Review Dan Giveaway Novel Malaikat Terindah

Dokumentasi milik Elisa S.

Dokumentasi milik Elisa S.

 

Saya kadang berimajinasi jatuh cinta pada sesosok malaikat. Cinta antar dunia paralel. Rasanya romantis aja. Sepertinya kebanyakan baca komik XD Karena itu saya bersemangat banget saat membaca novel “Malaikat Terindah” karya Elisa S ini. Kalau kamu sama seperti saya, suka berkhayal romantisme dengan sosok malaikat, mari bertualang di dunia fantasi novel ini.

***

Judul: Malaikat Terindah

Penulis: Elisa S.

Penerbit: Moka Media

Tebal: 176 Halaman

Harga: Rp. 39.000

Blurb:

Peristiwa ini terjadi begitu saja tanpa bisa kuhindari.

Aku bertemu dengannya pada sebuah pagi yang biasa, saat matahari baru bersinar dan bunga-bunga bermekaran di sekitar rumah sakit tempatku praktikum. Tapi yang membuatnya tidak sederhana, ia mengaku berasal dari dunia yang begitu berbeda, begitu jauh.

“Takdir tidak mungkin menyatukan kita,” katanya.

Dan aku bertanya kepadanya, kenapa?

Ia hanya menjawab, “Karena aku bukan manusia.”

Ya, tidak semua kisah berakhir bahagia.

Namun, satu hal yang pasti, aku mencintainya, entah sebagai manusia atau bukan.

***

Di lorong rumah sakit yang terkenal angker, tepat di hari terakhirnya praktikum, Renata bertemu dengan Kenzhie yang sekujur tubuhnya terluka. Namun, saat Renata mengajaknya berobat, cowok itu menolak dan malah meracau kalau dia sudah mati. Setelah itu Arwah Kenzhie malah memintainya berbagai pertolongan. Salah satunya menyusup ke rumah sepupunya—Rhadit—untuk mencari tahu keadaannya yang sebenarnya. Di sana Renata bertemu dengan Kenzhie lain. Apa Kenzhie anak kembar? Jelas bukan. Itu Kenzhie yang lain, Kenzhie yang masih hidup. Keanehan demi keanehan terjadi. Belum juga terpecahkan kenapa ada dua Kenzhie, masalah makin rumit dengan munculnya malaikat penjaga dan cinta bersegi-segi.

Saya menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk, bukan hanya karena tipis, tapi karena ceritanya yang sangat mengikat. Sejak dari bab pertama Elisa sudah menyuguhkan konflik yang menarik. Pembukaan yang memuaskan. Selesai menyantap bab satunya saya langsung berpikir, “Wah, pasti seru nih novelnya.” Dan prediksi saya enggak meleset. Bab demi bab terus menyeret rasa penasaran. Apalagi cerita dalam novel ini bergulir cepat. Setiap akhir bab pembaca disuguhi kepingan baru untuk disusun. Elisa cerdas mengakhiri setiap babnya dengan suspense. Berkali-kali saya dibuat ber ‘Hah? Hah?’ ria saat menerima kejutan demi kejutan. Sehingga saya enggak mau melepaskan bukunya sebelum selesai.

Salah satu hal yang membuat saya menyukai satu novel adalah mendapat informasi baru, hal itu saya dapatkan dalam novel ini. Karena Renata seorang perawat, banyak istilah medis bertebaran di sini. Novel ini juga memiliki detail seting tempat yang cukup baik, sehingga pembaca dapat membayangkan tempat kejadiannya.

Saking menikmatinya, saya bisa mengenyampingkan typo yang bertebaran sejak dari halaman enam—dan saya berhenti menandai typo di halaman enam puluh dua karena banyak—kata yang enggak konsisten, paragraf yang terulang, dan kata yang enggak dikasih spasi sehabis titik. Namun dua kali salah menuliskan nama itu cukup mengganggu. Memang sih saya enggak sampai berpikir muncul tokoh baru ketika Renata disebut Kiara. Di bagian berikutnya ada Rhadit yang harusnya Sandy.

Hal lain yang membuat kening berkerut adalah detail cerita yang sepertinya terlewat. Kayak kenapa tiba-tiba mereka menyimpulkan arwah Kenzhie datang dari masa depan, padahal enggak ada indikasi sebelum-sebelumnya. Lalu bagian romance-nya kuraaaang nih. Saya mengharapkan adanya beberapa kejadian kecil romantis yang menguatkan perasaan Renata dan Kenzhie. Jadi saat perasaan cinta itu muncul enggak kerasa tiba-tiba. Hmm, iya sih cinta bisa datang dalam sedetik, tapi chemistry antara mereka itu enggak kuat. Saya enggak bisa merasakan debarannya. Mungkin saking cepatnya alur ceritanya, jadi enggak ada bagian yang bisa dinikmati berlama-lama. Bisa jadi karena novel ini lebih diseting ke arah fantasinya. Saya tahu kok susah banget menyeimbangkan antara kisah cinta dan menjaga penasaran pembaca pada misterinya.

Saya suka interaksi antara Renata-arwah Kenzhie-dan malaikat penjaga Sandy. Kadang saya senyum-senyum bacanya. Sikap Sandy yang polos itu loh ngegemesin banget. Sandy ini tokoh favorit saya. Kebayang banget ekspresi dan cara bicaranya yang datar XD Dialog-dialog dalam novel ini terbilang kaku, tapi pas untuk Sandy. Elisa seperti ragu-ragu memilih tata bahasa lokal dan terjemahan, jadinya kerasa nanggung. Kalau dilihat dari dialog lebih ke terjemahan, tapi banyak pilihan kata di narasi yang menimbulkan rasa kelokalan. Saya yakin di novel berikutnya Elisa bakal lebih mantap memilih ^_^V

Diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga dia-an lewat Renata dan Kenzhie, sehingga pemotongan pada sisi Renata dan Kenzhie menjadi misteri bolak-balik yang enak diikuti. Lalu bersiap-siaplah mendapat twist ending. Bayangin aja, sepanjang cerita udah dikasih banyak kejutan, eh di akhir cerita lebih lagi. Pokoknya enggak ketebak. Keren, El!

Beberapa quotes favorit saya:

 

Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita hidup. Makanya, lakukan yang terbaik sebelum hidup kita berakhir. — Halaman 77.

 

Kadang ada banyak hal yang terjadi dalam hidup yang tidak seperti rencana kita. Tetapi itu semua hanyalah salah satu jalan untuk menjalani takdir yang sebenarnya. –Halaman 107-108.

 

Tidak semua hal di dunia ini, baik untuk diketahui manusia, Ken. Ada kalanya tidak mengetahui sesuatu, justru lebih berefek baik bagi perasaan manusia yang lemah. –Halaman 110.

 

Yang bisa manusia lakukan, hanyalah menjadi yang terbaik bagi orang-orang yang disayanginya selama masih bisa bernapas. –Halaman 145.

 

***

Mau dapetin novel Malaikat Terindah bertanda tangan penulisnya? Ikutan giveaway-nya, yuk. Caranya follow twitter penulisnya @elisa_sy dan jawab pertanyaan ini di kolom komentar: Kalau kamu ketemu tokoh imajinasi malaikat bersayap ganteng/cantik tapi dingin, mau kamu ajak bertualang ke mana dia? Kenapa?

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 21 sampai 31 Maret 2015. Pemenang akan dipilih oleh penulisnya sendiri dan diumumkan tanggal 1 April jam 8 malam di twitter saya @evasrirahayu

 

***

Diikutkan dalam #ReviewMaret @momo_DM @danissyamra @ridoarbain di https://bianglalakata.wordpress.com/2015/03/03/reviewmaret-ayo-me-review-buku-fiksi/

iSiaga EcoCash: Sampah Bersih, Dapat Uang Sekaligus Beramal

EcoCash by iSiaga

EcoCash by iSiaga

“Kiri-kiri…. Hmm… kanan dikit deh, eh, udah pas tadi. Tapi kok enggak bagus. Pindahin sebelah sana aja deh,” pinta saya yang membuat alis suami naik sebelah. Dia lalu berjalan menjauh dari mesin cuci yang sudah tua dan sudah sering ngadat—mana di atasnya saya taruh komputer jadul zaman kuliah dulu—kemudian berdiri di sebelah saya. Matanya menyapu seluruh ruangan. “Kenapa?” tanya saya sewot karena dia tampak enggan membantu merapikan rumah.

Beberapa hari ini saya kebingungan melihat keadaan rumah yang penuh sesak oleh barang-barang elektronik bekas dan rusak. Rumah jadi kelihatan sumpek. Rasanya pengin banget teriak, “Toloooong … rumah saya penuh sampah …!”

“Barang sebanyak ini mendingan dijual atau dibuang ajalah, menuh-menuhin rumah,” ucap suami dengan ekspresi muka datar.

“Ya kalau ada yang mau beli udah dari dulu dijual kali, Mas,” kata saya enggak mau kalah. Mendengar perkataan suami, saya jadi teringat ucapan saya pada Mama tempo hari waktu menjenguk ke rumah beliau. Saat itu kami sedang menonton acara lomba memasak. Tepat ketika juri akan mengumumkan siapa yang dieliminasi, TV mati sendiri, sukses membuat kami gendok. Cepat-cepat dong saya nyalakan, tapi baru beberapa detik, TV-nya mati lagi.

“Sudah-sudah, biarkan dulu, nanti kalau sudah dingin TV-nya normal lagi,” ujar Mama.

“Ma, kenapa enggak dijual aja sih TV-nya? Udah sering begini, kan?” tanya saya,

“Kalau dijual memang siapa yang mau beli? Lagipula TV ini banyak kenangannya, Mama jadi sayang mau jualnya,” jawab Mama dengan mata berkaca-kaca. Saya mengerti sih alasan emosional seperti itu, soalnya saya juga pernah mengalaminya. Kadang saya menyimpan barang-barang kenangan yang sudah rusak di kotak kenangan.

“Malah ngelamun, aku berangkat kerja dulu ya,” ucap suami yang langsung membuyarkan lamunan tentang Mama dan TV-nya.

Setelah suami pergi, saya membuka hape yang berbunyi sedari tadi. Ternyata saya mendapat surel undangan acara peluncuran layanan EcoCash bertajuk “Media & Blogger Sharing: iSiaga ECOCASH – Turn Your e-Trash into Cash”. Langsung saja mata saya membulat, tagline iSiaga EcoCash-nya itu loh, sesuai banget dengan kebutuhan saya. Sayapun bertanya-tanya, “Ini beneran?” Jadi bersemangat datang ke acaranya.

Pak Armit Gurbani selaku Co-Founder PT. Mitra Kersa Artha, perusahaan yang menaungi iSiaga

Pak Muhammad Farhan dari Yayasan Cinta Anak Bangsa bersebelahan dengan Pak Armit Gurbani selaku Co-Founder PT. Mitra Kersa Artha, perusahaan yang menaungi iSiaga, mereka menjelaskan mengenai kerjasama EcoCash dan YCAB

Pagi Senin 16 Maret kemarin saya berangkat dari Bogor menuju Kebayoran Jakarta Selatan. Di sana saya bertemu dengan teman-teman media dan blogger. Kami mendengarkan penuturan Pak Armit Gurbani selaku Co-Founder PT. Mitra Kersa Artha, perusahaan yang menaungi iSiaga.

EcoCash iSiaga

Para peserta blogger menyimak dan berdiskusi

Kemajuan teknologi yang pesat saat ini membuat laju tren elektronik pun bergerak cepat. Hal ini menyebabkan banyak barang elektronik bekas yang tidak lagi terpakai dan dianggap sudah tidak lagi berharga. Banyak orang kesulitan membuang barang elektronik bekas ini. Beberapa bahkan harus mengeluarkan uang untuk jasa pengangkutan. Semua itulah yang melatarbelakangi iSiaga untuk meluncurkan ECOCASH.

Benar juga, pikir saya. Karena sudah dianggap sampah, rasanya enggak enak barang-barang itu diberikan pada orang lain, apalagi kalau sudah rusak, jangan-jangan biaya perbaikannya lebih mahal dari harga jualnya. Saya juga teringat dengan barang-barang di rumah. Alasan lainnya saya kesulitan menjual memang persoalan angkut mengangkut ini. Duh, menghitung harus mengeluarkan biaya lagi rasanya berat. Maklumlah, emak-emak hitungan dan doyan ngirit ^_^ Sayapun makin semangat menyimak.

Kita bisa menjual barang-barang elektronik bekas itu dengan iSiaga EcoCash melalui layanan online di www.isiaga.com/ecocash. Untuk yang tinggal di daerah Jakarta dan Tanggerang, enggak tanggung-tanggung, cukup check out via web atau telepon ke call center iSiaga lalu duduk manis, petugas iSiaga bakalan datang ke lokasi untuk mengambil barangnya. Jadi dalam transaksi, kita enggak perlu ke mana-mana, bahkan bisa sambil nonton serial drama kesayangan. Selain enggak mesti repot dan capek mengangkut barang, layanan ini juga gratis. Sayangnya baru menjangkau daerah Jakarta dan Tanggerang, untuk daerah lain layanan penjemputan ini bisa tetap dinikmati dengan dikenai biaya. Namun jangan khawatir, karena biayanya supeeer terjangkau 😀

“Kami menerima sampah elektronik mulai dari handphone berbasis GSM, laptop, komputer, hingga elektronik rumah tangga seperti telvisi, AC, kulkas dengan segala kondisi. Mau rusak atau matipun tetap ada harganya,” jelas Pak Armit lagi.

Eh, waaah, terima yang mati juga? Berarti handphone jadul yang mati total di rumah bisa saya jual juga dong. Harganya? Seperti membaca pikiran saya, Pak Amrit menjelaskan bahwa untuk perangkat mobile seperti handphone dan tablet yang sudah mati harga pembeliannya mulai dari lima puluh ribu rupiah. Lengkapnya, harga setiap barang bisa langsung dicek di website-nya.  Diam-diam saya bertanya-tanya buat apa ya iSiaga mengumpulkan barang bekas elektronik sebanyak itu? Beberapa saat kemudian pertanyaan saya terjawab. Menurut Pak Amrit, barang-barang bekas ini akan mereka recycle. Saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan tiga pengepul barang elektronik besar di Jakarta dan Bekasi.

Pak Amrit juga menyinggung soal menyumbangkan uang hasil penjualan ke Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang bekerja sama dengan pihaknya. iSiaga lewat EcoCash-nya ingin menjadi salah satu wadah berdonasi. Hasilnya akan dipakai untuk program HOPE YCAB yaitu program pengembangan wirausaha untuk perempuan daerah miskin. Kita bahkan bisa menyumbang hanya dengan memberikan barang rusak dan mati. Ini benar-benar menarik 😀

Hadir juga di acara, Sekjen YCAB Foundation, Muhammad Farhan. Pak Farhan menjelaskan sedikit tentang YCAB. Yayasan ini merupakan salah satu organisasi non-profit yang pada awalnya berfokus pada narkoba dan HIV/AIDS. YCAB kemudian memperluas konsentrasinya pada bidang pindidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat kurang mampu. Mudah-mudahan dengan bekerjasama dengan iSiaga dan para pengguna layanan EcoCash, semakin banyak manfaat yang ditebar YCAB. Untuk mengetahui lebih dalam tentang YCAB, kita bisa mengunjungi www.ycabfoundation.org.

Para Blogger bersama seluruh punggawa EcoCash iSiaga

Para Blogger bersama seluruh punggawa EcoCash iSiaga

Jadi, kalau kamu seperti saya yang rasanya sudah pengin banget teriak sambil tebar-tebar kode SOS ke mana-mana karena masalah sampah elektronik, saatnya kamu melakukan tiga tahapan ini:

Pertama, Check Prices Online: buka web www.isiaga.com/ecocash untuk memeriksa harga jual barang.

Kedua, Confirm Items: chekout barang secara online. Nantinya petugas iSiaga akan menghubungimu lewat telepon untuk menentukan waktu penjemputan.

Ketiga, Get paid or Donate: Setelah barang diperiksa, iSiga bakalan mengirimkan uang ke rekeningmu, atau kamu bisa mendonasikannya ke YCAB.

Selain dari web-nya, kamu juga bisa mendapat informasi lengkap dengan menghubungi call center iSiaga di 081290090069 dan surel info@isiaga.com.

Wuiiih, ternyata semudah itu menyingkirkan barang-barang bekas dan rusak di rumah. Benar-benar solusi yang mantap. Saya segera membayangkan ruang kosong yang bisa dimanfaatkan hal lain. Menambah rak buku, misalnya. Sepulang dari acara, saya langsung menelepon Mama untuk memberi info tentang iSiaga EcoCash ini.

“Tapi Mama masih sayang buat jualnya. Kan TV itu banyak kenangannya. Rasanya enggak ada harga yang pantas untuk menggantikannya,” kata Mama. Saya membayangkan mata beliau yang berkabut dengan hanya membayangkan TV kesayangannya itu dijual.

“Kalau Mama menukarnya dengan bantuan buat orang-orang yang membutuhkan, gimana? Itu juga hal yang enggak ternilai, kan?” tanya saya.

Saya mendengar di seberang sana Mama berkata “iya” dengan yakin.

Review Dan Giveaway Novel Akulah Arjuna

IMG_185570315318416

 

 

Pernah jatuh cinta pada lelaki idola banyak perempuan? Bingung bagaimana mendekatinya sementara kamu sudah tidak percaya diri duluan? Atau sedang jatuh cinta pada seseorang yang usianya terpaut jauh? Capek terus-teran dianggap anak kecil olehnya? Secara ajaib novel ini bisa kamu jadikan referensi, ada tips untuk menaklukannya 😀

 

Pernah bingung memilih pasangan terbaik, ketika dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama baik? Pernah merasa jatuh cinta pada orang yang rasanya salah?  Atau … pernah merasa kesal setengah mati karena digantung seorang wanita? Cinta tanpa kejelasan itu, uhm, rasanya bikin pengin ternak piranha buat mengancamnya supaya memberi kepastian XD Kalau kamu sedang dalam keadaan itu, kamu harus baca novel ini.

 

***

Judul: Akulah Arjuna

Penulis: Nima Mumtaz

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tebal: 452 Halaman

Harga: Rp. 74.800

Blurb:

Oke, inilah masalah pelik yang membelitku. Aku beristri dua! Upss … punya pacar dua, tepatnya. Eehhh, enggak juga. Yang pasti saya punya dua pasangan tapiii … gak tepat juga ini, jadi apa istilah yang pas, ya?

 

Dalam khayalanku yang terliar pun gak akan pernah aku bayangin dapet nasib kayak gini. Aku adalah tipe lelaki setia yang tak akan pernah mempunyai dua pasangan dalam satu waktu bersamaan. Itu pantangan buat aku. Tapi sialnya itulah yang terjadi sekarang ini. Walaupun ini bukan mauku dan gak pernah kusengaja. Suer!

 

Di satu sisi aku udah punya Nina—walaupun dia gak secara langsung mengiyakan permintaanku, tapi boleh, dong aku kepedean nyebut dia pacar. Secara dia juga memperlakukan aku seperti pacarnya. Tapi di sisi lain ada anak bos, si setan cilik yang nyebelin itu, yang memproklamirkan diri sebagai pasanganku di kantor.

 

Indah, bukan? Banget! Bahkan terlalu indah untuk playboy terganteng seperti aku sekalipun.

***

 

Arjuna Narendra Ruslan dihadapkan pada situasi aneh. Saat dia baru saja resmi punya pacar, tiba-tiba gadis lain malah menembaknya dan secara sepihak menganggapnya kekasih. Karena gadis itu—Ayana Gabrielle—anak bosnya, Juna tidak bisa menolak meski tetap mencari cara menegaskan hubungan mereka pada Ayana yang umurnya terpaut 11 tahun. Tentu saja hal itu membuat hubungan Juna dan Ana Karenina—pacar resminya—menjadi renggang. Apalagi untuk mengakali Ayana, Juna menyebarkan fotonya dengan Via sang keponakan supaya dianggap sudah punya anak. Sialnya, bukannya Ayana yang kena, malah Nina yang blingsatan.

Juna menjadi gamang harus memilih siapa, ketika Ayana yang polos terus saja memberinya perhatian, sedangkan Nina seperti mulai menjaga jarak padanya. Ketika Juna mantap memilih, dia dihadapkan pada rahasia-rahasia kelam para gadisnya. Ayana dan Nina sama-sama menyimpan sesuatu darinya. Rahasia yang siap memporakporadakan hati sang Arjuna. Akankah Juna patah hati berulangkali? Bisakah Juna mendapatkan gadis impiannya?

 

Review

Sudah lama rasanya saya enggak baca novel lokal yang penuturannya lincah. Sehingga rasanya menyenangkan sekali membaca kisah Arjuna ini. Tokoh yang super narsis, tengil, baik hati, labil, dan kocak. Hampir sepanjang novel saya senyum-senyum sendiri dengan pemikiran ‘miring’ si Juna.

 

Misalnya seperti di halaman 291: “Hai, Mi, kenapa?” Kuhampiri mereka yang masih seperti adegan syuting ibu tiri dan pembantunya.

 

 

Awalnya saya merasa tokoh Juna ini terlalu cerewet sebagai tokoh laki-laki. Namun setelah saya ingat-ingat, banyak juga teman-teman lelaki saya yang memang cerewet. Setelah menyadari itu saya merasa jadi lebih mudah related dengan tokoh Juna. Meskipun cerewet, saya tetap merasa Juna ini enggak keperempuan-perempuanan, lebih merasa dia ini termasuk tipe pria tengil-jahil yang ekspresif saja, jadi apa-apa dikomentari. Belakangan saya merasa mendapat angin segar dengan tokoh utama laki-laki seperti Arjuna, di tengah gempuran tokoh-tokoh yang setipe: dingin tapi ganteng.

 

Tokoh-tokoh di novel ini karakternya terasa kuat-kuat dan membumi. Semuanya enggak sempurna, punya kelebihan dan kekurangan yang mencolok, membuat saya berasa novel ini benar-benar terjadi dengan tokoh yang benar-benar ada. Bukan hanya tokoh-tokoh utamanya, tapi sampai figuran seperti gengan pantry semacam Pak Parno, Mas Edi, dan Jono.

 

Lalu dialognya ituuuu … serruuu …! Dialognya renyah dan enggak kaku. Hidup banget deh. Baca obrolannya serasa lagi ikutan ngerumpi dengan mereka.

 

Selain itu chemistry antara Juna dan Ayana sangat kuat. Chemistry antara Juna dan seluruh keluarga besarnya juga. Dan ajaibnya, chemistry itu ditularkan pada pembaca. Saking kuatnya, saya merasa mereka itu tetangga saya, dan sedari kecil saya sering main ke sana sehingga saya merasa mengenal mereka luar dalam XD Tapi saya enggak punya tokoh favorit di sini. Juna enggak berhasil bikin saya jatuh cinta karena terlalu kekanakan.

 

Oh, iya, seperti yang sudah saya singgung di awal. Dengan membaca novel ini, pembaca perempuan bisa mendapat tips cara menaklukan lelaki playboy baik hati. Namun diragukan untuk diaplikasikan pada playboy enggak baik hati :p Sedang untuk pembaca pria bisa mendapat pencerahan agar berhenti digantung oleh pujaan hatinya 😀

 

Saya suka bagaimana Nima hampir mulus menyampaikan pesannya tanpa menggurui. Melakukan hal itu cukup sulit XD Meskipun kisah cinta, tapi sarat dengan nilai-nilai kekeluargaan. Saya suka gaya penceritaannya yang mengalir. Dan Nima juga pinter menyisip-nyisipkan, ehm … adegan hot-nya. Deskripsinya sedikit bikin mupeng *eh XD

 

Sayangnya, banyak kesalahan tulis dalam novel ini. Sepertinya banyak yang luput dari suntingan. Seperti penulisan “Di” dan “Ke” yang menunjukkan tempat tetapi disatukan, yang tidak menunjukkan tempat justru dipisah. Lalu penulisan “Ku” yang dipisah juga cukup mengganggu. Ada juga kata yang enggak konsisten. Memang pasti butuh ketelitian tinggi untuk menyunting naskah yang panjang dengan spasi rapat dan font kecil ini. Kemudian pada awalnya saya menganggap beberapa kata merupakan typo, seperti “Nafas”, “Fikir”, “Kalo”, dan “Tau” yang ditulis dalam narasi. Kalau dalam dialog saya pikir wajar-wajar saja karena merupakan bahasa lisan, tapi dalam narasi sepanjang novel, sepertinya itu bukan lagi masuk typo. Saya menyimpulkan itu merupakan pemilihan tata bahasa yang disengaja. Seperti pemakaian kata “Gak” alih-alih yang baku seperti “Enggak” atau “Tidak”. Mungkin agar narasinya terasa lebih mengalir seperti dialognya. Namun mungkin bisa dipertimbangkan untuk memakai kata yang baku tanpa mengurangi kelincahan tata bahasanya di novel selanjutnya ^_^ Selain itu yang sedikit mengganggu saya adalah konflik cinta berseginya. Seandainya Juna enggak kelihatan condong sebelah dan lebih menggali kebingungan arah hatinya, pasti lebih greget. Mungkin memang karena pada akhirnya puncak konflik ada pada rahasia Ayana, sehingga Nima enggak terlalu ngotot soal ini.

 

Novel semi bantal ini selesai saya baca tanpa skip sedikitpun saking serunya. Membacanya membuat perasaan campur aduk. Lucu, seru, kesel, gereget, dan bagian-bagian akhir bikin saya kepengin nangis sedih sekaligus haru. Bacaan yang komplit. Tahu-tahu sudah halaman terakhir saja. Saya rekomendasikan novel ini untuk kamu yang suka bacaan ringan menghibur tapi tetap bermakna dalam.

 

Beberapa quotes favorit saya:

 

Saat mencintai seseorang, kita tak akan pernah peduli dengan masa lalunya, dengan apa yang mengikutinya, bahkan dengan semua keburukan dan kebusukannya. Kita hanya akan melihat dia apa adanya dan hanya mengharapkan semua hal terbaik untuknya. Bahkan tak akan pernah peduli kalau akhirnya hanya sakit yang bisa kita terima. Kamu hanya ingin melihat dia tersenyum, hanya ingin dia bahagia. — Halaman 172-173.

 

 

Kalau ada lelaki kusut, kehilangan cahaya hidup dan seperti orang kebingungan sepanjang waktu, bisa kusimpulkan kalau dia bermasalah dengan hatinya? –Halaman 264.

 

Tidak ada yang masuk akal kalau sudah berhubungan dengan cinta. Semua hal yang di luar nalar pun bisa kamu lakukan kalau itu atas nama cinta. –Halaman 268.

 

Laki-laki itu pasti jadi kepala keluarga, itulah kenapa dia harus matang dulu sebelum berani bawa anak orang. Selain tanggung jawabnya besar, pemikiran dan emosi harus stabil karena kelak dialah yang akan membawa arah rumah tangganya. –Halaman 320.

 

***

 

Kamu pasti mau dong novel bertanda tangan penulisnya? Ikutan giveaway novel ini yang berlangsung dari tanggal 10 sampai 20 Maret 2015. Caranya, jawab pertanyaan ini, “Kamu pernah jatuh cinta pada playboy/playgirl? Ceritakan sedikit kisah membahagiakan, menyedihkan, atau mengesalkan dengannya. Kalau enggak pernah jatuh cinta pada playboy/playgirl, ceritakan kenapa kamu enggak pernah jatuh hati pada tipe ini.”

Tulis jawaban di kolom komentar postingan ini disertai akun twitter kamu. Syarat khususnya, kamu harus berumur di atas 15 tahun untuk ikutan giveaway ini, dan follow akun penulisnya @Nima_Saleem

Pengumuman pemenang tanggal 21 Maret 2015 di akun twitter saya @evasrirahayu

Ditunggu partisipasinya ya 😀

 

***

Diikutkan dalam #ReviewMaret @momo_DM @danissyamra @ridoarbain di https://bianglalakata.wordpress.com/2015/03/03/reviewmaret-ayo-me-review-buku-fiksi/