[Cerpen] “Stalker G1N4” Dimuat di majalah “Hai” edisi 18-24 Februari 2013

STALKER G1N4

Oleh Eva Sri Rahayu

Image

Siapa dia sebenarnya, kenapa dia tahu semua hal tentangku? Apa dia seorang stalker handal? Dalam Facebook dan Twitter aku tidak menggunakan foto sama sekali, hanya gambar karikatur yang iseng kubuat. Semua followers-ku hanya teman-teman sendiri yang kukenal di dunia nyata.

Pasti yang dia pakai adalah akun palsu. Salah satu teman berniat mengerjaiku. Bukannya itu hal biasa. Bisa jadi dia adalah tetangga yang mengenalku sejak kecil. Nama yang dia pakai di akun Twitter-nya adalah G1N4 yang kubaca Gina. Mungkin dia termasuk alay. Gina tidak punya followers sama sekali, dan following-nya hanya aku.

Awalnya aku tidak mengacuhkannya, Gina mengajakku mengobrol di Twitter dengan intens setiap hari, lama-lama aku mulai tertarik dan merespon obrolannya. Aku tidak tahu Gina memakai foto asli atau bukan untuk avatarnya, kalau benar, dia memang cantik. Aku pernah mencari foto itu lewat Google, tapi memang tak ada.

@G1N4 selamat pagi, Ardi. Hari ini sudah siap UTS Kalkulus? Semangat! Pasti pakai kemeja kotak merah.

Sebelum pergi kuliah, aku menyempatkan diri membuka komputer jadulku, begitu aku membuka Twitter, yang pertama kali kulihat adalah sapaannya. Tapi dari mana dia tahu? Aku tidak mengumumkannya di Twitter. Mengetahui mahasiswa ujian bukan hal luar biasa, karena memang sekarang sedang musimnya, tapi kalau tahu detil mata kuliah apa yang diujikan sampai baju yang kupakai itu baru hal aneh. Terus terang, akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengawasiku atau mungkin hanya perasaan saja.

Hari ini aku memang mau ujian, karena itu semalaman aku belajar. Aku harus mendapat beasiswa lagi semester depan, kalau tidak, aku terpaksa cuti karena tidak ada biaya. Aku sudah berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja sambilan, tapi itu saja tidak cukup untuk membayar uang kuliah yang sangat mahal. Aku hanya tinggal dengan ayah, ibu sudah lama meninggal. Penghasilan ayah sebagai pekerja di bengkel hanya cukup untuk membiayai kehidupan kami.

Saking penasaran, jadilah selama di kampus, aku menanyai teman-temanku tentang akun aneh itu. Tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang tahu atau mengaku.

Malam ini kuputuskan untuk menginterogasi Gina.

@ArdiWaluya kamu tahu dari mana aku tadi siang ada ujian kalkulus?

@G1N4 Sudah tugasku mengawasimu, jadi aku pasti tahu semuanya.

Jawabannya membuatku mengerutkan dahi. Apa maksudnya mengawasiku. Ternyata dia bukan hanya stalker tapi sudah masuk tahapan sakit jiwa.

@ArdiWaluya Buat apa mengawasiku? Memang kamu intel? Sepenting apa aku harus diawasi?

@G1N4 bisa disebut intel kalau di bumi.

Oke, sekarang dia mulai mempermainkanku. Kalau bukan di bumi, dia tinggal di mana lagi?

@ArdiWaluya Gina, memangnya kamu alien?

@G1N4 kalian menyebutnya begitu, aku sebenarnya lebih suka disebut manusia dari galaksi lain. Namaku bukan Gina, tapi N4. G1 itu nama tempatku tinggal.

Daya khayal tinggi. Baik, akan kulayani permainannya.

@ArdiWaluya lalu kenapa kamu datang ke bumi? Apa misimu?

@G1N4 maaf, aku tidak bisa mengatakannya.

Hah, dia bukan tidak bisa mengatakan misinya, tapi pasti tidak terpikir. Rupanya amunisi permainannya belum lengkap. Harusnya dia lebih pintar mengarang.

@G1N4 kenapa kamu berpikir aku tidak tahu misiku? Aku memang tidak pintar mengarang, tapi aku jujur.

Aku tersentak membacanya kali. Dia bisa membaca pikiranku? Ini gila!

@ArdiWaluya Kalau begitu kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Kamu mengawasi dari mana? katakan! Ini tidak lucu!

@G1N4 suatu hari aku berharap bisa menceritakannya langsung padamu.

Aku mendengus membaca jawabannya. Bertemu? Siapa yang mau bertemu dengannya! Aku tidak tertarik dengan wanita aneh yang terobsesi padaku.

Setelah itu berhari-hari aku tidak mengacuhkannya. Semua mention-nya tidak kujawab. Tapi dia tetap memperhatikanku. Sapaan selamat pagi, siang, dan malam tidak pernah absen kulihat darinya. Gina selalu tahu bagaimana perasaanku. Kata-katanya selalu sesuai dengan suasana hatiku, dia memberi motivasi saat aku merasa lelah, ikut senang saat aku merasa bahagia

Hingga hari ini aku membaca twit-twit-nya tentang rumah. Gina menceritakan kerinduannya akan tempatnya berasal, lalu rasa sepinya tinggal di bumi, tanpa siapa pun. Entah kenapa aku mulai percaya cerita karangannya itu. Mungkin memang ada manusia-manusia lain yang hidup di luar bumi. Bukankah semesta ini memang penuh dengan misteri.

@G1N4 aku datang ke sini untuk menemuinya dan merasakan semua ini. Ternyata rasa memang tak seharusnya ada.

Membaca itu aku bisa merasakan kesedihan yang dalam. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku memutuskan untuk menyapanya.

@ArdiWaluya Gina, kamu boleh menceritakan apa saja padaku.

Dia senang sekali, tidak henti-hentinya dia berterimakasih. Malam itu kami mengobrol panjang tentang banyak hal lewat direct message karena aku sudah balik mem-follow-nya.

***

Aku berdiri limbung di depan papan pengumuman beasiswa. Aku gagal! Semester depan aku harus cuti. Aku pulang dengan langkah gontai, melemparkan tas seenaknya lalu menyalakan komputer, membuka Twitter.

@G1N4 semangatlah, masih ada waktu untuk menabung. Kamu pasti bisa.

Gina tahu lagi apa yang kualami tanpa aku repot-repot menceritakannya.

@ArdiWaluya aku ingin kamu datang.

Entah kenapa aku mengetik twit seperti itu. Mungkin karena saat perasaanku kacau begini, aku ingin seseorang berada di sampingku, mengerti resahku.

@G1N4 benarkah?

Aku tidak menjawab. Merasa konyol dengan twit-ku sebelumnya. Bagaimana mungkin Gina datang. Lagipula apa benar aku ingin menemui wanita aneh itu.

Malam begitu gelap, awan menyembunyikan bintang. Aku duduk di atas atap rumah, dipinggirnya, sembari memandang langit dan terkekeh sinis sendirian. Rasanya lelah sekali.

“Aku boleh duduk di sampingmu?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di dekatku. Aku tersentak kaget, lalu refleks menjerit. Bagaimana mungkin ada seseorang yang datang tanpa kuketahui. Untuk naik ke atap ini orang itu harus masuk ke rumahku dulu. Aku mencubit tangan, lalu mengucek mata, memastikan pemandangan yang kulihat. Tapi wanita itu benar-benar nyata. Wajahnya persis seperti avatarnya. Cantik. Dia memakai baju kasual. Tidak ada keanehan dari dirinya.

“Ya… ya… bo-leh,” kataku tergagap.

“Sekarang kamu percaya aku bukan manusia biasa?” tanyanya lagi, lalu duduk di sampingku. Aku mengangguk cepat. Dia mengayun-ayunkan kakinya yang telanjang ke udara kosong. Kami sama-sama terdiam.

Lalu lelah dan beban yang menghimpit itu semakin menyesakkan dada. Aku merebahkan kepalaku di pundaknya yang kecil. Dia beringsut kaget. “Sebentar saja, sebentar saja aku ingin begini,” ucapku tanpa mengubah posisi. Gina lalu membiarkanku.

Entah berapa lama aku bersandar padanya. Rasa sedih dan kecewa berangsur menghilang. Gina memberiku perasaan nyaman. Perlahan aku mengangkat kepala, kemudian menatapnya.

“Entahlah siapa kamu sebenarnya, aku tidak peduli, tapi aku sangat berterima kasih kamu sekarang ada di sini,” kataku lembut.

Gina menatapku tak percaya, ada semburat merah muncul di pipinya. “Setiap hari aku melihatmu, setiap hari aku berharap bisa menemuimu, menyentuhmu.” Tangan Gina terangkat, membelai rambutku pelan.

“Sebenarnya kamu siapa? Kamu bilang mau menceritakan semuanya kalau kita bertemu,” tanyaku.

Gina melepaskan tangannya dari rambutku, tatapannya jatuh ke depan. “Aku berasal dari planet G1. Planet tempat tinggalku begitu indah dan damai. Terlalu damai, tak ada perang, kami hidup menjalani hari demi hari dengan kegiatan yang sama sesuai tugas, kepatuhan yang absolut.” Dia menghela napas panjang.

Aku mendengar ceritanya dengan seksama, berusaha membayangkan kehidupan macam apa di planetnya.

“Aku adalah salah satu petugas di pusat pengembangan teknologi. Suatu hari, aku melihat bumi. Planet yang dihuni makhluk-makhluk yang bentuknya persis seperti kami. Tapi kalian berbeda, kalian merasakan… emosi. Waktu itulah aku menyadari ada semacam cacat rasa pada kami. Kami tidak mengenal cinta. Lalu aku… melihatmu. Saat itu aku merasakan sesuatu yang ganjil di hatiku. Kemudian aku mengajukan diri untuk melakukan observasi penggunaan teknologi di bumi. Sebenarnya hanya alasan, karena sesungguhnya aku tertarik dengan rasa yang kalian miliki, tepatnya tertarik padamu,” lanjut Gina.

“Apa itu artinya kalian akan melakukan penyerangan ke bumi?” tanyaku, takut bumi milik  manusia ini akan hancur di serang alien seperti dalam film-film.

Gina tertawa mendengar pertanyaanku. “Tidak, sudah kukatakan kami makhluk yang mencintai kedamaian. Tidak ada untungnya memiliki bumi kalau harus berperang dan menimbulkan banyak korban.” Aku menghela napas lega.

.Gina tiba-tiba memperlihatkan raut wajah sedih. “Aku sebenarnya tidak boleh menampakkan diri, tapi melihatmu merasa sedih, aku tidak bisa menahan diri. Aku sudah menjadi makhluk dengan rasa yang lengkap karenamu.” Tiba-tiba ekspresi wajahnya terlihat panik, dengan histeris dia berkata, “Mereka tahu! Mereka memanggilku pulang!”

Aku memegang kedua pundaknya. “Apa maksudmu? Mereka siapa?”

“Atasanku, dia akan mengirimku pulang! Dia akan menghukumku!”

Belum sempat aku mencerna kata-katanya, Gina sudah menghilang. Meninggalkan tanya dan perih. Setelah itu, dia tidak pernah muncul lagi.

***

Aku membuka Twitter, berharap ada DM dari Gina. Hanya itu yang bisa kulakukan, aku tidak tahu bagaimana menghubunginya. Dia muncul dari sana, dari dunia maya. Akunnya yang masih tetap ada dan aktif memberiku harapan, seakan suatu hari dia akan kembali.

Lalu pagi ini aku mendapatkan DM yang kutunggu-tunggu itu.

@G1N4 Ardi, aku dipaksa pulang ke planetku. Tapi maukah kamu menungguku? Aku akan memohon agar bisa tinggal di bumi.

@ArdiWaluya jangan pergi, jangan tinggalkan aku.

Tidak ada balasan. Kali ini Gina benar-benar menghilang. Tapi setiap hari aku selalu mengiriminya twit-twit, menceritakan keseharianku, entah dia bisa membacanya atau tidak. Dua tahun kemudian saat aku membaca sebuah surat kabar, aku menemukannya.

Ditemukan mayat alien dengan struktur tubuh persis manusia.

Advertisements

Dibalik “Stalker G1N4” ada anak marmut

stalkergina

 

Lia, anak marmutku. Maaf, ya, lama balesan surat cintanya.

 

Kali ini aku mau cerita soal lomba yang kita ikuti. Lomba di satu grup FB. Kita berdua bukan pemburu lomba juga hadiah. Butuh chemistry yang kuat untuk mengikuti sebuah lomba. Karena menulis butuh panggilan hati, bukan sebuah rutinitas membosankan yang kita lakukan karena keharusan. Saat pengumuman lomba itu kita berdua sama-sama bersemangat, lalu berjanji agar dalam kumpulan cerpennya nanti bakalan ada cerpen kita berdua.

 

Lomba itu punya tiga tema. Kita memilih tema yang berbeda. Aku masih ingat betapa stresnya kamu menulis cerpen romance. Waktu itu aku malah membuat cerpen pertama dengan lancar. Sayangnya ternyata nggak masuk ke tema sehingga nggak lolos. Ah, sedih banget. Syukurlah punyamu lolos ^^

 

Cerpen pertama yang gagal itu aku kirim ke media. Setelah sekian lama nggak ngirim naskah ke media. Untungnya cerpen itu dimuat di koran lokal.

 

Cukup lama aku memikirkan ide selanjutnya untuk cerpen kedua. Sampai-sampai hampir menyerah. Saat itu kamu marah, Li. Kamu mengingatkan janji kita. Yah, kamu selalu memotivasi aku dengan caramu. Aku selalu takut kalau kamu marah, takut ditinggalkan. Pikiran konyol, ya, Li. Akhirnya aku berpikir lebih keras. Berkonsentrasi pada tema, pada sekitar untuk menemukan ide yang pas supaya tidak melenceng lagi dari tema.

 

Akhirnya cerpen kedua itu aku tulis juga di hari terakhir dengan durasi empat jam saja. Waktu yang fantastis untukku yang lelet. Satu cerpen biasanya kukerjakan dalam waktu seminggu sampai sebulan. Tapi selain sudah tidak ada waktu, ada wajah cemberutmu yang seperti memandori di sebelahku saat menulis ^^V

 

Tanpa meminta saranmu dulu, langsung kukirim. Cerpen itu belum kuedit atau kupoles, masih polos. Beberapa hari kemudian email lolos tahap satu membuatku jejingkrakan. Bukan karena senang lolosnya, tapi karena bisa memenuhi janjiku padamu yang membuatku senang.

 

Saat pengumuman, ternyata cerpen kita nggak masuk tujuh besar. Agak sedih karena kita tidak bisa merealisasikan satu mimpi. Tapi aku yakin setiap karya punya jodohnya. Dengan nggak pede, aku mengedit cerpen itu berlandaskan saran-saran juri dan tentu saja saranmu. Karena tokohnya laki-laki, aku kirim ke majalah khusus pria. Ngomong-ngomong, itu cerpen pertama yang tokohnya laki-laki. Entah kenapa saat itu aku merasa ingin saja. Li, kamu sendiri sangat jago menulis dari sudut pandang laki-laki. Pembaca bahkan tidak menemukan sisi feminim dari cerpenmu, benar-benar seperti ditulis laki-laki. Itulah kerennya kamu.

 

Satu bulan setengah kemudian aku mendapat email balasan kalau cerpenku akan dimuat! Orang pertama yang ingin kuberi tahu adalah kamu. Li, kamu selalu percaya aku. Walaupun seringkali aku ingkar janji, membuatmu bete, tapi selalu baikan lagi. Li, cerpen “Stalker G1N4” kupersembahkan untukmu. Cerpen itu ada karenamu. Terima kasih sudah memberiku pengalaman indah. Pengalaman pertama kali tembus media nasional.

 

Kamu memang marmut ajaib. Marmut keberuntunganku ^^

Surat ini surat balasan untuk surat cinta Vincetia Natalia. Baca suratnya untuk saya di sini:

http://donasaku.blogspot.com/search/label/Kumpulan%20Surat%20untuk%20Eva%20Sri%20Rahayu

Liony Chan, Nyonya Persie ^^

521a9855a6b8eea55a949a14af04fe52

Dear Liony Chan.

Saya mengenal Liony dari mention-mentionan kembaran saya, Eva—teman kembaran saya—dan Liony. Kalian asyik mengobrolkan tentang program menulis surat cinta. Awalnya saya baru berniat untuk ikut-ikutan program menulis surat cinta itu karena membaca surat-surat mereka. Saya pikir, seru juga ya bisa ngisi blog sekaligus curhat. Tapi kalau pada akhirnya saya benar-benar ikut program surat cinta itu karena Liony. Kalau bukan karena dukungan Liony yang ramah, keinginan itu sepertinya hanya saya simpan di sudut-sudut hati sambil iri setengah mati ngeliat Evi.

Surat pertama saya waktu itu untuk Rasi. Liony, saya seneng banget waktu surat itu kamu pilih untuk diposting di blog pos cinta. Makin semangat deh ikutnya. Setelah itu saya selalu melonjak senang kalau dimention pos cinta. Meskipun sampe hari ini total suratnya baru enam >.<

Dear Liony Chan,

Saya suka menganggap muka Liony imut seperti gambar di perangkonya. Rasanya pas banget, ceria dan dinamis. Saya yang selalu tidur di atas jam satu malam ini sering memerhatikan Liony di TL. Liony masih sering online sampai pagi, sampai saya mikir, kapan ya Liony tidurnya?

Entah kenapa saya ngerasa Liony ini pribadi yang lucu dan unik. Suka cerita tentang pekerjaan, kesal karena nulis typo, menggalau, sampai semangat banget kalau ada bola. Terutama kalau Persie yang main ^^ Secara ya, Liony itu nyonya Persie. Liony bakalan heboh banget di time line. Kebayang deh aslinya gimana, heuheu. Kenapa Liony suka banget sama Persie?

Dear Liony Chan,

Gimana rasanya jadi tukang pos? Setiap hari baca puluhan surat? Apa suka dukanya? Kepo banget ya saya. Tapi memang penasaran. Pernah suatu malam, jam 12, saya buku blog pos cinta. Ternyata Liony sedang memposting surat-surat yang terpilih. Rajin banget. Liony, semoga tanggal 17 nanti bisa ketemu. Sederhana, setelah sederet pertanyaan tadi, saya pengen bilang: makasih, Liony. Kamu tukang pos yang bekerja dari hati. Terima kasih sudah tulus ^^

Chibi, langkah kecil kita untuk berlari – Untuk Yunis Kartika

Chibi, langkah kecil kita untuk berlari.

Untuk Yunis Kartika

yunis

Sista,

Tahun 2012 adalah tahun yang sangat berat bagiku. Meskipun kamu selalu ada dalam setiap jejak hidupku, aku tak pernah menyangka sebelumnya, saat aku tengah terpuruk kemarin, kamu selalu ada untukku. Menemaniku dalam setiap tangis tertahan dan tawa hambar. Kamu paling mengerti perasaanku saat itu. Mungkin karena kita mengalami nasib yang sama.

Sista,

Kamu juga memberiku kesempatan untuk cepat berdiri dan berlari dari masa kelam. Lewat sebuah mimpi.

Bermula dari keinginan untuk berkerja dengan perasaan bahagia—tanpa tekanan, tanpa keterpaksaan—kita berjanji membangun kembali impianmu. Sebuah penerbitan bernama Chibi. Kamu mungkin tidak akan mengira, mimpi kita berhasil menopangku untuk berdiri. Langkah kita, sebuah langkah kecil—seperti arti nama Chibi—membuatku kembali bersentuhan dengan semangat.

Dan selalu tidak mudah menjadikan impian nyata. Masalah datang bergantian, kadang berhimpitan. Ada masanya kamu begitu pasif hingga membuatku merasa kamu tak peduli, lalu datang masanya ketika akulah yang justru membiarkan mimpi itu begitu saja. Tapi akhirnya, lewat realita juga kita kembali berjalan, setapak demi setapak.

Sungguh, aku bersyukur kita selalu bisa bergandengan tangan saat ditempa badai. Meskipun kita terkadang saling menghardik.

Sis,

Ketika kita lemah, kita harus kembali mengingat saat-saat betapa bersemangatnya kita ketika membicarakan konsep-konsep, strategi, dan proses editing yang membuat rambut keriting. Lalu pada akhirnya kita seperti akan meledak karena bahagia ketika melihat sebuah buku selesai dicetak. Kemudian kita akan berburu ke toko, mengambil foto-foto display buku.

Kita rasanya ingin berteriak sambil jejingkrakan saat melihat penulis-penulis bergembira membaca karya mereka dalam buku terbitan Chibi. Betapa berharganya turut berbagi mimpi dan memberi jalan mereka menggapainya.

Sis,

Masih sangat banyak pekerjaan rumah untuk kita benahi. Tapi itulah yang selalu membuat kita dinamis dan tak bosan.

Berjanjilah kita selalu akan saling mengingatkan untuk tak pernah menyerah. Aku mempercayaimu, Sis. Seperti kamu mempercayaiku. Bahwa kita akan bersetia pada mimpi. Mimpi yang membangunkan kita pada kenyataan. Sebuah keadaan yang melarutkan kita pada perjalanan panjang yang melenakan lewat keringat dari kerja keras, pencapaian kecil, dan perasaan bahagia saat bekerja.

Karena itu jangan pernah tinggalkan aku sendiri, karena aku tak akan meninggalkanmu juga.

Chibi kita akan membesarkan kita pada waktunya nanti. Membesarkan dalam artian perubahan positif pada karakter kita. Membesarkan lewat proses. Karena itulah pencapaian kita yang sesungguhnya. Proses dan hasil kita adalah aliran kebahagiaan yang tak pernah putus saat bekerja. Membuat kita merasa hidup. Dan itu adalah pencapaian tanpa harga mati.

5 Kesalahan Penulis yang Menuliskan Kisah Pribadinya.

5 Kesalahan Penulis yang Menuliskan Kisah Pribadinya.

 IMG_20150820_110254

Katanya inspirasi tak terbatas itu hidup kita sendiri. Dekat, dimengerti, dan dapet banget rasa-nya. Yah, bener. Apalagi kalau hidup kita udah kayak drama. Mantaplah buat ditulis.

Etapi yakin kisah kita seseru itu? Atau cuman pendapat kita aja sebagai pelakunya. Apa bener orang yang baca akan menganggap kisah pribadi kita itu menarik? Atau justru malah bosan sampai ketiduran membacanya.

Menuliskan kisah nyata kita dalam bentuk novel atau cerpen bukan hal nista kok. Kalau kamu ngerasa hidupmu penuh dengan konflik, lebih drama dari drama, tulis aja! Kalau malu dan gak mau ketahuan itu curhat colongan, bisa kita samarkan banyak hal dalam tulisannya.

Penulis yang menuliskan kisah pribadinya ke dalam novel kadang ingin mengisahkan sesuai dengan keadaan aslinya, menuliskan dengan apa adanya. Karena itulah kadang penulis membuat pembacanya bingung dengan beberapa hal. Apakah itu?

5 Kesalahan dalam menulis cerita yang sebenarnya kisah nyata penulis:

  1. Menuliskan adegan per adegan sesuai dengan runutan kejadian yang asli dialami oleh diri sendiri.

Berapa tahun hidupmu? Sudah panjang kan. Banyak sekali kejadian yang sudah dialami. Banyak kenangan yang kamu anggap berkesan. Tapi jangan menuliskan kejadian-kejadian itu secara runut dan detail, cukup ambil saja bagian penting yang menguatkan plot dan cerita. Tidak usah kamu masukkan semua kejadian secara runut dan detail hanya karena memang begitulah kejadian yang sebenarnya. Bisa-bisa malah pembaca bosan, merasa adegan-adegan itu tidak penting, dan ketika dihapus pun tidak menganggu jalannya cerita, atau bahkan ketika dihapus malah membuat cerita enak dibaca.

Contoh sederhana: bangun tidur, mandi, sarapan, perjalanan ke sekolah bertemu tukang sayur, menunggu bus, macet, lari-lari menuju gerbang, ditahan BK, lalu masuk kelas terlambat.

Dari runutan kejadian itu, ambil yang menariknya saja.

Lalu timbul pertanyaan, kalau tidak ditulis dengan runut nanti ceritanya bolong dong?

Yang dimaksud jangan memasukkan detail runutannya di sini adalah membuang kejadian yang tidak penting. Bukan alur yang melompat. Artinya kalau semua kejadian itu memang penting untuk membangun sebab akibat, tentu harus dimasukkan. Biasanya penulis dari kisah nyata ingin menuliskan cerita “Apa adanya” meskipun kejadian-kejadian yang tidak penting sekalipun untuk menjaga keaslian cerita. Kalau kamu membuang sebuah kejadian dan setelah dibaca ternyata ceritanya bolong, berarti yang kamu buang adalah kejadian penting. Tidak memasukkan runutan kejadian seperti aslinya bukan berarti menghilangkan detail. Detail-detail penting tentu saja harus dimasukkan. Kejadian yang memiliki detail penting itu berarti termasuk kejadian penting.

Bagaimana membedakan kejadian penting dan tidak?

Membedakan kejadian penting dan tidak, caranya kita nilai dari apakah satu kejadian itu berpengaruh banyak pada keseluruhan cerita. Apakah kalau dibuang akan membuat lubang pada cerita. Kalau tidak, buang saja.

2. Terlalu banyak tokoh

Dalam kehidupan asli kita. Tokoh-tokoh yang datang dan pergi bisa ribuan. Tidak usahlah kita menuliskan banyak-banyak tokoh hanya karena memang mereka ada dalam kehidupan kita. Hanya karena saat sebuah kejadian tokoh-tokoh itu hadir di sana. Kebanyakan tokoh akan membuat pembaca pusing. Banyak tokoh yang pada akhirnya terasa penting olehmu, padahal tidak penting dihadirkan. Bisa disiasati dengan menyatukan beberapa tokoh ke dalam satu tokoh.

Kalau kamu memang bisa menghidupkan banyak karakter itu bagus. Novelmu akan kaya. Tapi kalau malah jadi keteteran, lebih baik dihindari saja memasukkan banyak-banyak tokoh. Munculkan tokoh dengan tujuan jelas. Keberadaannya punya andil sendiri dalam cerita, bukan hadir tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa pada cerita. Pikirkan baik-baik, apakah keberadaan tokoh itu memiliki pengaruh pada jalinan cerita atau tidak. Apakah kalau dihilangkan membuat kejanggalan atau bolong dalam cerita. Kalau tidak, lebih baik dihilangkan saja. Tidak ada hitungan pasti berapa jumlah tokoh ideal dalam novel.

Contoh sederhana: Dina ikut dalam klub teater yang anggotanya paling banyak, mencapai seratus orang. Kamu menceritakan adegan kabaret yang pemainnya dua puluh orang. Tidak usah kamu sebutkan satu per satu beserta perannya. Cukup tokoh dan peran yang penting saja.

 3. Tidak mendramatisir cerita

Karena sudah menganggap kisah hidupmu menarik, ketika ditulis tidak lagi diberi dramatisasi. Kalau memang nyatanya begitu kamu hanya perlu mengolahnya dengan pemilihan kata-kata tepat sehingga kedramatisannya sampai pada pembaca. Tapi jangan-jangan tidak begitu adanya. Karena itu dibutuhkan dramatisasi agar kesedihan, keharuan, tragedi, dan semuanya terasa oleh pembaca.

Contoh sederhana: Diceritakan kamu diputuskan oleh pacar lewat SMS. Kamu merasa sedih lalu menangis semalaman. Oke, itu memang sedih. Diputuskan saat masih sayang pasti patah hati. Tapi penyampaiannya tetap harus didramatisir. Kalau sebelumnya tidak ada pertengkaran, buatlah sebuah pertengkaran yang menyakitkan agar peristiwa putus itu menjadi drama yang benar-benar menyakitkan ketika dibaca.

Bagaimana agar dramatisasi itu tidak terasa lebay?

Mendramatisir yang tidak lebay itu membuat sesuatu menjadi lebih menarik dari aslinya. Bagaimana supaya tidak lebay? Takarannya adalah masuk akal atau tidak. Sesuai logika atau tidak. Mendramatisir bukan melebaykan atau hiperbola. Menambahkan bumbu agar lebih sedap. Beda lagi kalau menulis komedi yang memang sengaja dibuat hiperbola. Mendramatisir tadi itu bisa dengan kekuatan kata-kata, misalnya pemakaian diksi. Sebenernya yang bikin kita ngerasa cerita menjadi lebay salah satunya karena cerita terasa gak masuk akal alias kebanyakan serba kebetulan. Karena itu dramatisasi tetap harus berpegang pada logika cerita.

Sejauh apa kita boleh menambahkan cerita tambahan untuk mendramatisir cerita yang kita tulis?

Sejauh mendukung plot cerita, sejauh tidak keluar dari substansi cerita, sejauh masih masuk dalam logika cerita, dan sejauh membuat cerita menjadi semakin menarik. Artinya dramatisasi yang tidak terasa mengada-ada.

4. Menjejalkan konflik ke dalam cerita

Menulis novel konfliknya memang banyak dan berlapis, tetapi konflik kalau semua konflik dimasukkan, mau bagaimana ceritanya. Tetap harus berpegangan pada konflik utama dan konflik-konflik kecil yang mendukung konflik utama tersebut. Kita harus memilih fokus konflik dan cerita.

Bagaimana memilih satu konflik dari sekian banyak konflik dalam hidup kita?
Sementara konflik yang kita alami dalam hidup ini begitu banyak, sementara kalau kita memilih beberapa takutnya ujung-ujungnya malah jadi blur.

Dalam hidup kita memang banyak banget konflik. Rasa-rasanya semuanya dasyat.
Menurut saya, pilih satu konflik paling “dasyat”. Konflik terbesar itu adalah konflik yang paling “Mengubah” hidup dan karakter kita. Sebuah konflik yang menjadi titik perubahan paling besar. Konflik itu menjadi konflik utama. Lalu di antara konflik yang berseliweran itu pilih konflik-koflik kecil yang mengacu pada utama tadi, jadi ceritanya gak blur.

Bolehkan mengangkat dua konflik besar?

Boleh saja mengangkat 2 konflik besar. Karena konflik besar dalam hidup kita itu memang super banyak. Yang harus diingat adalah konflik itu harus diselesaikan. Artinya kita menakar apakah kita bisa menuliskan beberapa konflik besar dengan penyelesaiannya yang mulus.

Tetap harus menentukan konflik besar utamanya dulu sebagai pegangan dari awal sampai ending. Konflik-konflik yang satu per satu selesai itu adalah konflik kecil yang mendukung konflik utama.

Bagaimana menyelesaikan konflik yang kita sendiri belum mengetahui hasil akhirnya dalam hidup kita?

Kita menulis novel berdasar kisah pribadi, bukan menulis biografi. Karena itu ending cerita di sini bisa kita reka tanpa menunggu hasil akhirnya dalam hidup kita sendiri.

 5. Karakter  tokoh yang tidak jelas

Tokoh-tokoh dalam novel kurang bahkan tidak jelas pengkarakterannya. Hal ini bisa terjadi karena sebagai penulis merasa sangat mengenal si tokoh-tokoh sehingga penggambaran tokoh-tokoh itu tidak ditulis jelas. Penulis lupa kalau pembaca tidak mengenal mereka. Jadi, gambarkan karakter tokoh dengan jelas. Jelas secara fisik, sifat, bahkan gimik. Gimik di sini adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang menjadi ciri khas tokoh. Misalnya ketika gugup selalu menggigiti kuku.

Pemeran utama yang biasanya diambil dari karakter diri sendiri digambarkan cukup sempurna dibanding yang lain. Tokoh sempurna itu membosankan, tidak dekat dengan pembaca. Hindari membuat tokoh yang cukup sempurna ini. Jangan lupa teliti menuliskan nama samaran kalau memang kamu niatnya menyamarkan. Karena kadang-kadang penulis kepeleset menuliskan nama aslinya.

Pemeran utama novel kita tidak harus kita sendiri. Boleh siapa saja, termasuk hanya tokoh rekaan yang tidak ada dalam kehidupan nyata kita. Karena ini bukan buku biografi, ini novel fiksi yang ide dasar atau ceritanya diambil dari kisah pribadi penulis.

Bagaimana caranya agar kita bisa memasukan sifat jelek kita pada tokoh utama—yang sebenarnya adalah kita sendiri—karena biasanya kecenderungan kita tokoh utama itu pengennya yang baik-baik saja—apalagi itu kita sendiri?

Buat daftar sifat-sifat bagus dan jelek kita. Buat seimbang antara sifat jelek dan bagus. Bisa dipilih sifat-sifat jeleknya. Ingat bahwa memberi sifat jelek pada tokoh utama adalah penguatan karakter, sebuah penyempurnaan. Tokoh utama dengan sifat jelek adalah karakter sempurna karena ketidaksempurnaannya. Jangan takut membuat pembaca sebal pada tokoh utama karena punya sifat-sifat jelek. Kita ceritakan latar belakang kenapa dia memiliki sifat begitu, sehingga pembaca bisa berbalik simpati.

Menulis novel dari kisah pribadi bukan berarti mentah-mentah memasukan cerita hidup kita sebagai penulisnya dengan apa adanya. Bisa jadi hanya ide dasar atau saripatinya saja.

Catatan ini hasil dari pengamatan saya terhadap novel-novel yang dibuat berdasarkan kisah pribadi penulisnya. Ditambah dengan hasil diskusi dengan teman-teman. Semoga catatan kecil ini bisa bermanfaat.