Racauan – Resolusi Basi

Resolusi Basi

 

Di mana-mana orang-orang bertanya: Apa resolusimu tahun 2013?

Setiap kali mendengar atau membaca itu saya selalu kebingungan menjawabnya. Bukan, bukan tidak punya pencapaian dan mimpi di tahun 2013. Tapi pertanyaan itu membuat saya enggan menjawabnya.

Namun di suatu ketika di masa lalu, saya sangat tergila-gila menuliskan resolusi. Bersama dengan ketiga sahabat saya. Kami berempat selalu bertukar resolusi, bahkan resolusi itu kami tuliskan dan tempel di dinding kamar. Anehnya, dengan segudang resolusi itu, obrolan tetap kami saat berkumpul adalah berkutat dengan pertanyaan: mau jadi apa kita nanti?

Lalu setiap akhir tahun, kami akan mengevaluasi poin-poin resolusi yang tercapai dan tidak. Kenapa itu bisa terjadi. Ya, layaknya semua orang.

Sampai dua tahun ini, saat kami sudah tercerai berai (ungkapan jadul banget). Sibuk dengan kegiatan masing-masing yang lebih terarah pada impian. Kami berinteraksi lewat inbox, saling menanyakan resolusi. Dan ternyata kami dengan kompak menjawab: gak ada!

Dengan heran saya bertanya, kenapa mereka tidak membuat resolusi? Salah satunya menjawab, belum terpikir. Satu lagi menjawab, memang gak punya. Sedang satu orang lagi, katanya bingung. Saya juga memang gak ada.

Anehnya, saat resolusi itu tidak lagi kami tulis dengan detail, justru kami sudah tidak lagi bertanya: mau jadi apa nanti?

Apa mereka sukses di tahun ini? Dalam ukuran saya iya. Apa yang mereka impikan bertahun-tahun lalu tercapai di tahun ini. Tahun tanpa resolusi.

Atau mungkin impian itu tercapai karena dulu pernah menuliskan resolusi? Apa untuk tahun depan saya lebih baik membuatnya lagi? Atau cukup berpikir kalau resolusi sudah basi!

Advertisements

Sell Your Soul! – Buku antologi thriller.

Judul: Sell Your Soul!
ISBN: 978-979-25-4858-8
Tebal: 128 halaman + xv

Penulis : Bintang Berkisah, Eny Puji Lestari, Erry Sofid, Eva Sri Rahayu, Evi Sri Rezeki, Felis Linanda, Lewi Satriani, Marrisa Amar,
Mpok Mercy Sitanggang, Poppy D. Chusfani, Ratih Handayani, Shita K. Larasati, Vincentia Natalia, Weni M. Waluyani, Yunis Kartika

Desain Cover: Evi Sri Rezeki
Layouter: Sandy Muliatama
Penyunting: Eva Sri Rahayu
Penerbit: Chibi Publisher
Tahun terbit: 2012
Harga: Rp. 30.000

“Apa yang sebenarnya kauinginkan?” gadis itu bertanya.
Aku menatapnya lekat-lekat, menyadari betapa matanya menyorot bijaksana, tapi juga berhasrat. “Keabadian,” jawabku. “Namaku dalam sejarah.”
“Dan untuk itu kau harus merasakan kesedihan?” gadis itu bertanya lagi.

Bukan Keabadian – Poppy D. Chusfani.

High heels-ku menginjak darah segar yang mengalir dari tubuh orang itu, darah bercampur dengan air hujan. Orang itu terkapar tidak jauh dari mobilku dengan keadaan mulut terbuka, mata melotot dan kepala sobek, bahkan aku bisa melihat otaknya. Orang itu jelas sudah tidak bernyawa. Aku membekap mulut agar tidak menjerit.

Keep Silent! – Eva Sri Rahayu.

Aku menyedot rokok dalam satu tarikan panjang lalu mengepulkan asapnya ke wajah Amy. Kepulan asap rokok menyeruak ke dalam hidung si gadis kecil dan menyelusup masuk hingga ke pori-pori kulitnya. Aku sampai bisa melihat asap keluar dari sana di antara kulitnya yang telah mulai rusak oleh pembusukan. Di tengah kepulan asap kelabu aku melihat gadis kecilku membuka matanya, “Mami?”

Sebatang Rokok Merk Olimpia – Lewi Satriani.

Darah berbusa mengucur dari lubang matanya. Kuperlihatkan bola matanya yang tertusuk ujung obeng ke hadapan matanya yang menatap gemetar. Aku menyeringai.

Kematian Bidadari Mata Biru – Erry Sofid.

Lamat-lamat Deri bangun dari tidur berjalan sempoyongan menghampiri Pak Dimas, tangannya menggenggam sebuah cutter, perlahan memotong bagian lehernya. Darah berceceran, Deri terus memotong leher sendiri. Mulut Deri bergerak-gerak mengeluarkan suara memilukan.
“To … long … hen … ti … kan … a … ku ….”

Siapa pun Tolong Hentikan Aku – Evi Sri Rezeki.

“Anak Setan! Anak Setan! Anak Setan! Bakar!!!” teriak warga dusun dengan beringas. Ludah berhamburan dari mulut mereka dengan penuh kebencian. Mata mereka membelalak, melotot dan menyala. Tubuh mungilku di seret, di arak menuju lapangan dekat balai dusun.

666 – Yunis Kartika.

Aku gemetar ketakutan, sambil terus menangis. Aku benci diriku yang cengeng. Tanpa sadar, tanganku mulai menampar pipiku sendiri. Dana bangkit berdiri, tertawa sambil berjalan ke arah pintu. Di depan pintu, tiba-tiba Dana menghentikan langkahnya, dia menoleh padaku dan mengancam. “Buat gue, loe udah mati, Dani. Gue malu punya kembaran cacat kayak loe!”

Kembar – Mpok Mercy Sitanggang.

Setelah memaki-maki, ibu pergi ke kamarnya dan membanting pintu. Aku yang masih dalam keadaan shock hanya bisa mematung. Okaa-san? Muak? Ibuku sendiri muak melihatku karena aku mirip ayahku? Muak?! Ha! Ingin rasanya tertawa dan menangis lalu mati dalam waktu yang bersamaan. Mereka berpisah kan bukan salahku! Haha …. Hidup yang lucu!

Crystallize Dust – Shita K. Larasati

Aku mengeluarkan buku yang kunamakan buku kematian. Aku membukanya dan melihat tulisanku sendiri, ‘Joki Aditya, meninggal karena keracunan makanan jam 06.40’. Tiba-tiba tulisan itu menghilang. Aku terkejut dan hampir tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri.

Death Book – Felis Linanda

Merah, semerah darah. Semerah hatiku yang berdarah-darah. “Pembohong …,” jawabku pelan sambil menutup telepon. Aku pun menangis sambil mengutuki kristal tersebut. Mengutuki kejujuran kristal tersebut. Mungkin kehidupanku akan lebih bahagia kalau saja aku tidak pernah memilikinya.

Kristal Hati – Marrisa Amar

“Tolong! Kumohon siapa pun!!” Aku berteriak sekeras mungkin. Tapi tak ada seorang pun yang bergerak. Aku makin panik, semua anggota tubuhku terasa sakit. Aku benar-benar tidak tahu mengapa hal ini terjadi padaku. Sampai tiba-tiba rasa sakit mulai mengumpul di dada kiriku, di jantungku.

Menggadaikan Masa Depan – Weni Mardi Waluya

Darah menggenangi tanah tempat kami terbaring. Ingin meminta tolong, namun suara tak bisa keluar, tubuhku juga menolak untuk bergerak karena rasa-rasanya ada tulang yang patah di punggung. Alih-alih menolong, orang-orang hanya berlalu pergi karena pertunjukan sudah usai. Dalam kesakitan, aku merasa lega melihat Billy tidak bergerak lagi, kalau perlu, selamanya.

Ill Will – Vincentia Natalia

Kupikir anak itu semakin gila. Pikirannya sudah dirasuki setan. Beraninya ia menuduhku hendak membunuh ayahnya. Mungkin ia pikir, bubuk yang kutuang dalam minuman suamiku adalah racun. Benar-benar anak bodoh. Padahal itu oralit. Bagaimana mungkin aku meracuni suamiku sendiri?

Seteru – Bintang Berkisah

Keluar sebuah gambar polaroid. Kaget. Yang lebih mengagetkan lagi, tak ada sosok aku di situ. Terdapat seorang lelaki yang duduk di sebelah Citra, tapi bukan aku. Padahal aku ingat betul, harusnya yang duduk di situ adalah aku. Tapi, tunggu, matanya Citra sungguh mengatakan jatuh cinta yang amat dalam pada sosok laki-laki ini. Siapa dia?

Telaga Warna – Ratih Handayani

Terdengar suara letusan ban lalu disusul suara ban beradu dengan aspal yang siapa pun mendengarnya pasti akan merasa sesuatu mengiris ulu hatinya. Aku menyaksikan beberapa mobil bertabrakan di depan mataku. Orang-orang terkejut dan berteriak.

When I Couldn’t Let You Go – Eny Puji Lestari

 

Cover Sell Your Soul!

[Cerpen] “Orang Asing” Bagian 2 – Dimuat di Batak Pos, Sabtu 22 Desember 2012

[Foto milik pribadi]

[Foto milik pribadi]

Orang Asing

Eva Sri Rahayu

 

Lamunanku selesai saat menginjakkan kaki di gedung pertunjukkan. Aku duduk di tempat VVIP, hingga leluasa menonton. Malam ini Dean tampil sempurna, aura panggung membuatnya bercahaya. Dean menemukan passion-nya, menjalani hidup impiannya. Ada haru merayap, pria itu mencintaiku dengan segenap jiwanya. Ya, aku yakin dia mencintaiku. Perlakuannya padaku istimewa, dan rasa itu disampaikannya dengan baik, hingga aku menyadarinya.

“Selamat, Dean,” kataku sembari menyerahkan rangkaian bunga ke tangannya.

Dean menerima bunga itu, ucapnya, “Sadarkah kamu, kedatanganmu adalah energi terbesar untukku. Pertunjukkan tadi kuhadiahkan untukmu. Ah tidak, kamu berhak mendapatkan lebih.” Dia tersenyum tulus.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan mengenal Dean, ada aliran hangat menyusup dalam hatiku. Aku benci mengakui itu. Lalu keheningan hadir di antara kami, hanya suara ac mobil sebagai musik pengiring.

“Rasi ….” Mendengar Dean menyebut namaku lembut, aku mendongak menatap matanya. Dean tiba-tiba mencium keningku. Muncul sensasi baru, debaran jantung yang kutunggu itu hadir, semakin tidak teratur. Mungkinkah Dean berhasil mentrasfer cintanya. Tidak mungkin, ini pastilah lagi-lagi cinta palsu.

“Aku mencintaimu,” bisik Dean di telingaku. “Tak usah kamu jawab, aku tahu kamu butuh waktu,” ucapnya lagi, saat menangkap keraguan di mataku.

***

Sudah lama aku tak merasa sebimbang ini. Cinta memang makhluk menyebalkan, suka menyamar, dan menghilangkan keseimbangan. Saat aku sibuk mereka hati, Dean menelponku.

“Rasi, aku menciptakan lagu untukmu. Maaf, ya, kamu bukan pendengar pertama. Produserku setuju lagu ini akan dijadikan single.” Dean bersemangat. Keceriaannya kadang menenggelamkanku, tapi kali ini aku merasakan hal yang sama.

“O, ya. Aku ingin dengar.” Seandainya aku tidak yakin sedang sendirian, aku tidak akan percaya bahwa kalimat dengan nada bahagia itu terucap dari bibirku.

“Tunggu, aku ngambil gitar dulu.” Beberapa detik tidak terdengar apapun. “Judulnya ada aku.” Lalu petikan gitar mengalun.

Berdiri sendiri di atas luka. Aku tahu kamu memang sepi itu sendiri.

Kuminta lelahmu, biar kita berbagi takdir. Sedetik saja percaya aku.

Aku ada untukmu, hapus hampa serupa hujan. Mari kita buat jejak yang tak terhapus masa. Ada aku, tempatmu pulang ….

Suaranya jernih melenakan. Menggetarkan hingga ke jiwa. Kali ini, bolehkan aku mempercayai diriku, cintaku.

“Gimana?” tanya Dean. Aku diam, tidak menanggapi pertanyaannya. Kehilangan kata-kata, sepertinya huruf-huruf enggan terangkai. “Rasi, kamu baik-baik aja? Masih ada di sana?”

“Lagunya indah,” jawabku pendek, ketika akhirnya bisa mengucapkan sesuatu. Satu kalimat yang membahagiakan Dean.

“Rasi, aku pengen ketemu kamu sekarang, bolehkah?”

“Ya.”

“Di kafe tempat kita pertama ketemu, aku tunggu setengah jam lagi, jangan terlambat.” Keriangan Dean kadang membuatnya tampak seperti anak kecil, sekaligus membuatku merasa sangat berarti.

Setelah tiga tahun tenggelam dalam rasa hambar, kuputuskan untuk mencintai.

***

Aku menatap Dean tak percaya, sungguhkah pengelihatanku. Pria di depanku ini sangat berbeda dengan Dean yang kukenal. Wajahnya begitu murung, lebih dari awan mendung. Lebih anehnya, dia tidak mengenalku.

“Rasi? Aku tidak punya teman bernama Rasi. Tinggalkan aku! Aku hanya ingin sendiri!” katanya kasar. Aku mundur beberapa langkah. Tapi tidak pergi, hanya menatapnya jengah.

Dean menatap ke luar jendela, tapi tatapannya kosong. Tangannya gemetar saat mengambil gelas berisi kopi, hingga sedikit tumpah. Diambilnya tisu dengan kesal. Tiba-tiba dia menangis sesegukan. Kemudian dia sadar kuperhatikan, kini Dean menatapku penuh kebencian. Kali ini cukup membuatku tak ingin melihatnya lagi seumur hidup!

***

Hampir tiga bulan aku tidak bertemu dengan Dean. Kami lost contact begitu saja, sepertinya di antara kami tidak ada niat saling menghubungi. Aku merasa disia-siakan. Ternyata cinta dalam hidupku memang tak ada. Seharusnya dari awal aku tidak usah membiarkan diri untuk mencintai lagi. Hingga tiba-tiba hari ini dia hadir kembali, mengusikku.

Hujan turun sedari pagi, tanah lembab menguar bau yang khas. Dari balik pintu, kudapati Dean dengan keadaan basah dan kacau. Matanya menyampaikan kerinduan yang dalam. Saat melihatku, dengan spontan dia memelukku erat, seakan tak ingin lagi terlepas. ”Rasi ….”

“De … an … se … sak ….”

Dia melepaskan pelukannya. “Maaf.”

Setelah duduk dengan handuk di kepalanya, Dean menjelaskan semua tanya yang tersisa dari pertemuan terakhir kami. Tahulah aku, kalau Dean memiliki kepribadian ganda. Saat pribadinya yang lain muncul, ingatannya hilang.

“Waktu kecil, aku sering disiksa oleh Ayahku. Aku tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan murung di rumah, tapi ceria dan disukai semua orang di luar. Sampai aku dewasa seperti sekarang, tak ada lagi sekat antara rumah dan dunia luar. Aku bebas. Hal itu justru membuatku bisa kambuh kapan saja. Tolong aku Rasi, jangan pergi.” Dean terisak putus asa, sementara aku menanggapinya dengan wajah datar.

“Kenapa kamu bisa melupakanku? Kenapa aku? Apa aku tidak penting hingga bisa kamu lupakan?”

Dean tercekat mendengar pertanyaanku, ada sayatan yang hadir di hatinya. “Bukan mauku, Rasi. Itu terjadi begitu saja. Aku … justru kukira karena kamulah yang terpenting dalam hidupku.” Matanya menatap nanar.

Aku ingin memeluk Dean, ingin meringankan bebannya, tapi yang terjadi, aku bersikap begitu dingin. Sudah lama aku tidak pernah mengeluarkan air mata. Hatiku terlalu beku.

“Suatu hari, aku akan menetap pada satu pribadi saja. Aku tidak mau hidup sebagai pesimis.” Dean tergugu lagi, ditutupnya muka dengan kedua tangan.

Tatapanku jatuh pada tangan Dean, ada guratan-guratan luka di sana. Perlahan aku menyentuhnya. “Ini?”

Dean mengangkat wajahnya untuk menatapku. “Bekas percobaan bunuh diri.”

Terbesit pikiran jahat di kepalaku. Apakah aku mau menghabiskan sisa hidupku untuk pria ini. Lelaki yang sakit, yang bahkan bisa melupakanku kapan saja. Cinta, tak cukup membuatku ingin menyerahkan hidup dan masa depan padanya. Naluriku benar, lagi-lagi, cintaku palsu, mudah layu.

***

Ada fase dalam mengenal seseorang. Awalnya dia adalah orang asing, kemudian mengenalnya, lalu dekat, berhubungan. Muncul cabang, apakah dia akan terus menjadi bagian hidup kita atau berakhir, kembali menjadi orang asing.

Aku tidak bisa membohongi hati nurani, bahwa aku mencintai Dean itu benar. Tapi cinta memiliki batas waktu, setidaknya bagiku. Untukku, cinta yang tidak memiliki terasa lebih memorable. Maka aku memilih mengabadikan cintaku dan Dean dalam tulisan. Karena cinta memiliki limit, biar kutentukan sendiri waktunya. Kuakhiri secepat aku bisa.

Lalu hari ini, aku duduk di tempat favoritku. Sebuah kebetulan, Dean ada di sana, duduk menghadap padaku di meja yang berbeda. Beberapa wartawan mengelilinginya.

“Dean, lagu ‘Ada Aku’ itu terinspirasi dari seseorang yang spesialkah?” tanya salah satu wartawan.

“Bukan hanya terinspirasi, tapi lagu itu memang diciptakan untuk seseorang,” jawabnya dengan wajah murung sembari menatap wartawan yang bertanya. Tak ada binar di matanya.

Para wartawan itu langsung heboh mendengar jawaban Dean.

“Siapa gadis itu?” tanya wartawan lainnya.

“Aku tidak tahu, yang aku tahu, hanyalah aku menciptakannya untuk seseorang,” dari nada bicaranya, Dean berkata jujur. Rupanya dia benar-benar tidak mengingatku. Dia bahkan tak menyadari keberadaanku di sini sekarang. Pribadi lainnya telah mengambil alih Dean sepenuhnya. Lebih cepat dari perkiraan, luka karena hati patahlah yang membuat itu terjadi.

Hari itu, aku ingin mengatakan pada Dean: kamu boleh melupakan siapapun, tapi jangan pernah melupakan aku. Tapi aku justru meninggalkannya. Dean kini telah menjadi orang asing. Itulah konsekuensi dari pilihanku. Tiba-tiba kurasakan cairan bening turun dari mataku, membasahi pipi. Aku mengusapnya, kemudian menatap takjub air mata itu, seakan bukan berasal dari diriku. Cinta, apakah cinta yang menyebabkannya. Aku tak tahu, hanya nyeri yang kurasa merambat dari dadaku ke sekujur tubuh. Lalu mual itu menghilang.

****

Sebuah puisi sederhana untuk sahabat saya – Vincentia Natalia. “Menjadi Hari yang Tak Biasa”

Menjadi Hari yang Tak Biasa

 

17 Desember dalam kalenderku adalah hari-hari yang sama dengan hari biasa

Tak ada yang istimewa

 

Lalu kamu yang tampak maya tak menyata, hadir

Awalnya kita terikat kata

Kemudian mimpi menghidupkan dunia kita

Hingga ilusi menjadi ruang berdimensi

 

Sayangnya aku tak bisa memberimu pelukan

Saat gundah datang menjadi luka yang menganga

Saat tangis tak bisa dibendung mata

Dan hari menjadi abu-abu melebihi sepi dan hampa

 

Pada suatu hari yang kutitipkan pada masa depan

Dapat kulihat kita menautkan tangan

Persahabatan pasti mengantarkan kita pada pertemuan

Lalu kita membuat kenangan

Sampai pada masa itu, selalu aku bersyukur, kamu terlahir dua puluh enam tahun lalu.

 

Bandung, 16 Desember 2012

 

 

[Cerpen] “Orang Asing” Bagian 1 – Dimuat di Batak Pos, Sabtu 15 Desember 2012

[Foto dokumentasi milik pribadi]

[Foto dokumentasi milik pribadi]

Orang Asing

Eva Sri Rahayu

 

Aku menatap layar komputer dalam diam. Tanganku tersimpan di pangkuan. Sudah lebih dari tiga jam aku bersikap seperti itu. Tidak ada satu kata pun berhasil kutulis, buntu. Ada sesak menyergap, lalu berganti rasa mual hebat. Tentu saja, dengan gaya hidup serampangan, tubuhku mudah terkena penyakit. Tapi kali ini bukan perkara biasa. Bukan sekedar migrain atau mata perih. Mual ini muncul karena depresi. Stres berkepanjangan karena tidak lagi bisa berkarya, dan mati rasa dalam segala hal. Fase tidak lagi merasa hidup dan ada, lebih buruk dari segala hal yang pernah kulewati.

Aku meneguk kopi dari cangkir yang selalu kusimpan di sebelah laptop di tempat kerja mungilku. Di sinilah beberapa novel tercipta, yang kemudian menghiasi rak-rak buku di toko, mengispirasi pembaca setia dengan kisah di dalamnya. Ironis. Saat mereka begitu mencintai keberadaanku, aku sendiri justru merasa hilang. Kuputuskan menutup laptop, beralih ke kamar. Tidur adalah satu-satunya saat aku merasa hadir bukan sebagai mitos. Kesenangan dari sebuah ketidaksadaran. Biarlah mimpi mengambil alih hidup sesungguhnya. Biar mimpi membawaku pada petualangan tanpa harus direka.

***

Tidak salah lagi, pria itu memang sedang menatapku dengan mata beningnya. Sebenarnya aku tidak sengaja bersitatap dengannya. Posisi kami yang saling berhadapan di meja yang berbeda sangat memungkinkan untuk saling melihat dengan leluasa. Tapi sikapnya yang tidak wajar, dengan selalu kikuk saat mata kami bertemu, cukup meyakinkanku kalau pria itu menaruh perhatian.

Pria itu duduk bertiga dengan dua wanita seumurannya. Asik berbincang, sesekali tertawa keras. Dari ekspresi dan gerak tubuhnya, sekilas saja orang bisa menerka sifat periang pria itu. Menjadi pusat perhatian tampaknya adalah makanan sehari-hari baginya.

Aku tidak merasa terganggu oleh sikapnya, diperhatikan banyak pria bagiku sudah biasa. Tapi pria itu membuatku ingin mengenalnya. Jauh dalam binar sorot mantanya, aku melihat luka. Ada sakit yang sama, perih yang menindih, mencekik hingga luka tak lagi bisa bersuara. Pria itu menutupinya dengan keriangan, bertolak belakang denganku yang memilih apa adanya. Mungkinkah dia merasakan hal yang sama, hingga luka menjadi magnet untuk menjatuhkan tatapan. Dua orang pesakitan bertemu, saling menyembuhkan. Klise yang terlalu utopis.

Nyatanya aku memutuskan menjadikan pria itu objek tulisan. Dengan terang-terangan aku mengundangnya masuk dalam hidupku lewat pandangan yang menantang. Sinyal itu ditangkapnya. Setelah berjam-jam berbagi cerita dengan dua wanita yang entah siapanya itu, dia mendatangiku ketika keduanya beranjak.  “Boleh gabung?” Suara merdu pria itu menggumamkan basa-basi.

Aku mengangguk mempersilakan. Dia tersenyum ramah.

“Sering ke sini?” tanyanya lagi, kali ini membuka percakapan.

Aku memperhatikan bentuk wajahnya yang bulat, bibir merah tipis, alis tebal, dan rambut ikal. Wajah itu tampan dan manis, seandainya warna kulit yang membalut tubuh atletisnya tidak kecoklatan, aku sudah mengira dia anggota boyband. “Baru pertama, kamu?”

“Dean. Kalau aku sudah sering ke sini. Tempatnya asik, cocok buat nulis.” Yang dia maksud dengan kegiatan menulis itu sudah tentu bukan untuknya. Karena matanya melirik laptopku, tanda sedang menebak apa yang sedang kulakukan, dan tebakannya benar.

Tidak sulit mengenalnya lebih dekat, Dean terlalu terbuka pada orang baru. Dalam waktu setengah jam saja aku sudah mengetahui profesinya sebagai aktor drama musikal, saat ini sedang merintis karir penyanyi solo, dan kedatangannya ke Bandung sekedar lari dari rutinitas pekerjaan sekaligus orang-orang sekeliling yang disebutnya fake. Aku tidak banyak membagi keterangan mengenai diriku. Rumus memberi kepercayaan sama besar sudah tidak berlaku dalam hidupku yang sinis. Kami bertukar pin dan no telpon, lalu pulang larut malam dengan mobil masing-masing. Sangat biasa. Bukan perkenalan ajaib seperti dalam film.

Sebelum tidur, aku mengingat senyum Dean dan sentuhan tangannya. Tidak ada listrik yang ditransformasi lewat pori-porinya. Juga tidak ada debaran halus bagai ilusi. Tapi magnet yang bersarang di tubuhnya terus menarikku masuk lebih dalam dan dalam.

***

Mual itu datang lagi, semakin sering dengan durasi lebih panjang. Dengan perasaan kecewa aku menutup laptop. Kali ini satu paragraf berhasil kutulis dalam waktu lebih dari lima jam. Mungkin sebagai penulis, sebentar lagi aku akan mati. Seperti pemain sepakbola menggantung sepatunya. Aku ingin membuat Dean sebagai sumber inspirasi, tapi tidak tertuang apa-apa dari dirinya di layar komputerku. Rasa tawar terlalu pekat menyumbat.

Aku mematikan laptop, bersiap pergi ke pementasan drama musikal dimana Dean bergabung. Bukan sebagai peran utama, tapi cukup penting. Aku mengenakan cocktail dress hijau dipadu clutch warna senada. Melihat pantulan sendiri di cermin, aku percaya diri bisa mempesonanya malam ini. Sejak perkenalan, sudah beberapa kali kami bertemu. Sekedar nonton, atau menikmati suasana malam. Dean mencintai malam, sama sepertiku. Melihat city light dari ketinggian membuat adrenalin kami terpacu, merasakan kehidupan masuk lewat desiran anginnya yang menimbulkan gigil.

Berkali-kali aku menemukannya sedang menatapku lekat dan lembut, seakan ingin masuk dalam pikiranku, melindungiku dari sakit yang tak kunjung enyah. Seperti mengenalku, tapi tidak tahu apa-apa, hal itu membuatnya merasa tak berarti. Setiap kali begitu, aku akan berkelakar bahwa mengenalku lebih jauh hanya menimbulkan putus asa. Sudah dua tahun aku tidak membuka diri pada pria manapun. Bukan terkekang oleh masa lalu, tapi sebuah kesadaran membuatku mengunci hati.

Tiga tahun lalu, aku hampir menikah. Sebuah pernikahan yang akan membahagiakan. Kebersamaan dengan orang yang sangat kucintai dan sangat mencintai. Kutegas kata “sangat” di sini, karena begitulah adanya. Seakan tak ada yang bisa melunturkan cinta itu. Persiapan pernikahan katanya memang selalu membuat stres, belum lagi sindrom pra nikah. Dan ya, sindrom itu datang juga padaku. Di tengah resah yang hadir tak sekedar desah, aku bertemu seseorang.

Ada banyak hal baru yang ditawarkannya. Aku jatuh cinta lagi. Cinta yang lebih besar dari cinta pada calon pengantin priaku. Aku dan pria baru itu menjalin hubungan yang menyakitkan, karena kami berdua sama-sama tahu tidak bisa bersatu. Dia kemudian lelah, begitu juga denganku. Lalu kepercayaanku pada cinta ikut luntur bersama luruhnya cintaku pada kekasih. Ternyata cinta yang sangat bisa hilang dalam bilangan detik.

Sebuah kesadaran datang, cinta bagiku adalah petualangan. Aku tidak memiliki cinta sejati yang akan kupersembahkan pada satu hati. Dibandingkan dengan orangnya, aku jauh lebih mencintai proses penemuannya. Kekecewan pada diri sendiri menghantui, menyiksa hingga ubun-ubun. Aku memutuskan hubungan dengan mereka berdua. Dan yang kudapati, aku bisa hidup baik-baik saja tanpa keduanya. Hanya rasa bersalah yang menggerogoti dan merapuhkan saat melihat mereka hancur.

Aku memiliki hati yang disinggahi cinta palsu, kemudian mati.

Lahang dan masa kecil

Malam ini ingin bercerita tentang lahang, tebu dan masa kecil.

Seperti biasa, hampir setiap hari mingguLahang, saya dan Rasi main ke lapangan tegalega. Sekedar jalan-jalan buat olahraga yang ujung-ujungnya selalu diakhiri beli sesuatu yang Rasi suka. Semisal balon dan mainan.

Siang tadi, setelah kelelahan puter-puter lapangan, saya untuk pertama kalinya melihat tukang “lahang”. FYI, menurut Wikipedia adalah minuman khas Indonesia yang terbuat dari nira, lahang diperoleh dari sadapan pohon aren, yang disadap adalah bunga jantannya. Tapi lahang ini lahang sari tebu. Di Bandung sudah banyak sih, di daerah BIP juga ada. Tapi tukang lahang ini menjual berkeliling dengan membawa lahang di dalam bambu besar. Tradisional sekali.

Saya pun tertarik membelinya, harganya lumayan juga. Untuk satu cup gelas akua, empat ribu rupiah. Rasa lahangnya, seingat saya memang murni. Manisnya enggak manis banget. Rasi juga ternyata suka. Saya memang ingin mengenalkannya pada hal-hal tradisional. Dan sesuatu yang murni itu memang lebih mahal harganya 😀

Lahang ini mengingatkan saya pada masa kecil. Waktu rumah saya masih di Banjaran, depan rumah itu kebun cukup luas, ditanami berbagai macam pohon. Ada pohon tebu yang ditanam nenek saya. Kalau sudah besar, saya sering menikmati air tebu itu dengan langsung menggigitnya. Lama-lama pohon tebu itu habis juga, terutama oleh saya yang rakus. Sekarang pengen nanam tebu di depan rumah belum tentu tanahnya cocok, saya juga gak pandai merawat tanaman sih. Rindu sekali pada masa-masa kecil itu. Makanan, minuman, aroma, dan masih banyak lagi yang hilang dari masa kecil.

 

 

Sharing Tentang Kerangka Karangan

tentang karya

 

Beberapa waktu lalu saya diminta sharing tentang membuat kerangka karangan.

Sebenarnya saya belum khatam, tapi saya coba sebisa, setahu, dan sharing kebiasaan saya membuat kerangka novel.

Seperti yang saya duga, justru merekalah yang lebih banyak memberi saya pengetahuan. Semangat belajar dan kesungguhan itu menular. Pertanyaan bahkan masukkan saya dapat dari mereka. Senang sekali bisa sharing.

Berikut sedikit catatan materi yang saya sharing.

Apa sih kerangka karangan itu? Ini sepemahaman saya ya. Kerangka karangan adalah poin-poin penting cerita, alur cerita, dan pembahasan yang ingin dimajukan dalam sebuah novel.

 

Apa tujuan membuat kerangka? Utamanya agar hal yang ingin dibahas dalam novel tidak melenceng, fokus, mempermudah kita mengembangkan bab per bab, dan salah satu jurus menangkal writer block.

 

Lalu apa itu writer block? Itu adalah saat dimana seorang penulis mengalami hambatan bahkan merasa stuck saat menulis hingga berhenti menulis.

 

Hal yang menakutkan dari menulis menurut saya adalah tidak menyelesaikan tulisan. Memulai adalah langkah awal yang penting, tak ada awal tak akan ada karya. Sedang menyelesaikan adalah karya itu sendiri. Tak selesai tak disebut berkarya. Karena itu membuat kerangka membantu penulis untuk menyelesaikan.

 

Tidak semua penulis membuat kerangka karangan dulu sebelum membuat novel, karena memang setiap penulis punya formula sendiri untuk menghasilkan karyanya. Sebagian menganggap membuat kerangka hanya membatasi imajinasi. Sebagian lagi menganggapnya justru mempermudah mengembangkan imajinasi.

 

Formula membuat kerangka karangan pun berbeda-beda, kalau tahapan dalam versi saya begini:

  1. Tentukan tema. Tema apa yang ingin diusung.
  2. Kumpulkan bahan atau observasi untuk mendukung cerita.
  3. Buat  tokoh novelmu. Untuk awal, buat tokoh utamanya. Detilkan secara fisik dan sifat, itu akan menentukan bagaimana si tokoh menghadapi, menyelesaikan masalah, dan pembangunan karakternya.
  4. Mendetailkan setting (Awalnya tidak ada poin ini, salah satu peserta memberi masukkan)
  5. Membuat peta konflik
  6. Buat sinopsis cerita. Saat membuat sinopsis kita akan mendapat alur dan setting. Apakah alurnya maju mundur atau maju. Kita juga akan mendapat setting tempat dan waktu. Apakah di Indonesia atau luar negeri.
  7. Membuat kerangka karangan berdasarkan sinopsis.

 

Tampak kompleks dan rumit ya? Ketika sudah menjalani tidak serumit itu kok. Mari kita mulai.

Sebelum merunut pada tahapan satu sampai enam, mari kita berkhayal. Bayangkan kita memiliki sebuah novel yang dipajang di rak-rak toko buku. Novel itu disukai pembaca, memberi manfaat untuk mereka, dan kita merasa bahagia ketika menulis dan menyelesaikannya. Bayangkan kita memegang novel tersebut, membuka halaman demi halaman, lalu tersenyum. Ketika kehilangan motivasi menulis, selalu bayangkan hal itu. Bahwa kita bisa memberi kontribusi pada diri sendiri dan lingkungan.

Oke, maju ke tahap pertama.

 

  1. Menentukan tema.

Pilih tema yang kita sukai, kita mengerti, atau yang ingin kita sampaikan. Misalnya:

  1. Tema yang disukai: cinta
  2. Tema yang kita mengerti: persahabatan
  3. Tema yang ingin kita sampaikan adalah tema yang mungkin tidak kita sukai, tidak juga kita mengerti tapi ingin kita sampaikan pada pembaca. Misalnya tema kekerasan di jalan.

Sekarang, pilih tema yang kalian mau jadikan sebuah novel. Kita general kan, tema kita cinta. Mari kita masuk ke tahap dua.

 

  1. Kumpulkan bahan atau observasi untuk mendukung cerita.

Mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi untuk cerita kita. Misalnya karena ingin menceritakan tentang selebriti. Cari semua data tentang pekerjaan, kehidupan, dan semua-semuanya. Mengumpulkan bahan bisa dari pengalaman empiris dan rasa diri sendiri, membaca, menonton, searching, terjun langsung ke lapangan, dan banyak lagi.

 

  1. Membuat tokoh.

Kita buat dua tokoh utama. Bisa pria dan wanita, wanita dan wanita, atau pria dan pria jika mau mengangkat cinta lesbian atau gay.

Detilkan dengan menjawab pertanyaan ini: Siapa namanya? Bagaimana fisiknya? Tempat tanggal lahir? Sifat baik dan buruknya? Warna kesukaan? Makanan kesukaan? Kebiasaan dan hobinya? Latar belakang pendidikan? Latar belakang lingkungan? Bisa menambahkan apa-apa yang sekiranya dibutuhkan, semakin detail semakin baik karena karakter ini akan menjadi rujukan kita dalam pengembangan karakter, cara tokoh menghadapi konflik, dan bagaimana dia menyelesaikan konflik.

Setelah kita mendapat tokohnya, mari kita bayangkan ceritanya, bagaimana takdir mereka di tangan kita.

 

  1. Membuat peta konflik

Buat konflik utama, lalu buat sub-sub konflik yang mendukung konflik utama. Dalam membuat peta konflik harus memerhatikan flow konflik. Beri jeda napas, buat flow naik turun. Beri klimaks konflik yang tidak jauh dari ending.

  1. Membuat sinopsis.

Harus digaris bawahi, sinopsis bukan blurb yang ada di back cover sebuah novel. Kita harus membuat rangkaian cerita lengkap tanpa menyisakan tanda tanya. Ceritakan kehidupan mereka, konflik yang akan mereka hadapi dan bagaimana menyelesaikan konflik itu. Blurb tidak menjelaskan bagaimana cerita keseluruhan, sedang sinopsis menceritakan keseluruhan.

Dari sinopsis tersebut, kita akan mendapat beberapa tokoh baru. Catat tokoh baru itu lalu buat spesifikasi sesuai dengan petunjuk tahapan dua.

Hari ini sharing sampai di situ. Sharing diisi juga dengan simulasi. Semua langsung membuat tahap per tahap. Takjub melihat mereka membuat karakter tokoh dengan detail dengan keunikannya dalam waktu singkat. Menyenangkan sekali ikut acara sharing seperti itu.