Dear Stiletto Book, Kalau Bukan Karenamu, Hampir Saja Aku Berhenti Bermimpi

Dear Stillo, kamu bukan penerbit pertama yang menerbitkan novelku, tapi kamulah yang membuatku yang hampir saja berhenti bermimpi untuk bangkit lagi.

 

trisa

Dulu, aku selalu menyebut diri sebagai “wanita dengan sejuta impian.” Bukan sekadar impian, tapi impian yang membuat setiap kali aku bercerita tentang impian itu pada orang-orang, mereka akan ikut bersemangat dan yakin, suatu hari apa yang kumimpikan akan tercapai.

Aku ingin menjadi seorang sutradara film, penulis, menjadi produser di radio, penyiar dan menjadi-jadi yang lainnya. Begitu banyak yang kuimpikan. Dari kecil, aku tidak pernah absen mengikuti banyak kegiatan, berdiam diri di rumah membuatku merasa tidak hidup. Hanya sesekali, ketika liburan, aku menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku, komik, atau menonton film. Tapi semua itu malah menawarkan semakin banyak mimpi padaku. Seperti memberiku amunisi untuk menjadi apa yang kuinginkan.

Saat sudah memiliki anak, aku akhirnya memutuskan untuk full menjadi ibu rumah tangga, melepaskan pekerjaanku sebagai kreatif asisten dan reporter di suatu radio dewasa muda. Keputusan itu salah satunya terpicu karena mendengar ayah dan ibuku berkata, “Rasi anak yatim piatu, gak ada Ibu dan Bapaknya,” membuat hatiku sakit teriris-iris. Apakah salah ketika aku ingin menggapai mimpiku sendiri, toh aku tetap mengurus anakku, aku tidak menelatarkannya. Ketika malam datang, saat waktu telah beranjak menunjukan waktu tidur untuk anakku, aku akan mendongengkannya. Menjaganya dalam tidur. Menatap wajah mungilnya sambil merenung “Sayang, apakah aku Ibu yang seburuk itu?” lalu diam-diam aku akan menangis.

Sejak itu, aku menjadi Ibu rumah tangga sepenuhnya. Dari pagi hingga pagi tinggal di rumah. Sungguh, aku selalu merasa kagum pada para Ibu rumah tangga. Didedikasikannya seluruh hidup untuk keluarga. Tapi aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. Karena itu aku selalu merasa kecewa ketika Mama, masih saja berkata, “Rasi sering ditinggal ibunya.” Padahal itu hanya kulakukan sesekali saja, ketika aku memaksakan diri untuk hadir di acara reuni sekolah, atau buka puasa bersama. Mama, memang seperti apa menjadi seorang Ibu itu? Telah kubuang semua impianku, apa itu belum cukup?

Dari rasa kecewa itu, aku berusaha mentransporfasikan impianku pada anak, demi terus mendengar suara tawanya yang lucu, dan merasakan pelukan tulusnya. Aku berusaha menikmati, walaupun kadang jenuh melanda, kadang mimpi-mimpi yang telah kubuang datang menyambangi, dan kadang ada passion untuk melakukan hal-hal  lain yang harus kukendalikan. Saat bercermin, mataku sudah tidak memperlihatkan binar-binar penuh impian yang selalu membuat orang percaya, bahwa aku mampu mewujudkannya. Tapi lama-lama aku mulai terbiasa, dan akhirnya, akupun berhenti bermimpi.

Suatu malam, saat aku mengdongeng untuk Rasi, aku merasa bahagia sekali, cerita seperti keluar begitu saja, mengalir, dan membuat Rasi tertawa menikmatinya. Tiba-tiba saja aku melamun, jika suatu hari aku bisa membawanya berkeliling dunia dengan tulisan-tulisanku. Aku lalu tersentak, seperti ada sebuah kesadaran yang merasuk. Ya, aku ingin kembali bermimpi, dan mimpi itu tidak memisahkanku dengan anak. Impian yang lebih indah dari semua impian yang pernah kumiliki dulu. Hatiku terasa hangat, aku ingin menulis. Sangat ingin. Dulu memang aku sudah pernah menerbitkan sebuah novel, tapi sudah lama sekali.

Aku mulai mengikuti grup penulisan di internet, karena aku tidak bisa keluar rumah. Sampai suatu hari, aku membaca tulisan para ibu-ibu dalam sebuah grup penulisan. Tiba-tiba dadaku bergetar. Tulisan-tulisan itu tulus, sederhana, ditulis dengan hati, dan bahkan mereka adalah ibu-ibu yang super sibuk. Kalau mereka bisa, aku tentu juga bisa. Lalu aku mulai mencari-cari lomba menulis, hanya agar aku bersemangat menulis.

Akhirnya aku mengikuti sebuah lomba true story. Aku mencoba menulis dengan komputer pinjaman, di malam hari, saat anakku telah terlelap. Mengawali ternyata sulit, aku lupa, bagaimana menulis itu. Saat berada di depan komputer, aku hanya bisa terdiam, walaupun huruf-huruf yang dicetak di atas keyboard  itu seakan memanggil-manggil untuk ditulis. Aku memaksakan diri, dan akhirnya, setelah satu minggu, selesai juga tulisan tiga lembar itu. Aku mengirimkannya, menunggu pengumumannya, dan aku… gagal! Aku terpukul, apakah benar aku bisa menjadi seorang penulis. Tapi aku tidak ingin kembali kehilangan impian. Aku tidak mau menyerah.

Aku mencari-cari lagi lomba, dan mencari penerbitan-penerbitan. Aku menemukan sebuah penerbitan yang mengkhususkan diri untuk menerbitkan buku-buku bertema perempuan bernama Stiletto Book. Entah kenapa, aku merasakan adanya chemistry yang hebat. Aku merasa harus mengirimkan karya ke sana. Aku mencari file-file lama draft novel-ku yang belum selesai. Lalu aku kirimkan beberapa bab awalnya.

Satu bulan aku menunggu, ketika aku membuka email, aku mendapat konfirmasi bahwa novelku lolos seleksi tahap satu. Entah rasa bahagia seperti apa yang kurasakan saat itu, rasanya semua huruf yang dibingkai menjadi kata tidak akan bisa mengungkapkannya. Lalu aku meminta waktu satu bulan untuk menyelesaikan novel itu.

Aku menyelesaikan novel itu dengan penuh perjuangan. Aku tidak mungkin menulis di warnet, karena anakku yang masih kecil tidak bisa lama-lama kubawa ke sana, dia akan menangis meminta pulang. Maka aku meminjam komputer adikku. Menunggu Rasi tertidur, menunggu adikku selesai memakai komputernya, yang terkadang baru selesai pukul dua atau tiga pagi. Aku menunggu tanpa tidur, karena waktunya tidak tentu. Karena pernah aku tertidur, dan baru terbangun paginya. Sedih sekali, seharian itu aku tidak menulis selembar pun.

Novel itu bercerita tentang menggapai impian, seperti sebuah harapan yang kutitipkan pada tulisan. Pada tokohnya, aku menuliskan impian yang tidak mungkin kucapai. Lewat tulisanlah aku bisa menjadi siapa saja, di mana saja, dan mengalami apapun. Akhirnya, sesuai komitmenku pada diri sendiri, novelku selesai dalam waktu satu bulan. Novel setebal 152 halaman itu aku kirimkan dengan penuh harapan. Satu bulan kemudian, aku menerima kabar gembira, novelku katanya akan diterbitkan! Ya, olehmu Stillo! Lebih menyenangkannya lagi, novel itu terpilih menjadi “Chicklit” pertama yang kamu terbitkan. Seandainya bukan karena syarat pengiriman naskahmu yang memperbolehkan mengirimkan 30 halaman pertama, sepertinya sampai sekarang novelnya belum selesai kutulis. Karena dorongan Stillolah “Dunia Trisa” bisa benar-benar lahir ke dunia.

Tuhan begitu baik, diberinya aku impian, diberinya aku kekuatan untuk mewujudkannya. Karena aku menyadari betul, impianku kali ini bukan hanya bentuk aktualisasi diri, tapi sebentuk cinta bagi diriku sebagai manusia yang berhak memiliki mimpi, dan bagi anakku sebagai wujud cinta seorang ibu, yang ingin membuat anaknya bangga sekaligus bahagia.

Selama proses editing, naskah itu kuberikan pada pembaca pertama, seorang sahabat yang kudapatkan darimu, Stillo. Namanya Mpok Mercy, kami dipertemukan olehmu dalam salah satu seri A Cup of Tea.  Kamu telah memberiku banyak hal, Stillo. *terharu* Dia memberikan pandangan yang membuatku harus merevisi beberapa bagian. Dengan baik hatinya, kamu memberiku kelonggaran waktu dari DL yang sudah ditentukan.

Ketika novelnya sudah masuk ke toko buku, perasaan haru membanjiriku saat Rasi dengan mata berminar-binarnya mengatakan, “Itu buku Mama!”

Kamu telah memberiku jalan menggapai impian, memberi kesempatan pada Dunia Trisa untuk membagi kisahnya pada dunia. Seperti tagline yang Mbak Dewi berikan untuk novelnya: Pergilah Ke Mana Mimpi Membawamu.

Advertisements

8 thoughts on “Dear Stiletto Book, Kalau Bukan Karenamu, Hampir Saja Aku Berhenti Bermimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s