[Cerpen] Bapak Berbulu Luwak

[Cerpen] Bapak Berbulu Luwak

 

Bapak Berbulu Luwak

Oleh Eva Sri Rahayu

 

Saat kopi Luwak buatan Bapak masih beraroma hutan liar bercampur kuaran bau tanah tersiram hujan, aku suka sekali menyesap uapnya. Dari kopinya kudengar alunan angin menggoyangkan pohon-pohon kopi. Namun hanya sekali saja aku mencicipinya, terlalu pahit di lidah bocahku yang baru tujuh tahun. Apalagi rasanya bertahan berjam-jam di kerongkongan. Bahkan rasa obat warung yang diberi Ibu ketika kepalaku pusing lebih enak ditelan. Aku baru memahami nikmat kopi Luwak setahun sebelum lulus SD. Kafein di dalamnya membuatku tak kuyu meskipun berjam-jam membaca bertumpuk-tumpuk buku. Kopi pun akhirnya kupakai sebagai penawar sakit kepala menggantikan obat warung. Kini kopi Luwak bikinan Bapak beraroma apak dan tengik, kopinya bukan hanya bau, tapi selalu memekik lirih dengan suara Musang Luwak yang sekarat.

Aroma kopi Bapak berubah perlahan-lahan sejak bertemu kawannya dari Jakarta. Dengan dandanan perlente dia mengiming-imingi Bapak bergabung dengan usaha coffeshop-nya yang menyajikan kopi Luwak eksklusif.

“Ugeng, tambahlah kau punya Luwak, jumlah segitu manalah cukup menghasilkan banyak kopi. Seluruh dunia lagi rakus kopi Luwak. Mana bisa cukup kopi-kopimu memberi minum mereka semua,” ucap kawan bapak ketika aku menyuguhkan kopi ke meja.

Sekilas ketika aku melewati Bapak untuk kembali ke dapur, kulihat kepalanya mengangguk-angguk dengan bibir mengepulkan asap rokok.

Minggu itu luwak di perkebunan kopi kami bertambah puluhan ekor, entah dari mana Bapak mendapatkannya. Setelah itu Bapak membuat kandang-kandang baru dari kayu. Tiap kali Bapak memasukkan luwak-luwak yang telah dianggapnya anak-anak sendiri ke dalam kandang, kulihat beliau meminta maaf tulus pada mereka. Meski hanya mendapat jawaban tak jelas dari mata bening coklat mencuat si luwak. Semusim itu, Bapak begitu telaten mengurus luwak. Bapak tampak begitu keras membungkam rasa bersalah di dadanya akibat mencerabut kemerdekaan hidup mereka. Setiap hari, Bapak memberikan pisang dan pepaya yang telah dikupas untuk mereka makan. Seminggu sekali, diberinya juga mereka burung-burung kecil untuk disantap. Hanya seminggu dua kali saja Bapak memberi buah-buah kopi untuk dimakan luwak. Itu pun buah-buah kopi ceri yang matang dan berwarna merah segar dari perkebunan kopi Bapak seluas tiga hektar. Saat itu, aku masih senang menemani Bapak dan lima pegawainya memanen kopi.

Kemudian, hari titik balik perubahan tabiat Bapak datang. Ketika itu aku tengah membantu Ibu menyangrai kopi-kopi yang telah bersih dari kotoran luwak dan dijemur berhari-hari di bawah terik matahari. Biji-biji kopi hampir berubah warna menjadi hitam pekat saat Bapak masuk ke dapur untuk memintaku menyeduh dua gelas kopi. Kawan Bapak rupanya sudah bertandang lagi.

Gelas kopi yang kupindahkan dari atas nampan hampir saja jatuh saat mataku terpaku pada tumpukan uang di meja. Kutaksir jumlah uang itu lebih banyak dari yang pernah kami miliki. Kulirik Bapak untuk melihat reaksinya. Bola mata Bapak berbinar cerah, mukanya kemerahan dimabuk kebahagiaan.

“Ini tak seberapa, Geng. Kau bisa dapat berlipat-lipat lagi kalau hasil kopimu berlimpah. Ada teman yang siap mengekspor kopimu ke luar negeri.”

“Tapi… bagaimana caranya, Zam?”

“Kudengar dari pegawaimu, luwak-luwak itu hanya kau beri buah kopi seminggu dua kali. Beri mereka kopi tiap hari. Kalau perlu, tak usah kau kasih makan apa-apa lagi,” jelas si Kawan dengan mata licik.

Musim panen berikutnya Bapak seperti kesetanan. Belasan luwak yang dikirim lagi ke rumah dijejal-jejalkan Bapak dalam beberapa kandang saja. Pepaya, pisang, dan burung-burung kecil berangsur-angsur dikurangi jumlahnya, hingga menghilang sama sekali dari gudang, menyisakan buah-buah kopi ceri beraneka warna. Padahal buah kopi ceri hijau belumlah lagi matang. Tangan-tangan Bapak telah terampil berkhianat pada kata hati saat memberikan buah-buah kopi ceri mentah itu pada luwak. Binatang-binatang itu hanya dipaksa makan buah-buah kopi. Tak peduli usus-usus mereka luka. Otak Bapak telah dipenuhi tai-tai luwak. Musim demi musim panen terus memudarkan jiwa Bapak. Mata Bapak tak lagi menyorotkan kasih sayang sebagai seorang ayah, kopi dan luwak buat Bapak sekarang hanya mesin pencetak uang. Bapak tak peduli kualitas kopi lagi, yang beliau butuhkan hanya kuantitas saja. Makin banyak, makin uang mengalir ke kantongnya. Bapak seperti ular berubah kulit.

Bukan hanya Bapak satu-satunya yang berubah. Aku pun telah berubah.

Aku tak lagi mau memanen buah-buah kopi. Tak sanggup memperdayai nurani. Dan karena tak kutemukan lagi Bapak yang dulu berkisah, “Kopi Luwak muncul dari kesengsaraan para petani yang begitu menginginkan minum kopi hingga mengolah biji-biji di tai luwak. Kita beruntung bisa meneguknya tiap hari. Ingat, Wan, nikmatnya kopi Luwak itu karena luwak pintar memilih buah-buah kopi terbaik. Kemudian ada proses di dalam usus luwak yang menjadikan rasanya unik. Karena itu kita mesti berterima kasih pada luwak-luwak itu, memperlakukan mereka seperti keluarga.”

Aku pun tak lagi mengurus luwak-luwak. Tak mampu menatap tubuh-tubuh ringkih yang jumlah bulu rontoknya bertambah dari hari ke hari.

Dan… aku pun berhenti minum kopi Luwak karena rasanya seperti menelan darah luwak.

“Pak, itu si Tua sakit. Mau diapakan, Pak? Kita panggil dokter hewan?” lapor salah satu pegawai Bapak. Tua adalah nama luwak pertama yang Bapak miliki. Usianya telah serenta namanya. Tua beruntung masih diberi nama, karena luwak-luwak Bapak yang lain tidak lagi bernama, mereka hanya bernomor, seperti uang.

“Jangan, Jen. Jual saja itu ke tetangga. Kemarin Bu Nursimah perlu untuk mengobati anaknya yang sakit asma,” perintah Bapak.

Seandainya saja memang tujuan Bapak mulia untuk membantu kesembuhan anak Bu Nursiah, tentu aku tak akan segusar ini. Tapi aku tahu betul, Bapak hanya tak mau rugi. “Pak, jangan, Pak. Kita obati saja dulu,” sergahku.

“Halah, repot!” gerutu Bapak sambil mengibaskan tangan, memberi tanda pada Jejen untuk segera melaksanakan perintahnya.

Aku berjalan cepat mengekori Jejen. “Jen, si Tua jangan diapa-apain,” kataku setegas mungkin. Jejen hanya menghela napas sembari mengangkat bahu.

Kakiku baru saja akan melangkah ketika suara Bapak menggelegar memecah siang. “Bapak tidak suka dibantah! Berani-beraninya kamu melarang Jejen melanggar perintah Bapak!”

“I… itu… bukan begitu, Pak. Ridwan hanya kasihan sama luwaknya,” ucapku terbata-bata.

Bapak bahkan tak mendengar kata-kataku, beliau mengambil arit, kemudian melesat ke kandang luwak. Dikeluarkannya si Tua, lalu tangan kekar itu terpeciki darah Tua yang meregang nyawa. Tatapan mata Bapak dan Tua terekam dalam di kepalaku. Pendarnya terlalu kontras. Bapak bukan lagi seperti manusia.

Perlahan-lahan penglihatanku menampakkan sesuatu yang merindingkan bulu roma. Di sekujur tubuh Bapak tumbuh bulu-bulu. Mula-mula munculnya di tangan yang terciprati darah si Tua. Hidungnya memanjang menjadi mencong. Bibirnya mengerucut kecil. Jika musang bisa berbulu domba, bapakku berbulu luwak. Kuusap-usap mata dengan jari jemari, tapi pemandangan itu tak berubah sama sekali. Bapak melihat perubahan di ekspresi wajahku, aku tahu dari pertanyaannya yang terdengar seperti cicitan. Gegas aku berlari mengunci diri di kamar, meninggalkan Luwak Bapak yang kebingungan.

Malam itu jangkrik yang berbunyi nyaring berhasil membangunkanku. Setengah pusing aku bangun dari tempat tidur. Perlahan ingatan tentang Bapak yang berubah menjadi luwak memenuhi kepalaku. Pasti sekadar mimpi. Tidak mungkin manusia berubah menjadi luwak seperti dalam cerita-cerita horor. Namun betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar. Bapak masih setia dengan tubuh luwaknya. Berdiri dengan dua kaki di depan cermin besar yang menempel pada pintu lemari hias. Matanya terus menekuri cermin dengan bulu-bulu tegak. Bapak telah sepenuhnya bermetamorfosis. Panjangnya kutaksir kurang dari seratus senti. Bulunya berwana abu-abu kecoklatan. Jalur di punggungnya berupa lima garis gelap yang terbentuk oleh bintik-bintik besar. Dahinya berwarna keputih-putihan persis uban rambutnya ketika masih berwujud manusia.

Aku bergidik. Tak lama kupaksakan diri mencari Ibu dan semua pegawai Bapak. Tidak kutemukan satu pun manusia di rumah ini. Saat kupanggil Ibu, bukannya sahutan, yang terdengar hanya gaung suaraku melebur dengan cicitan gelisah luwak-luwak dari kandang-kandang mereka. Binatang-binatang nokturnal itu telah aktif. Bapak ikut mencicit padaku.

“Bapak?” tanyaku pada luwak di depan cermin. Memastikan bahwa ini bukan halusinasi.

Luwak itu mencicit sambil mengangguk.

Mendadak aku tahu apa yang mesti kuperbuat. Aku menghampiri Luwak Bapak, kugendong tubuh ringannya. Kubawa Luwak Bapak menuju ke kandang. Awalnya Luwak Bapak tenang-tenang saja di dekapanku, tapi saat menyadari aku akan memasukkannya ke kandang, Luwak Bapak melawan. Perlu mengerahkan segenap tenaga supaya Luwak Bapak bisa kujejalkan bersama belasan ekor lain di kandang paling gelap dan sempit.

“Lihat baik-baik dari sana, Pak,” kataku dengan sorot mata tajam.

Aku membuka satu per satu kandang luwak, mengeluarkan seluruh isinya. Mereka berlarian bebas, sebagian terpincang-picang. Luwak Bapak mencicit keras, mungkin beliau sedang menjerit frustrasi. Setelah semua kandang kosong hingga menyisakan satu kandang tempat Luwak Bapak berada, aku mendekatinya. Kubuka pintu kandang itu setengah hingga luwak-luwak bisa keluar, hanya Luwak Bapak saja yang kutahan meski tanganku terluka oleh cakaran kuku-kukunya.

“Tenanglah, Pak. Aku akan memperlakukan Bapak dengan baik,” tutupku sebelum meninggalkannya pada malam.

Paginya kutemukan Luwak Bapak tengah kelaparan. Maka aku memetik buah-buah kopi ceri hijau untuk sarapannya. Pada mulanya Luwak Bapak tampak tak selera melihat buah-buah kopi ceri muda itu. Tapi rasa lapar telah mendorongnya memakan yang ada. Begitu juga dengan sorenya. Berulang hingga keesokan harinya.

Ada yang berbeda hari ini. Luwak Bapak telah mengeluarkan kotorannya. Kusendok untuk kuperlihatkan pada Luwak Bapak. “Lihat, Pak. Ini tai kopi pertama Bapak. Bapak pasti bangga kan?” tanyaku. Luwak Bapak hanya mondar-mandir gusar.

Tubuh Luwak Bapak dari hari ke hari kian ringkih. Luwak Bapak makin sering mogok makan buah-buah kopi. “Makanlah, Pak. Jangan keras kepala begitu,” ucapku saat menemukan buah-buah kopi masih tak tersentuh. Luwak Bapak mengangkat kepalanya sedikit untuk melihatku. Matanya tak jernih. Sepertinya sakit. Setelah kutunggui berjam-jam, pada akhirnya Luwak Bapak makan juga karena tak kuat melawan lapar.

Aku telah mengumpulkan tai-tai Luwak Bapak selama seminggu. Kotoran-kotoran itu kujemur hingga kering, lalu kutumbuk agar biji-bijinya terpisah, kemudian kutampi hingga hanya menyisakan biji-biji kopi. Kucuci hingga bersih, dan menyangrainya bersama pasir sampai hitam sempurna. Setelah melewati beberapa proses lagi, kuseduh kopi Luwak pertamaku setelah bertahun-tahun berhenti mencecap rasanya.

Napas Luwak Bapak tampak satu-satu ketika aku mendekati kandangnya.

“Pak, ini kopi dari tubuhmu. Akan kuminum selagi panas. Aku selalu ingat kata-kata Bapak. Rasa kopi terus berubah seiring suhunya merambat dingin.”

Aku menyesap kopi kental perlahan, merasakan cairan hitam membasahi kerongkongan. Menikmati aroma belantara yang melekat pada kopi. Rasanya tak pahit. Kopi paling nikmat seumur hidupku, yang keluar bersama feses Bapak yang memerah oleh darah.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

MyCupOfStory-Poster-759x500

Advertisements

12 Cara Mempromosikan Buku [Bagian Pertama]

12 Cara Mempromosikan Buku [Bagian Pertama]

Setelah rangkaian riset-menulis-revisi-editing-revisi-editing melelahkan yang bikin Naruto yang punya energi melimpah ruah sekalipun ingin mengibarkan bendera putih, satu karya masih harus melewati proses panjang penerbitan. Sesudah buku cetak dan disebarkan, apakah selesai di sana? Tentu saja tidak, masih ada satu lagi perjalanan terjal setara berenang gaya koprol di Samudera Atlantik yang mesti diperjuangkan: Promosi Buku. Sebagai penulis, saat ini lebih baik untuk berperan aktif dalam mempromosikan buku. Tidak pasif saja menyerahkan semuanya pada penerbit dan berharap buku langsung best seller lalu difilmkan. Apalagi kalau buku kita diterbitkan secara indie, sudah pasti penulis harus siap menjadi garda terdepan dalam mempromosikan bukunya. Tentu saja pilar pertama yang akan mempromosikan adalah kualitas karya itu sendiri. Jadi ketika kamu menulis penuh cinta dan sebaik mungkin, itu sudah satu langkah mempromosikan karyamu. Karena itu menulislah sebaik-baiknya, Karena karya akan lebih banyak bicara. Kebanyakan penulis pemula sering bingung harus melakukan apa saja dalam kegiatan promosi ini. Jangan sedih dulu dan tebar-tebar drama, kamu mungkin bisa menerapkan 12 cara mempromosikan buku ini.

12 Cara Mempromosikan Buku:

  1. Buat Book Trailer

Kamu pasti sering menonton trailer film kan? Book trailer tidak jauh beda dengan trailer film, hanya produk yang dipromosikannya berbeda, Jangan memikirkan kalau membuat book trailer itu jelimet. Tenang, rambut keritingmu tidak akan berubah lurus, atau rambut lurusmu tidak akan tiba-tiba keriting karena saking mumetnya memikirkan pembuatan book trailer. Ada bermacam-macam book trailer dari yang simpel sampai yang rumit, dari yang biaya pembuatannya murah meriah sampai yang memerlukan budget tinggi. Paling penting adalah membuat book trailer semenarik mungkin. Seperti juga deadline, percaya deh kepepet dan keterbatasan akan mengasah kreativitasmu.

Book trailer bisa berupa video pendek yang diperankan oleh manusia, dapat berbentuk motion comic, atau kumpulan slide-slide gambar. Usahakan hak cipta semua materi yang dipakai adalah milikmu. Bisa menggunakan karya orang lain yang bebas dipakai untuk segala kepentingan. Atau kamu dapat menghubungi pemilik karyanya dan bekerja sama dalam satu kolaborasi. Misalnya kamu memakai musik band indie, mintalah baik-baik pada mereka untuk menggunakannya bukan menodong dengan mode senggol bacok, sehingga ketika book trailer-mu diunggah di Youtube, book trailer-mu tidak akan di-banned .

  • Book trailer berupa film pendek manusia. Kalau kamu memilih bentuk seperti ini, kamu harus membuat skenarionya dulu berdasar bukumu. Ambil satu atau beberapa adegan menarik yang menggambarkan bukumu. Hati-hati spoiler ya. Contoh proses pembuatan book trailer yang saya buat dengan metode ini bisa kamu baca di Behind The Book Trailer – TwiRies contoh hasilnya bisa kamu tonton di

Namun tidak mesti melulu orang- orang yang berperan. Kamu juga dapat membuat video berupa pemandangan, jalan, kesibukan orang-orang, scrapbook, atau apa saja yang sesuai dengan cerita bukumu, padukan dengan narasi yang dibacakan narator. Cara ini lebih simpel, murah, dan bisa kamu lakukan sendiri. Kamu dapat mengambil video menggunakan kamera ponse, dan mengedit sendiri dengan mengisi narasi yang juga kamu bacakan sendiri.

  • Book trailer berupa motion comic. Pembuatannya sama saja, yaitu menuliskan skenario komiknya dulu, kemudian digambar sendiri atau meminta bantuan ilustrator. Cara membuat skenario komik bisa kamu baca di Tips Membuat Skenario Komik. Karena saya tidak bisa menggambar komik, saya bekerja sama dengan ilustrator. Tapi kalau kamu suka bereksperimen dan suka menggambar, buat saja sendiri, lumayan memangkas budget. Komik yang dibuat harus ber-layer-layer, supaya bisa dianimasikan. Selain gambar, musiknya mesti diperhatikan. Pengalaman saya sih, dulu berkolaborasi dengan penyanyi indie. Saya diberi izin menggunakannya, tentu dengan mencantumkan pemilik hak ciptanya. Contoh book trailer motion comic yang pernah saya buat bisa ditonton di
  • Book trailer berupa slide gambar. Slide-slide-nya bisa kamu isi dengan blurb bukumu, dan quotes-nya. Gambar yang digunakan sebaiknya milikmu, bisa berupa gambar kreasimu sendiri atau foto yang kamu ambil. Bila tidak memungkinkan, kamu bisa meminta bantuan teman, atau memakai foto/gambar yang hak ciptanya telah dibebaskan. Book trailer model ini pembuatannya sangat simpel dan tidak memerlukan budget tinggi.

2. Bagikan Teaser Bukumu.

Posting satu sampai dua bab karyamu di blog atau Wattpad agar bisa dibaca secara bebas. Sebelumnya kamu harus meminta izin dulu pada penerbit, karena sangat memungkinkan penerbit tidak memperbolehkannya. Cara ini lazim dilakukan pada penjualan e-book. Coba saja kamu buka google play book, kamu bisa mengakses beberapa bab pertama buku dengan gratis. Dengan begitu, Pembaca bisa menentukan apakah akan membeli karyamu atau tidak. Memang membutuhkan kepercayaan diri tinggi untuk menggunakan promosi cara ini.

3. Sebarkan Photo Quotes di Media Sosial

Kalau kamu termasuk penulis yang memilih personal branding aktif di media sosial, kamu bisa menyebarkan photo quotes bukumu di semua akun. Buat foto sebagus mungkin atau memakai foto yang bebas digunakan–tentu saja yang sesuai dengan quotes-nya, lalu sebarkan di Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya. Pilih quotes yang jleb sehingga pembaca tertarik pada bukumu.

kutipan foto contoh

Contoh photoquotes

4. Buat Behind The Book

Proses menelurkan karya selalu menarik dan berwarna-warni, tidak kalah seru dengan isi buku itu sendiri. Buat satu artikel curhat tentang proses pembuatan bukumu. Ceritakan bagaimana jatuh bangunnya riset yang kamu lakukan, pencarian penerbit–kalau ada drama penolakan bisa banget kamu masukkan, proses revisi yang membuatmu bermimpi buruk, sampai pemilihan cover yang bikin sedilema memilih pasangan. Bentuknya bisa juga dikreasikan. Misalnya saya mengkreasikannya menjadi fun fact.

Contohnya bisa kamu baca di Behind The Book: Di Balik Pelit dan Kisah Di Balik Cerpen Saya.

5. Bekerja Sama dengan Blogger Buku.

Supaya bukumu dari awal sudah ada gaungnya, bekerja samalah dengan para blogger buku untuk diresensi. Harap dicatat, kamu tidak bisa menyetir resensor untuk ‘hanya’ memberikan review bagus tanpa memasukkan kritikan. Itu terjadi secara alamiah, kalau karyamu memang matang, mereka sudah pasti akan memberikan apresiasi berbentuk pujian. Para resensor ini punya standar kualitas review yang sudah ditetapkan masing-masing, ketika mereka merekomendasikan buku, mereka juga sedang mempertaruhkan penilaiannya. Lebay? Tidak. Itu faktanya. Supaya kamu tidak drop ketika membaca masukan atau kritikan dalam ulasannya, ada baiknya kamu stalking dulu blog-blog para blogger buku itu. Kamu bisa memilih gaya review mana yang sesuai dengan karaktermu. Kalau kamu baperan, pilihlah resensor yang menyampaikan kritikan dengan halus. Para blogger buku itu bukan kepengin dapet buku gratisan, mereka membantu promosi buku karena murni atas kecintaan terhadap dunia literasi. Kalau bukumu dibaca banyak orang, mereka ikut bahagia.

PicsArt_08-10-06.26.09

Contoh review saya untuk novel Me Vs Daddy

6. Membuat Blog Tour

Ada kemiripan dengan meminta review dari blogger buku–salah satunya karena blog host biasanya memang blogger buku juga, dalam blog tour juga bukumu akan diulas. Bedanya, blog tour sepaket dengan giveaway, dan ada jadwal postingan berantai di beberapa blog. Kalau di-review saja oleh blogger buku, jadwalnya tidak pasti kapan-kapannya. Postingan blog tour juga bisa dipecah menjadi beberapa artikel. Misalnya artikel review, artikel wawancara penulis, dan postingan giveaway-nya. Biasanya penerbit sudah mengakomodir promosi model ini. Penulis dan editor bisa berdiskusi mengenai pemilihan blog-blog yang akan diajak dalam blog tour bukumu. Ada beberapa kriteria memilih host blog, kualitas ulasannya, banyaknya followers akun media sosialnya, sampai seberapa ramai blognya. Sama seperti bentuk kerja sama dengan blogger buku, kamu bisa stalking dulu blog-blognya untuk menentukan blog host yang sesuai.

Contoh Blog Tour ketika saya menjadi blog host Blog Tour Novel Anak Pohon, Blog Tour Novel Tiger On My Bed [Review] , dan Blog Tour Novel Tiger On My Bed [Giveaway] .

Itu baru enam dari 12 cara mempromosikan buku. Artikelnya saya bagi menjadi dua postingan karena panjang-panjang. Akan saya sambung di artikel berikutnya. Semoga bermanfaat ya ^ _ ^ Boleh banget kamu share cara promosi bukumu di komentar, atau kirim buntelan buku ke rumah saya XD

[Review] Me Vs Daddy Karya Sayfullan

[Review] Me Vs Daddy Karya Sayfullan

Hubungan orangtua dan anak kadang rumit. Perbedaan usia dan pengalaman menyebabkan sudut pandang sering kali tak sejalan. Namun kadang kala, masa lalulah penyebabnya. Seperti yang diangkat Sayfullan dalam novel “Me Vs Daddy” ini.

Penampakan Sayfullan

Penampakan Sayfullan

Kenalan dengan Sayfullan

Sayfullan adalah nama pena dari Saiful Anwar. Lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro ini sangat menyenangi dunia tulis-menulis. Kocak dan gokil adalah kata yang pas untuk menggambarkan karakternya.

Pemain teater ini memiliki banyak hobi, selain menulis, dia juga sangat menyukai renang, volly, dan lari. Namun semua hobby olahraganya harus rela ditinggalkan karena penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Dia juga masih melaksanakan rutinitas hemodialisa dua kali seminggu. Penyakit itu tidak merenggut semangatnya untuk terus berkarya dan menyebarkan inspirasi.

Sayfullan bisa dihubungi di Email: eter.233@gmail.com, twitter : @sayfullan dan Facebook : rawna_lufias@yahoo.co.id

Data Buku

Judul : Me Vs Daddy

Penulis : Sayfullan

Penerbit : deTEENS (Diva Press Group)

Tebal : 219 Halaman

Editor : Vita Brevis

ISBN : 9786023912025

Blurb :

Karel dan eclair. Kecintaan Karel terhadap kue kering berbentuk panjang berisi aneka krim pasta ini bukan cuma karena rasanya yang legit dan enak. Mengingatkannya juga pada Claudia, mendiang sang mama. Namun, Marvin ingin Karel mengikuti jejaknya dalam bidang properti. Kopanda Cafe dan Eclair Shop adalah ajang pertaruhan antara anak dan ayah. Karel harus bisa membuktikan kemampuannya. Jika tidak, konsekuensi berat menunggunya.

Review Buku

Saya merindukan membaca novel lokal yang bercerita tentang hubungan anak dan orangtua yang harmonis. Karena saya lebih banyak membaca buku yang menceritakan bagaimana teman-teman justru lebih berarti ketimbang orangtua karena lebih paham dunia mereka dan menjadi penyemangat dari keterpurukan. Kalau dari judul dan blurbnya, novel “Me Vs Daddy” memiliki problematika yang senada. Yaitu hubungan orangtua dan anak yang renggang. Tapi saya merasa bahwa novel ini pada akhirnya akan memberikan solusi yang baik untuk memperbaiki hubungan buruk itu. Maka mulailah saya menyantap bab demi bab.

[Review] Me Vs Daddy Karya Sayfullan

JudulMe Vs Daddy” cukup provokatif dan menjanjikan konflik menarik. Cover-nya sederhana namun cukup eye catchy. Tapi saya justru dibuat penasaran oleh tagline-nya, yaitu “Antara kenangan masa lalu dan rasa bersalah”. Terus terang, saya punya ketertarikan khusus pada kisah-kisah masa lalu kelam yang mengunci jiwa dengan rasa bersalah. Saya selalu penasaran, bagaimana penulis membuat tokohnya akhirnya bisa berdamai dengan masa silam dan memaafkan dirinya–kalau akhirnya itu yang terjadi. Kemudian, blurb novel ini saya nilai memiliki daya jual. Pendek tapi langsung mengena pada konflik.

Dalam waktu satu jam saja, saya sudah menuntaskan delapan bab pertama. Karena bab pertamanya sudah menyajikan konflik tanpa basa-basi. Dimana dikisahkan bahwa Karel menemui ayahnya untuk meminta restu dan modal menjalankan usaha kafe Kopanda sebagai manajemen sekaligus chef cake dan ahli patisserie. Permintaan itu berbuah ajang pertaruhan antara ayah dan anak. Bab awal yang memicu penasaran.

Sedangkan, konsep vintage dari Kopanda terlihat dari adanya susunan batu bata kasar di dinding bagian bawah kafe yang sengaja tidak dihaluskan. Juga bingkai-bingkai pigura tanpa gambar dari kayu berpelitur coklat pekat yang tersebar di dinding berwarna krem itu berhasil menambah kesan eksotis, lampau, dan unik pada Kopanda. — Halaman 26

Penulis mendeskripsikan setting dengan detail tapi tidak berlebihan, membuat saya merasa akrab dengan tempat-tempat dalam novelnya. Begitu pula dengan kue-kue di kafe Kopanda, Sayfullan bukan hanya menarasikan bentuknya, tapi juga rasa dan keharumannya.

Semua yang kami sajikan di sini adalah wujud harapan dan mimpi yang luar biasa dari kami — Halaman 31

Saya kemudian berkenalan dengan banyak tokohnya. Karel si tokoh utama yang digambarkan memiliki fisik manis namun teguh pendirian dan pekerja keras, Marvin sang ayah yang keras dan tampan, para pegawai kafe Kopanda yang solid, kemudian Jiana anak SMA yang cerdas tapi keras kepala, dan Renne ibu Jiana yang membesarkan anaknya seorang diri. Renne memiliki karakter keibuan, tapi agak centil. Dalam keberagaman karakter inilah saya mendapatkan humor ala Sayfullan. Chemistry tokoh-tokohnya cukup baik. Saya bisa merasakan harmoninya hubungan Renne dan Jiana. Namun chemistry Karel dan Jiana dibangun dengan terburu-buru, sehingga terasa kurang kuat. Tahu-tahu saja mereka sudah dekat. Pembaca tidak diajak step by step menyaksikan perubahan rasa antara mereka.

Karena sejujurnya dia tahu, menyesap kembali pekatnya kenangan bersama Claudia akan bermuara akhir pada lautan rasa sakit hati. –Halaman 15-16

Sayfullan memiliki gaya bahasa puitis yang di tempatkan di beberapa bagian yang pas, menjadikan novel ini enak dinikmati. Me Vs Daddy mempunyai diksi dan kosakata yang cukup kaya. Secara keseluruhan novel ini memakai bahasa ringan yang mudah dicerna. Sayang, untuk dialognya “Me Vs Daddy” tidak konsisten. Pada awal-awal, dialog Karel dan Marvin percampuran antara kaku dan santai. Saya sampai mengira bahwa mereka akan konsisten berdialog kaku, tetapi semakin ke sana, obrolan mereka makin cair. Bukan, bukan karena hubungan mereka membaik atau apa, tapi memang tidak konsisten saja. Permasalahan pemilihan gaya bahasa dialog ini pun membuat karakter Marvin menjadi tidak ajeg. Marvin tidak lagi tergambarkan sebagai sosok pria bertangan dingin, padahal belum ada kejadian yang bisa membuat karakternya bisa berubah. Syukurnya selain Marvin, meskipun kadang saya menemukan ketidakkonsistenan, tetapi tidak sampai terasa mengubah karakter tokohnya.

Bisa dibilang, cerita dalam novel ini terbagi ke dalam dua bagian besar. Pertama, kisah ayah dan anak Karel-Marvin. Kedua, tentang ibu dan anak Renne dan Jiana. Keduanya memiliki cerita dan konflik yang menarik. Karel-Marvin berkonflik karena Marvin tidak menyetujui impian anaknya sebab cita-cita Karel mengingatkannya pada sang istri. Hubungan Marvin dan Claudia istrinya kurang baik karena dia cemburu pada sahabat istrinya. Kemudian terjadi sesuatu yang membuatnya tenggelam dalam rasa bersalah. Lalu konflik Renne-Jiana berputar antara pengorbanan Renne melepas kariernya demi mengurus anaknya, dan pem-bully-an di sekolah Jiana. Benang merah konflik terletak pada Marvin dan Renne sama-sama memiliki masa lampau yang kelam dan kegagalan rumah tangga, sedang Karel dan Jiana memiliki impian yang tidak mudah diraih.

Dia pun akhirnya hanya bisa mencoba memejamkan mata. Berharap masa lalu bersama Claudia hilang, pejam oleh waktu dan zaman. — Halaman 24.

Konflik disampaikan lewat alur maju mundur sehingga pembaca diberi sedikit demi sedikit demi menjaga penasaran. Saya sendiri selalu menunggu bagian yang menceritakan masa lalu Marvin dan Renne. Namun, penulis memberi porsi yang berlebihan untuk kisah Renne dan Jiana, sehingga memungkinkan pembaca lebih merasa merekalah tokoh utamanya. Novel ini memiliki potensi konflik yang jelimet dan dalam, tetapi penulis memilih menyuguhkannya dengan ringan. Tapi saya suka bagaimana Sayfullan memasukan selipan-selipan humor di beberapa bab sehingga pembaca tidak bertubi-tubi disuguhkan ketegangan. Yang disayangkan adalah semua konflik yang disuguhkan tidak diberi pendalaman, dan penyelesaiannya terkesan mudah. Sehingga ketika pembaca baru akan larut, masalah sudah selesai duluan, tidak memberi ruang untuk tenggelam dalam empati. Misalnya perjuangan Karel menggapai impiannya, tidak ada batu besar yang menghalang, hanya kerikil-kerikil tajam yang mudah disingkirkan. Untungnya masalah Jiana cukup menggigit. Sayfullan tampak terburu-buru menyelesaikan konflik-konfliknya. Padahal konfliknya sangat menarik.

Bukankah selalu ada pertumbuhan dalam setiap fase kehidupan? — Halaman 25.

Bukan berarti novel ini tidak berhasil mentransfer emosi pada pembacanya. Pada beberapa bagian, terutama adegan masa lalu Marvin, Sayfullan berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca. Part-part Renne dan Jiana pun menyentuh. Saya selalu merasa hangat dan dekat tiap membaca bagian ketika mereka bersama. Dari hubungan ibu dan anak itulah dahaga saya akan cerita kedekatan orangtua dan anak terpuaskan.

Pada akhirnya, apa yang saya cari dari novel ini saya dapatkan. Pesan moral yang tidak menggurui, dan kisah orangtua anak yang bittersweet. Saya rekomendasikan novel ini untuk kamu yang menyukai novel ringan, menghibur, dan menghangatkan hati.