namun tetap saja Mama selalu gemas tiap mengajarimu membaca dan berhitung, sampai-sampai kamu memanggil Mama galak 😀 Kamu bahkan sempat tidak mau belajar lagi dengan Mama. Maaf Mama sempat membuatmu kapok. Bukan apa-apa, Super Cat sayang, seperti yang Mama bilang berkali-kali, dengan membaca kamu bisa apa saja, bisa menggenggam dunia. Sampai akhirnya kita menemukan cara belajar membaca yang “sedikit” menyenangkan XD

Super Cat, semenjak kita kembali ke Bandung, kita tidak pernah lagi membuat scarpbook favoritmu, kita menggantinya dengan menggambar dan mewarnai. Sampai-sampai kamu sangat ingin karyamu masuk ke koran. Tiap minggu kita mengirimkan karyamu. Pada hari Minggu, kamu akan bersemangat membuka koran, berharap gambarmu terpampang di sana. Tapi kamu harus menelan kekecewaan berkali-kali, sampai kamu mogok menggambar dan mewarnai. Mama tak akan lelah memberimu semangat, karena, Nak, itu hanya sedikit kegagalan yang ditawarkan hidup. Di depan, masih banyak rintangan yang harus kamu hadapi. Lalu… kamu masih ingat, kan, ketika akhirnya gambarmu dimuat di koran? Kamu bahagia sekali sampai koran itu kamu perlihatkan pada semua orang. Begitulah, Nak, kebahagiaan dari meraih keberhasilan baru bisa kamu kecap setelah melampaui perjuangan dan proses.

12308349_10153385753987872_6354658459279671797_n

Ingat juga bagaimana rasanya menerima hadiah pertamamu? Waktu kita ke kantor koran untuk mengambil honormu. Sampai saat ini uangnya kamu tabung untuk membeli perlengkapan sekolah saat naik kelas nanti. Super Cat, yang membuat Mama bangga bukan prestasimu, tapi detik-detik dimana kamu tidak menyerah pada kegagalan. Semangatmulah yang kemudian memanggil semesta untuk mendukung. Seperti ketika kamu kehabisan krayon, tiba-tiba salah satu sahabat Mama memberimu hadiah sekotak krayon.

IMG_20151202_100737

Super Cat, maafkan Mama akhir-akhir ini sering meninggalkanmu ke luar kota. Hingga seringkali kamu bersedih karena ketidakhadiran Mama. Pada awalnya Mama selalu membohongimu, diam-diam pergi pada dini hari, sebelum kelopak matamu terbuka menatap dunia. Namun sekarang kamu sedikit demi sedikit paham, hingga tidak lagi menangis sesenggukan lalu mengeluhkan kenapa kamu tidak terlahir kembar seperti Mama, agar kamu tak ditinggal sendirian. Nak, di balik jiwa kanak-kanakmu tersimpan ketabahan yang luar biasa. Nak, betapa hati Mama pun selalu terbelah, sebagian tergenang dalam rasa bersalah. Super Cat, kamu memang cenayang, selalu bisa membaca perasaan Mama, sehingga kamu pun sudah mengikhlaskan Mama tiap kali mesti terbang untuk menggapai impian. Senyummu seolah menabahkan Mama, bahwa Mama tak mesti lagi merasa bersalah. Bahwa kamu akan selalu baik-baik saja. Bahwa hati kita yang selalu saling terpaut, menjadikan jarak kita selalu hanya sedekat nadi. Mama tahu, kamu selalu senang tiap kali bisa ikut ke mana pun Mama pergi, kadang malah kamu yang lebih bersemangat mengikuti acara-acara Mama. Sayang, jangan khawatir, kamu selalu ada dalam impian Mama. Kita telah sepakat saling membagi impian kan. Mama selalu percaya, suatu hari kita bisa mewujudkan impian kita keliling dunia, dengan raga maupun jiwa lewat kata-kata. Kamu ingin bertemu Doraemon di Jepang, kan?

10274150_10153529590407872_1225739936102975935_n

Gadis kecil, Mama selalu dibuat terkaget-kaget oleh tingkahmu. Tiap kali Mama pulang bepergian, kamu selalu menyambut Mama dengan setumpuk surat berisi kalimat-kalimat pendek mengahangatkan. Di lain kali, Mama temukan rekaman video yang kamu ambil sendiri yang memperlihatkan gayamu menjelaskan sesuatu ala-ala presenter TV. Lalu komik-komik pendek berisi petualangan kita di negeri entah. Namun selalu ada nyeri tiap kali Mama berpikir hasil karyamu dibuat dalam kesendirian, mungkin untuk membunuh sepi. Kamu hebat, Nak, energi itu kamu salurkan pada hal positif.

12654687_10153510986052872_6732393357779467727_n

Super Cat, dari sekian banyak pelajaran kehidupan, darimu aku mendapat banyak sekali makna. Darimu aku menggali arti menjadi seorang ‘ibu’. Karena Mama tak lantas menjadi seorang ‘ibu’ ketika melahirkanmu. Namun Mama belajar dari tiap detik tumbuh kembangmu. Percayalah, Nak, aku ingin menjadi ‘ibu’ terbaik bagimu. Yang dalam ingatanmu akan terkenang harum tubuhku, usapan lembut di kepalamu, dan berbagai keseruan imaji kita. Mama ingin menjadi Super Mama untuk si kucing super mama, Rasi.

Rasi Kautsar, aku menyayangimu, selembut kamu menyentuh kedalaman hatiku.

 

***Surat-surat untu Rasi Kautsar di tahun-tahun sebelumnya: Rasi Kautsar – Kucing Kecilku, Tiga Minggu – Surat Untuk Rasi Kautsar, Petualangan Manusia 110 CM di Negeri Hujan ***

Arti Kita – Untuk Evi Sri Rezeki

IMG_20160121_133715

Pi, saat aku menulis surat ini, kamu sedang tidur di pangkuanku. Sesekali aku menatapmu dalam lelap, wajahmu terlihat damai, ekspresi yang jarang kutemukan akhir-akhir ini. Kita dalam mobil yang melaju ke kota lain. Seperti semua perjalanan bersamamu, kali ini pun perjalanan ini terasa menyenangkan. Entah berapa kali kita berkelana bersama, aku berharap, masih ada jutaan jarak yang akan kita tempuh lagi berdua. Aku tahu kaki-kaki kita tak akan lelah berpijak mengelilingi dunia, menaruh jejak kembar di tiap jengkalnya.

Tentang Cinta

Pi, hidup memang luar biasa ya. Tak pernah lelah memberi kita kejutan. Kali ini aku melihat cermin dalam dirimu. Kamu yang mengalami apa yang kualami bertahun lalu. Luka yang bahkan dalam tidur pun terus meneror. Cinta memang tak pernah usai menyeimbangkan diri, datang bersama bahagia dan kepedihan. Kali ini goresannya merenggut damai di rautmu. Tapi percayalah, semesta tak akan membiarkan duniamu diselimuti kabut selamanya. Waktu, kejadian demi kejadian, juga aku akan bahu membahu berusaha menjadi imun dalam tubuhmu. Aku bersyukur telah kembali dari pengembaraan dari negeri hujan sehingga bisa mendampingimu saat ini. Selama kamu tak menyerah, luka itu akan sembuh, tentu dengan tetap meninggalkan koreng agar kamu tak melupa hingga bisa belajar dari sana. Ah, tapi, Pi, hanya di hadapan cinta kita selalu tampak bodoh. Selalu menanggalkan segala atribut kepalsuan hingga yang tersisa adalah kepolosan. Cinta memang profesor, sedang kita penuh keluguan anak SD di hari pertamanya masuk sekolah. Cinta memang pandai menjumpalitkan keadaan. Cinta bisa mendadak membuat kita tampak seperti bipolar. Sedetik lalu kita menampakkan senyum malu-malu, detik berikutnya mata kita telah basah.

Pi, rupanya pencarianmu belum berakhir. Kamu masih mereka-reka, menjadi tulang rusuk siapakah dirimu. Kadang aku heran, masih perlukah kita mencari pemilik rusuk, padahal kita telah menemukan belahan jiwa? Ya, aku dan kamu. Tapi begitulah, pada kenyataannya kita ternyata belum saling mengutuhkan. Ada ruang-ruang yang memang tersedia bagi jiwa-jiwa lain agar hati kita menjadi penuh. Namun yang pasti, dari sekian jiwa itu, padakulah kamu mendapat dasar hakikat hidup.

Pi, kamu wanita yang kuat. Tak kamu biarkan segala duka meruntuhkan mimpimu. Dalam resahmu, aku tak pernah melihatmu setenang itu. Kadang, itu membuatku takut. Karena aku tahu, memendam adalah sakit yang menggilakan. Maka, Pi, jangan memendam. Menangis sajalah, berteriak sajalah, atau apa sajalah daripada berdiam dalam tembok datarmu itu. Meski memang, dunia tak butuh isak tangis, tak butuh teriakan, hanya butuh apa yang ingin dunia dengar dan lihat. Tapi dunia kecil kita tak butuh kepura-puraan, di dunia kita kamu bebas menjadi dirimu. Karena dunia mungil kita selalu dipenuhi cinta yang posesif, keposesifan itulah yang kuharap menerangimu dalam setiap saat dunia terasa begitu kelam. Ingatkah, Pi, saat aku kehilangan kepercayaan diri dalam mencintai. Saat kupikir aku tak ternyata tak pernah benar-benar memiliki cinta? Rupanya aku salah, Pi. Karena aku memang tak pernah kehilangan cinta. Adalah kamu yang menyadarkan itu. Karena itu, Pi, aku pun ingin kamu selalu mengingat dan merasa, di dunia ini selalu ada cinta yang tak akan pernah pudar sedikit pun, cinta yang ada selamanya.

12669677_10153525596032872_3884097361439324348_n

Tentang Mimpi

Pi, ternyata menjadi anak kembar benar-benar membawa banyak berkah ya. Setelah melewati jalan terjal penerimaan bahwa kita selamanya akan dibandingkan dalam segala pencapaian. Rupanya Tuhan begitu baik, sekarang banyak pekerjaan yang memaketkan kita. Seakan Tuhan ingin kita berhenti saling menyimpan iri.

Pi, tentang impian kita. Rasanya kita sudah jauh melangkah, tapi ternyata belum seberapa juga. Banyak hal yang luput kita kerjakan, bahkan tak jarang kegagalan memberikan senyum kemenangannya. Apa-apa yang sudah kita perbuat tak cukup menjadikan mimpi besar kita terwujud: menjadi sepasang kembar yang tercatat sejarah, melewati zamannya. Kita pun mengakui kan, bahwa rasanya belum ada hal besar yang kita buat. Mungkin, untuk menjadi yang tercatat dalam sejarah hanya dibutuhkan ketulusan, bahwa segala perbuatan besar berasal dari kedalaman hati yang akan menggerakan hati-hati yang lain. Pi, tapi aku yakin, semesta telah mencatat kita. Sepasang kembar yang penuh impian, yang di binar matanya memerangkap zaman. Sekarang yang harus kita lakukan hanya terus melangkah di fondasi mimpi yang harus terus kita kokohkan, meningkahi segala gelombang. Karena kisah hidup luar biasa harus selalu melibatkan konflik yang dahsyat. Begitu bukan yang kita pelajari saat menulis? Ah, tapi kita telah bersepakat. Kita hanya butuh hidup yang biasa-biasa saja, biarlah karya kita yang berbicara tentang segala yang luar biasa.

Pi, terima kasih karena bersedia menjadi kembaranku selamanya. Meskipun kamu tak bisa menemaniku menonton drama Korea 😀 Namun seperti katamu, kita kembaran yang melewati batas bumi dan langit, menjadi sepasang wujud apa pun kita. Aku pun begitu. Meskipun aku tak selalu ada di sampingmu. Aku ingin terus menjadi kembaranmu, di waktu adaku, di waktu tiadaku. Karena waktu dan jarak telah meleleh di hadapan kita.

12651119_10153525596107872_3735649343277293650_n

Pi, mobil kita sudah hampir sampai ke tujuan. Tapi hidup kita masih penuh kabut, menutup banyak pintu-pintu persimpangan, agar hidup tak pernah kehilangan akal membuat kita terkejut. Pi, ayo kita terus bergenggaman tangan menghadapi segala kejutan. Saling menularkan keberanian. Saling berbagi arti. Biarlah kamus kita mencatat arti “kita” sebagai segala kata indah yang pernah tercatat di bumi.

 

***Surat-surat untuk Evi sebelumnya: Serupa Kita, 7 Hari Sebelum, dan Menembus Ruang dan Waktu ***

[Cerpen] Pada Oktober

 

IMG_20151103_170805

Pada Oktober

Oleh Eva Sri Rahayu

Delapan tahun yang lalu, aku menerima cintanya di sini. Di bawah pohon mangga yang rindang dan berbuah lebat. Satu-satunya pohon besar di taman kecil ini, mencolok di antara rumput dan bunga-bunga dandelion yang putiknya siap terbang menjelajah. Delapan tahun kemudian, aku menerima cinta yang lain di tempat yang sama.

Pertemuan yang aneh di bulan Oktober, pada tanggal delapan. Sebuah angka yang sakral. Karena Oktober sendiri artinya delapan dalam bahasa Latin. Sakral karena pada tanggal delapan tahun ini, genap delapan tahun aku dan suamiku menjalin kasih. Dan pertemuan dengan pria lain itu terjadi saat aku sedang menunggu suamiku di bawah pohon rindang ini. Kami berjanji untuk bernostalgia masa pacaran, di usia pernikahan kami yang telah menginjak angka tujuh.

Aku berdiri sendirian di bawah pohon, mengenakan baju serba putih kesukaan Alva, suamiku. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas pohon. Spontan aku menengadahkan kepala, membuat mataku bersirobok dengan seorang lelaki muda yang tengah duduk di atas pohon, bersembunyi di tengah kerimbunan daun. Mata lelaki itu basah, seperti sudah menangis. Lelaki itu menepiskan semut merah dari tangannya, dan membuat buku yang dia pegang terjatuh tepat di tanganku. Buku itu terbuka tepat pada sebuah catatan. Tanpa sengaja aku membaca bait-bait puisi yang tertulis di dalamnya.

Pada pundakmu aku menitipkan hati// Hingga usia menjadi abadi// Tapi gurat senyummu membuatku patah hingga bernanah // Karena tubuhmu ternyata tak sanggup memikul jiwaku dalam bias malaikat malam.

Lelaki muda itu lalu turun dengan ringan dari atas pohon, berdiri dengan anggun di depanku. Mata kami kembali bertemu, tapi mata itu sudah tak lagi basah, membuatku berpikir tadi salah melihat. Entah kenapa tatapannya membuat dadaku berdesir, sebuah rasa salah seperti datang dengan kecepatan cahaya.

“Maaf, Kak,” katanya singkat sambil mengulurkan tangan padaku.

Kututup buku di tanganku, lalu dengan sebelah tangan lain, aku menjabat tangannya dengan gugup. “Rhena,” ucapku, yang membuat wajahnya diliputi rasa geli, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak sambil memegang kepalanya setelah tangan kami lepas.

“Kak, aku bukan ngajak kenalan loh, maksudku minta buku kok,” ujarnya setelah selesai tertawa, yang tentu saja membuat mukaku langsung merah marun.

Dengan kikuk aku memberikan bukunya. Lelaki muda itu mengambilnya sambil tersenyum penuh arti, melihat wajahku yang merah. Lalu dia mengulurkan tangannya lagi sambil menatapku dengan tajam. Aku hanya diam, bingung.

Melihatku diam saja, diambilnya tanganku sambil berkata, “Andri.”

“Eh, iya,” kataku lagi sambil melepas genggaman tangannya.

“Menunggu siapa, Kak?”

“Euh… suamiku,” ucapku singkat dan penuh keraguan.

Andri lalu menatapku penuh pandangan selidik, dibukanya buku, lalu menggambar dan menuliskan sesuatu di sana. Aku seperti tersihir, diam mematung menonton apa yang dilakukannya. Setelah selesai, diberikannya kertas itu padaku.

“Ini buatmu, Kak, berikan pada suamimu,” tukasnya, lalu pergi meninggalkanku yang takjub menatap isi kertas itu.

Isinya sketsa wajahku yang tampak sedang menunggu kekasih dengan berdebar-debar. Sketsa yang sangat kasar tetapi tetap indah untuk dilihat. Di bawah gambar itu ditulisnya sebuah puisi.

Pada Oktober aku menunggu// Bersama debar jantung yang lebih hebat dari tsunami// Dengan rasa yang lebih merah dari cinta// Dengan rindu yang dititipkan hujan pada jutaan putik dandelion.

Begitulah kami bertemu, dan setelah itu kami bertemu lagi dalam suatu sore yang mendung dan gelap seperti suasana hatiku. Saat itu aku pergi dari rumah karena bertengkar dengan mertua. Masalahnya selalu sama, aku belum juga memberinya cucu.

Aku dan suamiku sudah berusaha, kami mendatangi dokter, alternatif, dan banyak cara lainnya. Tapi aku belum juga mengandung. Alva sendiri tidak mempermasalahkan semua itu, dengan tetap sabar dan penuh sayang dia meneduhkanku saat resah menerpa.

Tapi sore itu aku tidak tahan lagi dengan perkataan menyakitkan dari Ibu. Dengan hati yang dipenuhi badai, aku datang ke taman itu, sesenggukan di bawah pohonnya. Tangisku terhenti ketika aku mendengar bunyi gemerisik dari atas pohon. Otomatis aku yang tengah duduk di atas rumput sambil memegang lutut, melayangkan pandangan ke atas pohon. Dan aku menemukan Andri sedang memalingkan muka karena malu ketahuan sedang memperhatikanku.

“Kamu… lihat?” tanyaku kesal karena merasa privasiku diketahui orang.

“Maaf, Kak, aku gak sengaja. Aku bukan mau mencuri dengar,” jawabnya sambil menatapku penuh simpati.

Melihat sorot matanya yang penuh rasa bersalah, aku luluh. “Dek, turunlah, temani aku,” kataku lemah.

Andri meloncat turun dengan mudah, terlihat bahwa dia sudah sangat terbiasa naik turun dari pohon itu. Dia kemudian mendekati lalu duduk di sampingku. Kami saling terdiam, masing-masing larut dalam pikiran, sambil menikmati pemandangan putik-putik bunga dandelion yang terbang terbawa angin kencang penanda hujan akan segera turun, pergi ke tempat yang entah.

“Kak, kenapa kamu menangis?” tiba-tiba Andri bertanya dengan suara yang membelah desir angin.

Aku menatapnya, tapi dia tidak menatapku. Pandangan Andri terus jatuh ke depan, membuat pertanyaan tadi seakan untuk dirinya sendiri. Hal itu justru membuatku nyaman, merasa ada teman dalam kegelapan. Maka meluncurlah cerita dari bibirku, seperti bercerita pada seorang sahabat yang paling kupercaya. Ketika hari beranjak gelap, dan tangisku telah usai, ceritaku pun selesai.

Andri menatapku lekat-lekat, lalu katanya, “Kak, kalau lain kali kau ingin menangis lagi, kau boleh memilih bersandar di dadaku atau di bahuku.”

Mendengar itu, aku pun tersenyum tulus. Mata kami kembali bersinggungan, dan kehangatannya pun kembali menyusup ke dalam hatiku.

“Terima kasih, tapi aku sudah terbiasa menangis tanpa bersandar.”

Setelah hari itu, kami sering bertemu di taman. Seperti janjian, padahal tidak, karena tidak pernah ada kata terucap untuk kembali bertemu. Setiap kali aku datang ke sana, aku akan menemukannya sedang duduk di atas pohon, sedang membuat sketsa atau puisi. Lama-lama bukan hanya aku yang bercerita, dia pun mulai terbuka. Kepercayaan memang sesuatu yang selalu ajaib, karena ketika kita memberikannya dengan tulus pada seseorang, maka dia akan memberikan hal yang sama besar. Andri bercerita tentang hatinya yang patah, cintanya bertepuk sebelah tangan pada gadis yang telah lama menghuni jiwanya. Tahulah aku, hari itu, hari pertama kami bertemu, dia memang benar-benar menangis.

Sekarang, bagiku dia tempat berbagi segalanya. Kami berbagi suka dan duka, tertawa dan menangis bersama. Terkadang saling ejek, terkadang saling merajuk.

Lama-lama aku seperti ketagihan untuk bertemu dengannya, selalu memikirkannya, dan selalu membayangkan senyumnya. Ada rasa rindu yang menggedor hatiku bila sehari saja kami tidak bertemu. Seperti hari ini, ketika aku dengan susah payah menyempatkan diri datang ke taman untuk bertemu dengannya. Tapi Andri tidak juga datang. Satu jam, dua jam, hingga hari telah gelap, bayangannya tetap tidak muncul. Dengan sedih aku menggurat tanah yang tidak ditumbuhi rumput di dekat pohon, menuliskan pesan untuknya. Singkat saja, hanya “Aku rindu”.

Esoknya, ketika aku kembali ke sana, di tempat yang sama tempat aku menulis pesan itu, sudah tertulis pesan baru. Sepertinya si penulis pesan sangat sadar bahwa tulisanku itu untuknya. “Aku juga rindu. Maaf, kemarin aku tidak bisa datang. Aku sedang UTS. Sekarang pun aku hanya datang untuk memberi pesan padamu.”

Membaca pesan itu, hatiku sakit. Aku sadar betul, hatiku telah dicuri olehnya. Bukan, lebih tepatnya, akulah yang memberikannya. Dan bolehkah aku berharap dia merasakan hal yang sama? Pertanyaan retoris yang begitu jelas jawabannya. Tentu perasaan ini harus segera dibunuh, dihancurkan hingga tidak bersisa. Tapi alih-alih mati, dia malah tumbuh semakin subur. Sambil menangis, aku kembali menggurat pesan untuknya, kali ini lewat bait-bait puisi.

Aku tidak pernah mengundangmu hadir dalam hidupku// Kau datang sendiri membelokan jalanku // Ini bukan sayang, apalagi cinta, ini hanyalah rasa tanpa nama.

Hari selanjutnya, kami tidak juga bertemu, tapi aku menemukan kembali pesan yang digurat di atas tanah. Pesan itu berisi “Aku tahu hatimu, karena aku pun begitu. Aku menulis sebuah puisi untukmu. Bersandar air pada awan// Diceraikan mendung pada waktunya// Gamang hanyalah perantara// Agar hujan tak turun sia-sia.” Membaca itu, air mata haru mengalir. Hatiku dipenuhi sejuta jenis bunga. Aku sedang jatuh cinta, dan dia merasakan hal yang sama.

Selama lebih dari seminggu kami tidak bertemu, hanya terus saja bertukar pesan yang dititipkan pada tanah yang terkadang basah dibasuh hujan bulan Oktober. Keasyikan ini lebih dari bertukar pesan lewat SMS atau lewat teknologi apa pun di dunia. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikannya, karena tulisan pada tanah ini selalu saja terhapus.

Hingga hari kedelapan, ketika aku merasakan kecewa karena tidak menemukan pesan darinya, tiba-tiba saja Andri muncul dengan senyum khasnya. Dari balik pohon yang mulai berbuah itu, dia mendekatiku dengan tatapan penuh kerinduan. Aku terdiam, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak memeluknya.

“Kamu, mau jadi kekasihku?” tanyanya saat berada tepat di hadapanku.

Mendengar itu aku membelalakan mata, rasanya pendengaranku telah salah. Apa mungkin itu hanya desau angin. Tapi pria di depanku ini nyata, dan dia tengah bertanya padaku. Air mataku meleleh. Andai saja sore itu turun hujan, tentu dia tidak usah melihatnya.

“Bagaimana dengan dia? Apa kamu sudah melupakannya?” tanyaku.

“Entahlah,” jawab Andri sambil membuang muka. Dari kata dan gerak tubuhnya saja aku sudah tahu, dia belum sepenuhnya melupakan gadis impiannya itu. Tapi aku tidak bisa menuntut, karena aku pun terbagi.

“Kamu mau jadi yang kedua? Jadi selingkuhanku? Mau merasa sakitkah?” tanyaku lagi.

Andri diam sejenak, jelas dari ekspresi wajahnya dia terluka, seperti baru menyadari kenyataan pahit bahwa aku tidak sendiri.

“Iya,” jawabnya singkat dengan nada getir.

Lalu sesorean itu kami bercengkrama tanpa bersentuhan, hanya duduk bersebelahan seperti biasa, tapi hati kami telah berpelukan erat. Di antara kehangatan hatiku yang berbunga, sungguh terselip kesunyian yang lebih dari sepi. Kesedihan yang lebih mencekam dari kehilangan. Semua rasa itu muncul karena aku telah menduakan hati.

Sungguh aku ingin mencintai Alva dan Andri dengan sederhana, seperti cinta yang dimiliki manusia biasa. Tapi cintaku ternyata cinta para dewa, seperti cinta Zeus yang selalu terbagi, tak pernah benar-benar tertambat pada Hera. Sungguh selama delapan tahun ini aku selalu percaya bahwa hanya Alva yang selamanya menghuni hatiku.

Lalu saat senja telah habis, kami berpisah sambil kembali bertukar senyum, bertukar tatapan yang mengatakan jauh lebih banyak dari kata.

“Andri, cintaku padamu seperti bunga plastik. Walau palsu, tapi tak pernah mati,” ucapku menirukan sebuah kata mutiara yang sering kudengar.

Andri menatapku nanar, tak berkata apa-apa.

Setelah perpisahan di senja itu, aku seperti menghilang. Aku tidak pernah menemuinya, ataupun sekadar menulis pesan. Bukan aku menghindar, tapi aku memang tidak bisa menemuinya karena sibuk mempersiapkan pernikahan adik iparku. Sungguh sesak dada ini memendam kerinduan, dan sungguh luka rasanya ketika berduaan dengan suamiku. Ada merasa telah menghianati keduanya. Seperti ada tiga orang sekaligus di ranjang ini. Diam-diam aku selalu menangis sebelum tidur. Untung Alva tidak menyadarinya.

Hingga hari kedelapan terakhir pertemuanku dengan Andri, aku bisa kembali bertatap dengannya. Pertemuan penuh dengan perang batin maha hebat bagi kami berdua. Kutemukan sorot yang berbeda dari mata Andri. Campuran dari kesedihan, rasa bersalah, dan kerinduan.

“Aku menunggumu setiap hari, menuliskan pesan setiap hari, tapi pesanku tidak pernah berbalas,” katanya dingin.

“Maaf,” hanya kata itu saja yang bisa kuucapkan.

“Beginilah nasib kekasih gelap. Setelah hari ini akan kubunuh sosok kekasihmu,” ucapnya lagi, meremukan hatiku.

“Kamu menyesal?”

“Aku sudah tidak bisa menahankan rasa bersalah ini. Kamu istri orang,” jawabnya.

Lagi-lagi aku menangis di hadapannya. Ingin sekali aku merengkuhnya. Menangis di dadanya. Tapi tidak bisa, tidak boleh sampai terjadi, karena itu hanya akan menambah sakit bagi kami berdua.

“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya.

“Sudahlah, Kak, kita jadikan saja hubungan kita ini sebagai persaudaraan yang indah,” tukasnya yang seperti suara petir membelah langit.

“I-iya…,” ucapku pasrah, karena kata-katanya memang benar, dan karena dia juga telah kembali memanggilku dengan sebutan ‘kakak’.

Kami kembali terdiam, berdiri saling berhadapan, sama-sama menghayati suara angin pancaroba. Sampai senja kembali hadir di tengah kami.

“Aku pulang,Kak.” Akhirnya Andri memecah kesunyian kami.

Aku mengangguk, lalu ketika dia berjalan melewatiku, persis ketika kami bersisian, aku memegang tangannya yang kokoh. Dia membalas genggamanku. Tangan kami bertautan, tapi kami tidak saling menatap. Kemudian aku sadar ini akan membuat semua lebih sulit. Kulepaskan genggamannya, untuk sepersekian detik dia tidak melepaskan tanganku, lalu akhirnya dilepaskannya juga. Setelah itu Andri melesat seperti angin, pergi meninggalkanku sendiri.

Sebelum meninggalkan tempat kenangan bagi kedua kekasihku, aku sempat menuliskan sebuah puisi di tanah yang lembap.

Andai saja hari itu kita tak bertemu// Aku tentu tak tahu aromamu// Untung saja, hanya sekejap kau pegang tanganku// Setelah itu, kita jadi ambigu.

***

Akhir Oktober, aku kembali ke sana, bersama Alva. Dengan gayanya yang lucu, dia memanjat pohon mangga itu, melemparkan dengan tepat ke tanganku buah mangga mentah yang kuminta.

“Itu untuk permintaan bayi kita,” katanya penuh kebahagiaan.

Aku membalas senyumnya dengan tulus. Kami lalu duduk di bawah kerindangan pohon, sambil mengobrolkan bagaimana rupa anak yang sedang kukandung ini. Lalu tatapanku tanpa sengaja menangkap bayangan Andri dengan seorang wanita muda. Hanya sekejap saja. Mungkin aku salah lihat, mungkin hanya karena aku masih menumpuk rindu untuknya. Tapi, bila memang itu benar-benar dia, semoga saja dia bahagia bersama gadis penghuni rusuknya itu.

Kepada Oktober, aku menitip cinta lain, menitip doa untuk seorang kekasih dalam setiap hela napasnya.

*2011

*Cerpen ini pernah diterbitkan indie dalam kumpulan cerpen “When … I Miss You”

 

 

Sahabat Dari Hongkong

IMG_626781748777

 

Sahabat Dari Hongkong

: Ocuz Wina dan Mega Riana Dewi Bintang

 

Dear Nanny Ocuz dan Ceu Ega,

Apa kabar Hongkong? Jadi inget pelesetan orang-orang, apa-apa dari Hongkong, dan itu menandakan bahwa sesuatu yang disebutkan enggak tergapai atau bohongan. Rasi juga kalau bercanda pasti bilangnya, “… dari Hongkong.”

 

Dua tahun lalu waktu Nanny Ocuz kirim boneka hasil rajutan, pas aku kasihin ke Rasi aku bilang ini dari Tante Ocuz dari Hongkong. Rasi sama orang-orang rumah pada enggak percaya dan ngetawain aku. Sampai aku meyakinkan mereka kalau itu “beneran” dari Hongkong XD

 

Ngomong-ngomong gimana keputusan Nanny Ocuz? Tetep bertahan di sana untuk beberapa tahun ke depan? Atau pulang ke Indonesia? Apapun keputusannya semoga yang terbaik untuk Nanny Ocuz dan keluarga, juga anak-anak asuhan ya ^_^ Mereka pasti udah nganggap Nanny Ocuz keluarga sendiri.

 

Btw, udah lama enggak nyimak Nanny Ocuz menggalaukan darkor di twitter. Sekarang aku juga udah gak pernah nonton drakor, hiks. Mau minta rekomendasi drakor bagus dong, Nanny, hihihi. Nanny, masihkan tangan-tanganmu sibuk merajut boneka atau apa saja dengan penuh cinta? Beberapa waktu kulihat Nanny sedang suka membuat origami.

 

Ceu Ega, tahun lalu kita sempet ketemu di Bandung ya, Alhamdulillah. Meskipun aku sempet bikin Ceu Ega kesel 😥 Maafkan. Meskipun waktu kita terbatas, tapi pertemuan itu menghangatkan. Walaupun kepengin seperti pertemuan tahun-tahun lalu, kita bisa bernyanyi bareng semalaman. Tahun ini semoga kita ketemu di karya, punya tulisan yang sebuku. Yeay! Aku penasaran sama karya Ceu Ega. Pasti keren! Oh iya, aku juga pengin liat Ceu Ega baca puisi. Kenapa kemarin gak minta ya *eh

 

Nanny Ocuz dan Ceu Ega, aku mau ngucapin banyak banget terima kasih atas kado pernikahannya. Jauh-jauh dari Hongkong dikirim langsung, bener-bener bikin terharuuu :’) Kami sangat suka baju-bajunya, Nanny Ocuz dan Ceu Ega punya selera yang keren, beda banget sama aku yang masuk kategori “Tidak Tertolong” XD Ditambah lagi video ucapannya, bikin serasa walaupun kalian jauh tapi kerasa deket. Kami doakan semoga kalian pun segera bertemu belahan jiwa.

 

Aku suka memperhatikan kalian loh. Seru aja ngikutinnya. Kalian para wanita tangguh ini suka jalan-jalan ke gunung atau bertualang ke mana aja. Belum lagi naik-naik ke atas pohon 😀 Bener-bener bikin kagum. Semoga Rasi bisa mengikuti jejak kalian, dekat dengan alam, dan enggak penakut. Beda sama Emaknya yang lebih suka nonton dan tidur XD Dari foto-foto dan status petualangan kalian, aku melihat, di negeri jauh kalian bersahabat erat saling menguatkan dan berbagi suka duka. Btw, kalian pernah bertengkarkah? Pasti kalau pernah, enggak akan tahan marahan lebih dari lima menit XD Di negeri yang jauh dari sanak saudara, kalian memiliki satu sama lain. Sungguh persahabatan kalian membuat haru :’)

 

Di surat yang lalu, aku bilang kepengin ketemu nanny di acara Kemsasnas bulan Juli, sayangnya ternyata liburan Nanny enggak tepat hari, sehingga kita belum bisa ketemu. Pengin suatu hari bisa mengunjungi kalian di Hongkong. *minta tolong diaminin, heuheu*

 

Nanny Ocuz dan Ceu Ega, kita belum pernah ngobrolin soal impian. Aku sebenarnya ingin tahu mimpi-mimpi kalian. Seperti apakah kalian merancang masa depan? Siapa saja orang-orang yang ingin kalian sertakan? Sebesar apa impian itu menjadi panduan kalian untuk melangkah? Meskipun aku enggak tahu, tapi jejak perjalanan kalian cukup membuatku yakin semua impian pada akhirnya pasti berhasil kalian gapai, tentu dengan seizin Tuhan.

 

Semoga suatu hari diperkenankan mendengar jawabannya langsung dari bibir kalian ^_^ Pertemuan lengkap, ada Nanny Ocuz dan Ceu Ega.

 

Sebelum surat ini berakhir, aku ingin bilang terima kasih karena kalian sudah menjadi sahabat yang baik selama ini. Bukan sahabat pelesetan “Dari Hongkong” tapi benar-enar sahabatku yang tinggal di Hongkong.

 

Nanny Ocuz, salam untuk keluarga. Ceu Ega salam untuk jagoanmu.

 

IMG_679821889694

 

 

Ps: Maafkan atas penculikan foto-foto kalian dari FB XD