Kisah di Balik Penulisan Novel “Playing Victim”

 

IMG-20190719-WA0017

 

Saya tak sedang mendramatisir ketika mengatakan bahwa novel ini merupakan sebuah keajaiban. Semesta sebegitu mencintai saya hingga novel ini menemukan kalimat terakhirnya. Mari saya kisahkan perjalanannya sejak masih menjadi embrio dalam rahim benak saya.

Ada dua selebritas dunia maya yang menjadi inspirasi novel ini. Beberapa tahun silam, saya lupa tepatnya tahun berapa, saya membaca satu artikel mengenai seseorang yang viral karena kisah cintanya. Tahun berikutnya saya membaca artikel yang dibagikan salah satu sahabat saya di akun Facebook-nya mengenai kehebohan di dunia maya yang langsung membuat saya tertarik menuliskannya ke dalam bentuk novel. Dua cerita itu saya gabungkan dengan satu tokoh rekaan, meramunya menjadi kisah fiksi. Salah satu kisah dalam dunia nyatanya memang terasa mencekam, tapi satunya lagi sesungguhnya cerita romansa. Namun, dalam kepala saya terbentuk satu kisah yang justru menjadi psikologi thriller, meneror psikologis.

Awalnya saya berniat menulisnya di tahun-tahun mendatang. Namun, ketika Noura Publishing mengumumkan “Urban Thriller Competition” saya langsung tertarik mengikutinya. Memang, menulis novel bergenre thriller merupakan impian saya. Namun, entah bagaimana saya merasa belum siap menuliskannya. Tapi, malam itu di hari terakhir pengumpulan sinopsis, saya mendapat semacam bisikan hati. “Sudah saatnya,” begitu kata nurani meski secara logika saya sendiri masih sangsi apakah bisa menulis thriller. Ternyata, sinopsis yang saya kirimkan terpilih menjadi lima besar dari 291 sinopsis yang masuk. Karena itu saya mesti disiplin menulis tiap bab per minggu untuk diunggah ke Wattpad Urban Thriller. Ini tantangan baru buat saya si penulis lelet. Biasanya saya menulis satu bab saja butuh satu bulan.

Dari lima novel seri “Urban Thriller”, Playing Victim mendapat giliran pertama dipublikasikan di Wattpad. Waktu itu April 2018 awal, hingga beberapa jam sebelum dipublikasikan saya masih berjibaku dengan “Mau menuliskan prolog seperti apa?” Tanggal pertama dipublikasikannya novel inilah yang kemudian saya pakai sebagai latar waktu novelnya, semacam menjadikannya batu peletakan pertama.

Sebagai bahan riset, saya banyak mengamati dinamika dunia maya. Seperti mengikuti kasus-kasus terbaru yang mencuat dan bagaimana reaksi orang-orang di dunia maya terhadap kasus-kasus itu. Di luar itu, saya menggabungkannya dengan pengalaman empiris sebagai orang yang berjibaku dengan dunia maya selama bertahun-tahun. Saya memang termasuk bagian dari orang-orang yang menjadikan internet sebagai mata pencaharian sehari-hari.

IMG_20191029_130244

Proses penulisan baru sebulan berjalan, saya dihadapkan pada masalah pribadi yang rumit. Saya mengalami perpisahan, dan tak ada perpisahan yang mudah dan tak menyakitkan. Disusul kemudian saya dan anak jatuh sakit secara bersamaan. Melihat gadis kecil saya sakit berbulan-bulan, menyayat hati saya. Apalagi kemudian saya menemukan dia memiliki traumatik. Kedua hal itu cukup memukul mental saya. Saya memang tipe penulis yang sulit menulis dalam keadaan psikis tertekan. Kegalauan dan kecemasan seringkali membuat saya tak bisa berkonsentrasi pada karya. Biasanya saya menulis dalam keadaan tenang. Untungnya sistem setor bab tiap minggu menjaga ritme penulisan novel ini.

Masalah tampaknya masih senang bermain-main dengan saya. Sepanjang tahun 2018 proyek-proyek mangkrak, adapun pekerjaan-pekerjaan yang sudah selesai tak kunjung juga cair. Saya dililit kesulitan finansial. Seringkali saya menulis dalam keadaan lapar. Saya bahkan tak mampu menghidupi anak saya. Depresi dan keadaan finansial membuat saya mengalihkan pengasuhan sementara pada kedua orang tua saya. Mental saya sampai ke titik nadir. Entah seberapa sering saya mengutuki diri sendiri. Tahun 2018 menjadi tahun terberat dalam hidup saya. Begitulah. Realitas menampar keras dari segala sisi. Rasanya hampir tak diberi jeda untuk bernapas.

Pada bulan Agustus 2018, publikasi novel di Wattpad selesai, menggantung cerita di tengah-tengah agar pembaca menemukan akhir kisahnya dalam versi cetak. Namun kami para penulis diberi limit waktu satu bulan untuk mengumpulkan naskah. Apa yang terjadi pada saya waktu itu adalah semacam “blank spot”. Saya benar-benar tak bisa berpikir. Masalah yang datang bertubi-tubi membuat saya tak bisa menulis. Benar-benar berhenti selama beberapa bulan. Saya juga menarik diri dari dunia luar. Mengasingkan diri dalam cangkang rumah. Saya hanya muncul di dunia maya, hingga saya merasa kehilangan arti keberadaan. Saya merasa menjadi makhluk fantasi. Seseorang yang hanya hidup di dalam layar dan dunia khayal.

Limit waktu pengumpulan naskah datang, sementara jumlah halaman karya saya tak beranjak dari bulan-bulan sebelumnya. Untungnya editor saya dapat memahami kondisi saya. Saya diberi limit waktu lebih panjang.

Semesta memang mahabaik. Saya dilimpahi orang-orang baik. Keluarga, kembaran, dan para sahabat tidak henti-henti memberi saya semangat. Merekalah yang membantu menyadarkan saya bahwa saya sepenuhnya nyata. Bahwa saya sekuat itu, bahwa saya bisa menyelesaikan novel saya. Hingga di satu titik, saya mendapat kesadaran bahwa saya mesti berjuang, bukan membiarkan diri terpuruk. Tiap kali saya ingin menyerah, selain teringat keluarga, para tokoh novel ini selalu berucap, “Jangan menyerah, karyamu belum selesai.” Kemudian saya mulai lagi membuka-buka naskah, membacanya, menyelaminya, mengenal dekat para tokohnya, hingga menyusun kembali gagasan-gagasan yang ingin saya sampaikan pada dunia. Lambat tapi pasti saya kembali menemukan ritme penulisan. Bahkan pada satu malam ketika suatu peristiwa membuat saya sangat bersedih, para tokoh novelnya mendatangi saya. Mereka berkata, “Ayo menulis…. Perasaan pedihmu itu amunisi bab yang sedang kamu tulis. Kami di sini, memelukmu.” Tidak pernah terjadi sebelumnya, saya bisa berpikir dan menulis dalam keadaan sejatuh itu. Bahkan kepingan-kepingan tanda tanya yang terserak terbuka. Saya dipertemukan dengan para narasumber yang saya butuhkan untuk melengkapi bahan-bahan tulisan.

IMG-20191107-WA0139

Pada pertengahan Februari 2019, akhirnya saya menulis kata “Tamat” di bab akhir. Titik itu menjadi awal baru bagi kehidupan saya. Segalanya mulai menemukan titik terang, menemukan perasaan optimis, mulai membenahi kehidupan dan belajar mencintai diri. Novel ini salah satu anugerah yang diberikan Semesta untuk menjaga kewarasan saya. Saya percaya, saya telah didekap keajaiban.

5 thoughts on “Kisah di Balik Penulisan Novel “Playing Victim”

  1. Aku sukaaaa banget baca kisah kreatif dari sebuah karya. Apalagi, aku udah baca karyanya. Aku ikutan terharu dan merasakan perjuangannya, Mbak.

    Tak berlebihan jika kemudian dikatakan itu sebuah keajaiban. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s