Kebanggaan Itu Milik Siapa? Karena Apa?

“Kebanggaan” satu kata yang menggelitik. Β Siapa yang boleh memiliki “kebangggan” itu? Letaknya di mana? Dan pastinya karena apa?

Kalau menurut KBBI versi offline, pengertiannya sebagai berikut:

1. Bangga: besar hati; merasa gagah (karena mempunyai keunggulan);

2. Membanggakan: menimbulkan perasaan bangga; menjadikan besar hati; 2 memuji-muji dng bangga; mengagungkan;

3. Kebanggan: kebesaran hati; perasaan bangga; kepuasan diri.

Satu hari ketika saya menerbitkan buku yang kedua–dua tahun lalu–saya merasa bangga. Novel yang saya tulis dalam jangka waktu lama, dan ditulis dari mencuri-curi waktu ketika anak sudah tertidur, dengan laptop pinjaman pula itu bisa diterbitkan juga. Saya berpikir novel itu akan membanggakan anak saya, kembaran saya, dan kedua orangtua saya. Mungkin pada awalnya iya, meskipun saya tidak melihat atau tidak menyadari sorot kebanggaan di mata kedua orangtua saya. Sedangkan anak dan kembaran saya, dengan cerianya dia selalu menunjuk-nunjuk buku saya setiap kali kami menemukannya di toko buku. Ternyata rasa bangga mereka itu menimbulkan kebahagiaan dan motivasi untuk saya.

Saya pun menyimpulkan bahwa kebanggaan muncul dari sebuah prestasi, kerja keras, dan tercapainya sebuah impian.

Ternyata “kebanggaan” memiliki expired date. Seperti prestasi atau pencapaian yang akhirnya dianggap lampau. Hal itu membuyarkan “kebanggaan”. Lalu pada akhirnya memberi dorongan untuk membuat pencapaian baru yang memunculkan kembali rasa “bangga” itu. Sayangnya, standarisasi pencapaian yang menimbulkan perasaan itu terus naik. Seperti level kedewasaan, level menambah pengetahuan, level adrenalin. Sedangkan mempertahankan itu lebih sulit dari meraih, dan tujuan kebanggaan bukan mempertahankan, tapi “melebihi”.

Saya kemudian berusaha membuat target untuk melebihi pencapaian sebelumnya agar menggapai sebuah “kebanggaan”. Dan ternyata hal itu memberi beban, bukan memotivasi. Kemudian saya berpikir ulang, apakah rasa bangga itu yang justru menjadi tujuan utama? Bukan lagi campuran proses, pembelajaran, menumpahkan pikiran, nikmatnya berkarya, dan kepuasaan batin saat karya itu benar-benar terlahir? Tapi bukankah “kebanggaan” itu merupakan kepuasan batin? Apakah “kebanggaan” tercipta dari sebuah pembuktian? Pembuktian untuk siapa? Cukupkah ketika saya mengatakan pembuktian pada diri sendiri? Bukankah saya ingin dunia melihat karya saya? Lebih dari itu, untuk orang-orang terdekat saya. Membuat mereka bangga dan bahagia.

Mungkin karena saya mengkotak-kotakan kebanggaan. Kebanggaan karena diri, dan kebanggaan yang ditimbulkan oleh efek membahagiakan orang lain. Nyatanya saya tidak bisa sendirian, saya memilih kebanggaan yang menular, baik itu yang ditularkan oleh saya pada orang-orang tercinta atau kebanggaan yang diberikan oleh mereka pada saya. Karena saat saya merasa berbangga pada sesuatu, hal itu tidak otomatis memberi kebanggaan pada mereka.

Saya menyadari, bangga adalah rasa. Dan seperti semua rasa, tak ada takarannya, tak bisa ditimbang, dan diukur.

Adalah sebuah peer ketika saya ingin membanggakan orangtua saya dengan pilihan saya sendiri. Bukan pilihan mereka, bukan memenuhi keinginan mereka.

Timbul sebuah pertanyaan besar: Kebanggaan itu milik siapa dan karena apa?

Untuk saya, kebangggaan itu milik kolektif. Karena kebanggaan muncul dari domino efek. Saya tidak bisa mencapai sesuatu sendirian. Karena itu saya ingin membagi rasa bangga, dengan mereka yang telah selalu ada untuk saya.

*Dibuat untuk Lomba Artikel CineUs Book Trailer Bersama Smartfren dan Noura Books. Keterangan lengkap bisa dibaca di sini: http://myfairytalemytale.blogspot.com/2013/09/lomba-artikel-cineus-book-trailer.html *

Tonton juga CineUs book trailer-nya di sini:

New-Andromax-U2-250x250-JPEG

Bacaan Ringan Saat Senggang

Seringkali saya membaca sebuah komentar yang mengatakan buku A, B, dan lainnya adalah “bacaan ringan saat senggang”. Saya pun rasanya pernah berkomentar seperti itu. Kadang saya bertanya, apakah maksud pernyataan itu? Apa artinya buku-buku tersebut buku yang saking ringannya sehingga tidak butuh “meluangkan waktu” khusus untuk membacanya? Sehingga ya kalau ada waktu senggang, bolehlah dibaca. Atau ada maksud lain dari pernyataan itu? Kok ya ada kesan buku tersebut kualitasnya biasa saja.

Beberapa malam yang lalu saya tidak bisa tidur. Twitteran atau Facebook-an sedang bosan, nonton juga sedang tidak mood. Maka saya pun mencari-cari buku di rak perpustakaan mini saya, sepertinya membaca sebelum tidur adalah pilihan tepat. Saya mencari buku yang habis sekali baca, tidak membuat kepala puyeng dengan bahasanya, tetap memberi gizi untuk otak, menghibur, dan ringan. Terpilihlah sebuah buku yang memang akhirnya selesai saya baca malam itu juga. Padahal mood membaca saya sempat tiarap parah. Banyak buku-buku yang menurut umum bagus malah saya geletakkan.

Buku itu memang ringan tapi cukup memberi nutrisi untuk saya. Saya berpikir, ternyata buku yang tergolong kategori “bacaan ringan saat senggang” itu diperlukan. Karena ada kalanya otak terlalu lelah berpikir hal berat-berat. Jadi kalimat “bacaan ringan saat senggang” itu bukan penilaian negatif, tapi mungkin pernyataan rekomendasi untuk pembaca yang memang butuh “bacaan ringan”. Pesan-pesan berat dengan topik yang juga berat bisa jadi tidak tersampaikan. Tetapi pesan-pesan ringan malah bisa jadi berkesan.

Memang berat dan ringan tidak juga bisa ditimbang dari harfiah tebal dan tipisnya buku. Bisa jadi buku yang tipis memiliki nilai pesan yang tinggi. Mungkin juga ini masalah selera dan kebiasaan pembacanya. Tipe bacaan seperti apa yang sering dibaca. Dan selera berbedalah yang membuat banyak variasi karya, membuat banyak tipe karya memiliki peminatnya sendiri.

Di luar bahwa bacaan akan membentuk opini dan penulisan seseorang. Asumsi bahwa pembaca yang terbiasa membaca hal yang berat-berat akan memiliki wacana dan pengetahuan yang luas. Tapi bacaan yang ringan ketika pesannya tersampaikan, ketika bacaan tersebut memberi hiburan dan pemikiran positif pada pembacanya, menurut saya itu hal yang paling utama. Jadi membaca buku yang masuk kategori “bacaan ringan saat senggang” bukan hal sepele.

Satu Tahun (Cerita bersambung)

Teman, tolong tuliskan apa yang ingin kamu perbuat dalam satu tahun?

Yah, ini bukan tahun baru. Memulai tahun tidak harus hitungan 1 Januari, bukan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

Aku punya 365 lembar untuk kuisi.

Pertama ….

Ternyata menulis itu sulit, padahal banyak yang ingin kuceritakan, tapi aku malah kehilangan kata.

Tunggu, lima menit lagi aku akan berusaha menuliskannya lagi. Lima menit itu akan kuhabiskan untuk bengong di depan komputer.

***

Satu tahun? Gila! Gue bisa apa cuman satu tahun?!

Sialan!

***

Kalau dunia ini hanyalah sebutir pasir di lautan. Aku ini apa?

Setelah satu tahun, semuanya pasti tetap sama.

Ah, ya, mungkin jalanan semakin macet.

Oh, iya, tahun depan pimpinan kita juga berganti.

Aku tidak ingin dilupakan. Aku ingin terus tertanam dalam ingatan.

Tapi meninggalkan kesedihan? Bisakah bagian itu kita skip saja.

****