[Blog Tour] Giveaway Novel Tiger On My Bed

quotesTOMB2

Mau novel TIGER ON MY BED bertanda tangan Bang Ino dari Penerbit Twigora? Mau dong ngikutin kisah move on-nya Tal dari patah hati parah dan  bertualang dalam hubungan… uhm… seksi tiger arrangement. Rrraaww!

Cara ikutannya gampang kok:

1. Follow twitter penulisnya @09061983 lalu @TWIGORA dan saya di @evasrirahayu

2. Twit-kan info giveaway ini dengan format bebas yang penting memberitahukan giveaway-nya. Pakai tagar #TIGERONMYBED dan mention tiga akun tadi (kalau kurang karakter bisa dipecah dalam dua twit).

3. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar postingan:

Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Atau pernah ngalamin ketika melihat seseorang (baik itu difoto atau langsung) mendapat firasat kalian akan saling jatuh cinta? Percaya atau enggak, ngalamin atau enggak, ceritakan pandangan atau kisahmu tentang cinta pada pentama dan firasat suatu hari akan saling mencintai dengan seseorang.

Sertakan nama dan akun twitter dalam jawaban ya.

4. Karena pengiriman hadiah hanya untuk wilayah Indonesia, kamu yang tinggal di luar negeri kalau menang harus menyetorkan alamat di Indonesia ya ^_^

5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 25 Januari sampai 31 Januari 2016. Pemenang diumumkan tanggal 2 Februari 2016 di akun twitter saya.

6. Karena konten novel TIGER ON MY BED ini dewasa, kamu harus udah berumur 17 tahun buat bisa ikutan giveaway-nya.

TOMB--blogtour

Selain di blog ini, kamu juga bisa ikutan giveaway-nya di blog berikut ini:

22 Januari
Martina Sugondo http://glasses-and-tea.blogspot.co.id

23 Januari
April Silalahi http://duniakecilprili.blogspot.co.id/

24 Januari
Rizky Mirgawati http://rizkymirgawati.blogspot.co.id25 Januari
Eva Sri Rahayu https://tamanbermaindropdeadfred.wordpress.com/

26 Januari
Sri Sulistyowati http://www.kubikelromance.com/

27 Januari
Aya Murning https://murniaya.wordpress.com

28 Januari
Rany Dwi Tanti http://mizukeume.blogspot.co.id/

29 Januari
Frida Kurniawati http://kimfricung.blogspot.co.id

30 Januari
Oktabri Erwandra https://setopleskata.wordpress.com/

31 Januari
Asri Rahayu MS http://peekthebook.blogspot.co.id/

1 Februari
Luckty Giyan Sukarno https://luckty.wordpress.com/

2 Februari
Shen Meileng http://thecutegeek.blogspot.co.id

3 Februari
Anastasia Cynthia Tanawi https://janebookienary.wordpress.com/

4 Februari

[Blog Tour] Review Novel “TIGER ON MY BED” Karya Christian Simamora

Cover Tiger On My Bed

Cover depan Tiger On My Bed

Judul Buku                               : TIGER ON MY BED (#VIMANASINGLES book 1)

Pengarang                               : CHRISTIAN SIMAMORA

HargaJual                                : Rp 88.800

Bulan/TahunTerbit         : DESEMBER 2015

Panjang x Lebar                 : 13 x 19 cm

JumlahHalaman               : 408 hlm

Genre                                         : Contemporary Romance

Kategori                                 : Novel Dewasa

Tagline:

SEBELUM BENAR-BENAR PATAH HATI,

KAU TAK AKAN PERNAH MENYADARI SEPERTI APA KAU INGIN DICINTAI.

 

Blurb:

“UNTUK MENARIK PERHATIAN LAWAN JENISNYA,

HARIMAU BETINA BISA MERAUNG SAMPAI 69 KALI SELAMA 15 MENIT.”

Jai harus mengakui, Talita Koum Vimana membuatnya sangat penasaran. Dia duduk di pangkuan Jai, membuai dengan suara tawanya, dan bahkan tanpa ragu mengkritik kemampuannya merayu lawan jenis. Hebatnya lagi, semuanya terjadi bahkan sebelum Jai resmi berkenalan dengan Tal.

“SELAYAKNYA TARIAN,

HARIMAU JANTAN DAN BETINA MELAKUKAN KONTAK FISIK SATU SAMA LAIN, DISERTAI SUARA RAUNGAN DAN GERAMAN.”

Jujur saja, alasan utama Tal mendekati Jai justru karena dia sama sekali bukan tipe idealnya. Dia dipilih karena alasan shallow: indah dilihat mata, asyik buat diajak make out.

Jenis yang bisa dengan gampang ditinggalkan tanpa harus merasa bersalah.

“TAHUKAH KAMU, SETELAH PROSES KAWIN SELESAI,

HARIMAU JANTAN SELALU MENINGGALKAN BETINANYA?”

Tiger arrangement, begitu keduanya menyebut hubungan mereka.

Dan ketika salah satu pihak terpikir untuk berhenti, pihak lain tak boleh merasa keberatan.

Jai dan Tal menikmati sekali hubungan kasual ini. Tak ada tanggung jawab, tak ada penyesalan… sampai salah satu dari mereka jatuh cinta.

Selamat jatuh cinta,

 CHRISTIAN SIMAMORA

 

Back Cover Tiger On My Bed

Back Cover Tiger On My Bed

REVIEW

Tiger On My Bed bercerita tentang Talita Koum Vimana alias Tal yang patah hati karena ditinggal tunangannya dengan cara menyakitkan: selingkuh dengan wedding plannner mereka. Setelah sebulan berkabung dengan mengurung diri di kamar, akhirnya Tal merasa siap untuk move on. Dalam misinya itu, kedua sahabat Tal, Yana dan Fika, memaksanya untuk mencari rebound. Terpilihlah Jai Birksted sebagai target. Hubungan mereka dibangun atas kesepakatan Tiger Arrangement. Bagimana akhirnya? Apa Tal bisa kembali mencintai seseorang?

Bisa dibilang “Tiger On My Bed” ini salah satu  novel yang kepengin banget saya baca karena faktor COVER yang bagus banget dan JUDUL yang menggoda banget 😀 Gambar cover-nya kerasa ekslusif, sesuai dengan konsep Vimana Singles, ditambah kesan seksi yang ditimbulkan judulnya. Terus terang, judulnya mengundang imajinasi XD

Maju ke pembahasan CERITA. Sebagai fans berat serial “Sex and the City” dan dari remaja–fyi, saya nonton serial itu dari SMA–terobsesi jadi penulis yang punya kolom sendiri kayak Carrie Bradshaw, pembukaan novel ini berhasil menarik seluruh perhatian saya. Membuat saya langsung betah membacanya. Apalagi disuguhkan dengan judul bab yang menurut saya cetar dan bener bangeet *maaf kalau nada-nadanya ada curcol XD

bab1TOMB

Judul bab satu yang jleb banget

Kisah perempuan patah hati yang berniat move on memang banyak diangkat. Dan salah satu novel yang berhasil menghantarkan “rasa” pedih itu ke pembaca adalah Tiger On My Bed. Terus terang, membaca novel ini saya baper abis :’) Bittersweet-nya, gejolak cintanya, pokoknya berasa jadi Tal deh. Baru kali ini saya baca novel Bang Ino yang bikin saya bukan cuman simpati tapi empati sama pemeran utamanya. Well, mungkin karena sama seperti Tal dan cliqeu-nya, saya juga enggak percaya adanya pangeran berkuda putih. No Cinderella story dalam realita. Kalau mau move on, perempuan ya harus berusaha sendiri. Uhm, cowok juga 😀 Tapi ya memang cara paling cepat move on adalah berhubungan dengan orang baru, terlepas dari itu hanya pelampiasan atau seriusan.

Ada yang kentara baru dari cara penceritaan Bang Ino di Tiger On My Bed (TOMB). Flash back cerita perselingkuhan Rizal si mantan tunangan Tal disampaikan seperti adegan film. Buat saya ini berkesan, karena tokoh utama peremuan–Tal–dibuat menjadi peran pembantu wanita. Karakter pendukung yang patah hati ditinggalkan si tokoh utama. Seperti yang pernah saya sampaikan di review novel MEET LAME, saya cenderung lebih simpati, peduli, dan memikirkan bagaimana kelanjutan para tokoh pendukung itu, yang biasanya memang enggak diceritakan lagi, dibiarkan menggantung begitu saja. Jadi di TOMB, saya seperti dipuaskan dengan mendapat kelanjutan kisah si tokoh pembantu.

quoteTOMB1

Seperti biasa, selain menyuguhkan kisah cinta penuh gairah, Bang Ino selalu berhasil menyisipkan edukasi dalam novelnya. Kali ini bahkan menarik banget karena pengetahuan yang dikasih Bang Ino sama sekali tak pernah saya sentuh. Sisipan itu mengenai profesi Jewelry Appraisal. Seperti Jai yang enggak bosan dengan penjelasan Tal mengenai profesinya, saya pun merasa begitu. Karena Bang Ino sekali lagi menyampaikannya dengan soft enggak seperti baca artikel. Profesi Jai sebagai interior service dan sisipan pengetahuan tentang perilaku hewan juga menarik.

Sekali lagi Bang Ino berhasil membuat karyanya bertabur quotes. Membuat saya menahan jempol supaya enggak curhat via quotes novel TOMB *Plaak!* Dan ngomong-ngomong soal adegan hot, saya surprise juga di novel ini Bang Ino enggak cuman menuliskan foreplay, tapi adegannya disampaikan dengan tuntas. Plis, you know what I mean, kan? Menurut saya, adegan panasnya seksi dan enggak memberi kesan menjijikan sama sekali.

quoteTOMB1

Ada yang berbeda lagi di karakter TOMB. Kalau di review MEET LAME saya pernah request tentang lawan tokoh utama yang enggak bitchy, ternyata itu sudah terpikirkan oleh Bang Ino. Maafkan saya sempet protes, Bang. Saya enggak tahu ternyata hal itu udah dilakukan Abang ^^V Yup, tokoh Stella perempuan yang merebut tunangan Tal digambarkan sebagai sosok yang baik, bukan cewek nyebelin manja yang enggak banget. Sedangkan tokoh Rizal, menurut saya cukup. Biasa-biasa saja tanpa ada yang menonjol. Karakter Tal oke banget, selain mandiri, dia juga punya attitude yang bagus, dengan tetap punya sisi kekurangan yang sangat humanis. Begitu juga dengan Jai. Lagi-lagi saya harus bilang, dari seluruh novel Bang Ino yang saya baca, couple inilah yang berhasil bikin saya jatuh cinta. Tal and Jai, I love you both!

ILUSTRASI dan LAYOUT novel ini juga bagus. Saya suka. Ilustrasinya bikin makin kebayang sama kedua tokoh utamanya. Sedang layout-nya variatif dan pas. Di mata saya, novel ini hampir enggak punya kekurangan, kelemahannya cuman beberapa typo yang sangat bisa di-ignore. Oh iya, bonus PAPERDOLL-nya bener-bener khas Bang Ino 😀

Bonus papper doll

Bonus papperdoll

Bagaimana menyampaikannya supaya enggak terlalu terkesan memuji ya, soalnya buat saya keseluruhan novel ini mengena. Bisa dibilang di antara empat novel Bang Ino yang saya baca (Meet Lame, Pillow Talk, dan All You Can Eat), TOMB ini juaranya.

****

Yaaay, waktunya memenuhi tantangan buat para blog host. challenge kali ini adalah mengikuti gaya Madonna di cover album terbarunya, Rebel Heart.

Cover album Madonna, Rebel Heart

Cover album Madonna, Rebel Heart

Ini versi saya:

Ketimbang seksi, saya malah keliatan kayak zombie XD

Ketimbang seksi, saya malah keliatan kayak zombie XD

Semoga abis baca review saya, kamu makin penasaran sama novel Tiger On My Bed ya ^_^ Kalau gitu, kamu bisa ikutan giveaway-nya di postingan setelah ini yang bakal tayang beberapa jam lagi.

[Blog Tour] Ask Author Tiger On My Bed: Kepoin Bang Christian Simamora

TOMB--blogtour

Yeaaay… blog tour novel Bang Christian Simamora dari Penerbit Twigora lagi ^_^ Seperti rangkaian blog tour terdahulu, Bang Christian Simamora a.k.a Bang Ino selalu menyediakan sesi wawancara buat memuaskan dahaga jiwa stalker kita XD Apalagi novel Tiger On My Bed ini termasuk seri baru #VimanaSingles karya Bang Ino.

Cover Tiger On My Bed

Cover Tiger On My Bed

Sebelum ke sesi wawancara, saya mau menyegarkan dulu ingatanmu tentang Bang Ino dengan profile singkatnya:

Bang Ino

 

Tanggal kelahiran Christian Simamora diabadikan dalam akun twitter-nya yaitu @09061983 alias 9 Juni 1983. Book hoarder yang menyukai animal print. Kalau tidak sedang menulis, dia menghabiskan waktu senggang dengan membaca, browsing, atau menonton serial televisi kesukaan.

Penulis berzodiak Gemini ini memutuskan untuk menekuni genre romance untuk pembaca dewasa sejak tahun 2006. Dari imajinasinya, lahirlah seri #jboyfriend : Pillow Talk (Jo), Good Fight (Jet), With You (Jere), All You Can Eat (Jandro), Guilty Pleasure (Julien), Come On Over (Jermaine), As Seen On TV (Javi), dan Marry Now, Sorry Later (Jao).

Tahun ini, dia merilis seri kedua yang diberi nama #vimanasingles.

Meet Lame (Janiel & Daniel) dan Tiger on My Bed (Talita Koum Vimana) adalah novelnya yang kelima belas dan keenam belas.

Buat berinteraksi sama Bang Ino, like aja Fanpage (Facebook): http://www.facebook.com/ChristianSimamoraAuthor

Bisa juga follow akun Twitter @09061983

Atau kirim e-mail ke: ino_innocent@yahoo.com

*****

Ask Author TIGER ON MY BED: Bang Christian Simamora

Tiap blog host dikasih kesempatan buat ngasih lima pertanyaan ke Bang Ino. Ini dia lima pertanyaan saya:

1. Siapakah orang paling berpengaruh dalam karier penulisan Abang? Kenapa?

Abang mengawali karier menulis dengan otodidak, tapi bersyukur sekali kemudian berkesempatan untuk mendapatkan pelajaran formalnya di kelas menulis kreatif. Ilmu yang Abang dapat dari guru-guru menulis di sana membantu membentuk pikiran dan cara pandang Abang tentang tulisan dan karier menulis Abang ke depannya.

2. Di mana tempat yang paling banyak ngasih inspirasi Abang dalam menulis? (Misalnya bioskop) Kenapa?

Abang bukan tipe yang akan bertapa atau menyepi di tempat tertentu demi inspirasi. Abang mengusahakan untuk banyak membaca nonfiksi untuk mengimbangi bacaan fiksi. Terbukti, hal tersebut membantu Abang untuk lebih mudah menemukan ide cerita.

3. Di antara semua rangkaian promosi buku-buku Abang selama karier penulisan, rangkaian promosi buku mana yang paling berkesan? Kenapa?

Abang lupa di mana persisnya, tapi entah di Kalimantan atau Sulawesi, sebelum talkshow, ada tari-tarian dulu dan sesi menyampirkan kalungan bunga segala. Mungkin karena nggak biasa, jadi meninggalkan kesan mendalam hingga sekarang.

4. Apa Abang punya rencana ke depan untuk membuat soundtrack-soundtrack novel Abang? Kan sekarang mulai banyak tuh. Kalau mau bikin, yang pertama dibikin lagu buku mana dan kenapa?

Soundtrack ya? Hmm. Lucu juga. Kalau pengen nyoba, untuk Tiger On My Bed aja deh. Abang tiba-tiba membayangkan lagu dengan lirik Taylor Swift-esque menjadi soundtrack novel itu.

5. Apakah ada rencana menerjemahkan karya-karya Abang ke bahasa lain?

Karena ini melibatkan pihak lain, Abang hanya bisa bilang, ‘doakan saja.’ 😉

*****
Nah, itu dia hasil interview sama Bang Ino. Secara pribadi saya benar-benar ngarep Bang Ino beneran bakal bikin soundtrack novel-novelnya. Kebayang banget lirik-liriknya bakalan “jleb” abis. Siapa tahu seabis ngeluarin soundtrack semua novelnya–yang jumlahnya cukup bikin satu album–Bang Ino jadi penulis lirik lagu buat para diva Indonesia. Amiiin.
Dan… soal karya Bang Ino yang diterjemahkan ke bahasa lain, mari yuk kita doakan bareng ^_^
Btw, abis postingan ini, selang beberapa jam lagi bakalan ada posting review novel Tiger On My Bed dan giveaway-nya.

DF Clinic: Awal Kulit Sehat

Ruang perawatan di DF Clinic (Sumber foto DF Clinic)

Ruang perawatan di DF Clinic (Sumber foto DF Clinic)

Masa abege saya dihabiskan dengan menelan ejekan teman-teman yang menyebut saya “cewek jerawatan dan komedoan” seolah itu penyakit menular dan memalukan, sampai kenyang nangis diam-diam juga sesenggukan. Jalan kaki dengan kepala tertunduk dalam-dalam buat menghindari tatapan orang juga pernah saya lakoni. Enggak seberapalah itu ketimbang efek psikologis, enggak percaya diri.

Pasalnya, keadaan kulit saya yang jerawatan memang udah turunan dari sananya, tambah lagi waktu itu saya belum ngerti gimana merawat kulit wajah biar jauh-jauh dari serangan jerawat batu yang pada beringas. Belum lagi masalah kulit berminyak saya yang tampak mengilat ngalah-ngalahin kilauan emas. Bermacam obat jerawat saya pakai. Mulai dari rekomendasi teman Kakak, sampai pelanggan toko Ayah. Jerawatnya menghilang sesaat, gak berapa lama muncul lagi. Sampai capek ngobatinnya juga. Sampai akhirnya saya biarin aja. Memang sih masuk masa remaja, populasi jerawatnya berkurang banyak 😀 Nah, sekarang… di usia yang kepala tiga, masalah kulit bertambah lagi. Apalagi kalau bukan munculnya kerutan-kerutan halus di wajah :’)

Ruang tunggu DF Clinic (sumber foto website DF Clinic)

Ruang tunggu DF Clinic (sumber foto website DF Clinic)

Suatu waktu dalam sesi “woman talk” yang enggak luput dari pembahasan masalah kulit, seorang teman bernama Teh Tian, merekomendasikan DF Clinic untuk konsultasi dan perawatan kulit. Nama klinik satu itu enggak asing di telinga, soalnya kembaran saya–Evi–udah lebih dulu melakukan perawatan di sana. Ngeliat muka Evi yang mengkinclong, saya jadi ngiler juga perawatan ke DF Clinic.

Pertemuan Pertama

Berangkatlah saya ke DF Clinic yang berada di Jalan Lemah Neundeut No 10 Setra Sari Bandung, setelah sebelumnya bikin janji dulu dengan dokter David. Sebelum saya lanjut cerita, saya mau memperkenalkan  siapa dokter David ini.

(sumber foto website DF Clinic)

(sumber foto website DF Clinic)

dr. David Budi Wartono is Aesthetic and Anti Aging expert. He commited to help people to feel and look younger, healthy, fit, and fresh everyday. He believe the future doctor is focusing on preventive medication for better and maximum life experience. He had many experiences helping people with degenerative caused health issue and imbalance Hormone such as: Obessity/ overweight problem, skin problem, emotional problem, health declined problem, immunity and allergy problem and many others.

His specialities Service are: Anti Aging Consultation, Aesthetic Consultation, Slimming & Beauty consultation, Medical Detox consultation n laboratorium check up, Hormone Restoration Therapy, Acupunture, Degenerative disorder, Medical Detoxification, Medical Energy Therapy, Herbal medicine, Essential oil therapy.

Itu dia sekilas tentang dokter David. Selain dokter David, di DF Clinic ada beberapa dokter lain yang sama kerennya. Soalnya semua layanan DF Clinic ditangani oleh para dokter berlisensi, jadi udah jaminan kualitasnya.

Sesi Konsultasi

Sambil menunggu sebentar di lobi DF Clinic yang nyaman, saya dan Evi ngobrol-ngobrol sama Kang Renza, SPV DF Clinic. Kata Kang Renza, di sesi konsultasi nanti, ceritain aja semua permasalahan kulitnya, supaya dokter David bisa menemukan akar permasalahannya. Dengan begitu, nantinya perawatan yang didapat sesuai keadaan dan kebutuhan kulitnya.

Sehabis menunggu giliran setelah Evi, bertemulah saya dengan dokter David Budi Wartono. Saya menceritakan semua masalah kulit saya pada dokter David yang mendengarkan dengan saksama. Lalu muka saya diperiksa dokter David untuk diteliti keadaannya, setelah itu seorang terapis ramah mengambil foto muka saya.

Menurut dokter David, dilihat dari pemeriksaan tadi dan berkas Evi. Saya ternyata punya masalah yang sama dengan Evi. Memang ini faktor genetik, anak kembar cenderung punya masalah kesehatan yang sama. Jerawat kami disebabkan oleh hormon. Makanya saat haid biasanya muka saya panen jerawat XD Sementara buat menghilangkan bekas jerawatnya mesti dilaser. Huaaa :’) Beda lagi buat menangani masalah penuaan dininya, menurut dokter David, enggak bisa selesai sama perawatan dan obat-obatan dalam mapun luar, tapi mesti lengkap dengan pola hidup. Beuh, telak banget ini sih. Ketahuan banget punya pola hidup yang enggak sehat >.<

Pola makan enggak sehat, cek!

Pola istirahat enggak bener, cek!

Pola olah raga enggak teratur, cek!

Lengkap banget kan semua pola yang bikin kulit sehat dan kinclong itu dilabrak. Dari hasil konsultasi panjang sama dokter David, hasilnya:

Pola Makan

Penuaan dini bisa dicegah dengan mengurangi konsumsi gula, tepung, dan jauh-jauh dari mie instan. Ditambah lagi, dari hasil compare dengan berkas Evi, dapat dipastikan saya alergi susu. Jadi, kalau buat Evi yang paling susah itu putus sama mie instan, kalau saya mesti move on dari susu. Dokter David menjelaskan bahwa banyak mengonsumsi mie selain menyebabkan penuaan dini juga mendatangkan banyak penyakit lainnya. Memang sih, efeknya enggak kerasa dan kelihatan secara langsung.

Kelebihan mengkonsumsi gula ternyata menyebabkan penurunan metabolisme tubuh sehingga berpengaruh pada kesehatan kulit. Nah, selain susu, menghindari tepung juga susah, soalnya saya pecinta gorengan garis keras XD Yaah, mesti dadah-dadah deh sama segala jenis gorengan.

Jadi buat menjaga kesehatan kulit, dokter David menyarankan supaya mengonsumsi sayur dan buah. Baiklah, Dok. Akan saya coba 😀

Pola Istirahat

Dokter David mengingatkan soal pola tidur sehat. Baiknya orang dewasa tidur tujuh sampai delapan jam sehari. Gunanya untuk mengembalikan kesegaran dan menjaga metabolisme tubuh agar tetap normal.

Mendengar pola tidur saya yang hobi bergadang, dokter David menyarankan supaya mengubah jam kerja. Dari asalnya kerja di jam manusia kelelawar, ke morning person. Itu berarti saya mesti melupakan hobi bergadang saya, ujian berat banget XD Kata dokter David lagi, saya enggak boleh memforsir tubuh. Harus memenuhi hak tubuh buat istirahat cukup.

Olah Raga

Satu lagi yang enggak boleh dilupakan: olah raga. Olah raga ini enggak perlu yang berat-berat, kayak angkat besi atau keliling senayan sebelas kali, tapi jangan juga cuman olah raga jempol doang semacam chatting semalaman sama gebetan di WA XD Olah raga harus konsisten dan berlanjut. Ringan aja seperti peregangan atau jalan kaki.

Sehabis sesi konsultasi, saya diberi sepaket perawatan siang dan malam. Yaitu pencuci muka, nutri cream, krim malam, dan obat jerawat. Semuanya hasil racikan DF Clinic sendiri yang memakai bahan natural dan aman.

facial wash dari DF Clinic

Facial wash dari DF Clinic

Facial Wash

Berfungsi untuk membersihkan muka dari kotoran. Dipakai cukup sekali sehari. Semua pencuci muka memang baiknya dipakai sekali saja sehari agar tidak membuat kulit kering. Dipakai sebelum tidur. Sementara untuk pagi dan siang, cukup memakai air hangat, karena kita bangun dengan keadaan muka bersih. Pencuci muka ini juga membersihkan komedo loh.

Nutri cream dari DF Clinic

Nutri cream dari DF Clinic

Nutri Cream

Berfungsi memberi nutrisi dan melembapkan kulit. Dipakai dua kali sehari, pagi dan siang hari.

Obat jerawat dari DF Clinic

Obat jerawat dari DF Clinic

Obat Jerawat

Dipakai ke bagian-bagian yang berjerawat atau brutus-brutusnya saja. Cukup dioles tipis-tipis sekali sehari di pagi hari.

Krim malam DF Clinic

Krim malam DF Clinic

Krim Malam

Krim malam dipakai pada malam hari, dioles ke seluruh wajah tipis-tipis. Berfungsi untuk melepaskan sel-sel kulit mati.

Pertemuan Kedua

Setelah pertemuan pertama itu, dokter David meminta saya datang lagi beberapa hari kemudian untuk mendapat perawatan mikrodemabrasi, sambil melihat bagaimana reaksi kulit saya terhadap paket perawatan darinya.

Malamnya saya langsung memakai krim malam dari dokter. Ternyata reaksinya, muka saya terasa gatal. Begitupun esok paginya ketika memakai nutri cream dan obat jerawatnya. Setelah itu saya hentikan dulu pemakaiannya. Dua hari kemudian, ketika bertemu dengan dokter David, saya sampaikan reaksi itu.

Dokter David: Apa kulitnya terasa kering? Kering itu kalau dipegang terasa halus tapi gatal.

Saya: Iya, Dok. Apalagi pas memakai krim malam, kulit muka saya jadi memerah.

Dokter David: Memang pasti memerah kalau memakai krim malamnya, karena fungsinya untuk mengelupaskan sel-sel kulit mati.

Perkiraan saya bahwa muka saya mungkin alergi pada paket perawatan yang diberikan dokter David ternyata meleset. Karena reaksi kulit saya itu normal. Memang reaksi kulit itu beda-beda, kalau kulit Evi bisa langsung beradaptasi, kulit saya pelan-pelan menerimanya. Dokter menyarankan untuk meneruskan pemakaiannya, tapi untuk obat jerawat dan krim malamnya harus lebih tipis dan dipakai sementara ini dua hari sekali sampai tidak lagi terasa gatal.

Dalam sesi konsultasi ini dokter David membahas juga tentang tipe kulit. Kata dokter David, kulit yang berminyak itu belum tentu memang tipe kulit berminyak. Namun bisa jadi itu malah tipe kulit kering. Saking kering, muka mengeluarkan minyak agar kulit bertahan kelembapannya. Biasanya orang cenderung jadi sering mencuci mukanya untuk menghilangkan minyaknya, itu salah.Karena kulit malah akan makin kering, dan produksi minyak malah makin bertambah. Yang berbahaya justru saat kulit kering tidak mengeluarkan minyak, berarti sudah bermasalah, tidak lagi bisa survive kulitnya. Cara terbaik agar kulit menjadi normal adalah dengan memenuhi kebutuhan air kulit dengan banyak minum, atau memberikan air secara langsung ke kulit dengan cara menempelkan kapas basah.

Jadi dokter awalnya hanya bisa mengira-ngira tipe kulit dan ketetapannya baru dapat dipastikan setelah mendapat perawatan beberapa kali. Karena itu jangan sampai “window shopping” alias baru perawatan sekali pindah atau mencoba yang lain lagi. Itulah yang membuat kulit kita terus-terusan tidak mendapat perawatan yang sesuai. Cara dokter David ngasih penjelasan itu enak banget deh, saya jadi paham.

Usai sesi konsultasi yang ngasih pencerahan itu, saya diberi perawatan mikrodemabrasi.

Mikrodemabrasi

Mikrodemarbrasi ini baiknya dilakukan tiap tiga minggu sekali, fungsinya mengangkat sel kulit mati. Awalnya wajah saya dibersihkan, lalu diberi pijatan halus, kemudian memakai alat sel-sel kulit mati diangkat. Rasanya kayak disedot memakai vacuum cleaner mini. Lalu dipijat lagi, dan diakhiri dengan memakai masker.  Seluruh prosesnya sekitar 45 menit. Pada awalnya, saya mengira mikrodemabrasi ini kayak facial yang sakit dan abisnya muka jadi merah-merah. Ternyata enggak banget! Enggak sakit sama sekali, bahkan saking enak sampai mau ketiduran 😀

Alat mikrodemabrasi DF Clinic

Alat mikrodemabrasi DF Clinic

Sel kulit mati

Hasilnya… taraaa…! Muka jadi segeer bangeet, lembut, bersih, dan bisa langsung pergi ke mana-mana. Waktu itu saya langsung ke acara undangan blogger. Yeaay!

Sehabis perawatan mikrodemabrasi di DF Clinic

Sehabis perawatan mikrodemabrasi di DF Clinic

Beberapa hari kemudian, saya mulai memakai rangkaian perawatan dari DF Clinic lagi. Seperti pencuci muka, nutri cream, obat jerawat, dan krim malam. Kali ini kulit wajah saya menerima dengan baik. Enggak ada tuh gatal-gatal lagi. Malahan jerawat saya yang bermunculan saat haid, bisa hilang dalam sehari. Besoknya, jerawat-jerawat besar itu kabur dari muka saya. Coba deh waktu saya abege udah kenal sama DF Clinic ini, pasti enggak akan ngalamin di-bully karena jerawatan 😀

DF Clinic memang awal kulit sehat, karena dari sana, saya enggak cuman dapet perawatan luar, tapi pemahaman untuk hidup sehat agar kulit dan tubuh saya sehat.

Kamu mau juga konsultasi dan melakukan perawatan di DF Clinic? Coba hubungi alamat, telepon, dan sosmed mereka:

DF Clinic

Jalan Lemah Neundeut No. 10 Setra Sari – Bandung

Telp. 022-2010593

PIN BB: 2290FF6F

YM: DFClinic@DFClinic.com

Facebook: DF Clinic

Twitter: DF_clinic

Instagram: @DF_CLINIC

Website: http://www.dfclinic.com

 

[Blog Tour] Review dan Giveaway Novel Cat Meets Vet Karya Acariba

cat meets vet

Karena merasa sama-sama pemelihara kucing seperti tokoh Cat Meets Vet, saya langsung tertarik dengan novel ini. Kisah yang berhubungan sama kucing memang selalu menarik perhatian saya, kecuali Tom and Jerry karena kucingnya sering sial–abaikan hiasan tom yang nongkrong di laptop saya. Gimana ya kucing jadi benang merah kisah percintaan kedua tokoh utamanya? Bikin penasaraaaan.

*****

Data Buku

Judul : Cat Meets Vet

Penulis : Acariba

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tebal : 258 Halaman

Editor : Afrianty P. Pardede

ISBN : 9786020272702

Blurb :

Apa yang sangat kau benci dalam hidupmu?

Meta, seorang bidan, akan menjawab: kucing jantan–yang mencakar setiap pria–dan seorang playboy.

Takdir seakan tak mengerti Meta. Dia pun dipertemukan dengan seorang playboy pemilik masa lalu kelam dengan bantuan seekor kucing yang memiliki kelakuan ajaib.

Playboy itu bernama Ega, seorang dokter hewan tampan yang sangat mudah mendapatkan setiap perhatian dari wanita. Playboy yang terluka harga dirinya akibat penolakan “seorang” Meta.

Mungkinkah Meta–yang pernah mengalami sakit hati karena pengkhianatan seorang pria–melunturkan ego seorang Ega?

Cover novel Cat Meets Vet

Cover novel Cat Meets Vet

*****

REVIEW

Mari kita bahas mulai dari cover-nya. Sedari awal melihat cover Cat Meets Vet, saya udah langsung suka. Warna, gambar, dan penempatan tulisannya menarik. Setelah diteliti lebih dekat ternyata ekspresi si kucingnya lucu banget, dan bibir cowok–yang pasti bernama Ega itu–keliatan tipis menggoda, tapi gak bikin melting kok XD

Lanjut ke blurb. Kalimat pertamanya nonjok banget, suka! Tapi setelah dibaca keseluruhan, jadi kurang menarik karena hanya membahas tentang playboy yang terluka harga dirinya karena ditolak. Kesannya cerita novel Cat Meets Vet ini bakal biasa banget. Padahal isinya jauuuuh lebih menarik dari penggambaran blurbnya.

Maju ke cerita. Terus terang awalnya saya enggak “ngeuh” kalau cerita novel ini spin off dari novel Mbak Acariba sebelumnya, Precious Lady. Saya cuman heran, kok dari halaman pertama, tokoh Meta ini sama kayak tokoh di Precious Lady, sama-sama suka mengoleksi foto-foto pria tampan. Saya jadi mikir, jangan-jangan Mbak Acariba emang hobinya sama kayak tokoh-tokohnya, makanya nyelipin hobi yang sama terus di novel-novelnya XD Baru nyadar kalau Meta ini sahabatnya Diva di novel Precious Lady pas baca halaman ketiga, makanya enggak aneh kalau hobinya sama, namanya juga konsistensi *tepok jidat deh* Jadi malu sendiri punya pikiran kayak tadi. Kalau kata Meta sih: Terima kasih hati busuk! XD

Setelah ingatan saya kembali–tsaah, kesannya kena amnesia–saya inget kalau dari dulu suka sama tokoh Meta ini. Sempet sedikit sedih waktu itu karena kisahnya Meta masih ngegantung. Ternyataaaa, Meta dibikinin bukunya sendiri. Senangnyaaa…!

Terus terang, dua bab pertama novel ini enggak menyajikan kejutan atau letupan dari segi cerita. Mengalir begitu saja. Tapiiii, ceritanya dengan ajaib mengikat saya sebagai pembaca. Rasanya betah banget baca novel ini, kayak dibawa aliran air. Di bab empat, Mbak Acariba mulai menabur misteri dalam ceritanya. Saya langsung penasaran gimana sih kisah masa lalu kedua orang tua Ega ini. *kemudian ngarep spin off-nya, plaak* Novel ini memperlihatkan kepiawaian Mbak Acariba memadukan romance, komedi, dan drama keluarga yang mengharukan. Kisah cinta antara Meta dan Ega ini berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Asli ikutan baper. Saya turut merasakan kegalauan Meta sampai hati ikut nyut-nyutan :’) Adegan hot-nya juga pas deh. Jadinya jatuhnya romantis 😀 Dari segi komedinya juga berhasil, dari awal sampai akhir seringkali saya tersenyum membacanya. Lalu setelah diajak bertualang rasa dari senang, galau, jatuh cinta, menuju akhir pembaca disuguhkan “gong” satu kejadian mendebarkan yang melibatkan Meta-Ega-Ari. Saya suka part ini, meskipun formulanya sudah sering dipakai oleh film atau novel lain, tapi tetep aja adegan laga kayak gitu selalu berhasil bikin saya meleleh.

Keunikan novel ini salah satunya terletak dari kisah percintaan yang melibatkan kucing. Kucing di sini berperan penting, jadi enggak sekadar tempelan. Konflik Cat Meets Vet juga cukup mendalam–seperti masalah keluarganya–tapi karena penyampaianya mengalir, jadi terasa tetap ringan untuk diikuti. Penyampaian amanatnya pun soft, sehingga pembaca enggak berasa diceramahin.

Sengaja enggak sengaja, saya membandingkan Cat Meets Vet dengan Precious Lady. Mungkin karena ceritanya berkaitan. Kalau dari segi cerita, buat saya Cat Meets Vet ini lebih menarik dari Precious Lady, penulisannya juga lebih rapi. Namun penyuguhan keduanya sama-sama khas Mbak Acariba yang lincah, mengalir, kocak, dan komikal. Adegan kekerasan yang bertebaran di dalam novel ini sangat komikal. Contohnya:

Pertama, dia melempar wajah tampanku dengan sandal rumah berbentuk kelinci. Kedua, dia menendang tulang keringku hingga aku meringkuk kesakitan di atas kursi. (Halaman 209)

Kemudian kekhasan Mbak Acariba yang lain adalah pemakaian kalimat berlawanan. Selalu suka dengan formula ini 😀 Contohnya:

“Aku nggak repot, kok. Santai aja!”

Aku yang repot!

(Halaman 49)

Namun dari kesamaan yang postif tadi, ada satu kesamaan yang… bukan negatif sih, tapi bikin karakter tokoh-tokoh utama di dua novel itu jadi mirip. Soalnya keempatnya (Meta, Ega, Diva, dan Bima) sama-sama suka berkata, “Baik, bla-bla-bla.” Tapi memang di Cat Meets Vet ini enggak sesering Precious Lady.

Sekarang kita bahas karakter tokohnya. Tokoh Ega mengingatkan saya ke tokoh Arjuna di novel Akulah Arjuna karya Mbak Nima. Soalnya sama-sama playboy narsis ngerasa ganteng, pecicilan, tapi baik hati 😀 Mbak Acariba sekali lagi berhasil mebuat tokoh-tokoh lovable karena kekurangan-kekurangannya. Misalnya Meta yang secara pemikiran sangat manusiawi. Ngiri melihat pasangan cewek-cowok cantik ganteng, lalu pelit a.k.a ngirit, dan makannya banyak. Cuman tokoh saingan perempuannya aja yang enggak greget, soalnya semua digambarkan cewek cantik berpakaian seksi dan attitude-nya jelek. Membuat persaingan itu terasa sangat mudah dimenangkan Meta. Seandainya ada yang punya karakter sepadan dengan Meta, pasti lebih menarik 😀 Penggambaran fisik tokoh-tokohnya juga disampaikan dengan asyik oleh Mbak Acariba. Pas letak-letak penjelasannya.

Editan novel ini juga terbilang rapi. Saya memang masih menemuka beberapa typo dan salah pemakaian “di” yang dipisah padahal seharusnya disatukan. Secara keseluruhan novel ini bikin saya enggak mau lepas sebelum selesai baca. Menarik dan mengalir. 3,5 bintang untuk novel ini.

****

GIVEAWAY

banner blog tour

Mau novel Cat Meets Vet bertanda tangan dan hadiah keren lainnya? Buat kamu yang udah punya novelnya bisa ikutan juga loh, karena hadiahnya beda! Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @ReTuRike dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GACatMeetsVet dan mention akun twitter saya dan Mbak Acariba.

3. Tantangan giveaway ini adalah:

A. Untuk peserta yang belum memiliki novelnya buat photo quotes dari novel Cat Meets Vet ini. Peserta boleh membuat lebih dari satu photo quotes. Quotes bisa kamu ambil dari SINI, sekalian ngeliat contoh-contoh hasil peserta lain di giveaway Cat Meets Vet sebelumnya. Upload photos quotes via twitter dengan format: #GACatMeetsVet @evasrirahayu @ReTuRike @elexmedia twitpic photo quotes.

photoquotesacariba

Contoh photo quotes

B. Untuk peserta yang sudah memiliki novelnya upload foto selfie bersama bukunya dan mention dengan format #SelfieCatMeetsVet @evasrirahayu @ReTuRike @elexmedia twitpic photo.

4. Peserta yang dulu pernah ikutan giveaway Cat Meets Vet di blog Luckty boleh ikutan lagi tapi memberikan photo quotes atau foto selfie yang berbeda dengan yang diikutkan di giveaway sebelumnya.

5. Di kolom komentar di bawah ini, tuliskan nama, akun twitter, kota tinggal, dan link twitpic yang sudah di-upload dari twitter agar mudah dalam pendataan peserta.

6. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 15 sampai 28 Januari 2016. Tiga pemenang diumumkan tanggal 29 Januari 2016 di akun twitter saya.

8. Hadiah untuk tiga pemenang rinciannya sebagai berikut:

A. Satu pemenang akan mendapatkan buku Cat Meets Vet+ pouch unyu

B. Satu pemenang akan mendapatkan pouch unyu + organizer

C. Untuk peserta yang sudah memiliki novelnya, dipilih satu yang akan mendapatkan tote bag + book cover khusus 

12499381_1728138694088883_550657629_o

[Review + Giveaway] Ayam Cacah: Kuliner Khas Lombok Yang Memanjakan Lidah

Ayam Cacah Bumbu Bima

Ayam Cacah Bumbu Bima

Selain keindahannya, Lombok punya daya tarik kuliner yang membuat wisatawan jatuh cinta. Kalau buat menikmati pemandangan pantai-pantainya yang mengagumkan mesti langsung terbang ke Lombok, beda lagi buat merasakan sensasi masakannya. Kamu cukup dateng ke counter Ayam Cacah di Terrazo Foodcourt di Mal Festival Citylink Bandung.

Ayam Cacah di Foodcourt Festival Citylink

Ayam Cacah di Foodcourt Festival Citylink

Sebagai pecinta makanan pedas, saya enggak mau ketinggalan nyicip masakan khas Lombok di Ayam Cacah ini. Berangkatlah saya, Evi, dan kakak peremuan saya Yunis ke sana. Siap menyerbu semua masakan di Ayam Cacah yang katanya sih bumbu racikan mereka beda. Hmm…, apa sih bedanya?

IMG_20151203_175531

Saya pernah cerita di blog ini kisah di balik pembuatan salah satu cerpen di buku antologi saya “Mealova“. Judul cerpennya “Tangisan Ayam” cerpen itu terinspirasi oleh masakan “ayam cacah bumbu bima” di restoran “Ayam Cacah” ini loh. Soalnya, rasa masakan ayam cacah bumbu bima yang seger, gurih, enak, dan puedeees itu merangsang munculnya ide-ide di kepala ^_^ Duh, baru ngebayanginnya aja udah bikin perut nabuh genderang perang saking ngilernya…. Maafkan kelakuan perut saya ini XD

Ayam cacah bumbu bima ini ayam yang sudah dicacah, disajikan dengan irisan bawang merah, cabe, dan tomat segar. Catet ya, masih segar, alias bawang merah, cabe, dan tomatnya enggak digoreng dulu, apalagi dipadu dengan terasi Lomboknya. Makanya rasanya beneran segeeeer. Suapan pertama, kerasa gurih segernya, suapan kedua kerasa pedesnya, tahu-tahu udah suapan berikut-berikutnya, dan cuman nyisain piring kosong. Bikin ketagihan deh. Makanya ayam cacah bumbu bima ini jadi salah satu menu favorit. Mesti nyoba deh, asli ^_^

 

IMG_20151203_174843

Menu berikutnya yang saya coba adalah masakan “plecing” yang terkenal di Lombok, Ada ikan bakar bumbu plecing, plecing kangkung, dan ayam cacah bumbu plecing. Semuanya enaaaak. Apalagi plecing kangkungnya, mantaap! Enggak heran deh jadi salah satu menu best seller 😀 Jangan ketinggalan juga cobain cah kangkungnya yang sama enaknya. Btw, sebagai pecinta ikan garis keras, saya ngabisin dengan lahap dan agak gak rela pas Evi dan Teh Yunis nyomot, hohoho.

Plecing kangkung di Ayam Cacah

Plecing kangkung di Ayam Cacah

Kalau “ayam cacah bumbu bima” disajikan dengan bahan-bahan yang seratus persen segar, beda lagi sama ayam klungkung. Masakan satu ini, semua bumbu dan bahannya digoreng dulu. Buat yang lebih suka seluruhnya matang, bisa pilih menu enak satu ini. Dalam waktu singkat aja, Teh Yunis udah ngabisin seporsi sendirian. Untung sempet nyicip XD Kami lalu beralih ke ayam bumbu oles yang rasanya manis pedas. Manjain lidah banget deh.

IMG_20151203_175112

Ayam klungkung

 

IMG_20151203_175223

Beberuk terong

Sebenernya apa sih bumbu racikan yang beda dari Ayam Cacah ini? Sempet nanya-nanya sama koki di sana. Katanya ada dua yang bikin beda. Pertama, semua menu memakai terasi Lombok yang langsung didatangkan dari sana. Kedua, mereka punya satu bumbu khusus yang enggak bisa dibocorin saking rahasia XD Beuh, ini koki rahasia-rahasiaan, berasa lagi main detektif-detektifan XD Ya sudah, berhubung sang koki yang berasal dari Lombok itu enggak mau buka mulut meski disogok sama uang monopoli segepok, biarkan bumbu khusus itu tetap jadi misteri *tsaah!

IMG_20151203_180152

Ayam bumbu oles

Selain menu-menu di atas, masih banyak varian lain di Ayam Cacah. Seperti sambel terong bakar, omelette telur spesial, ikan bakar bumbu oles, beberuk terong, dan lainnya. Hampir seluruh masakannya bikin kita fasih ngomong “Haaah” karena pedas-pedas. Tapi jangan khawatir, buat kamu yang kurang suka pedas, bisa minta dikurangin level kepedasannya, atau pilih menu ayam gorengnya yang juga maknyuuus!

Btw, makan di Ayam Cacah enggak akan bikin dompetmu kurus kayak abis diet kok, karena harga-harganya terjangkau. Liat aja daftar harganya di bawah ini:

Menu dan harga makanan di Ayam Cacah

Menu dan harga makanan di Ayam Cacah

Ada harga paketnya juga kok.

Harga paket makanan di Ayam Cacah

Harga paket makanan di Ayam Cacah

IMG_20151203_175525

Malam itu kami pulang kekenyangan. Gimana enggak, semua menu kami cobain. Tapi anehnya, Evi bikin gong di-ending dengan memesan paket ayam cacah bumbu bima plus cah kangkung buat makan lagi di rumah. Luar biasa, Evi, semangat memamah biaknya sungguh patut diteladani *Digampar Evi*

Buat kamu yang pengin ngerasain surganya masakan Lombok, cepetan ke Ayam Cacah aja di Terrazo Foodcourt Mal Festival Citylink, Jalan Peta, Bandung. Sementara ini Ayam Cacah baru ada di sana. Doakan aja bisa ekspansi ke seluruh pelosok negeri ya ^_^

*****

GIVEAWAY

Kamu mau nyobain makanan-makanan khas Lombok di Ayam Cacah juga? Gratis pula. Ada voucher senilai 100ribu dari Ayam Cacah buat satu pemenang giveaway ini. Caranya gampang:

  1. Follow akun twitter saya @evasrirahayu
  2. Twit-kan info giveaway ini dengan format bebas yang penting memberitahukan giveaway-nya. Pakai tagar #AyamCacah dan mention akun saya.
  3. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar postingan:

    Di antara semua menu di Ayam Cacah, kamu mau nyobain yang mana? Apa alasannya?

    Sertakan nama dan akun twitter dalam jawaban ya.

  4. Giveaway boleh diikuti oleh peserta seluruh Indonesia, tapi karena Ayam Cacah cuman ada di Bandung dan buat penukaran voucher kamu mesti ke Bandung *yaiyalah* kamu menanggung sendiri biaya transportasinya ya. Kalau pemenangnya di luar Bandung, anggap aja tabungan kalau nanti main ke Bandung ya.
  5. Hadiah berupa voucher akan di-email-kan ke pemenang. Batas penukarannya lama kok. Sampai 31 Desember 2016.
  6. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 13 Januari sampai 20Januari 2016. Pengumuman satu pemenang tanggal 21 Januari di akun twitter saya @evasrirahayu

Ditunggu partisipasinya ya ^_^

[Cerpen] Pada Oktober

 

IMG_20151103_170805

Pada Oktober

Oleh Eva Sri Rahayu

Delapan tahun yang lalu, aku menerima cintanya di sini. Di bawah pohon mangga yang rindang dan berbuah lebat. Satu-satunya pohon besar di taman kecil ini, mencolok di antara rumput dan bunga-bunga dandelion yang putiknya siap terbang menjelajah. Delapan tahun kemudian, aku menerima cinta yang lain di tempat yang sama.

Pertemuan yang aneh di bulan Oktober, pada tanggal delapan. Sebuah angka yang sakral. Karena Oktober sendiri artinya delapan dalam bahasa Latin. Sakral karena pada tanggal delapan tahun ini, genap delapan tahun aku dan suamiku menjalin kasih. Dan pertemuan dengan pria lain itu terjadi saat aku sedang menunggu suamiku di bawah pohon rindang ini. Kami berjanji untuk bernostalgia masa pacaran, di usia pernikahan kami yang telah menginjak angka tujuh.

Aku berdiri sendirian di bawah pohon, mengenakan baju serba putih kesukaan Alva, suamiku. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas pohon. Spontan aku menengadahkan kepala, membuat mataku bersirobok dengan seorang lelaki muda yang tengah duduk di atas pohon, bersembunyi di tengah kerimbunan daun. Mata lelaki itu basah, seperti sudah menangis. Lelaki itu menepiskan semut merah dari tangannya, dan membuat buku yang dia pegang terjatuh tepat di tanganku. Buku itu terbuka tepat pada sebuah catatan. Tanpa sengaja aku membaca bait-bait puisi yang tertulis di dalamnya.

Pada pundakmu aku menitipkan hati// Hingga usia menjadi abadi// Tapi gurat senyummu membuatku patah hingga bernanah // Karena tubuhmu ternyata tak sanggup memikul jiwaku dalam bias malaikat malam.

Lelaki muda itu lalu turun dengan ringan dari atas pohon, berdiri dengan anggun di depanku. Mata kami kembali bertemu, tapi mata itu sudah tak lagi basah, membuatku berpikir tadi salah melihat. Entah kenapa tatapannya membuat dadaku berdesir, sebuah rasa salah seperti datang dengan kecepatan cahaya.

“Maaf, Kak,” katanya singkat sambil mengulurkan tangan padaku.

Kututup buku di tanganku, lalu dengan sebelah tangan lain, aku menjabat tangannya dengan gugup. “Rhena,” ucapku, yang membuat wajahnya diliputi rasa geli, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak sambil memegang kepalanya setelah tangan kami lepas.

“Kak, aku bukan ngajak kenalan loh, maksudku minta buku kok,” ujarnya setelah selesai tertawa, yang tentu saja membuat mukaku langsung merah marun.

Dengan kikuk aku memberikan bukunya. Lelaki muda itu mengambilnya sambil tersenyum penuh arti, melihat wajahku yang merah. Lalu dia mengulurkan tangannya lagi sambil menatapku dengan tajam. Aku hanya diam, bingung.

Melihatku diam saja, diambilnya tanganku sambil berkata, “Andri.”

“Eh, iya,” kataku lagi sambil melepas genggaman tangannya.

“Menunggu siapa, Kak?”

“Euh… suamiku,” ucapku singkat dan penuh keraguan.

Andri lalu menatapku penuh pandangan selidik, dibukanya buku, lalu menggambar dan menuliskan sesuatu di sana. Aku seperti tersihir, diam mematung menonton apa yang dilakukannya. Setelah selesai, diberikannya kertas itu padaku.

“Ini buatmu, Kak, berikan pada suamimu,” tukasnya, lalu pergi meninggalkanku yang takjub menatap isi kertas itu.

Isinya sketsa wajahku yang tampak sedang menunggu kekasih dengan berdebar-debar. Sketsa yang sangat kasar tetapi tetap indah untuk dilihat. Di bawah gambar itu ditulisnya sebuah puisi.

Pada Oktober aku menunggu// Bersama debar jantung yang lebih hebat dari tsunami// Dengan rasa yang lebih merah dari cinta// Dengan rindu yang dititipkan hujan pada jutaan putik dandelion.

Begitulah kami bertemu, dan setelah itu kami bertemu lagi dalam suatu sore yang mendung dan gelap seperti suasana hatiku. Saat itu aku pergi dari rumah karena bertengkar dengan mertua. Masalahnya selalu sama, aku belum juga memberinya cucu.

Aku dan suamiku sudah berusaha, kami mendatangi dokter, alternatif, dan banyak cara lainnya. Tapi aku belum juga mengandung. Alva sendiri tidak mempermasalahkan semua itu, dengan tetap sabar dan penuh sayang dia meneduhkanku saat resah menerpa.

Tapi sore itu aku tidak tahan lagi dengan perkataan menyakitkan dari Ibu. Dengan hati yang dipenuhi badai, aku datang ke taman itu, sesenggukan di bawah pohonnya. Tangisku terhenti ketika aku mendengar bunyi gemerisik dari atas pohon. Otomatis aku yang tengah duduk di atas rumput sambil memegang lutut, melayangkan pandangan ke atas pohon. Dan aku menemukan Andri sedang memalingkan muka karena malu ketahuan sedang memperhatikanku.

“Kamu… lihat?” tanyaku kesal karena merasa privasiku diketahui orang.

“Maaf, Kak, aku gak sengaja. Aku bukan mau mencuri dengar,” jawabnya sambil menatapku penuh simpati.

Melihat sorot matanya yang penuh rasa bersalah, aku luluh. “Dek, turunlah, temani aku,” kataku lemah.

Andri meloncat turun dengan mudah, terlihat bahwa dia sudah sangat terbiasa naik turun dari pohon itu. Dia kemudian mendekati lalu duduk di sampingku. Kami saling terdiam, masing-masing larut dalam pikiran, sambil menikmati pemandangan putik-putik bunga dandelion yang terbang terbawa angin kencang penanda hujan akan segera turun, pergi ke tempat yang entah.

“Kak, kenapa kamu menangis?” tiba-tiba Andri bertanya dengan suara yang membelah desir angin.

Aku menatapnya, tapi dia tidak menatapku. Pandangan Andri terus jatuh ke depan, membuat pertanyaan tadi seakan untuk dirinya sendiri. Hal itu justru membuatku nyaman, merasa ada teman dalam kegelapan. Maka meluncurlah cerita dari bibirku, seperti bercerita pada seorang sahabat yang paling kupercaya. Ketika hari beranjak gelap, dan tangisku telah usai, ceritaku pun selesai.

Andri menatapku lekat-lekat, lalu katanya, “Kak, kalau lain kali kau ingin menangis lagi, kau boleh memilih bersandar di dadaku atau di bahuku.”

Mendengar itu, aku pun tersenyum tulus. Mata kami kembali bersinggungan, dan kehangatannya pun kembali menyusup ke dalam hatiku.

“Terima kasih, tapi aku sudah terbiasa menangis tanpa bersandar.”

Setelah hari itu, kami sering bertemu di taman. Seperti janjian, padahal tidak, karena tidak pernah ada kata terucap untuk kembali bertemu. Setiap kali aku datang ke sana, aku akan menemukannya sedang duduk di atas pohon, sedang membuat sketsa atau puisi. Lama-lama bukan hanya aku yang bercerita, dia pun mulai terbuka. Kepercayaan memang sesuatu yang selalu ajaib, karena ketika kita memberikannya dengan tulus pada seseorang, maka dia akan memberikan hal yang sama besar. Andri bercerita tentang hatinya yang patah, cintanya bertepuk sebelah tangan pada gadis yang telah lama menghuni jiwanya. Tahulah aku, hari itu, hari pertama kami bertemu, dia memang benar-benar menangis.

Sekarang, bagiku dia tempat berbagi segalanya. Kami berbagi suka dan duka, tertawa dan menangis bersama. Terkadang saling ejek, terkadang saling merajuk.

Lama-lama aku seperti ketagihan untuk bertemu dengannya, selalu memikirkannya, dan selalu membayangkan senyumnya. Ada rasa rindu yang menggedor hatiku bila sehari saja kami tidak bertemu. Seperti hari ini, ketika aku dengan susah payah menyempatkan diri datang ke taman untuk bertemu dengannya. Tapi Andri tidak juga datang. Satu jam, dua jam, hingga hari telah gelap, bayangannya tetap tidak muncul. Dengan sedih aku menggurat tanah yang tidak ditumbuhi rumput di dekat pohon, menuliskan pesan untuknya. Singkat saja, hanya “Aku rindu”.

Esoknya, ketika aku kembali ke sana, di tempat yang sama tempat aku menulis pesan itu, sudah tertulis pesan baru. Sepertinya si penulis pesan sangat sadar bahwa tulisanku itu untuknya. “Aku juga rindu. Maaf, kemarin aku tidak bisa datang. Aku sedang UTS. Sekarang pun aku hanya datang untuk memberi pesan padamu.”

Membaca pesan itu, hatiku sakit. Aku sadar betul, hatiku telah dicuri olehnya. Bukan, lebih tepatnya, akulah yang memberikannya. Dan bolehkah aku berharap dia merasakan hal yang sama? Pertanyaan retoris yang begitu jelas jawabannya. Tentu perasaan ini harus segera dibunuh, dihancurkan hingga tidak bersisa. Tapi alih-alih mati, dia malah tumbuh semakin subur. Sambil menangis, aku kembali menggurat pesan untuknya, kali ini lewat bait-bait puisi.

Aku tidak pernah mengundangmu hadir dalam hidupku// Kau datang sendiri membelokan jalanku // Ini bukan sayang, apalagi cinta, ini hanyalah rasa tanpa nama.

Hari selanjutnya, kami tidak juga bertemu, tapi aku menemukan kembali pesan yang digurat di atas tanah. Pesan itu berisi “Aku tahu hatimu, karena aku pun begitu. Aku menulis sebuah puisi untukmu. Bersandar air pada awan// Diceraikan mendung pada waktunya// Gamang hanyalah perantara// Agar hujan tak turun sia-sia.” Membaca itu, air mata haru mengalir. Hatiku dipenuhi sejuta jenis bunga. Aku sedang jatuh cinta, dan dia merasakan hal yang sama.

Selama lebih dari seminggu kami tidak bertemu, hanya terus saja bertukar pesan yang dititipkan pada tanah yang terkadang basah dibasuh hujan bulan Oktober. Keasyikan ini lebih dari bertukar pesan lewat SMS atau lewat teknologi apa pun di dunia. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikannya, karena tulisan pada tanah ini selalu saja terhapus.

Hingga hari kedelapan, ketika aku merasakan kecewa karena tidak menemukan pesan darinya, tiba-tiba saja Andri muncul dengan senyum khasnya. Dari balik pohon yang mulai berbuah itu, dia mendekatiku dengan tatapan penuh kerinduan. Aku terdiam, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak memeluknya.

“Kamu, mau jadi kekasihku?” tanyanya saat berada tepat di hadapanku.

Mendengar itu aku membelalakan mata, rasanya pendengaranku telah salah. Apa mungkin itu hanya desau angin. Tapi pria di depanku ini nyata, dan dia tengah bertanya padaku. Air mataku meleleh. Andai saja sore itu turun hujan, tentu dia tidak usah melihatnya.

“Bagaimana dengan dia? Apa kamu sudah melupakannya?” tanyaku.

“Entahlah,” jawab Andri sambil membuang muka. Dari kata dan gerak tubuhnya saja aku sudah tahu, dia belum sepenuhnya melupakan gadis impiannya itu. Tapi aku tidak bisa menuntut, karena aku pun terbagi.

“Kamu mau jadi yang kedua? Jadi selingkuhanku? Mau merasa sakitkah?” tanyaku lagi.

Andri diam sejenak, jelas dari ekspresi wajahnya dia terluka, seperti baru menyadari kenyataan pahit bahwa aku tidak sendiri.

“Iya,” jawabnya singkat dengan nada getir.

Lalu sesorean itu kami bercengkrama tanpa bersentuhan, hanya duduk bersebelahan seperti biasa, tapi hati kami telah berpelukan erat. Di antara kehangatan hatiku yang berbunga, sungguh terselip kesunyian yang lebih dari sepi. Kesedihan yang lebih mencekam dari kehilangan. Semua rasa itu muncul karena aku telah menduakan hati.

Sungguh aku ingin mencintai Alva dan Andri dengan sederhana, seperti cinta yang dimiliki manusia biasa. Tapi cintaku ternyata cinta para dewa, seperti cinta Zeus yang selalu terbagi, tak pernah benar-benar tertambat pada Hera. Sungguh selama delapan tahun ini aku selalu percaya bahwa hanya Alva yang selamanya menghuni hatiku.

Lalu saat senja telah habis, kami berpisah sambil kembali bertukar senyum, bertukar tatapan yang mengatakan jauh lebih banyak dari kata.

“Andri, cintaku padamu seperti bunga plastik. Walau palsu, tapi tak pernah mati,” ucapku menirukan sebuah kata mutiara yang sering kudengar.

Andri menatapku nanar, tak berkata apa-apa.

Setelah perpisahan di senja itu, aku seperti menghilang. Aku tidak pernah menemuinya, ataupun sekadar menulis pesan. Bukan aku menghindar, tapi aku memang tidak bisa menemuinya karena sibuk mempersiapkan pernikahan adik iparku. Sungguh sesak dada ini memendam kerinduan, dan sungguh luka rasanya ketika berduaan dengan suamiku. Ada merasa telah menghianati keduanya. Seperti ada tiga orang sekaligus di ranjang ini. Diam-diam aku selalu menangis sebelum tidur. Untung Alva tidak menyadarinya.

Hingga hari kedelapan terakhir pertemuanku dengan Andri, aku bisa kembali bertatap dengannya. Pertemuan penuh dengan perang batin maha hebat bagi kami berdua. Kutemukan sorot yang berbeda dari mata Andri. Campuran dari kesedihan, rasa bersalah, dan kerinduan.

“Aku menunggumu setiap hari, menuliskan pesan setiap hari, tapi pesanku tidak pernah berbalas,” katanya dingin.

“Maaf,” hanya kata itu saja yang bisa kuucapkan.

“Beginilah nasib kekasih gelap. Setelah hari ini akan kubunuh sosok kekasihmu,” ucapnya lagi, meremukan hatiku.

“Kamu menyesal?”

“Aku sudah tidak bisa menahankan rasa bersalah ini. Kamu istri orang,” jawabnya.

Lagi-lagi aku menangis di hadapannya. Ingin sekali aku merengkuhnya. Menangis di dadanya. Tapi tidak bisa, tidak boleh sampai terjadi, karena itu hanya akan menambah sakit bagi kami berdua.

“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya.

“Sudahlah, Kak, kita jadikan saja hubungan kita ini sebagai persaudaraan yang indah,” tukasnya yang seperti suara petir membelah langit.

“I-iya…,” ucapku pasrah, karena kata-katanya memang benar, dan karena dia juga telah kembali memanggilku dengan sebutan ‘kakak’.

Kami kembali terdiam, berdiri saling berhadapan, sama-sama menghayati suara angin pancaroba. Sampai senja kembali hadir di tengah kami.

“Aku pulang,Kak.” Akhirnya Andri memecah kesunyian kami.

Aku mengangguk, lalu ketika dia berjalan melewatiku, persis ketika kami bersisian, aku memegang tangannya yang kokoh. Dia membalas genggamanku. Tangan kami bertautan, tapi kami tidak saling menatap. Kemudian aku sadar ini akan membuat semua lebih sulit. Kulepaskan genggamannya, untuk sepersekian detik dia tidak melepaskan tanganku, lalu akhirnya dilepaskannya juga. Setelah itu Andri melesat seperti angin, pergi meninggalkanku sendiri.

Sebelum meninggalkan tempat kenangan bagi kedua kekasihku, aku sempat menuliskan sebuah puisi di tanah yang lembap.

Andai saja hari itu kita tak bertemu// Aku tentu tak tahu aromamu// Untung saja, hanya sekejap kau pegang tanganku// Setelah itu, kita jadi ambigu.

***

Akhir Oktober, aku kembali ke sana, bersama Alva. Dengan gayanya yang lucu, dia memanjat pohon mangga itu, melemparkan dengan tepat ke tanganku buah mangga mentah yang kuminta.

“Itu untuk permintaan bayi kita,” katanya penuh kebahagiaan.

Aku membalas senyumnya dengan tulus. Kami lalu duduk di bawah kerindangan pohon, sambil mengobrolkan bagaimana rupa anak yang sedang kukandung ini. Lalu tatapanku tanpa sengaja menangkap bayangan Andri dengan seorang wanita muda. Hanya sekejap saja. Mungkin aku salah lihat, mungkin hanya karena aku masih menumpuk rindu untuknya. Tapi, bila memang itu benar-benar dia, semoga saja dia bahagia bersama gadis penghuni rusuknya itu.

Kepada Oktober, aku menitip cinta lain, menitip doa untuk seorang kekasih dalam setiap hela napasnya.

*2011

*Cerpen ini pernah diterbitkan indie dalam kumpulan cerpen “When … I Miss You”