Digital Financial Literacy For Children: Metode Seru Belajar Keuangan Untuk Anak

Saya termasuk bocah yang tumbuh di pedesaan. Tahun-tahun zaman itu, belum banyak toko mainan di daerah yang saya tinggali. Sehingga hasrat belanja saya belum membumbung. Paling banter hanya ketika lebaran saja saya jajan agak banyak. Karena tertanam dalam pikiran saya bahwa hanya di waktu itulah boleh membeli apa saja. Sehari-hari saya jadi agak terobsesi menabung untuk lebaran. Sayangnya, obsesi itu punah setelah saya pindah ke kota Bandung. Seperti melihat gemerlap cahaya ibu kota, saya pun waktu itu langsung silau oleh banyaknya toko buku dan toko-toko mainan yang mudah diakses dari rumah. Sehingga saya tak lagi ingin menyimpan uang untuk dibelanjakan setahun sekali, tapi tiap kali saya “menginginkan” sesuatu.Β  Untungnya, saya enggak akan merengek minta pada orang tua saat ingin memiliki buku atau mainan. Pasalnya, sedari kecil, saya dibiasakan keluarga untuk membeli sendiri barang-barang yang saya inginkan. Kepengin buku, boneka barbie, atau mainan? Nabunglah dulu sampai uangnya cukup. Saya jadi terbiasa tak jajan apa pun di sekolah selama berhari-hari. Moment yang terus terputar dalam kenangan saya soal keuangan adalah ketika kakak tertua saya dengan wajah serius mengatakan, “Keadaan keuangan keluarga kita enggak baik. Eva sama Evi harus ngerti. Kalau mau apa-apa nabung sendiri.” Kira-kira begitulah kalimatnya kakak yang disampaikan dalam bahasa Sunda dengan ekspresi super serius. Metode kakak saya berhasil membangunkan rasa heroik saya sebagai anak.

Beda lagi saat saya telah menjadi orang tua. Metode kakak saya ternyata enggak berhasil saya terapkan ke anak sendiri. Banyak faktor yang menggaggalkannya. Kadang karena anaknya yang enggak sabar menabung, sering juga karena tahu-tahu barangnya dibelikan neneknya. Maklum ya kalau ke cucu tuh suka manjain. Kalau saya sendiri, urusan mainan atau buku sih bisa saya tahan, tapi buat urusan kuota… saya enggak bisa ngerem. Sebagai generasi digital, anak saya memang sudah fasih bergawai ria. Dari urusan belajar, main game, ngevlog, sampai nonton kartun. Saya jadi pusing gimana metode yang tepat ngajarin anak mengelola keuangan.

Digital Financial Literacy For Children: Metode Seru Belajar Keuangan Untuk Anak

Metode ngajarin anak dengan menakut-nakuti atau mengintimidasi memang sudah ketinggalan zaman dan tidak efektif. Saya jadi keingetan buku anak Totochan, dalam buku itu diceritakan metode belajar mulai dari apa yang disukai. Kalau anak-anak masa kini begitu menggemari gawai, berarti anak-anak bisa belajar dengan memanfaatkan gawai. Fenomena ini rupanya ditangkap oleh Citi Indonesia (Citi Foundation). Bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) sebagai mitra pelaksana, Citi Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan Citibank menggelar Digital Financial Literacy For Children, yaitu program belajar mengelola keuangan untuk anak sekolah dasar. Program yang menerapkan strategi atau cara mendidik anak di era digital ini menyusur siswa-siswi kelas 3, 4, dan 5.

Anak-anak SDPN Sabang Bandung sedang mengikuti program “Digital Financial Literacy for Children

Program ini memilih edukasi pada anak-anak agar anak-anak mendapat pemahaman mengenai pengelolaan keuangan sedini mungkin. Tujuannya untuk mendorong para siswa agar mengerti literasi digital terkait dengan industri keuangan, terutama perbankan. Kalau kata Mr. Robert Gardiner dari PJI sih diharapkan mereka nantinya bisa jadi duta keuangan buat keluarganya dengan menyampaikan bermacam-macam informasi dari ruang kelas pada anggota keluarga dan menerapkannya dalam keseharian.

Ada enggak sih yang mikir kayak gini, “Kayaknya anak sekecil itu belum waktunya deh dikasih edukasi soal keuangan. Entar ajalah ngedidik anak soal keuangannya kalau anak udah gede.” Mungkin memang sih ya uang jajan anak saat ini enggak gede, kebayang kita sebagai orang dewasa, ngelola uang segitu mah gampang. Tapi buat anak kan uang jajannya itu besar. Selain itu, kalau anak enggak dikasih pengertian soal keuangan sejak dini, kemungkinan anak bakalan ngegampangin saat menginginkan sesuatu. Karena dipikirnya barang-barang yang diinginkannya enggak butuh uang untuk membelinya. Apalagi mainan anak sekarang mahal-mahal. Ya bukan persoalan diajak prihatin atau mikirin keuangan keluarga juga. Tapi biar anak setidaknya mengerti cara mengelola uang secara sederhana dan mengelola keinginannya memiliki sesuatu. Saya jadi teringat sama kata-kata Mbak Novita Tandry, seorang psikolog anak, intinya begini: Lebih sulit meluruskan pemahaman anak yang terlanjur salah saat sudah berusia 9 tahun ke atas. Jadi belajar mengelola keuangan buat anak-anak itu memang penting.

Program “Digital Financial Literacy for Children” ini sudah dimulai sejak Agustus 2016, dan untuk periode kali ini berakhir pada Juli 2017. Programnya menjangkau 2.244 siswa yang terdiri dari 7 SD di 4 kota besar Indonesia. Selain Bandung, tiga kota lainnya yaitu Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Untuk teknis pemilihan sekolahnya, Citi Indonesia meminta rekomendasi dari Dinas Pendidikan. Di Bandung sendiri, terpilih SDPN Sabang yang berlokasi di Jalan Sabang No. 2 Cihapit, Bandung Wetan. Acaranya dilaksanakan tanggal 18 April 2017 lalu.

Awalnya saya pikir bakalan ribet banget ngasih edukasi anak-anak soal keuangan. Ekspektasinya berdasarkan pengalaman pribadi sih ya XD Ternyata enggak sama sekali loh. Karena Citi Peduli Berkarya dan PJI menerapkan metode belajar yang seru buat anak-anak. Mereka diajak bermain dengan menggunakan barang favorit mereka, apalagi kalau bukan gawai. Jadi nih tiap siswa dikasih fasilitas masing-masing satu tablet buat belajar interaktif plus berkelompok. Enggak kurang seru gimana coba? Belajarnya interaktif dua arah biar anak-anak semangat dan enggak bosen. Kalau udah menyenangkan begitu belajarnya, pelajarannya jadi gampang diserap dong sama mereka.

Konten pembelajarannya sendiri sejalan dengan Kurikulum Pendidikan Nasional, jadi ikut mendukung pelajaran di sekolah. Pembelajarannya dibagi dalam 3 modul bertema-tema. Yaitu tema “Keluarga Kami”, “Daerah Kami”, dan “Kota Kami”. Para siswa belajar soal manfaat menabung, perbedaan kebutuhan dan keinginan, metode pembayaran yang tersedia di pasar (tunai, kredit, debit). sampai pengetahuan dasar kewirausahaan. Semuanya disampaikan dengan fun! Beneran enggak bikin mumet, mudah banget dicerna. Kalau ada bingung-bingung gitu, anak-anak bakalan dibantu sama kakak-kakak Citi Volunteers alias para karyawan Citi Indonesia yang terlibat dalam program ini. Tapi sih ya, sesi bagian menjelaskan antara ‘kebutuhan’ dan ‘keinginan’ itu agak-agak jleb gimana gitu ya. Soalnya udah segede ini kok susah banget memisahkan antara keduanya XD

Pulangnya, anak-anak juga dibekali komik pembelajaran buat belajar keuangan di rumah. Yeaay! Pada seneng deh mereka. Komik memang media pembelajaran yang efektif buat anak-anak. Seperti belajar di kelas memakai gawai dan metode games, nanti di rumah saat membaca komik, mereka enggak akan bosen juga belajarnya.

Ngeliat program sebagus ini, saya jadi berandai-andai, semoga tahun-tahun ke depan dilaksanakan di lebih banyak sekolah. Dan sekolah anak saya kebagian juga ^_^ Memang kan program ini rencananya bakal diadain tiap tahun. Atau kayaknya bagus juga kalau ada program untuk diikuti anak-anak umum. Jadi anak-anak yang kepengin ikutan bisa daftar sendiri untuk mengikuti programnya. Saya mengharap juga nih ada program buat para orang tuanya supaya bisa menerapkan metode belajar keuangan untuk anak.