10 Buku Paling Berpengaruh Buat Saya


Bulan lalu Facebook memberi saya notif kenangan. Tiap hari sih sebenernya. Facebook sepertinya mendukung gerakan #NetizenGagalMoveOn karena selalu berusaha mengingatkan penggunanya pada kenangan-kenangan. Sebagai warganet yang baik, saya membuka notifikasi itu dong. Dari sekian banyak status alay dan galau di masanya, saya menemukan satu postingan berfaedah. Status itu bercerita tentang 10 buku paling berpengaruh buat saya. Adapun sebabnya saya bikin status panjang itu karena di-tag oleh Reza Nufa. Saat itu rupanya lagi ngehits postingan berantai. Semacam yang kena tag mesti menerima tantangan. 

Saya membayangkan, waktu menulisnya, saya pasti berpikir keras. Soalnya judulnya itu loh ada kata ‘berpengaruh’. Sebelum memutuskan untuk memposting di blog ini, saya baca baik-baik dulu. Itu kan versi tahun-tahun lalu, saya sudah banyak baca buku-buku baru. Kali aja ada yang posisinya tergeser. Ternyata… Enggak. Isi list-nya masih sama. 

Baiklah, mungkin ada yang kepengin tahu list saya. Ini dia list-nya:

1. Gone With The Wind – Margaret Mitchell. 

(sumber gambar fanpage Gone With The Wind)

Novel dan film paling menginspirasi sepanjang hidup saya. Buat saya novel ini sempurna. Cerita, karakter, teknik penulisan, dan semua di sini begitu berkesan. Terutama tokoh Scarlet-nya. Karena novel inilah saya yakin dengan jalan saya di dunia penulisan. Sejak awal membaca hingga kini, saya masih bermimpi ingin bisa membuat karya seperti itu. 

2. The Litle Vampire – Angela Sommer – Bodenburg

                               (sumber gambar Goodreads.com)

Buku ini saya pinjam dari teman SD, artinya sampai saat ini saya enggak memiliki bukunya. Ceritanya tentang vampir kecil bernama Rudy. Seingat saya, tata bahasanya sederhana tapi memikat. Buku anak pertama yang bikin jatuh cinta. Gara-gara buku ini saya jadi tergila-gila membaca buku. Entah berapa kali saya baca ulang. Karena buku ini imajinasi saya melambung-lambung. Kepengin tinggal di kastil-kastil kuno, sampai bertualang bersama vampir.

3. Candy-Candy – Kyoko Mizuki & Yumiko Igarashi

(sumber gambar Goodreads.com)

Gara-gara kartunnya dihentikan penayangannya di TV, saya akhirnya bikin terusannya sendiri–habis gimana lagi, waktu itu nyari komiknya sesusah nyari kucing di planet Saturnus. Kalau zaman sekarang disebutnya nulis fan fiction. Itu pengalaman menulis saya yang pertama, tapi komik ini berhasil membuat saya menelurkan karya original pertama yaitu komik dengan tokoh imajinasi sendiri Fredy si robot XD Kabar baik lainnya, setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya saya menemukan seri lengkapnya. Candy-candy selalu bikin mata saya bengkak tiap baca. 

4. 20th Century Boy – Naoki Urasawa. 

(sumber gambar Goodreads.com)

Teman saya bernama Wildan, memaksa saya untuk membaca komik ini. Atas rekomendasi dia yang memberi jaminan tinggi akhirnya saya baca juga. Awalnya enggak berekspektasi melangit, tapi ternyata memang komik ini keren banget! Pembuatnya jenius! Gara-gara baca komik ini muncul sebuah konsep komik yang sampai detik ini belum berhasil dieksekusi. Sedih banget ya. Berharap suatu hari ada komikus yang mau berkolaborasi sama saya XD 

Sejak baca 20th Century Boy, saya ketagihan baca komik-komik Naoki yang lain. Dan semuanya… bagus! 

5. Monster The Series – Naoki Urasawa (lagi). 

(sumber gambar Goodreads.com)

Ini bukti kalau Naoki memang komikus jempolan. Karyanya Monster The Series berhasil mempengaruhi hidup saya lagi. Pasalnya komik ini memberi saya perenungan dan kesadaran baru. Ceritanya stres dari awal sampai akhir. Keren banget thriller-nya. Bikin saya jetlag cukup lama.

Terus terang saya suka gimana gitu sama orang yang meremehkan komik. Komik dianggap kurang bermutu dan semata hiburan aja. Padahal konten dan bobot komik itu beda-beda. Ada yang berat banget kontennya. Kayak komik ini. 

Rating pembacanya komik dibagi-bagi. Ada yang buat anak-anak, ada bacaan remaja, ada yang dewasa. Komik-komik Urasawa termasuk rating 21+ kalau gak salah.

6. On Writing: A Memoir of the Craft – Stephen King. 

(sumber gambar Goodreads.com)

Buku kisah pribadi yang memotivasi sekaligus ngasih pembekalan teknik menulis. Sejujurnya baru ini buku Stephen yang saya baca sampai habis. Dan ingin saya baca berulang-ulang ketika saya kehilangan motivasi di jalan penulisan.

7. Percy Jackson the series – Rick Riordan. 

(sumber gambar Goodreads.com)

Pada dasarnya dari kecil suka tentang mitologi Yunani dan Romawi kuno. Rick membuat kisah mereka di zaman modern dengan petualangan seru dan humor yang menghibur. Seri Percylah yang menemani saya menyelesaikan novel Parade Para Monster.

8. Nice Summer – Emiko Yachi. 

(sumber gambar Goodreads.com)

Komik ringan yang menghibur. Bacaan wajib selama bulan puasa. Karakternya manusiawi. Lucu banget dan romance-nya juga dapet. Cocok buat yang suka bacaan baper tapi kocak dan berisi. Menginspirasi buat bikin cerpen dan novel romance. Pengaruhnya dalam hidup saya, tiap baca ini selalu merasa bahagia.

9. Popcorn series – Yoko Shoji. 

Komik yang kisahnya kaya. Lengkap ada cinta, keluarga, persahabatan, pem-bully-an, perkosaan, sampai kematian. Setiap baca saya pasti nangis sesenggukan. Menurut saya Popcorn adalah karya yang memberi pandangan seimbang tentang anak kembar. Si kembar enggak digambarkan sebagai tokoh jahat dan baik. Btw, komik ini juga jadi salah satu inspirasi Dee buat nulis Perahu Kertas loh.

10. Goosebump the series – R.L Stine. 

Saya baca dari SD kelas 3. Dari buku-buku inilah saya kepengin ngalamin banyak petualangan dan percaya semuanya bisa dicapai dalam tulisan. Stine menemani masa kanak-kanak saya. Memupuk impian saya untuk menjadi penulis produktif seperti dia.

Dari list tadi, ternyata kebanyakan komik ya. Memang saya dibesarkan oleh komik sih. Komik yang mengajarkan saya kecintaan membaca. 

Kalau kamu, apa 10 buku paling berpengaruh dalam hidupmu? 

Advertisements

Catatan Dari Mombassador Batch 5: Dear Bunda, Ingin Dikenal Sebagai Bunda Seperti Apakah?

Jogjakarta selalu jadi kota yang sangat istimewa buat saya. Saya mengamini sepenuh hati julukan “Jogja Istimewa”. Sejak remaja, entah sudah berapa banyak kejadian spesial terjadi di sana. Meski ada pula tragedi, tapi tak membuat coreng sedikit pun cinta saya pada Jogja. Tahun ini, Jogja kembali masuk dalam galeri kenangan.
Alhamdulillah, saya terpilih menjadi salah satu #Mombassador dan ikut dalam #TemuBunda2017 yang dilaksanakan di Jogjakarta.

Meski bertandang ke Jogja entah untuk keberapa kalinya, kali ini pun saya mendapat pengalaman yang membekas.

Setiap perjalanan menghadirkan perenungannya sendiri

Sungguh tidak pernah terbesit dalam kepala saya sebelumnya menjadi seorang “Mom Ambassador”. Pasalnya, selama bertahun-tahun saya belum merasa menjadi ibu yang baik. Masih sering salah mengambil keputusan, cepat kesal ketika anak berbuat salah, dan sederet hal lainnya yang kerap menimbulkan rasa bersalah. Seringkali saya bertanya-tanya, bagaimana caranya menjadi seorang “Bunda Peri” itu? Yang hangat bijaksana, mengayomi, dan mendidik sepenuh hati. Atau menjadi bunda hebat seperti mama saya. Bangun setiap pagi, menyiapkan sarapan, memastikan saya tak datang kesiangan ke sekolah, menjahitkan baju-baju, sampai menjaga dan merawat saya ketika sakit (bahkan sampai usia sekarang ini). Namun, mungkin setiap bunda pasti dianugerahi Tuhan keistimewaannya sendiri.

Setiap bunda punya karakteristik sendiri

Ketika saya mendapat telepon dari careline SGM yang memberitakan bahwa saya terpilih, perasaan saya senang campur takut. Kata “Mombassador” bukan sesuatu yang mudah dipertanggungjawabkan. Ada “citra” di situ. Bukan “pencitraan” dalam artian negatif, tapi karakter yang dikedepankan. Kita tak mesti menjadi “orang lain” ketika memasang satu citra. Bukan pula topeng. Namun ada yang diperlihatkan, ada yang disimpan. Yang saya tangkap, mombassador memang komunitas yang mengembangkan bagian dari pribadi positif, artinya para bunda yang tergabung tetaplah bebas mengekspresikan dirinya.

Mengisi waktu dengan foto-fotoan pas pesawat delay

Hari keberangkatan pun datang. Setelah berkemas, saya berangkat ke bandara dijemput mobil yang disediakan pihak SGM. Ada rasa deg-degan karena bertemu orang-orang baru. Sebagai seorang introvert saya memang butuh waktu agak lama untuk melebur. Namun ternyata saya disambut hangat oleh para bunda. Saya melihat mereka bahkan tampak begitu akrab selayaknya sahabat erat.

Menginjakkan kaki di Jogja lagi ^^

Karena pesawat mengalami delay, kami terlambat datang sehingga melewatkan sesi foto profil. Langsung saja mengikuti welcome dinner. MC memperkenalkan perwakilan peserta dengan bahasa dan logat daerahnya. Ternyata mombassador ini benar-benar dipilih dari Sabang sampai Merauke. Mewakili para perempuan Indonesia dengan segala karakteristik suku, bahasa, dan budaya. Latar belakang mereka pun berbeda.
Ada yang ibu rumah tangga, PNS, guru, wirausaha, hingga blogger.
Meskipun badan kurang fit karena kelelahan, saya tetap menikmati makan malam yang hangat itu.

Bareng Mbak Tari, teman sekamar

Satu kejadian lucu waktu saya mencari roommate. Kami kemungkinan besar telah berpapasan di depan lift, tapi karena belum saling mengenali wajah, kami terus saja saling mencari. Kayak adegan sinetron ya ^^

Hari pertama itu saya mendengar banyak bunda yang teringat terus pada buah hatinya.
Begitulah seorang ibu menjadikan anak sebagai pusat hidupnya. Bahkan ketika diberi “me time” pun pikirannya seringkali melayang ke rumah, pada orang-orang yang mengisinya. Saya pun demikian. Teringat bertahun lalu setiap kali pergi kerja selalu ada “drama” keberangkatan. Seorang bunda seperti bumi yang mengitari matahari, tapi ibu dan bumi tetap memiliki kehidupan yang mesti diselaraskan sebagai diri sendiri.
Ada saatnya harus meninggalkan rumah untuk pengembangan diri yang berefek pada pembangunan karakter keluarga. Ketidakhadiran secara fisik bukan berarti sekat, karena keluarga tetap lekat. Para Bunda itu pun bercerita tentang
peran serta suami mereka. Selain memberi izin, mau menggantikan bertugas domestik, bahkan sampai ada yang sengaja mengambil cuti. Seperti itulah romantisnya suami istri. Memberi ruang untuk pengembangan diri pasangan, jauh lebih bernilai dari ratusan bunga.

Mari belanjaaaa ^^

Hari kedua jadwal padat merayap. Pagi dimulai dengan acara belanja. Pihak SGM Eksplore dengan baik hatinya membekali kami uang jajan untuk membeli oleh-oleh. Di moment itulah saya pertama bertemu dengan para bunda yang berjuang mengedukasi lewat blog. Menyampaikan pikiran melalui kata-kata. Setelah berinteraksi selama lima abad di dunia maya, akhirnya ketemu di dunia nyata. Dipertemukan oleh SGM Eksplore šŸ˜€

Bertemu momblogger

Berlanjut pada acara berkeliling pabrik Sarihusada. Kami melihat bagaimana proses susu SGM Eksplore dibuat dengan quality control yang ketat. Pabriknya pun bersih dan setril. Yang paling berkesan adalah bagaimana Sarihusada terus memegang komitmen untuk menyediakan susu berkualitas tinggi dengan harga terjangkau agar seluruh bangsa dengan segala lapisannya bisa mendapat gizi terbaik. Luar biasanya, pabrik Sarihusada ini enggak membuang limbah. Limbah air diolah lagi hingga bisa kembali digunakan dengan aman. Taman-taman cantik yang menghiasi pabrik itu disiram pakai air olahan limbah loh.

Factory visit Sarihusada

Makan siang di restoran yang menghadap Candi Prambanan juga berkesan. Meski tak menginjakkan kaki ke sana, tapi pemandangannya kami abadikan dalam puluhan foto. Selang beberapa lama, kami diajak mengikuti outbond. Seru sekali mengikuti berbagai permainannya. Favorit saya adalah permainan kekompakan membawa sepeda.

Berfoto dengan latar Candi Prambanan

Sekelompok sama Mbak Caroline, sahabat yang menyenangkan ^^

Selepas isya, kami menikmati gala dinner yang meriah. Malam itu semua bunda tampil cantik. Paduan 2 MC kocak sangat menghibur kami. Berbagai kuis digelar, bertabur hadiah. Malam itu lewat talkshow yang menghadirkan para bunda inspiratif kami mendapat asupan semangat menjadi bunda #generasimaju. Kami juga bernyanyi, berdansa, dan puncaknya dilantik menjadi mombassador SGM Eksplore.

Keseruan gala dinner

Di antara para panitia, saya terkesan oleh Reza Aini. Perempuan itu begitu gesit dan ramah melayani kami. Meski kadang wajahnya tampak pucat bila sedang kelelahan, tapi semangatnya memberi yang terbaik menyentuh saya.

Program kelompok saya

Pada hari terakhir, kami diberi 2 workshop. Paling suka workshop membuat program. Di sesi itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok yang menang adalah kelompok yang membuat program yang paling bisa direalisasikan, bukan mengawang. Selain juga kreatif dan menarik.

Sehabis makan siang, tibalah saatnya berpisah. Para bunda pulang berdasar daerahnya. Kami saling berpelukan sambil berjanji untuk terus bertukar kabar. Sediiih… šŸ˜„

Tak ada pesta yang tak usai

Kemudian di antara semua rentetan kejadian di acara “Temu Bunda”, yang paling menyentak nurani saya adalah ketika membaca satu pertanyaan di form. Pertanyaan itu sungguh menggelitik. Bunyinya tak sama persis, tapi intinya begini, “Ingin dikenal sebagai bunda seperti apakah Anda?”
Pertanyaan itu membuat saya berpikir beberapa saat. Dan terus terngiang hingga kini.
Istilah ingin dikenal seperti ‘karakter’, atau sebutlah ‘citra diri’, atau ‘brand’ dari diri kita. Seperti yang sempat saya sebut di awal artikel, tentunya apa yang ingin diperlihatkan sebisa mungkin adalah kejujuran. Adalah diri apa adanya.
Namun ada ‘ekspektasi VS realitas’. Ada keinginan dan kenyataan. Ada impian dan tantangan.
Cukup lama saya memikirkan jawabannya. Saya ini ibu macam apa? Atau… saya ini ingin menjadi ibu seperti apa?
Saya bukanlah bunda yang punya kesabaran seluas samudera, bukan pula bunda yang bijaksana. Akhirnya saya menemukan satu jawaban yang paling menjembatani antara keinginan dan kenyataan. Saya ingin dikenal dan ingin senyatanya menjadi seorang bunda yang mengajak keluarganya produktif berkarya. Sebisa mungkin saya ingin melibatkan anak saya dalam karya saya, misalnya sesederhana memakai namanya sebagai tokoh utama novel saya. Sedapat mungkin saya ingin anak saya berkarya sesuai dengan passion-nya, seperti membuat vlog petualangannya dari satu tempat ke tempat lain.

Baca juga Tips Membuat Program Video (Vlog) Anak

Saya kira, pertanyaan itu tak semata-mata diajukan pihak SGM Eksplore pada para bunda. Mungkin, SGM lewat program Mombassador ini memang ingin membantu para bunda menemukan atau mengukuhkan jati dirinya sebagai seorang ibu.

Review Produk Paket Perawatan Untuk Kulit Bejerawat Dari PB Skin-nya Karadenta Clinic

Kalau ada satu kata yang kepengin saya hapus dari kehadirannya dalam hidup saya, itu kata jerawat. Pengertiannya menurut KBBI, jerawat itu bisul kecil-kecil berisi lemak, terutama pada muka. Kata itu begitu akrab buat saya, bahkan sedari SD. Sedih ya šŸ˜¦ Jerawat ini bandelnya minta ampun. Kedatangannya enggak pake aturan. Pas mau kencan pertama, tiba-tiba ikutan nge-date. Pokoknya di acara-acara penting, jerawat selalu ikut-ikutan, seakan kepengin banget bilang dia sespesial itu. Pada akhirnya memang upayanya nyari perhatian saya kesampaian juga. Karena saya jadi concern banget mengajak si jerawat putus biar dia hilang dari hidup saya. Dramatis banget, ya? Iya, memang sedramatis itu šŸ˜€ Yang bikin kesel lagi, saat jerawat pergi, seringkali ninggalin bekas di muka. Kayak enggak rela gitu buat pergi, kepengin terus saya kenang XD

Di usia sekarang ini, saya menemukan soulmate buat memerangi jerawat. Siapa dia? Serangkaian produk paket perawatan untuk kulit berjerawat PB Skin dari Karadenta Clinic. Awalnya saya mengenal produk paket jerawat PB Skin ini saat ke Karadenta Clinic untuk mencoba treatment mereka. Waktu itu niatnya buat menghilangkan bekas-bekas jerawat. Salah satu tindakan yang mesti diberikan adalah laser. Baca pengalaman saya di Pengalaman Laser Pertama di Karadenta Clinic.

Sebelum dikasih tindakan, konsultasi dulu konsultan kecantikan di Karadenta Clinic, dokter Heni. Ketahuanlah masalah kulit saya apa. Kata dokter Heni, meskipun jerawat di muka saya sudah jarang-jarang, tapi bibit-bibit jerawat di lapisan kulit masih banyak. Jadi treatment dan perawatan kulit yang paling sesuai itu produk untuk kulit berjerawat. Kenalanlah saya sama produk PB Skin ini.

Yang paling saya garis bawahi dari obrolan dengan dokter Heni itu diskusi soal zat-zat aktif berbahaya yang suka dimasukkan ke dalam produk kecantikan. Kayak merkuri, steroid, hidrokuinon, paraben, dan tretionin. Memang sih saat pemakaiannya kulit keliatan kinclong. Tapi itu sesaat aja, karena dampak berbahayanya malah lebih lama. Serem ya. Btw, seperti yang saya ceritain dalam postingan ā€œKaradenta Klinik: Klinik Kecantikan Senyaman Di Rumahā€ konsultasi dan ngabisin waktu di Klinik Karadenta ini selalu menyenangkan. Syukurnya, semua produk Karadenta Clinic ini enggak mengandung satu pun zat tadi, jadi kita sebagai konsumen bisa bernapas lega ^^ Apalagi sudah teruji secara klinis oleh BPOM.

Paket produk perawatan buat kulit berjerawat

Dari hasil pemeriksaan memakai magic mirror, dokter Heni menyarankan saya untuk memakai produk PB Skin untuk kulit berjerawat. Paket lengkapnya adalah:

  1. Cleansing Oily
  2. Green Cleanser with Aloevera
  3. Green Toner with Tea Tree Oil
  4. Sunscreen Acne with whitening
  5. Acne Gel Red
  6. Acne Night Cream
  7. Balancing Serum

Review Produk Paket Perawatan Untuk Kulit Bejerawat Dari PB Skin-nya Karadenta Clinic

Saya sudah pakai produk paket perawatan buat kulit berjerawat PB Skin ini 2 bulanan. Terus terang aja, saya ketagihan. Soalnya kerasa ringan di kulit. Oke, saya review satu-satu ya.

 

Cleansing Oily

Urutannya produk ini dipakai pertama kali. Sehabis dari mana-mana yang pastinya saya pakai cleansing oily ini buat membersihkan makeup dan debu juga kotoran semacam polusi udara. Baunya persis alkohol dan agak menyengat. Makanya cleansing oily berwarna bening ini enggak dianjurkan dipakai di sekitar mata, mulut, dan membrane mukosa lainnya.

Cara pakainya dituangin ke kapas, terus usap ke kulit muka. Warna kapas bakalan berubah jadi sewarna makeup yang udah kawin sama debu dan kotoran. Buat saya sih sekali usap aja udah efektif ngangkat sisa makeup dan kotoran tadi. Jerawat ada yang muncul karena sisa-sisa makeup yang enggak bersih di kulit. Jadi usahakan selalu pakai cleansing oily ini. Tapi hentikan pemakaian kalau kerasa pedih, panas, gatel, atau kulit jadi merah.

Green Cleanser With Aloevera

Setelah memakai cleansing oily, tahapan berikutnya bersihkan muka memakai green cleanser with aloevera. Cleanser ini warnanya bernuansa hijau lumut. Wanginya samar-samar tanaman lidah buaya. Busanya sedikit saat dikasih air, jangan lupa pijat-pijat kulit muka saat memakainya, membantu cleanser mengangkat sisa kotoran yang masih menempel. Oh iya, jangan dipakai terlalu deket ke mata.

 

Saya suka pakai cleanser ini karena rasanya ringan di kulit. Sehabis pakai, kulit gak berasa kering atau kaku.

Green Toner With Tea Tree Oil

Step ketiga, pakai green toner with tea tree oil buat menyegarkan kulit wajah yang berjerawat. Toner ini sewarna teh hijau. Baunya campuran antara teh hijau dan alkohol, cukup seger.

Cara pakainya dituangin ke kapas terus diusapkan atau ditepuk-tepuk ke kulit muka. Aslinya muka langsung keliatan fresh. Ngebantu banget pas kelelahan yang bikin kulit muka juga keliatan capek.

Balancing Serum

Tahapan berikutnya, pakai balancing serum. Serum ini warnanya cokelat keemasan. Wanginya enak meskipun samar-samar. Cara pakainya diusapkan ke seluruh muka dan leher secara merata. Pakainya tipis-tipis aja. Enaknya, serum ini cepet banget meresap ke kulit. Manfaat balancing serum ini buat mengontrol minyak yang berlebihan di muka.

 

Saya suka banget pakainya. Soalnya selain kerasa ringan di muka, bikin muka gak kering saat dioleskan foundation. Jadinya si fondation keliatan lebih rata di muka.

Sunscreen Acne With Whitening

Buat siang hari, setelah pakai serum, kemudian muka dioles sunscreen acne with whitening ini. Buat melindungi kulit muka dari panas matahari yang bisa bikin muka berflek-flek cokelat kehitaman. Selain itu ngerawat kulit berjerawat juga. Jadi emang penting banget nih pake sunscreen, karena katanya sengatan matahari yang berlebihan bisa jadi penyebab kanker kulit juga.

Cara pakai sunscreen berwarna pink ini diolesin ke seluruh muka dengan merata. Hasilnya emang ada efek agak blink-blink gitu. Tapi sekarang lagi ngehits sih muka blink-blink ^^ Kalau enggak suka bisa ditambahin bedak aja.

Acne Night Cream

Beda lagi kalau malam hari, pemakaian sunscreen digantikan acne night cream. Krim ini warnanya kuning seger dengan tekstur lembut di kulit. Buat saya sih rasanya cepet meresap ke kulit setelah dioleskan. Krim ini manfaatnya buat merawat kulit yang berjerawat. Oh iya, krim malam cuman dipakai di muka, sebaiknya gak dipakai sampai leher, karena leher ini kulitnya tipis dan lebih sensitif. Jadi kulit leher kalau malam hari cukup dipakein sampai serum aja.

 

Acne Gel Red

Sama-sama dipakai buat malam hari kayak acne night cream, tapi acne gel red ini bentuknya serupa jeli. Namanya juga gel XD Gel berwarna merah ini pemakaiannya enggak diolesin ke seluruh muka. Cuman ke jerawat-jerawat yang menonjol aja, persis obat jerawat. Efeknya di muka saya cepet ngilangin jerawat. Yang kecil-kecil satu sampai dua malam udah ilang. Kalau yang gede dua sampai empat hari. Tapi dari pemakaian pertama udah ngempesin.

 

Secara keseluruhan, saya ngerasa cocok sama paket produk perawatan kulit berjerawat dari PB Skin ini. Soalnya dari pemakaian pertama enggak pernah muncul rasa panas, gatel, pedih, atau bikin merah kulit wajah. Padahal kulit saya terbilang sensitif. Memang efeknya di muka soft banget karena kandungannya alami. Tapi yang alami ini biasanya hasilnya bertahan lama. Saya jadi keterusan pakainya. Selain cocok di muka, pas juga sama harganya ^^

Daftar Harga Produk PB Skin dari Karadenta Clinic

Seperti yang saya bilang tadi, harga produk-produknya ramah buat keuangan, termasuk buat anak kos loh.

Produk satuan PB Skin ini satuannya mulai harga 25 ribu sampai 67 ribu. Sedang buat paketaan tergantung jumlah produknya. Paketannya enggak mahal, harga paketan aja mulai dari 101 ribu sampai 236 ribu. Beneran terjangkau, kan? Buat dapetin isi paketan produk pastikan hasil konsultasi sama dokternya ya, biar pas buat kulit.

Mau pakai rangkaian produk PB Skin juga? Dateng langsung aja ke Karadenta Clinic ya, Gals. Bukanya mulai jam 10 pagi, dan tutup jam 6 malam.

Karadenta Clinic

Alamat: Jl. Rereng Wulung No 27, Cikutra, Bandung.

Telepon: (022) 20455887 / 082130156699

Website: www.karadentaclinic.com

Instagram: @karadentaclinic

Twitter: @karadentaclinic

Facebook Page: Karadenta Clinic