Memaknai Arti “Kebersamaan” Sesungguhnya

 

“Kids need their mom present, not your present (Anak lebih membutuhkan kehadiran ibunya, bukan pemberian hadiah).” –Novita Tandry

Terus terang, ketika pertama kali saya mengetahui tengah mengandung Rasi, perasaan saya campur aduk. Antara terharu, takut, dan belum siap. Waktu itu bukan kali pertama saya mengandung. Setahun sebelumnya, saya pernah keguguran saat usia kandungan tiga bulan. Sehingga saya takut hal itu terjadi lagi. Alhamdulillah Rasi lahir ke dunia dengan sangat menggemaskan.

Karena waktu itu saya masih berstatus mahasiswa, beberapa bulan setelah melahirkan, saya kembali aktif di kampus untuk menyelesaikan skripsi. Belum lagi diwisuda, saya diterima kerja di sebuah stasiun radio. Maka setiap hari, sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja, saya selalu mengurus anak dulu. Saya tidak ingin Rasi merasa kehilangan sosok ibunya. Namun, karier saya sebagai pekerja kantoran tidak berumur panjang. Ibu saya mulai kelelahan mengurus Rasi, maklum karena usia, sehingga saya akhirnya berhenti kerja. Saya memilih menjadi freelancer saja supaya bisa lebih banyak di rumah. Pikir saya, palingan sesekali saja ke luar rumah kalau ada pekerjaan yang memang mengharuskan.

Ternyata oh ternyata, menjadi freelancer pun menuntut banyak waktu. Manajemen waktu yang kurang baik membuat kehadiran saya hanya sebatas ‘hadir’, ada di rumah, tapi seringkali jiwa dan hati saya tak di sana.

Waktu Berkualitas Bersama Anak

Meskipun ada di rumah, waktu berkualitas dalam sehari bisa dibagi beberapa waktu. Pertama, sebelum anak berangkat sekolah. Biasanya waktu memandikan anak dan sarapan menjadi waktu yang menyenangkan, karena tidak ada gawai di antara kami. Rasi yang senang bercerita akan berbicara apa saja. Sebisa mungkin saya akan memberi respon excited. Kalau saya merespon seadanya, dia akan protes. Begini misalnya, “Mamah kok gitu ngomongnya? Kalau ngobrol sama Mama Pi suka semangat.” Fyi, Mama Pi itu sebutan buat kembaran saya Evi. Rasi suka memperhatikan saat saya ngobrol dengan kembaran. Makanya dia suka membandingkannya. Anaknya memang kritis.

Kedua, saat makan siang dan makan malam. Waktu-waktu ini sambil makan, kami akan bertukar cerita dengan seru. Kemudian, sebelum tidur, saya akan membacakan buku. Baik itu buku dongeng, ensiklopedia anak, maupun buku cerita dan komik. Kadang kalau bosan dengan buku-bukunya, dia akan meminta saya mengarangkan cerita sendiri.

Ekspresi Rasi tiap makan Lotte Choco Pie

Di luar itu, premium bonding moment kami adalah saat membuat prakarya. Rasi senang membuat origami. Seringkali dia mengajari saya origami yang rumit-rumit. Meskipun saya tidak tertarik pada origami, biasanya saya ikuti sampai setengah jalan. Selebihnya menyerah karena saking rumitnya. Acara membuat prakarya ini akan diakhiri dengan makan camilan bersama. Saya pilih Lotte Choco Pie yang soft cake dan marshmallow-nya dilapisi cokelat premium. Rasi suka sekali pada cokelat soalnya. Sebulan sekali saya menjadwalkan bertamasya ke mana saja. Tidak harus yang jauh-jauh, kadang cukup ke taman dekat rumah. Senang kalau dia lagi jalan-jalan gitu, jadi cepat lapar. Pasti saya sediakan camilan untuk perjalanan. Tentu Lotte Choco Pie siap sedia di tas.

Rasi dan Lotte Choco Pie favoritnya

Nyatanya, waktu-waktu itu tidak cukup untuk Rasi. Kadang pula, saat pekerjaan saya menumpuk, ada waktu berkualitas yang terpungkas. Sehingga meskipun saya ada di sampingnya, pikiran saya melayang-layang pada pekerjaan. Anak-anak memang makhluk paling peka, ketika hal itu terjadi, Rasi akan mengatakan, “Mama kayaknya lagi mikirin kerjaan ya?”

Memaknai Arti “Kebersamaan“ Sesungguhnya di Blogger Gathering With Lotte Choco Pie

Kita tentunya sepakat, tak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua yang baik. Sekolah kehidupan saat menjalaninyalah tempat pembelajaran terbaik. Namun, bagi kita yang masih memiliki orangtua, kita patut bersyukur karena dapat berkonsultasi dan didampingi dalam mengasuh buah hati. Di luar itu, kini teknologi informasi telah memberi banyak artikel untuk belajar dari para pakar ataupun psikolog. Juga telah banyak acara-acara sharing parenting diadakan banyak kalangan. Salah satunya acara “Blogger gathering with Lotte Choco Pie” bersama Kumpulan Emak Blogger (KEB) tanggal 22 April 2017 kemarin. Acara ini bermaksud makin mendekatkan hubungan ibu dan anak, bertajuk “Together, More”. Karenanya, yang diundang bukan hanya para ibu, tapi sepaket dengan anaknya. Makanya disediakan area bermain dan pojok kreatif bagi anak. Sayangnya karena Rasi sekolah, saya tidak bisa mengajaknya. Izinkan saya berbagi pengetahuan dan rasa haru yang saya dapat dari acara itu.

Pojok kreasi untuk anak

Sedari subuh saya bersiap-siap menuju Jakarta. Sesuai perkiraan, jalanan macet karena long weekend. Bahkan kendaraan menuju Bandung seperti jalan di tempat. Untunglah saya datang tepat waktu. Sempat tertegun melihat venue yang ditata sedemikian cantik. Bunga-bunga segar bertengger manis di atas meja, melebur dengan Lotte Choco Pie yang bikin kepengin menggigitnya saat itu juga.

Berpose di meja yang tertata cantik

Acara kemudian dibuka oleh mbak-mbak awet muda Mak Mira dengan interaktif. Setelah sambutan dari Mr. Hiroaki Ishiguro yang merupakan President Director of Lotte Indonesia, Mak Mira menghadirkan tiga narasumber, yaitu Mbak Oci C. Maharani dari Lotte Choco Pie, Carissa Putri sebagai Brand Ambasador Lotte Choco Pie, dan psikolog anak Mbak Novita Tandry.

Mak Mira Sahid sang MC seru

 

Ketika Carissa menceritakan bagaimana ia membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan sebagai public figure, saya merasa… kalau kata Mak Mira sih “ditampar”. Carissa yang sibuknya luar biasa saja bisa. Kok saya yang bukan siapa-siapa, keteteran terus.

Sesi yang paling berkesan buat saya adalah sharing Mbak Novita. Ini saya sampe nangis-nangis 😥 Awalnya Mbak Novita cerita tentang positif negatifnya keadaan para emak di era digital. Godaan terbesarnya, para ibu jadi terus-menerus memegang gawai ketimbang mengasuh anak. Padahal masa kecil anak tidak bisa diulang. Dan waktu begitu cepat berlalu. Memang, bukan sekarang saja, sejak dulu, para ibu memang dituntut multitasking. Saya ingat sejak kecil melihat Mama mengurus rumah, bisnis es, mengasuh anak-anak beliau, menjahitkan baju sendiri untuk orang rumah, sampai membantu Ayah di toko. Kini, di era digital, para ibu mendapat tantangan lain. Seluruh anggota keluarga seringkali sibuk dengan gawainya. Apalagi hal itu terasa sekali pada saya yang memang ‘ngantor’ di media sosial. Batas antara bekerja dan kebutuhan pribadi menjadi setipis kertas. Seringkali saya menjadikan ‘pekerjaan’ alasan untuk terus memelototi gawai. Menurut Mbak Novita, anak-anak generasi sekarang merupakan generasi instan yang daya juangnya agak lemah. Yang bisa mengubah itu semua adalah sentuhan orang tua.

Mbak Novita Tandry sedang memberi materi

Lalu Mbak Novita mengatakan hal yang membuat saya menunduk dalam-dalam. Katanya, “Yang terpenting dari kebersamaan ibu dan anak yaitu bukan hanya badannya yang hadir tapi juga jiwa dan hantinya.” Inilah yang sering luput saya lakukan, merasa sudah berada di rumah bersama anak, satu ruang dan waktu, maka merasa sudah ‘hadir’. Padahal jiwa dan hati saya tengah berkelana ke mana-mana. Kebersamaan yang sesungguhnya bukan hanya menghadirkan tubuh, tapi segenap jiwa dan raga. Kebersamaan baru benar-benar bermakna. Karena memang, ketika saya hanya sekadar ‘ada’, anak tetap merasa diabaikan. Tips dari Mbak Novita dan Carissa adalah sebagai ibu, kita mesti ‘terlibat’ dalam kegiatan anak. Bermain bersama, misalnya. Tentu saja arti ‘terlibat’ dan ‘hanya ada di tempat’ sangat jauh sekali perbedaannya.

Bersama seluruh emak kece Kumpulan Emak Blogger

Lalu sampailah pada moment saya merasa sangat tersentuh oleh kata-kata Mbak Novita, “Ketika kita merasa selalu kurang memberi anak, sesungguhnya kita telah memberi lebih. Ketika kita merasa telah memberi lebih, sebenarnya kita hanya memberi kurang.” Melelehlah air mata saya mendengarnya. Bukan karena saya merasa memberi kurang kemudian sesungguhnya saya telah memberi lebih, tapi ketika saya selalu memberi kurang pun, anak saya merasa saya tetaplah ibunya yang terbaik. Detik itu saya terbayang wajah Rasi ketika seringkali dia berucap, “You’re my best mom!” Padahal sesungguhnya tak sekali pun saya merasa telah menjadi ibu yang baik. Langsung rasanya saya kepengin memeluknya erat.

Para Emak berfoto dengan anak-anak yang telah mengikuti sesi permainan

Seusai sharing parenting, anak-anak mengikuti permainan berkelompok, sementara para ibu menyemangati mereka. Tampak wajah-wajah riang polos kanak-kanak yang meneduhkan. Muka-muka yang mengantar pada keindahan masa kecil. Semoga saya bisa memberi masa kecil yang menyenangkan buat Rasi. Acara blogger gathering kali ini begitu berkesan dan menghangatkan hati. Worth it rasanya menempuh perjalanan jauh, karena saya mendapatkan pengalaman batin. Semoga saya bisa mempraktikkan kata-kata ini: Menjadi orang tua yang memanjangkan kesabaran dan memegang amanah. Karena anak adalah amanah dari Tuhan.

Advertisements

Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic

Muka saya sudah berjerawat sejak umur 12 tahun. Bahkan ada fase di mana jerawat yang tumbuh adalah jerawat batu. Besar dan bernanah. Waktu itu saya yang belum paham bagaimana merawat muka, sering memencet-mencet jerawat sehingga berefek meninggalkan bekas. Setelah besar, saya sering juga berganti-ganti kosmetik. Selain itu pola hidup saya pun enggak sehat, kayak keseringan bergadang. Efek negatifnya adalah pori-pori muka saya menjadi besar. Kalau memakai fondation-nya kurang rapi, kelihatan banget deh jadinya titik-titik porinya. Kadang bikin gak pede kalau foto close up gitu XD

Dari informasi yang terkumpul, ternyata mengecilkan pori dan menghilangkan bekas jerawat itu jalan keluarnya ya mesti dilaser. Tapi… saya ragu untuk menjalankannya. Soalnya kan tindakan laser muka itu muahaaal. Sampai saya dapet info Karadenda Clinic punya perawatan ini dengan harga yang terjangkau. Karadenta Clinic ini merupakan klinik yang baru membuka cabang di Bandung. Sebelumnya Karadenta Clinic sudah punya cabang di Malang, Samarinda, dan Surabaya.

Berangkatlah saya ke Karadenta Clinic yang berada di daerah Cikutra. Tanpa menunggu lama, saya yang ditemani Evi (kembaran) menemui Dokter Heni untuk konsultasi. Buat mengetahui tindakan apa yang tepat untuk kulit, mesti diperiksa dulu keadaan mukanya, dicari tahu masalahnya. Duh, saya udah deg-degan aja 😀

Magic Mirror

Awalnya, muka dibersihkan dulu supaya ketika diperiksa, enggak kehalang sama make up. Pas berangkat ke Karadenta Clinic, saya memang sengaja enggak pakai make up, cuman pakai pelembap buka aja. Jadinya cukup dibersihkan pakai air. Lalu muka dimasukkan sebentar saja ke lubang satu alat bernama magic mirror. Alat ini dengan cepat melakukan pemeriksaan keadaan kulit. Semacam di-scan gitulah. Lalu, taraaaa… kita bisa melihat hasilnya di layar laptop Dokter Heni. Duh, sayang, waktu itu saya kelupaan ngambil foto hasilnya. Tapi biar kebayang kayak apa hasil analisisnya saya sertakan foto punya Evi.

Kayak gini nih:

Terus terang, ini pengalaman pertama saya diperiksa kulit sedemikian detail. Jadinya excited banget sekaligus takut. Foto itu memperlihatkan analisa keadaan kulit muka secara menyeluruh. Mulai dari pore, roughness, wrinkle, spot, UV Acne, UV Spot, dan UV moisture. Kece ya!

Ternyata oh ternyata, kata Dokter Heni, kulit saya ini kombinasi. Dan… dan… agak bikin syok juga pas dikasih tahu ternyata kulit saya lebih tua dua tahun dari usia sebenarnya. Dokter Heni menunjuk menjelaskan sambil menunjuk ke gambar diagram batang di layar. Tentang area-area age spot-nya, kerutan, bibit jerawatnya di mana saja, sampai daerah lembapnya. Area kerutannya itu loh… liatnya bikin merinding 😥 Sebelumnya saya sudah merasa kalau kulit saya ini sensitif banget, tapi ternyata dilihat dari diagram ini sensitifnya agak kebangetan. Sudah sampai 61%. Menurut Dokter Heni, kulit yang baik itu adalah yang tingkat sensitifitasnya mendekati 0%. Huaaa… jadinya kepengin nangis guling-guling. Tapi tenang, kayaknya itu tindakan terlalu ekstrem, karena saya kan bakalan dirawat Karadenta Clinic. Sepertinya saya mesti ekstra kerja keras nih merawat kulit muka. Udah gak bisa cuek-cuekan lagi.

Obat Racikan, Nay or Yay?

Kalau dibandingkan sama keadaan muka Evi, ternyata dia tingkat sensitifitasnya di bawah saya. Usia kulit wajahnya pun hanya lebih tua setahun dari usia kulit sebenarnya. Cuman Evi punya masalah jerawat batu. Saya juga suka muncul-muncul sih, tapi satu-dua. Saya jadi ikut nyimak penjelasan Dokter Heni juga saat menjelaskan keadaan kulit Evi. Buat bekal merawat kulit saya juga.

Dokter Heni menanyakan apakah Evi sempat memakai obat racikan? Evi menjawab memakai cukup lama tahun lalu. Sebelumnya dari remaja saya juga pernah beberapa kali memakai obat racikan. Bahkan yang banyak dijual bebas. Efeknya memang bikin muka putih dan kinclong dengan cepat. Tapi pas abis, dalam waktu cepat pula muka saya jadi kusam. Anehnya, ketika pakai lagi, keadaan muka enggak balik lagi secerah waktu pemakaian pertama. Tahun lalu, saya juga sempat pakai sebentar. Setelah habis, tidak saya teruskan. Jadi efeknya di muka enggak sampai break out.

Dari penjelasan Dokter Heni, saya jadi tahu bahayanya memakai obat racikan. Begini, biasanya obat racikan mengandung tretinoin, hydroquinone, dan steroid. Ketiga zat itu mengakibatkan kulit menipis, mengelupas, sampai sensitif. Jangan-jangan nih, tingkat kesensitifan kulit saya yang tinggi akibat dulunya sering pakai obat racikan juga. Luar biasanya ya, obat racikan ini sekali dioles bakalan bertahan di kulit selama tiga hari. Oke aja sih kalau cuman pakai seminggu sekali, karena bisa jadi merangsang mood kulit. Itu pun ada jangka waktunya loh, cuman buat tiga bulan. Yang bahaya itu kalau dipakai tiap hari, soalnya jadi ada penumpukan zat aktif. Bukannya bikin kulit sehat, malah kulit jatuhnya enggak sehat 😥 Saat berhenti, muka memebri reaksi yang cukup ekstrem, kayak berflek, kusam, bahkan jerawatan. Ada loh yang seumur hidup gak pernah jerawatan, jadi jerawatan setelah berhenti pakai obat racikan. Kalau saya sendiri reaksinya jadi kusam, berflek, dan sensitif banget.

Terus gimana dong buat kita-kita yang udah terlanjur pernah pakai obat racikan? Dokter Heni bilang solusinya adalah pola hidup sehat dan perawatan biasa, kalau bisa alami. Apalagi buat yang sudah berusia 30 tahun ke atas. Jadi-jadi-jadi kayak gimana itu? Pola hidup sehat ya seperti tidur cukup, menjaga pola makan, dan olahraga. Kalau pakai yang alami misalnya pakai masker tomat tiap hari, itu loh bagian berair dari tomat.

Tapi nih kata Dokter Heni lagi, sebenernya produk apa pun kalau dipakai terlalu lama akan selalu menyebabkan kejenuhan kulit. Solusinya, kulit mesti dikasih treatment. Di Karadenta Clinic sendiri ada paket treatment yang enaknya, cuman dilakukan dalam waktu setengah jam! Efisien banget kan waktunya. Buat kita-kita yang cuman bisa menyisihkan sedikit waktu buat treatment, ini pilihan paling oke. Treatment-nya pun lengkap loh, yaitu laser black doll, laser IPL, mikrodemabrasi, masker, lalu terakhir diberi serum dan sunblock. Lengkap banget ya.

Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic

Sebelemu sesi konsultasi berakhir dengan Dokter Heni yang ramah, saya bertanya apakah rangkaian treatment itu bisa mengecilkan pori-pori dan menghilangkan bekas jerawat serta flek hitam? Katanya bisa setelah beberapa kali treatment. Huuft leganya, saya jadi semangat menjalani seluruh proses tindakan.

Laser Black Doll

Ini adalah pengalaman laser pertama buat saya. Saya udah ngebayangin aja prosesnya bakalan sakit, dan keribetan yang bakal saya hadapi sesudahnya. Menjaga enggak kena sinar matahari atau sejenis itulah. Ternyata enggak loh. Oke, saya ceritain kronologisnya ya.

Masuk ruangan saya disambut Mbak terapis dengan suara yang merdu. Saya dipersilakan untu tiduran di atas tempat tidur. Kemudian muka saya dibersihkan menggunakan spon. Lalu muka diolesi milk cleanser. Di proses ini, saya diminta untuk memegang alat yang tersambung ke mesin. Selesai itu, wajah dibersihkan lagi, baru diolesi astringent. Seluruh proses itu menggunakan alat mesin. Sehingga terjamin higienis dan cepat. Berikutnya mata saya ditutup oleh kacamata karet, kemudian muka diolesi krim karbon. Barulah laser black doll ditekan ke muka. Ternyata dilaser ini enggak sakit sama sekali. Hangat saja ke muka, hanya saja sensasi hangat itu terasanya seperti sengatan. Fungsi laser pertama ini buat mencerahkan kulit, bikin pori-pori muka mengecil, sampai merangsang produksi kolagen kulit yang bikin kulit kelihatan awet muda. Kerennya, laser black doll bekerja sampai lapisan kulit dalam loh.

Laser IPL

Setelah muka dibersihkan dari sisa krim karbon, selanjutnya wajah diberi gel yang terasa dingin di kulit. Barulah laser IPL beraksi di muka. Ditekan-tekan dengan pola memutari wajah sebanyak dua kali. Rasanya laser ini juga hangat, dan enggak sakit sama sekali juga. Saya jadi ngerasa istilah ‘buat cantik itu sakit’ ternyata enggak selalu berlaku. Cuman kalau ‘buat cantik itu harus selalu ada usaha’ mah ya teteeep. Oh iya, fungsi dari laser IPL ini juga bisa ngecilin pori dan ngilangin flek muka. Dua itu mah sih masalah saya banget.

Mikrodemabrasi Plus Masker

Lagi, muka saya dibersihkan. Sehabis itu barulah muka diangkat sel-sel kulit matinya dengan proses mikrodemabrasi. Ini memakai alat yang menyedot sel-sel kulit mati di permukaan kulit. Rasanya kayak muka disedot gitu pakai vacuum. Prosesnya cepet banget. Tahu-tahu udah beres. Mbak Terapisnya lalu memijat muka, kemudian memakaikan masker. Setelah maskernya kering, muka dibersihkan kembali.

Serum dan Sunblock

Terakhir nih muka dikasih serum dan sunblock. Biasanya meskipun urutan treatment-nya sama, yang bikin beda tiap orang dikasih serum yang sesuai sama masalah kulitnya.

Dan… selesai deh semua treatment-nya. Beneran loh, cuman setengah jam aja. Muka jadi kerasa bersih, ringan, dan seger. Dan yang penting lagi, abis itu muka enggak merah-merah atau ada sejuta pantangan buat jaga hasil treatment-nya.

Serangkaian treatment yang bikin muka sehat itu terjangkau loh, cuman 500 ribu. Kalau mau pilih single laser IPL harganya 150 ribuan. Jadi enggak ragu kan mencoba pengalaman pertama buat laser muka kayak saya? Silakan loh dateng ke Karadenta Clinic.

Karadenta Clinic

Jl. Rereng Wulung No. 27, Cikutra, Bandung.

Telepon 022-20455887 / 082130156699

Website: http://www.karadentaclinic.com

Instagram dan Twitter : @karadentaclinic

Facebook Page: Karadenta Clinic

Jam buka: Pk. 10.00 – 18.00 WIB

[Review] Novel Islah Cinta: Mencari Hakikat Cinta di India

Ada tiga kesulitan menulis novel bernuansa Islami menurut saya. Pertama, membutuhkan riset yang matang. Karena berhubungan dengan agama, tidak boleh ada satu kandungan atau ajaran yang melenceng dari agama Islam. Kedua, bagaimana meramu pesan moral tanpa penyampaian yang menggurui. Ketiga, membuat karakter yang manusiawi namun tetap mencerminkan perilaku ke-Islamannya atau minimal tidak mencemarkan agama. Buat saya ketiga hal itu merupakan kunci penulisan novel Islami. Maka ketika saya mendapat novel Islah Cinta, saya penasaran dan menduga-duga, akan seperti apakah tulisan Mbak Dini Fitria ini.

Saya mengenal Mbak Dini Fitria sebagai presenter acara Jazirah Islam beberapa tahun lalu, dan penulis novel seri Scapa Per Amore. Namun baru kali ini saya berkesempatan membaca karyanya.

Penulis Islah Cinta: Mbak Dini Fitria (sumber gambar google)

DATA BUKU

Judul: Islah Cinta

Penulis: Dini Fitria

Penerbit: Falcon Publishing

Tebal: 307 Halaman

Cetakan: I, 2017

ULASAN ISLAH CINTA

Novel Islah Cinta menceritakan tentang Diva, seorang presenter acara Oase Ramadhan. Diva dengan rekannya, Jay, bertugas meliput Islam di India. Tujuan liputan tersebut adalah untuk mengangkat Islam yang rahmatan lil alamin yaitu Islam yang penuh cinta, membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh semesta. Berbagai masalah muncul sejak Diva sampai ke India. Salah satu yang menohoknya adalah penggantian guide akibat tour guide lama mendapat musibah. Bencana pula bagi Diva, karena penggantinya adalah sang mantan yang menorehkan luka dalam di hatinya. Sementara Diva tengah dekat dengan Maher yang ditemuinya di liputan sebelumnya di negara lain. Apakah Diva mendapat bahan liputan yang memberinya pencerahan? Apakah Diva mendapat jawaban hakikat cinta di India? Lalu ke mana hati Diva dilabuhkan?

Pertemuan yang tak pernah kuharapkan itu telah membuat kacau pikiran dan perasaanku. Bagaimana bisa aku menemukan kaidah Islam yang penuh cinta di tengah kebencian yang makin menyeruak dengan munculnya wajah dan luka lama? –Halaman 11

Cerita dibuka dengan cuplikan berita mengenai teror bom yang dilakukan teroris. Menyentil tentang isu Islam sebagai agama yang dituduh penebar teror. Saya seperti menemukan triger mengapa acara Oase Ramadhan yang dipresenteri Diva mengambil topik Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Maju ke bab pertama, konflik baru muncul dengan kehadiran Andrean, mantan Diva yang telah menikah. Di sini, Mbak Dini sudah langsung memancing emosi pembaca. Lika-liku masa lalu Diva dan Andrea memang menjadi konflik yang mengaduk-aduk perasaan, pembaca turut larut ke dalam dinamika hati Diva. Seolah dibawa mengalir ke air terjun yang deras, kemudian mengambang di sungai, lalu merasakan pasang surut ombak di lautan.

Aku ingat semuanya seolah baru saja kualami kemarin. Rasanya seperti memasuki sebuah tabula waktu yang membawaku ke angkasa, lalu menjatuhkan tubuhku begitu saja ke tanah kemudian membusuk seiring musim.  –Halaman 26

Sebagian besar latar tempat di Islah Cinta adalah India. Merupakan salah satu bagian terbaik dari novel ini. Islah Cinta bukan termasuk novel bertema jalan-jalan kemudian menemukan cinta dalam perantuan. Lebih dari itu, latar tempat diangkat sangat menyatu dengan cerita dan memiliki alasan fundamental. Pemilihan India sama sekali tak mubazir atau sekadar gaya-gayaan mengangkat latar luar negeri. Apalagi dieksplorasi dengan baik. Pembaca diajak mengenal jejak-jejak sejarah Islam di India, hingga perkembangan Islam saat ini. Mbak Dini dapat dengan baik mendeskripsikan tempat hingga pembaca dapat melihat jelas dalam benaknya. Simak deskripsi berikut ini:

Dari lantai atas minaret di sisi sebelah kiri pintu timur ini aku bisa melihat ke arah dua sisi, ke arah depan mimbar yang berhadapan lurus dengan tempatku berdiri, juga ke arah luar masjid. Aku bisa melihat dengan jelas pemandangan kawasan jama masjid di sela-sela lilitan kabel-kabel listrik yang berselang seling tak beraturan. Jalanan begitu padat, tidak hanya dipenuhi kendaraan tetapi juga gerombolan manusia yang menyemut hampir di semua sudut jalan. Kedai-kedai dengan beraneka rupa barang pun berserakan menawarkan kebutuhan sandang pangan. –Halaman 47

Banyak pengetahuan mengenai kebudayaan India yang bisa diambil dari Islah cinta. Mbak Fitria menceritakan kulturnya, makanan khasnya, karakter penduduknya, sampai kebudayaannya. Termasuk ke dalamnya bagaimana perilaku umat yang gandrung melakukan ziarah ke makam. Menariknya, meskipun banyak menggunakan sempalan bahasa asing dan mengenalkan istilah-istilah asing, pembaca tak akan menemukan catatan kaki. Semua hal berbau asing itu dijelaskan dalam narasi dan dialog. Satu teknik yang sulit diterapkan. Mbak Dini sukses menggunakan teknik ini.

Musik itu namanya qawwali, musik sufi muslim tradisional yang berakar dari Persia dan populer di Asia Selatan. Tujuannya tak jauh beda dengan whirling dervishes, tarian Turki, yang berupaya berhubungan langsung dengan illahi dan mencapai ekstase spiritual. –Halaman 16

Misalnya bahwa India yang memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya dapat lebur dalam satu bingkai ‘toleransi’. Bagi saya yang jarang menonton film dan membaca buku India juga hanya tahu Taj Mahal, banyak informasi yang bisa saya dapat dari novel ini.

India memberiku sebuah perspektif yang berbeda dalam memandang sebuah perbedaan. Negeri hindustan yang mayoritas warganya Hindu ini tidaklah memproklamirkan dirinya sebagai negara Hindu. Bahkan memberi tempat untuk agama lain tinggal dan beribadah sesuai dengan kepercayaan mereka. Di sinilah aku merasakan bagaimana sebuah toleransi itu bukan sekadar label yang diagung-agungkan, tetapi ruh yang dihidupkan di dalam setiap hati manusianya. –Halaman 204

Saya terkesan membaca sejarah Islam di India dalam novel ini. Teknik penyampaian informasinya pun tidak bertumpuk dan membuat pusing. Informasi dibagi-bagi dari beberapa sumber. Tour guide, saat liputan, hingga orang-orang yang ditemui Diva selama perjalanan. Sebagian dinarasikan, sebagian dalam dialog, dengan pembagian yang proporsional. Tampak bahwa Mbak Dini telah melakukan riset yang matang. Kalau melihat latar belakang Mbak Dini sebagai presenter acara Islam, saya yakin pengetahuan yang dibagi dalam novel ini juga hasil riset turun ke lapangan.

Cinta dan agama adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Islam adalah agama yang lahir dari zat yang penuh cinta untuk disebarkan ke seluruh penjuru dunia, karena Tuhan menciptakan manusia tidak hanya dari satu jenis dan suku saja. –Halaman 78

Tokoh sentral dalam Islah Cinta ada empat orang, yaitu Diva, Andrean, Jay, dan Maher. Keempatnya digambarkan dengan manusiawi. Memiliki kekurangan yang cukup banyak, tapi tetap berhasil mendapat simpati pembaca. Misalnya Diva yang mudah terpancing emosi dan bisa melakukan kesalahan besar, sifat itu tak lantas membuat saya sebal padanya. Tapi justru maklum dan related. Meskipun saya tak memiliki tokoh favorit. Diva pun diperlihatkan sebagai perempuan mandiri, terbukti dengan cara kerjanya yang profesional sebagai seorang presenter. Mbak Dini luwes menjelaskan suka duka presenter yang bertugas liputan di luar negeri. Secara tidak langsung, Mbak Dini sedang membagi pengalaman pribadinya sebagai presenter. Kemudian, pemilihan karakter saingan cinta Diva yang digambarkan hampir sempurna justru menambah empati saya. Senang rasanya kembali menemukan novel yang tidak memasang antagonis dengan sifat buruk. Justru ketika saingan protagonis ini sepadan, konflik cinta menjadi gereget. Perang batin tokoh utamanya menjadi hidup.

Masa muda itu tidak pernah bisa diulang jadi gunakan untuk benar-benar mencari cinta sejatimu yang nanti bisa kau banggakan dan kenang hingga tua. –Halaman 149

Novel ini menggunakan tata bahasa yang renyah. Mudah dicerna, namun kaya kosakata, dan memiliki diksi indah. Kalimat-kalimat puitis ditebar dalam porsi yang pas. Banyak kalimat yang quotable juga. Seperti petikan-petikan berikut ini:

Jika kekuatan cinta sudah menyentuh kalbu, semua manusia akan berubah menjadi pujangga. –Halaman 185

 

Cinta adalah udara yang terus berembus meski kau tak pernah memilikinya. –Halaman 150

 

Manusia tidak akan bisa bahagia tanpa adanya cinta. Cinta itu ibarat garam. Cinta itu ibarat bintang. Cinta itu juga yang akan selalu meremajakan hasrat, setua apa pun kita nanti. –Halaman 230

 

Dalam cinta tidak cukup hanya hasrat tapi juga pengorbanan dan rasa maaf. Tugas cinta itu adalah memberi dan membahagiakan tanpa perlu berharap dengan hitungan yang sama. –Halaman 292-293

Islah Cinta kaya akan konflik. Banyak topik diangkat tanpa tumpang tindih. Tentu sorotan utamanya adalah kehidupan umat Islam di India yang mayoritasnya beragama Hindu lewat pencarian hakikat cinta Diva. Jangan membayangkan isu-isu dan ajaran Islam dijejalkan ke benak pembaca dengan cara menggurui. Penyampaian pesan Islah Cinta begitu halus. Pembaca diajak bertualang dalam benak Diva yang penuh pertanyaan-pertanyaan. Di mana jawabannya selalu tak disimpulkan begitu saja, tetapi mengajak pembaca ikut menyusun konklusinya sesuai dengan proses pikir masing-masing. Begitu pula dengan hakikat cinta yang dicari Diva. Islah Cinta menanamkan perspektif tanpa melabeli bahwa persepktifnya paling benar.

Jika kita sudah memahami rasa cinta terhadap Tuhan kita tidak akan kesusahan menyayangi sesama. –Halaman 78

Selesai membaca novel ini, saya puas, karena tiga kesulitan menulis novel Islami dapat dilewati oleh Mbak Dini.  4 Bintang untuk buku ini. Saya rekomendasikan novel Islah Cinta bagi kamu yang ingin mengetahui seperti apakah wajah Islam di India.

If you can survive in India, you can survive in any part of the world. –Halaman 167