[Review] Dari Film Habibie & Ainun

Pengen cerita sedikit setelah nonton film Indonesia “Habibie & Ainun”

Awalnya saya sama sekali nggak tertarik nonton film ini meskipun direkomendasikan oleh beberapa teman. Entahlah, kisah cinta sejati dari kisah nyata bukan tipe film yang sedang ingin saya tonton dekat-dekat ini. Tapi karena filmnya sudah ada, dan saya sedang nggak ada kerjaan juga, akhirnya saya nonton.

Ini sedikit ulasan saya:

SINOPSIS

Bacharuddin Jusuf Habibie atau Rudi (Reza Rahadian), kembali ke Indonesia pada dengan meninggalkan sementara risetnya dalam meraih gelar dokter bidang teknik di Jerman akibat penyakit tuberkolosis yang ia derita. Saat kepulangannya itulah, Rudi bertemu kembali dengan Hasri Ainun Besari atau Ainun (Bunga Citra Lestari), teman sekolahnya dulu yang kini telah menjadi seorang dokter. Mereka saling jatuh cinta, kemudian menikah. Rudi membawa Ainun pindah ke Jerman.

Rudy Habibie yang jenius dan ahli dalam masalah pesawat terbang mempunya cita cita ingin mengabdi dan berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat sebuah pesawat terbang. Seusai mendapatkan gelar dokternya—dengan tesisnya yang berhubungan dengan teknik kedirgantaraan meraih banyak pujian—Rudi kemudian diundang oleh banyak perusahaan pembuat pesawat terbang untuk bekerja pada mereka. Sebuah kesempatan yang sangat bagus, namun kecintaan Rudi pada tanah airnya telah membuatnya bertekad untuk membangun sebuah pesawat terbang untuk negaranya. Kesempatan itu akhirnya datang pada tahun 1973 ketika Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto, memintanya untuk kembali ke Indonesia dan mengaplikasikan kecerdasannya untuk membangun negara—yang juga menjadi awal keterlibatan Rudi dalam dunia politik Indonesia.

Film ini bercerita tentang kisah cinta Habibie dan Ainun, dimana bagi Habibie Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Sedangkan bagi Ainun, Habibie adalah segalanya. Juga kisah cinta pada tanah air.

REVIEW

Film ini memiliki plot yang cepat. Dengan lompatan waktu yang signifikan. Dibuka dengan adegan Ainun yang sedang bermain kasti semasa sekolah, dilanjutkan dengan seorang guru fisika yang mempertemukan Ainun (Marsha Natika) dengan kakak kelasnya Rudi Habibie (Esa Sigit) diminat menjelaskan mengapa langit biru. Ketika Ainun dengan fasih dapat menjelaskannya seperti halnya Habibie di lain waktu, guru mereka berkata “Kalian jodoh!”. Pembukaan yang manis, dengan akting Marsha yang pas sebagai Ainun remaja.

Adegan yang diset memorable lainnya adalah ketika Habibie muda mendatangi Ainun muda dan mengatainya “Gula Jawa” karena secara fisik, Ainun waktu itu hitam dan gempal (meskipun pemerannya tidak segempal itu menurut saya). Adegan ini menjadi memorable karena dipasangkan dengan adegan pertemuan kembali mereka, dimana Habibie dewasa (Reza Rahadian) justru menyebut Ainun dewasa (Bunga Citra Lestari) dengan sebutan “Gula Pasir” karena Ainun telah bertransformasi menjadi gadis cantik dan putih.

Adegan cepat juga terjadi saat dramatisasi kehidupan rumah tangga mereka yang penuh cobaan. Dimulai dari keadaan ekonomi yang pas-pasan, penyakit Ainun, sampai ditolaknya lamaran Habibie pada perusahaan IPTN. Satu adegan yang sebenarnya menurut saya bisa sangat romantis adalah ketika Habibie berjanji akan membuatkan pesawat terbang untuk Ainun, tapi masih kurang sedikit greget.

Begitu juga dengan cerita pergolakan politik, berlangsung dengan cepat. Plot cepat ini sepertinya karena film ini menceritakan masa yang panjang dalam kehidupan Habibie Ainun, dengan banyak kejadian penting dalam hidup mereka.

Ada beberapa kelebihan dari film Habibie & Ainun ini menurut saya:

1. Mengangkat kisah cinta murni dan abadi yang NYATA alias bukan fairytale. Bahwa cinta suci dan abadi itu benar-benar eksis di dunia nyata, bukan dongeng Cinderella dengan akhir “Happy ever after”, tapi kebahagiaan dalam lika-liku kehidupan sesungguhnya. Point ini membuat penonton berminat untuk menontonya.
2. Akting Reza Rahadian yang brilian. Saya benar-benar melihat Habibie dalam dirinya. Chemistry-nya dengan Bunga pun terasa sekali. Buat saya sih pertama kalinya melihat Bunga begitu anggun dan keibuan. Bunga cukup berhasil memperlihatkan sosok istimewa seorang Ainun. Kalau ada yang berpendapat Bunga terbantu sekali oleh Reza, buat saya Bunga sudah berusaha keras dengan kemampuannya sendiri.
3. Saya cukup terpukau dengan akting Hanung. Ternyata selain menjadi sutradara, Hanung berbakat menjadi aktor.
4. Setting yang bagus, dan memanjakan mata.
5. Adegan Habibie menangis ditemani Ainun saat pesawat buatannya teronggok.
6. Film ini punya qoutes-qoutes keren—yang sering saya lihat dijadikan status, twit, maupun dp bbm—semisal :

“Saya tidak bisa, saya tidak bisa berjanji akan menjadi istri yang sempuran untukmu. tapi saya akan selalu mendampingimu, saya janji itu.”-Ainun, ketika dilamar oleh Habibie.

“Setiap ujung terowongan pasti ada cahaya, dan saya janji akan membawamu ke cahaya itu.”-Habibie, ketika Ainun memintanya untuk dipulangkan ke Indonesia.

Dan yang paling terkenal

“Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita.” –Habibie.

NB:  Meskipun saya tidak pernah menggunakan quotes-quotes ini

7. Ending yang mengharukan. Saat Habibie (asli) menangis di pusara (Almrh) Ainun.
8. Soundtrack filmnya. Liriknya dalem, dan saya merasa Bunga bernyanyi semakin matang.

Tapi namanya semua karya nggak ada yang sempurna, film ini pun punya kekurangan yang menurut saya mengganggu, yaitu selain plotnya yang kadang terlalu cepat sehingga mengurangi kenikmatan dramatisasi, adalah make up-nya. Habibie dan Ainun tua tampak menjadi seumuran dengan kedua anak mereka.

posterfilmHA

Film ini membuktikan bahwa cinta sejati itu benar-benar ada. Rekomendasi buat yang suka kisah tentang cinta sejati dan penyuka cerita bertema nasionalisme.

Kesimpulan saya: filmnya bagus, cukup memorable, tapi nggak cukup menarik untuk saya tonton berulang-ulang.

Rating saya

3,5/5 Bintang