Vivo V5 Berkamera Depan 20MP Modal Awal Menjadi Selebgram

picsart_11-26-05-55-18

Vivo V5 Berkamera Depan 20MP Modal Awal Menjadi Selebgram

Terus terang, ketika mendapat undangan launching Vivo V5 saya excited sekali. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Salah satunya, saya memang lagi berburu spekan gawai baru untuk mendukung passion saya sebagai pecinta media sosial. Ya ngeblog, ngevlog, sampai selebgram wanna be *tutup muka, malu* Ada yang sehati se-passion sama saya? Yeay, kita berada di tim yang sama. Buat perburuan itu, menempuh jarak Bandung-Jakarta kerasa kayak piknik aja.

Kebutuhan untuk memiliki gawai yang mempunyai kamera depan beresolusi tinggi terasa mendesak ketika seringkali saat saya meminta orang–mau itu kembaran, pasangan, atau teman–buat mengambil foto, saya mesti merepotkan orang-orang itu karena meminta pengambilan foto berkali-kali. Ya gimana lagi, berhubung tampang pas-pasan dan enggak bisa pula bergaya ala-ala model majalah, jadinya mesti difoto ribuan kali sampai ada “satu” aja foto yang layak pajang XD Parahnya, itu jelas dong bikin mereka bete karena saya enggak juga berhenti minta dipotret, sedangkan mereka juga kan ya banyak keperluan. Karena itulah saya pikir kalau memiliki gawai berkamera depan yang memiliki resolusi tinggi apalagi beauty mode-nya oke, saya tak usah lagi merepotkan orang sekitar. Mungkin loh ya…. Sebenarnya saya bukan penggila selfie, tapi ketika selfie adalah kebutuhan yang mendukung passion dan karier saya, itu mutlak mesti dilakukan kan. *Ealah ngeles kamu Va XD

picsart_11-26-07-07-50

ID Card acara

Siang tanggal 23 November 2016 kemarin saya sampai di venue yaitu ballroom 3 Ritz Carlton Pasific Palace Jakarta jam 12 siang. Saya disambut suasana launching yang elegan. Setelah mengisi daftar hadir, saya diberi kartu tanda masuk berlabel VIP.

picsart_11-26-07-11-00

Tempat registrasi undangan

picsart_11-26-07-13-53

Pintu masuk ke ruang acara

Sambil menunggu acara dimulai, saya dan beberapa rekan blogger berfoto selfie di spot-spot menarik yang disediakan. Mulai dari trick eye ketinggian gedung, sampai nyanyi bareng Agnes. Baru kemudian menikmati hidangan santap siang. Enggak lama setelah itu, saya memasuki ruang utama acara. Supaya mendapat hasil foto terbaik, saya memilih duduk di deretan paling depan tepat berhadapan dengan panggung yang cukup megah.

picsart_11-26-07-09-20

Selfie di spot trick eye

Seorang MC membuka acara dengan celoteh yang menghangatkan suasana. Disusul penjelasan James Wei, CEO Vivo Mobile Indonesia yang menceritakan tentang sejarah Vivo. Ternyata kata “Vivo” berasal dari bahasa Yunani yang berarti perjuangan. Namun untuk Vivo sendiri lebih mencerminkan kedinamisan.

picsart_11-26-06-55-06

James Wei menceritakan sejarah dan perkembangan Vivo

Selesai penjelasan dari Pak James, hadirin disuguhi penampilan satu grup modern dance yang dalam tariannya bercerita tentang selfie. Barulah naik ke atas panggung, Kenny Chandra, Product Manager Vivo Indonesia, menjelaskan spekan Vivo V5 yang mengklaim sebagai gawai berkamera depan 20MP pertama, sedang kamera belakangnya 13MP. Jangan sediiih, segera hadir V5+ yang kamera depan belakangnya sama-sama 20MP. Ugh, Can’t wait!

picsart_11-26-06-52-37

Penampilan modern dance yang bercerita tentang selfie

Menyimak sambil manggut-manggut, saya berpikir, “Tapi kalau enggak nyobain sendiri belum yakin deh sama semua kelebihan yang disebutin.” Iya, saya tipe experience orangnya, yang seringnya baru percaya kalau ngalamin sendiri. Seberapa pun besarnya promo saya enggak akan tergiur kalau enggak membuktikan sendiri. Diam-diam saya berharap bisa mencoba sendiri Vivo V5 ini.

picsart_11-26-06-51-11

Kenny Chandra sedang memaparkan keunggulan spekan Vivo V5

Tibalah ke acara puncaknya. Agnes Monica, brand ambassador Vivo, muncul di panggung menggenggam V5 disambut kilauan lampu blitz dan kamera ponsel yang seakan memotret tiada henti. Keduanya terlihat elegan. Setelah itu dibukalah sesi tanya jawab. Beberapa penanya tampak antusias bertanya seputar fitur, sampai kuat enggak batrei V5 untuk ngevlog.

picsart_11-26-06-49-10

Kehadiran Agnes Monica disambut hangat hadirin

picsart_11-26-06-47-19

Sesi tanya jawab

Saya kira acara ditutup dengan pengumuman dan pemberian hadiah berbagai lomba yang diadakan Vivo, ternyata ada satu kejutan untuk undangan. Selesai acara di panggung, background panggung terbuka memperlihatkan satu ruang berisi Vivo V5 untuk dicoba langsung oleh undangan. Harapan saya terkabul.

picsart_11-26-06-46-05

Para pemenang berbagai lomba di launching Vivo V5

picsart_11-26-06-43-37

Para undangan memasuki ruang belakang panggung

Fitur yang pertama saya coba tentunya membuktikan kecanggihan 20MP softlight camera yang digadang-gadang menghasilkan perfect selfie itu. Hasilnya, muka saya yang saat itu enggak banget karena berminyak parah ditambah rambut yang bad hair day karena sebelum berangkat enggak sempat keramas, tampak cling di foto. Saya nyoba gaya kedua, yaitu gaya muka jutek. Sebagai yang kalau foto bermuka jutek hasilnya selalu pengin nampol hasilnya, saya sangat menghindari pose ini.Tapi-tapi-tapi, kali ini hasilnya kok malah kece. Sampai saya rasanya kepengin bertanya ke foto, “Hai, Cantik, siapa kamu?” Tolong abaikan saya yang memuji diri sendiri XD Padahal pencahayaan di ruangan itu agak minim. Oke, saya sudah membuktikan sendiri perkataan Pak Kenny bahwa teknologi softlight-nya menghasilkan hasil gambar selfie yang detail memperlihatkan warna tampak alami. Fotonya beneran seperti hasil di studio foto. Dan fitur face beauty mode 6.0 benar-benar menyulap saya jadi model *Plak!

picsart_11-26-07-16-26

Ruang belakang panggung yang berisi harta karun Vivo V5

Vivo V5 Berkamera Depan 20MP Modal Awal Menjadi Selebgram

Kalau membeli sesuatu termasuk gawai, saya akan mengutamakan fungsi ketimbang karena keluaran terbaru atau bahkan gengsi. Sekarang oke hasil selfie bagus, tapi buat apa? Buat kelihatan cantik saja di setiap foto? Jelas dong saya kalau punya, saya kepengin memaksimalkan fungsinya. Ada benefit lain dari membeli gawai yang menghasilkan selfie sempurna. Salah satunya buat menghasilkan foto-foto terbaik buat dipajang di Instagram. Jadi siapa nih yang selebgram wanna be kayak saya? Ayo-ayo tunjuk tangan jangan malu-malu *nyari teman*

Terlepas dari motivasi yang melatari keinginan jadi selegram itu, semacam monetize buat nambah uang saku sampai dapet barang endorsan, atau motivasi mulia buat berbagi banyak hal sama dunia. Enggak bisa dipungkiri buat mewujudkan itu kita butuh alat perang yang mumpuni. Vivo V5 ini bisa dijadikan modal awal. Bukan rahasia dong kalau buat jadi selebgram, harus memajang foto-foto bagus. Jauh-jauhlah foto burem. Kalau liat dari hasil selfie-nya, dengan pencahayaan minim pun foto tetap oke seperti foto studio. Jadi buat yang  enggak menguasai berbagai aplikasi atau software editan foto. Hasil foto selfie V5 yang cantik natural enggak mesti diedit-edit lagi. Mana fitur beauty mode 6.0 gampang banget digunakan, bisa  disusaikan lagi tingkatnya sampai ke taraf mengusir seluruh bekas jerawat dan kerut-kerut halus di muka, tapi tetep terlihat alami. Jadi kalau kamu selebgram wanna be yang one man show alias kerja sendiri dengan mengandalkan gawai dan tongsis, hasil selfie adalah harga mati. Well, kamu bisa mengandalkan V5.

Nih, saya liatin hasilnya:

picsart_11-27-01-33-37

Percobaan pertama, masih pakai gaya andalan saya: senyum miring

picsart_11-27-01-32-06

Foto kedua, pakai gaya jutek yang paling saya hindari. Kaget ngeliat hasilnya oke, eh.

Yup, memang buat jadi selebgram enggak ada yang mudah. Butuh adanya komitmen, konsep, sampai berani bereksperimen. Karena itu, mau enggak mau, selanjutnya mesti meng-upgrade kemampuan diri. Semacam belajar editing sederhana pakai berbagai aplikasi. V5 memiliki spekan 4GB RAM dan 32GB ROM memberikan komputasi intensif dan kekuatan pemrosesam grafis yang mengesankan. Dengan spekan seoke itu, bisa banget unduh banyak-banyak aplikasi buat ngedit. Perlu belajar make-up? V5 yang network-nya udah 4G LTE bikin leluasa ber-youtube ria buat belajar dari video-video tutorial, mau make-up sampai gaya hijab. Selebihnya tinggal menajamkan kreativitas bersama kamera V5 buat menghasilkan foto-foto luar biasa. Dan jangan lupa buat menguatkan konsep, kalau blog mungkin semacam niche-nya mesti dijaga ya.

Terus gimana buat yang ngevlog?  Dengan modal pengambilan gambar menggunakan kamera 20MP dan spekan yang memungkinkan buat menginstall banyak aplikasi pendukung seperti berbagai aplikasi editan video, ngevlog sangat fun dilakukan di gawai. Lumayanlah batreinya cukup bertahan lama, 3.000 mAh. Buat saya yang selalu bikin video dan mengeditnya langsung di gawai, V5 semacam bakalan sangat menolong mewujudkan impian.

picsart_11-26-07-19-30

Fitur-fitur Andalan V5

Fitur Smart Split 2.0

Buat saya yang ibu rumah tangga, udah makanan sehari-hari saja rebutan gawai dengan anak. Anak kepengin nonton youtube, saya kepengin balesin pesan. Apalagi pesan-pesan penting yang enggak bisa menunggu. Jadinya anak saya suka sebel karena aktivitas nontonnya terganggu berkali-kali, dan si pengirim pesan juga bete karena saya slow respon. Pas liat fitur smart split 2.0 ini, saya langsung berasa dikasih solusi. Karena bisa bikin si pengguna jadi multi-tasking. Cukup klik sekali untuk membagi layar jadi dua, pengguna bisa membalas pesan di setengah layar. Duh, ini bikin hasrat memiliki saya pada V5 menggebu-gebu. Tolooong!

Eye Protection Mode

Fitur ini membuat mata nyaman saat bergawai ria di malam hari. Menurut saya yang punya kebiasaan membaca komik online berjam-jam sebelum tidur, eye protection mode ini penting banget. Bisa meminimalisir kelelahan mata untuk kita-kita yang mengharuskan mantengin gawai malam hari.

Hi-Fi Music

V5 ini punya audio chip custom-made AK4376 yang memberikan kualitas suara keren dengan rasio signal-to-noise sampai 115dB. Memanjakan para music die hard fans. Vivo ingin membuktikan slogan baru mereka “Camera & Music”, jadi terobosan di dua hal tersebut enggak main-main.

Ini spesifikasi Vivo V5 seharga Rp.3.499.000 lengkapnya:

  • 4GB RAM/32GB ROM (Expandable up to 128GB)
  • 4G LTE Network
  • Octa-core 64 bit
  • 20MP Front Camera dan 13MP Rear Camera
  • Android 6.0 Marshmallow
  • Battery 3.000 mAh
  • 97 cm (5.5 inch) HD Display
  • Dual sim card (hubryd dengan slot memory card)

picsart_11-26-07-06-31

Kepengin hasil perfect selfie buat mewujudkan keinginanmu jadi selebgram? Vivo V5 bukan hanya bakal memuaskan hobi selfie-mu, gawai ini bisa jadi modal awal kariermu sebagai selebgram.

 

 

 

 

 

 

 

[Blogtour] Review + Giveaway Novel Unfotgettable Chemistry: Melupakan Chemistry

picsart_12-01-12-13-12

Untuk saya yang menyukai hal-hal romantis semacam sengatan listrik pada sentuhan dengan seseorang spesial, atau gelenyar halus di dada, chemistry dalam kisah cinta selalu membuat saya penasaran. Termasuk kisah novel Unforgettable Chemistry ini.

Sebelum menguliti karyanya, kita kenalan dulu sama penulisnya. (((Menguliti)))

Siapakah Mala Shantii?

fb_img_1479866056098

Mala Shantii lahir dan besar di Tulungagung, Jawa Timur. Hobi membaca sejak kecil, tapi tak pernah bermimpi jadi penulis. Unforgettable Chemistry adalah karya pertama yang diselesaikan di Wattpad dan diterbitkan oleh major publisher. Sebelumnya telah menerbitkan buku berjudul Rayya secara indie.

Saat ini menetap di kota kelahiran, penulis dapat dikontak melalui:

Facebook: Mala Shantii

Instagram: @malashantii

Wattpad: @malashantii

Sesi Kepoin Mala Shantii

1. Mengapa mengambil latar profesi dosen, padahal ceritanya menyerempet perselingkuhan? Bukannya jadi riskan.

Mengapa dosen? Karena menurut saya profesi ini menarik. Jadi saya memang tergelitik untuk menyajikan satu sisi dari profesi tersebut. Secara normatif memang pengajar atau dosen, diharapkan memiliki standar moral dan integritas yang lebih tinggi. Nah, di sini saya hanya ingin mengungkap sisi manusiawinya. Bahwa pada titik tertentu, moralitas seorang dosen sekalipun, bisa saja tergelincir jatuh ke titik paling nadir.

2. Ceritakan proses berdarah-darahnya menulis novel ini. Termasuk riset dan lainnya.

Proses penulisannya termasuk lancar sih, cukup cepat juga menyelesaikannya. Kendala yang berarti hampir nggak ada. Untuk masalah riset, nggak terlalu banyak kesulitan. Karena kebetulan saya pribadi lumayan bersinggungan dengan latar belakang tokoh-tokohnya.

3. Novel ini kan sempat diposting di Wattpad. Komentar paling jleb atau paling berkesan apa dari pembaca di sana?

Komentar paling jleb?
Apaaa ya?
Saya nggak terlalu ingat sih, karena pembaca saya di Wattpad itu suka sadis-sadis komentarnya heheee. Dan, yang paling sering itu mereka suka memaki-maki heroinnya. Buat saya yang selalu menganggap hero/heroin ciptaan saya sebagai anak, yaaaa pasti jlebbbb lah kalau anak-anaknya dimaki-maki heheee.
Tapi, ada juga pembaca yang suka bikin komentar panjaaaannngggg gitu. Kadang ada yang hampir sepanjang bab itu sendiri hahahaha. Isinya analisa dia atas plot dan karakter cerita. Ini yang saya suka. Moodbooster paling ampuh untuk melanjutkan tulisan.

cover-mala

Data Buku

Judul : Unforgettable Chemistry
Penulis : Mala Shantii
Penyunting : M.L Anindya Larasati
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, Oktober 2016
Halaman : 336 hlm
ISBN : 978-602-02-9467-4

Blurb:

Cinta.
Jadi, bagaimana sebenarnya perasaannya pada Frans?
Ia sendiri tak tahu. Karena alasan mereka menikah, bukanlah semata karena cinta.

Anna dan Frans–sepasang suami istri yang hidup terpisah antara Bandung – Surabaya–berjuang untuk menata kehidupan rumah tangganya sebaik mungkin meskipun terpisah oleh jarak. Apalagi, alasan mereka menikah bukan karena cinta.
Namun tanpa disangka, masa lalu keduanya kembali membayangi bahtera pernikahan mereka. Sanggupkah mereka mempertahankan satu sama lain, atau justru berusaha mendapatkan mereka yang tak pernah terlupakan?

Review Buku

Membaca novel ini saya dibuat terkejut beberapa kali. Ini bukan perihal twist, tapi pembahasannya. Saya memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama gambar sampulnya yang cantik sekali. Tipe sampul lukisan yang membuat saya merasa terlempar ke dalamnya. Namun membaca blurb-nya, saya berpikir, sepertinya ini kisah cinta yang akan menjadikan profesi tokoh-tokohnya hanya tempelan. Seperti menceritakan direktur perusahaan A, tapi enggak dijelaskan rinci seperti apa detail pekerjaannya, hanya menyebutkan seputar meeting dengan klien dan lembur. Sudah. Saya salah besar. Unforgettable Chemistry menjelaskan dengan baik pekerjaan para tokoh utamanya. Frans sebagai dokter bedah, dan Anna yang dosen. Saya cukup kagum bagaimana Mala menjelaskan pekerjaan mereka dan banyak istilah-istilahnya dengan baik. Ditebar sepanjang cerita tanpa mengganggu jalinan kisah, atau memaksakan pengetahuan itu sebagai gagah-gagahan penulis. Memang sih tidak ada adegan pembedahan, tapi itu tak mengurangi kekaguman saya pada pengetahuan yang diterima sebagai pembaca. Karena detail-detail itulah saya berasumsi Mala melakukan riset yang berdarah-darah, ternyata menurut pengakuannya, tidak begitu. Berarti penulis memang menguasai latar profesi yang diangkatnya.

Kalau kamu nggak bisa masak, itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Walaupun aku kadang juga pengen … yah … up-grade sedikit lah skill-mu. Paling enggak, kamu harusnya sudah tahu, berapa takaran garam yang pas dalam satu porsi makanan. –Halaman 6

Keterkejutan kedua adalah kerapihan penulisannya. Sebagai penulis yang mengaku tidak terpikir akan menjadi penulis, (yang sok tahunya saya) mungkin awalnya novel ini ditulis tanpa beban, karya Mala ini saya nilai baik. Penulis bisa menggambarkan fisik para tokohnya, begitu pula dengan latar tempatnya. Pembaca bisa membayangkan apa yang ditulis di sana dengan panduan deksripsi Mala, tanpa harus mereka-reka sendiri seperti apa tokoh dan tempat kejadian. Meskipun untuk latar tempat dan waktu tak begitu terperinci, tapi cukup membeberkan keadaan. Kemudian, editannya juga cukup rapi. Hanya beberapa saja typo-nya. Saya melihat kerja harmoni antara penulis dan editor dalam menghasilkan karya ini.

Yang membuatnya resah adalah, apa yang akan dihadapinya setelah beribu mil dia tinggalkan tempatnya berpijak kini. Tempat yang telah membentengi perasaanya dengan keamanan multi-lapis, pada sesuatu yang paling memiliki kekuatan untuk memberi serangan menyakitkan pada hatinya. –Halaman 20

Dari segi pemilihan kata. Mala jelas memiliki perbendaharaan yang baik. Mala pun seringkali memakai rumus rima kata dalam paragraf-paragrafnya. Kalimat-kalimat di dalamnya menjadi paduan antara puitis dan lugas yang muncul di saat-saat yang tepat. Apalagi ditambah istilah-istilah kedokteran yang jelimet. Namun seperti saya bilang tadi, informasi kesehatan yang bertebaran disampaikan menjadi bagian cerita sehingga pembaca tak merasa dijejali badai pengetahuan yang bikin pusing.

Setahunya rasa cemburu adalah manifestasi paling nyata dari rasa memiliki, rasa cinta yang dimiliki seseorang. –Halaman 317

Memang, dialog-dialognya memakai bahasa kaku, tetapi menilik profesi tokohnya, terasa wajar saja. Kadang muncul pula dialog ‘nakal’ dan santai. Cukup menghidupkan dan mengokohkan karakter para tokohnya. Saya juga melihat, para tokoh Unforgettable Chemistry konstan dari awal sampai akhir, tidak ada ketidakkonsistenan. Kalaupun ada perubahan berupa letupan-letupan, itu pun jelas pemicunya, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai tidak konsisten.

Rumah adalah tempat mengisi ulang semangat dan daya hidup untuk menjalani hari-hari selanjutnya. –Halaman 98

Saya senang sekali novel ini karakternya tidak hitam putih. Manusiawi saja. Meskipun dari segi fisik sempurna semua. Tapi sifat-sifatnya bukan manusia super. Apalagi tokoh wanita dan pria antagonisnya sama sekali tidak digambarkan menyebalkan ataupun bitchy. Pembaca digiring bersimpati pada tokoh utamanya bukan karena antagonisnya penjahat kelas rendahan. Ini sungguh melegakan. Bisa dibilang saya menyukai semua tokohnya, bersimpati pada mereka, dan juga peduli mengikuti nasib mereka sampai akhir. Chemistry para tokohnya cukup tergambar baik.

Dokter itu diam-diam memperhatikan pula keseluruhan penampilan pasiennya. Dan berkesimpulan bahwa pasiennya ini mungkin termasuk dalam golongan wanita berpendidikan dengan tingkat ekonomi yang baik. Tapi dokter itu tahu, bahkan para wanita dari golongan itu pun sering kali cenderung menutupi dan tak ingin diketahui orang lain manakala mendapatkan pelecehan ataupun kekerasan seksual. –Halaman 171

Kisah Unforgettable Chemistry yang mengangkat tema cinta masa lalu dan perselingkuhan memang berpotensi membuat pembaca sebal. Mala cukup berani mengangkat tema tersebut apalagi mengingat latar profesi tokoh utamanya yang dosen dan dokter. Namun bagaimana Mala memilin jalinan ceritanya justru membuat topik ini tak mengganggu, setidaknya buat saya. Memang, untuk saya letupannya agak kurang menyentak. Plotnya kadang agak lambat. Dan saya mengharap ledakan yang lebih menggelegar dari konflik-konflik itu. Tapi di tiap akhir bab, Mala berusaha meninggalkan berbagai pertanyaan, berbagai kemungkinan, dan mengakhiri dengan tepat sehingga membuat penasaran. Novel romantis ini tak hanya bicara cinta, tapi juga realita, dan dibungkus pula sub konflik yang lumayan kaya. Seperti kekerasan dalam rumah tangga. Ending kisahnya pun realistis. Melupakan chemistry tak mudah dan bisa jadi tak mungkin, tapi bagaimana memuarakan chemistry, itu adalah pilihan.

3 Bintang untuk novel ini.

picsart_11-21-11-42-11

Giveaway

Mau novel Unforgettable Chemistry? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @malashantii dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GAChemistry dan mention akun twitter saya dan Mala.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter dan goodreads kamu.

Pernah merasakan chemistry yang sangat kuat dengan seseorang? Ceritakan pengalamanmu.

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal sampai 23 – 29 November 2016. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 30 November jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Ada satu novel Unforgettable Chemistry bertanda tangan penulis sebagai hadiah

Ditunggu partisipasinya 😀

[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Beat Of The Second Chance: Read And Feel The Beat

picsart_11-02-03-45-35

Cover novel Beat Of The Second Chance (diambil di studio mini artisticinside)

Bicara tentang kesempatan, kadang kala ada yang tak percaya bahwa kesempatan kedua benar-benar bisa datang dalam kehidupan. Seperti judulnya, Beat of the Second Chance membahas tentang kesempatan kedua, bukan serupa keajaiban, tetapi diraih secara sadar. Novel ini bukan menjual mimpi kosong, tapi dikemas dengan mengkombinasikannya realitas.

Seperti biasa dalam postingan blog tour, sebelum membahas novel dari pembacaan saya, kita kenalan dulu dengan penulisnya.

Siapa Zachira Indah?

img-20160416-wa0034

Zachira Indah mengaku sebagai perempuan introvert kelahiran Tegal yang sangat cuek dengan banyak hal. Tapi seriusannya, bagi orang yang sudah mengenalnya, Zachira ini punya karakter yang pedulian, ramah, dan enggak keberatan berbagi ilmu. Ibu dari dua malaikat unyu, penggila Game of Throne dan pecinta makanan manis yang selalu gagal diet. Sedikit terobsesi dengan minuman cokelat panas.

Ini list novelnya yang sudah terbit, Diamond Sky In Edinburgh (Diva Press), Kimi no Hitomi ni Hikari (Grasindo), The Wedding Storm (Grasindo), Dearest (Grasindo), Homeless (Grasindo), Beat of Second Chance (Grasindo).

Zachira bisa dihubungi melalui akun twitter @zachira, IG @zachira.indah dan email zachira.indah@gmail.com. Sekadar kenalan atau curhat akan ditanggapi dengan senang hati.

Sesi Kepoin Zachira Indah

1. Novel Beat of the Second Chance berlatar musik yang kuat, bagaimana riset Zachira untuk menghidupkan musik di novel ini? Apa memang secara pribadi Zachira memang pernah terjun di dunia musik?

Secara pengalaman, saya memang pernah bersentuhan dengan alat musik drum, sejak SMP hingga kuliah. Karenanya selain alasan personal, menurut saya memainkan drum itu menyenangkan. Begitu pula dengan menuliskannya sebagai sebuah novel.

Bedanya, saya dulu belajar drum hanya otodidak dan nggak menerima teori-teori bahkan nggak bisa baca not drum. Baru saat riset saya pelajari sedikit-sedikit, karena kemudahan akses informasi, membaca not balok (drum khususnya) bukan hal yang rumit. Thanks to youtube, majalah musik, dan situs online drummer lesson, membuat saya sangat enjoy menggabungkan pengalaman pribadi dan riset ke dalam sebuah tulisan. Oh ya, saya bahkan sampai menyewa studio sendiri untuk benar-benar merasakan atmosfer duduk di belakang drumset dan mengayunkan stik drum. Selain untuk nostalgia, juga untuk kepentingan riset di mana saya mencoba bermacam variasi drum fills. Hehe… Seru pokoknya.

2. Kenapa memilih membahas drum?

Karena drum itu menyenangkan. Preferensi musik yang saya sukai memang dekat dengan genre musik rock, alternatif, pop rock, slow rock, hip metal dan segala hal yang berbau gebukan drum yang atraktif. Secara otomatis, dari alat musik dan genre itu sendiri sudah mengesankan dekat dengan kehidupan anak muda khususnya generasi modern musik. Jadi temanya pun otomatis menyesuaikan.

Selain itu, ini untuk membedakan tema dan tone cerita dari novel saya sebelumnya. Kebetulan di novel Diamond Sky in Edinburgh saya mengambil setting musik klasik pula dengan piano dan celo sebagai instrumennya. Singkatnya, untuk memberikan variasi pada pembaca. Alasan lain, karena saya sendiri pun jarang menemukan novel bertema tentang drum sebagai alat musik.

3. Ceritakan pengalaman luar biasa di dunia menulis.

Pertanyaan berat nih… Hehe karena saat ini saya masih merasa nggak tenar-tenar amat di kalangan pembaca. Dari dulu penyakit kronis saya ada di rasa minder dan kurang pede yang kadang suka kumat dikombinasikan dengan sifat introvert bawaan. Tapi ada satu wadah yang lumayan ‘menyelamatkan’ penyakit kronis itu biar ga jadi parah-parah bingit gitu.

Saya bergabung dalam komunitas kampus fiksi dan mendapatkan apresiasi pada satu cerpen lama di dalam acara kampus fiksi itu (yang menjadi cikal bakal novel Diamond Sky in Edinburgh). Mungkin ini kedengaran biasa, tapi Pak Edi yang menjadi CEO penerbit yang membentuk wadah kampus fiksi itu–yang hari itu bertindak sebagai pembedah–memberikan apresiasi yang tinggi untuk cerita yang waktu itu saya anggap biasa-biasa saja. Saya terharu, dan merasa diri sendiri yang saat itu semangat nulisnya lagi tiarap karena kesibukan kerja mendadak punya rasa percaya diri. Dan dari sanalah semua berawal akhirnya saya konsisten terus menulis.

Ditambah pula,  sejak itu saya jadi pede ikut lomba, thanks untuk komunitas KF yang juga jadi kompor penyemangat hingga sekarang. Ditambah tahun kemarin dan beberapa waktu lalu saya menjadi pemenang kedua di satu lomba penulisan novel berhadiah trip ke Korea dan menjadi pemenang kedua juga di lomba penulisan novel Young Adult. Hanya pemenang kedua tapi itu sesuatu banget untuk penulis minderan kayak saya….

Beuuuh, total banget ya risetnya, sampai nyewa studio segala 😀

img_20161101_154338
Data Buku

Judul : Beat of the Second Chance
Penulis : Zachira Indah
Penyunting : Cicilia Prima
Penerbit : Grasindo
Cetakan : Pertama, September 2016
Halaman : vi + 250 hlm
ISBN : 978-602-375-6896

Blurb:

Galang, mantan drummer Three Notes sebuah band terkenal terpaksa berhenti dari dunia musik karena kehilangan satu kakinya dalam kecelakaan. Dunianya kini adalah pertaruhan untuk survive dalam hidup dan pekerjaan yang tidak mengizinkannya, memiliki kesempatan karena statusnya kini adalah ‘orang cacat’.

Di satu sisi, Nessa dokter muda yang di ambang kesuksesan karena mewarisi rumah sakit keluarga di Melbourne mulai ragu dengan keputusannya. Pertemuannya dengan Galang membangkitkan mimpi lama tentang menjadi drummer saat dirinya masih mengidolakan laki-laki itu.

Dulu, mereka tidak percaya lagi pada mimpi.
Dulu mereka menyerah dengan keadaan.
Tapi sebuah pertemuan memercikkan harapan keduanya untuk membalikkan keadaan.
Yang mereka butuhkan hanya kesempatan.
Sebuah kesempatan kedua.

 Review Buku
Novel berjudul seksi “Beat of the Second Chance” merupakan novel music series terbitan Grasindo, menceritakan tentang Nessa yang punya kebiasaan meninggalkan semua hobinya sebelum melewati waktu tiga bulan. Sebagai kutu loncat, dia selalu menemukan ketertarikan pada banyak hal. Termasuk pada drum. Awalnya karena dia bertemu dengan Galang si drummer beken yang memberi Nessa stik sebagai hadiah. Sayangnya, tekadnya untuk bisa bermain drum ikut hancur saat Galang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya diamputasi. Selang dua tahun mereka bertemu lagi. Akankah Nessa menerima sosok Galang yang berubah total?
“Rim, lo tahu kan role model gue belajar main drum itu Galang sendiri? Gimana bisa dia terus jadi role model gue kalau ternyata sekarang dia udah nggak berhubungan dengan drum lagi karena kakinya diamputasi?” –Halaman 26
Karakter Nessa ini mengingatkan saya pada diri sendiri yang persis seperti Nessa. Saya pernah kepengin bisa nge-dance, pengin jadi penyiar radio, bahkan sampai kepengin juga bisa jadi drummer perempuan. Jadinya membaca novel ini saya serasa diajak bernostalgia pada masa SMA di mana saya pernah minta diajari main drum oleh sahabat saya. Waktu itu saya pun menyewa studio khusus buat belajar, tapi baru dua kali saja saya sudah menyerah karena ternyata menjadi drummer itu susah. Saya belajar nge-dance cuman satu kali pertemuan, dan hanya bertahan sebulan saja jadi penyiar radio XD
Let me guess. Kamu pasti masih SMA.”
Tanpa diduga, seorang pria yang tengah duduk di kursi bar di sampingku mengajak bicara. Aku sempat menengok kanan kiri, memastikan bahwa “anak SMA” yang dimaksudnya adalah aku. Sesaat aku berpikir, apa ini jenis rayuan terbaru yang sedang populer? –Halaman 39
Saya dan Nessa tentu saja dua pribadi yang berbeda, karena kalau saya punya alasan se-shalow itu untuk berhenti menekuni satu bidang, Nessa punya satu trauma yang membuatnya tanpa sadar jadi kutu loncat. Dan itu merupakan twist yang bikin saya tercengang. Rapi sekali Zachira menutupinya hingga tiba saat membuka di akhir tanpa menjadikannya twist yang maksa.
Aku tetap berjalan dan tidak memedulikan dua orang yang kuanggap hina karena telah memakai kata ‘cacat’ sebagai atribut untuk menghina orang lain. –Halaman 43
Penceritaan novel ini terbagi menjadi dua suara. POV Nessa dan sudut pandang Galang. Zachira berhasil membuat kedua suara itu punya bunyi yang berbeda. Suara Galang tetaplah maskulin meski ditulis oleh perempuan. Karakter keduanya tergambar jelas, bahkan hampir tak terasa intervensi pada masing-masing karakter. Selain kedua tokoh utamanya, semua tokoh di novel ini memang kuat dengan deskripsi yang ditebar lewat narasi dan dialog yang luwes. Tidak ada deh bagian yang menjejalkan deskripsi karakter hingga pembaca sesak karena menerima informasi yang bertubi-tubi. Karakter favorit saya jatuh pada Lola second lead female novel ini. Bukannya saya tidak simpati pada Nessa, tapi tokoh dengan kepolosan seperti dia kurang menarik di mata saya. Chemistry semua tokohnya terjalin sangat baik. Apalagi saat mereka berdialog. Dialog-dialog di novel ini sangat hidup, mengimbangi narasinya yang cantik dan rapi. Ada pun hal yang mengganggu saya adalah pemakaian kata “cacat” yang terlalu sering, tanpa diimbangi dengan pemilihan kata “difabel” yang lebih terhormat.
Berikutnya, semua orang seolah bersatu untuk mengejeknya dan mengucapkan “Huuu…!” yang panjang. Seolah mereka terkena penyakit yang sama. Krisis kemanusiaan. –Halaman 44
Pada mulanya, saya sulit mempertahankan kesadaran ketika membaca Beat of the Second Chance. Terus terang bab prolognya membuat saya mengantuk, dan akhirnya menyerah untuk membesokan saja ritual baca. Tentu saja hal ini tidak pernah terjadi pada pengalaman baca saya pada karya-karya Zachira sebelumnya. Padahal tema novel ini seksi banget: drum dan impian. Jangan salah sangka bahwa yang membuat perilaku anomali saya itu karena bab prolognya membosankan. Bab pembuka novel ini sesungguhnya sudah nendang dengan cuatan konflik yang tinggi. Setelah saya ingat-ingat, hal ini disebabkan oleh cara penulisan Zachira yang pada awalnya kurang luwes, padahal biasanya gaya bahasa penulis lancar mengalir menghanyutkan. Tapi Zachira ini memang penulis yang lihai, karena mulai bab selanjutnya sampai ending, saya dibuat terkesan dengan cerita dan teknik penulisannya yang kembali prima. Deskripsi tempatnya yang cukup detail pun sangat membantu menggambarkan suasana. Zachira memiliki kosakata yang kaya dan diksi menarik. Apalagi humor cerdas meski terkadang agak sarkasnya selalu berhasil membuat saya tertawa. Zachira ini memang selalu fresh dalam tiap karyanya.
Aku memutuskan belajar drum karena ingin jadi sepertimu, berharap kita bakal ketemu lagi saat aku udah cukup mahir untuk membuatmu menyadari bahwa kamu berhasil mengubah hidupku. –Halaman 62
Novel ini kaya akan konflik, didominasi oleh konflik realistis, meski tetep ada sentuhan melangit. Konflik keluarga, impian, beratnya berlatih musik, intrik band, dan tentu saja cinta. Dunia musik tidak digambarkan gemerlap dan menyilaukan, justru novel ini memperlihatkan masalah apa adanya yang terjadi di balik industri musik. Menariknya lagi, Zachira juga menyertakan strategi mengangkat popularitas dari berbagai hal. Hubungan, bumbu drama, hingga peranan media sosial. Bahwa untuk menjadi profesional, banyak hal harus dikorbankan. Butuh mental dan kecintaan besar untuk bertahan di industri musik. Ketika telah rasanya mencapai puncak pun rentang jatuh dalam sekejap. Di sinilah makin menariknya cerita, bagaimana proses meraih impian untuk ‘kedua’ kalinya.
Namun, dibandingkan kisah antara Galang dan Nessa di masa kini, saya paling menikmati bagian masa lalu Galang dengan band Three Notes serta cinta pertamanya. Saya selalu menunggu-nunggu flash back hidup Galang.  Saya beri dua jempol untuk kisah cintanya yang disampaikan dengan lembut, perlahan tapi kuat, dengan pengadegan yang tidak terasa klise. Dan ya, saya selalu ikut terbawa suasana. Dada ikut berdebar-debar, dan tanpa sadar wajah saya memerah. Konflik keluarganya pun memikat sekaligus membuat miris.
Porsi pembagian konflik besar yaitu impian, cinta, dan keluarga dalam novel ini terbagi dengan rata. Dan suprise-nya lagi, setiap konflik itu memiliki twist-nya masing-masing. Saya menyukai ending dari setiap konfliknya yang diselesaikan juga dengan cukup realistis.
Masa-masa keemasan dalam hidupku, meskipun menjadi musisi indie bukan perkara mudah, mengingat waktu, biaya, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi tak ada yang bisa menggantikan sensasi bahagia dan adrenalin yang meluncur deras saat beraksi di depan ratusan penonton…
–Halaman 81
Keunggulan novel ini juga terletak di pembahasan drum-nya yang jauh dari tempelan. Saya bahkan berpikir bisa belajar teori nge-drum dari novel ini. Pembaca akan menemukan berlembar-lembar bagian novel yang menerangkan tentang teori dan deskripsi praktik nge-drum. Saya diajak berkenalan dengan tempo, snare, tom, cymbal, dan istilah-istilah lainnya. Selain itu Zachira dapat mentransferkan perasaan musisi saat tampil di atas panggung dengan baik, hingga saya tersihir seakan ikut menjadi penampil. Seolah penulisnya memang benar-benar seorang drummer, dan ternyata memang Zachira melakukan riset yang amat mumpuni. Proses penulisan memang tak akan menipu 😀 Jangan khawatir pembaca akan bosan membaca bagian ini, karena Zachira menulisnya dengan cantik sehingga rentetan teori itu enak dan nyaman dibaca. Beat of the Second Chance memiliki tempo penceritaan yang pas. Kalau buat saya ini seperti musik easy listening dengan lirik dalam yang tersebar dalam pesan-pesan mode non ceramah. Kata-kata quotable-nya serupa lirik lagu yang menghanyutkan.
Dunia emang sakit, tapi jangan ikut-ikutan sakit sebelum lo ngerasain gimana rasanya bangkit lagi setelah lo jatuh tersungkur. –Halaman 82
3,5 Bintang untuk novel ini. Saya sarankan saat membaca novel ber-cover cantik ini kamu memutar lagu-lagu yang judulnya tertera di setiap bab. Yup, judul tiap bab novel ini diambil dari judul lagu. Kamu akan lebih menghayati isi novelnya 😀 Saya rekomendasikan Beat of the Second Chance untukmu yang menyukai musik dan romance.
blog-tour-zachira-edit

Giveaway

Mau novel Beat of the Second Chance? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @zachira dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GABOTSC dan mention akun twitter saya dan Zachira.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Pernahkah kamu mengidolakan seseorang? Tindakan paling gila apa yang kamu lakukan untuk memperlihatkan kecintaan terhadap idola itu?

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 2 sampai 8 November 2016. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 9 November jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Ada satu novel Beat Of The Second Chance bertanda tangan penulis sebagai hadiah.

Ditunggu partisipasinya ya ^_^