Catatan Dari Mombassador Batch 5: Dear Bunda, Ingin Dikenal Sebagai Bunda Seperti Apakah?

Jogjakarta selalu jadi kota yang sangat istimewa buat saya. Saya mengamini sepenuh hati julukan “Jogja Istimewa”. Sejak remaja, entah sudah berapa banyak kejadian spesial terjadi di sana. Meski ada pula tragedi, tapi tak membuat coreng sedikit pun cinta saya pada Jogja. Tahun ini, Jogja kembali masuk dalam galeri kenangan.
Alhamdulillah, saya terpilih menjadi salah satu #Mombassador dan ikut dalam #TemuBunda2017 yang dilaksanakan di Jogjakarta.

Meski bertandang ke Jogja entah untuk keberapa kalinya, kali ini pun saya mendapat pengalaman yang membekas.

Setiap perjalanan menghadirkan perenungannya sendiri

Sungguh tidak pernah terbesit dalam kepala saya sebelumnya menjadi seorang “Mom Ambassador”. Pasalnya, selama bertahun-tahun saya belum merasa menjadi ibu yang baik. Masih sering salah mengambil keputusan, cepat kesal ketika anak berbuat salah, dan sederet hal lainnya yang kerap menimbulkan rasa bersalah. Seringkali saya bertanya-tanya, bagaimana caranya menjadi seorang “Bunda Peri” itu? Yang hangat bijaksana, mengayomi, dan mendidik sepenuh hati. Atau menjadi bunda hebat seperti mama saya. Bangun setiap pagi, menyiapkan sarapan, memastikan saya tak datang kesiangan ke sekolah, menjahitkan baju-baju, sampai menjaga dan merawat saya ketika sakit (bahkan sampai usia sekarang ini). Namun, mungkin setiap bunda pasti dianugerahi Tuhan keistimewaannya sendiri.

Setiap bunda punya karakteristik sendiri

Ketika saya mendapat telepon dari careline SGM yang memberitakan bahwa saya terpilih, perasaan saya senang campur takut. Kata “Mombassador” bukan sesuatu yang mudah dipertanggungjawabkan. Ada “citra” di situ. Bukan “pencitraan” dalam artian negatif, tapi karakter yang dikedepankan. Kita tak mesti menjadi “orang lain” ketika memasang satu citra. Bukan pula topeng. Namun ada yang diperlihatkan, ada yang disimpan. Yang saya tangkap, mombassador memang komunitas yang mengembangkan bagian dari pribadi positif, artinya para bunda yang tergabung tetaplah bebas mengekspresikan dirinya.

Mengisi waktu dengan foto-fotoan pas pesawat delay

Hari keberangkatan pun datang. Setelah berkemas, saya berangkat ke bandara dijemput mobil yang disediakan pihak SGM. Ada rasa deg-degan karena bertemu orang-orang baru. Sebagai seorang introvert saya memang butuh waktu agak lama untuk melebur. Namun ternyata saya disambut hangat oleh para bunda. Saya melihat mereka bahkan tampak begitu akrab selayaknya sahabat erat.

Menginjakkan kaki di Jogja lagi ^^

Karena pesawat mengalami delay, kami terlambat datang sehingga melewatkan sesi foto profil. Langsung saja mengikuti welcome dinner. MC memperkenalkan perwakilan peserta dengan bahasa dan logat daerahnya. Ternyata mombassador ini benar-benar dipilih dari Sabang sampai Merauke. Mewakili para perempuan Indonesia dengan segala karakteristik suku, bahasa, dan budaya. Latar belakang mereka pun berbeda.
Ada yang ibu rumah tangga, PNS, guru, wirausaha, hingga blogger.
Meskipun badan kurang fit karena kelelahan, saya tetap menikmati makan malam yang hangat itu.

Bareng Mbak Tari, teman sekamar

Satu kejadian lucu waktu saya mencari roommate. Kami kemungkinan besar telah berpapasan di depan lift, tapi karena belum saling mengenali wajah, kami terus saja saling mencari. Kayak adegan sinetron ya ^^

Hari pertama itu saya mendengar banyak bunda yang teringat terus pada buah hatinya.
Begitulah seorang ibu menjadikan anak sebagai pusat hidupnya. Bahkan ketika diberi “me time” pun pikirannya seringkali melayang ke rumah, pada orang-orang yang mengisinya. Saya pun demikian. Teringat bertahun lalu setiap kali pergi kerja selalu ada “drama” keberangkatan. Seorang bunda seperti bumi yang mengitari matahari, tapi ibu dan bumi tetap memiliki kehidupan yang mesti diselaraskan sebagai diri sendiri.
Ada saatnya harus meninggalkan rumah untuk pengembangan diri yang berefek pada pembangunan karakter keluarga. Ketidakhadiran secara fisik bukan berarti sekat, karena keluarga tetap lekat. Para Bunda itu pun bercerita tentang
peran serta suami mereka. Selain memberi izin, mau menggantikan bertugas domestik, bahkan sampai ada yang sengaja mengambil cuti. Seperti itulah romantisnya suami istri. Memberi ruang untuk pengembangan diri pasangan, jauh lebih bernilai dari ratusan bunga.

Mari belanjaaaa ^^

Hari kedua jadwal padat merayap. Pagi dimulai dengan acara belanja. Pihak SGM Eksplore dengan baik hatinya membekali kami uang jajan untuk membeli oleh-oleh. Di moment itulah saya pertama bertemu dengan para bunda yang berjuang mengedukasi lewat blog. Menyampaikan pikiran melalui kata-kata. Setelah berinteraksi selama lima abad di dunia maya, akhirnya ketemu di dunia nyata. Dipertemukan oleh SGM Eksplore 😀

Bertemu momblogger

Berlanjut pada acara berkeliling pabrik Sarihusada. Kami melihat bagaimana proses susu SGM Eksplore dibuat dengan quality control yang ketat. Pabriknya pun bersih dan setril. Yang paling berkesan adalah bagaimana Sarihusada terus memegang komitmen untuk menyediakan susu berkualitas tinggi dengan harga terjangkau agar seluruh bangsa dengan segala lapisannya bisa mendapat gizi terbaik. Luar biasanya, pabrik Sarihusada ini enggak membuang limbah. Limbah air diolah lagi hingga bisa kembali digunakan dengan aman. Taman-taman cantik yang menghiasi pabrik itu disiram pakai air olahan limbah loh.

Factory visit Sarihusada

Makan siang di restoran yang menghadap Candi Prambanan juga berkesan. Meski tak menginjakkan kaki ke sana, tapi pemandangannya kami abadikan dalam puluhan foto. Selang beberapa lama, kami diajak mengikuti outbond. Seru sekali mengikuti berbagai permainannya. Favorit saya adalah permainan kekompakan membawa sepeda.

Berfoto dengan latar Candi Prambanan

Sekelompok sama Mbak Caroline, sahabat yang menyenangkan ^^

Selepas isya, kami menikmati gala dinner yang meriah. Malam itu semua bunda tampil cantik. Paduan 2 MC kocak sangat menghibur kami. Berbagai kuis digelar, bertabur hadiah. Malam itu lewat talkshow yang menghadirkan para bunda inspiratif kami mendapat asupan semangat menjadi bunda #generasimaju. Kami juga bernyanyi, berdansa, dan puncaknya dilantik menjadi mombassador SGM Eksplore.

Keseruan gala dinner

Di antara para panitia, saya terkesan oleh Reza Aini. Perempuan itu begitu gesit dan ramah melayani kami. Meski kadang wajahnya tampak pucat bila sedang kelelahan, tapi semangatnya memberi yang terbaik menyentuh saya.

Program kelompok saya

Pada hari terakhir, kami diberi 2 workshop. Paling suka workshop membuat program. Di sesi itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok yang menang adalah kelompok yang membuat program yang paling bisa direalisasikan, bukan mengawang. Selain juga kreatif dan menarik.

Sehabis makan siang, tibalah saatnya berpisah. Para bunda pulang berdasar daerahnya. Kami saling berpelukan sambil berjanji untuk terus bertukar kabar. Sediiih… 😥

Tak ada pesta yang tak usai

Kemudian di antara semua rentetan kejadian di acara “Temu Bunda”, yang paling menyentak nurani saya adalah ketika membaca satu pertanyaan di form. Pertanyaan itu sungguh menggelitik. Bunyinya tak sama persis, tapi intinya begini, “Ingin dikenal sebagai bunda seperti apakah Anda?”
Pertanyaan itu membuat saya berpikir beberapa saat. Dan terus terngiang hingga kini.
Istilah ingin dikenal seperti ‘karakter’, atau sebutlah ‘citra diri’, atau ‘brand’ dari diri kita. Seperti yang sempat saya sebut di awal artikel, tentunya apa yang ingin diperlihatkan sebisa mungkin adalah kejujuran. Adalah diri apa adanya.
Namun ada ‘ekspektasi VS realitas’. Ada keinginan dan kenyataan. Ada impian dan tantangan.
Cukup lama saya memikirkan jawabannya. Saya ini ibu macam apa? Atau… saya ini ingin menjadi ibu seperti apa?
Saya bukanlah bunda yang punya kesabaran seluas samudera, bukan pula bunda yang bijaksana. Akhirnya saya menemukan satu jawaban yang paling menjembatani antara keinginan dan kenyataan. Saya ingin dikenal dan ingin senyatanya menjadi seorang bunda yang mengajak keluarganya produktif berkarya. Sebisa mungkin saya ingin melibatkan anak saya dalam karya saya, misalnya sesederhana memakai namanya sebagai tokoh utama novel saya. Sedapat mungkin saya ingin anak saya berkarya sesuai dengan passion-nya, seperti membuat vlog petualangannya dari satu tempat ke tempat lain.

Baca juga Tips Membuat Program Video (Vlog) Anak

Saya kira, pertanyaan itu tak semata-mata diajukan pihak SGM Eksplore pada para bunda. Mungkin, SGM lewat program Mombassador ini memang ingin membantu para bunda menemukan atau mengukuhkan jati dirinya sebagai seorang ibu.

Advertisements

Ramadan: Moment Premium Mendekatkan Ibu Dan Anak

Ketika saya memutar ingatan ke masa kecil, banyak moment paling berkesan ternyata terjadi di bulan ramadan. Mulai dari cerita sahur kesiangan, dipaksa buka puasa setengah hari, nakal buka puasa padahal masih kuat, sampai ngabuburit seru. Biasanya setelah sahur, kami sekeluarga akan bermain monopoli atau ular tangga. Nah, kalau acara ngabuburit, lebih beragam kegiatannya. Kadang kami menunggu buka puasa dengan belajar mengaji, bermain kartu, membantu Mama membuat makanan minuman untuk buka, sampai main ke toko buku. Tiap kali mengingat momen-momen itu selalu bikin senyum-senyum sendiri. Ramadan ini memang bulan istimewa. Moment berharga untuk membangun kedekatan keluarga, terutama ibu dan anak.

Main ular tangga bikinan Prajurit Rumput

Saat Rasi umur 5 tahun, saya sudah mengajaknya belajar puasa meskipun hanya setengah hari. Dari buku bacaan saya menerangkan secara sederhana apa itu bulan ramadan. Tahun berikutnya, ketika Rasi berusia 6 tahun, dia saya ajak mulai berpuasa seharian penuh. Alhamdulillah dapat 2 hari. Saya waktu itu memang enggak memaksanya untuk menamatkan puasa sebulanan, sekuat Rasi saja. Tahun ini beda lagi.

Pada hari pertama puasa, saya menargetkan Rasi puasa penuh. Tapi hari-hari selanjutnya sih kalau Rasi memang enggak kuat saya enggak akan memaksa, yang penting dia merasakan perjuangan puasa sejak hari pertama. Sahur pertama Rasi semangatnya luar biasa, dibangunkan sekali saja langsung melek. Makan sahurnya pun banyak. Namun, belum juga siang hari, anak itu sudah merengek lapar. Sedari awal memintanya untuk belajar puasa penuh saya memang sudah memperkirakan harus mendampinginya seharian. Saya lalu bilang, “Coba pikirannya jangan ingetin makanan terus supaya enggak lapar.” Saya ajak dia membaca, kemudian menonton. Berhasil membuat Rasi berhenti merengek sampai jam 2 siang. Setelah itu dia kembali minta makan. Saya minta Rasi supaya menulis diary ramadan agar dia selalu mengingat kejadian-kejadian apa saja yang dialami selama ramadan, nantinya dia bisa memetik hikmahnya lagi. Untuk menulis selembar saja Rasi butuh waktu satu jam setengah. Segitu juga udah Alhamdulillah. Sorenya rengekan terdengar lagi dari mulut Rasi. Untungnya Prajurit Rumput punya ide, dia membuat ular tangga sendiri lengkap dengan peraturan unik. Saya mengajak Rasi main ular tangga itu. Akhirnya sampai waktu berbuka dia lupa sama laparnya. Ketika mendengar azan, Rasi langsung berteriak girang. Berbuka pertama dengan yang manis. Pas banget memang memilih camilan favorit Lotte Choco Pie. Hari keduanya ajaib, Rasi enggak mengeluh lapar sekali pun. Tapi tetap saya ajak ngabuburit di taman biar dia senang.

Malam harinya sambil memeluk Rasi, saya mengajaknya mengingat hari pertama puasa. Kami belajar memaknai puasa bersama. Saya tanya, “Lapar itu enggak enak ya, Neng?” Dia jawab iya. Saya katakan supaya ketika kami mendapat rezeki banyak makanan jangan dibuang-buang, tiap kali makan harus dihabiskan. Rasi memang suka enggak abis makannya. Jadi saya ngeliat celah buat dia mau belajar enggak lagi menyia-nyiakan makanan. Saya lihat dia mulai mengerti tujuan puasa. Tentang berbagi pada sesama, dan lainnya.

Ramadan Togethermore Lotte Choco Pie

 

Pada bulan ramadan penuh berkah ini banyak yang memanfaatkannya untuk mengajarkan anak-anak kebaikan. Karakter memang nomor satu yang harus diperhatikan pada diri anak sebagai fondasi pendidikan. Tentunya cara mendidik anak meski disiplin haruslah dengan penuh kasih sayang. Dan tentunya mengajarkan anak kebaikan akan lebih dipahami bila disampaikan dengan cara yang seru. Seperti yang dilakukan Lotte Choco Pie ini.

Selama tiga minggu berturut-turut, Lotte Choco Pie mengadakan acara ngabuburit dan buka bersama #RamadantogetherLotteChocoPie di beberapa masjid. Tujuan diadakannya acara ini menurut Mbak Oci C. Maharani, Brand Manager Lotte Indonesia, adalah dapat membantu para ibu untuk mewujudkan together more moment bersama anak dan mempererat hubungan dan meningkatkan kualitas kebersamaan keluarga.

Acara #RamadantogetherLotteChocoPie pertama kali diadakan di Masjid Raya Cinere tanggal 3-4 Juni 2017 lalu. Kemudian di Masjid Baitussalam Billy & Moon Kalimalang tanggal 10-11 Juni 2017. Terakhir, di Masjid Al-Ikhlas BSD tanggal 17-18 Juni 2017. Di antara ketiga tempat itu saya menghadiri yang di Kalimalang. Sayangnya saya enggak bisa mengajak Rasi karena dia lagi sakit.

Saya datang ke Masjid Baitussalam sekitar jam 2 siang. Ngadem dulu di dalam masjid sambil bertukar kabar dan chit-chat dengan peserta lain. Pastinya atuh enggak ketinggalam selfie-selfie XD Pertama kali ketemu sama Mak Gaoel di sana. Pas denger saya ngomong, katanya ‘sundanis’ pisan XD

Acara dimulai sehabis selesai salat asar, sekitar jam setengah 4 sore. Dibuka dengan sesi Kids Pastry Classes. Ini cooking class buat anak-anak yang dipandu sama Chef Nanda Young. Anak-anak diajarin bikin dessert berbahan dasar Lotte Choco Pie dengan menghiasinya memakai fondant warna-warni yang bisa dikreasikan jadi banyak bentuk. Ngeliat anak-anak kok ya semangat banget belajarnya. Pada cepet gitu nyerap ilmunya. Mereka tampak uplek happy gitu berkreasi. Mana hasilnya lucu-lucu banget. Jadi berasa enggak tega makannya juga :’) Keluarlah tiga pemenang, yaitu Safina, MazKa, dan Lintang. Congratz kids!

Sesi berikutnya Lotte Choco Pie Creative Competition. Nah iniiii seru juga. Soalnya ibu dan anak berpasangan buat menghias Lotte Choco Pie, berkompetisi dengan yang lain. Lomba kayak gini bisa jadi premium bonding moment karena mempererat chemistry ibu dan anak, gimana mereka bekerja sama, menikmati kebersamaan, mengeluarkan ide, dan menekan ego masing-masing.

Waktu menuju buka semakin dekat. Kami kemudian masuk ke masjid untuk mengikuti tausiyah interaktif duet Kak Muiz dan Ustaz Wildan. Di dalam masjid sudah ada anak-anak yatim piatu yang duduk berjajar dengan rapi. Semuanya keliatan seneng banget menyimak tausiyahnya. Soalnya Kak Muiz ini kocak deh. Selain pinter mengubah-ubah suara, bonekanya juga lucu. Ditambah dengan ceramah mengenai keutamaan sahur oleh Ustaz Wildan, membuat anak-anak  terhibur sekaligus mendapat maknanya.

Setelah itu, Lotte Choco Pie membagi-bagikan bingkisan untuk semua anak yatim piatu yang hadir. Sehingga anak-anak lain juga belajar pentingnya berbagi pada sesama. Semoga senyum indah anak-anak yatim piatu itu akan terus terkembang. Sehabis itu, azan magrib berkumandang. Saatnya buat berbuka. Setelah makan takjil, salat magrib berjamaah, baru deh makan makanan berat bareng-bareng teman-teman dari Kumpulan Emak-Emak Blogger.

Oh iya, di sana ada lomba fotonya juga. Iseng-iseng saya ikutan, sekalian karena jiwa narsis berfoto ria terpanggil karena photo booth-nya Lotte Choco Pie 3D ini kece banget. Ternyata saya menang, yeaay! Alhamdulilah dapet hadiah uang seratus ribu rupiah dari Lotte Choco Pie. Berkah ramadan banget.

Ada lomba foto yang bisa Mama dan si kecil ikuti. Hadiahnya? Trip sekeluarga ke Bali. Online Photo Contest Lotte Choco Pie ini gampang ikutannya. Beli 2 kemasan Lotte Choco Pie isi 6 buah, simpan struknya ya buat bukti kalau menang nanti. Lalu upload foto kebersamaan dengan si kecil beserta Lotte Choco Pie-nya di instagram atau facebook. Sertakan tagar #Ramadantogether dan #TogethermoreLotteChocoPie cepetan yaaa karena periode perlombaannya hanya sampai 24 Juni 2017. Detailnya bisa diliat di poster atau media sosial @lottechocopie.id

Silaturahmi udah, seneng liat kreasi anak-anak udah, foto bareng Chef Nanda udah, kenyang buka udah. Waktunya pulang ke Bandung dengan hati riang sambil bawa oleh-oleh goodie bag berbentu Choco Pie yang pastinya bikin Rasi bahagia.

Para pemenang Lotte Choco Pie Creative Competition

Digital Financial Literacy For Children: Metode Seru Belajar Keuangan Untuk Anak

Saya termasuk bocah yang tumbuh di pedesaan. Tahun-tahun zaman itu, belum banyak toko mainan di daerah yang saya tinggali. Sehingga hasrat belanja saya belum membumbung. Paling banter hanya ketika lebaran saja saya jajan agak banyak. Karena tertanam dalam pikiran saya bahwa hanya di waktu itulah boleh membeli apa saja. Sehari-hari saya jadi agak terobsesi menabung untuk lebaran. Sayangnya, obsesi itu punah setelah saya pindah ke kota Bandung. Seperti melihat gemerlap cahaya ibu kota, saya pun waktu itu langsung silau oleh banyaknya toko buku dan toko-toko mainan yang mudah diakses dari rumah. Sehingga saya tak lagi ingin menyimpan uang untuk dibelanjakan setahun sekali, tapi tiap kali saya “menginginkan” sesuatu.  Untungnya, saya enggak akan merengek minta pada orang tua saat ingin memiliki buku atau mainan. Pasalnya, sedari kecil, saya dibiasakan keluarga untuk membeli sendiri barang-barang yang saya inginkan. Kepengin buku, boneka barbie, atau mainan? Nabunglah dulu sampai uangnya cukup. Saya jadi terbiasa tak jajan apa pun di sekolah selama berhari-hari. Moment yang terus terputar dalam kenangan saya soal keuangan adalah ketika kakak tertua saya dengan wajah serius mengatakan, “Keadaan keuangan keluarga kita enggak baik. Eva sama Evi harus ngerti. Kalau mau apa-apa nabung sendiri.” Kira-kira begitulah kalimatnya kakak yang disampaikan dalam bahasa Sunda dengan ekspresi super serius. Metode kakak saya berhasil membangunkan rasa heroik saya sebagai anak.

Beda lagi saat saya telah menjadi orang tua. Metode kakak saya ternyata enggak berhasil saya terapkan ke anak sendiri. Banyak faktor yang menggaggalkannya. Kadang karena anaknya yang enggak sabar menabung, sering juga karena tahu-tahu barangnya dibelikan neneknya. Maklum ya kalau ke cucu tuh suka manjain. Kalau saya sendiri, urusan mainan atau buku sih bisa saya tahan, tapi buat urusan kuota… saya enggak bisa ngerem. Sebagai generasi digital, anak saya memang sudah fasih bergawai ria. Dari urusan belajar, main game, ngevlog, sampai nonton kartun. Saya jadi pusing gimana metode yang tepat ngajarin anak mengelola keuangan.

Digital Financial Literacy For Children: Metode Seru Belajar Keuangan Untuk Anak

Metode ngajarin anak dengan menakut-nakuti atau mengintimidasi memang sudah ketinggalan zaman dan tidak efektif. Saya jadi keingetan buku anak Totochan, dalam buku itu diceritakan metode belajar mulai dari apa yang disukai. Kalau anak-anak masa kini begitu menggemari gawai, berarti anak-anak bisa belajar dengan memanfaatkan gawai. Fenomena ini rupanya ditangkap oleh Citi Indonesia (Citi Foundation). Bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) sebagai mitra pelaksana, Citi Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan Citibank menggelar Digital Financial Literacy For Children, yaitu program belajar mengelola keuangan untuk anak sekolah dasar. Program yang menerapkan strategi atau cara mendidik anak di era digital ini menyusur siswa-siswi kelas 3, 4, dan 5.

Anak-anak SDPN Sabang Bandung sedang mengikuti program “Digital Financial Literacy for Children

Program ini memilih edukasi pada anak-anak agar anak-anak mendapat pemahaman mengenai pengelolaan keuangan sedini mungkin. Tujuannya untuk mendorong para siswa agar mengerti literasi digital terkait dengan industri keuangan, terutama perbankan. Kalau kata Mr. Robert Gardiner dari PJI sih diharapkan mereka nantinya bisa jadi duta keuangan buat keluarganya dengan menyampaikan bermacam-macam informasi dari ruang kelas pada anggota keluarga dan menerapkannya dalam keseharian.

Ada enggak sih yang mikir kayak gini, “Kayaknya anak sekecil itu belum waktunya deh dikasih edukasi soal keuangan. Entar ajalah ngedidik anak soal keuangannya kalau anak udah gede.” Mungkin memang sih ya uang jajan anak saat ini enggak gede, kebayang kita sebagai orang dewasa, ngelola uang segitu mah gampang. Tapi buat anak kan uang jajannya itu besar. Selain itu, kalau anak enggak dikasih pengertian soal keuangan sejak dini, kemungkinan anak bakalan ngegampangin saat menginginkan sesuatu. Karena dipikirnya barang-barang yang diinginkannya enggak butuh uang untuk membelinya. Apalagi mainan anak sekarang mahal-mahal. Ya bukan persoalan diajak prihatin atau mikirin keuangan keluarga juga. Tapi biar anak setidaknya mengerti cara mengelola uang secara sederhana dan mengelola keinginannya memiliki sesuatu. Saya jadi teringat sama kata-kata Mbak Novita Tandry, seorang psikolog anak, intinya begini: Lebih sulit meluruskan pemahaman anak yang terlanjur salah saat sudah berusia 9 tahun ke atas. Jadi belajar mengelola keuangan buat anak-anak itu memang penting.

Program “Digital Financial Literacy for Children” ini sudah dimulai sejak Agustus 2016, dan untuk periode kali ini berakhir pada Juli 2017. Programnya menjangkau 2.244 siswa yang terdiri dari 7 SD di 4 kota besar Indonesia. Selain Bandung, tiga kota lainnya yaitu Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Untuk teknis pemilihan sekolahnya, Citi Indonesia meminta rekomendasi dari Dinas Pendidikan. Di Bandung sendiri, terpilih SDPN Sabang yang berlokasi di Jalan Sabang No. 2 Cihapit, Bandung Wetan. Acaranya dilaksanakan tanggal 18 April 2017 lalu.

Awalnya saya pikir bakalan ribet banget ngasih edukasi anak-anak soal keuangan. Ekspektasinya berdasarkan pengalaman pribadi sih ya XD Ternyata enggak sama sekali loh. Karena Citi Peduli Berkarya dan PJI menerapkan metode belajar yang seru buat anak-anak. Mereka diajak bermain dengan menggunakan barang favorit mereka, apalagi kalau bukan gawai. Jadi nih tiap siswa dikasih fasilitas masing-masing satu tablet buat belajar interaktif plus berkelompok. Enggak kurang seru gimana coba? Belajarnya interaktif dua arah biar anak-anak semangat dan enggak bosen. Kalau udah menyenangkan begitu belajarnya, pelajarannya jadi gampang diserap dong sama mereka.

Konten pembelajarannya sendiri sejalan dengan Kurikulum Pendidikan Nasional, jadi ikut mendukung pelajaran di sekolah. Pembelajarannya dibagi dalam 3 modul bertema-tema. Yaitu tema “Keluarga Kami”, “Daerah Kami”, dan “Kota Kami”. Para siswa belajar soal manfaat menabung, perbedaan kebutuhan dan keinginan, metode pembayaran yang tersedia di pasar (tunai, kredit, debit). sampai pengetahuan dasar kewirausahaan. Semuanya disampaikan dengan fun! Beneran enggak bikin mumet, mudah banget dicerna. Kalau ada bingung-bingung gitu, anak-anak bakalan dibantu sama kakak-kakak Citi Volunteers alias para karyawan Citi Indonesia yang terlibat dalam program ini. Tapi sih ya, sesi bagian menjelaskan antara ‘kebutuhan’ dan ‘keinginan’ itu agak-agak jleb gimana gitu ya. Soalnya udah segede ini kok susah banget memisahkan antara keduanya XD

Pulangnya, anak-anak juga dibekali komik pembelajaran buat belajar keuangan di rumah. Yeaay! Pada seneng deh mereka. Komik memang media pembelajaran yang efektif buat anak-anak. Seperti belajar di kelas memakai gawai dan metode games, nanti di rumah saat membaca komik, mereka enggak akan bosen juga belajarnya.

Ngeliat program sebagus ini, saya jadi berandai-andai, semoga tahun-tahun ke depan dilaksanakan di lebih banyak sekolah. Dan sekolah anak saya kebagian juga ^_^ Memang kan program ini rencananya bakal diadain tiap tahun. Atau kayaknya bagus juga kalau ada program untuk diikuti anak-anak umum. Jadi anak-anak yang kepengin ikutan bisa daftar sendiri untuk mengikuti programnya. Saya mengharap juga nih ada program buat para orang tuanya supaya bisa menerapkan metode belajar keuangan untuk anak.

Memaknai Arti “Kebersamaan” Sesungguhnya

 

“Kids need their mom present, not your present (Anak lebih membutuhkan kehadiran ibunya, bukan pemberian hadiah).” –Novita Tandry

Terus terang, ketika pertama kali saya mengetahui tengah mengandung Rasi, perasaan saya campur aduk. Antara terharu, takut, dan belum siap. Waktu itu bukan kali pertama saya mengandung. Setahun sebelumnya, saya pernah keguguran saat usia kandungan tiga bulan. Sehingga saya takut hal itu terjadi lagi. Alhamdulillah Rasi lahir ke dunia dengan sangat menggemaskan.

Karena waktu itu saya masih berstatus mahasiswa, beberapa bulan setelah melahirkan, saya kembali aktif di kampus untuk menyelesaikan skripsi. Belum lagi diwisuda, saya diterima kerja di sebuah stasiun radio. Maka setiap hari, sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja, saya selalu mengurus anak dulu. Saya tidak ingin Rasi merasa kehilangan sosok ibunya. Namun, karier saya sebagai pekerja kantoran tidak berumur panjang. Ibu saya mulai kelelahan mengurus Rasi, maklum karena usia, sehingga saya akhirnya berhenti kerja. Saya memilih menjadi freelancer saja supaya bisa lebih banyak di rumah. Pikir saya, palingan sesekali saja ke luar rumah kalau ada pekerjaan yang memang mengharuskan.

Ternyata oh ternyata, menjadi freelancer pun menuntut banyak waktu. Manajemen waktu yang kurang baik membuat kehadiran saya hanya sebatas ‘hadir’, ada di rumah, tapi seringkali jiwa dan hati saya tak di sana.

Waktu Berkualitas Bersama Anak

Meskipun ada di rumah, waktu berkualitas dalam sehari bisa dibagi beberapa waktu. Pertama, sebelum anak berangkat sekolah. Biasanya waktu memandikan anak dan sarapan menjadi waktu yang menyenangkan, karena tidak ada gawai di antara kami. Rasi yang senang bercerita akan berbicara apa saja. Sebisa mungkin saya akan memberi respon excited. Kalau saya merespon seadanya, dia akan protes. Begini misalnya, “Mamah kok gitu ngomongnya? Kalau ngobrol sama Mama Pi suka semangat.” Fyi, Mama Pi itu sebutan buat kembaran saya Evi. Rasi suka memperhatikan saat saya ngobrol dengan kembaran. Makanya dia suka membandingkannya. Anaknya memang kritis.

Kedua, saat makan siang dan makan malam. Waktu-waktu ini sambil makan, kami akan bertukar cerita dengan seru. Kemudian, sebelum tidur, saya akan membacakan buku. Baik itu buku dongeng, ensiklopedia anak, maupun buku cerita dan komik. Kadang kalau bosan dengan buku-bukunya, dia akan meminta saya mengarangkan cerita sendiri.

Ekspresi Rasi tiap makan Lotte Choco Pie

Di luar itu, premium bonding moment kami adalah saat membuat prakarya. Rasi senang membuat origami. Seringkali dia mengajari saya origami yang rumit-rumit. Meskipun saya tidak tertarik pada origami, biasanya saya ikuti sampai setengah jalan. Selebihnya menyerah karena saking rumitnya. Acara membuat prakarya ini akan diakhiri dengan makan camilan bersama. Saya pilih Lotte Choco Pie yang soft cake dan marshmallow-nya dilapisi cokelat premium. Rasi suka sekali pada cokelat soalnya. Sebulan sekali saya menjadwalkan bertamasya ke mana saja. Tidak harus yang jauh-jauh, kadang cukup ke taman dekat rumah. Senang kalau dia lagi jalan-jalan gitu, jadi cepat lapar. Pasti saya sediakan camilan untuk perjalanan. Tentu Lotte Choco Pie siap sedia di tas.

Rasi dan Lotte Choco Pie favoritnya

Nyatanya, waktu-waktu itu tidak cukup untuk Rasi. Kadang pula, saat pekerjaan saya menumpuk, ada waktu berkualitas yang terpungkas. Sehingga meskipun saya ada di sampingnya, pikiran saya melayang-layang pada pekerjaan. Anak-anak memang makhluk paling peka, ketika hal itu terjadi, Rasi akan mengatakan, “Mama kayaknya lagi mikirin kerjaan ya?”

Memaknai Arti “Kebersamaan“ Sesungguhnya di Blogger Gathering With Lotte Choco Pie

Kita tentunya sepakat, tak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua yang baik. Sekolah kehidupan saat menjalaninyalah tempat pembelajaran terbaik. Namun, bagi kita yang masih memiliki orangtua, kita patut bersyukur karena dapat berkonsultasi dan didampingi dalam mengasuh buah hati. Di luar itu, kini teknologi informasi telah memberi banyak artikel untuk belajar dari para pakar ataupun psikolog. Juga telah banyak acara-acara sharing parenting diadakan banyak kalangan. Salah satunya acara “Blogger gathering with Lotte Choco Pie” bersama Kumpulan Emak Blogger (KEB) tanggal 22 April 2017 kemarin. Acara ini bermaksud makin mendekatkan hubungan ibu dan anak, bertajuk “Together, More”. Karenanya, yang diundang bukan hanya para ibu, tapi sepaket dengan anaknya. Makanya disediakan area bermain dan pojok kreatif bagi anak. Sayangnya karena Rasi sekolah, saya tidak bisa mengajaknya. Izinkan saya berbagi pengetahuan dan rasa haru yang saya dapat dari acara itu.

Pojok kreasi untuk anak

Sedari subuh saya bersiap-siap menuju Jakarta. Sesuai perkiraan, jalanan macet karena long weekend. Bahkan kendaraan menuju Bandung seperti jalan di tempat. Untunglah saya datang tepat waktu. Sempat tertegun melihat venue yang ditata sedemikian cantik. Bunga-bunga segar bertengger manis di atas meja, melebur dengan Lotte Choco Pie yang bikin kepengin menggigitnya saat itu juga.

Berpose di meja yang tertata cantik

Acara kemudian dibuka oleh mbak-mbak awet muda Mak Mira dengan interaktif. Setelah sambutan dari Mr. Hiroaki Ishiguro yang merupakan President Director of Lotte Indonesia, Mak Mira menghadirkan tiga narasumber, yaitu Mbak Oci C. Maharani dari Lotte Choco Pie, Carissa Putri sebagai Brand Ambasador Lotte Choco Pie, dan psikolog anak Mbak Novita Tandry.

Mak Mira Sahid sang MC seru

 

Ketika Carissa menceritakan bagaimana ia membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan sebagai public figure, saya merasa… kalau kata Mak Mira sih “ditampar”. Carissa yang sibuknya luar biasa saja bisa. Kok saya yang bukan siapa-siapa, keteteran terus.

Sesi yang paling berkesan buat saya adalah sharing Mbak Novita. Ini saya sampe nangis-nangis 😥 Awalnya Mbak Novita cerita tentang positif negatifnya keadaan para emak di era digital. Godaan terbesarnya, para ibu jadi terus-menerus memegang gawai ketimbang mengasuh anak. Padahal masa kecil anak tidak bisa diulang. Dan waktu begitu cepat berlalu. Memang, bukan sekarang saja, sejak dulu, para ibu memang dituntut multitasking. Saya ingat sejak kecil melihat Mama mengurus rumah, bisnis es, mengasuh anak-anak beliau, menjahitkan baju sendiri untuk orang rumah, sampai membantu Ayah di toko. Kini, di era digital, para ibu mendapat tantangan lain. Seluruh anggota keluarga seringkali sibuk dengan gawainya. Apalagi hal itu terasa sekali pada saya yang memang ‘ngantor’ di media sosial. Batas antara bekerja dan kebutuhan pribadi menjadi setipis kertas. Seringkali saya menjadikan ‘pekerjaan’ alasan untuk terus memelototi gawai. Menurut Mbak Novita, anak-anak generasi sekarang merupakan generasi instan yang daya juangnya agak lemah. Yang bisa mengubah itu semua adalah sentuhan orang tua.

Mbak Novita Tandry sedang memberi materi

Lalu Mbak Novita mengatakan hal yang membuat saya menunduk dalam-dalam. Katanya, “Yang terpenting dari kebersamaan ibu dan anak yaitu bukan hanya badannya yang hadir tapi juga jiwa dan hantinya.” Inilah yang sering luput saya lakukan, merasa sudah berada di rumah bersama anak, satu ruang dan waktu, maka merasa sudah ‘hadir’. Padahal jiwa dan hati saya tengah berkelana ke mana-mana. Kebersamaan yang sesungguhnya bukan hanya menghadirkan tubuh, tapi segenap jiwa dan raga. Kebersamaan baru benar-benar bermakna. Karena memang, ketika saya hanya sekadar ‘ada’, anak tetap merasa diabaikan. Tips dari Mbak Novita dan Carissa adalah sebagai ibu, kita mesti ‘terlibat’ dalam kegiatan anak. Bermain bersama, misalnya. Tentu saja arti ‘terlibat’ dan ‘hanya ada di tempat’ sangat jauh sekali perbedaannya.

Bersama seluruh emak kece Kumpulan Emak Blogger

Lalu sampailah pada moment saya merasa sangat tersentuh oleh kata-kata Mbak Novita, “Ketika kita merasa selalu kurang memberi anak, sesungguhnya kita telah memberi lebih. Ketika kita merasa telah memberi lebih, sebenarnya kita hanya memberi kurang.” Melelehlah air mata saya mendengarnya. Bukan karena saya merasa memberi kurang kemudian sesungguhnya saya telah memberi lebih, tapi ketika saya selalu memberi kurang pun, anak saya merasa saya tetaplah ibunya yang terbaik. Detik itu saya terbayang wajah Rasi ketika seringkali dia berucap, “You’re my best mom!” Padahal sesungguhnya tak sekali pun saya merasa telah menjadi ibu yang baik. Langsung rasanya saya kepengin memeluknya erat.

Para Emak berfoto dengan anak-anak yang telah mengikuti sesi permainan

Seusai sharing parenting, anak-anak mengikuti permainan berkelompok, sementara para ibu menyemangati mereka. Tampak wajah-wajah riang polos kanak-kanak yang meneduhkan. Muka-muka yang mengantar pada keindahan masa kecil. Semoga saya bisa memberi masa kecil yang menyenangkan buat Rasi. Acara blogger gathering kali ini begitu berkesan dan menghangatkan hati. Worth it rasanya menempuh perjalanan jauh, karena saya mendapatkan pengalaman batin. Semoga saya bisa mempraktikkan kata-kata ini: Menjadi orang tua yang memanjangkan kesabaran dan memegang amanah. Karena anak adalah amanah dari Tuhan.