Cerpen “Hari Untuk Ibu” Dimuat di Taman Fiksi Edisi 4

Hari Untuk Ibu

 

*****Catatan: Cerpen ini dimuat di www (dot) Tamanfiksi (dot) com edisi keempat tahun 2015 lalu.

Hari Untuk Ibu

Oleh: Eva Sri Rahayu

 

Sejujurnya aku selalu enggan mengunjungi Ibu. Sebisa mungkin aku akan menghindari pertemuan dengan berbagai alasan, meski harus mengarang sekalipun. Namun, hari ini hari ulang tahunnya. Sebagai anak, rasanya keterlaluan kalau aku tidak datang. Karena itu aku mengumpulkan seluruh keberanian untuk dapat duduk berhadapan dengan Ibu di dapur rumah tempat aku dibesarkan.

“Selamat ulang tahun, Bu,” ucapku sambil memegang tangannya yang makin dipenuhi keriput.

Wajah Ibu yang bulat dihiasi senyuman, dia lalu mengangguk pelan, dilepaskannya peganganku, kemudian berdiri. Meskipun memunggungiku, dari gerakan tangannya aku tahu beliau sedang memotong sesuatu. Ketika Ibu berbalik, aku melihat sepotong kue yang terlihat enak dan mahal di tangannya. “Ini dari kakakmu, tadi dia ke sini membawakan kue ulang tahun. Padahal Ibu sudah bilang jangan repot-repot,” katanya, sambil menyodorkan kue itu padaku. Mata Ibu berbinar, tampak sangat jelas beliau begitu bangga pada kakakku itu.

Hatiku langsung berdenyut. Ah, iya, aku tidak membawa apa-apa. Aku tidak sanggup membawakannya sesuatu, bahkan barang murah sekalipun. “Maaf, Bu, tadi aku ketinggalan kadonya,” ujarku gugup sembari mengusap rambut pendekku yang sebenarnya tidak butuh dirapikan—rambut itu kupotong sampai tengkukku terlihat agar tidak menghabiskan banyak biaya perawatan. Kebohongan entah keberapa yang kulontarkan padanya, aku tidak ingat jumlahnya, karena terlalu terbiasa berdusta.

“Tas yang kamu janjikan waktu pulang dari Bali saja lupa terus. Kamu itu kebiasaan bohong,” ucap Ibu tajam. Aku menelan ludah mendengarnya tanpa mampu membalas apa-apa.

Sebenarnya aku memang belum membelikan tas itu, aku tidak punya uang. Yang membuatku terpaksa berjanji karena takut dianggap anak pelit. Waktu itu aku memang mendapat proyek cukup besar di Bali, tapi hutangku yang terus menumpuk jauh lebih besar lagi. Aku sudah ditagih-tagih, bahkan dengan tidak hormat. Hutang-hutang itu muncul bukan karena gaya hidupku yang hedon, semuanya kupakai untuk bertahan hidup, dan … demi menjaga gengsiku di mata Ibu.

“Mama, Ika mau minum susu,” celoteh Triska, anakku. Tangannya sibuk menjawil-jawil rok lipitku.

Buru-buru aku membuka tas, mengeluarkan kaleng susu formula yang masih penuh. Aku menghindari pandangan Ibu yang kurasa sedang menelitiku.

“Susunya masih yang lama, kan?” selidik Ibu. Yang dimaksudnya adalah susu formula paling mahal di pasaran. Ibu memaksaku menggunakannya karena kakakku memberikan susu itu untuk anaknya.

“Iya,” jawabku sembari menyibukan diri dengan membuat susu, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Ibu, takut ketahuan berbohong lagi karena isi kaleng itu telah kuganti dengan merek susu lain yang bisa terjangkau dengan penghasilanku.

Di depan Ibu, aku tidak ingin terlihat miskin. Aku selalu takut keluarga kecilku dihinanya. Sebisa mungkin aku menyembunyikan kesulitan keluargaku padanya, aku tidak ingin suamiku yang hanya pegawai toko itu terus direndahkan. Yah, keadaan kakakku memang jauh lebih baik dari kami. Suaminya anggota dewan, sekalipun dia hanya ibu rumah tangga, segalanya lebih dari tercukupi. Beda denganku yang harus ikut banting tulang kerja serabutan.

“Sudah lama kamu tidak menitipkan Ika pada Ibu, apa kamu belum dapat proyek?” tanya Ibu heran, kedua alisnya bertaut hingga kerutan halus di keningnya tampak makin jelas.

“Ada kok, Bu. Aku sekarang nulis artikel buat website,” jawabku jujur.

“Ah, kerja begituan kan tidak menghasilkan. Triska sudah makin besar, sebentar lagi masuk SD, butuh biaya gede. Kamu harus punya tabungan, Gia. Mendingan cari kerja yang bener,” nasihat Ibu.

Aku menghela napas dalam-dalam, bingung menjawab apa. Dulu aku pernah kerja kantoran, sayangnya aku berenti sebelum habis masa kontrak. Ibu mengatakan sudah tidak kuat mengurus Triska yang waktu itu sedang belajar berjalan. Usia Ibu memang sudah menginjak enam puluh lebih, wajar kalau mudah lelah. Sementara kalau kutitipkan pada day care, Ibu juga tidak setuju, malah menyebutku ingin membuang anak. Aku dihadapkan pada dilema antara pekerjaan dan keluarga.

Setelah berhenti, sekarang aku bekerja berdasarkan proyek saja agar hanya sesekali meninggalkan Triska. Supaya lebih banyak waktu untuk membesarkannya. Tapi toh ternyata itu tidak cukup. Ibu tetap menuntut banyak padaku. Lalu sekarang, Ibu menyuruhku untuk bekerja lagi. Hidup ini memang jenaka, terdiri dari lelucon tuntutan dan kepentingan.

Aku menatap wajah Ibu yang sedang menanti jawabanku. Kali ini akulah yang menelisiknya. Bertanya-tanya apakah Ibu pernah punya mimpi yang ingin digapainya, yang dibuangnya untuk anak-anaknya. “Bu, apakah Ibu dulu punya impian?” tanyaku tanpa bisa ditahan.

Ibu mengernyit. “Tentu saja, kebahagiaan kalianlah impian Ibu.”

Mendengar itu aku tersenyum miris. Ibu, betapa mulianya engkau. Andai aku sepertimu. Andai aku … seperti … ah, tidak! Aku tidak ingin menjadi sepertimu. Aku tidak mau memenuhi hidup anakku dengan kepalsuan.

“Katanya CPNS sudah dibuka,” Ibu kembali mengarahkan pembicaraan pada jalur yang diinginkannya.

“Oh, yah. Nanti aku coba cari infonya, Bu. Tapi gimana nanti Triska? Ibu kan sudah tidak kuat menjaganya,” kataku ragu-ragu.

“Gaji PNS kan besar, kamu bisa gaji pembantu untuk bantu Ibu,” jawab Ibu mantap.

Hmm, iya, semuanya kembali soal uang. Kemudian hening di antara kami. Aku melemparkan pandangan ke jendela, menatap jajaran bunga kacapiring. Suara samar nyanyian Triska memecah kesunyian di antara kami. Aku dan Ibu sama-sama memusatkan perhatian pada Triska yang sedang menyanyi sambil menari kecil di dekatku.

“Ika cucu Nenek sayang, sudah lama ya Nenek tidak melihat Ika menari balet. Coba Nenek mau lihat.” Deg! Jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan Ibu. Triska sudah hampir setahun ini kuberhentikan dari les baletnya tanpa sepengetahuan Ibu.

Bukan hanya aku yang kaget, wajah Triska pun memperlihatkan ekspresi keterkejutan. Dia lalu menatapku takut-takut. Aku menjawab mata bening itu dengan intimidasi, seolah berkata “Jangan katakan apa-apa pada Nenek kalau kamu tidak ingin Mama dimarahi.” Triska menunduk, sebelah tangannya yang tidak memegang gelas memainkan pita di bajunya. Sedari dulu ibulah yang mendesak agar Triska ikut les balet agar hobinya tersalurkan, sedangkan aku memaksakan diri berhutang untuk membiayainnya demi dianggap sebagai orangtua yang baik.

“Ika, kenapa, Sayang?” tanya Ibu lembut sembari tanganya berusaha menjangkau rambut keriting sebahu Ika. Tapi Ika malah membenamkan wajahnya ke perutku. Ibu menatapku tajam, mata itu tampak marah. “Gia, jujur pada Ibu. Triska masih kamu les baletkan, kan?” tanya Ibu lagi, kata perkata disampaikannya penuh penekanan.

“Itu … tempat lesnya tutup, Bu. Katanya … kurang siswa,” jawabku gagap. Kentara sekali aku memalsukan fakta.

“Jangan bohong, Gia! Kenapa kamu berhentikan? Tidak ada uang? Katakan pada Ibu, nanti Ibu yang bayar!” bentak Ibu.

“Ada … ada kok, Bu,” ucapku.

“Ah, memang kapan sih kamu punya uang,” sindir Ibu. Seketika itu hatiku seperti dilanda badai. Ya, memang pada akhirnya selalu Ibulah yang membiayai keperluan-keperluan besar Triska. Mulai dari operasi kelahiran, ekahan, dan saat Triska dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Tapi mendengar kalimat itu tetap saja membuat ulu hatiku nyeri.

Prang! Bunyi gelas pecah membuat aku dan Ibu kembali menatap Ika yang sedang berdiri mematung. Kakinya penuh pecahan gelas bercampur air susu. Aku langsung naik pitam melihatnya. “Ika! Makanya hati-hati pegang gelasnya!” bentakku yang langsung membuat Ika menangis dalam diam. Kedua bahunya bergetar.

Aku berdiri, mengambil sapu dan pengki, memasukan pecahan gelas itu ke pengki dengan gerakan kasar penuh emosi. Tidak kuhiraukan Triska yang berkali-kali mengucapkan kata “Maaf”.

“Kamu itu kenapa sih jadi mudah marah begitu? Dulu kamu anaknya penurut dan sabar! Kenapa sekarang berubah begini!” teriak Ibu. Beliau lalu menggendong Triska.

“Iya, Bu, aku bosan jadi bonekamu!” balasku.

“Gia! Sekarang kamu selalu balas membentak Ibu!” ucap Ibu dengan suara bergetar. Ya, ledakan ini bukan kali pertama, entah sudah berapa kali kami cekcok begini. Seperti kata Ibu, aku memang telah berubah. Aku sudah tidak bisa meredam amarah lagi ketika diperlakukan kasar oleh Ibu. Aku tahu Ibu sakit hati, tapi hatiku lebih pedih.

“Tuh, Ika, gara-gara kamu Mama dimarahi Nenek! Puas kamu?” ucapku sambil memberikan tatapan setajam pisau pada Triska. Bocah itu menangis lebih keras.

“Jangan salahkan Ika atas ketidak becusanmu, Gia! Mikir!!! Dasar tidak punya otak! Cobalah jadi orangtua yang baik!” Ibu memberondongiku dengan makian. Sudah kenyang aku mendengarnya, tapi ternyata tidak juga kebal.

“Iya, Bu, aku memang orangtua gagal! Semua yang kulakukan selalu salah! Dari dulu Ibu selalu mengatakan aku orangtua yang buruk, kan?” kataku lagi, juga menaikan suara beberapa oktaf. “Ibu sudah berhasil mencuci otakku. Gara-gara perkataan Ibu, tidak pernah sedetik pun aku merasa menjadi seorang mama yang baik.”

Ibu tampat tersentak. Kulihat air mata melinangi pipinya. Nenek dan cucu itu saling berpelukan dalam tangis. Dadaku semakin sesak. Aku telah menyakiti keduanya. Namun sungguh, aku tidak bermaksud demikian. Aku sudah berusaha menahankan semuanya. Kemudian aku pun turut menangis, hingga dapur dipenuhi suara isakan.

Kutatap Ibu. Aku seperti melihat cerminan diriku. Mati-matian aku ingin menjadi bagian terbaikmu, Bu. Namun aku yang sekarang kembali terlahir dari sisi burukmu.

Pandanganku beralih pada Triska. Nak, jangan pernah menjadi pantulan Mama. Tapi aku sadar, dia telah kudidik menjadi sepertiku. Rantai karakter yang tidak terputus.

Entah berapa lama waktu berlalu yang kami habiskan dalam kesibukan pikiran masing-masing. Akhirnya kuputuskan untuk hengkang dari rumah ini. Kurenggut Triska dari dekapan Ibu. “Aku pulang, Bu,” pamitku sambil mengemasi barang. Ibu hanya diam saja, bergeming.

Kuseret Triska dalam langkah cepat-cepat. Triska masih menangis sesenggukan. “Diam, Ika!” bentakku. Tapi tangis Triska malah makin kencang. Langkahnya yang lamban membuat pegangan tangan kami terlepas. Aku tidak menurunkan kecepatan, kubiarkan Triska tertinggal di belakang.

“Huhuhu … Ika mau sama Mama. Ika mau, hiks, sama Mama. Hiks,” ucapnya lemah, tapi cukup membuatku mendengarnya.

Langkahku terhenti seketika. Aku berbalik untuk menatap Triska. Kulihat gadis kecilku merentangkan kedua tangannya, meminta kugapai. Hidungnya merah karena menangis lama. Hatiku tersentuh melihatnya.

“Mama … hiks, Ika mau sama Mama, hiks,” katanya lagi dengan tangan menggapai-gapai. Mata itu penuh kasih sayang meskipun terluka. Perasaan yang tulus dan dalam. Aku mengenali perasaan itu. Mengenali perkataan itu. Perasaan dari masa kecilku pada Ibu. Dan perasaan Ibu padaku. Aku pun selalu ingin bersama Ibu, saling bergenggaman tangan dengannya. Air mataku meleleh lagi.

Kupeluk Triska erat. “Maafkan Mama, ya. Maafkan Mama,” ujarku sambil mengelus rambut Triska.

Bu, betapapun kita saling menyakiti, kita selalu saling menyayangi. Meskipun Ibu membuatku seringkali membenci diri sendiri dan sekaligus membencimu, tapi Ibu selalu menyediakan diri menjadi tempatku bersandar. Dan tanganmu, tidak pernah melepaskanku.

Kugendong Triska, kembali ke rumah Ibu. Saat aku memasuki dapur, tubuh ringkih Ibu masih tampak naik turun. Rupanya tangis Ibu belum juga reda.

“Bu …,” panggilku lirih.

Ibu membalikkan tubuhnya. Mata kami bersirobok. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir kami, tapi aku tahu, kami telah saling bertukar maaf.

 

 

Advertisements

Kampanye Lingkungan dan Kesehatan Dalam Mudik Gratis Sidomuncul 2016

PicsArt_07-01-11.12.40

Mudik Bukan Hanya Perkara Kepulangan

Mudik bukan hanya perkara kepulangan, bukan sekadar merebahkan raga di tanah kelahiran. Ada rindu yang meremas hati, perkara rasa yang mesti dilabuhkan. Menjejakkan kaki di kampung halaman, seperti mengulang memoar hidup. Napak tilas sejak kelahiran hingga raga pergi ke perantauan. Maka atas perkara rasa, perkara cinta, mudik menuntaskan hak atas perjamuan pertemuan dengan keluarga. Mudik memang peristiwa ajaib yang menyatukan, melikatkan kembali persaudaraan.

Setiap tahun saya selalu mendengar berita mudik lebaran gratis Sidomuncul dari mama saya. Beliau bercerita dengan ekspresi terharu, ikut senang atas apresiasi Sidomuncul untuk para pedagang jamu mereka dan orang-orang kurang mampu. Kala itu saya hanya manggut-manggut saja, sambil dalam hati merasa mudik gratis ini program sosial yang brilian. Saya enggak pernah menyangka, tahun ini bisa turut dalam keriaan itu, meskipun bukan sebagai pemudik. Namun euforia mudik itu tetap menyentuh hati. Dapat saya bayangkan, betapa bahagianya para pedagang jamu Sidomuncul dapat pulang, kumpul keluarga besar di kampung. Saya pun datang ke acara Jumpa Pers Mudik Gratis Sidomuncul dengan penasaran.

Konferensi press 27 Kali Mudik Gratis Sidomuncul

Konferensi press 27 Kali Mudik Gratis Sidomuncul

Apa yang Beda?

Selalu ada yang beda tiap tahunnya di acara Mudik Gratis Sidomuncul. Tahun ini PT. Sidomuncul Tbk. menyisipkan kampanye lingkungan dan kesehatan bagi para pemudik. Kampanye lingkungan ini merupakan sinergi dengan program pemerintah. Caranya cukup unik, yaitu menempelkan stiker komik berisi ajakan peduli lingkungan dengan memilah-milah sampah organik dan non organik. Memakai komik supaya setiap pemudik mudah menangkap isi pesan. Kemudian, kenapa ditempelkan di tiap belakang kursi bus, supaya mudah terlihat, dan selama perjalanan para pemudik akan tanpa sadar akan terus menerus membacanya. Diharapkan dengan begitu pesan akan menempel pada pemudik.

Si kembar bersama Pak Irwan Hidayat

Si kembar bersama Pak Irwan Hidayat

Kedua, selama mudik gratis, Sidomuncul membuka pendaftaran operasi katarak yang juga gratis untuk umum. Tahun ini PT. Sidomuncul Tbk. telah mengoperasi 50 ribu mata, rencananya akhir tahun bakalan mengoperasi lagi 14 ribu. Pada awalnya Sidomuncul kesulitan mencari masyarakat yang mau mengikuti program operasi katarak. Masyarakat masih takut untuk dioperasi. Pak Irwan Hidayat, Direktur Marketing PT. Sidomuncul Tbk. bercerita bahwa sewaktu mengawal operasi katarak, beliau melihat banyak sekali warga yang datang ke tempat, tetapi ketika ditanya, kebanyakan mereka ternyata bukan pasien, tetapi yang mengantar. Katanya, mereka baru mau mendaftar kalau melihat keluarga atau tetangga mereka yang dioperasi berhasil. Dalam mudik gratis tahun ini Sidomuncul sekaligus ingin menyosialisasikan lebih luas mengenai program operasi katarak supaya masyarakat lebih melek bahwa katarak bisa disembuhkan.

PicsArt_07-01-11.08.35

Blogger berbincang dengan Pak Irwan Hidayat

Sejarah Mudik Gratis Sidomuncul

Tahun 1991, Pak Sofyan Hidayat yang kini telah menjabat sebagai Direktur Utama PT. Sidomuncul Tbk. memiliki ide untuk mengadakan mudik gratis bagi para pedagang jamu Sidomuncul sebagai bentuk insentif. Ide itu diamini untuk direalisasikan, jadi diberangkatkanlah 17 bus membawa para pemudik ke kampung halaman mereka. Kala itu, tak ada media, tak ada acara apa-apa, pun pejabat pemerintah, hanya dilepas secara sederhana oleh Pak Kris Irawan yang waktu itu menjabat sebagai Marketing Manajer Sidomuncul. Begitu sampai tahun 1993. Hingga pada tahun 1994 acara mudik gratis ini mulai diorganisir lebih serius lagi. Barulah Sidomuncul mengadakan acara hiburan untuk pemudik sebelum dilepas, manajemen pun kemudian mengundang pejabat untuk melepas pemudik, mengundang media, dan memasang promosi produk Sidomuncul di bis. Bukan semata-mata bertujuan marketing, tetapi lebih jauh, agar warga luas dapat mengetahui program ini sehingga bisa mendaftar pada acara selanjutnya. Selain itu para pedagang jamu pun jadi lebih bersemangat dan bangga menjadi penjual jamu Sidomuncul. Kebahagiaan mereka merupakan alasan utama program ini.

Pak Irwan Hidayat Sang SocioMarketer

Pak Irwan Hidayat Sang SocioMarketer

Irwan Hidayat Sang SocioMarketer

Ini pertemuan ke sekian kalinya saya dengan Pak Irwan Hidayat, dan saya selalu dibuat kagum dengan karakter dan pemikirannya. Kali ini kami membincangkan tentang konsep marketing yang dijalankan Sidomuncul, yaitu menggunakan dana marketing perusahaan untuk dua hal sekaligus. Promosi produk sekaligus menyisipkan berbagai kampanye sosial. Memang setiap produk memiliki kampanye sendiri. Seperti Kuku Bima dengan kampanye pariwisatanya, atau Tolak Linu dengan kampanye lingkungannya. Dalam obrolan, Pak Irwan mengatakan kalau beliau lebih suka disebut SocioMarketer ketimbang Direktur Marketing. Beliau mengakui bahwa beliau bukanlah seorang filantropi, tetapi SocioMarketing. Karena memang Pak Irwan selalu menyelaraskan marketing dan sosial. Dan hasilnya malah lebih banyak ketimbang hanya memarketingkan produk saja. Menurut beliau, SocioMarketing sangat cocok diterapkan di Indonesia. Pak Irwan berharap semoga SocioMarketing yang dia jalankan dapat menginspirasi banyak perusahaan.

Komik peduli lingkungan yang bisa dimodifikasi untuk ucapan selamat lebaran

Komik peduli lingkungan yang bisa dimodifikasi untuk ucapan selamat lebaran

Pak Irwan meminta kami untuk turut berpartisipasi menyabarkan pesan kebaikan dalam momen lebaran, yaitu dengan memanfaatkan komik peduli lingkungan yang digagas Sidomuncul. Selama lebaran, kita biasanya memberikan ucapan ‘maaf’ lewat gambar yang telah ditambahkan tulisan. Pak Irwan menganjurkan agar memakai gambar komik dengan modifikasi di atasnya ditambahkan selamat lebaran dan foto sendiri. “Tulisan Sidomuncul tidak usah ditampilkan saja,” ucap beliau. Bahkan Pak Irwan langsung mencontohkannya dengan memperlihatkan ucapan selamat lebaran miliknya.

Acara pelepasan Mudik Gratis Sidomuncul 2016

Acara pelepasan Mudik Gratis Sidomuncul 2016

270 Bus Untuk 27 Kali Mudik Gratis Sidomuncul

Hari Jumat tanggal 1 Juli 2016, PT. Sidomuncul Tbk. memberangkatkan 270 bus dari titik pelepasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Jumlah 270 Bus selaras dengan angka 27 yang merupakan banyaknya program mudik gratis yang telah dilaksanakan. Pelepasan mudik lebaran kali ini dihadiri oleh Direktur Utama PT. Sidomuncul Tbk, Pak Sofyan Hidayat, dan Ibu Siti Nurbaya Bakar yang merupakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan RI. Ibu Situ sangat mengapresiasi Sidomuncul yang terus mengkampanyekan peduli lingkungan bahkan dalam suasana mudik. Beliau berharap para pemudik menularkan virus kepedulian lingkungan ini pada sanak saudara di kampungnya.

Bus mulai berjalan

Bus mulai berjalan

Tampak wajah-wajah para pemudik yang semringah. Tidak terlihat besitan pikiran keluhan akan perjalanan mudik yang biasanya akan dihiasi kemacetan dan kelelahan. Bayangan akan keindahan kampung halaman, pelukan hangat keluarga, dan segala nostalgianya telah mengalahkan rasa lelah. Bis kemudian mulai berjalan, membawa 16.000 senyum bahagia pemudik yang pulang, kembali ke kampung halaman, kembali pada cinta yang telah membesarkan.

Para pemudik yang bahagia

Para pemudik yang bahagia