[Blog Tour] Review + Giveaway Novel “Searching My Husband” Karya Octya Celline

cover-smh

Searching My Husband merupakan novel kelahiran dari Wattpad kesekian yang saya baca versi cetaknya. Buat saya, membaca novel ini serupa dengan menonton serial drama Korea. Menghibur dan bikin baper.

Sebelum sesi kupas mengupas novelnya, kita kenalan dulu sama sosok di balik terciptanya novel SMH yang merupakan pegiat Wattpad.

Siapa Octya Celline?

octya2

Octya Celline, biasa dipanggil Selin atau Line. Lahir di Surabaya, 19 Oktober 1996, anak ketiga dari tiga bersaudara, berzodiak Libra dan pecinta olah raga. Saat ini sedang mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Konsentrasi Teknologi Proses Pangan Universitas Surabaya semester 5. Menulis adalah salah satu dari sekian banyak hobi yang digelutinya sejak tahun 2015. Searching My Husband adalah novel pertamanya yang dicetak dalam bentuk buku, dan novel keempat yang ditulisnya di Wattpad.

Mau ngobrol langsung sama Celline? Hubungi di media sosialnya

Instagram: @octyacelline

Facebook: Octya Celline

Wattpad: @OctyaCelline

Line: yoshikuni_tsubaki

Sesi Kepoin Octya Celline

1. Apa sih bedanya novel Searching My Husband di Wattpad dan versi cetak?

Octya: Bedanya Novel SMH di versi cetak dan Wattpad tentu saja di penyusunan cerita dan alur yang lebih teratur. Ada tokoh barunya, yaitu William. Lalu di novel cetak juga ada tambahan beberapa bab yang tidak ada di Wattpad, rasanya ada kira-kira 5 bab baru.

2. Dari semua tokoh di novel Searching My Husband, mana yang favoritmu? Kenapa?

Octya: Dari semua tokoh di novel SMH  yang menjadi favorit saya adalah  R. Mengapa bisa R? Karena tanpa R, cerita ini tidak akan tercipta. R adalah sosok lelaki yang saya idamkan sebagai seorang suami. Figur itu muncul setelah saya memikirkan memiliki seorang suami yang begitu setia dan hanya bisa melihat ke arah saya seperti layaknya setangkai bunga matahari yang hanya bisa menoleh ke arah matahari.

3. Apa arti Wattpad buatmu?

Octya: Wattpad adalah tempat pertama saya menumpahkan kebosanan dan keisengan saya. Mulai dari coba-coba menulis untuk ikut GiveAway sampai akhirnya saya menjadi juara 1, dan jadi ketagihan menulis sampai buku saya bisa terbit. Walau baru bergabung kurang dari setahun di Wattpad, tapi saya sudah mendapatkan banyak ilmu dari sana. Bulan ini genap satu tahun saya gabung di Wattpad, dan saya baru menulis SMH di bulan-bulan Oktober, tepatnya tanggal 18, sehari sebelum saya ultah.

Masih penasaran tentang proses kreatif Octya? Tenaang, misteri tentang penulis satu ini bakalan terkuak sama blog host lain di postingan blog tour tiap minggunya😀 Yuk, mariii sekarang kita mulai bahas novelnya.

Data Buku

Judul : Searching My Husband
Penulis : Octya Celline
Penyunting : Kudo
Penerbit : LovRizn Publishing
Cetakan : Pertama, Oktober 2016
Halaman : x + 394 hlm
ISBN : 978-602-6330-25-3

Blurb:

Dicari orang berinisial “R”. Tak terlihat sejak satu tahun yang lalu,
mulai 19 Oktober 2015.
Ciri-ciri fisik:
1. Jenis kelamin: Pria tulen (saya yakin)
2. Tinggi badan sekitar 180 cm dan berumur 32 tahun.
3. Memiliki rambut yang berdiri alami dan terasa halus, sepertinya berwajah tampan, bibirnya tipis, memiliki lesung pipi, dan badannya berotot.
4. Menggunakan jas Armani dengan merek ternama.
5. Memiliki suara yang lembut dan berbadan wangi.

Bagi yang menemukan seseorang yang mirip, atau terlihat seperti ciri-ciri di atas, tolong langsung hubungi:

– Telepon : 19101996 (Sisilia)
– E-mail : sisiliapricilia@gmail.com
– Alamat : Jl. Cintaku Kepadanya. No 19

*Keuntungan jika menemukan pria tersebut:
– Diberikan uang cash dengan nominal besar.
– Diberikan keuntungan khusus seperti jalan-jalan ke luar negeri selama 1 bulan.


** Perhatian:
Entah karena alasan apa, ia tidak ingin wajahnya terlihat. Jadi jangan pernah menghubungi saya untuk menanyakan bagaimana wajah orang yang dicari, karena tidak mengetahui wajahnya makanya saya mencarinya.

Dunia rasanya semakin gila, ketika aku melihat koran pagi ini dan terpampang iklan mencari orang hilang dengan wajah yang tidak terlihat, bahkan orang yang memasang iklan itu juga tidak tahu bagaimana wajah orang yang dicari. Ternyata orang yang memasang iklan itu adalah istriku sendiri. Dan lucunya lagi, orang yang selama ini ia cari adalah diriku.

Review Buku

Searching My Husband bercerita tentang pernikahan aneh Sisilia dengan suami yang menyembunyikan wajahnya. Mereka menikah ketika Sisilia sedang koma di rumah sakit akibat kecelakaan. Setelah bangun dari tujuh tahun tidur panjangnya, Sisilia kehilangan ingatan. Itu pula yang membuat Mr. R memutuskan menyembunyikan identitasnya, karena takut Sisilia akan meninggalkannya. Selama satu tahun, mereka hanya berinteraksi dalam gelap. Berbagai cara ditempuh Sisilia untuk mengetahui wajah Mr. R, tapi seberapa pun pandainya dia mengatur strategi, suaminya selalu bisa berkelit. Seperti apa sebenarnya masa lalu Sisilia dan Mr. R? Apakah akhirnya Mr. R menunjukkan wajahnya pada Sisilia?

Hidup ini terbagi menjadi Masa lalu; Masa sekarang; dan Masa Depan. Masa lalu yang membentukku, masa sekarang adalah hidupku, dan masa depan adalah impianku. Kamu harus tahu, semua masa itu akan selalu diisi olehmu, karena kamulah hidupku. — Halaman 109

Enggak nyangka novel bantal ber-cover cantik ini bisa saya lahap sekali duduk. Seperti saya bilang tadi, membaca novel ini berasa seperti menonton drama Korea. Mengejutkan, lucu, menghibur, dan bikin baper. Prolog dibuka dengan tiga perempat isi blurb yang menurut saya memang menjual. Paaas bikin penasarannya. Hanya saja setelah masuk ke bab-bab berikutnya, ketahuanlah kalau ternyata prolog mengandung spoiler. Atau lebih tepatnya, memaparkan satu fakta yang “ternyata” belum diketahui oleh tokoh utama, yaitu nama suaminya berawalan huruf “R”. Karena jauh setelah prolog, ada bagian yang menceritakan betapa Sisilia bahagia mendapat satu kepingan puzzle, mengetahui inisial suaminya.

Apalah artinya kamu melihat wajahku atau tidak. Yang penting aku selalu ada untukmu dan kamu selalu ada untukku. Bukankah cinta tidak memandang fisik? –Halaman 13

Konflik-konflik yang dikedepankan langsung menyedot saya, terikat untuk terus membuka lembar demi lembar. Saya ikut gemas dengan penyelidikan Sisilia untuk mengungkap kemisteriusan tokoh R beserta alasannya untuk menyembunyikan wajah dan identitas. Apalagi disebutkan kalau Sisilia mengetahui jati diri R, Sisilia akan membencinya. Dramanya gereget banget. Butuh kepiawaian untuk menempatkan waktu yang tepat membuka sedikit demi sedikit misterinya. Karena penulis mesti menjaga supaya pembaca terus penasaran dan bertanya-tanya tanpa berubah mood menjadi kebosanan ketika isi cerita hanya berputar-putar tanpa memberi clue-clue yang makin membakar penasaran tersebut. Saya berpikir, “Ini buku tebel banget, apa bakalan bertele-tele ya ceritanya?” Ternyata enggak, saya menikmati tiap babnya tanpa merasa penulis mengulur-ulur waktu untuk menyingkap misteri.

Secerdik apa pun diriku, tetap saja kau selalu bisa kabur dari jebakanku. –Halaman 49

Tetapi, tidak bisa ditampik bahwa saya merasa ada banyak keganjilan yang perlu ditambal dari segi logika dalam penyembunyian rahasia wajah tokoh R. Seperti, sempat disebutkan kalau ada cahaya dari kamar mandi yang sedikit menerangi wajah. Ataupun, rasanya aneh sekali seorang perempuan mau melakukan ‘hubungan’ dengan seseorang yang tidak dikenalnya, tidak pernah dilihatnya, tidak dia ketahui sama sekali apa-apanya. Karena butuh chemistry kuat untuk ‘melakukan’ itu. Keganjilan tersebut muncul karena tidak diceritakan misalnya ada satu kejadian yang membuat Sisilia merasa sangat membutuhkan R, satu kejadian mengentak yang membuat Sisilia mempercayai R sepenuhnya. Sehingga dia yakin mencintai pria itu dan mau menyerahkan segalanya. Lalu soal iklan yang dipasang Sisilia ke koran, kalau di dunia nyata, sudah pasti yang terjadi padanya akan lebih parah dari sekadar didatangi cowok-cowok iseng. Soalnya Sisilia terlampau ceroboh memberikan e-mail aslinya.

Aku juga sangat mencintaimu bahkan tanpa aku melihat wajahmu aku tetap bisa mencintaimu. Itu berarti aku mencintaimu berkali-kali lipat daripada cintamu kepadaku. –Halaman 308

Kemudian kisah lain yang saling berkaitan adalah konflik tokoh Airin yang mencintai Rio diam-diam dengan mengirimi cowok itu foto bertuliskan puisi. Sedang Rio sendiri tergila-gila pada Sisilia. Hingga suatu hari, sebuah insiden mendekatkan mereka. Awalnya saya merasa munculnya konflik Airin ini kurang menarik. Tetapi seiring porsinya yang bertambah, perkembangannya berhasil membuat saya bersimpati pada Airin. Jalinan kisah yang seperti terpisah tetapi memiliki benang merah, tidak mengganggu sama sekali. Saya kembali menemukan keganjilan. Pada saat Rio menolong Airin dari preman, waktu itu setting waktunya pagi hari, tepatnya jam 7. Di jam seperti itu Jakarta tengah sibuk-sibuknya. Sesepi apa pun gang, pada pagi hari Airin bisa berteriak minta tolong. Beda lagi kalau memang kejadiannya dini hari. Meskipun Jakarta seperti tak pernah tidur, tapi logikanya sampai. Di luar beberapa ganjalan itu, ceritanya seru dari awal sampai akhir. Saya sangat menikmati membacanya.

Aku bisa mencintaimu selama tujuh tahun kamu terbaring koma dan tiada satu pun yang percaya kamu bisa bangun kembali. Tapi aku masih percaya kamu bisa kembali membuka kedua matamu. Jadi, siapa yang lebih mencintai siapa?” –Halaman 308

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang khas. Sehingga mudah mengidentifikasinya. Sisilia yang manis, Airin yang pendiam, Mr. R yang seksi, Rio yang baik. Lagi-lagi tokoh utamanya mengingatkan saya pada drama Korea. Stereotype cantik-cakep-kaya-romantis. Saya menyukai keempat karakter utama dan tokoh Siti yang memiliki gaya bicara unik. Saya juga dapat merasakan chemistry yang kuat di antara para tokohnya. Hal itu jugalah yang berhasil membuat perasaan saya naik turun diajak melayang kemudian terempas ke tanah. Namun meskipun begitu, ketika semuanya muncul dengan sudut pandang orang pertama dalam satu bab, saya menjadi kebingungan. Ini siapa yang sedang bicara? Memang, ada narasi dengan font yang diitalic untuk memberi keterangan pada pembaca, siapa yang sedang bicara. Tapi tetap saja membingungkan. Lebih praktis kalau langsung saja beri keterangan nama tokoh sebagai petunjuk pada pembaca. Misalnya:

Sisilia

Aku menunggu….

Ketimbang

Rio tampak berjalan ke arah mobilnya.

Dasar dosen gila, bisa-bisanya…

Pembaca lebih mudah menangkap maksud penulis bila dituturkan memakai teknik pertama. Ternyata, konsep itu sudah dipakai penulis ketika mempublish novel SMH ini di Wattpad, tapi sepertinya da pertimbangan lain dari editornya. Percampuran sudut pandang dalam satu bab juga kurang mulus karena ada satu dua bagian yang tercampur pov 1 dan 3.

Di saat pertanyaan tentang mencintainya terlontar, aku tak bisa menjawab dengan pasti, mungkin aku sudah mencintainya, mungkin aku hanya terbiasa dengannya, mungkin aku hanya penasaran dengannya dan mungkin aku menyayanginya dan mungkin juga tidak, yang pasti aku tidak tahu ini cinta atau bukan, tetapi satu hal yang bisa kujawab dengan mantap, aku tidak takut dengannya dan terbiasa dengan kehadirannya dalam keadaan gelap. — Halaman 15

Gaya penuturan Octya mengalir lancar sehingga enak dibaca. Memakai bahasa baku di bagian narasi dan dialog. Hanya dialog tokoh Siti saja yang berbeda sendiri yaitu memakai bahasa campur sari karena karakter tokohnya yang dibuat unik. Rasanya tetap pas karena digunakan dengan tepat. Dalam novel ini ada beberapa kali adegan panas dingin yang semua selalu jadi favorit saya sehingga tidak cocok dibaca pembaca yang belum 17 tahun ke atas. Walaupun sampai bablas, tapi deskripsinya digambarkan cukup manis sehingga tidak membuat mual. Sepanjang novel, Octya juga banyak membuat kalimat-kalimat quotable yang manis. Menurut saya, penulisannya cukup rapi dan saya bisa merasakan karya ini ditulis dengan fun dan sepenuh hati. Hanya saja, typo-nya lumayan bertebaran. Belum lagi kata yang salah digunakan, seperti ‘acuh’ yang artinya ‘peduli’ tetapi di novel ini menjadi ‘cuek’. Atau kata ‘bergeming’ yang artinya ‘diam’ menjadi ‘tidak diam’. Namun penulis memiliki semangat untuk terus belajar, sehingga saya yakin karya-karya selanjutnya akan jauh lebih baik.

Terakhir, ending-nya. Ya ampuuun, nyeseeeek. Ketika tinggal satu bab lagi, saya bertanya-tanya, “Ini beneran mau tamat? Kok bisa? Kan masih ada beberapa misteri yang belum dipecahkan?” ternyata… ada buku sambungannya :’) Karena ceritanya menarik, saya jadi ingin membaca buku lanjutannya. I want more… i want more! Duh, Octya berhasil meracuni saya nih.

Saya rekomendasikan novel ini bagi pecinta drama romantis bertokoh-tokoh pria-wanita cakep-cantik sempurna ala-ala dongeng dengan cerita bitter sweet.

picsart_09-14-11-18-03

Giveaway

Mau novel Searching My Husband? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @CeL___LiNe dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GASMH dan mention akun twitter saya dan Octya.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Alasan apa yang membuatmu terpaksa “harus” menyembunyikan identitas pada pasangan?

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 17 sampai 23 September 2016. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 24 September jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Giveaway ini hanya boleh diikuti oleh kamu yang sudah berumur 17 tahun ke atas.

Ditunggu partisipasinya ya ^_^

Hapus Was-was Perjalanan Dengan Uber

Hapus Was-was Perjalanan Dengan Uber

Hapus Was-was Perjalanan Dengan Uber

Bagi si penakut seperti saya, mengendarai sepeda motor dan mobil sendiri ada di daftar paliiiiiing bawah dalam list kehidupan. Beberapa kali belajar motor, sebanyak itu pula saya gagal. Hiks. Pasalnya, baru ngeliat kepadetan jalan aja saya udah ngeper, apalagi pas di perempatan dan lewat jalan layang, mana berani saya bersaing dengan pengendara lain. Udahlah saya menjelma si Kabayan yang tiap papasan kendaraan lain malah “pupuntenan”. Fatalnya bisa bikin pengendara lain jengkel, dan saya sport jantung akibat konser klakson. Duh! Maka dari itu saya setia sama kendaraan umum. Tapi masih seringkali saya pusing ketika bepergian bersama anak pas banget hujan datang. Sebagai pecinta hujan, saya sih enggak keberatan main air, tapi sebagai ibu yang membawa anak, dalam hati saya menyanyikan satu lagu jagoan Dora the eksplorer. Begini liriknya, “Hujan-hujan pergilah, datanglah lain kali.” Kebayang kan kalau pergi-pergian sama anak gimana repotnya, bawa barang udah kayak mindahin gudang, padahal isinya mainan sama baju ganti. Yang paling epic tuh, kalau bepergian berdua, saat anak ketiduran dan saya mesti gendong sekaligus bawa barang sekuali. Pegelnya tuh… di sini *tunjuk kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki* Deritanya enggak sampe di sana, saya pun dilanda was-was takut terjadi apa-apa. Bermacam pikiran buruk nyangkut di kepala. Semacam dijabret, anak jatuh dari gendongan, barang hilang, dan kekhawatiran lain yang lebih serem dari Valak. Sampai akhirnya saya dapet solusi dari masalah-masalah tadi: aplikasi Uber.

Hapus Was-was Perjalanan Dengan Uber

Pengalaman saya menggunakan aplikasi Uber yang bikin ngerasa aman dan nyaman dalam perjalanan

Sebelumnya saya udah sering denger soal aplikasi Uber, tapi baru jadi pemakai bulan ini. Terus terang, saya ngerasa aman dan nyaman. Kayak pengalaman saya kemarin. Pulang acara bersama kembaran dan anak, saya memesan Uber. Enggak lama, satu kendaraan datang menjemput kami. Ternyata ada sesuatu yang bikin kami mesti ini itu dulu yang mengakibatkan driver Uber mesti menunggu agak lama. Tapi pas ketemu, driver-nya menyambut kami dengan ramah yang tulus, enggak tercetak sama sekali kekesalan di wajahnya. Bikin ‘nyeees’ di hati liatnya. Tepat waktu itu juga hujan turun deras, dua kelegaan datang sekaligus, karena kami terhindar dari basah kuyup. Di perjalanan, kami sempat minta berhenti di mini market. Driver Uber dengan sabar mengantar kami. Meskipun jalanan lengang karena sudah malam, sopir Uber enggak menjalankan mobil dengan ugal-ugalan supaya cepat sampai. Saya jadi teringat sore harinya ketika berangkat, kami juga diantar sopir Uber yang menyetir dengan sabar walaupun berhadapan dengan macetnya lalu lintas. Enggak ada tuh umpatan kekesalan, membunyikan klakson dengan brutal, atau selip sana selip sini. Enggak lama kami sampai ke rumah dengan selamat.

Gimana sih cara menggunakan aplikasi Uber?

Pertama, unduh aplikasi Uber di Google Playstore atau Apple Appstore atau Window Store.

Kedua, buka aplikasinya, lalu tentukan lokasi penjemputan.

Menentukan lokasi penjemputan

Menentukan lokasi penjemputan

Ketiga, masukan tempat tujuan kita.

img_20160915_173018

Keempat, nah ini salah satu yang super penting. Setelah konfirmasi lokasi penjemputan dan lokasi tujuan, kita bisa melihat estimasi biaya. Mengetahui estimasi ongkos bisa menghindarkan kita dari kekurangan dana😄

Setelah itu, partner Uber alias driver-nya bakal menghubungi kita. Enggak perlu nunggu lama karena aplikasi Uber akan memanggil partner terdekat dari lokasi kita. Sudah deh, kita tinggal duduk manis selama perjalanan.

Kumpul Uber Bandung

 

Kumpul blogger dan instagramer bareng Uber

Kumpul blogger dan instagramer bareng Uber

Beberapa waktu lalu, saya diundang ke acara kumpul Uber dengan blogger dan instagramer. Dalam acara seru itu, saya mendapat banyak wawasan baru tentang aplikasi Uber. Mereka bahkan open banget sama masukan para undangan. Suka deh sama yang begini, hohoho.

Para ponggawa Uber

Para ponggawa Uber

Sejarah singkat Uber

Jadi ceritanya, Travis Kelanick di suatu malam yang dingin butuh kendaraan yang mengantarnya pulang. Tapi saat itu susah banget mendapatkannya. Travis jadi berkhayal seandainya ada transportasi yang bisa dipanggil lewat smartphone untuk mengantar orang ke mana pun, di mana pun, dan jam berapa pun. Dasar visioner, voila, jadilah itu ide dasar terwujud lewat aplikasi Uber. Memang ya kesusahan di tangan pembaca peluang selalu menjadi ‘sesuatu’.

Rasa was-was apa sih yang dihapus Uber yang bikin kita bakal ngerasa safety di perjalanan?

  1. Memberi informasi tentang partner Uber

Ketika kamu memesan jasa Uber, di aplikasi akan muncul informasi tentang driver yang akan mengantarmu ke tujuan. Yaitu: nama, foto partner, plat nomor kendaraan, dan kontak yang bisa dihubungi. Kalau ada sesuatu yang ganjil, misalnya plat nomor mobil yang menjemputmu beda dengan yang tertera di aplikasi, kamu bisa menolak diantar atau melaporkannya ke call center Uber.

1

Terus, enggak usah khawatir nomormu dihubungi secara pribadi oleh partner, semisal diajak kencan atau apalah gitu, soalnya Uber melindungi kontak pribadimu.

Udah gak was-was dong sama partner Uber.

  1. Menghapus was-was soal kekurangan dana dengan estimasi biaya

Pernah suatu hari, sepanjang perjalanan hati ini kebat-kebit karena takut uang di dompet enggak cukup buat bayar ongkos. Kamu punya pengalaman serupa? Rasa was-was ini bakalan terhapus karena aplikasi Uber memperlihatkan estimasi biaya perjalanan. Jadinya kamu bisa tahu mesti nyediain dana berapa untuk perjalananmu. Tapi ya namanya juga perkiraan, kemungkinan bakal ada sedikit perbedaan karena dipengaruhi keadaan lalu lintas dan promo. Btw, banyak promo seru loh Uber ini. Terus lagi biaya per km Uber ramah dompet kok, cuman tiga ribu rupiah.

Estimasi biaya perjalanan

Estimasi biaya perjalanan

Metode pembayarannya pun mudah. Kamu bisa pilih bayar langsung atau pakai kartu kredit.

  1. Transparansi real time menghapus kekhawatiran waktu

Buat saya yang sering mepet-mepet waktu, transparansi ini bikin ngerasa safety. Soalnya aplikasi Uber membuat kita bisa mengetahui dan mengikuti perjalanan partner dalam waktu yang sebenarnya. Dilengkapi juga sama estimasi waktu tempuh kita ke lokasi tujuan. Jadi buat yang senasib suka mepet-mepetin waktu kayak saya, bantu banget bikin kepala tenang dari pertanyaan, “Driver-nya udah sampe mana sih? Kapan sih sampainya?”

  1. Hapus ketakutan kejahatan dengan share My ETA

Buat kamu yang parnoan kalau melakukan perjalanan sendiri atau punya pasangan yang saking sayangnya tiap semenit sekali nanya ‘Kamu di mana? Sama siapa? Dan lagi berbuat apa?’, fitur My ETA ini bisa jadi solusi. Karena fitur ini membuat kamu bisa berbagi perkiraan waktu tiba alias PWT pada keluarga, pasangan, atau teman melalui WhatsApp, Twitter, Snapchat, dan lainnya. Dengan begitu kamu enggak akan was-was lagi saat perjalanan karena ada anggota keluargamu yang mengikuti perjalananmu secara virtual. Jauh-jauh deh kekhawatiran diculik. Pasanganmu pun enggak mesti ngabisin pulsa buat telepon melulu.

Share My ETA

Share My ETA

  1. Kalau ada apa-apa lapor ke customer support

Alasan safety kelima adalah adanya CS yang bersedia mendengar keluhan atau masukanmu selama 24 jam, 7 hari seminggu, bahkan setahun full enggak ada libur buat kamu. Misalnya nih dompet kamu tertinggal di kendaraan, CS akan menghubungi partner untuk mengembalikan dompetmu itu. Tapi kalau hati kamu yang tertinggal di masa lalu sih CS Uber gak akan bisa bantu apa-apa, eh.

Adanya rating juga membantu CS Uber buat meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Kata Mas Gia dari Uber sih, jangan ragu ngasih rating berapa pun. Kasih komentar juga. Biar mereka bisa ningkatin terus kualitas. Tapi jangan salaaah. Enggak cuman partner driver loh yang bisa di-rating. Kita sebagai konsumen juga dikasih rating sama partner driver. Gunanya buat menyeimbangkan, sehingga kita sebagai konsumen enggak berbuat semena-mena atau memanfaatkan pelayanan Uber dalam kejahatan.

Apa sih keuntungan lain menggunakan aplikasi Uber?

Hapus Was-was Perjalanan Dengan Uber

Saya yakin, kamu pasti kayak saya, suka gratisan. Dih, apalah saya ini, men-judge bahkan tanpa ngeliat cover-nya dulu. Tolong dimaafkan ya, anaknya memang begini. Nah, soal gratisan ini, Uber nyediain tumpangan gratis. Saya ulangin sekali lagi ya. Tumpangan gratis! Caranya gampang bangeet. Kamu cukup tebar-tebar kode undangan khususmu yang dikasih Uber ke orang-orang. Inget, kode Uber loh ya yang disebar, bukan kode-kode pengin balikan sama mantan. Kalau kamu pakai kode Uber orang, kamu bisa dapetin tumpangan gratis sebesar 30 ribu rupiah buat penggunaan pertama. Mau dong? Sok, coba pakai kode saya “EW529697UE”. Hohoho. Kamu yang kodenya dipakai juga bakalan dapetin tumpangan gratis dengan nilai yang sama.

Aplikasi Uber ini bisa kamu gunakan di 58 negara dan lebih dari 300 kota. Kalau kata Mr. Travis bilang sih, selama ada Uber, di mana pun kamu berada di dunia ini, kamu bakalan aman. Kamu enggak mesti ngubah setting apa pun. Kalau berbahasa Indonesia, di Amerika sana pun aplikasi Uber kamu masih memakai bahasa yang sama. Di Indonesia sendiri sudah ada di empat kota: Bandung, Jakarta, Bali, dan Surabaya.

Si kembar di acara tukang ngUber

Si kembar di acara tukang ngUber

Gimana, siap keliling Bandung bareng saya? Eh, bareng Uber maksudnya.

[Cerpen] Bapak Berbulu Luwak

[Cerpen] Bapak Berbulu Luwak

 

Bapak Berbulu Luwak

Oleh Eva Sri Rahayu

 

Saat kopi Luwak buatan Bapak masih beraroma hutan liar bercampur kuaran bau tanah tersiram hujan, aku suka sekali menyesap uapnya. Dari kopinya kudengar alunan angin menggoyangkan pohon-pohon kopi. Namun hanya sekali saja aku mencicipinya, terlalu pahit di lidah bocahku yang baru tujuh tahun. Apalagi rasanya bertahan berjam-jam di kerongkongan. Bahkan rasa obat warung yang diberi Ibu ketika kepalaku pusing lebih enak ditelan. Aku baru memahami nikmat kopi Luwak setahun sebelum lulus SD. Kafein di dalamnya membuatku tak kuyu meskipun berjam-jam membaca bertumpuk-tumpuk buku. Kopi pun akhirnya kupakai sebagai penawar sakit kepala menggantikan obat warung. Kini kopi Luwak bikinan Bapak beraroma apak dan tengik, kopinya bukan hanya bau, tapi selalu memekik lirih dengan suara Musang Luwak yang sekarat.

Aroma kopi Bapak berubah perlahan-lahan sejak bertemu kawannya dari Jakarta. Dengan dandanan perlente dia mengiming-imingi Bapak bergabung dengan usaha coffeshop-nya yang menyajikan kopi Luwak eksklusif.

“Ugeng, tambahlah kau punya Luwak, jumlah segitu manalah cukup menghasilkan banyak kopi. Seluruh dunia lagi rakus kopi Luwak. Mana bisa cukup kopi-kopimu memberi minum mereka semua,” ucap kawan bapak ketika aku menyuguhkan kopi ke meja.

Sekilas ketika aku melewati Bapak untuk kembali ke dapur, kulihat kepalanya mengangguk-angguk dengan bibir mengepulkan asap rokok.

Minggu itu luwak di perkebunan kopi kami bertambah puluhan ekor, entah dari mana Bapak mendapatkannya. Setelah itu Bapak membuat kandang-kandang baru dari kayu. Tiap kali Bapak memasukkan luwak-luwak yang telah dianggapnya anak-anak sendiri ke dalam kandang, kulihat beliau meminta maaf tulus pada mereka. Meski hanya mendapat jawaban tak jelas dari mata bening coklat mencuat si luwak. Semusim itu, Bapak begitu telaten mengurus luwak. Bapak tampak begitu keras membungkam rasa bersalah di dadanya akibat mencerabut kemerdekaan hidup mereka. Setiap hari, Bapak memberikan pisang dan pepaya yang telah dikupas untuk mereka makan. Seminggu sekali, diberinya juga mereka burung-burung kecil untuk disantap. Hanya seminggu dua kali saja Bapak memberi buah-buah kopi untuk dimakan luwak. Itu pun buah-buah kopi ceri yang matang dan berwarna merah segar dari perkebunan kopi Bapak seluas tiga hektar. Saat itu, aku masih senang menemani Bapak dan lima pegawainya memanen kopi.

Kemudian, hari titik balik perubahan tabiat Bapak datang. Ketika itu aku tengah membantu Ibu menyangrai kopi-kopi yang telah bersih dari kotoran luwak dan dijemur berhari-hari di bawah terik matahari. Biji-biji kopi hampir berubah warna menjadi hitam pekat saat Bapak masuk ke dapur untuk memintaku menyeduh dua gelas kopi. Kawan Bapak rupanya sudah bertandang lagi.

Gelas kopi yang kupindahkan dari atas nampan hampir saja jatuh saat mataku terpaku pada tumpukan uang di meja. Kutaksir jumlah uang itu lebih banyak dari yang pernah kami miliki. Kulirik Bapak untuk melihat reaksinya. Bola mata Bapak berbinar cerah, mukanya kemerahan dimabuk kebahagiaan.

“Ini tak seberapa, Geng. Kau bisa dapat berlipat-lipat lagi kalau hasil kopimu berlimpah. Ada teman yang siap mengekspor kopimu ke luar negeri.”

“Tapi… bagaimana caranya, Zam?”

“Kudengar dari pegawaimu, luwak-luwak itu hanya kau beri buah kopi seminggu dua kali. Beri mereka kopi tiap hari. Kalau perlu, tak usah kau kasih makan apa-apa lagi,” jelas si Kawan dengan mata licik.

Musim panen berikutnya Bapak seperti kesetanan. Belasan luwak yang dikirim lagi ke rumah dijejal-jejalkan Bapak dalam beberapa kandang saja. Pepaya, pisang, dan burung-burung kecil berangsur-angsur dikurangi jumlahnya, hingga menghilang sama sekali dari gudang, menyisakan buah-buah kopi ceri beraneka warna. Padahal buah kopi ceri hijau belumlah lagi matang. Tangan-tangan Bapak telah terampil berkhianat pada kata hati saat memberikan buah-buah kopi ceri mentah itu pada luwak. Binatang-binatang itu hanya dipaksa makan buah-buah kopi. Tak peduli usus-usus mereka luka. Otak Bapak telah dipenuhi tai-tai luwak. Musim demi musim panen terus memudarkan jiwa Bapak. Mata Bapak tak lagi menyorotkan kasih sayang sebagai seorang ayah, kopi dan luwak buat Bapak sekarang hanya mesin pencetak uang. Bapak tak peduli kualitas kopi lagi, yang beliau butuhkan hanya kuantitas saja. Makin banyak, makin uang mengalir ke kantongnya. Bapak seperti ular berubah kulit.

Bukan hanya Bapak satu-satunya yang berubah. Aku pun telah berubah.

Aku tak lagi mau memanen buah-buah kopi. Tak sanggup memperdayai nurani. Dan karena tak kutemukan lagi Bapak yang dulu berkisah, “Kopi Luwak muncul dari kesengsaraan para petani yang begitu menginginkan minum kopi hingga mengolah biji-biji di tai luwak. Kita beruntung bisa meneguknya tiap hari. Ingat, Wan, nikmatnya kopi Luwak itu karena luwak pintar memilih buah-buah kopi terbaik. Kemudian ada proses di dalam usus luwak yang menjadikan rasanya unik. Karena itu kita mesti berterima kasih pada luwak-luwak itu, memperlakukan mereka seperti keluarga.”

Aku pun tak lagi mengurus luwak-luwak. Tak mampu menatap tubuh-tubuh ringkih yang jumlah bulu rontoknya bertambah dari hari ke hari.

Dan… aku pun berhenti minum kopi Luwak karena rasanya seperti menelan darah luwak.

“Pak, itu si Tua sakit. Mau diapakan, Pak? Kita panggil dokter hewan?” lapor salah satu pegawai Bapak. Tua adalah nama luwak pertama yang Bapak miliki. Usianya telah serenta namanya. Tua beruntung masih diberi nama, karena luwak-luwak Bapak yang lain tidak lagi bernama, mereka hanya bernomor, seperti uang.

“Jangan, Jen. Jual saja itu ke tetangga. Kemarin Bu Nursimah perlu untuk mengobati anaknya yang sakit asma,” perintah Bapak.

Seandainya saja memang tujuan Bapak mulia untuk membantu kesembuhan anak Bu Nursiah, tentu aku tak akan segusar ini. Tapi aku tahu betul, Bapak hanya tak mau rugi. “Pak, jangan, Pak. Kita obati saja dulu,” sergahku.

“Halah, repot!” gerutu Bapak sambil mengibaskan tangan, memberi tanda pada Jejen untuk segera melaksanakan perintahnya.

Aku berjalan cepat mengekori Jejen. “Jen, si Tua jangan diapa-apain,” kataku setegas mungkin. Jejen hanya menghela napas sembari mengangkat bahu.

Kakiku baru saja akan melangkah ketika suara Bapak menggelegar memecah siang. “Bapak tidak suka dibantah! Berani-beraninya kamu melarang Jejen melanggar perintah Bapak!”

“I… itu… bukan begitu, Pak. Ridwan hanya kasihan sama luwaknya,” ucapku terbata-bata.

Bapak bahkan tak mendengar kata-kataku, beliau mengambil arit, kemudian melesat ke kandang luwak. Dikeluarkannya si Tua, lalu tangan kekar itu terpeciki darah Tua yang meregang nyawa. Tatapan mata Bapak dan Tua terekam dalam di kepalaku. Pendarnya terlalu kontras. Bapak bukan lagi seperti manusia.

Perlahan-lahan penglihatanku menampakkan sesuatu yang merindingkan bulu roma. Di sekujur tubuh Bapak tumbuh bulu-bulu. Mula-mula munculnya di tangan yang terciprati darah si Tua. Hidungnya memanjang menjadi mencong. Bibirnya mengerucut kecil. Jika musang bisa berbulu domba, bapakku berbulu luwak. Kuusap-usap mata dengan jari jemari, tapi pemandangan itu tak berubah sama sekali. Bapak melihat perubahan di ekspresi wajahku, aku tahu dari pertanyaannya yang terdengar seperti cicitan. Gegas aku berlari mengunci diri di kamar, meninggalkan Luwak Bapak yang kebingungan.

Malam itu jangkrik yang berbunyi nyaring berhasil membangunkanku. Setengah pusing aku bangun dari tempat tidur. Perlahan ingatan tentang Bapak yang berubah menjadi luwak memenuhi kepalaku. Pasti sekadar mimpi. Tidak mungkin manusia berubah menjadi luwak seperti dalam cerita-cerita horor. Namun betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar. Bapak masih setia dengan tubuh luwaknya. Berdiri dengan dua kaki di depan cermin besar yang menempel pada pintu lemari hias. Matanya terus menekuri cermin dengan bulu-bulu tegak. Bapak telah sepenuhnya bermetamorfosis. Panjangnya kutaksir kurang dari seratus senti. Bulunya berwana abu-abu kecoklatan. Jalur di punggungnya berupa lima garis gelap yang terbentuk oleh bintik-bintik besar. Dahinya berwarna keputih-putihan persis uban rambutnya ketika masih berwujud manusia.

Aku bergidik. Tak lama kupaksakan diri mencari Ibu dan semua pegawai Bapak. Tidak kutemukan satu pun manusia di rumah ini. Saat kupanggil Ibu, bukannya sahutan, yang terdengar hanya gaung suaraku melebur dengan cicitan gelisah luwak-luwak dari kandang-kandang mereka. Binatang-binatang nokturnal itu telah aktif. Bapak ikut mencicit padaku.

“Bapak?” tanyaku pada luwak di depan cermin. Memastikan bahwa ini bukan halusinasi.

Luwak itu mencicit sambil mengangguk.

Mendadak aku tahu apa yang mesti kuperbuat. Aku menghampiri Luwak Bapak, kugendong tubuh ringannya. Kubawa Luwak Bapak menuju ke kandang. Awalnya Luwak Bapak tenang-tenang saja di dekapanku, tapi saat menyadari aku akan memasukkannya ke kandang, Luwak Bapak melawan. Perlu mengerahkan segenap tenaga supaya Luwak Bapak bisa kujejalkan bersama belasan ekor lain di kandang paling gelap dan sempit.

“Lihat baik-baik dari sana, Pak,” kataku dengan sorot mata tajam.

Aku membuka satu per satu kandang luwak, mengeluarkan seluruh isinya. Mereka berlarian bebas, sebagian terpincang-picang. Luwak Bapak mencicit keras, mungkin beliau sedang menjerit frustrasi. Setelah semua kandang kosong hingga menyisakan satu kandang tempat Luwak Bapak berada, aku mendekatinya. Kubuka pintu kandang itu setengah hingga luwak-luwak bisa keluar, hanya Luwak Bapak saja yang kutahan meski tanganku terluka oleh cakaran kuku-kukunya.

“Tenanglah, Pak. Aku akan memperlakukan Bapak dengan baik,” tutupku sebelum meninggalkannya pada malam.

Paginya kutemukan Luwak Bapak tengah kelaparan. Maka aku memetik buah-buah kopi ceri hijau untuk sarapannya. Pada mulanya Luwak Bapak tampak tak selera melihat buah-buah kopi ceri muda itu. Tapi rasa lapar telah mendorongnya memakan yang ada. Begitu juga dengan sorenya. Berulang hingga keesokan harinya.

Ada yang berbeda hari ini. Luwak Bapak telah mengeluarkan kotorannya. Kusendok untuk kuperlihatkan pada Luwak Bapak. “Lihat, Pak. Ini tai kopi pertama Bapak. Bapak pasti bangga kan?” tanyaku. Luwak Bapak hanya mondar-mandir gusar.

Tubuh Luwak Bapak dari hari ke hari kian ringkih. Luwak Bapak makin sering mogok makan buah-buah kopi. “Makanlah, Pak. Jangan keras kepala begitu,” ucapku saat menemukan buah-buah kopi masih tak tersentuh. Luwak Bapak mengangkat kepalanya sedikit untuk melihatku. Matanya tak jernih. Sepertinya sakit. Setelah kutunggui berjam-jam, pada akhirnya Luwak Bapak makan juga karena tak kuat melawan lapar.

Aku telah mengumpulkan tai-tai Luwak Bapak selama seminggu. Kotoran-kotoran itu kujemur hingga kering, lalu kutumbuk agar biji-bijinya terpisah, kemudian kutampi hingga hanya menyisakan biji-biji kopi. Kucuci hingga bersih, dan menyangrainya bersama pasir sampai hitam sempurna. Setelah melewati beberapa proses lagi, kuseduh kopi Luwak pertamaku setelah bertahun-tahun berhenti mencecap rasanya.

Napas Luwak Bapak tampak satu-satu ketika aku mendekati kandangnya.

“Pak, ini kopi dari tubuhmu. Akan kuminum selagi panas. Aku selalu ingat kata-kata Bapak. Rasa kopi terus berubah seiring suhunya merambat dingin.”

Aku menyesap kopi kental perlahan, merasakan cairan hitam membasahi kerongkongan. Menikmati aroma belantara yang melekat pada kopi. Rasanya tak pahit. Kopi paling nikmat seumur hidupku, yang keluar bersama feses Bapak yang memerah oleh darah.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

MyCupOfStory-Poster-759x500

12 Cara Mempromosikan Buku [Bagian Pertama]

12 Cara Mempromosikan Buku [Bagian Pertama]

Setelah rangkaian riset-menulis-revisi-editing-revisi-editing melelahkan yang bikin Naruto yang punya energi melimpah ruah sekalipun ingin mengibarkan bendera putih, satu karya masih harus melewati proses panjang penerbitan. Sesudah buku cetak dan disebarkan, apakah selesai di sana? Tentu saja tidak, masih ada satu lagi perjalanan terjal setara berenang gaya koprol di Samudera Atlantik yang mesti diperjuangkan: Promosi Buku. Sebagai penulis, saat ini lebih baik untuk berperan aktif dalam mempromosikan buku. Tidak pasif saja menyerahkan semuanya pada penerbit dan berharap buku langsung best seller lalu difilmkan. Apalagi kalau buku kita diterbitkan secara indie, sudah pasti penulis harus siap menjadi garda terdepan dalam mempromosikan bukunya. Tentu saja pilar pertama yang akan mempromosikan adalah kualitas karya itu sendiri. Jadi ketika kamu menulis penuh cinta dan sebaik mungkin, itu sudah satu langkah mempromosikan karyamu. Karena itu menulislah sebaik-baiknya, Karena karya akan lebih banyak bicara. Kebanyakan penulis pemula sering bingung harus melakukan apa saja dalam kegiatan promosi ini. Jangan sedih dulu dan tebar-tebar drama, kamu mungkin bisa menerapkan 12 cara mempromosikan buku ini.

12 Cara Mempromosikan Buku:

  1. Buat Book Trailer

Kamu pasti sering menonton trailer film kan? Book trailer tidak jauh beda dengan trailer film, hanya produk yang dipromosikannya berbeda, Jangan memikirkan kalau membuat book trailer itu jelimet. Tenang, rambut keritingmu tidak akan berubah lurus, atau rambut lurusmu tidak akan tiba-tiba keriting karena saking mumetnya memikirkan pembuatan book trailer. Ada bermacam-macam book trailer dari yang simpel sampai yang rumit, dari yang biaya pembuatannya murah meriah sampai yang memerlukan budget tinggi. Paling penting adalah membuat book trailer semenarik mungkin. Seperti juga deadline, percaya deh kepepet dan keterbatasan akan mengasah kreativitasmu.

Book trailer bisa berupa video pendek yang diperankan oleh manusia, dapat berbentuk motion comic, atau kumpulan slide-slide gambar. Usahakan hak cipta semua materi yang dipakai adalah milikmu. Bisa menggunakan karya orang lain yang bebas dipakai untuk segala kepentingan. Atau kamu dapat menghubungi pemilik karyanya dan bekerja sama dalam satu kolaborasi. Misalnya kamu memakai musik band indie, mintalah baik-baik pada mereka untuk menggunakannya bukan menodong dengan mode senggol bacok, sehingga ketika book trailer-mu diunggah di Youtube, book trailer-mu tidak akan di-banned .

  • Book trailer berupa film pendek manusia. Kalau kamu memilih bentuk seperti ini, kamu harus membuat skenarionya dulu berdasar bukumu. Ambil satu atau beberapa adegan menarik yang menggambarkan bukumu. Hati-hati spoiler ya. Contoh proses pembuatan book trailer yang saya buat dengan metode ini bisa kamu baca di Behind The Book Trailer – TwiRies contoh hasilnya bisa kamu tonton di

Namun tidak mesti melulu orang- orang yang berperan. Kamu juga dapat membuat video berupa pemandangan, jalan, kesibukan orang-orang, scrapbook, atau apa saja yang sesuai dengan cerita bukumu, padukan dengan narasi yang dibacakan narator. Cara ini lebih simpel, murah, dan bisa kamu lakukan sendiri. Kamu dapat mengambil video menggunakan kamera ponse, dan mengedit sendiri dengan mengisi narasi yang juga kamu bacakan sendiri.

  • Book trailer berupa motion comic. Pembuatannya sama saja, yaitu menuliskan skenario komiknya dulu, kemudian digambar sendiri atau meminta bantuan ilustrator. Cara membuat skenario komik bisa kamu baca di Tips Membuat Skenario Komik. Karena saya tidak bisa menggambar komik, saya bekerja sama dengan ilustrator. Tapi kalau kamu suka bereksperimen dan suka menggambar, buat saja sendiri, lumayan memangkas budget. Komik yang dibuat harus ber-layer-layer, supaya bisa dianimasikan. Selain gambar, musiknya mesti diperhatikan. Pengalaman saya sih, dulu berkolaborasi dengan penyanyi indie. Saya diberi izin menggunakannya, tentu dengan mencantumkan pemilik hak ciptanya. Contoh book trailer motion comic yang pernah saya buat bisa ditonton di
  • Book trailer berupa slide gambar. Slide-slide-nya bisa kamu isi dengan blurb bukumu, dan quotes-nya. Gambar yang digunakan sebaiknya milikmu, bisa berupa gambar kreasimu sendiri atau foto yang kamu ambil. Bila tidak memungkinkan, kamu bisa meminta bantuan teman, atau memakai foto/gambar yang hak ciptanya telah dibebaskan. Book trailer model ini pembuatannya sangat simpel dan tidak memerlukan budget tinggi.

2. Bagikan Teaser Bukumu.

Posting satu sampai dua bab karyamu di blog atau Wattpad agar bisa dibaca secara bebas. Sebelumnya kamu harus meminta izin dulu pada penerbit, karena sangat memungkinkan penerbit tidak memperbolehkannya. Cara ini lazim dilakukan pada penjualan e-book. Coba saja kamu buka google play book, kamu bisa mengakses beberapa bab pertama buku dengan gratis. Dengan begitu, Pembaca bisa menentukan apakah akan membeli karyamu atau tidak. Memang membutuhkan kepercayaan diri tinggi untuk menggunakan promosi cara ini.

3. Sebarkan Photo Quotes di Media Sosial

Kalau kamu termasuk penulis yang memilih personal branding aktif di media sosial, kamu bisa menyebarkan photo quotes bukumu di semua akun. Buat foto sebagus mungkin atau memakai foto yang bebas digunakan–tentu saja yang sesuai dengan quotes-nya, lalu sebarkan di Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya. Pilih quotes yang jleb sehingga pembaca tertarik pada bukumu.

kutipan foto contoh

Contoh photoquotes

4. Buat Behind The Book

Proses menelurkan karya selalu menarik dan berwarna-warni, tidak kalah seru dengan isi buku itu sendiri. Buat satu artikel curhat tentang proses pembuatan bukumu. Ceritakan bagaimana jatuh bangunnya riset yang kamu lakukan, pencarian penerbit–kalau ada drama penolakan bisa banget kamu masukkan, proses revisi yang membuatmu bermimpi buruk, sampai pemilihan cover yang bikin sedilema memilih pasangan. Bentuknya bisa juga dikreasikan. Misalnya saya mengkreasikannya menjadi fun fact.

Contohnya bisa kamu baca di Behind The Book: Di Balik Pelit dan Kisah Di Balik Cerpen Saya.

5. Bekerja Sama dengan Blogger Buku.

Supaya bukumu dari awal sudah ada gaungnya, bekerja samalah dengan para blogger buku untuk diresensi. Harap dicatat, kamu tidak bisa menyetir resensor untuk ‘hanya’ memberikan review bagus tanpa memasukkan kritikan. Itu terjadi secara alamiah, kalau karyamu memang matang, mereka sudah pasti akan memberikan apresiasi berbentuk pujian. Para resensor ini punya standar kualitas review yang sudah ditetapkan masing-masing, ketika mereka merekomendasikan buku, mereka juga sedang mempertaruhkan penilaiannya. Lebay? Tidak. Itu faktanya. Supaya kamu tidak drop ketika membaca masukan atau kritikan dalam ulasannya, ada baiknya kamu stalking dulu blog-blog para blogger buku itu. Kamu bisa memilih gaya review mana yang sesuai dengan karaktermu. Kalau kamu baperan, pilihlah resensor yang menyampaikan kritikan dengan halus. Para blogger buku itu bukan kepengin dapet buku gratisan, mereka membantu promosi buku karena murni atas kecintaan terhadap dunia literasi. Kalau bukumu dibaca banyak orang, mereka ikut bahagia.

PicsArt_08-10-06.26.09

Contoh review saya untuk novel Me Vs Daddy

6. Membuat Blog Tour

Ada kemiripan dengan meminta review dari blogger buku–salah satunya karena blog host biasanya memang blogger buku juga, dalam blog tour juga bukumu akan diulas. Bedanya, blog tour sepaket dengan giveaway, dan ada jadwal postingan berantai di beberapa blog. Kalau di-review saja oleh blogger buku, jadwalnya tidak pasti kapan-kapannya. Postingan blog tour juga bisa dipecah menjadi beberapa artikel. Misalnya artikel review, artikel wawancara penulis, dan postingan giveaway-nya. Biasanya penerbit sudah mengakomodir promosi model ini. Penulis dan editor bisa berdiskusi mengenai pemilihan blog-blog yang akan diajak dalam blog tour bukumu. Ada beberapa kriteria memilih host blog, kualitas ulasannya, banyaknya followers akun media sosialnya, sampai seberapa ramai blognya. Sama seperti bentuk kerja sama dengan blogger buku, kamu bisa stalking dulu blog-blognya untuk menentukan blog host yang sesuai.

Contoh Blog Tour ketika saya menjadi blog host Blog Tour Novel Anak Pohon, Blog Tour Novel Tiger On My Bed [Review] , dan Blog Tour Novel Tiger On My Bed [Giveaway] .

Itu baru enam dari 12 cara mempromosikan buku. Artikelnya saya bagi menjadi dua postingan karena panjang-panjang. Akan saya sambung di artikel berikutnya. Semoga bermanfaat ya ^ _ ^ Boleh banget kamu share cara promosi bukumu di komentar, atau kirim buntelan buku ke rumah saya😄

[Review] Me Vs Daddy Karya Sayfullan

[Review] Me Vs Daddy Karya Sayfullan

Hubungan orangtua dan anak kadang rumit. Perbedaan usia dan pengalaman menyebabkan sudut pandang sering kali tak sejalan. Namun kadang kala, masa lalulah penyebabnya. Seperti yang diangkat Sayfullan dalam novel “Me Vs Daddy” ini.

Penampakan Sayfullan

Penampakan Sayfullan

Kenalan dengan Sayfullan

Sayfullan adalah nama pena dari Saiful Anwar. Lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro ini sangat menyenangi dunia tulis-menulis. Kocak dan gokil adalah kata yang pas untuk menggambarkan karakternya.

Pemain teater ini memiliki banyak hobi, selain menulis, dia juga sangat menyukai renang, volly, dan lari. Namun semua hobby olahraganya harus rela ditinggalkan karena penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Dia juga masih melaksanakan rutinitas hemodialisa dua kali seminggu. Penyakit itu tidak merenggut semangatnya untuk terus berkarya dan menyebarkan inspirasi.

Sayfullan bisa dihubungi di Email: eter.233@gmail.com, twitter : @sayfullan dan Facebook : rawna_lufias@yahoo.co.id

Data Buku

Judul : Me Vs Daddy

Penulis : Sayfullan

Penerbit : deTEENS (Diva Press Group)

Tebal : 219 Halaman

Editor : Vita Brevis

ISBN : 9786023912025

Blurb :

Karel dan eclair. Kecintaan Karel terhadap kue kering berbentuk panjang berisi aneka krim pasta ini bukan cuma karena rasanya yang legit dan enak. Mengingatkannya juga pada Claudia, mendiang sang mama. Namun, Marvin ingin Karel mengikuti jejaknya dalam bidang properti. Kopanda Cafe dan Eclair Shop adalah ajang pertaruhan antara anak dan ayah. Karel harus bisa membuktikan kemampuannya. Jika tidak, konsekuensi berat menunggunya.

Review Buku

Saya merindukan membaca novel lokal yang bercerita tentang hubungan anak dan orangtua yang harmonis. Karena saya lebih banyak membaca buku yang menceritakan bagaimana teman-teman justru lebih berarti ketimbang orangtua karena lebih paham dunia mereka dan menjadi penyemangat dari keterpurukan. Kalau dari judul dan blurbnya, novel “Me Vs Daddy” memiliki problematika yang senada. Yaitu hubungan orangtua dan anak yang renggang. Tapi saya merasa bahwa novel ini pada akhirnya akan memberikan solusi yang baik untuk memperbaiki hubungan buruk itu. Maka mulailah saya menyantap bab demi bab.

[Review] Me Vs Daddy Karya Sayfullan

JudulMe Vs Daddy” cukup provokatif dan menjanjikan konflik menarik. Cover-nya sederhana namun cukup eye catchy. Tapi saya justru dibuat penasaran oleh tagline-nya, yaitu “Antara kenangan masa lalu dan rasa bersalah”. Terus terang, saya punya ketertarikan khusus pada kisah-kisah masa lalu kelam yang mengunci jiwa dengan rasa bersalah. Saya selalu penasaran, bagaimana penulis membuat tokohnya akhirnya bisa berdamai dengan masa silam dan memaafkan dirinya–kalau akhirnya itu yang terjadi. Kemudian, blurb novel ini saya nilai memiliki daya jual. Pendek tapi langsung mengena pada konflik.

Dalam waktu satu jam saja, saya sudah menuntaskan delapan bab pertama. Karena bab pertamanya sudah menyajikan konflik tanpa basa-basi. Dimana dikisahkan bahwa Karel menemui ayahnya untuk meminta restu dan modal menjalankan usaha kafe Kopanda sebagai manajemen sekaligus chef cake dan ahli patisserie. Permintaan itu berbuah ajang pertaruhan antara ayah dan anak. Bab awal yang memicu penasaran.

Sedangkan, konsep vintage dari Kopanda terlihat dari adanya susunan batu bata kasar di dinding bagian bawah kafe yang sengaja tidak dihaluskan. Juga bingkai-bingkai pigura tanpa gambar dari kayu berpelitur coklat pekat yang tersebar di dinding berwarna krem itu berhasil menambah kesan eksotis, lampau, dan unik pada Kopanda. — Halaman 26

Penulis mendeskripsikan setting dengan detail tapi tidak berlebihan, membuat saya merasa akrab dengan tempat-tempat dalam novelnya. Begitu pula dengan kue-kue di kafe Kopanda, Sayfullan bukan hanya menarasikan bentuknya, tapi juga rasa dan keharumannya.

Semua yang kami sajikan di sini adalah wujud harapan dan mimpi yang luar biasa dari kami — Halaman 31

Saya kemudian berkenalan dengan banyak tokohnya. Karel si tokoh utama yang digambarkan memiliki fisik manis namun teguh pendirian dan pekerja keras, Marvin sang ayah yang keras dan tampan, para pegawai kafe Kopanda yang solid, kemudian Jiana anak SMA yang cerdas tapi keras kepala, dan Renne ibu Jiana yang membesarkan anaknya seorang diri. Renne memiliki karakter keibuan, tapi agak centil. Dalam keberagaman karakter inilah saya mendapatkan humor ala Sayfullan. Chemistry tokoh-tokohnya cukup baik. Saya bisa merasakan harmoninya hubungan Renne dan Jiana. Namun chemistry Karel dan Jiana dibangun dengan terburu-buru, sehingga terasa kurang kuat. Tahu-tahu saja mereka sudah dekat. Pembaca tidak diajak step by step menyaksikan perubahan rasa antara mereka.

Karena sejujurnya dia tahu, menyesap kembali pekatnya kenangan bersama Claudia akan bermuara akhir pada lautan rasa sakit hati. –Halaman 15-16

Sayfullan memiliki gaya bahasa puitis yang di tempatkan di beberapa bagian yang pas, menjadikan novel ini enak dinikmati. Me Vs Daddy mempunyai diksi dan kosakata yang cukup kaya. Secara keseluruhan novel ini memakai bahasa ringan yang mudah dicerna. Sayang, untuk dialognya “Me Vs Daddy” tidak konsisten. Pada awal-awal, dialog Karel dan Marvin percampuran antara kaku dan santai. Saya sampai mengira bahwa mereka akan konsisten berdialog kaku, tetapi semakin ke sana, obrolan mereka makin cair. Bukan, bukan karena hubungan mereka membaik atau apa, tapi memang tidak konsisten saja. Permasalahan pemilihan gaya bahasa dialog ini pun membuat karakter Marvin menjadi tidak ajeg. Marvin tidak lagi tergambarkan sebagai sosok pria bertangan dingin, padahal belum ada kejadian yang bisa membuat karakternya bisa berubah. Syukurnya selain Marvin, meskipun kadang saya menemukan ketidakkonsistenan, tetapi tidak sampai terasa mengubah karakter tokohnya.

Bisa dibilang, cerita dalam novel ini terbagi ke dalam dua bagian besar. Pertama, kisah ayah dan anak Karel-Marvin. Kedua, tentang ibu dan anak Renne dan Jiana. Keduanya memiliki cerita dan konflik yang menarik. Karel-Marvin berkonflik karena Marvin tidak menyetujui impian anaknya sebab cita-cita Karel mengingatkannya pada sang istri. Hubungan Marvin dan Claudia istrinya kurang baik karena dia cemburu pada sahabat istrinya. Kemudian terjadi sesuatu yang membuatnya tenggelam dalam rasa bersalah. Lalu konflik Renne-Jiana berputar antara pengorbanan Renne melepas kariernya demi mengurus anaknya, dan pem-bully-an di sekolah Jiana. Benang merah konflik terletak pada Marvin dan Renne sama-sama memiliki masa lampau yang kelam dan kegagalan rumah tangga, sedang Karel dan Jiana memiliki impian yang tidak mudah diraih.

Dia pun akhirnya hanya bisa mencoba memejamkan mata. Berharap masa lalu bersama Claudia hilang, pejam oleh waktu dan zaman. — Halaman 24.

Konflik disampaikan lewat alur maju mundur sehingga pembaca diberi sedikit demi sedikit demi menjaga penasaran. Saya sendiri selalu menunggu bagian yang menceritakan masa lalu Marvin dan Renne. Namun, penulis memberi porsi yang berlebihan untuk kisah Renne dan Jiana, sehingga memungkinkan pembaca lebih merasa merekalah tokoh utamanya. Novel ini memiliki potensi konflik yang jelimet dan dalam, tetapi penulis memilih menyuguhkannya dengan ringan. Tapi saya suka bagaimana Sayfullan memasukan selipan-selipan humor di beberapa bab sehingga pembaca tidak bertubi-tubi disuguhkan ketegangan. Yang disayangkan adalah semua konflik yang disuguhkan tidak diberi pendalaman, dan penyelesaiannya terkesan mudah. Sehingga ketika pembaca baru akan larut, masalah sudah selesai duluan, tidak memberi ruang untuk tenggelam dalam empati. Misalnya perjuangan Karel menggapai impiannya, tidak ada batu besar yang menghalang, hanya kerikil-kerikil tajam yang mudah disingkirkan. Untungnya masalah Jiana cukup menggigit. Sayfullan tampak terburu-buru menyelesaikan konflik-konfliknya. Padahal konfliknya sangat menarik.

Bukankah selalu ada pertumbuhan dalam setiap fase kehidupan? — Halaman 25.

Bukan berarti novel ini tidak berhasil mentransfer emosi pada pembacanya. Pada beberapa bagian, terutama adegan masa lalu Marvin, Sayfullan berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca. Part-part Renne dan Jiana pun menyentuh. Saya selalu merasa hangat dan dekat tiap membaca bagian ketika mereka bersama. Dari hubungan ibu dan anak itulah dahaga saya akan cerita kedekatan orangtua dan anak terpuaskan.

Pada akhirnya, apa yang saya cari dari novel ini saya dapatkan. Pesan moral yang tidak menggurui, dan kisah orangtua anak yang bittersweet. Saya rekomendasikan novel ini untuk kamu yang menyukai novel ringan, menghibur, dan menghangatkan hati.

Cerpen “Hari Untuk Ibu” Dimuat di Taman Fiksi Edisi 4

Hari Untuk Ibu

 

*****Catatan: Cerpen ini dimuat di www (dot) Tamanfiksi (dot) com edisi keempat tahun 2015 lalu.

Hari Untuk Ibu

Oleh: Eva Sri Rahayu

 

Sejujurnya aku selalu enggan mengunjungi Ibu. Sebisa mungkin aku akan menghindari pertemuan dengan berbagai alasan, meski harus mengarang sekalipun. Namun, hari ini hari ulang tahunnya. Sebagai anak, rasanya keterlaluan kalau aku tidak datang. Karena itu aku mengumpulkan seluruh keberanian untuk dapat duduk berhadapan dengan Ibu di dapur rumah tempat aku dibesarkan.

“Selamat ulang tahun, Bu,” ucapku sambil memegang tangannya yang makin dipenuhi keriput.

Wajah Ibu yang bulat dihiasi senyuman, dia lalu mengangguk pelan, dilepaskannya peganganku, kemudian berdiri. Meskipun memunggungiku, dari gerakan tangannya aku tahu beliau sedang memotong sesuatu. Ketika Ibu berbalik, aku melihat sepotong kue yang terlihat enak dan mahal di tangannya. “Ini dari kakakmu, tadi dia ke sini membawakan kue ulang tahun. Padahal Ibu sudah bilang jangan repot-repot,” katanya, sambil menyodorkan kue itu padaku. Mata Ibu berbinar, tampak sangat jelas beliau begitu bangga pada kakakku itu.

Hatiku langsung berdenyut. Ah, iya, aku tidak membawa apa-apa. Aku tidak sanggup membawakannya sesuatu, bahkan barang murah sekalipun. “Maaf, Bu, tadi aku ketinggalan kadonya,” ujarku gugup sembari mengusap rambut pendekku yang sebenarnya tidak butuh dirapikan—rambut itu kupotong sampai tengkukku terlihat agar tidak menghabiskan banyak biaya perawatan. Kebohongan entah keberapa yang kulontarkan padanya, aku tidak ingat jumlahnya, karena terlalu terbiasa berdusta.

“Tas yang kamu janjikan waktu pulang dari Bali saja lupa terus. Kamu itu kebiasaan bohong,” ucap Ibu tajam. Aku menelan ludah mendengarnya tanpa mampu membalas apa-apa.

Sebenarnya aku memang belum membelikan tas itu, aku tidak punya uang. Yang membuatku terpaksa berjanji karena takut dianggap anak pelit. Waktu itu aku memang mendapat proyek cukup besar di Bali, tapi hutangku yang terus menumpuk jauh lebih besar lagi. Aku sudah ditagih-tagih, bahkan dengan tidak hormat. Hutang-hutang itu muncul bukan karena gaya hidupku yang hedon, semuanya kupakai untuk bertahan hidup, dan … demi menjaga gengsiku di mata Ibu.

“Mama, Ika mau minum susu,” celoteh Triska, anakku. Tangannya sibuk menjawil-jawil rok lipitku.

Buru-buru aku membuka tas, mengeluarkan kaleng susu formula yang masih penuh. Aku menghindari pandangan Ibu yang kurasa sedang menelitiku.

“Susunya masih yang lama, kan?” selidik Ibu. Yang dimaksudnya adalah susu formula paling mahal di pasaran. Ibu memaksaku menggunakannya karena kakakku memberikan susu itu untuk anaknya.

“Iya,” jawabku sembari menyibukan diri dengan membuat susu, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Ibu, takut ketahuan berbohong lagi karena isi kaleng itu telah kuganti dengan merek susu lain yang bisa terjangkau dengan penghasilanku.

Di depan Ibu, aku tidak ingin terlihat miskin. Aku selalu takut keluarga kecilku dihinanya. Sebisa mungkin aku menyembunyikan kesulitan keluargaku padanya, aku tidak ingin suamiku yang hanya pegawai toko itu terus direndahkan. Yah, keadaan kakakku memang jauh lebih baik dari kami. Suaminya anggota dewan, sekalipun dia hanya ibu rumah tangga, segalanya lebih dari tercukupi. Beda denganku yang harus ikut banting tulang kerja serabutan.

“Sudah lama kamu tidak menitipkan Ika pada Ibu, apa kamu belum dapat proyek?” tanya Ibu heran, kedua alisnya bertaut hingga kerutan halus di keningnya tampak makin jelas.

“Ada kok, Bu. Aku sekarang nulis artikel buat website,” jawabku jujur.

“Ah, kerja begituan kan tidak menghasilkan. Triska sudah makin besar, sebentar lagi masuk SD, butuh biaya gede. Kamu harus punya tabungan, Gia. Mendingan cari kerja yang bener,” nasihat Ibu.

Aku menghela napas dalam-dalam, bingung menjawab apa. Dulu aku pernah kerja kantoran, sayangnya aku berenti sebelum habis masa kontrak. Ibu mengatakan sudah tidak kuat mengurus Triska yang waktu itu sedang belajar berjalan. Usia Ibu memang sudah menginjak enam puluh lebih, wajar kalau mudah lelah. Sementara kalau kutitipkan pada day care, Ibu juga tidak setuju, malah menyebutku ingin membuang anak. Aku dihadapkan pada dilema antara pekerjaan dan keluarga.

Setelah berhenti, sekarang aku bekerja berdasarkan proyek saja agar hanya sesekali meninggalkan Triska. Supaya lebih banyak waktu untuk membesarkannya. Tapi toh ternyata itu tidak cukup. Ibu tetap menuntut banyak padaku. Lalu sekarang, Ibu menyuruhku untuk bekerja lagi. Hidup ini memang jenaka, terdiri dari lelucon tuntutan dan kepentingan.

Aku menatap wajah Ibu yang sedang menanti jawabanku. Kali ini akulah yang menelisiknya. Bertanya-tanya apakah Ibu pernah punya mimpi yang ingin digapainya, yang dibuangnya untuk anak-anaknya. “Bu, apakah Ibu dulu punya impian?” tanyaku tanpa bisa ditahan.

Ibu mengernyit. “Tentu saja, kebahagiaan kalianlah impian Ibu.”

Mendengar itu aku tersenyum miris. Ibu, betapa mulianya engkau. Andai aku sepertimu. Andai aku … seperti … ah, tidak! Aku tidak ingin menjadi sepertimu. Aku tidak mau memenuhi hidup anakku dengan kepalsuan.

“Katanya CPNS sudah dibuka,” Ibu kembali mengarahkan pembicaraan pada jalur yang diinginkannya.

“Oh, yah. Nanti aku coba cari infonya, Bu. Tapi gimana nanti Triska? Ibu kan sudah tidak kuat menjaganya,” kataku ragu-ragu.

“Gaji PNS kan besar, kamu bisa gaji pembantu untuk bantu Ibu,” jawab Ibu mantap.

Hmm, iya, semuanya kembali soal uang. Kemudian hening di antara kami. Aku melemparkan pandangan ke jendela, menatap jajaran bunga kacapiring. Suara samar nyanyian Triska memecah kesunyian di antara kami. Aku dan Ibu sama-sama memusatkan perhatian pada Triska yang sedang menyanyi sambil menari kecil di dekatku.

“Ika cucu Nenek sayang, sudah lama ya Nenek tidak melihat Ika menari balet. Coba Nenek mau lihat.” Deg! Jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan Ibu. Triska sudah hampir setahun ini kuberhentikan dari les baletnya tanpa sepengetahuan Ibu.

Bukan hanya aku yang kaget, wajah Triska pun memperlihatkan ekspresi keterkejutan. Dia lalu menatapku takut-takut. Aku menjawab mata bening itu dengan intimidasi, seolah berkata “Jangan katakan apa-apa pada Nenek kalau kamu tidak ingin Mama dimarahi.” Triska menunduk, sebelah tangannya yang tidak memegang gelas memainkan pita di bajunya. Sedari dulu ibulah yang mendesak agar Triska ikut les balet agar hobinya tersalurkan, sedangkan aku memaksakan diri berhutang untuk membiayainnya demi dianggap sebagai orangtua yang baik.

“Ika, kenapa, Sayang?” tanya Ibu lembut sembari tanganya berusaha menjangkau rambut keriting sebahu Ika. Tapi Ika malah membenamkan wajahnya ke perutku. Ibu menatapku tajam, mata itu tampak marah. “Gia, jujur pada Ibu. Triska masih kamu les baletkan, kan?” tanya Ibu lagi, kata perkata disampaikannya penuh penekanan.

“Itu … tempat lesnya tutup, Bu. Katanya … kurang siswa,” jawabku gagap. Kentara sekali aku memalsukan fakta.

“Jangan bohong, Gia! Kenapa kamu berhentikan? Tidak ada uang? Katakan pada Ibu, nanti Ibu yang bayar!” bentak Ibu.

“Ada … ada kok, Bu,” ucapku.

“Ah, memang kapan sih kamu punya uang,” sindir Ibu. Seketika itu hatiku seperti dilanda badai. Ya, memang pada akhirnya selalu Ibulah yang membiayai keperluan-keperluan besar Triska. Mulai dari operasi kelahiran, ekahan, dan saat Triska dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Tapi mendengar kalimat itu tetap saja membuat ulu hatiku nyeri.

Prang! Bunyi gelas pecah membuat aku dan Ibu kembali menatap Ika yang sedang berdiri mematung. Kakinya penuh pecahan gelas bercampur air susu. Aku langsung naik pitam melihatnya. “Ika! Makanya hati-hati pegang gelasnya!” bentakku yang langsung membuat Ika menangis dalam diam. Kedua bahunya bergetar.

Aku berdiri, mengambil sapu dan pengki, memasukan pecahan gelas itu ke pengki dengan gerakan kasar penuh emosi. Tidak kuhiraukan Triska yang berkali-kali mengucapkan kata “Maaf”.

“Kamu itu kenapa sih jadi mudah marah begitu? Dulu kamu anaknya penurut dan sabar! Kenapa sekarang berubah begini!” teriak Ibu. Beliau lalu menggendong Triska.

“Iya, Bu, aku bosan jadi bonekamu!” balasku.

“Gia! Sekarang kamu selalu balas membentak Ibu!” ucap Ibu dengan suara bergetar. Ya, ledakan ini bukan kali pertama, entah sudah berapa kali kami cekcok begini. Seperti kata Ibu, aku memang telah berubah. Aku sudah tidak bisa meredam amarah lagi ketika diperlakukan kasar oleh Ibu. Aku tahu Ibu sakit hati, tapi hatiku lebih pedih.

“Tuh, Ika, gara-gara kamu Mama dimarahi Nenek! Puas kamu?” ucapku sambil memberikan tatapan setajam pisau pada Triska. Bocah itu menangis lebih keras.

“Jangan salahkan Ika atas ketidak becusanmu, Gia! Mikir!!! Dasar tidak punya otak! Cobalah jadi orangtua yang baik!” Ibu memberondongiku dengan makian. Sudah kenyang aku mendengarnya, tapi ternyata tidak juga kebal.

“Iya, Bu, aku memang orangtua gagal! Semua yang kulakukan selalu salah! Dari dulu Ibu selalu mengatakan aku orangtua yang buruk, kan?” kataku lagi, juga menaikan suara beberapa oktaf. “Ibu sudah berhasil mencuci otakku. Gara-gara perkataan Ibu, tidak pernah sedetik pun aku merasa menjadi seorang mama yang baik.”

Ibu tampat tersentak. Kulihat air mata melinangi pipinya. Nenek dan cucu itu saling berpelukan dalam tangis. Dadaku semakin sesak. Aku telah menyakiti keduanya. Namun sungguh, aku tidak bermaksud demikian. Aku sudah berusaha menahankan semuanya. Kemudian aku pun turut menangis, hingga dapur dipenuhi suara isakan.

Kutatap Ibu. Aku seperti melihat cerminan diriku. Mati-matian aku ingin menjadi bagian terbaikmu, Bu. Namun aku yang sekarang kembali terlahir dari sisi burukmu.

Pandanganku beralih pada Triska. Nak, jangan pernah menjadi pantulan Mama. Tapi aku sadar, dia telah kudidik menjadi sepertiku. Rantai karakter yang tidak terputus.

Entah berapa lama waktu berlalu yang kami habiskan dalam kesibukan pikiran masing-masing. Akhirnya kuputuskan untuk hengkang dari rumah ini. Kurenggut Triska dari dekapan Ibu. “Aku pulang, Bu,” pamitku sambil mengemasi barang. Ibu hanya diam saja, bergeming.

Kuseret Triska dalam langkah cepat-cepat. Triska masih menangis sesenggukan. “Diam, Ika!” bentakku. Tapi tangis Triska malah makin kencang. Langkahnya yang lamban membuat pegangan tangan kami terlepas. Aku tidak menurunkan kecepatan, kubiarkan Triska tertinggal di belakang.

“Huhuhu … Ika mau sama Mama. Ika mau, hiks, sama Mama. Hiks,” ucapnya lemah, tapi cukup membuatku mendengarnya.

Langkahku terhenti seketika. Aku berbalik untuk menatap Triska. Kulihat gadis kecilku merentangkan kedua tangannya, meminta kugapai. Hidungnya merah karena menangis lama. Hatiku tersentuh melihatnya.

“Mama … hiks, Ika mau sama Mama, hiks,” katanya lagi dengan tangan menggapai-gapai. Mata itu penuh kasih sayang meskipun terluka. Perasaan yang tulus dan dalam. Aku mengenali perasaan itu. Mengenali perkataan itu. Perasaan dari masa kecilku pada Ibu. Dan perasaan Ibu padaku. Aku pun selalu ingin bersama Ibu, saling bergenggaman tangan dengannya. Air mataku meleleh lagi.

Kupeluk Triska erat. “Maafkan Mama, ya. Maafkan Mama,” ujarku sambil mengelus rambut Triska.

Bu, betapapun kita saling menyakiti, kita selalu saling menyayangi. Meskipun Ibu membuatku seringkali membenci diri sendiri dan sekaligus membencimu, tapi Ibu selalu menyediakan diri menjadi tempatku bersandar. Dan tanganmu, tidak pernah melepaskanku.

Kugendong Triska, kembali ke rumah Ibu. Saat aku memasuki dapur, tubuh ringkih Ibu masih tampak naik turun. Rupanya tangis Ibu belum juga reda.

“Bu …,” panggilku lirih.

Ibu membalikkan tubuhnya. Mata kami bersirobok. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir kami, tapi aku tahu, kami telah saling bertukar maaf.

 

 

Kampanye Lingkungan dan Kesehatan Dalam Mudik Gratis Sidomuncul 2016

PicsArt_07-01-11.12.40

Mudik Bukan Hanya Perkara Kepulangan

Mudik bukan hanya perkara kepulangan, bukan sekadar merebahkan raga di tanah kelahiran. Ada rindu yang meremas hati, perkara rasa yang mesti dilabuhkan. Menjejakkan kaki di kampung halaman, seperti mengulang memoar hidup. Napak tilas sejak kelahiran hingga raga pergi ke perantauan. Maka atas perkara rasa, perkara cinta, mudik menuntaskan hak atas perjamuan pertemuan dengan keluarga. Mudik memang peristiwa ajaib yang menyatukan, melikatkan kembali persaudaraan.

Setiap tahun saya selalu mendengar berita mudik lebaran gratis Sidomuncul dari mama saya. Beliau bercerita dengan ekspresi terharu, ikut senang atas apresiasi Sidomuncul untuk para pedagang jamu mereka dan orang-orang kurang mampu. Kala itu saya hanya manggut-manggut saja, sambil dalam hati merasa mudik gratis ini program sosial yang brilian. Saya enggak pernah menyangka, tahun ini bisa turut dalam keriaan itu, meskipun bukan sebagai pemudik. Namun euforia mudik itu tetap menyentuh hati. Dapat saya bayangkan, betapa bahagianya para pedagang jamu Sidomuncul dapat pulang, kumpul keluarga besar di kampung. Saya pun datang ke acara Jumpa Pers Mudik Gratis Sidomuncul dengan penasaran.

Konferensi press 27 Kali Mudik Gratis Sidomuncul

Konferensi press 27 Kali Mudik Gratis Sidomuncul

Apa yang Beda?

Selalu ada yang beda tiap tahunnya di acara Mudik Gratis Sidomuncul. Tahun ini PT. Sidomuncul Tbk. menyisipkan kampanye lingkungan dan kesehatan bagi para pemudik. Kampanye lingkungan ini merupakan sinergi dengan program pemerintah. Caranya cukup unik, yaitu menempelkan stiker komik berisi ajakan peduli lingkungan dengan memilah-milah sampah organik dan non organik. Memakai komik supaya setiap pemudik mudah menangkap isi pesan. Kemudian, kenapa ditempelkan di tiap belakang kursi bus, supaya mudah terlihat, dan selama perjalanan para pemudik akan tanpa sadar akan terus menerus membacanya. Diharapkan dengan begitu pesan akan menempel pada pemudik.

Si kembar bersama Pak Irwan Hidayat

Si kembar bersama Pak Irwan Hidayat

Kedua, selama mudik gratis, Sidomuncul membuka pendaftaran operasi katarak yang juga gratis untuk umum. Tahun ini PT. Sidomuncul Tbk. telah mengoperasi 50 ribu mata, rencananya akhir tahun bakalan mengoperasi lagi 14 ribu. Pada awalnya Sidomuncul kesulitan mencari masyarakat yang mau mengikuti program operasi katarak. Masyarakat masih takut untuk dioperasi. Pak Irwan Hidayat, Direktur Marketing PT. Sidomuncul Tbk. bercerita bahwa sewaktu mengawal operasi katarak, beliau melihat banyak sekali warga yang datang ke tempat, tetapi ketika ditanya, kebanyakan mereka ternyata bukan pasien, tetapi yang mengantar. Katanya, mereka baru mau mendaftar kalau melihat keluarga atau tetangga mereka yang dioperasi berhasil. Dalam mudik gratis tahun ini Sidomuncul sekaligus ingin menyosialisasikan lebih luas mengenai program operasi katarak supaya masyarakat lebih melek bahwa katarak bisa disembuhkan.

PicsArt_07-01-11.08.35

Blogger berbincang dengan Pak Irwan Hidayat

Sejarah Mudik Gratis Sidomuncul

Tahun 1991, Pak Sofyan Hidayat yang kini telah menjabat sebagai Direktur Utama PT. Sidomuncul Tbk. memiliki ide untuk mengadakan mudik gratis bagi para pedagang jamu Sidomuncul sebagai bentuk insentif. Ide itu diamini untuk direalisasikan, jadi diberangkatkanlah 17 bus membawa para pemudik ke kampung halaman mereka. Kala itu, tak ada media, tak ada acara apa-apa, pun pejabat pemerintah, hanya dilepas secara sederhana oleh Pak Kris Irawan yang waktu itu menjabat sebagai Marketing Manajer Sidomuncul. Begitu sampai tahun 1993. Hingga pada tahun 1994 acara mudik gratis ini mulai diorganisir lebih serius lagi. Barulah Sidomuncul mengadakan acara hiburan untuk pemudik sebelum dilepas, manajemen pun kemudian mengundang pejabat untuk melepas pemudik, mengundang media, dan memasang promosi produk Sidomuncul di bis. Bukan semata-mata bertujuan marketing, tetapi lebih jauh, agar warga luas dapat mengetahui program ini sehingga bisa mendaftar pada acara selanjutnya. Selain itu para pedagang jamu pun jadi lebih bersemangat dan bangga menjadi penjual jamu Sidomuncul. Kebahagiaan mereka merupakan alasan utama program ini.

Pak Irwan Hidayat Sang SocioMarketer

Pak Irwan Hidayat Sang SocioMarketer

Irwan Hidayat Sang SocioMarketer

Ini pertemuan ke sekian kalinya saya dengan Pak Irwan Hidayat, dan saya selalu dibuat kagum dengan karakter dan pemikirannya. Kali ini kami membincangkan tentang konsep marketing yang dijalankan Sidomuncul, yaitu menggunakan dana marketing perusahaan untuk dua hal sekaligus. Promosi produk sekaligus menyisipkan berbagai kampanye sosial. Memang setiap produk memiliki kampanye sendiri. Seperti Kuku Bima dengan kampanye pariwisatanya, atau Tolak Linu dengan kampanye lingkungannya. Dalam obrolan, Pak Irwan mengatakan kalau beliau lebih suka disebut SocioMarketer ketimbang Direktur Marketing. Beliau mengakui bahwa beliau bukanlah seorang filantropi, tetapi SocioMarketing. Karena memang Pak Irwan selalu menyelaraskan marketing dan sosial. Dan hasilnya malah lebih banyak ketimbang hanya memarketingkan produk saja. Menurut beliau, SocioMarketing sangat cocok diterapkan di Indonesia. Pak Irwan berharap semoga SocioMarketing yang dia jalankan dapat menginspirasi banyak perusahaan.

Komik peduli lingkungan yang bisa dimodifikasi untuk ucapan selamat lebaran

Komik peduli lingkungan yang bisa dimodifikasi untuk ucapan selamat lebaran

Pak Irwan meminta kami untuk turut berpartisipasi menyabarkan pesan kebaikan dalam momen lebaran, yaitu dengan memanfaatkan komik peduli lingkungan yang digagas Sidomuncul. Selama lebaran, kita biasanya memberikan ucapan ‘maaf’ lewat gambar yang telah ditambahkan tulisan. Pak Irwan menganjurkan agar memakai gambar komik dengan modifikasi di atasnya ditambahkan selamat lebaran dan foto sendiri. “Tulisan Sidomuncul tidak usah ditampilkan saja,” ucap beliau. Bahkan Pak Irwan langsung mencontohkannya dengan memperlihatkan ucapan selamat lebaran miliknya.

Acara pelepasan Mudik Gratis Sidomuncul 2016

Acara pelepasan Mudik Gratis Sidomuncul 2016

270 Bus Untuk 27 Kali Mudik Gratis Sidomuncul

Hari Jumat tanggal 1 Juli 2016, PT. Sidomuncul Tbk. memberangkatkan 270 bus dari titik pelepasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Jumlah 270 Bus selaras dengan angka 27 yang merupakan banyaknya program mudik gratis yang telah dilaksanakan. Pelepasan mudik lebaran kali ini dihadiri oleh Direktur Utama PT. Sidomuncul Tbk, Pak Sofyan Hidayat, dan Ibu Siti Nurbaya Bakar yang merupakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan RI. Ibu Situ sangat mengapresiasi Sidomuncul yang terus mengkampanyekan peduli lingkungan bahkan dalam suasana mudik. Beliau berharap para pemudik menularkan virus kepedulian lingkungan ini pada sanak saudara di kampungnya.

Bus mulai berjalan

Bus mulai berjalan

Tampak wajah-wajah para pemudik yang semringah. Tidak terlihat besitan pikiran keluhan akan perjalanan mudik yang biasanya akan dihiasi kemacetan dan kelelahan. Bayangan akan keindahan kampung halaman, pelukan hangat keluarga, dan segala nostalgianya telah mengalahkan rasa lelah. Bis kemudian mulai berjalan, membawa 16.000 senyum bahagia pemudik yang pulang, kembali ke kampung halaman, kembali pada cinta yang telah membesarkan.

Para pemudik yang bahagia

Para pemudik yang bahagia