Bincang Seputar Lomba Dengan Editor Diva Press Nisrina Lubis

Dalam beberapa tahun ini, banyak lomba yang diadakan oleh penerbit-penerbit. Baik itu lomba cerpen maupun lomba novel. Tentunya dengan berbagai tema dan genre. Salah satu penerbit yang rajin membuat lomba adalah Diva Press. Tertarik dengan hal itu, saya mewawancarai salah satu editor senior sekaligus pimpinan redaksi salah satu penerbitan imprint Diva Press, Mbak Nisrina Lubis yang akrab dipanggil Mbak Rina. Saya pikir selain saya, mungkin banyak orang yang ingin mengetahuinya juga. Berikut obrolan kami seputar lomba, naskah, sampai proses penjurian.

 

Saya: Mbak Rina, apa tujuan penerbit membuat lomba novel?

Mbak Rina: Lomba-lomba novel yang diadakan setiap penerbit tentunya punya goal yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Ada yang ditujukan untuk mengumpulkan beberapa naskah dengan tema tertentu dalam waktu singkat, perayaan ulang tahun penerbit, mencari bibit penulis baru berbakat, atau hanya untuk mengajak penulis traveling. DIVA pernah mengadakan lomba-lomba novel dengan tujuan-tujuan seperti itu tadi. Bisa jadi, penerbit lain pun demikian. Misalnya di lomba #ter-TEEN, redaksi mencari novel-novel remaja, di #InspiratifRomantik ditujukan untuk mengajak 3 orang penulis nonton bareng MotoGP di Sepang, #lombanoveljepang untuk mencari naskah-naskah bersetting Jepang yang punya tema-tema unik.

 

 

Mbak Rina2

Mbak Nisrina Lubis (dokumentasi milik Mbak Mbak Rina)

Saya: Kriteria apa saja yang diberlakukan untuk menjaring pemenang?

Mbak Rina: Masih berkaitan dengan jawaban sebelumnya, sebuah lomba bertujuan untuk mencari beberapa naskah berkualitas dalam waktu singkat (anggaplah masa pengerjaan 2-3 bulan). Semakin besar hadiah yang akan diberikan, maka akan semakin mudah ditebak jika kualitas naskah yang dicari akan dibebani dengan standardisasi yang makin tinggi pula. Sebelum sebuah penjurian lomba digelar, para juri (biasanya adalah para editor fiksi dan CEO DIVA) akan melakukan briefing mengenai lomba ini secara keseluruhan, tujuan apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara untuk sampai ke sana. Secara umum, penilaian akan dibagi ke dalam 2 poin besar: konten (naskah) dan editing (teknik penulisan). Konten jika diuraikan lebih dalam lagi akan menyangkut dengan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sementara editing, fokus pada kelihaian seseorang dalam menulis dan menyampaikan maksud dengan tepat, misalnya peletakan tanda kutip dalam dialog, tanda baca, huruf kapital, pembagian paragraf, pembagian paragraf, bab, dan banyak sekali.

 

Saya: Mbak, naskah seistimewa apakah yang dicari penerbit dalam perlombaan novel?

Mbak Rina: Dewan juri selalu menyebutkan “istimewa” sebagai parameter naskah pemenang lomba. Tapi seberapa istimewa? Istimewa menurut siapa? Apanya yang istimewa? Mengapa istimewa? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu berseliweran dalam benak kita. Istimewa adalah parameter yang relatif, antara satu orang dengan yang lainnya berbeda-beda, tapi sebuah naskah layak mendapatkan predikat istimewa jika dewa juri bersepakat dengan hal itu. Jika tidak mendapatkan suara mutlak, mala level naskah itu hanya sampai di tahap “potensial”, poin relatifnya bisa jadi sudah dipengaruhi subjektivitas masing-masing juri, mungkin karena sesuai dengan selera, penulisnya dikenal secara pribadi dan sebagainya. Naskah itu bagus, namun “ada tapinya”.

 

Saya: Mbak, meski relatif adakah parameter standardisasi sebuah naskah istimewa dalam lomba?

Mbak Rina: Dalam hal apa pun selalu akan ada perkembangan dan penyempurnaan, sehingga tidak ada parameter yang benar-benar baku itu sendiri. Tahun kemarin, kami memilih naskah A karena 1, 2, 3, 4, 5 dst. Tahun sekarang tentu dengan adanya #KampusFiksi-di mana kami memberikan semakin banyak materi dan pelatihan menulis dan juga silabus menulis fiksi-maka poin-poin penjurian akan bertambah banyak jadi 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, 2c dst. Kemarin kesalahan ketik masih kami beri toleransi, sekarang menjadi poin utama. Kemarin halaman kurang masih kami pertimbangkan, sekarang tidak. Banyak rahasia dapur redaksi yang sudah kami ungkap di depan peserta #KampusFiksi dan juga di media sosial kami untuk menjadi pengetahuan baru bagi teman-teman yang  ingin mengikuti lomba-lomba novel DIVA maupun menawarkan naskahnya. Kasus-kasus di lapangan yang tidak perlu terulang-ulang kembali ke depannya. Jika berkenan silakan dicatat, jika tidak pun tidak apa-apa.

 

Saya: Teman-teman, Kampus Fiksi adalah program Penerbit Diva Press grup untuk membina para penulis pemula lewat workshop. Mereka juga diberi fasilitas bimbingan oleh para editor untuk naskah yang sedang ditulis. Bulan ini juga Diva meluncurkan program Kampus Non Fiksi. Para alumni tidak dibatasi harus menulis untuk penerbit Diva Press, tetapi sangat bebas mengirim karya untuk penerbit lain.

Saya: Apa sih perbedaan naskah regular dan naskah untuk lomba dari segi kematangan naskah, Mbak?

Mbak Rina: Kita bicara tentang DIVA Press Group, tidak bisa digeneralisir ke penerbit lainnya, sumber naskah kami ada 3 jalur. Pertama adalah reguler, yaitu dengan sistem kirim naskah jadi ke redaksi kemudian dievaluasi lalu dikonfirmasi. Ini berlaku untuk naskah apa pun yang kelak diterbitkan oleh DIVA dan imprint. Jalur kedua adalah order atau pesanan. Ini adalah jalur khusus dan sifatnya internal. Kami menjalin kerja sama dengan jaringan penulis untuk mendapatkan naskah-naskah tertentu sesuai dengan momen. Novel sangat jarang menggunakan sistem ini karena untuk menghasilkan novel saja butuh waktu lama, sementara order bisa jadi lebih cepat dari itu. Terlambat naskah diselesaikan, maka lewatlah momen yang ditargetkan oleh marketing. Namun ada juga naskah order yang tidak kejar momen, artinya sifat naskah itu bisa terbit kapan pun, seperti buku pelajaran dan psikotes, panduan dan sebagainya. Jalur ketiga adalah lomba. Redaksi Fiksi (yang menghadapi naskah-naskah novel) paling sering mengadakan lomba untuk mengumpulkan naskah tematik dalam waktu singkat. Siapa pun bebas mengikutinya dan gratis. Naskah-naskah yang masuk dalam rentang waktu yang ditentukan akan “dievaluasi” namun dengan nama “penjurian”, orang-orang yang menyeleksi naskah sama dengan tim yang mengevaluasi naskah reguler yaitu para editor dan melibatkan CEO DIVA untuk tahap final alias pengambilan keputusan. Jika dalam seleksi reguler, penulis bebas mengirim naskah, berbeda dengan lomba. Naskah harus sesuai dengan ketentuan lomba sepenuhnya. Kelebihan dan kekurangan halaman bisa menjadi sebuah naskah terdiskualifikasi sejak awal, apalagi tidak sesuai dengan tema yang ditentukan dan “pelanggaran” lainnya.

 

Saya: Oh ya, Mbak, Diva sudah dua kali memutuskan tidak ada pemenang dalam lomba yang diadakannya. Mengapa bisa demikian? Apakah pihak Diva sudah mengantisipasi gelombang protes yang mungkin datang?

Mbak Rina: Dalam sebuah lomba idealnya adalah ada juara dan nominasi. Jika dalam lomba lari, yang pertama mencapai garis finish sudah mutlak menjadi pemenang, di dalam lomba novel perlakuannya tidak demikian. Sebelumnya saya ralat, sudah 3 kali DIVA mengadakan lomba yang tanpa pemenang, yaitu yang berhadiah umrah, ke Sepang, dan ke Lombok. Cukup mengherankan hal ini dan mengundang reaksi publik. Saya pun cukup panjang mendiskusikan hal ini dengan CEO, pikiran kami sejalan, pasti ada pihak yang akan sulit memahami situasi ini dan mengekspresikannya dengan cara masing-masing. Tapi kami tidak punya pilihan lain. Dalam setiap lomba, ada 5 editor (6 dengan saya) yang akan membaca naskah-naskah peserta, melakukan penilaian plus minus, merapatkannya dan mengajukan nominasu. Setiap lomba pasti ada nominasi, untuk juara nanti dulu. Dengan hadiah-hadiah yang tidak murah, rasanya tidak salah ketika kami mengharapkan naskah yang 99% matang dari sisi konten dan editing. Dan tambahan satu lagi, perbandingan dengan naskah juara tahun lalu. Jika kemudian di satu naskah masih banyak poin penjurian yang belum terpenuhi dan harus melewati revisi sampai konten, kami berpikir, mengapa naskah ini disebut juara? Demi etika, kami tidak mungkin “memperlihatkan” naskah itu kepada publik, meski itu adalah cara untuk membuktikan bahwa mencari naskah “juara” sama sekali bukan hal mudah. Kami sudah memikirkan dampak ini sejak awal, sampai yang terburuk. Kami siap. Kami memilih untuk meniadakan juara, dengan konsekuensi seperti itu, ketimbang, naskah tetap diterbitkan tanpa revisi (karena sepatutnya naskah juara adalah yang paling matang) kemudian publik melihat bahwa naskah tersebut jauh dari standar yang dimiliki DIVA, apalagi yang berekspektasi bahwa juara tahun ini jauh-jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Buah simalakama. Tapi lagi-lagi kami harus mengambil keputusan.

 

Saya: Saya pernah beberapa kali membaca tanggapan pembaca yang kecewa dengan novel pemenang lomba yang mungkin membuat pembaca menjadi kurang antusias kembali membaca dan membeli novel-novel pemenang lomba. Apakah Diva mengantisipasi hal itu sehingga menerapkan aturan dan persyaratan ketat untuk memilih pemenang lomba? Adakah kaitannya dengan marketing dan lainnya?

Mbak Rina: Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, begitu ujaran CEO DIVA. Puas atau tidak, relatif, tiap orang berbeda. Sebuah karya bebas untuk dihakimi begitu sudah sampai ke publik. Ada yang senang, ada yang kecewa, itu di luar kuasa kami. Tinggi atau tidaknya standardisasi yang kami buat dalam sebuah lomba, tidak akan berpengaruh banyak dalam mengubah opini publik. Pembaca A yang terbiasa dengan buku-buku “berat” akan menilai buku-buku “ringan” sebagai karya tidak bermutu. Itu sangat mungkin. Pembaca B yang senang dengan buku-buku populer, tidak dengan mudahnya menyukai karya-karya sastra dengan kritik sosial yang tajam. Sekarang berbicara soal marketing. Bisa dibilang, lomba-lomba novel yang diadakan DIVA tidak melulu tujuan utamanya mendapatkan omzet sebesar-besarnya. Adakalanya merupakan proyek idealis CEO yang benar-benar bertujuan mendapatkan naskah berkualitas tinggi dan penulis berbakat. Temanya bukan yang populer di pasaran. Kontribusi terhadap omzet bukan nomor 1 di sini. Kami butuh kaderisasi penulis, butuh bibit-bibit baru dengan ide-ide cerita yang gila. Maka dari itu dilakukanlah “audisi” semacam ini.

 

Saya: Ada aspirasi dari para peserta lomba yang mengharapkan Diva mencantumkan pernyataan bahwa “Kemungkinan tidak ada pemenang apabila tidak ada naskah yang memenuhi seluruh persyaratan penjurian”. Apakah pihak Diva menerima aspirasi itu dengan lapang dan akan mencantumkan pernyataan itu di lomba berikutnya? Atau tidak? Alasannya?

Mbak Rina: Bisa jadi hal itu kami pertimbangkan, meskipun kami tidak mengharapkan di lomba-lomba selanjutnya kembali kami mengeluarkan surat keputusan yang berisi bahwa kami tidak memilih juara sehingga hadiah jalan-jalan ke Sepang, umrah, dan sebagainya hangus dengan sendirinya. Kami optimis, pasti ada naskah-naskah “yang bersinar” di masa mendatang. Di sisi lain, pencantuman bahwa “kemungkinan tidak ada naskah pemenang” dalam ketentuan lomba akan memunculkan kesan, bisa saja penerbit mencari-cari alasan untuk tidak memunculkan pemenang dan peserta lomba sudah pesimis sejak awal atau beranggapan lomba ini tidak serius dan hadiahnya tidak benar-benar disediakan tapi hanya untuk sensasi belaka.

 

Saya: Baik, bisa dipahami.

Mbak, untuk seluruh naskah yang masuk, apakah Diva menjamin pengembalian haknya pada penulis dan pihak Diva tidak akan menyalahgunakan naskah itu? Penyalahgunaan di sini maksudnya idenya diambil, atau naskah diterbitkan tanpa sepengetahuan penulis.

Mbak Rina: Semua naskah yang tidak diterbitkan, kami serahkan kembali ke penulis untuk ditawarkan ke penerbit lain, tidak ada masalah. naskah yang kami terbitkan hanyalah yang sudah ada surat perjanjian terbit (MoU) kedua belah pihak dengan ikatan hukum yang kuat (bermaterai) itu pun untuk jangka waktu tertentu. Sama sekali tidak ada keuntungan yang kami dapatkan dengan menerbitkan naskah tanpa sepengetahuan penulisnya, malah itu akan sangat merugikan kami dalam hal branding. Tidak perlu khawatir naskah-atau bahkan ide-itu akan kami ambil dengan semena-mena. Tentu tidak, kami memastikan itu.

 

Mbak Rina1

Mbak Nisrina Lubis saat menjadi pembicara di Kampus Fiksi (Dokumentasi Mbak Rina)

 

 

Saya: Diva beberapa waktu ini hanya menerima naskah fiksi dari Kampus Fiksi saja, kenapa?

Mbak Rina: #KampusFiksi merupakan sebuah proyek idealis CEO untuk para penulis pemula. Sudah setahun lebih berjalan dan sudah 200 lebih alumni hingga angkatan 10. Tagline #KampusFiksi adalah membimbingmu jadi novelis, ada fasilitas bimbingan khusus yang kami sediakan untuk para alumni. Tagline ini hanya akan jadi omong besar belaka jika tidak ada pembuktian. Ada slot khusus untuk karya mereka-mereka ini diterbitkan. Jika pintu penerimaan naskah fiksi kami tutup setahun lebih, para alumni punya privilege, boleh tetap mengirimkan karya kapan saja. Tentu saja, tidak semua naskah dari alumni otomatis kami terbitkan. Semua naskah harus melalui jalur evaluasi, ada yang diterima ada yang ditolak. Jumlahnya sangat sedikit. Hanya saja, terlihat banyak karena dari 5 novel terbit 3-4 naskah adalah karya alumni #KampusFiksi. Untuk non-alumni, tidak kami buka dulu karena cadangan naskah fiksi kami terlalu banyak dengan masa antrean sampai 3 tahun. Tidak terbayang jika terus kami buka jalur itu maka antrean itu tidak akan ada habisnya, bahkan naskah-naskah nominasi lomba pun juga ada yang mengantre hampir 1 tahun lamanya.

 

Saya: Bagaimana langkah-langkah Diva meningkatkan kualitas buku-buku yang diterbitkan?

Mbak Rina: Buku adalah benda mati, penulis adalah yang paling mungkin kami dekati untuk meningkatkan kualitas produk. Kami memulainya dengan menetapkan standardisasi internal, dari tahap editor. Dimulai dari penyeragaman cara pandang atas sebuah naskah, yang bagus itu aspeknya mencakup apa saja. Batasan sebuah naskah bermasalah itu apa saja. Naskah perlu direvisi itu atas alasan apa saja. Kemudian setelah mendapatkan cara pandang yang sama, maka dilanjutkan dengan aplikasi di lapangan. Melihat kondisi yang ada, melihat tren masa kini, menciptakan apa yang belum ada. Kami punya catatan tersendiri, naskah-naskah siapa saja yang berkualitas dan mana yang tidak. Secara marketing, kami menganalisis buku-buku mana saja yang laris dan mana yang sama sekali potensi pasarnya rendah. Penulis-penulis yang memang sudah punya gaya sendiri tentu tidak akan kami usik atau ubah semaunya. Biarkan dia berada di jalurnya. Untuk penulis-penulis yang masih mencari jati diri, sebisa mungkin kami rangkul untuk bisa berkembang dalam karya-karyanya.

 

Saya: Diva memiliki grup resensor, kan. Saya perhatikan Diva benar-benar membebaskan para resensor untuk memberikan review-nya, tidak ada unsur tekanan untuk memberikan rating dan review bagus. Mengapa? Bukankah adanya review-review ini untuk meningkatkan gaung karya-karya Diva? Kalau hasil resensinya tidak begitu baik, apa tidak khawatir buku-buku Diva justru jadi kurang diminati pembaca?

Mbak Rina: Kami sangat terbantu dengan adanya resensor, karena hasil pekerjaan mereka jauh lebih baik dari ekspektasi kami sebenarnya, jujur saja. Kami tidak mengenal mereka sama sekali dan mempertaruhkan nama baik produk yang kami akan pasarkan. Sempat kami menimbang-nimbang, apakah harus ada pembatasan dalam ulasan yang mereka berikan nantinya karena itu ditulis di blog dan siapa pun bisa membaca, apakah harus isinya memuji-muji belaka dan menyembunyikan kekurangan. Tapi itu sama sekali tidak menantang. Masukan mereka sangat jitu mengubah kami untuk lebih memperhatikan produk tidak hanya isi, tapi sampai ke tata letak dan kemasan. Merekalah yang mencambuk kami untuk lebih peka terhadap cacat logika yang kemudian kami aplikasikan ke seluruh aspek. Kami sangat berterima kasih pada 7 resensor yang begitu baik hati dan menyayangi kami selama ini. Soal nantinya buku itu laku atau tidak, bukanlah semata-mata karena mereka, tapi penilaian publik yang telah membaca sendiri.

 

Terima kasih atas obrolan panjangnya, Mbak Rina ^^

Mbak Rina: Sama-sama ^^

 

Teman-teman, semoga informasi-informasi di atas bisa bermanfaat, dan menambah pengetahuan untuk hal-hal yang belum begitu kita ketahui.

Advertisements

4 thoughts on “Bincang Seputar Lomba Dengan Editor Diva Press Nisrina Lubis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s