Catatan Dari Mombassador Batch 5: Dear Bunda, Ingin Dikenal Sebagai Bunda Seperti Apakah?

Jogjakarta selalu jadi kota yang sangat istimewa buat saya. Saya mengamini sepenuh hati julukan “Jogja Istimewa”. Sejak remaja, entah sudah berapa banyak kejadian spesial terjadi di sana. Meski ada pula tragedi, tapi tak membuat coreng sedikit pun cinta saya pada Jogja. Tahun ini, Jogja kembali masuk dalam galeri kenangan.
Alhamdulillah, saya terpilih menjadi salah satu #Mombassador dan ikut dalam #TemuBunda2017 yang dilaksanakan di Jogjakarta.

Meski bertandang ke Jogja entah untuk keberapa kalinya, kali ini pun saya mendapat pengalaman yang membekas.

Setiap perjalanan menghadirkan perenungannya sendiri

Sungguh tidak pernah terbesit dalam kepala saya sebelumnya menjadi seorang “Mom Ambassador”. Pasalnya, selama bertahun-tahun saya belum merasa menjadi ibu yang baik. Masih sering salah mengambil keputusan, cepat kesal ketika anak berbuat salah, dan sederet hal lainnya yang kerap menimbulkan rasa bersalah. Seringkali saya bertanya-tanya, bagaimana caranya menjadi seorang “Bunda Peri” itu? Yang hangat bijaksana, mengayomi, dan mendidik sepenuh hati. Atau menjadi bunda hebat seperti mama saya. Bangun setiap pagi, menyiapkan sarapan, memastikan saya tak datang kesiangan ke sekolah, menjahitkan baju-baju, sampai menjaga dan merawat saya ketika sakit (bahkan sampai usia sekarang ini). Namun, mungkin setiap bunda pasti dianugerahi Tuhan keistimewaannya sendiri.

Setiap bunda punya karakteristik sendiri

Ketika saya mendapat telepon dari careline SGM yang memberitakan bahwa saya terpilih, perasaan saya senang campur takut. Kata “Mombassador” bukan sesuatu yang mudah dipertanggungjawabkan. Ada “citra” di situ. Bukan “pencitraan” dalam artian negatif, tapi karakter yang dikedepankan. Kita tak mesti menjadi “orang lain” ketika memasang satu citra. Bukan pula topeng. Namun ada yang diperlihatkan, ada yang disimpan. Yang saya tangkap, mombassador memang komunitas yang mengembangkan bagian dari pribadi positif, artinya para bunda yang tergabung tetaplah bebas mengekspresikan dirinya.

Mengisi waktu dengan foto-fotoan pas pesawat delay

Hari keberangkatan pun datang. Setelah berkemas, saya berangkat ke bandara dijemput mobil yang disediakan pihak SGM. Ada rasa deg-degan karena bertemu orang-orang baru. Sebagai seorang introvert saya memang butuh waktu agak lama untuk melebur. Namun ternyata saya disambut hangat oleh para bunda. Saya melihat mereka bahkan tampak begitu akrab selayaknya sahabat erat.

Menginjakkan kaki di Jogja lagi ^^

Karena pesawat mengalami delay, kami terlambat datang sehingga melewatkan sesi foto profil. Langsung saja mengikuti welcome dinner. MC memperkenalkan perwakilan peserta dengan bahasa dan logat daerahnya. Ternyata mombassador ini benar-benar dipilih dari Sabang sampai Merauke. Mewakili para perempuan Indonesia dengan segala karakteristik suku, bahasa, dan budaya. Latar belakang mereka pun berbeda.
Ada yang ibu rumah tangga, PNS, guru, wirausaha, hingga blogger.
Meskipun badan kurang fit karena kelelahan, saya tetap menikmati makan malam yang hangat itu.

Bareng Mbak Tari, teman sekamar

Satu kejadian lucu waktu saya mencari roommate. Kami kemungkinan besar telah berpapasan di depan lift, tapi karena belum saling mengenali wajah, kami terus saja saling mencari. Kayak adegan sinetron ya ^^

Hari pertama itu saya mendengar banyak bunda yang teringat terus pada buah hatinya.
Begitulah seorang ibu menjadikan anak sebagai pusat hidupnya. Bahkan ketika diberi “me time” pun pikirannya seringkali melayang ke rumah, pada orang-orang yang mengisinya. Saya pun demikian. Teringat bertahun lalu setiap kali pergi kerja selalu ada “drama” keberangkatan. Seorang bunda seperti bumi yang mengitari matahari, tapi ibu dan bumi tetap memiliki kehidupan yang mesti diselaraskan sebagai diri sendiri.
Ada saatnya harus meninggalkan rumah untuk pengembangan diri yang berefek pada pembangunan karakter keluarga. Ketidakhadiran secara fisik bukan berarti sekat, karena keluarga tetap lekat. Para Bunda itu pun bercerita tentang
peran serta suami mereka. Selain memberi izin, mau menggantikan bertugas domestik, bahkan sampai ada yang sengaja mengambil cuti. Seperti itulah romantisnya suami istri. Memberi ruang untuk pengembangan diri pasangan, jauh lebih bernilai dari ratusan bunga.

Mari belanjaaaa ^^

Hari kedua jadwal padat merayap. Pagi dimulai dengan acara belanja. Pihak SGM Eksplore dengan baik hatinya membekali kami uang jajan untuk membeli oleh-oleh. Di moment itulah saya pertama bertemu dengan para bunda yang berjuang mengedukasi lewat blog. Menyampaikan pikiran melalui kata-kata. Setelah berinteraksi selama lima abad di dunia maya, akhirnya ketemu di dunia nyata. Dipertemukan oleh SGM Eksplore 😀

Bertemu momblogger

Berlanjut pada acara berkeliling pabrik Sarihusada. Kami melihat bagaimana proses susu SGM Eksplore dibuat dengan quality control yang ketat. Pabriknya pun bersih dan setril. Yang paling berkesan adalah bagaimana Sarihusada terus memegang komitmen untuk menyediakan susu berkualitas tinggi dengan harga terjangkau agar seluruh bangsa dengan segala lapisannya bisa mendapat gizi terbaik. Luar biasanya, pabrik Sarihusada ini enggak membuang limbah. Limbah air diolah lagi hingga bisa kembali digunakan dengan aman. Taman-taman cantik yang menghiasi pabrik itu disiram pakai air olahan limbah loh.

Factory visit Sarihusada

Makan siang di restoran yang menghadap Candi Prambanan juga berkesan. Meski tak menginjakkan kaki ke sana, tapi pemandangannya kami abadikan dalam puluhan foto. Selang beberapa lama, kami diajak mengikuti outbond. Seru sekali mengikuti berbagai permainannya. Favorit saya adalah permainan kekompakan membawa sepeda.

Berfoto dengan latar Candi Prambanan

Sekelompok sama Mbak Caroline, sahabat yang menyenangkan ^^

Selepas isya, kami menikmati gala dinner yang meriah. Malam itu semua bunda tampil cantik. Paduan 2 MC kocak sangat menghibur kami. Berbagai kuis digelar, bertabur hadiah. Malam itu lewat talkshow yang menghadirkan para bunda inspiratif kami mendapat asupan semangat menjadi bunda #generasimaju. Kami juga bernyanyi, berdansa, dan puncaknya dilantik menjadi mombassador SGM Eksplore.

Keseruan gala dinner

Di antara para panitia, saya terkesan oleh Reza Aini. Perempuan itu begitu gesit dan ramah melayani kami. Meski kadang wajahnya tampak pucat bila sedang kelelahan, tapi semangatnya memberi yang terbaik menyentuh saya.

Program kelompok saya

Pada hari terakhir, kami diberi 2 workshop. Paling suka workshop membuat program. Di sesi itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok yang menang adalah kelompok yang membuat program yang paling bisa direalisasikan, bukan mengawang. Selain juga kreatif dan menarik.

Sehabis makan siang, tibalah saatnya berpisah. Para bunda pulang berdasar daerahnya. Kami saling berpelukan sambil berjanji untuk terus bertukar kabar. Sediiih… 😥

Tak ada pesta yang tak usai

Kemudian di antara semua rentetan kejadian di acara “Temu Bunda”, yang paling menyentak nurani saya adalah ketika membaca satu pertanyaan di form. Pertanyaan itu sungguh menggelitik. Bunyinya tak sama persis, tapi intinya begini, “Ingin dikenal sebagai bunda seperti apakah Anda?”
Pertanyaan itu membuat saya berpikir beberapa saat. Dan terus terngiang hingga kini.
Istilah ingin dikenal seperti ‘karakter’, atau sebutlah ‘citra diri’, atau ‘brand’ dari diri kita. Seperti yang sempat saya sebut di awal artikel, tentunya apa yang ingin diperlihatkan sebisa mungkin adalah kejujuran. Adalah diri apa adanya.
Namun ada ‘ekspektasi VS realitas’. Ada keinginan dan kenyataan. Ada impian dan tantangan.
Cukup lama saya memikirkan jawabannya. Saya ini ibu macam apa? Atau… saya ini ingin menjadi ibu seperti apa?
Saya bukanlah bunda yang punya kesabaran seluas samudera, bukan pula bunda yang bijaksana. Akhirnya saya menemukan satu jawaban yang paling menjembatani antara keinginan dan kenyataan. Saya ingin dikenal dan ingin senyatanya menjadi seorang bunda yang mengajak keluarganya produktif berkarya. Sebisa mungkin saya ingin melibatkan anak saya dalam karya saya, misalnya sesederhana memakai namanya sebagai tokoh utama novel saya. Sedapat mungkin saya ingin anak saya berkarya sesuai dengan passion-nya, seperti membuat vlog petualangannya dari satu tempat ke tempat lain.

Baca juga Tips Membuat Program Video (Vlog) Anak

Saya kira, pertanyaan itu tak semata-mata diajukan pihak SGM Eksplore pada para bunda. Mungkin, SGM lewat program Mombassador ini memang ingin membantu para bunda menemukan atau mengukuhkan jati dirinya sebagai seorang ibu.

Advertisements

Review Produk Paket Perawatan Untuk Kulit Bejerawat Dari PB Skin-nya Karadenta Clinic

Kalau ada satu kata yang kepengin saya hapus dari kehadirannya dalam hidup saya, itu kata jerawat. Pengertiannya menurut KBBI, jerawat itu bisul kecil-kecil berisi lemak, terutama pada muka. Kata itu begitu akrab buat saya, bahkan sedari SD. Sedih ya 😦 Jerawat ini bandelnya minta ampun. Kedatangannya enggak pake aturan. Pas mau kencan pertama, tiba-tiba ikutan nge-date. Pokoknya di acara-acara penting, jerawat selalu ikut-ikutan, seakan kepengin banget bilang dia sespesial itu. Pada akhirnya memang upayanya nyari perhatian saya kesampaian juga. Karena saya jadi concern banget mengajak si jerawat putus biar dia hilang dari hidup saya. Dramatis banget, ya? Iya, memang sedramatis itu 😀 Yang bikin kesel lagi, saat jerawat pergi, seringkali ninggalin bekas di muka. Kayak enggak rela gitu buat pergi, kepengin terus saya kenang XD

Di usia sekarang ini, saya menemukan soulmate buat memerangi jerawat. Siapa dia? Serangkaian produk paket perawatan untuk kulit berjerawat PB Skin dari Karadenta Clinic. Awalnya saya mengenal produk paket jerawat PB Skin ini saat ke Karadenta Clinic untuk mencoba treatment mereka. Waktu itu niatnya buat menghilangkan bekas-bekas jerawat. Salah satu tindakan yang mesti diberikan adalah laser. Baca pengalaman saya di Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic.

Sebelum dikasih tindakan, konsultasi dulu konsultan kecantikan di Karadenta Clinic, dokter Heni. Ketahuanlah masalah kulit saya apa. Kata dokter Heni, meskipun jerawat di muka saya sudah jarang-jarang, tapi bibit-bibit jerawat di lapisan kulit masih banyak. Jadi treatment dan perawatan kulit yang paling sesuai itu produk untuk kulit berjerawat. Kenalanlah saya sama produk PB Skin ini.

Yang paling saya garis bawahi dari obrolan dengan dokter Heni itu diskusi soal zat-zat aktif berbahaya yang suka dimasukkan ke dalam produk kecantikan. Kayak merkuri, steroid, hidrokuinon, paraben, dan tretionin. Memang sih saat pemakaiannya kulit keliatan kinclong. Tapi itu sesaat aja, karena dampak berbahayanya malah lebih lama. Serem ya. Btw, seperti yang saya ceritain dalam postingan “Karadenta Klinik: Klinik Kecantikan Senyaman Di Rumah” konsultasi dan ngabisin waktu di Klinik Karadenta ini selalu menyenangkan. Syukurnya, semua produk Karadenta Clinic ini enggak mengandung satu pun zat tadi, jadi kita sebagai konsumen bisa bernapas lega ^^ Apalagi sudah teruji secara klinis oleh BPOM.

Paket produk perawatan buat kulit berjerawat

Dari hasil pemeriksaan memakai magic mirror, dokter Heni menyarankan saya untuk memakai produk PB Skin untuk kulit berjerawat. Paket lengkapnya adalah:

  1. Cleansing Oily
  2. Green Cleanser with Aloevera
  3. Green Toner with Tea Tree Oil
  4. Sunscreen Acne with whitening
  5. Acne Gel Red
  6. Acne Night Cream
  7. Balancing Serum

Review Produk Paket Perawatan Untuk Kulit Bejerawat Dari PB Skin-nya Karadenta Clinic

Saya sudah pakai produk paket perawatan buat kulit berjerawat PB Skin ini 2 bulanan. Terus terang aja, saya ketagihan. Soalnya kerasa ringan di kulit. Oke, saya review satu-satu ya.

 

Cleansing Oily

Urutannya produk ini dipakai pertama kali. Sehabis dari mana-mana yang pastinya saya pakai cleansing oily ini buat membersihkan makeup dan debu juga kotoran semacam polusi udara. Baunya persis alkohol dan agak menyengat. Makanya cleansing oily berwarna bening ini enggak dianjurkan dipakai di sekitar mata, mulut, dan membrane mukosa lainnya.

Cara pakainya dituangin ke kapas, terus usap ke kulit muka. Warna kapas bakalan berubah jadi sewarna makeup yang udah kawin sama debu dan kotoran. Buat saya sih sekali usap aja udah efektif ngangkat sisa makeup dan kotoran tadi. Jerawat ada yang muncul karena sisa-sisa makeup yang enggak bersih di kulit. Jadi usahakan selalu pakai cleansing oily ini. Tapi hentikan pemakaian kalau kerasa pedih, panas, gatel, atau kulit jadi merah.

Green Cleanser With Aloevera

Setelah memakai cleansing oily, tahapan berikutnya bersihkan muka memakai green cleanser with aloevera. Cleanser ini warnanya bernuansa hijau lumut. Wanginya samar-samar tanaman lidah buaya. Busanya sedikit saat dikasih air, jangan lupa pijat-pijat kulit muka saat memakainya, membantu cleanser mengangkat sisa kotoran yang masih menempel. Oh iya, jangan dipakai terlalu deket ke mata.

 

Saya suka pakai cleanser ini karena rasanya ringan di kulit. Sehabis pakai, kulit gak berasa kering atau kaku.

Green Toner With Tea Tree Oil

Step ketiga, pakai green toner with tea tree oil buat menyegarkan kulit wajah yang berjerawat. Toner ini sewarna teh hijau. Baunya campuran antara teh hijau dan alkohol, cukup seger.

Cara pakainya dituangin ke kapas terus diusapkan atau ditepuk-tepuk ke kulit muka. Aslinya muka langsung keliatan fresh. Ngebantu banget pas kelelahan yang bikin kulit muka juga keliatan capek.

Balancing Serum

Tahapan berikutnya, pakai balancing serum. Serum ini warnanya cokelat keemasan. Wanginya enak meskipun samar-samar. Cara pakainya diusapkan ke seluruh muka dan leher secara merata. Pakainya tipis-tipis aja. Enaknya, serum ini cepet banget meresap ke kulit. Manfaat balancing serum ini buat mengontrol minyak yang berlebihan di muka.

 

Saya suka banget pakainya. Soalnya selain kerasa ringan di muka, bikin muka gak kering saat dioleskan foundation. Jadinya si fondation keliatan lebih rata di muka.

Sunscreen Acne With Whitening

Buat siang hari, setelah pakai serum, kemudian muka dioles sunscreen acne with whitening ini. Buat melindungi kulit muka dari panas matahari yang bisa bikin muka berflek-flek cokelat kehitaman. Selain itu ngerawat kulit berjerawat juga. Jadi emang penting banget nih pake sunscreen, karena katanya sengatan matahari yang berlebihan bisa jadi penyebab kanker kulit juga.

Cara pakai sunscreen berwarna pink ini diolesin ke seluruh muka dengan merata. Hasilnya emang ada efek agak blink-blink gitu. Tapi sekarang lagi ngehits sih muka blink-blink ^^ Kalau enggak suka bisa ditambahin bedak aja.

Acne Night Cream

Beda lagi kalau malam hari, pemakaian sunscreen digantikan acne night cream. Krim ini warnanya kuning seger dengan tekstur lembut di kulit. Buat saya sih rasanya cepet meresap ke kulit setelah dioleskan. Krim ini manfaatnya buat merawat kulit yang berjerawat. Oh iya, krim malam cuman dipakai di muka, sebaiknya gak dipakai sampai leher, karena leher ini kulitnya tipis dan lebih sensitif. Jadi kulit leher kalau malam hari cukup dipakein sampai serum aja.

 

Acne Gel Red

Sama-sama dipakai buat malam hari kayak acne night cream, tapi acne gel red ini bentuknya serupa jeli. Namanya juga gel XD Gel berwarna merah ini pemakaiannya enggak diolesin ke seluruh muka. Cuman ke jerawat-jerawat yang menonjol aja, persis obat jerawat. Efeknya di muka saya cepet ngilangin jerawat. Yang kecil-kecil satu sampai dua malam udah ilang. Kalau yang gede dua sampai empat hari. Tapi dari pemakaian pertama udah ngempesin.

 

Secara keseluruhan, saya ngerasa cocok sama paket produk perawatan kulit berjerawat dari PB Skin ini. Soalnya dari pemakaian pertama enggak pernah muncul rasa panas, gatel, pedih, atau bikin merah kulit wajah. Padahal kulit saya terbilang sensitif. Memang efeknya di muka soft banget karena kandungannya alami. Tapi yang alami ini biasanya hasilnya bertahan lama. Saya jadi keterusan pakainya. Selain cocok di muka, pas juga sama harganya ^^

Daftar Harga Produk PB Skin dari Karadenta Clinic

Seperti yang saya bilang tadi, harga produk-produknya ramah buat keuangan, termasuk buat anak kos loh.

Produk satuan PB Skin ini satuannya mulai harga 25 ribu sampai 67 ribu. Sedang buat paketaan tergantung jumlah produknya. Paketannya enggak mahal, harga paketan aja mulai dari 101 ribu sampai 236 ribu. Beneran terjangkau, kan? Buat dapetin isi paketan produk pastikan hasil konsultasi sama dokternya ya, biar pas buat kulit.

Mau pakai rangkaian produk PB Skin juga? Dateng langsung aja ke Karadenta Clinic ya, Gals. Bukanya mulai jam 10 pagi, dan tutup jam 6 malam.

Karadenta Clinic

Alamat: Jl. Rereng Wulung No 27, Cikutra, Bandung.

Telepon: (022) 20455887 / 082130156699

Website: www.karadentaclinic.com

Instagram: @karadentaclinic

Twitter: @karadentaclinic

Facebook Page: Karadenta Clinic

Karadenta Clinic: Klinik Kecantikan Senyaman Di Rumah

Jujur deh, Gals. Kalau ditanya, “Sebutkan 3 tempat yang kepengin kamu kunjungi tiap bulan?” pasti di antara jawabanmu ada ‘klinik kecantikan’. Itu wajar banget buat kita para wanita yang kepengin menjaga penampilan. Penampilan memang bukan segalanya, tapi segalanya berawal dari penampilan. Bukan berarti kita menjaga penampilan buat orang lain kan? Buat kepercayaan diri kita sendiri aja. Nah, balik lagi ke pertanyaan tadi. Kenapa coba pertanyaannya ‘tempat yang kepengin dikunjungi’ bukan ‘tempat yang harus didatengin’ tiap bulan? Yep, karena buat sebagian dari kita dateng ke klinik kecantikan itu satu kemewahan. Termasuk buat saya juga. Jujur aja, buat dateng ke klinik kecantikan biasanya saya mesti nabung lumayan lama, semisal nyisihin dan mengais-ngais koin-koin serebuan sampe celengan dinosaurus gendut. Itu pun masih parno, takut kurang buat beli produk perawatannya. Ya iya sih ada cara instan supaya bikin muka ‘cling’ seketika, pake efek kamera, aplikasi, atau software. Tapi ya kali pas ketemu orang langsung muka kita bisa di-photoshop. Kepenginnya nemu klinik kecantikan yang memenuhi 5 kriteria. Bukan-bukan, bukan bibit-bebet-bobot…. Tapi:

  • Pelayanannya ‘nyaman’ di hati.
  • Peralatannya higienis dan canggih.
  • Tempat dan interiornya ‘nyaman’ dan hommy.
  • Harganya ‘nyaman’ di kantong.
  • Produknya ‘nyaman’ di kulit.

Duh, jangan sampe deh perjalanan terjal berliku mencari klinik kecantikan sesuai kriteria jadi selama Goblin nungguin jodohnya. 939 tahun! Ya kali Goblin sih gak pernah ditanyain “Kapan nikah?” terus. Oke, Gals, kita jangan sedih dan nyerah duluu… mari kita jajal satu klinik kecantikan bernama Karadenta. Siapa tahu cocok.

Saya mau cerita pengalaman saya di Karadenta.

Pelayanan Bersahabat

April lalu pertama kali saya kenalan sama Karadenta Clinic. Waktu itu saya cukup terkesan. Dari awal dateng disambut sama Teteh resepsionisnya yang ramah. Enggak nunggu lama, saya ketemu dokter Heni buat konsultasi.

Dokter Heni ini orangnya menyenangkan banget. Saya bisa curhat sepuasnya soal kondisi kulit saya. Berasa curhat sama sahabat yang udah kenal lama. Dokter Heni juga enak banget ngejelasinnya, sedikit demi sedikit saya jadi paham soal kondisi kulit dan penanganannya.

 

Peralatannya Canggih Dan Higienis

Sebelum sesi konsultasi dimulai, muka saya diperiksa dulu sama alat magic mirror buat mengetahui keadaan kulitnya. Pemeriksaannya sendiri terbagi menjadi tiga bagian kulit wajah. Bagian kanan, kiri, dan tengah. Meskipun sama-sama kulit wajah kita, ternyata hasil analisanya beda loh. Kalau kata dokter Heni, kulit itu organisme hidup, makanya setiap bagiannya berbeda.

Pokoknya yang namanya pore, roughness, wrinkle, spot, UV Acne, UV Spot, dan UV moisture ketahuan semua. Termasuk umur kulit. Waktu pertemuan pertama usia kulit muka saya ternyata lebih tua dua tahun dari usia sebenernya. Hiks. Untungnya setelah sekali perawatan di karadenta, usia kulit muka saya jadi cuman setahun lebih tua aja dari umur sebenarnya. Saya pikir, oke juga nih perawatannya. Efeknya langsung kerasa. Btw, buat mengetahui riwayat kulit muka kita nantinya bisa diakses di website-nya Karadenta Clinic loh. Asyik ya.

Karena muka saya ini masalahnya kompleks, ya jerawat, ya pori-pori besar, ya sensitif, ya flek hitam, jadinya dikasih full treatment. Terdiri dari laser black doll, laser IPL, mikrodemabrasi, masker, serum, dan sunblock.

            Baca lengkapnya di Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic.

Menurut saya sih peralatan di Karadenta Clinic ini canggih dan higienis. Dan karena peralatannya canggih tadi, jadinya perawatannya enggak lama-lama, cuman sekitar 30-40 menit aja tapi menyeluruh. Enggak ngabisin waktu kan ya. Mana Teteh yang ngetreatmentnya mijit mukanya enak dan pas. Enggak keras tapi enggak terlalu lembut. Alhasil ya saya pun tertidur nyenyak sehabis dipijit, ketika menunggu maskernya kering.

Treatment di Karadenta ini cukup lengkap. Siap deh bikin kamu jadi model material.

 

Fasilitas Dan Interiornya Hommy.

Karena pengalaman pertama ke Karadenta berkesan, bulan berikutnya saya dateng lagi. Kepenginnya sih perawatannya continue biar efeknya cepet kerasa dan gak permanen. Nah, di kedatangan kedua ini saya menikmati fasilitas klinik. Waktu pertama saya datengnya sore banget, pas satu jam sebelum tutup. Jadinya enggak sempet bersantai-santai dulu di klinik. Yang kedua ini mah belum sore-sore bangetlah.

Karadenta cabang Bandung ini punya lobi yang mungil dengan interior yang serba kayu. Penataan minimalisnya cantik dan hangat. Di sana duduk resepsionis ramah yang bakal menawarkan keanggotaan buatmu yang belum terdaftar jadi member. Fasilitas ini gratis kok. Cukup ngisi form aja.

Sambil nunggu waktu konsultasi dengan dokter, kita bisa bersantai, Gals. Ruang tunggunya ada 2. Pertama, lobi. Kedua, ruangan di dalam. Kalau tadi di lobi serba kayu, interior di dalam beda lagi. Terdiri dari sofa-sofa empuk yang memanggil-manggil buat diduduki. Ibarat geng-gengan, di ruang tunggu dalam ini ada dua set sofa berbeda. Set pertama sofa biru tua berbentuk L dengan dua sofa bulat. Set kedua terdiri dari dua sofa biru muda yang nyaman buat senderan. Di ruangan luas itu disediakan rak kayu yang menempel ke dinding. Di rak itu berjajar buku-buku. Dari fiksi, nonfiksi, sampai komik. Sedang di atas meja disedikan berbagai majalah.

Buat yang suka baca sih pasti seneng disediain bahan bacaan kayak gini. Bisa baca sambil selonjoran, atau duduk bersila di atas sofa. Yep, buat masuk ke area Karadenta Clinic, alas kaki memang harus dilepas. Sebagai gantinya, kakimu bakal dimanjakan oleh karpet cokelat yang lembut. Berasa senyaman di rumah deh.

Buat kamu yang kurang suka baca, atau memang lagi not in the mood aja buat baca, sambil nunggu bisa berselancar di internet sepuas hati. Soalnya Karadenta Clinic nyiapin WiFi.

Sesudah konsultasi, dokter bakalan minta kita melakukan treatment di lantai dua. Di atas terbagi jadi 3 ruangan. 2 ruangan untuk treatment, satu ruangan yang panjang dan luas untuk ruang tunggu atau bersantai. 2 ruangan treatment berisi tempat tidur dan beberapa alat-alat kecantikan berteknologi canggih semacam laser black doll dan laser IPL yang saya ceritain tadi itu loh.

Sedang di ruang tunggunya dipajang berbagai produk kecantikan Karadenta dan camilan di rak kayu yang cantik. Rak kayu itu disimpan di tengah ruangan. Berfungsi juga sebagai pemisah buat dua set sofa. Sofa-sofa di atas sini semuanya bean bag. Beneran enak buat ngobrol-ngobrol sambil minum jahe yang disediakan Karadenta. Mana disediain juga rak buku kayu penuh buku lagi.

Teruuus, yang tambah cantik lagi, di ruangan itu disediakan kaca besar yang dibingkai kayu. Sepanjang bingkai kaca menempel lampu yang saat dinyalakan bikin kita yang berkaca serasa jadi artis. Asli bikin betahlah di sini. Yang biasanya nunggu itu nyebelin dan ngeselin, di sini malah enggak kerasa.

Secara keseluruhan Karadenta Clinic ini tempatnya bersih, tata letaknya bagus, dan interiornya nyaman. Karena tempatnya kece, seru juga loh kalau mau foto-foto di sana. Mau di ruang tunggu atas, tangga, maupun bawah, sama cakepnya. Bisa eksplore beberapa gaya dan angle. Hasil fotonya bisa langsung diunggah ke instagram pake WiFi Karadenta, eh.

 

Harga Treatment Dan Produk Karadenta Nyaman Di Kantong

Sampai juga nih ke pembahasan harga. Padahal udah di-mention di awal banget ya soal urgensi harga ini. Gals, untungnya, harga treatment dan produk Karadenta ini enggak bikin kita mesti menguras celengan. Karena cukup terjangkau. Bisalah kita usahain buat full treatment sebulan sekali.

Nih daftar lengkapnya:

Refresh Whitening Oxygen Rp500.000

Refresh Acne Oxygen Rp500.000

Pigmen Carbon Therapy Rp500.000

Cherry Lip Therapi Rp100.000

 

Single Treatment

Laser IPL Rp150.000

Microdemabrasi Rp150.000

Laser Black Doll Rp250.000

 

Saya sendiri memakai paket treatment terdiri dari laser IPL, laser Black Doll, microdemabrasi, masker, dan sunblock itu jadi Rp500.000.  Paketan harganya jadi lebih irit. Buat paketan produknya sendiri hanya Rp240.000 loh. Itu isinya udah lengkap buat perawatan siang dan malam.

 

Produk Karadenta Clinic

Selain tindakan atau treatment, Karadenta Clinic juga memproduksi produk kecantikan sendiri loh. Atas rekomendasi dokter Heni, saya mencoba paket produk perawatan kulit Karadenta untuk problem kulit berjerawat.

Apa aja produknya?

Gimana hasilnya di kulit muka saya?

Saya jawab di postingan berikutnya ya. Heuheu… kayak sinetron aja ya pake ada acara bersambung segala. Uhm… mini serilah ya… kan enggak sampe panjang chapter-nya XD

 

Oke, mari sekarang kita cek-cek kriteria tadi. Apa Karadenta udah memenuhi?

  • Pelayanannya ‘nyaman’ di hati, cek!
  • Peralatannya higienis dan canggih, cek!
  • Tempat dan interiornya ‘nyaman’ dan hommy, cek!
  • Harganya ‘nyaman’ di kantong, cek!
  • Produknya ‘nyaman’ di kulit?

4 dari 5 kriteria udah terpenuhi nih. Udah pas di hati saya Karadenta Clinic ini. Ehm-ehm… spoiler-nya (jiaah ada spoiler segala ya XD ), produk paket untuk kulit berjerawatnya ternyata cocok di muka saya.

 

Mau nyobain perawatan di Karadenta Clinic juga, Gals? Mangga buat yang tinggal di Bandung dan sekitarnya dateng aja ke:

Karadenta Clinic

Jl. Rereng Wulung No. 27, Cikutra, Bandung

022 – 20455887

082130156699

Website: http://www.karadentaclinic.com

Instagram: @karadentaclinic

Twitter: @karadentaclinic

Facebook Page: Karadenta Clinic

Jam buka: Pk. 10.00 – 18.00 WIB

[Blog Tour] Review + Giveaway Novel My Fortune Is You: Terbukanya Rahasia

My Fortune Is You merupakan novel bagian kedua dari trilogi “Searching My Husband” namun bisa dibaca secara terpisah.  Jadi enggak usah khawatir kalau langsung baca dari novel keduanya.

DATA BUKU

Judul: My Fortune Is You

Penulis: Octya Celline

Penyunting: Octya Celline

Penerbit: LovRinz Publishing

Cetakan: Pertama, Januari 2017

Halaman: viii + 414 Halaman

ISBN: 9786026526441

Blurb:

WANTED

“Mencari pacar untuk mamaku yang cantik Kalo bisa yang pirang. boleh pacaran sama mama sampai punya dede terus harus Putus soalnya nanti Papa marah! Mau? Hubungi Sun di TK masa depan Gemilang tanya saja Bu Nancy nanti di anterin ketemu Sun. Makasih. Hadiah 1 bungkus permen dan coklat.”

Refan membaca tulisan itu dan tanpa sadar tertawa sendiri karena mengingat iklan yang dulu pernah dipajang Sisilia di koran, kemudian tawanya sirna saat sebuah suara menyapanya.

“Om belminat jadi pacal mamaku?”

Dia menunduk dan melihat sepasang anak kembar yang tengah menatapnya serius.

“Tadi kamu ngomong apa?”

“Om baca postelku, belminat jadi pacal mamaku”

“Hah?”

REVIEW BUKU

My Fortune Is You terbagi menjadi dua kisah utama. Cerita pertama tentang Sisilia dan Refan, lalu kisah kedua tentang Airin dan Rio. Kedua cerita itu memiliki benang merah karena mereka satu sama lain saling mengenal. Menariknya keempat tokoh utamanya diceritakan pula dalam bentuk dongeng fabel dengan sebutan bunglon, kancil, merpati, dan merak. Setiap perumpaan memiliki arti sesuai dengan karakter tokoh-tokohnya.

Saya mau komentari cover-nya dulu. Seperti buku pertamanya, novel kedua ini juga punya cover yang cantik. Saya memang selalu suka tipe gambar seperti itu ^^ Full color, gambarnya penuh, tapi menarik.

Lalu tentang ceritanya. Kisah bergerak dari keterpurukan Refan kehilangan Sisilia. Bagaimana dia berjuang untuk menerima kehilangan. Bab selanjutnya cerita berganti ke sudut pandang Airin. Terus begitu tiap bab bergantian. Meskipun kadang ada satu bab yang terselip juga kisah Refannya. Tapi enggak membingungkan karena dikasih keterangan nama dulu sebelum cerita dilanjutkan. Konflik di novel pertama banyak yang dibiarkan menggantung karena akan dijawab di buku kedua ini. Menurut saya konfliknya makin tajam dan menarik.

Kalau di buku pertama saya kurang begitu suka membaca bagian Airin, justru di novel ini sebaliknya. Saya lebih menikmati bagian kisah Airin dan Rio. Karena konfliknya pun enggak sejelimet kisah Refan dan Sisilia. Sub konflik MFIY memang banyak, tapi semuanya terselesaikan dan terjawab kok. Kisah cinta keempatnya mendebarkan dan romantis, seperti serial drama Korea. Namun, seperti novel Searching My Husband, MFIY pun banyak yang logikanya luput. Tapi kalau kita enggak memikirkan soal logika cerita, novel ini seru dan menghibur. Bahkan ada bagian-bagian yang cukup mengharukan.  Lupakan juga typo yang masih bertebaran karena akan capek sendiri mengeceknya.

Seperti yang pernah saya bilang di review novel SMH, tokoh-tokohnya memiliki karakter yang cukup kuat. Dalam MFIY pun ada perkembangan karakter. Yang paling menonjol di tokoh Airin dan Sisilia. Kelihatan bagaimana banyak kejadian mengubah sikap dan pandangan mereka. Sayangnya karakter tokoh-tokoh anak-anak di novel ini kurang mencerminkan sifat dan sikap anak-anak. Mungkin dibuat seperti itu karena kebutuhan cerita. Karena kehadiran mereka menjadi penggerak penting dalam cerita.

Gaya bahasa Octya yang mengalir membuat novel ini enak diikuti. Banyak juga kata-kata quotable yang jleb. Pesan moralnya disampaikan secara halus dan mudah dicerna. Cukup lengkap sih, hiburannya dapet, pesannya juga dapet. Meskipun tebal, kadang saya merasa ada bagian yang terlalu cepat diceritakan. Seharusnya disampaikan dengan pengadegan tapi hanya diceritakan lewat narasi. Mungkin karena sudah terlalu tebal ya.

Saya rekomendasikan novel ini untuk kamu penyuka novel romantis.

Mungkin kamu juga akan jatuh, karena untuk mencapai mimpi dan citamu, tidak pernah semudah mengedipkan matamu. Akan ada hal-hal keras yang menghantamu. Tidak apa. Apa pun yang terjadi kamu hanya harus bangun dan berjalan lagi. Karena kalau kamu belum mati, berarti kamu masih baik-baik saja. Kamu masih bisa berjalan, berpikir, melihat, mendengar, dan banyak hal lainnya. Lihat kan? Kamu baik-baik saja. Kamu hanya jatuh. Melukaimu, tapi tidak membunuhmu.

Gunakan semua kekuatanmu untuk bangun dan berjalan lagi. Karena yang harus kamu lakukan untuk berbahagia hanya berjalan lagi. Selama kamu terus berjalan, pasti akan ada suatu titik dimana hatimu mengatakan, “Ini. Di sini penuh kebahagiaan.”

–Halaman 118-119

 

GIVEAWAY

Mau novel My Fortune Is You? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @CeL___LiNe dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GAMFIY dan mention akun twitter saya dan Octya.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Kalau pasanganmu membuat kesalahan fatal, apakah kamu akan menerimanya kembali? Alasannya?

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 9 sampai 15 Juli 2017. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 16 Juli jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Giveaway ini hanya boleh diikuti oleh kamu yang sudah berumur 17 tahun ke atas.

Ditunggu partisipasinya ya ^_^

 

Ramadan: Moment Premium Mendekatkan Ibu Dan Anak

Ketika saya memutar ingatan ke masa kecil, banyak moment paling berkesan ternyata terjadi di bulan ramadan. Mulai dari cerita sahur kesiangan, dipaksa buka puasa setengah hari, nakal buka puasa padahal masih kuat, sampai ngabuburit seru. Biasanya setelah sahur, kami sekeluarga akan bermain monopoli atau ular tangga. Nah, kalau acara ngabuburit, lebih beragam kegiatannya. Kadang kami menunggu buka puasa dengan belajar mengaji, bermain kartu, membantu Mama membuat makanan minuman untuk buka, sampai main ke toko buku. Tiap kali mengingat momen-momen itu selalu bikin senyum-senyum sendiri. Ramadan ini memang bulan istimewa. Moment berharga untuk membangun kedekatan keluarga, terutama ibu dan anak.

Main ular tangga bikinan Prajurit Rumput

Saat Rasi umur 5 tahun, saya sudah mengajaknya belajar puasa meskipun hanya setengah hari. Dari buku bacaan saya menerangkan secara sederhana apa itu bulan ramadan. Tahun berikutnya, ketika Rasi berusia 6 tahun, dia saya ajak mulai berpuasa seharian penuh. Alhamdulillah dapat 2 hari. Saya waktu itu memang enggak memaksanya untuk menamatkan puasa sebulanan, sekuat Rasi saja. Tahun ini beda lagi.

Pada hari pertama puasa, saya menargetkan Rasi puasa penuh. Tapi hari-hari selanjutnya sih kalau Rasi memang enggak kuat saya enggak akan memaksa, yang penting dia merasakan perjuangan puasa sejak hari pertama. Sahur pertama Rasi semangatnya luar biasa, dibangunkan sekali saja langsung melek. Makan sahurnya pun banyak. Namun, belum juga siang hari, anak itu sudah merengek lapar. Sedari awal memintanya untuk belajar puasa penuh saya memang sudah memperkirakan harus mendampinginya seharian. Saya lalu bilang, “Coba pikirannya jangan ingetin makanan terus supaya enggak lapar.” Saya ajak dia membaca, kemudian menonton. Berhasil membuat Rasi berhenti merengek sampai jam 2 siang. Setelah itu dia kembali minta makan. Saya minta Rasi supaya menulis diary ramadan agar dia selalu mengingat kejadian-kejadian apa saja yang dialami selama ramadan, nantinya dia bisa memetik hikmahnya lagi. Untuk menulis selembar saja Rasi butuh waktu satu jam setengah. Segitu juga udah Alhamdulillah. Sorenya rengekan terdengar lagi dari mulut Rasi. Untungnya Prajurit Rumput punya ide, dia membuat ular tangga sendiri lengkap dengan peraturan unik. Saya mengajak Rasi main ular tangga itu. Akhirnya sampai waktu berbuka dia lupa sama laparnya. Ketika mendengar azan, Rasi langsung berteriak girang. Berbuka pertama dengan yang manis. Pas banget memang memilih camilan favorit Lotte Choco Pie. Hari keduanya ajaib, Rasi enggak mengeluh lapar sekali pun. Tapi tetap saya ajak ngabuburit di taman biar dia senang.

Malam harinya sambil memeluk Rasi, saya mengajaknya mengingat hari pertama puasa. Kami belajar memaknai puasa bersama. Saya tanya, “Lapar itu enggak enak ya, Neng?” Dia jawab iya. Saya katakan supaya ketika kami mendapat rezeki banyak makanan jangan dibuang-buang, tiap kali makan harus dihabiskan. Rasi memang suka enggak abis makannya. Jadi saya ngeliat celah buat dia mau belajar enggak lagi menyia-nyiakan makanan. Saya lihat dia mulai mengerti tujuan puasa. Tentang berbagi pada sesama, dan lainnya.

Ramadan Togethermore Lotte Choco Pie

 

Pada bulan ramadan penuh berkah ini banyak yang memanfaatkannya untuk mengajarkan anak-anak kebaikan. Karakter memang nomor satu yang harus diperhatikan pada diri anak sebagai fondasi pendidikan. Tentunya cara mendidik anak meski disiplin haruslah dengan penuh kasih sayang. Dan tentunya mengajarkan anak kebaikan akan lebih dipahami bila disampaikan dengan cara yang seru. Seperti yang dilakukan Lotte Choco Pie ini.

Selama tiga minggu berturut-turut, Lotte Choco Pie mengadakan acara ngabuburit dan buka bersama #RamadantogetherLotteChocoPie di beberapa masjid. Tujuan diadakannya acara ini menurut Mbak Oci C. Maharani, Brand Manager Lotte Indonesia, adalah dapat membantu para ibu untuk mewujudkan together more moment bersama anak dan mempererat hubungan dan meningkatkan kualitas kebersamaan keluarga.

Acara #RamadantogetherLotteChocoPie pertama kali diadakan di Masjid Raya Cinere tanggal 3-4 Juni 2017 lalu. Kemudian di Masjid Baitussalam Billy & Moon Kalimalang tanggal 10-11 Juni 2017. Terakhir, di Masjid Al-Ikhlas BSD tanggal 17-18 Juni 2017. Di antara ketiga tempat itu saya menghadiri yang di Kalimalang. Sayangnya saya enggak bisa mengajak Rasi karena dia lagi sakit.

Saya datang ke Masjid Baitussalam sekitar jam 2 siang. Ngadem dulu di dalam masjid sambil bertukar kabar dan chit-chat dengan peserta lain. Pastinya atuh enggak ketinggalam selfie-selfie XD Pertama kali ketemu sama Mak Gaoel di sana. Pas denger saya ngomong, katanya ‘sundanis’ pisan XD

Acara dimulai sehabis selesai salat asar, sekitar jam setengah 4 sore. Dibuka dengan sesi Kids Pastry Classes. Ini cooking class buat anak-anak yang dipandu sama Chef Nanda Young. Anak-anak diajarin bikin dessert berbahan dasar Lotte Choco Pie dengan menghiasinya memakai fondant warna-warni yang bisa dikreasikan jadi banyak bentuk. Ngeliat anak-anak kok ya semangat banget belajarnya. Pada cepet gitu nyerap ilmunya. Mereka tampak uplek happy gitu berkreasi. Mana hasilnya lucu-lucu banget. Jadi berasa enggak tega makannya juga :’) Keluarlah tiga pemenang, yaitu Safina, MazKa, dan Lintang. Congratz kids!

Sesi berikutnya Lotte Choco Pie Creative Competition. Nah iniiii seru juga. Soalnya ibu dan anak berpasangan buat menghias Lotte Choco Pie, berkompetisi dengan yang lain. Lomba kayak gini bisa jadi premium bonding moment karena mempererat chemistry ibu dan anak, gimana mereka bekerja sama, menikmati kebersamaan, mengeluarkan ide, dan menekan ego masing-masing.

Waktu menuju buka semakin dekat. Kami kemudian masuk ke masjid untuk mengikuti tausiyah interaktif duet Kak Muiz dan Ustaz Wildan. Di dalam masjid sudah ada anak-anak yatim piatu yang duduk berjajar dengan rapi. Semuanya keliatan seneng banget menyimak tausiyahnya. Soalnya Kak Muiz ini kocak deh. Selain pinter mengubah-ubah suara, bonekanya juga lucu. Ditambah dengan ceramah mengenai keutamaan sahur oleh Ustaz Wildan, membuat anak-anak  terhibur sekaligus mendapat maknanya.

Setelah itu, Lotte Choco Pie membagi-bagikan bingkisan untuk semua anak yatim piatu yang hadir. Sehingga anak-anak lain juga belajar pentingnya berbagi pada sesama. Semoga senyum indah anak-anak yatim piatu itu akan terus terkembang. Sehabis itu, azan magrib berkumandang. Saatnya buat berbuka. Setelah makan takjil, salat magrib berjamaah, baru deh makan makanan berat bareng-bareng teman-teman dari Kumpulan Emak-Emak Blogger.

Oh iya, di sana ada lomba fotonya juga. Iseng-iseng saya ikutan, sekalian karena jiwa narsis berfoto ria terpanggil karena photo booth-nya Lotte Choco Pie 3D ini kece banget. Ternyata saya menang, yeaay! Alhamdulilah dapet hadiah uang seratus ribu rupiah dari Lotte Choco Pie. Berkah ramadan banget.

Ada lomba foto yang bisa Mama dan si kecil ikuti. Hadiahnya? Trip sekeluarga ke Bali. Online Photo Contest Lotte Choco Pie ini gampang ikutannya. Beli 2 kemasan Lotte Choco Pie isi 6 buah, simpan struknya ya buat bukti kalau menang nanti. Lalu upload foto kebersamaan dengan si kecil beserta Lotte Choco Pie-nya di instagram atau facebook. Sertakan tagar #Ramadantogether dan #TogethermoreLotteChocoPie cepetan yaaa karena periode perlombaannya hanya sampai 24 Juni 2017. Detailnya bisa diliat di poster atau media sosial @lottechocopie.id

Silaturahmi udah, seneng liat kreasi anak-anak udah, foto bareng Chef Nanda udah, kenyang buka udah. Waktunya pulang ke Bandung dengan hati riang sambil bawa oleh-oleh goodie bag berbentu Choco Pie yang pastinya bikin Rasi bahagia.

Para pemenang Lotte Choco Pie Creative Competition

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Saat kecil, saya selalu serem tiap mendengar kata tumor. Buat saya yang masih polos itu, tumor berarti kanker. Belum lagi terbayang pemandangan para pasien tumor yang ditayangkan di TV, bikin hati ini terenyuh. Ternyata tumor dan kanker berbeda. Saya enggak pernah menyangka bahwa ketika dewasa saya terkena tumor, bahkan dua kali, di tempat yang berbeda.

Begini ceritanya….

Tahun 2016 lalu saya terkena kista ginjal. Ceritanya bisa dibaca di “Kista Ginjal Mengantarkan Saya Pada Salah Satu Momen Luar Biasa Dalam Hidup”. Operasinya dilakukan pada Bulan Mei. Saya percaya ini bukan kebetulan ketika Allah menghendaki saya menjalankan operasi lagi di bulan yang sama, tepat setahun kemudian. Pasti ada tujuan Allah membuat timing seperti itu. Kali ini, saya terkena tumor yang tumbuh di mata.

Tentang Tumor

Intinya sih kata dokter tumor itu adanya ‘benjolan’ di mana pun letaknya. Saya baru tahu kalau ‘semua’ benjolan itu tumor. Termasuk kista. Tumor jenisnya banyak, tapi secara umum sih dibagi ke dalam tumor jinak dan tumor ganas. Nah, tumor jinak dibagi-bagi lagi.

Dari artikel yang saya baca, tumor secara medis diartikan sebagai berikut:

Penyakit tumor secara medis adalah terbentuknya sebuah neoplasma yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak wajar. Dan beberapa sel yang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat akan mengakibatkan sebuah benjolan pada permukaan organ tertentu.

Sumber: penyakittumorjinak.blogspot.co.id

Seperti yang sudah saya ceritakan di “Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit”, benjolan di mata ini tidak serta merta langsung besar. Beberapa tahun sebelumnya, muncul benjolan kecil. Benjolan itu karena tidak sakit, merah, atau pun membesar, saya biarkan saja. Hingga di tahun 2017 benjolan itu mulai membesar, lambat tapi pasti. Sampai suatu pagi benjolan itu tumbuh menyerupai jerawat batu. Besar, merah, dan sakit. Sebagai orang yang panikan dan penakut sekaligus, waktu melihat itu saya pun saya langsung berpikir yang bukan-bukan. Daripada kecemasan saya makin meliar, saya lalu memeriksakannya ke Puskesmas. Dokter Puskesmas langsung memberi rujukan ke rumah sakit. Kemudian oleh dokter pertama, saya diberi obat tetes mata dan salep. Dicoba untuk rawat jalan dulu. Sambil beliau merekomendasikan saya dokter temannya yang biasa melakukan ‘tindakan’. Saya diminta datang seminggu kemudian.

Lipoma di mata saya dulu waktu masih kecil, kelihatan tapi tidak kentara

Namun rupanya benjolan itu malah makin menjadi. Tidak menunggu sampai seminggu, saya sudah memeriksakan mata lagi. Masih di RS yang sama, tapi saya mendatangi dokter kedua yang direkomendasikan itu. Dokter kedua memijit-mijit benjolannya, lalu katanya, “Ini sih bukan cairan, tapi daging. Enggak bisa dikasih tindakan biasa.” Saya tanyakan jenis penyakitnya, tapi dokter menjawab belum tahu. Dokter lalu memberi saya obat salep yang baru. Salep ini memiliki kandung berbeda dari sebelumnya. Dokter meminta saya datang seminggu atau lima hari lagi. Tapi kalau benjolannya hilang, saya tak perlu datang lagi. Begitu kata beliau.

Waktu itu saya berharap sepenuh hati agar salepnya berhasil membuat benjolannya kempes, tapi nihil. Benjolannya terus saja bertumbuh sampai hampir sebesar kelereng. Kecemasan dalam diri saya makin tak terbendung. Saya menjadi kian sulit tidur dan rasanya stres berat. Apalagi benjolannya gatal sekali. Tiga hari kemudian saya datang lagi. Saya masih ingat bagaimana wajah khawatir dokter ketika memeriksa saya.

“Benjolannya diangkat saja ya. Saya beri rujukan ke RS Cicendo,” ucap beliau.

“Dok, apa enggak bisa dioperasi di sini saja?” tanya saya.

“Bisa saja. Tapi kalau ada apa-apa, kalau… misalnya ternyata tumor ganas atau apa, tetap saja nanti akan dirujuk ke sana, karena di sana ada dokter spesialisnya,” jawab dokter dengan nada hati-hati.

Dokter bilang saya tak usah lagi meneruskan memakai salep yang beliau beri karena tidak memberi efek apa-apa. Tapi saya tetap memakainya sekadar untuk menenangkan hati bahwa benjolan saya sedang diobati. Lagipula saya masih merawat harapan adanya keajaiban seandainya ketika saya bercermin keesokan harinya, saya akan melihat mata saya telah sembuh. Sayangnya itu tidak terjadi.

Tidak membuang waktu, besoknya saya langsung ke RS Cicendo. Dokter yang menangani saya langsung memberi putusan untuk operasi. Saya bertanya lagi sebenarnya di mata saya ada penyakit apa?

“Kami belum tahu, nanti kita cek di lab setelah diangkat. Ini jelas bukan kista karena bukan cairan. Letaknya juga tidak lazim.”

Karena dokter khawatir benjolannya akan pecah saat operasi, maka saya akan dibius umum atau bius total. Untuk itu, saya harus menjalani serangkaian pemeriksaan.

Persiapan Operasi

Seperti mengalami deja vu, saya melakukan serangkaian pemeriksaan yang pernah saya lakukan tahun lalu. Yaitu pengecekan paru-paru, tes urine, tes darah, dan tes denyut jantung (elektrogram). Alhamdulillah hasilnya baik semua.

Selanjutnya hasil berbagai tes itu harus diserahkan pada dokter mata yang langsung memberi saya jadwal operasi besoknya. Artinya, hari itu saya mesti menginap di RS untuk persiapan. Terus terang saja secara psikologis saya sama sekali tidak siap. Rasa takut mencengkeram erat. Tapi saya kuatkan diri, toh besok atau minggu depan saya tetap harus menghadapi hari operasi. Lalu saya diminta menemui dokter ahli penyakit dalam dan dokter anestesi untuk mendapatkan acc. Tentunya berbekal seluruh hasil tes. Saat bertemu dokter penyakit dalam bernama Maria, saya ceritakan ketakutan saya. Dengan senyum lembut keibuan beliau berkata, “Saya buang takutnya ya,” sambil beliau seperti mencerabut sesuatu dari tubuh saya. Saya tahu itu sekadar sugesti saja, tapi entah bagaimana saya merasa sedikit tenang.

Oh iya, sekadar info mungkin ada yang belum tahu, dokter anestesi itu dokter yang membius pasien saat operasi. Supaya lebih mengerti, saya kutip penjelasan tentang dokter anestesi berikut ini:

Dokter anestesi merupakan dokter spesialis yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi kepada pasien yang hendak menjalani prosedur bedah atau operasi. Selain memastikan agar pasiennya mati rasa, dokter anestesi juga memantau manajemen rasa sakit dan perawatan intensif pasien
Dokter spesialis ini tak hanya membuat pasien menjadi tidak sadar seluruhnya, mati rasa hanya di sebagian tubuh, atau memberi obat penenang untuk menghilangkan rasa nyeri dan kecemasan pasien. Dia juga memantau secara terus-menerus dan mempertahankan fungsi kritis hidup pasien ketika pasien menjalani seluruh rangkaian prosedur medis bedah, bedah kandungan, atau prosedur lainnya.

Setelah mendapat persetujuan dari kedua dokter, saya mengurus administrasi rawat inap. Sayangnya karena sudah terlalu sore, tidak ada kamar kelas 3 yang tersedia. Sempat terbesit untuk naik ke kelas 2 saja meskipun harus menambah biaya. Namun dipikir-pikir lagi, sesudah operasi biasanya masih butuh banyak biaya untuk pemulihan dan perawatan. Hasil dari konsultasi dengan kakak dan adik saya yaitu Teh Yunis, Teh Ika, dan Evi pun semua sepakat agar saya tak usah naik kelas. Maka saya pun tidak jadi mengajukan kenaikan kelas. Eh, ini kesannya kayak sekolah ya 😀 Bagian administrasi menganjurkan saya untuk menunggu dulu sampai jam 5 sore. Akhirnya saya mendapat kamar juga, tapi masalah lain muncul. Bulan lalu memang saya terlambat membayar BPJS, akibatnya untuk pemakaian operasi dan rawat inap, harus diurus dulu ke kantor pusat. Kalau itu dibilang kesialan, saya malah merasa itu keberuntungan. Karenanya saya malah lega mendengar bahwa operasinya mesti diundur. Memang psikologi saya waktu itu nge-drop sekali.

Besoknya Prajurit Rumput mewakili saya ke RS untuk mengurus penjadwalan ulang operasi dan pergi ke kantor BPJS pusat. Jadwal operasinya diubah ke hari Selasa. Maka pada Senin siang, saya mulai rawat inap. Sebelum masuk ke ruangan yang terdiri dari 10 tempat tidur, seorang suster menjelaskan secara terperinci tentang persiapan operasi yang harus dilakukan. Salah satunya adalah saya diminta untuk keramas dan mandi sore itu. Memang tahun lalu sebelum operasi kista ginjal, saya menyengajakan diri keramas dulu di rumah untuk antisipasi bahwa akan agak lama dari operasi saya bisa keramas lagi, belajar dari pengalaman waktu operasi caesar sebelumnya. Namun saya tidak menyangka bahwa sebelum operasi mata, semua pasien memang diharuskan keramas dulu. Tujuannya adalah karena saat memasuki ruang operasi kondisi pasien dalam keadaan bersih dan steril. Ditakutkan kuman di rambut yang letaknya begitu dekat dengan mata akan masuk saat operasi.

“Jangan khawatir kedinginan, ada air hangat kok di kamar mandi,” ujar Suster.

Sebenarnya saya agak khawatir dengan kondisi fisik yang sepertinya akan terkena flu. Soalnya hidung agak tersumbat. Takutnya gara-gara itu operasinya diundur lagi. Kali ini saya ingin segera melaluinya, tidak ingin terus-terusan merasa takut. Setelah keramas dan mandi, saya banyak makan, baru saat rambut kering saya tidur supaya fit. Malamnya saya disuruh puasa dari jam 2 dini hari. Untungnya saya kebangun untuk sahur. Padahal saya tidak menyetel alarm. Paginya dokter mengecek keadaan saya. Beliau bilang operasi sekitar jam 9 pagi, saya akan dipanggil sekitar setengah jam sebelumnya. Sambil menunggu waktu itu, saya tidur lagi dengan alasan tetap menjaga kondisi kesehatan. Saya bangun dengan kaget karena sudah dipanggil suster untuk naik ke ruang tunggu operasi. Jadinya saya hanya sempat cuci muka alakadarnya.

Untuk prosedur rawat inap dan operasi memakai BPJS akan saya bahas di postingan terpisah.

Operasi Mata

Dulu saya suka heran dengan operasi katarak masal. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin melakukan operasi langsung berjamaah begitu dan sesudahnya pasien bisa pulang hari itu juga. Soalnya sepengalaman saya, dua kali operasi, saya baru bisa jalan setelah beberapa hari. Rupanya memang operasi mata itu berbeda.

Setelah saya berganti baju dengan pakaian khusus operasi, seorang suster memberi infus. Infusnya akan dijalankan sesudah operasi nanti. Kemudian saya diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Di sana ada banyak pasien menunggu giliran dipanggil. Operasinya macam-macam, ada yang retina, katarak, dan lainnya. Kami bertukar cerita dan saling mendoakan. Saya sedikit nge-drop lagi karena ada salah satu pasien yang membicarakan tentang kematian. Rasanya kepengin bilang, “Pak, kalau bisa di ruang tunggu operasi topiknya yang menyenangkan saja.” Dua jam kemudian nama saya dipanggil.

Saya berjalan melewati satu ruang lainnya. Rupanya memang ada banyak ruang operasi di RS itu. Udara ruang operasi sangat dingin, tapi bukan itu yang membuat saya menggigil, lebih karena takut. Saya menahan diri untuk tidak melihat-lihat peralatan medis di sana supaya tidak tambah takut. Mungkin saya memang terlalu berlebihan, karena kalau melihat pasien lain sih tampak tenang-tenang saja. Untunglah tidak lama dari situ saya dibius hingga tidak sadarkan diri.

Pasca Operasi

Saya terbangun dengan cepat, saat melihat sekitar, saya berada di ruang tunggu operasi. Rasa sakit langsung menerpa mata kiri saya yang sudah berhasil dioperasi. Saya lalu dibawa ke ruangan. Sakit di mata bertahan seharian. Namun selain sakit di area mata dan tubuh lemas, selebihnya saya bisa duduk dan mengobrol dengan normal. Satu jam sesudahnya saya malah sudah bisa ke kamar mandi. Karena saya dibius total, maka saya harus puasa lagi selama tiga jam. Setelah 3 jam saya boleh minum sesedok air per lima menit. Kalau tidak muntah dan mual, saya boleh makan. Rupanya saya tidak kehilangan selera makan sama sekali, meskipun sambil menahan sakit, sambil disuapi Evi (kembaran saya) sepiring nasi plus roti tandas tak bersisa.

Mata kiri saya yang diperpan penuh dibuka malam harinya. Suster tidak memasangkan perban penuh lagi, hanya di area luka saja. Meskipun bisa melihat normal, mata saya menjadi bengkak beberapa hari. Ini normal saja katanya. Suster juga membuka infusan yang sudah habis. Beda dengan operasi terdahulu, untuk operasi mata, infusan cukup diberikan satu labu saja. Katanya untuk menjaga cairan tubuh saat puasa.

Besoknya dokter yang mengecek keadaan mata saya mengatakan bahwa saya sudah boleh pulang hari itu. Alhamdulillah. Bekas operasinya pun tidak begitu sakit lagi, hanya sesekali saja terasa nyerinya. Saya dibekali salep dan dua macam obat untuk diminum tiap hari. Mata kiri saya tidak boleh dulu kena air selama seminggu supaya jahitannya kering.

Selama sebulan pakai perban. Perbannya kegedean jadi kesannya yang luka jidatnya ya. Jahitannya padahal kecil di dekat alis.

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Satu minggu di rumah saya berusaha setelaten mungkin merawat luka bekas operasi, mengganti kain kasanya dua kali sehari, memakaikan salep, dan minum obat secara teratur. Sampai hari kedelapan saya kontrol sekalian membuka jahitan.

Terus terang saja, saya deg-degan menunggu hasil pengecekan lab. Takut ini itu. Alhamdulillah ternyata tumor di mata saya itu jenis lipoma yang merupakan tumor jinak. Memang menurut dokter tidak tertutup kemungkinan akan muncul lagi. Namun kebanyakan kasus lipoma tidak muncul lagi.

Tentang Lipoma

Lipoma itu benjolan lemak yang tumbuh di kulit dan lapisan otot. Sifatnya tidak berbahaya, karena tidak sakit dan pertumbuhannya lambat. Sebenarnya Lipoma seringnya muncul di area punggung, paha, leher, lengan, perut, atau bahu. Meskipun bisa tumbuh di mana saja. Memang kan, nyata pada kasus saya muncul di kelopak mata.

Lebih jelasnya saya kutip penjelasan dari artikel berikut:

Lipoma biasanya memiliki diameter 1-3 cm. Lipoma dapat tumbuh dan menjadi lebih besar, namun umumnya diameternya tidak lebih dari 5 cm. Jika ditekan menggunakan jari, Lipoma akan mudah bergerak, serta terasa lembek seperti karet. Jika lipoma tumbuh makin besar dan mengandung banyak pembuluh darah atau menekan saraf di sekitarnya, lipoma akan terasa sakit.Jika bertahan selama beberapa tahun, ukuran lipoma tidak akan berubah dan pertumbuhannya sangat lambat. Lipoma bisa tumbuh lebih besar dan lebih dalam, namun hal ini jarang terjadi.

Sumber: http://www.alodokter.com/lipoma

Saya lalu bertanya pada dokter, apa penyebab munculnya Lipoma? Kata dokter, penyebabnya belum diketahui. Pada beberapa orang muncul begitu saja tanpa sebab. Namun kemungkinan karena faktor keturunan. Kalau dari artikel yang saya baca, biasanya lipoma ini muncul pada orang dengan range usia 40-60 tahun. Untuk mengetahui benjolan itu lipoma atau bukan harus dicek ke lab atau CT Scan. Pantesan waktu memeriksa saya dokter tidak memastikan dulu penyakitnya apa, karena memang harus dicek dulu ke lab. Saya juga bertanya, bagaimana cara mencegah agar lipoma tidak muncul lagi? Atau adakah perawatan khusus untuk mencegah munculnya lipoma? Jawabannya: tidak ada. Karena asal-usul lipoma ini masih misterius, jadi tidak ada langkah pencegahan maupun cara agar tidak muncul. Namun menurut dokter, untuk mencegah penyakit tumor secara umum adalah dengan menjaga pola dan gaya hidup, serta konsumsi makanan sehat. Semoga saja ke depannya akan diketahui sehingga tidak akan banyak lagi orang yang terkena lipoma.

Kalau kamu mengalami gejala yang saya alami, jangan takut kalau memang harus dioperasi. Serahkan segalanya pada Tuhan.

Itulah cerita saya, semoga bisa bermanfaat.

Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit

Bulan Mei tepat setahun lalu, saya dioperasi kista ginjal. Penyakit kista ginjalnya sendiri saya ketahui mendadak. Selang tiga hari setelahnya, saya masuk ruang operasi, lalu menginap beberapa hari di rumah sakit. Waktu itu, terus terang saya merasa takut. Berbagai macam pikiran berseliweran di kepala. Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran dan kesehatan. Saya pun bisa berkegiatan lagi dan mewujudkan beberapa impian saya.

Namun, saya tak pernah menyangka. Setahun kemudian, saya harus kembali menjalani operasi. Apalagi di bulan yang sama. Cerita kali ini bermula dari beberapa tahun lalu. Seingat saya–yang sebenarnya tak yakin waktu detailnya–sekitar 5 tahunan lalu, muncul benjolan kecil di kelopak mata kiri. Tidak merah dan tidak sakit. Maka saya biarkan saja. Tak pernah sekali pun saya periksakan ke dokter. Tiba-tiba tahun ini secara perlahan tapi pasti, benjolan kecil itu mulai membesar. Hingga 2 minggu lalu saat saya pergi ke Jakarta mengikuti sebuah acara, benjolan itu telah jelas terlihat namun tidak memerah. Esoknya, saat bangun tidur, saya mendapati benjolan itu sudah memerah dan membesar. Saya ingat-ingat, apa yang saya lakukan sebelumnya yang mungkin membuat keadaannya menjadi begitu. Tiap saya migrain, saya memang sering memainkan benjolan itu, seolah pusingnya akan menghilang. Mungkin itu menjadi salah satu penyebabnya.

Saya agak panik melihatnya. Takut mulai menyergap. Takut ada apa-apa. Maka saya pun memeriksakannya ke dokter. Saya diberi obat untuk beberapa hari. Dari dokter pertama itu, saya diberi rekomendasi untuk periksa ke dokter lain yang katanya sering menangani ‘tindakan’ mengangkat benjolan begini. Tapi baru 2 hari, saya sudah datang lagi, pasalnya benjolannya malah makin membesar. Kali ini menemui dokter kedua. Dari beliaulah saya tahu kalau benjolan ini daging, bukan cairan nanah. Sehingga tidak bisa diberi ‘tindakan’ pengangkatan biasa. Harus melalui operasi. Maka saya dirujuk ke RS Cicendo yang merupakan rumah sakit pusat mata nasional.
Di sana, saya ditangani oleh dokter ketiga. Menurut dokter, nantinya benjolan tersebut harus dicek lab untuk mengetahui jenis penyakit tumor apa.

Berita itu tentu saja membuat saya gentar. Terus terang saja, kali ini saya lebih takut lagi. Setelah menjalani dua kali operasi, saya bukan lantas menjadi kebal mendengar kata ‘operasi’, saya malah makin tercenung. Memori saya yang merekam tahap demi tahap operasi membuat tubuh kian menggigil. Selama dua minggu ini tiap malam saya dihantui mimpi buruk. Saya didera kecemasan dan insomnia. Kadang berkelebat pertanyaan, “Mengapa saya lagi, Tuhan?” Namun di kala datang kesadaran, saya paham, segalanya tentu memiliki arti.

Saya pun enggan bercermin dan bertemu orang. Beberapa pekerjaan yang mengharuskan tatap muka atau liputan saya batalkan. Tapi tak lantas saya memperlihatkan kemurungan di media sosial. Saya masih berceloteh tentang drama Korea dan film-film yang saya tonton untuk melepas gundah. Saya hanya mengerjakan pekerjaan yang sudah saya terima jauh sebelumnya. Mengejar sesegera mungkin selesai sebelum jadwal operasi. Di tengah stres yang melanda, saya bersyukur masih bisa bekerja di rumah, meski saya bahkan merasa mendapat sebuah keajaiban tiap kali ada tulisan atau postingan yang saya selesaikan.
Entah Allah merencanakan apa untuk saya. Namun, di waktu-waktu ini saya menjadi lebih dekat dengan Rasi dan keluarga. Bermain bersamanya bersama Prajurit Rumput di rumah. Memang, kalau saya tak mesti pergi ke RS untuk pemeriksaan ini itu yang menghabiskan waktu seharian, saya akan stay sepenuhnya di rumah.

Saya pernah cerita tahun lalu, saya sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Karena sewaktu kecil Rasi sering sakit, belum lagi saat saya yang sakit. Entah berapa lama kalau waktu-waktu itu dikalkulasikan.
Ke depannya, saya tak keberatan berada di rumah sakit, tapi untuk hal-hal membahagiakan seperti menjenguk teman yang melahirkan. Bukan hal-hal murung. Bukan yang mengguratkan kecemasan di wajah keluarga.
Saya berdoa sepenuh hati untuk itu. Saya serahkan segalanya kepada Allah. Karena hanya Tuhan satu-satunya pelindung dan penyembuh.

Insya Allah, operasi saya dilaksanakan besok. Saya minta doa teman-teman semua untuk kelancarannya.
Peluklah saya dengan doa.
Semoga Allah mengijabah, mengusir segala ketakutan dan memberi kesehatan. Dan semoga segala doa baik itu memeluk kalian juga.

Bismillahirrahmannirrahim.

***Ditulis di ruang tunggu pemeriksaan