[Review + Giveaway] Novel Rooftop Buddies: SickLit Padat Konflik

Sudah lama rasanya tidak membaca SickLit alias cerita tentang orang yang memiliki penyakit berat. Bahkan kalau diingat-ingat, Novel debutan Honey Dee merupakan yang pertama di tahun ini.

DATA BUKU

Judul: Rooftop Buddies
Penulis: Honey Dee
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 Halaman
Penyunting : Anastasia Aemilia
ISBN : 9786020395111

Blurb :

Buat Rie, mengidap kanker itu kutukan. Daripada berjuang menahan sakitnya proses pengobatan, dia mempertimbangkan pilihan lain. Karena toh kalau akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu lama?

Saat memutuskan untuk melompat dari atap gedung apartemen, tiba-tiba ada cowok ganteng berseru dan menghentikan langkah Rie di tepian. Rie mengira cowok itu, Bree, ingin berlagak pahlawan dengan menghalangi niatnya, tapi ternyata dia punya niat yang sama dengan Rie di atap itu.

Mereka pun sepakat untuk melakukannya bersama-sama. Jika masuk ke dunia kematian berdua, mungkin semua jadi terasa lebih baik. Tetapi, sebelum itu, mereka setuju membantu menyelesaikan “utang” satu sama lain, melihat kegelapan hidup masing-masing… Namun, saat Rie mulai mempertanyakan keinginannya untuk mati, Bree malah kehilangan satu-satunya harapan hidup.

ULASAN

Rooftop Buddies memiliki kover yang menarik, blurb yang membuat penasaran, dan judul yang menggemaskan. Paduan ketiganya menimbulkan minat saya untuk membacanya. Secara tema, sesungguhnya penyakit kanker sudah sering diangkat. Namun tetap saja, setiap kisah memilki keistimewaannya masing-masing.

Bab-bab awal Rooftop Buddies sesara menyihir saya, membuat terpaku dan betah membacanya. Novel dibuka dengan peristiwa kemoterapi tokoh utamanya, Rie. Penulis dapat mendeskripsikan dengan baik bagaimana perasaan, rasa kemoterapi, sampai suasana rumah sakit. Meskipun Honey tidak menjelaskan secara detail proses kemoterapinya. Secara pengetahuan, penulis menyodorkan edukasi pada pembaca mengenai penyakit kanker beserta istilah-istilah kedokterannya. Disampaikan mengalir bersama cerita, terasa lembut dan tidak dipaksakan. Perkenalan antara dua tokoh utama, yaitu Rie dan Bree merupakan daya tarik paling besar di bab-bab awal novel ini.

Ada 3 hal yang membuat saya tak bisa lepas membacanya: Pertama, karakter Bree. Karakter tokoh utama satu ini sesungguhnya biasa saya temui di novel remaja. Cool, misterius, cerdas, tapi hangat. Namun, tipe ini memang selalu membuat saya tertarik. Kedua, ini berhubungan dengan pengalaman saya pribadi. Rie diceritakan memiliki fisik yang dianggap jelek di masa kecil. Dia jerawatan sehingga dirundung teman-teman sekolahnya. Saya pernah di posisi itu. Saat kecil saya jerawatan parah, faktor genetik. Saya sampai selalu menunduk, merasa jelek sekali, dan sangat tidak percaya diri. Dan yah, saya juga menjadi bully-an teman-teman. Hal itu membuat saya bersimpati pada Rie. Ketiga, Bree dan Rie melakukan perjalanan berdua ke Alawera–tempat ini tampaknya fiktif. Mereka baru kenal, bisa dibilang itu perjalanan dengan orang asing. Sejak remaja saya punya fantasi seperti itu. Travelling ke satu tempat dengan cowok asing.

Kedua tokoh utamanya sama-sama sinis memandang kehidupan. Wajar saja jika menilik dari pengalaman hidup yang mereka lalui. Keduanya cerdas dan keras kepala. Mereka mirip, tapi berbeda. Tokoh-tokoh yang lain sesungguhnya digambarkan tipikal karakter yang ada di novel-novel remaja. Tidak istimewa, tapi didesain sesuai untuk menggerakan cerita. Saya bisa menebak siapa mantan kekasih Bree. Yah, meski saya agak kecewa karena karakternya tidak sepadan dengan Rie. Timpang, pembaca digiring langsung untuk tidak menyukainya. Sehingga persaingan mereka jadi tidak menarik lagi.

Konflik novel ini padat, penuh, dan berlapis. Sebagai pembaca saya hampir tidak diberi waktu bernapas. Mulai dari konflik keluarga, perjuangan menghadapi penyakit, percintaan, trauma masa lalu, kematian, hingga perundungan. Penekanannya memang pada konflik psikologis dan bagaimana badai masalah itu mendewasakan mereka. Ada konflik-konflik yang terasa pas dramatisasinya sehingga membuat Rooftop Buddies menjadi bacaan yang menarik dan bermakna, ada juga yang terasa berlebihan. Namun, secara general novel ini memang seru dan mengharukan. Ada satu bagian yang berhasil membuat saya menangis. Kisah cinta Rie dan Bree bikin saya larut, ikut berbunga-bunga dan berdebar-debar. Saya suka bagaimana Bree memperlakukan dan menjaga Rie. Bagian favorit saya adalah kisah perjalanan sehari mereka. Romantismenya tidak berlebihan tapi mengena. Novel ini juga punya twist berlapis, penulis memyodorkan kejutan demi kejutan hingga menuju akhir.

Tata bahasa Honey ini segar, mengalir, juga bermakna. Sesuai dengan target pembacanya. Dialog-dialognya pun terasa hidup. Emosi para tokohnya tersampaikan dengan baik. Rooftop Buddies memiliki value untuk pembacanya, ada banyak nilai yang bisa diserap dan direnungkan, seperti mengenai perjuangan, keberanian, dan cinta di sekeliling kita. Meskipun ada beberapa hal atau gagasan yang tidak saya sepakati. Rooftop Buddies juga memberi kita saran bagaimana bila menghadapi orang yang sedang sakit.

Kalau harus menjaga seseorang yang sedang sakit, usahakan jangan pernah menangis di depannya. Tangisanmu hanya terbaca sebagai ungkapan belasungkawa prematur. –Halaman 13

3 dari 5 bintang.

GIVEAWAY TIME

Mau novel Rooftop Buddies? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun IG @honeydee1710 dan @perpustakaaneva

2. Repost/regran postingan pengumuman giveaway di akun @perpustakaaneva (link: https://www.instagram.com/p/BqOSapvhWpR/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=h4zjrv4eu88z ) Tambahkan caption ajakan untuk mengikuti giveaway ini, dan tag akun perpustakaaneva juga Honey Dee ya.

3. Peserta harus memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

4. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun IG kamu.

Seandainya kamu bertualang sehari dengan orang yang baru kamu kenal, kamu mau ke mana dan ngelakuin apa?

5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 16-20 November 2018. Satu pemenang akan mendapat novel Rooftop Buddies. Pengumuman pemenang pada tanggal 21 November 2018 jam delapan malam di akun IG saya.

Ditunggu partisipasinya ^_^

Advertisements

[Blog Tour] Ulasan + Giveaway Novel Tapak Setan: Mendengarkan Dongeng Riwayat Atarjoe

Hal menarik dari Haditha–penulis Tapak Setan–dia selalu menyuguhkan ‘sesuatu’ baru. Namun sesuatu baru itu tetap terasa bagian ciri khasnya. Saya lagi-lagi dibuat betah membaca karya Haditha.

DATA BUKU

Judul: Tapak Setan
Penulis: Haditha
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal : 230 Halaman
Penyunting : Dion Rahman
ISBN : 9786020479897

Blurb :
Ada tidak sih cara lain menghukum orang yang tingkahnya kayak setan kalau tidak dengan cara yang lebih setan lagi?

Aku, Atarjoe, setiap pagi bangun dengan tangan berlumuran darah dan berbau bangkai. Coba bayangkan kalau harimu diawali dengan itu. Setiap hari aku harus berkutat dengan rutinitas macam itu. Menjijikkan. Lama-lama kuketahui, ada setan yang memperalat tanganku untuk berburu mangsa darah. Enak saja, ini tanganku, aku tak sudi dipakai seperti itu. Maka aku rebut balik kendali atas tanganku. Dari setan itu aku tahu tanganku mampu menyedot setan-setan lain untuk kemudian dipakai jadi senjata.
Hidupku ini dipenuhi dengan orang-orang celaka yang membuat orang-orang sengsara. Melalui tapak setan ini aku menyalurkan dendam orang-orang yang tak bisa melawan itu. Kugantikan tugas si setan. Aku berburu orang-orang laknat yang bikin banyak orang susah. Tinggal kuraup muka mereka dan mereka akan kerasukan setan seumur hidup, dan setiap hari mereka akan melukai diri sendiri, tanpa bisa mati.
Pembalasan yang memuaskan bukan?

ULASAN

Suatu waktu di masa kecil, saya dan keluarga menonton film horor barat. Dalam film itu ada adegan potongan tangan yang bergerak sendiri. Sejak itu saya kadang dihantui mimpi buruk menemukan potongan-potongan tangan bergerak. Ketika melihat kover novel “Tapak Setan” saya jadi teringat lagi mimpi itu. Dan, mengingat dua novel Haditha sebelumnya yang bikin saya merinding, saya sempat ciut juga membaca novel ini. Namun, saya meneguhkan hati untuk membacanya, dan sama sekali tidak menyesal.

Jika dibandingkan kover 2 novel Haditha sebelumnya, kover Tapak Setan terlihat kurang menarik di mata saya. Memang, secara konten, kover bergambar tangan ini sangat mewakili isis cerita. Namun, kesan yang saya dapat saat melihatnya adalah tipe kover novel persilatan zaman dulu. Tone warna latarnya terlalu sewarna dengan gambar tangan, sehingga gambar jadi tidak menonjol dan jatuhnya serasa mati. Untungnya, blurb novel ini menjanjikan kisah yang menegangkan, sehingga menolong penampakan luarnya. Kemudian, setiap pembukaan novel di judul bab, pembaca disuguhi ilustrasi “setan” karya penulisnya sendiri. Ini merupakan kelebihan Haditha, yaitu memaketkan karya tulis dan ilustrasi buatannya.

Ketika saya memilih judul artikel “Mendengarkan Dongeng Riwayat Atarjoe” itu semata karena secara keseluruhan membaca novel ini kesan saya adalah serasa didongengi oleh Atarjoe yang langsung menceritakan kisahnya di depan saya. Saya langsung lesap dalam sejarah hidupnya yang misterius, tragis, sekaligus magis. Keunikan novel ini memang terletak pada cara Haditha berkisah. Teknik storytelling-nya begitu mengikat dan tidak biasa. Dalam novel sepanjang 230 halaman ini, tak akan kita temukan satu pun dialog langsung. Tokoh Atarjoe bermonolog dari awal hingga akhir. Dan, percayalah… hal itu dieksekusi oleh Haditha dengan baik sekali.

Untuk pertama kalinya saat membaca karya Haditha, saya tak dicekam ketakutan. Padahal kisah Atarjoe ini memunculkan “hantu” atau “setan” sejak awal hingga akhir. Apalagi penulis sering kali mendeskripsikan wujud para setan dengan detail. Namun, seperti Atarjoe, saya tak lagi takut. Karena mereka terasa seperti bagian dari tokoh utamanya, bukan entitas lain yang mengerikan. Konflik novelnya tajam dengan mengusung tema-tema sosial seputar orang pinggiran sampai ormas keagamaan. Kita diajak menekuri realitas orang-orang jalanan, sekaligus dunia gaib. Perkawinan menarik antara rasional dan irasional. Tempo penceritaannya pun terasa pas, padahal kadang kala melewati rentang waktu panjang sampai tahunan. Namun, saya tak merasakan keterburuan dalam narasinya. Sisipan humor ala Haditha seperti biasa terasa kental dan di beberapa bagian berhasil membuat saya tertawa.

Karakter Atarjoe ini juga unik, dua sisi kegelapan manusia dan kelembutan hati tersampaikan dengan baik. Pembaca dibuat paham atas pemikiran sinis dan keputusan-keputusan Atarjoe, meski tak membenarkan perbuatannya. Untuk setiap karakter–baik manusia maupun setan–dalam “Tapak Setan” walaupun tanpa porsi dialog, tergambarkan dengan jelas lewat dongeng Atarjoe. Saya dibikin peduli dengan nasib mereka semua yang jumlahnya banyak sekali. Novel ini memang memunculkan banyak tokoh.

Dari sisi bahasa, Haditha kali ini memakai kata yang lebih lugas dari sebelumnya. Berbagai umpatan dan kata kasar berserakan dalam novel. Namun, itu justru yang membuat tokoh ini semakin menarik. Terasa apa adanya dan hidup. Bahasa yang dipakai anak jalanan. Selebihnya, pemilihan kata novel ini kaya. Membuat saya berpikir bahwa Atarjoe orang pinggiran yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Seperti biasa, Haditha luwes menyampaikan pesan moralnya. Sehingga novel horor ini memiliki value lebih. Akhirnya, saya memberi 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

Jangan terlalu menyandarkan diri pada pengharapan. Dunia punya cara bangsat untuk membalik harapan baikmu. –Halaman 172

GIVEAWAY TIME

Mau novel Tapak Setan? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun IG @hahahaditha @elexmedia dan @perpustakaaneva

2. Repost/regran postingan pengumuman giveaway di akun @perpustakaaneva (link: https://www.instagram.com/p/BqDALx1hHpK/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=lb5xrjkyjlpn ) Tambahkan caption ajakan untuk mengikuti giveaway ini, dan tag akun perpustakaaneva juga Haditha ya.

3. Peserta harus memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

4. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun IG kamu.

Seandainya tanganmu punya kekuatan, kamu ingin tanganmu memiliki kesaktian apa?

5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 12-14 November 2018. Satu pemenang akan mendapat novel Tapak Setan. Pengumuman pemenang pada tanggal 15 Juni 2018 jam delapan malam di akun IG saya.

Ditunggu partisipasinya ^_^

[Blogtour] Review + Giveaway Novel Horor Klenik ‘Karung Nyawa’ Karya Haditha

Ini kali kedua saya membaca novel karya Haditha, setelah sebelumnya membaca Anak Pohon dua tahun lalu. Cukup penasaran dengan perkembangan penulis.

Data Buku

Judul : Karung Nyawa

Penulis : Handitha

Penerbit : Bukune

Tebal : 220 Halaman

Penyunting : MB Winata

ISBN : 97860222202653

 

Blurb :

Johan Oman, Pemilik Konter Pulsa

Ah, kejadian lagi, padahal belum juga hilang ingatanku akan kejadian mengerikan itu! Udahlah, tutup konter saja!

 

Janet Masayu, Pemandu Karaoke

Pacarku memang benar-benar trauma akan kejadian itu. Sekarang dia nggak mau keluar sama sekali dari konter pulsa kecilnya. Harus bagaimana ya kalau sudah begini…

 

Zan Zabil Tom Tomi, Penjaga Warnet

Menarik! Polisi saja tidak sanggup memecahkan misteri ini.

Sepertinya sudah perlu detektif partikelir yang lama nganggur ini turun tangan.

 

Tarom Gawat, Cucu Dukun

Gawat… gawat… GAWAT!

 

Empat pemuda bekerja sama menyelidiki kasus ganjil yang menggegerkan desa. Mereka tidak pernah menyangka akan berada di ranah klenik nan mistik yang membuka rahasia masa lalu kelam Purwosari.

Bukan hanya soal pesugihan dengan tumbal, tapi jauh lebih mengerikan lagi, perihal legenda Toklu—Pemulung pemburu kepala manusia yang mungkin benar adanya.

 

Kini mereka harus menghadapi tantangan terbesar ketika mendapati bahwa pemburu dan mangsa terakhir dari semua ini lebih dekat dari yang mereka kira.

Review

Saya tidak menyangka, kover novel “Karung Nyawa” yang menarik itu buatan penulis sendiri. Gambar seorang pemulung dilatari jalan setapak sewarna darah bertuliskan judul dan nama penulis sangat eye catchy karena background-nya warna kuning polos. Simpel, misterius, dan warnanya mencuri perhatian. Ketika melihatnya di display di toko buku, mata akan mudah menemukan buku ini.

Kemudian, desain sampul belakangnya pun bagus. Sebelum blurb, tampak sobekan kertas berita acara pemeriksaan kepolisian. Kata-kata yang dipilih dalam blurbnya pun memancing rasa penasaran. Sudah memberi gambaran mengenai 4 tokoh utama dalam novel ini beserta dengan kasus yang mereka hadapi.

Sejak membaca bab-bab awal novel ini, saya dibuat jatuh cinta dengan teknik penulisan Haditha. Teknik penulisannya berbeda dengan novel Anak Pohon. Saya mendapati perkembangan Haditha cukup pesat. Penulisan Haditha enerjik, lugas, kaya kosakata, diksinya menarik, memiliki humor samar, dan kental lokalitas. Nuansa lokalitasnya bahkan sudah dibangun dari pemilihan judul babnya, memakai bahasa Jawa. Dialog para tokohnya pun sering memakai bahasa Jawa, pembaca diberi footnote terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Karena tidak begitu banyak, jadi saya tidak merasa terganggu. Namun cukup memberi aksen lokalitas dan penguatan untuk para karakternya. Kemudian, di antara kata-kata yang saya sukai, ini kutipan favorit saya:

Hidup mandiri itu ya jangan sembunyi kalau ketemu cobaan. Harus bangkit. Harus hadapi masalah. –halaman 40

Sejak bab pertama saya langsung larut dalam cerita. Pengenalan tokoh dan sungguhan konflik berjalan beriringan. 4 tokoh utama diperkenalkan satu per satu tanpa basa-basi, lengkap dengan latar belakang masa lalunya. Tokoh di novel ini bertebaran, tapi saya tidak dibuat pusing karena masing-masing tokoh memiliki ciri khas pembeda. Seperti novel sebelumnya, karakter-karakter yang dibangun penulis sangat kuat dan chemistry antara mereka terasa sekali. Bisa dibilang saya menyukai seluruh tokoh dalam Karung Nyawa. Mereka lovable dan menyedot perhatian dengan caranya sendiri. Tokoh favorit saya Simbah nenek Johan Oman. Yang menarik lagi, di novel ini sempat disinggung tokoh Nuansa yang merupakan tokoh utama di Anak Pohon.

Konfliknya Karung Nyawa disampaikan langsung dari bab pertama dengan lugas. Sejak awal novel ini beritme cepat, sehingga saya tidak diberi waktu merasa bosan. Berbeda dengn saat membaca Anak Pohon yang konfliknya tak begitu rapat, Karung Nyawa menyajikan misteri yang padat. Meski begitu, saya cukup terkejut ketika membaca bab-bab awal novel ini karena di antara berbagai konflik ketegangan saya masih bisa tenang dan senyum-senyum sendiri. Pemilihan kata Haditha yang mengandung humor samar inilah penyebabnya. Semakin lama, tensi konflik makin tinggi dan kemunculan serta deskripsi hantu dan sebangsanya dalam novel ini makin detail sehingga saya jadi panas dingin. Horor klenik, pesugihan, dan topik Toklu (pemulung pemburu kepala manusia) yang diusung Haditha ini begitu mudah related dengan kehidupan sehari-hari. Sewaktu kecil saya juga mendengar desas-desus mengenai Toklu ini, padahal saya dan Haditha secara geografis berbeda, karena itu isu Toklu ini menjangkau luas sekali. Terus terang saja, saya ini penakut sekali, sehingga membaca Karung Nyawa dibutuhkan ketabahan level tinggi saking mencekam dan meneror. Satu kata untuk buku ini: GAWAT! Seperti kata favorit tokoh Tarom Gawat yang memiliki kemampuan khusus dapat melihat makhluk gaib. Namun ada satu hal yang ganjil buat saya, kenapa polisi tidak bisa menemukan identitas korban melalui sidik jari?

Ngger, anak muda penerus generasi jangan sempit pikirannya, yo.”

–Halaman 51

Nilai tambah lain dari novel ini adalah pesan moral yang disisipkan dengan baik dalam banyak bab.  Di akhir kisah, Haditha menyiapkan twist ending yang cukup nendang. Pembaca yang tidak mengendus pelakunya akan terperenyak.

4 bintang untuk novel Karung Nyawa. Saya rekomendasikan untuk para pencinta horor dan siapa saja yang menginginkan sensasi adrenaline rush.

Giveaway Time!

Mau novel Karung Nyawa? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun IG @haditha_m dan @perpustakaaneva

2. Sebar info giveaway ini dengan tagar #KarungNyawa dan mention saya. Boleh di insta story atau twitter. Untuk twitter silakan mention saya di @evasrirahayu

3. Peserta harus memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

4. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun IG atau twitter kamu.

Ketika membaca novel horor, sensasi apa yang kamu harapkan dan apa yang ingin kamu dapat dari bacaan itu?

5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 8-12 Juni 2018. Satu pemenang akan mendapat novel Karung Nyawa. Pengumuman pemenang pada tanggal 13 Juni 2018 jam delapan malam di akun twitter dan IG saya.
Ditunggu partisipasinya ^_^

[Review] Novel “False Beat” Karya Vie Asano

False Beat yang merupakan novel debut Vie Asano sudah mencuri perhatian saya sejak pertama kali melihat cover novelnya.  Tema musik dipadu kisah anak kembar menjadi magnet tersendiri.

DATA BUKU

Judul: False Beat
Penulis: Vie Asano
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020382265
Tebal: 294 Halaman
Terbit: Maret 2018

Blurb:

”Nggak usah lihat-lihat. Gawat kalau lo nanti suka sama gue.”

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan, kalau saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh punya wajah ganteng, bibir seksi, penampilannya keren, dan suara yang bagus banget. Tapi, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan!

Aya pun mencari cara untuk mengendalikan Keanu agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar yang disimpan Keanu yang membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.

ULASAN BUKU

Cover novel ini kece banget. Seorang cowok lagi nyanyi dengan atraktif. Mukanya enggak diliatin, jadi pembaca bisa membayangkan sendiri seperti apa wajahnya. Dari cover-nya udah kebayang tema besar yang diangkat: dunia hiburan dengan dramanya. Blurb alias sinopsis belakang cover, menarik, menggambarkan konflik, dan bikin penasaran buat baca

Pembagian babnya unik, nyesuain sama tema musiknya. Prolog disebut sebagai ‘intro’ sedang babnya dinamai ‘verse’, ‘Chorus’ dan istilah musik lainnya. Suka deh!
Ini saya jadi tahu istilah verse. Bab prolog alias intro dibuka dengan tokoh Aya yang terkejut saat menonton berita tentang skandal Keanu dari band Keanu & the Squad yang akan dimanajerinya. Wajarlah Aya syok karena cewek itu belum berpengalaman di industri hiburan, dan secara baru pulang dari Jepang setelah kerja di sana selama 3 tahun. Prolognya cukup menarik karena sudah disuguhi konflik.

Kemudian bab-bab awal novel ini berjalan dengan tempo cepat yang pas. Perkenalan para tokoh langsung dibalut dengan mengemukanya masalah demi masalah antara Aya dan Keanu, membuat cerita jadi langsung seru! Penulis seperti enggak mau buang-buang waktu sehingga emosi pembaca sudah diaduk-aduk sedari awal.

Baca novel ini betah, soalnya bahasanya renyah, dan dialognya hidup.
Juga… kocak!
Humornya dapet. Terhibur deh bacanya.
Obrolan antara Aya dan Keanu berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri.
Dialog Aya dengan band the Squad dan sahabat-sahabatnya juga terasa natural.

Dalam novel ini banyak istilah musik dan dunia hiburan. Kayak misalnya road manager, stage manager, chorus, kunci-kunci nada, dan lainnya. Jangan khawatir enggak ngerti, karena ada catatan kaki buat penjelasannya. Untungnya gak begitu banyak, jadi enggak pusing sering-sering liat ke bawah. Sebagian istilah dijelasin sama narasi dan dialog soalnya. Lumayan nambah pengetahuan 😎
Keliatannya penulis cukup melakukan riset, sehingga dunia hiburan dan musik jauh dari tempelan. Pembaca beneran diajak memasuki dunia musik yang ajaib. Vie juga memberi selipan-selipan tentang Jepang. Pembaca dibuat percaya kalau Aya memang beneran abis magang di Jepang. Penulis kalau gak salah memang menyukai hal-hal berbau Jepang.

Kemudian, saya pernah cerita berharap baca adegan konser yang epic. Dan saya cukup terpuaskan dengan adegan konsernya. Sebagai pembaca saya dapat membayangkan seperti apa merindingnya berada di konser itu 😎

Ada satu hal lagi yang mencuri perhatian saya. False Beat menceritakan tokoh kembar! Kembar cowok, tokohnya Keanu kembar dengan Kevin. Mereka digambarkan sebagai kembar yang hubungannya kurang baik.
Bukan hal aneh memang, berdasar pengamatan, anak kembar cowok memang cenderung gak seakrab kembar cewek atau kembar cewek-cowok.
Tapi… hubungan Keanu dengan Kevin ini bisa dibilang rumit! Nah, apa kerumitannya? Mesti baca sendiri deh.

Lalu para tokohnya….
Pertama, tokoh si kembar Keanu dan Kevin ini combo keren! Keduanya sama-sama bikin jatuh cinta. Penulis pinter aja nih bikin pembaca kayak saya meleleh.
Keanu dan Kevin wajahnya identik, suaranya persis, yang bedain secara fisik cuman Kevin berkacamata.
Kalau sifatnya? Keduanya punya kekurangan yang jelas. Yes, saya suka nih tokoh kayak gini.
Kedua, Aya. Tokoh ini tipe karakter komikal dan ekspresif. Kelakuannya lucu, meskipun enggak sampai bisa disebut ajaib.
Ketiga, Key. Dia adalah teman Keanu dan Kevin yang cantik dan baik hati. Pembaca enggak akan sulit menebak hubungan apa yang terjadi antara ketiga tokoh itu. Kabar baiknya, Key ini saingan yang sepadan buat Aya. Bukan tipe bitchy soalnya. Yang begini lebih mengaduk emosi saya sebagai pembaca.

Romansa Aya dan tokoh utama cowok ‘False Beat’ terjalin dengan natural. Perkembangan emosi di antara mereka berjalan sedikit-sedikit sehingga terasa gereget! Saya menikmati adegan demi adegan yang terus terang bikin saya ikut-ikutan ngerasa deg-degan.

Di blurb disebutkan kalau Aya mengetahui rahasia kelam Keanu yang bikin hidupnya sebagai manajer makin dramaaaa!
Bisa dibilang, saya enggak menyangka ini rahasianya begitu. Dapetlah twist-nya.
Rahasia ini bikin saya makin bersimpati pada Keanu.
Apa rahasianya? Baca sendiri ya.

Makin ke belakang, kisah di False Beat ini makin seru, kompleks, dan menyentuh.
Dramanya gereget 😍 Klimaksnya dapet. Saya berhasil dibikin nangis. Huaaaa 😭😭😭
Hampir seluruh pertanyaan terjawab tuntas. Termasuk pertanyaan yang langsung terpikir saat membaca betapa ngototnya Om Putra–omnya Aya–untuk menjadikan keponakannya itu manajer Keanu and the Squad. Padahal Aya itu kan enggak punya pengalaman banget.

Berhubung ini novelnya ngebahas anak kembar, jadi kepancing buat komentar dikit soal itu. Kalau kata Evi, anak kembar akan cenderung memihak tokoh yang paling mirip dirinya. Tapi kami sih sebenernya akan memihak siapa pun anak kembar yang kami rasa mendapat ruang kurang dalam satu cerita. Di novel ini sebenernya penulis sudah cukup memberi porsi seimbang antara Keanu dan Kevin, tapi ada satu yang menggantung. Kisah percintaan salah satunya.
Kisah si kembar Keanu dan Kevin termasuk yang nyesek-nyesek gimana…. Cerita tentang anak kembar memang suka bikin kebawa baper 😆

Kalimat yang paling saya suka di novel ini:

Setiap orang pasti punya dua wajah yang saling bertolak belakang (halaman 267).

Kesimpulannya…. Novel ini menghibur, bikin senyum-senyum, baper, deg-degan, gemes, dan ngasih pengetahuan soal dunia hiburan juga.

4 dari 5 bintang

[Review] Novel Caramellove Recipe: Warna-warni Teen Cooking Competition

Ketika acara Master Chef Indonesia baru digelar, saya pernah punya impian untuk menulis novel bertema kompetisi memasak. Sayangnya naskah itu tak pernah mengalami kemajuan dari sinopsis saja. Makanya saya penasaran sekali ketika Lia Nurida menulis novel bertema kompetisi memasak. Saya sudah penasaran garis keras pada novel ini sejak  nyicip bab-bab awal di web Gramedia Writing Project dulu dan langsung jatuh cinta. Waktu itu saya mikir, bakalan juara nih… ternyata beneran juara! Novel ‘Caramellove Recipe’ berhasil menyabet  juara harapan 1 di lomba GWP3 tahun 2017 lalu.
Saya jadi penasaran, naskahnya bakal berubah sejauh apa nih setelah mengalami penggodogan proses revisi dan lainnya. Tapi saya yakin bakalan makin yummy.

Seperti biasa, saya ngepoin proses penulisan novel yang diulas di blog ini. Ini dia hasil obrolannya.

Berkenalan dengan Lia Nurida

Lia Nurida, lahir di Jombang – Jawa Timur, 1 Oktober. Lulusan Universitas Brawijaya – Malang yang kini menetap di Ciputat, Tangerang, Selatan.
Pengagum musik McFly dan Greenday. Pecinta kopi dan bubur ayam. Penggemar serial drama korea genre crime and thriller.
Menulis adalah caranya untuk bersenang-senang, membaca adalah caranya untuk berbahagia, travelling adalah caranya untuk menikmati hidup, dan nonton film adalah caranya untuk menghabiskan waktu senggang.
Caramellove Recipe adalah novel ketiganya setelah Pemetik Air Mata (2014) dan Let Me Love, Let Me Fall (2013).
Sosoknya bisa dikenal lebih jauh melalui akun IG @lianurida

Mengenal Lebih Jauh Lia Nurida di Sesi Wawancara

1. Saya: Ceritakan dari mana ide menulis novel ini?

Lia: Saya penggemar berat acara Masterchef US dan nggak pernah ketinggalan satu episode pun di tiap season-nya. Sebenarnya keinginan untuk membuat cerita berdasarkan acara tersebut udah ada sejak lama, tapi belum ada ide yang spesifik. Sampai akhirnya, pas saya lagi nonton episode 11 di season 5, di acara tersebut para peserta diminta untuk membuat makanan Italia bernama Caramelle, yaitu salah satu jenis pasta yang bentuknya menyerupai permen. Nah dari nama pasta itulah muncul ide ini. Kok lucu gitu kayaknya kalo bisa jadi cerita.

2. Saya: Ceritakan kejadian mengesankan saat menulis novel ini.

Lia: Kejadian mengesankan sewaktu menulis novel ini, hmm apa ya. Mungkin karena deadline-nya yang mepet banget setelah pengumuman pertama, kurang lebih 3 mingguan, jadi yaaa agak pontang panting gitu nyelesaiin naskahnya. Karena saya nggak mempersiapkan riset apa pun sebelumnya. Karena dari 400-an peserta benar-benar nggak nyangka bisa masuk ke 90 besar. Jadi selama 3 minggu itu saya mendadak jadi wanita super gitu. Kuat nggak tidur, kuat nggak makan, kuat duduk lama, demi bisa selesaiin naskah ini tepat waktu, di tengah-tengah kesibukan saya lainnya.

3. Saya: Novel ini menang lomba GWP Batch 3 kan ya… Ceritakan dong gimana ‘keseruan hati’ waktu pengumumannya.

Lia: Sempet bengong, waktu MC nyebutin judul novel saya ini sebagai pemenang harapan 1. Nggak ada sama sekali bayangan bakal menang juara berapa pun. Karena sewaktu menyelesaikan naskah dan datang ke expert class waktu itu, tujuan saya cuma ingin ketemu sama teman-teman sesama penulis, ketemu editor-editor GPU dan mentor-mentor yang famous-famous itu. Jadi ya, sewaktu diumumkan saya menjadi salah satu pemenang, sempat bengong beberapa detik karena nggak nyangka.

4. Saya: Ceritakan riset untuk kompetisi dan pengumpulan resep dalam novel ini. Apakah resep-resepnya benar-benar sudah dipraktikkan Lia?

Lia: Risetnya kebanyakan dari youtube. Mulai dari atmosfer kompetisi, resep-resepnya dan cara memasaknya. Kalau resep yang ada di dalam novel ini, sejujurnya belum ada yang pernah saya praktikkan sendiri memasaknya. Kecuali omelette dan telur mata sapi, ada tuh di bab berapa ya, lupa. Hehe. Karena semua yang serba mepet itu. Jadi resep-resepnya murni dari riset. Tapi ada beberapa resep yang udah pernah saya cicipin makanannya, kayak samgyetang, macaron, chocolate trifle, jadi sudah ada bayangan untuk menggambarkan rasanya ketika menuliskannya ke dalam naskah.

5. Saya: Ada koki yang jadi inspirasi buat tokoh-tokoh dalam novel ini? Kalau ada, siapa dan mengapa?

Lia: Untuk karakter-karakter utamanya, Karmel, Sadam, dan Satria, saya ciptakan nggak berdasarkan chef mana pun. Benar-benar murni saya ciptakan sebagai tiga remaja berbakat di bidang masak dengan sifat yang kayak remaja pada umumnya. Tapi untuk tokoh Chef Martin, ini sebenarnya saya terinspirasi dari penggabungan tiga chef pembawa acara Masterchef US. Terciptalah sosok Chef Martin yang ganteng dan berkharisma seperti Gordon Ramsey, tegasnya seperti Joe Bastianich, tapi juga ramah dan lucu seperti Graham Elliot.

DATA BUKU

Judul: Caramellove Recipe
Penulis: Lia Nurida
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 Halaman
Terbit: Februari 2018

Blurb:

Gawat!

Satria kena tifus. Cowok itu pingsan tepat di akhir babak penyisihan awal Teen Cooking Competition. Padahal tiga hari lagi, Karmel dan Satria harus mengikuti babak dua puluh besar. Mau tidak mau sesorang harus menggantikan posisi Satria. Miss Anne mengusulkan satu nama.
Sadam. Cowok tajir belagu anak pemilik restoran Luigi’s itu yang dipilih Miss Anne. Cowok yang mati-matian Karmel hindari sejak tragedi daun bawang pada awal masuk SMA Putra Bangsa. Cowok menyebalkan yang sialnya adalah seseorang yang Karmel taksir sejak SMP!

Meski berat, Karmel tak punya pilihan lain. Ia harus tetap berjuang di Teen Cooking Competition bersama Sadam yang arogan. Di sisi lain Karmel juga harus memikirkan persahabatannya dengan Satria yang mulai merenggang. Nggak mungkin kan Satria cemburu karena Karmel dan Sadam yang mulai dekat?

ULASAN BUKU

Mari kita mulai dari bahas cover dulu. Kover bikinan ‘sukutangan’ buat novel para pemenang GWP3 termasuk Carramellove Recipe ini punya karakter dan ciri khas kuat. Konsepnya unik, seger, dan berasa beda. Sekali liat, langsung tahu kalau itu novel pemenang GWP tahun 2017. Kover novel memiliki dominan warna hijau. Hiasan elemen masakannya juga pas, enggak keramean dan enggak terlalu sedikit. Menarik 😆

Konsep pembagian babnya juga unik karena memakai istilah dunia kuliner. Prolog disebut ‘Appetizer‘ lalu bab isi disebut ‘Main Course‘. Layout-nya manis deh. Suka!
Setiap bab dibuka dengan quote tentang kehidupan yang memakai analogi makanan.
Sehingga konsepnya secara keseluruhan terasa solid.

Prolog novel ini cukup nendang. Pilihan Lia untuk membuka cerita dengan kejadian di kompetisi membuat pembaca langsung terikat dan penasaran untuk membuka lembar berikutnya. Cara Lia bercerita terasa ringan dan berhasil membawakan suasana. Ketika membaca prolog, saya merasakan atmosfer kompetisi yang menegangkan.

Novel ini diceritakan lewat POV 3 ‘diaan’, sehingga pembaca dapat mengikuti perasaan tokohnya tetapi juga dapat menangkap keadaan secara keseluruhan. Novel ini memakai bahasa yang ringan, mengalir, dan renyah. Cocok buat pembaca remaja. Apalagi pembagian babnya pendek dan pas. Ketebalan novelnya juga sedang, sehingga tahu-tahu udah selesai aja bacanya.

Kemudian tentang tokoh-tokohnya. 3 tokoh utamanya Karmel, Satria dan Sadam punya karakteristik yang menonjol. Saya suka bagaimana penulis menjelaskan ciri fisik pelan-pelan. Berbagai detail tentang tokoh-tokohnya disebar di beberapa bab.
Sifat-sifat tokoh-tokohnya dapat ditangkap melaui gaya berdialog mereka, dan bagaimana mereka menyikapi konflik. Ketiganya punya karakter khas anak SMA dan tipe-tipenya mudah ditemui di sekitar kita, sehingga gampang related dengan pembaca remaja maupun dewasa.
Sejauh ini saya menyukai Karmel dan Satria. Ngeship mereka, hohoho….
Tokoh-tokoh tambahannya sendiri cukup menyenangkan. Kehadiran tokoh yang cukup banyak terasa bukan sekadar tempelan, tapi memang menggulirkan cerita. Termasuk para kontestan lain. Lia berhasil memilah tokoh mana yang mesti ditonjolkan melihat dari kisah yang melibatkan banyak orang alias kolosal. Namanya juga cerita tentang kompetisi yang cukup panjang.

Penulis juga berhasil menjelaskan berbagai makanan dengan kadar detail yang pas. Sehingga membuat pembaca dapat membayangkan bentuk dan rasa makanannya. Sungguh ini cobaan buat saya dan mungkin pembaca lainnya. Bikin lapeeeer! Penulis memberi pengetahuan mengenai makanan dan beberapa istilah mengenai dunia kuliner. Dengan cara penyampaiannya yang tepat, pembaca tahu-tahu saja menambah stok pengetahuan. Tidak banyak, tapi cukup.
Ada sedikit resep dan cara memasaknya. Bisa dipraktikkan sepertinya. Saya sampai bertanya-tanya, jangan-jangan penulisnya beneran jago masak. Oh iya, jangan membayangkan resepnya dikemukakan seperti dalam buku resep ya. Karena resep disisipkan dalam cerita secara natural. Jadi kalau berminat mempraktikkan, mesti ditulis ulang sendiri dalam bentuk resep praktis.

Novel ini menyajikan beberapa konflik. Kompetisi masak, cinta, persahabatan,  dan keluarga. Semuanya teramu dengan baik, tentunya dengan menonjolkan 1-2 konflik utama. Konfliknya disampaikan ringan saja, enggak bakal bikin pembaca mengerutkan kening. Saya kira, itu merupakan salah satu kekuatannya. Novel ini memberi efek segar dan camilan enak bagi pembacanya, seperti sedang makan roti bakar dan es krim. Saya paling suka tiap kali masuk ke bagian kompetisi. Menyenangkan sekali mengikuti sepak terjang Karmel dan Sadam dalam lomba. Menyimak juri Chef Martin menilai dan ikut deg-degan dengan hasilnya. Saya sudah dapat menduga hasilnya, tapi kekuatannya bukan pada hasil, tapi proses kompetisinya.

Caramellove Recipe menyuguhkan open ending. Bisa dibilang cerita sudah selesai sempurna, tapi sangat terbuka untuk sekuel. Bahkan bisa banget dibikin trilogi. Saya yakin masih banyak konflik yang bisa dikemukakan dan diangkat di sekuelnya.
Karena belum ada konflik persaingan sengit antar peserta kompetisi

Secara keseluruhan, novel ini seperti makanan ringan yang enak. Cocok dibaca untuk menaikan mood karena ceria.
4 dari 5 potong kue, eh, bintang untuk Caramellove Recipe.

[Review] Novel Dharitri: Fantasi yang Kental Lokalitas

 

Beberapa tahun ini saya menyadari kecenderungan genre favorit saya ternyata genre fantasi. Saya suka berselancar di Goodreads membaca-baca ulasannya kemudian memasukan buku-buku tersebut ke dalam wish list. Salah satunya novel Dharitri. Ternyata semesta benar-benar menjodohkan saya dengan novel ini. Yeaaay! Satu hari, saya berkesempatan menjadi salah satu host book tour novelnya.

Saat pertama kali mem-posting foto buku Dharitri, seorang teman menulis komentar bahwa novel ini berasal dari Wattpad. Terus terang saya baru tahu. Saya jadi penasaran bagaimana proses penulisan novelnya, maka saya mewawancari penulisnya: Nellaneva. Yuk, ikuti obrolan kami ^^

Berkenalan dengan Nellaneva

Nellaneva adalah peracau yang terlalu sering berkhayal dan menulis untuk melegakan diri. Dalam kesehariannya, dia mendalami bidang Mikrobiologi dan sedang melanjutkan pendidikan di Osaka, Jepang. Pada waktu senggangnya, dia bergegas mengabadikan imajinasi dalam kata-kata sebelum waktunya di Bumi habis. Nellaneva mulai aktif di dunia kepenulisan sejak tahun 2015. Novelnya yang sudah diterbitkan adalah Dharitri dengan genre fantasi (Histeria, 2017). Karya-karyanya yang berupa puisi, cerpen, dan novel diarsipkan pada situs kepenulisan Wattpad atas nama Nellaneva.

Selain Wattpad, Nellaneva juga dapat dihubungi melalui:
Line: @oja6804t
Instagram dan Twitter: nellaneva94
Email: nellaneva94@gmail.com

Mengenal Lebih Jauh Nellaneva di Sesi Wawancara

Ehm… ehm… ini sesi wawancaranya cukup panjang karena saking penasarannya, saya banyak nanya XD

1. Dapat dari manakah ide menulis kisah Dharitri?

Nella: Seperti cerita-cerita saya yang lain, ide Dharitri datang secara mendadak ketika saya sedang melamun di kamar sebelum tidur. Saat itu, saya membayangkan konsep dunia baru di masa depan. Berdasarkan novel-novel fantasi atau fiksi ilmiah yang sudah beredar selama ini, latar distopia nan futuristik—dengan iringan teknologi canggih—hampir selalu digunakan sebagai latarnya. Saya pun terpikir untuk menciptakan sesuatu yang berbeda: latar utopia berbau tradisional, meskipun jenis dunia demikian pada akhirnya tidak benar-benar saya terapkan dalam Dharitri. Selain itu, minat saya terhadap bahasa Sanskerta mendorong saya untuk menerapkan latar dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Nusantara. Untuk ide Hibrida sendiri, itu murni dikarenakan kecintaan saya terhadap hewan-hewan eksotis terutama naga.

2. Ceritakan proses penulisan Dharitri yang berkesan. Mulai dari riset sampai draf terakhir.

Nella: Sebenarnya ide tentang Dharitri sudah lahir sejak akhir tahun 2014, tetapi proses penulisannya baru bisa terlaksana pada pertengahan tahun 2016. Namun, karena beragam kesibukan dan kemampuan saya saat itu belum cukup untuk menyusun novel, saya pendam dulu ide tersebut. Tidak benar-benar saya tinggalkan, tetapi hanya menuliskannya sebagai premis terbengkalai di dalam laptop seperti ide-ide cerita saya yang lain. Mulai tahun 2015, menjelang lulus kuliah, akhirnya saya tergoda merampungkan novel di sela-sela mengerjakan skripsi. Setelah novel pertama saya, Tujuh Kelana, rampung pada awal tahun 2016, saya pun terdorong untuk ‘menggodok’ ide Dharitri sebagai novel berikutnya. Proses penulisan Dharitri terhitung sangat singkat, hanya satu setengah bulan saja (awal Juni- pertengahan Juli 2016). Saat itu, saya baru lulus kuliah dan masih mencari-cari pekerjaan. Sambil menanti panggilan tes seleksi dan wawancara kerja, saya manfaatkan waktu luang dengan menulis novel.

Selebihnya, dari premis pertama yang berupa paragraf-paragraf sederhana, saya kembangkan outline bersamaan dengan penulisan Dharitri itu sendiri. Worldbuilding, konflik, dan tokoh-tokohnya bermunculan seiring saya menambahkan bab-bab baru. Alhasil, beberapa poin premis pun melenceng dari ide awal tetapi untungnya terarah jadi lebih baik. Sebagai penulis pemula, saya jadikan ini sebagai pembelajaran agar mempersiapkan plot cerita dengan lebih matang sebelum memulai eksekusi. Selama riset, saya tidak menemukan kendala berarti, tetapi ini pun menjadi evaluasi bagi saya supaya lebih banyak mencantumkan detail-detail ilmiah dalam deskripsi cerita.

Sejak awal tahun 2016, saya juga aktif menulis di situs kepenulisan Wattpad. Draf pertama Dharitri saya publikasikan di sana dan mendapat banyak masukan dari para beta readers. Mulai dari awal Juni hingga pertengahan Juli 2016, saya senang sekali tiap kali mempublikasikan bab terbaru Dharitri di Wattpad. Antusiasme pembaca—yang tertampilkan dalam komentar-komentar—menjadi motivasi terbesar saya untuk menulis Dharitri sampai tamat dalam waktu singkat. Yang paling mengejutkan adalah sewaktu Dharitri memenangkan penghargaan Wattys Award 2016 kategori Pilihan Staf. Saya tidak menyangka sesuatu yang saya mulai sebagai iseng-iseng bisa membuahkan hasil seperti ini.

3. Mengapa menulis genre fantasi?

Nella: Sejak kecil, saya cinta mati dengan genre fantasi. Koleksi novel yang saya miliki didominasi oleh genre tersebut. Dengan membaca kisah fantasi, saya merasa bisa melarikan diri dari kejenuhan realita dan pada dasarnya saya memang seorang pengkhayal. Setelah dibuat tergugah oleh banyak cerita fantasi, saya pun terdorong untuk menciptakan cerita karangan saya sendiri. Meskipun baru serius menulis sejak tahun 2015, sesekali saya menulis secara iseng sejak duduk di bangku sekolah. Selama itu pula, genre yang paling sering saya tulis adalah fantasi. Dengan menulis fantasi, saya bisa menumpahkan imajinasi saya menjadi kata-kata dan menyebarkannya ke sesama peminat fantasi lain. Menurut saya itu adalah salah satu sensasi terbaik sebab fantasi adalah pelarian saya dari dunia nyata :’)

4. Kesulitan atau tantangan apa yang dialami ketika menulis Dharitri?

Nella: Tantangan terbesar bagi saya adalah mengundang pembaca. Karena peminat fantasi tidak sebanyak romance/metropop/teen fiction, saya harus menyuguhkan sesuatu yang menarik sekaligus nyaman dibaca. Persaingan juga amat terasa sebab kini cukup banyak penulis fantasi yang bermunculan dalam platform digital seperti Wattpad, Storial, dan lain sebagainya. Saya sadari terkadang gaya bahasa saya masih terlalu baku dan kaku, sehingga saya siasati dengan sedikit bermain diksi dalam penulisan Dharitri. Taktik lain yang saya gunakan adalah penempatan twist yang sedemikian rupa supaya bisa memberikan kejutan bagi pembaca. Namun, secara keseluruhan, saya sikapi proses penulisan cerita dengan santai sebab tujuan saya menulis adalah sebagai relaksasi dan melegakan diri.

5. Nella punya harapan apa pada novel Dharitri?

Nella: Saya tidak berani terlalu berekspektasi, hehe, tetapi saya harap Dharitri bisa menjadi salah satu novel fantasi karya penulis lokal yang patut diperhitungkan. Saya juga berharap Dharitri bisa menginspirasi para penulis Indonesia lain bahwa cerita fantasi tidak harus berlatar luar negeri melulu. Kita juga punya bahan kebudayaan lokal yang berpotensi dikemas menjadi cerita keren, loh!

6. Respon paling unik atau berkesan apa yang didapat dari pembaca Dharitri?

Nella: Bagi saya, semua respons yang masuk dari para pembaca Dharitri sangatlah berkesan dan berguna bagi perkembangan saya ke depannya. Setiap kali saya bolak-balik baca ulasan Dharitri di Goodreads dan Instagram, baik itu berupa kritik pedas sekalipun, semangat saya selalu terpompa kembali. Bahkan saya sampai gatal ingin merevisi Dharitri lagi kalau bisa, hahaha. Respons yang paling unik barangkali adalah kesukaan pembaca terhadap Lal, salah satu Hibrida di Dharitri. Seperti mereka, saya selalu membayangkan punya naga sendiri dan senang mengetahui keinginan mereka serupa dengan saya. Akhir kata, berkat semua respons tersebut, pengalaman menulis Dharitri ini tentu saja menjadi salah satu kenangan paling berharga bagi hidup saya.

DATA BUKU

Judul: Dharitri

Penulis: Nellaneva

Penerbit: Anak Hebat Buku

Cetakan: 1, 2017

ISBN: 9786025469220

Blurb:

Pada tahun 2279, seratus lima puluh tahun setelah Perang Dunia III meletus, sisa umat manusia dikumpulkan dalam naungan Dunia Baru berbasis Persatuan Unit. Dunia baru tersebut diyakini sebagai dunia yang lebih baik bagi umat manusia di Bumi. Pernyataan itu rupanya tidak berlaku bagi Ranala Kalindra.

Ranala yang berusaha kabur dari Persatuan Unit mengalami kecelakaan hingga terdampar di sebuah negeri asing bernama Dharitri dan bertemu dengan makhluk hibrida yang diberi nama Lal. Ranala merasa menemukan rumah baru, yang membuatnya harus menyembunyikan identitas sebagai penduduk Persatuan Unit. Ranala mengubah namanya menjadi Aran, lalu bergabung dengan Adhyasta Hibrida, pasukan elit Bala Karta yang menangani makhluk Hibrida.

Namun, ada seseorang yang mengetahui identitas asli Aran. Seseorang yang selalu mengawasi Aran dan menunggu saat yang tepat untuk menyingkirkannya.

ULASAN BUKU

Terus terang saya tertarik baca Dharitri karena membaca ulasannya di Goodreads.
Novel fantasi lokal yang menyentuh hati pembaca. Kedua, blurb novelnya yang memikat. Ternyata ini fantasi dystopia. Perpaduan ini sangat cukup membuat saya yakin ‘harus’ baca.
Ketiga, cover-nya menariiiik 😍😍😍
Mengingatkan saya pada cover novel fantasi luar negeri.
Kemudian saya melahap prolognya. Dharitri memiliki tipe prolog yang memicu penasaran sehingga membuat pembaca  betah melaju ke bab selanjutnya.

Ini novel distopia. Menceritakan masa depan di ratusan tahun mendatang.
Saya selalu terpukau oleh imajinasi penulis yang bisa membayangkan seperti apa dunia di masa yang jauh. Apalagi lengkap dengan tatanan pemerintah dan sosialnya.
Pasti butuh kerja keras sekali untuk menuliskannya.

Novel ini memakai gaya bahasa baku.
Di bab-bab awal saya merasa seperti tata bahasa buku terjemahan, tapi kemudian berubah ketika Ranala datang ke Dharitri.Menurut saya pas mengikuti cerita, gayanya menyesuaikan dengan di mana latar tempat cerita.
Jalinan kalimatnya enak diikuti dan memiliki kosakata yang kaya. Namun saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang pas. Novel Dharitri menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga leluasa menggambarkan banyak hal tanpa dibatasi ketidaktahuan tokoh bila menggunakan POV 1. Penulis pintar mendeskripsikan detail tokoh dan tempat hingga pembaca bisa membayangkannya dengan jelas di kepala.

Seperti narasi berikut:


Lima tanduk yang mencuat di sekeliling kepala makhluk itu mengindikasikan bahwa dia jelas bukan reptil biasa. Tinggi tubuhnya mencapai gajah dewasa, panjangnya kira-kira empat setengah meter belum termasuk ekor panjang berduri yang menjulur di belakang tubuhnya.

Memang sebagai novel fantasi dengan 2 latar tempat besar berbeda, penjabaran world building-nya harus detail. Penulis berhasil melakukan itu.
Bagi pencinta narasi seperti saya, membaca buku ini seperti sedang dimanjakan. Pembaca disuguhi berlembar-lembar narasi yang kerap kali bahkan tak menyelipkan dialog sama sekali. Saya juga mengapresiasi editornya, karena editan novel ini rapi, sedikit sekali typo 😎

Hal paling menarik dari novel Dharitri adalah fantasi yang mengandung kelokalan yang kental.
Pertama, judulnya saja diambil dari Sansekerta.
Dharitri ini seperti jelmaan Indonesia sekarang. Sistem pemerintahan daerah yang awalnya monarki menjadi republik.
Kedua, nama-nama tokoh, dan lainnya pun kental lokalitasnya.
Seperti pemilihan nama Sambas, Kapuas, Cakra, dan Adhyasta.
Ketiga, lokasi Dharitri sendiri memang di Indonesia.
Menarik sekali ketika penulis membagi bahasa yang digunakan di dunia baru menjadi 3 bahasa. Salah satunya Indonesia.
Nellaneva tampaknya piawai mengulik geografi 😆

Karakter tokoh-tokoh novel Dharitri ini banyak yang unik. Terutama para hibrida alias  binatang artifisial yang merupakan hasil buatan teknologi mutakhir pada masa Perang Dunia III. Imajinasi penulisnya keren! Bisa menciptakan modifikasi-modifikasi berbagai binatang. Pembaca diajak membayangkan binatang hasil persilangan beserta kemampuannya lewat deskripsi detail.

Misalnya penjelasan tentang karakteristik salah satu hibrida bernama Ishara:

Rubah kambing. Habitat: lembah bukit dan pegunungan. Jenis karnivora. Leluhur pertama: modifikasi in vitro, persilangan rubah:kambing dengan rasio berkisar 8:3. Kekuatan: serangan fisik dan penciuman tajam. (Halaman 112).

Lalu tokoh-tokoh Dharitri ini kuat dan kebanyakan di antaranya memiliki kekhasan. Jadi meskipun tokohnya banyak, pembaca tidak akan tertukar-tukar.
Sedihnya, saya kurang menyukai tokoh utamanya Ranala alias Aran 😭
Sedang tokoh lainnya buat saya cukup lovable.
Saya paling suka tokoh Cakra dan Dylan. 😍 Dylan ini kutu buku.

Konflik sudah disuguhkan dari awal, sejak prolog. Pembaca dibuat penasaran dengan keputusan atau pikiran si tokoh utama.
Bab-bab setelahnya misteri dan konflik ditebar beriringan pelan-pelan. Saya tidak merasakan adanya letupan-letupan yang langsung besar. Tapi konflik disampaikan dengan grafik yang kian meningkat. Menuju akhir banyak kejutan diberikan penulis.
Kisah cinta di dalamnya memberi bumbu manis yang menyenangkan 😍
Adegan laganya bagus. Deskripsi pertarungannya jelas dan cukup menegangkan.  Percayalah, menulis adegan pertempuran bukan perkara gampang. Butuh deskripsi yang tepat agar adegan itu tersampaikan dan menimbulkan efek ketegangan. Kalau ada kekurangan, bagi saya hanya pengembangan konfliknya yang terasa agak lambat sampai setengahnya. Padahal konflik sudah disuguhkan dari prolog.
Untungnya grafik konfliknya makin naik, dan pada akhirnya pembaca disuguhkan kejutan-kejutan menarik 😍

Rating 3,5 dari 5 bintang. Saya rekomendasikan novel ini bagi pencinta novel fantasi.

Sebagai penutup, saya ingin membagi quotes favorit saya:

Jadilah sepertiku, menyukai buku-buku. Mereka tidak akan menyakiti.

 

[Blog Tour] Review + Giveaway Buku Dear, Ayah dan Bunda: Diary Pertumbuhan Buah Hati Usia 0-5 Tahun

Kehadiran anak merupakan fase perubahan signifikan dalam kehidupan pasangan. Anak merupakan pribadi lain yang mengubah berbagai rutinitas dan pola pikir pasangan menjadi pola pikir dan peran lain dalam kehidupan yaitu peran sebagai ‘orang tua’. Butuh adaptasi bagi ketiganya dalam menjalani kehidupan. Setiap fase perkembangan anak bukan hanya merupakan hal baru baginya tetapi juga penemuan baru bagi orang tuanya. Anak memiliki karakter dan perasaannya sendiri, karena itu orang tua mesti belajar memahaminya.

Buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini bisa menjadi referensi bagi orang tua untuk mencoba memahami dan menyelami cara pandang anak.

Berkenalan dengan Yenita Anggraini

Yenita Anggraini merupakan ibu dari seorang putra. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran tahun 2009. Setelah berkarier selama empat tahun di bidang kesehatan dan pelayanan, kini penulis bekerja di sebuah instansi pemerintahan daerah. Selain itu ia aktif menulis cerpen, artikel kepenulisan, cerita anak, serta kisah inspiratif yang dimuat di media cetak maupun online, seperti NOVA, Lampung Post, dan basabasi.co.

Hubungi penulis lewat surel: yenitaanggrainianggi@gmail.com

Mengenal Lebih Jauh Yenita Anggraini di Sesi Wawancara

Penasaran enggak sih kayak apa sih penulis ini orangnya? Sampai gimana cerita di balik penulisan buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini… Saya udah ngasih list pertanyaan ke penulis yang saya panggil dengan sebutan akrab ‘Tante Anggi’ ini. Berikut wawancaranya:

1. Apa motivasi Tante Anggi menulis buku ini?
Motivasi saya menulis buku Dear, Ayah dan Bunda ini sebenarnya sederhana sekali. Saya mau setiap orangtua bisa lebih berpikir dan bersikap positif dalam mengamati dunia buah hati yang penuh kejutan, perubahan perilaku, dan juga loncatan-loncatan perasaan. Perasaan positif itu akan menghadirkan rasa nyaman dan bahagia di dalam diri Ayah dan Bunda. Dan saya yakin, hadiah paling besar bagi buah hati adalah orangtua yang selalu berbahagia atas kehadiran mereka.
2. Mengapa di awal bab selalu dibuka dengan cerita dari sudut pandang anak?
Buku ini memang memiliki konsep yang berbeda dengan buku-buku lain. Di buku ini setiap awal bab selalu dibuka dengan cerita dari sudut pandang anak. Ini menarik, karena dengan mencoba bicara dari sudut pandang anak, Ayah dan Bunda perlahan-lahan diantarkan menuju sebuah pemahaman tentang apa yang buah hati rasakan dan apa yang harus Ayah dan Bunda lakukan. Belajar memahami semua itu tentu akan meminimalisir kekeliruan-kekeliruan tidak perlu yang mungkin saja Ayah dan Bunda lakukan melalui rangkaian perkataan, tindakan, dan stumulasi untuk buah hati.
3. Apa kesulitan menulis buku ini?
Kesulitan menulis buku ini tentu  mencoba menafsirkan apa yang buah hati rasakan sehingga bisa menjadi penggalan-penggalan surat yang seolah-olah berasal dari suara hati buah hati. Bagaimana caranya menafsirkan suara janin yang masih di dalam kandungan misalnya? Hehehe…Tapi, yang menjadi inti dari penggalan-penggalan surat itu bukanlah itu benar-benar merupakan suara hati buah hati, tapi bagaimana saya mengubah sudut pandang orangtua yang terkadang berpikir tentang dirinya, keluhannya, rasa sakitnya, letihnya, menjadi hal-hal yang positif. Misalnya : Keluhan-keluhan saat kehamilan tentu menyebalkan, tapi dengan Bunda berpikir bahwa ini adalah cara tubuh untuk mempersiapkan diri menjadi tempat terbaik bagi buah hati selama 9 bulan ke depan, semoga itu menjadi tidak terlalu menyebalkan lagi.
4. Sebagai orang tua, fase apa yang paling sulit ketika mendidik anak?
Sebagai orangtua, setiap fase memiliki kesulitannya tersendiri dalam mendidik anak. Tapi fase saat anak masih belum bisa berkomunikasi selain dengan tangis adalah fase yg membutuhkan kesabaran cukup besar. Membedakan tangisan anak juga butuh waktu yang tidak bisa saya sambi-sambi dengan hal lain. Ada waktunya dia menangis karena lapar, gendongan yang tidak nyaman , suhu yang tidak pas, tempat yang terlalu berisik, dan bahkan ada waktunya dia menangis hanya karena ingin menangis. Ini biasanya kesimpulan yang saya buat saat saya tidak bisa menafsirkan tangisnya.
5. Ceritakan proses menulis buku ini.
Proses penulisan buku ini kurang lebih dua sampai tiga bulan. Saya membagi fasenya menjadi 5 periode di mana tiap fasenya adalah perkembangan anak sejak ia masih di dalam kandungan hingga usianya 5 tahun. Kebetulan saya terbiasa mencatat setiap fase perkembangan buah hati mulai dari kemampuan motorik, kemampuan bicara dan juga perubahan-perubahan perilakunya. Saya juga sering mendokumentasikan pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia lontarkan sejak ia mulai banyak bertanya dalam #celotehzahir di instagram. Catatan-catatan itu banyak membantu saya dalam proses penulisan buku ini selain tentu saja buku-buku parenting yang saya baca, seminar-seminar parenting yang saya hadiri, termasuk juga nasehat, masukan, cerita-cerita dari keluarga dan teman-teman saya.

DATA BUKU

Judul: Dear, Ayah dan Bunda

Penulis: Yenita Anggraini

Penyunting: Ayuniverse

Penerbit: Diva Press

Cetakan: Pertama, Desember 2017

Halaman: 256 Halaman

ISBN: 9786023914838

Blurb:

Dear, Ayah Bunda

Hari ini aku kesal sekali. Aku tahu kita akan pergi ke rumah nenek. Bunda sudah mengatakan itu sejak kemarin, tapi aku tadi sedang bermain, lalu Bunda tanpa bilang apa-apa langsung membereskan mainanku. Bunda harusnya bilang dulu kepadaku bahwa kita akan berangkat.

Seorang anak, meskipun masih kecil, ia tetaplah manusia yang memiliki perasaan. Dengan dalih melakukan yang tebaik–menurut orang tua, terkadang Ayah Bunda justru mengabaikan perasaannya. Padahal perasaan diabaikan akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya ke depan.

Nah, buku ini hadir untuk menemani Ayah Bunda mendampingi tumbuh kembang buah hati sejak ia masih dalam kandungan hingga usia lima tahun. Setiap bagian dibuka oleh narasi dengan sudut pandang anak, sehingga Ayah Bunda seolah diajak membaca curahan hati si kecil.

Berkomunikasi dengan bayi, menghadapi anak tantrum, mengajarinya berbagi, saat anak mengadu, dan lain-lain, dibahas di buku ini. Dengan perspektif baru, Ayah Bunda akan lebih peka terhadap apa yang dirasakan oleh buah hati.

Selamat membaca!

REVIEW BUKU

Awalnya saya mengira bakalan butuh waktu lama untuk menghabiskan buku nonfiksi ini. Maklum, buku jenis nonfiksi bukan tipe bacaan favorit saya. Nyatanya, saya betaaaah sekali membacanya bahkan sampai rela bergadang.

Saya tipe pembaca yang membaca seluruh bagian buku, termasuk kata pengantar. Surprise, pengantar penulis ternyata jadi salah satu part favorit saya. Terus terang, pengantarnya touchy :’) Di luar bahwa saya mengenal sosok Yenita, setelah membaca pengatarnya saya merasa penulis adalah seseorang yang dengan tangan terbuka ingin menjadi sahabat pembaca yang tulus.

Cover buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini berwarna-warni dengan ornamen gambar-gambar yang mencirikan isinya. Cover-nya cukup menarik perhatian ^^ Blurb bukunya mencerminkan isinya, jadi pembaca enggak akan misleading.

Dari yang saya tangkap, buku ini berisi tentang proses belajar memahami anak bahkan sejak buah hati masih dalam kandungan. Isinya detail sekali dari mulai periode kehamilan sampai usia anak 5 tahun. Setiap bab dibuka dengan dari sudut pandang anak yang menceritakan perasaannya. Pembaca diajak menyelami dulu respon anak pada setiap fase hidupnya. Seringkali tulisan POV anak berupa diary itu menyentuh saya.

Dear, Ayah Bunda

Maafkan aku ya, jika beberapa minggu ke depan atau malah selama kehamilan akan menjadi hari yang berat untukmu.

–Halaman 14.

 

Disampaikan dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan renyah, buku ini dilengkapi tips-tips yang sangat bermanfaat. Misalnya tips asupan makanan untuk masa kehamilan, bagaimana cara mengelola stres, posisi menyusi yang nyaman bagi anak dan ibu, dan masih banyak lagi.

Pembaca ‘Dear, Ayah dan Bunda’ dibekali banyak pengetahuan biologis sampai psikologis. Misalnya mengenai perubahan tubuh di masa kehamilan, perubahan hormon ibu, manfaat inisiasi menyusui dini, makanan pendamping ASI, cara menstimulasi perkembangan anak, sampai bagaimana menjalin kedekatan antara orang tua dan anak.  Jangan khawatir mati kebosanan saat mebacanya, karena pengetahuan itu ditebar sedikit-sedikit sesuai fase tumbuh kembang anak. Pembaca tidak dijejali berbagai informasi sekaligus. Lagipula tata bahasa penulis yang seakan menjadi ‘sahabat’ pembaca membuat buku ini justru sangat menyenangkan dibaca.

Buku ini memberi saya kesan betapa menyenangkannya menjadi orang tua dengan segala dinamikanya. Bahwa segala tantangan bisa diselesaikan dan dilalui bersama. Benar-benar diajak menjadi orang tua bahagia, bukan pasangan yang terpaksa menjadi orang tua. Penyampaiannya jauh dari kesan menggurui. Penulis begitu mengerti psikologis pembacanya. Saya seperti sedang melakukan konsultasi privat dengan seseorang yang sangat ‘memahami’ keadaan saya. Saya dan anak seperti sedang mencurahkan perasaan tanpa harus berkata apa-apa. Sampai-sampai beberapa kali meneteskan air mata membacanya. Saya jatuh cinta pada cara penulis memaparkan materinya.

Buku ini bukan hanya saya rekomendasikan bagi pasangan yang bersiap menjadi orang tua atau pasangan yang telah memiliki anak usia 0-5 tahun, tapi bagi semua orang tua. Nyata, meski anak saya telah berusia 8 tahun lebih, buku ini tetap sangat related buat saya. Bahkan memberi motivasi untuk terus berusaha menjadi orang tua yang baik.

Rating 5 dari 5 bintang.

Giveaway Time

Ada satu buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ untuk pemenang beruntung. Cara ikutannya gampang kok:

1. Like Fanpage Diva Press

2. Follow akun Instagram @penerbitdivapress dan @eva.srirahayu

3. Bagikan info giveaway ini dengan tagar #DearAyahBunda di Insta story-mu dengan  mention akun saya dan Diva Press

4. Pastikan alamatmu di Indonesia.

5. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun Instagram kamu.

Kamu kepengin jadi orang tua seperti apa?

6. Jawaban ditunggu sampai tanggal 31 Desember 2017.

7. Pemenang diumumkan tanggal 1 Januari 2018.

Ditunggu partisipasinya ^^