Ramadan: Moment Premium Mendekatkan Ibu Dan Anak

Ketika saya memutar ingatan ke masa kecil, banyak moment paling berkesan ternyata terjadi di bulan ramadan. Mulai dari cerita sahur kesiangan, dipaksa buka puasa setengah hari, nakal buka puasa padahal masih kuat, sampai ngabuburit seru. Biasanya setelah sahur, kami sekeluarga akan bermain monopoli atau ular tangga. Nah, kalau acara ngabuburit, lebih beragam kegiatannya. Kadang kami menunggu buka puasa dengan belajar mengaji, bermain kartu, membantu Mama membuat makanan minuman untuk buka, sampai main ke toko buku. Tiap kali mengingat momen-momen itu selalu bikin senyum-senyum sendiri. Ramadan ini memang bulan istimewa. Moment berharga untuk membangun kedekatan keluarga, terutama ibu dan anak.

Main ular tangga bikinan Prajurit Rumput

Saat Rasi umur 5 tahun, saya sudah mengajaknya belajar puasa meskipun hanya setengah hari. Dari buku bacaan saya menerangkan secara sederhana apa itu bulan ramadan. Tahun berikutnya, ketika Rasi berusia 6 tahun, dia saya ajak mulai berpuasa seharian penuh. Alhamdulillah dapat 2 hari. Saya waktu itu memang enggak memaksanya untuk menamatkan puasa sebulanan, sekuat Rasi saja. Tahun ini beda lagi.

Pada hari pertama puasa, saya menargetkan Rasi puasa penuh. Tapi hari-hari selanjutnya sih kalau Rasi memang enggak kuat saya enggak akan memaksa, yang penting dia merasakan perjuangan puasa sejak hari pertama. Sahur pertama Rasi semangatnya luar biasa, dibangunkan sekali saja langsung melek. Makan sahurnya pun banyak. Namun, belum juga siang hari, anak itu sudah merengek lapar. Sedari awal memintanya untuk belajar puasa penuh saya memang sudah memperkirakan harus mendampinginya seharian. Saya lalu bilang, “Coba pikirannya jangan ingetin makanan terus supaya enggak lapar.” Saya ajak dia membaca, kemudian menonton. Berhasil membuat Rasi berhenti merengek sampai jam 2 siang. Setelah itu dia kembali minta makan. Saya minta Rasi supaya menulis diary ramadan agar dia selalu mengingat kejadian-kejadian apa saja yang dialami selama ramadan, nantinya dia bisa memetik hikmahnya lagi. Untuk menulis selembar saja Rasi butuh waktu satu jam setengah. Segitu juga udah Alhamdulillah. Sorenya rengekan terdengar lagi dari mulut Rasi. Untungnya Prajurit Rumput punya ide, dia membuat ular tangga sendiri lengkap dengan peraturan unik. Saya mengajak Rasi main ular tangga itu. Akhirnya sampai waktu berbuka dia lupa sama laparnya. Ketika mendengar azan, Rasi langsung berteriak girang. Berbuka pertama dengan yang manis. Pas banget memang memilih camilan favorit Lotte Choco Pie. Hari keduanya ajaib, Rasi enggak mengeluh lapar sekali pun. Tapi tetap saya ajak ngabuburit di taman biar dia senang.

Malam harinya sambil memeluk Rasi, saya mengajaknya mengingat hari pertama puasa. Kami belajar memaknai puasa bersama. Saya tanya, “Lapar itu enggak enak ya, Neng?” Dia jawab iya. Saya katakan supaya ketika kami mendapat rezeki banyak makanan jangan dibuang-buang, tiap kali makan harus dihabiskan. Rasi memang suka enggak abis makannya. Jadi saya ngeliat celah buat dia mau belajar enggak lagi menyia-nyiakan makanan. Saya lihat dia mulai mengerti tujuan puasa. Tentang berbagi pada sesama, dan lainnya.

Ramadan Togethermore Lotte Choco Pie

 

Pada bulan ramadan penuh berkah ini banyak yang memanfaatkannya untuk mengajarkan anak-anak kebaikan. Karakter memang nomor satu yang harus diperhatikan pada diri anak sebagai fondasi pendidikan. Tentunya cara mendidik anak meski disiplin haruslah dengan penuh kasih sayang. Dan tentunya mengajarkan anak kebaikan akan lebih dipahami bila disampaikan dengan cara yang seru. Seperti yang dilakukan Lotte Choco Pie ini.

Selama tiga minggu berturut-turut, Lotte Choco Pie mengadakan acara ngabuburit dan buka bersama #RamadantogetherLotteChocoPie di beberapa masjid. Tujuan diadakannya acara ini menurut Mbak Oci C. Maharani, Brand Manager Lotte Indonesia, adalah dapat membantu para ibu untuk mewujudkan together more moment bersama anak dan mempererat hubungan dan meningkatkan kualitas kebersamaan keluarga.

Acara #RamadantogetherLotteChocoPie pertama kali diadakan di Masjid Raya Cinere tanggal 3-4 Juni 2017 lalu. Kemudian di Masjid Baitussalam Billy & Moon Kalimalang tanggal 10-11 Juni 2017. Terakhir, di Masjid Al-Ikhlas BSD tanggal 17-18 Juni 2017. Di antara ketiga tempat itu saya menghadiri yang di Kalimalang. Sayangnya saya enggak bisa mengajak Rasi karena dia lagi sakit.

Saya datang ke Masjid Baitussalam sekitar jam 2 siang. Ngadem dulu di dalam masjid sambil bertukar kabar dan chit-chat dengan peserta lain. Pastinya atuh enggak ketinggalam selfie-selfie XD Pertama kali ketemu sama Mak Gaoel di sana. Pas denger saya ngomong, katanya ‘sundanis’ pisan XD

Acara dimulai sehabis selesai salat asar, sekitar jam setengah 4 sore. Dibuka dengan sesi Kids Pastry Classes. Ini cooking class buat anak-anak yang dipandu sama Chef Nanda Young. Anak-anak diajarin bikin dessert berbahan dasar Lotte Choco Pie dengan menghiasinya memakai fondant warna-warni yang bisa dikreasikan jadi banyak bentuk. Ngeliat anak-anak kok ya semangat banget belajarnya. Pada cepet gitu nyerap ilmunya. Mereka tampak uplek happy gitu berkreasi. Mana hasilnya lucu-lucu banget. Jadi berasa enggak tega makannya juga :’) Keluarlah tiga pemenang, yaitu Safina, MazKa, dan Lintang. Congratz kids!

Sesi berikutnya Lotte Choco Pie Creative Competition. Nah iniiii seru juga. Soalnya ibu dan anak berpasangan buat menghias Lotte Choco Pie, berkompetisi dengan yang lain. Lomba kayak gini bisa jadi premium bonding moment karena mempererat chemistry ibu dan anak, gimana mereka bekerja sama, menikmati kebersamaan, mengeluarkan ide, dan menekan ego masing-masing.

Waktu menuju buka semakin dekat. Kami kemudian masuk ke masjid untuk mengikuti tausiyah interaktif duet Kak Muiz dan Ustaz Wildan. Di dalam masjid sudah ada anak-anak yatim piatu yang duduk berjajar dengan rapi. Semuanya keliatan seneng banget menyimak tausiyahnya. Soalnya Kak Muiz ini kocak deh. Selain pinter mengubah-ubah suara, bonekanya juga lucu. Ditambah dengan ceramah mengenai keutamaan sahur oleh Ustaz Wildan, membuat anak-anak  terhibur sekaligus mendapat maknanya.

Setelah itu, Lotte Choco Pie membagi-bagikan bingkisan untuk semua anak yatim piatu yang hadir. Sehingga anak-anak lain juga belajar pentingnya berbagi pada sesama. Semoga senyum indah anak-anak yatim piatu itu akan terus terkembang. Sehabis itu, azan magrib berkumandang. Saatnya buat berbuka. Setelah makan takjil, salat magrib berjamaah, baru deh makan makanan berat bareng-bareng teman-teman dari Kumpulan Emak-Emak Blogger.

Oh iya, di sana ada lomba fotonya juga. Iseng-iseng saya ikutan, sekalian karena jiwa narsis berfoto ria terpanggil karena photo booth-nya Lotte Choco Pie 3D ini kece banget. Ternyata saya menang, yeaay! Alhamdulilah dapet hadiah uang seratus ribu rupiah dari Lotte Choco Pie. Berkah ramadan banget.

Ada lomba foto yang bisa Mama dan si kecil ikuti. Hadiahnya? Trip sekeluarga ke Bali. Online Photo Contest Lotte Choco Pie ini gampang ikutannya. Beli 2 kemasan Lotte Choco Pie isi 6 buah, simpan struknya ya buat bukti kalau menang nanti. Lalu upload foto kebersamaan dengan si kecil beserta Lotte Choco Pie-nya di instagram atau facebook. Sertakan tagar #Ramadantogether dan #TogethermoreLotteChocoPie cepetan yaaa karena periode perlombaannya hanya sampai 24 Juni 2017. Detailnya bisa diliat di poster atau media sosial @lottechocopie.id

Silaturahmi udah, seneng liat kreasi anak-anak udah, foto bareng Chef Nanda udah, kenyang buka udah. Waktunya pulang ke Bandung dengan hati riang sambil bawa oleh-oleh goodie bag berbentu Choco Pie yang pastinya bikin Rasi bahagia.

Para pemenang Lotte Choco Pie Creative Competition

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Saat kecil, saya selalu serem tiap mendengar kata tumor. Buat saya yang masih polos itu, tumor berarti kanker. Belum lagi terbayang pemandangan para pasien tumor yang ditayangkan di TV, bikin hati ini terenyuh. Ternyata tumor dan kanker berbeda. Saya enggak pernah menyangka bahwa ketika dewasa saya terkena tumor, bahkan dua kali, di tempat yang berbeda.

Begini ceritanya….

Tahun 2016 lalu saya terkena kista ginjal. Ceritanya bisa dibaca di “Kista Ginjal Mengantarkan Saya Pada Salah Satu Momen Luar Biasa Dalam Hidup”. Operasinya dilakukan pada Bulan Mei. Saya percaya ini bukan kebetulan ketika Allah menghendaki saya menjalankan operasi lagi di bulan yang sama, tepat setahun kemudian. Pasti ada tujuan Allah membuat timing seperti itu. Kali ini, saya terkena tumor yang tumbuh di mata.

Tentang Tumor

Intinya sih kata dokter tumor itu adanya ‘benjolan’ di mana pun letaknya. Saya baru tahu kalau ‘semua’ benjolan itu tumor. Termasuk kista. Tumor jenisnya banyak, tapi secara umum sih dibagi ke dalam tumor jinak dan tumor ganas. Nah, tumor jinak dibagi-bagi lagi.

Dari artikel yang saya baca, tumor secara medis diartikan sebagai berikut:

Penyakit tumor secara medis adalah terbentuknya sebuah neoplasma yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak wajar. Dan beberapa sel yang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat akan mengakibatkan sebuah benjolan pada permukaan organ tertentu.

Sumber: penyakittumorjinak.blogspot.co.id

Seperti yang sudah saya ceritakan di “Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit”, benjolan di mata ini tidak serta merta langsung besar. Beberapa tahun sebelumnya, muncul benjolan kecil. Benjolan itu karena tidak sakit, merah, atau pun membesar, saya biarkan saja. Hingga di tahun 2017 benjolan itu mulai membesar, lambat tapi pasti. Sampai suatu pagi benjolan itu tumbuh menyerupai jerawat batu. Besar, merah, dan sakit. Sebagai orang yang panikan dan penakut sekaligus, waktu melihat itu saya pun saya langsung berpikir yang bukan-bukan. Daripada kecemasan saya makin meliar, saya lalu memeriksakannya ke Puskesmas. Dokter Puskesmas langsung memberi rujukan ke rumah sakit. Kemudian oleh dokter pertama, saya diberi obat tetes mata dan salep. Dicoba untuk rawat jalan dulu. Sambil beliau merekomendasikan saya dokter temannya yang biasa melakukan ‘tindakan’. Saya diminta datang seminggu kemudian.

Lipoma di mata saya dulu waktu masih kecil, kelihatan tapi tidak kentara

Namun rupanya benjolan itu malah makin menjadi. Tidak menunggu sampai seminggu, saya sudah memeriksakan mata lagi. Masih di RS yang sama, tapi saya mendatangi dokter kedua yang direkomendasikan itu. Dokter kedua memijit-mijit benjolannya, lalu katanya, “Ini sih bukan cairan, tapi daging. Enggak bisa dikasih tindakan biasa.” Saya tanyakan jenis penyakitnya, tapi dokter menjawab belum tahu. Dokter lalu memberi saya obat salep yang baru. Salep ini memiliki kandung berbeda dari sebelumnya. Dokter meminta saya datang seminggu atau lima hari lagi. Tapi kalau benjolannya hilang, saya tak perlu datang lagi. Begitu kata beliau.

Waktu itu saya berharap sepenuh hati agar salepnya berhasil membuat benjolannya kempes, tapi nihil. Benjolannya terus saja bertumbuh sampai hampir sebesar kelereng. Kecemasan dalam diri saya makin tak terbendung. Saya menjadi kian sulit tidur dan rasanya stres berat. Apalagi benjolannya gatal sekali. Tiga hari kemudian saya datang lagi. Saya masih ingat bagaimana wajah khawatir dokter ketika memeriksa saya.

“Benjolannya diangkat saja ya. Saya beri rujukan ke RS Cicendo,” ucap beliau.

“Dok, apa enggak bisa dioperasi di sini saja?” tanya saya.

“Bisa saja. Tapi kalau ada apa-apa, kalau… misalnya ternyata tumor ganas atau apa, tetap saja nanti akan dirujuk ke sana, karena di sana ada dokter spesialisnya,” jawab dokter dengan nada hati-hati.

Dokter bilang saya tak usah lagi meneruskan memakai salep yang beliau beri karena tidak memberi efek apa-apa. Tapi saya tetap memakainya sekadar untuk menenangkan hati bahwa benjolan saya sedang diobati. Lagipula saya masih merawat harapan adanya keajaiban seandainya ketika saya bercermin keesokan harinya, saya akan melihat mata saya telah sembuh. Sayangnya itu tidak terjadi.

Tidak membuang waktu, besoknya saya langsung ke RS Cicendo. Dokter yang menangani saya langsung memberi putusan untuk operasi. Saya bertanya lagi sebenarnya di mata saya ada penyakit apa?

“Kami belum tahu, nanti kita cek di lab setelah diangkat. Ini jelas bukan kista karena bukan cairan. Letaknya juga tidak lazim.”

Karena dokter khawatir benjolannya akan pecah saat operasi, maka saya akan dibius umum atau bius total. Untuk itu, saya harus menjalani serangkaian pemeriksaan.

Persiapan Operasi

Seperti mengalami deja vu, saya melakukan serangkaian pemeriksaan yang pernah saya lakukan tahun lalu. Yaitu pengecekan paru-paru, tes urine, tes darah, dan tes denyut jantung (elektrogram). Alhamdulillah hasilnya baik semua.

Selanjutnya hasil berbagai tes itu harus diserahkan pada dokter mata yang langsung memberi saya jadwal operasi besoknya. Artinya, hari itu saya mesti menginap di RS untuk persiapan. Terus terang saja secara psikologis saya sama sekali tidak siap. Rasa takut mencengkeram erat. Tapi saya kuatkan diri, toh besok atau minggu depan saya tetap harus menghadapi hari operasi. Lalu saya diminta menemui dokter ahli penyakit dalam dan dokter anestesi untuk mendapatkan acc. Tentunya berbekal seluruh hasil tes. Saat bertemu dokter penyakit dalam bernama Maria, saya ceritakan ketakutan saya. Dengan senyum lembut keibuan beliau berkata, “Saya buang takutnya ya,” sambil beliau seperti mencerabut sesuatu dari tubuh saya. Saya tahu itu sekadar sugesti saja, tapi entah bagaimana saya merasa sedikit tenang.

Oh iya, sekadar info mungkin ada yang belum tahu, dokter anestesi itu dokter yang membius pasien saat operasi. Supaya lebih mengerti, saya kutip penjelasan tentang dokter anestesi berikut ini:

Dokter anestesi merupakan dokter spesialis yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi kepada pasien yang hendak menjalani prosedur bedah atau operasi. Selain memastikan agar pasiennya mati rasa, dokter anestesi juga memantau manajemen rasa sakit dan perawatan intensif pasien
Dokter spesialis ini tak hanya membuat pasien menjadi tidak sadar seluruhnya, mati rasa hanya di sebagian tubuh, atau memberi obat penenang untuk menghilangkan rasa nyeri dan kecemasan pasien. Dia juga memantau secara terus-menerus dan mempertahankan fungsi kritis hidup pasien ketika pasien menjalani seluruh rangkaian prosedur medis bedah, bedah kandungan, atau prosedur lainnya.

Setelah mendapat persetujuan dari kedua dokter, saya mengurus administrasi rawat inap. Sayangnya karena sudah terlalu sore, tidak ada kamar kelas 3 yang tersedia. Sempat terbesit untuk naik ke kelas 2 saja meskipun harus menambah biaya. Namun dipikir-pikir lagi, sesudah operasi biasanya masih butuh banyak biaya untuk pemulihan dan perawatan. Hasil dari konsultasi dengan kakak dan adik saya yaitu Teh Yunis, Teh Ika, dan Evi pun semua sepakat agar saya tak usah naik kelas. Maka saya pun tidak jadi mengajukan kenaikan kelas. Eh, ini kesannya kayak sekolah ya 😀 Bagian administrasi menganjurkan saya untuk menunggu dulu sampai jam 5 sore. Akhirnya saya mendapat kamar juga, tapi masalah lain muncul. Bulan lalu memang saya terlambat membayar BPJS, akibatnya untuk pemakaian operasi dan rawat inap, harus diurus dulu ke kantor pusat. Kalau itu dibilang kesialan, saya malah merasa itu keberuntungan. Karenanya saya malah lega mendengar bahwa operasinya mesti diundur. Memang psikologi saya waktu itu nge-drop sekali.

Besoknya Prajurit Rumput mewakili saya ke RS untuk mengurus penjadwalan ulang operasi dan pergi ke kantor BPJS pusat. Jadwal operasinya diubah ke hari Selasa. Maka pada Senin siang, saya mulai rawat inap. Sebelum masuk ke ruangan yang terdiri dari 10 tempat tidur, seorang suster menjelaskan secara terperinci tentang persiapan operasi yang harus dilakukan. Salah satunya adalah saya diminta untuk keramas dan mandi sore itu. Memang tahun lalu sebelum operasi kista ginjal, saya menyengajakan diri keramas dulu di rumah untuk antisipasi bahwa akan agak lama dari operasi saya bisa keramas lagi, belajar dari pengalaman waktu operasi caesar sebelumnya. Namun saya tidak menyangka bahwa sebelum operasi mata, semua pasien memang diharuskan keramas dulu. Tujuannya adalah karena saat memasuki ruang operasi kondisi pasien dalam keadaan bersih dan steril. Ditakutkan kuman di rambut yang letaknya begitu dekat dengan mata akan masuk saat operasi.

“Jangan khawatir kedinginan, ada air hangat kok di kamar mandi,” ujar Suster.

Sebenarnya saya agak khawatir dengan kondisi fisik yang sepertinya akan terkena flu. Soalnya hidung agak tersumbat. Takutnya gara-gara itu operasinya diundur lagi. Kali ini saya ingin segera melaluinya, tidak ingin terus-terusan merasa takut. Setelah keramas dan mandi, saya banyak makan, baru saat rambut kering saya tidur supaya fit. Malamnya saya disuruh puasa dari jam 2 dini hari. Untungnya saya kebangun untuk sahur. Padahal saya tidak menyetel alarm. Paginya dokter mengecek keadaan saya. Beliau bilang operasi sekitar jam 9 pagi, saya akan dipanggil sekitar setengah jam sebelumnya. Sambil menunggu waktu itu, saya tidur lagi dengan alasan tetap menjaga kondisi kesehatan. Saya bangun dengan kaget karena sudah dipanggil suster untuk naik ke ruang tunggu operasi. Jadinya saya hanya sempat cuci muka alakadarnya.

Untuk prosedur rawat inap dan operasi memakai BPJS akan saya bahas di postingan terpisah.

Operasi Mata

Dulu saya suka heran dengan operasi katarak masal. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin melakukan operasi langsung berjamaah begitu dan sesudahnya pasien bisa pulang hari itu juga. Soalnya sepengalaman saya, dua kali operasi, saya baru bisa jalan setelah beberapa hari. Rupanya memang operasi mata itu berbeda.

Setelah saya berganti baju dengan pakaian khusus operasi, seorang suster memberi infus. Infusnya akan dijalankan sesudah operasi nanti. Kemudian saya diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Di sana ada banyak pasien menunggu giliran dipanggil. Operasinya macam-macam, ada yang retina, katarak, dan lainnya. Kami bertukar cerita dan saling mendoakan. Saya sedikit nge-drop lagi karena ada salah satu pasien yang membicarakan tentang kematian. Rasanya kepengin bilang, “Pak, kalau bisa di ruang tunggu operasi topiknya yang menyenangkan saja.” Dua jam kemudian nama saya dipanggil.

Saya berjalan melewati satu ruang lainnya. Rupanya memang ada banyak ruang operasi di RS itu. Udara ruang operasi sangat dingin, tapi bukan itu yang membuat saya menggigil, lebih karena takut. Saya menahan diri untuk tidak melihat-lihat peralatan medis di sana supaya tidak tambah takut. Mungkin saya memang terlalu berlebihan, karena kalau melihat pasien lain sih tampak tenang-tenang saja. Untunglah tidak lama dari situ saya dibius hingga tidak sadarkan diri.

Pasca Operasi

Saya terbangun dengan cepat, saat melihat sekitar, saya berada di ruang tunggu operasi. Rasa sakit langsung menerpa mata kiri saya yang sudah berhasil dioperasi. Saya lalu dibawa ke ruangan. Sakit di mata bertahan seharian. Namun selain sakit di area mata dan tubuh lemas, selebihnya saya bisa duduk dan mengobrol dengan normal. Satu jam sesudahnya saya malah sudah bisa ke kamar mandi. Karena saya dibius total, maka saya harus puasa lagi selama tiga jam. Setelah 3 jam saya boleh minum sesedok air per lima menit. Kalau tidak muntah dan mual, saya boleh makan. Rupanya saya tidak kehilangan selera makan sama sekali, meskipun sambil menahan sakit, sambil disuapi Evi (kembaran saya) sepiring nasi plus roti tandas tak bersisa.

Mata kiri saya yang diperpan penuh dibuka malam harinya. Suster tidak memasangkan perban penuh lagi, hanya di area luka saja. Meskipun bisa melihat normal, mata saya menjadi bengkak beberapa hari. Ini normal saja katanya. Suster juga membuka infusan yang sudah habis. Beda dengan operasi terdahulu, untuk operasi mata, infusan cukup diberikan satu labu saja. Katanya untuk menjaga cairan tubuh saat puasa.

Besoknya dokter yang mengecek keadaan mata saya mengatakan bahwa saya sudah boleh pulang hari itu. Alhamdulillah. Bekas operasinya pun tidak begitu sakit lagi, hanya sesekali saja terasa nyerinya. Saya dibekali salep dan dua macam obat untuk diminum tiap hari. Mata kiri saya tidak boleh dulu kena air selama seminggu supaya jahitannya kering.

Selama sebulan pakai perban. Perbannya kegedean jadi kesannya yang luka jidatnya ya. Jahitannya padahal kecil di dekat alis.

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Satu minggu di rumah saya berusaha setelaten mungkin merawat luka bekas operasi, mengganti kain kasanya dua kali sehari, memakaikan salep, dan minum obat secara teratur. Sampai hari kedelapan saya kontrol sekalian membuka jahitan.

Terus terang saja, saya deg-degan menunggu hasil pengecekan lab. Takut ini itu. Alhamdulillah ternyata tumor di mata saya itu jenis lipoma yang merupakan tumor jinak. Memang menurut dokter tidak tertutup kemungkinan akan muncul lagi. Namun kebanyakan kasus lipoma tidak muncul lagi.

Tentang Lipoma

Lipoma itu benjolan lemak yang tumbuh di kulit dan lapisan otot. Sifatnya tidak berbahaya, karena tidak sakit dan pertumbuhannya lambat. Sebenarnya Lipoma seringnya muncul di area punggung, paha, leher, lengan, perut, atau bahu. Meskipun bisa tumbuh di mana saja. Memang kan, nyata pada kasus saya muncul di kelopak mata.

Lebih jelasnya saya kutip penjelasan dari artikel berikut:

Lipoma biasanya memiliki diameter 1-3 cm. Lipoma dapat tumbuh dan menjadi lebih besar, namun umumnya diameternya tidak lebih dari 5 cm. Jika ditekan menggunakan jari, Lipoma akan mudah bergerak, serta terasa lembek seperti karet. Jika lipoma tumbuh makin besar dan mengandung banyak pembuluh darah atau menekan saraf di sekitarnya, lipoma akan terasa sakit.Jika bertahan selama beberapa tahun, ukuran lipoma tidak akan berubah dan pertumbuhannya sangat lambat. Lipoma bisa tumbuh lebih besar dan lebih dalam, namun hal ini jarang terjadi.

Sumber: http://www.alodokter.com/lipoma

Saya lalu bertanya pada dokter, apa penyebab munculnya Lipoma? Kata dokter, penyebabnya belum diketahui. Pada beberapa orang muncul begitu saja tanpa sebab. Namun kemungkinan karena faktor keturunan. Kalau dari artikel yang saya baca, biasanya lipoma ini muncul pada orang dengan range usia 40-60 tahun. Untuk mengetahui benjolan itu lipoma atau bukan harus dicek ke lab atau CT Scan. Pantesan waktu memeriksa saya dokter tidak memastikan dulu penyakitnya apa, karena memang harus dicek dulu ke lab. Saya juga bertanya, bagaimana cara mencegah agar lipoma tidak muncul lagi? Atau adakah perawatan khusus untuk mencegah munculnya lipoma? Jawabannya: tidak ada. Karena asal-usul lipoma ini masih misterius, jadi tidak ada langkah pencegahan maupun cara agar tidak muncul. Namun menurut dokter, untuk mencegah penyakit tumor secara umum adalah dengan menjaga pola dan gaya hidup, serta konsumsi makanan sehat. Semoga saja ke depannya akan diketahui sehingga tidak akan banyak lagi orang yang terkena lipoma.

Kalau kamu mengalami gejala yang saya alami, jangan takut kalau memang harus dioperasi. Serahkan segalanya pada Tuhan.

Itulah cerita saya, semoga bisa bermanfaat.

Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit

Bulan Mei tepat setahun lalu, saya dioperasi kista ginjal. Penyakit kista ginjalnya sendiri saya ketahui mendadak. Selang tiga hari setelahnya, saya masuk ruang operasi, lalu menginap beberapa hari di rumah sakit. Waktu itu, terus terang saya merasa takut. Berbagai macam pikiran berseliweran di kepala. Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran dan kesehatan. Saya pun bisa berkegiatan lagi dan mewujudkan beberapa impian saya.

Namun, saya tak pernah menyangka. Setahun kemudian, saya harus kembali menjalani operasi. Apalagi di bulan yang sama. Cerita kali ini bermula dari beberapa tahun lalu. Seingat saya–yang sebenarnya tak yakin waktu detailnya–sekitar 5 tahunan lalu, muncul benjolan kecil di kelopak mata kiri. Tidak merah dan tidak sakit. Maka saya biarkan saja. Tak pernah sekali pun saya periksakan ke dokter. Tiba-tiba tahun ini secara perlahan tapi pasti, benjolan kecil itu mulai membesar. Hingga 2 minggu lalu saat saya pergi ke Jakarta mengikuti sebuah acara, benjolan itu telah jelas terlihat namun tidak memerah. Esoknya, saat bangun tidur, saya mendapati benjolan itu sudah memerah dan membesar. Saya ingat-ingat, apa yang saya lakukan sebelumnya yang mungkin membuat keadaannya menjadi begitu. Tiap saya migrain, saya memang sering memainkan benjolan itu, seolah pusingnya akan menghilang. Mungkin itu menjadi salah satu penyebabnya.

Saya agak panik melihatnya. Takut mulai menyergap. Takut ada apa-apa. Maka saya pun memeriksakannya ke dokter. Saya diberi obat untuk beberapa hari. Dari dokter pertama itu, saya diberi rekomendasi untuk periksa ke dokter lain yang katanya sering menangani ‘tindakan’ mengangkat benjolan begini. Tapi baru 2 hari, saya sudah datang lagi, pasalnya benjolannya malah makin membesar. Kali ini menemui dokter kedua. Dari beliaulah saya tahu kalau benjolan ini daging, bukan cairan nanah. Sehingga tidak bisa diberi ‘tindakan’ pengangkatan biasa. Harus melalui operasi. Maka saya dirujuk ke RS Cicendo yang merupakan rumah sakit pusat mata nasional.
Di sana, saya ditangani oleh dokter ketiga. Menurut dokter, nantinya benjolan tersebut harus dicek lab untuk mengetahui jenis penyakit tumor apa.

Berita itu tentu saja membuat saya gentar. Terus terang saja, kali ini saya lebih takut lagi. Setelah menjalani dua kali operasi, saya bukan lantas menjadi kebal mendengar kata ‘operasi’, saya malah makin tercenung. Memori saya yang merekam tahap demi tahap operasi membuat tubuh kian menggigil. Selama dua minggu ini tiap malam saya dihantui mimpi buruk. Saya didera kecemasan dan insomnia. Kadang berkelebat pertanyaan, “Mengapa saya lagi, Tuhan?” Namun di kala datang kesadaran, saya paham, segalanya tentu memiliki arti.

Saya pun enggan bercermin dan bertemu orang. Beberapa pekerjaan yang mengharuskan tatap muka atau liputan saya batalkan. Tapi tak lantas saya memperlihatkan kemurungan di media sosial. Saya masih berceloteh tentang drama Korea dan film-film yang saya tonton untuk melepas gundah. Saya hanya mengerjakan pekerjaan yang sudah saya terima jauh sebelumnya. Mengejar sesegera mungkin selesai sebelum jadwal operasi. Di tengah stres yang melanda, saya bersyukur masih bisa bekerja di rumah, meski saya bahkan merasa mendapat sebuah keajaiban tiap kali ada tulisan atau postingan yang saya selesaikan.
Entah Allah merencanakan apa untuk saya. Namun, di waktu-waktu ini saya menjadi lebih dekat dengan Rasi dan keluarga. Bermain bersamanya bersama Prajurit Rumput di rumah. Memang, kalau saya tak mesti pergi ke RS untuk pemeriksaan ini itu yang menghabiskan waktu seharian, saya akan stay sepenuhnya di rumah.

Saya pernah cerita tahun lalu, saya sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Karena sewaktu kecil Rasi sering sakit, belum lagi saat saya yang sakit. Entah berapa lama kalau waktu-waktu itu dikalkulasikan.
Ke depannya, saya tak keberatan berada di rumah sakit, tapi untuk hal-hal membahagiakan seperti menjenguk teman yang melahirkan. Bukan hal-hal murung. Bukan yang mengguratkan kecemasan di wajah keluarga.
Saya berdoa sepenuh hati untuk itu. Saya serahkan segalanya kepada Allah. Karena hanya Tuhan satu-satunya pelindung dan penyembuh.

Insya Allah, operasi saya dilaksanakan besok. Saya minta doa teman-teman semua untuk kelancarannya.
Peluklah saya dengan doa.
Semoga Allah mengijabah, mengusir segala ketakutan dan memberi kesehatan. Dan semoga segala doa baik itu memeluk kalian juga.

Bismillahirrahmannirrahim.

***Ditulis di ruang tunggu pemeriksaan

(Tak) Usah Menanti Suatu Hari

yunis2

Dear Sista Yunis,

Saat aku menulis surat ini, aku tengah duduk di kursi tempatmu biasa menghabiskan hari-hari di depan laptop. Kursi ini bila berubah wujud menjadi seseorang, kukira dia pastilah seorang yang paling memahamimu. Dia bisa mengisahkan hidupmu dengan detail. Karena di kursi ini pulalah, kamu kerap kali membagi cerita dengan orang-orang terdekatmu. Bahkan dia hafal benar bahasa tubuhmu. Termasuk apa-apa yang tak mampu kamu katakan, yang kamu sembunyikan lewat gelisah tubuh. Bahagia, cemburu, kepedihan, kebosanan, hingga ketegaranmu. Duduk di sini membantuku menyelamimu, menatap sekitar pada posisi dan sudut pandangmu.

Sis, tadi malam kita bercerita panjang tentang segala hal. Dari hal remeh temeh hingga persoalan krusial hidup: impian, keluarga, dan cinta. Perbincangan itu bukan sekadar bicara persoalan dan hati, kita berusaha saling menguatkan satu sama lain.

Menyoal impian. Sis, aku suka ketika melihatmu larut berkarya. Kegelisahan dan luka-luka menjadi roh yang menghidupkan karyamu. Kerasnya kenyataan tak mampu menumpulkan daya hidupmu. Justru diolah menjadi bahan baku. Kadang kamu tuangkan dalam kanvas, atau tanah liat, seringkali pula di atas kertas. Meski karya kadang tak sepadan bila ditimbangkan dengan angka-angka. Berbentur dengan kenyataan yang datang dari tumpukkan tagihan yang harus dibayarkan. Belum lagi pedihnya saat tak mampu menghapus tatapan nanar anak karena tak bisa mewujudkan keinginannya. Namun kepuasan memang tak bisa dinilai oleh angka, bukan? Tapi karya belumlah menjadi karya sebelum selesai. Proses selalu serupa penyakit yang meringkihkan tubuh. Menjadi tanda tanya besar, apakah kita akan sampai pada ujungnya? Kita mesti sadar betul, tak kan beranjak ketika tidak bergerak. Meski mesti terseret-seret, kadang terbawa arus.

yunis1

Kemudian tentang cinta. Lucunya kita. Kita sama-sama perempuan yang tak cukup dinafkahi oleh perbuatan, materi, dan cinta. Tapi juga mesti diberi makan kata-kata. Mungkin karena setengah hidup kita berada di dunia kata-kata. Namun jangan sampai kata-kata menjadi menu utama. Kuharap kamu tak akan terpedaya. Selalu lihatlah bagaimana seseorang memperlakukanmu. Apa dia mampu menjaga kehormatan pikirannya padamu. Menempatkanmu sebagai seseorang yang mesti dia jaga lahir dan batinnya. Ah, tapi intuisimu selalu membimbing pada jalan kebenaran. Tinggal apakah kamu mau mendengarnya atau tidak.

Kamu mempertanyakan, kapan waktu mempertemukan dengan orang yang tepat? Pertanyaan yang jawabannya paling berkabut. Aku tahu beratnya membesarkan anak sendirian. Menjadi seorang ibu sekaligus ayah. Mengasuh dan bekerja. Di waktu-waktu kelam, rasanya ingin bersandar. Aku paham karena pernah mengalaminya. Penantian memang waktu-waktu yang melelahkan. Namun, menjadi “KITA” dengan orang yang tak tepat justru lebih menyakitkan, bukan? Hanya menyisakan lebam dan luka bernanah. Memang, cinta selalu menyeret kita pada titik nol. Meniadakan banyak pelajaran yang padahal telah kita bukukan untuk dibaca berulang. Bukankah kamu ingin menjadi rumah, bukan tempat persinggahan. Dan kamu pun ingin menghabiskan hidup dengan lelaki yang mampu menjadi rumah, bukan seseorang yang kamu jadikan teman selintas perjalanan.

Sis, berkali-kali patah hati, nyatanya tak membuat rohmu tercerabut dari raga. Karena kamu memang pencinta yang sungguh pemberani. Hatimu yang memar-memar masih mampu merasa. Maka aku percaya, kesendirian hanya memberi jeda panjang untuk membenahi luka. Kedukaan yang ditinggalkan seseorang tak pernah tertambal oleh kehadiran orang lain. Karena itu tak perlu menunggu menjadi genap untuk bahagia.

Kamu telah melewati banyak hari berat. Seringkali menunggu suatu hari gemilang di depan sana. Namun kita kadang lupa, hari ini adalah masa depan dari waktu lalu. Maka hari depan pun selalu menjadi waktu kini. Karena itu, tak usah menanti suatu hari, bersinarlah dari detik ini. Berbahagialah dari sekarang.

Selesai surat ini ditulis, aku pun beranjak dari kursimu. Aku yakin kelak ke depan kursi ini akan merekam jejakmu yang semerlang.

***Surat untuk Yunis Kartika sebelumnya Chibi, Langkah Kecil Kita Untuk Berlari, Idola Masa Kecilku.

5 Alasan Mengapa Harus Menginap di House of Chandra 5 Saat Ke Yogjakarta

House of Chandra 5

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

 

*Lirik lagu Yogyakarta yang dinyanyikan Katon Bagaskara

 

Buat saya, Yogja udah kerasa jadi rumah kedua. Jogjakarta memang punya magnet yang luar biasa. Bikin betah dan rindu untuk terus kembali ke sana. Selain punya banyak tempat wisata, Jogja juga memiliki kuliner khas yang memanjakan lidah, dan pastinya orang-orangnya yang ramah bersahabat. Jadi meskipun udah sering ke sana, rasanya masiiih aja ada tempat-tempat yang belum dieksplorasi. Pokoknya selalu ada alasan buat ke Jogja.

1

Saya inget banget waktu pertama kali menginjakkan kaki ke Jogja, waktu itu saya masih SD. Saya sekeluarga liburan ke sana. Saat itulah saya langsung jatuh cinta pada Jogja. Syukurnya saya merasa chemistry dengan Jogja bersambut, karena setelah itu entah sudah berapa kali saya datang ke Jogja dengan berbagai kepentingan, termasuk buat berlibur. Di antara semua petualangan saya ke Jogja, perjalanan bulan Juni ini termasuk yang paling berkesan. Salah satu alasan terbesarnya karena saya menemukan tempat penginapan yang sangat nyaman di sana.

Halaman dan tempat parkir di HOC 5

Halaman dan tempat parkir di HOC 5

Terus terang, saya bukan tipe yang rewel soal penginapan tiap melakukan perjalanan. Pokoknya yang penting saya bisa tidur dan mandi, enggak punya kriteria sempurna ini itu. Tapi beda soal ketika saya berlibur dengan keluarga. Karena saya mesti memikirkan kenyaman seluruh anggota keluarga termasuk anak saya yang masih kecil, jangan sampai karena persoalan penginapan liburan yang dalam bayangan menyenangkan berubah jadi mimpi buruk, hohoho. Tapi masalah penginapan nyaman biasanya berbanding lurus dengan budget. Ya… kepengin nyaman sih, tapi gimana kalau budget yang tersedia minim. Huuft. Dilema berat kan ya. Bisa dibilang persoalan itu terpecahkan ketika saya menemukan penginapan House of Chandra 5. Serius! Gimana sih ngerasain nyamannya hotel berbintang dengan sewa terjangkau. Rasanya seneng banget.

Pintu utama HOC 5

Pintu utama HOC 5

5 Alasan Mengapa Harus Menginap di House of Chandra 5 Saat Berlibur Ke Yogjakarta

Kesan pertama saya saat melihat bangunan HOC 5 dari luar adalah elegan. Saya memang menyukai tipe-tipe desain rumah minimalis. Ketika sampai di sana, kami disambut oleh Pak Wahono yang dengan cekatan membukakan pintu. Terlihatlah halaman yang bersih tertata dan tempat parkir yang cukup luas untuk dua buah mobil. Halamannya cukup asri oleh tumbuhan. Ternyata HOC 5 dibagi menjadi 2 bagian. HOC depan dan belakang. Kedua bagian itu disewakan terpisah. Saat masuk ke rumah, kami diperkenalkan pada dua mbak penjaga rumah, yaitu Mbak Tari dan Bu Sari. Saya langsung tersentuh oleh kehangatan dan keramahan ketiga penjaga HOC 5 itu. Memang pelayanannya juara!

Ada lima alasan kuat kenapa saya merekomendasikan House of Chandra buat penginapanmu ketika berlibur ke Yogyakarta.

Salah satu kamar di HOC 5

Salah satu kamar di HOC 5

  1. Semua Kamarnya Luas, Nyaman, dan Kamar Mandi Water Heater.

Terdapat 4 kamar tidur yang setiap kamar dilengkapi TV flat, AC, lemari tempat penyimpanan pakaian, dan pastinya tempat tidur empuk yang membuat kualitas tidur bagus. Habis capek-capek jalan-jalan keliling Jogja, sesampainya di penginapan bisa tidur enak 😀

Kamar HOC tipe twin bed

Kamar HOC tipe twin bed

Selain bersih, semua kamar mandi di HOC 5 memiliki fasilitas water heater. Memandikan anak-anak jadi mudah, kita pun bisa mandi kapan saja tanpa kedinginan.

Kamar mandi water heater

Kamar mandi water heater

2. Fasilitas Ruangan yang Lengkap dan Sarapan.

HOC 5 memang di-setting untuk tamu keluarga atau rombongan. Karena itu fasilitas ruangannya sangat lengkap. Terdapat ruang tamu dan ruang keluarga yang luas. Ruang tamu letaknya di bawah, sedang ruang keluarga di lantai atas. Kedua ruangan itu dilengkapi furniture nyaman. Sofa empuk, AC, dan TV Indihome yang membuat tamu bisa memilih berbagai channel hiburan.

Ruang tamu HOC 5

Ruang tamu HOC 5

Di ruang tamu ada ruang makan bersebelahan dengan dapur yang perlengkapan memasaknya lengkap, mulai kompor gas, panci kecing sedang besar, juicer, hingga microwave. Buat kamu yang suka masak, bisa banget masak sendiri di sana.

Ruang keluarga di lantai atas HOC 5

Ruang keluarga di lantai atas HOC 5

Setiap hari tamu disediakan sarapan dengan berberapa pilihan menu. Misalnya nasi kucing, nasi goreng, soto, peyek. Yang masak makanannya Mbak Tari dan Bu Sari. Menurut saya masakan mereka enak. Mereka memang juara deh masak makanan Jawanya. Sampai-sampai saya nambah 😀

Ruang makan HOC 5

Ruang makan HOC 5

Btw, HOC 5 ini tempatnya Instagramable loh karena dekorasi dan tata letaknya yang kece. Kamu bisa foto-foto di berbagai sudut rumah dan mengunggahnya di media sosial 😀

Masakan u Sari

Masakan Bu Sari

3. Fasilitas Internet Kencang

Buat yang addict dengan media sosial dan fakir wifi, tersedia internet kenceng di HOC 5 loh. Jadi kalau kehabisan kuota saat liburan di Jogja saat mau upload foto kece-kece, jangan sediiih, ada fasilitas internet yang bisa kamu pakai di sana. Untuk saya yang memang kerjanya di dunia maya, ke mana-mana yang pertama saya pastikan harus ada adalah fasilitas internet. Jadi nilai plus banget ketika internetnya kenceng 😀

7

4. Lokasi Penginapan yang Dekat dari Berbagai Tempat Wisata

Lokasi HOC 5 ini gampang banget ditemukan karena berada di dekat pusat kota. Letak tepatnya di Jalan Taman Siswa No. 67 Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta. Kalau kamu lagi malas jalan-jalan ke tempat yang jauh dari penginapan, kamu tetap bisa datang ke berbagai tempat wisata. Misalnya De Mata Trick Eye Museum atau De Arca Museum. Dekat juga loh dengan berbagai tempat kuliner.

8

5. Harga yang Bersahabat

Awalnya pas ngeliat bangunan dan list fasilitasnya, saya pikir bakalan mahal nih biaya sewanya. Ternyata enggak loh. Rate House of Chandra 5 ini hanya 1,2 juta per hari. Buat penginapan sekelas hotel berbintang dan bisa dinikmati buat sekeluarga bahkan rombongan, serius deh harga segitu worth it banget.

Cover

Tertarik buat menginap di House of Chandra 5? Atau pengin kepoin lebih lanjut? Boleh-boleh, stalking aja media sosial mereka di Fanpage: House of Chandra atau follow akun Instagram @houseofchandra

Nah, kalau kepengin booking, langsung aja WA atau SMS ke Bu Chandra di nomor 0811874615/08161169367.

Ngomongin Yogja bikin saya jadi kangen main ke sana lagi. Kepengin nginep di HOC 5 lagi XD

Kista Ginjal Mengantarkan Saya Pada Salah Satu Momen Luar Biasa dalam Hidup

PicsArt_05-07-10.21.19

Sungguh, hidup dan semesta ini menyimpan begitu banyak rahasia. Begitu banyak momen-momen luar biasa dalam hidup. Mengecap kehidupan ini rasanya memang haru paling hakiki yang dianugerahkan Tuhan. Haru yang disampaikanNya lewat tiap detik napas, namun seringkali baru terasa ketika rasa menyentuh klimaksnya: bahagia, sedih, ketakutan….

Dalam kurun waktu mingguan ini saya tengah mengenyam satu momen luar biasa lagi dalam hidup. Seperti yang saya ceritakan dalam postingan sebelumnya “Sesungguhnya Aku Takut” saya baru tahu kalau ternyata di ginjal saya ada kista yang telah setengahnya terinfeksi sehingga tak bisa ditunda lagi untuk segera diangkat supaya tak mengganggu fungsi ginjal.

Segala ketakutan menerpa saya minggu lalu. Berbagai bayangan berkelebat bagai mimpi buruk. Alhamdulillah semuanya telah berlalu berkat segala doa dan upaya banyak pihak. Dalam postingan ini, saya tak hendak membagikan hal-hal negatif. Karena itu saya tidak memasukkan foto-foto pra dan pasca operasi. Saya tidak ingin membuat teman-teman yang mungkin membutuhkan penanganan operasi menjadi takut dan cemas. Saya hanya ingin membagikan berbagai makna dan pengetahuan yang saya dapat dari momen luar biasa itu.

Akan saya kisahkan dari mulai Kronologis menuju dan setelah Operasi.

Tentang Kista Ginjal

Penyakit yang saya derita adalah kista ginjal. Bisa dibilang, jenis kista ini jarang diketahui orang. Terus terang, saya pun baru tahu setelah membaca dari hasil ultrasonografi (usg). Menurut dokter, kista di ginjal saya merupakan kista keturunan. Dokter sempat menanyakan riwayat kesehatan keluarga, apakah ada yang memiliki kista? Saya jawab orang-orang tua saya tidak. Dari beberapa artikel yang saya baca mengenai kista ginjal, disebutkan bahwa kista ini sebenarnya bisa sembuh dan hilang dengan sendirinya, juga termasuk jinak. Berdasar itu saya membuat kesimpulan sok tahu, yaitu mungkin saja memang ada orangtua atau leluhur saya yang memiliki kista ginjal, tetapi sembuh sehingga tidak pernah terdeteksi. Selain faktor genetik, kista ginjal juga bisa muncul karena hal lainnya.

Gejala Kista Ginjal

Gejala kista ginjal  ada beberapa, yaitu demam, menggigil, sering buang air kecil, kalau terinfeksi pinggang akan terasa sakit. Biasanya kalau kista ginjalnya tidak terinfeksi, tidak membuat pinggang kesakitan, hanya terasa seperti pegal-pegal. Memang, kadangkala saya merasa pegal pinggang, biasanya saya akan banyak minum air putih dan buang air banyak juga, setelah itu pegal di pinggang hilang. Sayangnya, saya punya satu kebiasaan buruk: menahan buang air kecil. Ternyata, di sanalah letak penyakit itu bersumber. Akibat sering menahan itu, saluran air kencing infeksi dan kista di ginjal saya pun ikut infeksi. Dan terjadinya telah lama, tapi baru terasa sakit ketika setengah kista yang telah besar itu infeksi. Setelah itu saya melakukan pengecekan darah untuk mengetahui apakah fungsi ginjalnya normal? Alhamdulillah baik-baik semuanya.

Kronologis Operasi

Sabtu setelah saya mendapat diagnosa, dokter bilang saya sebaiknya operasi Seninnya. Karena akan dioperasi, minimal satu hari sebelumnya saya mesti dirawat di RS, karena harus melalukan pengecekan, perawatan, dan persiapan dulu. Tentunya keadaan tubuh saya mesti terpantau dokter.

Karena minimal sehari, maka saya memilih besoknya saja dirawat. Kemudian saya memutuskan hal konyol, saya nekad nonton AADC 2 dulu XD Sebelum spoiler dan review yang beredar makin mengganas dan membuat saya membacanya nanar sambil terbaring di tempat tidur RS 😀 Untungnya Prajurit Rumput mengabulkan permintaan saya yang bikin geleng-geleng kepala.

Besoknya, sebelum berangkat ke RS, saya mandi dulu, keramas dulu, dan packing dulu *plis, Va, ini ke RS bukan liburan* Soalnya saya ingat dulu pas operasi caesar kelahiran Rasi, rambut saya baru ketemu shampo lagi setelah sepuluh hari. *plaaak!*

Di RS, setelah mendapat kamar, saya diberi infus, kemudian dirotgen untuk pengecekan. Alhamdulillah paru-paru baik-baik saja. Untuk menghalau kegalauan, hari itu saya menulis satu postingan pendek. Awalnya saya tidak ingin bercerita perihal ini, tapi saya pikir, saat itu saya membutuhkan banyak doa. Dan tanpa saya duga, doa-doa hadir tanpa putus begitu hangatnya memeluk saya. Lalu, tiap kali kecemasan berkelebat di wajah saya, Prajurit Rumput menggenggam saya erat menguatkan. Saat itu saya jadi teringat bagaimana dia sedari dulu begitu gencar mengkampanyekan pada saya tentang cukup minum air putih dan jangan menahan pipis. Kata-kata yang tak saya dengar hingga datang waktunya sesal. Evi di tengah kesibukannya–yang seharusnya dibagi sebagian dengan saya karena kami seharusnya mempersiapkan keberangkatan ke Jogja untuk satu event kembar–masih menyempatkan diri menemani saya sejenak di RS. Evi juga yang mengurus medsos saya sehingga jadwal promo apa pun masih tetap berjalan. Medsos saya terus terlihat aktif 😀 Benar-benar kembaran yang berbakti 😀

Hari H tiba. Doa tak pernah alpha saya panjatkan untuk kelancaran operasi sekaligus mengusir ketakutan. Detik-detik berlalu hingga sampailah ke jam setengah 4 sore. Saya dijadwalkan untuk operasi jam 4. Setengah jam sebelumnya, saya sudah dibawa ke ruang operasi. Entah berapa menit setelahnya, akhirnya hanya butuh mungkin sekitar 3 detik setelah diberi bius total, segalanya menjadi gelap.

Operasi ternyata berjalan selama kurang lebih 3 jam setengah. Menurut cerita keluarga saya. Selesai operasi, keluarga dipanggil untuk melihat kista yang telah berhasil diangkat. Kista itu akan diteliti dulu di laboratorium. Karena kasus saya agak beda. Isi kistanya cairan nanah. Kata dokter, operasi saya berhasil, dan keadaan tubuh saya stabil. Mendengar itu, keluarga saya bersyukur sambil mengembuskan napas lega.

Saya baru sadar sekitar jam setengah sepuluh malam. Bangun kemudian terbatuk. Saat itu saya ingat, waktu bangun operasi caesar, rasanya jauh lebih nyeri. Kemudian saya melihat satu per satu keluarga mengucap syukur, kemudian berpamitan. Meskipun penglihatan saya belum jelas dan kesadaran belum total, Alhamdulillah saya bisa mengenali semuanya.

Operasi kista ginjal yang saya jalani bernama operasi laparoskopi. Menurut dokter, operasi ini minim luka, sehingga pasien bisa lebih cepat pulih. Untuk lebih jelasnya saya kutip penjelasannya dari blog www (dot) peterparkerblog (dot) com

Perlu diketahui metode operasi kista laparoskopi merupaakn teknik pembedahan atau operasi yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil dengan diameter sekitar 5–10 mm di sekitar perut pasien. Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua lubang yang lain untuk peralatan bedah yang lain.

Sumber: http://www (dot) peterparkerblog (dot) com/3843/metode-operasi-kista-laparoskopi/

Pantas saja ketika siuman, sakitnya jauh lebih ringan ketimbang waktu caesar. Bahkan, bisa dibilang setelah itu bekas operasinya sangat jarang terasa nyeri. Kalaupun nyeri, hanya terasa nyut-nyutan saja. Yang terasa sakit justru dari selang drain yang dimasukkan ke perut.

Selang drain ini adalah selang kecil yang berfungsi untuk membuang dan menarik darah kotor atau cairan kotor yang timbul setelah operasi. Drain tersambung dengan urine bag seperti kateter. Jahitannya kuat sehingga pasien tidak usah takut bergerak. Kata dokter, drain baru bisa dibuka setelah isinya sedikit atau darah atau urine tidak lagi keluar, dan pasien telah mampu duduk, berdiri, dan berjalan.

Proses Pemulihan

Hari pertama pasca operasi, terus terang saya merasa drop. Ketakutan-ketakutan itu masih menghantui. Saya masih tegang dan syok. Akhirnya, seharian itu hanya saya lewati dengan berdiam diri menahan nyeri yang tiba-tiba terasa berlipat-lipat dari semalam. Padahal dokter sudah mengatakan saya dalam keadaan baik. Dalam waktu dua-tiga hari sudah bisa pulang. Saat itu saya terlampau bodoh membiarkan diri stres tanpa berbuat sesuatu sebagai solusi. Saya ingat jelas, pagi itu seorang suster mengatakan, “Bu, hari ini harus udah bisa duduk ya. Memang sakit sih, tapi harus dipaksain kalau mau cepat sembuh. Saya udah lima kali operasi, jadi tahu banget rasanya.” Namun, saran itu saya simpan saja di kolong tempat tidur.

Hari kedua, seperti biasa, tiap pagi akan datang suster yang mengganti sprei. Suster yang sama dengan kemarin.

Suster bilang, “Ayo sekarang duduk, mau diganti spreinya.”

Takut-takut saya berbisik pada suster lain, “Suster, saya miring kiri kanan aja dulu ya. Belum bisa duduk.”

Suster yang menyuruh duduk bilang, “Harusnya hari ini udah bisa jalan loh, Bu. Kalau diem terus malah makin kerasa sakit. Darah kotor di dalem juga gak keluar-keluar, itu gak bagus, kalau nanti jadi nanah gimana? Mau sembuh atau enggaknya terserah Ibu.”

Deg! Mendengar itu saya merasa ditampar bolak-balik. Ya ampun, serem banget ternyata efeknya kalau saya menyerah begini. Saat masih menimang-nimang mau gimana, datang suster lebih muda yang sama galaknya–in the good way–dia bilang mau mencabut kateter saya. Saya langsung ngeuh, itu satu bentuk cara mereka supaya saya mau ‘bergerak’. Sampai segitunya para suster itu care sama pasien loh. Di situlah, timbul semangat saya untuk berusaha. Iya, saya mesti sehat. Sehat itu ya harus berjuang dari dalam diri. Masa cuman belajar duduk, berdiri, dan jalan aja udah ngeper. Padahal waktu caesar dulu saya enggak semanja ini. Dulu saya semangat. Memang sih karena persoalan faktor psikologi. Dulu melahirkan, sekarang karena sakit. Jadi tekanannya beda.

Perang paling hebat memang perang melawan semua ketakutan dan pikiran negatif dalam benak sendiri.

Pagi itu, saya meminta tolong Prajurit Rumput membantu saya belajar. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa duduk dan berdiri, sehingga ketika siangnya dokter mengecek, bisa dengan bangga menceritakan kemajuan saya. Kata dokter, besok pagi selang drain bisa dibuka, kalau saya sudah bisa berdiri dan jalan agak lamaan. Sorenya saya sudah bisa berjalan bolak-balik keliling kamar. Yeaay! Dan bener apa kata suster, tetnyata kalau digerakan, sakitnya berkurang banyak. Kamis pagi, bahagia banget ketika selang drain beneran dibuka. Rasanya bebaaas! Sorenya, dokter menyatakan saya sudah bisa pulang. Malam itu, saya bisa tidur sambil menatap langit-langit rumah 😀

Perenungan-perenungan

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sakit kista ginjal ini mengantarkan perenungan-perenungan.

Makna pertama yang saya dapat adalah bersyukur masih bisa merenung dan berpikir, kebebasan paling lepas yang diberikan Tuhan.

 

Tentang Keluarga

Peristiwa ini makin mengukuhkan saya, bahwa dari keluarga saya berasal, dan pada keluarga segalanya kembali. Keluargalah yang akan selalu ada. Orangtua dengan segala gurat cemas dan tasbih tak putus dalam setiap detak jantungnya. Mereka memberi bantuan jiwa raga dengan penuh cinta. Kakak-kakak laki-laki saya yang dengan ikhlas menggantikan saya mengantar jemput Rasi. Kakak perempuan saya yang setia menjemput dari RS tiap kali saya dirawat. Kembaran yang rela mengerjakan pekerjaan-pekerjaan bagian saya. Dan seorang putri yang menunggu kepulamgan ibunya tanpa rewel.

Bahkan bukan hanya keluarga inti, keluarga besar pun menunggu di balik pintu selama operasi. Betapa saya beruntung memiliki mereka :’)

IMG_20160421_075850

IMG_20160505_205002

IMG_20160417_082127

Kehadiran saya di rumah disambut layaknya kelahiran seorang bayi. Sekecil apa pun perkembangan saya begitu diperhatikan. Lucu-lucu bikin terharu XD

Mama: Eva sudah bisa jongkok hari ini. *mata berbinar bangga*

Evi, Kakak, Teteh: Waaah, hebaaat. *tepuk tangan*

____________________________________________________________________

Tetangga: Eva sekarang udah bisa apa?

Mama: Eva udah bisa pup loh, Bu…. *tersenyum bangga*

Tetangga; Waaah, hebaaat *tepuk tangan*

 

Tentang Pasangan

Selama di RS, Prajurit Rumputlah yang setia menemani saya siang malam. Sabar melayani rengekan saya untuk bolak-balik ke WC, tabah tidur di lantai beralas seadanya plus kurang tidur, menyuapi saya, sampai sabar menemani saya belajar duduk hingga berjalan. Tanpa mengeluh. Enggak kebayang kalau Prajurit Rumput gak ada di sisi saya.

Selain perlakuannya yang istimewa itu, yang membuat saya merasa beruntung memilikinya adalah karena tatapannya yang selalu penuh cinta. Selama di RS, entah berapa ratus gombalan yang dia berikan. Eh, bukan gombal sih, soalnya saya yakin tulus. Bikin terharu bangetlah. Tolong bayangkan keadaan saya yang… muka super pucat, rambut berantakan karena enggak disisir berhari-hari dan penuh keringat, muka berminyak parah, badan bau karena hanya diseka seadanya, Prajurit Rumput bilang dengan mata berbinar penuh sayang, “Kamu cantik….” Lalu mengecup kening saya lembut. Meleleh enggak siiih XD Ngomongnya pun seriiiing bangeeet, sampai saya beneran merasa kayak Cinderella dalam keadaan paling prima saat berdansa dengan pangeran. Padahal kumelnya percis kayak Cinderella lagi beresin rumahnya.

Dari peristiwa itu saya merenung. Begitulah memang pasangan. Ada dalam suka dan duka. Menyalakan lilin di saat gelap, meneduhkan saat terik mentari memanggang. Meskipun seringkali salah paham dan saling memunggungi, namun akan selalu kembali untuk terus memberi arti.

IMG_20160420_172358

Konsep Pertemanan

Kemudian perenungan lainnya tentang konsep persahabatan. Saya sangat beruntung (lagi) karena mendapat banyak sekali kiriman doa. Baik itu lewat komentar di FB, mention twitter, grup-grup WA, grup BBM, sampai para sahabat yang menjapri. Terima kasih untuk semuanya, sungguh doa kalian menguatkan saya. Beberapa sahabat membuat status doa untuk saya. Saya membacanya sampai terisak. Makasih ya Amaya, Lily, Felis, Pilo, dan Bunda Arniyati. 

Dan yang tidak saya sangka-sangka sama sekali, beberapa sahabat bahkan menunggui saya saat operasi. Teh Santya dan putrinya Nada, Evaliana, Yoga dan Sintamilia, juga Kang Acem. Saya memang tidak sempat bertemu secara sadar dengan mereka kala itu, karena saat saya siuman, mereka sudah pulang. Tapi benar saya bahagia mendengarnya, terharu sekali. Padahal sudah jarang berkomunikasi dengan mereka, tapi mereka ‘ada’ untuk saya. Saya bahkan mungkin ‘tak pernah ada’ kala mereka tertimpa kesusahan. Ada pula Teh Lygia dan Pak Mayoko yang mengulurkan bantuannya, menyisihkan sebagian rezeki untuk saya.  Saya haturkan terima kasih yang tulus untuk kalian semua *lap air mata*

Ketulusan hati memang begitu misteri, mungkin kita memang tak pernah tahu seberapa besar kita berarti untuk seseorang.

Ketika dua tetangga dan teman SMP saya pulang setelah menjenguk, satu pertanyaan dari seseorang menggelitik saya, “Va, siapa aja yang jenguk?”

Pertanyaan itu tiba-tiba menghentak kesadaran saya. Selama sakit, tak terpikirkan oleh saya bahwa saya ‘harus dijenguk’. Benar, asli saya berpikir begitu. Karena saya tahu banyak sekali kondisi-kondisi yang membuat seseorang tak bisa datang. Waktu, kesibukan, perbedaan geografis, dan lainnya. Tidak mungkin kan sahabat yang tinggal di Jepang bisa pulang ke Indonesia tiba-tiba. Namun ketidakhadiran tidak lantas membuat mereka menganggap saya tidak cukup berarti untuk meluangkan waktu dan perhatian. Mungkin saat itu mereka tengah dilanda masalah yang genting, dimana saya pun tak tahu dan tak ada untuk menolongnya. Sungguh, saya tak ingin menjadi pribadi yang perhitungan. Terkurung oleh pikiran negatif: Saya ada dalam masa sulit seseorang, tetapi saat saya kesusahan dia malah tak ada. Meski terus terang, sebagai manusia biasa yang tak luput dari godaan kebaperan, setelah mendengar pertanyaan itu terlintas dalam kepala saya pertanyaan, siapa saja yang ‘berniat’ menjenguk saya? Sungguh, cukup ‘niat’ itu saja sudah membuat saya bahagia. Cepat saya tepiskan pikiran itu. Saya ingin menjadi seseorang yang tulus, yang tak hitungan. Menolong ketika memang bisa, mendoakan ketika hanya itu yang saya mampu. Karena saya pun dikeliling orang-orang yang hatinya indah.

Begitulah, peristiwa itu membuat saya berpikir. tidaklah bisa menilai kesejatian persahabatan saat kita tertimpa kesusahan.

Ada juga kasus-kasus dimana justru persahabatan diuji bukan oleh kesusahan, justru oleh kecemerlangan. Misalnya dua sahabat, salah satunya jauh lebih berprestasi sehingga menimbulkan rasa iri sahabatnya. Bukankah itu ujian dalam kesenangan.

Tidaklah bisa menilai kesejatian persahabatan saat kita tengah cemerlang.

Saat saya sedang memikirkan itu, tiba-tiba masuk BBM dari Heppy, kami telah bersahabat selama belasan tahun. Dia menanyakan kabar saya dan mengungkapkan perasaan bersalah karena belum bisa menjenguk saya. Kemudian dia menghadiahi saya gambar yang sukses membuat air mata haru saya kembali meleleh.

IMG_20160507_110837

Untuk para sahabat, jangan merasa bersalah saat tak bisa hadir dalam bentuk ragawi, cukuplah langitkan doa tiap kali mengingat saya.

Saya sampai pada kesimpulan:

Ketika kita sedang tertimpa kesulitan, bukan berarti kita mesti menjadi pusat “semesta” semua orang.

Dan ketika kita tengah bersinar pun, tak mesti pula kita menjadi pusat “semesta” semua orang.

 

Setelah Cek Up

Alhamdulillah, kemarin jahitan operasi saya sudah dibuka. Hasil laboratorium mengatakan kalau kista saya meskipun isinya nanah, ternyata tidak mengandung sel kanker. *sujud syukur*

Sebagai pasien yang cerewet, saya menanyakan ini itu pada dokter. Termasuk bagaimana perawatan agar kista di ginjal tidak kembali. Jawabannya: jangan pernah lagi menahan kencing.

Begitulah kisah salah satu momen luar biasa dalam hidup saya. Insya Allah, saya yakin Allah ingin saya terus memperbaiki diri lewat peristiwa ini. Semoga saya bisa membuka babakan baru dalam hidup lebih baik. Semoga kalian yang membaca postingan ini pun mendapatkan makna, sekecil apa pun 😀

PicsArt_05-09-07.15.51

*NB: Postingan ini saya tulis selama enam hari, maklum lama banget, ditulis dalam masa pemulihan XD

Sesungguhnya Aku Takut

PicsArt_05-01-07.53.50

Bertahun-tahun saya memiliki pikiran aneh. Tiap kali hidup ini melelahkan, saya akan berpikir, “Tuhan, beri saya sakit. Saya ingin istirahat di rumah sakit.” Percayalah, tak lama dari itu saya akan benar-benar sakit dan dirawat. Buat saya kamar RS begitu damai. Saya bisa tidur dengan lelap, sejenak benar-benar lepas dari beban hidup.

Saya menyukai banyak hal dari rumah sakit. Bau karbol, bau obat, para dokter, suster, dan banyak lagi. Bisa dibilang bukan sekali dua kali saya menginap di RS, begitu pula mengunjunginya. Rasi anak saya lahir di sana, waktu kecil dia seringkali sakit-sakitan hingga saya sudah merasa akrab dengan RS. Belum lagi riwayat saya yang pernah caesar, DBD, dan lainnya.

Namun kali ini, tak terbayangkan untuk saya. RS menjadi momok menakutkan. Seminggu yang lalu, ketika saya pergi ke Jogja untuk menghadiri satu acara, belum lagi acara berakhir, tubuh saya sudah menggigil. Saya pikir mungkin karena efek begadang dan perjalanan panjang. Apalagi sebelumnya pekerjaan saya padat sekali dua bulan terakhir. Saya pikir pasti kelelahan. Sambil menunggu kereta malam, saya dan Evi singgah di rumah sahabat kami, Rara. Di sana saya muntah hingga tak ada yang tersisa, ditambah migrain dan sakit perut kanan atas. Saya minum obat dua kali hingga akhirnya agak kuat untuk melakukan perjalanan ke Bandung.

Di Bandung, saya bedrest dua hari. Migrain menghilang, tapi sakit di perut tak mau hengkang. Saya tetap memaksakan bekerja di rumah sebisa mungkin untuk mengurangi tumpukan peer. Setelah hari kelima, sakitnya malah makin menjadi. Saya pikir, tak bisa dibiarkan. Harus diperiksa. Maka saya pun pergi ke dokter diantar Prajurit Rumput.

Betapa saya tak menyangka, bila ternyata ada kista di ginjal saya. Iya betul, kamu tak salah baca. Kista itu letaknya di ginjal. Saya pun baru tahu ada kista di ginjal. Sudah besar, dan tampak terinfeksi. Maka itu dokter menyarankan saya untuk operasi. Begitu diagnosa dokter Sabtu kemarin. Ya, secepat itu saya harus dioperasi. Hanya berselang dua hari sejak mendapat diagnosa dokter.

Maka di sinilah saya hari ini. Di rumah sakit. Tempat yang biasanya membuat saya damai, terasa begitu menakutkan. Tak usahlah saya jabarkan dengan detail apa-apa yang menjadi ketakutan saya. Saya yakin kamu pun telah paham. Perasaan saya menggigil. Namun sebisa mungkin saya tetap mencoba tersenyum. Sesungguhnya saya takut menghadapi besok. Tapi saya serahkan segalanya pada Dia sang pencipta saya. Pada Allah, tempat satu-satunya berserah. Semoga RS menjadi seterusnya apa yang ada dalam memori saya: Rumah Harapan.

Saya beruntung dikelilingi keluarga yang perhatian. Dikelilingi cinta yang begitu indah. Dipeluk hangatnya persahabatan para sahabat. Akan saya ingat gelombang kehidupan itu.

Bagi kamu yang membaca postingan ini, saya minta doa untuk kelancaran operasi besok. Terima kasih. Semoga Allah mendengar doa-doa kita. Amiin.

IMG_20160420_163048