Cerita di Balik Proses Penulisan Novela Labirin 8

Sejak dulu saya percaya, titik nadir atau satu kejadian antara hidup dan mati mampu mengubah pola pikir seseorang. Masa yang berat itu saya alami juga, dan memang benar-benar mengubah arah juang saya.

Dulu, saya bukan hanya menghindari tema-tema kearifan lokal dalam tulisan, saya bahkan muak pada isu-isu kebudayaan dan sejarah lokal yang saya anggap terlalu diglorifikasi. Ada masa ketika lomba novel, lomba cerpen, penerimaan resindensi, hingga segala penghargaan penulisan merujuk pada tema tersebut. Pengerdilan terhadap nilai-nilai budaya pop terjadi di mana-mana. Padahal novel-novel populer telah berjasa pula menanamkan kecintaan pada dunia literasi di kalangan generasi muda. Karya-karya populer itu pun dibuat dengan mengerahkan segenap daya, bukan tercipta asal-asalan. Kesenjangan apresiasi itu membuat saya sedih dan kesal.

Dalam sebuah diskusi kecil, saya mempertanyakan hal tersebut. Jawaban yang saya dapat cukup mematik kesadaran, bahwa kebudayaan dan sejarah lokal mendapat apresiasi pun setelah melewati perjalanan terjal. Kelak, jauh setelah diskusi itu saya memahami, memang seberat itulah menyuarakannya. Kearifan lokal merupakan suara yang termarginalkan. Kemudian, datanglah masa di mana saya menemukan semangat dan daya dalam kearifan lokal. Akhirnya gagasan-gagasan yang ingin saya perjuangkan suaranya berpusat pada hal tersebut.            

Ketika mendapat tawaran menulis fiksi untuk Hipwee premium, saya bersemangat sekaligus gamang. Terus terang, sejak lama saya menyukai artikel-artikel Hipwee. Bahkan pernah bermimpi bisa menjadi salah satu penulisnya. Tentunya, kesempatan ini tidak ingin saya sia-siakan. Namun, di waktu-waktu ini saya sedang berkonsentrasi menulis novel dan skenario animasi, sehingga saya takut tulisan untuk Hipwee tidak tergarap maksimal. Tetapi rupanya, dorongan untuk menerima tawaran itu lebih kuat. Saya kemudian memutuskan untuk membuat novela dengan semesta cerita yang sama dengan proyek sebelumnya. Ada tiga alasan: Gagasan yang saya usung masih seputar kearifan lokal, bahan risetnya sudah terkumpul, dan nuansa penulisannya senada.  

Editornya meminta saya menulis genre thriller. Memang, sejak novel Playing Victim, saya lebih dikenal sebagai penulis genre ini. Padahal karya-karya saya sebelumnya bergenre romansa dan fantasi. Butuh waktu cukup lama untuk meracik cerita dan menyetorkan sinopsisnya. Tetapi rupanya, saya kesulitan menuliskan bab pertama. Meski pernah menulis thriller, tapi menulis cerita thriller dengan gagasan kearifan lokal merupakan tantangan baru. Persoalannya terletak pada bagaimana meramu kisah menegangkan tanpa melanggengkan stigma negatif yang menempel pada kearifan lokal. Seperti stigma primitif, terutama stigma negatif pada hal mistis atau klenik yang dianggap melenceng dari tatanan masa kini dan ilmu pengetahuan. Takutnya, bukannya mengedukasi dengan memberikan perspektif lain, malah turut berkontribusi dalam mendiskriminasi. Peperangan dalam benak itulah yang mesti saya selesaikan lebih dulu. Pada akhirnya, saya mendapat solusi. Bagaimana menyajikan cerita sesuai dengan gagasan yang ingin saya perjuangkan dan selaras dengan genrenya.


Tantangan lainnya, saya mesti menghasilkan tulisan satu minggu dua bab. Pengalaman sebelumnya, menulis satu bab satu minggu saja sudah ngos-ngosan. Untungnya, editor saya sangat pengertian—Semesta baik sekali selalu memberi saya editor pengertian—dia memberi saya waktu yang cukup. Di bab-bab akhir saya mendapat keleluasan menyetorkan satu bab saja tiap minggunya.


Ide cerita novela Labirin 8 terinspirasi dari pengalaman Aji—suami saya—ketika dia mengunjungi Candi Borobudur. Waktu itu dia pergi ke Gunung Merapi bertepatan dengan terjadinya letusan disertai gempa. Syukurnya dia selamat. Dari sana, dia bermaksud pulang ke kampung halamannya di Gunung Sindoro, melewati Candi Borobudur. Dia mampir dulu ke candi itu, dan mendapat kesempatan langka melihat satu ruang di sana. Kisah itu saya kembangkan menjadi cerita tentang 8 orang yang terjebak di ruang rahasia Candi Borobudur. Mereka masuk ke sana akibat gempa besar. Dalam novela ini saya meramu fakta sejarah dengan mitologi.


Bahan-bahan risetnya sendiri saya kumpulkan dari beragam sumber. Seperti buku-buku Cerita Relief Borobudur karya Anandajoti Bhikkhu, beberapa webinar kearifan lokal termasuk Borobudur Writers and Cultural Festival (BWFC), website resmi Candi Borobudur dan berbagai website terpercaya lainnya. Selain itu, saya pun pernah terjun ke lapangan, mendatangi latar tempat yang dijadikan seting cerita—walaupun tidak semua tempatnya. Meski kejadiannya jauh sebelum menulis karya ini, sebelum pandemi melanda negeri ini.

Ilustrasi dalam novela Labirin 8


Meracik cerita dengan memasukan banyak simbol bukan hal mudah. Menjalin teka-teki yang seluruh unsur ceritanya selaras, baru pertama saya lakukan. Memilah bagian sejarah dan mitologi yang diangkat, pemilihan nama tokoh, dan latar tempat mesti bersinergi. Misalnya, tokoh Meta Utalika merupakan perlambang gelombang kedelapan yang sejalan dengan labirin delapan itu sendiri, simbol dari kehidupan yang infinity. Hampir seluruh nama tokohnya diambil dari Bahasa Sansekerta. Setiap nama memiliki arti dan penyimbolan sendiri yang menjadi kunci-kunci cerita. Namun, ada satu tokoh yang unik. Tokoh itu diambil dari saudari saya sendiri. Untuk pemilihan namanya, saya serahkan juga padanya. Tokoh itu Kartika Cassiopeia. Meski begitu, nama yang diberikannya tetap selaras dengan cerita karena menyimbolkan perbintangan.


Akhirnya, setelah berjibaku selama beberapa bulan, novela ini selesai ditulis. Saya harap bisa mewarnai dunia literasi Indonesia dengan sudut pandang lain terhadap kearifan lokal. Kamu bisa membacanya di tautan ini.

e-Book Trailer Labirin 8


Selain Labirin 8, kamu bisa membaca karya-karya penulis Indonesia lain di Hipwee Premium. Seperti karya Pradnya Paramitha, Nureesh Vhalega, Sekar Aruna, Arumi E, dan lainnya. Kamu dapat mendapat aksesnya dengan berlangganan paket bulanan (Rp14.900), 6 bulanan (Rp54.900), dan 12 bulanan (Rp94.900). Seluruhnya bisa kamu nikmati lewat aplikasi ataupun langsung di browser.

Selamat bertualang di Labirin 8.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s