[Review + Giveaway] Novel Remedy

Novel Remedy karya Biondy Alfian

Novel Remedy karya Biondy Alfian

Saya ingin memberi pengakuan pada penulis “Remedy” yaitu Biondy Alfian. Sebelum dia mengenal saya, saya sudah jauh lebih dulu mengenalnya. Dulu, kadang saya bahkan suka stalking rak bukunya di Goodreads, hohoho. Awalnya saya membaca review Biondy di salah satu buku yang saya baca. Review Biondy yang cukup tajam menarik saya untuk membaca review-review-nya yang lain. Jadi ketika membaca namanya di pengumuman pemenang lomba YARN, saya sudah sangat penasaran dengan novel perdananya ini. Saat keinginan membaca buku ini kesampaian, saya sangat excited!

***

Judul: Remedy

Penulis: Biondy Alfian

Penerbit: Ice Cube – Imprint KPG

Tebal: 208 Halaman

Penyunting: Katrine Gabby Kusuma

ISBN: 978-979-91-0818-0

Blurb:

“Lo yang nemuin dompet gue, kan?” tanya Navin.

“Ya,” jawabku.

“Berarti lo sudah–“

“Melihat kedua KTP-mu?” tanyaku. “Sudah.”

Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.

Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompet Navin di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data-data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berusia 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis penyendiri itu punya rahasia yang lebih besar darinya.

***

Review

Prolog novel ini berhasil memikat dan mengikat saya sekaligus. Pembaca langsung disuguhi konflik nendang dan memancing keingintahuan. Memang sejak dari blurb ditambah cover-nya yang misterius, Remedy menjanjikan bacaan yang menarik. Kemudian tiga bab awalnya berhasil menyuguhkan kepingan misteri dengan lembut. Saya makin penasaran pada novel yang mengangkat masalah “enggak biasa” ini. Novel-novel depresif begini memang favorit saya.

Bagaimana kalau dia adalah seorang pelarian kriminal yang bersembunyi di sekolah? -Halaman 22-

Sayangnya setelah bab lima ke sana, tempo novelnya jadi terasa melambat. Biondy seperti sangat berhati-hati membuka bilah-bilah petunjuknya. Bahkan saya merasa Biondy malah menebar detail-detail kurang penting. Awalnya saya mengira detail kecil itu akan menjadi petunjuk penting di akhir nanti, tapi rupanya itu hanya pemaparan biasa saja.

Dari segi bahasa, saya menyukai gaya penuturan Biondy yang baku tapi tetap renyah. Dialog-dialognya cukup hidup sehingga membangun chemistry kuat antara kedua tokoh utamanya. Meskipun saya menemukan beberapa dialog yang terlampau kaku. Penggambaran para tokoh-tokohnya pun pas, membuat saya merasa cukup mengenal mereka. Biondy menyebar penjelasan fisik dan karakter tokoh-tokohnya dalam beberapa bab, sehingga pembaca enggak dijejali informasi sekaligus. Selain kedua pemeran utama, tokoh Viki berhasil merebut perhatian saya. Biondy berhasil menciptakan tokoh pendamping yang lovable.

Penggunaan dua sudut pandang orang–POV 1 untuk Tania dan POV 3 untuk Navin–saya rasa sudah tepat. Enggak membingungkan dan enak dibaca. Setting dalam novel ini tergambar jelas, saya bisa membayangkan suasana bahkan dinginnya cuaca dalam cerita. Editan novel ini rapi sekali, saya hanya menemukan satu typo saja. Kerja sama yang baik antara penulis dan penyuntingnya.

Dari luar terdengar suara angin. Suaranya mengingatkan Navin pada sebuah siulan panjang dengan nada yang tinggi. Navin menoleh dan melihat daun di pohon-pohon menunjuk ke satu arah, mengikuti tiupan angin. -Halaman 97-

Pada sepertiga akhir novel, saya kembali menemukan greget konfliknya. Meskipun terbukanya rahasia Navin disampaikan dengan teknik “tell“. Saya sebenarnya menunggu-nunggu Biondy menggambarkan dengan teknik “show” seperti pemaparan masalah Tania, sehingga pembaca akan lebih berempati pada Navin. Pembaca akan merasakan seberapa besar beban yang Navin tanggung. Memang Remedy menggunakan alur maju, hanya bagian prolog saja yang memakai flashback. Bila menggunakan “show” untuk pemaparan masalah Navin, novel Remedy akan lebih kaya dan depresif. Biondy terlalu lama bermain dalam ranah tebak-tebakan dengan pembaca ketimbang menyuguhkan kedalaman konflik kedua tokoh utamanya. Padahal masih banyak bagian yang bisa digali. Apalagi masalah yang diangkat sudah “beda” dari novel remaja umumnya. Bagaimana Tania dan Navin  melewati masa sulit, tentu itu akan menjadi cerita yang menyentuh. Saya rasa novel ini jadi kurang tebal atau justru kurang pemadatan di tengah, dan kurang detail di bagian akhir.

Sejujurnya aku tidak percaya dengan cinta. Cinta membuat seseorang berusaha tampil lebih dari diri sesungguhnya. -Halaman 106-

Terlepas dari kekurangannya, saat membaca Remedy saya merasa diajak berwisata ke masa SMA. Bagian cerita Porseni dan sedikit penyisipan materi pelajaran dalam Remedy menjadi nilai plus karena menjadikan rasa sekolahan dalam novel ini benar-benar hidup. Biondy juga menyampaikan pesan moralnya dengan halus dan enggak menggurui. Quotes-nya juga jleb ^_^ Saya suka pemilihan ending-nya yang realistis. Saya rasa novel ini pantas menjadi salah satu juara lomba YARN.

Setelah beberapa saat cinta itu akan habis. Bahkan sering kedua orang yang tadinya saling mencintai menjadi bosan satu sama lain. -Halaman 106-

Saya percaya, Biondy akan berkembang. Saya menunggu karya-karya Biondy lainnya.

Tan, kasih kesempatan buat diri lo sendiri. Gue yakin, lo juga nggak mau terus hidup seperti ini. -Halaman 189-

***

Giveaway

Giveaway novel Remedy

Giveaway novel Remedy

Mau dapetin novel ini gratis dan bertanda tangan? Yuk, ikutan giveaway-nya. Caranya:

1. Follow twitter penulisnya @biodyalfian

2. Twit-kan info giveaway ini dengan format bebas yang penting memberitahukan giveaway-nya. Pakai tagar #GiveawayRemedy dan mention penulisnya juga saya di @evasrirahayu (kalau kurang karakter bisa dipecah dalam dua twit).

3. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar postingan: Kamu suka masa SMA-mu, enggak? Ceritakan satu pengalaman berkesanmu saat SMA. Cantumkan akun twitter-mu di bawah jawaban ya. (Buat yang masih SMP, pertanyaannya disesuaikan jadi masa SMP ya).

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 23 sampai 30 November 2015. Pengumuman satu pemenang tanggal 1 Desember di akun twitter saya @evasrirahayu

Serba-Serbi Buku Antologi

Bareng buku-buku antologi yang memuat karya saya.

Bareng buku-buku antologi yang memuat karya saya.

Beberapa tahun lalu, sekitar 2011-2013, buku antologi sempat nge-hits banget. Meskipun buku-buku antologi sudah ada jauh sekali sebelumnya, seperti salah satu yang paling terkenal adalah antologi Cerpen Pilihan Kompas yang mulai diterbitkan dari tahun 1992. Kala itu, saya perhatikan setiap bulan ada saja “audisi penulisan buku antologi” berbagai tema. Baik itu diadakan oleh penerbit mayor, penerbit indie, komunitas atau grup penulisan, maupun pribadi perorangan. Di media sosial bertebaran promosi buku-buku antologi cerpen, puisi, flash fiction, hingga campuran ketiganya. Benefit buat para penulisnya pun beragam, mulai dari diberi royalti, fee jual putus, dikasih beberapa eksemplar bukunya, sampai hanya diberi diskon untuk pembelian buku antologinya.

Saya sendiri pun ikut dalam keriaan tersebut, dan sampai sekarang masih menjadi salah satu yang rajin ikut proyek antologi. Sampai-sampai teman saya menjuluki saya sebagai pejuang antologi. Tapi belum sih kalau ada yang memanggil “Ratu Antologi”, soalnya masih banyak penulis lain yang jumlah antologinya lebih banyak dari saya XD Sebutan pejuang itu muncul selain karena rajin ikutan audisi antologi, juga karena saya pernah dua kali–bersama kedua saudara perempuan saya yang juga penulis–membuat seleksi cerpen untuk buku antologi. Waktu itu peminatnya masih sangat banyak, kami dibajiri naskah yang jumlahnya mencapai ratusan.

Sebenarnya apa sih antologi itu?

Kalau menurut KBBI daring (dalam jaringan) Versi 1.5 (Oktober 2015) kbbi.web.id,  antologi adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang.

Sedang menurut Wikipedia, antologi secara harfiah diturunkan dari kata bahasa Yunani yang berarti “karangan bunga” atau “kumpulan bunga”, adalah sebuah kumpulan dari karya-karya sastra. Awalnya, definisi ini hanya mencakup kumpulan puisi (termasuk syair dan pantun) yang dicetak dalam satu volume. Namun, antologi juga dapat berarti kumpulan karya sastra lain seperti cerita pendek, novel pendek, prosa, dan lain-lain.

Buku-buku antologi saya

Buku-buku antologi saya

Mengapa saat itu buku antologi sangat diminati?

Menurut pengamatan saya, merebaknya buku antologi waktu itu disebabkan beberapa faktor. Pertama, profesi penulis yang makin dilirik banyak orang. Tentu ini merupakan perkembangan yang baik, apalagi didukung oleh kemajuan teknologi sehingga mendukung geliat dunia literasi. Misalnya saja dengan bermunculan grup-grup penulisan online. Di sana anggotanya mendapat pelatihan menulis–gratis maupun berbayar–mulai dari dasar seperti pemakaian tanda baca, teknik menulis, bedah karya, dan masih banyak lagi.

Kedua, masih berhubungan dengan grup atau komunitas online menulis tadi, grup-grup itu kebanyakan membukukan hasil karya para anggotanya dalam bentuk antologi agar bisa memasukkan banyak karya anggota ke dalam satu buku. Selain untuk menyemangati anggota untuk terus berkarya, juga bisa dijual dan menjadi bahan pembelajaran untuk yang pembacanya. Sehingga waktu itu grup-grup penulisan berlomba-lomba membuat buku antologi.

Ketiga, bermunculannya penerbit-penerbit baru, baik mayor maupun indie, sehingga membuka peluang besar untuk menerbitkan buku antologi.

Keempat, selain penerbitan, muncul juga percetakan-percetakan yang memberikan pilihan paket Print On Demand (POD) dimana customer dapat mencetak buku dengan jumlah sesuai kebutuhan. Dengan POD, customer bahkan dapat memesan mulai dari mencetak hanya satu buku.

Serba-serbi antologi

Membukukan karya dalam bentuk antologi dengan menyatukan banyak penulis memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan buku antologi bersama:

  1. Waktu untuk membuat buku antologi bersama lebih cepat dibandingkan mengumpulkan karya dengan satu penulis, karena setiap orang hanya perlu memberikan satu atau beberapa karyanya saja.
  2. Pembaca mendapat cita rasa tulisan yang beragam meski dalam satu tema, karena setiap penulis memiliki gaya sendiri.
  3. Dengan membuat buku antologi bersama, bisa mengumpulkan karya dari banyak genre dan penulisnya bahkan bisa lintas zaman. Misalnya buku “Cerita Cinta Indonesia: 45 Cerpen Terpilih” yang ditulis oleh 45 penulis GPU.
  4. Promosi buku antologi bersama dilakukan oleh banyak penulis sekaligus, sehingga promosinya tidak berat dan banyak jenis promonya juga dengan berbagai macam gaya sesuai dengan gaya masing-masing penulis. Saya akui, masa promo ini salah satu bagian yang cukup berat dan membutuhkan banyak energi. Tentunya dengan adanya promo bersama masa promo buku ini lebih terasa ringan dan dapat mengeratkan kekompakkan sesama penulis buku antologi tersebut.
  5. Terkadang dalam proses menulis satu karya, ada masa jenuh, kebuntuan, dan hilang semangat. Biasanya selama proses berkarya, para penulis buku antologi bersama akan saling menyemangati, sehingga menarik satu sama lain untuk segera menyelesaikan karya terbaiknya.
Cover buku Cerita Cinta Indonesia: 45 Cerpen Terpilih (Sumber gambar Goodreads dot com)

Cover buku Cerita Cinta Indonesia: 45 Cerpen Terpilih (Sumber gambar Goodreads dot com)

Kekurangan buku antologi bersama:

  1. Rentan konflik antar penulis. Yang namanya proses tidak terlepas dari masalah. Kalau satu kepala saja masalah penulis bisa begitu banyak mulai dari kurang bahan, mood, sampai writer’s block, apalagi kalau banyak kepala. Memang proses menulis karyanya tetap sendiri-sendiri, tetapi persoalan bisa muncul dari misalnya penentuan tema sampai nama siapa yang disimpan di cover depan.
  2. Kualitas tulisan yang beragam terkadang membuat pembaca kurang puas. Ada yang bagus sekali, sampai kurang baik. Apalagi kalau meskipun satu tema tetapi beda genre. Pembaca enggak suka dengan genre yang dipilih beberapa penulis sangat mungkin terjadi.
  3. Royalti. Karena terdiri dari banyak penulis, tentunya fee harus dibagi-bagi sehingga setiap penulismendapat jatah sedikit.
  4. Meskipun yang mempromokan buku antologi hampir sebanyak jumlah penulisnya, tapi biasanya hanya kencang di awal saja, kemudian cepat hilang. Enggak kayak karya solo yang lebih stabil. Memang semangat dan daya promo penulis buku antologi berbeda-beda. Dan kadang ada penulis yang enggak mau ikut mempromosikan, itu juga bisa jadi bibit konflik.
  5. Susah mencari penerbit mayor yang menerima buku antologi karya bersama.

Penyebab turunnya popularitas buku antologi bersama

Menurut saya, awalnya ini karena pasar sudah jenuh. Kemudian karena waktu itu banyak buku antologi yang dicetak tanpa editing yang memadai. Lalu seperti disinggung di atas, kualitas karyanya tidak merata. Lagipula waktu itu menerbitkan buku antologi tampak mudah sehingga pembaca jadi kurang percaya pada kualitas karya dalam buku antologi. Beberapa kasus mengenai lomba antologi juga turut menyumbang turunnya popularitas. Dan pada akhirnya persoalan penjualannya yang tidak sebagus karya solo.

Namun jangan berkecil hati, kalau karya kita bagus dan sudah berusaha mempromokannya dengan maksimal, pasti akan selalu ada kemungkinan mendapat apresiasi yang besar dari pembaca. Persiapkan saja karya terbaik dan tema menarik untuk buku-buku antologi bersamamu ke depannya. Lagipula apa pun namanya tren pasti naik turun dan berulang. Akan ada masanya buku antologi kembali bersinar.

Perihal penanggung jawab buku antologi bersama

Di awal saya menyinggung soal lomba-lomba buku antologi bersama. Dari pengamatan, banyak juga kasus kurang enak mengenai lomba-lomba ini. Seperti karya yang tidak jadi terbit, dijanjikan terbit di mayor tetapi malah jadinya indie, dan lain sebagainya. Untuk itu, teman-teman apabila mengikuti lomba apa pun sebaiknya memperhatikan penyelenggara lomba atau penanggung jawabnya. Ikutilah lomba yang penyelenggaranya sudah terpercaya. Karena tentunya kita tidak ingin karya yang sudah kita buat sepenuh hati itu tidak jelas nasibnya.

Beda lagi kalau yang mengajak adalah teman sendiri. Misalnya si teman menjanjikan untuk “mengusahakan” agar antologi bersama kita akan diterbitkan oleh penerbit mayor. Ternyata setelah memasukkan ke beberapa penerbit, kumpulan karya kita itu tidak diterima juga, maka semua yang terlibat bisa bermusyawarah untuk memutuskan apakah karyanya akan ditarik atau diterbitkan sendiri saja. Memang tidak mudah menembuskan naskah antologi bersama ke penerbit mayor saat ini.

Buku-buku saya lainnya.

Buku-buku saya lainnya.

Penerbit mayor yang menerima naskah antologi bersama dan ketentuan pengiriman naskahnya:

  1. Stiletto Book.

Ketentuan pengiriman naskahnya:

Naskah ditulis dalam kertas ukuran A4, Font Times New Roman 12, Spasi 1 ½, Format MS Word atau PDF. Panjang keseluruhan naskah antara 100 – 200 halaman. Kirimkan dulu sampel naskah berupa 30 halaman pertama melalui surel, ke: redaksi@stilettobook.com, dengan subjek: naskah fiksi – nama penulis. Lengkapi dengan biodata penulis yang bisa di-download di website Stiletto Book.

Kalau Stiletto Book tertarik untuk mengetahui keseluruhan naskahmu, kamu akan diminta mengirimkan naskah lengkap ke alamat redaksi dalam jangka waktu satu bulan. Dalam waktu satu bulan penulis akan mendapatkan konfirmasi naskahnya layak diterbitkan atau tidak. (Sumber informasi web Stiletto Book)

2. Grasindo

Ketentuan pengiriman naskahnya:

Naskah diketik rapi menggunakan font Times New Roman (atau yang sejenis) dengan ukuran font 12 pt. Panjang naskah 70 – 150 halaman A4. Lengkapi naskah dengan sinopsis yang panjangnya tidak lebih dari dua halaman, proposal yang menjelaskan mengapa naskah kita layak terbit, dan data diri. Satukan empat file (naskah, simopsis, proposal, dan data diri) dalam satu satu folder .rar (winrar).

Naskah dikirim melalui web Grasindo dengan mengeklik KIRIM NASKAH di sana. (Sumber informasi web Grasindo)

Itu dia sekelumit mengenai serba-serbi buku antologi. Semoga bermanfaat ^_^

Soulmate Blogger Petualang: Hisense Pureshot Plus

Foto pemandangan Citumang pakai kamera Hisense Pureshot Plus

Foto pemandangan Citumang pakai kamera Hisense Pureshot Plus

Semenjak serius ngeblog, saya jadi mikirin banget keseluruhan konten sebelum posting. Salah satu yang paling susah buat saya itu ngisi bagian fotonya. Enggak pinter fotografi, enggak bisa ngambil angle keren, sama enggak bisa ngedit pake program apa pun, bikin foto yang dipajang di postingan jadi super alakadarnya :’) Sering ngiler banget liat foto-foto di postingan orang XD Saya juga kepengin manjain pembaca dengan foto-foto bagus. Masalahnya tambah mumet pas saya dan Evi–kembaran saya–mulai jalan-jalan ala traveller gitu. Sayang banget udah dateng ke spot-spot dengan view amazing, tapi waktu difoto hasilnya enggak oke. Jadi sediiih, soalnya yang namanya momen tuh enggak bisa diulang. Saya pikir kalau mau jadi blogger petualang kayaknya saya butuh smartphone yang punya kamera fotografi.

Sumber foto Samrtfren.com

Sumber foto Smartfren.com

Solusi masalah foto itu saya dapet dari kamera Hisense Pureshoot Plus. Smartphone keluaran Hisense kerja sama dengan Smartfren ini punya keunggulan di kameranya. Kebeneran banget, pas dapet smartphone satu ini, saya jalan ke daerah Pangandaran. Sesampainya di sana, ngeliatan pemandangannya yang indah, tangan langsung gatel pengin jeprat-jepret plus selfie XD Lalu, taraaaa…! Hasil fotonya bikin pengin jingkrak-jingkrak. Bayangin aja, gimana keadaan saya pas jalan-jalan ke alam sehabis mendaki gunung lewati lembah, berenang di sungai, berlarian dan main pasir di laut. Udah pasti kumel, keringetan kayak baru keluar dari sauna, dan bikin yang liat spontan bilang, “Ewww!” Tapi-tapi-tapi ternyata hasil fotonya bikin surprise karena saya masih keliatan fresh XD Udah pastilah itu kekerenan bukan pada orangnya, tapi pada kamera fotonya, hohoho.

Selfie sesudah main pasir dan berlarian di laut.

Selfie sesudah main pasir dan berlarian di laut.

Bukan itu aja, pemandangan indahnya juga terekam dengan baik meskipun saya enggak bisa fotografi. Jadinya tiap kali liat hasil jepretannya berasa kerekam banget kenangannya. Gara-gara pakai Hisense Pureshot Plus ini hasil jepretan saya dipuji orang XD  Cieee *ini-apah-nge-cie-in-diri-sendiri* Rasanya kepengin masang semua hasil foto ke dalam postingan blog dan narsis di Instagram XD

Pemandangan sungai Cijulang

Pemandangan Sungai Cijulang diambil memakai kamera Hisense Pureshot Plus

Pemandangan Curug Lampeng Green Valley diambil memakai kamera Hisense Pureshot Plus

Pemandangan Curug Lampeng Green Valley diambil memakai kamera Hisense Pureshot Plus

Kenapa sih smartphone Hisense Pureshoot Plus ini jadi kesayangan saya?

  • Spesifikasi kamera

Kameranya oke banget. Kamera belakangnya 13 Megapixel sehingga hasil foto dan videonya bagus. Kamera depannya 5 Megapixel, memungkinkan hasil selfie memuaskan 😀 Saya sebagai blogger petualang–wannabe–perlu banget alat tempur kualitas jempol begini.

Pemandangan matahari terbit di Batu Karas.

Pemandangan matahari terbit di Batu Karas.

Semua foto di postingan ini enggak ada yang diedit, cuman dikasih watermark aja. Tapi hasilnya oke kaaaan 😀

  • Kecepatan dan sinyal 4 G LTE Advanced milik Smartfren

Smartphone Hisense Pureshot Plus ini memakai teknologi Smartfren 4G LTE Advanced yang kenceng dan stabil. Bikin tenang bawa-bawa ke mana-mana karena bisa langsung posting blog dan bebas ber-medsos ria.

Hasil speedtest di Bandung

Hasil speedtest di Bandung

  • Layar gede memakai teknologi Corning Gorilla Glass 3

Layarnya seluas 5.5 inchi, memakai teknologi pelapis Corning Gorilla Glass 3 yang tangguh terhadap goresan, benturan, sama gesekan. Jadinya layarnya tetep mulus meskipun terjatuh. Sebagai cewek yang agak jorok, teknologi ini amat-sangat-super membantu saya. Soalnya smartphone punya saya selalu bernasib terjatuh-jatuh. Apalagi saat dibawa ke alam terbuka, resiko jatuh kena batu selalu ada :’)

  • Oke dipake nonton dan main game

Sebagai orang yang lagi tergila-gila youtube-an, smartphone satu ini memuaskan banget! Soalnya tiap nonton enggak buffering. Cerita saya lagi gandrung youtube-an pake Smartfren ada di sini. Dipakai main game juga seruuu, karena support sama game-game berat. Suaranya juga mantaaap!

  • Desainnya yang elegan dan cantik.

Smartphone satu ini desainnya elegan, keliatan ekslusif. Kalau manusia tuh paket lengkap, cakep luar dalem. Fisik oke, fitur keren.

  • Prosesor dan Baterai

Spesifikasi prosesornya Octa Core 1,4 GHz-Cortex A53 dengan internal memory 16 GB, pas buat saya yang butuh apa-apa cepet, loading-nya enggak lemot. Kapasitas penyimpanannya yang luas, bikin jatuh cinta. Berhubung kalau ke mana-mana apalagi liat pemandangan indah itu gak cukup sekali dua kali ngambil foto, tapi satu tempat bisa ratusan foto, jadi memang butuh memori bawaan luas. Soal baterainya memang standar, yaitu 2.500 mAh, tapi cukuplaaaah buat nemenin di satu destinasi.

  • Kualitas secara keseluruhan

Kesimpulannya, kualitas secara keseluruhan Hisense Pureshot Plus ini memuaskan. Bisa jadi partner para blogger petualang karena memiliki semua spesifikasi yang kita butuhkan.

Ini hasil rekaman salah satu petualangan saya. Bening kan. Terbukti memang Hisense Pureshot Plus partner paling pengertian, segala bisa, dan sesuai kebutuhan .

Penasaran sama keunggulan lain dari Hisense Pureshot Plus ini? Kamu bisa stalking di akun Twitter-nya Smartfren (@smartfrenworld) dan Hisense (@HisenseID). Semua-semua info terbaru ada di sana. Sering ada kuis berhadiah hape juga 😀

Kalau kameramen istrinya kamera, suaminya penulis itu komputer, anaknya musisi itu alat musik, naaah… solumate-nya blogger petualang  itu smartphone canggih tahan tempur kayak Hisense Pureshot Plus ini 😀 Kalian-kalian para blogger petualang bisa buktiin sendiri istimewanya smartphone satu ini.