[Blog Tour] Review + Giveaway Buku ‘Personal Branding: Sukses Karier di Era Milenial’ Karya Dewi Haroen

Saya jarang membaca buku nonfiksi kecuali untuk kebutuhan riset penulisan novel. Seringnya baru membaca ketika memang butuh dalam pengembangan karier, atau sedang dalam satu fase kehidupan yang memerlukan ‘guide‘ dari buku. Saat ini saya sedang menulis novel tentang dunia media sosial, dan memang profesi saya sebagai penulis dan bloger kesehariannya tidak jauh dari dunia maya. Maka ketika buku ini mendatangi saya, saya seperti diberi jalan untuk belajar dari buku dan pengalaman penulisnya untuk perkembangan karier sekaligus memenuhi kebutuhan riset penulisan.

Data Buku

Judul : Personal Branding: Sukses Karier di Era Milenial

Penulis : Dewi haroen

Penerbit : DH Media

Tebal : 228 Halaman

ISBN : 9766025157400

Blurb :

Sukses karier bukan rumus matematika sederhana. Di dunia nyata, seseorang hard & good worker belum tentu kariernya gemilang. Terjadi “dinamika antara citra dan realita” yang berdampak terhadap kesuksesan dan kegagalan karier seseorang. Juga dalam kehidupan. Orang baik belum tentu dipersepsikan sebagai orang baik, orang kompeten belum tentu dikenal sebagai orang kompeten. Demikian sebaliknya, dimana persepsi seringkali tak sama dengan realita. Sehingga performance yang bagus saja belum cukup.

Dalam konteks persaingan karier, hanya orang-orang yang mampu menampilkan persepsi diri secara kreatif dan menarik yang sanggup meraih sukses dan keberhasilan. Khususnya di era milenial dimana berbagai informasi menyebar secara cepat dan instan. Anda harus mengontrolnya supaya selalu positif. Namun mayoritas profesional ‘zaman now’ tak menyadari.

Untuk itu Anda perlu personal branding agar terlihat dan terpilih di antara sekian banyak kandidat. Agar meraih sukses di karier dan kehidupan. Bagaimana cara yang benar membangun personal brand, semuanya akan dibahas tuntas di buku ini. Jadi, apa pun profesi dan latar belakang Anda, pastikan Anda membaca buku ini!

Review

Beberapa tahun ini saya tertarik dengan pembahasan personal branding. Ternyata karier apa pun itu tidak terlepas dari personal branding. Apalagi saya menekuni karier yang erat kaitannya dengan media sosial, dimana saya mesti sering-sering tampil. Sejak dulu saya merasa ketika mencitrakan diri di publik, baik itu secara online maupun offline, menjadi pribadi lain dari diri itu akan sangat melelahkan. Dari pengalaman, saya lebih memilih memperlihatkan sebagian hal saja ketimbang memaksakan diri jadi orang lain. Selain capek, sulit juga menjaga konsistensinya. Ternyata itu memang sejalan dengan prinsip personal brand. Seperti yang tertulis dalam buku ini:

Personal brand yang asli (otentik) merefleksikan karakter, kompetensi, dan kekuatan diri Anda yang sesungguhnya. –Halaman 17

Buku ini membahas serba-serbi mengenai personal branding dari hal-hal mendasar, seperti pengertian dari Ibu Dewi sendiri maupun dari para pakar. Dijelaskan bahwa ‘personal brand‘ adalah merek atau diri yang dimiliki seseorang, sedangkan personal branding merupakan strategi komunikasi yang dilakukan seseorang untuk membangun merek tersebut.

Personal Brand adalah diri kita sendiri, siapa diri kita dan hal spesial apa yang kita kerjakan. Merepresentasikan nilai yang kita yakini, kepribadian kita, keahlian kita dan kualitas yang membuat kita unik di antara yang lain. –Halaman 6

Mungkin ada yang mengira-ngira tidak merasa memiliki merek, sehingga tidak memerlukan strategi personal branding ini. Padahal semua yang memiliki nama pastilah memiliki merek, dalam kasus seseorang, merek adalah nama yang melekat padanya. Sehingga pada hakikatnya ternyata setiap orang perlu membangun personal branding. Penulis menerangkan apa keuntungan memiliki personal branding dan apa kerugian apabila kita tidak memilikinya.

Pembahasan buku ini disampaikan dengan lugas dan bahasanya mudah dicerna. Sehingga menurut saya, orang yang awalnya awam mengenai personal branding pun akan mengerti dan paham. Apalagi disertai oleh ilustrasi-ilustrasi menarik yang mendukung sehingga visual bukunya membuat mata dapat terus tertarik membuka lembar demi lembar berikutnya. Juga terdapat penekanan pada hal-hal yang sangat penting seperti tulisan yang diberi ukuran, font, dan tipografi berbeda yang dimaksudkan agar memudahkan pembaca merekam pesan yang ingin disampaikan penulis. Terus terang saja, saking banyaknya hal penting dalam buku ini, saya sampai kesulitan menandainya ^^

Personal branding adalah strategi untuk membentuk persepsi orang tentang diri Anda. Meski demikian, personal brand yang dibentuk haruslah bersumber dari bukti-bukti yang otentik, nyata dan asli. –Halaman 17

Buku ini dapat menjadi guide untuk membangun personal brand dengan tujuan menciptakan respons emosional dari orang lain terhadap identitas diri kita pribadi sebagai seseorang yang memiliki kualitas dan nilai. Banyak alasan tentunya mengapa kita atau merek kita ingin dilihat dan ‘dipilih’ orang lain. Beberapa di antaranya eksistensi, untuk bertahan hidup, dan mencari penghidupan. Bicara personal brand menurut saya bicara tentang bagaimana agar ‘terlihat’.

Memang dari milyaran orang di dunia, setiap orang berbeda. Memiliki keunikan dan kekhasan sendiri. Seharusnya menguarkan warna sendiri. Kerlip yang tak sama semestinya membuat setiap orang mudah ditemukan. Nyatanya… betapa banyak hal yang mesti dilakukan untuk ‘terlihat’ dari gempuran perbedaan itu. Tetap butuh effort untuk menunjukkan diri. Menyalakan sinar yang lebih terang untuk dapat terlihat.
Lalu apa yang mesti dilakukan untuk terlihat? Menjadi diri sendiri yang otentik tapi terus mau berkembang.

Pertanyaannya kemudian, harus mulai dari mana? Ibu Dewi menjelaskan ada 3 tahapan untuk memulai, yaitu: pemahaman diri, pengembangan konten, dan promosi diri. Ternyata tahap awalnya adalah mengenali diri sendiri dulu. Namun seringkali kita tak dapat menjawab secara tuntas pertanyaan mendasar, ‘Seperti apa kita ini?’ Pada tahapan ini kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dapat menjelaskan diri kita, yaitu, ‘Siapa Anda? Apa yang Anda kerjakan? Dan apa yang membuat Anda berbeda?’ Untuk menemukan diri yang otentik tersebut, kita dapat intropeksi diri, meminta pendapat orang lain, mengikuti tes assesmen psikologi, dan lewat analisis SWOT. Dari hasil analisis itulah kita dapat merumuskan kekuatan dan kekurangan kita yang nantinya bermuara pada apa-apa saja kekhasan yang harus ditonjolkan.

Seperti judulnya yang menyinggung mengenai sukses berkarier di era milenial yang erat kaitannya dengan dunia digital, buku ini menjelaskan tentang membangun personal branding dari jejak online maupun aktivitas offline yang sama pentingnya. Tools atau perlengkapan tempur apa saja yang diperlukan dan dipersiapkan untuk strategi online maupun offline. Berisi juga tips apa-apa yang baik dilakukan dan tidak boleh diperbuat. Setiap tahapan dijelaskan secara terperinci sehingga step by step-nya mudah dipraktikkan.

Adapun kekurang buku ini adalah terdapat banyak saltik, meskipun tidak mengganggu pesan yang disampaikan. Saya berharap ada buku lanjutannya yang membahas studi-studi kasus yang lebih mendalam.

Saya rekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin membangun personal branding dari hal mendasar.

Rating 3,5 dari 5 bintang.

Giveaway Time!

Mau buku Personal Branding? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun IG @dewiharoen dan @perpustakaaneva

2. Sebar info giveaway ini dengan tagar #PersonalBranding dan mention saya. Boleh di insta story atau twitter. Untuk Twitter silakan mention saya di @evasrirahayu

3. Peserta harus memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

4. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun IG atau twitter kamu.

Kamu pengin dikenal sebagai apa?

5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 12-17 Juni 2018. Satu pemenang akan mendapat buku Personal Branding. Pengumuman pemenang pada tanggal 18 Juni 2018 jam delapan malam di akun Twitter dan IG saya.
Ditunggu partisipasinya ^_^
Advertisements

6 Hal Menarik dari Mudik Sido Muncul 2018

Tahun 2017 lalu, saya merasakan mudik sesungguhnya. Sebelumnya saya beberapa kali ikut mudik ke kampung halaman Ayah pada lebaran Idulfitri. Namun saat itu beda, saya benar-benar mudik ke kampung halaman saya sendiri. Waktu itu malam lebaran Iduladha. Sehari sebelumnya, saya masih berjibaku dengan pekerjaan, mati-matian berusaha menyelesaikannya supaya besoknya bisa berkumpul dengan keluarga, ikut salat Iduladha berjamaah di tengah keluarga. Muka-muka lelah sekaligus bersemangat itu pulalah yang saya lihat pada rekan-rekan saya. Waktu itu kami sedang bertugas di Jakarta yang jaraknya tidak seberapa jauh dengan kota tempat saya bernaung: Bandung. Kami berdebar-debar karena malam takbiran sudah bisa diperkirakan tiket semua armada yang tersisa sudah pasti berebut dibeli, belum lagi keadaan jalan yang jauh dari lengang, riuh oleh lalu lalang kendaraan yang membawa wajah-wajah penuh kerinduan akan rumah. Kami memang akhirnya mendapat tiket bus pulang, namun waktu tetap was-was takut ketinggalan kendaraan karena tugas belum juga tuntas. Selepas menyerahkan pekerjaan dengan wajah dipenuhi peluh, cepat-cepat kami memesan kendaraan daring menuju pool bus. Alhamdulillah, meski hampir saja ketinggalan, bus yang akan membawa kami ke Bandung belum berangkat. Nyaris. Pemudik sudah memenuhi bus, karena itu kami menempati tempat-tempat duduk tersisa. Itu saja sudah bersyukur. Tak lama, bus pun membawa kami menembus kemacetan diiringi gema takbir yang menggetarkan.

Pengalaman berharga mudik saya itu, mungkin baru seujung kukunya dari pengalaman para pemudik yang tiap tahun ikut dalam program mudik gratis Sido Muncul yang pulang ke tempat-tempat yang lebih jauh. Tahun ini usia program tersebut menginjak 29 tahun. Menjadi semacam tradisi yang tetap dipertahankan. Suatu prestasi luar biasa dalam konsistensi program, bukan?

5 Hal Menarik dari Mudik Sido Muncul 2018

Selalu ada hal menarik dalam mudik, termasuk mudik Sido Muncul tahun 2018 ini.

Bus-bus yang disediakan Sido Muncul untuk para pemudik

1. Mudik gratis Sido Muncul tahun 2018 merupakan pelaksanaan kedua puluh sembilan kali. Artinya hampir menginjak 3 dasawarsa. Memperlihatkan komitmen yang tidak main-main dari Sido Muncul untuk memberi fasilitas pada para pedagang jamunya.

Pak Irwan Hidayat di konferensi press mudik Sido Muncul 2018

2. Jumlah pemudik yang diberangkatkan berjumlah sekitar 13.000 orang yang terdiri bukan saja dari para pedang jamu produk Sido Muncul, tetapi juga tukang parkir, sampai tukang bakso. Mereka-mereka ini yang mendaftarkan diri mengikuti program mudik gratis via distributor. Sehingga para pemudik sangat terdata.

Ribuan pemudik yang mengikuti program mudik gratis Sido Muncul 2018

3. Ada yang berbeda dari fasilitas yang diberikan oleh Sido Muncul untuk para pemudik, yaitu seluruh bus yang digunakan sudah ber-AC. Tujuannya tentu agar perjalanan lebih nyaman. Sebuah pengalaman baru untuk pemudik yang sebelum-sebelumnya setia mengikuti program ini. Sido Muncul mengerti bahwa mudik merupakan perjalanan panjang dan melelahkan, sehingga pihak mereka ingin memberi service lebih di tahun ke-29 ini.

Para pemudik menaiki bus ber-AC

4. Bus yang memberangkatkan pemudik berjumlah 220 bus. 114 bus berangkat dari Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur pada hari Sabtu tanggal 9 Juni 2018. Pelepasannya dihadiri oleh Walikota Administrasi Jakarta Timur Drs. Bambang Musyarawdana dengan Direktur Sido Muncul Pak Irwan Hidayat. 106 bus lagi diberangkatkan dari Sukabumi, Bandung, Tangerang, Cilegon, Serang, Cikampek, Bogor, dan Cibinong. Bus-bus tersebut memiliki 8 kota tujuan, yaitu Cirebon, Kuningan, Tegal, Banjarnegara, Solo, Wonogiri, Yogyakarta, dan Gunung Kidul.


Mudik Sido Muncul memang hanya memulangkan para pemudik, nantinya mereka kembali ke perantauan dengan perjalanan masing-masing. Soalnya ini terkait dengan jadwal kepulangan pemudik yang beda-beda. Ada yang baru kembali setelah berbulan-bulan, ada yang cepat pulang ke pengambaraan. Tergantung kebutuhan masing-masing. Karena jadwal yang variatif itu, tentunya sulit untuk mengalokasi kebutuhan semua pemudik. Namun, pihak Sido Muncul tetap membiayai armada untuk pulang pergi.


5. Untuk keamanan pemudik, tidak tanggung-tanggung, Sido Muncul bekerja sama dengan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Seluruh pengemudi bahkan melakukan tes urine dulu, pengecekan ini untuk melihat kondisi fisik mereka. Apakah prima mengendarai bus untuk perjalanan jauh. Tentunya untuk keselamatan bersama. Cukup ketat juga standar Sido Muncul, ya.


6. Tahun ini di acara mudik, Sido Muncul bikin launching produk varian baru Kuku Bima Energi plus Vitamin C yang merupakan minuman berenergi mengandung vit. C buat menjaga daya tahan tubuh. Duduk lama membelah jalanan membutuhkan stamina tinggi kan ya….

Jika dibandingkan dengan acara mudik-mudik Sido Muncul sebelumnya, memang ada penurunan jumlah pemudik. Menurut Direktur Utama Sido Muncul Pak David Hidayat, hal itu disebabkan karena perekonomian para pedagang jamu semakin membaik, selain karena sudah banyak juga perusahaan lain yang menyelenggarakan mudik gratis. Saya jadi teringat perbincangan dengan Pak Irwan Hidayat dulu-dulu, beliau bercerita bahwa program-program sosial Sido Muncul memang bertujuan untuk menjadi semacam pionir yang ingin menginspirasi perusahaan lain agar suatu ketika menjalankannya juga.

Sekilas Sejarah Mudik Gratis Sido Muncul
Pak Jonatha Sofjan Hidajat memiliki ide mudik gratis sebagai ungkapan terima kasih pada para pedagang jamu Sido Muncul. Ide itu disambut baik sehingga dapat dilaksanakan. Tahun 1991 merupakan tonggak sejarah dimulainya tradisi mudik gratis ini. Waktu itu di Lapangan Parkir Timur Senayan, 17 bus yang membawa 1.200 pedagang jamu gendong, pedagang jamu asongan, dan para pembantu rumah tangga diberangkatkan menuju kampung halaman mereka. Acaranya sederhana saja, Manajer Marketing Sido Muncul yang waktu itu dijabat Pak Kris Irawan melepas pemudik dengan suka cita. Barulah tahun 1994 konsep mudik gratis semakin dimatangkan. Sebelum berangkat, para pemudik diberi hiburan dan pelepasannya pun dihadiri pejabat dan media. Sido Muncul berharap acara ini dikabarkan lebih jauh, agar semakin banyak para pemudik yang dapat diakomodir kebutuhannya oleh pihak perusahaan.

“Setiap tahun, usai acara mudik, kami turut senang karena bisa melihat kebahagiaan para pemudik,” ujar Pak Irwan Hidayat.

Bersama Pak Irwan Hidayat, Teh Ani, dan Evi

Saya dapat membayangkan, ada banyak hati yang lega saat menuju kepulangan. Ada lelah perantauan, perpisahan terpaut jarak, tumpukkan pekerjaan, dan kerinduan yang menyesakkan akan segera tandas oleh hangatnya pelukan dan senyuman orang-orang tercinta di kampung halaman.

[Blogtour] Review + Giveaway Novel Horor Klenik ‘Karung Nyawa’ Karya Haditha

Ini kali kedua saya membaca novel karya Haditha, setelah sebelumnya membaca Anak Pohon dua tahun lalu. Cukup penasaran dengan perkembangan penulis.

Data Buku

Judul : Karung Nyawa

Penulis : Handitha

Penerbit : Bukune

Tebal : 220 Halaman

Penyunting : MB Winata

ISBN : 97860222202653

 

Blurb :

Johan Oman, Pemilik Konter Pulsa

Ah, kejadian lagi, padahal belum juga hilang ingatanku akan kejadian mengerikan itu! Udahlah, tutup konter saja!

 

Janet Masayu, Pemandu Karaoke

Pacarku memang benar-benar trauma akan kejadian itu. Sekarang dia nggak mau keluar sama sekali dari konter pulsa kecilnya. Harus bagaimana ya kalau sudah begini…

 

Zan Zabil Tom Tomi, Penjaga Warnet

Menarik! Polisi saja tidak sanggup memecahkan misteri ini.

Sepertinya sudah perlu detektif partikelir yang lama nganggur ini turun tangan.

 

Tarom Gawat, Cucu Dukun

Gawat… gawat… GAWAT!

 

Empat pemuda bekerja sama menyelidiki kasus ganjil yang menggegerkan desa. Mereka tidak pernah menyangka akan berada di ranah klenik nan mistik yang membuka rahasia masa lalu kelam Purwosari.

Bukan hanya soal pesugihan dengan tumbal, tapi jauh lebih mengerikan lagi, perihal legenda Toklu—Pemulung pemburu kepala manusia yang mungkin benar adanya.

 

Kini mereka harus menghadapi tantangan terbesar ketika mendapati bahwa pemburu dan mangsa terakhir dari semua ini lebih dekat dari yang mereka kira.

Review

Saya tidak menyangka, kover novel “Karung Nyawa” yang menarik itu buatan penulis sendiri. Gambar seorang pemulung dilatari jalan setapak sewarna darah bertuliskan judul dan nama penulis sangat eye catchy karena background-nya warna kuning polos. Simpel, misterius, dan warnanya mencuri perhatian. Ketika melihatnya di display di toko buku, mata akan mudah menemukan buku ini.

Kemudian, desain sampul belakangnya pun bagus. Sebelum blurb, tampak sobekan kertas berita acara pemeriksaan kepolisian. Kata-kata yang dipilih dalam blurbnya pun memancing rasa penasaran. Sudah memberi gambaran mengenai 4 tokoh utama dalam novel ini beserta dengan kasus yang mereka hadapi.

Sejak membaca bab-bab awal novel ini, saya dibuat jatuh cinta dengan teknik penulisan Haditha. Teknik penulisannya berbeda dengan novel Anak Pohon. Saya mendapati perkembangan Haditha cukup pesat. Penulisan Haditha enerjik, lugas, kaya kosakata, diksinya menarik, memiliki humor samar, dan kental lokalitas. Nuansa lokalitasnya bahkan sudah dibangun dari pemilihan judul babnya, memakai bahasa Jawa. Dialog para tokohnya pun sering memakai bahasa Jawa, pembaca diberi footnote terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Karena tidak begitu banyak, jadi saya tidak merasa terganggu. Namun cukup memberi aksen lokalitas dan penguatan untuk para karakternya. Kemudian, di antara kata-kata yang saya sukai, ini kutipan favorit saya:

Hidup mandiri itu ya jangan sembunyi kalau ketemu cobaan. Harus bangkit. Harus hadapi masalah. –halaman 40

Sejak bab pertama saya langsung larut dalam cerita. Pengenalan tokoh dan sungguhan konflik berjalan beriringan. 4 tokoh utama diperkenalkan satu per satu tanpa basa-basi, lengkap dengan latar belakang masa lalunya. Tokoh di novel ini bertebaran, tapi saya tidak dibuat pusing karena masing-masing tokoh memiliki ciri khas pembeda. Seperti novel sebelumnya, karakter-karakter yang dibangun penulis sangat kuat dan chemistry antara mereka terasa sekali. Bisa dibilang saya menyukai seluruh tokoh dalam Karung Nyawa. Mereka lovable dan menyedot perhatian dengan caranya sendiri. Tokoh favorit saya Simbah nenek Johan Oman. Yang menarik lagi, di novel ini sempat disinggung tokoh Nuansa yang merupakan tokoh utama di Anak Pohon.

Konfliknya Karung Nyawa disampaikan langsung dari bab pertama dengan lugas. Sejak awal novel ini beritme cepat, sehingga saya tidak diberi waktu merasa bosan. Berbeda dengn saat membaca Anak Pohon yang konfliknya tak begitu rapat, Karung Nyawa menyajikan misteri yang padat. Meski begitu, saya cukup terkejut ketika membaca bab-bab awal novel ini karena di antara berbagai konflik ketegangan saya masih bisa tenang dan senyum-senyum sendiri. Pemilihan kata Haditha yang mengandung humor samar inilah penyebabnya. Semakin lama, tensi konflik makin tinggi dan kemunculan serta deskripsi hantu dan sebangsanya dalam novel ini makin detail sehingga saya jadi panas dingin. Horor klenik, pesugihan, dan topik Toklu (pemulung pemburu kepala manusia) yang diusung Haditha ini begitu mudah related dengan kehidupan sehari-hari. Sewaktu kecil saya juga mendengar desas-desus mengenai Toklu ini, padahal saya dan Haditha secara geografis berbeda, karena itu isu Toklu ini menjangkau luas sekali. Terus terang saja, saya ini penakut sekali, sehingga membaca Karung Nyawa dibutuhkan ketabahan level tinggi saking mencekam dan meneror. Satu kata untuk buku ini: GAWAT! Seperti kata favorit tokoh Tarom Gawat yang memiliki kemampuan khusus dapat melihat makhluk gaib. Namun ada satu hal yang ganjil buat saya, kenapa polisi tidak bisa menemukan identitas korban melalui sidik jari?

Ngger, anak muda penerus generasi jangan sempit pikirannya, yo.”

–Halaman 51

Nilai tambah lain dari novel ini adalah pesan moral yang disisipkan dengan baik dalam banyak bab.  Di akhir kisah, Haditha menyiapkan twist ending yang cukup nendang. Pembaca yang tidak mengendus pelakunya akan terperenyak.

4 bintang untuk novel Karung Nyawa. Saya rekomendasikan untuk para pencinta horor dan siapa saja yang menginginkan sensasi adrenaline rush.

Giveaway Time!

Mau novel Karung Nyawa? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun IG @haditha_m dan @perpustakaaneva

2. Sebar info giveaway ini dengan tagar #KarungNyawa dan mention saya. Boleh di insta story atau twitter. Untuk twitter silakan mention saya di @evasrirahayu

3. Peserta harus memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

4. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun IG atau twitter kamu.

Ketika membaca novel horor, sensasi apa yang kamu harapkan dan apa yang ingin kamu dapat dari bacaan itu?

5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 8-12 Juni 2018. Satu pemenang akan mendapat novel Karung Nyawa. Pengumuman pemenang pada tanggal 13 Juni 2018 jam delapan malam di akun twitter dan IG saya.
Ditunggu partisipasinya ^_^

[Review] Novel “False Beat” Karya Vie Asano

False Beat yang merupakan novel debut Vie Asano sudah mencuri perhatian saya sejak pertama kali melihat cover novelnya.  Tema musik dipadu kisah anak kembar menjadi magnet tersendiri.

DATA BUKU

Judul: False Beat
Penulis: Vie Asano
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020382265
Tebal: 294 Halaman
Terbit: Maret 2018

Blurb:

”Nggak usah lihat-lihat. Gawat kalau lo nanti suka sama gue.”

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan, kalau saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh punya wajah ganteng, bibir seksi, penampilannya keren, dan suara yang bagus banget. Tapi, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan!

Aya pun mencari cara untuk mengendalikan Keanu agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar yang disimpan Keanu yang membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.

ULASAN BUKU

Cover novel ini kece banget. Seorang cowok lagi nyanyi dengan atraktif. Mukanya enggak diliatin, jadi pembaca bisa membayangkan sendiri seperti apa wajahnya. Dari cover-nya udah kebayang tema besar yang diangkat: dunia hiburan dengan dramanya. Blurb alias sinopsis belakang cover, menarik, menggambarkan konflik, dan bikin penasaran buat baca

Pembagian babnya unik, nyesuain sama tema musiknya. Prolog disebut sebagai ‘intro’ sedang babnya dinamai ‘verse’, ‘Chorus’ dan istilah musik lainnya. Suka deh!
Ini saya jadi tahu istilah verse. Bab prolog alias intro dibuka dengan tokoh Aya yang terkejut saat menonton berita tentang skandal Keanu dari band Keanu & the Squad yang akan dimanajerinya. Wajarlah Aya syok karena cewek itu belum berpengalaman di industri hiburan, dan secara baru pulang dari Jepang setelah kerja di sana selama 3 tahun. Prolognya cukup menarik karena sudah disuguhi konflik.

Kemudian bab-bab awal novel ini berjalan dengan tempo cepat yang pas. Perkenalan para tokoh langsung dibalut dengan mengemukanya masalah demi masalah antara Aya dan Keanu, membuat cerita jadi langsung seru! Penulis seperti enggak mau buang-buang waktu sehingga emosi pembaca sudah diaduk-aduk sedari awal.

Baca novel ini betah, soalnya bahasanya renyah, dan dialognya hidup.
Juga… kocak!
Humornya dapet. Terhibur deh bacanya.
Obrolan antara Aya dan Keanu berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri.
Dialog Aya dengan band the Squad dan sahabat-sahabatnya juga terasa natural.

Dalam novel ini banyak istilah musik dan dunia hiburan. Kayak misalnya road manager, stage manager, chorus, kunci-kunci nada, dan lainnya. Jangan khawatir enggak ngerti, karena ada catatan kaki buat penjelasannya. Untungnya gak begitu banyak, jadi enggak pusing sering-sering liat ke bawah. Sebagian istilah dijelasin sama narasi dan dialog soalnya. Lumayan nambah pengetahuan 😎
Keliatannya penulis cukup melakukan riset, sehingga dunia hiburan dan musik jauh dari tempelan. Pembaca beneran diajak memasuki dunia musik yang ajaib. Vie juga memberi selipan-selipan tentang Jepang. Pembaca dibuat percaya kalau Aya memang beneran abis magang di Jepang. Penulis kalau gak salah memang menyukai hal-hal berbau Jepang.

Kemudian, saya pernah cerita berharap baca adegan konser yang epic. Dan saya cukup terpuaskan dengan adegan konsernya. Sebagai pembaca saya dapat membayangkan seperti apa merindingnya berada di konser itu 😎

Ada satu hal lagi yang mencuri perhatian saya. False Beat menceritakan tokoh kembar! Kembar cowok, tokohnya Keanu kembar dengan Kevin. Mereka digambarkan sebagai kembar yang hubungannya kurang baik.
Bukan hal aneh memang, berdasar pengamatan, anak kembar cowok memang cenderung gak seakrab kembar cewek atau kembar cewek-cowok.
Tapi… hubungan Keanu dengan Kevin ini bisa dibilang rumit! Nah, apa kerumitannya? Mesti baca sendiri deh.

Lalu para tokohnya….
Pertama, tokoh si kembar Keanu dan Kevin ini combo keren! Keduanya sama-sama bikin jatuh cinta. Penulis pinter aja nih bikin pembaca kayak saya meleleh.
Keanu dan Kevin wajahnya identik, suaranya persis, yang bedain secara fisik cuman Kevin berkacamata.
Kalau sifatnya? Keduanya punya kekurangan yang jelas. Yes, saya suka nih tokoh kayak gini.
Kedua, Aya. Tokoh ini tipe karakter komikal dan ekspresif. Kelakuannya lucu, meskipun enggak sampai bisa disebut ajaib.
Ketiga, Key. Dia adalah teman Keanu dan Kevin yang cantik dan baik hati. Pembaca enggak akan sulit menebak hubungan apa yang terjadi antara ketiga tokoh itu. Kabar baiknya, Key ini saingan yang sepadan buat Aya. Bukan tipe bitchy soalnya. Yang begini lebih mengaduk emosi saya sebagai pembaca.

Romansa Aya dan tokoh utama cowok ‘False Beat’ terjalin dengan natural. Perkembangan emosi di antara mereka berjalan sedikit-sedikit sehingga terasa gereget! Saya menikmati adegan demi adegan yang terus terang bikin saya ikut-ikutan ngerasa deg-degan.

Di blurb disebutkan kalau Aya mengetahui rahasia kelam Keanu yang bikin hidupnya sebagai manajer makin dramaaaa!
Bisa dibilang, saya enggak menyangka ini rahasianya begitu. Dapetlah twist-nya.
Rahasia ini bikin saya makin bersimpati pada Keanu.
Apa rahasianya? Baca sendiri ya.

Makin ke belakang, kisah di False Beat ini makin seru, kompleks, dan menyentuh.
Dramanya gereget 😍 Klimaksnya dapet. Saya berhasil dibikin nangis. Huaaaa 😭😭😭
Hampir seluruh pertanyaan terjawab tuntas. Termasuk pertanyaan yang langsung terpikir saat membaca betapa ngototnya Om Putra–omnya Aya–untuk menjadikan keponakannya itu manajer Keanu and the Squad. Padahal Aya itu kan enggak punya pengalaman banget.

Berhubung ini novelnya ngebahas anak kembar, jadi kepancing buat komentar dikit soal itu. Kalau kata Evi, anak kembar akan cenderung memihak tokoh yang paling mirip dirinya. Tapi kami sih sebenernya akan memihak siapa pun anak kembar yang kami rasa mendapat ruang kurang dalam satu cerita. Di novel ini sebenernya penulis sudah cukup memberi porsi seimbang antara Keanu dan Kevin, tapi ada satu yang menggantung. Kisah percintaan salah satunya.
Kisah si kembar Keanu dan Kevin termasuk yang nyesek-nyesek gimana…. Cerita tentang anak kembar memang suka bikin kebawa baper 😆

Kalimat yang paling saya suka di novel ini:

Setiap orang pasti punya dua wajah yang saling bertolak belakang (halaman 267).

Kesimpulannya…. Novel ini menghibur, bikin senyum-senyum, baper, deg-degan, gemes, dan ngasih pengetahuan soal dunia hiburan juga.

4 dari 5 bintang

5 Nasi Goreng Terlaris di Bandung Karena Rasanya yang Spesial

Pernah ngalamin, nggak? Ketika nafsu makan lagi labil-labilnya, suka bingung mau makan apa. Liat makanan ini nggak nafsu, liat makan itu kurang selera. Buat saya sih ada 2 jenis makanan yang biasanya ampuh meredam kelabilan itu. (((Kelabilan))) XD 2 makanan itu nasi goreng dan bakso. Jadi inget berita yang sempet viral tentang Barack Obama yang bilang kalau makanan kesukaannya bakso dan nasi goreng. Nasi goreng—dari yang bumbunya paling sederhana sampai yang rumit karena masukin banyak rempah-rempah—selalu berhasil bikin saya ngabisin sepiring makanan. Nasi goreng memang makanan segala cuaca dan semua suasana. Iya, nggak? Apalagi di Bandung enggak susah nyari tempat makan nasi goreng, jadinya buat kamu nasi goreng die hard fans, udah pas banget kalau liburan ke Bandung. Di antara sekian banyak, ini 5 nasi goreng terlaris di Bandung karena rasanya yang spesial. Continue reading

[Review] Novel Caramellove Recipe: Warna-warni Teen Cooking Competition

Ketika acara Master Chef Indonesia baru digelar, saya pernah punya impian untuk menulis novel bertema kompetisi memasak. Sayangnya naskah itu tak pernah mengalami kemajuan dari sinopsis saja. Makanya saya penasaran sekali ketika Lia Nurida menulis novel bertema kompetisi memasak. Saya sudah penasaran garis keras pada novel ini sejak  nyicip bab-bab awal di web Gramedia Writing Project dulu dan langsung jatuh cinta. Waktu itu saya mikir, bakalan juara nih… ternyata beneran juara! Novel ‘Caramellove Recipe’ berhasil menyabet  juara harapan 1 di lomba GWP3 tahun 2017 lalu.
Saya jadi penasaran, naskahnya bakal berubah sejauh apa nih setelah mengalami penggodogan proses revisi dan lainnya. Tapi saya yakin bakalan makin yummy.

Seperti biasa, saya ngepoin proses penulisan novel yang diulas di blog ini. Ini dia hasil obrolannya.

Berkenalan dengan Lia Nurida

Lia Nurida, lahir di Jombang – Jawa Timur, 1 Oktober. Lulusan Universitas Brawijaya – Malang yang kini menetap di Ciputat, Tangerang, Selatan.
Pengagum musik McFly dan Greenday. Pecinta kopi dan bubur ayam. Penggemar serial drama korea genre crime and thriller.
Menulis adalah caranya untuk bersenang-senang, membaca adalah caranya untuk berbahagia, travelling adalah caranya untuk menikmati hidup, dan nonton film adalah caranya untuk menghabiskan waktu senggang.
Caramellove Recipe adalah novel ketiganya setelah Pemetik Air Mata (2014) dan Let Me Love, Let Me Fall (2013).
Sosoknya bisa dikenal lebih jauh melalui akun IG @lianurida

Mengenal Lebih Jauh Lia Nurida di Sesi Wawancara

1. Saya: Ceritakan dari mana ide menulis novel ini?

Lia: Saya penggemar berat acara Masterchef US dan nggak pernah ketinggalan satu episode pun di tiap season-nya. Sebenarnya keinginan untuk membuat cerita berdasarkan acara tersebut udah ada sejak lama, tapi belum ada ide yang spesifik. Sampai akhirnya, pas saya lagi nonton episode 11 di season 5, di acara tersebut para peserta diminta untuk membuat makanan Italia bernama Caramelle, yaitu salah satu jenis pasta yang bentuknya menyerupai permen. Nah dari nama pasta itulah muncul ide ini. Kok lucu gitu kayaknya kalo bisa jadi cerita.

2. Saya: Ceritakan kejadian mengesankan saat menulis novel ini.

Lia: Kejadian mengesankan sewaktu menulis novel ini, hmm apa ya. Mungkin karena deadline-nya yang mepet banget setelah pengumuman pertama, kurang lebih 3 mingguan, jadi yaaa agak pontang panting gitu nyelesaiin naskahnya. Karena saya nggak mempersiapkan riset apa pun sebelumnya. Karena dari 400-an peserta benar-benar nggak nyangka bisa masuk ke 90 besar. Jadi selama 3 minggu itu saya mendadak jadi wanita super gitu. Kuat nggak tidur, kuat nggak makan, kuat duduk lama, demi bisa selesaiin naskah ini tepat waktu, di tengah-tengah kesibukan saya lainnya.

3. Saya: Novel ini menang lomba GWP Batch 3 kan ya… Ceritakan dong gimana ‘keseruan hati’ waktu pengumumannya.

Lia: Sempet bengong, waktu MC nyebutin judul novel saya ini sebagai pemenang harapan 1. Nggak ada sama sekali bayangan bakal menang juara berapa pun. Karena sewaktu menyelesaikan naskah dan datang ke expert class waktu itu, tujuan saya cuma ingin ketemu sama teman-teman sesama penulis, ketemu editor-editor GPU dan mentor-mentor yang famous-famous itu. Jadi ya, sewaktu diumumkan saya menjadi salah satu pemenang, sempat bengong beberapa detik karena nggak nyangka.

4. Saya: Ceritakan riset untuk kompetisi dan pengumpulan resep dalam novel ini. Apakah resep-resepnya benar-benar sudah dipraktikkan Lia?

Lia: Risetnya kebanyakan dari youtube. Mulai dari atmosfer kompetisi, resep-resepnya dan cara memasaknya. Kalau resep yang ada di dalam novel ini, sejujurnya belum ada yang pernah saya praktikkan sendiri memasaknya. Kecuali omelette dan telur mata sapi, ada tuh di bab berapa ya, lupa. Hehe. Karena semua yang serba mepet itu. Jadi resep-resepnya murni dari riset. Tapi ada beberapa resep yang udah pernah saya cicipin makanannya, kayak samgyetang, macaron, chocolate trifle, jadi sudah ada bayangan untuk menggambarkan rasanya ketika menuliskannya ke dalam naskah.

5. Saya: Ada koki yang jadi inspirasi buat tokoh-tokoh dalam novel ini? Kalau ada, siapa dan mengapa?

Lia: Untuk karakter-karakter utamanya, Karmel, Sadam, dan Satria, saya ciptakan nggak berdasarkan chef mana pun. Benar-benar murni saya ciptakan sebagai tiga remaja berbakat di bidang masak dengan sifat yang kayak remaja pada umumnya. Tapi untuk tokoh Chef Martin, ini sebenarnya saya terinspirasi dari penggabungan tiga chef pembawa acara Masterchef US. Terciptalah sosok Chef Martin yang ganteng dan berkharisma seperti Gordon Ramsey, tegasnya seperti Joe Bastianich, tapi juga ramah dan lucu seperti Graham Elliot.

DATA BUKU

Judul: Caramellove Recipe
Penulis: Lia Nurida
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 Halaman
Terbit: Februari 2018

Blurb:

Gawat!

Satria kena tifus. Cowok itu pingsan tepat di akhir babak penyisihan awal Teen Cooking Competition. Padahal tiga hari lagi, Karmel dan Satria harus mengikuti babak dua puluh besar. Mau tidak mau sesorang harus menggantikan posisi Satria. Miss Anne mengusulkan satu nama.
Sadam. Cowok tajir belagu anak pemilik restoran Luigi’s itu yang dipilih Miss Anne. Cowok yang mati-matian Karmel hindari sejak tragedi daun bawang pada awal masuk SMA Putra Bangsa. Cowok menyebalkan yang sialnya adalah seseorang yang Karmel taksir sejak SMP!

Meski berat, Karmel tak punya pilihan lain. Ia harus tetap berjuang di Teen Cooking Competition bersama Sadam yang arogan. Di sisi lain Karmel juga harus memikirkan persahabatannya dengan Satria yang mulai merenggang. Nggak mungkin kan Satria cemburu karena Karmel dan Sadam yang mulai dekat?

ULASAN BUKU

Mari kita mulai dari bahas cover dulu. Kover bikinan ‘sukutangan’ buat novel para pemenang GWP3 termasuk Carramellove Recipe ini punya karakter dan ciri khas kuat. Konsepnya unik, seger, dan berasa beda. Sekali liat, langsung tahu kalau itu novel pemenang GWP tahun 2017. Kover novel memiliki dominan warna hijau. Hiasan elemen masakannya juga pas, enggak keramean dan enggak terlalu sedikit. Menarik 😆

Konsep pembagian babnya juga unik karena memakai istilah dunia kuliner. Prolog disebut ‘Appetizer‘ lalu bab isi disebut ‘Main Course‘. Layout-nya manis deh. Suka!
Setiap bab dibuka dengan quote tentang kehidupan yang memakai analogi makanan.
Sehingga konsepnya secara keseluruhan terasa solid.

Prolog novel ini cukup nendang. Pilihan Lia untuk membuka cerita dengan kejadian di kompetisi membuat pembaca langsung terikat dan penasaran untuk membuka lembar berikutnya. Cara Lia bercerita terasa ringan dan berhasil membawakan suasana. Ketika membaca prolog, saya merasakan atmosfer kompetisi yang menegangkan.

Novel ini diceritakan lewat POV 3 ‘diaan’, sehingga pembaca dapat mengikuti perasaan tokohnya tetapi juga dapat menangkap keadaan secara keseluruhan. Novel ini memakai bahasa yang ringan, mengalir, dan renyah. Cocok buat pembaca remaja. Apalagi pembagian babnya pendek dan pas. Ketebalan novelnya juga sedang, sehingga tahu-tahu udah selesai aja bacanya.

Kemudian tentang tokoh-tokohnya. 3 tokoh utamanya Karmel, Satria dan Sadam punya karakteristik yang menonjol. Saya suka bagaimana penulis menjelaskan ciri fisik pelan-pelan. Berbagai detail tentang tokoh-tokohnya disebar di beberapa bab.
Sifat-sifat tokoh-tokohnya dapat ditangkap melaui gaya berdialog mereka, dan bagaimana mereka menyikapi konflik. Ketiganya punya karakter khas anak SMA dan tipe-tipenya mudah ditemui di sekitar kita, sehingga gampang related dengan pembaca remaja maupun dewasa.
Sejauh ini saya menyukai Karmel dan Satria. Ngeship mereka, hohoho….
Tokoh-tokoh tambahannya sendiri cukup menyenangkan. Kehadiran tokoh yang cukup banyak terasa bukan sekadar tempelan, tapi memang menggulirkan cerita. Termasuk para kontestan lain. Lia berhasil memilah tokoh mana yang mesti ditonjolkan melihat dari kisah yang melibatkan banyak orang alias kolosal. Namanya juga cerita tentang kompetisi yang cukup panjang.

Penulis juga berhasil menjelaskan berbagai makanan dengan kadar detail yang pas. Sehingga membuat pembaca dapat membayangkan bentuk dan rasa makanannya. Sungguh ini cobaan buat saya dan mungkin pembaca lainnya. Bikin lapeeeer! Penulis memberi pengetahuan mengenai makanan dan beberapa istilah mengenai dunia kuliner. Dengan cara penyampaiannya yang tepat, pembaca tahu-tahu saja menambah stok pengetahuan. Tidak banyak, tapi cukup.
Ada sedikit resep dan cara memasaknya. Bisa dipraktikkan sepertinya. Saya sampai bertanya-tanya, jangan-jangan penulisnya beneran jago masak. Oh iya, jangan membayangkan resepnya dikemukakan seperti dalam buku resep ya. Karena resep disisipkan dalam cerita secara natural. Jadi kalau berminat mempraktikkan, mesti ditulis ulang sendiri dalam bentuk resep praktis.

Novel ini menyajikan beberapa konflik. Kompetisi masak, cinta, persahabatan,  dan keluarga. Semuanya teramu dengan baik, tentunya dengan menonjolkan 1-2 konflik utama. Konfliknya disampaikan ringan saja, enggak bakal bikin pembaca mengerutkan kening. Saya kira, itu merupakan salah satu kekuatannya. Novel ini memberi efek segar dan camilan enak bagi pembacanya, seperti sedang makan roti bakar dan es krim. Saya paling suka tiap kali masuk ke bagian kompetisi. Menyenangkan sekali mengikuti sepak terjang Karmel dan Sadam dalam lomba. Menyimak juri Chef Martin menilai dan ikut deg-degan dengan hasilnya. Saya sudah dapat menduga hasilnya, tapi kekuatannya bukan pada hasil, tapi proses kompetisinya.

Caramellove Recipe menyuguhkan open ending. Bisa dibilang cerita sudah selesai sempurna, tapi sangat terbuka untuk sekuel. Bahkan bisa banget dibikin trilogi. Saya yakin masih banyak konflik yang bisa dikemukakan dan diangkat di sekuelnya.
Karena belum ada konflik persaingan sengit antar peserta kompetisi

Secara keseluruhan, novel ini seperti makanan ringan yang enak. Cocok dibaca untuk menaikan mood karena ceria.
4 dari 5 potong kue, eh, bintang untuk Caramellove Recipe.

[Review] Novel Dharitri: Fantasi yang Kental Lokalitas

 

Beberapa tahun ini saya menyadari kecenderungan genre favorit saya ternyata genre fantasi. Saya suka berselancar di Goodreads membaca-baca ulasannya kemudian memasukan buku-buku tersebut ke dalam wish list. Salah satunya novel Dharitri. Ternyata semesta benar-benar menjodohkan saya dengan novel ini. Yeaaay! Satu hari, saya berkesempatan menjadi salah satu host book tour novelnya.

Saat pertama kali mem-posting foto buku Dharitri, seorang teman menulis komentar bahwa novel ini berasal dari Wattpad. Terus terang saya baru tahu. Saya jadi penasaran bagaimana proses penulisan novelnya, maka saya mewawancari penulisnya: Nellaneva. Yuk, ikuti obrolan kami ^^

Berkenalan dengan Nellaneva

Nellaneva adalah peracau yang terlalu sering berkhayal dan menulis untuk melegakan diri. Dalam kesehariannya, dia mendalami bidang Mikrobiologi dan sedang melanjutkan pendidikan di Osaka, Jepang. Pada waktu senggangnya, dia bergegas mengabadikan imajinasi dalam kata-kata sebelum waktunya di Bumi habis. Nellaneva mulai aktif di dunia kepenulisan sejak tahun 2015. Novelnya yang sudah diterbitkan adalah Dharitri dengan genre fantasi (Histeria, 2017). Karya-karyanya yang berupa puisi, cerpen, dan novel diarsipkan pada situs kepenulisan Wattpad atas nama Nellaneva.

Selain Wattpad, Nellaneva juga dapat dihubungi melalui:
Line: @oja6804t
Instagram dan Twitter: nellaneva94
Email: nellaneva94@gmail.com

Mengenal Lebih Jauh Nellaneva di Sesi Wawancara

Ehm… ehm… ini sesi wawancaranya cukup panjang karena saking penasarannya, saya banyak nanya XD

1. Dapat dari manakah ide menulis kisah Dharitri?

Nella: Seperti cerita-cerita saya yang lain, ide Dharitri datang secara mendadak ketika saya sedang melamun di kamar sebelum tidur. Saat itu, saya membayangkan konsep dunia baru di masa depan. Berdasarkan novel-novel fantasi atau fiksi ilmiah yang sudah beredar selama ini, latar distopia nan futuristik—dengan iringan teknologi canggih—hampir selalu digunakan sebagai latarnya. Saya pun terpikir untuk menciptakan sesuatu yang berbeda: latar utopia berbau tradisional, meskipun jenis dunia demikian pada akhirnya tidak benar-benar saya terapkan dalam Dharitri. Selain itu, minat saya terhadap bahasa Sanskerta mendorong saya untuk menerapkan latar dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Nusantara. Untuk ide Hibrida sendiri, itu murni dikarenakan kecintaan saya terhadap hewan-hewan eksotis terutama naga.

2. Ceritakan proses penulisan Dharitri yang berkesan. Mulai dari riset sampai draf terakhir.

Nella: Sebenarnya ide tentang Dharitri sudah lahir sejak akhir tahun 2014, tetapi proses penulisannya baru bisa terlaksana pada pertengahan tahun 2016. Namun, karena beragam kesibukan dan kemampuan saya saat itu belum cukup untuk menyusun novel, saya pendam dulu ide tersebut. Tidak benar-benar saya tinggalkan, tetapi hanya menuliskannya sebagai premis terbengkalai di dalam laptop seperti ide-ide cerita saya yang lain. Mulai tahun 2015, menjelang lulus kuliah, akhirnya saya tergoda merampungkan novel di sela-sela mengerjakan skripsi. Setelah novel pertama saya, Tujuh Kelana, rampung pada awal tahun 2016, saya pun terdorong untuk ‘menggodok’ ide Dharitri sebagai novel berikutnya. Proses penulisan Dharitri terhitung sangat singkat, hanya satu setengah bulan saja (awal Juni- pertengahan Juli 2016). Saat itu, saya baru lulus kuliah dan masih mencari-cari pekerjaan. Sambil menanti panggilan tes seleksi dan wawancara kerja, saya manfaatkan waktu luang dengan menulis novel.

Selebihnya, dari premis pertama yang berupa paragraf-paragraf sederhana, saya kembangkan outline bersamaan dengan penulisan Dharitri itu sendiri. Worldbuilding, konflik, dan tokoh-tokohnya bermunculan seiring saya menambahkan bab-bab baru. Alhasil, beberapa poin premis pun melenceng dari ide awal tetapi untungnya terarah jadi lebih baik. Sebagai penulis pemula, saya jadikan ini sebagai pembelajaran agar mempersiapkan plot cerita dengan lebih matang sebelum memulai eksekusi. Selama riset, saya tidak menemukan kendala berarti, tetapi ini pun menjadi evaluasi bagi saya supaya lebih banyak mencantumkan detail-detail ilmiah dalam deskripsi cerita.

Sejak awal tahun 2016, saya juga aktif menulis di situs kepenulisan Wattpad. Draf pertama Dharitri saya publikasikan di sana dan mendapat banyak masukan dari para beta readers. Mulai dari awal Juni hingga pertengahan Juli 2016, saya senang sekali tiap kali mempublikasikan bab terbaru Dharitri di Wattpad. Antusiasme pembaca—yang tertampilkan dalam komentar-komentar—menjadi motivasi terbesar saya untuk menulis Dharitri sampai tamat dalam waktu singkat. Yang paling mengejutkan adalah sewaktu Dharitri memenangkan penghargaan Wattys Award 2016 kategori Pilihan Staf. Saya tidak menyangka sesuatu yang saya mulai sebagai iseng-iseng bisa membuahkan hasil seperti ini.

3. Mengapa menulis genre fantasi?

Nella: Sejak kecil, saya cinta mati dengan genre fantasi. Koleksi novel yang saya miliki didominasi oleh genre tersebut. Dengan membaca kisah fantasi, saya merasa bisa melarikan diri dari kejenuhan realita dan pada dasarnya saya memang seorang pengkhayal. Setelah dibuat tergugah oleh banyak cerita fantasi, saya pun terdorong untuk menciptakan cerita karangan saya sendiri. Meskipun baru serius menulis sejak tahun 2015, sesekali saya menulis secara iseng sejak duduk di bangku sekolah. Selama itu pula, genre yang paling sering saya tulis adalah fantasi. Dengan menulis fantasi, saya bisa menumpahkan imajinasi saya menjadi kata-kata dan menyebarkannya ke sesama peminat fantasi lain. Menurut saya itu adalah salah satu sensasi terbaik sebab fantasi adalah pelarian saya dari dunia nyata :’)

4. Kesulitan atau tantangan apa yang dialami ketika menulis Dharitri?

Nella: Tantangan terbesar bagi saya adalah mengundang pembaca. Karena peminat fantasi tidak sebanyak romance/metropop/teen fiction, saya harus menyuguhkan sesuatu yang menarik sekaligus nyaman dibaca. Persaingan juga amat terasa sebab kini cukup banyak penulis fantasi yang bermunculan dalam platform digital seperti Wattpad, Storial, dan lain sebagainya. Saya sadari terkadang gaya bahasa saya masih terlalu baku dan kaku, sehingga saya siasati dengan sedikit bermain diksi dalam penulisan Dharitri. Taktik lain yang saya gunakan adalah penempatan twist yang sedemikian rupa supaya bisa memberikan kejutan bagi pembaca. Namun, secara keseluruhan, saya sikapi proses penulisan cerita dengan santai sebab tujuan saya menulis adalah sebagai relaksasi dan melegakan diri.

5. Nella punya harapan apa pada novel Dharitri?

Nella: Saya tidak berani terlalu berekspektasi, hehe, tetapi saya harap Dharitri bisa menjadi salah satu novel fantasi karya penulis lokal yang patut diperhitungkan. Saya juga berharap Dharitri bisa menginspirasi para penulis Indonesia lain bahwa cerita fantasi tidak harus berlatar luar negeri melulu. Kita juga punya bahan kebudayaan lokal yang berpotensi dikemas menjadi cerita keren, loh!

6. Respon paling unik atau berkesan apa yang didapat dari pembaca Dharitri?

Nella: Bagi saya, semua respons yang masuk dari para pembaca Dharitri sangatlah berkesan dan berguna bagi perkembangan saya ke depannya. Setiap kali saya bolak-balik baca ulasan Dharitri di Goodreads dan Instagram, baik itu berupa kritik pedas sekalipun, semangat saya selalu terpompa kembali. Bahkan saya sampai gatal ingin merevisi Dharitri lagi kalau bisa, hahaha. Respons yang paling unik barangkali adalah kesukaan pembaca terhadap Lal, salah satu Hibrida di Dharitri. Seperti mereka, saya selalu membayangkan punya naga sendiri dan senang mengetahui keinginan mereka serupa dengan saya. Akhir kata, berkat semua respons tersebut, pengalaman menulis Dharitri ini tentu saja menjadi salah satu kenangan paling berharga bagi hidup saya.

DATA BUKU

Judul: Dharitri

Penulis: Nellaneva

Penerbit: Anak Hebat Buku

Cetakan: 1, 2017

ISBN: 9786025469220

Blurb:

Pada tahun 2279, seratus lima puluh tahun setelah Perang Dunia III meletus, sisa umat manusia dikumpulkan dalam naungan Dunia Baru berbasis Persatuan Unit. Dunia baru tersebut diyakini sebagai dunia yang lebih baik bagi umat manusia di Bumi. Pernyataan itu rupanya tidak berlaku bagi Ranala Kalindra.

Ranala yang berusaha kabur dari Persatuan Unit mengalami kecelakaan hingga terdampar di sebuah negeri asing bernama Dharitri dan bertemu dengan makhluk hibrida yang diberi nama Lal. Ranala merasa menemukan rumah baru, yang membuatnya harus menyembunyikan identitas sebagai penduduk Persatuan Unit. Ranala mengubah namanya menjadi Aran, lalu bergabung dengan Adhyasta Hibrida, pasukan elit Bala Karta yang menangani makhluk Hibrida.

Namun, ada seseorang yang mengetahui identitas asli Aran. Seseorang yang selalu mengawasi Aran dan menunggu saat yang tepat untuk menyingkirkannya.

ULASAN BUKU

Terus terang saya tertarik baca Dharitri karena membaca ulasannya di Goodreads.
Novel fantasi lokal yang menyentuh hati pembaca. Kedua, blurb novelnya yang memikat. Ternyata ini fantasi dystopia. Perpaduan ini sangat cukup membuat saya yakin ‘harus’ baca.
Ketiga, cover-nya menariiiik 😍😍😍
Mengingatkan saya pada cover novel fantasi luar negeri.
Kemudian saya melahap prolognya. Dharitri memiliki tipe prolog yang memicu penasaran sehingga membuat pembaca  betah melaju ke bab selanjutnya.

Ini novel distopia. Menceritakan masa depan di ratusan tahun mendatang.
Saya selalu terpukau oleh imajinasi penulis yang bisa membayangkan seperti apa dunia di masa yang jauh. Apalagi lengkap dengan tatanan pemerintah dan sosialnya.
Pasti butuh kerja keras sekali untuk menuliskannya.

Novel ini memakai gaya bahasa baku.
Di bab-bab awal saya merasa seperti tata bahasa buku terjemahan, tapi kemudian berubah ketika Ranala datang ke Dharitri.Menurut saya pas mengikuti cerita, gayanya menyesuaikan dengan di mana latar tempat cerita.
Jalinan kalimatnya enak diikuti dan memiliki kosakata yang kaya. Namun saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang pas. Novel Dharitri menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga leluasa menggambarkan banyak hal tanpa dibatasi ketidaktahuan tokoh bila menggunakan POV 1. Penulis pintar mendeskripsikan detail tokoh dan tempat hingga pembaca bisa membayangkannya dengan jelas di kepala.

Seperti narasi berikut:


Lima tanduk yang mencuat di sekeliling kepala makhluk itu mengindikasikan bahwa dia jelas bukan reptil biasa. Tinggi tubuhnya mencapai gajah dewasa, panjangnya kira-kira empat setengah meter belum termasuk ekor panjang berduri yang menjulur di belakang tubuhnya.

Memang sebagai novel fantasi dengan 2 latar tempat besar berbeda, penjabaran world building-nya harus detail. Penulis berhasil melakukan itu.
Bagi pencinta narasi seperti saya, membaca buku ini seperti sedang dimanjakan. Pembaca disuguhi berlembar-lembar narasi yang kerap kali bahkan tak menyelipkan dialog sama sekali. Saya juga mengapresiasi editornya, karena editan novel ini rapi, sedikit sekali typo 😎

Hal paling menarik dari novel Dharitri adalah fantasi yang mengandung kelokalan yang kental.
Pertama, judulnya saja diambil dari Sansekerta.
Dharitri ini seperti jelmaan Indonesia sekarang. Sistem pemerintahan daerah yang awalnya monarki menjadi republik.
Kedua, nama-nama tokoh, dan lainnya pun kental lokalitasnya.
Seperti pemilihan nama Sambas, Kapuas, Cakra, dan Adhyasta.
Ketiga, lokasi Dharitri sendiri memang di Indonesia.
Menarik sekali ketika penulis membagi bahasa yang digunakan di dunia baru menjadi 3 bahasa. Salah satunya Indonesia.
Nellaneva tampaknya piawai mengulik geografi 😆

Karakter tokoh-tokoh novel Dharitri ini banyak yang unik. Terutama para hibrida alias  binatang artifisial yang merupakan hasil buatan teknologi mutakhir pada masa Perang Dunia III. Imajinasi penulisnya keren! Bisa menciptakan modifikasi-modifikasi berbagai binatang. Pembaca diajak membayangkan binatang hasil persilangan beserta kemampuannya lewat deskripsi detail.

Misalnya penjelasan tentang karakteristik salah satu hibrida bernama Ishara:

Rubah kambing. Habitat: lembah bukit dan pegunungan. Jenis karnivora. Leluhur pertama: modifikasi in vitro, persilangan rubah:kambing dengan rasio berkisar 8:3. Kekuatan: serangan fisik dan penciuman tajam. (Halaman 112).

Lalu tokoh-tokoh Dharitri ini kuat dan kebanyakan di antaranya memiliki kekhasan. Jadi meskipun tokohnya banyak, pembaca tidak akan tertukar-tukar.
Sedihnya, saya kurang menyukai tokoh utamanya Ranala alias Aran 😭
Sedang tokoh lainnya buat saya cukup lovable.
Saya paling suka tokoh Cakra dan Dylan. 😍 Dylan ini kutu buku.

Konflik sudah disuguhkan dari awal, sejak prolog. Pembaca dibuat penasaran dengan keputusan atau pikiran si tokoh utama.
Bab-bab setelahnya misteri dan konflik ditebar beriringan pelan-pelan. Saya tidak merasakan adanya letupan-letupan yang langsung besar. Tapi konflik disampaikan dengan grafik yang kian meningkat. Menuju akhir banyak kejutan diberikan penulis.
Kisah cinta di dalamnya memberi bumbu manis yang menyenangkan 😍
Adegan laganya bagus. Deskripsi pertarungannya jelas dan cukup menegangkan.  Percayalah, menulis adegan pertempuran bukan perkara gampang. Butuh deskripsi yang tepat agar adegan itu tersampaikan dan menimbulkan efek ketegangan. Kalau ada kekurangan, bagi saya hanya pengembangan konfliknya yang terasa agak lambat sampai setengahnya. Padahal konflik sudah disuguhkan dari prolog.
Untungnya grafik konfliknya makin naik, dan pada akhirnya pembaca disuguhkan kejutan-kejutan menarik 😍

Rating 3,5 dari 5 bintang. Saya rekomendasikan novel ini bagi pencinta novel fantasi.

Sebagai penutup, saya ingin membagi quotes favorit saya:

Jadilah sepertiku, menyukai buku-buku. Mereka tidak akan menyakiti.