[Blog Tour] Review + Giveaway Novel My Fortune Is You: Terbukanya Rahasia

My Fortune Is You merupakan novel bagian kedua dari trilogi “Searching My Husband” namun bisa dibaca secara terpisah.  Jadi enggak usah khawatir kalau langsung baca dari novel keduanya.

DATA BUKU

Judul: My Fortune Is You

Penulis: Octya Celline

Penyunting: Octya Celline

Penerbit: LovRinz Publishing

Cetakan: Pertama, Januari 2017

Halaman: viii + 414 Halaman

ISBN: 9786026526441

Blurb:

WANTED

“Mencari pacar untuk mamaku yang cantik Kalo bisa yang pirang. boleh pacaran sama mama sampai punya dede terus harus Putus soalnya nanti Papa marah! Mau? Hubungi Sun di TK masa depan Gemilang tanya saja Bu Nancy nanti di anterin ketemu Sun. Makasih. Hadiah 1 bungkus permen dan coklat.”

Refan membaca tulisan itu dan tanpa sadar tertawa sendiri karena mengingat iklan yang dulu pernah dipajang Sisilia di koran, kemudian tawanya sirna saat sebuah suara menyapanya.

“Om belminat jadi pacal mamaku?”

Dia menunduk dan melihat sepasang anak kembar yang tengah menatapnya serius.

“Tadi kamu ngomong apa?”

“Om baca postelku, belminat jadi pacal mamaku”

“Hah?”

REVIEW BUKU

My Fortune Is You terbagi menjadi dua kisah utama. Cerita pertama tentang Sisilia dan Refan, lalu kisah kedua tentang Airin dan Rio. Kedua cerita itu memiliki benang merah karena mereka satu sama lain saling mengenal. Menariknya keempat tokoh utamanya diceritakan pula dalam bentuk dongeng fabel dengan sebutan bunglon, kancil, merpati, dan merak. Setiap perumpaan memiliki arti sesuai dengan karakter tokoh-tokohnya.

Saya mau komentari cover-nya dulu. Seperti buku pertamanya, novel kedua ini juga punya cover yang cantik. Saya memang selalu suka tipe gambar seperti itu ^^ Full color, gambarnya penuh, tapi menarik.

Lalu tentang ceritanya. Kisah bergerak dari keterpurukan Refan kehilangan Sisilia. Bagaimana dia berjuang untuk menerima kehilangan. Bab selanjutnya cerita berganti ke sudut pandang Airin. Terus begitu tiap bab bergantian. Meskipun kadang ada satu bab yang terselip juga kisah Refannya. Tapi enggak membingungkan karena dikasih keterangan nama dulu sebelum cerita dilanjutkan. Konflik di novel pertama banyak yang dibiarkan menggantung karena akan dijawab di buku kedua ini. Menurut saya konfliknya makin tajam dan menarik.

Kalau di buku pertama saya kurang begitu suka membaca bagian Airin, justru di novel ini sebaliknya. Saya lebih menikmati bagian kisah Airin dan Rio. Karena konfliknya pun enggak sejelimet kisah Refan dan Sisilia. Sub konflik MFIY memang banyak, tapi semuanya terselesaikan dan terjawab kok. Kisah cinta keempatnya mendebarkan dan romantis, seperti serial drama Korea. Namun, seperti novel Searching My Husband, MFIY pun banyak yang logikanya luput. Tapi kalau kita enggak memikirkan soal logika cerita, novel ini seru dan menghibur. Bahkan ada bagian-bagian yang cukup mengharukan.  Lupakan juga typo yang masih bertebaran karena akan capek sendiri mengeceknya.

Seperti yang pernah saya bilang di review novel SMH, tokoh-tokohnya memiliki karakter yang cukup kuat. Dalam MFIY pun ada perkembangan karakter. Yang paling menonjol di tokoh Airin dan Sisilia. Kelihatan bagaimana banyak kejadian mengubah sikap dan pandangan mereka. Sayangnya karakter tokoh-tokoh anak-anak di novel ini kurang mencerminkan sifat dan sikap anak-anak. Mungkin dibuat seperti itu karena kebutuhan cerita. Karena kehadiran mereka menjadi penggerak penting dalam cerita.

Gaya bahasa Octya yang mengalir membuat novel ini enak diikuti. Banyak juga kata-kata quotable yang jleb. Pesan moralnya disampaikan secara halus dan mudah dicerna. Cukup lengkap sih, hiburannya dapet, pesannya juga dapet. Meskipun tebal, kadang saya merasa ada bagian yang terlalu cepat diceritakan. Seharusnya disampaikan dengan pengadegan tapi hanya diceritakan lewat narasi. Mungkin karena sudah terlalu tebal ya.

Saya rekomendasikan novel ini untuk kamu penyuka novel romantis.

Mungkin kamu juga akan jatuh, karena untuk mencapai mimpi dan citamu, tidak pernah semudah mengedipkan matamu. Akan ada hal-hal keras yang menghantamu. Tidak apa. Apa pun yang terjadi kamu hanya harus bangun dan berjalan lagi. Karena kalau kamu belum mati, berarti kamu masih baik-baik saja. Kamu masih bisa berjalan, berpikir, melihat, mendengar, dan banyak hal lainnya. Lihat kan? Kamu baik-baik saja. Kamu hanya jatuh. Melukaimu, tapi tidak membunuhmu.

Gunakan semua kekuatanmu untuk bangun dan berjalan lagi. Karena yang harus kamu lakukan untuk berbahagia hanya berjalan lagi. Selama kamu terus berjalan, pasti akan ada suatu titik dimana hatimu mengatakan, “Ini. Di sini penuh kebahagiaan.”

–Halaman 118-119

 

GIVEAWAY

Mau novel My Fortune Is You? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @CeL___LiNe dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GAMFIY dan mention akun twitter saya dan Octya.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Kalau pasanganmu membuat kesalahan fatal, apakah kamu akan menerimanya kembali? Alasannya?

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 9 sampai 15 Juli 2017. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 16 Juli jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Giveaway ini hanya boleh diikuti oleh kamu yang sudah berumur 17 tahun ke atas.

Ditunggu partisipasinya ya ^_^

 

[Review] Novel Islah Cinta: Mencari Hakikat Cinta di India

Ada tiga kesulitan menulis novel bernuansa Islami menurut saya. Pertama, membutuhkan riset yang matang. Karena berhubungan dengan agama, tidak boleh ada satu kandungan atau ajaran yang melenceng dari agama Islam. Kedua, bagaimana meramu pesan moral tanpa penyampaian yang menggurui. Ketiga, membuat karakter yang manusiawi namun tetap mencerminkan perilaku ke-Islamannya atau minimal tidak mencemarkan agama. Buat saya ketiga hal itu merupakan kunci penulisan novel Islami. Maka ketika saya mendapat novel Islah Cinta, saya penasaran dan menduga-duga, akan seperti apakah tulisan Mbak Dini Fitria ini.

Saya mengenal Mbak Dini Fitria sebagai presenter acara Jazirah Islam beberapa tahun lalu, dan penulis novel seri Scapa Per Amore. Namun baru kali ini saya berkesempatan membaca karyanya.

Penulis Islah Cinta: Mbak Dini Fitria (sumber gambar google)

DATA BUKU

Judul: Islah Cinta

Penulis: Dini Fitria

Penerbit: Falcon Publishing

Tebal: 307 Halaman

Cetakan: I, 2017

ULASAN ISLAH CINTA

Novel Islah Cinta menceritakan tentang Diva, seorang presenter acara Oase Ramadhan. Diva dengan rekannya, Jay, bertugas meliput Islam di India. Tujuan liputan tersebut adalah untuk mengangkat Islam yang rahmatan lil alamin yaitu Islam yang penuh cinta, membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh semesta. Berbagai masalah muncul sejak Diva sampai ke India. Salah satu yang menohoknya adalah penggantian guide akibat tour guide lama mendapat musibah. Bencana pula bagi Diva, karena penggantinya adalah sang mantan yang menorehkan luka dalam di hatinya. Sementara Diva tengah dekat dengan Maher yang ditemuinya di liputan sebelumnya di negara lain. Apakah Diva mendapat bahan liputan yang memberinya pencerahan? Apakah Diva mendapat jawaban hakikat cinta di India? Lalu ke mana hati Diva dilabuhkan?

Pertemuan yang tak pernah kuharapkan itu telah membuat kacau pikiran dan perasaanku. Bagaimana bisa aku menemukan kaidah Islam yang penuh cinta di tengah kebencian yang makin menyeruak dengan munculnya wajah dan luka lama? –Halaman 11

Cerita dibuka dengan cuplikan berita mengenai teror bom yang dilakukan teroris. Menyentil tentang isu Islam sebagai agama yang dituduh penebar teror. Saya seperti menemukan triger mengapa acara Oase Ramadhan yang dipresenteri Diva mengambil topik Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Maju ke bab pertama, konflik baru muncul dengan kehadiran Andrean, mantan Diva yang telah menikah. Di sini, Mbak Dini sudah langsung memancing emosi pembaca. Lika-liku masa lalu Diva dan Andrea memang menjadi konflik yang mengaduk-aduk perasaan, pembaca turut larut ke dalam dinamika hati Diva. Seolah dibawa mengalir ke air terjun yang deras, kemudian mengambang di sungai, lalu merasakan pasang surut ombak di lautan.

Aku ingat semuanya seolah baru saja kualami kemarin. Rasanya seperti memasuki sebuah tabula waktu yang membawaku ke angkasa, lalu menjatuhkan tubuhku begitu saja ke tanah kemudian membusuk seiring musim.  –Halaman 26

Sebagian besar latar tempat di Islah Cinta adalah India. Merupakan salah satu bagian terbaik dari novel ini. Islah Cinta bukan termasuk novel bertema jalan-jalan kemudian menemukan cinta dalam perantuan. Lebih dari itu, latar tempat diangkat sangat menyatu dengan cerita dan memiliki alasan fundamental. Pemilihan India sama sekali tak mubazir atau sekadar gaya-gayaan mengangkat latar luar negeri. Apalagi dieksplorasi dengan baik. Pembaca diajak mengenal jejak-jejak sejarah Islam di India, hingga perkembangan Islam saat ini. Mbak Dini dapat dengan baik mendeskripsikan tempat hingga pembaca dapat melihat jelas dalam benaknya. Simak deskripsi berikut ini:

Dari lantai atas minaret di sisi sebelah kiri pintu timur ini aku bisa melihat ke arah dua sisi, ke arah depan mimbar yang berhadapan lurus dengan tempatku berdiri, juga ke arah luar masjid. Aku bisa melihat dengan jelas pemandangan kawasan jama masjid di sela-sela lilitan kabel-kabel listrik yang berselang seling tak beraturan. Jalanan begitu padat, tidak hanya dipenuhi kendaraan tetapi juga gerombolan manusia yang menyemut hampir di semua sudut jalan. Kedai-kedai dengan beraneka rupa barang pun berserakan menawarkan kebutuhan sandang pangan. –Halaman 47

Banyak pengetahuan mengenai kebudayaan India yang bisa diambil dari Islah cinta. Mbak Fitria menceritakan kulturnya, makanan khasnya, karakter penduduknya, sampai kebudayaannya. Termasuk ke dalamnya bagaimana perilaku umat yang gandrung melakukan ziarah ke makam. Menariknya, meskipun banyak menggunakan sempalan bahasa asing dan mengenalkan istilah-istilah asing, pembaca tak akan menemukan catatan kaki. Semua hal berbau asing itu dijelaskan dalam narasi dan dialog. Satu teknik yang sulit diterapkan. Mbak Dini sukses menggunakan teknik ini.

Musik itu namanya qawwali, musik sufi muslim tradisional yang berakar dari Persia dan populer di Asia Selatan. Tujuannya tak jauh beda dengan whirling dervishes, tarian Turki, yang berupaya berhubungan langsung dengan illahi dan mencapai ekstase spiritual. –Halaman 16

Misalnya bahwa India yang memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya dapat lebur dalam satu bingkai ‘toleransi’. Bagi saya yang jarang menonton film dan membaca buku India juga hanya tahu Taj Mahal, banyak informasi yang bisa saya dapat dari novel ini.

India memberiku sebuah perspektif yang berbeda dalam memandang sebuah perbedaan. Negeri hindustan yang mayoritas warganya Hindu ini tidaklah memproklamirkan dirinya sebagai negara Hindu. Bahkan memberi tempat untuk agama lain tinggal dan beribadah sesuai dengan kepercayaan mereka. Di sinilah aku merasakan bagaimana sebuah toleransi itu bukan sekadar label yang diagung-agungkan, tetapi ruh yang dihidupkan di dalam setiap hati manusianya. –Halaman 204

Saya terkesan membaca sejarah Islam di India dalam novel ini. Teknik penyampaian informasinya pun tidak bertumpuk dan membuat pusing. Informasi dibagi-bagi dari beberapa sumber. Tour guide, saat liputan, hingga orang-orang yang ditemui Diva selama perjalanan. Sebagian dinarasikan, sebagian dalam dialog, dengan pembagian yang proporsional. Tampak bahwa Mbak Dini telah melakukan riset yang matang. Kalau melihat latar belakang Mbak Dini sebagai presenter acara Islam, saya yakin pengetahuan yang dibagi dalam novel ini juga hasil riset turun ke lapangan.

Cinta dan agama adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Islam adalah agama yang lahir dari zat yang penuh cinta untuk disebarkan ke seluruh penjuru dunia, karena Tuhan menciptakan manusia tidak hanya dari satu jenis dan suku saja. –Halaman 78

Tokoh sentral dalam Islah Cinta ada empat orang, yaitu Diva, Andrean, Jay, dan Maher. Keempatnya digambarkan dengan manusiawi. Memiliki kekurangan yang cukup banyak, tapi tetap berhasil mendapat simpati pembaca. Misalnya Diva yang mudah terpancing emosi dan bisa melakukan kesalahan besar, sifat itu tak lantas membuat saya sebal padanya. Tapi justru maklum dan related. Meskipun saya tak memiliki tokoh favorit. Diva pun diperlihatkan sebagai perempuan mandiri, terbukti dengan cara kerjanya yang profesional sebagai seorang presenter. Mbak Dini luwes menjelaskan suka duka presenter yang bertugas liputan di luar negeri. Secara tidak langsung, Mbak Dini sedang membagi pengalaman pribadinya sebagai presenter. Kemudian, pemilihan karakter saingan cinta Diva yang digambarkan hampir sempurna justru menambah empati saya. Senang rasanya kembali menemukan novel yang tidak memasang antagonis dengan sifat buruk. Justru ketika saingan protagonis ini sepadan, konflik cinta menjadi gereget. Perang batin tokoh utamanya menjadi hidup.

Masa muda itu tidak pernah bisa diulang jadi gunakan untuk benar-benar mencari cinta sejatimu yang nanti bisa kau banggakan dan kenang hingga tua. –Halaman 149

Novel ini menggunakan tata bahasa yang renyah. Mudah dicerna, namun kaya kosakata, dan memiliki diksi indah. Kalimat-kalimat puitis ditebar dalam porsi yang pas. Banyak kalimat yang quotable juga. Seperti petikan-petikan berikut ini:

Jika kekuatan cinta sudah menyentuh kalbu, semua manusia akan berubah menjadi pujangga. –Halaman 185

 

Cinta adalah udara yang terus berembus meski kau tak pernah memilikinya. –Halaman 150

 

Manusia tidak akan bisa bahagia tanpa adanya cinta. Cinta itu ibarat garam. Cinta itu ibarat bintang. Cinta itu juga yang akan selalu meremajakan hasrat, setua apa pun kita nanti. –Halaman 230

 

Dalam cinta tidak cukup hanya hasrat tapi juga pengorbanan dan rasa maaf. Tugas cinta itu adalah memberi dan membahagiakan tanpa perlu berharap dengan hitungan yang sama. –Halaman 292-293

Islah Cinta kaya akan konflik. Banyak topik diangkat tanpa tumpang tindih. Tentu sorotan utamanya adalah kehidupan umat Islam di India yang mayoritasnya beragama Hindu lewat pencarian hakikat cinta Diva. Jangan membayangkan isu-isu dan ajaran Islam dijejalkan ke benak pembaca dengan cara menggurui. Penyampaian pesan Islah Cinta begitu halus. Pembaca diajak bertualang dalam benak Diva yang penuh pertanyaan-pertanyaan. Di mana jawabannya selalu tak disimpulkan begitu saja, tetapi mengajak pembaca ikut menyusun konklusinya sesuai dengan proses pikir masing-masing. Begitu pula dengan hakikat cinta yang dicari Diva. Islah Cinta menanamkan perspektif tanpa melabeli bahwa persepktifnya paling benar.

Jika kita sudah memahami rasa cinta terhadap Tuhan kita tidak akan kesusahan menyayangi sesama. –Halaman 78

Selesai membaca novel ini, saya puas, karena tiga kesulitan menulis novel Islami dapat dilewati oleh Mbak Dini.  4 Bintang untuk buku ini. Saya rekomendasikan novel Islah Cinta bagi kamu yang ingin mengetahui seperti apakah wajah Islam di India.

If you can survive in India, you can survive in any part of the world. –Halaman 167

[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Carlos: Persahabatan Lintas Perbedaan

img_20170221_232414

Kisah persahabatan antara manusia dengan hewan ini menarik perhatian saya, karena saya sendiri mengalaminya. Bersahabat dengan kucing. Yang menggelitik kemudian adalah bagaimana penulis mengeksekusinya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang novel Carlos, mari kita kupas dulu tentang penulisnya.

erin-cipta

Kenalan Dengan Erin Cipta

Erin Cipta, ibu dua anak gadis kelahiran Cilacap, 16 April 1979. Tinggal di desa, bertani, dan mengelola perpustakaan umum di lingkungannya.  Kesehariannya mengurus anak dan kucing-kucing piaraan sambil menulis. Hindarilah memintanya bernyanyi, demi kesehatan telinga Anda. Namun jangan sungkan untuk minta dibuatkan mendoan  dan teh sereh jika Anda berkunjung ke rumahnya. Dengan senang hati ia kan membuatkannya.

Alumni Kampus Fiksi ankatan 14 ini kadang menulis untuk media massa, baik di Indonesia maupun di Taiwan. Tentu pula, lebih sering di sosial media. Jika sedang sangat santai, ia akan menulis di storial.co dan blognya.

Bisa dikunjungi di Desa Karangjati, Kec. Sampang, Kab. Cilacap. Atau melalui akun media sosial yang dimilikinya. FB: Erin Cipta, Twitter: @erin_cipta, IG: @erincipta, dan Email: erincipta@gmail.com.

Mengenal Lebih Jauh Erin Cipta Di Sesi Wawancara

Seperti biasa, saya selalu kepengin nanya-nanya sama penulis novel yang saya review bukunya. Berikut wawancaranya:

  1.  Selama proses menulis Carlos, apakah ada kesulitan yang sempat membuat ingin menyerah?
Ketika mencoba menambah jumlah halaman agar memenuhi kouta minimal yang disyaratkan penerbit, aku tak pernah berhasil dengan baik. Dari 3x percobaan, 3x pula naskah ditolak karena jelek sekali. Cerita melebar dan lepas dari rel.
Naskah baru diterima justru ketika kembali ke awal yang hanya berjumlah 102 halaman saja. Itulah mengapa novel ini jadinya tipis sekali

Mau novel Carlos bertanda tangan Mbak Erin Cipta dari Penerbit Diva Press? Mau dong ngikutin kisah sahabat sejati Ye Feng dan anjingnya yang bernama Carlos yang menggetarkan hati.

2. Apa impian Mbak Erin dalam dunia penulisan?

Aku ingin melihat buku yang kutulis diterjemahkan dalam bahasa asing

3. Ceritakan pengalaman pahit dan paling luar biasa sebagai penulis.

Pengalaman menulisku selalu menyenangkan. Bahkan ketika ditolak atau dikritik pedas pun, aku masih bisa bersenang-senang 😀

carlos

Data Buku

Judul : Carlos

Penulis : Erin Cipta

Penerbit : Diva Press

Tebal : 152 Halaman

Editor : Gunawan Tri Atmojo

ISBN : 9786023913664

Blurb :

CARLOS adalah anjing ras Akita yang diadopsi oleh Ye Feng semenjak masih bayi. Anjing itu bukan sekadar hewan piaraan di rumah ini. Ia adalah anggota keluarga. Sejak tiga belas tahun yang lalu Carlos menemani Ye Feng tumbuh dan melalui hari-harinya. Kedekatan Ye Feng dengan anjingnya melebihi kedekatannya dengan anggota keluarga yang lain. Mereka adalah sepasang sahabat baik yang saling tergantung. Cinta melampaui segala sekat antar keduanya.

Anda bayangkan!

Maka sungguh tak masuk di akal bila disuatu hari, dalam papah dan lelahnya, ada anggota keluarga yang mengusulkan supaya Carlos dieuthanasia. Sungguh kejam, jahat –seperti tidak muncul dari lidah manusia yang disebut-sebut menyimpan hati!

Cerita anjing ini bukan sekadar novel tentang kehidupan seekor anjing, tetapi adalah kehidupan itu sesungguhnya. Sebuah cinta, sebuah hubungan batin tak tepermanai, sebuah keagungan yang denyar-denyarnya sungguh mengharukan dan mengguncang jiwa manusia-manusia yang masih merawat kelembutan hatinya.
Bacalah, tahanlah air mata Anda bila mampu!

Review Buku

Tak salah jika dibilang novel Carlos memiliki gaya penceritaan yang sederhana. Namun bukan dalam artian tak memiliki kosakata yang kaya. Erin Cipta menceritakan kisah Carlos dengan lugu, apa adanya, tapi sarat emosi. Begitu memasuki halaman pertama, pembaca belum disuguhkan konflik, tapi bangunan suasana yang langsung menghangatkan hati. Sebagai pembaca, saya langsung dapat merasakan ikatan kuat antara Ye Feng dan anjingnya yang bernama Carlos.

Ia punya cinta yang sangat besar pada sahabat anjingnya. Cinta yang membuatnya mampu menerobos batas-batas kemampuan diri. Cinta yang membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. –Halaman 58

Novel ber-cover yang juga menarik oleh kesederhanaannya ini, dibangun oleh banyak sekali narasi. Sehingga dialog yang tercipta, meski tanpa tambahan keterangan bagaimana si tokohnya berekspresi, ditulis dengan kuat dan terbayang jelas di benak pembaca. Bagi pencinta narasi seperti saya, menyenangkan sekali membacanya, tapi untuk yang lebih menyukai banyak dialog pun, novel ini tidak membuat lelah.

Carlos tipe buku yang lebih banyak menceritakan kisah lewat teknik tell, bukan menggambarkan kejadian. Namun saya dibuat terkejut karena itu bukan ganjalan sama sekali, meskipun kebanyakan kejadian hanya diceritakan saja, saya merasa itu pas-pas saja.  Meski memang ada adegan yang berpotensi menyumbangkan dramitasi lebih jika didetailkan dalam satu kejadian.

Perselisihan mereka bukan untuk perkara yang membuat hati masing-masing terkoyak. Betapa pun beberapa kali mereka tak saling sepakat pada satu hal namun ikatan cinta mereka sudah terlalu kuat untuk memupuk rindu. –Halaman 75

Penokohan dalam novel ini dijelaskan cukup terperinci, termasuk bagaimana fisik anjing Carlos. Terkadang penjelasannya padat dalam beberapa paragraf, lain waktu ditebar ke dalam beberapa bagian. Hubungan emosi antar tokohnya pun terasa kuat. Pembaca dapat merasakan seperti apa kedekatan Ye Feng dengan Carlos, dan bagaimana hubungannya dengan setiap anggota keluarganya. Begitu pula dengan latar tempat kejadian, lewat tugas A Ling, pembantu rumah tangga mereka, pembaca diajak mengenal sudut-sudut rumah. Suasana kejadian pun seringkali diceritakan melalui penalaran panca indera A Ling. Atau dari rasa takutnya pada badai Soudelor, pembaca diberi pengetahuan bagaimana keadaan di Taiwan  sana, mulai dari kerusakan hingga reaksi warga. Kemunculan A Ling ini sempat mendominasi di beberapa bab, tapi saya tak merasa sedikit pun tokoh ini mencuri adegan alias mengambil alih posisi tokoh utama.

Carlos dikisahkan dengan jalinan kata yang baik. Rapi secara penulisan, enak dibaca, dan untaian kata yang bagus. Meski masih ditemukan beberapa kali penjelasan yang berulang. Antara bermaksud memberi ‘penegasan’ atau luput dari editan. Namun yang pasti, kalimat-kalimatnya menyihir karena terasa ber-roh sehingga sampai ke hati pembaca. Saya memang menemukan kata yang typo di beberapa bagian, yaitu kata-kata yang seharusnya dipisah spasi, tapi jadinya berdempetan. Namun tidak mengurangi keasyikan membaca.

Nada lagunya tak teratur,, syairnya pun terbata-bata. Namun sangat jelas terasa itu adalah senandung dari kedalaman hatinya yang paling pingit. Senandung tulus seorang pencinta. –Halaman 81

Konflik dalam novel Carlos, tidak hanya berkutat antara persahabatan Carlos dan Ye Feng, ada pula konflik kuat antara orangtua Ye Feng dalam membesarkannya. Carlos memang bukan novel yang menyampaikan konfliknya dengan ambisius. Konflik tidak disajikan dengan runcing, tapi halus namun mengena. Terus terang novel Carlos berhasil membuat saya menangis sesenggukan. Mulai dari pertengahan hingga akhir. Emosi saya diaduk-aduk, dibawa naik turun. Saya dapat merasakan ketulusan dari cinta lintas perbedaan. Cinta yang memupus keterbatasan, dan membuat percaya cinta memang penuh keajaiban. Seperti juga konfliknya yang halus, penyampaian pesan moralnya pun tersampaikan tanpa membuat pembaca digurui. Dan novel ini memberikan saya pengetahuan tentang anjing.

Saya rekomendasikan novel ini bagi kamu pecinta novel bertema persahabatan dan keluarga. 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

picsart_02-06-01-29-43

Giveaway Time

Cara ikutannya gampang kok:

1. Follow akun twitter @erin_cipta dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GACarlos dan mention akun twitter saya dan Mbak Erin.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter dan goodreads kamu.

Ceritakan kisahmu yang paling berkesan dengan binatang peliharaanmu

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal sampai 22– 28 Februari 2017. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 1 Maret jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Ada satu novel Carlos bertanda tangan penulis sebagai hadiah

Ditunggu partisipasinya 😀

 

Review Novel Distance Blues Karya Agustine W

novel-distance-blues1

Pernah ngalamin long distance relationship? Gimana rasanya? Berat sih… tapi ada sisi romantisnya juga kan. Lalu bagaimana kalau seandainya sudah didera hubungan jarak jauh, salah satunya ternyata kena gangguan psikologis? Novel ini memiliki konflik seperti itu. Premisnya promising banget untuk racikan sebuah novel romantis yang menggetarkan.

Simpan dulu rasa penasaranmu tentang ulasan novel Distance Blues, kita kenalan dulu dengan penulisnya.

agustine-w

Kenalan Dengan Agustine

Agustine W. lahir di Kediri, Jawa Timur, tanggal 8 Juni. Karya-karyanya yang pernah dipublikasikan masuk dalam antologi Crazy Writing (2013), Curhatku untuk Semesta (2013), My Life as Blogger (2013) dan Ground Zero: A Crime Behind the Shadow (2014). Selain itu, cerpen duet “Lelakiku, Wanitaku” bersama sahabat, Altami N. D, berhasil menyabet posisi ke-2 nasional dalam ajang “Kompetisi Internasional Dialog Muda” tahun 2014 untuk wilayah Indonesia (diselenggarakan di Indonesia, Guatemala, dan Kenya) oleh organisasi non-pemerintah peduli kesehatan reproduksi anak muda dan HIV/AIDS (pamflet, GWL Muda, dan Hivos) Jakarta.

Bisa dihubungi di surel lioluby@gmail.com dan akun Twitter @agustine_w

Mengenal Lebih Jauh Agustine di Sesi Wawancara

1. Kenapa mengambil tema OCD? Ada kisah pribadi yang melatarinyakah?

Topik OCD itu tema psikologi, latar belakang pendidikanku. Meskipun sekarang nggak menekuni psikologi lagi, aku masih tertarik dengan dunia psikologi. Sekaligus pengen berbagi topik2 psikologi yang mungkin belum dipahami atau dianggap tabu atau dipukul rata dianggap sebagai aib/gangguan jiwa dan sejenisnya, padahal gangguan psikologis itu banyak banget jenisnya. Ya, walau sederhana, semoga bisa menginspirasi pembaca di luar sana.

Selain itu, aku pernah ngalamin kayak Elmi tapi sekarang ragu benarkah aku OCD atau nggak? Soalnya juga kayak Elmi, self-diagnosis gitu, terus konsul sama dosen cuma sekali. Jadi, nggak ada diagnosis sahih yang mengarah ke situ. Tapi gejala yang aku alami bener-bener udah mengganggu sekali. Akhirnya ya berupaya gimana caranya bisa mengendalikan diri. Salah satu cara yang menurutku lumayan ampuh yakni menanamkan kata-kata all is well dari film 3 Idiots di hati dan pikiran. Dari sini aku percaya, apa yang kita pikirkan baik, semuanya akan perlahan membaik. Tuhan mengikuti prasangka hamba-Nya, bukan?

Nah, bedanya aku dan Elmi di sini, Elmi beruntung punya Dirga, bahkan ada Rasyad. Hahaha. Dua tokoh ini fiksi, pun karakter ayah, ibu, Ersa, dan semuanya juga fiksi. Jadi, mencampurkan beberapa persen kisah nyata dengan imajinasi.

2. Riset seperti apa yang dilakukan Titin untuk menulis novel ini? Ada kesulitan ketika melakukannya?

Riset OCD-nya selain ke diri sendiri juga ke dosen dan sempet ngobrak-ngabrik kardus berisi literatur OCD yang sempat dipakai pas zaman kuliah. Hahahaha…

Tantangannya sih, begini… gangguan psikologis itu bisa beda gejala satu orang dengan orang lain sekalipun ‘judul’ gangguannya sama. Jadi, bisa jadi di Elmi gejala yang menonjol adalah terkait ibadah, tapi orang lain mengalami gejala menonjol misalnya yang bahkan nerima uang dari orang lain aja takutnya minta ampun. Takut karena tangan orang lain penuh bakteri. Atau yang semua benda di sekitarnya kudu rapi dan simetris, dll

Jadi, dari situ aku nanya ke dosen (di sini adalah senior ketika kuliah) sama artikel di internet plus bahan pas kuliah itu. Berusaha ‘menerjemahkan’ teori ke bahasa yang lebih dipahami (semoga niat ini tersampaikan :)).

3. Kenapa ya Titin nyiptain tokoh Rasyad yang keturunan Arab?

Awalnya tuh gara-gara kepincut sama aktor India di serial drama Jodha Akbar, si kakak sepupunya Jodha, Jamal. Ini orangnya, Vicky Batra.
Nah, kenapa ‘membelok’ ke Arab? Karena serta merta kepikiran di Indonesia (terutama yang sering aku temui) itu keturunan Arab, bukan India. Jadilah, aku bikin itu Rasyad orang keturunan Arab tapi fisiknya nggak beda jauh dari si Jamal. Anggaplah mereka 11-12 lah walaupun beda asal muasal 😀

Lagian, orang keturunan Arab terkenal cakep-cakep ya… jadi pengen bikin ‘rival’ tokoh cowok utama yang lebih sempurna–katakanlah demikian. Hehehehe. Pengen nunjukin gejolak cewek udah punya pacar tapi digoda sama cowok yang lebih oke dari pasangannya. Hahahaha.

distance-blues2

Data Buku

Judul : Distance Blues

Penulis : Agustine W.

Penerbit : Ping (Diva Press Group)

Tebal : 288 Halaman

Editor : Diara Oso

ISBN : 9786023911097

Blurb :

Memilihmu, haruskah merasa ragu?

Nyatanya, Elmi memang sedang mempertanyakan isi hatinya sendiri. Bukan maunya jauh Dirga, sang kekasih. Lagian, Dirga bekerja untuk masa depan mereka juga, kan? Tapi, Rasyad–chef pemilik restoran Timur Tengah yang ganteng banget–membuat sesuatu di dalam dada Elmi tercampur baur.

Rasyad rajin memberi Elmi kejutan. Ia juga siap jadi “sopir” kalau saja Elmi mau. Sesekali, tindakan Rasyad yang spontan malah membuat Elmi tersentak–Dirga saja belum pernah melakukannya. Apalagi, Dirga bukan tipe cowok romantis yang suka memberi Elmi surprise.

Rasyad yang hadir saat LDR-an, OCD yang butuh terapi, belum lagi Mama yang cerewet dan berputar-putar di kepala Elmi.

Tapi, urusan hati harus diurai, kan? Berarti, Elmi memang harus memutuskan….

Review Buku

Kapan hari jauh sebelum mengikuti program #BacaBarengAlumni KF (acara membaca novel bersama alumni Kampus Fiksi, sebuah sekolah menulis dengan sistem pemberian materi beberapa hari yang didirikan oleh Penerbit Diva Press), sebenarnya saya sudah mengincar novel ini karena cover-nya. Memang sih kalau blurbnya terasa kurang menggigit meskipun berhasil menggambarkan cerita di dalamnya. Namun seperti yang saya ceritakan sebelumnya, premis novel ber-cover cantik ini sangat menjanjikan cerita cinta mengharu biru.

Bab-bab awal Distance Blues sudah menyajikan permasalah OCD yang menimpa Elmi tokoh utamanya. Satu langkah yang tidak menyia-nyiakan waktu pembaca, karena sudah langsung menggiring ke konflik dan membuat penasaran. Masalah psikologis Elmi bahkan digambarkan secara detail. Mulai dari kecarutmarutan pikirannya, sampai teknis bagaimana tingkah laku Elmi yang akhirnya memberinya satu kesadaran bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Penulis memakai bahasa baku yang cukup mengalir di narasi, dan gaya bahasa sehari-hari untuk dialog. Penulisannya pun rapi. Good job untuk Agustine dan editor. Namun, teknik penulisan Agustine di beberapa bagian cukup mengganggu saya karena tata bahasanya agak aneh. Seperti kalimat:

Tak ada sanggahan lebih lanjut selain dengusan kecil dari Elmi (Halaman 197)

Atau

Terdengan suara dehaman dari Dirga.

Novel ini terlalu banyak tell ketimbang show. Padahal banyak hal akan lebih sampai ke pembaca bila diceritakan dalam bentuk peristiwa ketimbang narasi yang tergesa. Kemudian teknik penulisan kebanyakan flasback yang tidak perlu. Mengapa tidak perlu? Karena bukan menceritakan masa lalu. Satu peristiwa diputus begitu saja, digantung, tapi kemudian diceritakan lagi detailnya di bagian lain. Biasanya teknik flashback dipakai untuk memancing atau membuat pembaca penasaran. Namun saya menangkap, penulis membuat rangkaian seperti itu bukan untuk menyusur penasaran pembaca, tapi penulis kesulitan saja menggulirkan peristiwanya dari awal sampai akhir.

Pasti ada satu itik hitam di antara banyak itik putih. Lagi pula, namanya dunia pekerjaan, sikut-sikutan pasti ada.

Di luar itu, banyak sekali kalimat quotable yang ‘nyes’ di novel ini. Sudut pandang novel ini adalah orang ketiga serba tahu. Saya menemukan bagian yang merupakan pandangan penulis terhadap sesuatu. Sah-sah saja. Namun, baik itu pandangan penulis maupun pemikiran tokohnya, saya merasa sedang digurui. Tokoh Elmi pun memang digambarkan judging. Luarannya memang pengalah, tapi dalamannya Elmi ini mudah sekali men-judge seseorang. Mungkin karena terpengaruh oleh karakter mamanya yang sangat mendikte.

Bukankah sesuatu terjadi karena pikiran kita yang mengendalikan? Kalau pikiran kita negatif, ya kejadian yang menimpa kita negatif.

Dari sekian banyak tokoh di Distance Blues, saya tak memiliki tokoh favorit. Penggambaran karakter tokoh-tokohnya jelas, dari segi fisik maupun sifat, tapi buat saya semuanya tidak lovable. Hal yang saya sayangkan dari pemilihan karakter novel ini adalah penulis menciptakan tokoh-tokoh wanita saingan Elmi yang bersifat bitchy. Buat saya itu old school. Tokoh saingan bitchy tak lagi mampu menyedot simpati karena sudah terlalu banyak diangkat di novel lain. Dan hal ini mempermudah konflik batin tokoh pria, karena jelas sekali siapa yang menang. Mengurangi gereget pembaca.

Chemistry antar tokohnya terjalin baik. Namun porsi Dirga yang minim membuat pembaca kurang terikat dengan tokoh itu. Di tengah novel, Dirga seakan hilang dari peredaran. Padahal meskipun mereka diceritakan LDR, bukan berarti Dirga tak bisa dihadirkan. Saat kembali diceritakan, perkembangan karakter Dirga pun tak mampu menyentuh simpati. Saya sampai berpikir, saking banyaknya porsi Rasyad, pembaca malah terasa seperti sengaja digiring untuk lebih memihak padanya. Agustine sepertinya lupa, selain harus membangun chemistry antar tokoh, penulis juga sebaiknya membangun chemistry tokoh dengan pembacanya.

Aku selalu percaya orang bisa berubah seiring berjalannya waktu –Elmi

Maju ke pembahasan konflik. Konflik sudah mencuat dari awal. Membuat saya penasaran dari mana asal boom OCD Elmi? Kenapa harus muncul di keadaan Elmi sekarang. Saya memang menjadi tahu kenapa Elmi bisa terkena OCD, tapi tidak menemukan jawaban kenapa gangguan psikologis itu baru mencapai klimaksnya di usia Elmi sekarang. Konflik keluarga dan asmara berimbang di novel ini. Saya suka jalinan konfliknya yang kompleks. Apalagi bagian-bagian konflik psikologi Elmi. Penulis dapat menyampaikan dengan baik bagaimana perasaan tertekannya Elmi yang terkena OCD.  Saya juga memuji bagaimana Agustine menjelaskan mengenai OCD lewat pencarian artikel dan konsultasi dengan psikolog. Sehingga pembaca mendapat cukup banyak penjelasan yang benar. Lalu Agustine pun memberi gambaran terapi apa saja yang mesti dilakukan oleh penderita OCD, selain menambah pengetahuan pembaca, saya kira itu akan membantu pembaca yang mungkin merasa terkena OCD tapi takut berkonsultasi dengan psikolog. Ending novel ini merupakan akhir yang realistis. Meskipun ada konflik yang penyelesaiannya terkesan dipermudah. Namun saya kira itu sudah pilihan yang paling pas.

Aku dan kamu terserak dalam jarak –Distance Blues

Untuk kamu yang menyukai novel kisah percintaan, keluarga, dan masalah psikologis, saya merekomendasikan Distance Blues. 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

[Blogtour] Review + Giveaway Novel Unfotgettable Chemistry: Melupakan Chemistry

picsart_12-01-12-13-12

Untuk saya yang menyukai hal-hal romantis semacam sengatan listrik pada sentuhan dengan seseorang spesial, atau gelenyar halus di dada, chemistry dalam kisah cinta selalu membuat saya penasaran. Termasuk kisah novel Unforgettable Chemistry ini.

Sebelum menguliti karyanya, kita kenalan dulu sama penulisnya. (((Menguliti)))

Siapakah Mala Shantii?

fb_img_1479866056098

Mala Shantii lahir dan besar di Tulungagung, Jawa Timur. Hobi membaca sejak kecil, tapi tak pernah bermimpi jadi penulis. Unforgettable Chemistry adalah karya pertama yang diselesaikan di Wattpad dan diterbitkan oleh major publisher. Sebelumnya telah menerbitkan buku berjudul Rayya secara indie.

Saat ini menetap di kota kelahiran, penulis dapat dikontak melalui:

Facebook: Mala Shantii

Instagram: @malashantii

Wattpad: @malashantii

Sesi Kepoin Mala Shantii

1. Mengapa mengambil latar profesi dosen, padahal ceritanya menyerempet perselingkuhan? Bukannya jadi riskan.

Mengapa dosen? Karena menurut saya profesi ini menarik. Jadi saya memang tergelitik untuk menyajikan satu sisi dari profesi tersebut. Secara normatif memang pengajar atau dosen, diharapkan memiliki standar moral dan integritas yang lebih tinggi. Nah, di sini saya hanya ingin mengungkap sisi manusiawinya. Bahwa pada titik tertentu, moralitas seorang dosen sekalipun, bisa saja tergelincir jatuh ke titik paling nadir.

2. Ceritakan proses berdarah-darahnya menulis novel ini. Termasuk riset dan lainnya.

Proses penulisannya termasuk lancar sih, cukup cepat juga menyelesaikannya. Kendala yang berarti hampir nggak ada. Untuk masalah riset, nggak terlalu banyak kesulitan. Karena kebetulan saya pribadi lumayan bersinggungan dengan latar belakang tokoh-tokohnya.

3. Novel ini kan sempat diposting di Wattpad. Komentar paling jleb atau paling berkesan apa dari pembaca di sana?

Komentar paling jleb?
Apaaa ya?
Saya nggak terlalu ingat sih, karena pembaca saya di Wattpad itu suka sadis-sadis komentarnya heheee. Dan, yang paling sering itu mereka suka memaki-maki heroinnya. Buat saya yang selalu menganggap hero/heroin ciptaan saya sebagai anak, yaaaa pasti jlebbbb lah kalau anak-anaknya dimaki-maki heheee.
Tapi, ada juga pembaca yang suka bikin komentar panjaaaannngggg gitu. Kadang ada yang hampir sepanjang bab itu sendiri hahahaha. Isinya analisa dia atas plot dan karakter cerita. Ini yang saya suka. Moodbooster paling ampuh untuk melanjutkan tulisan.

cover-mala

Data Buku

Judul : Unforgettable Chemistry
Penulis : Mala Shantii
Penyunting : M.L Anindya Larasati
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, Oktober 2016
Halaman : 336 hlm
ISBN : 978-602-02-9467-4

Blurb:

Cinta.
Jadi, bagaimana sebenarnya perasaannya pada Frans?
Ia sendiri tak tahu. Karena alasan mereka menikah, bukanlah semata karena cinta.

Anna dan Frans–sepasang suami istri yang hidup terpisah antara Bandung – Surabaya–berjuang untuk menata kehidupan rumah tangganya sebaik mungkin meskipun terpisah oleh jarak. Apalagi, alasan mereka menikah bukan karena cinta.
Namun tanpa disangka, masa lalu keduanya kembali membayangi bahtera pernikahan mereka. Sanggupkah mereka mempertahankan satu sama lain, atau justru berusaha mendapatkan mereka yang tak pernah terlupakan?

Review Buku

Membaca novel ini saya dibuat terkejut beberapa kali. Ini bukan perihal twist, tapi pembahasannya. Saya memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama gambar sampulnya yang cantik sekali. Tipe sampul lukisan yang membuat saya merasa terlempar ke dalamnya. Namun membaca blurb-nya, saya berpikir, sepertinya ini kisah cinta yang akan menjadikan profesi tokoh-tokohnya hanya tempelan. Seperti menceritakan direktur perusahaan A, tapi enggak dijelaskan rinci seperti apa detail pekerjaannya, hanya menyebutkan seputar meeting dengan klien dan lembur. Sudah. Saya salah besar. Unforgettable Chemistry menjelaskan dengan baik pekerjaan para tokoh utamanya. Frans sebagai dokter bedah, dan Anna yang dosen. Saya cukup kagum bagaimana Mala menjelaskan pekerjaan mereka dan banyak istilah-istilahnya dengan baik. Ditebar sepanjang cerita tanpa mengganggu jalinan kisah, atau memaksakan pengetahuan itu sebagai gagah-gagahan penulis. Memang sih tidak ada adegan pembedahan, tapi itu tak mengurangi kekaguman saya pada pengetahuan yang diterima sebagai pembaca. Karena detail-detail itulah saya berasumsi Mala melakukan riset yang berdarah-darah, ternyata menurut pengakuannya, tidak begitu. Berarti penulis memang menguasai latar profesi yang diangkatnya.

Kalau kamu nggak bisa masak, itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Walaupun aku kadang juga pengen … yah … up-grade sedikit lah skill-mu. Paling enggak, kamu harusnya sudah tahu, berapa takaran garam yang pas dalam satu porsi makanan. –Halaman 6

Keterkejutan kedua adalah kerapihan penulisannya. Sebagai penulis yang mengaku tidak terpikir akan menjadi penulis, (yang sok tahunya saya) mungkin awalnya novel ini ditulis tanpa beban, karya Mala ini saya nilai baik. Penulis bisa menggambarkan fisik para tokohnya, begitu pula dengan latar tempatnya. Pembaca bisa membayangkan apa yang ditulis di sana dengan panduan deksripsi Mala, tanpa harus mereka-reka sendiri seperti apa tokoh dan tempat kejadian. Meskipun untuk latar tempat dan waktu tak begitu terperinci, tapi cukup membeberkan keadaan. Kemudian, editannya juga cukup rapi. Hanya beberapa saja typo-nya. Saya melihat kerja harmoni antara penulis dan editor dalam menghasilkan karya ini.

Yang membuatnya resah adalah, apa yang akan dihadapinya setelah beribu mil dia tinggalkan tempatnya berpijak kini. Tempat yang telah membentengi perasaanya dengan keamanan multi-lapis, pada sesuatu yang paling memiliki kekuatan untuk memberi serangan menyakitkan pada hatinya. –Halaman 20

Dari segi pemilihan kata. Mala jelas memiliki perbendaharaan yang baik. Mala pun seringkali memakai rumus rima kata dalam paragraf-paragrafnya. Kalimat-kalimat di dalamnya menjadi paduan antara puitis dan lugas yang muncul di saat-saat yang tepat. Apalagi ditambah istilah-istilah kedokteran yang jelimet. Namun seperti saya bilang tadi, informasi kesehatan yang bertebaran disampaikan menjadi bagian cerita sehingga pembaca tak merasa dijejali badai pengetahuan yang bikin pusing.

Setahunya rasa cemburu adalah manifestasi paling nyata dari rasa memiliki, rasa cinta yang dimiliki seseorang. –Halaman 317

Memang, dialog-dialognya memakai bahasa kaku, tetapi menilik profesi tokohnya, terasa wajar saja. Kadang muncul pula dialog ‘nakal’ dan santai. Cukup menghidupkan dan mengokohkan karakter para tokohnya. Saya juga melihat, para tokoh Unforgettable Chemistry konstan dari awal sampai akhir, tidak ada ketidakkonsistenan. Kalaupun ada perubahan berupa letupan-letupan, itu pun jelas pemicunya, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai tidak konsisten.

Rumah adalah tempat mengisi ulang semangat dan daya hidup untuk menjalani hari-hari selanjutnya. –Halaman 98

Saya senang sekali novel ini karakternya tidak hitam putih. Manusiawi saja. Meskipun dari segi fisik sempurna semua. Tapi sifat-sifatnya bukan manusia super. Apalagi tokoh wanita dan pria antagonisnya sama sekali tidak digambarkan menyebalkan ataupun bitchy. Pembaca digiring bersimpati pada tokoh utamanya bukan karena antagonisnya penjahat kelas rendahan. Ini sungguh melegakan. Bisa dibilang saya menyukai semua tokohnya, bersimpati pada mereka, dan juga peduli mengikuti nasib mereka sampai akhir. Chemistry para tokohnya cukup tergambar baik.

Dokter itu diam-diam memperhatikan pula keseluruhan penampilan pasiennya. Dan berkesimpulan bahwa pasiennya ini mungkin termasuk dalam golongan wanita berpendidikan dengan tingkat ekonomi yang baik. Tapi dokter itu tahu, bahkan para wanita dari golongan itu pun sering kali cenderung menutupi dan tak ingin diketahui orang lain manakala mendapatkan pelecehan ataupun kekerasan seksual. –Halaman 171

Kisah Unforgettable Chemistry yang mengangkat tema cinta masa lalu dan perselingkuhan memang berpotensi membuat pembaca sebal. Mala cukup berani mengangkat tema tersebut apalagi mengingat latar profesi tokoh utamanya yang dosen dan dokter. Namun bagaimana Mala memilin jalinan ceritanya justru membuat topik ini tak mengganggu, setidaknya buat saya. Memang, untuk saya letupannya agak kurang menyentak. Plotnya kadang agak lambat. Dan saya mengharap ledakan yang lebih menggelegar dari konflik-konflik itu. Tapi di tiap akhir bab, Mala berusaha meninggalkan berbagai pertanyaan, berbagai kemungkinan, dan mengakhiri dengan tepat sehingga membuat penasaran. Novel romantis ini tak hanya bicara cinta, tapi juga realita, dan dibungkus pula sub konflik yang lumayan kaya. Seperti kekerasan dalam rumah tangga. Ending kisahnya pun realistis. Melupakan chemistry tak mudah dan bisa jadi tak mungkin, tapi bagaimana memuarakan chemistry, itu adalah pilihan.

3 Bintang untuk novel ini.

picsart_11-21-11-42-11

Giveaway

Mau novel Unforgettable Chemistry? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @malashantii dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GAChemistry dan mention akun twitter saya dan Mala.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter dan goodreads kamu.

Pernah merasakan chemistry yang sangat kuat dengan seseorang? Ceritakan pengalamanmu.

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal sampai 23 – 29 November 2016. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 30 November jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Ada satu novel Unforgettable Chemistry bertanda tangan penulis sebagai hadiah

Ditunggu partisipasinya 😀

[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Beat Of The Second Chance: Read And Feel The Beat

picsart_11-02-03-45-35

Cover novel Beat Of The Second Chance (diambil di studio mini artisticinside)

Bicara tentang kesempatan, kadang kala ada yang tak percaya bahwa kesempatan kedua benar-benar bisa datang dalam kehidupan. Seperti judulnya, Beat of the Second Chance membahas tentang kesempatan kedua, bukan serupa keajaiban, tetapi diraih secara sadar. Novel ini bukan menjual mimpi kosong, tapi dikemas dengan mengkombinasikannya realitas.

Seperti biasa dalam postingan blog tour, sebelum membahas novel dari pembacaan saya, kita kenalan dulu dengan penulisnya.

Siapa Zachira Indah?

img-20160416-wa0034

Zachira Indah mengaku sebagai perempuan introvert kelahiran Tegal yang sangat cuek dengan banyak hal. Tapi seriusannya, bagi orang yang sudah mengenalnya, Zachira ini punya karakter yang pedulian, ramah, dan enggak keberatan berbagi ilmu. Ibu dari dua malaikat unyu, penggila Game of Throne dan pecinta makanan manis yang selalu gagal diet. Sedikit terobsesi dengan minuman cokelat panas.

Ini list novelnya yang sudah terbit, Diamond Sky In Edinburgh (Diva Press), Kimi no Hitomi ni Hikari (Grasindo), The Wedding Storm (Grasindo), Dearest (Grasindo), Homeless (Grasindo), Beat of Second Chance (Grasindo).

Zachira bisa dihubungi melalui akun twitter @zachira, IG @zachira.indah dan email zachira.indah@gmail.com. Sekadar kenalan atau curhat akan ditanggapi dengan senang hati.

Sesi Kepoin Zachira Indah

1. Novel Beat of the Second Chance berlatar musik yang kuat, bagaimana riset Zachira untuk menghidupkan musik di novel ini? Apa memang secara pribadi Zachira memang pernah terjun di dunia musik?

Secara pengalaman, saya memang pernah bersentuhan dengan alat musik drum, sejak SMP hingga kuliah. Karenanya selain alasan personal, menurut saya memainkan drum itu menyenangkan. Begitu pula dengan menuliskannya sebagai sebuah novel.

Bedanya, saya dulu belajar drum hanya otodidak dan nggak menerima teori-teori bahkan nggak bisa baca not drum. Baru saat riset saya pelajari sedikit-sedikit, karena kemudahan akses informasi, membaca not balok (drum khususnya) bukan hal yang rumit. Thanks to youtube, majalah musik, dan situs online drummer lesson, membuat saya sangat enjoy menggabungkan pengalaman pribadi dan riset ke dalam sebuah tulisan. Oh ya, saya bahkan sampai menyewa studio sendiri untuk benar-benar merasakan atmosfer duduk di belakang drumset dan mengayunkan stik drum. Selain untuk nostalgia, juga untuk kepentingan riset di mana saya mencoba bermacam variasi drum fills. Hehe… Seru pokoknya.

2. Kenapa memilih membahas drum?

Karena drum itu menyenangkan. Preferensi musik yang saya sukai memang dekat dengan genre musik rock, alternatif, pop rock, slow rock, hip metal dan segala hal yang berbau gebukan drum yang atraktif. Secara otomatis, dari alat musik dan genre itu sendiri sudah mengesankan dekat dengan kehidupan anak muda khususnya generasi modern musik. Jadi temanya pun otomatis menyesuaikan.

Selain itu, ini untuk membedakan tema dan tone cerita dari novel saya sebelumnya. Kebetulan di novel Diamond Sky in Edinburgh saya mengambil setting musik klasik pula dengan piano dan celo sebagai instrumennya. Singkatnya, untuk memberikan variasi pada pembaca. Alasan lain, karena saya sendiri pun jarang menemukan novel bertema tentang drum sebagai alat musik.

3. Ceritakan pengalaman luar biasa di dunia menulis.

Pertanyaan berat nih… Hehe karena saat ini saya masih merasa nggak tenar-tenar amat di kalangan pembaca. Dari dulu penyakit kronis saya ada di rasa minder dan kurang pede yang kadang suka kumat dikombinasikan dengan sifat introvert bawaan. Tapi ada satu wadah yang lumayan ‘menyelamatkan’ penyakit kronis itu biar ga jadi parah-parah bingit gitu.

Saya bergabung dalam komunitas kampus fiksi dan mendapatkan apresiasi pada satu cerpen lama di dalam acara kampus fiksi itu (yang menjadi cikal bakal novel Diamond Sky in Edinburgh). Mungkin ini kedengaran biasa, tapi Pak Edi yang menjadi CEO penerbit yang membentuk wadah kampus fiksi itu–yang hari itu bertindak sebagai pembedah–memberikan apresiasi yang tinggi untuk cerita yang waktu itu saya anggap biasa-biasa saja. Saya terharu, dan merasa diri sendiri yang saat itu semangat nulisnya lagi tiarap karena kesibukan kerja mendadak punya rasa percaya diri. Dan dari sanalah semua berawal akhirnya saya konsisten terus menulis.

Ditambah pula,  sejak itu saya jadi pede ikut lomba, thanks untuk komunitas KF yang juga jadi kompor penyemangat hingga sekarang. Ditambah tahun kemarin dan beberapa waktu lalu saya menjadi pemenang kedua di satu lomba penulisan novel berhadiah trip ke Korea dan menjadi pemenang kedua juga di lomba penulisan novel Young Adult. Hanya pemenang kedua tapi itu sesuatu banget untuk penulis minderan kayak saya….

Beuuuh, total banget ya risetnya, sampai nyewa studio segala 😀

img_20161101_154338
Data Buku

Judul : Beat of the Second Chance
Penulis : Zachira Indah
Penyunting : Cicilia Prima
Penerbit : Grasindo
Cetakan : Pertama, September 2016
Halaman : vi + 250 hlm
ISBN : 978-602-375-6896

Blurb:

Galang, mantan drummer Three Notes sebuah band terkenal terpaksa berhenti dari dunia musik karena kehilangan satu kakinya dalam kecelakaan. Dunianya kini adalah pertaruhan untuk survive dalam hidup dan pekerjaan yang tidak mengizinkannya, memiliki kesempatan karena statusnya kini adalah ‘orang cacat’.

Di satu sisi, Nessa dokter muda yang di ambang kesuksesan karena mewarisi rumah sakit keluarga di Melbourne mulai ragu dengan keputusannya. Pertemuannya dengan Galang membangkitkan mimpi lama tentang menjadi drummer saat dirinya masih mengidolakan laki-laki itu.

Dulu, mereka tidak percaya lagi pada mimpi.
Dulu mereka menyerah dengan keadaan.
Tapi sebuah pertemuan memercikkan harapan keduanya untuk membalikkan keadaan.
Yang mereka butuhkan hanya kesempatan.
Sebuah kesempatan kedua.

 Review Buku
Novel berjudul seksi “Beat of the Second Chance” merupakan novel music series terbitan Grasindo, menceritakan tentang Nessa yang punya kebiasaan meninggalkan semua hobinya sebelum melewati waktu tiga bulan. Sebagai kutu loncat, dia selalu menemukan ketertarikan pada banyak hal. Termasuk pada drum. Awalnya karena dia bertemu dengan Galang si drummer beken yang memberi Nessa stik sebagai hadiah. Sayangnya, tekadnya untuk bisa bermain drum ikut hancur saat Galang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya diamputasi. Selang dua tahun mereka bertemu lagi. Akankah Nessa menerima sosok Galang yang berubah total?
“Rim, lo tahu kan role model gue belajar main drum itu Galang sendiri? Gimana bisa dia terus jadi role model gue kalau ternyata sekarang dia udah nggak berhubungan dengan drum lagi karena kakinya diamputasi?” –Halaman 26
Karakter Nessa ini mengingatkan saya pada diri sendiri yang persis seperti Nessa. Saya pernah kepengin bisa nge-dance, pengin jadi penyiar radio, bahkan sampai kepengin juga bisa jadi drummer perempuan. Jadinya membaca novel ini saya serasa diajak bernostalgia pada masa SMA di mana saya pernah minta diajari main drum oleh sahabat saya. Waktu itu saya pun menyewa studio khusus buat belajar, tapi baru dua kali saja saya sudah menyerah karena ternyata menjadi drummer itu susah. Saya belajar nge-dance cuman satu kali pertemuan, dan hanya bertahan sebulan saja jadi penyiar radio XD
Let me guess. Kamu pasti masih SMA.”
Tanpa diduga, seorang pria yang tengah duduk di kursi bar di sampingku mengajak bicara. Aku sempat menengok kanan kiri, memastikan bahwa “anak SMA” yang dimaksudnya adalah aku. Sesaat aku berpikir, apa ini jenis rayuan terbaru yang sedang populer? –Halaman 39
Saya dan Nessa tentu saja dua pribadi yang berbeda, karena kalau saya punya alasan se-shalow itu untuk berhenti menekuni satu bidang, Nessa punya satu trauma yang membuatnya tanpa sadar jadi kutu loncat. Dan itu merupakan twist yang bikin saya tercengang. Rapi sekali Zachira menutupinya hingga tiba saat membuka di akhir tanpa menjadikannya twist yang maksa.
Aku tetap berjalan dan tidak memedulikan dua orang yang kuanggap hina karena telah memakai kata ‘cacat’ sebagai atribut untuk menghina orang lain. –Halaman 43
Penceritaan novel ini terbagi menjadi dua suara. POV Nessa dan sudut pandang Galang. Zachira berhasil membuat kedua suara itu punya bunyi yang berbeda. Suara Galang tetaplah maskulin meski ditulis oleh perempuan. Karakter keduanya tergambar jelas, bahkan hampir tak terasa intervensi pada masing-masing karakter. Selain kedua tokoh utamanya, semua tokoh di novel ini memang kuat dengan deskripsi yang ditebar lewat narasi dan dialog yang luwes. Tidak ada deh bagian yang menjejalkan deskripsi karakter hingga pembaca sesak karena menerima informasi yang bertubi-tubi. Karakter favorit saya jatuh pada Lola second lead female novel ini. Bukannya saya tidak simpati pada Nessa, tapi tokoh dengan kepolosan seperti dia kurang menarik di mata saya. Chemistry semua tokohnya terjalin sangat baik. Apalagi saat mereka berdialog. Dialog-dialog di novel ini sangat hidup, mengimbangi narasinya yang cantik dan rapi. Ada pun hal yang mengganggu saya adalah pemakaian kata “cacat” yang terlalu sering, tanpa diimbangi dengan pemilihan kata “difabel” yang lebih terhormat.
Berikutnya, semua orang seolah bersatu untuk mengejeknya dan mengucapkan “Huuu…!” yang panjang. Seolah mereka terkena penyakit yang sama. Krisis kemanusiaan. –Halaman 44
Pada mulanya, saya sulit mempertahankan kesadaran ketika membaca Beat of the Second Chance. Terus terang bab prolognya membuat saya mengantuk, dan akhirnya menyerah untuk membesokan saja ritual baca. Tentu saja hal ini tidak pernah terjadi pada pengalaman baca saya pada karya-karya Zachira sebelumnya. Padahal tema novel ini seksi banget: drum dan impian. Jangan salah sangka bahwa yang membuat perilaku anomali saya itu karena bab prolognya membosankan. Bab pembuka novel ini sesungguhnya sudah nendang dengan cuatan konflik yang tinggi. Setelah saya ingat-ingat, hal ini disebabkan oleh cara penulisan Zachira yang pada awalnya kurang luwes, padahal biasanya gaya bahasa penulis lancar mengalir menghanyutkan. Tapi Zachira ini memang penulis yang lihai, karena mulai bab selanjutnya sampai ending, saya dibuat terkesan dengan cerita dan teknik penulisannya yang kembali prima. Deskripsi tempatnya yang cukup detail pun sangat membantu menggambarkan suasana. Zachira memiliki kosakata yang kaya dan diksi menarik. Apalagi humor cerdas meski terkadang agak sarkasnya selalu berhasil membuat saya tertawa. Zachira ini memang selalu fresh dalam tiap karyanya.
Aku memutuskan belajar drum karena ingin jadi sepertimu, berharap kita bakal ketemu lagi saat aku udah cukup mahir untuk membuatmu menyadari bahwa kamu berhasil mengubah hidupku. –Halaman 62
Novel ini kaya akan konflik, didominasi oleh konflik realistis, meski tetep ada sentuhan melangit. Konflik keluarga, impian, beratnya berlatih musik, intrik band, dan tentu saja cinta. Dunia musik tidak digambarkan gemerlap dan menyilaukan, justru novel ini memperlihatkan masalah apa adanya yang terjadi di balik industri musik. Menariknya lagi, Zachira juga menyertakan strategi mengangkat popularitas dari berbagai hal. Hubungan, bumbu drama, hingga peranan media sosial. Bahwa untuk menjadi profesional, banyak hal harus dikorbankan. Butuh mental dan kecintaan besar untuk bertahan di industri musik. Ketika telah rasanya mencapai puncak pun rentang jatuh dalam sekejap. Di sinilah makin menariknya cerita, bagaimana proses meraih impian untuk ‘kedua’ kalinya.
Namun, dibandingkan kisah antara Galang dan Nessa di masa kini, saya paling menikmati bagian masa lalu Galang dengan band Three Notes serta cinta pertamanya. Saya selalu menunggu-nunggu flash back hidup Galang.  Saya beri dua jempol untuk kisah cintanya yang disampaikan dengan lembut, perlahan tapi kuat, dengan pengadegan yang tidak terasa klise. Dan ya, saya selalu ikut terbawa suasana. Dada ikut berdebar-debar, dan tanpa sadar wajah saya memerah. Konflik keluarganya pun memikat sekaligus membuat miris.
Porsi pembagian konflik besar yaitu impian, cinta, dan keluarga dalam novel ini terbagi dengan rata. Dan suprise-nya lagi, setiap konflik itu memiliki twist-nya masing-masing. Saya menyukai ending dari setiap konfliknya yang diselesaikan juga dengan cukup realistis.
Masa-masa keemasan dalam hidupku, meskipun menjadi musisi indie bukan perkara mudah, mengingat waktu, biaya, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi tak ada yang bisa menggantikan sensasi bahagia dan adrenalin yang meluncur deras saat beraksi di depan ratusan penonton…
–Halaman 81
Keunggulan novel ini juga terletak di pembahasan drum-nya yang jauh dari tempelan. Saya bahkan berpikir bisa belajar teori nge-drum dari novel ini. Pembaca akan menemukan berlembar-lembar bagian novel yang menerangkan tentang teori dan deskripsi praktik nge-drum. Saya diajak berkenalan dengan tempo, snare, tom, cymbal, dan istilah-istilah lainnya. Selain itu Zachira dapat mentransferkan perasaan musisi saat tampil di atas panggung dengan baik, hingga saya tersihir seakan ikut menjadi penampil. Seolah penulisnya memang benar-benar seorang drummer, dan ternyata memang Zachira melakukan riset yang amat mumpuni. Proses penulisan memang tak akan menipu 😀 Jangan khawatir pembaca akan bosan membaca bagian ini, karena Zachira menulisnya dengan cantik sehingga rentetan teori itu enak dan nyaman dibaca. Beat of the Second Chance memiliki tempo penceritaan yang pas. Kalau buat saya ini seperti musik easy listening dengan lirik dalam yang tersebar dalam pesan-pesan mode non ceramah. Kata-kata quotable-nya serupa lirik lagu yang menghanyutkan.
Dunia emang sakit, tapi jangan ikut-ikutan sakit sebelum lo ngerasain gimana rasanya bangkit lagi setelah lo jatuh tersungkur. –Halaman 82
3,5 Bintang untuk novel ini. Saya sarankan saat membaca novel ber-cover cantik ini kamu memutar lagu-lagu yang judulnya tertera di setiap bab. Yup, judul tiap bab novel ini diambil dari judul lagu. Kamu akan lebih menghayati isi novelnya 😀 Saya rekomendasikan Beat of the Second Chance untukmu yang menyukai musik dan romance.
blog-tour-zachira-edit

Giveaway

Mau novel Beat of the Second Chance? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @zachira dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GABOTSC dan mention akun twitter saya dan Zachira.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Pernahkah kamu mengidolakan seseorang? Tindakan paling gila apa yang kamu lakukan untuk memperlihatkan kecintaan terhadap idola itu?

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 2 sampai 8 November 2016. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 9 November jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Ada satu novel Beat Of The Second Chance bertanda tangan penulis sebagai hadiah.

Ditunggu partisipasinya ya ^_^

[Blog Tour] Review + Giveaway Novel “Searching My Husband” Karya Octya Celline

cover-smh

Searching My Husband merupakan novel kelahiran dari Wattpad kesekian yang saya baca versi cetaknya. Buat saya, membaca novel ini serupa dengan menonton serial drama Korea. Menghibur dan bikin baper.

Sebelum sesi kupas mengupas novelnya, kita kenalan dulu sama sosok di balik terciptanya novel SMH yang merupakan pegiat Wattpad.

Siapa Octya Celline?

octya2

Octya Celline, biasa dipanggil Selin atau Line. Lahir di Surabaya, 19 Oktober 1996, anak ketiga dari tiga bersaudara, berzodiak Libra dan pecinta olah raga. Saat ini sedang mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Konsentrasi Teknologi Proses Pangan Universitas Surabaya semester 5. Menulis adalah salah satu dari sekian banyak hobi yang digelutinya sejak tahun 2015. Searching My Husband adalah novel pertamanya yang dicetak dalam bentuk buku, dan novel keempat yang ditulisnya di Wattpad.

Mau ngobrol langsung sama Celline? Hubungi di media sosialnya

Instagram: @octyacelline

Facebook: Octya Celline

Wattpad: @OctyaCelline

Line: yoshikuni_tsubaki

Sesi Kepoin Octya Celline

1. Apa sih bedanya novel Searching My Husband di Wattpad dan versi cetak?

Octya: Bedanya Novel SMH di versi cetak dan Wattpad tentu saja di penyusunan cerita dan alur yang lebih teratur. Ada tokoh barunya, yaitu William. Lalu di novel cetak juga ada tambahan beberapa bab yang tidak ada di Wattpad, rasanya ada kira-kira 5 bab baru.

2. Dari semua tokoh di novel Searching My Husband, mana yang favoritmu? Kenapa?

Octya: Dari semua tokoh di novel SMH  yang menjadi favorit saya adalah  R. Mengapa bisa R? Karena tanpa R, cerita ini tidak akan tercipta. R adalah sosok lelaki yang saya idamkan sebagai seorang suami. Figur itu muncul setelah saya memikirkan memiliki seorang suami yang begitu setia dan hanya bisa melihat ke arah saya seperti layaknya setangkai bunga matahari yang hanya bisa menoleh ke arah matahari.

3. Apa arti Wattpad buatmu?

Octya: Wattpad adalah tempat pertama saya menumpahkan kebosanan dan keisengan saya. Mulai dari coba-coba menulis untuk ikut GiveAway sampai akhirnya saya menjadi juara 1, dan jadi ketagihan menulis sampai buku saya bisa terbit. Walau baru bergabung kurang dari setahun di Wattpad, tapi saya sudah mendapatkan banyak ilmu dari sana. Bulan ini genap satu tahun saya gabung di Wattpad, dan saya baru menulis SMH di bulan-bulan Oktober, tepatnya tanggal 18, sehari sebelum saya ultah.

Masih penasaran tentang proses kreatif Octya? Tenaang, misteri tentang penulis satu ini bakalan terkuak sama blog host lain di postingan blog tour tiap minggunya 😀 Yuk, mariii sekarang kita mulai bahas novelnya.

Data Buku

Judul : Searching My Husband
Penulis : Octya Celline
Penyunting : Kudo
Penerbit : LovRizn Publishing
Cetakan : Pertama, Oktober 2016
Halaman : x + 394 hlm
ISBN : 978-602-6330-25-3

Blurb:

Dicari orang berinisial “R”. Tak terlihat sejak satu tahun yang lalu,
mulai 19 Oktober 2015.
Ciri-ciri fisik:
1. Jenis kelamin: Pria tulen (saya yakin)
2. Tinggi badan sekitar 180 cm dan berumur 32 tahun.
3. Memiliki rambut yang berdiri alami dan terasa halus, sepertinya berwajah tampan, bibirnya tipis, memiliki lesung pipi, dan badannya berotot.
4. Menggunakan jas Armani dengan merek ternama.
5. Memiliki suara yang lembut dan berbadan wangi.

Bagi yang menemukan seseorang yang mirip, atau terlihat seperti ciri-ciri di atas, tolong langsung hubungi:

– Telepon : 19101996 (Sisilia)
– E-mail : sisiliapricilia@gmail.com
– Alamat : Jl. Cintaku Kepadanya. No 19

*Keuntungan jika menemukan pria tersebut:
– Diberikan uang cash dengan nominal besar.
– Diberikan keuntungan khusus seperti jalan-jalan ke luar negeri selama 1 bulan.


** Perhatian:
Entah karena alasan apa, ia tidak ingin wajahnya terlihat. Jadi jangan pernah menghubungi saya untuk menanyakan bagaimana wajah orang yang dicari, karena tidak mengetahui wajahnya makanya saya mencarinya.

Dunia rasanya semakin gila, ketika aku melihat koran pagi ini dan terpampang iklan mencari orang hilang dengan wajah yang tidak terlihat, bahkan orang yang memasang iklan itu juga tidak tahu bagaimana wajah orang yang dicari. Ternyata orang yang memasang iklan itu adalah istriku sendiri. Dan lucunya lagi, orang yang selama ini ia cari adalah diriku.

Review Buku

Searching My Husband bercerita tentang pernikahan aneh Sisilia dengan suami yang menyembunyikan wajahnya. Mereka menikah ketika Sisilia sedang koma di rumah sakit akibat kecelakaan. Setelah bangun dari tujuh tahun tidur panjangnya, Sisilia kehilangan ingatan. Itu pula yang membuat Mr. R memutuskan menyembunyikan identitasnya, karena takut Sisilia akan meninggalkannya. Selama satu tahun, mereka hanya berinteraksi dalam gelap. Berbagai cara ditempuh Sisilia untuk mengetahui wajah Mr. R, tapi seberapa pun pandainya dia mengatur strategi, suaminya selalu bisa berkelit. Seperti apa sebenarnya masa lalu Sisilia dan Mr. R? Apakah akhirnya Mr. R menunjukkan wajahnya pada Sisilia?

Hidup ini terbagi menjadi Masa lalu; Masa sekarang; dan Masa Depan. Masa lalu yang membentukku, masa sekarang adalah hidupku, dan masa depan adalah impianku. Kamu harus tahu, semua masa itu akan selalu diisi olehmu, karena kamulah hidupku. — Halaman 109

Enggak nyangka novel bantal ber-cover cantik ini bisa saya lahap sekali duduk. Seperti saya bilang tadi, membaca novel ini berasa seperti menonton drama Korea. Mengejutkan, lucu, menghibur, dan bikin baper. Prolog dibuka dengan tiga perempat isi blurb yang menurut saya memang menjual. Paaas bikin penasarannya. Hanya saja setelah masuk ke bab-bab berikutnya, ketahuanlah kalau ternyata prolog mengandung spoiler. Atau lebih tepatnya, memaparkan satu fakta yang “ternyata” belum diketahui oleh tokoh utama, yaitu nama suaminya berawalan huruf “R”. Karena jauh setelah prolog, ada bagian yang menceritakan betapa Sisilia bahagia mendapat satu kepingan puzzle, mengetahui inisial suaminya.

Apalah artinya kamu melihat wajahku atau tidak. Yang penting aku selalu ada untukmu dan kamu selalu ada untukku. Bukankah cinta tidak memandang fisik? –Halaman 13

Konflik-konflik yang dikedepankan langsung menyedot saya, terikat untuk terus membuka lembar demi lembar. Saya ikut gemas dengan penyelidikan Sisilia untuk mengungkap kemisteriusan tokoh R beserta alasannya untuk menyembunyikan wajah dan identitas. Apalagi disebutkan kalau Sisilia mengetahui jati diri R, Sisilia akan membencinya. Dramanya gereget banget. Butuh kepiawaian untuk menempatkan waktu yang tepat membuka sedikit demi sedikit misterinya. Karena penulis mesti menjaga supaya pembaca terus penasaran dan bertanya-tanya tanpa berubah mood menjadi kebosanan ketika isi cerita hanya berputar-putar tanpa memberi clue-clue yang makin membakar penasaran tersebut. Saya berpikir, “Ini buku tebel banget, apa bakalan bertele-tele ya ceritanya?” Ternyata enggak, saya menikmati tiap babnya tanpa merasa penulis mengulur-ulur waktu untuk menyingkap misteri.

Secerdik apa pun diriku, tetap saja kau selalu bisa kabur dari jebakanku. –Halaman 49

Tetapi, tidak bisa ditampik bahwa saya merasa ada banyak keganjilan yang perlu ditambal dari segi logika dalam penyembunyian rahasia wajah tokoh R. Seperti, sempat disebutkan kalau ada cahaya dari kamar mandi yang sedikit menerangi wajah. Ataupun, rasanya aneh sekali seorang perempuan mau melakukan ‘hubungan’ dengan seseorang yang tidak dikenalnya, tidak pernah dilihatnya, tidak dia ketahui sama sekali apa-apanya. Karena butuh chemistry kuat untuk ‘melakukan’ itu. Keganjilan tersebut muncul karena tidak diceritakan misalnya ada satu kejadian yang membuat Sisilia merasa sangat membutuhkan R, satu kejadian mengentak yang membuat Sisilia mempercayai R sepenuhnya. Sehingga dia yakin mencintai pria itu dan mau menyerahkan segalanya. Lalu soal iklan yang dipasang Sisilia ke koran, kalau di dunia nyata, sudah pasti yang terjadi padanya akan lebih parah dari sekadar didatangi cowok-cowok iseng. Soalnya Sisilia terlampau ceroboh memberikan e-mail aslinya.

Aku juga sangat mencintaimu bahkan tanpa aku melihat wajahmu aku tetap bisa mencintaimu. Itu berarti aku mencintaimu berkali-kali lipat daripada cintamu kepadaku. –Halaman 308

Kemudian kisah lain yang saling berkaitan adalah konflik tokoh Airin yang mencintai Rio diam-diam dengan mengirimi cowok itu foto bertuliskan puisi. Sedang Rio sendiri tergila-gila pada Sisilia. Hingga suatu hari, sebuah insiden mendekatkan mereka. Awalnya saya merasa munculnya konflik Airin ini kurang menarik. Tetapi seiring porsinya yang bertambah, perkembangannya berhasil membuat saya bersimpati pada Airin. Jalinan kisah yang seperti terpisah tetapi memiliki benang merah, tidak mengganggu sama sekali. Saya kembali menemukan keganjilan. Pada saat Rio menolong Airin dari preman, waktu itu setting waktunya pagi hari, tepatnya jam 7. Di jam seperti itu Jakarta tengah sibuk-sibuknya. Sesepi apa pun gang, pada pagi hari Airin bisa berteriak minta tolong. Beda lagi kalau memang kejadiannya dini hari. Meskipun Jakarta seperti tak pernah tidur, tapi logikanya sampai. Di luar beberapa ganjalan itu, ceritanya seru dari awal sampai akhir. Saya sangat menikmati membacanya.

Aku bisa mencintaimu selama tujuh tahun kamu terbaring koma dan tiada satu pun yang percaya kamu bisa bangun kembali. Tapi aku masih percaya kamu bisa kembali membuka kedua matamu. Jadi, siapa yang lebih mencintai siapa?” –Halaman 308

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang khas. Sehingga mudah mengidentifikasinya. Sisilia yang manis, Airin yang pendiam, Mr. R yang seksi, Rio yang baik. Lagi-lagi tokoh utamanya mengingatkan saya pada drama Korea. Stereotype cantik-cakep-kaya-romantis. Saya menyukai keempat karakter utama dan tokoh Siti yang memiliki gaya bicara unik. Saya juga dapat merasakan chemistry yang kuat di antara para tokohnya. Hal itu jugalah yang berhasil membuat perasaan saya naik turun diajak melayang kemudian terempas ke tanah. Namun meskipun begitu, ketika semuanya muncul dengan sudut pandang orang pertama dalam satu bab, saya menjadi kebingungan. Ini siapa yang sedang bicara? Memang, ada narasi dengan font yang diitalic untuk memberi keterangan pada pembaca, siapa yang sedang bicara. Tapi tetap saja membingungkan. Lebih praktis kalau langsung saja beri keterangan nama tokoh sebagai petunjuk pada pembaca. Misalnya:

Sisilia

Aku menunggu….

Ketimbang

Rio tampak berjalan ke arah mobilnya.

Dasar dosen gila, bisa-bisanya…

Pembaca lebih mudah menangkap maksud penulis bila dituturkan memakai teknik pertama. Ternyata, konsep itu sudah dipakai penulis ketika mempublish novel SMH ini di Wattpad, tapi sepertinya da pertimbangan lain dari editornya. Percampuran sudut pandang dalam satu bab juga kurang mulus karena ada satu dua bagian yang tercampur pov 1 dan 3.

Di saat pertanyaan tentang mencintainya terlontar, aku tak bisa menjawab dengan pasti, mungkin aku sudah mencintainya, mungkin aku hanya terbiasa dengannya, mungkin aku hanya penasaran dengannya dan mungkin aku menyayanginya dan mungkin juga tidak, yang pasti aku tidak tahu ini cinta atau bukan, tetapi satu hal yang bisa kujawab dengan mantap, aku tidak takut dengannya dan terbiasa dengan kehadirannya dalam keadaan gelap. — Halaman 15

Gaya penuturan Octya mengalir lancar sehingga enak dibaca. Memakai bahasa baku di bagian narasi dan dialog. Hanya dialog tokoh Siti saja yang berbeda sendiri yaitu memakai bahasa campur sari karena karakter tokohnya yang dibuat unik. Rasanya tetap pas karena digunakan dengan tepat. Dalam novel ini ada beberapa kali adegan panas dingin yang semua selalu jadi favorit saya sehingga tidak cocok dibaca pembaca yang belum 17 tahun ke atas. Walaupun sampai bablas, tapi deskripsinya digambarkan cukup manis sehingga tidak membuat mual. Sepanjang novel, Octya juga banyak membuat kalimat-kalimat quotable yang manis. Menurut saya, penulisannya cukup rapi dan saya bisa merasakan karya ini ditulis dengan fun dan sepenuh hati. Hanya saja, typo-nya lumayan bertebaran. Belum lagi kata yang salah digunakan, seperti ‘acuh’ yang artinya ‘peduli’ tetapi di novel ini menjadi ‘cuek’. Atau kata ‘bergeming’ yang artinya ‘diam’ menjadi ‘tidak diam’. Namun penulis memiliki semangat untuk terus belajar, sehingga saya yakin karya-karya selanjutnya akan jauh lebih baik.

Terakhir, ending-nya. Ya ampuuun, nyeseeeek. Ketika tinggal satu bab lagi, saya bertanya-tanya, “Ini beneran mau tamat? Kok bisa? Kan masih ada beberapa misteri yang belum dipecahkan?” ternyata… ada buku sambungannya :’) Karena ceritanya menarik, saya jadi ingin membaca buku lanjutannya. I want more… i want more! Duh, Octya berhasil meracuni saya nih.

Saya rekomendasikan novel ini bagi pecinta drama romantis bertokoh-tokoh pria-wanita cakep-cantik sempurna ala-ala dongeng dengan cerita bitter sweet.

picsart_09-14-11-18-03

Giveaway

Mau novel Searching My Husband? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @CeL___LiNe dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GASMH dan mention akun twitter saya dan Octya.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Alasan apa yang membuatmu terpaksa “harus” menyembunyikan identitas pada pasangan?

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 17 sampai 23 September 2016. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 24 September jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Giveaway ini hanya boleh diikuti oleh kamu yang sudah berumur 17 tahun ke atas.

Ditunggu partisipasinya ya ^_^