[Cerpen Anak] Peri Makanan

*Ini cerpen anak pertama saya, terinspirasi dari sebuah artikel tentang seorang anak yang terkena obesitas.

Peri Makanan

       Di negeri Wales Selatan, di kota Aberdare, hiduplah seorang gadis kecil bernama Georgia. Georgia sangat suka makan. Semua makanan dilahapnya. Hingga, tubuhnya sangat gemuk. Bahkan Georgia sering memenangkan lomba makan.

Anak-anak memanggil Georgia sebagai “Si gemuk dari Selatan”. Tapi Georgia tidak pernah menanggapi ledekan teman-temannya itu. Hingga suatu hari, ketika teman sekolahnya yang bernama “Will” lupa membawa bekal dari rumah, Georgia memberinya roti gandum dengan parutan keju dan mentega di dalamnya.

Tetapi Will malah marah dan berkata, “Aku tidak mau makan, makanan darimu! Nanti aku akan berubah menjadi balon raksasa sepertimu!” ucapnya sambil membuang roti gandum itu ke tanah, hingga rotinya menjadi kotor.

Georgia sangat sedih mendapat perlakuan seperti itu, padahal dia berniat baik. Tetapi yang membuatnya semakin sedih karena dia mendengar roti gandum itu menangis.

“Roti gandum, kenapa kau menangis seperti itu? Suaramu sangat menyayat hati,” tanya Georgia pada roti gandum.

“Aku sedih karena sekarang tubuhku kotor, tentu tidak ada yang mau memakanku lagi. Padahal, kebahagiaan setiap makanan bila dimakan sampai tidak bersisa,” jawab roti gandum dengan terisak-isak.

“Roti gandum, jangan bersedih, aku akan memakanmu sampai habis,” janji Georgia. Lalu dibersihkannya kotoran yang menempel pada roti gandum itu, kemudian melahapnya.

Georgia sering melihat teman-temannya menyisakan makanan, hingga Geogria selalu mendengar mereka menangis. Georgia lalu mengumpulkan makanan-makanan itu.  Sebagian dimakannya, sebagaian ia berikan pada burung-burung, kucing, atau binatang apapun disekitarnya yang terlihat kelaparan. Karena itu para binatang sangat sayang pada Georgia.

Suatu hari, pada pelajaran olahraga, Ibu Guru menyuruh anak-anak untuk melakukan lompat atletik dengan melewati galah. Satu-satunya yang gagal melewati galah hanyalah Georgia. Karena tubuhnya terlalu besar hingga membuatnya sulit untuk meloncat. Melihat itu, teman-temannya malah menertawakannya terbahak-bahak. Untuk pertama kalinya Georgia menyesali keadaan dirinya.

       “Ah, andai aku memiliki tubuh yang kecil, tentu aku bisa terbang sebebas burung. Mengelilingi negeri awan, dan bercanda dengan mentari.” Ucapnya dalam hati.

Tapi Georgia tidak bisa berhenti makan, tubuhnya masih saja terus bertambah besar. Melihat itu, teman-temannya suka menjahili Georgia dengan menyimpan cermin besar di meja belajarnya di sekolah. Setiap kali Georgia melihat cermin itu, Ben, Will, dan Ricard akan meledeknya. Kemudian Georgia akan menjerit dan menyesal setiap kali makan. Akhirnya, Guru mereka, Irene, melerai Ben, Will, dan Ricard.

“Ben, Will, dan Ricard, kalian kemarilah,” ucap Guru Irene.

Ketika Ben, Will, dan Ricard datang, diletakannya cermin besar di depan mereka. Cermin itu adalah cermin yang biasa mereka simpan di meja Georgia.

“Ben, Will, dan Ricard, apa yang kalian lihat di dalam cermin ketika Georgia bercermin disana?” tanyanya lembut.

“Anak yang gemuk,” jawab Ben malu-malu

“Georgia yang rakus,” jawab Will lantang

“Rak … sasa,” jawab Ricard ragu-ragu

“Hmmm … baiklah … sekarang, apa yang kalian lihat ketika bercermin?” tanya Guru Irene lagi.

“Aku melihat diriku sendiri, Ben, dan juga Ricard,” jawab Will cepat.

“Aku juga sama Bu,” jawab Ben

“Tentu saja hanya ada kami Bu,” jawab Ricard dengan suara pelan.

Ketiga anak itu nampak kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan Guru Irene. Apa maksud ibu guru mereka itu?

“Kenapa aku hanya melihat tiga anak jahil yang suka menjahati temannya sendiri. Mereka tampak seperti nenek sihir yang jahat,” ucap Guru Irene yang membuat Ben, Will, dan Ricard menjadi tersipu-sipu malu.

“Jika kalian hanya melihat tampilan luar seseorang saja, maka orang lain pun akan melihat hal yang sama pada diri kalian. Jika kalian hanya melihat kekurangan seseorang, maka orang lain pun akan selalu mencari kekurangan kalian,” jelas Guru Irene.

Ben, Will, dan Ricard mengerti maksud guru mereka. Mereka lalu mendatangi Georgia dan meminta maaf padanya. Setelah itu, mereka tidak pernah meledek Georgia lagi, juga tidak menyimpan cermin di mejanya. Tetapi Georgia sudah terlanjur benci bercermin. Dia membuang semua cermin yang dimilikinya, hingga dia tidak usah bercermin lagi.

Georgia menjadi anak yang pemurung, dia selalu tampak bersedih. Hingga suatu malam yang cerah, Georgia terbangun dari tidurnya. Dia mendengar banyak suara yang memanggilnya.

“Georgia, bangunlah ….” Begitulah suara-suara itu memanggilnya

Ketika dia membuka mata, terlihat olehnya banyak makanan tersenyum padanya, mereka bersayap dan bisa terbang. Georgia bahagia sekali melihat mereka.

“Wow … aku bertemu para peri makanan,” pikirnya.

“Akhirnya kau bangun juga Georgia, kami sudah lama menunggumu,” ucap wortel bersayap dengan suaranya yang indah seperti lonceng.

“Kami sudah tidak sabar mengajakmu pergi,” ucap Roti bersayap sambil menggenggam tangan Georgia lembut.

“Kalian akan membawaku pergi ke mana?” tanya Georgia

“Ke negeri awan,” jawab sosis terbang sambil tersenyum

“Tapi aku tidak bisa terbang,” kata Georgia sedih

Tiba-tiba dari langit masuklah remah-remah makanan yang terbang masuk ke kamar Georgia lewat jendela. Mereka semua bercahaya dan nampak cantik. Mereka lalu mengelilingi Georgia.

“Georgia … Georgia … ingatkah kamu pada kami? Kami adalah remah-remah makanan sisa yang selalu kamu kumpulkan. Kami yang dibuang ini menjadi berharga untukmu. Karena kebaikanmu, kami akan menghadiahkan sayap untukmu, agar kamu bisa terbang,” ucap remah-remah makanan itu, mereka lalu berubah menjadi sayap di punggung Georgia.

Georgia sangat bahagia, tubuhnya terasa sangat ringan dan kini dia bisa terbang. Georgia terbang berputar-putar sambil tertawa.

“Terimakasih, peri-peri makanan,” katanya

“Georgia, sekarang kita berangkat ke negeri awan. Bukankah kamu sangat ingin pergi kesana?” tanya buah pisang terbang.

Mereka kemudian terbang ke negeri awan. Terbang jauh ke langit. Iring-iringan nya terlihat seperti sekumpulan bintang yang bersinar terang. Di negeri awan, mereka bermain bersama bintang dan bulan. Dan kemudian, saat matahari datang sambil bernyanyi riang, sekumpulan makanan terbang itu mengantar Georgia kembali ke rumah.

Sebelum pergi sekumpulan peri-peri makanan itu berkata, “Georgia, berjanjilah untuk tidak bersedih lagi. Ketika kami bersedih, kamu selalu berusaha membuat kami bahagia, karena itu, saat kamu bersedih, kami ingin membuatmu bahagia. Ingatlah Georgia, kami selalu menyayangimu.”

Hari itu, Georgia sangat bahagia, karena dia tahu, saat dia tersenyum, teman-teman makanannya tentu ikut merasa senang.

Suatu hari, Georgia sakit dan tidak masuk sekolah. Ibunya membawa Georgia ke dokter. Menurut dokter, Georgia terkena penyakit kegemukan. Karena itu dia harus mengurangi porsi makannya. Georgia sedih sekali, dia harus berpisah dengan kue-kue yang lezat itu, juga dengan burger dan hotdog kesukaannya.

Sepulang dari dokter, ibunya sangat membatasi makanannya. Tapi terkadang, saat ibunya tidak bisa mengawasinya, Georgia akan diam-diam makan banyak. Hingga berat badannya tidak juga menurun, hal itu membuat tubuh Georgia kian hari kian melemah.

Malam itu, sahabat-sahabat makanannya datang kembali. Tapi ada yang aneh dengan mereka. Mereka semua menangis. Georgia sangat heran, dia lalu bertanya.

“Kenapa kalian semua menangis? Adakah sesuatu yang buruk terjadi di negeri awan?”

“Georgia, kami sangat sedih … sangat sedih …,” ucap para peri makanan

“Kenapa?” tanya Georgia lagi

“Georgia, kami sangat ingin membuatmu bahagia. Tapi, karena kami, sekarang kamu malah sakit,” jelas peri makanan pisang.

“Iya, karena kami, badanmu semakin lemah,” kata peri makanan roti.

“Kenapa karena kalian aku sakit?” tanya Georgia tidak mengerti.

“Georgia, karena kamu makan terlalu banyak, kamu jatuh sakit,” jawab peri makanan wortel.

“Benar … benar,” sahut peri makanan lain.

“Georgia, makan itu baik, tetapi kita harus makan sesuai dengan kebutuhan gizi kita. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” kata peri makanan sosis.

“Berarti aku harus kurus ya?” tanya Georgia lagi.

“Georgia, kita tidak harus kurus, juga tidak harus gemuk. Tapi kita harus sehat. Sehat itu tidak kurus juga tidak gemuk,” jawab peri makanan pisang.

“Malam ini, kami tidak bisa menjadi sayapmu, karena badanmu terlalu lemah untuk terbang,” ucap para peri remah makanan dengan wajah sendu. “Georgia, memang kebahagiaan kami adalah ketika makanan tidak disisakan, tapi kami lebih bahagia ketika kami bisa membuat tubuhmu sehat dan kuat. Itulah arti kami sebenarnya di dalam tubuhmu,” tambah para peri remah makanan.

“Georgia, maaf, kami tidak bisa menemuimu lagi …kami terlalu sedih. Maaf Georgia … maaf Georgia …,” ucap para peri makanan sambil terbang menjauh. Cahaya mereka terlihat semakin meredup.

Georgia sedih sekali, dia tidak ingin berpisah dengan teman-teman peri makanannya. Paginya, Georgia sarapan secukupnya, dia tidak mengambil makanan berlebihan. Begitupun ketika di sekolah. Bahkan ketika Ben mengambil banyak makanan dan menyisakannya, Georgia lalu memarahi Ben. Georgia, mengambil buku kesayangan Ben lalu membuangnya ke tempat sampah. Ben kaget, lalu menangis.

“Ben, pernahkah kamu mendengar makanan menangis? Makanan akan sedih ketika mereka di buang. Seperti Ben yang merasa sedih karena  buku kesayanganmu aku buang.”

Setelah itu Ben, tidak pernah menyisakan makanan lagi, malah dia selalu mengingatkan teman-teman yang lain agar selalu menghabiskan makanannya.

Lalu bagaimana dengan Georgia? Georgia sekarang sudah tidak membenci cermin, karena cermin tidak bersalah, dia hanya memperlihatkan dengan jujur apa yang dilihatnya. Georgia tidak sedih dengan keadaan tubuhnya yang besar, karena memiliki tubuh besar bukan berarti jelek, asalkan selalu sehat karena makanan yang dia makan sesuai dengan kebutuhan gizi tubuhnya. Georgia bahagia sekarang, karena dapat kembali bertemu dengan teman-teman perinya. Dan Georgia masih selalu mengumpulkan makanan sisa untuk dibagikan pada para binatang yang kelaparan. Hingga semua orang memanggil Georgia Si Peri Makanan yang baik hati.

TAMAT

Advertisements

Puisi – Papan karnaedis

Papan karnaedis

Suara layar terangkat
Sekoci-sekoci yang digantung
Terdorong itulah ayah menjadi pelaut
Diusianya yang keempat belas, ayah jatuh cinta pada laut
Selalu, berbulan-bulan dilaluinya menikmati lekuk liku lautan

Pada laut juga ia nyatakan kerindunya pada ibu dan aku
Sembari menyanyikan mars “Nenek moyangku seorang pelaut”
Diceritakannya padaku kisah lumba-lumba, cumi-cumi, dan ikan paus
“Apakah Ayah bertemu putri duyung?”
“Putri duyung adalah kau, karena nyanyiannya selalu mengajak para pelaut ikut berenang ke dalam lautan, ke dalam kerinduan akan rumah”

Laut dan daratan selalu saling merindukan
Saling berpagutan di bibir pantai
Laut adalah hidup, ombak saling berbentur, melarut, terbawa pusaran gelombang arus panas dan dingin

Suatu hari ayah pulang dengan muka pucat, tanpa kisah tentang bajak laut, mercu suar, atau negeri dongeng yang disinggahinya
“Papan Karnaedis!” katanya parau
Diceritakannya tentang harta karun yang ditemukan awak kapal
Tentang kerakusan dan pembunuhan
Tentang dirinya yang terseret tragedi penyelamatan diri
Hukum papan karnaedis!

Diusiaku yang ke lima belas, aku ikut Ayah berlayar
Pertama kali melihat jangkar dilepaskan
Melihat ikan-ikan menggelepar di geladak
Diam-diam beberapa kulepaskan ke lautan, pada hidup

Hari ke tiga belas
Lempengan laut bergeser, terjadi gempa besar
Ombak menghantam kapal dan menjadikannya partikel
Terlalu tiba-tiba, cepat, singkat

Aku melayang bagai buih
Dalam air yang dingin, beku bagai es
Laut begitu gelap
Apa hidup itu memang gelap, Ayah?

Dialah ayah, memberiku napas hingga tersadar
Membawaku ke permukaan
Ayah kenapa? Bukankah laut itu hidup?
Kenapa tidak kau biarkan saja hidup merenggut kita?
Memeluk kita dalam keabadian

Disandarkannya aku pada sepotong kayu yang tersisa dari badan kapal
Sementara ia hanya berpegang pada sisinya
Badannya yang kekar ia biarkan dilumat air

Dari dalam air bermunculan kepala-kepala dan tangan-tangan yang menggapai
Kayu itu tidak bisa menahan berat kami, oleng
Mata-mata nyalang menatapku buas, menyingkirkanku tanpa kata
Benarkah mereka yang berbagi kabin denganku?
Ayah bergulat, saling hempas, saling cakar
Ayah seperti nakhoda yang memutuskan akan ke mana arah kapal berlayar, hakim nasib
Gelombang datang lagi, menghantam
Putus asa, inikah wujud sebenarnya dari papan karnaedis?
Ayahku pelaut yang egois
Ayah tidak tahu betapa aku merindukan laut, merindukan hidup yang yang kini telah ia renggut dariku

Terapung berhari-hari sendirian
Pasrah pada takdir akan membawa
Mercusuar begitu silau, suara peluit panjang, kapal yang mendekat
Lalu daratan … rata

Ayah, laut ternyata bukan kehidupan
Laut juga menyimpan jutaan cerita kematian
Lalu aku seperti mendengar suara ayah bernyanyi lewat dengung kapal yang berangkat berlayar

Bandung, entah tahun berapa.