Kisah di Balik Cerpen Saya di Buku Antologi Kampus Fiksi Emas 3

PicsArt_04-26-10.35.41

Waktu membaca pengumuman audisi antologi Kampus Fiksi Emas 3, saya tidak pernah menyangka kalau cerpen saya akan masuk di dalamnya. Bahkan saya tidak menyangka akan berhasil menulis cerpen untuk dikirimkan ke sana, Dari dulu saya memang jarang sekali menulis cerpen. Paling banyak dalam satu tahun 2-3 cerpen saja. Itu pun kalau ada ide kuat yang hadir di benak. Memang ada satu kala, saya cukup produktif–dalam hitungan saya–menulis cerpen, tahun itu sekitar 2012, saya menulis lima cerpen, kemudian saya kirimkan ke media dan sebagian masuk ke buku antologi.

Bagi saya, menulis cerpen adalah sesuatu yang sakral. Seringkali, saya menunggu ide-ide cerpen di kepala saya matang untuk menuliskannya.

Tahun ini, ketika membaca pengumuman audisi Kampus Fiksi Emas 3, saya tergetar untuk mengikutinya. Tiap kali akan mengikuti lomba menulis, biasanya saya menunggu getaran itu hadir. Banyak lomba yang secara akal ingin saya ikuti, tetapi tidak dibarengi getaran itu, biasanya pada akhirnya saya akan gagal mengikutinya. Sebut saja saya drama, tapi itu jujur adanya.

Buat saya, Kampus Fiksi yang didirikan oleh Penerbit Diva Press grup ini merupakan keluarga besar dimana saya mendapat banyak hal. Ilmu, keluarga, kenangan, hingga alasan kuat untuk terus datang ke kota Jogja. Karena itu pula, saya ingin sekali memiliki karya bersama mereka. Apalagi tema lomba kali ini begitu seksi: Film, Parfum, dan Musik. Boleh memilih salah satu atau dua, bisa juga paduan ketiganya.

Meski getaran itu kuat sekali, tak sekonyong-konyong ide untuk cerpen datang. Hingga deadline tinggal satu minggu, saya masih tak tahu akan menuliskan apa. Sampai saya melewati jalan menuju rumah, bertemu dengan seorang bapak yang seringkali saya temui. Bapak Malaikat, begitu saya dan Evi menyebutnya. Kami tak tahu nama aslinya, tak tahu pula dari mana asalnya. Yang saya tahu, bapak itu selalu berdiam di tempat yang sama, beberapa ratus meter dari rumah orangtua saya.

Ketika melihat bapak itulah, ide cerpen datang. Bapak ini yang memberi saya inspirasi:

PicsArt_04-26-03.25.18

Saya berimajinasi, seperti apa kehidupannya. Mungkin seperti ini, atau juga seperti itu. Saya gambarkan dalam cerpen, bagaimana kesehariannya setiap kali saya melihatnya. Kadang melamun, kadang menyesap rokok. Tapi tak pernah saya temui beliau berbicara dengan seseorang. Tak jauh dari tempat bapak itu selalu duduk, ada satu bangunan yang pada tahun lalu habis dilalap api. Sampai sekarang saat bangunan itu telah kembali berdiri kokoh, penyebabnya masih spekulasi, belum juga diketahui.

Dua hal itulah yang menjadi inspirasi saya untuk menulis cerpen berjudul Dokumenter Tentang Lelaki yang Menyekap “Seandainya” di Mulutnya. Begitulah, ide seringkali datang dari hal-hal yang dekat, kadang dari hal yang tak terbayangkan. Saya akhirnya mengambil tema film. Dalam waktu tiga hari, cerpen itu selesai saya tulis. Waktu yang terbilang singkat buat saya yang biasanya menulis satu cerpen saja membutuhkan dua minggu hingga satu bulan. Menjelang beberapa jam dari deadline, cerpen itu saya kirimkan ke email panitia. Sambil merapal mantra: kirim lalu lupakan. Pura-pura santai dan tak menunggu waktu pengumuman, padahal ketar-ketir tiap kali anak-anak Kampus Fiksi membincangkan perihal lomba XD Saat membaca 254 judul cerpen yang masuk pun, saya masih terus berusaha santai. Padahal aslinya, membaca judul-judulnya saja hati saya sudah mencelos.

Selain saya, ada Evi juga yang mengikuti lomba ini. Biasanya, kalau kami ikut, hanya salah satu saja yang masuk. Duh, beban banget :’) Namun saya tidak putus harapan, mungkin saja kali ini kami bisa lolos bersama.

Satu bulan kemudian, saat pengumuman 13 judul dan nama yang lolos dalam buku antologi Kampus Fiksi Emas 3, saya membacanya pelan-pelan.

Ada nama Evi…. Saya ikut senang, tapi semakin deg-degan.

Lalu… ada nama saya! Saya pun memekik sambil memeluk Evi yang sedang duduk di pinggir saya. Saya kabarkan berita membahagiakan itu.

Baru kali ini, kami bisa lolos lomba bersama. Rasa bahagianya jadi berlipat-lipat ^_^ Apalagi karya saya bisa satu buku dengan cerpen-cerpen lain yang bagus-bagus. Pemenang pertama, yaitu cerpen karya Siska Nurohmah yang memakai nama pena Lugina W. G. menjadi judul buku antologi Kampus Fiksi Emas 3: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya. Buku ini menjadi buku pembuka tahun 2016. Semoga setelahnya, saya bisa menelurkan karya-karya lain yang diabadikan dalam buku.

PicsArt_04-26-07.29.33

Ini daftar isi bukunya:

1. Wajah-wajah dalam Kaset Pita – Gin Teguh
2. Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan – Amaliah Black
3. Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan – Evi Sri Rezeki
4. Black Butterfly – Sugianto
5. Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya – Lugina WG
6. Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap ‘Seandainya’ di Mulutnya – Eva Sri Rahayu
7. Le Nozze di Figaro – Sayfullan
8. Goodbye – Ghyna Amanda Putri
9. Sepasang Mata Terakhir di Negeri Ini – Frida Kurniawati
10. Cintalah yang Membuat Diri Betah Untuk Sesekali Bertahan – Puput Palipuring Tyas
11. Psikadelia – Farrahnanda
12. Yang Menunggu di Dalam Cermin – Erin Cipta
13. Kisah yang Tak Perlu Dipercaya – Reni FZ

 

PicsArt_04-26-10.24.12

Bersama para penulis antologi Kampus Fiksi Emas 3: Sayfullan, Reni FZ, Farrahnanda, Ghyna Amanda, Sugianto, Evi, dan Frida.

Tentang Bapak Malaikat
Setelah pengumuman itu, saya bertemu dengan Bapak Malaikat. Saya ingin tahu latar belakangnya. Saya tanyakan di mana rumahnya? Butuh dua kali mengulang pertanyaan untuk mendapat jawabannya. Sepertinya, Bapak yang sudah sepuh pendengarannya sudah tidak begitu jelas. Katanya sambil menunjuk ke arah satu gang, rumahnya dekat sana. Saya tanyakan namanya, dia tidak menjawab. Saya tanyakan lagi, dia tetap bergeming. Mungkin Bapak Malaikat tak mau menyebutkan namanya, maka dari itu saya berhenti bertanya. Saya tanyakan apakah bapak masih memiliki keluarga, katanya ada. Tidak jelas dia menyebutkan angka 86. Bingung juga, apa maksudnya anaknya ada sebanyak itu? Rasanya tidak mungkin. Waktu saya mau bertanya untuk kesekian kali, dia menggeleng, sepertinya merasa terganggu. Akhirnya saya sudahi saja obrolan singkat kami.  Lain kali, saya ingin kembali berusaha mengenalnya lebih dekat lagi.
“Terima kasih, Pak, sudah menjadi inspirasi saya. Semoga Bapak selalu sehat.”

 

 

Tips Membuat Bank Sampah Sendiri di Rumah

PicsArt_04-17-03.33.14

Ibu-ibu seperti saya pasti tiap hari berhadapan dengan berbagai sampah rumah tangga, seperti bekas makanan yang enggak habis, bungkus sachet bumbu masakan, sampai dengan plastik-plastik pembungkus snack bekas camilan anak. Sehari saja tong sampah sudah penuh. Itu baru ibu rumah tangga biasa seperti saya, apalagi kalau saya melihat trash bag tetangga yang punya usaha jajanan anak, sehari bisa dua trash bag penuh kalau penjualannya sedang laris. Dari obrolan dengan tetangga, ternyata pengangkutan sampah kami awalnya hanya sama-sama tergantung pada tukang sampah yang datang seminggu dua kali. Sayangnya, kadang Aa tukang sampah enggak datang sesuai jadwal, sehingga di depan rumah kadang berjajar kantong-kantong sampah yang memelas minta diangkut. Kami sama-sama enggak kepikiran solusi selain pasrah saja menunggu Aa tukang sampah datang.

Selain enggak sedap dipandang dan bau, sampah-sampah itu akan berpengaruh pada kesehatan kalau terus dibiarkan karena menjadi sarang perkembangbiakan bibit penyakit yang kemudian disebarkan oleh lalat, tikus, dan serangga. Dan tentunya bila menyumbat saluran air, bisa menyembabkan banjir.

IMG_20151211_150801

Ternyata dari data Kementrian Lingkungan Hidup, di Indonesia, setiap harinya dihasilkan sampah sebanyak 200.000 ton. Dari jumlah yang fantastis itu, sebanyak 30.000 tonnya adalah sampah non organik, dan hanya 10.000 ton saja yang bisa didaur ulang. Sisa 20.000 tonnya? Dua pertiga sampah non organik ini sulit didaur ulang karena sudah bercampur dengan sampah lain, sehingga sulit memilahnya. Lalu, berapa lama sampah-sampah itu dapat terurai?

Berikut ini daftar terurainya sampah-sampah non-organik:

NO JENIS SAMPAH WAKTU
1 Kertas 2 – 5 bulan
2 Kardus/Karton 5 bulan
3 Kain nilon 30 – 40 tahun
4 Kain katun 2-5 bulan
5 Filter rokok 10 – 12 tahun
6 Kantung plastik 10 – 20 tahun
7 Benda berbahan kulit 25 – 43 tahun
8 Baju/Kaos kaki yang berbahan Nilon 30 – 40 tahun
9 Plastik keras 50 – 80 tahun
10 Jaring ikan 30 – 40 tahun
11 Aluminium 80 – 100 tahun
12 Batu baterai bekas 100  tahun
13 Kaleng timah 200 – 400 tahun
14 Botol kaca / Benda berbahan kaca 1 juta tahun
15 Styrofoam Tidak dapat terurai
16 Botol plastik Tak dapat diperkirakan waktu hancurnya

Sumber dari dhamma-link (dot) blogspot (dot) co (dot) id. Pada artikel berjudul “Berapa Lama Sampah Plastik Dapat Terurai”.

 

Sekarang terbayang kan, betapa pentingnya kita memilah sampah-sampah? Kemungkinan kita enggak melakukan pemilahan sampah karena enggak tahu bagaimana cara memilahnya. Atau memang belum paham seberapa pentingnya aksi yang sebenarnya sederhana itu kita lakukan.

 

Iklan Layanan Masyarakat Tolak Linu Herbal Bertema “Memilah Sampah”

Membaca fenomena itu, PT. Sido Muncul Tbk. yang memang konsisten menyoroti kepedulian lingkungan, mengkampanyekan “pentingnya dan bagaimana cara pemilahan sampah” lewat iklan produk Tolak Linu Herbal yang berfungsi sebagai iklan layanan masyarakat. Menurut Pak Irwan Hidayat, Dirut PT. Sido Muncul Tbk. tujuannya agar masyarakat mengetahui dan paham persoalan sampah di Indonesia. Sehingga nantinya masyarakat bisa belajar dari iklan tersebut kemudian mau memilah sampah domestik rumah-rumah mereka. Selanjutnya, masyarakat juga dapat membantu sesama dengan memberikan hasil pemilahan sampah itu pada pemulung. Solusi cerdas untuk membantu mengatasi masalah sampah domestik.

IMG_20160412_133051

Turut hadir dalam acara, Menteri Lingkungan Hidup RI, Walikota Jakarta Selatan, dan Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

Iklan layanan masyarakat bertema “Lakukan Hal Sederhana dengan Cinta yang Besar” ini dibuka dengan memperlihatkan pemandangan tempat pembuangan pembuangan akhir sampah (TPA), dimana terlihat sampah menggunung-gunung. Kemudian Tantri Kotak memberikan penyuluhan cara memisahkan sampah organik dan sampah non organik. Lalu diperlihatkan bahwa kita pun dapat beramal dengan memberikan sampah-sampah non organik pada pemulung. Iklannya sudah memberikan tips yang bisa langsung kita praktikkan.

Peresmian iklan layanan masyarakat peduli lingkungan

Peresmian iklan layanan masyarakat peduli lingkungan

Iklan ini telah di-launching pada tanggal 12 April 2016 lalu di lapangan sepak bola yang beralamat di KH. Naim III, Cipete, Jakarta Selatan. Launching tersebut dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc, Walikota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi, dan Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Adji. Pada hari itu PT. Sido Muncul menyerahkan sumbangan gerobak sampah pada masyarakat setempat. Dua hal yang paling menarik dari launching produk iklan Tolak Linu Herbal yang bisa membantu menghilangkan pegal dan linu itu adalah para undangan disuguhkan pemandangan TPA dan produk-produk hasil daur ulang sampah non organik.

Sumbangan gerobak sampah dari PT. Sido Muncul untuk masyarakat

Sumbangan gerobak sampah dari PT. Sido Muncul untuk masyarakat

 

Tips Membuat Bank Sampah Sendiri di Rumah

Menurut Wikipedia, pengertian Bank Sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah. Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah.

Karena Bank Sampah ini kita buat di rumah, anggotanya cukup keluarga yang tinggal di rumah saja. Seperti ibu, bapak, dan anak. Ini juga bisa menjadi salah satu cara mendidik anak semenjak dini supaya peduli lingkungan. Saya jadi teringat sharing Miss Earth tahun 2009, Nadine Zamira, saat bertemu di acara launching iklan Tolak Linu Herbal tempo hari. Nadine bercerita bahwa dia dibiasakan sadar lingkungan semenjak kecil. Dia berkisah memori terindah dalam hidupnya adalah ketika bertualang ke alam bersama keluarga. Karena sering bermain di alam itulah, sensivitasnya terhadap alam terbangun.

Miss Earth 2009, Nadine Zamira.

Miss Earth 2009, Nadine Zamira.

Mungkin orangtua yang sibuk akan kesulitan mencari waktu mengajak putra-putrinya bertualang ke alam, tapi bukan berarti enggak bisa menanamkan kepedulian lingkungan pada anak-anak. Salah satu cara sederhananya adalah dengan memilih tong sampah berbentuk lucu-lucu, kita beri nama tong-tong sampah itu sehingga anak-anak merasa memiliki kedekatan seperti pada teman. Barulah kemudian kita mengajarkan cara memilah sampah-sampah atau membangun Bank Sampah kecil di rumah.

Kerajinan tangan yang terbuat dari sampah plastik.

Kerajinan tangan yang terbuat dari sampah plastik.

Cara membuat Bank Sampah di rumah:

  1. Pisahkan sampah menurut jenisnya, yaitu organik dan non organik, dengan memasukannya pada tempat sampah terpisah.
  2. Bagi sampah ke dalam tiga tempat. Yaitu untuk sampah organik, sampah plastik, dan sampah kertas atau karton. Agar anak mudah ingat, beri nama berbeda pada tong sampah organik dan sampah non organik tersebut. Misalnya TongGa, TongGo, dan TongGi.
  3. Sebaiknya buang terlebih dulu air dalam botol-botol plastik atau kaca.
  4. Kita enggak perlu memberikan sendiri sampah-sampah itu ke tempat pengepul, cukup berikan saja pada pemulung. Ajak serta si kecil saat memberikannya, sehingga dia akan mengerti bahwa sampah pun bermanfaat.
  5. Kita pun dapat menggunakan sampah kertas karton untuk bahan-bahan kerajinan tangan yang kita buat bersama si kecil. Sampah dapat diolah, si kecil pun menjadi kreatif.

Itulah sedikit tips membuat Bank Sampah sendiri di rumah. Semoga bermanfaat.

Bersama para blogger yang peduli lingkungan

Bersama para blogger yang peduli lingkungan

 

 

Review dan Giveaway Novel “In (De) Kos” Karya Swasmita Buwana

PicsArt_04-08-12.01.58

Ini kali kedua saya membaca novel karya Swasmita Buwana. Saya mendapat kejutan darinya. Tentunya kejutan yang bagus. Sebelum membahas hal itu, saya mau memperkenalkan dulu siapa itu Swasmita Buwana.

Mita

Siapa Swasmita Buwana?

Biasa dipanggil Mita. Penyuka segala sesuatu berbau unyu, drama unyu, film unyu, komik unyu, novel unyu, terlebih pria unyu. Katanya kalau ketemu, kesan orang-orang padanya adalah kalem dan pendiam, tetapi setelah mengenalnya ternyata anaknya kelam dan tidak bisa diam.

Mau kenalan lebih jauh? Follow aja IG @swasmitabuwana dan atau Twitter @smasmitabuwana

Balik lagi ke novel In (De) Kos.

Data Buku

Judul : In (De) Kos

Penulis : Swasmita Buwana

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tebal : 256 Halaman

Editor : Afrianty P. Pardede

ISBN : 9786020278520

Blurb :

Sadewo Subagja, cowok ganteng yang sok cool ini harus mengubur cita-citanya di ibu kota karena wajib mengemban amanah mulia dari sang eyang yang baru saja meninggal. Dewo, diberikan warisan berupa rumah kosan yang berisi perempuan-perempuan ‘ajaib’ se-Yogyakarta. Dewo harus menjalankan tugas sebagai bapak kosan dan bertanggung jawab dengan segala hal yang terjadi di kosan. Hidup Dewo menjadi sangat berwarna, tapi terkadang seperti berada di neraka. Ulah perempuan-perempuan ajaib itu membuat Dewo kewalahan. Panggilan-panggilan ‘ajaib’ pun ditujukan padanya: De, Wo, Dewo, Mas De, Pak De, Pak Kos, Pak Kos Ganteng, Mas Rangga, dan lain-lain. Belum lagi, Dewo harus meninggalkan pujaan hatinya yang berada di Jakarta. Rasanya Dewo tidak sanggup lagi menjalankan tugas yang hampir mirip kutukan ini.

Review Buku

Cover novel In (De) Kos ini unyu, dengan pemakaian warna-warna pastel dan gambar yang imut. Cukup menarik untuk membuat pembaca remaja berkeinginan membawa bukunya ke kasir ^_^ Judul yang dipilih sangat mewakili isi bukunya, Buat yang sedang atau pernah merasakan hidup kos-kosan, judul ini membangkitkan kepenasaran. Blurb novelnya sudah menggambarkan masalah-masalah yang dihadirkan dalam cerita, meskipun ada satu konflik penting tidak dituliskan di sana, padahal bagian itu paling menarik menurut saya.

Dari blurbnya, sudah terbayang kalau novel ini melibatkan banyak tokoh, meski dengan satu tokoh sentral. Tapi terbayangkah bagaimana menghidupkan banyak sekali tokoh dalam novel, dengan memberi para tokoh itu porsi pas sehingga tidak hadir untuk menjadi sekadar tempelan? Itu bukan perkara mudah. Membuat satu tokoh ‘memorable‘ bagi pembaca saja sudah sulit. Memorable di sini bukan saja membuat pembaca ‘ngeuh’ dengan keunikan atau kekhasan satu karakter, tetapi membuat pembaca mengingat si tokoh sampai jauh ketika satu buku selesai dibaca. Jangankan membuat yang memorable, yang ‘jelas’ saja karakternya sudah peer banget.

Dalam In (De) Kos, yang ceritanya sudah mengambil kisah anak kos-kosan, mau tidak mau tentunya penulis ‘harus’ menghadirkan banyak karakter. Karena jelas beda rasanya kalau cerita tentang kosan dengan anak kos dua orang saja, mungkin lebih tepat jadi kisah di kontrakan dengan sentral konflik yang berfokus bukan pada interaksi anak-anak kos dan bapak kosnya.

Cinta? Ah, itu hanya alasan klasik pria yang menginginkan sesuatu tanpa ingin memberikan sesuatu. – Halaman 126 –

Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh dalam In (De) Kos? Tokoh-tokoh dalam In (De) Kos ini hampir seluruhnya komikal. Namun Mita berhasil memberikan perbedaan yang ‘jelas’ bagi 11 tokohnya. Masing-masing tokoh memiliki ciri khas sehingga pembaca tidak akan tertukar antara satu dan lainnya, apalagi ditambah dengan adanya ilustrasi beserta penjabaran karakter tiap tokohnya. Namun tokoh utama Sadewo dan Dini, masih terasa sekali ‘mirip’ dengan kedua tokoh utama dalam novel Mita sebelumnya: Pasangan Labil. Sepertinya Mita harus lebih mengeksplor lagi karakter-karakter tokoh utamanya, sehingga tidak membuat novel berikutnya menjadi kisah berbeda untuk tokoh yang ‘sama’. Kesamaan ini bukan hanya dari segi karakter, tapi juga tata bahasanya. Saya yakin Mita punya potensi lebih untuk menciptakan tokoh-tokoh di luar kotak-nya, tanpa meninggalkan ciri khas penulisannya. Karena terbukti Mita berhasil memberikan nuansa-nuansa berbeda pada tokoh-tokoh lain di luar Dewo dan Dini dalam novel ini.

Konflik dalam novel ini terbagi ke dalam dua bahasan besar. Pertama, konflik Sadewo dengan anak-anak kosannya. Kedua, konflik Sadewo dengan Dini. Meskipun konflik yang diketengahkan ‘banyak’ tetapi semuanya sama-sama ringan. Pembaca tidak membutuhkan energi besar untuk menyelami konflik-konfliknya saking ringannya. Mita memberikan keenam anak kos Sadewo masing-masing konflik yang dibahas dalam satu bab khusus untuk satu tokoh. Mulai dari masalah masakan yang membuat sakit perut, sampai mengangkat isu perjodohan. Di bagian-bagian inilah kelucuan banyak bertebaran, membuat saya senyum-senyum sendiri. Kemudian di bagian terpisah, dikisahkan bagaimana Sadewo mengejar cintanya. Bagian ini yang paling menarik buat saya. Terutama bagian prolog yang mengisahkan bagaimana Sadewo dan Dini berkenalan.

Lagi pula keseriusan lelaki juga dinilai dari saat mereka mencoba mendekati wanita tersebut, kan? – Halaman 206 –

Namun karena konfliknya diceritakan dengan cara hampir menyerupai sketsa-sketsa yang selesai saat itu juga, tidak ada kedalaman dalam semua konflik yang disuguhkan. Tapi bukan berarti pembaca tidak mendapat amanat dari sana. Tentu saja selalu ada yang bisa dipetik dari tiap kasus. Ada yang saya sayangkan, tokoh Sadewo ini kan lulusan S2 Manajemen UI,tapi latar pendidikannya itu tidak dijadikan konflik atau memberi warna berbeda pada cerita. Begini, apa gunanya Sadewo lulusan S2 dengan keluaran S1? Toh, tidak mengubah dan tidak berpengaruh apa pun dalam jalinan cerita. Sadewo tetap bapak kos yang sehari-harinya hanya melakukan rutinitas tidur-makan-nonton TV. Warna di sini semisal Sadewo mengelola kosannya dengan dasar pemikiran manajemen yang ketat, atau bagaimanalah ada sentuhannya. Karena sebagai lulusan S2, seharusnya Sadewo punya ‘impian’ yang ingin dia kejar, atau mungkin passion yang membuat kesehariannya lebih semarak. Mungkin kalau Mita membuat kelanjutan cerita In (De) Kos, itu bisa jadi pertimbangan untuk membangun konflik lebih dalam.

Kejutan yang saya mention di awal posting adalah kerapian tulisan Mita. Ada kemajuan beberapa tingkat dari segi teknik dibandingkan novel Mita terdahulu. Editing In (De) Kos pun rapi, hanya saya temukan dua typo dan penempatan tanda baca yang double.

Saya merekomendasikan novel ini bagi kamu yang suka bacaan super ringan dan kocak ^_^

ilustrasi indekos

Salah satu ilustrasi dalam novel In (De) Kos

Giveaway

Mau novel In (De) Kos? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @swasmitabuwana dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GAInDeKos dan mention akun twitter saya dan Mita.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Kalau kamu ngekos, kepengin punya temen sekosan kayak apa sih?

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 8 sampai 14 April 2016. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 15 April jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

 

[Cerpen] “Panggungku” Dimuat di Batak Pos Tahun 2013

 

Sumber gambar yudasmoro (dot) net

Sumber gambar yudasmoro (dot) net

Panggungku*

Oleh: Eva Sri Rahayu

 Aku berdiri di panggung. Menatap penonton yang memberikan standing applause, lalu membungkuk memberi hormat, kemudian melayangkan ciuman jauh. Tiba-tiba saja, wajah-wajah penuh binar kekaguman itupun berubah menjadi pandangan jijik dan menyunggingkan senyum penuh ejekan. Sorot lampu panggung yang biasanya membuatku tampak semakin bersinar, terasa seperti lampu sorot interogasi.

Suara tepuk tangan yang terdengar keras dan seperti tidak akan pernah putus itu ikut berubah menjadi seruan kekecewaan, dan teriakan cemoohan. Semakin keras, semakin meninggi, dan tiba-tiba saja tiang penyangga lampu panggung terlepas menimpaku!

Suara seruan pun berubah menjadi jerit histeris kepanikan.

***

Aku terbangun dengan kesedihan luar biasa, sekaligus rasa lega yang datang sama besarnya. Mimpi. Mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Mimpi itu datang karena aku terlalu khawatir akan pertunjukan nanti malam. Ya, pasti karena itu. Ini bukan pertanda atau de javu. Aku yakin. Aku menghela napas panjang, menenangkan diri, lalu bangkit berdiri dari tempat tidur, berjalan ke jendela yang gordennya masih tertutup.

Kusibakkan gorden, membuka daun jendela, dan membiarkan udara pagi memasuki paru-paruku dengan bebas. Ragaku mungkin ada di kamar ini, tapi jiwaku telah berdiri di pangggung, menunggu tirai terangkat. Malam ini aktingku akan diuji dengan peran yang sangat kontroversial, sangat menantang, sebagai wanita serigala.

Pikiranku kemudian mengembara pada saat-saat pertama kali aku memasuki dunia panggung. Dunia yang kusebut sebagai my neverland. Neverland, sebuah negeri di mana setiap orang bisa terus menjadi seseorang di waktu paling membahagiakan, masa kecil. Tapi bagiku, saat paling membahagiakan adalah saat bisa menjadi siapa saja dengan jutaan cerita yang menyertainya. Neverland-ku adalah negeri panggung.

Panggung pulalah yang mempertemukan aku dengan pria yang kucintai. Gara. Pria yang telah membuatku merasa begitu rendah sekaligus mahadewi. Aku tahu dia mencintaiku dengan sangat besar. Tapi egonya telah menghancurkan semua itu.

Kami sama-sama mencintai panggung. Karir kami pun dimulai di saat yang sama. Aku sebagai aktris teater, dan dia sebagai sutradara muda. Sayangnya, karirku jauh lebih melesat. Aku memiliki bakat alami dan aura bintang yang besar. Semua tokoh yang kuperankan begitu hidup dan bernyawa. Gedung teater tidak pernah sepenuh itu sebelum aku datang. Dalam waktu singkat, kepopuleranku telah menyamai aktris yang melegenda.

Tapi bintang yang cemerlang tidak melekat pada Gara. Semua pertunjukannya gagal, sekalipun aku terlibat di dalam garapan itu, semua penonton dan kritikus menilai pertujukan itu hanya berpusat padaku, sedangkan sutradara tidak memberi sentuhan apa-apa. Berkali-kali seperti itu membuat Mas Putra—pimpinan teater kami—tidak lagi mempercayakan garapan besar padanya. Gara frustrasi.

Aku berusaha menghiburnya, memberinya semangat. Namun sikapku justru membuatnya semakin merasa terpuruk. Sikapnya yang lembut berubah kasar. Setelah itu, aku merindukan malam-malam di awal karir kami. Malam-malam penuh perbincangan tentang mimpi-mimpi, masa depan, dan tentang cinta. Aku menyukai saat-saat dia menceritakan konsep-konsep pertunjukannya, mendiskusikannya dengan berapi-api. Semangatnya itu selalu membuatku percaya, suatu hari, dari tangannya, akan lahir sebuah maha karya. Tapi saat itu tidak juga tiba, dan waktu yang terlewati malah juga menggerogoti cinta kami.

Hujan turun, menimbulkan bau tanah basah, membuatku kembali menginjak bumi setelah lamunan masa lalu melenakan. Tersadar oleh waktu yang terbuang, membuatku bergegas untuk segera pergi ke gedung. Aku perlu menanamkan chemistry untuk pertunjukan malam ini. Kalau mau jujur, aku belum lagi siap tampil. Aku begitu kesulitan menghidupkan karakter ini. Karakter tokoh yang unik, seorang wanita yang dibesarkan oleh serigala, hingga sifatnya seperti serigala. Kesulitan ini pernah juga kukatakan pada Mas Putra.

“Mas, aku ragu memerankan tokoh ini. Aku tidak merasakan trans dengannya,” kataku pada Mas Putra, saat latihan terakhir sebelum gladi kotor.

“Rasi, kamu pasti bisa. Yakin saja, aktingmu bagus,” katanya menenangkanku.

“Tapi aku merasa seperti robot, hanya mengucapkan dialog yang harus kuucapkan, dan bergerak sesuai tuntutan naskah saja!” jeritku frustrasi.

“Tiket sudah sold out, kita tidak mungkin mengundurkan pertunjukan. Jangan manja!” tegas Mas Putra membuatku terdiam dalam diam yang paling diam.

Dan di sinilah aku sekarang, berdiri sendirian di atas panggung yang telah selesai di setting menjadi hutan rimba buatan. Tidak lama kemudian, satu persatu dari tim berdatangan. Mereka menyapaku semringah, memberi semangat. Di negeri Neverland-ku ini, aku tidak pernah sendirian. Setiap pertunjukan adalah hasil kerja keras banyak tangan dan keringat. Mulai dari penjaga tiket, office boy, para penata, hingga aktor dan sutradara. Merekalah yang sesungguhnya menciptakan Neverland-ku.

Pintu gedung terbuka untuk kesekian kalinya. Aku menangkap sosok Gara yang tak sedikit pun menatapku. Padahal aku yakin, dia tahu betul saat ini aku sudah berada di panggung. Tapi bukan itu yang membuat hatiku tersayat. Aku sudah biasa diperlakukan tak acuh seperti itu. Yang membuatku tak enak hati, karena sekilas, aku seperti memergokinya sedang mengerling nakal pada Tira—seorang aktris baru di teater kami. Tira hanya sebentar melintas di depan Gara. Tira sedang berjalan ke arahku, membawakan kostum yang akan kugunakan nanti malam. Tapi hatiku tak bisa dibohongi, aku mencium sesuatu yang tak beres.

***

Aku tidak pernah menyangka pertunjukan ini akan menjadi kuburan bagi karir keaktrisanku. Saat pertunjukan tiba, dengan penuh rasa gugup aku memasuki panggung. Aura panggung yang besar selalu menyedotku, mengubah diriku “menjadi” tokoh yang harus kumainkan, dan bukan “berperan”. Tapi kali ini aku tidak bisa. Aku kebingungan. Berkali-kali aku salah mengucapkan dialog, salah blocking, dan bahkan salah mengambil properti.

Pertunjukan yang harusnya menjadi luar biasa dan mengharu biru itu berubah menjadi sebuah komedi. Tidak pernah terjadi sebelumnya, Mas Putra sebagai sutradara sampai menghentikannya di tengah-tengah, membuat penonton semakin menggila. Mereka berteriak-teriak memaki, dan melempari panggung. Pertama kalinya aku tidak ingin berada di panggung. Aku takut. Melihatku malah terdiam shock, Mas Putra dengan kasar menyeretku ke belakang panggung.

Di pinggir panggung, aku melihat seringai puas muncul di bibir Gara. Apa mataku salah melihat? Apa yang dipikirkan lelakiku hingga bisa berekspresi seperti itu? Tapi pikiran tentang Gara harus segera kusingkirkan, karena Mas Putra segera mendampratku tanpa ampun. Dalam rasa takut dan kecewa pada diri sendiri, aku mendengar semua kata-kata menyakitkan Mas Putra. Tak ada bantahan, bahkan aku sama sekali tak membuka mulut. Aku terus diam, kali ini tanpa ekspresi, tanpa topeng apa pun.

***

Subuh sudah menyapa, tapi gagal membuatku terlelap. Aku sangat gelisah. Bayangan kejadian di atas panggung terus menghantui. Beginikah sakitnya gagal? Beginikah perasaan Gara setiap kali pertunjukan yang disutradarainya berakhir? Aku bukan tak pernah gagal, tapi merasakan jatuh seperti ini … jelas baru pertama kali. Ini bukan hanya sekadar jatuh, tapi hancur. Aku harus menumpahkan kesedihanku pada seseorang, dan orang pertama yang kupikirkan adalah Gara.

Maka aku menelepon Gara, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Aku menyusul ke apartemennya. Tapi setelah aku membuka pintu dengan kunci milikku yang diberikan Gara, dia tetap tidak kutemukan. Sial, ke mana dia?

Dengan segala kecemasan, kesedihan, dan galau yang memuncak, hanya satu tempat yang kupikirkan, panggung! Ya, aku harus kembali ke sana. Menyelesaikan semua keresahan di tempat asalnya. Bukankah berada di panggung selalu membuatku tenang? Bukankah panggung telah menjadi rumah bagiku?

Aku segera pergi ke gedung teater. Gedung telah sepi. Perlahan aku membuka pintunya. Berjalan dalam gelap di antara bangku-bangku penonton. Bangku-bangku yang berderet ini tadi penuh oleh penonton, mereka datang untukku. Sesak sekali dada ini, seperti tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Aku duduk di salah satu bangku, menatap lurus ke depan. Tirai panggung tertutup, tapi cahaya samar dari lampu di baliknya menyusup di antara sela bawah tirai.

Bagaimana perasaan mereka saat melihatku bertindak tolol? Pasti, bukan hanya aku yang kecewa, mungkin mereka lebih merasa kecewa dari yang kurasa. Cukup! Aku tidak bisa selalu menyesali diri bila mengingatnya. Aku beranjak dari bangku penonton, lalu berjalan mendekati panggung.

Samar aku mendengar suara desah napas. Siapa malam-malam begini masih berada di panggung? Di panggungku? Aku mempercepat langkah, semakin mendekati arah suara. Sekarang terdengar bisikan pelan seorang pria, disusul tawa genit seorang wanita. Kusingkap tirai panggung, dan hampir membatu melihat dua sosok yang kukenal tengah bercinta di panggung.

“Rasi!” teriak Gara kaget.

Sedangkan Tira menjerit sambil menutupi tubuhnya. Aku dan Gara berdiri berhadapan.

“Kenapa?” tanyaku singkat dengan nada getir.

Gara membuang muka, tapi sekejap kemudian tertawa keras.

“Mau bergabung bersama kami di panggung ini, aktris besar Rasi?” tanyanya sinis. Nada mencemooh itu semakin membuatku terluka.

“Teganya kamu, di panggungku!” kataku histeris.

“Panggungmu? Egois sekali! Oh, iya, aku lupa. Tadi kamu bermain sangat brilian, Sayang.” Gara bertepuk tangan, suaranya membahana di panggung.

“Cukup! Kamu keterlaluan!”

“Kamu pikir aku sedih melihatmu gagal? Tidak, Sayang, aku berpesta….”

“Inikah … inikah sosok pria yang kucintai?” tanyaku, lebih pada diri sendiri. Sekalipun aku setengah mati ingin menangis, tidak kujatuhkan satu tetes pun air mata.

“Cinta? Jangan pernah bicara cinta. Cinta hanya ada di panggung, setelah itu semuanya hanya mitos,” lanjutnya. Kata-katanya terus mengiris.

Kutatap jauh ke dalam matanya. Mata itu hanya menyorotkan kebencian, membuatku tersentak. Kenapa kamu membenciku, lelakiku? Sudah tidak tersisakah cinta itu? Pandangannya menyadarkanku, tidak ada yang tersisa dari hubungan kami. Mungkin, sebuah perselingkuhan masih bisa kumaafkan, tapi ketika cinta telah menguap, apalagi yang bisa kupertahankan? Dengan sisa harga diri, aku berlalu meninggalkan Gara yang tertawa puas. Suara itu lebih mengerikan dari lonceng kematian.

***

Ajaib, hanya itu kata yang tepat ketika akhirnya aku bisa tidur tanpa bermimpi. Meskipun terbangun dengan kepala pusing dan menerima rentetan kritikan di koran-koran. Nyatanya dunia tidaklah kiamat. Semua ini juga tidak bisa membunuhku. Aku masih bernapas, merasakan angin yang melintas di tengkukku, juga sengatan matahari yang membakar.

Maka aku memberanikan diri untuk sekali lagi berdiri di panggung. Melunaskan hutang kegagalan. Aku telah membulatkan tekad, aku tidak akan menyerah, aku tidak akan meninggalkan negeri Neverland-ku! Aku menemui Mas Putra dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri yang lebih besar daripada yang pernah kurasakan sebelum-sebelumnya. Meyakinkannya agar malam ini tetap diadakan pertunjukan. Mas Putra akhirnya setuju juga.

Tapi kami harus menelan konsekuensi dari kegagalanku kemarin, karena lebih dari delapan puluh persen penonton mengembalikan tiket. Sebelum pertunjukan, tetap terjadi kegaduhan seperti biasa—hanya kali ini, bukan keributan penonton yang tak sabar ingin memasuki gedung—tapi mereka tak sabar ingin mendapatkan uang pengembalian tiket. Semuanya tampak pasrah, tapi tidak bagiku. Aku akan mempertahankan Neverland-ku, aku akan tetap pentas. Walaupun hanya untuk satu atau dua penonton, karena mereka datang untukku. Dan sekali lagi aku memasuki negeri milikku itu.***

 

Bandung, 2012

*Pernah dimuat di Batak Pos tahun 2013 dengan judul Neverland

 

 

 

Kado Unik Buat Tuan Absurd

EvaFuan

 

Entah konspirasi apa antara semesta dengan Tuhan, hingga saya dianugerahi pasangan yang absurd XD Saya memanggilnya Prajurit Rumput. Hobinya bikin scrapbook, nulis terutama cerpen horor, nyanyi-nyanyi enggak jelas tapi pede-pede aja, main game, fotoin saya–dulu sih ya pas pendekatan, sekarang udah enggak lagi, eh, ini kode banget sih–dan main skateboard. Dia berhasil meluluhlantakkan pandangan saya kalau anak-anak skateboard itu gaul, karena Prajurit Rumput ini anaknya cupu-cupu gitu *dilempar skateboard*  Tapi di antara keanehan-keanehannya seperti tulisannya yang bikin saya geleng-geleng, suara falesnya pas nyanyiin lagu buat saya, scrapbook bikinannya yang ajaib–ini kata paling halus kalau gak bisa dibilang ganjil–terus hasil fotonya yang angle-nya hadeuuh, dan keteguhannya gak mau ngajarin saya main skateboard, dia ini punya prinsip gak ngerayain hari ulang tahun.

Masalah?

Jelas dong masalah buat saya. Soalnya saya kan kepengin ulang tahun saya dan hari pernikahan kami dirayain XD

Untungnya saya udah agak mature-an dikiiiit. Gak menggebu lagi sama tanggal-tanggalan.

Kok malah kayak ngejelekin Prajurit Rumput ya? Enggak kok kalau kamu liat cara saya ngomong tadi, karena mata saya berbinar-binar sayang gitu, hohoho. *Sodorin ember buat muntah, lagi diet kantong plastik soalnya XD

Balik lagi ke persoalan maha penting ulang tahun. Saya sebagai mantan manusia yang terobsesi sama hari ulang tahun, masih tersisa sari-sari keinginan buat ngerayain hari kelahiran pasangan sendiri 😀

Empat tahun lalu, saya dapet ide brilian ngasih kado buat Tuan Absurd. Waktu itu kami masih long distance relationship. Dia di Bogor, saya di Bandung. Saya pikir, dia pasti seneng banget kalau saya ada di Bogor pas hari ulang tahunnya. Meskipun dia keukeuh gak ngerayain, tapi gak ada salahnya kan saya kasih kado istimewa. Istimewanya apa? Prajurit Rumput saya ini kerja di restoran gitu. Nah, hari itu, saya ke sana bukan sebagai pasangannya, tapi sebagai pegawainya. Iya, beneran! Saya minta izin sama bosnya buat jadi karyawan sehari dengan alasan observasi lapangan buat memenuhi riset penulisan novel terbaru saya, wahahaha. Bos yang baik pun mengizinkan.

Lalu… jreng-jreng!!! Saya pun seharian kerja jadi waitress di tempat Prajurit Rumput. Ternyata… capek sodara-sodara *yaiyalah, salah siapa sok-sok ngedrama gitu* Tapi di situ saya bisa ngeliat dia kerja seharian, gimana dia berinteraksi sama pegawai–termasuk saya, tentu aja saya diperlakukan sama persis seperti yang lain–dan agak kecewa karena ternyata dia adem ayem gitu, gak keliatan salah tingkah atau apa gituuu… malahan saya yang seharian deg-degan ngeliatin dia. Cieee…!

IMG_20151121_194514

Ini bukan foto tiga tahun lalu sih, soalnya waktu itu lupa foto-foto. Btw, foto enggak mengandung iklan terselubung ya, karena gak ada nama restorannya.

Yang pasti saya tahu dia seneng banget dapet kado “antimainstream” dari saya 😀

Buat teman-teman yang senasib sepenanggungan sama saya yang punya pasangan absurd, tips pertama ngasih kado adalah cobalah jadi karyawan sehari di tempatnya bekerja. Kalau satu tempat kerjaan? Cobalah jadi karyawan perusahaan lain sehari *eh* Atau apa pun kasih kejutan yang berhubungan sama kerjaannya. Asala jangan karena saking nafsu kepengin ngasih surprise, kamu sampai ngilangin dokumen penting perusahaan XD Karena cowok suka sedikit inisiatif tindakan “nakal” dari pasangannya.

Tahun 2014 saya enggak ngasih apa-apa karena saya sakit keras. Asli sakitnya waktu itu sampai saya mikir mungkin gak bisa sembuh. Tahun 2015 saya bahkan enggak inget ngapain *Plaak!*

Tahun ini, terus terang saya enggak inget dia ulang tahun kapan. Berhubung kerjaan saya lagi banyak sampai ngerasa kurang piknik. Tapi keajaiban terjadi…. Ceritanya, saya follow blog Mas Dani Rachmat. Pas dia posting “Giveaway, Anyone? An Easy One” otomatis postingannya masuk ke email saya. Saya baca sekilas, dan langsung tutup email. Pasalnya, saya memang hampir gak pernah ikutan giveaway atau lomba sebesar apa pun hadiahnya. Bukan gak tertarik, tapi anaknya pemalas gitulah. Lalu dua hari kemudian saya baca status Mas Dani lagi tentang giveaway itu, dan dengan iseng saya bilang, “Saya pengin ikutan tapi selalu bingung mau ngasih apa ke cowok.” Dan saya belum tergerak buat nulis.

Malamnya, Prajurit Rumput pulang kerja. Baru juga dia duduk, saya udah nanya, “Mas, kalau dikasih kado mau kado apa?” Dia jawab, “Mau Eva jadi istri yang sholehah aja.” Jleb banget kan itu jawabannya -___-” Saya diem sebentar, lalu bilang, “Yah, Masmah gak membantu sama sekali. Aku pengin ikutan giveaway, temanya kado buat cowok.” Mendengar itu Prajurit Rumput diem seribu bahasa. Saya yang gak peka ini membiarkan saja. Soalnya saya pikir, mungkin dia lapar 😀

Laluuuu… paginya… seperti biasa, ketimbang pilih minum segelas air putih buat membuka hari, saya lebih memilih membuka hape. Di situlah saya terjengkang karena membaca ini:

Ucapan teman-teman buat Prajurit Rumput di grup WA.

Ucapan teman-teman buat Prajurit Rumput di grup WA.

Jadi-jadi-jadi ini hari ulang tahun Prajurit Rumput! Deng! Sebagai pasangan yang semi-semi baik, saya langsung ngucapin selamat sama Tuan Absurd disertai pengakuan kalau sebenernya saya ingetnya setelah baca WA temen-temen. Terus katanya, “Kirain kamu semalam inget. Makanya nanya hadiah buat cowok. Ternyata buat ikutan giveaway.” Oh! Terjawablah sudah kenapa semalam dia jadi pendiem gitu 😀

Setelah dia berangkat kerja, saya memutar otak. Kira-kira apa ya kado yang bisa menyingkirkan awan mendung di wajahnya? *Jiaaah!* Saya pun meminta pendapat pada salah satu sahabat cowok bernama Kang Acem. Sarannya begini:

Cowok itu enggak ribet, kuncinya cuman dua: kebutuhan atau hobi.

Enggak perlu ngasih barang, bisa juga treatment. Misalkan masakin, nemenin main bola, atau nyuruh pergi, istilahnya me time buat cowok.

Sebenernya, kalau hari ini pas dia lagi libur, bakal saya kadoin me time buat main skateboard sepuasanya. Maklumlah ya, kadang saya bercandanya keterlaluan, suka pura-pura posesif. Enggak sih kalau sampai nyuruh dia milih antara saya dengan hobi skateboard-nya. Eng…enggak salah maksudnya XD Semisal gini:

Prajurit Rumput: Aku izin main skateboard ya.

Saya: Gak boleh! Kalau nekad pergi, didoain ujan loh.

Gak lama hujan turun beneran, deres banget lagi. Kasian-kasian-kasian.

Kata Kang Acem lagi:

Bisa juga ngasih barang yang berhubungan dengan hobi atau keperluan. Misalkan batre hapenya drop, kasihlah dia batre hp. Atau hpnya nggak keurus, kasihlah sarung HP, antigores, dsb.

Nah, ini… pas! Jadi hape Prajurit Rumput udah sering ngehang, prediksi saya, kado barang paling bikin dia happy adalah hape. Barulah di situ saya benar-benar terpanggil buat ikutan giveaway Mas Dani, karena hadiahnya hape 😀 Ini true story, gak saya bikin-bikin loh.

Ting! Saya pun punya ide kado buat Prajurit Rumput. Saya kadoi dia postingan blog, yang fungsinya 3 in 1 kayak salah satu jalan di Jakarta: Ucapan selamat, ikutan giveaway, dan ngisi blog yang sejak bulan lalu belum ada postingan baru. Ya kali aja kan menang, hadiahnya didedikasikan buat Prajurit Rumput. Bukan, bukan pengiritan, itu sih bagiannya Mak Irits, ini lebih tepatnya “serba guna”. Kalau enggak menang, Tuan Absurd tetep dapet hadiah postingan penuh sayang ini *eee…gimana?

Tips kedua kado antimainstream buat cowok adalah kasih kado postingan blog yang isinya aneh–kalau kreatif lebih bagus, dan kalau bisa, sekalian ikutan giveaway, siapa tahu menang, hadiahnya buat pasangan kan jadi double 😀

Jadi, setelah pengantar yang panjaaang tadi. Inti postingan ini adalah…

Selamat

Usia hanyalah fana, yang abadi adalah kita