[Cerpen] Bapak Berbulu Luwak

[Cerpen] Bapak Berbulu Luwak

 

Bapak Berbulu Luwak

Oleh Eva Sri Rahayu

 

Saat kopi Luwak buatan Bapak masih beraroma hutan liar bercampur kuaran bau tanah tersiram hujan, aku suka sekali menyesap uapnya. Dari kopinya kudengar alunan angin menggoyangkan pohon-pohon kopi. Namun hanya sekali saja aku mencicipinya, terlalu pahit di lidah bocahku yang baru tujuh tahun. Apalagi rasanya bertahan berjam-jam di kerongkongan. Bahkan rasa obat warung yang diberi Ibu ketika kepalaku pusing lebih enak ditelan. Aku baru memahami nikmat kopi Luwak setahun sebelum lulus SD. Kafein di dalamnya membuatku tak kuyu meskipun berjam-jam membaca bertumpuk-tumpuk buku. Kopi pun akhirnya kupakai sebagai penawar sakit kepala menggantikan obat warung. Kini kopi Luwak bikinan Bapak beraroma apak dan tengik, kopinya bukan hanya bau, tapi selalu memekik lirih dengan suara Musang Luwak yang sekarat.

Aroma kopi Bapak berubah perlahan-lahan sejak bertemu kawannya dari Jakarta. Dengan dandanan perlente dia mengiming-imingi Bapak bergabung dengan usaha coffeshop-nya yang menyajikan kopi Luwak eksklusif.

“Ugeng, tambahlah kau punya Luwak, jumlah segitu manalah cukup menghasilkan banyak kopi. Seluruh dunia lagi rakus kopi Luwak. Mana bisa cukup kopi-kopimu memberi minum mereka semua,” ucap kawan bapak ketika aku menyuguhkan kopi ke meja.

Sekilas ketika aku melewati Bapak untuk kembali ke dapur, kulihat kepalanya mengangguk-angguk dengan bibir mengepulkan asap rokok.

Minggu itu luwak di perkebunan kopi kami bertambah puluhan ekor, entah dari mana Bapak mendapatkannya. Setelah itu Bapak membuat kandang-kandang baru dari kayu. Tiap kali Bapak memasukkan luwak-luwak yang telah dianggapnya anak-anak sendiri ke dalam kandang, kulihat beliau meminta maaf tulus pada mereka. Meski hanya mendapat jawaban tak jelas dari mata bening coklat mencuat si luwak. Semusim itu, Bapak begitu telaten mengurus luwak. Bapak tampak begitu keras membungkam rasa bersalah di dadanya akibat mencerabut kemerdekaan hidup mereka. Setiap hari, Bapak memberikan pisang dan pepaya yang telah dikupas untuk mereka makan. Seminggu sekali, diberinya juga mereka burung-burung kecil untuk disantap. Hanya seminggu dua kali saja Bapak memberi buah-buah kopi untuk dimakan luwak. Itu pun buah-buah kopi ceri yang matang dan berwarna merah segar dari perkebunan kopi Bapak seluas tiga hektar. Saat itu, aku masih senang menemani Bapak dan lima pegawainya memanen kopi.

Kemudian, hari titik balik perubahan tabiat Bapak datang. Ketika itu aku tengah membantu Ibu menyangrai kopi-kopi yang telah bersih dari kotoran luwak dan dijemur berhari-hari di bawah terik matahari. Biji-biji kopi hampir berubah warna menjadi hitam pekat saat Bapak masuk ke dapur untuk memintaku menyeduh dua gelas kopi. Kawan Bapak rupanya sudah bertandang lagi.

Gelas kopi yang kupindahkan dari atas nampan hampir saja jatuh saat mataku terpaku pada tumpukan uang di meja. Kutaksir jumlah uang itu lebih banyak dari yang pernah kami miliki. Kulirik Bapak untuk melihat reaksinya. Bola mata Bapak berbinar cerah, mukanya kemerahan dimabuk kebahagiaan.

“Ini tak seberapa, Geng. Kau bisa dapat berlipat-lipat lagi kalau hasil kopimu berlimpah. Ada teman yang siap mengekspor kopimu ke luar negeri.”

“Tapi… bagaimana caranya, Zam?”

“Kudengar dari pegawaimu, luwak-luwak itu hanya kau beri buah kopi seminggu dua kali. Beri mereka kopi tiap hari. Kalau perlu, tak usah kau kasih makan apa-apa lagi,” jelas si Kawan dengan mata licik.

Musim panen berikutnya Bapak seperti kesetanan. Belasan luwak yang dikirim lagi ke rumah dijejal-jejalkan Bapak dalam beberapa kandang saja. Pepaya, pisang, dan burung-burung kecil berangsur-angsur dikurangi jumlahnya, hingga menghilang sama sekali dari gudang, menyisakan buah-buah kopi ceri beraneka warna. Padahal buah kopi ceri hijau belumlah lagi matang. Tangan-tangan Bapak telah terampil berkhianat pada kata hati saat memberikan buah-buah kopi ceri mentah itu pada luwak. Binatang-binatang itu hanya dipaksa makan buah-buah kopi. Tak peduli usus-usus mereka luka. Otak Bapak telah dipenuhi tai-tai luwak. Musim demi musim panen terus memudarkan jiwa Bapak. Mata Bapak tak lagi menyorotkan kasih sayang sebagai seorang ayah, kopi dan luwak buat Bapak sekarang hanya mesin pencetak uang. Bapak tak peduli kualitas kopi lagi, yang beliau butuhkan hanya kuantitas saja. Makin banyak, makin uang mengalir ke kantongnya. Bapak seperti ular berubah kulit.

Bukan hanya Bapak satu-satunya yang berubah. Aku pun telah berubah.

Aku tak lagi mau memanen buah-buah kopi. Tak sanggup memperdayai nurani. Dan karena tak kutemukan lagi Bapak yang dulu berkisah, “Kopi Luwak muncul dari kesengsaraan para petani yang begitu menginginkan minum kopi hingga mengolah biji-biji di tai luwak. Kita beruntung bisa meneguknya tiap hari. Ingat, Wan, nikmatnya kopi Luwak itu karena luwak pintar memilih buah-buah kopi terbaik. Kemudian ada proses di dalam usus luwak yang menjadikan rasanya unik. Karena itu kita mesti berterima kasih pada luwak-luwak itu, memperlakukan mereka seperti keluarga.”

Aku pun tak lagi mengurus luwak-luwak. Tak mampu menatap tubuh-tubuh ringkih yang jumlah bulu rontoknya bertambah dari hari ke hari.

Dan… aku pun berhenti minum kopi Luwak karena rasanya seperti menelan darah luwak.

“Pak, itu si Tua sakit. Mau diapakan, Pak? Kita panggil dokter hewan?” lapor salah satu pegawai Bapak. Tua adalah nama luwak pertama yang Bapak miliki. Usianya telah serenta namanya. Tua beruntung masih diberi nama, karena luwak-luwak Bapak yang lain tidak lagi bernama, mereka hanya bernomor, seperti uang.

“Jangan, Jen. Jual saja itu ke tetangga. Kemarin Bu Nursimah perlu untuk mengobati anaknya yang sakit asma,” perintah Bapak.

Seandainya saja memang tujuan Bapak mulia untuk membantu kesembuhan anak Bu Nursiah, tentu aku tak akan segusar ini. Tapi aku tahu betul, Bapak hanya tak mau rugi. “Pak, jangan, Pak. Kita obati saja dulu,” sergahku.

“Halah, repot!” gerutu Bapak sambil mengibaskan tangan, memberi tanda pada Jejen untuk segera melaksanakan perintahnya.

Aku berjalan cepat mengekori Jejen. “Jen, si Tua jangan diapa-apain,” kataku setegas mungkin. Jejen hanya menghela napas sembari mengangkat bahu.

Kakiku baru saja akan melangkah ketika suara Bapak menggelegar memecah siang. “Bapak tidak suka dibantah! Berani-beraninya kamu melarang Jejen melanggar perintah Bapak!”

“I… itu… bukan begitu, Pak. Ridwan hanya kasihan sama luwaknya,” ucapku terbata-bata.

Bapak bahkan tak mendengar kata-kataku, beliau mengambil arit, kemudian melesat ke kandang luwak. Dikeluarkannya si Tua, lalu tangan kekar itu terpeciki darah Tua yang meregang nyawa. Tatapan mata Bapak dan Tua terekam dalam di kepalaku. Pendarnya terlalu kontras. Bapak bukan lagi seperti manusia.

Perlahan-lahan penglihatanku menampakkan sesuatu yang merindingkan bulu roma. Di sekujur tubuh Bapak tumbuh bulu-bulu. Mula-mula munculnya di tangan yang terciprati darah si Tua. Hidungnya memanjang menjadi mencong. Bibirnya mengerucut kecil. Jika musang bisa berbulu domba, bapakku berbulu luwak. Kuusap-usap mata dengan jari jemari, tapi pemandangan itu tak berubah sama sekali. Bapak melihat perubahan di ekspresi wajahku, aku tahu dari pertanyaannya yang terdengar seperti cicitan. Gegas aku berlari mengunci diri di kamar, meninggalkan Luwak Bapak yang kebingungan.

Malam itu jangkrik yang berbunyi nyaring berhasil membangunkanku. Setengah pusing aku bangun dari tempat tidur. Perlahan ingatan tentang Bapak yang berubah menjadi luwak memenuhi kepalaku. Pasti sekadar mimpi. Tidak mungkin manusia berubah menjadi luwak seperti dalam cerita-cerita horor. Namun betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar. Bapak masih setia dengan tubuh luwaknya. Berdiri dengan dua kaki di depan cermin besar yang menempel pada pintu lemari hias. Matanya terus menekuri cermin dengan bulu-bulu tegak. Bapak telah sepenuhnya bermetamorfosis. Panjangnya kutaksir kurang dari seratus senti. Bulunya berwana abu-abu kecoklatan. Jalur di punggungnya berupa lima garis gelap yang terbentuk oleh bintik-bintik besar. Dahinya berwarna keputih-putihan persis uban rambutnya ketika masih berwujud manusia.

Aku bergidik. Tak lama kupaksakan diri mencari Ibu dan semua pegawai Bapak. Tidak kutemukan satu pun manusia di rumah ini. Saat kupanggil Ibu, bukannya sahutan, yang terdengar hanya gaung suaraku melebur dengan cicitan gelisah luwak-luwak dari kandang-kandang mereka. Binatang-binatang nokturnal itu telah aktif. Bapak ikut mencicit padaku.

“Bapak?” tanyaku pada luwak di depan cermin. Memastikan bahwa ini bukan halusinasi.

Luwak itu mencicit sambil mengangguk.

Mendadak aku tahu apa yang mesti kuperbuat. Aku menghampiri Luwak Bapak, kugendong tubuh ringannya. Kubawa Luwak Bapak menuju ke kandang. Awalnya Luwak Bapak tenang-tenang saja di dekapanku, tapi saat menyadari aku akan memasukkannya ke kandang, Luwak Bapak melawan. Perlu mengerahkan segenap tenaga supaya Luwak Bapak bisa kujejalkan bersama belasan ekor lain di kandang paling gelap dan sempit.

“Lihat baik-baik dari sana, Pak,” kataku dengan sorot mata tajam.

Aku membuka satu per satu kandang luwak, mengeluarkan seluruh isinya. Mereka berlarian bebas, sebagian terpincang-picang. Luwak Bapak mencicit keras, mungkin beliau sedang menjerit frustrasi. Setelah semua kandang kosong hingga menyisakan satu kandang tempat Luwak Bapak berada, aku mendekatinya. Kubuka pintu kandang itu setengah hingga luwak-luwak bisa keluar, hanya Luwak Bapak saja yang kutahan meski tanganku terluka oleh cakaran kuku-kukunya.

“Tenanglah, Pak. Aku akan memperlakukan Bapak dengan baik,” tutupku sebelum meninggalkannya pada malam.

Paginya kutemukan Luwak Bapak tengah kelaparan. Maka aku memetik buah-buah kopi ceri hijau untuk sarapannya. Pada mulanya Luwak Bapak tampak tak selera melihat buah-buah kopi ceri muda itu. Tapi rasa lapar telah mendorongnya memakan yang ada. Begitu juga dengan sorenya. Berulang hingga keesokan harinya.

Ada yang berbeda hari ini. Luwak Bapak telah mengeluarkan kotorannya. Kusendok untuk kuperlihatkan pada Luwak Bapak. “Lihat, Pak. Ini tai kopi pertama Bapak. Bapak pasti bangga kan?” tanyaku. Luwak Bapak hanya mondar-mandir gusar.

Tubuh Luwak Bapak dari hari ke hari kian ringkih. Luwak Bapak makin sering mogok makan buah-buah kopi. “Makanlah, Pak. Jangan keras kepala begitu,” ucapku saat menemukan buah-buah kopi masih tak tersentuh. Luwak Bapak mengangkat kepalanya sedikit untuk melihatku. Matanya tak jernih. Sepertinya sakit. Setelah kutunggui berjam-jam, pada akhirnya Luwak Bapak makan juga karena tak kuat melawan lapar.

Aku telah mengumpulkan tai-tai Luwak Bapak selama seminggu. Kotoran-kotoran itu kujemur hingga kering, lalu kutumbuk agar biji-bijinya terpisah, kemudian kutampi hingga hanya menyisakan biji-biji kopi. Kucuci hingga bersih, dan menyangrainya bersama pasir sampai hitam sempurna. Setelah melewati beberapa proses lagi, kuseduh kopi Luwak pertamaku setelah bertahun-tahun berhenti mencecap rasanya.

Napas Luwak Bapak tampak satu-satu ketika aku mendekati kandangnya.

“Pak, ini kopi dari tubuhmu. Akan kuminum selagi panas. Aku selalu ingat kata-kata Bapak. Rasa kopi terus berubah seiring suhunya merambat dingin.”

Aku menyesap kopi kental perlahan, merasakan cairan hitam membasahi kerongkongan. Menikmati aroma belantara yang melekat pada kopi. Rasanya tak pahit. Kopi paling nikmat seumur hidupku, yang keluar bersama feses Bapak yang memerah oleh darah.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

MyCupOfStory-Poster-759x500

Cerpen “Hari Untuk Ibu” Dimuat di Taman Fiksi Edisi 4

Hari Untuk Ibu

 

*****Catatan: Cerpen ini dimuat di www (dot) Tamanfiksi (dot) com edisi keempat tahun 2015 lalu.

Hari Untuk Ibu

Oleh: Eva Sri Rahayu

 

Sejujurnya aku selalu enggan mengunjungi Ibu. Sebisa mungkin aku akan menghindari pertemuan dengan berbagai alasan, meski harus mengarang sekalipun. Namun, hari ini hari ulang tahunnya. Sebagai anak, rasanya keterlaluan kalau aku tidak datang. Karena itu aku mengumpulkan seluruh keberanian untuk dapat duduk berhadapan dengan Ibu di dapur rumah tempat aku dibesarkan.

“Selamat ulang tahun, Bu,” ucapku sambil memegang tangannya yang makin dipenuhi keriput.

Wajah Ibu yang bulat dihiasi senyuman, dia lalu mengangguk pelan, dilepaskannya peganganku, kemudian berdiri. Meskipun memunggungiku, dari gerakan tangannya aku tahu beliau sedang memotong sesuatu. Ketika Ibu berbalik, aku melihat sepotong kue yang terlihat enak dan mahal di tangannya. “Ini dari kakakmu, tadi dia ke sini membawakan kue ulang tahun. Padahal Ibu sudah bilang jangan repot-repot,” katanya, sambil menyodorkan kue itu padaku. Mata Ibu berbinar, tampak sangat jelas beliau begitu bangga pada kakakku itu.

Hatiku langsung berdenyut. Ah, iya, aku tidak membawa apa-apa. Aku tidak sanggup membawakannya sesuatu, bahkan barang murah sekalipun. “Maaf, Bu, tadi aku ketinggalan kadonya,” ujarku gugup sembari mengusap rambut pendekku yang sebenarnya tidak butuh dirapikan—rambut itu kupotong sampai tengkukku terlihat agar tidak menghabiskan banyak biaya perawatan. Kebohongan entah keberapa yang kulontarkan padanya, aku tidak ingat jumlahnya, karena terlalu terbiasa berdusta.

“Tas yang kamu janjikan waktu pulang dari Bali saja lupa terus. Kamu itu kebiasaan bohong,” ucap Ibu tajam. Aku menelan ludah mendengarnya tanpa mampu membalas apa-apa.

Sebenarnya aku memang belum membelikan tas itu, aku tidak punya uang. Yang membuatku terpaksa berjanji karena takut dianggap anak pelit. Waktu itu aku memang mendapat proyek cukup besar di Bali, tapi hutangku yang terus menumpuk jauh lebih besar lagi. Aku sudah ditagih-tagih, bahkan dengan tidak hormat. Hutang-hutang itu muncul bukan karena gaya hidupku yang hedon, semuanya kupakai untuk bertahan hidup, dan … demi menjaga gengsiku di mata Ibu.

“Mama, Ika mau minum susu,” celoteh Triska, anakku. Tangannya sibuk menjawil-jawil rok lipitku.

Buru-buru aku membuka tas, mengeluarkan kaleng susu formula yang masih penuh. Aku menghindari pandangan Ibu yang kurasa sedang menelitiku.

“Susunya masih yang lama, kan?” selidik Ibu. Yang dimaksudnya adalah susu formula paling mahal di pasaran. Ibu memaksaku menggunakannya karena kakakku memberikan susu itu untuk anaknya.

“Iya,” jawabku sembari menyibukan diri dengan membuat susu, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Ibu, takut ketahuan berbohong lagi karena isi kaleng itu telah kuganti dengan merek susu lain yang bisa terjangkau dengan penghasilanku.

Di depan Ibu, aku tidak ingin terlihat miskin. Aku selalu takut keluarga kecilku dihinanya. Sebisa mungkin aku menyembunyikan kesulitan keluargaku padanya, aku tidak ingin suamiku yang hanya pegawai toko itu terus direndahkan. Yah, keadaan kakakku memang jauh lebih baik dari kami. Suaminya anggota dewan, sekalipun dia hanya ibu rumah tangga, segalanya lebih dari tercukupi. Beda denganku yang harus ikut banting tulang kerja serabutan.

“Sudah lama kamu tidak menitipkan Ika pada Ibu, apa kamu belum dapat proyek?” tanya Ibu heran, kedua alisnya bertaut hingga kerutan halus di keningnya tampak makin jelas.

“Ada kok, Bu. Aku sekarang nulis artikel buat website,” jawabku jujur.

“Ah, kerja begituan kan tidak menghasilkan. Triska sudah makin besar, sebentar lagi masuk SD, butuh biaya gede. Kamu harus punya tabungan, Gia. Mendingan cari kerja yang bener,” nasihat Ibu.

Aku menghela napas dalam-dalam, bingung menjawab apa. Dulu aku pernah kerja kantoran, sayangnya aku berenti sebelum habis masa kontrak. Ibu mengatakan sudah tidak kuat mengurus Triska yang waktu itu sedang belajar berjalan. Usia Ibu memang sudah menginjak enam puluh lebih, wajar kalau mudah lelah. Sementara kalau kutitipkan pada day care, Ibu juga tidak setuju, malah menyebutku ingin membuang anak. Aku dihadapkan pada dilema antara pekerjaan dan keluarga.

Setelah berhenti, sekarang aku bekerja berdasarkan proyek saja agar hanya sesekali meninggalkan Triska. Supaya lebih banyak waktu untuk membesarkannya. Tapi toh ternyata itu tidak cukup. Ibu tetap menuntut banyak padaku. Lalu sekarang, Ibu menyuruhku untuk bekerja lagi. Hidup ini memang jenaka, terdiri dari lelucon tuntutan dan kepentingan.

Aku menatap wajah Ibu yang sedang menanti jawabanku. Kali ini akulah yang menelisiknya. Bertanya-tanya apakah Ibu pernah punya mimpi yang ingin digapainya, yang dibuangnya untuk anak-anaknya. “Bu, apakah Ibu dulu punya impian?” tanyaku tanpa bisa ditahan.

Ibu mengernyit. “Tentu saja, kebahagiaan kalianlah impian Ibu.”

Mendengar itu aku tersenyum miris. Ibu, betapa mulianya engkau. Andai aku sepertimu. Andai aku … seperti … ah, tidak! Aku tidak ingin menjadi sepertimu. Aku tidak mau memenuhi hidup anakku dengan kepalsuan.

“Katanya CPNS sudah dibuka,” Ibu kembali mengarahkan pembicaraan pada jalur yang diinginkannya.

“Oh, yah. Nanti aku coba cari infonya, Bu. Tapi gimana nanti Triska? Ibu kan sudah tidak kuat menjaganya,” kataku ragu-ragu.

“Gaji PNS kan besar, kamu bisa gaji pembantu untuk bantu Ibu,” jawab Ibu mantap.

Hmm, iya, semuanya kembali soal uang. Kemudian hening di antara kami. Aku melemparkan pandangan ke jendela, menatap jajaran bunga kacapiring. Suara samar nyanyian Triska memecah kesunyian di antara kami. Aku dan Ibu sama-sama memusatkan perhatian pada Triska yang sedang menyanyi sambil menari kecil di dekatku.

“Ika cucu Nenek sayang, sudah lama ya Nenek tidak melihat Ika menari balet. Coba Nenek mau lihat.” Deg! Jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan Ibu. Triska sudah hampir setahun ini kuberhentikan dari les baletnya tanpa sepengetahuan Ibu.

Bukan hanya aku yang kaget, wajah Triska pun memperlihatkan ekspresi keterkejutan. Dia lalu menatapku takut-takut. Aku menjawab mata bening itu dengan intimidasi, seolah berkata “Jangan katakan apa-apa pada Nenek kalau kamu tidak ingin Mama dimarahi.” Triska menunduk, sebelah tangannya yang tidak memegang gelas memainkan pita di bajunya. Sedari dulu ibulah yang mendesak agar Triska ikut les balet agar hobinya tersalurkan, sedangkan aku memaksakan diri berhutang untuk membiayainnya demi dianggap sebagai orangtua yang baik.

“Ika, kenapa, Sayang?” tanya Ibu lembut sembari tanganya berusaha menjangkau rambut keriting sebahu Ika. Tapi Ika malah membenamkan wajahnya ke perutku. Ibu menatapku tajam, mata itu tampak marah. “Gia, jujur pada Ibu. Triska masih kamu les baletkan, kan?” tanya Ibu lagi, kata perkata disampaikannya penuh penekanan.

“Itu … tempat lesnya tutup, Bu. Katanya … kurang siswa,” jawabku gagap. Kentara sekali aku memalsukan fakta.

“Jangan bohong, Gia! Kenapa kamu berhentikan? Tidak ada uang? Katakan pada Ibu, nanti Ibu yang bayar!” bentak Ibu.

“Ada … ada kok, Bu,” ucapku.

“Ah, memang kapan sih kamu punya uang,” sindir Ibu. Seketika itu hatiku seperti dilanda badai. Ya, memang pada akhirnya selalu Ibulah yang membiayai keperluan-keperluan besar Triska. Mulai dari operasi kelahiran, ekahan, dan saat Triska dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Tapi mendengar kalimat itu tetap saja membuat ulu hatiku nyeri.

Prang! Bunyi gelas pecah membuat aku dan Ibu kembali menatap Ika yang sedang berdiri mematung. Kakinya penuh pecahan gelas bercampur air susu. Aku langsung naik pitam melihatnya. “Ika! Makanya hati-hati pegang gelasnya!” bentakku yang langsung membuat Ika menangis dalam diam. Kedua bahunya bergetar.

Aku berdiri, mengambil sapu dan pengki, memasukan pecahan gelas itu ke pengki dengan gerakan kasar penuh emosi. Tidak kuhiraukan Triska yang berkali-kali mengucapkan kata “Maaf”.

“Kamu itu kenapa sih jadi mudah marah begitu? Dulu kamu anaknya penurut dan sabar! Kenapa sekarang berubah begini!” teriak Ibu. Beliau lalu menggendong Triska.

“Iya, Bu, aku bosan jadi bonekamu!” balasku.

“Gia! Sekarang kamu selalu balas membentak Ibu!” ucap Ibu dengan suara bergetar. Ya, ledakan ini bukan kali pertama, entah sudah berapa kali kami cekcok begini. Seperti kata Ibu, aku memang telah berubah. Aku sudah tidak bisa meredam amarah lagi ketika diperlakukan kasar oleh Ibu. Aku tahu Ibu sakit hati, tapi hatiku lebih pedih.

“Tuh, Ika, gara-gara kamu Mama dimarahi Nenek! Puas kamu?” ucapku sambil memberikan tatapan setajam pisau pada Triska. Bocah itu menangis lebih keras.

“Jangan salahkan Ika atas ketidak becusanmu, Gia! Mikir!!! Dasar tidak punya otak! Cobalah jadi orangtua yang baik!” Ibu memberondongiku dengan makian. Sudah kenyang aku mendengarnya, tapi ternyata tidak juga kebal.

“Iya, Bu, aku memang orangtua gagal! Semua yang kulakukan selalu salah! Dari dulu Ibu selalu mengatakan aku orangtua yang buruk, kan?” kataku lagi, juga menaikan suara beberapa oktaf. “Ibu sudah berhasil mencuci otakku. Gara-gara perkataan Ibu, tidak pernah sedetik pun aku merasa menjadi seorang mama yang baik.”

Ibu tampat tersentak. Kulihat air mata melinangi pipinya. Nenek dan cucu itu saling berpelukan dalam tangis. Dadaku semakin sesak. Aku telah menyakiti keduanya. Namun sungguh, aku tidak bermaksud demikian. Aku sudah berusaha menahankan semuanya. Kemudian aku pun turut menangis, hingga dapur dipenuhi suara isakan.

Kutatap Ibu. Aku seperti melihat cerminan diriku. Mati-matian aku ingin menjadi bagian terbaikmu, Bu. Namun aku yang sekarang kembali terlahir dari sisi burukmu.

Pandanganku beralih pada Triska. Nak, jangan pernah menjadi pantulan Mama. Tapi aku sadar, dia telah kudidik menjadi sepertiku. Rantai karakter yang tidak terputus.

Entah berapa lama waktu berlalu yang kami habiskan dalam kesibukan pikiran masing-masing. Akhirnya kuputuskan untuk hengkang dari rumah ini. Kurenggut Triska dari dekapan Ibu. “Aku pulang, Bu,” pamitku sambil mengemasi barang. Ibu hanya diam saja, bergeming.

Kuseret Triska dalam langkah cepat-cepat. Triska masih menangis sesenggukan. “Diam, Ika!” bentakku. Tapi tangis Triska malah makin kencang. Langkahnya yang lamban membuat pegangan tangan kami terlepas. Aku tidak menurunkan kecepatan, kubiarkan Triska tertinggal di belakang.

“Huhuhu … Ika mau sama Mama. Ika mau, hiks, sama Mama. Hiks,” ucapnya lemah, tapi cukup membuatku mendengarnya.

Langkahku terhenti seketika. Aku berbalik untuk menatap Triska. Kulihat gadis kecilku merentangkan kedua tangannya, meminta kugapai. Hidungnya merah karena menangis lama. Hatiku tersentuh melihatnya.

“Mama … hiks, Ika mau sama Mama, hiks,” katanya lagi dengan tangan menggapai-gapai. Mata itu penuh kasih sayang meskipun terluka. Perasaan yang tulus dan dalam. Aku mengenali perasaan itu. Mengenali perkataan itu. Perasaan dari masa kecilku pada Ibu. Dan perasaan Ibu padaku. Aku pun selalu ingin bersama Ibu, saling bergenggaman tangan dengannya. Air mataku meleleh lagi.

Kupeluk Triska erat. “Maafkan Mama, ya. Maafkan Mama,” ujarku sambil mengelus rambut Triska.

Bu, betapapun kita saling menyakiti, kita selalu saling menyayangi. Meskipun Ibu membuatku seringkali membenci diri sendiri dan sekaligus membencimu, tapi Ibu selalu menyediakan diri menjadi tempatku bersandar. Dan tanganmu, tidak pernah melepaskanku.

Kugendong Triska, kembali ke rumah Ibu. Saat aku memasuki dapur, tubuh ringkih Ibu masih tampak naik turun. Rupanya tangis Ibu belum juga reda.

“Bu …,” panggilku lirih.

Ibu membalikkan tubuhnya. Mata kami bersirobok. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir kami, tapi aku tahu, kami telah saling bertukar maaf.

 

 

[Cerpen] “Panggungku” Dimuat di Batak Pos Tahun 2013

 

Sumber gambar yudasmoro (dot) net

Sumber gambar yudasmoro (dot) net

Panggungku*

Oleh: Eva Sri Rahayu

 Aku berdiri di panggung. Menatap penonton yang memberikan standing applause, lalu membungkuk memberi hormat, kemudian melayangkan ciuman jauh. Tiba-tiba saja, wajah-wajah penuh binar kekaguman itupun berubah menjadi pandangan jijik dan menyunggingkan senyum penuh ejekan. Sorot lampu panggung yang biasanya membuatku tampak semakin bersinar, terasa seperti lampu sorot interogasi.

Suara tepuk tangan yang terdengar keras dan seperti tidak akan pernah putus itu ikut berubah menjadi seruan kekecewaan, dan teriakan cemoohan. Semakin keras, semakin meninggi, dan tiba-tiba saja tiang penyangga lampu panggung terlepas menimpaku!

Suara seruan pun berubah menjadi jerit histeris kepanikan.

***

Aku terbangun dengan kesedihan luar biasa, sekaligus rasa lega yang datang sama besarnya. Mimpi. Mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Mimpi itu datang karena aku terlalu khawatir akan pertunjukan nanti malam. Ya, pasti karena itu. Ini bukan pertanda atau de javu. Aku yakin. Aku menghela napas panjang, menenangkan diri, lalu bangkit berdiri dari tempat tidur, berjalan ke jendela yang gordennya masih tertutup.

Kusibakkan gorden, membuka daun jendela, dan membiarkan udara pagi memasuki paru-paruku dengan bebas. Ragaku mungkin ada di kamar ini, tapi jiwaku telah berdiri di pangggung, menunggu tirai terangkat. Malam ini aktingku akan diuji dengan peran yang sangat kontroversial, sangat menantang, sebagai wanita serigala.

Pikiranku kemudian mengembara pada saat-saat pertama kali aku memasuki dunia panggung. Dunia yang kusebut sebagai my neverland. Neverland, sebuah negeri di mana setiap orang bisa terus menjadi seseorang di waktu paling membahagiakan, masa kecil. Tapi bagiku, saat paling membahagiakan adalah saat bisa menjadi siapa saja dengan jutaan cerita yang menyertainya. Neverland-ku adalah negeri panggung.

Panggung pulalah yang mempertemukan aku dengan pria yang kucintai. Gara. Pria yang telah membuatku merasa begitu rendah sekaligus mahadewi. Aku tahu dia mencintaiku dengan sangat besar. Tapi egonya telah menghancurkan semua itu.

Kami sama-sama mencintai panggung. Karir kami pun dimulai di saat yang sama. Aku sebagai aktris teater, dan dia sebagai sutradara muda. Sayangnya, karirku jauh lebih melesat. Aku memiliki bakat alami dan aura bintang yang besar. Semua tokoh yang kuperankan begitu hidup dan bernyawa. Gedung teater tidak pernah sepenuh itu sebelum aku datang. Dalam waktu singkat, kepopuleranku telah menyamai aktris yang melegenda.

Tapi bintang yang cemerlang tidak melekat pada Gara. Semua pertunjukannya gagal, sekalipun aku terlibat di dalam garapan itu, semua penonton dan kritikus menilai pertujukan itu hanya berpusat padaku, sedangkan sutradara tidak memberi sentuhan apa-apa. Berkali-kali seperti itu membuat Mas Putra—pimpinan teater kami—tidak lagi mempercayakan garapan besar padanya. Gara frustrasi.

Aku berusaha menghiburnya, memberinya semangat. Namun sikapku justru membuatnya semakin merasa terpuruk. Sikapnya yang lembut berubah kasar. Setelah itu, aku merindukan malam-malam di awal karir kami. Malam-malam penuh perbincangan tentang mimpi-mimpi, masa depan, dan tentang cinta. Aku menyukai saat-saat dia menceritakan konsep-konsep pertunjukannya, mendiskusikannya dengan berapi-api. Semangatnya itu selalu membuatku percaya, suatu hari, dari tangannya, akan lahir sebuah maha karya. Tapi saat itu tidak juga tiba, dan waktu yang terlewati malah juga menggerogoti cinta kami.

Hujan turun, menimbulkan bau tanah basah, membuatku kembali menginjak bumi setelah lamunan masa lalu melenakan. Tersadar oleh waktu yang terbuang, membuatku bergegas untuk segera pergi ke gedung. Aku perlu menanamkan chemistry untuk pertunjukan malam ini. Kalau mau jujur, aku belum lagi siap tampil. Aku begitu kesulitan menghidupkan karakter ini. Karakter tokoh yang unik, seorang wanita yang dibesarkan oleh serigala, hingga sifatnya seperti serigala. Kesulitan ini pernah juga kukatakan pada Mas Putra.

“Mas, aku ragu memerankan tokoh ini. Aku tidak merasakan trans dengannya,” kataku pada Mas Putra, saat latihan terakhir sebelum gladi kotor.

“Rasi, kamu pasti bisa. Yakin saja, aktingmu bagus,” katanya menenangkanku.

“Tapi aku merasa seperti robot, hanya mengucapkan dialog yang harus kuucapkan, dan bergerak sesuai tuntutan naskah saja!” jeritku frustrasi.

“Tiket sudah sold out, kita tidak mungkin mengundurkan pertunjukan. Jangan manja!” tegas Mas Putra membuatku terdiam dalam diam yang paling diam.

Dan di sinilah aku sekarang, berdiri sendirian di atas panggung yang telah selesai di setting menjadi hutan rimba buatan. Tidak lama kemudian, satu persatu dari tim berdatangan. Mereka menyapaku semringah, memberi semangat. Di negeri Neverland-ku ini, aku tidak pernah sendirian. Setiap pertunjukan adalah hasil kerja keras banyak tangan dan keringat. Mulai dari penjaga tiket, office boy, para penata, hingga aktor dan sutradara. Merekalah yang sesungguhnya menciptakan Neverland-ku.

Pintu gedung terbuka untuk kesekian kalinya. Aku menangkap sosok Gara yang tak sedikit pun menatapku. Padahal aku yakin, dia tahu betul saat ini aku sudah berada di panggung. Tapi bukan itu yang membuat hatiku tersayat. Aku sudah biasa diperlakukan tak acuh seperti itu. Yang membuatku tak enak hati, karena sekilas, aku seperti memergokinya sedang mengerling nakal pada Tira—seorang aktris baru di teater kami. Tira hanya sebentar melintas di depan Gara. Tira sedang berjalan ke arahku, membawakan kostum yang akan kugunakan nanti malam. Tapi hatiku tak bisa dibohongi, aku mencium sesuatu yang tak beres.

***

Aku tidak pernah menyangka pertunjukan ini akan menjadi kuburan bagi karir keaktrisanku. Saat pertunjukan tiba, dengan penuh rasa gugup aku memasuki panggung. Aura panggung yang besar selalu menyedotku, mengubah diriku “menjadi” tokoh yang harus kumainkan, dan bukan “berperan”. Tapi kali ini aku tidak bisa. Aku kebingungan. Berkali-kali aku salah mengucapkan dialog, salah blocking, dan bahkan salah mengambil properti.

Pertunjukan yang harusnya menjadi luar biasa dan mengharu biru itu berubah menjadi sebuah komedi. Tidak pernah terjadi sebelumnya, Mas Putra sebagai sutradara sampai menghentikannya di tengah-tengah, membuat penonton semakin menggila. Mereka berteriak-teriak memaki, dan melempari panggung. Pertama kalinya aku tidak ingin berada di panggung. Aku takut. Melihatku malah terdiam shock, Mas Putra dengan kasar menyeretku ke belakang panggung.

Di pinggir panggung, aku melihat seringai puas muncul di bibir Gara. Apa mataku salah melihat? Apa yang dipikirkan lelakiku hingga bisa berekspresi seperti itu? Tapi pikiran tentang Gara harus segera kusingkirkan, karena Mas Putra segera mendampratku tanpa ampun. Dalam rasa takut dan kecewa pada diri sendiri, aku mendengar semua kata-kata menyakitkan Mas Putra. Tak ada bantahan, bahkan aku sama sekali tak membuka mulut. Aku terus diam, kali ini tanpa ekspresi, tanpa topeng apa pun.

***

Subuh sudah menyapa, tapi gagal membuatku terlelap. Aku sangat gelisah. Bayangan kejadian di atas panggung terus menghantui. Beginikah sakitnya gagal? Beginikah perasaan Gara setiap kali pertunjukan yang disutradarainya berakhir? Aku bukan tak pernah gagal, tapi merasakan jatuh seperti ini … jelas baru pertama kali. Ini bukan hanya sekadar jatuh, tapi hancur. Aku harus menumpahkan kesedihanku pada seseorang, dan orang pertama yang kupikirkan adalah Gara.

Maka aku menelepon Gara, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Aku menyusul ke apartemennya. Tapi setelah aku membuka pintu dengan kunci milikku yang diberikan Gara, dia tetap tidak kutemukan. Sial, ke mana dia?

Dengan segala kecemasan, kesedihan, dan galau yang memuncak, hanya satu tempat yang kupikirkan, panggung! Ya, aku harus kembali ke sana. Menyelesaikan semua keresahan di tempat asalnya. Bukankah berada di panggung selalu membuatku tenang? Bukankah panggung telah menjadi rumah bagiku?

Aku segera pergi ke gedung teater. Gedung telah sepi. Perlahan aku membuka pintunya. Berjalan dalam gelap di antara bangku-bangku penonton. Bangku-bangku yang berderet ini tadi penuh oleh penonton, mereka datang untukku. Sesak sekali dada ini, seperti tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Aku duduk di salah satu bangku, menatap lurus ke depan. Tirai panggung tertutup, tapi cahaya samar dari lampu di baliknya menyusup di antara sela bawah tirai.

Bagaimana perasaan mereka saat melihatku bertindak tolol? Pasti, bukan hanya aku yang kecewa, mungkin mereka lebih merasa kecewa dari yang kurasa. Cukup! Aku tidak bisa selalu menyesali diri bila mengingatnya. Aku beranjak dari bangku penonton, lalu berjalan mendekati panggung.

Samar aku mendengar suara desah napas. Siapa malam-malam begini masih berada di panggung? Di panggungku? Aku mempercepat langkah, semakin mendekati arah suara. Sekarang terdengar bisikan pelan seorang pria, disusul tawa genit seorang wanita. Kusingkap tirai panggung, dan hampir membatu melihat dua sosok yang kukenal tengah bercinta di panggung.

“Rasi!” teriak Gara kaget.

Sedangkan Tira menjerit sambil menutupi tubuhnya. Aku dan Gara berdiri berhadapan.

“Kenapa?” tanyaku singkat dengan nada getir.

Gara membuang muka, tapi sekejap kemudian tertawa keras.

“Mau bergabung bersama kami di panggung ini, aktris besar Rasi?” tanyanya sinis. Nada mencemooh itu semakin membuatku terluka.

“Teganya kamu, di panggungku!” kataku histeris.

“Panggungmu? Egois sekali! Oh, iya, aku lupa. Tadi kamu bermain sangat brilian, Sayang.” Gara bertepuk tangan, suaranya membahana di panggung.

“Cukup! Kamu keterlaluan!”

“Kamu pikir aku sedih melihatmu gagal? Tidak, Sayang, aku berpesta….”

“Inikah … inikah sosok pria yang kucintai?” tanyaku, lebih pada diri sendiri. Sekalipun aku setengah mati ingin menangis, tidak kujatuhkan satu tetes pun air mata.

“Cinta? Jangan pernah bicara cinta. Cinta hanya ada di panggung, setelah itu semuanya hanya mitos,” lanjutnya. Kata-katanya terus mengiris.

Kutatap jauh ke dalam matanya. Mata itu hanya menyorotkan kebencian, membuatku tersentak. Kenapa kamu membenciku, lelakiku? Sudah tidak tersisakah cinta itu? Pandangannya menyadarkanku, tidak ada yang tersisa dari hubungan kami. Mungkin, sebuah perselingkuhan masih bisa kumaafkan, tapi ketika cinta telah menguap, apalagi yang bisa kupertahankan? Dengan sisa harga diri, aku berlalu meninggalkan Gara yang tertawa puas. Suara itu lebih mengerikan dari lonceng kematian.

***

Ajaib, hanya itu kata yang tepat ketika akhirnya aku bisa tidur tanpa bermimpi. Meskipun terbangun dengan kepala pusing dan menerima rentetan kritikan di koran-koran. Nyatanya dunia tidaklah kiamat. Semua ini juga tidak bisa membunuhku. Aku masih bernapas, merasakan angin yang melintas di tengkukku, juga sengatan matahari yang membakar.

Maka aku memberanikan diri untuk sekali lagi berdiri di panggung. Melunaskan hutang kegagalan. Aku telah membulatkan tekad, aku tidak akan menyerah, aku tidak akan meninggalkan negeri Neverland-ku! Aku menemui Mas Putra dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri yang lebih besar daripada yang pernah kurasakan sebelum-sebelumnya. Meyakinkannya agar malam ini tetap diadakan pertunjukan. Mas Putra akhirnya setuju juga.

Tapi kami harus menelan konsekuensi dari kegagalanku kemarin, karena lebih dari delapan puluh persen penonton mengembalikan tiket. Sebelum pertunjukan, tetap terjadi kegaduhan seperti biasa—hanya kali ini, bukan keributan penonton yang tak sabar ingin memasuki gedung—tapi mereka tak sabar ingin mendapatkan uang pengembalian tiket. Semuanya tampak pasrah, tapi tidak bagiku. Aku akan mempertahankan Neverland-ku, aku akan tetap pentas. Walaupun hanya untuk satu atau dua penonton, karena mereka datang untukku. Dan sekali lagi aku memasuki negeri milikku itu.***

 

Bandung, 2012

*Pernah dimuat di Batak Pos tahun 2013 dengan judul Neverland

 

 

 

[Cerpen] Pada Oktober

 

IMG_20151103_170805

Pada Oktober

Oleh Eva Sri Rahayu

Delapan tahun yang lalu, aku menerima cintanya di sini. Di bawah pohon mangga yang rindang dan berbuah lebat. Satu-satunya pohon besar di taman kecil ini, mencolok di antara rumput dan bunga-bunga dandelion yang putiknya siap terbang menjelajah. Delapan tahun kemudian, aku menerima cinta yang lain di tempat yang sama.

Pertemuan yang aneh di bulan Oktober, pada tanggal delapan. Sebuah angka yang sakral. Karena Oktober sendiri artinya delapan dalam bahasa Latin. Sakral karena pada tanggal delapan tahun ini, genap delapan tahun aku dan suamiku menjalin kasih. Dan pertemuan dengan pria lain itu terjadi saat aku sedang menunggu suamiku di bawah pohon rindang ini. Kami berjanji untuk bernostalgia masa pacaran, di usia pernikahan kami yang telah menginjak angka tujuh.

Aku berdiri sendirian di bawah pohon, mengenakan baju serba putih kesukaan Alva, suamiku. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas pohon. Spontan aku menengadahkan kepala, membuat mataku bersirobok dengan seorang lelaki muda yang tengah duduk di atas pohon, bersembunyi di tengah kerimbunan daun. Mata lelaki itu basah, seperti sudah menangis. Lelaki itu menepiskan semut merah dari tangannya, dan membuat buku yang dia pegang terjatuh tepat di tanganku. Buku itu terbuka tepat pada sebuah catatan. Tanpa sengaja aku membaca bait-bait puisi yang tertulis di dalamnya.

Pada pundakmu aku menitipkan hati// Hingga usia menjadi abadi// Tapi gurat senyummu membuatku patah hingga bernanah // Karena tubuhmu ternyata tak sanggup memikul jiwaku dalam bias malaikat malam.

Lelaki muda itu lalu turun dengan ringan dari atas pohon, berdiri dengan anggun di depanku. Mata kami kembali bertemu, tapi mata itu sudah tak lagi basah, membuatku berpikir tadi salah melihat. Entah kenapa tatapannya membuat dadaku berdesir, sebuah rasa salah seperti datang dengan kecepatan cahaya.

“Maaf, Kak,” katanya singkat sambil mengulurkan tangan padaku.

Kututup buku di tanganku, lalu dengan sebelah tangan lain, aku menjabat tangannya dengan gugup. “Rhena,” ucapku, yang membuat wajahnya diliputi rasa geli, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak sambil memegang kepalanya setelah tangan kami lepas.

“Kak, aku bukan ngajak kenalan loh, maksudku minta buku kok,” ujarnya setelah selesai tertawa, yang tentu saja membuat mukaku langsung merah marun.

Dengan kikuk aku memberikan bukunya. Lelaki muda itu mengambilnya sambil tersenyum penuh arti, melihat wajahku yang merah. Lalu dia mengulurkan tangannya lagi sambil menatapku dengan tajam. Aku hanya diam, bingung.

Melihatku diam saja, diambilnya tanganku sambil berkata, “Andri.”

“Eh, iya,” kataku lagi sambil melepas genggaman tangannya.

“Menunggu siapa, Kak?”

“Euh… suamiku,” ucapku singkat dan penuh keraguan.

Andri lalu menatapku penuh pandangan selidik, dibukanya buku, lalu menggambar dan menuliskan sesuatu di sana. Aku seperti tersihir, diam mematung menonton apa yang dilakukannya. Setelah selesai, diberikannya kertas itu padaku.

“Ini buatmu, Kak, berikan pada suamimu,” tukasnya, lalu pergi meninggalkanku yang takjub menatap isi kertas itu.

Isinya sketsa wajahku yang tampak sedang menunggu kekasih dengan berdebar-debar. Sketsa yang sangat kasar tetapi tetap indah untuk dilihat. Di bawah gambar itu ditulisnya sebuah puisi.

Pada Oktober aku menunggu// Bersama debar jantung yang lebih hebat dari tsunami// Dengan rasa yang lebih merah dari cinta// Dengan rindu yang dititipkan hujan pada jutaan putik dandelion.

Begitulah kami bertemu, dan setelah itu kami bertemu lagi dalam suatu sore yang mendung dan gelap seperti suasana hatiku. Saat itu aku pergi dari rumah karena bertengkar dengan mertua. Masalahnya selalu sama, aku belum juga memberinya cucu.

Aku dan suamiku sudah berusaha, kami mendatangi dokter, alternatif, dan banyak cara lainnya. Tapi aku belum juga mengandung. Alva sendiri tidak mempermasalahkan semua itu, dengan tetap sabar dan penuh sayang dia meneduhkanku saat resah menerpa.

Tapi sore itu aku tidak tahan lagi dengan perkataan menyakitkan dari Ibu. Dengan hati yang dipenuhi badai, aku datang ke taman itu, sesenggukan di bawah pohonnya. Tangisku terhenti ketika aku mendengar bunyi gemerisik dari atas pohon. Otomatis aku yang tengah duduk di atas rumput sambil memegang lutut, melayangkan pandangan ke atas pohon. Dan aku menemukan Andri sedang memalingkan muka karena malu ketahuan sedang memperhatikanku.

“Kamu… lihat?” tanyaku kesal karena merasa privasiku diketahui orang.

“Maaf, Kak, aku gak sengaja. Aku bukan mau mencuri dengar,” jawabnya sambil menatapku penuh simpati.

Melihat sorot matanya yang penuh rasa bersalah, aku luluh. “Dek, turunlah, temani aku,” kataku lemah.

Andri meloncat turun dengan mudah, terlihat bahwa dia sudah sangat terbiasa naik turun dari pohon itu. Dia kemudian mendekati lalu duduk di sampingku. Kami saling terdiam, masing-masing larut dalam pikiran, sambil menikmati pemandangan putik-putik bunga dandelion yang terbang terbawa angin kencang penanda hujan akan segera turun, pergi ke tempat yang entah.

“Kak, kenapa kamu menangis?” tiba-tiba Andri bertanya dengan suara yang membelah desir angin.

Aku menatapnya, tapi dia tidak menatapku. Pandangan Andri terus jatuh ke depan, membuat pertanyaan tadi seakan untuk dirinya sendiri. Hal itu justru membuatku nyaman, merasa ada teman dalam kegelapan. Maka meluncurlah cerita dari bibirku, seperti bercerita pada seorang sahabat yang paling kupercaya. Ketika hari beranjak gelap, dan tangisku telah usai, ceritaku pun selesai.

Andri menatapku lekat-lekat, lalu katanya, “Kak, kalau lain kali kau ingin menangis lagi, kau boleh memilih bersandar di dadaku atau di bahuku.”

Mendengar itu, aku pun tersenyum tulus. Mata kami kembali bersinggungan, dan kehangatannya pun kembali menyusup ke dalam hatiku.

“Terima kasih, tapi aku sudah terbiasa menangis tanpa bersandar.”

Setelah hari itu, kami sering bertemu di taman. Seperti janjian, padahal tidak, karena tidak pernah ada kata terucap untuk kembali bertemu. Setiap kali aku datang ke sana, aku akan menemukannya sedang duduk di atas pohon, sedang membuat sketsa atau puisi. Lama-lama bukan hanya aku yang bercerita, dia pun mulai terbuka. Kepercayaan memang sesuatu yang selalu ajaib, karena ketika kita memberikannya dengan tulus pada seseorang, maka dia akan memberikan hal yang sama besar. Andri bercerita tentang hatinya yang patah, cintanya bertepuk sebelah tangan pada gadis yang telah lama menghuni jiwanya. Tahulah aku, hari itu, hari pertama kami bertemu, dia memang benar-benar menangis.

Sekarang, bagiku dia tempat berbagi segalanya. Kami berbagi suka dan duka, tertawa dan menangis bersama. Terkadang saling ejek, terkadang saling merajuk.

Lama-lama aku seperti ketagihan untuk bertemu dengannya, selalu memikirkannya, dan selalu membayangkan senyumnya. Ada rasa rindu yang menggedor hatiku bila sehari saja kami tidak bertemu. Seperti hari ini, ketika aku dengan susah payah menyempatkan diri datang ke taman untuk bertemu dengannya. Tapi Andri tidak juga datang. Satu jam, dua jam, hingga hari telah gelap, bayangannya tetap tidak muncul. Dengan sedih aku menggurat tanah yang tidak ditumbuhi rumput di dekat pohon, menuliskan pesan untuknya. Singkat saja, hanya “Aku rindu”.

Esoknya, ketika aku kembali ke sana, di tempat yang sama tempat aku menulis pesan itu, sudah tertulis pesan baru. Sepertinya si penulis pesan sangat sadar bahwa tulisanku itu untuknya. “Aku juga rindu. Maaf, kemarin aku tidak bisa datang. Aku sedang UTS. Sekarang pun aku hanya datang untuk memberi pesan padamu.”

Membaca pesan itu, hatiku sakit. Aku sadar betul, hatiku telah dicuri olehnya. Bukan, lebih tepatnya, akulah yang memberikannya. Dan bolehkah aku berharap dia merasakan hal yang sama? Pertanyaan retoris yang begitu jelas jawabannya. Tentu perasaan ini harus segera dibunuh, dihancurkan hingga tidak bersisa. Tapi alih-alih mati, dia malah tumbuh semakin subur. Sambil menangis, aku kembali menggurat pesan untuknya, kali ini lewat bait-bait puisi.

Aku tidak pernah mengundangmu hadir dalam hidupku// Kau datang sendiri membelokan jalanku // Ini bukan sayang, apalagi cinta, ini hanyalah rasa tanpa nama.

Hari selanjutnya, kami tidak juga bertemu, tapi aku menemukan kembali pesan yang digurat di atas tanah. Pesan itu berisi “Aku tahu hatimu, karena aku pun begitu. Aku menulis sebuah puisi untukmu. Bersandar air pada awan// Diceraikan mendung pada waktunya// Gamang hanyalah perantara// Agar hujan tak turun sia-sia.” Membaca itu, air mata haru mengalir. Hatiku dipenuhi sejuta jenis bunga. Aku sedang jatuh cinta, dan dia merasakan hal yang sama.

Selama lebih dari seminggu kami tidak bertemu, hanya terus saja bertukar pesan yang dititipkan pada tanah yang terkadang basah dibasuh hujan bulan Oktober. Keasyikan ini lebih dari bertukar pesan lewat SMS atau lewat teknologi apa pun di dunia. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikannya, karena tulisan pada tanah ini selalu saja terhapus.

Hingga hari kedelapan, ketika aku merasakan kecewa karena tidak menemukan pesan darinya, tiba-tiba saja Andri muncul dengan senyum khasnya. Dari balik pohon yang mulai berbuah itu, dia mendekatiku dengan tatapan penuh kerinduan. Aku terdiam, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak memeluknya.

“Kamu, mau jadi kekasihku?” tanyanya saat berada tepat di hadapanku.

Mendengar itu aku membelalakan mata, rasanya pendengaranku telah salah. Apa mungkin itu hanya desau angin. Tapi pria di depanku ini nyata, dan dia tengah bertanya padaku. Air mataku meleleh. Andai saja sore itu turun hujan, tentu dia tidak usah melihatnya.

“Bagaimana dengan dia? Apa kamu sudah melupakannya?” tanyaku.

“Entahlah,” jawab Andri sambil membuang muka. Dari kata dan gerak tubuhnya saja aku sudah tahu, dia belum sepenuhnya melupakan gadis impiannya itu. Tapi aku tidak bisa menuntut, karena aku pun terbagi.

“Kamu mau jadi yang kedua? Jadi selingkuhanku? Mau merasa sakitkah?” tanyaku lagi.

Andri diam sejenak, jelas dari ekspresi wajahnya dia terluka, seperti baru menyadari kenyataan pahit bahwa aku tidak sendiri.

“Iya,” jawabnya singkat dengan nada getir.

Lalu sesorean itu kami bercengkrama tanpa bersentuhan, hanya duduk bersebelahan seperti biasa, tapi hati kami telah berpelukan erat. Di antara kehangatan hatiku yang berbunga, sungguh terselip kesunyian yang lebih dari sepi. Kesedihan yang lebih mencekam dari kehilangan. Semua rasa itu muncul karena aku telah menduakan hati.

Sungguh aku ingin mencintai Alva dan Andri dengan sederhana, seperti cinta yang dimiliki manusia biasa. Tapi cintaku ternyata cinta para dewa, seperti cinta Zeus yang selalu terbagi, tak pernah benar-benar tertambat pada Hera. Sungguh selama delapan tahun ini aku selalu percaya bahwa hanya Alva yang selamanya menghuni hatiku.

Lalu saat senja telah habis, kami berpisah sambil kembali bertukar senyum, bertukar tatapan yang mengatakan jauh lebih banyak dari kata.

“Andri, cintaku padamu seperti bunga plastik. Walau palsu, tapi tak pernah mati,” ucapku menirukan sebuah kata mutiara yang sering kudengar.

Andri menatapku nanar, tak berkata apa-apa.

Setelah perpisahan di senja itu, aku seperti menghilang. Aku tidak pernah menemuinya, ataupun sekadar menulis pesan. Bukan aku menghindar, tapi aku memang tidak bisa menemuinya karena sibuk mempersiapkan pernikahan adik iparku. Sungguh sesak dada ini memendam kerinduan, dan sungguh luka rasanya ketika berduaan dengan suamiku. Ada merasa telah menghianati keduanya. Seperti ada tiga orang sekaligus di ranjang ini. Diam-diam aku selalu menangis sebelum tidur. Untung Alva tidak menyadarinya.

Hingga hari kedelapan terakhir pertemuanku dengan Andri, aku bisa kembali bertatap dengannya. Pertemuan penuh dengan perang batin maha hebat bagi kami berdua. Kutemukan sorot yang berbeda dari mata Andri. Campuran dari kesedihan, rasa bersalah, dan kerinduan.

“Aku menunggumu setiap hari, menuliskan pesan setiap hari, tapi pesanku tidak pernah berbalas,” katanya dingin.

“Maaf,” hanya kata itu saja yang bisa kuucapkan.

“Beginilah nasib kekasih gelap. Setelah hari ini akan kubunuh sosok kekasihmu,” ucapnya lagi, meremukan hatiku.

“Kamu menyesal?”

“Aku sudah tidak bisa menahankan rasa bersalah ini. Kamu istri orang,” jawabnya.

Lagi-lagi aku menangis di hadapannya. Ingin sekali aku merengkuhnya. Menangis di dadanya. Tapi tidak bisa, tidak boleh sampai terjadi, karena itu hanya akan menambah sakit bagi kami berdua.

“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya.

“Sudahlah, Kak, kita jadikan saja hubungan kita ini sebagai persaudaraan yang indah,” tukasnya yang seperti suara petir membelah langit.

“I-iya…,” ucapku pasrah, karena kata-katanya memang benar, dan karena dia juga telah kembali memanggilku dengan sebutan ‘kakak’.

Kami kembali terdiam, berdiri saling berhadapan, sama-sama menghayati suara angin pancaroba. Sampai senja kembali hadir di tengah kami.

“Aku pulang,Kak.” Akhirnya Andri memecah kesunyian kami.

Aku mengangguk, lalu ketika dia berjalan melewatiku, persis ketika kami bersisian, aku memegang tangannya yang kokoh. Dia membalas genggamanku. Tangan kami bertautan, tapi kami tidak saling menatap. Kemudian aku sadar ini akan membuat semua lebih sulit. Kulepaskan genggamannya, untuk sepersekian detik dia tidak melepaskan tanganku, lalu akhirnya dilepaskannya juga. Setelah itu Andri melesat seperti angin, pergi meninggalkanku sendiri.

Sebelum meninggalkan tempat kenangan bagi kedua kekasihku, aku sempat menuliskan sebuah puisi di tanah yang lembap.

Andai saja hari itu kita tak bertemu// Aku tentu tak tahu aromamu// Untung saja, hanya sekejap kau pegang tanganku// Setelah itu, kita jadi ambigu.

***

Akhir Oktober, aku kembali ke sana, bersama Alva. Dengan gayanya yang lucu, dia memanjat pohon mangga itu, melemparkan dengan tepat ke tanganku buah mangga mentah yang kuminta.

“Itu untuk permintaan bayi kita,” katanya penuh kebahagiaan.

Aku membalas senyumnya dengan tulus. Kami lalu duduk di bawah kerindangan pohon, sambil mengobrolkan bagaimana rupa anak yang sedang kukandung ini. Lalu tatapanku tanpa sengaja menangkap bayangan Andri dengan seorang wanita muda. Hanya sekejap saja. Mungkin aku salah lihat, mungkin hanya karena aku masih menumpuk rindu untuknya. Tapi, bila memang itu benar-benar dia, semoga saja dia bahagia bersama gadis penghuni rusuknya itu.

Kepada Oktober, aku menitip cinta lain, menitip doa untuk seorang kekasih dalam setiap hela napasnya.

*2011

*Cerpen ini pernah diterbitkan indie dalam kumpulan cerpen “When … I Miss You”

 

 

[Flash Fiction] Berita dari Sahabat.

Matamu nanar membaca SMS dari sahabat sekaligus saudara perjuangan semasa merebut kemerdekaan.

Kukirimkan uang untukmu dan istrimu, jangan kaubagikan untuk anak-anakmu. Kita susah payah berjuang untuk mencapai kemerdekaan, masa mereka hanya berjuang untuk makan saja tidak bisa!

Pikiranmu kini mengembara pada masa lalu, pada wajah tirus kurus kelelahan sahabatmu yang membawa senapan di tangannya. Lalu pada darah di tanganmu. Kemudian pada getaran hebat saat mendengar “Indonesia Raya” dikumandangkan.

“Merdeka!” teriakmu.

Suara langkah kaki istrimu membawamu kembali ke masa kini.

“Ada berita apa?” tanya istrimu penuh harap sambil menyodorkan segelas teh manis.

Kamu terbatuk-batuk sebelum menjawab, “Kita dikirimi uang.”

“Syukurlah, kita bisa membayar listrik. Hampir saja dipadamkan PLN. Dan lagi, Deni harus bayar uang sekolah,” kata istrimu setelah dia duduk di sebelahmu.

“Nek, mau minta makan ….” Cucu kesayanganmu datang dengan wajah pucat, keringat menetes di pelipisnya. Cuaca siang ini memang panas.

“Sebentar, Nenek bawakan rebus singkong, ya.” Istrimu berdiri, kemudian berjalan tergesa ke dapur.

Cucumu Deni duduk di lantai di dekat kakimu. Kamu menatapnya sedih, lalu kamu pun bertanya padanya, “Mana ayahmu?”

“Masih tidur, Kek. Kalau Ibu tadi sudah ke perempatan dengan adik.”

Kamu lalu mengelus dada yang makin sesak.

[Cerpen] “Stalker G1N4” Dimuat di majalah “Hai” edisi 18-24 Februari 2013

STALKER G1N4

Oleh Eva Sri Rahayu

Image

Siapa dia sebenarnya, kenapa dia tahu semua hal tentangku? Apa dia seorang stalker handal? Dalam Facebook dan Twitter aku tidak menggunakan foto sama sekali, hanya gambar karikatur yang iseng kubuat. Semua followers-ku hanya teman-teman sendiri yang kukenal di dunia nyata.

Pasti yang dia pakai adalah akun palsu. Salah satu teman berniat mengerjaiku. Bukannya itu hal biasa. Bisa jadi dia adalah tetangga yang mengenalku sejak kecil. Nama yang dia pakai di akun Twitter-nya adalah G1N4 yang kubaca Gina. Mungkin dia termasuk alay. Gina tidak punya followers sama sekali, dan following-nya hanya aku.

Awalnya aku tidak mengacuhkannya, Gina mengajakku mengobrol di Twitter dengan intens setiap hari, lama-lama aku mulai tertarik dan merespon obrolannya. Aku tidak tahu Gina memakai foto asli atau bukan untuk avatarnya, kalau benar, dia memang cantik. Aku pernah mencari foto itu lewat Google, tapi memang tak ada.

@G1N4 selamat pagi, Ardi. Hari ini sudah siap UTS Kalkulus? Semangat! Pasti pakai kemeja kotak merah.

Sebelum pergi kuliah, aku menyempatkan diri membuka komputer jadulku, begitu aku membuka Twitter, yang pertama kali kulihat adalah sapaannya. Tapi dari mana dia tahu? Aku tidak mengumumkannya di Twitter. Mengetahui mahasiswa ujian bukan hal luar biasa, karena memang sekarang sedang musimnya, tapi kalau tahu detil mata kuliah apa yang diujikan sampai baju yang kupakai itu baru hal aneh. Terus terang, akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengawasiku atau mungkin hanya perasaan saja.

Hari ini aku memang mau ujian, karena itu semalaman aku belajar. Aku harus mendapat beasiswa lagi semester depan, kalau tidak, aku terpaksa cuti karena tidak ada biaya. Aku sudah berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja sambilan, tapi itu saja tidak cukup untuk membayar uang kuliah yang sangat mahal. Aku hanya tinggal dengan ayah, ibu sudah lama meninggal. Penghasilan ayah sebagai pekerja di bengkel hanya cukup untuk membiayai kehidupan kami.

Saking penasaran, jadilah selama di kampus, aku menanyai teman-temanku tentang akun aneh itu. Tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang tahu atau mengaku.

Malam ini kuputuskan untuk menginterogasi Gina.

@ArdiWaluya kamu tahu dari mana aku tadi siang ada ujian kalkulus?

@G1N4 Sudah tugasku mengawasimu, jadi aku pasti tahu semuanya.

Jawabannya membuatku mengerutkan dahi. Apa maksudnya mengawasiku. Ternyata dia bukan hanya stalker tapi sudah masuk tahapan sakit jiwa.

@ArdiWaluya Buat apa mengawasiku? Memang kamu intel? Sepenting apa aku harus diawasi?

@G1N4 bisa disebut intel kalau di bumi.

Oke, sekarang dia mulai mempermainkanku. Kalau bukan di bumi, dia tinggal di mana lagi?

@ArdiWaluya Gina, memangnya kamu alien?

@G1N4 kalian menyebutnya begitu, aku sebenarnya lebih suka disebut manusia dari galaksi lain. Namaku bukan Gina, tapi N4. G1 itu nama tempatku tinggal.

Daya khayal tinggi. Baik, akan kulayani permainannya.

@ArdiWaluya lalu kenapa kamu datang ke bumi? Apa misimu?

@G1N4 maaf, aku tidak bisa mengatakannya.

Hah, dia bukan tidak bisa mengatakan misinya, tapi pasti tidak terpikir. Rupanya amunisi permainannya belum lengkap. Harusnya dia lebih pintar mengarang.

@G1N4 kenapa kamu berpikir aku tidak tahu misiku? Aku memang tidak pintar mengarang, tapi aku jujur.

Aku tersentak membacanya kali. Dia bisa membaca pikiranku? Ini gila!

@ArdiWaluya Kalau begitu kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Kamu mengawasi dari mana? katakan! Ini tidak lucu!

@G1N4 suatu hari aku berharap bisa menceritakannya langsung padamu.

Aku mendengus membaca jawabannya. Bertemu? Siapa yang mau bertemu dengannya! Aku tidak tertarik dengan wanita aneh yang terobsesi padaku.

Setelah itu berhari-hari aku tidak mengacuhkannya. Semua mention-nya tidak kujawab. Tapi dia tetap memperhatikanku. Sapaan selamat pagi, siang, dan malam tidak pernah absen kulihat darinya. Gina selalu tahu bagaimana perasaanku. Kata-katanya selalu sesuai dengan suasana hatiku, dia memberi motivasi saat aku merasa lelah, ikut senang saat aku merasa bahagia

Hingga hari ini aku membaca twit-twit-nya tentang rumah. Gina menceritakan kerinduannya akan tempatnya berasal, lalu rasa sepinya tinggal di bumi, tanpa siapa pun. Entah kenapa aku mulai percaya cerita karangannya itu. Mungkin memang ada manusia-manusia lain yang hidup di luar bumi. Bukankah semesta ini memang penuh dengan misteri.

@G1N4 aku datang ke sini untuk menemuinya dan merasakan semua ini. Ternyata rasa memang tak seharusnya ada.

Membaca itu aku bisa merasakan kesedihan yang dalam. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku memutuskan untuk menyapanya.

@ArdiWaluya Gina, kamu boleh menceritakan apa saja padaku.

Dia senang sekali, tidak henti-hentinya dia berterimakasih. Malam itu kami mengobrol panjang tentang banyak hal lewat direct message karena aku sudah balik mem-follow-nya.

***

Aku berdiri limbung di depan papan pengumuman beasiswa. Aku gagal! Semester depan aku harus cuti. Aku pulang dengan langkah gontai, melemparkan tas seenaknya lalu menyalakan komputer, membuka Twitter.

@G1N4 semangatlah, masih ada waktu untuk menabung. Kamu pasti bisa.

Gina tahu lagi apa yang kualami tanpa aku repot-repot menceritakannya.

@ArdiWaluya aku ingin kamu datang.

Entah kenapa aku mengetik twit seperti itu. Mungkin karena saat perasaanku kacau begini, aku ingin seseorang berada di sampingku, mengerti resahku.

@G1N4 benarkah?

Aku tidak menjawab. Merasa konyol dengan twit-ku sebelumnya. Bagaimana mungkin Gina datang. Lagipula apa benar aku ingin menemui wanita aneh itu.

Malam begitu gelap, awan menyembunyikan bintang. Aku duduk di atas atap rumah, dipinggirnya, sembari memandang langit dan terkekeh sinis sendirian. Rasanya lelah sekali.

“Aku boleh duduk di sampingmu?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di dekatku. Aku tersentak kaget, lalu refleks menjerit. Bagaimana mungkin ada seseorang yang datang tanpa kuketahui. Untuk naik ke atap ini orang itu harus masuk ke rumahku dulu. Aku mencubit tangan, lalu mengucek mata, memastikan pemandangan yang kulihat. Tapi wanita itu benar-benar nyata. Wajahnya persis seperti avatarnya. Cantik. Dia memakai baju kasual. Tidak ada keanehan dari dirinya.

“Ya… ya… bo-leh,” kataku tergagap.

“Sekarang kamu percaya aku bukan manusia biasa?” tanyanya lagi, lalu duduk di sampingku. Aku mengangguk cepat. Dia mengayun-ayunkan kakinya yang telanjang ke udara kosong. Kami sama-sama terdiam.

Lalu lelah dan beban yang menghimpit itu semakin menyesakkan dada. Aku merebahkan kepalaku di pundaknya yang kecil. Dia beringsut kaget. “Sebentar saja, sebentar saja aku ingin begini,” ucapku tanpa mengubah posisi. Gina lalu membiarkanku.

Entah berapa lama aku bersandar padanya. Rasa sedih dan kecewa berangsur menghilang. Gina memberiku perasaan nyaman. Perlahan aku mengangkat kepala, kemudian menatapnya.

“Entahlah siapa kamu sebenarnya, aku tidak peduli, tapi aku sangat berterima kasih kamu sekarang ada di sini,” kataku lembut.

Gina menatapku tak percaya, ada semburat merah muncul di pipinya. “Setiap hari aku melihatmu, setiap hari aku berharap bisa menemuimu, menyentuhmu.” Tangan Gina terangkat, membelai rambutku pelan.

“Sebenarnya kamu siapa? Kamu bilang mau menceritakan semuanya kalau kita bertemu,” tanyaku.

Gina melepaskan tangannya dari rambutku, tatapannya jatuh ke depan. “Aku berasal dari planet G1. Planet tempat tinggalku begitu indah dan damai. Terlalu damai, tak ada perang, kami hidup menjalani hari demi hari dengan kegiatan yang sama sesuai tugas, kepatuhan yang absolut.” Dia menghela napas panjang.

Aku mendengar ceritanya dengan seksama, berusaha membayangkan kehidupan macam apa di planetnya.

“Aku adalah salah satu petugas di pusat pengembangan teknologi. Suatu hari, aku melihat bumi. Planet yang dihuni makhluk-makhluk yang bentuknya persis seperti kami. Tapi kalian berbeda, kalian merasakan… emosi. Waktu itulah aku menyadari ada semacam cacat rasa pada kami. Kami tidak mengenal cinta. Lalu aku… melihatmu. Saat itu aku merasakan sesuatu yang ganjil di hatiku. Kemudian aku mengajukan diri untuk melakukan observasi penggunaan teknologi di bumi. Sebenarnya hanya alasan, karena sesungguhnya aku tertarik dengan rasa yang kalian miliki, tepatnya tertarik padamu,” lanjut Gina.

“Apa itu artinya kalian akan melakukan penyerangan ke bumi?” tanyaku, takut bumi milik  manusia ini akan hancur di serang alien seperti dalam film-film.

Gina tertawa mendengar pertanyaanku. “Tidak, sudah kukatakan kami makhluk yang mencintai kedamaian. Tidak ada untungnya memiliki bumi kalau harus berperang dan menimbulkan banyak korban.” Aku menghela napas lega.

.Gina tiba-tiba memperlihatkan raut wajah sedih. “Aku sebenarnya tidak boleh menampakkan diri, tapi melihatmu merasa sedih, aku tidak bisa menahan diri. Aku sudah menjadi makhluk dengan rasa yang lengkap karenamu.” Tiba-tiba ekspresi wajahnya terlihat panik, dengan histeris dia berkata, “Mereka tahu! Mereka memanggilku pulang!”

Aku memegang kedua pundaknya. “Apa maksudmu? Mereka siapa?”

“Atasanku, dia akan mengirimku pulang! Dia akan menghukumku!”

Belum sempat aku mencerna kata-katanya, Gina sudah menghilang. Meninggalkan tanya dan perih. Setelah itu, dia tidak pernah muncul lagi.

***

Aku membuka Twitter, berharap ada DM dari Gina. Hanya itu yang bisa kulakukan, aku tidak tahu bagaimana menghubunginya. Dia muncul dari sana, dari dunia maya. Akunnya yang masih tetap ada dan aktif memberiku harapan, seakan suatu hari dia akan kembali.

Lalu pagi ini aku mendapatkan DM yang kutunggu-tunggu itu.

@G1N4 Ardi, aku dipaksa pulang ke planetku. Tapi maukah kamu menungguku? Aku akan memohon agar bisa tinggal di bumi.

@ArdiWaluya jangan pergi, jangan tinggalkan aku.

Tidak ada balasan. Kali ini Gina benar-benar menghilang. Tapi setiap hari aku selalu mengiriminya twit-twit, menceritakan keseharianku, entah dia bisa membacanya atau tidak. Dua tahun kemudian saat aku membaca sebuah surat kabar, aku menemukannya.

Ditemukan mayat alien dengan struktur tubuh persis manusia.

[Cerpen] “Orang Asing” Bagian 2 – Dimuat di Batak Pos, Sabtu 22 Desember 2012

[Foto milik pribadi]

[Foto milik pribadi]

Orang Asing

Eva Sri Rahayu

 

Lamunanku selesai saat menginjakkan kaki di gedung pertunjukkan. Aku duduk di tempat VVIP, hingga leluasa menonton. Malam ini Dean tampil sempurna, aura panggung membuatnya bercahaya. Dean menemukan passion-nya, menjalani hidup impiannya. Ada haru merayap, pria itu mencintaiku dengan segenap jiwanya. Ya, aku yakin dia mencintaiku. Perlakuannya padaku istimewa, dan rasa itu disampaikannya dengan baik, hingga aku menyadarinya.

“Selamat, Dean,” kataku sembari menyerahkan rangkaian bunga ke tangannya.

Dean menerima bunga itu, ucapnya, “Sadarkah kamu, kedatanganmu adalah energi terbesar untukku. Pertunjukkan tadi kuhadiahkan untukmu. Ah tidak, kamu berhak mendapatkan lebih.” Dia tersenyum tulus.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan mengenal Dean, ada aliran hangat menyusup dalam hatiku. Aku benci mengakui itu. Lalu keheningan hadir di antara kami, hanya suara ac mobil sebagai musik pengiring.

“Rasi ….” Mendengar Dean menyebut namaku lembut, aku mendongak menatap matanya. Dean tiba-tiba mencium keningku. Muncul sensasi baru, debaran jantung yang kutunggu itu hadir, semakin tidak teratur. Mungkinkah Dean berhasil mentrasfer cintanya. Tidak mungkin, ini pastilah lagi-lagi cinta palsu.

“Aku mencintaimu,” bisik Dean di telingaku. “Tak usah kamu jawab, aku tahu kamu butuh waktu,” ucapnya lagi, saat menangkap keraguan di mataku.

***

Sudah lama aku tak merasa sebimbang ini. Cinta memang makhluk menyebalkan, suka menyamar, dan menghilangkan keseimbangan. Saat aku sibuk mereka hati, Dean menelponku.

“Rasi, aku menciptakan lagu untukmu. Maaf, ya, kamu bukan pendengar pertama. Produserku setuju lagu ini akan dijadikan single.” Dean bersemangat. Keceriaannya kadang menenggelamkanku, tapi kali ini aku merasakan hal yang sama.

“O, ya. Aku ingin dengar.” Seandainya aku tidak yakin sedang sendirian, aku tidak akan percaya bahwa kalimat dengan nada bahagia itu terucap dari bibirku.

“Tunggu, aku ngambil gitar dulu.” Beberapa detik tidak terdengar apapun. “Judulnya ada aku.” Lalu petikan gitar mengalun.

Berdiri sendiri di atas luka. Aku tahu kamu memang sepi itu sendiri.

Kuminta lelahmu, biar kita berbagi takdir. Sedetik saja percaya aku.

Aku ada untukmu, hapus hampa serupa hujan. Mari kita buat jejak yang tak terhapus masa. Ada aku, tempatmu pulang ….

Suaranya jernih melenakan. Menggetarkan hingga ke jiwa. Kali ini, bolehkan aku mempercayai diriku, cintaku.

“Gimana?” tanya Dean. Aku diam, tidak menanggapi pertanyaannya. Kehilangan kata-kata, sepertinya huruf-huruf enggan terangkai. “Rasi, kamu baik-baik aja? Masih ada di sana?”

“Lagunya indah,” jawabku pendek, ketika akhirnya bisa mengucapkan sesuatu. Satu kalimat yang membahagiakan Dean.

“Rasi, aku pengen ketemu kamu sekarang, bolehkah?”

“Ya.”

“Di kafe tempat kita pertama ketemu, aku tunggu setengah jam lagi, jangan terlambat.” Keriangan Dean kadang membuatnya tampak seperti anak kecil, sekaligus membuatku merasa sangat berarti.

Setelah tiga tahun tenggelam dalam rasa hambar, kuputuskan untuk mencintai.

***

Aku menatap Dean tak percaya, sungguhkah pengelihatanku. Pria di depanku ini sangat berbeda dengan Dean yang kukenal. Wajahnya begitu murung, lebih dari awan mendung. Lebih anehnya, dia tidak mengenalku.

“Rasi? Aku tidak punya teman bernama Rasi. Tinggalkan aku! Aku hanya ingin sendiri!” katanya kasar. Aku mundur beberapa langkah. Tapi tidak pergi, hanya menatapnya jengah.

Dean menatap ke luar jendela, tapi tatapannya kosong. Tangannya gemetar saat mengambil gelas berisi kopi, hingga sedikit tumpah. Diambilnya tisu dengan kesal. Tiba-tiba dia menangis sesegukan. Kemudian dia sadar kuperhatikan, kini Dean menatapku penuh kebencian. Kali ini cukup membuatku tak ingin melihatnya lagi seumur hidup!

***

Hampir tiga bulan aku tidak bertemu dengan Dean. Kami lost contact begitu saja, sepertinya di antara kami tidak ada niat saling menghubungi. Aku merasa disia-siakan. Ternyata cinta dalam hidupku memang tak ada. Seharusnya dari awal aku tidak usah membiarkan diri untuk mencintai lagi. Hingga tiba-tiba hari ini dia hadir kembali, mengusikku.

Hujan turun sedari pagi, tanah lembab menguar bau yang khas. Dari balik pintu, kudapati Dean dengan keadaan basah dan kacau. Matanya menyampaikan kerinduan yang dalam. Saat melihatku, dengan spontan dia memelukku erat, seakan tak ingin lagi terlepas. ”Rasi ….”

“De … an … se … sak ….”

Dia melepaskan pelukannya. “Maaf.”

Setelah duduk dengan handuk di kepalanya, Dean menjelaskan semua tanya yang tersisa dari pertemuan terakhir kami. Tahulah aku, kalau Dean memiliki kepribadian ganda. Saat pribadinya yang lain muncul, ingatannya hilang.

“Waktu kecil, aku sering disiksa oleh Ayahku. Aku tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan murung di rumah, tapi ceria dan disukai semua orang di luar. Sampai aku dewasa seperti sekarang, tak ada lagi sekat antara rumah dan dunia luar. Aku bebas. Hal itu justru membuatku bisa kambuh kapan saja. Tolong aku Rasi, jangan pergi.” Dean terisak putus asa, sementara aku menanggapinya dengan wajah datar.

“Kenapa kamu bisa melupakanku? Kenapa aku? Apa aku tidak penting hingga bisa kamu lupakan?”

Dean tercekat mendengar pertanyaanku, ada sayatan yang hadir di hatinya. “Bukan mauku, Rasi. Itu terjadi begitu saja. Aku … justru kukira karena kamulah yang terpenting dalam hidupku.” Matanya menatap nanar.

Aku ingin memeluk Dean, ingin meringankan bebannya, tapi yang terjadi, aku bersikap begitu dingin. Sudah lama aku tidak pernah mengeluarkan air mata. Hatiku terlalu beku.

“Suatu hari, aku akan menetap pada satu pribadi saja. Aku tidak mau hidup sebagai pesimis.” Dean tergugu lagi, ditutupnya muka dengan kedua tangan.

Tatapanku jatuh pada tangan Dean, ada guratan-guratan luka di sana. Perlahan aku menyentuhnya. “Ini?”

Dean mengangkat wajahnya untuk menatapku. “Bekas percobaan bunuh diri.”

Terbesit pikiran jahat di kepalaku. Apakah aku mau menghabiskan sisa hidupku untuk pria ini. Lelaki yang sakit, yang bahkan bisa melupakanku kapan saja. Cinta, tak cukup membuatku ingin menyerahkan hidup dan masa depan padanya. Naluriku benar, lagi-lagi, cintaku palsu, mudah layu.

***

Ada fase dalam mengenal seseorang. Awalnya dia adalah orang asing, kemudian mengenalnya, lalu dekat, berhubungan. Muncul cabang, apakah dia akan terus menjadi bagian hidup kita atau berakhir, kembali menjadi orang asing.

Aku tidak bisa membohongi hati nurani, bahwa aku mencintai Dean itu benar. Tapi cinta memiliki batas waktu, setidaknya bagiku. Untukku, cinta yang tidak memiliki terasa lebih memorable. Maka aku memilih mengabadikan cintaku dan Dean dalam tulisan. Karena cinta memiliki limit, biar kutentukan sendiri waktunya. Kuakhiri secepat aku bisa.

Lalu hari ini, aku duduk di tempat favoritku. Sebuah kebetulan, Dean ada di sana, duduk menghadap padaku di meja yang berbeda. Beberapa wartawan mengelilinginya.

“Dean, lagu ‘Ada Aku’ itu terinspirasi dari seseorang yang spesialkah?” tanya salah satu wartawan.

“Bukan hanya terinspirasi, tapi lagu itu memang diciptakan untuk seseorang,” jawabnya dengan wajah murung sembari menatap wartawan yang bertanya. Tak ada binar di matanya.

Para wartawan itu langsung heboh mendengar jawaban Dean.

“Siapa gadis itu?” tanya wartawan lainnya.

“Aku tidak tahu, yang aku tahu, hanyalah aku menciptakannya untuk seseorang,” dari nada bicaranya, Dean berkata jujur. Rupanya dia benar-benar tidak mengingatku. Dia bahkan tak menyadari keberadaanku di sini sekarang. Pribadi lainnya telah mengambil alih Dean sepenuhnya. Lebih cepat dari perkiraan, luka karena hati patahlah yang membuat itu terjadi.

Hari itu, aku ingin mengatakan pada Dean: kamu boleh melupakan siapapun, tapi jangan pernah melupakan aku. Tapi aku justru meninggalkannya. Dean kini telah menjadi orang asing. Itulah konsekuensi dari pilihanku. Tiba-tiba kurasakan cairan bening turun dari mataku, membasahi pipi. Aku mengusapnya, kemudian menatap takjub air mata itu, seakan bukan berasal dari diriku. Cinta, apakah cinta yang menyebabkannya. Aku tak tahu, hanya nyeri yang kurasa merambat dari dadaku ke sekujur tubuh. Lalu mual itu menghilang.

****