My Girl – Anak Marmut Vincentia Natalia

My Girl – Anak Marmut Vincentia Natalia

Image

Hei, kamu curang nulis surat duluan. Padahal hari ini aku udah siapin surat buat kamu. Ah, sudahlah, pokoknya suratmu bikin aku terharu banget. Hiks. Surat ini kutulis sengaja tanpa banyak diksi karena kamu gak suka yang banyak diksi, bikin puyeng yah? Hihihi.

Anak Marmut,

Aku gak nyangka ketika Delia memasukkanku ke grup “Writing Writer” bakalan banyak dapet sahabat. Salah satu yang paling istimewa adalah kamu, Li. Ingetkah pertama kita deket banget ketika mulai chat di FB, berlanjut ke BBM? Kamu dengan pribadi yang unik, segar, ceria, dan lucu selalu bikin aku seneng.

Li, kamu hadir di salah satu masa paling kelam dalam hidupku. Menyemangati, setia mendengarkan, dan kamulah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Voice Note mu waktu itu berhasil bikin aku nangis lama, ngerasa ada seseorang yang bahagia atas kelahiranku di bumi ini sekalipun kita gak pernah ketemu. Kamu selalu berhasil membuatku merasa “Baik-baik saja” saat aku sebenarnya “Tidak baik”. Kamu menerima kekurangan dan sisi gelapku. Benar-benar sisi yang mungkin gak akan orang lain terima kalau tahu.

Banyak hari yang kita lalui dengan obrolan-obrolan panjang. Dari masalah wanita sampai tulisan. Ketika awal menulis novel ketiga, aku sering kehilangan semangat. Kamu tahu, yang membuatku selalu terpacu adalah ketika membaca tulisanmu. Terserah orang bilang apa ketika membaca bab-bab awal kisah Bella dan Ian. Tapi pertama kali kubaca, aku langsung terpesona. Pesona mereka menghipnotisku untuk tidak berhenti. Percayalah ini bukan gombal. Heuheu, jadi teringat katamu, “Teteh jagoan ngegombal”. Padahal aslinya mana bisa aku ngegombal, Li. Jangan pernah meragukan kemampuan dan usahamu dalam menulis ya, Li.

Ketika novelku selesai dan mendapat penolakan dari penerbit, kamulah yang bersedih. Aku terharu. Li, aku gak akan menyerah kok. Akan terus kuperjuangkan novel itu. Ada sentuhanmu di sana. Sentuhan semangat yang berkobar. Jadi jangan pernah punya niatan berhenti menulis, ya. Karena kamu akan membuat Eva-Eva yang lain juga terus menenun kata. Berbagi pada dunia. Li, kita gak akan berhenti berkarya, kan. Meskipun rencana duet kita tersendat-sendat, tapi kita akan membuatnya jadi nyata. Akan ada namamu dan namaku dalam novel kita.

Li, banyak hari-hari galau kita lewati bersama. Kadang kita meracau di Twitter dan FB, saat itulah, kita selalu saling mengingatkan untuk berhenti menggalau di jejaring sosial. Biarlah kita saling berbagi, tanpa orang harus tahu kesedihan apa yang menimpa kita. Tapi tetap saja kadang kita kehilangan kontrol, ya. Aku ingat satu hari yang menyesakkan, saat kamu sangat bersedih. Li, jangan pernah ngelakuin hal-hal bodoh kayak gitu lagi ya. Aku gak mau kamu pergi. Waktu itu aku benar-benar menyadari bahwa aku gak bisa memelukmu. Persahabatan jarak jauh ternyata sama sedihnya kayak pacaran LDR. Tapi buatku, kamu selalu terasa benar-benar ada. Aku yakin Tuhan mengirimkanmu bukan untuk waktu sebentar. Tapi sampai kita tua nanti. Akan banyak tahun-tahun di depan sana yang akan kita lewati bersama. Salah satu impianku adalah hadir di hari pernikahanmu nanti. Saat kamu bertemu Mr. Right aka Mr. The One and Only.

Li, kamu itu lucu. Selain selalu membuatku tertawa, kamu suka merasa cemburu. Padahal kamu gak usah ngerasa begitu, karena kamu selalu punya tempat sangat istimewa di hatiku. Li, aku tak pernah punya pikiran ingin pergi ke Pontianak sebelumnya. Tapi sekarang aku sangat-sangat-sangat ingin ke sana. Menemuimu. Katamu waktu itu, “Teh, kalau ketemu pasti kita gak bisa diem”. Li, tahukah kamu kalau aku sangat ingin ketemu. Ingin melihat secara langsung kecerewetanmu, dan pasti kita bakalan ketawa sampai kelaparan.

Aku selalu percaya, Li, hari pertemuan itu akan benar-benar datang. Saat aku bisa memelukmu erat.

Advertisements

SERUPA KITA – Untuk Evi Sri Rezeki

Serupa Kita

Evi Sri Rezeki – My Original Girl.

 

EvaEvi

 

Chicky, Flicky, Piki

 

Aku menulis ini sambil mendengarkan lagu Danur yang kamu beri untukku.

 

Sadarkah kamu, kadang aku merasa seperti kucing kecil yang mengekorimu ke mana pun kamu pergi. Sedari kecil duniaku memang selalu terpusat padamu. Selalu kamulah yang pertama kulihat di bumi ini. Tahukah kamu, aku sering ingin menjadi sepertimu. Sering ingin bertukar posisi. Kamu selalu tampak bersinar untukku. Apa yang tidak bisa kulakukan—atau tepatnya takut—selalu bisa kamu lakukan. Kamu sedari kecil selalu pemberani. Karena itulah aku selalu memanggilmu original.

Vi, aku selalu menganalogikan kita sebagai batu dan permen. Aku adalah permen dan kamu batu. Aku permen yang di dalamnya batu, kamu yang batu di dalamnya permen. Begitulah kamu. Terlihat keras dan kuat di luar, namun begitu lembut dan manis di dalamnya. Sedangkan aku sebaliknya. Vi, kita telah saling mengenal segalanya, bahkan melebihi memahami diri sendiri. Apa yang tak bisa kuejawantahkan, bisa kamu jabarkan dengan tepat. Rasa, pikiran, dan keputusan.

 

Vi, hidup kita tidak pernah mudah. Mungkin itulah sejatinya sebuah petualangan. Penuh gelombang dan badai, memenuhi hasrat kita agar tak pernah bosan.  Meski sering kali merasa tak sanggup terus berjalan. Orang-orang mungkin tak tahu, betapa sulitnya kita berproses untuk benar-benar menerima bahwa kita anak kembar. Karena kembar adalah anugerah sekaligus kutukan. Sebuah perjanjian seumur hidup untuk siap dibandingkan. Mereka mungkin menganggap itu sepele, tidak bagi kita yang mengalaminya. Apapun yang ada pada kita selalu dibandingkan. Seperti tak puas melihat kita sebagai satu individu yang merdeka dengan kehendak, nasib, dan takdirnya sendiri. Betapa lelahnya kita melewati proses itu. Kita bahkan tanpa sadar pernah saling membenci, dan akhirnya mengantarkan kita pada sebuah ketulusan dan cinta yang hakiki. Itu hanya satu bagian pahit dari hidup, agar kita mengenal senyap yang melebihi sunyi, yang pada akhirnya mengantarkan kita pada hingarnya bahagia.

 

Betapa kita terlahir menjadi dua adalah anugerah. Tak pernah aku benar-benar sendiri. Meski kadang ada jarak. Jarak yang sesungguhnya bukan jarak waktu dan tempat, tapi jarak rasa. Ternyata jarak itu hadir sebagai media untuk kita agar tak saling melukai. Vi, kita selalu saling menguatkan. Saat cinta dan impian menjadi pisau yang mengoyak, selalu ada tempat untuk kembali tegar. Ada pelukan untuk meredam risau, ada senyuman untuk menghalau gelisah.

 

Vi, kita sering berbagi kegalauan yang sama.

 

Ingatkah saat malam-malam kita lalui dengan pembicaraan frustrasi pada akademik. Nilai-nilai, tugas, dan skripsi. Rasanya kita waktu itu tak akan pernah merasakan lulus dan wisuda. Namun akhirnya bisa kita selesaikan dengan hasil yang menurut takaran kita memuaskan.

Atau saat cinta lagi-lagi membuatmu gamang. Kamu sering bertanya, “Bosen ya, Pa, dengernya?”  dan aku selalu menjawab tidak. Kisah cintamu memang sering berulang, mendulang luka, tak juga membuatmu kebal.  Lalu kukira aku tak akan lagi merasakan pedih itu, ternyata hidup memang tak bisa ditebak arahnya. Tapi sebesar apapun nestapa, kita tahu akan kembali berdiri, meninggalkan kisah lalu yang kita sepakati hanya akan jadi ingatan dan pelajaran, bukan sebuah kenangan.

 

Vi, kita selalu berbagi impian.

 

Sedari kecil kita adalah pemimpi. Pemimpi yang membuat orang selalu percaya kita bisa meraih dan mewujudkannya. Sayangnya kita pemimpi yang bodoh. Kita seringkali tak bisa membedakan antara impian dan keinginan. Kita memilih menggapai keinginan-keinginan yang menyaru jadi impian. Hingga kita tak pernah fokus, lalu baru menyadari waktu telah lama berlalu. Ah, untungnya tak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua pengalaman itu bisa kita jadikan bahan cerita, meskipun terdengar seperti alibi.

Kini kita telah memilih jalan pasti. Sebuah taman bermain penuh fantasi dengan petualangan paling seru. Kita telah memilih menjadi penulis. Perjuangan belum seberapa, tapi kita telah sepakat tak akan pernah menyerah. Seperti tokoh fiksi yang kita hempas dengan berbagai badai, namun akhirnya mencapai kegemilangan.

 

Vi, maaf ya. Aku sering meninggalkanmu sendirian di rumah. Padahal aku selalu marah dan melarangmu keluar rumah dari dulu. Aku tahu betapa sedihnya ditinggalkan. Seperti saat kamu berkali-kali memilih kos. Vi, aku selalu ingin menjadi seperti ibu bagimu, agar aku bisa menjadi teduhnya rumah.

Vi, sudah subuh. Adzan sudah terdengar jelas di rumah kembar kita. Aku ingin lelap sejenak, sebelum dibangunkan putri cantik kita yang setiap membangunkanku persis penyu penggigit. Nanti akan kubuatkan kalian sarapan nasi goreng, lalu kita bercerita sambil terkantuk-kantuk di pagi hari, sedangkan Rasi ribut minta dibelikan sepasang hamster.

 

Kututup perjumpaan kata kali ini dengan sebuah puisi yang pernah kuberikan padamu:

 

Serupa Kita

Seperti menatap cermin yang tak sempurna

Jiwa kita yang dipaksa berpisah dalam dua raga, berkelana dalam dunia yang sama

Kita menyulam dongeng yang berbeda

Serupa ruh yang menghidupkan dua kutub

Kita selalu ingin bersama

Aku tak mungkin tersesat saat ingin pulang, karena napasmu adalah kompasku untuk kembali

Tapi aku tak akan selamanya menjadi rumah untukmu

Karena perpisahan selalu menjadi keniscayaan

Jiwamu jiwa pengembara

Jiwaku jiwa pengelana

Mari kita bertemu, untuk berbagi kisah

Karena sebenarnya tak ada  kita, yang ada hanya aku dan dirimu dalam wujudmu, juga kamu dan diriku dalam wujudku.

 

 

Gadis Matahariku – Amaya Kim

Gadis Matahariku Amaya Kim.

 

amayakim

Dear Amaya, sebelum benar-benar mengenalmu, entah kenapa aku merasakan sebuah chemistry ketika membaca postinganmu di kelas kita. Posting tentang penulisan itu sangat apik—meskipun aku sudah lupa isinya apa. Tapi aku tidak berani mengenalmu secara langsung. Ya, ini aneh, kuulangi lagi ANEH! Karena biasanya ketika aku merasakan chemistry dengan seseorang aku akan berusaha mengenalnya. Tapi padamu ada sebuah keraguan yang tidak bisa kujabarkan, yang sepertinya takut ada penolakan. Pikiran bodoh, ya ^^

Aku masih setia mengikuti beberapa postinganmu sebelum tiba-tiba kamu menghilang, juga selalu memberi “Like” tanpa mampu berkomentar. Lalu hidup ini memang selalu memberi jalan perkenalan yang ajaib. Ketika sharing tentang pembuatan novel dengan teman kita “Dion”, dia menyarankanku untuk memintamu menjadi first reader. Katanya kamu memberi saran yang tidak bisa dia ceritakan dengan kata, pokoknya “WAH”.  Dengan catatan kalau kamu sedang tidak sibuk, katanya. Aku semakin tertarik. Bukan karena menginginkan saran-saranmu, tapi memang semakin ingin mengenal pribadimu.

Aku memberanikan diri meng-add-mu di FB dan memberi pesan. Esoknya pertemanan itu kamu iyakan. Senang sekali rasanya, apalagi kamu mau menjadi first reader-ku. Saat itu aku masih menulis ulang, baru selesai beberapa bab saja. Dengan kepercayaan diri rendah, aku mengirimkan ke emailmu.

Setelah itu mulailah kita saling berkirim pesan singkat. Dari obrolan penulisan sampai pribadi. Kita berbagi kisah pahit manisnya hidup. Amaya, aku sangat terkesan dengan pribadimu yang mengagumkan. Kerendahan hati, semangat, dan segalanya sangat menyentuh. Aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari hiupmu, meskipun masih dalam bentuk maya.

Amaya, aku tahu kamu tak suka menjadi maya. Karena kamu sangat senang ketika teman-temanmu memanggilmu A-Maya dari nama panjang yang kamu katakan kalau dirapal bisa sebagai mantra obat sakit perut. Bagiku kamu bukan sesuatu yang maya, Amaya. Kamu sangat istimewa.

Lalu suatu hari, di saat aku (lagi-lagi) hampir menyerah membereskan penulisan novel, aku mendapat sebuah pesan singkat darimu. Isinya kira-kira begini: jangan menulis untuk membuat orang lain terkesan, tapi menulislah untuk kesenangan.

Amaya, kamu pasti tidak tahu, bahwa setelah menerima pesan singkat itu aku menangis tersedu-sedu sampai hampir satu jaman. Aku merasa kembali diingatkan akan tujuan awalku untuk menulis. Menulis karena panggilan hati, panggilan jiwa, menulis untuk kesenangan, kebahagiaan. Menulis sebagai wujud taman bermain tanpa batasan waktu, dan sekat tempat.

Adegan tadi itu persis seperti adegan dalam novel Dunia Trisa ketika Trisa kehilangan semangat dan tujuannya menjadi seorang artis. Lalu dia mengingat kembali bahwa sejatinya impiannya itu bukan untuk mencari popularitas atau main di banyak film dan sinetron, tetapi dia memang merasa hidup berada di dunia seni peran.

Terima kasih sudah mengingatkanku akan hal itu, Amaya.

Amaya gadis matahariku, kamu memberiku kehangatan jiwa.

Terima kasih telah menjadi sahabatku.

Teruslah bersinar, di mana pun kamu.

RASI KAUTSAR – KUCING KECILKU

Anakku Rasi Kautsar, gadis kecil dengan senyum tak pernah pudar.

 

rasi4

Kucing kecilku, kamu sudah jadi gadis kecil sekarang. Hampir tiga tahun setengah usiamu. Padahal rasanya baru kemarin kamu masih menendang perutku, hidup dan bernapas dalam diriku. Sekarang celoteh tak hentimu selalu menjadi musik paling indah yang mengusir senyap dalam rumah kita. Nyanyianmu selalu menjadi nada paling merdu yang menggetarkan jiwa. Senyum dan tawamu memberi warna. Ada keharuan ketika melihatmu lincah berlari, ketika menatap tanganmu sibuk memainkan drum kecil. Atau saat kamu ingin aku menerbangkanmu seperti Timmy. Kamu selalu terlihat lucu ketika aku memanggilmu “Kucing kecil”, kamu akan mengeong menggemaskan.

Kucing kecilku, tahukah kamu, bahwa seringkali aku merasa telah berlaku tak adil padamu. Terlalu sibuk dengan duniaku sendiri yang dihuni kata-kata. Hingga kamu bermain sendiri di taman kecil kita. Atau bersembunyi dalam selimut yang kamu bangun menyerupai tenda. Sering juga kamu mencari perhatian dengan tatapan memelas atau tangis keras. Kadang yang paling membuatku tercabik, ketika kutemukan kamu menangis tertahan, menenggelamkan kepala dalam bantal.

Saat-saat paling intim yang kita lewati hanya tiga kali sehari. Seperti minum obat, ada dosisnya. Seharusnya seperti napas yang tak kenal jeda. Saat-saat itu adalah ketika kamu mandi di pagi hari, kadang kita bermain air dan sabun, lalu kita berjalan-jalan menikmati matahari. Kemudian di malam hari saat kubacakan buku cerita atau kudongengkan kisah Putri Rasi dari negeri cinta. Selebihnya kamu akan bercanda bersama Tom and Jerry, atau Shaun.

Kucing kecilku, kadang aku memarahimu hingga kamu balik memukulku kesal dengan kepalan tangan kecil. Saat kamu yang niatnya membantuku memasak malah mengacak sayuran, atau saat kamu membuang-buang makanan.

Kucing kecilku, maafkan mama kucing, karena belum juga bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Kadang aku merasa tak pantas menjadi ibumu. Karena aku tahu, yang kamu butuhkan adalah cinta yang utuh, bukan tumpukan naskah lusuh.

Kucing kecilku, aku suka memakai namamu untuk tokoh-tokoh rekaanku. Hampir semua pemeran utamanya bernama Rasi. Alasannya agar kamu menjadi bagian setiap jejakku. Lalu aku berpikir ulang, tidak semua kisah yang kutulis itu berakhir bahagia, bahkan seringkali tragis. Aku kemudian berhenti memakai namamu untuk kisah-kisah tragedi, agar tidak menjadi sebuah doa.

 

NAK

Seperti pantun, aku menemukan cinta yang jenaka

Cinta penuh tak kenal peluh

Cinta absolut yang lembut

Nak, tapi sungguhpun aku seorang ibu, aku tak tahu cara mencintaimu dengan benar

Apakah air susu mampu mengejawantahkan cinta itu

Apakah pakaian dan teduh tempat tinggal bisa menyampaikannya

Apakah dongeng-dongeng yang kuceritakan setiap malam bisa mendefinisikannya

Bahkan doa-doa tak cukup membalas cintamu

Karena sungguh, kehadiranmu telah membuatku merasa ada.

 

Kucing kecilku, beri aku waktu membenahi diri, agar bisa memberi bahagia. Karena kamulah gugusan bintang, kamulah nikmat, dan kamulah cahaya hatiku.

Surga bukan berada di telapak kakiku, Nak. Tapi ada pada senyummu.

 

Dear You, si penendang bola di masa kecil

anak sd Foto dokumentasi dari gieputra.blogdetik.com

 

Dear you,

Tiba-tiba aku ingin menulis surat untukmu yang hilang belasan tahun lalu. Bagaimana keadaanmu sekarang, ya?  Semoga sehat dan bahagia.

Yah, memang ada alasan kenapa tiba-tiba aku ingin menulis surat padamu. Begini ceritanya.

Pagi ini aku mengingat masa sekolah dengan segala warna dan dinamikanya. Kamu pasti tidak tahu bahwa aku begitu terobsesi dengan masa sekolah. Begitu ingin mengulang kembali menjadi anak sekolah. Tidak, tidak, tidak harus mengulang masa sekolahku dulu, tapi menjadi anak sekolah lagi, di mana pun itu. Pasti menjadi pengalaman yang kembali luar biasa seperti pengalamanku dalam nyata.

Ketika mengenang, ada satu yang mengganjal. Tak satu pun seseorang yang terasa istimewa untuk kukenang. Kenapa? Perasaanku sudah hilang berganti ingatan yang datar. Cinta telah selesai. Karena cinta yang tak selesai selalu mengundang kenangan, kerinduan, dan penyesalan. Karena benar-benar sudah usai maka segalanya terasa usang.

Lama aku berpikir, benarkah tak ada seorang pun yang bisa kukenang. Lalu hadir ingatan tentangmu di masa SD dulu. Mungkin aku kecentilan di usiaku yang baru sembilan tahun, aku sudah tertarik padamu. Kamu yang kutatap diam-diam dari celah pintu. Kamu sedang menendang bola dengan bersemangat, tampak bercahaya. Rambut pendek, mata bulat bersinar, hidung mancung, alis tebal, dan jaket kulit hitam atau sweater biru putih yang membuatmu sempurna sebagai tokoh komik yang hadir di dunia nyata.

Lalu kuketahui namamu, sekolahmu—ingat, kan, gedung sekolah kita dipakai beberapa sekolah—dari teman sekelasku yang akrab denganmu. Bahkan kalian digosipkan pacaran. Ternyata bukan hanya aku yang menyukaimu, kembaranku juga. Kamu adalah satu-satunya pria yang berhasil membuat si kembar menyukai pria yang sama.

Kita—atau tepatnya kamu, aku, dan Evi—menjadi akrab. Jam istirahat sering kita lalui bersama di perpustakaan sekolah yang baru dibuka, bahkan kamu sering menunggu kami pulang. Aku bukannya geer, tapi buat apa kamu cari perhatian di dekat kelasku usai pulang sekolah sementara kamu bisa langsung pulang. Bahkan rumah kita tidak searah.

Obrolan-obrolan konyol, senyum polos, dan banyak hal lucu terjadi di antara kita. Sadarkah kamu kalau aku selalu sengaja berada di barisan paling belakang saat upacara bendera, hanya agar bisa jelas melihatmu? Lalu ketika acara kartinian, waktu itu aku berdandan menjadi kartini kecil. Kamu menatapku beberapa detik tanpa berkedip—semoga aku tidak salah ingat.

Sayangnya, lama-lama kamu menjauh, entah apa sebabnya. Mungkin karena kita—aku, kamu, Evi, tambah teman sekelasku—digosipkan. Untuk anak SD, canggung sekali rasanya.

Lalu kamu lulus duluan. Sedih sekali waktu itu. Aku kehilanganmu di lapangan bola, kehilangan kejahilanmu, kehilangan semangat ke perpustakaan, dan sederet kehilangan yang tak terkatakan. Setelah itu kita hanya bertemu tak lebih dari tiga kali ketika kamu berkunjung ke sekolah. Kamu tampak lebih dewasa, tidak seimut dulu, dan tidak lagi menatapku. Kalau satu-satunya saat di mana aku ingin mengulang masa SD, adalah saat aku telah mengenalmu. Berharap bisa sekali lagi melihatmu menendang bola ke gawang.

Pernah aku mencarimu lewat internet. Google, Facebook, Friendster, kecuali Twitter. Tapi tidak ada jejak sama sekali. Kamu memang menghilang. Tapi aku masih berharap kamu hidup di suatu tempat.

Aku masih ingin mengetahui hidupmu setelah itu, sekedar tahu. Aku tidak akan menganggu. Karena aku tidak hidup dalam kenangan. Mungkin hidupku tidak sempurna, tapi aku tidak berkutat dengan masa lalu. Aku ingin petualangan baru tanpa menoleh ke belakang. Satu-satunya yang masih bisa kukenang hanya kamu, bukan karena ada yang tak selesai di antara kita. Tapi karena kenangan tentangmu saja yang masih bisa kukenang.