[Ask Author] Dini Fitria Penulis Novel Islah Cinta

Proses kreatif menulis novel selalu seperti perjalanan panjang melewati terowongan. Kadang kala cahaya di ujungnya tidak tampak sama sekali. Ketika penulis menyerah, maka kata-katanya tak akan sampai pada para pembaca di luar terowongan sana. Namun, pengalaman batin penulis tentu berbeda-beda. Ada pula yang  merasa proses kreatif menulis novel ibarat sedang bersenang-senang di taman bermain, atau menjadi detektif yang menyatukan teka-teka. Saya selalu penasaran dengan perjalanan penulisan seseorang. Termasuk pada Mbak Dini Fitria, penulis novel Islah Cinta. Senangnya, Mbak Dini ini orangnya ramah banget. Permintaan saya untuk wawancara disambut terbuka 😀

Pertama-tama, kita kenalan dulu dengan sosok Mbak Dini Fitria. Berikut biodata narasinya:

Ask Author Dini Fitria Penulis Novel Islah Cinta

1. Saya: Untuk menulis novel “Islah Cinta” tentunya Mbak Dini melakukan riset yang mendalam. Risetnya seperti apa? Dan apa saja yang menjadi tantangan selama melakukan riset?

Mbak Dini :

Sebenarnya aku tidak pernah terpikir untuk bikin novel yang berlatar India. Kunjungan aku pertama kali ke India di akhir maret 2011 lalu itu murni karena ingin liputan untuk sebuah program televisi yang aku produseri.
Tidak ada niat untuk menjadikan semua peristiwa atau kenangan selama liputan menjadi sebuah buku. Apa yang kualami di India selama liputan membuat ku juga tidak betah dan nyaman berlama-lama, karena banyak sekali tantangan dan kesulitan liputan saat itu. Bahkan, aku dan cameraman (kami liputan hanya berdua), menamakan perjalanan kami ke india ini “neraka”, tak seindah yang ada di televisi dan tak segampang yang kami bayangkan. India, cukup menguras emosi dan energi. Itu sebabnya, kami bersumpah untuk tidak akan pernah kembali lagi ke India dengan alasan apa pun, termasuk bila gratis sekalipun. Aku masih ingat sumpah itu kami ikrarkan di India Gate,Delhi.

5 tahun kemudian, cerita berkata lain. Aku diminta untuk membuat sebuah novel dengan genre travel religi oleh Falcon Publishing. Terinspirasi dari bukuku sebelumnya yang berlatar di benua Eropa dan Amerika Latin. Tadinya aku ingin menulis China atau negara lain yang pernah aku kunjungi, tapi entah kenapa pilihan akhirku jatuh ke negeri para dewa, India. Setidaknya bekal memori tahun 2011 silam masih jelas teringat dan tergiang. Modal itu yang aku pakai untuk membuat cerita. Tapi saat menuliskan semua kisah dan pengalaman itu kayaknya feel-nya ada yang kurang, tidak ada jiwanya. Walaupun aku berusaha kembali membuka diary yang berisi reportase  selama berkegiatan di sana dan menonton kembali rekaman program dulu rasanya tetap saja ada yang kurang. Om google dan youtube pun tidak bisa menghidupkan “jiwa” tulisanku. Akhirnya aku bertekad kembali ke India untuk memberi “jiwa” pada tulisanku agar tidak kehilangan napas kehidupannya. Dan Allhamdullilah Falcon pun mendukung. Oktober 2016 aku berangkat dan menetap selama dua minggu di sana, kembali menjelajahi india dengan melanggar janjiku sendiri.

Tapi ada yang berbeda di perjalananku yang kedua ini, semua kesan “buruk” dan kenangan “pahit” yang dulu pernah aku alami malah tak senyata dulu. Entah karena tujuan kedatanganku berbeda karena memiliki target yang tak sama atau karena point of view-ku melihat India yang berubah. Ibaratnya, bisa dibilang aku seperti seorang gadis yang sedang kasmaran dengan pria tampan yang dulu pernah aku abaikan.

India memberi banyak pelajaran hidup dan pengalaman yang mendewasakan. Tidak hanya dari segi agama tetapi juga kehidupan itu sendiri. Seperti yang saya bilang di novel Islah Cinta yang saya tulis “if you can survive in India, you can survive in any part of the world.”

Selama di India aku kembali mendatangi tempat-tempat yang pernah aku kunjungi dan juga beberapa tempat yang belum pernah kudatangi tapi masuk ke dalam latar cerita. Bertemu dan berbaur dengan masyarakatnya, kebudayaanya, keseharianya  dan merasakan menjadi “gadis India” yang hidup di zaman kerajaan dan masa sekarang.   Semua orang, tempat dan peristiwa yang kutemui selama perjalanan ikut mengilhami kisah yang kubuat, bisa dibilang semua yang kutulis adalah based on true story. Sekali lagi sensasi perjalanan kali kedua ini sangat membuatku “ketagihan” dan malah sangat betah.

Tantangan saat kedua kali mengunjungi India tentu tidak sama dengan yang pertama. Sekarang malah lebih ke soal waktu yang terasa kurang di tengah keasyikan saya menggali dan menyusun cerita. Dua kisah kunjungan inilah yang saya ramu di novel Islah Cinta ini.

Saya: Ya ampun, Mbak. Ini sih behind the book-nya udah bisa dibikin novel sendiri saking menariknya 😀

2. Saya: Islah Cinta sebenarnya terusan dari dua novel seri ‘Scapa Per Amore’ ya, Mbak? Ini sebelumnya, apakah memang sudah dikonsep untuk menjadi novel berseri? Bagaimana mengonsep novel berseri, Mbak? Soalnya tampak susah bikin pemetaan ceritanya berseri.

Mbak Dini:

Iya, Islah Cinta adalah novel ketigaku dari dua judul sebelumnya. Sebenarnya konsep berseri ini tidak ada unsur kesengajaan. Semua berjalan begitu saja. Dari novel pertama tentang perjalananku ke benua Eropa memang aku berpikir, rasanya aku tak sanggup menampung sendiri sekian banyak hikmah yang kudapat selama perjalanan, makanya aku bagi dengan mengabadikannya ke dalam bentuk buku. Dan berharap kisah-kisah yang tertuang dapat bermanfaat bagi yang membaca.

Sebenarnya tidak susah juga membuat novel berseri karena tokoh dan alur kisah Diva antara buku 1, 2 dan 3 ini tetap tak kehilangan benang merahnya. Bahkan antara satu yang dengan yang lainya saling melengkapi. Jadi bisa dibilang membaca buku 1, 2 dan 3 ini seperti sedang membuka puzzle-puzzle kehidupan sang tokoh, yaitu Diva. Tirai-tirai rahasia diva satu persatu terkuak hingga orang bisa jatuh cinta atau patah hati dengan Diva di saat yang bersamaan.

Pengalaman Mbak Dini ketika jadi presenter dan produser acara (foto dokumentasi milik Mbak Dini)

3.  Saya: Tolong ceritakan kejadian menarik dan mengesankan dalam proses menulis novel “Islah Cinta”.

Mbak Dini:

Aku tadinya merasa tidak yakin kalau akhirnya bisa menulis bahkan merampungkan buku ketiga ini di tengah riuh gelombang kehidupan. Saat itu aku juga sedang banyak kesibukan dan silih berganti diterpa ujian hidup. Proses aku menulis buku ini juga mengalami jatuh bangun di mana aku benar-benar disungkurkan kenyataan hidup oleh Tuhan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Ternyata benar, skenario Tuhan itu lebih indah dari yang saya perkirakan. Kuncinya cuma satu, ikhlas dan sabar. Perjalanan saya ke India turut membantu saya menyembuhkan “penyakit batin” yang saya punya. Ternyata masih banyak orang yang hidup dalam kenestapaan hingga membuat saya merasa lebih bisa bersyukur dan berpikir positif terhadap apa yang sudah saya miliki sekarang.

Saya: Peluuuk Mbak Dini…. Masalah pribadi penulis pasti bisa memperkaya tulisannya juga ya, Mbak.
4. Saya: Siapakah tokoh-tokoh yang menginspirasi Mbak Dini di dunia penulisan dan presenter?

Mbak Dini:
Sejak kecil aku terbiasa membaca buku-buku filsafat, psikologi, sejarah dan agama karena latar belakang orang tua yang berprofesi sebagai pendidik. Aku bahkan tidak terlalu senang membaca komik atau cerita anak-ana. Mungkin itu sebabnya aku lebih tertarik kepada hal-hal yang berkaitan dengan bidang ilmu di atas. Tulisan ku juga banyak terinspirasi dari semua buku yang aku baca. Kemudian aku menganalisa sendiri dan meramunya sesuai dengan apa yang aku alami.

Tapi bukan berarti aku tidak senang membaca buku-buku fiksi. Aku pengaggum berat buku-buku Buya Hamka dengan tulisan jenius dan romantisnya. Aku juga senang membaca karya NH Dini, Pramoedya, Ahmad Tohari, dan Jane Austin. Tapi yang sangat mempengaruhiku untuk giat menulis itu adalah papaku sendiri yang memang juga seorang penulis buku. Aku sering membaca tulisanya di koran-koran dan ikut mendengar ceramahnya di masjid dan kampus. Bahkan mamaku bilang saat tidak ada uang membeli susu waktu aku kecil, papa harus mengirim artikel dulu ke koran lokal supaya dapat uang. Itu yang membuatku sangat trenyuh dan termotivasi.  Membaca memang kesenanganku, sama halnya dengan menulis yang menjadi kegemaranku sejak di bangku sekolah dasar.

Kalau di dunia presenter aku lebih belajar otodidak dan mengambil kiblat ke orang-orang yang pakar di bidangnya. Tapi pengenya menjadi presenter hijaber dengan style masa kini tapi tetap Islami dan mempunyai pengetahuan yang luas.

5. Saya: Apa impian pencapaian Mbak Dini dalam dunia penulisan?

Mbak Dini:

Aku ingin kisah-kisah dari bukuku diangkat ke layar lebar dan bisa dinikmati banyak orang tanpa terhalang perbedaan agama, suku bangsa dan ras. Karena semua yang kutuliskan tidak menghujat atau menyudutkan pihak mana pun. Aku ingin menyebarkan benih-benih Islam yang rahmatan lil alamin. Sebagai penulis aku ingin menyumbangkan sedikit ilmu dan pengalaman yang kumiliki agar bisa ikut berdakwah walau hanya di ujung pena.

Saya: Amiin. Semoga terwujud ya, Mbak.

Mbak Dini sedang menanda-tangani karyanya. (foto dokumentasi Mbak Dini)

Itu dia hasil obrolan singkat kami. Semoga menginspirasi ya. Kalau kamu masih kepengin tanya-tanya sama Mbak Dini. Silakan loh mention Mbak Dini di media sosialnya. ^^

Advertisements

10 thoughts on “[Ask Author] Dini Fitria Penulis Novel Islah Cinta

  1. Saya malah gagal fokul ke kameramennya yang cewek. wkwk.
    Btw ini bagus kontennya Mba, gak banyak saya temukan blogger yang bikin wawancara kayak gini.

  2. halo perkenalkan saya mukhofas
    apa kabar dan salam kenal mba
    saya udah baca, sangat menginspirasi sekali.
    saya suka hal hal pengalaman pahit pas ke india pada 2011 dan akhirnya kembali lagi
    dan akhirnya menjadikan sebuah novel mantep
    saya sendiri juga sudah mewawancarai beberapa penulis dan blogger cukup populer dan berhasil
    semua saya rangkum di salah salah satu blog saya kak.

    salam dan mampirlah untuk versi wawancara ala saya

  3. Selalu salut dengan para peenulis novel. Termasuk Eva. Soalnya, aku gak pernah bisa. Jangankan novel, cerpen aja susah setengah mati. Dan baca-baca proses kreatifnya bikin semakin salut aja. Hmmm… Jadi pengen baca Islah Cinta.

  4. Proses kreatifnya bikin ngiler yaa..
    Kereen banget, dan suka banget sama konten wawancara gini. Hehehe
    Sering-sering ya teh

  5. Dibalik kekerenan Mbak Dini, pasti begitu banyak hal yang sudah beliau lalui.. Satu hal lagi, meskipun Mbak Dini punya kegiatan seabreg, tapi sepertinya nggak menghalangi Mbak Dini untuk terus berkreasi. Salut deh, harus ditiru nih! 😀

  6. Teeh aku berasa baca web apa gitu auranya, hehehe. Belom baca islah cintanya mba dini, jadi tertarik euy. Makasih infonya yaa teh..

  7. btw mba, klo nanya2 begini mba ngasi sesuatu ga? dulu aku juga suka wawancara narasumber, tapi jadi kepikiran.. perlu dikasih sesuatukah?

  8. seru ya teh bisa wawancara orang2 hebat. aku juga dulu suka wawancara narsum, trus tulis di blog. tapi udah ga lagi gegara kepikiran perlu ngasi sesuatu ga ya buat mereka.. belum nemu jawabannya. hehe..

    kalo teteh gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s