Di Balik Foto Kita

IMG_20150701_165954edit

Dear Mercy Sitanggang.

Dear, masih ingat cerita di balik foto kita? Foto yang memperlihatkanmu sedang memegang novel Hujan Bulan Juni. Foto yang hasilnya buram seakan diambil dari balik kaca berembun itu diambil tanggal 1 bulan Juli tahun lalu, Dear. Pertemuan itu bersejarah buatku. Karena pertemuan itu telah mengembalikanmu padaku.

Dear, tahun lalu aku mengirimi surat yang ternyata malah menyakitimu. Sungguh itu membuatku sedih. Katamu, setelah membacanya, kamu langsung terdiam. Seingatku, berhari-hari kamu membisu. Diammu makin mengundang gelisahku. Sampai akhirnya kita kembali bertukar kata-kata, berterus terang tentang perasaan kita. Namun rupanya luka belum tuntas mengering.

Lama berselang dari sana, raga kita menemu perjumpaan juga. Kala itu, takut-takut aku menghubungimu, meminta pertemuan, tak apa meski singkat. Cukup lama aku menunggu jawabanmu. Betapa hatiku meloncat girang saat kamu mengiyakan. Selama menunggumu, aku mereka-reka seperti apa jadinya perjumpaan kita itu? Akankah kita kembali erat serupa dulu, ataukah jarak akan terus merajai sanubari. Ternyata kamu pun punya kegalauan yang sama. Dalam detik-detik penantian entah berapa kali aku mengecek handphone, cemas kalau-kalau tiba-tiba kamu membatalkan perjumpaan. Betapa leganya ketika kulihat tubuhmu perlahan nampak dari balik eskalator dengan senyum mengembang yang begitu khas di wajahmu.

Awalnya kita terlibat obrolan basa-basi, sepertinya kita perlu jeda untuk sama-sama menenangkan hati. Kemudian kusodorkan kado ulang tahunmu yang terlambat kuberikan. Novel berjudul hujan, karena aku tahu kamu perempuan penggila hujan. Kamu balik menghadiahkanku novel karyamu sendiri. Setelah itulah foto itu diambilkan oleh seorang tak dikenal yang kita mintai pertolongan. Akhirnya lama-lama pembicaraan kita bermuara pada rasa, perbincangan dari hati ke hati. Kamu telah menanggalkan topengmu, kembali menjadi Mercy-ku. Ada beberapa salah paham yang harus kita luruskan. Sejatinya memang masalah tak mungkin kita elakkan dalam persahabatan.

Ada kelegaan menghangatkan hatiku ketika pulang. Aku telah diberi kado ulang tahun lebih awal: Persahabatan kita. Dear, perasaanku makin bahagia saat membaca ucapan terima kasih di novelmu. Katamu, persahabatan kita tak akan pernah jadi fiksi. Kubayangkan kamu menuliskannya di balkon rumah sambil menyesap kopi yang ruapnya seakan membentuk wajahku.

Dear, mungkin di depan nanti, bakal banyak lagi masalah menyambangi kita. Mungkin ada saatnya kamu malas membalas pesan-pesanku, atau mungkin ada kalanya prinsip kita tak bertemu. Namun aku kini telah sangat yakin, persahabatan kita seperti rintik hujan yang saling menguntai. Kekalnya sebanyak jumlah anak-anak rambut di kepalamu. Foto buram kita itulah yang selalu meyakinkanku.

PS: Selamat atas kelahiran anak karyamu yang baru. Kamu selalu dan selalu membuatku bangga.

 

***Surat sebelumnya Jangan Jadi Fiksi

 

 

 

Kutunggu Di Kotaku Anak Marmut

lia2

Dear Lia chan si anak marmut.

Anak marmut, aku heran tiap melihat fotomu, kok bisa-bisanya sering berjemur di Bali kamu tetep putih gitu? Oke, ini bukan pembukaan surat yang bagus. Tapi aku memang tetep Emak Gajah yang selelu kepo pada hal-hal gak penting. Plis, aku jangan ditabok, dikasih cium atau bundelan buku aja XD Aku enggak akan nanya kabarmu, karena aku tahu kamu lagi pulang kampung ke Pontianak dari BBMmu kemarin πŸ˜€

Li, aku baca semua suratmu di #30HariMenulisSuratCinta meskipun enggak komentar. Bukan, bukan karena enggak ada surat buatku kok, tapi belum komen aja *ngeles* Surat yang paling berkesan tentu saja suratmu buat diri sendiri, karena dari sana aku membaca curhatmu πŸ˜€ Isinya bernuasa tegar-tegar galau gitu. Apalah serunya kalau enggak ada sedikit warna galau dalam hidup kita *apainiiii*

Li, aku senang, sedikit demi sedikit impianmu tercapai. Aku selalu ikut senang tiap kamu jalan-jalan. Penginnya sih aku ikut jalan sama kamu ke negara sebrang atau keliling Indonesia. Atau ikut nyicip makanan yang bikin ngiler di instagram kamu. Duh, itu tolong ya kalau kita ketemu tahun ini kita mesti kuliner sepuasnya *nabung* Btw, aku inget ceritamu soal kebingungan masalah kerjaan. Anak marmut, kerjain aja apa yang kamu suka, ikuti passion-mu, enggak ada kata “terlambat” buat memulai. Singkirkan persoalan usia. Sayang kalau energi kita dipakai buat memaksa diri melakukan hal yang enggak bikin kita bahagia. Itu juga salah satu cara bertanggungjawab terhadap diri sendiri.

Anak marmut, aku sendiri seperti yang kamu liat, sedang mulai serius nge-blog. Menyenangkan, karena blog ternyata mempertemukanku dengan banyak orang, petualangan seru, dan orang-orang hebat. Dan cukup menyembuhkan perasaan nelangsaku yang belum juga menulis revisi novel. Hampir tiga tahun, dan naskahku belum rampung sepenuhnya :’) Dan ngomong-ngomong drafnya belum kamu baca juga, hiks. Nanti aja bacanya pas udah kurevisi, yang entah kapan tahun itu. Aku juga masih nunggu naskah Bella-mu selesai. Sengaja ku-mention biar aku gak stres sendiri. Sahabat macam apa aku ini? XD Namun sepertinya kegelisahan perihal karya memang enggak akan pernah usai selama kita ingin mencipta. Soalnya selesai satu tulisan, lega dan bahagia sebentar, lalu muncul kegalauan baru untuk karya ke depan. Terus terang meskipun suka stres-stres, aku menikmati itu.

lia1

Li, aku lega membaca ceritamu yang enggak lagi galau soal kapan menikah. Ini bukan penghiburan, tapi aku selalu percaya kamu akan menjadi salah satu pengantin tercantik di dunia pada suatu hari nanti. Seperti katamu, saat ini di sisimu telah hadir Max, pria berbahagia pemilik hatimu. Perasaan “saling mencintai” itu sungguh berharga. Tidak semua orang memilikinya bukan. Aku suka mengintip foto-foto kalian yang kamu update di DP BBM. Senyum cerah kalian itu menggemaskan. Seperti yang kualami, kadang salah paham dan bertengkar itu pasti terjadi dalam hubungan. Heuheu dan saat itu terjadi aku suka menghubungimu buat curhat. Bahagia itu menurutku memang cukup menjadi sederhana. Namun tidak sesederhana itu untuk mempraktikannya.

Anak marmut, bagaimana kalau kita bertemu di gathering #30HariMenulisSuratCinta ? Kamu belum pernah ikut, kan? Sekalian kamu ketemu para Kang dan Ceu Pos yang mengantarkan surat-surat kita. Oh iya, sekalian aku ngasiin buku TwiRies yang belum aku kirim juga πŸ˜₯Β  Selepas itu, kita bisa ngobrol sepuasnya, lalu kita karokean dan nonton film. Kamu aja yang pilih filmnya, soalnya kalau aku yang pilih nanti kamu mencak-mencak XD Kangen momen itu, Li. Kangen kamu :’)

Li, aku tunggu kamu di kotaku lagi. Maaf ya aku nyebelin. Sementara aku belum mengunjungimu di Pontianak apalagi di Bali, aku sudah memintamu datang lagi ke Bandung. Tapi aku tetap memegang janjiku itu kok. Beneran. Karena aku sangat ingin ke sana.

PS: Aku pede banget ya gathering-nya di Bandung, heuheu.

*big hug*

 

***Surat-surat untuk Vincentia Natalia sebelumnya: My Girl – Anak Marmut Vincentia Natalia, Di Balik “Stalker G1N4” Ada Anak Marmut, Anak Marmut Kesayangan

 

Hari Untuk Ayah

6029_10153437488262872_3160395912356592117_n

Dear Ayah: KM. Isa Ansori

Ayah,

Terkadang aku bertanya-tanya bagaimana Ayah kecil membayangkan masa tuanya? Seperti sekarangkah? Menjadi ayah dari lima anak, sibuk berdagang, dan dikelilingi cucu-cucu serta kucing-kucing? Ah sepertinya Ayah kecil tak pernah memikirkan itu karena terlalu sibuk berpetualang. Mengukir pengalaman-pengalaman menakjubkan.

Yah, aku selalu senang mendengar kisah-kisahmu kecilmu. Tentang sungai-sungai bersih, petualangan di hutan, bertemu buaya dan harimau, juga kura-kura besar yang cangkangnya Ayah belah memakai samurai. Aku juga tak lupa bahwa di balik jiwa petualang Ayah, Ayah kecil adalah kutu buku yang suka melalap bermacam buku bantal hasil pinjaman dari tetanggamu yang seorang guru.

Ayah, kegandrunganku pada kucing sepertinya diturunkan olehmu. Seingatku, dari semenjak kecil, di rumah kita tak pernah absen dari kehadiran kucing. Namanya aneh-aneh, dari mulai Otot, Oting, dan O-O lainnya. Sampai sekarang, pagi Ayah seringkali diisi dengan memberi kucing-kucing di rumahku sisa makanan dari rumah Ayah. Aku sudah hafal benar, biasanya jam setengah tujuh pagi, akan terdengar suara gemerincing kunci bertemu gemboknya. Kemudian disusul suara eongan kucing-kucing menyambut Ayah. Mereka pasti bahagia benar melihat kedatangan Ayah. Lalu Ayah akan memeriksa air pam, apakah lancar atau macet, memastikan rumah kembar dan penyewa di depan tak kekurangan pasokan air. Terkadang Ayah membangunkanku yang sedang tidur-tidur ayam, untuk memberikan paket, atau sekadar mengobrol-ngobrol ringan.

Ayah, waktu kutanya apakah Ayah bosan dengan rutinitas itu-itu saja? Ayah jawab tidak. Ayah sepertinya jarang sekali merindukan perjalanan apalagi petualangan. Mungkin pikiran Ayah telah terlalu sibuk memikirkan kami anak-anak dan cucumu. Aku memerhatikan, mata Ayah selalu dipenuhi binar ketika bermain bersama para cucu. Meski terkadang aku memergoki kekhawatiran di sana. Mungkin memikirkan masa depan mereka di dunia yang makin absurd. Tenanglah, Ayah, manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Ayah, meski Ayah tak keberatan menjalani hari yang isinya berulang. Aku, Evi, dan Teh Yunis ingin sesekali mewarnai harimu dengan sesuatu yang baru. Kami pernah merancang satu hari bersama Ayah. Hari itu kita akan makan makanan kesukaan Ayah, apa saja. Lalu kita menonton film ke bioskop, tentunya genre film action biar seru. Setelahnya, kita minum kopi favorit Ayah, dengan aromanya yang khas Ayah. Kami berharap itu jadi hari sempurna untuk Ayah. Seperti Ayah selalu berusaha menyenangkan kami sejak kecil. Tapi ternyata Ayah tidak mau. Ayah lebih memilih menghabiskan hari seperti biasanya. Mungkin buat Ayah, rutinitas bukan jebakan, tapi keindahan tersendiri.

Kami kemudian bingung bagaimana cara membahagiakan Ayah. Namun diam-diam kami tahu jawabannya. Pernah suatu kali seorang kurir mengantarkan paket berisi bukuku dan Evi. Ayah bertanya, “Bukunya cetak ulang?” Ayah, rupanya Ayah selalu berharap dan mendoakan kesuksesan kami. Ayah memang selalu memberi dukungan pada impian-impian kami. Sekalipun impian itu membuat orang melontarkan kata-kata nyinyir, “Anak-anak Bapak padahal lulus sekolah semua, tapi enggak mau kerja.” Mereka tidak paham, kalau pekerjaan anak-anak Ayah bukan jenis yang pergi pukul 8 pulang jam 5. Tapi Ayah menerimakan itu. Ayah, sungguh pun aku tak pernah diam, kami pun selalu ingin menemu hari dimana Ayah bangga menjadi Ayah kami.Β Tapi… Aku yakin, hari-hari itu telah menjelma seumur kelahiran kami. Sekalipun di hari paling sedih.

Ayah, aku tak pernah lupa, saat-saat Ayah menghiburku dalam diam. Lewat tepukan di bahu atau pelukan. Ayah yang selalu membelaku dan pasang badan ketika badai menghantam.

Ayah, terima kasih telah memberi cinta paling tulus. Jangan pernah berpikir tak pernah membahagiakan kami. Karena aku sangat bahagia menjadi anakmu, selamanya.

 

10487424_10152651653637872_700087014088328478_n

Kisah Kita Di Negeri Realita

IMG_20150919_212948

Dear Prajurit Rumput: Fuan Fauzi

Tak terasa telah bertahun-tahun kamu menjadi bagian dari hidupku, memenuhi hari-hariku dengan keberadaanmu. Aku tak tahu apa yang terjadi pada kisah dalam dongeng setelah Pangeran dan Putri menikah. Hari-hari seperti apa yang mereka lewati, karena hanya ada satu kalimat untuk mengakhiri kisah mereka “happily ever after“. Tapi kisah kita terus berlanjut, dengan banyak kata merangkai jutaan kalimat. Tiga kata itu rasanya tidak cukup menggambarkan cerita kita yang kadang begitu rumit, kadang sangat bersahaja.

Prajurit Rumput, hampir tiap hari aku membuka hari dengan sodoran segelas air putih di tanganmu. Katamu aku selalu kurang minum. Lalu kamu akan memulai ceramah kesehatan tentang pentingnya cukup minum air putih dan olahraga setiap hari. Yang tentu saja kudengarkan dengan ogah-ogahan. Namun begitulah, kalau seorang Dewi dalam lagu “Curhat Buat Sahabat” menanti seseorang biasa saja dengan segelas air di tangannya, aku telah menemukan orang itu. Kamu.

Prajurit Rumput, kamu juga yang selalu merawatku saat sakit, apalagi sakit sepulang bepergian. Aku hafal urutan kecemasanmu. Malam sebelum aku berangkat, kamu akan sibuk memastikan kalau aku sudah mengepak barang yang kubutuhkan. Paginya, kamu akan merajuk sedih karena aku akan pergi. Dalam perjalanan, kamu mengingatkanku menjaga kesehatan. Ketika aku berkegiatan, bahkan kamu tahu apa yang kulakukan. Seperti kamu benar-benar ada di sisiku. Lalu menjelang kepulanganku, katamu, aku pasti akan masuk angin dan sampai rumah dengan kepala migrain. Dan memang itulah yang terjadi. Ketika kutanya kenapa tebakanmu selalu benar? Kamu menjawab, “Karena aku sangat mengenalmu.”

Prajurit Rumput, setelah ritual minum air putih (paksa), biasanya kamu akan membereskan rumah. Kamu tidak keberatan berbagi tugas domestik denganku, malah lebih bersemangat. Sepertinya beres-beres sudah jadi hobimu. Meskipun kamu akan misuh-misuh saat melihat pup kucing kita yang sembarangan, tapi tetap mau membersihkannya. Kadangkala, kamu pun memandikan kucing kecil supaya Putri Rasi bisa tenang bermain dengannya.

Sebelum berangkat kerja atau sepulangnya, kamu akan menyempatkan diri mengajari Putri Rasi berbagai hal. Mengajarinya mengaji, menghafal doa-doa pendek, bahkan kamu menempelkan tulisan doa-doa itu di seluruh penjuru rumah kita, supaya Putri Rasi tidak lupa. Kamulah yang mengisi apa-apa yang tidak bisa kuajarkan pada Putri Rasi. Ketika aku harus bepergian untuk pekerjaan, kamu bahkan menjagakan Putri Rasi untukku. Kamu sungguh selalu mendapat cara membuatku terharu.

IMG_20151130_162811

 

IMG_20150722_165030

 

IMG_20151017_183553

Prajurit Rumput, kamu pasti sudah bosan mendengarku mengeluhkan tentang partner brainstorming. Kataku, aku selalu membutuhkan teman diskusi. Teman yang mengerti pemikiran, mendengarkan ledakan ide-ide dari kepalaku, atau sekadar menceritakan apa yang kudapat dari membaca dan menonton film. Kamu kemudian berusaha memenuhi itu. Sampai di satu titik, aku terkagum-kagum dengan pengetahuanmu. Ternyata kamu ingin menjadi sahabat diskusi yang baik untukku, karena itu kamu kemudian banyak membaca, belajar banyak hal, dan menonton film. Kamu ingin memenuhi dahagaku akan diskusi dengan kehadiranmu. Akhirnya kita seringkali terlibat diskusi absurd. Pendapatmu dan pendapatku seringkali tak bertemu. Kadang aku jadi kesal karena kalah berdebat. Tapi diam-diam aku menyukai itu. Karena dengan begitu, kamu teguh pada prinsipmu. Kamu pun semakin objektif menilai karyaku. Yang bagus kamu bilang bagus, yang jelek kamu sebut jelek.

Prajurit Rumput, saat-saat yang menyenangkan bagiku juga adalah ketika kita berkolaborasi. Bekerja denganmu terkadang memang ribet, tapi menyenangkan. Aku selalu bahagia melihatmu berproses. Dari karya yang menurutku horor saking anehnya, sampai menjadi karya yang membuatku tak berhenti mengulum senyum. Kamu, adalah lelaki yang berhasil memasuki ranah impianku. Yang membuatku selalu melibatkanmu dalam imaji mimpi-mimpiku.

Prajurit Rumput, dari semua perlakuanmu untuk menyenangkanku, yang menggelikan adalah kamu mengalah menonton drama Korea denganku. Kalau biasanya aku akan menonton sendiri, kini kamu menemaniku. Meskipun sering diam-diam aku tetap menonton kelanjutannya sendiri, karena tak sabar menunggumu pulang kerja. Lucunya, kamu sering jengkel kalau aku bilang pemeran utamanya ganteng. Kamu yang cemburuan itu terlihat menggemaskan sekaligus menyebalkan ^^V

Prajurit Rumput, kita memang tak hidup di negeri dongeng, tapi di negeri realita. Tak seperti Pangeran dan Putri, Ratu Dandelion dan Prajurit Rumput seringkali bersitegang, karena adakalanya kita saling salah paham, bahkan saling menyakiti. Namun kedatangan gelombang mungkin serupa pertanda, buku yang memuat kisah kita belum menemu halaman akhir. Kuharap menjadi buku bantal, yang panjang halamannya membuat kutu buku semacam kita girang.

Prajurit Rumput, terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Telah berusaha sungguh-sungguh menjadi partner segala musim. Seperti ada kata “part” dalam “partner“, teruslah menjadi bagian dari hidupku, menjadi partner hingga tak terbatas usia. Seperti jawaban pertanyaan yang kulontarkan padamu.

“Kamu ingin menua bersama siapa?”

“Kamu.”

IMG_20151211_194920

*** Surat sebelumnya untuk Prajurit Rumput – My Guilty Pleasure

 

Perempuan Yang Menyekap “Masa Lalu” Di Matanya

IMG_20160211_161001

Dear Perempuan,

Sudah sembilan tahun kita bersahabat. Kita telah menjadikan satu sama lain kotak pandora. Tempat menyimpan segala kisah. Cerita-cerita dari masa lampau hingga impian masa depan.

Perempuan, di matamu aku selalu melihat masa lalu. Tempat kamu menyekap cinta tanpa masa depan. Cinta diam-diam yang tak kunjung enyah meski diusir berkali-kali. Cinta yang kamu harap sepurba penciptaan semesta.

Perempuan, aku tahu sakitnya saling mencintai tanpa pengakuan. Pada setiap hening malam kamu jahit sudut-sudut bibirmu agar lidah tetap menjaga rahasia, agar nama lelaki itu tak terucap bahkan pada udara yang kamu hirup. Meskipun jari-jari tak kuasa menuliskan namanya dalam diary yang kamu kubur dalam-dalam. Hatimu menjerit sakit, berontak dengan mengatakan bahwa ‘pernah’ ada cinta di antara kalian, bahwa sesungguhnya dia membalas perasaanmu. Bahkan darinyalah segala cinta ini berasal.

Perempuan, di satu waktu aku pernah berucap, bahwa bukan hanya kamu yang merasa tersiksa oleh keadaan, bahwa dia pun merasakan luka yang sama. Hanya saja dia mampu bertahan dalam wajah datar dan dingin laku, semata-mata karena hidup memang tak pernah bisa sekehendaknya. Namun kita tak pernah mengenal kepastian, barangkali saja perih yang dideritanya tak seberapa. Karena kakinya telah sampai pada kepulangan, sementara kamu adalah sepotong pengembaraan. Perempuan, sikap tak acuhnya sebenarnya obat bagimu, karena kalian mungkin memang tak akan pernah bisa bersatu. Justru ucap cintanya adalah racun paling mematikan, yang membombardir benteng-benteng pertahanan yang telah kamu bangun bertahun-tahun. Bukankah itu lebih kejam? Ketika dia membisikan cinta yang membuatmu mati perlahan oleh harapan usang, melambungkan angan yang bahkan hati kecilmu pun tahu tak akan pernah menjadi kenyataan. Ingatkah ketika dia hadir kembali memporak-porandakan hidupmu? Untuk kemudian pergi lagi dan menyisakan punggung yang terus kamu tatap sampai hilang di ujung jalan. Dia tak akan berbalik lagi, Perempuan. Kali ini dia telah menemu batas, jalan buntu bertembok yang tak akan pernah berani dia runtuhkan hanya ‘demi’ untukmu.

Perempuan, ketika rindu itu datang menyusup, bertahanlah pada gigil rasa kehilangan. Rindumu hanya menjadi amunisi kesakitan untuk kalian. Maka berjuanglah untuk menepisnya. Atau tuliskan saja pada bait-bait puisi yang cukup kamu baca sendiri. Biarkan rindu menjadi ambigu. Biarkan rindu lelap dalam kata-kata.

Perempuan, berhentilah menyekap masa lalu di matamu. Biarkan mengalir bersama air mata yang derasnya menguras ingatan tentangnya. Perempuan, aku paham benar, cinta tak bisa dipadamkan, sekalipun dikikis oleh kebencian yang sengaja ditumbuhkan. Seperti kataku, cinta yang tak pernah memiliki adalah keabadian. Namun Perempuan, demi hidup yang tak mau kamu lalui dengan kesia-siaan, berpeganglah pada melupa. Berjalanlah meski kaki penuh luka. Karena pandoramu ini berharap matamu di masa kini dan masa depan akan memerangkap binar bahagia. Bukan semu yang ditawarkan masa lalu.

***untuk Triska Fauziah***

Super Cat – Untuk Rasi Kautsar

IMG_20151130_132154edit

Rasi super cat, begitu kamu menyebut dirimu sendiri, si pahlawan kucing super.

Masih ingat ketika tahun lalu Mama membacakan tiga surat untukmu? Waktu itu usiamu masih lima tahun. Mungkin kamu belum mengerti isi surat-surat Mama. Tapi kamu mendengarkan dengan khidmat. Anehnya, di akhir-akhir surat ketiga, kamu menangis tanpa isakan. Saat Mama selesai membacakan, kamu berkomentar, “Ma, nanti lagi jangan nulis surat yang sedih ya.” Mama lalu bertanya, “Memangnya Rasi ngerti?” Kamu menggeleng sambil menjawab polos, “Enggak, Ma, tapi sedih aja dengernya.”

Tahun ini Mama belum tahu akan menulis surat seperti apa. Apa bisa membuatmu tergelak, membuatmu menangis, atau justru kamu hanya menampakkan ekspresi datar saat membacanya. Iya, Sayang, kali ini Mama mau kamu membacanya sendiri. Karena tahun ini kamu sudah hampir lancar membaca, meski masih terbata-bata di beberapa kata sulit. Baiklah, kita mulai dari kepulangan kita ke Bandung.

Super Cat, ingat ketika pertengahan tahun lalu kita kembali ke rumah kembar selepas petualangan di negeri hujan? Kamu bilang senang karena bisa berkumpul lagi dengan kucing-kucing yang sudah kita anggap keluarga. Tahun itu juga, kamu masuk ke SD. Usiamu belum genap enam tahun, karena itu Mama memberimu pilihan, mengulang TK atau masuk ke SD. Dengan semangat kamu memilih SD saja. Sebenarnya Mama agak khawatir, takut secara psikologis kamu belum siap. Sedang urusan pelajaran, seperti kata guru TK-mu, Mama percaya kamu bisa mengikuti. Namun tetap saja Mama selalu gemas tiap mengajarimu membaca dan berhitung, sampai-sampai kamu memanggil Mama galak πŸ˜€ Kamu bahkan sempat tidak mau belajar lagi dengan Mama. Maaf Mama sempat membuatmu kapok. Bukan apa-apa, Super Cat sayang, seperti yang Mama bilang berkali-kali, dengan membaca kamu bisa apa saja, bisa menggenggam dunia. Sampai akhirnya kita menemukan cara belajar membaca yang “sedikit” menyenangkan XD

Super Cat, semenjak kita kembali ke Bandung, kita tidak pernah lagi membuat scarpbook favoritmu, kita menggantinya dengan menggambar dan mewarnai. Sampai-sampai kamu sangat ingin karyamu masuk ke koran. Tiap minggu kita mengirimkan karyamu. Pada hari Minggu, kamu akan bersemangat membuka koran, berharap gambarmu terpampang di sana. Tapi kamu harus menelan kekecewaan berkali-kali, sampai kamu mogok menggambar dan mewarnai. Mama tak akan lelah memberimu semangat, karena, Nak, itu hanya sedikit kegagalan yang ditawarkan hidup. Di depan, masih banyak rintangan yang harus kamu hadapi. Lalu… kamu masih ingat, kan, ketika akhirnya gambarmu dimuat di koran? Kamu bahagia sekali sampai koran itu kamu perlihatkan pada semua orang. Begitulah, Nak, kebahagiaan dari meraih keberhasilan baru bisa kamu kecap setelah melampaui perjuangan dan proses.

12308349_10153385753987872_6354658459279671797_n

Ingat juga bagaimana rasanya menerima hadiah pertamamu? Waktu kita ke kantor koran untuk mengambil honormu. Sampai saat ini uangnya kamu tabung untuk membeli perlengkapan sekolah saat naik kelas nanti. Super Cat, yang membuat Mama bangga bukan prestasimu, tapi detik-detik dimana kamu tidak menyerah pada kegagalan. Semangatmulah yang kemudian memanggil semesta untuk mendukung. Seperti ketika kamu kehabisan krayon, tiba-tiba salah satu sahabat Mama memberimu hadiah sekotak krayon.

IMG_20151202_100737

Super Cat, maafkan Mama akhir-akhir ini sering meninggalkanmu ke luar kota. Hingga seringkali kamu bersedih karena ketidakhadiran Mama. Pada awalnya Mama selalu membohongimu, diam-diam pergi pada dini hari, sebelum kelopak matamu terbuka menatap dunia. Namun sekarang kamu sedikit demi sedikit paham, hingga tidak lagi menangis sesenggukan lalu mengeluhkan kenapa kamu tidak terlahir kembar seperti Mama, agar kamu tak ditinggal sendirian. Nak, di balik jiwa kanak-kanakmu tersimpan ketabahan yang luar biasa. Nak, betapa hati Mama pun selalu terbelah, sebagian tergenang dalam rasa bersalah. Super Cat, kamu memang cenayang, selalu bisa membaca perasaan Mama, sehingga kamu pun sudah mengikhlaskan Mama tiap kali mesti terbang untuk menggapai impian. Senyummu seolah menabahkan Mama, bahwa Mama tak mesti lagi merasa bersalah. Bahwa kamu akan selalu baik-baik saja. Bahwa hati kita yang selalu saling terpaut, menjadikan jarak kita selalu hanya sedekat nadi. Mama tahu, kamu selalu senang tiap kali bisa ikut ke mana pun Mama pergi, kadang malah kamu yang lebih bersemangat mengikuti acara-acara Mama. Sayang, jangan khawatir, kamu selalu ada dalam impian Mama. Kita telah sepakat saling membagi impian kan. Mama selalu percaya, suatu hari kita bisa mewujudkan impian kita keliling dunia, dengan raga maupun jiwa lewat kata-kata. Kamu ingin bertemu Doraemon di Jepang, kan?

10274150_10153529590407872_1225739936102975935_n

Gadis kecil, Mama selalu dibuat terkaget-kaget oleh tingkahmu. Tiap kali Mama pulang bepergian, kamu selalu menyambut Mama dengan setumpuk surat berisi kalimat-kalimat pendek mengahangatkan. Di lain kali, Mama temukan rekaman video yang kamu ambil sendiri yang memperlihatkan gayamu menjelaskan sesuatu ala-ala presenter TV. Lalu komik-komik pendek berisi petualangan kita di negeri entah. Namun selalu ada nyeri tiap kali Mama berpikir hasil karyamu dibuat dalam kesendirian, mungkin untuk membunuh sepi. Kamu hebat, Nak, energi itu kamu salurkan pada hal positif.

12654687_10153510986052872_6732393357779467727_n

Super Cat, dari sekian banyak pelajaran kehidupan, darimu aku mendapat banyak sekali makna. Darimu aku menggali arti menjadi seorang ‘ibu’. Karena Mama tak lantas menjadi seorang ‘ibu’ ketika melahirkanmu. Namun Mama belajar dari tiap detik tumbuh kembangmu. Percayalah, Nak, aku ingin menjadi ‘ibu’ terbaik bagimu. Yang dalam ingatanmu akan terkenang harum tubuhku, usapan lembut di kepalamu, dan berbagai keseruan imaji kita. Mama ingin menjadi Super Mama untuk si kucing super mama, Rasi.

Rasi Kautsar, aku menyayangimu, selembut kamu menyentuh kedalaman hatiku.

 

***Surat-surat untu Rasi Kautsar di tahun-tahun sebelumnya: Rasi Kautsar – Kucing Kecilku, Tiga Minggu – Surat Untuk Rasi Kautsar, Petualangan Manusia 110 CM di Negeri Hujan ***

Arti Kita – Untuk Evi Sri Rezeki

IMG_20160121_133715

Pi, saat aku menulis surat ini, kamu sedang tidur di pangkuanku. Sesekali aku menatapmu dalam lelap, wajahmu terlihat damai, ekspresi yang jarang kutemukan akhir-akhir ini. Kita dalam mobil yang melaju ke kota lain. Seperti semua perjalanan bersamamu, kali ini pun perjalanan ini terasa menyenangkan. Entah berapa kali kita berkelana bersama, aku berharap, masih ada jutaan jarak yang akan kita tempuh lagi berdua. Aku tahu kaki-kaki kita tak akan lelah berpijak mengelilingi dunia, menaruh jejak kembar di tiap jengkalnya.

Tentang Cinta

Pi, hidup memang luar biasa ya. Tak pernah lelah memberi kita kejutan. Kali ini aku melihat cermin dalam dirimu. Kamu yang mengalami apa yang kualami bertahun lalu. Luka yang bahkan dalam tidur pun terus meneror. Cinta memang tak pernah usai menyeimbangkan diri, datang bersama bahagia dan kepedihan. Kali ini goresannya merenggut damai di rautmu. Tapi percayalah, semesta tak akan membiarkan duniamu diselimuti kabut selamanya. Waktu, kejadian demi kejadian, juga aku akan bahu membahu berusaha menjadi imun dalam tubuhmu. Aku bersyukur telah kembali dari pengembaraan dari negeri hujan sehingga bisa mendampingimu saat ini. Selama kamu tak menyerah, luka itu akan sembuh, tentu dengan tetap meninggalkan koreng agar kamu tak melupa hingga bisa belajar dari sana. Ah, tapi, Pi, hanya di hadapan cinta kita selalu tampak bodoh. Selalu menanggalkan segala atribut kepalsuan hingga yang tersisa adalah kepolosan. Cinta memang profesor, sedang kita penuh keluguan anak SD di hari pertamanya masuk sekolah. Cinta memang pandai menjumpalitkan keadaan. Cinta bisa mendadak membuat kita tampak seperti bipolar. Sedetik lalu kita menampakkan senyum malu-malu, detik berikutnya mata kita telah basah.

Pi, rupanya pencarianmu belum berakhir. Kamu masih mereka-reka, menjadi tulang rusuk siapakah dirimu. Kadang aku heran, masih perlukah kita mencari pemilik rusuk, padahal kita telah menemukan belahan jiwa? Ya, aku dan kamu. Tapi begitulah, pada kenyataannya kita ternyata belum saling mengutuhkan. Ada ruang-ruang yang memang tersedia bagi jiwa-jiwa lain agar hati kita menjadi penuh. Namun yang pasti, dari sekian jiwa itu, padakulah kamu mendapat dasar hakikat hidup.

Pi, kamu wanita yang kuat. Tak kamu biarkan segala duka meruntuhkan mimpimu. Dalam resahmu, aku tak pernah melihatmu setenang itu. Kadang, itu membuatku takut. Karena aku tahu, memendam adalah sakit yang menggilakan. Maka, Pi, jangan memendam. Menangis sajalah, berteriak sajalah, atau apa sajalah daripada berdiam dalam tembok datarmu itu. Meski memang, dunia tak butuh isak tangis, tak butuh teriakan, hanya butuh apa yang ingin dunia dengar dan lihat. Tapi dunia kecil kita tak butuh kepura-puraan, di dunia kita kamu bebas menjadi dirimu. Karena dunia mungil kita selalu dipenuhi cinta yang posesif, keposesifan itulah yang kuharap menerangimu dalam setiap saat dunia terasa begitu kelam. Ingatkah, Pi, saat aku kehilangan kepercayaan diri dalam mencintai. Saat kupikir aku tak ternyata tak pernah benar-benar memiliki cinta? Rupanya aku salah, Pi. Karena aku memang tak pernah kehilangan cinta. Adalah kamu yang menyadarkan itu. Karena itu, Pi, aku pun ingin kamu selalu mengingat dan merasa, di dunia ini selalu ada cinta yang tak akan pernah pudar sedikit pun, cinta yang ada selamanya.

12669677_10153525596032872_3884097361439324348_n

Tentang Mimpi

Pi, ternyata menjadi anak kembar benar-benar membawa banyak berkah ya. Setelah melewati jalan terjal penerimaan bahwa kita selamanya akan dibandingkan dalam segala pencapaian. Rupanya Tuhan begitu baik, sekarang banyak pekerjaan yang memaketkan kita. Seakan Tuhan ingin kita berhenti saling menyimpan iri.

Pi, tentang impian kita. Rasanya kita sudah jauh melangkah, tapi ternyata belum seberapa juga. Banyak hal yang luput kita kerjakan, bahkan tak jarang kegagalan memberikan senyum kemenangannya. Apa-apa yang sudah kita perbuat tak cukup menjadikan mimpi besar kita terwujud: menjadi sepasang kembar yang tercatat sejarah, melewati zamannya. Kita pun mengakui kan, bahwa rasanya belum ada hal besar yang kita buat. Mungkin, untuk menjadi yang tercatat dalam sejarah hanya dibutuhkan ketulusan, bahwa segala perbuatan besar berasal dari kedalaman hati yang akan menggerakan hati-hati yang lain. Pi, tapi aku yakin, semesta telah mencatat kita. Sepasang kembar yang penuh impian, yang di binar matanya memerangkap zaman. Sekarang yang harus kita lakukan hanya terus melangkah di fondasi mimpi yang harus terus kita kokohkan, meningkahi segala gelombang. Karena kisah hidup luar biasa harus selalu melibatkan konflik yang dahsyat. Begitu bukan yang kita pelajari saat menulis? Ah, tapi kita telah bersepakat. Kita hanya butuh hidup yang biasa-biasa saja, biarlah karya kita yang berbicara tentang segala yang luar biasa.

Pi, terima kasih karena bersedia menjadi kembaranku selamanya. Meskipun kamu tak bisa menemaniku menonton drama Korea πŸ˜€ Namun seperti katamu, kita kembaran yang melewati batas bumi dan langit, menjadi sepasang wujud apa pun kita. Aku pun begitu. Meskipun aku tak selalu ada di sampingmu. Aku ingin terus menjadi kembaranmu, di waktu adaku, di waktu tiadaku. Karena waktu dan jarak telah meleleh di hadapan kita.

12651119_10153525596107872_3735649343277293650_n

Pi, mobil kita sudah hampir sampai ke tujuan. Tapi hidup kita masih penuh kabut, menutup banyak pintu-pintu persimpangan, agar hidup tak pernah kehilangan akal membuat kita terkejut. Pi, ayo kita terus bergenggaman tangan menghadapi segala kejutan. Saling menularkan keberanian. Saling berbagi arti. Biarlah kamus kita mencatat arti “kita” sebagai segala kata indah yang pernah tercatat di bumi.

 

***Surat-surat untuk Evi sebelumnya: Serupa Kita, 7 Hari Sebelum, dan Menembus Ruang dan Waktu ***