(Tak) Usah Menanti Suatu Hari

yunis2

Dear Sista Yunis,

Saat aku menulis surat ini, aku tengah duduk di kursi tempatmu biasa menghabiskan hari-hari di depan laptop. Kursi ini bila berubah wujud menjadi seseorang, kukira dia pastilah seorang yang paling memahamimu. Dia bisa mengisahkan hidupmu dengan detail. Karena di kursi ini pulalah, kamu kerap kali membagi cerita dengan orang-orang terdekatmu. Bahkan dia hafal benar bahasa tubuhmu. Termasuk apa-apa yang tak mampu kamu katakan, yang kamu sembunyikan lewat gelisah tubuh. Bahagia, cemburu, kepedihan, kebosanan, hingga ketegaranmu. Duduk di sini membantuku menyelamimu, menatap sekitar pada posisi dan sudut pandangmu.

Sis, tadi malam kita bercerita panjang tentang segala hal. Dari hal remeh temeh hingga persoalan krusial hidup: impian, keluarga, dan cinta. Perbincangan itu bukan sekadar bicara persoalan dan hati, kita berusaha saling menguatkan satu sama lain.

Menyoal impian. Sis, aku suka ketika melihatmu larut berkarya. Kegelisahan dan luka-luka menjadi roh yang menghidupkan karyamu. Kerasnya kenyataan tak mampu menumpulkan daya hidupmu. Justru diolah menjadi bahan baku. Kadang kamu tuangkan dalam kanvas, atau tanah liat, seringkali pula di atas kertas. Meski karya kadang tak sepadan bila ditimbangkan dengan angka-angka. Berbentur dengan kenyataan yang datang dari tumpukkan tagihan yang harus dibayarkan. Belum lagi pedihnya saat tak mampu menghapus tatapan nanar anak karena tak bisa mewujudkan keinginannya. Namun kepuasan memang tak bisa dinilai oleh angka, bukan? Tapi karya belumlah menjadi karya sebelum selesai. Proses selalu serupa penyakit yang meringkihkan tubuh. Menjadi tanda tanya besar, apakah kita akan sampai pada ujungnya? Kita mesti sadar betul, tak kan beranjak ketika tidak bergerak. Meski mesti terseret-seret, kadang terbawa arus.

yunis1

Kemudian tentang cinta. Lucunya kita. Kita sama-sama perempuan yang tak cukup dinafkahi oleh perbuatan, materi, dan cinta. Tapi juga mesti diberi makan kata-kata. Mungkin karena setengah hidup kita berada di dunia kata-kata. Namun jangan sampai kata-kata menjadi menu utama. Kuharap kamu tak akan terpedaya. Selalu lihatlah bagaimana seseorang memperlakukanmu. Apa dia mampu menjaga kehormatan pikirannya padamu. Menempatkanmu sebagai seseorang yang mesti dia jaga lahir dan batinnya. Ah, tapi intuisimu selalu membimbing pada jalan kebenaran. Tinggal apakah kamu mau mendengarnya atau tidak.

Kamu mempertanyakan, kapan waktu mempertemukan dengan orang yang tepat? Pertanyaan yang jawabannya paling berkabut. Aku tahu beratnya membesarkan anak sendirian. Menjadi seorang ibu sekaligus ayah. Mengasuh dan bekerja. Di waktu-waktu kelam, rasanya ingin bersandar. Aku paham karena pernah mengalaminya. Penantian memang waktu-waktu yang melelahkan. Namun, menjadi “KITA” dengan orang yang tak tepat justru lebih menyakitkan, bukan? Hanya menyisakan lebam dan luka bernanah. Memang, cinta selalu menyeret kita pada titik nol. Meniadakan banyak pelajaran yang padahal telah kita bukukan untuk dibaca berulang. Bukankah kamu ingin menjadi rumah, bukan tempat persinggahan. Dan kamu pun ingin menghabiskan hidup dengan lelaki yang mampu menjadi rumah, bukan seseorang yang kamu jadikan teman selintas perjalanan.

Sis, berkali-kali patah hati, nyatanya tak membuat rohmu tercerabut dari raga. Karena kamu memang pencinta yang sungguh pemberani. Hatimu yang memar-memar masih mampu merasa. Maka aku percaya, kesendirian hanya memberi jeda panjang untuk membenahi luka. Kedukaan yang ditinggalkan seseorang tak pernah tertambal oleh kehadiran orang lain. Karena itu tak perlu menunggu menjadi genap untuk bahagia.

Kamu telah melewati banyak hari berat. Seringkali menunggu suatu hari gemilang di depan sana. Namun kita kadang lupa, hari ini adalah masa depan dari waktu lalu. Maka hari depan pun selalu menjadi waktu kini. Karena itu, tak usah menanti suatu hari, bersinarlah dari detik ini. Berbahagialah dari sekarang.

Selesai surat ini ditulis, aku pun beranjak dari kursimu. Aku yakin kelak ke depan kursi ini akan merekam jejakmu yang semerlang.

***Surat untuk Yunis Kartika sebelumnya Chibi, Langkah Kecil Kita Untuk Berlari, Idola Masa Kecilku.

Surat Cinta Pertama, Buat Siapa?

evaevi

Surat Cinta Pertama, Buat Siapa?

: Evi Sri Rezeki

Dear Evi, tergesa aku menulis surat ini sebelum kamu bangun dari tertidur lagi pagi ini setelah tadi kita ngobrol ngalor-ngidul. Jangan kecewa ya kalau isi surat ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena kali ini isinya hanya kepingan kejadian dan perbincangan saja. Namun bukan berarti aku menulis alakadarnya. Percayalah, tiap huruf di surat ini kutulis dengan hati.

Segalanya bermula dari surat pertamamu di Pos Cinta. Semuanya ditunjukkan untukku, maka secara tak tertulis, kita pun mensahkan bahwa surat pertama haruslah untuk kembaran. Ini bukan demi merawat tradisi, tapi memang atas dasar kecintaan. Seperti yang kita tahu, menulis surat cinta bukan perkara mudah. Kita selalu melibatkan rasa terdalam di tiap katanya. Karena itulah, saat menulis, kita selalu dibimbing perasaan. Untuk siapa surat itu ditulis, dikompaskan olehย  hati dan pikiran yang sedang tertuju pada siapa.

Tahun ini, seperti sebelum-sebelumnya, kita selalu menyambut hangat program menulis surat cinta. Kita sebut sebagai “bulan curhat” karena hanya pada saat itulah kita bisa mengungkapkan perasaan habis-habisan dan cerita pribadi yang dipublikasikan secara terang benderang.ย  Namun, tahun ini ada yang beda. Muncul perasaan, di awal bulan pembuka saja, kita sudah banyak mengumbar kehidupan pribadi lewat caption-caption di Instagram. Ada rasa terlalu mengeksploitasi. Orang-orang pun mungkin akan jenuh menyimak kisah kita. Ah, lebih dari itu kita takut orang menjadi jengah. Padahal sungguh pun, tak ada maksud mengeksploitasi sama sekali. Benar-benar tulus adanya. Karena itu aku tak rela jika tahun ini tak mengirimu sepucuk surat pun. Karena ini momen sangat spesial buat kita.

Bulan ini setiap hari, kita mengecek tanggal bukan untuk sekadar mengejar deadline pekerjaan, tapi melihat tinggal berapa hari lagi para KangPos bisa mengantarkan surat cinta. Makin hari terlewati, makin gelisah dibuatnya. Obrolan kita pagi ini pun bergulir apakah akan menulis surat? Ingin, tapi….. Setahun terlewati, tak mungkin tidak ada banyak peristiwa yang bisa diceritakan. Banyak, sangat malah. Seperti, kita masih selalu stres sekaligus bahagia tiap kali berjuang menyelesaikan novel yang tak kunjung menemu kata “Tamat”, atau kita masih selalu berdebat dari mana satu gagasan muncul dari diskusi panjang–darimu atau dariku, sampai rumah yang kebersihannya berbanding terbalik dengan terkejarnya deadline. Lupakan juga soal usaha kita yang belum menemu titik terang dalam menjawab pertanyaan dari tahun ke tahun, “Kapan kita merealisasikan pembuatan web series Twiries The Series?” Bahan tulisan begitu berserak tiap detiknya. Namun tema perbicanganku tadi hanya berkisar: Pada siapa surat cinta pertama dialamatkan? Jawabannya selalu jelas, surat itu untukmu. Meski isinya tak lagi menyoal babakan drama besar kehidupan kita.

img_1604edit

Vi, beberapa hari lalu kita bertemu kawan yang membacakan karakter kita lewat zodiak. Katanya kita pribadi pengasuh. Tapi kian hari aku semakin tak melihat sosok itu dalam diriku. Lewat surat ini aku juga ingin minta maaf jika aku bertumbuh menjadi pribadi yang makin jauh dari sosok seorang ibu. Ketimbang bertambah bijak, aku makin merasa kian kanak-kanak. Kata teman baru kita itu pula, kita adalah cancer yang menyukai segala sesuatu tentang gemini. Gemini, sosok kembar. Kupikir yang dimaksud adalah obsesiku tentang kehidupan kembar kita. Dalam satu perenungan aku berpikir, aku kembar yang terus belajar menjadi kembar. Meski aku tak paham, sejatinya kembar itu seperti apa. Jadi, jangan lelah menjadi kembaranku ya. Mari terus seduh segelas kopi untuk menemani saat-saat perdebatan kita. Segelas saja, sebagai simbol kita akan terus berbagi segala, selamanya…. Vi, jangan pernah habis semangat kita untuk saling menjaga kewarasan satu sama lain. Keberadaanmu masih selalu menjadi titik tolakku menginjak bumi ketika langit serasa tak mampu menopang diri.

Duh, alarm wekerku berbunyi kencang sekali. Aku khawatir kamu terbangun, maka aku mengintip ke kamarmu. Untungnya kamu masih sibuk bergelung dengan selimut tebal, bersembunyi dari cuaca dingin Bandung. Namun, kucukupkan suratnya. Jangan sampai ini menjadi kejutan yang gagal.

Semoga surat paling pendek ini tetap menghangatkan hatimu saat membacanya, meski tak membuat matamu tergenang-genang.

***Surat-surat untuk Evi Sri Rezeki sebelumnya: Serupa Kita, 7 Hari Sebelum, Menembus Ruang Dan Waktu, Arti Kita

Di Balik Foto Kita

IMG_20150701_165954edit

Dear Mercy Sitanggang.

Dear, masih ingat cerita di balik foto kita? Foto yang memperlihatkanmu sedang memegang novel Hujan Bulan Juni. Foto yang hasilnya buram seakan diambil dari balik kaca berembun itu diambil tanggal 1 bulan Juli tahun lalu, Dear. Pertemuan itu bersejarah buatku. Karena pertemuan itu telah mengembalikanmu padaku.

Dear, tahun lalu aku mengirimi surat yang ternyata malah menyakitimu. Sungguh itu membuatku sedih. Katamu, setelah membacanya, kamu langsung terdiam. Seingatku, berhari-hari kamu membisu. Diammu makin mengundang gelisahku. Sampai akhirnya kita kembali bertukar kata-kata, berterus terang tentang perasaan kita. Namun rupanya luka belum tuntas mengering.

Lama berselang dari sana, raga kita menemu perjumpaan juga. Kala itu, takut-takut aku menghubungimu, meminta pertemuan, tak apa meski singkat. Cukup lama aku menunggu jawabanmu. Betapa hatiku meloncat girang saat kamu mengiyakan. Selama menunggumu, aku mereka-reka seperti apa jadinya perjumpaan kita itu? Akankah kita kembali erat serupa dulu, ataukah jarak akan terus merajai sanubari. Ternyata kamu pun punya kegalauan yang sama. Dalam detik-detik penantian entah berapa kali aku mengecek handphone, cemas kalau-kalau tiba-tiba kamu membatalkan perjumpaan. Betapa leganya ketika kulihat tubuhmu perlahan nampak dari balik eskalator dengan senyum mengembang yang begitu khas di wajahmu.

Awalnya kita terlibat obrolan basa-basi, sepertinya kita perlu jeda untuk sama-sama menenangkan hati. Kemudian kusodorkan kado ulang tahunmu yang terlambat kuberikan. Novel berjudul hujan, karena aku tahu kamu perempuan penggila hujan. Kamu balik menghadiahkanku novel karyamu sendiri. Setelah itulah foto itu diambilkan oleh seorang tak dikenal yang kita mintai pertolongan. Akhirnya lama-lama pembicaraan kita bermuara pada rasa, perbincangan dari hati ke hati. Kamu telah menanggalkan topengmu, kembali menjadi Mercy-ku. Ada beberapa salah paham yang harus kita luruskan. Sejatinya memang masalah tak mungkin kita elakkan dalam persahabatan.

Ada kelegaan menghangatkan hatiku ketika pulang. Aku telah diberi kado ulang tahun lebih awal: Persahabatan kita. Dear, perasaanku makin bahagia saat membaca ucapan terima kasih di novelmu. Katamu, persahabatan kita tak akan pernah jadi fiksi. Kubayangkan kamu menuliskannya di balkon rumah sambil menyesap kopi yang ruapnya seakan membentuk wajahku.

Dear, mungkin di depan nanti, bakal banyak lagi masalah menyambangi kita. Mungkin ada saatnya kamu malas membalas pesan-pesanku, atau mungkin ada kalanya prinsip kita tak bertemu. Namun aku kini telah sangat yakin, persahabatan kita seperti rintik hujan yang saling menguntai. Kekalnya sebanyak jumlah anak-anak rambut di kepalamu. Foto buram kita itulah yang selalu meyakinkanku.

PS: Selamat atas kelahiran anak karyamu yang baru. Kamu selalu dan selalu membuatku bangga.

 

***Surat sebelumnya Jangan Jadi Fiksi

 

 

 

Kutunggu Di Kotaku Anak Marmut

lia2

Dear Lia chan si anak marmut.

Anak marmut, aku heran tiap melihat fotomu, kok bisa-bisanya sering berjemur di Bali kamu tetep putih gitu? Oke, ini bukan pembukaan surat yang bagus. Tapi aku memang tetep Emak Gajah yang selelu kepo pada hal-hal gak penting. Plis, aku jangan ditabok, dikasih cium atau bundelan buku aja XD Aku enggak akan nanya kabarmu, karena aku tahu kamu lagi pulang kampung ke Pontianak dari BBMmu kemarin ๐Ÿ˜€

Li, aku baca semua suratmu di #30HariMenulisSuratCinta meskipun enggak komentar. Bukan, bukan karena enggak ada surat buatku kok, tapi belum komen aja *ngeles* Surat yang paling berkesan tentu saja suratmu buat diri sendiri, karena dari sana aku membaca curhatmu ๐Ÿ˜€ Isinya bernuasa tegar-tegar galau gitu. Apalah serunya kalau enggak ada sedikit warna galau dalam hidup kita *apainiiii*

Li, aku senang, sedikit demi sedikit impianmu tercapai. Aku selalu ikut senang tiap kamu jalan-jalan. Penginnya sih aku ikut jalan sama kamu ke negara sebrang atau keliling Indonesia. Atau ikut nyicip makanan yang bikin ngiler di instagram kamu. Duh, itu tolong ya kalau kita ketemu tahun ini kita mesti kuliner sepuasnya *nabung* Btw, aku inget ceritamu soal kebingungan masalah kerjaan. Anak marmut, kerjain aja apa yang kamu suka, ikuti passion-mu, enggak ada kata “terlambat” buat memulai. Singkirkan persoalan usia. Sayang kalau energi kita dipakai buat memaksa diri melakukan hal yang enggak bikin kita bahagia. Itu juga salah satu cara bertanggungjawab terhadap diri sendiri.

Anak marmut, aku sendiri seperti yang kamu liat, sedang mulai serius nge-blog. Menyenangkan, karena blog ternyata mempertemukanku dengan banyak orang, petualangan seru, dan orang-orang hebat. Dan cukup menyembuhkan perasaan nelangsaku yang belum juga menulis revisi novel. Hampir tiga tahun, dan naskahku belum rampung sepenuhnya :’) Dan ngomong-ngomong drafnya belum kamu baca juga, hiks. Nanti aja bacanya pas udah kurevisi, yang entah kapan tahun itu. Aku juga masih nunggu naskah Bella-mu selesai. Sengaja ku-mention biar aku gak stres sendiri. Sahabat macam apa aku ini? XD Namun sepertinya kegelisahan perihal karya memang enggak akan pernah usai selama kita ingin mencipta. Soalnya selesai satu tulisan, lega dan bahagia sebentar, lalu muncul kegalauan baru untuk karya ke depan. Terus terang meskipun suka stres-stres, aku menikmati itu.

lia1

Li, aku lega membaca ceritamu yang enggak lagi galau soal kapan menikah. Ini bukan penghiburan, tapi aku selalu percaya kamu akan menjadi salah satu pengantin tercantik di dunia pada suatu hari nanti. Seperti katamu, saat ini di sisimu telah hadir Max, pria berbahagia pemilik hatimu. Perasaan “saling mencintai” itu sungguh berharga. Tidak semua orang memilikinya bukan. Aku suka mengintip foto-foto kalian yang kamu update di DP BBM. Senyum cerah kalian itu menggemaskan. Seperti yang kualami, kadang salah paham dan bertengkar itu pasti terjadi dalam hubungan. Heuheu dan saat itu terjadi aku suka menghubungimu buat curhat. Bahagia itu menurutku memang cukup menjadi sederhana. Namun tidak sesederhana itu untuk mempraktikannya.

Anak marmut, bagaimana kalau kita bertemu di gathering #30HariMenulisSuratCinta ? Kamu belum pernah ikut, kan? Sekalian kamu ketemu para Kang dan Ceu Pos yang mengantarkan surat-surat kita. Oh iya, sekalian aku ngasiin buku TwiRies yang belum aku kirim juga ๐Ÿ˜ฅย  Selepas itu, kita bisa ngobrol sepuasnya, lalu kita karokean dan nonton film. Kamu aja yang pilih filmnya, soalnya kalau aku yang pilih nanti kamu mencak-mencak XD Kangen momen itu, Li. Kangen kamu :’)

Li, aku tunggu kamu di kotaku lagi. Maaf ya aku nyebelin. Sementara aku belum mengunjungimu di Pontianak apalagi di Bali, aku sudah memintamu datang lagi ke Bandung. Tapi aku tetap memegang janjiku itu kok. Beneran. Karena aku sangat ingin ke sana.

PS: Aku pede banget ya gathering-nya di Bandung, heuheu.

*big hug*

 

***Surat-surat untuk Vincentia Natalia sebelumnya: My Girl – Anak Marmut Vincentia Natalia, Di Balik “Stalker G1N4” Ada Anak Marmut, Anak Marmut Kesayangan

 

Hari Untuk Ayah

6029_10153437488262872_3160395912356592117_n

Dear Ayah: KM. Isa Ansori

Ayah,

Terkadang aku bertanya-tanya bagaimana Ayah kecil membayangkan masa tuanya? Seperti sekarangkah? Menjadi ayah dari lima anak, sibuk berdagang, dan dikelilingi cucu-cucu serta kucing-kucing? Ah sepertinya Ayah kecil tak pernah memikirkan itu karena terlalu sibuk berpetualang. Mengukir pengalaman-pengalaman menakjubkan.

Yah, aku selalu senang mendengar kisah-kisahmu kecilmu. Tentang sungai-sungai bersih, petualangan di hutan, bertemu buaya dan harimau, juga kura-kura besar yang cangkangnya Ayah belah memakai samurai. Aku juga tak lupa bahwa di balik jiwa petualang Ayah, Ayah kecil adalah kutu buku yang suka melalap bermacam buku bantal hasil pinjaman dari tetanggamu yang seorang guru.

Ayah, kegandrunganku pada kucing sepertinya diturunkan olehmu. Seingatku, dari semenjak kecil, di rumah kita tak pernah absen dari kehadiran kucing. Namanya aneh-aneh, dari mulai Otot, Oting, dan O-O lainnya. Sampai sekarang, pagi Ayah seringkali diisi dengan memberi kucing-kucing di rumahku sisa makanan dari rumah Ayah. Aku sudah hafal benar, biasanya jam setengah tujuh pagi, akan terdengar suara gemerincing kunci bertemu gemboknya. Kemudian disusul suara eongan kucing-kucing menyambut Ayah. Mereka pasti bahagia benar melihat kedatangan Ayah. Lalu Ayah akan memeriksa air pam, apakah lancar atau macet, memastikan rumah kembar dan penyewa di depan tak kekurangan pasokan air. Terkadang Ayah membangunkanku yang sedang tidur-tidur ayam, untuk memberikan paket, atau sekadar mengobrol-ngobrol ringan.

Ayah, waktu kutanya apakah Ayah bosan dengan rutinitas itu-itu saja? Ayah jawab tidak. Ayah sepertinya jarang sekali merindukan perjalanan apalagi petualangan. Mungkin pikiran Ayah telah terlalu sibuk memikirkan kami anak-anak dan cucumu. Aku memerhatikan, mata Ayah selalu dipenuhi binar ketika bermain bersama para cucu. Meski terkadang aku memergoki kekhawatiran di sana. Mungkin memikirkan masa depan mereka di dunia yang makin absurd. Tenanglah, Ayah, manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Ayah, meski Ayah tak keberatan menjalani hari yang isinya berulang. Aku, Evi, dan Teh Yunis ingin sesekali mewarnai harimu dengan sesuatu yang baru. Kami pernah merancang satu hari bersama Ayah. Hari itu kita akan makan makanan kesukaan Ayah, apa saja. Lalu kita menonton film ke bioskop, tentunya genre film action biar seru. Setelahnya, kita minum kopi favorit Ayah, dengan aromanya yang khas Ayah. Kami berharap itu jadi hari sempurna untuk Ayah. Seperti Ayah selalu berusaha menyenangkan kami sejak kecil. Tapi ternyata Ayah tidak mau. Ayah lebih memilih menghabiskan hari seperti biasanya. Mungkin buat Ayah, rutinitas bukan jebakan, tapi keindahan tersendiri.

Kami kemudian bingung bagaimana cara membahagiakan Ayah. Namun diam-diam kami tahu jawabannya. Pernah suatu kali seorang kurir mengantarkan paket berisi bukuku dan Evi. Ayah bertanya, “Bukunya cetak ulang?” Ayah, rupanya Ayah selalu berharap dan mendoakan kesuksesan kami. Ayah memang selalu memberi dukungan pada impian-impian kami. Sekalipun impian itu membuat orang melontarkan kata-kata nyinyir, “Anak-anak Bapak padahal lulus sekolah semua, tapi enggak mau kerja.” Mereka tidak paham, kalau pekerjaan anak-anak Ayah bukan jenis yang pergi pukul 8 pulang jam 5. Tapi Ayah menerimakan itu. Ayah, sungguh pun aku tak pernah diam, kami pun selalu ingin menemu hari dimana Ayah bangga menjadi Ayah kami.ย Tapi… Aku yakin, hari-hari itu telah menjelma seumur kelahiran kami. Sekalipun di hari paling sedih.

Ayah, aku tak pernah lupa, saat-saat Ayah menghiburku dalam diam. Lewat tepukan di bahu atau pelukan. Ayah yang selalu membelaku dan pasang badan ketika badai menghantam.

Ayah, terima kasih telah memberi cinta paling tulus. Jangan pernah berpikir tak pernah membahagiakan kami. Karena aku sangat bahagia menjadi anakmu, selamanya.

 

10487424_10152651653637872_700087014088328478_n

Kisah Kita Di Negeri Realita

IMG_20150919_212948

Dear Prajurit Rumput: Fuan Fauzi

Tak terasa telah bertahun-tahun kamu menjadi bagian dari hidupku, memenuhi hari-hariku dengan keberadaanmu. Aku tak tahu apa yang terjadi pada kisah dalam dongeng setelah Pangeran dan Putri menikah. Hari-hari seperti apa yang mereka lewati, karena hanya ada satu kalimat untuk mengakhiri kisah mereka “happily ever after“. Tapi kisah kita terus berlanjut, dengan banyak kata merangkai jutaan kalimat. Tiga kata itu rasanya tidak cukup menggambarkan cerita kita yang kadang begitu rumit, kadang sangat bersahaja.

Prajurit Rumput, hampir tiap hari aku membuka hari dengan sodoran segelas air putih di tanganmu. Katamu aku selalu kurang minum. Lalu kamu akan memulai ceramah kesehatan tentang pentingnya cukup minum air putih dan olahraga setiap hari. Yang tentu saja kudengarkan dengan ogah-ogahan. Namun begitulah, kalau seorang Dewi dalam lagu “Curhat Buat Sahabat” menanti seseorang biasa saja dengan segelas air di tangannya, aku telah menemukan orang itu. Kamu.

Prajurit Rumput, kamu juga yang selalu merawatku saat sakit, apalagi sakit sepulang bepergian. Aku hafal urutan kecemasanmu. Malam sebelum aku berangkat, kamu akan sibuk memastikan kalau aku sudah mengepak barang yang kubutuhkan. Paginya, kamu akan merajuk sedih karena aku akan pergi. Dalam perjalanan, kamu mengingatkanku menjaga kesehatan. Ketika aku berkegiatan, bahkan kamu tahu apa yang kulakukan. Seperti kamu benar-benar ada di sisiku. Lalu menjelang kepulanganku, katamu, aku pasti akan masuk angin dan sampai rumah dengan kepala migrain. Dan memang itulah yang terjadi. Ketika kutanya kenapa tebakanmu selalu benar? Kamu menjawab, “Karena aku sangat mengenalmu.”

Prajurit Rumput, setelah ritual minum air putih (paksa), biasanya kamu akan membereskan rumah. Kamu tidak keberatan berbagi tugas domestik denganku, malah lebih bersemangat. Sepertinya beres-beres sudah jadi hobimu. Meskipun kamu akan misuh-misuh saat melihat pup kucing kita yang sembarangan, tapi tetap mau membersihkannya. Kadangkala, kamu pun memandikan kucing kecil supaya Putri Rasi bisa tenang bermain dengannya.

Sebelum berangkat kerja atau sepulangnya, kamu akan menyempatkan diri mengajari Putri Rasi berbagai hal. Mengajarinya mengaji, menghafal doa-doa pendek, bahkan kamu menempelkan tulisan doa-doa itu di seluruh penjuru rumah kita, supaya Putri Rasi tidak lupa. Kamulah yang mengisi apa-apa yang tidak bisa kuajarkan pada Putri Rasi. Ketika aku harus bepergian untuk pekerjaan, kamu bahkan menjagakan Putri Rasi untukku. Kamu sungguh selalu mendapat cara membuatku terharu.

IMG_20151130_162811

 

IMG_20150722_165030

 

IMG_20151017_183553

Prajurit Rumput, kamu pasti sudah bosan mendengarku mengeluhkan tentang partner brainstorming. Kataku, aku selalu membutuhkan teman diskusi. Teman yang mengerti pemikiran, mendengarkan ledakan ide-ide dari kepalaku, atau sekadar menceritakan apa yang kudapat dari membaca dan menonton film. Kamu kemudian berusaha memenuhi itu. Sampai di satu titik, aku terkagum-kagum dengan pengetahuanmu. Ternyata kamu ingin menjadi sahabat diskusi yang baik untukku, karena itu kamu kemudian banyak membaca, belajar banyak hal, dan menonton film. Kamu ingin memenuhi dahagaku akan diskusi dengan kehadiranmu. Akhirnya kita seringkali terlibat diskusi absurd. Pendapatmu dan pendapatku seringkali tak bertemu. Kadang aku jadi kesal karena kalah berdebat. Tapi diam-diam aku menyukai itu. Karena dengan begitu, kamu teguh pada prinsipmu. Kamu pun semakin objektif menilai karyaku. Yang bagus kamu bilang bagus, yang jelek kamu sebut jelek.

Prajurit Rumput, saat-saat yang menyenangkan bagiku juga adalah ketika kita berkolaborasi. Bekerja denganmu terkadang memang ribet, tapi menyenangkan. Aku selalu bahagia melihatmu berproses. Dari karya yang menurutku horor saking anehnya, sampai menjadi karya yang membuatku tak berhenti mengulum senyum. Kamu, adalah lelaki yang berhasil memasuki ranah impianku. Yang membuatku selalu melibatkanmu dalam imaji mimpi-mimpiku.

Prajurit Rumput, dari semua perlakuanmu untuk menyenangkanku, yang menggelikan adalah kamu mengalah menonton drama Korea denganku. Kalau biasanya aku akan menonton sendiri, kini kamu menemaniku. Meskipun sering diam-diam aku tetap menonton kelanjutannya sendiri, karena tak sabar menunggumu pulang kerja. Lucunya, kamu sering jengkel kalau aku bilang pemeran utamanya ganteng. Kamu yang cemburuan itu terlihat menggemaskan sekaligus menyebalkan ^^V

Prajurit Rumput, kita memang tak hidup di negeri dongeng, tapi di negeri realita. Tak seperti Pangeran dan Putri, Ratu Dandelion dan Prajurit Rumput seringkali bersitegang, karena adakalanya kita saling salah paham, bahkan saling menyakiti. Namun kedatangan gelombang mungkin serupa pertanda, buku yang memuat kisah kita belum menemu halaman akhir. Kuharap menjadi buku bantal, yang panjang halamannya membuat kutu buku semacam kita girang.

Prajurit Rumput, terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Telah berusaha sungguh-sungguh menjadi partner segala musim. Seperti ada kata “part” dalam “partner“, teruslah menjadi bagian dari hidupku, menjadi partner hingga tak terbatas usia. Seperti jawaban pertanyaan yang kulontarkan padamu.

“Kamu ingin menua bersama siapa?”

“Kamu.”

IMG_20151211_194920

*** Surat sebelumnya untuk Prajurit Rumput – My Guilty Pleasure

 

Perempuan Yang Menyekap “Masa Lalu” Di Matanya

IMG_20160211_161001

Dear Perempuan,

Sudah sembilan tahun kita bersahabat. Kita telah menjadikan satu sama lain kotak pandora. Tempat menyimpan segala kisah. Cerita-cerita dari masa lampau hingga impian masa depan.

Perempuan, di matamu aku selalu melihat masa lalu. Tempat kamu menyekap cinta tanpa masa depan. Cinta diam-diam yang tak kunjung enyah meski diusir berkali-kali. Cinta yang kamu harap sepurba penciptaan semesta.

Perempuan, aku tahu sakitnya saling mencintai tanpa pengakuan. Pada setiap hening malam kamu jahit sudut-sudut bibirmu agar lidah tetap menjaga rahasia, agar nama lelaki itu tak terucap bahkan pada udara yang kamu hirup. Meskipun jari-jari tak kuasa menuliskan namanya dalam diary yang kamu kubur dalam-dalam. Hatimu menjerit sakit, berontak dengan mengatakan bahwa ‘pernah’ ada cinta di antara kalian, bahwa sesungguhnya dia membalas perasaanmu. Bahkan darinyalah segala cinta ini berasal.

Perempuan, di satu waktu aku pernah berucap, bahwa bukan hanya kamu yang merasa tersiksa oleh keadaan, bahwa dia pun merasakan luka yang sama. Hanya saja dia mampu bertahan dalam wajah datar dan dingin laku, semata-mata karena hidup memang tak pernah bisa sekehendaknya. Namun kita tak pernah mengenal kepastian, barangkali saja perih yang dideritanya tak seberapa. Karena kakinya telah sampai pada kepulangan, sementara kamu adalah sepotong pengembaraan. Perempuan, sikap tak acuhnya sebenarnya obat bagimu, karena kalian mungkin memang tak akan pernah bisa bersatu. Justru ucap cintanya adalah racun paling mematikan, yang membombardir benteng-benteng pertahanan yang telah kamu bangun bertahun-tahun. Bukankah itu lebih kejam? Ketika dia membisikan cinta yang membuatmu mati perlahan oleh harapan usang, melambungkan angan yang bahkan hati kecilmu pun tahu tak akan pernah menjadi kenyataan. Ingatkah ketika dia hadir kembali memporak-porandakan hidupmu? Untuk kemudian pergi lagi dan menyisakan punggung yang terus kamu tatap sampai hilang di ujung jalan. Dia tak akan berbalik lagi, Perempuan. Kali ini dia telah menemu batas, jalan buntu bertembok yang tak akan pernah berani dia runtuhkan hanya ‘demi’ untukmu.

Perempuan, ketika rindu itu datang menyusup, bertahanlah pada gigil rasa kehilangan. Rindumu hanya menjadi amunisi kesakitan untuk kalian. Maka berjuanglah untuk menepisnya. Atau tuliskan saja pada bait-bait puisi yang cukup kamu baca sendiri. Biarkan rindu menjadi ambigu. Biarkan rindu lelap dalam kata-kata.

Perempuan, berhentilah menyekap masa lalu di matamu. Biarkan mengalir bersama air mata yang derasnya menguras ingatan tentangnya. Perempuan, aku paham benar, cinta tak bisa dipadamkan, sekalipun dikikis oleh kebencian yang sengaja ditumbuhkan. Seperti kataku, cinta yang tak pernah memiliki adalah keabadian. Namun Perempuan, demi hidup yang tak mau kamu lalui dengan kesia-siaan, berpeganglah pada melupa. Berjalanlah meski kaki penuh luka. Karena pandoramu ini berharap matamu di masa kini dan masa depan akan memerangkap binar bahagia. Bukan semu yang ditawarkan masa lalu.

***untuk Triska Fauziah***