Ibuku Yang Kedua

Mama Uwa

Mama Uwa dan Rasi

Sewaktu kecil, saya dan kembaran dipisahkan hingga umur 4 tahun. Seminggu sekali, saya akan dibawa untuk mengunjungi Evi agar tidak sakit. Namanya anak kembar, punya ikatan yang kuat. Kalau terlalu lama tidak dipertemukan, kami akan sakit. Setiap kali kunjungan ke rumah Uwa yang mengurus Evi, saya merasakan iri. Iya, saya tahu ini konyol. Seharusnya saya bersyukur penuh bahwa bukan sayalah yang dititipkan. Tapi mungkin itulah kepolosan dan kejujuran perasaan kanak-kanak. Saya merasa Evi dilimpahi empat cinta sekaligus. Dua dari kedua ibu, dan dua dari kedua ayah. Sementara saya hanya memiliki dua cinta.

Mungkin mulanya karena hal sederhana semacam melihat barang-barang Evi yang diberikan Papa dan Mama Uwa—sebutan untuk orangtua keduanya. Sementara tiap kali mereka pelesiran, mereka hanya membawakan satu oleh-oleh saja. Ya, wajar, tentu saja, karena anak mereka hanya satu. Sementara saat saya datang barulah Mama Uwa sadar bahwa Evi tidak sendirian. Makanya beliau akan mencarikan barang-barang lain, lungsurannya untuk saya. Saya menerimanya dalam diam, dan diam-diam juga menangis dalam hati. Salah satu kenangan yang paling melekat tentang kejadian itu adalah ketika Mama Uwa membelikan oleh-oleh kalung kayu untuk Evi. Kalung cantik itu hanya satu. Maka saya diberinya kalung leher dari batu hitam kecil-kecil. Kalau boleh terus terang, kalung hitam saya lebih cantik, tapi karena sudah tua, talinya melonggar dan tidak lagi pas dileher. Tentu saja itu membuat kecantikannya menurun lima puluh persen. Segala hal yang baru memang sering tampak jauh lebih menarik.

Lalu saya pun tumbuh besar dengan menyimpan perasaan-perasaan itu. Seringkali kurang nyaman tiap kali bertemu beliau. Sampai saya bisa berdamai dengan keadaan dan beliau yang tidak begitu membedakan lagi kasih sayangnya pada Evi dan saya. Kemudian satu hari saya keguguran, Mama Uwa membantu Mama mengurus saya dengan telaten. Begitu pula saat saya melahirkan. Proses kehamilan dan kelahiran yang berat. Setelah itupun Mama Uwa adalah orang yang saya titipi anak saya ketika saya kerja. Saya bisa merasakan kasih sayangnya yang besar pada anak saya. Mengurusnya sepenuh hati, bahkan seringkali terlampau memanjakan.

Mama Uwa adalah orangtua yang kurang tegas pada anak-anaknya, hingga dia yang telah serenta itu masih menjadi tulang punggung keluarganya. Mengurus kebutuhan anak-anak dan cucu-cucunya. Diam-diam saya memperhatikan tiap kali kami—anak-anak Mama—merayakan ulang tahun Mama, saya merasakan kesedihan yang dipendamnya. Mungkin karena beliau tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh anak-anaknya. Sebenarnya saya ikut merasakan sedihnya. Saya merasa beliau menjelma menjadi saya di masa kecil, dan Mama adalah Evinya. Mereka memang bukan anak kembar, tapi sudah seperti kesatuan. Ke manapun Mama pergi, Mama selalu mengajak kakaknya itu. Karena merasakan empati itulah, ketika kami bepergian, kami akan membelikan oleh-oleh untuk keduanya. Saya selalu melihat sorot haru tiap kali itu terjadi. Karena bagi kami, beliau sudah menjelma menjadi mama kedua.

Mungkin ucapan tidak cukup mewakili rasa terima kasih saya untuknya, tetapi dalam doa saya selalu menyebutkan nama beliau. Selamat hari Ibu, Mama Uwa dan Mama. Kedua ibu saya yang saya tahu di mana nama saya tidak pernah putus dan pupus dalam detik ingatan. Semoga kalian selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan.

 

 

10850112_769564393122860_6471991773078292761_nBanner KEB untuk Hari Ibu

Advertisements

8 thoughts on “Ibuku Yang Kedua

  1. Maak cerita tentang anak kembar seru yaa. Wajar lah ada rasa iri apalagi masih anak2, aku dulu juga kadang ri sama sodaraku, kadang ngerasa ortu beda2in padahal sbenarnya ngga gitu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s