Untuk Dia yang Posesif

Hari ini ada gelisah yang makin melesak. Bukan! Bukan karena kerutan makin terlihat nyata di sekeliling mataku, atau bertambahnya usia. Tapi sesak itu datang ketika memandangmu sedang menonton “Wall-E” untuk kesekian kali. Ketika namamu memanggilku yang sibuk dengan imaji. Juga saat bulir airmata menggenang di pelupuk matamu.

Ada pertanyaan besar: Aku sudah memberimu apa selama ini?

Apa aku sudah menjadi Ibu, sahabat, dan pendidikan yang layak untukmu?

Belum juga kau hafal huruf hijaiyah, huruf, dan angka. Lagu-lagu yang dulu sering kita nyanyikan pun telah kaulupakan, prakarya yang kita buat bersama hanya jadi onggokan sampah. Bahkan kita telah lama tidak bermain di taman untuk melihat kupu-kupu, memetik bunga, dan mengumpulkan kelapa-kelapaan kecil. Rupanya aku terlalu lelap dalam duniaku hingga kau hidup dalam remah.

Nak, senang sekali rasanya ketika seperti pagi tadi kau dengan bangga memamerkan telah bisa memakai semua baju sendiri, atau mandi sendiri–yang sebenarnya masih kubantu. Semua perkembanganmu, sekecil apapun adalah kebahagiaan.

Kamu selalu mencari perhatianku, menuntut kasih sayang yang utuh. Bukan sekadar memandikan, memberi makan, mendongengkan, dan membelikan mainan. Kamu yang posesif memintaku bersikap sama posesif. Nyatanya aku terlalu lalai.

Nak, kelak saat kau beranjak besar, mengenal kawan-kawan, dan kesenangan di luar duniaku, apa aku tetap jadi nomor satu untukmu? Sementara aku sampai detik ini sering membuatmu berada di luar lingkaran.

Nak, bulan depan usiamu genap empat tahun. Tapi cinta yang kamu kecap belum juga sempurna. Padahal setiap detik kamu mengajariku ketulusan.

Nak, seringkali aku berjanji untuk mencintai sebesar pemberianmu. Tapi janjiku seperti uap yang terbang membumbung bersama waktu yang melesat.

Nak, maaf untuk semua waktu yang tersia-sia. Maaf karena aku mengajarimu luka.

Nak, beri aku kesempatan lagi untuk merealisasikan semua janji. Izinkan aku menjagamu seperti teduh yang kauberi saat kau melihat mendung di wajahku. Katamu: Mama kenapa sedih? Jangan khawatir, Mama. Rasi akan menjaga Mama.

Nak, aku mendapat definis untuk kata “Cinta”. Cinta itu Rasi Kautsar.

Teruslah menjadi pecintaku yang posesif selamanya.

ditaman2

Bandung, 17 Juli 2013

Revisi : Idealis, keras kepala, dan defense.

Kali ini saya ingin menceritakan perjalanan naskah novel keempat yang saya selesaikan.

Credit

Credit

Memasuki bulan Ramadhan ini saya merevisi sebuah naskah, yang kalau dihitung-hitung sudah lebih dari satu tahun saya garap. Revisi kali ini berdasar pada catatan kedua editor–yang saya sebut draft 3. Draft 1 sendiri selesai saya tulis pada Oktober tahun lalu.  Saya memberikan naskah itu pada teman-teman untuk diberi masukan. Saya pun memperbaiki naskah dari beberapa masukan mereka. Naskah itu kemudian saya kirimkan pada salah satu penerbit. Sambil menunggu, saya terus mengevaluasi naskah. Seperti kebiasaan saya dan kembaran saya–Evi–kami saling bertukar naskah untuk dibedah. Kami berpendapat lebih baik babak belur di awal daripada nanti setelah novel itu beredar. Dan saya sangat down ketika dia mengatakan naskah saya masih acak-acakan. Katanya kalau dirating di goodreads dia akan memberi saya dua bintang–yang beberapa bulan kemudian dia mengakui kalau sebenarnya hanya bisa memberi satu setengah bintang saja, tapi waktu itu tidak tega mengatakannya. Saat itu saya bersikap defense dengan membentengi pikiran saya bahwa naskah itu sudah layak dilempar ke publik. Dan ternyata saya salah! Pada Desember 2012 saya menerima konfirmasi dari penerbit yang berisi penolakan. Saya semakin down bukan hanya karena naskah saya ditolak, tapi lebih karena kecewa pada diri sendiri yang tidak mau menerima kritikan dan masukan yang jelas-jelas membangun.

Catatan dari kembaran saya tidak banyak, tapi untuk memenuhinya saya tidak cukup dengan “merevisi” tapi harus “menulis ulang”. Kali ini saya yang sudah terbuka matanya pun mau melakukannya. Saya tidak boleh malas untuk menulis ulang. Dari 180 halaman spasi satu setengah, saya membuang lebih dari 100 halaman. Saya juga mengubah plot cerita dan sudut pandang penceritaan. Dari awalnya pov 1 menjadi pov 3. Inilah pertama kalinya saya menulis dengan menggunakan pov 3. Menulis dengan sudut pandang narator ternyata cukup sulit. Apalagi saya sangat buta dalam hal ini. Sebagai referensi saya membaca-baca novel pov 3. Satu bulan kemudian, naskah draft 2 itu pun selesai ditulis. Saya kemudian mengirimkan naskah itu pada penerbit yang berbeda dari sebelumnya. Alhamdulillah, 3 bulan kemudian saya mendapat konfirmasi kalau naskah saya diterima.

Perjalanan naskah pun sampai ke tahap editing. Naskah saya ditangani oleh dua orang editor. proses editing pertama, saya mendapat banyak sekali catatan revisian. Beberapa poin saya turuti, beberapa lagi saya keukeuh dengan versi awal. Padahal editor sudah memberikan alasan kenapa harus diubah. Saya menyebut diri saya idealis. Bukankah penulis perlu memiliki itu?

Satu bulan setelah saya meyerahkan revisi pertama, saya mendapat catatan revisi baru. Dan kali ini catatannya cukup menohok saya. Kenapa? Karena bagian yang tidak saya ubah direvisian pertama tetap harus diubah! Bahkan masukan lainnya pun membuat plot banyak berubah. Saya pun terlibat diskusi alot dengan editor. Akhirnya kami menemukan kesepakatan.

Beberapa hari setelah itu saya belum menulis apa-apa, saya masih bingung bagaimana menambal sulam dan mempercantik naskah. Sampai satu kali kembaran saya mengatakan, “Aku bersyukur banget punya editor kayak mereka. Mereka ngasih masukan kan buat kebaikan naskah kita. Enggak semua editor loh ngasih masukan sedetail itu. Tahu-tahu pas dilempar ke pasaran babak belur”. Kata-kata itu “jleb” banget buat saya. Saya benar-benar disadarkan bahwa masukan itu ada sebagai bentuk kepedulian pada naskah saya. Artinya naskah saya tidak ditangani asal-asalan. Satu lagi yang membuat saya kesal pada diri sendiri, karena saya sudah defense duluan dengan kata “idealis” bukan mau menerima dengan logis. Kata “idealis” itu pun berubah makna menjadi “keras kepala” dan justru “egois” pada anak sendiri, yaitu naskah saya. Kemudian saya teringat dengan sahabat editor saya yang lain, dia pernah mengatakan kalau penulis selalu merasa naskahnya sudah paling cantik sedunia. Padahal banyak korengnya.

Selain menulis, saya sedang belajar menjadi editor. Saya pernah menangani naskah yang masih mentah, lalu memberi anjuran revisian kepada penulisnya. Ketika penulisnya memberi banyak alasan untuk tidak merevisi naskah, waktu itu saya merasa dia hanya defense saja. Bentuk ego. Lalu sekarang sayalah yang berada di posisi tersebut. Ternyata saya gagal belajar dari kejadian itu.

Menerima masukan dan kritikan itu memang tidak mudah, apalagi kalau sudah membentengi diri. Ah, saya pun malu sendiri. Padahal saya sering berkoar-koar kalau masukan dan kritikan itu pasti berefek bagus. Apakah membuat karya kita lebih baik atau membangun mental kita.

Setelah menyadari itu, saya mulai berpikir logis. Membuka-buka catatan, membaca ulang, dan menulis revisi naskah. Kalau editor saja begitu bersemangat untuk membuat naskah saya lebih baik, seharusnya saya apalagi. Saya enggak mau kalah semangat dari mereka. ^_^ Sekarang saya ingin berterima kasih pada kedua editor, Evi, dan first reader naskah saya. Semoga hasil akhirnya memuaskan. Tidak lagi banyak lubang-lubang dan plot hole.

Satu hal yang pasti, editor adalah orang yang ikut bahagia ketika karya penulis disukai dan orang yang pertama ikut sedih ketika karya penulis dicaci. Editor adalah sahabat dan partner dalam berkarya.

Perjalanan naskah ini menjadi perjalanan batin dengan begitu banyak pelajaran.