Karadenta Clinic: Klinik Kecantikan Senyaman Di Rumah

Jujur deh, Gals. Kalau ditanya, “Sebutkan 3 tempat yang kepengin kamu kunjungi tiap bulan?” pasti di antara jawabanmu ada ‘klinik kecantikan’. Itu wajar banget buat kita para wanita yang kepengin menjaga penampilan. Penampilan memang bukan segalanya, tapi segalanya berawal dari penampilan. Bukan berarti kita menjaga penampilan buat orang lain kan? Buat kepercayaan diri kita sendiri aja. Nah, balik lagi ke pertanyaan tadi. Kenapa coba pertanyaannya ‘tempat yang kepengin dikunjungi’ bukan ‘tempat yang harus didatengin’ tiap bulan? Yep, karena buat sebagian dari kita dateng ke klinik kecantikan itu satu kemewahan. Termasuk buat saya juga. Jujur aja, buat dateng ke klinik kecantikan biasanya saya mesti nabung lumayan lama, semisal nyisihin dan mengais-ngais koin-koin serebuan sampe celengan dinosaurus gendut. Itu pun masih parno, takut kurang buat beli produk perawatannya. Ya iya sih ada cara instan supaya bikin muka ‘cling’ seketika, pake efek kamera, aplikasi, atau software. Tapi ya kali pas ketemu orang langsung muka kita bisa di-photoshop. Kepenginnya nemu klinik kecantikan yang memenuhi 5 kriteria. Bukan-bukan, bukan bibit-bebet-bobot…. Tapi:

  • Pelayanannya ‘nyaman’ di hati.
  • Peralatannya higienis dan canggih.
  • Tempat dan interiornya ‘nyaman’ dan hommy.
  • Harganya ‘nyaman’ di kantong.
  • Produknya ‘nyaman’ di kulit.

Duh, jangan sampe deh perjalanan terjal berliku mencari klinik kecantikan sesuai kriteria jadi selama Goblin nungguin jodohnya. 939 tahun! Ya kali Goblin sih gak pernah ditanyain “Kapan nikah?” terus. Oke, Gals, kita jangan sedih dan nyerah duluu… mari kita jajal satu klinik kecantikan bernama Karadenta. Siapa tahu cocok.

Saya mau cerita pengalaman saya di Karadenta.

Pelayanan Bersahabat

April lalu pertama kali saya kenalan sama Karadenta Clinic. Waktu itu saya cukup terkesan. Dari awal dateng disambut sama Teteh resepsionisnya yang ramah. Enggak nunggu lama, saya ketemu dokter Heni buat konsultasi.

Dokter Heni ini orangnya menyenangkan banget. Saya bisa curhat sepuasnya soal kondisi kulit saya. Berasa curhat sama sahabat yang udah kenal lama. Dokter Heni juga enak banget ngejelasinnya, sedikit demi sedikit saya jadi paham soal kondisi kulit dan penanganannya.

 

Peralatannya Canggih Dan Higienis

Sebelum sesi konsultasi dimulai, muka saya diperiksa dulu sama alat magic mirror buat mengetahui keadaan kulitnya. Pemeriksaannya sendiri terbagi menjadi tiga bagian kulit wajah. Bagian kanan, kiri, dan tengah. Meskipun sama-sama kulit wajah kita, ternyata hasil analisanya beda loh. Kalau kata dokter Heni, kulit itu organisme hidup, makanya setiap bagiannya berbeda.

Pokoknya yang namanya pore, roughness, wrinkle, spot, UV Acne, UV Spot, dan UV moisture ketahuan semua. Termasuk umur kulit. Waktu pertemuan pertama usia kulit muka saya ternyata lebih tua dua tahun dari usia sebenernya. Hiks. Untungnya setelah sekali perawatan di karadenta, usia kulit muka saya jadi cuman setahun lebih tua aja dari umur sebenarnya. Saya pikir, oke juga nih perawatannya. Efeknya langsung kerasa. Btw, buat mengetahui riwayat kulit muka kita nantinya bisa diakses di website-nya Karadenta Clinic loh. Asyik ya.

Karena muka saya ini masalahnya kompleks, ya jerawat, ya pori-pori besar, ya sensitif, ya flek hitam, jadinya dikasih full treatment. Terdiri dari laser black doll, laser IPL, mikrodemabrasi, masker, serum, dan sunblock.

            Baca lengkapnya di Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic.

Menurut saya sih peralatan di Karadenta Clinic ini canggih dan higienis. Dan karena peralatannya canggih tadi, jadinya perawatannya enggak lama-lama, cuman sekitar 30-40 menit aja tapi menyeluruh. Enggak ngabisin waktu kan ya. Mana Teteh yang ngetreatmentnya mijit mukanya enak dan pas. Enggak keras tapi enggak terlalu lembut. Alhasil ya saya pun tertidur nyenyak sehabis dipijit, ketika menunggu maskernya kering.

Treatment di Karadenta ini cukup lengkap. Siap deh bikin kamu jadi model material.

 

Fasilitas Dan Interiornya Hommy.

Karena pengalaman pertama ke Karadenta berkesan, bulan berikutnya saya dateng lagi. Kepenginnya sih perawatannya continue biar efeknya cepet kerasa dan gak permanen. Nah, di kedatangan kedua ini saya menikmati fasilitas klinik. Waktu pertama saya datengnya sore banget, pas satu jam sebelum tutup. Jadinya enggak sempet bersantai-santai dulu di klinik. Yang kedua ini mah belum sore-sore bangetlah.

Karadenta cabang Bandung ini punya lobi yang mungil dengan interior yang serba kayu. Penataan minimalisnya cantik dan hangat. Di sana duduk resepsionis ramah yang bakal menawarkan keanggotaan buatmu yang belum terdaftar jadi member. Fasilitas ini gratis kok. Cukup ngisi form aja.

Sambil nunggu waktu konsultasi dengan dokter, kita bisa bersantai, Gals. Ruang tunggunya ada 2. Pertama, lobi. Kedua, ruangan di dalam. Kalau tadi di lobi serba kayu, interior di dalam beda lagi. Terdiri dari sofa-sofa empuk yang memanggil-manggil buat diduduki. Ibarat geng-gengan, di ruang tunggu dalam ini ada dua set sofa berbeda. Set pertama sofa biru tua berbentuk L dengan dua sofa bulat. Set kedua terdiri dari dua sofa biru muda yang nyaman buat senderan. Di ruangan luas itu disediakan rak kayu yang menempel ke dinding. Di rak itu berjajar buku-buku. Dari fiksi, nonfiksi, sampai komik. Sedang di atas meja disedikan berbagai majalah.

Buat yang suka baca sih pasti seneng disediain bahan bacaan kayak gini. Bisa baca sambil selonjoran, atau duduk bersila di atas sofa. Yep, buat masuk ke area Karadenta Clinic, alas kaki memang harus dilepas. Sebagai gantinya, kakimu bakal dimanjakan oleh karpet cokelat yang lembut. Berasa senyaman di rumah deh.

Buat kamu yang kurang suka baca, atau memang lagi not in the mood aja buat baca, sambil nunggu bisa berselancar di internet sepuas hati. Soalnya Karadenta Clinic nyiapin WiFi.

Sesudah konsultasi, dokter bakalan minta kita melakukan treatment di lantai dua. Di atas terbagi jadi 3 ruangan. 2 ruangan untuk treatment, satu ruangan yang panjang dan luas untuk ruang tunggu atau bersantai. 2 ruangan treatment berisi tempat tidur dan beberapa alat-alat kecantikan berteknologi canggih semacam laser black doll dan laser IPL yang saya ceritain tadi itu loh.

Sedang di ruang tunggunya dipajang berbagai produk kecantikan Karadenta dan camilan di rak kayu yang cantik. Rak kayu itu disimpan di tengah ruangan. Berfungsi juga sebagai pemisah buat dua set sofa. Sofa-sofa di atas sini semuanya bean bag. Beneran enak buat ngobrol-ngobrol sambil minum jahe yang disediakan Karadenta. Mana disediain juga rak buku kayu penuh buku lagi.

Teruuus, yang tambah cantik lagi, di ruangan itu disediakan kaca besar yang dibingkai kayu. Sepanjang bingkai kaca menempel lampu yang saat dinyalakan bikin kita yang berkaca serasa jadi artis. Asli bikin betahlah di sini. Yang biasanya nunggu itu nyebelin dan ngeselin, di sini malah enggak kerasa.

Secara keseluruhan Karadenta Clinic ini tempatnya bersih, tata letaknya bagus, dan interiornya nyaman. Karena tempatnya kece, seru juga loh kalau mau foto-foto di sana. Mau di ruang tunggu atas, tangga, maupun bawah, sama cakepnya. Bisa eksplore beberapa gaya dan angle. Hasil fotonya bisa langsung diunggah ke instagram pake WiFi Karadenta, eh.

 

Harga Treatment Dan Produk Karadenta Nyaman Di Kantong

Sampai juga nih ke pembahasan harga. Padahal udah di-mention di awal banget ya soal urgensi harga ini. Gals, untungnya, harga treatment dan produk Karadenta ini enggak bikin kita mesti menguras celengan. Karena cukup terjangkau. Bisalah kita usahain buat full treatment sebulan sekali.

Nih daftar lengkapnya:

Refresh Whitening Oxygen Rp500.000

Refresh Acne Oxygen Rp500.000

Pigmen Carbon Therapy Rp500.000

Cherry Lip Therapi Rp100.000

 

Single Treatment

Laser IPL Rp150.000

Microdemabrasi Rp150.000

Laser Black Doll Rp250.000

 

Saya sendiri memakai paket treatment terdiri dari laser IPL, laser Black Doll, microdemabrasi, masker, dan sunblock itu jadi Rp500.000.  Paketan harganya jadi lebih irit. Buat paketan produknya sendiri hanya Rp240.000 loh. Itu isinya udah lengkap buat perawatan siang dan malam.

 

Produk Karadenta Clinic

Selain tindakan atau treatment, Karadenta Clinic juga memproduksi produk kecantikan sendiri loh. Atas rekomendasi dokter Heni, saya mencoba paket produk perawatan kulit Karadenta untuk problem kulit berjerawat.

Apa aja produknya?

Gimana hasilnya di kulit muka saya?

Saya jawab di postingan berikutnya ya. Heuheu… kayak sinetron aja ya pake ada acara bersambung segala. Uhm… mini serilah ya… kan enggak sampe panjang chapter-nya XD

 

Oke, mari sekarang kita cek-cek kriteria tadi. Apa Karadenta udah memenuhi?

  • Pelayanannya ‘nyaman’ di hati, cek!
  • Peralatannya higienis dan canggih, cek!
  • Tempat dan interiornya ‘nyaman’ dan hommy, cek!
  • Harganya ‘nyaman’ di kantong, cek!
  • Produknya ‘nyaman’ di kulit?

4 dari 5 kriteria udah terpenuhi nih. Udah pas di hati saya Karadenta Clinic ini. Ehm-ehm… spoiler-nya (jiaah ada spoiler segala ya XD ), produk paket untuk kulit berjerawatnya ternyata cocok di muka saya.

 

Mau nyobain perawatan di Karadenta Clinic juga, Gals? Mangga buat yang tinggal di Bandung dan sekitarnya dateng aja ke:

Karadenta Clinic

Jl. Rereng Wulung No. 27, Cikutra, Bandung

022 – 20455887

082130156699

Website: http://www.karadentaclinic.com

Instagram: @karadentaclinic

Twitter: @karadentaclinic

Facebook Page: Karadenta Clinic

Jam buka: Pk. 10.00 – 18.00 WIB

Advertisements

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Saat kecil, saya selalu serem tiap mendengar kata tumor. Buat saya yang masih polos itu, tumor berarti kanker. Belum lagi terbayang pemandangan para pasien tumor yang ditayangkan di TV, bikin hati ini terenyuh. Ternyata tumor dan kanker berbeda. Saya enggak pernah menyangka bahwa ketika dewasa saya terkena tumor, bahkan dua kali, di tempat yang berbeda.

Begini ceritanya….

Tahun 2016 lalu saya terkena kista ginjal. Ceritanya bisa dibaca di “Kista Ginjal Mengantarkan Saya Pada Salah Satu Momen Luar Biasa Dalam Hidup”. Operasinya dilakukan pada Bulan Mei. Saya percaya ini bukan kebetulan ketika Allah menghendaki saya menjalankan operasi lagi di bulan yang sama, tepat setahun kemudian. Pasti ada tujuan Allah membuat timing seperti itu. Kali ini, saya terkena tumor yang tumbuh di mata.

Tentang Tumor

Intinya sih kata dokter tumor itu adanya ‘benjolan’ di mana pun letaknya. Saya baru tahu kalau ‘semua’ benjolan itu tumor. Termasuk kista. Tumor jenisnya banyak, tapi secara umum sih dibagi ke dalam tumor jinak dan tumor ganas. Nah, tumor jinak dibagi-bagi lagi.

Dari artikel yang saya baca, tumor secara medis diartikan sebagai berikut:

Penyakit tumor secara medis adalah terbentuknya sebuah neoplasma yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak wajar. Dan beberapa sel yang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat akan mengakibatkan sebuah benjolan pada permukaan organ tertentu.

Sumber: penyakittumorjinak.blogspot.co.id

Seperti yang sudah saya ceritakan di “Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit”, benjolan di mata ini tidak serta merta langsung besar. Beberapa tahun sebelumnya, muncul benjolan kecil. Benjolan itu karena tidak sakit, merah, atau pun membesar, saya biarkan saja. Hingga di tahun 2017 benjolan itu mulai membesar, lambat tapi pasti. Sampai suatu pagi benjolan itu tumbuh menyerupai jerawat batu. Besar, merah, dan sakit. Sebagai orang yang panikan dan penakut sekaligus, waktu melihat itu saya pun saya langsung berpikir yang bukan-bukan. Daripada kecemasan saya makin meliar, saya lalu memeriksakannya ke Puskesmas. Dokter Puskesmas langsung memberi rujukan ke rumah sakit. Kemudian oleh dokter pertama, saya diberi obat tetes mata dan salep. Dicoba untuk rawat jalan dulu. Sambil beliau merekomendasikan saya dokter temannya yang biasa melakukan ‘tindakan’. Saya diminta datang seminggu kemudian.

Lipoma di mata saya dulu waktu masih kecil, kelihatan tapi tidak kentara

Namun rupanya benjolan itu malah makin menjadi. Tidak menunggu sampai seminggu, saya sudah memeriksakan mata lagi. Masih di RS yang sama, tapi saya mendatangi dokter kedua yang direkomendasikan itu. Dokter kedua memijit-mijit benjolannya, lalu katanya, “Ini sih bukan cairan, tapi daging. Enggak bisa dikasih tindakan biasa.” Saya tanyakan jenis penyakitnya, tapi dokter menjawab belum tahu. Dokter lalu memberi saya obat salep yang baru. Salep ini memiliki kandung berbeda dari sebelumnya. Dokter meminta saya datang seminggu atau lima hari lagi. Tapi kalau benjolannya hilang, saya tak perlu datang lagi. Begitu kata beliau.

Waktu itu saya berharap sepenuh hati agar salepnya berhasil membuat benjolannya kempes, tapi nihil. Benjolannya terus saja bertumbuh sampai hampir sebesar kelereng. Kecemasan dalam diri saya makin tak terbendung. Saya menjadi kian sulit tidur dan rasanya stres berat. Apalagi benjolannya gatal sekali. Tiga hari kemudian saya datang lagi. Saya masih ingat bagaimana wajah khawatir dokter ketika memeriksa saya.

“Benjolannya diangkat saja ya. Saya beri rujukan ke RS Cicendo,” ucap beliau.

“Dok, apa enggak bisa dioperasi di sini saja?” tanya saya.

“Bisa saja. Tapi kalau ada apa-apa, kalau… misalnya ternyata tumor ganas atau apa, tetap saja nanti akan dirujuk ke sana, karena di sana ada dokter spesialisnya,” jawab dokter dengan nada hati-hati.

Dokter bilang saya tak usah lagi meneruskan memakai salep yang beliau beri karena tidak memberi efek apa-apa. Tapi saya tetap memakainya sekadar untuk menenangkan hati bahwa benjolan saya sedang diobati. Lagipula saya masih merawat harapan adanya keajaiban seandainya ketika saya bercermin keesokan harinya, saya akan melihat mata saya telah sembuh. Sayangnya itu tidak terjadi.

Tidak membuang waktu, besoknya saya langsung ke RS Cicendo. Dokter yang menangani saya langsung memberi putusan untuk operasi. Saya bertanya lagi sebenarnya di mata saya ada penyakit apa?

“Kami belum tahu, nanti kita cek di lab setelah diangkat. Ini jelas bukan kista karena bukan cairan. Letaknya juga tidak lazim.”

Karena dokter khawatir benjolannya akan pecah saat operasi, maka saya akan dibius umum atau bius total. Untuk itu, saya harus menjalani serangkaian pemeriksaan.

Persiapan Operasi

Seperti mengalami deja vu, saya melakukan serangkaian pemeriksaan yang pernah saya lakukan tahun lalu. Yaitu pengecekan paru-paru, tes urine, tes darah, dan tes denyut jantung (elektrogram). Alhamdulillah hasilnya baik semua.

Selanjutnya hasil berbagai tes itu harus diserahkan pada dokter mata yang langsung memberi saya jadwal operasi besoknya. Artinya, hari itu saya mesti menginap di RS untuk persiapan. Terus terang saja secara psikologis saya sama sekali tidak siap. Rasa takut mencengkeram erat. Tapi saya kuatkan diri, toh besok atau minggu depan saya tetap harus menghadapi hari operasi. Lalu saya diminta menemui dokter ahli penyakit dalam dan dokter anestesi untuk mendapatkan acc. Tentunya berbekal seluruh hasil tes. Saat bertemu dokter penyakit dalam bernama Maria, saya ceritakan ketakutan saya. Dengan senyum lembut keibuan beliau berkata, “Saya buang takutnya ya,” sambil beliau seperti mencerabut sesuatu dari tubuh saya. Saya tahu itu sekadar sugesti saja, tapi entah bagaimana saya merasa sedikit tenang.

Oh iya, sekadar info mungkin ada yang belum tahu, dokter anestesi itu dokter yang membius pasien saat operasi. Supaya lebih mengerti, saya kutip penjelasan tentang dokter anestesi berikut ini:

Dokter anestesi merupakan dokter spesialis yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi kepada pasien yang hendak menjalani prosedur bedah atau operasi. Selain memastikan agar pasiennya mati rasa, dokter anestesi juga memantau manajemen rasa sakit dan perawatan intensif pasien
Dokter spesialis ini tak hanya membuat pasien menjadi tidak sadar seluruhnya, mati rasa hanya di sebagian tubuh, atau memberi obat penenang untuk menghilangkan rasa nyeri dan kecemasan pasien. Dia juga memantau secara terus-menerus dan mempertahankan fungsi kritis hidup pasien ketika pasien menjalani seluruh rangkaian prosedur medis bedah, bedah kandungan, atau prosedur lainnya.

Setelah mendapat persetujuan dari kedua dokter, saya mengurus administrasi rawat inap. Sayangnya karena sudah terlalu sore, tidak ada kamar kelas 3 yang tersedia. Sempat terbesit untuk naik ke kelas 2 saja meskipun harus menambah biaya. Namun dipikir-pikir lagi, sesudah operasi biasanya masih butuh banyak biaya untuk pemulihan dan perawatan. Hasil dari konsultasi dengan kakak dan adik saya yaitu Teh Yunis, Teh Ika, dan Evi pun semua sepakat agar saya tak usah naik kelas. Maka saya pun tidak jadi mengajukan kenaikan kelas. Eh, ini kesannya kayak sekolah ya 😀 Bagian administrasi menganjurkan saya untuk menunggu dulu sampai jam 5 sore. Akhirnya saya mendapat kamar juga, tapi masalah lain muncul. Bulan lalu memang saya terlambat membayar BPJS, akibatnya untuk pemakaian operasi dan rawat inap, harus diurus dulu ke kantor pusat. Kalau itu dibilang kesialan, saya malah merasa itu keberuntungan. Karenanya saya malah lega mendengar bahwa operasinya mesti diundur. Memang psikologi saya waktu itu nge-drop sekali.

Besoknya Prajurit Rumput mewakili saya ke RS untuk mengurus penjadwalan ulang operasi dan pergi ke kantor BPJS pusat. Jadwal operasinya diubah ke hari Selasa. Maka pada Senin siang, saya mulai rawat inap. Sebelum masuk ke ruangan yang terdiri dari 10 tempat tidur, seorang suster menjelaskan secara terperinci tentang persiapan operasi yang harus dilakukan. Salah satunya adalah saya diminta untuk keramas dan mandi sore itu. Memang tahun lalu sebelum operasi kista ginjal, saya menyengajakan diri keramas dulu di rumah untuk antisipasi bahwa akan agak lama dari operasi saya bisa keramas lagi, belajar dari pengalaman waktu operasi caesar sebelumnya. Namun saya tidak menyangka bahwa sebelum operasi mata, semua pasien memang diharuskan keramas dulu. Tujuannya adalah karena saat memasuki ruang operasi kondisi pasien dalam keadaan bersih dan steril. Ditakutkan kuman di rambut yang letaknya begitu dekat dengan mata akan masuk saat operasi.

“Jangan khawatir kedinginan, ada air hangat kok di kamar mandi,” ujar Suster.

Sebenarnya saya agak khawatir dengan kondisi fisik yang sepertinya akan terkena flu. Soalnya hidung agak tersumbat. Takutnya gara-gara itu operasinya diundur lagi. Kali ini saya ingin segera melaluinya, tidak ingin terus-terusan merasa takut. Setelah keramas dan mandi, saya banyak makan, baru saat rambut kering saya tidur supaya fit. Malamnya saya disuruh puasa dari jam 2 dini hari. Untungnya saya kebangun untuk sahur. Padahal saya tidak menyetel alarm. Paginya dokter mengecek keadaan saya. Beliau bilang operasi sekitar jam 9 pagi, saya akan dipanggil sekitar setengah jam sebelumnya. Sambil menunggu waktu itu, saya tidur lagi dengan alasan tetap menjaga kondisi kesehatan. Saya bangun dengan kaget karena sudah dipanggil suster untuk naik ke ruang tunggu operasi. Jadinya saya hanya sempat cuci muka alakadarnya.

Untuk prosedur rawat inap dan operasi memakai BPJS akan saya bahas di postingan terpisah.

Operasi Mata

Dulu saya suka heran dengan operasi katarak masal. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin melakukan operasi langsung berjamaah begitu dan sesudahnya pasien bisa pulang hari itu juga. Soalnya sepengalaman saya, dua kali operasi, saya baru bisa jalan setelah beberapa hari. Rupanya memang operasi mata itu berbeda.

Setelah saya berganti baju dengan pakaian khusus operasi, seorang suster memberi infus. Infusnya akan dijalankan sesudah operasi nanti. Kemudian saya diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Di sana ada banyak pasien menunggu giliran dipanggil. Operasinya macam-macam, ada yang retina, katarak, dan lainnya. Kami bertukar cerita dan saling mendoakan. Saya sedikit nge-drop lagi karena ada salah satu pasien yang membicarakan tentang kematian. Rasanya kepengin bilang, “Pak, kalau bisa di ruang tunggu operasi topiknya yang menyenangkan saja.” Dua jam kemudian nama saya dipanggil.

Saya berjalan melewati satu ruang lainnya. Rupanya memang ada banyak ruang operasi di RS itu. Udara ruang operasi sangat dingin, tapi bukan itu yang membuat saya menggigil, lebih karena takut. Saya menahan diri untuk tidak melihat-lihat peralatan medis di sana supaya tidak tambah takut. Mungkin saya memang terlalu berlebihan, karena kalau melihat pasien lain sih tampak tenang-tenang saja. Untunglah tidak lama dari situ saya dibius hingga tidak sadarkan diri.

Pasca Operasi

Saya terbangun dengan cepat, saat melihat sekitar, saya berada di ruang tunggu operasi. Rasa sakit langsung menerpa mata kiri saya yang sudah berhasil dioperasi. Saya lalu dibawa ke ruangan. Sakit di mata bertahan seharian. Namun selain sakit di area mata dan tubuh lemas, selebihnya saya bisa duduk dan mengobrol dengan normal. Satu jam sesudahnya saya malah sudah bisa ke kamar mandi. Karena saya dibius total, maka saya harus puasa lagi selama tiga jam. Setelah 3 jam saya boleh minum sesedok air per lima menit. Kalau tidak muntah dan mual, saya boleh makan. Rupanya saya tidak kehilangan selera makan sama sekali, meskipun sambil menahan sakit, sambil disuapi Evi (kembaran saya) sepiring nasi plus roti tandas tak bersisa.

Mata kiri saya yang diperpan penuh dibuka malam harinya. Suster tidak memasangkan perban penuh lagi, hanya di area luka saja. Meskipun bisa melihat normal, mata saya menjadi bengkak beberapa hari. Ini normal saja katanya. Suster juga membuka infusan yang sudah habis. Beda dengan operasi terdahulu, untuk operasi mata, infusan cukup diberikan satu labu saja. Katanya untuk menjaga cairan tubuh saat puasa.

Besoknya dokter yang mengecek keadaan mata saya mengatakan bahwa saya sudah boleh pulang hari itu. Alhamdulillah. Bekas operasinya pun tidak begitu sakit lagi, hanya sesekali saja terasa nyerinya. Saya dibekali salep dan dua macam obat untuk diminum tiap hari. Mata kiri saya tidak boleh dulu kena air selama seminggu supaya jahitannya kering.

Selama sebulan pakai perban. Perbannya kegedean jadi kesannya yang luka jidatnya ya. Jahitannya padahal kecil di dekat alis.

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Satu minggu di rumah saya berusaha setelaten mungkin merawat luka bekas operasi, mengganti kain kasanya dua kali sehari, memakaikan salep, dan minum obat secara teratur. Sampai hari kedelapan saya kontrol sekalian membuka jahitan.

Terus terang saja, saya deg-degan menunggu hasil pengecekan lab. Takut ini itu. Alhamdulillah ternyata tumor di mata saya itu jenis lipoma yang merupakan tumor jinak. Memang menurut dokter tidak tertutup kemungkinan akan muncul lagi. Namun kebanyakan kasus lipoma tidak muncul lagi.

Tentang Lipoma

Lipoma itu benjolan lemak yang tumbuh di kulit dan lapisan otot. Sifatnya tidak berbahaya, karena tidak sakit dan pertumbuhannya lambat. Sebenarnya Lipoma seringnya muncul di area punggung, paha, leher, lengan, perut, atau bahu. Meskipun bisa tumbuh di mana saja. Memang kan, nyata pada kasus saya muncul di kelopak mata.

Lebih jelasnya saya kutip penjelasan dari artikel berikut:

Lipoma biasanya memiliki diameter 1-3 cm. Lipoma dapat tumbuh dan menjadi lebih besar, namun umumnya diameternya tidak lebih dari 5 cm. Jika ditekan menggunakan jari, Lipoma akan mudah bergerak, serta terasa lembek seperti karet. Jika lipoma tumbuh makin besar dan mengandung banyak pembuluh darah atau menekan saraf di sekitarnya, lipoma akan terasa sakit.Jika bertahan selama beberapa tahun, ukuran lipoma tidak akan berubah dan pertumbuhannya sangat lambat. Lipoma bisa tumbuh lebih besar dan lebih dalam, namun hal ini jarang terjadi.

Sumber: http://www.alodokter.com/lipoma

Saya lalu bertanya pada dokter, apa penyebab munculnya Lipoma? Kata dokter, penyebabnya belum diketahui. Pada beberapa orang muncul begitu saja tanpa sebab. Namun kemungkinan karena faktor keturunan. Kalau dari artikel yang saya baca, biasanya lipoma ini muncul pada orang dengan range usia 40-60 tahun. Untuk mengetahui benjolan itu lipoma atau bukan harus dicek ke lab atau CT Scan. Pantesan waktu memeriksa saya dokter tidak memastikan dulu penyakitnya apa, karena memang harus dicek dulu ke lab. Saya juga bertanya, bagaimana cara mencegah agar lipoma tidak muncul lagi? Atau adakah perawatan khusus untuk mencegah munculnya lipoma? Jawabannya: tidak ada. Karena asal-usul lipoma ini masih misterius, jadi tidak ada langkah pencegahan maupun cara agar tidak muncul. Namun menurut dokter, untuk mencegah penyakit tumor secara umum adalah dengan menjaga pola dan gaya hidup, serta konsumsi makanan sehat. Semoga saja ke depannya akan diketahui sehingga tidak akan banyak lagi orang yang terkena lipoma.

Kalau kamu mengalami gejala yang saya alami, jangan takut kalau memang harus dioperasi. Serahkan segalanya pada Tuhan.

Itulah cerita saya, semoga bisa bermanfaat.

Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit

Bulan Mei tepat setahun lalu, saya dioperasi kista ginjal. Penyakit kista ginjalnya sendiri saya ketahui mendadak. Selang tiga hari setelahnya, saya masuk ruang operasi, lalu menginap beberapa hari di rumah sakit. Waktu itu, terus terang saya merasa takut. Berbagai macam pikiran berseliweran di kepala. Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran dan kesehatan. Saya pun bisa berkegiatan lagi dan mewujudkan beberapa impian saya.

Namun, saya tak pernah menyangka. Setahun kemudian, saya harus kembali menjalani operasi. Apalagi di bulan yang sama. Cerita kali ini bermula dari beberapa tahun lalu. Seingat saya–yang sebenarnya tak yakin waktu detailnya–sekitar 5 tahunan lalu, muncul benjolan kecil di kelopak mata kiri. Tidak merah dan tidak sakit. Maka saya biarkan saja. Tak pernah sekali pun saya periksakan ke dokter. Tiba-tiba tahun ini secara perlahan tapi pasti, benjolan kecil itu mulai membesar. Hingga 2 minggu lalu saat saya pergi ke Jakarta mengikuti sebuah acara, benjolan itu telah jelas terlihat namun tidak memerah. Esoknya, saat bangun tidur, saya mendapati benjolan itu sudah memerah dan membesar. Saya ingat-ingat, apa yang saya lakukan sebelumnya yang mungkin membuat keadaannya menjadi begitu. Tiap saya migrain, saya memang sering memainkan benjolan itu, seolah pusingnya akan menghilang. Mungkin itu menjadi salah satu penyebabnya.

Saya agak panik melihatnya. Takut mulai menyergap. Takut ada apa-apa. Maka saya pun memeriksakannya ke dokter. Saya diberi obat untuk beberapa hari. Dari dokter pertama itu, saya diberi rekomendasi untuk periksa ke dokter lain yang katanya sering menangani ‘tindakan’ mengangkat benjolan begini. Tapi baru 2 hari, saya sudah datang lagi, pasalnya benjolannya malah makin membesar. Kali ini menemui dokter kedua. Dari beliaulah saya tahu kalau benjolan ini daging, bukan cairan nanah. Sehingga tidak bisa diberi ‘tindakan’ pengangkatan biasa. Harus melalui operasi. Maka saya dirujuk ke RS Cicendo yang merupakan rumah sakit pusat mata nasional.
Di sana, saya ditangani oleh dokter ketiga. Menurut dokter, nantinya benjolan tersebut harus dicek lab untuk mengetahui jenis penyakit tumor apa.

Berita itu tentu saja membuat saya gentar. Terus terang saja, kali ini saya lebih takut lagi. Setelah menjalani dua kali operasi, saya bukan lantas menjadi kebal mendengar kata ‘operasi’, saya malah makin tercenung. Memori saya yang merekam tahap demi tahap operasi membuat tubuh kian menggigil. Selama dua minggu ini tiap malam saya dihantui mimpi buruk. Saya didera kecemasan dan insomnia. Kadang berkelebat pertanyaan, “Mengapa saya lagi, Tuhan?” Namun di kala datang kesadaran, saya paham, segalanya tentu memiliki arti.

Saya pun enggan bercermin dan bertemu orang. Beberapa pekerjaan yang mengharuskan tatap muka atau liputan saya batalkan. Tapi tak lantas saya memperlihatkan kemurungan di media sosial. Saya masih berceloteh tentang drama Korea dan film-film yang saya tonton untuk melepas gundah. Saya hanya mengerjakan pekerjaan yang sudah saya terima jauh sebelumnya. Mengejar sesegera mungkin selesai sebelum jadwal operasi. Di tengah stres yang melanda, saya bersyukur masih bisa bekerja di rumah, meski saya bahkan merasa mendapat sebuah keajaiban tiap kali ada tulisan atau postingan yang saya selesaikan.
Entah Allah merencanakan apa untuk saya. Namun, di waktu-waktu ini saya menjadi lebih dekat dengan Rasi dan keluarga. Bermain bersamanya bersama Prajurit Rumput di rumah. Memang, kalau saya tak mesti pergi ke RS untuk pemeriksaan ini itu yang menghabiskan waktu seharian, saya akan stay sepenuhnya di rumah.

Saya pernah cerita tahun lalu, saya sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Karena sewaktu kecil Rasi sering sakit, belum lagi saat saya yang sakit. Entah berapa lama kalau waktu-waktu itu dikalkulasikan.
Ke depannya, saya tak keberatan berada di rumah sakit, tapi untuk hal-hal membahagiakan seperti menjenguk teman yang melahirkan. Bukan hal-hal murung. Bukan yang mengguratkan kecemasan di wajah keluarga.
Saya berdoa sepenuh hati untuk itu. Saya serahkan segalanya kepada Allah. Karena hanya Tuhan satu-satunya pelindung dan penyembuh.

Insya Allah, operasi saya dilaksanakan besok. Saya minta doa teman-teman semua untuk kelancarannya.
Peluklah saya dengan doa.
Semoga Allah mengijabah, mengusir segala ketakutan dan memberi kesehatan. Dan semoga segala doa baik itu memeluk kalian juga.

Bismillahirrahmannirrahim.

***Ditulis di ruang tunggu pemeriksaan

Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic

Muka saya sudah berjerawat sejak umur 12 tahun. Bahkan ada fase di mana jerawat yang tumbuh adalah jerawat batu. Besar dan bernanah. Waktu itu saya yang belum paham bagaimana merawat muka, sering memencet-mencet jerawat sehingga berefek meninggalkan bekas. Setelah besar, saya sering juga berganti-ganti kosmetik. Selain itu pola hidup saya pun enggak sehat, kayak keseringan bergadang. Efek negatifnya adalah pori-pori muka saya menjadi besar. Kalau memakai fondation-nya kurang rapi, kelihatan banget deh jadinya titik-titik porinya. Kadang bikin gak pede kalau foto close up gitu XD

Dari informasi yang terkumpul, ternyata mengecilkan pori dan menghilangkan bekas jerawat itu jalan keluarnya ya mesti dilaser. Tapi… saya ragu untuk menjalankannya. Soalnya kan tindakan laser muka itu muahaaal. Sampai saya dapet info Karadenda Clinic punya perawatan ini dengan harga yang terjangkau. Karadenta Clinic ini merupakan klinik yang baru membuka cabang di Bandung. Sebelumnya Karadenta Clinic sudah punya cabang di Malang, Samarinda, dan Surabaya.

Berangkatlah saya ke Karadenta Clinic yang berada di daerah Cikutra. Tanpa menunggu lama, saya yang ditemani Evi (kembaran) menemui Dokter Heni untuk konsultasi. Buat mengetahui tindakan apa yang tepat untuk kulit, mesti diperiksa dulu keadaan mukanya, dicari tahu masalahnya. Duh, saya udah deg-degan aja 😀

Magic Mirror

Awalnya, muka dibersihkan dulu supaya ketika diperiksa, enggak kehalang sama make up. Pas berangkat ke Karadenta Clinic, saya memang sengaja enggak pakai make up, cuman pakai pelembap buka aja. Jadinya cukup dibersihkan pakai air. Lalu muka dimasukkan sebentar saja ke lubang satu alat bernama magic mirror. Alat ini dengan cepat melakukan pemeriksaan keadaan kulit. Semacam di-scan gitulah. Lalu, taraaaa… kita bisa melihat hasilnya di layar laptop Dokter Heni. Duh, sayang, waktu itu saya kelupaan ngambil foto hasilnya. Tapi biar kebayang kayak apa hasil analisisnya saya sertakan foto punya Evi.

Kayak gini nih:

Terus terang, ini pengalaman pertama saya diperiksa kulit sedemikian detail. Jadinya excited banget sekaligus takut. Foto itu memperlihatkan analisa keadaan kulit muka secara menyeluruh. Mulai dari pore, roughness, wrinkle, spot, UV Acne, UV Spot, dan UV moisture. Kece ya!

Ternyata oh ternyata, kata Dokter Heni, kulit saya ini kombinasi. Dan… dan… agak bikin syok juga pas dikasih tahu ternyata kulit saya lebih tua dua tahun dari usia sebenarnya. Dokter Heni menunjuk menjelaskan sambil menunjuk ke gambar diagram batang di layar. Tentang area-area age spot-nya, kerutan, bibit jerawatnya di mana saja, sampai daerah lembapnya. Area kerutannya itu loh… liatnya bikin merinding 😥 Sebelumnya saya sudah merasa kalau kulit saya ini sensitif banget, tapi ternyata dilihat dari diagram ini sensitifnya agak kebangetan. Sudah sampai 61%. Menurut Dokter Heni, kulit yang baik itu adalah yang tingkat sensitifitasnya mendekati 0%. Huaaa… jadinya kepengin nangis guling-guling. Tapi tenang, kayaknya itu tindakan terlalu ekstrem, karena saya kan bakalan dirawat Karadenta Clinic. Sepertinya saya mesti ekstra kerja keras nih merawat kulit muka. Udah gak bisa cuek-cuekan lagi.

Obat Racikan, Nay or Yay?

Kalau dibandingkan sama keadaan muka Evi, ternyata dia tingkat sensitifitasnya di bawah saya. Usia kulit wajahnya pun hanya lebih tua setahun dari usia kulit sebenarnya. Cuman Evi punya masalah jerawat batu. Saya juga suka muncul-muncul sih, tapi satu-dua. Saya jadi ikut nyimak penjelasan Dokter Heni juga saat menjelaskan keadaan kulit Evi. Buat bekal merawat kulit saya juga.

Dokter Heni menanyakan apakah Evi sempat memakai obat racikan? Evi menjawab memakai cukup lama tahun lalu. Sebelumnya dari remaja saya juga pernah beberapa kali memakai obat racikan. Bahkan yang banyak dijual bebas. Efeknya memang bikin muka putih dan kinclong dengan cepat. Tapi pas abis, dalam waktu cepat pula muka saya jadi kusam. Anehnya, ketika pakai lagi, keadaan muka enggak balik lagi secerah waktu pemakaian pertama. Tahun lalu, saya juga sempat pakai sebentar. Setelah habis, tidak saya teruskan. Jadi efeknya di muka enggak sampai break out.

Dari penjelasan Dokter Heni, saya jadi tahu bahayanya memakai obat racikan. Begini, biasanya obat racikan mengandung tretinoin, hydroquinone, dan steroid. Ketiga zat itu mengakibatkan kulit menipis, mengelupas, sampai sensitif. Jangan-jangan nih, tingkat kesensitifan kulit saya yang tinggi akibat dulunya sering pakai obat racikan juga. Luar biasanya ya, obat racikan ini sekali dioles bakalan bertahan di kulit selama tiga hari. Oke aja sih kalau cuman pakai seminggu sekali, karena bisa jadi merangsang mood kulit. Itu pun ada jangka waktunya loh, cuman buat tiga bulan. Yang bahaya itu kalau dipakai tiap hari, soalnya jadi ada penumpukan zat aktif. Bukannya bikin kulit sehat, malah kulit jatuhnya enggak sehat 😥 Saat berhenti, muka memebri reaksi yang cukup ekstrem, kayak berflek, kusam, bahkan jerawatan. Ada loh yang seumur hidup gak pernah jerawatan, jadi jerawatan setelah berhenti pakai obat racikan. Kalau saya sendiri reaksinya jadi kusam, berflek, dan sensitif banget.

Terus gimana dong buat kita-kita yang udah terlanjur pernah pakai obat racikan? Dokter Heni bilang solusinya adalah pola hidup sehat dan perawatan biasa, kalau bisa alami. Apalagi buat yang sudah berusia 30 tahun ke atas. Jadi-jadi-jadi kayak gimana itu? Pola hidup sehat ya seperti tidur cukup, menjaga pola makan, dan olahraga. Kalau pakai yang alami misalnya pakai masker tomat tiap hari, itu loh bagian berair dari tomat.

Tapi nih kata Dokter Heni lagi, sebenernya produk apa pun kalau dipakai terlalu lama akan selalu menyebabkan kejenuhan kulit. Solusinya, kulit mesti dikasih treatment. Di Karadenta Clinic sendiri ada paket treatment yang enaknya, cuman dilakukan dalam waktu setengah jam! Efisien banget kan waktunya. Buat kita-kita yang cuman bisa menyisihkan sedikit waktu buat treatment, ini pilihan paling oke. Treatment-nya pun lengkap loh, yaitu laser black doll, laser IPL, mikrodemabrasi, masker, lalu terakhir diberi serum dan sunblock. Lengkap banget ya.

Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic

Sebelemu sesi konsultasi berakhir dengan Dokter Heni yang ramah, saya bertanya apakah rangkaian treatment itu bisa mengecilkan pori-pori dan menghilangkan bekas jerawat serta flek hitam? Katanya bisa setelah beberapa kali treatment. Huuft leganya, saya jadi semangat menjalani seluruh proses tindakan.

Laser Black Doll

Ini adalah pengalaman laser pertama buat saya. Saya udah ngebayangin aja prosesnya bakalan sakit, dan keribetan yang bakal saya hadapi sesudahnya. Menjaga enggak kena sinar matahari atau sejenis itulah. Ternyata enggak loh. Oke, saya ceritain kronologisnya ya.

Masuk ruangan saya disambut Mbak terapis dengan suara yang merdu. Saya dipersilakan untu tiduran di atas tempat tidur. Kemudian muka saya dibersihkan menggunakan spon. Lalu muka diolesi milk cleanser. Di proses ini, saya diminta untuk memegang alat yang tersambung ke mesin. Selesai itu, wajah dibersihkan lagi, baru diolesi astringent. Seluruh proses itu menggunakan alat mesin. Sehingga terjamin higienis dan cepat. Berikutnya mata saya ditutup oleh kacamata karet, kemudian muka diolesi krim karbon. Barulah laser black doll ditekan ke muka. Ternyata dilaser ini enggak sakit sama sekali. Hangat saja ke muka, hanya saja sensasi hangat itu terasanya seperti sengatan. Fungsi laser pertama ini buat mencerahkan kulit, bikin pori-pori muka mengecil, sampai merangsang produksi kolagen kulit yang bikin kulit kelihatan awet muda. Kerennya, laser black doll bekerja sampai lapisan kulit dalam loh.

Laser IPL

Setelah muka dibersihkan dari sisa krim karbon, selanjutnya wajah diberi gel yang terasa dingin di kulit. Barulah laser IPL beraksi di muka. Ditekan-tekan dengan pola memutari wajah sebanyak dua kali. Rasanya laser ini juga hangat, dan enggak sakit sama sekali juga. Saya jadi ngerasa istilah ‘buat cantik itu sakit’ ternyata enggak selalu berlaku. Cuman kalau ‘buat cantik itu harus selalu ada usaha’ mah ya teteeep. Oh iya, fungsi dari laser IPL ini juga bisa ngecilin pori dan ngilangin flek muka. Dua itu mah sih masalah saya banget.

Mikrodemabrasi Plus Masker

Lagi, muka saya dibersihkan. Sehabis itu barulah muka diangkat sel-sel kulit matinya dengan proses mikrodemabrasi. Ini memakai alat yang menyedot sel-sel kulit mati di permukaan kulit. Rasanya kayak muka disedot gitu pakai vacuum. Prosesnya cepet banget. Tahu-tahu udah beres. Mbak Terapisnya lalu memijat muka, kemudian memakaikan masker. Setelah maskernya kering, muka dibersihkan kembali.

Serum dan Sunblock

Terakhir nih muka dikasih serum dan sunblock. Biasanya meskipun urutan treatment-nya sama, yang bikin beda tiap orang dikasih serum yang sesuai sama masalah kulitnya.

Dan… selesai deh semua treatment-nya. Beneran loh, cuman setengah jam aja. Muka jadi kerasa bersih, ringan, dan seger. Dan yang penting lagi, abis itu muka enggak merah-merah atau ada sejuta pantangan buat jaga hasil treatment-nya.

Serangkaian treatment yang bikin muka sehat itu terjangkau loh, cuman 500 ribu. Kalau mau pilih single laser IPL harganya 150 ribuan. Jadi enggak ragu kan mencoba pengalaman pertama buat laser muka kayak saya? Silakan loh dateng ke Karadenta Clinic.

Karadenta Clinic

Jl. Rereng Wulung No. 27, Cikutra, Bandung.

Telepon 022-20455887 / 082130156699

Website: http://www.karadentaclinic.com

Instagram dan Twitter : @karadentaclinic

Facebook Page: Karadenta Clinic

Jam buka: Pk. 10.00 – 18.00 WIB

Kista Ginjal Mengantarkan Saya Pada Salah Satu Momen Luar Biasa dalam Hidup

PicsArt_05-07-10.21.19

Sungguh, hidup dan semesta ini menyimpan begitu banyak rahasia. Begitu banyak momen-momen luar biasa dalam hidup. Mengecap kehidupan ini rasanya memang haru paling hakiki yang dianugerahkan Tuhan. Haru yang disampaikanNya lewat tiap detik napas, namun seringkali baru terasa ketika rasa menyentuh klimaksnya: bahagia, sedih, ketakutan….

Dalam kurun waktu mingguan ini saya tengah mengenyam satu momen luar biasa lagi dalam hidup. Seperti yang saya ceritakan dalam postingan sebelumnya “Sesungguhnya Aku Takut” saya baru tahu kalau ternyata di ginjal saya ada kista yang telah setengahnya terinfeksi sehingga tak bisa ditunda lagi untuk segera diangkat supaya tak mengganggu fungsi ginjal.

Segala ketakutan menerpa saya minggu lalu. Berbagai bayangan berkelebat bagai mimpi buruk. Alhamdulillah semuanya telah berlalu berkat segala doa dan upaya banyak pihak. Dalam postingan ini, saya tak hendak membagikan hal-hal negatif. Karena itu saya tidak memasukkan foto-foto pra dan pasca operasi. Saya tidak ingin membuat teman-teman yang mungkin membutuhkan penanganan operasi menjadi takut dan cemas. Saya hanya ingin membagikan berbagai makna dan pengetahuan yang saya dapat dari momen luar biasa itu.

Akan saya kisahkan dari mulai Kronologis menuju dan setelah Operasi.

Tentang Kista Ginjal

Penyakit yang saya derita adalah kista ginjal. Bisa dibilang, jenis kista ini jarang diketahui orang. Terus terang, saya pun baru tahu setelah membaca dari hasil ultrasonografi (usg). Menurut dokter, kista di ginjal saya merupakan kista keturunan. Dokter sempat menanyakan riwayat kesehatan keluarga, apakah ada yang memiliki kista? Saya jawab orang-orang tua saya tidak. Dari beberapa artikel yang saya baca mengenai kista ginjal, disebutkan bahwa kista ini sebenarnya bisa sembuh dan hilang dengan sendirinya, juga termasuk jinak. Berdasar itu saya membuat kesimpulan sok tahu, yaitu mungkin saja memang ada orangtua atau leluhur saya yang memiliki kista ginjal, tetapi sembuh sehingga tidak pernah terdeteksi. Selain faktor genetik, kista ginjal juga bisa muncul karena hal lainnya.

Gejala Kista Ginjal

Gejala kista ginjal  ada beberapa, yaitu demam, menggigil, sering buang air kecil, kalau terinfeksi pinggang akan terasa sakit. Biasanya kalau kista ginjalnya tidak terinfeksi, tidak membuat pinggang kesakitan, hanya terasa seperti pegal-pegal. Memang, kadangkala saya merasa pegal pinggang, biasanya saya akan banyak minum air putih dan buang air banyak juga, setelah itu pegal di pinggang hilang. Sayangnya, saya punya satu kebiasaan buruk: menahan buang air kecil. Ternyata, di sanalah letak penyakit itu bersumber. Akibat sering menahan itu, saluran air kencing infeksi dan kista di ginjal saya pun ikut infeksi. Dan terjadinya telah lama, tapi baru terasa sakit ketika setengah kista yang telah besar itu infeksi. Setelah itu saya melakukan pengecekan darah untuk mengetahui apakah fungsi ginjalnya normal? Alhamdulillah baik-baik semuanya.

Kronologis Operasi

Sabtu setelah saya mendapat diagnosa, dokter bilang saya sebaiknya operasi Seninnya. Karena akan dioperasi, minimal satu hari sebelumnya saya mesti dirawat di RS, karena harus melalukan pengecekan, perawatan, dan persiapan dulu. Tentunya keadaan tubuh saya mesti terpantau dokter.

Karena minimal sehari, maka saya memilih besoknya saja dirawat. Kemudian saya memutuskan hal konyol, saya nekad nonton AADC 2 dulu XD Sebelum spoiler dan review yang beredar makin mengganas dan membuat saya membacanya nanar sambil terbaring di tempat tidur RS 😀 Untungnya Prajurit Rumput mengabulkan permintaan saya yang bikin geleng-geleng kepala.

Besoknya, sebelum berangkat ke RS, saya mandi dulu, keramas dulu, dan packing dulu *plis, Va, ini ke RS bukan liburan* Soalnya saya ingat dulu pas operasi caesar kelahiran Rasi, rambut saya baru ketemu shampo lagi setelah sepuluh hari. *plaaak!*

Di RS, setelah mendapat kamar, saya diberi infus, kemudian dirotgen untuk pengecekan. Alhamdulillah paru-paru baik-baik saja. Untuk menghalau kegalauan, hari itu saya menulis satu postingan pendek. Awalnya saya tidak ingin bercerita perihal ini, tapi saya pikir, saat itu saya membutuhkan banyak doa. Dan tanpa saya duga, doa-doa hadir tanpa putus begitu hangatnya memeluk saya. Lalu, tiap kali kecemasan berkelebat di wajah saya, Prajurit Rumput menggenggam saya erat menguatkan. Saat itu saya jadi teringat bagaimana dia sedari dulu begitu gencar mengkampanyekan pada saya tentang cukup minum air putih dan jangan menahan pipis. Kata-kata yang tak saya dengar hingga datang waktunya sesal. Evi di tengah kesibukannya–yang seharusnya dibagi sebagian dengan saya karena kami seharusnya mempersiapkan keberangkatan ke Jogja untuk satu event kembar–masih menyempatkan diri menemani saya sejenak di RS. Evi juga yang mengurus medsos saya sehingga jadwal promo apa pun masih tetap berjalan. Medsos saya terus terlihat aktif 😀 Benar-benar kembaran yang berbakti 😀

Hari H tiba. Doa tak pernah alpha saya panjatkan untuk kelancaran operasi sekaligus mengusir ketakutan. Detik-detik berlalu hingga sampailah ke jam setengah 4 sore. Saya dijadwalkan untuk operasi jam 4. Setengah jam sebelumnya, saya sudah dibawa ke ruang operasi. Entah berapa menit setelahnya, akhirnya hanya butuh mungkin sekitar 3 detik setelah diberi bius total, segalanya menjadi gelap.

Operasi ternyata berjalan selama kurang lebih 3 jam setengah. Menurut cerita keluarga saya. Selesai operasi, keluarga dipanggil untuk melihat kista yang telah berhasil diangkat. Kista itu akan diteliti dulu di laboratorium. Karena kasus saya agak beda. Isi kistanya cairan nanah. Kata dokter, operasi saya berhasil, dan keadaan tubuh saya stabil. Mendengar itu, keluarga saya bersyukur sambil mengembuskan napas lega.

Saya baru sadar sekitar jam setengah sepuluh malam. Bangun kemudian terbatuk. Saat itu saya ingat, waktu bangun operasi caesar, rasanya jauh lebih nyeri. Kemudian saya melihat satu per satu keluarga mengucap syukur, kemudian berpamitan. Meskipun penglihatan saya belum jelas dan kesadaran belum total, Alhamdulillah saya bisa mengenali semuanya.

Operasi kista ginjal yang saya jalani bernama operasi laparoskopi. Menurut dokter, operasi ini minim luka, sehingga pasien bisa lebih cepat pulih. Untuk lebih jelasnya saya kutip penjelasannya dari blog www (dot) peterparkerblog (dot) com

Perlu diketahui metode operasi kista laparoskopi merupaakn teknik pembedahan atau operasi yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil dengan diameter sekitar 5–10 mm di sekitar perut pasien. Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua lubang yang lain untuk peralatan bedah yang lain.

Sumber: http://www (dot) peterparkerblog (dot) com/3843/metode-operasi-kista-laparoskopi/

Pantas saja ketika siuman, sakitnya jauh lebih ringan ketimbang waktu caesar. Bahkan, bisa dibilang setelah itu bekas operasinya sangat jarang terasa nyeri. Kalaupun nyeri, hanya terasa nyut-nyutan saja. Yang terasa sakit justru dari selang drain yang dimasukkan ke perut.

Selang drain ini adalah selang kecil yang berfungsi untuk membuang dan menarik darah kotor atau cairan kotor yang timbul setelah operasi. Drain tersambung dengan urine bag seperti kateter. Jahitannya kuat sehingga pasien tidak usah takut bergerak. Kata dokter, drain baru bisa dibuka setelah isinya sedikit atau darah atau urine tidak lagi keluar, dan pasien telah mampu duduk, berdiri, dan berjalan.

Proses Pemulihan

Hari pertama pasca operasi, terus terang saya merasa drop. Ketakutan-ketakutan itu masih menghantui. Saya masih tegang dan syok. Akhirnya, seharian itu hanya saya lewati dengan berdiam diri menahan nyeri yang tiba-tiba terasa berlipat-lipat dari semalam. Padahal dokter sudah mengatakan saya dalam keadaan baik. Dalam waktu dua-tiga hari sudah bisa pulang. Saat itu saya terlampau bodoh membiarkan diri stres tanpa berbuat sesuatu sebagai solusi. Saya ingat jelas, pagi itu seorang suster mengatakan, “Bu, hari ini harus udah bisa duduk ya. Memang sakit sih, tapi harus dipaksain kalau mau cepat sembuh. Saya udah lima kali operasi, jadi tahu banget rasanya.” Namun, saran itu saya simpan saja di kolong tempat tidur.

Hari kedua, seperti biasa, tiap pagi akan datang suster yang mengganti sprei. Suster yang sama dengan kemarin.

Suster bilang, “Ayo sekarang duduk, mau diganti spreinya.”

Takut-takut saya berbisik pada suster lain, “Suster, saya miring kiri kanan aja dulu ya. Belum bisa duduk.”

Suster yang menyuruh duduk bilang, “Harusnya hari ini udah bisa jalan loh, Bu. Kalau diem terus malah makin kerasa sakit. Darah kotor di dalem juga gak keluar-keluar, itu gak bagus, kalau nanti jadi nanah gimana? Mau sembuh atau enggaknya terserah Ibu.”

Deg! Mendengar itu saya merasa ditampar bolak-balik. Ya ampun, serem banget ternyata efeknya kalau saya menyerah begini. Saat masih menimang-nimang mau gimana, datang suster lebih muda yang sama galaknya–in the good way–dia bilang mau mencabut kateter saya. Saya langsung ngeuh, itu satu bentuk cara mereka supaya saya mau ‘bergerak’. Sampai segitunya para suster itu care sama pasien loh. Di situlah, timbul semangat saya untuk berusaha. Iya, saya mesti sehat. Sehat itu ya harus berjuang dari dalam diri. Masa cuman belajar duduk, berdiri, dan jalan aja udah ngeper. Padahal waktu caesar dulu saya enggak semanja ini. Dulu saya semangat. Memang sih karena persoalan faktor psikologi. Dulu melahirkan, sekarang karena sakit. Jadi tekanannya beda.

Perang paling hebat memang perang melawan semua ketakutan dan pikiran negatif dalam benak sendiri.

Pagi itu, saya meminta tolong Prajurit Rumput membantu saya belajar. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa duduk dan berdiri, sehingga ketika siangnya dokter mengecek, bisa dengan bangga menceritakan kemajuan saya. Kata dokter, besok pagi selang drain bisa dibuka, kalau saya sudah bisa berdiri dan jalan agak lamaan. Sorenya saya sudah bisa berjalan bolak-balik keliling kamar. Yeaay! Dan bener apa kata suster, tetnyata kalau digerakan, sakitnya berkurang banyak. Kamis pagi, bahagia banget ketika selang drain beneran dibuka. Rasanya bebaaas! Sorenya, dokter menyatakan saya sudah bisa pulang. Malam itu, saya bisa tidur sambil menatap langit-langit rumah 😀

Perenungan-perenungan

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sakit kista ginjal ini mengantarkan perenungan-perenungan.

Makna pertama yang saya dapat adalah bersyukur masih bisa merenung dan berpikir, kebebasan paling lepas yang diberikan Tuhan.

 

Tentang Keluarga

Peristiwa ini makin mengukuhkan saya, bahwa dari keluarga saya berasal, dan pada keluarga segalanya kembali. Keluargalah yang akan selalu ada. Orangtua dengan segala gurat cemas dan tasbih tak putus dalam setiap detak jantungnya. Mereka memberi bantuan jiwa raga dengan penuh cinta. Kakak-kakak laki-laki saya yang dengan ikhlas menggantikan saya mengantar jemput Rasi. Kakak perempuan saya yang setia menjemput dari RS tiap kali saya dirawat. Kembaran yang rela mengerjakan pekerjaan-pekerjaan bagian saya. Dan seorang putri yang menunggu kepulamgan ibunya tanpa rewel.

Bahkan bukan hanya keluarga inti, keluarga besar pun menunggu di balik pintu selama operasi. Betapa saya beruntung memiliki mereka :’)

IMG_20160421_075850

IMG_20160505_205002

IMG_20160417_082127

Kehadiran saya di rumah disambut layaknya kelahiran seorang bayi. Sekecil apa pun perkembangan saya begitu diperhatikan. Lucu-lucu bikin terharu XD

Mama: Eva sudah bisa jongkok hari ini. *mata berbinar bangga*

Evi, Kakak, Teteh: Waaah, hebaaat. *tepuk tangan*

____________________________________________________________________

Tetangga: Eva sekarang udah bisa apa?

Mama: Eva udah bisa pup loh, Bu…. *tersenyum bangga*

Tetangga; Waaah, hebaaat *tepuk tangan*

 

Tentang Pasangan

Selama di RS, Prajurit Rumputlah yang setia menemani saya siang malam. Sabar melayani rengekan saya untuk bolak-balik ke WC, tabah tidur di lantai beralas seadanya plus kurang tidur, menyuapi saya, sampai sabar menemani saya belajar duduk hingga berjalan. Tanpa mengeluh. Enggak kebayang kalau Prajurit Rumput gak ada di sisi saya.

Selain perlakuannya yang istimewa itu, yang membuat saya merasa beruntung memilikinya adalah karena tatapannya yang selalu penuh cinta. Selama di RS, entah berapa ratus gombalan yang dia berikan. Eh, bukan gombal sih, soalnya saya yakin tulus. Bikin terharu bangetlah. Tolong bayangkan keadaan saya yang… muka super pucat, rambut berantakan karena enggak disisir berhari-hari dan penuh keringat, muka berminyak parah, badan bau karena hanya diseka seadanya, Prajurit Rumput bilang dengan mata berbinar penuh sayang, “Kamu cantik….” Lalu mengecup kening saya lembut. Meleleh enggak siiih XD Ngomongnya pun seriiiing bangeeet, sampai saya beneran merasa kayak Cinderella dalam keadaan paling prima saat berdansa dengan pangeran. Padahal kumelnya percis kayak Cinderella lagi beresin rumahnya.

Dari peristiwa itu saya merenung. Begitulah memang pasangan. Ada dalam suka dan duka. Menyalakan lilin di saat gelap, meneduhkan saat terik mentari memanggang. Meskipun seringkali salah paham dan saling memunggungi, namun akan selalu kembali untuk terus memberi arti.

IMG_20160420_172358

Konsep Pertemanan

Kemudian perenungan lainnya tentang konsep persahabatan. Saya sangat beruntung (lagi) karena mendapat banyak sekali kiriman doa. Baik itu lewat komentar di FB, mention twitter, grup-grup WA, grup BBM, sampai para sahabat yang menjapri. Terima kasih untuk semuanya, sungguh doa kalian menguatkan saya. Beberapa sahabat membuat status doa untuk saya. Saya membacanya sampai terisak. Makasih ya Amaya, Lily, Felis, Pilo, dan Bunda Arniyati. 

Dan yang tidak saya sangka-sangka sama sekali, beberapa sahabat bahkan menunggui saya saat operasi. Teh Santya dan putrinya Nada, Evaliana, Yoga dan Sintamilia, juga Kang Acem. Saya memang tidak sempat bertemu secara sadar dengan mereka kala itu, karena saat saya siuman, mereka sudah pulang. Tapi benar saya bahagia mendengarnya, terharu sekali. Padahal sudah jarang berkomunikasi dengan mereka, tapi mereka ‘ada’ untuk saya. Saya bahkan mungkin ‘tak pernah ada’ kala mereka tertimpa kesusahan. Ada pula Teh Lygia dan Pak Mayoko yang mengulurkan bantuannya, menyisihkan sebagian rezeki untuk saya.  Saya haturkan terima kasih yang tulus untuk kalian semua *lap air mata*

Ketulusan hati memang begitu misteri, mungkin kita memang tak pernah tahu seberapa besar kita berarti untuk seseorang.

Ketika dua tetangga dan teman SMP saya pulang setelah menjenguk, satu pertanyaan dari seseorang menggelitik saya, “Va, siapa aja yang jenguk?”

Pertanyaan itu tiba-tiba menghentak kesadaran saya. Selama sakit, tak terpikirkan oleh saya bahwa saya ‘harus dijenguk’. Benar, asli saya berpikir begitu. Karena saya tahu banyak sekali kondisi-kondisi yang membuat seseorang tak bisa datang. Waktu, kesibukan, perbedaan geografis, dan lainnya. Tidak mungkin kan sahabat yang tinggal di Jepang bisa pulang ke Indonesia tiba-tiba. Namun ketidakhadiran tidak lantas membuat mereka menganggap saya tidak cukup berarti untuk meluangkan waktu dan perhatian. Mungkin saat itu mereka tengah dilanda masalah yang genting, dimana saya pun tak tahu dan tak ada untuk menolongnya. Sungguh, saya tak ingin menjadi pribadi yang perhitungan. Terkurung oleh pikiran negatif: Saya ada dalam masa sulit seseorang, tetapi saat saya kesusahan dia malah tak ada. Meski terus terang, sebagai manusia biasa yang tak luput dari godaan kebaperan, setelah mendengar pertanyaan itu terlintas dalam kepala saya pertanyaan, siapa saja yang ‘berniat’ menjenguk saya? Sungguh, cukup ‘niat’ itu saja sudah membuat saya bahagia. Cepat saya tepiskan pikiran itu. Saya ingin menjadi seseorang yang tulus, yang tak hitungan. Menolong ketika memang bisa, mendoakan ketika hanya itu yang saya mampu. Karena saya pun dikeliling orang-orang yang hatinya indah.

Begitulah, peristiwa itu membuat saya berpikir. tidaklah bisa menilai kesejatian persahabatan saat kita tertimpa kesusahan.

Ada juga kasus-kasus dimana justru persahabatan diuji bukan oleh kesusahan, justru oleh kecemerlangan. Misalnya dua sahabat, salah satunya jauh lebih berprestasi sehingga menimbulkan rasa iri sahabatnya. Bukankah itu ujian dalam kesenangan.

Tidaklah bisa menilai kesejatian persahabatan saat kita tengah cemerlang.

Saat saya sedang memikirkan itu, tiba-tiba masuk BBM dari Heppy, kami telah bersahabat selama belasan tahun. Dia menanyakan kabar saya dan mengungkapkan perasaan bersalah karena belum bisa menjenguk saya. Kemudian dia menghadiahi saya gambar yang sukses membuat air mata haru saya kembali meleleh.

IMG_20160507_110837

Untuk para sahabat, jangan merasa bersalah saat tak bisa hadir dalam bentuk ragawi, cukuplah langitkan doa tiap kali mengingat saya.

Saya sampai pada kesimpulan:

Ketika kita sedang tertimpa kesulitan, bukan berarti kita mesti menjadi pusat “semesta” semua orang.

Dan ketika kita tengah bersinar pun, tak mesti pula kita menjadi pusat “semesta” semua orang.

 

Setelah Cek Up

Alhamdulillah, kemarin jahitan operasi saya sudah dibuka. Hasil laboratorium mengatakan kalau kista saya meskipun isinya nanah, ternyata tidak mengandung sel kanker. *sujud syukur*

Sebagai pasien yang cerewet, saya menanyakan ini itu pada dokter. Termasuk bagaimana perawatan agar kista di ginjal tidak kembali. Jawabannya: jangan pernah lagi menahan kencing.

Begitulah kisah salah satu momen luar biasa dalam hidup saya. Insya Allah, saya yakin Allah ingin saya terus memperbaiki diri lewat peristiwa ini. Semoga saya bisa membuka babakan baru dalam hidup lebih baik. Semoga kalian yang membaca postingan ini pun mendapatkan makna, sekecil apa pun 😀

PicsArt_05-09-07.15.51

*NB: Postingan ini saya tulis selama enam hari, maklum lama banget, ditulis dalam masa pemulihan XD

Sesungguhnya Aku Takut

PicsArt_05-01-07.53.50

Bertahun-tahun saya memiliki pikiran aneh. Tiap kali hidup ini melelahkan, saya akan berpikir, “Tuhan, beri saya sakit. Saya ingin istirahat di rumah sakit.” Percayalah, tak lama dari itu saya akan benar-benar sakit dan dirawat. Buat saya kamar RS begitu damai. Saya bisa tidur dengan lelap, sejenak benar-benar lepas dari beban hidup.

Saya menyukai banyak hal dari rumah sakit. Bau karbol, bau obat, para dokter, suster, dan banyak lagi. Bisa dibilang bukan sekali dua kali saya menginap di RS, begitu pula mengunjunginya. Rasi anak saya lahir di sana, waktu kecil dia seringkali sakit-sakitan hingga saya sudah merasa akrab dengan RS. Belum lagi riwayat saya yang pernah caesar, DBD, dan lainnya.

Namun kali ini, tak terbayangkan untuk saya. RS menjadi momok menakutkan. Seminggu yang lalu, ketika saya pergi ke Jogja untuk menghadiri satu acara, belum lagi acara berakhir, tubuh saya sudah menggigil. Saya pikir mungkin karena efek begadang dan perjalanan panjang. Apalagi sebelumnya pekerjaan saya padat sekali dua bulan terakhir. Saya pikir pasti kelelahan. Sambil menunggu kereta malam, saya dan Evi singgah di rumah sahabat kami, Rara. Di sana saya muntah hingga tak ada yang tersisa, ditambah migrain dan sakit perut kanan atas. Saya minum obat dua kali hingga akhirnya agak kuat untuk melakukan perjalanan ke Bandung.

Di Bandung, saya bedrest dua hari. Migrain menghilang, tapi sakit di perut tak mau hengkang. Saya tetap memaksakan bekerja di rumah sebisa mungkin untuk mengurangi tumpukan peer. Setelah hari kelima, sakitnya malah makin menjadi. Saya pikir, tak bisa dibiarkan. Harus diperiksa. Maka saya pun pergi ke dokter diantar Prajurit Rumput.

Betapa saya tak menyangka, bila ternyata ada kista di ginjal saya. Iya betul, kamu tak salah baca. Kista itu letaknya di ginjal. Saya pun baru tahu ada kista di ginjal. Sudah besar, dan tampak terinfeksi. Maka itu dokter menyarankan saya untuk operasi. Begitu diagnosa dokter Sabtu kemarin. Ya, secepat itu saya harus dioperasi. Hanya berselang dua hari sejak mendapat diagnosa dokter.

Maka di sinilah saya hari ini. Di rumah sakit. Tempat yang biasanya membuat saya damai, terasa begitu menakutkan. Tak usahlah saya jabarkan dengan detail apa-apa yang menjadi ketakutan saya. Saya yakin kamu pun telah paham. Perasaan saya menggigil. Namun sebisa mungkin saya tetap mencoba tersenyum. Sesungguhnya saya takut menghadapi besok. Tapi saya serahkan segalanya pada Dia sang pencipta saya. Pada Allah, tempat satu-satunya berserah. Semoga RS menjadi seterusnya apa yang ada dalam memori saya: Rumah Harapan.

Saya beruntung dikelilingi keluarga yang perhatian. Dikelilingi cinta yang begitu indah. Dipeluk hangatnya persahabatan para sahabat. Akan saya ingat gelombang kehidupan itu.

Bagi kamu yang membaca postingan ini, saya minta doa untuk kelancaran operasi besok. Terima kasih. Semoga Allah mendengar doa-doa kita. Amiin.

IMG_20160420_163048

DF Clinic: Awal Kulit Sehat

Ruang perawatan di DF Clinic (Sumber foto DF Clinic)

Ruang perawatan di DF Clinic (Sumber foto DF Clinic)

Masa abege saya dihabiskan dengan menelan ejekan teman-teman yang menyebut saya “cewek jerawatan dan komedoan” seolah itu penyakit menular dan memalukan, sampai kenyang nangis diam-diam juga sesenggukan. Jalan kaki dengan kepala tertunduk dalam-dalam buat menghindari tatapan orang juga pernah saya lakoni. Enggak seberapalah itu ketimbang efek psikologis, enggak percaya diri.

Pasalnya, keadaan kulit saya yang jerawatan memang udah turunan dari sananya, tambah lagi waktu itu saya belum ngerti gimana merawat kulit wajah biar jauh-jauh dari serangan jerawat batu yang pada beringas. Belum lagi masalah kulit berminyak saya yang tampak mengilat ngalah-ngalahin kilauan emas. Bermacam obat jerawat saya pakai. Mulai dari rekomendasi teman Kakak, sampai pelanggan toko Ayah. Jerawatnya menghilang sesaat, gak berapa lama muncul lagi. Sampai capek ngobatinnya juga. Sampai akhirnya saya biarin aja. Memang sih masuk masa remaja, populasi jerawatnya berkurang banyak 😀 Nah, sekarang… di usia yang kepala tiga, masalah kulit bertambah lagi. Apalagi kalau bukan munculnya kerutan-kerutan halus di wajah :’)

Ruang tunggu DF Clinic (sumber foto website DF Clinic)

Ruang tunggu DF Clinic (sumber foto website DF Clinic)

Suatu waktu dalam sesi “woman talk” yang enggak luput dari pembahasan masalah kulit, seorang teman bernama Teh Tian, merekomendasikan DF Clinic untuk konsultasi dan perawatan kulit. Nama klinik satu itu enggak asing di telinga, soalnya kembaran saya–Evi–udah lebih dulu melakukan perawatan di sana. Ngeliat muka Evi yang mengkinclong, saya jadi ngiler juga perawatan ke DF Clinic.

Pertemuan Pertama

Berangkatlah saya ke DF Clinic yang berada di Jalan Lemah Neundeut No 10 Setra Sari Bandung, setelah sebelumnya bikin janji dulu dengan dokter David. Sebelum saya lanjut cerita, saya mau memperkenalkan  siapa dokter David ini.

(sumber foto website DF Clinic)

(sumber foto website DF Clinic)

dr. David Budi Wartono is Aesthetic and Anti Aging expert. He commited to help people to feel and look younger, healthy, fit, and fresh everyday. He believe the future doctor is focusing on preventive medication for better and maximum life experience. He had many experiences helping people with degenerative caused health issue and imbalance Hormone such as: Obessity/ overweight problem, skin problem, emotional problem, health declined problem, immunity and allergy problem and many others.

His specialities Service are: Anti Aging Consultation, Aesthetic Consultation, Slimming & Beauty consultation, Medical Detox consultation n laboratorium check up, Hormone Restoration Therapy, Acupunture, Degenerative disorder, Medical Detoxification, Medical Energy Therapy, Herbal medicine, Essential oil therapy.

Itu dia sekilas tentang dokter David. Selain dokter David, di DF Clinic ada beberapa dokter lain yang sama kerennya. Soalnya semua layanan DF Clinic ditangani oleh para dokter berlisensi, jadi udah jaminan kualitasnya.

Sesi Konsultasi

Sambil menunggu sebentar di lobi DF Clinic yang nyaman, saya dan Evi ngobrol-ngobrol sama Kang Renza, SPV DF Clinic. Kata Kang Renza, di sesi konsultasi nanti, ceritain aja semua permasalahan kulitnya, supaya dokter David bisa menemukan akar permasalahannya. Dengan begitu, nantinya perawatan yang didapat sesuai keadaan dan kebutuhan kulitnya.

Sehabis menunggu giliran setelah Evi, bertemulah saya dengan dokter David Budi Wartono. Saya menceritakan semua masalah kulit saya pada dokter David yang mendengarkan dengan saksama. Lalu muka saya diperiksa dokter David untuk diteliti keadaannya, setelah itu seorang terapis ramah mengambil foto muka saya.

Menurut dokter David, dilihat dari pemeriksaan tadi dan berkas Evi. Saya ternyata punya masalah yang sama dengan Evi. Memang ini faktor genetik, anak kembar cenderung punya masalah kesehatan yang sama. Jerawat kami disebabkan oleh hormon. Makanya saat haid biasanya muka saya panen jerawat XD Sementara buat menghilangkan bekas jerawatnya mesti dilaser. Huaaa :’) Beda lagi buat menangani masalah penuaan dininya, menurut dokter David, enggak bisa selesai sama perawatan dan obat-obatan dalam mapun luar, tapi mesti lengkap dengan pola hidup. Beuh, telak banget ini sih. Ketahuan banget punya pola hidup yang enggak sehat >.<

Pola makan enggak sehat, cek!

Pola istirahat enggak bener, cek!

Pola olah raga enggak teratur, cek!

Lengkap banget kan semua pola yang bikin kulit sehat dan kinclong itu dilabrak. Dari hasil konsultasi panjang sama dokter David, hasilnya:

Pola Makan

Penuaan dini bisa dicegah dengan mengurangi konsumsi gula, tepung, dan jauh-jauh dari mie instan. Ditambah lagi, dari hasil compare dengan berkas Evi, dapat dipastikan saya alergi susu. Jadi, kalau buat Evi yang paling susah itu putus sama mie instan, kalau saya mesti move on dari susu. Dokter David menjelaskan bahwa banyak mengonsumsi mie selain menyebabkan penuaan dini juga mendatangkan banyak penyakit lainnya. Memang sih, efeknya enggak kerasa dan kelihatan secara langsung.

Kelebihan mengkonsumsi gula ternyata menyebabkan penurunan metabolisme tubuh sehingga berpengaruh pada kesehatan kulit. Nah, selain susu, menghindari tepung juga susah, soalnya saya pecinta gorengan garis keras XD Yaah, mesti dadah-dadah deh sama segala jenis gorengan.

Jadi buat menjaga kesehatan kulit, dokter David menyarankan supaya mengonsumsi sayur dan buah. Baiklah, Dok. Akan saya coba 😀

Pola Istirahat

Dokter David mengingatkan soal pola tidur sehat. Baiknya orang dewasa tidur tujuh sampai delapan jam sehari. Gunanya untuk mengembalikan kesegaran dan menjaga metabolisme tubuh agar tetap normal.

Mendengar pola tidur saya yang hobi bergadang, dokter David menyarankan supaya mengubah jam kerja. Dari asalnya kerja di jam manusia kelelawar, ke morning person. Itu berarti saya mesti melupakan hobi bergadang saya, ujian berat banget XD Kata dokter David lagi, saya enggak boleh memforsir tubuh. Harus memenuhi hak tubuh buat istirahat cukup.

Olah Raga

Satu lagi yang enggak boleh dilupakan: olah raga. Olah raga ini enggak perlu yang berat-berat, kayak angkat besi atau keliling senayan sebelas kali, tapi jangan juga cuman olah raga jempol doang semacam chatting semalaman sama gebetan di WA XD Olah raga harus konsisten dan berlanjut. Ringan aja seperti peregangan atau jalan kaki.

Sehabis sesi konsultasi, saya diberi sepaket perawatan siang dan malam. Yaitu pencuci muka, nutri cream, krim malam, dan obat jerawat. Semuanya hasil racikan DF Clinic sendiri yang memakai bahan natural dan aman.

facial wash dari DF Clinic

Facial wash dari DF Clinic

Facial Wash

Berfungsi untuk membersihkan muka dari kotoran. Dipakai cukup sekali sehari. Semua pencuci muka memang baiknya dipakai sekali saja sehari agar tidak membuat kulit kering. Dipakai sebelum tidur. Sementara untuk pagi dan siang, cukup memakai air hangat, karena kita bangun dengan keadaan muka bersih. Pencuci muka ini juga membersihkan komedo loh.

Nutri cream dari DF Clinic

Nutri cream dari DF Clinic

Nutri Cream

Berfungsi memberi nutrisi dan melembapkan kulit. Dipakai dua kali sehari, pagi dan siang hari.

Obat jerawat dari DF Clinic

Obat jerawat dari DF Clinic

Obat Jerawat

Dipakai ke bagian-bagian yang berjerawat atau brutus-brutusnya saja. Cukup dioles tipis-tipis sekali sehari di pagi hari.

Krim malam DF Clinic

Krim malam DF Clinic

Krim Malam

Krim malam dipakai pada malam hari, dioles ke seluruh wajah tipis-tipis. Berfungsi untuk melepaskan sel-sel kulit mati.

Pertemuan Kedua

Setelah pertemuan pertama itu, dokter David meminta saya datang lagi beberapa hari kemudian untuk mendapat perawatan mikrodemabrasi, sambil melihat bagaimana reaksi kulit saya terhadap paket perawatan darinya.

Malamnya saya langsung memakai krim malam dari dokter. Ternyata reaksinya, muka saya terasa gatal. Begitupun esok paginya ketika memakai nutri cream dan obat jerawatnya. Setelah itu saya hentikan dulu pemakaiannya. Dua hari kemudian, ketika bertemu dengan dokter David, saya sampaikan reaksi itu.

Dokter David: Apa kulitnya terasa kering? Kering itu kalau dipegang terasa halus tapi gatal.

Saya: Iya, Dok. Apalagi pas memakai krim malam, kulit muka saya jadi memerah.

Dokter David: Memang pasti memerah kalau memakai krim malamnya, karena fungsinya untuk mengelupaskan sel-sel kulit mati.

Perkiraan saya bahwa muka saya mungkin alergi pada paket perawatan yang diberikan dokter David ternyata meleset. Karena reaksi kulit saya itu normal. Memang reaksi kulit itu beda-beda, kalau kulit Evi bisa langsung beradaptasi, kulit saya pelan-pelan menerimanya. Dokter menyarankan untuk meneruskan pemakaiannya, tapi untuk obat jerawat dan krim malamnya harus lebih tipis dan dipakai sementara ini dua hari sekali sampai tidak lagi terasa gatal.

Dalam sesi konsultasi ini dokter David membahas juga tentang tipe kulit. Kata dokter David, kulit yang berminyak itu belum tentu memang tipe kulit berminyak. Namun bisa jadi itu malah tipe kulit kering. Saking kering, muka mengeluarkan minyak agar kulit bertahan kelembapannya. Biasanya orang cenderung jadi sering mencuci mukanya untuk menghilangkan minyaknya, itu salah.Karena kulit malah akan makin kering, dan produksi minyak malah makin bertambah. Yang berbahaya justru saat kulit kering tidak mengeluarkan minyak, berarti sudah bermasalah, tidak lagi bisa survive kulitnya. Cara terbaik agar kulit menjadi normal adalah dengan memenuhi kebutuhan air kulit dengan banyak minum, atau memberikan air secara langsung ke kulit dengan cara menempelkan kapas basah.

Jadi dokter awalnya hanya bisa mengira-ngira tipe kulit dan ketetapannya baru dapat dipastikan setelah mendapat perawatan beberapa kali. Karena itu jangan sampai “window shopping” alias baru perawatan sekali pindah atau mencoba yang lain lagi. Itulah yang membuat kulit kita terus-terusan tidak mendapat perawatan yang sesuai. Cara dokter David ngasih penjelasan itu enak banget deh, saya jadi paham.

Usai sesi konsultasi yang ngasih pencerahan itu, saya diberi perawatan mikrodemabrasi.

Mikrodemabrasi

Mikrodemarbrasi ini baiknya dilakukan tiap tiga minggu sekali, fungsinya mengangkat sel kulit mati. Awalnya wajah saya dibersihkan, lalu diberi pijatan halus, kemudian memakai alat sel-sel kulit mati diangkat. Rasanya kayak disedot memakai vacuum cleaner mini. Lalu dipijat lagi, dan diakhiri dengan memakai masker.  Seluruh prosesnya sekitar 45 menit. Pada awalnya, saya mengira mikrodemabrasi ini kayak facial yang sakit dan abisnya muka jadi merah-merah. Ternyata enggak banget! Enggak sakit sama sekali, bahkan saking enak sampai mau ketiduran 😀

Alat mikrodemabrasi DF Clinic

Alat mikrodemabrasi DF Clinic

Sel kulit mati

Hasilnya… taraaa…! Muka jadi segeer bangeet, lembut, bersih, dan bisa langsung pergi ke mana-mana. Waktu itu saya langsung ke acara undangan blogger. Yeaay!

Sehabis perawatan mikrodemabrasi di DF Clinic

Sehabis perawatan mikrodemabrasi di DF Clinic

Beberapa hari kemudian, saya mulai memakai rangkaian perawatan dari DF Clinic lagi. Seperti pencuci muka, nutri cream, obat jerawat, dan krim malam. Kali ini kulit wajah saya menerima dengan baik. Enggak ada tuh gatal-gatal lagi. Malahan jerawat saya yang bermunculan saat haid, bisa hilang dalam sehari. Besoknya, jerawat-jerawat besar itu kabur dari muka saya. Coba deh waktu saya abege udah kenal sama DF Clinic ini, pasti enggak akan ngalamin di-bully karena jerawatan 😀

DF Clinic memang awal kulit sehat, karena dari sana, saya enggak cuman dapet perawatan luar, tapi pemahaman untuk hidup sehat agar kulit dan tubuh saya sehat.

Kamu mau juga konsultasi dan melakukan perawatan di DF Clinic? Coba hubungi alamat, telepon, dan sosmed mereka:

DF Clinic

Jalan Lemah Neundeut No. 10 Setra Sari – Bandung

Telp. 022-2010593

PIN BB: 2290FF6F

YM: DFClinic@DFClinic.com

Facebook: DF Clinic

Twitter: DF_clinic

Instagram: @DF_CLINIC

Website: http://www.dfclinic.com