Kisah di Balik Cerpen Saya di Buku Antologi Kampus Fiksi Emas 3

PicsArt_04-26-10.35.41

Waktu membaca pengumuman audisi antologi Kampus Fiksi Emas 3, saya tidak pernah menyangka kalau cerpen saya akan masuk di dalamnya. Bahkan saya tidak menyangka akan berhasil menulis cerpen untuk dikirimkan ke sana, Dari dulu saya memang jarang sekali menulis cerpen. Paling banyak dalam satu tahun 2-3 cerpen saja. Itu pun kalau ada ide kuat yang hadir di benak. Memang ada satu kala, saya cukup produktif–dalam hitungan saya–menulis cerpen, tahun itu sekitar 2012, saya menulis lima cerpen, kemudian saya kirimkan ke media dan sebagian masuk ke buku antologi.

Bagi saya, menulis cerpen adalah sesuatu yang sakral. Seringkali, saya menunggu ide-ide cerpen di kepala saya matang untuk menuliskannya.

Tahun ini, ketika membaca pengumuman audisi Kampus Fiksi Emas 3, saya tergetar untuk mengikutinya. Tiap kali akan mengikuti lomba menulis, biasanya saya menunggu getaran itu hadir. Banyak lomba yang secara akal ingin saya ikuti, tetapi tidak dibarengi getaran itu, biasanya pada akhirnya saya akan gagal mengikutinya. Sebut saja saya drama, tapi itu jujur adanya.

Buat saya, Kampus Fiksi yang didirikan oleh Penerbit Diva Press grup ini merupakan keluarga besar dimana saya mendapat banyak hal. Ilmu, keluarga, kenangan, hingga alasan kuat untuk terus datang ke kota Jogja. Karena itu pula, saya ingin sekali memiliki karya bersama mereka. Apalagi tema lomba kali ini begitu seksi: Film, Parfum, dan Musik. Boleh memilih salah satu atau dua, bisa juga paduan ketiganya.

Meski getaran itu kuat sekali, tak sekonyong-konyong ide untuk cerpen datang. Hingga deadline tinggal satu minggu, saya masih tak tahu akan menuliskan apa. Sampai saya melewati jalan menuju rumah, bertemu dengan seorang bapak yang seringkali saya temui. Bapak Malaikat, begitu saya dan Evi menyebutnya. Kami tak tahu nama aslinya, tak tahu pula dari mana asalnya. Yang saya tahu, bapak itu selalu berdiam di tempat yang sama, beberapa ratus meter dari rumah orangtua saya.

Ketika melihat bapak itulah, ide cerpen datang. Bapak ini yang memberi saya inspirasi:

PicsArt_04-26-03.25.18

Saya berimajinasi, seperti apa kehidupannya. Mungkin seperti ini, atau juga seperti itu. Saya gambarkan dalam cerpen, bagaimana kesehariannya setiap kali saya melihatnya. Kadang melamun, kadang menyesap rokok. Tapi tak pernah saya temui beliau berbicara dengan seseorang. Tak jauh dari tempat bapak itu selalu duduk, ada satu bangunan yang pada tahun lalu habis dilalap api. Sampai sekarang saat bangunan itu telah kembali berdiri kokoh, penyebabnya masih spekulasi, belum juga diketahui.

Dua hal itulah yang menjadi inspirasi saya untuk menulis cerpen berjudul Dokumenter Tentang Lelaki yang Menyekap “Seandainya” di Mulutnya. Begitulah, ide seringkali datang dari hal-hal yang dekat, kadang dari hal yang tak terbayangkan. Saya akhirnya mengambil tema film. Dalam waktu tiga hari, cerpen itu selesai saya tulis. Waktu yang terbilang singkat buat saya yang biasanya menulis satu cerpen saja membutuhkan dua minggu hingga satu bulan. Menjelang beberapa jam dari deadline, cerpen itu saya kirimkan ke email panitia. Sambil merapal mantra: kirim lalu lupakan. Pura-pura santai dan tak menunggu waktu pengumuman, padahal ketar-ketir tiap kali anak-anak Kampus Fiksi membincangkan perihal lomba XD Saat membaca 254 judul cerpen yang masuk pun, saya masih terus berusaha santai. Padahal aslinya, membaca judul-judulnya saja hati saya sudah mencelos.

Selain saya, ada Evi juga yang mengikuti lomba ini. Biasanya, kalau kami ikut, hanya salah satu saja yang masuk. Duh, beban banget :’) Namun saya tidak putus harapan, mungkin saja kali ini kami bisa lolos bersama.

Satu bulan kemudian, saat pengumuman 13 judul dan nama yang lolos dalam buku antologi Kampus Fiksi Emas 3, saya membacanya pelan-pelan.

Ada nama Evi…. Saya ikut senang, tapi semakin deg-degan.

Lalu… ada nama saya! Saya pun memekik sambil memeluk Evi yang sedang duduk di pinggir saya. Saya kabarkan berita membahagiakan itu.

Baru kali ini, kami bisa lolos lomba bersama. Rasa bahagianya jadi berlipat-lipat ^_^ Apalagi karya saya bisa satu buku dengan cerpen-cerpen lain yang bagus-bagus. Pemenang pertama, yaitu cerpen karya Siska Nurohmah yang memakai nama pena Lugina W. G. menjadi judul buku antologi Kampus Fiksi Emas 3: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya. Buku ini menjadi buku pembuka tahun 2016. Semoga setelahnya, saya bisa menelurkan karya-karya lain yang diabadikan dalam buku.

PicsArt_04-26-07.29.33

Ini daftar isi bukunya:

1. Wajah-wajah dalam Kaset Pita – Gin Teguh
2. Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan – Amaliah Black
3. Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan – Evi Sri Rezeki
4. Black Butterfly – Sugianto
5. Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya – Lugina WG
6. Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap ‘Seandainya’ di Mulutnya – Eva Sri Rahayu
7. Le Nozze di Figaro – Sayfullan
8. Goodbye – Ghyna Amanda Putri
9. Sepasang Mata Terakhir di Negeri Ini – Frida Kurniawati
10. Cintalah yang Membuat Diri Betah Untuk Sesekali Bertahan – Puput Palipuring Tyas
11. Psikadelia – Farrahnanda
12. Yang Menunggu di Dalam Cermin – Erin Cipta
13. Kisah yang Tak Perlu Dipercaya – Reni FZ

 

PicsArt_04-26-10.24.12

Bersama para penulis antologi Kampus Fiksi Emas 3: Sayfullan, Reni FZ, Farrahnanda, Ghyna Amanda, Sugianto, Evi, dan Frida.

Tentang Bapak Malaikat
Setelah pengumuman itu, saya bertemu dengan Bapak Malaikat. Saya ingin tahu latar belakangnya. Saya tanyakan di mana rumahnya? Butuh dua kali mengulang pertanyaan untuk mendapat jawabannya. Sepertinya, Bapak yang sudah sepuh pendengarannya sudah tidak begitu jelas. Katanya sambil menunjuk ke arah satu gang, rumahnya dekat sana. Saya tanyakan namanya, dia tidak menjawab. Saya tanyakan lagi, dia tetap bergeming. Mungkin Bapak Malaikat tak mau menyebutkan namanya, maka dari itu saya berhenti bertanya. Saya tanyakan apakah bapak masih memiliki keluarga, katanya ada. Tidak jelas dia menyebutkan angka 86. Bingung juga, apa maksudnya anaknya ada sebanyak itu? Rasanya tidak mungkin. Waktu saya mau bertanya untuk kesekian kali, dia menggeleng, sepertinya merasa terganggu. Akhirnya saya sudahi saja obrolan singkat kami.  Lain kali, saya ingin kembali berusaha mengenalnya lebih dekat lagi.
“Terima kasih, Pak, sudah menjadi inspirasi saya. Semoga Bapak selalu sehat.”

 

 

Giveaway Kumpulan Cerpen “Mealova”

Makanan, bukan tema favorit saya untuk ditulis. Meskipun ketika menulis malam-malam, saya selalu ditemani camilan. Memang pernah, suatu kali di tahun 2011 saya membuat outline novel tentang kompetisi memasak. Tapi outline itu sampai sekarang tersimpan rapi karena saya tidak punya cukup keberanian menuliskannya. Apa ya… sejenis takut salah, berhubung dulu saya kurang akrab dengan kegiatan masak-memasak. Kalau sekarang lumayanlah….

Lalu tanpa terduga, seorang sahabat bernama Catz Link Tristan mengajak saya menyumbangkan satu cerpen untuk kumcer yang digawanginya. Temanya makanan dan cinta. Saat itu saya langsung menerimanya, meskipun jauh di dalam hati ragu apa mampu menuliskannya.

Hari-hari berlalu, secepat deadline yang terlewati. Sampai tengat waktunya, cerpen itu belum juga selesai. Melihat nama Catz di bbm cukup membuat perasaan ketar-ketir saking merasa bersalah. Untungnya Mak cakep satu itu punya kesabaran luar biasa. Dia mau memperpanjang deadline. Kali ini saya tidak lagi mau buang-buang waktu.

Sebuah ide terlintas ketika memakan salah satu masakan favorit saya. Namanya Ayam Cacah Bumbu Bima, masakan khas lombok yang hanya dibuat oleh chef pribadi satu-satunya *uhuk* Ide itu memadukan antara romance dan sedikit sci-fi, seperti favorit saya, tentang mesin waktu. Cerpen yang dibuat selama lebih dari satu minggu—ya, berhubung saya memang penulis super lelet—berkisah tentang Maya yang berprofesi sebagai pembunuh antar ruang dan waktu. Maya awalnya merasa bahwa dia adalah penyelamat dunia dengan mengenyahkan target-targetnya dari sejarah. Nyatanya dalam satu waktu, kesadarannya seperti dibangunkan. Maya pun mulai memberontak dalam pikirannya, ingatan yang biasanya terhapus seusai misi, kini disimpannya rapat-rapat. Muncul rasa-rasa lain yang membuat dadanya sesak. Maya yang terbiasa dingin tidak tahu bagaimana caranya menangis. Ketika itulah Ghani—asisten sang profesor—memberinya ayam bumbu bima yang memiliki rasa pedas. Air mata Maya keluar dengan sendirinya. Bagaimanakah nasib Maya yang dianggap terlalu banyak tahu? Apa Ghani bisa membuatnya jatuh cinta? Baca lengkapnya di cerpen “Tangisan Ayam” ya ^_^

Kumcer berjudul “Mealova” ini bercerita tentang sepuluh kisah yang diramu oleh sepuluh penulis. Bukan hanya romance, ada horor juga loh. Siapa saja mereka? Catz Link Tristan (novel Labirin dan Gerimis Bumi), Glenn Alexei (novel Cinta di Atas Awan dan Second Chance), Liz Lavender dan Raziel Raddian (novel duet Kiss the Sky), Renee Keefe, Try Novianti, Lily Zhang, Muhamad Rivai, dan Alfian N. Budiarto (semuanya menulis beberapa antologi). Pasti nama-nama itu sudah tidak asing lagi ^_^

Karena setiap cerpen dilengkapi dengan resep masakannya, kamu bisa langsung mempraktikan di dapur loh. Ada nasi ayam bakar, kimchi, capcay, ayam cacah bumbu bima, nasi kuning, dan lainnya. Rasanya pasti yummy…. Resepnya enggak susah-susah kok. Dijamin langsung jadi koki andalan rumah XD

 

Ini sedikit info tentang bukunya:

 

mealova

Penulis: Catz Link Tristan, Eva Sri Rahayu, Glenn Alexei, Muhamad Rivai, Lily Zhang, dkk

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

ISBN: 978-602-251-750-4

Rilis : 10 November 2014

Halaman: 216

Harga: Rp. 46.000

Blurb:

Ini bukan sepenggal cerita cinta biasa. Melainkan kumpulan dari sentuhan rasa penuh makna. Yang melumer sempurna di langit-langit mulut dan hati mu dalam waktu bersamaan.

“Aku mengalami patah hati berkali-kali karena gadis yang sama.” – Rasa Gurih.

“Memasak bisa menjadi terapi yang menyenangkan.” – Tangisan Ayam.

“ Kalau bukan karena dia, aku tak mungkin bisa menjadi Martha yang sekarang.” – Kenangan Nasi Ayam Bakar Bumbu Kecap.

“Aku tidak akan mencintai perempuan selain kamu.” – Kimchi Promise.

“I fell for you, you have to know that.” – Sandwich and The Hostage.

“Kalo jengkol kan direndam satu malam, kalo cinta dipendam berapa malam?” – Balado Jering Cinta Zia.

“Ia menangis.” – Nasi Kuning Sesaji.

“Apa loe udah punya pacar?” – Sweet Fried Rice.

“Ketika kau benar-benar mencintai seseorang, kau hanya ingin membuatnya tersenyum. Dengan cara apa pun itu.” – Smilling Pasta.

“Biarkan bara waktu mematangkan seti ap sisi kehidupanmu secara sederhana dan alami.” – I Hate What You Love.

Keti ka masa lalu bertemu dengan harapan. Saat penyesalan bertaut dengan impian. Tersaji di atas sepiring cita penuh cinta. Hingga kau kenal betul rasa itu; pahit, manis, asam, asin, pedas, kadang membuatmu alami de’javu akan kenangan masa lalu, jejak saat ini, sekaligus mimpi masa depan.

 

Teman-teman mau bukunya? Yuk ikutan giveaway-nya. Cukup ceritakan aroma masakan favorit dan aroma masakan yang bikin kamu sebal beserta cerita di baliknya. Tulis cerita di kolom komentar postingan ini. Ada satu buku “Mealova” untuk cerita yang paling saya suka. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 26 November sampai 1 Desember 2014. Pemenang diumumkan tanggal 2 Desember di twitter saya @evasrirahayu jam 8 malam.

TwiRies Fun Fact

Kali ini saya ingin berbagi fun fact buku TwiRies: The Freaky Twins Diaries.

 

Sebelumnya ini sekilas tentang bukunya:

 

Twiries

 

Judul             : TwiRies: The Freaky Twins Diaries  
No. ISBN        : 9786022555773
Penulis          : Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki
Penerbit        : Diva Press
Terbit            : Mei – 2014
Jumlah Hal.  : 304
Jenis Cover  : Soft cover
Harga           : Rp44.000 
 


“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu.
“Nah, kalau mata Evi itu belo-belo sipit. Kalau saya sipit-sipit belo,” jawab Eva dengan bersemangat.
 
“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang keseratus tujuh.
“Evi belo, saya sipit,” jawab Evi dengan tangan mengetuk-ngetuk tak sabar.
 
“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang ketiga ribu tiga puluh dua.
“Belo, sipit,” kata kami dengan muka datar dan memberi jawaban yang tidak menjelaskan sama sekali. 
 
“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu juta delapan ratus ribu empat puluh sembilan.
Menyipitkan mata. “….”
 
Hal-hal yang membuatmu penasaran sama si kembar, seperti, “Mereka pernah bertukar sekolah?”
“Pernah bertukar pacar?”
“Atau punya telepati?”
 
Temukan jawabannya di buku ini.
 

 

 

TwiRies Fun Fact:

1. Judul awal buku ini adalah “We Called It Twins Miracle”

2. Kami menulis buku ini selalu dengan posisi saling berhadapan di ruang tamu rumah Evi XD

3. Jam menulis kami mulai dari jam 11 malam sampai jam 4 pagi.

4. Saat menulis kalau salah satu di antara kami sudah selesai, enggak boleh tidur duluan, karena harus nungguin kembarannya beres juga.

5. TwiRies buku duet pertama kami. Menulis duet ternyata susaaaaah … bangeeet …! Harus sama-sama menekan keinginan untuk merasa lebih unggul.

6. TwiRies merupakan tulisan berupa personal literature pertama kami, dan merupakan personal literature pertama di Indonesia juga yang ditulis sama anak kembar.

7. TwiRies buku komedi pertama kami. Sebelumnya kami selalu menghindari menulis komedi karena merasa enggak bisa ngelucu XD

8. Judul TwiRies (Twin Diaries) dibuat oleh Evi. Waktu itu saya mengusulkan TwiVers (Twin Universe) yang sekarang dipakai untuk nama akun twitter fanbase kami. Sedangkan sub judulnya oleh saya ^^V

9. Proses kreatif pembuatan konsep TwiRies sangat dipengaruhi editor kami, Mbak Rina Lubis.

10. Naskah komik TwiRies dibuat oleh saya.

11. Edit foto dan perdesainan yang berhubungan dengan TwiRies (semisal poster) dibuat oleh Evi.

12. Komik TwiRies dibuat selama dua bulan setengah oleh Zamal Martian.

13. Di dalam TwiRies ada tips pedekate ke anak kembar. Bocoran nih buat yang lagi ngalamin XD

14. Pertanyaan paling menohok sebelum buku ini dicetak disampaikan oleh seorang teman: Apa sih yang bikin kalian pede nulis buku ini? Emang ada yang mau baca?

15. Pembuatan book trailer berlangsung selama 19 jam. Mulai dari persiapan jam 6 pagi, selesai jam 1 pagi. Padahal sih sutradara dan kameramennya udah sesumbar bakalan selesai jam 12 siang.

16. Saking tipisnya skenario TwiRies book trailer, sutradaranya memprediksi hasilnya maksimal 3 menit. Ternyata hampir 7 menit XD

17. Ada satu adegan dalam skenario TwiRies book trailer yang hilang karena kelupaan di-take XD Untungnya enggak mempengaruhi jalan cerita.

18. Skenario TwiRies book trailer mengalami revisi di H-2, dengan penambahan satu adegan, yaitu adegan di kasir.

19. Pikiran kami ketika syuting TwiRies book trailer: Ternyata akting jadi diri sendiri itu susah banget.

20. Judul soundtrack TwiRies book trailer adalah “Evi, Eva”, sedangkan judul soundtrack behind the book trailer-nya “Maafkan kami, oh, Kasih”.

21. Adegan pertama di TwiRies book trailer diambil selama satu jam lebih di bawah terik matahari.

22. Sampai jam 7 malam, belum satu adegan pun yang pengambilan gambarnya selesai.

23. Skenario TwiRies book trailer merupakan pengembangan dari semacam pengantar saya yang juga dijadikan blurb bukunya.

24. Kalau bisa diulang, saya pengin syuting lagi, soalnya ngerasa aktingnya enggak maksimal :’)

 

 

TwiRies book trailer:

 

TwiRies behind the book trailer:

 

 

Love Puzzle

Love Puzzle

Love PuzzleCover depan Love Puzzle

Judul : Love Puzzle

No ISBN : 9786021606049

Penulis : Eva Sri Rahayu

Penerbit : Noura Books

Terbit : November 2013

Jumlah Halaman : 284

Jenis Cover : Soft Cover

Harga : Rp. 49.000

 

 

Rasi memberi senyuman, tetapi cowok itu malah tidak mengacuhkannya.

“Raja?” sapa Rasi.

“Sori?” Kening cowok itu berkerut.

“Kamu Raja, kan?” tanya Rasi lagi.

“Hmm, enggak usah sok kenal, deh,” balas Raja dingin.

Rasi melengkungkan bibirnya, cowok keren memang sering kena amnesia! “Enggak usah nyebelin gitu, deh. Kamu kan yang nanya-nanya soal fotografi di atap BIM kemarin? Kalau aku salah orang, biasa aja, deh.”

Raja merespon perkataannya dengan wajah kaget. Namun sedetik kemudian, ekspresi Raja kembali sinis. “Denger ya, aku enggak kenal kamu!” geram Raja penuh penekanan.

***

Sejak ketemu cowok itu, Rasi merasa level hatinya naik turun seperti roller coaster: kadang berbunga, kadang kesal setengah mati. Sama seperti sikap Raja yang jago sulap: kadang baik, kadang nyebelin. Ada ya orang yang seperti itu? Rasi hanya belum tahu kalau di balik semua kejadian ada misteri tersimpan. Dan takdir menuntun Rasi masuk ke labirin yang entah ke mana berujung ….

***

Back cover Love PuzzleBack Cover Love Puzzle

“Karya yang manis, hangat, dan bikin penasaran hingga halaman terakhir.”
— Dyah Rinni, penulis “Unfriend You” dan “Serial Detektif Imai”.

“… kepingan demi kepingan cerita yang mengundang rasa penasaran pembaca.”
— Valleria Verawati, penulis “Bidadari di Bawah Hujan” dan “Nggak Usah Jaim, Dech!”

***

Buku ini bisa didapatkan di toko buku dan toko buku online seperti pengenbuku.net, bukabuku.com, dan Mizan.com.
Atau bisa pesan langsung sama saya ^_^
Nonton Book Trailer Love Puzzle di :
Untuk yang sudah baca, bisa ngasih rating dan komentar di Goodreads ya. Link-nya : https://www.goodreads.com/book/show/18804251-love-puzzle
Ditunggu apresiasinya ^_^

Sell Your Soul! – Buku antologi thriller.

Judul: Sell Your Soul!
ISBN: 978-979-25-4858-8
Tebal: 128 halaman + xv

Penulis : Bintang Berkisah, Eny Puji Lestari, Erry Sofid, Eva Sri Rahayu, Evi Sri Rezeki, Felis Linanda, Lewi Satriani, Marrisa Amar,
Mpok Mercy Sitanggang, Poppy D. Chusfani, Ratih Handayani, Shita K. Larasati, Vincentia Natalia, Weni M. Waluyani, Yunis Kartika

Desain Cover: Evi Sri Rezeki
Layouter: Sandy Muliatama
Penyunting: Eva Sri Rahayu
Penerbit: Chibi Publisher
Tahun terbit: 2012
Harga: Rp. 30.000

“Apa yang sebenarnya kauinginkan?” gadis itu bertanya.
Aku menatapnya lekat-lekat, menyadari betapa matanya menyorot bijaksana, tapi juga berhasrat. “Keabadian,” jawabku. “Namaku dalam sejarah.”
“Dan untuk itu kau harus merasakan kesedihan?” gadis itu bertanya lagi.

Bukan Keabadian – Poppy D. Chusfani.

High heels-ku menginjak darah segar yang mengalir dari tubuh orang itu, darah bercampur dengan air hujan. Orang itu terkapar tidak jauh dari mobilku dengan keadaan mulut terbuka, mata melotot dan kepala sobek, bahkan aku bisa melihat otaknya. Orang itu jelas sudah tidak bernyawa. Aku membekap mulut agar tidak menjerit.

Keep Silent! – Eva Sri Rahayu.

Aku menyedot rokok dalam satu tarikan panjang lalu mengepulkan asapnya ke wajah Amy. Kepulan asap rokok menyeruak ke dalam hidung si gadis kecil dan menyelusup masuk hingga ke pori-pori kulitnya. Aku sampai bisa melihat asap keluar dari sana di antara kulitnya yang telah mulai rusak oleh pembusukan. Di tengah kepulan asap kelabu aku melihat gadis kecilku membuka matanya, “Mami?”

Sebatang Rokok Merk Olimpia – Lewi Satriani.

Darah berbusa mengucur dari lubang matanya. Kuperlihatkan bola matanya yang tertusuk ujung obeng ke hadapan matanya yang menatap gemetar. Aku menyeringai.

Kematian Bidadari Mata Biru – Erry Sofid.

Lamat-lamat Deri bangun dari tidur berjalan sempoyongan menghampiri Pak Dimas, tangannya menggenggam sebuah cutter, perlahan memotong bagian lehernya. Darah berceceran, Deri terus memotong leher sendiri. Mulut Deri bergerak-gerak mengeluarkan suara memilukan.
“To … long … hen … ti … kan … a … ku ….”

Siapa pun Tolong Hentikan Aku – Evi Sri Rezeki.

“Anak Setan! Anak Setan! Anak Setan! Bakar!!!” teriak warga dusun dengan beringas. Ludah berhamburan dari mulut mereka dengan penuh kebencian. Mata mereka membelalak, melotot dan menyala. Tubuh mungilku di seret, di arak menuju lapangan dekat balai dusun.

666 – Yunis Kartika.

Aku gemetar ketakutan, sambil terus menangis. Aku benci diriku yang cengeng. Tanpa sadar, tanganku mulai menampar pipiku sendiri. Dana bangkit berdiri, tertawa sambil berjalan ke arah pintu. Di depan pintu, tiba-tiba Dana menghentikan langkahnya, dia menoleh padaku dan mengancam. “Buat gue, loe udah mati, Dani. Gue malu punya kembaran cacat kayak loe!”

Kembar – Mpok Mercy Sitanggang.

Setelah memaki-maki, ibu pergi ke kamarnya dan membanting pintu. Aku yang masih dalam keadaan shock hanya bisa mematung. Okaa-san? Muak? Ibuku sendiri muak melihatku karena aku mirip ayahku? Muak?! Ha! Ingin rasanya tertawa dan menangis lalu mati dalam waktu yang bersamaan. Mereka berpisah kan bukan salahku! Haha …. Hidup yang lucu!

Crystallize Dust – Shita K. Larasati

Aku mengeluarkan buku yang kunamakan buku kematian. Aku membukanya dan melihat tulisanku sendiri, ‘Joki Aditya, meninggal karena keracunan makanan jam 06.40’. Tiba-tiba tulisan itu menghilang. Aku terkejut dan hampir tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri.

Death Book – Felis Linanda

Merah, semerah darah. Semerah hatiku yang berdarah-darah. “Pembohong …,” jawabku pelan sambil menutup telepon. Aku pun menangis sambil mengutuki kristal tersebut. Mengutuki kejujuran kristal tersebut. Mungkin kehidupanku akan lebih bahagia kalau saja aku tidak pernah memilikinya.

Kristal Hati – Marrisa Amar

“Tolong! Kumohon siapa pun!!” Aku berteriak sekeras mungkin. Tapi tak ada seorang pun yang bergerak. Aku makin panik, semua anggota tubuhku terasa sakit. Aku benar-benar tidak tahu mengapa hal ini terjadi padaku. Sampai tiba-tiba rasa sakit mulai mengumpul di dada kiriku, di jantungku.

Menggadaikan Masa Depan – Weni Mardi Waluya

Darah menggenangi tanah tempat kami terbaring. Ingin meminta tolong, namun suara tak bisa keluar, tubuhku juga menolak untuk bergerak karena rasa-rasanya ada tulang yang patah di punggung. Alih-alih menolong, orang-orang hanya berlalu pergi karena pertunjukan sudah usai. Dalam kesakitan, aku merasa lega melihat Billy tidak bergerak lagi, kalau perlu, selamanya.

Ill Will – Vincentia Natalia

Kupikir anak itu semakin gila. Pikirannya sudah dirasuki setan. Beraninya ia menuduhku hendak membunuh ayahnya. Mungkin ia pikir, bubuk yang kutuang dalam minuman suamiku adalah racun. Benar-benar anak bodoh. Padahal itu oralit. Bagaimana mungkin aku meracuni suamiku sendiri?

Seteru – Bintang Berkisah

Keluar sebuah gambar polaroid. Kaget. Yang lebih mengagetkan lagi, tak ada sosok aku di situ. Terdapat seorang lelaki yang duduk di sebelah Citra, tapi bukan aku. Padahal aku ingat betul, harusnya yang duduk di situ adalah aku. Tapi, tunggu, matanya Citra sungguh mengatakan jatuh cinta yang amat dalam pada sosok laki-laki ini. Siapa dia?

Telaga Warna – Ratih Handayani

Terdengar suara letusan ban lalu disusul suara ban beradu dengan aspal yang siapa pun mendengarnya pasti akan merasa sesuatu mengiris ulu hatinya. Aku menyaksikan beberapa mobil bertabrakan di depan mataku. Orang-orang terkejut dan berteriak.

When I Couldn’t Let You Go – Eny Puji Lestari

 

Cover Sell Your Soul!

When … I Miss You

Judul      : When… I Miss You
ISBN       : 978-602-20209-4-3
Harga     : Rp. 30.000,- (Belum termasuk Ongkos Kirim)
Penulis    : Eva Sri Rahayu | Endang SSn |  Ika Endaryani
                | Ceng Ahmar Syamsi | Kamal Agusta
                | Zya Verani | Ragil Kuning| Endah Wahyuni
                | Akarui Cha | Chie Chera | Dian A. Yuan
                | Vivie  Hardika | Bayu Rhamadani | Sahartina Jufri
                | Angri Saputra | Arniyati Saleh | Atfa Mufida
                | Avioleta Zahra | Ayu Ira Kurnia | Bintang Kirana
                | El Fasya | Mukhammad Nailul | Rainif  Vanesa | Zahara Putri |
Sinopsis :
Setiap orang pernah merasa RINDU.
Saat itu, dada sepertinya penuh sesak, hingga sulit untuk bernapas. Saat merasa rindu, otak dan hati kita bersatu, tertuju pada satu “DIA”.
Lalu apa yang akan kamu lakukan saat merasakan rindu? Mengatakannya? Menemui orang yang dirindukan? Atau menyimpannya saja di dalam hati?
Mengeja rindu adalah mengecap banyak rasa. Penantian, bahagia, kecewa, dan penuh harap. Rindu datang saat menanti. Menunggu untuk bertemu, menuntaskan segala yang ingin diucapkan dan dilakukan.
Rindu datang karena cinta, karena sayang, karena ingin bertemu. Karena itu, nikmatilah rindu saat dia datang. Meskipun menyiksa, meskipun merapuhkan, meskipun membuat jantung berdetak cepat. Karena rindu tetaplah indah. Karena rindu membuat pertemuan menjadi bermakna.
Sekarang, nikmatilah segala campuran rasa dalam rindu di buku ini. Kamu akan bersyukur karena masih dapat merasakan rindu.
Cuplikan Cerpen:
Lama-lama aku seperti ketagihan untuk bertemu dengannya, selalu memikirkannya, dan selalu membayangkan senyumnya. Ada rasa rindu yang menggedor hatiku bila sehari saja kami tidak bertemu. Seperti hari ini, ketika aku dengan susah payah menyempatkan diri datang ke taman untuk bertemu dengannya. Tapi Andri tidak juga datang. Satu jam, dua jam, hingga hari telah gelap, bayangannya tetap tidak muncul. Dengan sedih aku menggurat tanah yang tidak ditumbuhi rumput di dekat pohon, menuliskan pesan untuknya. Singkat saja, hanya, “aku rindu”.
Esoknya, ketika aku kembali ke sana, di tempat yang sama tempat aku menulis pesan itu, sudah tertulis pesan baru. Sepertinya si penulis pesan sangat sadar bahwa tulisanku itu untuknya. “Aku juga rindu. Maaf, kemarin aku tidak bisa datang. Aku sedang UTS. Sekarang pun aku hanya datang untuk memberi pesan padamu.”
Membaca pesan itu, hatiku sakit. Aku sadar betul, hatiku telah dicuri olehnya. Bukan, lebih tepatnya, akulah yang memberikannya. Dan bolehkah aku berharap dia merasakan hal yang sama? Pertanyaan retoris yang begitu jelas jawabannya. Tentu perasaan ini harus segera dibunuh, dihancurkan hingga tidak bersisa. Tapi alih-alih mati, dia malah tumbuh semakin subur. Sambil menangis, aku kembali menggurat pesan untuknya, kali ini lewat bait-bait puisi.
Aku tidak pernah mengundangmu hadir dalam hidupku. Kau datang sendiri membelokkan jalanku. Iini bukan sayang, apalagi cinta, ini hanyalah rasa tanpa nama.
Hari selanjutnya, kami tidak juga bertemu, tapi aku menemukan kembali pesan yang digurat di atas tanah. Pesan itu berisi, “Aku tahu hatimu, karena aku pun begitu. Aku menulis sebuah puisi untukmu.
Bersandar air pada awan. Diceraikan mendung pada waktunya. Gamang hanyalah perantara. Agar hujan tak turun sia-sia.
Membaca itu, air mata haru mengalir. Hatiku dipenuhi sejuta jenis bunga. Aku sedang jatuh cinta, dan dia merasakan hal yang sama.
(Pada Oktober, Eva Sri Rahayu) Laras masih tak habis fikir. Dipandanginya sahabat karibnya itu dengan penuh telisik. Ada yang mengusik tapi tak hendak ia pertanyakan. Jemarinya bergerak dengan lincah, mengutak-atik beberapa situs hingga tanpa sengaja dia menemukan akun sang Lelaki Hujan itu. Tanpa sepengetahuan Winda, Laras mencari tahu.
“Langit selalu memberiku sajian istimewa. Bertemu dengannya malam ini adalah sebuah keindahan tak terlukis. Aku rindu, selalu merindukan langit. Hujan yang menyapa adalah bisikan cintaNya yang tak pernah ingin aku tolak. Tak bisa, selalu tak bisa. Sebab aku tahu pada masa berikutnya, pelangi akan mengajakku ke taman-taman penuh rindu”
Tak biasa, Laras bergumam. Kalimat-kalimat yang ditulis lelaki itu dalam beberapa statusnya sungguh luar biasa. Bukan rindu biasa, bukan pula cinta yang biasa.
“Win, kamu salah kalau harus me-remove orang seperti dia. Sangat salah.”
(Jejak Langit Sang Perindu, Endang SSn)

Kelopak-kelopak rindu yang telah lama terpupuk dan siap untuk bermekaran, seketika melayu. Kelopak-kelopak rindu itu kering. Satu-persatu mulai berguguran dan jatuh pada lubang hatiku yang menghitam. Penantian akan mekarnya kelopak-kelopak rindu hanya sebatas harapan.
Aku mencoba mengemasi kembali kelopak-kelopak rindu yang berserakan. Namun, kelopak-kelopak rindu itu tak kan mampu disatukan dan mekar lagi. Napas kehidupan kelopak-kelopak rindu itu telah terenggut oleh ketidakberdayaan.
(Kelopak Kerinduan, Kamal Agusta)

Masih banyak lagi Cerpen, Cermin, Puisi, dan Kata-kata indah yang terangkai atas nama RINDU. Image

In The Name O(f)f Love – Semua Kisah Pasti Berakhir

Judul : In The Name o(f)f Love – Semua kisah pasti berakhir.

Penulis : Yunis Kartika – Eva Sri Rahayu – Evi Sri Rezeki – Jacob Julian – Gagak Sandoro – Aa Kaslan – Latif Nur Janah – Weni Mardi Waluyani – Tutty Alawiyah – Felis Linanda – Cinung Azizy – Mila Mardia Husna – Skylashtar Maryam – Thy – Retno Handini – Ch. Evaliana – Nimas Kinanthi – Astrid Keiko Narahashi – Sri Windari – Suhe Herman

ISBN : 978-979-25-4858-7

Desain Cover : Sandy Muliatama

Layouter : Evi Sri Rezeki

Tebal : 120 halaman

Harga : Rp. 27.000

Sinopsis :

PUTUS, apapun bentuknya pasti menyakitkan. Peristiwa PUTUS tidak lazim kita rayakan, berbeda dengan peristiwa ulang tahun, kelahiran, memulai sebuah hubungan, dan peristiwa menyenangkan lainnya. Kadang kita tidak menyadari bahwa peristiwa PUTUS merupakan kejadian yang patut kita syukuri dan patut kita rayakan. Karena peristiwa PUTUS merupakan hari kelahiran rasa yang membangunkan kita pada pertemuan kesejatian diri.

Selamat menikmati kisah-kisah PUTUS dalam berbagai rasa.Image