Kick Back TypoPhobia dengan Smartfren Andromax G2 Touch Qwerty

Di satu forum chat.

A: Hi, lagi beye nih. Boleh ceruts ya.

B: Hah, beye tuh siapa sih?

C: Ceruts apaan?

A: Sori, typo. Maksudnya bete. Ceruts …? Cerita kaliiii.

B: Ooh….

C: Lah, kamu kok yang ngetik gitu -___-”

A: Arrrg …! Typo melulu πŸ˜₯

 

Di satu curhatan via chat.

D: Gue g ngerti knp sih dia tega bgt πŸ˜₯

E: …………..

D: Mendingan pts aja, iya g? Menurut lo gmn?

E: Uhm, gini. Sori out of topic dulu. Dari kemarin aku sering bingung baca chat kamu.

D: Eh? Napa?

E: Sejak kapan kamu suka nyingkat-nyingkat kata gitu? Jadi tiap baca aku mikir dulu. Ini maksudnya apa ….

D: Sjk pake android. Soalnya blm biasa. Kesl typo trs. Bolak-blk ngetik. Mendgn aku sgkt-sgkt aja.

E: *&^^%#$@%!

 

Pernah baca doa di status atau twit temen kamu yang bunyinya gini, enggak?

Tuhan, tolong jauhkan kami dari orang-orang yang selalu typo.

Begitulah doa sepenuh hati para typophobia alias orang-orang yang alergi sama typo atau salah ketik. Istilah typophobia ini dicetuskan oleh teman saya yang nyentrik, Reza Nufa.

 

Bukan cuman orang di sekeliling kamu yang dibuat kesel karena harus menerjemahkan bahasa planet hasil ke-typo-anmu, kamu juga sering dongkol kan bolak-balik ngejelasin maksud kamu ke mereka. Acara chat yang harusnya ngalir dan seru, sampai haru biru, malah jadi usaha membuat KBBY. Iya, kamu enggak salah baca kok, bukan KBBI tapi KBBY alias Kamus Besar Bahasa Typo.

Malah ada kasus sepasang kekasih ribut gara-gara salah ketik tanda baca loh. Kayak gini:

Cewek: Ayang, kamu lagi apa sih! Makan ya!

Cowok: (kaget karena ngerasa dimarahin) Enggak usah galak-galak gitu bisa, kan! Aku enggak usah mesti laporan terus sama kamu!

Padahal sih maksud si cewek nanya dengan nada manja-manja gitu. Tapi salah paham gara-gara salah pencet tanda seru yang mestinya tanda tanya.

 

Saya juga punya pengalaman kena sidak para typophobia. Ceritanya pas saya bikin postingan blog lewat hape ada beberapa kata yang typo dan bikin bingung pembaca. Satu huruf beda aja bikin satu kata beda arti ^_^ Misalnya “kemarin” terketik “jemarin” ya, kan? Hadeuuuh, pembaca jadi gagal paham deh sama apa yang saya maksud πŸ˜₯

Masalah typo di posting dan chat itu beres seketika sejak pakai Smartfren Andromax G2 Qwerty. Soalnya selain punya layar sentuh 3,5 inchi, hape ini dilengkapi keyboard qwerty. Jadi enggak salah-salah ketik lagi, hohoho

 

qwerty_website_rev_06

Andromax G2 Qwerty menggunakan Android 4.3 Jelly Bean (dapat di-upgrade ke OS Android 4.4 Kit Kat) dengan prosesor Cortex A7 Snapdragon Dual Core 1.2Ghz, kamera belakang beresolusi 5MP auto fokus dengan LED Flash dan kamera depan beresolusi 1,3MP. Hasil foto kameranya yang bagus bikin foto-foto buat tulisan di blog jadi enak dilihat. Urusan narsis dan selfie pasti lancar dong XD

 

Kebiasaan menangkap ide di mana saja dan kapanpun bikin saya butuh hape yang baterainya tahan lama. Rasanya sedih banget saat dapet ide keren tapi enggak bisa langsung dituangkan di media sosial termasuk blog, karena hape keabisan baterai. Belum lagi kalau ada momen seru dan penting yang pengin didokumentasiin tapi harus terlewat begitu saja, karena lagi-lagi baterai habis. Untungnya Andromax G2 Qwerty baterainya tahan lama. Kapasitas baterainyaΒ  1.750mAh dan sistem Snapdragon Quick Charge alias cuman butuh waktu sebentar aja buat nge-charge-nya.

 

Andromax G2 Qwerty punya tiga pilihan warna yaitu hitam, merah dan putih. Dan harganya itu … murah meriah banget. Cuman Rp 999.000,- (termasuk PPN) include kartu perdana Smartfren dan langsung dapet paket gratis data 600 MB selama 7 hari setelah aktivasi.

 

Jadi, yuk kita kick back para typophobia dengan Andromax G2 Qwerty ini XD

 

 

Andromax G2 Qwerty Technical Specifications :

Β 

  • CDMA EVDO Rev. A (3.5G) + GSM
  • Download Speed up to 3.1 Mbps (EVDO Rev.A)
  • Dual Mode – Dual On Active EVDO + GSM
  • Snapdragon Dual Core 1.2GHz Cortex A7 Processor
  • Adreno 302 Graphic Processor Unit
  • Large Internal Memory 4GB ROM + 512MB RAM
  • Only 10 mm in Thickness
  • OS Android 4.3 Jelly Bean (Ready upgrade to Android 4.4 Kit Kat)
  • Dual Camera 5 MPix (AF) w/LED Flash + 1.3MPix
  • Snapdragon Audio+
  • Snapdragon Quick Charge
  • LCD 3.5” Touch Screen with convenience QWERTY keyboard
  • Capacitive Screen with 5 finger touch point
  • Built-in GPS with A-GPS Support
  • Wi-Fi Hotspot (Tethering) up to 5 users
  • Bluetooth 4.0 with A2DP support
  • Accelerometer, Proximity, Ambience and Magnetic Field Sensor
  • 5 mm Audio Port Stereo
  • Micro-USB port Interface
  • Multimedia
  • FM Radio
  • Support Micro-SDHC external memory up to 32GB
  • Battery 1750mAh

 

qwerty_website_rev_04

Semua foto diambil dari http://www.smartfren.com/ina/andromax-g2-qwerty/

 

Advertisements

Behind The Book Trailer – Part 1: Before The Freaky Day.

Udah pada nonton book trailer TwiRies?

Iya yang ini …. *nunjuk ke bawah*

 

 

Sebenernya, saya enggak tega liat diri sendiri tiap muter book trailer itu. Hmm, gimana ya. Malu aja liat diri sendiri. Mending ya kalau aktingnya bagus, ini mah pas-pasan gitu. Memang, sesungguhnya saya orang narsis yang pemalu -__-” Iya saya juga bingung, narsisΒ  tapi setengah-setengah. Apalagi pas temen saya bilang, “Maaf ya, Va, tapi akting Evi lebih bagus.” Jlebnya itu kayak jauh-jauh dateng ke Paris buat liat Eiffel, eh, ternyata menaranya dipindahin ke Jakarta πŸ˜₯Β  Tapi ya sudahlah, berhubung susah nyari pemeran anak kembar cewek sebagai pengganti kami, jadi saya terpaksa main juga << alibi banget, padahal memang kepengin main.

Ngomong-ngomong, saya pengin cerita tentang pembuatan TwiRies book trailer ini. Hmm, mari kita mulai dari pembuatan skenarionya.

 

H min entah berapa hari.

Dari TwiRies masih berupa corat-coret outline, kami–saya dan Evi–sudah memikirkan membuat book trailer-nya. Tapi konsep dan ceritanya belum pasti. Pokoknya adegannya akan kami ambil dari bukunya, tapi enggak tahu bagian yang mana. Tiap kali kami ngobrolin soal book trailer ini, jawaban kami sama-sama: Iya, lagi dipikirin. Padahal sih ngarep kembarannya yang bikin konsep (si kembar pemalas). Sampai buku udah kelar cetak, itu skenarionya enggak jadi-jadi. Kami pun terkena panic attack!

Malam itu kami rapat di meja bundar (asli meja di rumah Evi memang bundar) dengan agenda membuat skenario ekspres. Bergelas-gelas kopi disiapkan, berpiring-piring camilan siap dimakan, berlembar-lembar kertas digelar, dan dua laptop sudah standby. Sejam, dua jam, sampai tiga jam berlalu dengan hasil … ngegosipin artis, ludesnya camilan dan kopi, juga kertas yang masih bersih. Ternyata enggak kerasa udah jam 3 pagi, pantesan aja udah ngantuk berat. Tapi demi mengurangi rasa bersalah karena enggak ada kemajuan bikin skenario. Kami memaksakan diri. Ajaibnya cuman sepuluh menit aja kami udah selesai bikin konsepnya. The power of kepepet memang selalu bisa diandalkan. b^^bΒ Β  Intinya sih ngambil dari kata pengantar saya sekaligus blurb (sinopsis belakang buku) yang dimodifikasi. Udah cuman gitu aja, dini hari itu kami puas menghasilkan konsep dan kembali menjadikan skenario sebagai peer -___-” Singkat cerita, beberapa hari setelah itu skenarionya beres juga.

 

H min 3

H-3 kami berdiskusi soal skenario dengan sutradara Pak Bambang dan kameramen A Cepi. Kami menceritakan konsep kami diiringi lagu doraemon “Kami ingin begini, kami ingin begitu, ingin ini, ingin itu banyak sekali”.

A Cepi: Buat opening-nya coba tambahin satu adegan lagi yang memperlihatkan kekembaran aneh kalian.

Setelah berpikir keras, akhirnya kami menambahkan adegan di kasir. Itu loh adegan yang kembaliannya mesti sama >.< Jadilah skenario itu kami revisi lagi.

Pak Bambang: Tipis banget skenarionya, paling jadinya tiga menitan. Kalau cuman segini sih, syuting dari pagi juga jam 12 siang kelar.

Saya dan Evi ngangguk-ngangguk.

 

H min 2

Skenario >> Cek!

Sutradara dan crew >> Cek!

Pemain >> nggg … gimana iniiii, kurang satu pemainnya!!!

H-2 seluruh crew kumpul di rumah kembar buat latihan sekaligus briefing. Tapi kami punya satu masalah, pemainnya kurang satu. Kami pun kasak-kusuk nyari. Telepon sana-sini. Sampai mau bikin iklan baris di koran, tapi enggak jadi karena keburu ada korban yang merelakan dirinya. Hohoho. Fiuh, berkuranglah satu kesetresan.

Latihan pun dimulai dengan kalimat pembuka yang epic banget dari Pak Sutradara, “Kalian mau jadi artis, gak?” Langsung semua bersorak bahagia ngebayangin duit segepok. Ngarep beneran diajakin Pak Sutradara main sinetron, hohoho.

Satu persatu pemain diarahin sutradaranya–Pak Bambang. Setiap orang disuruh mendalami kekhasannya sendiri. Soalnya dari skenarionya aja kami bikin karakter tokoh berdasarkan karakter asli pemainnya. Jadi kalau tokoh Shita itu galak aslinya emang gitu, kalau Lenny itu lemot aslinya juga gitu, kalau Alva itu konyol aslinya lebih parah *kemudian dikepung Shita, Lenny, dan Alva*

Giliran saya dan Evi pun tiba. Ada beberapa adegan yang mengharuskan kami kompak, tapi kami enggak kompak terus. Sutradara sampai capek ngomong “ulangi” sambil geleng-geleng kepala. Tapi giliran lagi enggak dipelototin, kami malah lancar jaya.

“Ini kalian pasti nervous gara-gara saya terlalu ganteng,” ucap Pak Sutradara kepedean -__-”

Latihan yang cuman dua jam itu pun ditutup dengan adegan rebutan gorengan. Pak Sutradara yang melihat kami kecapean latihan lalu ngasih wejangan yang jleb banget, “Duh, kalian latian segitu aja udah kecapean, gimana mau jadi artis. Syuting apalagi buat sinetron striping tuh capek banget loh.” Mendengar itu, kami pun menabahkan diri seolah-olah tadi enggak ngerasa capek sama sekali TT__TT

 

behind1Latihan sebelum syuting. (Foto: Fuan Fauzi. Editing: Evi Sri Rezeki).

H min 1

Satu hari menjelang freaky day niat kami sih mau latihan berdua, berhubung kemarinnya masih salah-salah dan kaku. Tapi ternyata masih banyak persiapan lain yang mesti diurus, semisal listrik buat alat-alat syuting, nyocokin kostum, make up, dan seterusnya, dan selanjutnya, dan … dan … sebenernya udah lupa ngapain aja, pokoknya waktu itu saking sibuknya, rencana latihan terbengkalai dan enggak kesampean 😦 Bahkan kami tidur larut malam. Soalnya selain (sok) sibuk, kami kayak anak kecil yang baru dikasih mainan keren, saking excited sekaligus ngeri ngadepin syuting besok jadinya susah tidur. Padahal harus bangun pagi dan enggak boleh kesiangan.

Apakah bener syuting book trailer ini bakalan selesai jam 12 siang? Atau malah mangkir ke jam 12 malam? Gimana proses syutingnya? Ikuti kelanjutan ceritanya di part 2 ya.

behind4

Syuting adegan opening. (Foto: Fuan Fauzi. Editing: Evi Sri Rezeki).