[Blog Tour] Review + Giveaway Buku Dear, Ayah dan Bunda: Diary Pertumbuhan Buah Hati Usia 0-5 Tahun

Kehadiran anak merupakan fase perubahan signifikan dalam kehidupan pasangan. Anak merupakan pribadi lain yang mengubah berbagai rutinitas dan pola pikir pasangan menjadi pola pikir dan peran lain dalam kehidupan yaitu peran sebagai ‘orang tua’. Butuh adaptasi bagi ketiganya dalam menjalani kehidupan. Setiap fase perkembangan anak bukan hanya merupakan hal baru baginya tetapi juga penemuan baru bagi orang tuanya. Anak memiliki karakter dan perasaannya sendiri, karena itu orang tua mesti belajar memahaminya.

Buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini bisa menjadi referensi bagi orang tua untuk mencoba memahami dan menyelami cara pandang anak.

Berkenalan dengan Yenita Anggraini

Yenita Anggraini merupakan ibu dari seorang putra. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran tahun 2009. Setelah berkarier selama empat tahun di bidang kesehatan dan pelayanan, kini penulis bekerja di sebuah instansi pemerintahan daerah. Selain itu ia aktif menulis cerpen, artikel kepenulisan, cerita anak, serta kisah inspiratif yang dimuat di media cetak maupun online, seperti NOVA, Lampung Post, dan basabasi.co.

Hubungi penulis lewat surel: yenitaanggrainianggi@gmail.com

Mengenal Lebih Jauh Yenita Anggraini di Sesi Wawancara

Penasaran enggak sih kayak apa sih penulis ini orangnya? Sampai gimana cerita di balik penulisan buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini… Saya udah ngasih list pertanyaan ke penulis yang saya panggil dengan sebutan akrab ‘Tante Anggi’ ini. Berikut wawancaranya:

1. Apa motivasi Tante Anggi menulis buku ini?
Motivasi saya menulis buku Dear, Ayah dan Bunda ini sebenarnya sederhana sekali. Saya mau setiap orangtua bisa lebih berpikir dan bersikap positif dalam mengamati dunia buah hati yang penuh kejutan, perubahan perilaku, dan juga loncatan-loncatan perasaan. Perasaan positif itu akan menghadirkan rasa nyaman dan bahagia di dalam diri Ayah dan Bunda. Dan saya yakin, hadiah paling besar bagi buah hati adalah orangtua yang selalu berbahagia atas kehadiran mereka.
2. Mengapa di awal bab selalu dibuka dengan cerita dari sudut pandang anak?
Buku ini memang memiliki konsep yang berbeda dengan buku-buku lain. Di buku ini setiap awal bab selalu dibuka dengan cerita dari sudut pandang anak. Ini menarik, karena dengan mencoba bicara dari sudut pandang anak, Ayah dan Bunda perlahan-lahan diantarkan menuju sebuah pemahaman tentang apa yang buah hati rasakan dan apa yang harus Ayah dan Bunda lakukan. Belajar memahami semua itu tentu akan meminimalisir kekeliruan-kekeliruan tidak perlu yang mungkin saja Ayah dan Bunda lakukan melalui rangkaian perkataan, tindakan, dan stumulasi untuk buah hati.
3. Apa kesulitan menulis buku ini?
Kesulitan menulis buku ini tentu  mencoba menafsirkan apa yang buah hati rasakan sehingga bisa menjadi penggalan-penggalan surat yang seolah-olah berasal dari suara hati buah hati. Bagaimana caranya menafsirkan suara janin yang masih di dalam kandungan misalnya? Hehehe…Tapi, yang menjadi inti dari penggalan-penggalan surat itu bukanlah itu benar-benar merupakan suara hati buah hati, tapi bagaimana saya mengubah sudut pandang orangtua yang terkadang berpikir tentang dirinya, keluhannya, rasa sakitnya, letihnya, menjadi hal-hal yang positif. Misalnya : Keluhan-keluhan saat kehamilan tentu menyebalkan, tapi dengan Bunda berpikir bahwa ini adalah cara tubuh untuk mempersiapkan diri menjadi tempat terbaik bagi buah hati selama 9 bulan ke depan, semoga itu menjadi tidak terlalu menyebalkan lagi.
4. Sebagai orang tua, fase apa yang paling sulit ketika mendidik anak?
Sebagai orangtua, setiap fase memiliki kesulitannya tersendiri dalam mendidik anak. Tapi fase saat anak masih belum bisa berkomunikasi selain dengan tangis adalah fase yg membutuhkan kesabaran cukup besar. Membedakan tangisan anak juga butuh waktu yang tidak bisa saya sambi-sambi dengan hal lain. Ada waktunya dia menangis karena lapar, gendongan yang tidak nyaman , suhu yang tidak pas, tempat yang terlalu berisik, dan bahkan ada waktunya dia menangis hanya karena ingin menangis. Ini biasanya kesimpulan yang saya buat saat saya tidak bisa menafsirkan tangisnya.
5. Ceritakan proses menulis buku ini.
Proses penulisan buku ini kurang lebih dua sampai tiga bulan. Saya membagi fasenya menjadi 5 periode di mana tiap fasenya adalah perkembangan anak sejak ia masih di dalam kandungan hingga usianya 5 tahun. Kebetulan saya terbiasa mencatat setiap fase perkembangan buah hati mulai dari kemampuan motorik, kemampuan bicara dan juga perubahan-perubahan perilakunya. Saya juga sering mendokumentasikan pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia lontarkan sejak ia mulai banyak bertanya dalam #celotehzahir di instagram. Catatan-catatan itu banyak membantu saya dalam proses penulisan buku ini selain tentu saja buku-buku parenting yang saya baca, seminar-seminar parenting yang saya hadiri, termasuk juga nasehat, masukan, cerita-cerita dari keluarga dan teman-teman saya.

DATA BUKU

Judul: Dear, Ayah dan Bunda

Penulis: Yenita Anggraini

Penyunting: Ayuniverse

Penerbit: Diva Press

Cetakan: Pertama, Desember 2017

Halaman: 256 Halaman

ISBN: 9786023914838

Blurb:

Dear, Ayah Bunda

Hari ini aku kesal sekali. Aku tahu kita akan pergi ke rumah nenek. Bunda sudah mengatakan itu sejak kemarin, tapi aku tadi sedang bermain, lalu Bunda tanpa bilang apa-apa langsung membereskan mainanku. Bunda harusnya bilang dulu kepadaku bahwa kita akan berangkat.

Seorang anak, meskipun masih kecil, ia tetaplah manusia yang memiliki perasaan. Dengan dalih melakukan yang tebaik–menurut orang tua, terkadang Ayah Bunda justru mengabaikan perasaannya. Padahal perasaan diabaikan akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya ke depan.

Nah, buku ini hadir untuk menemani Ayah Bunda mendampingi tumbuh kembang buah hati sejak ia masih dalam kandungan hingga usia lima tahun. Setiap bagian dibuka oleh narasi dengan sudut pandang anak, sehingga Ayah Bunda seolah diajak membaca curahan hati si kecil.

Berkomunikasi dengan bayi, menghadapi anak tantrum, mengajarinya berbagi, saat anak mengadu, dan lain-lain, dibahas di buku ini. Dengan perspektif baru, Ayah Bunda akan lebih peka terhadap apa yang dirasakan oleh buah hati.

Selamat membaca!

REVIEW BUKU

Awalnya saya mengira bakalan butuh waktu lama untuk menghabiskan buku nonfiksi ini. Maklum, buku jenis nonfiksi bukan tipe bacaan favorit saya. Nyatanya, saya betaaaah sekali membacanya bahkan sampai rela bergadang.

Saya tipe pembaca yang membaca seluruh bagian buku, termasuk kata pengantar. Surprise, pengantar penulis ternyata jadi salah satu part favorit saya. Terus terang, pengantarnya touchy :’) Di luar bahwa saya mengenal sosok Yenita, setelah membaca pengatarnya saya merasa penulis adalah seseorang yang dengan tangan terbuka ingin menjadi sahabat pembaca yang tulus.

Cover buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini berwarna-warni dengan ornamen gambar-gambar yang mencirikan isinya. Cover-nya cukup menarik perhatian ^^ Blurb bukunya mencerminkan isinya, jadi pembaca enggak akan misleading.

Dari yang saya tangkap, buku ini berisi tentang proses belajar memahami anak bahkan sejak buah hati masih dalam kandungan. Isinya detail sekali dari mulai periode kehamilan sampai usia anak 5 tahun. Setiap bab dibuka dengan dari sudut pandang anak yang menceritakan perasaannya. Pembaca diajak menyelami dulu respon anak pada setiap fase hidupnya. Seringkali tulisan POV anak berupa diary itu menyentuh saya.

Dear, Ayah Bunda

Maafkan aku ya, jika beberapa minggu ke depan atau malah selama kehamilan akan menjadi hari yang berat untukmu.

–Halaman 14.

 

Disampaikan dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan renyah, buku ini dilengkapi tips-tips yang sangat bermanfaat. Misalnya tips asupan makanan untuk masa kehamilan, bagaimana cara mengelola stres, posisi menyusi yang nyaman bagi anak dan ibu, dan masih banyak lagi.

Pembaca ‘Dear, Ayah dan Bunda’ dibekali banyak pengetahuan biologis sampai psikologis. Misalnya mengenai perubahan tubuh di masa kehamilan, perubahan hormon ibu, manfaat inisiasi menyusui dini, makanan pendamping ASI, cara menstimulasi perkembangan anak, sampai bagaimana menjalin kedekatan antara orang tua dan anak.  Jangan khawatir mati kebosanan saat mebacanya, karena pengetahuan itu ditebar sedikit-sedikit sesuai fase tumbuh kembang anak. Pembaca tidak dijejali berbagai informasi sekaligus. Lagipula tata bahasa penulis yang seakan menjadi ‘sahabat’ pembaca membuat buku ini justru sangat menyenangkan dibaca.

Buku ini memberi saya kesan betapa menyenangkannya menjadi orang tua dengan segala dinamikanya. Bahwa segala tantangan bisa diselesaikan dan dilalui bersama. Benar-benar diajak menjadi orang tua bahagia, bukan pasangan yang terpaksa menjadi orang tua. Penyampaiannya jauh dari kesan menggurui. Penulis begitu mengerti psikologis pembacanya. Saya seperti sedang melakukan konsultasi privat dengan seseorang yang sangat ‘memahami’ keadaan saya. Saya dan anak seperti sedang mencurahkan perasaan tanpa harus berkata apa-apa. Sampai-sampai beberapa kali meneteskan air mata membacanya. Saya jatuh cinta pada cara penulis memaparkan materinya.

Buku ini bukan hanya saya rekomendasikan bagi pasangan yang bersiap menjadi orang tua atau pasangan yang telah memiliki anak usia 0-5 tahun, tapi bagi semua orang tua. Nyata, meski anak saya telah berusia 8 tahun lebih, buku ini tetap sangat related buat saya. Bahkan memberi motivasi untuk terus berusaha menjadi orang tua yang baik.

Rating 5 dari 5 bintang.

Giveaway Time

Ada satu buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ untuk pemenang beruntung. Cara ikutannya gampang kok:

1. Like Fanpage Diva Press

2. Follow akun Instagram @penerbitdivapress dan @eva.srirahayu

3. Bagikan info giveaway ini dengan tagar #DearAyahBunda di Insta story-mu dengan  mention akun saya dan Diva Press

4. Pastikan alamatmu di Indonesia.

5. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun Instagram kamu.

Kamu kepengin jadi orang tua seperti apa?

6. Jawaban ditunggu sampai tanggal 31 Desember 2017.

7. Pemenang diumumkan tanggal 1 Januari 2018.

Ditunggu partisipasinya ^^

Advertisements

[Ask Author] Dini Fitria Penulis Novel Islah Cinta

Proses kreatif menulis novel selalu seperti perjalanan panjang melewati terowongan. Kadang kala cahaya di ujungnya tidak tampak sama sekali. Ketika penulis menyerah, maka kata-katanya tak akan sampai pada para pembaca di luar terowongan sana. Namun, pengalaman batin penulis tentu berbeda-beda. Ada pula yang  merasa proses kreatif menulis novel ibarat sedang bersenang-senang di taman bermain, atau menjadi detektif yang menyatukan teka-teka. Saya selalu penasaran dengan perjalanan penulisan seseorang. Termasuk pada Mbak Dini Fitria, penulis novel Islah Cinta. Senangnya, Mbak Dini ini orangnya ramah banget. Permintaan saya untuk wawancara disambut terbuka 😀

Pertama-tama, kita kenalan dulu dengan sosok Mbak Dini Fitria. Berikut biodata narasinya:

Ask Author Dini Fitria Penulis Novel Islah Cinta

1. Saya: Untuk menulis novel “Islah Cinta” tentunya Mbak Dini melakukan riset yang mendalam. Risetnya seperti apa? Dan apa saja yang menjadi tantangan selama melakukan riset?

Mbak Dini :

Sebenarnya aku tidak pernah terpikir untuk bikin novel yang berlatar India. Kunjungan aku pertama kali ke India di akhir maret 2011 lalu itu murni karena ingin liputan untuk sebuah program televisi yang aku produseri.
Tidak ada niat untuk menjadikan semua peristiwa atau kenangan selama liputan menjadi sebuah buku. Apa yang kualami di India selama liputan membuat ku juga tidak betah dan nyaman berlama-lama, karena banyak sekali tantangan dan kesulitan liputan saat itu. Bahkan, aku dan cameraman (kami liputan hanya berdua), menamakan perjalanan kami ke india ini “neraka”, tak seindah yang ada di televisi dan tak segampang yang kami bayangkan. India, cukup menguras emosi dan energi. Itu sebabnya, kami bersumpah untuk tidak akan pernah kembali lagi ke India dengan alasan apa pun, termasuk bila gratis sekalipun. Aku masih ingat sumpah itu kami ikrarkan di India Gate,Delhi.

5 tahun kemudian, cerita berkata lain. Aku diminta untuk membuat sebuah novel dengan genre travel religi oleh Falcon Publishing. Terinspirasi dari bukuku sebelumnya yang berlatar di benua Eropa dan Amerika Latin. Tadinya aku ingin menulis China atau negara lain yang pernah aku kunjungi, tapi entah kenapa pilihan akhirku jatuh ke negeri para dewa, India. Setidaknya bekal memori tahun 2011 silam masih jelas teringat dan tergiang. Modal itu yang aku pakai untuk membuat cerita. Tapi saat menuliskan semua kisah dan pengalaman itu kayaknya feel-nya ada yang kurang, tidak ada jiwanya. Walaupun aku berusaha kembali membuka diary yang berisi reportase  selama berkegiatan di sana dan menonton kembali rekaman program dulu rasanya tetap saja ada yang kurang. Om google dan youtube pun tidak bisa menghidupkan “jiwa” tulisanku. Akhirnya aku bertekad kembali ke India untuk memberi “jiwa” pada tulisanku agar tidak kehilangan napas kehidupannya. Dan Allhamdullilah Falcon pun mendukung. Oktober 2016 aku berangkat dan menetap selama dua minggu di sana, kembali menjelajahi india dengan melanggar janjiku sendiri.

Tapi ada yang berbeda di perjalananku yang kedua ini, semua kesan “buruk” dan kenangan “pahit” yang dulu pernah aku alami malah tak senyata dulu. Entah karena tujuan kedatanganku berbeda karena memiliki target yang tak sama atau karena point of view-ku melihat India yang berubah. Ibaratnya, bisa dibilang aku seperti seorang gadis yang sedang kasmaran dengan pria tampan yang dulu pernah aku abaikan.

India memberi banyak pelajaran hidup dan pengalaman yang mendewasakan. Tidak hanya dari segi agama tetapi juga kehidupan itu sendiri. Seperti yang saya bilang di novel Islah Cinta yang saya tulis “if you can survive in India, you can survive in any part of the world.”

Selama di India aku kembali mendatangi tempat-tempat yang pernah aku kunjungi dan juga beberapa tempat yang belum pernah kudatangi tapi masuk ke dalam latar cerita. Bertemu dan berbaur dengan masyarakatnya, kebudayaanya, keseharianya  dan merasakan menjadi “gadis India” yang hidup di zaman kerajaan dan masa sekarang.   Semua orang, tempat dan peristiwa yang kutemui selama perjalanan ikut mengilhami kisah yang kubuat, bisa dibilang semua yang kutulis adalah based on true story. Sekali lagi sensasi perjalanan kali kedua ini sangat membuatku “ketagihan” dan malah sangat betah.

Tantangan saat kedua kali mengunjungi India tentu tidak sama dengan yang pertama. Sekarang malah lebih ke soal waktu yang terasa kurang di tengah keasyikan saya menggali dan menyusun cerita. Dua kisah kunjungan inilah yang saya ramu di novel Islah Cinta ini.

Saya: Ya ampun, Mbak. Ini sih behind the book-nya udah bisa dibikin novel sendiri saking menariknya 😀

2. Saya: Islah Cinta sebenarnya terusan dari dua novel seri ‘Scapa Per Amore’ ya, Mbak? Ini sebelumnya, apakah memang sudah dikonsep untuk menjadi novel berseri? Bagaimana mengonsep novel berseri, Mbak? Soalnya tampak susah bikin pemetaan ceritanya berseri.

Mbak Dini:

Iya, Islah Cinta adalah novel ketigaku dari dua judul sebelumnya. Sebenarnya konsep berseri ini tidak ada unsur kesengajaan. Semua berjalan begitu saja. Dari novel pertama tentang perjalananku ke benua Eropa memang aku berpikir, rasanya aku tak sanggup menampung sendiri sekian banyak hikmah yang kudapat selama perjalanan, makanya aku bagi dengan mengabadikannya ke dalam bentuk buku. Dan berharap kisah-kisah yang tertuang dapat bermanfaat bagi yang membaca.

Sebenarnya tidak susah juga membuat novel berseri karena tokoh dan alur kisah Diva antara buku 1, 2 dan 3 ini tetap tak kehilangan benang merahnya. Bahkan antara satu yang dengan yang lainya saling melengkapi. Jadi bisa dibilang membaca buku 1, 2 dan 3 ini seperti sedang membuka puzzle-puzzle kehidupan sang tokoh, yaitu Diva. Tirai-tirai rahasia diva satu persatu terkuak hingga orang bisa jatuh cinta atau patah hati dengan Diva di saat yang bersamaan.

Pengalaman Mbak Dini ketika jadi presenter dan produser acara (foto dokumentasi milik Mbak Dini)

3.  Saya: Tolong ceritakan kejadian menarik dan mengesankan dalam proses menulis novel “Islah Cinta”.

Mbak Dini:

Aku tadinya merasa tidak yakin kalau akhirnya bisa menulis bahkan merampungkan buku ketiga ini di tengah riuh gelombang kehidupan. Saat itu aku juga sedang banyak kesibukan dan silih berganti diterpa ujian hidup. Proses aku menulis buku ini juga mengalami jatuh bangun di mana aku benar-benar disungkurkan kenyataan hidup oleh Tuhan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Ternyata benar, skenario Tuhan itu lebih indah dari yang saya perkirakan. Kuncinya cuma satu, ikhlas dan sabar. Perjalanan saya ke India turut membantu saya menyembuhkan “penyakit batin” yang saya punya. Ternyata masih banyak orang yang hidup dalam kenestapaan hingga membuat saya merasa lebih bisa bersyukur dan berpikir positif terhadap apa yang sudah saya miliki sekarang.

Saya: Peluuuk Mbak Dini…. Masalah pribadi penulis pasti bisa memperkaya tulisannya juga ya, Mbak.
4. Saya: Siapakah tokoh-tokoh yang menginspirasi Mbak Dini di dunia penulisan dan presenter?

Mbak Dini:
Sejak kecil aku terbiasa membaca buku-buku filsafat, psikologi, sejarah dan agama karena latar belakang orang tua yang berprofesi sebagai pendidik. Aku bahkan tidak terlalu senang membaca komik atau cerita anak-ana. Mungkin itu sebabnya aku lebih tertarik kepada hal-hal yang berkaitan dengan bidang ilmu di atas. Tulisan ku juga banyak terinspirasi dari semua buku yang aku baca. Kemudian aku menganalisa sendiri dan meramunya sesuai dengan apa yang aku alami.

Tapi bukan berarti aku tidak senang membaca buku-buku fiksi. Aku pengaggum berat buku-buku Buya Hamka dengan tulisan jenius dan romantisnya. Aku juga senang membaca karya NH Dini, Pramoedya, Ahmad Tohari, dan Jane Austin. Tapi yang sangat mempengaruhiku untuk giat menulis itu adalah papaku sendiri yang memang juga seorang penulis buku. Aku sering membaca tulisanya di koran-koran dan ikut mendengar ceramahnya di masjid dan kampus. Bahkan mamaku bilang saat tidak ada uang membeli susu waktu aku kecil, papa harus mengirim artikel dulu ke koran lokal supaya dapat uang. Itu yang membuatku sangat trenyuh dan termotivasi.  Membaca memang kesenanganku, sama halnya dengan menulis yang menjadi kegemaranku sejak di bangku sekolah dasar.

Kalau di dunia presenter aku lebih belajar otodidak dan mengambil kiblat ke orang-orang yang pakar di bidangnya. Tapi pengenya menjadi presenter hijaber dengan style masa kini tapi tetap Islami dan mempunyai pengetahuan yang luas.

5. Saya: Apa impian pencapaian Mbak Dini dalam dunia penulisan?

Mbak Dini:

Aku ingin kisah-kisah dari bukuku diangkat ke layar lebar dan bisa dinikmati banyak orang tanpa terhalang perbedaan agama, suku bangsa dan ras. Karena semua yang kutuliskan tidak menghujat atau menyudutkan pihak mana pun. Aku ingin menyebarkan benih-benih Islam yang rahmatan lil alamin. Sebagai penulis aku ingin menyumbangkan sedikit ilmu dan pengalaman yang kumiliki agar bisa ikut berdakwah walau hanya di ujung pena.

Saya: Amiin. Semoga terwujud ya, Mbak.

Mbak Dini sedang menanda-tangani karyanya. (foto dokumentasi Mbak Dini)

Itu dia hasil obrolan singkat kami. Semoga menginspirasi ya. Kalau kamu masih kepengin tanya-tanya sama Mbak Dini. Silakan loh mention Mbak Dini di media sosialnya. ^^