5 Nasi Goreng Terlaris di Bandung Karena Rasanya yang Spesial

Pernah ngalamin, nggak? Ketika nafsu makan lagi labil-labilnya, suka bingung mau makan apa. Liat makanan ini nggak nafsu, liat makan itu kurang selera. Buat saya sih ada 2 jenis makanan yang biasanya ampuh meredam kelabilan itu. (((Kelabilan))) XD 2 makanan itu nasi goreng dan bakso. Jadi inget berita yang sempet viral tentang Barack Obama yang bilang kalau makanan kesukaannya bakso dan nasi goreng. Nasi goreng—dari yang bumbunya paling sederhana sampai yang rumit karena masukin banyak rempah-rempah—selalu berhasil bikin saya ngabisin sepiring makanan. Nasi goreng memang makanan segala cuaca dan semua suasana. Iya, nggak? Apalagi di Bandung enggak susah nyari tempat makan nasi goreng, jadinya buat kamu nasi goreng die hard fans, udah pas banget kalau liburan ke Bandung. Di antara sekian banyak, ini 5 nasi goreng terlaris di Bandung karena rasanya yang spesial. Continue reading

Advertisements

[Review] Novel Caramellove Recipe: Warna-warni Teen Cooking Competition

Ketika acara Master Chef Indonesia baru digelar, saya pernah punya impian untuk menulis novel bertema kompetisi memasak. Sayangnya naskah itu tak pernah mengalami kemajuan dari sinopsis saja. Makanya saya penasaran sekali ketika Lia Nurida menulis novel bertema kompetisi memasak. Saya sudah penasaran garis keras pada novel ini sejak  nyicip bab-bab awal di web Gramedia Writing Project dulu dan langsung jatuh cinta. Waktu itu saya mikir, bakalan juara nih… ternyata beneran juara! Novel ‘Caramellove Recipe’ berhasil menyabet  juara harapan 1 di lomba GWP3 tahun 2017 lalu.
Saya jadi penasaran, naskahnya bakal berubah sejauh apa nih setelah mengalami penggodogan proses revisi dan lainnya. Tapi saya yakin bakalan makin yummy.

Seperti biasa, saya ngepoin proses penulisan novel yang diulas di blog ini. Ini dia hasil obrolannya.

Berkenalan dengan Lia Nurida

Lia Nurida, lahir di Jombang – Jawa Timur, 1 Oktober. Lulusan Universitas Brawijaya – Malang yang kini menetap di Ciputat, Tangerang, Selatan.
Pengagum musik McFly dan Greenday. Pecinta kopi dan bubur ayam. Penggemar serial drama korea genre crime and thriller.
Menulis adalah caranya untuk bersenang-senang, membaca adalah caranya untuk berbahagia, travelling adalah caranya untuk menikmati hidup, dan nonton film adalah caranya untuk menghabiskan waktu senggang.
Caramellove Recipe adalah novel ketiganya setelah Pemetik Air Mata (2014) dan Let Me Love, Let Me Fall (2013).
Sosoknya bisa dikenal lebih jauh melalui akun IG @lianurida

Mengenal Lebih Jauh Lia Nurida di Sesi Wawancara

1. Saya: Ceritakan dari mana ide menulis novel ini?

Lia: Saya penggemar berat acara Masterchef US dan nggak pernah ketinggalan satu episode pun di tiap season-nya. Sebenarnya keinginan untuk membuat cerita berdasarkan acara tersebut udah ada sejak lama, tapi belum ada ide yang spesifik. Sampai akhirnya, pas saya lagi nonton episode 11 di season 5, di acara tersebut para peserta diminta untuk membuat makanan Italia bernama Caramelle, yaitu salah satu jenis pasta yang bentuknya menyerupai permen. Nah dari nama pasta itulah muncul ide ini. Kok lucu gitu kayaknya kalo bisa jadi cerita.

2. Saya: Ceritakan kejadian mengesankan saat menulis novel ini.

Lia: Kejadian mengesankan sewaktu menulis novel ini, hmm apa ya. Mungkin karena deadline-nya yang mepet banget setelah pengumuman pertama, kurang lebih 3 mingguan, jadi yaaa agak pontang panting gitu nyelesaiin naskahnya. Karena saya nggak mempersiapkan riset apa pun sebelumnya. Karena dari 400-an peserta benar-benar nggak nyangka bisa masuk ke 90 besar. Jadi selama 3 minggu itu saya mendadak jadi wanita super gitu. Kuat nggak tidur, kuat nggak makan, kuat duduk lama, demi bisa selesaiin naskah ini tepat waktu, di tengah-tengah kesibukan saya lainnya.

3. Saya: Novel ini menang lomba GWP Batch 3 kan ya… Ceritakan dong gimana ‘keseruan hati’ waktu pengumumannya.

Lia: Sempet bengong, waktu MC nyebutin judul novel saya ini sebagai pemenang harapan 1. Nggak ada sama sekali bayangan bakal menang juara berapa pun. Karena sewaktu menyelesaikan naskah dan datang ke expert class waktu itu, tujuan saya cuma ingin ketemu sama teman-teman sesama penulis, ketemu editor-editor GPU dan mentor-mentor yang famous-famous itu. Jadi ya, sewaktu diumumkan saya menjadi salah satu pemenang, sempat bengong beberapa detik karena nggak nyangka.

4. Saya: Ceritakan riset untuk kompetisi dan pengumpulan resep dalam novel ini. Apakah resep-resepnya benar-benar sudah dipraktikkan Lia?

Lia: Risetnya kebanyakan dari youtube. Mulai dari atmosfer kompetisi, resep-resepnya dan cara memasaknya. Kalau resep yang ada di dalam novel ini, sejujurnya belum ada yang pernah saya praktikkan sendiri memasaknya. Kecuali omelette dan telur mata sapi, ada tuh di bab berapa ya, lupa. Hehe. Karena semua yang serba mepet itu. Jadi resep-resepnya murni dari riset. Tapi ada beberapa resep yang udah pernah saya cicipin makanannya, kayak samgyetang, macaron, chocolate trifle, jadi sudah ada bayangan untuk menggambarkan rasanya ketika menuliskannya ke dalam naskah.

5. Saya: Ada koki yang jadi inspirasi buat tokoh-tokoh dalam novel ini? Kalau ada, siapa dan mengapa?

Lia: Untuk karakter-karakter utamanya, Karmel, Sadam, dan Satria, saya ciptakan nggak berdasarkan chef mana pun. Benar-benar murni saya ciptakan sebagai tiga remaja berbakat di bidang masak dengan sifat yang kayak remaja pada umumnya. Tapi untuk tokoh Chef Martin, ini sebenarnya saya terinspirasi dari penggabungan tiga chef pembawa acara Masterchef US. Terciptalah sosok Chef Martin yang ganteng dan berkharisma seperti Gordon Ramsey, tegasnya seperti Joe Bastianich, tapi juga ramah dan lucu seperti Graham Elliot.

DATA BUKU

Judul: Caramellove Recipe
Penulis: Lia Nurida
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 Halaman
Terbit: Februari 2018

Blurb:

Gawat!

Satria kena tifus. Cowok itu pingsan tepat di akhir babak penyisihan awal Teen Cooking Competition. Padahal tiga hari lagi, Karmel dan Satria harus mengikuti babak dua puluh besar. Mau tidak mau sesorang harus menggantikan posisi Satria. Miss Anne mengusulkan satu nama.
Sadam. Cowok tajir belagu anak pemilik restoran Luigi’s itu yang dipilih Miss Anne. Cowok yang mati-matian Karmel hindari sejak tragedi daun bawang pada awal masuk SMA Putra Bangsa. Cowok menyebalkan yang sialnya adalah seseorang yang Karmel taksir sejak SMP!

Meski berat, Karmel tak punya pilihan lain. Ia harus tetap berjuang di Teen Cooking Competition bersama Sadam yang arogan. Di sisi lain Karmel juga harus memikirkan persahabatannya dengan Satria yang mulai merenggang. Nggak mungkin kan Satria cemburu karena Karmel dan Sadam yang mulai dekat?

ULASAN BUKU

Mari kita mulai dari bahas cover dulu. Kover bikinan ‘sukutangan’ buat novel para pemenang GWP3 termasuk Carramellove Recipe ini punya karakter dan ciri khas kuat. Konsepnya unik, seger, dan berasa beda. Sekali liat, langsung tahu kalau itu novel pemenang GWP tahun 2017. Kover novel memiliki dominan warna hijau. Hiasan elemen masakannya juga pas, enggak keramean dan enggak terlalu sedikit. Menarik 😆

Konsep pembagian babnya juga unik karena memakai istilah dunia kuliner. Prolog disebut ‘Appetizer‘ lalu bab isi disebut ‘Main Course‘. Layout-nya manis deh. Suka!
Setiap bab dibuka dengan quote tentang kehidupan yang memakai analogi makanan.
Sehingga konsepnya secara keseluruhan terasa solid.

Prolog novel ini cukup nendang. Pilihan Lia untuk membuka cerita dengan kejadian di kompetisi membuat pembaca langsung terikat dan penasaran untuk membuka lembar berikutnya. Cara Lia bercerita terasa ringan dan berhasil membawakan suasana. Ketika membaca prolog, saya merasakan atmosfer kompetisi yang menegangkan.

Novel ini diceritakan lewat POV 3 ‘diaan’, sehingga pembaca dapat mengikuti perasaan tokohnya tetapi juga dapat menangkap keadaan secara keseluruhan. Novel ini memakai bahasa yang ringan, mengalir, dan renyah. Cocok buat pembaca remaja. Apalagi pembagian babnya pendek dan pas. Ketebalan novelnya juga sedang, sehingga tahu-tahu udah selesai aja bacanya.

Kemudian tentang tokoh-tokohnya. 3 tokoh utamanya Karmel, Satria dan Sadam punya karakteristik yang menonjol. Saya suka bagaimana penulis menjelaskan ciri fisik pelan-pelan. Berbagai detail tentang tokoh-tokohnya disebar di beberapa bab.
Sifat-sifat tokoh-tokohnya dapat ditangkap melaui gaya berdialog mereka, dan bagaimana mereka menyikapi konflik. Ketiganya punya karakter khas anak SMA dan tipe-tipenya mudah ditemui di sekitar kita, sehingga gampang related dengan pembaca remaja maupun dewasa.
Sejauh ini saya menyukai Karmel dan Satria. Ngeship mereka, hohoho….
Tokoh-tokoh tambahannya sendiri cukup menyenangkan. Kehadiran tokoh yang cukup banyak terasa bukan sekadar tempelan, tapi memang menggulirkan cerita. Termasuk para kontestan lain. Lia berhasil memilah tokoh mana yang mesti ditonjolkan melihat dari kisah yang melibatkan banyak orang alias kolosal. Namanya juga cerita tentang kompetisi yang cukup panjang.

Penulis juga berhasil menjelaskan berbagai makanan dengan kadar detail yang pas. Sehingga membuat pembaca dapat membayangkan bentuk dan rasa makanannya. Sungguh ini cobaan buat saya dan mungkin pembaca lainnya. Bikin lapeeeer! Penulis memberi pengetahuan mengenai makanan dan beberapa istilah mengenai dunia kuliner. Dengan cara penyampaiannya yang tepat, pembaca tahu-tahu saja menambah stok pengetahuan. Tidak banyak, tapi cukup.
Ada sedikit resep dan cara memasaknya. Bisa dipraktikkan sepertinya. Saya sampai bertanya-tanya, jangan-jangan penulisnya beneran jago masak. Oh iya, jangan membayangkan resepnya dikemukakan seperti dalam buku resep ya. Karena resep disisipkan dalam cerita secara natural. Jadi kalau berminat mempraktikkan, mesti ditulis ulang sendiri dalam bentuk resep praktis.

Novel ini menyajikan beberapa konflik. Kompetisi masak, cinta, persahabatan,  dan keluarga. Semuanya teramu dengan baik, tentunya dengan menonjolkan 1-2 konflik utama. Konfliknya disampaikan ringan saja, enggak bakal bikin pembaca mengerutkan kening. Saya kira, itu merupakan salah satu kekuatannya. Novel ini memberi efek segar dan camilan enak bagi pembacanya, seperti sedang makan roti bakar dan es krim. Saya paling suka tiap kali masuk ke bagian kompetisi. Menyenangkan sekali mengikuti sepak terjang Karmel dan Sadam dalam lomba. Menyimak juri Chef Martin menilai dan ikut deg-degan dengan hasilnya. Saya sudah dapat menduga hasilnya, tapi kekuatannya bukan pada hasil, tapi proses kompetisinya.

Caramellove Recipe menyuguhkan open ending. Bisa dibilang cerita sudah selesai sempurna, tapi sangat terbuka untuk sekuel. Bahkan bisa banget dibikin trilogi. Saya yakin masih banyak konflik yang bisa dikemukakan dan diangkat di sekuelnya.
Karena belum ada konflik persaingan sengit antar peserta kompetisi

Secara keseluruhan, novel ini seperti makanan ringan yang enak. Cocok dibaca untuk menaikan mood karena ceria.
4 dari 5 potong kue, eh, bintang untuk Caramellove Recipe.

[Review] Novel Dharitri: Fantasi yang Kental Lokalitas

 

Beberapa tahun ini saya menyadari kecenderungan genre favorit saya ternyata genre fantasi. Saya suka berselancar di Goodreads membaca-baca ulasannya kemudian memasukan buku-buku tersebut ke dalam wish list. Salah satunya novel Dharitri. Ternyata semesta benar-benar menjodohkan saya dengan novel ini. Yeaaay! Satu hari, saya berkesempatan menjadi salah satu host book tour novelnya.

Saat pertama kali mem-posting foto buku Dharitri, seorang teman menulis komentar bahwa novel ini berasal dari Wattpad. Terus terang saya baru tahu. Saya jadi penasaran bagaimana proses penulisan novelnya, maka saya mewawancari penulisnya: Nellaneva. Yuk, ikuti obrolan kami ^^

Berkenalan dengan Nellaneva

Nellaneva adalah peracau yang terlalu sering berkhayal dan menulis untuk melegakan diri. Dalam kesehariannya, dia mendalami bidang Mikrobiologi dan sedang melanjutkan pendidikan di Osaka, Jepang. Pada waktu senggangnya, dia bergegas mengabadikan imajinasi dalam kata-kata sebelum waktunya di Bumi habis. Nellaneva mulai aktif di dunia kepenulisan sejak tahun 2015. Novelnya yang sudah diterbitkan adalah Dharitri dengan genre fantasi (Histeria, 2017). Karya-karyanya yang berupa puisi, cerpen, dan novel diarsipkan pada situs kepenulisan Wattpad atas nama Nellaneva.

Selain Wattpad, Nellaneva juga dapat dihubungi melalui:
Line: @oja6804t
Instagram dan Twitter: nellaneva94
Email: nellaneva94@gmail.com

Mengenal Lebih Jauh Nellaneva di Sesi Wawancara

Ehm… ehm… ini sesi wawancaranya cukup panjang karena saking penasarannya, saya banyak nanya XD

1. Dapat dari manakah ide menulis kisah Dharitri?

Nella: Seperti cerita-cerita saya yang lain, ide Dharitri datang secara mendadak ketika saya sedang melamun di kamar sebelum tidur. Saat itu, saya membayangkan konsep dunia baru di masa depan. Berdasarkan novel-novel fantasi atau fiksi ilmiah yang sudah beredar selama ini, latar distopia nan futuristik—dengan iringan teknologi canggih—hampir selalu digunakan sebagai latarnya. Saya pun terpikir untuk menciptakan sesuatu yang berbeda: latar utopia berbau tradisional, meskipun jenis dunia demikian pada akhirnya tidak benar-benar saya terapkan dalam Dharitri. Selain itu, minat saya terhadap bahasa Sanskerta mendorong saya untuk menerapkan latar dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Nusantara. Untuk ide Hibrida sendiri, itu murni dikarenakan kecintaan saya terhadap hewan-hewan eksotis terutama naga.

2. Ceritakan proses penulisan Dharitri yang berkesan. Mulai dari riset sampai draf terakhir.

Nella: Sebenarnya ide tentang Dharitri sudah lahir sejak akhir tahun 2014, tetapi proses penulisannya baru bisa terlaksana pada pertengahan tahun 2016. Namun, karena beragam kesibukan dan kemampuan saya saat itu belum cukup untuk menyusun novel, saya pendam dulu ide tersebut. Tidak benar-benar saya tinggalkan, tetapi hanya menuliskannya sebagai premis terbengkalai di dalam laptop seperti ide-ide cerita saya yang lain. Mulai tahun 2015, menjelang lulus kuliah, akhirnya saya tergoda merampungkan novel di sela-sela mengerjakan skripsi. Setelah novel pertama saya, Tujuh Kelana, rampung pada awal tahun 2016, saya pun terdorong untuk ‘menggodok’ ide Dharitri sebagai novel berikutnya. Proses penulisan Dharitri terhitung sangat singkat, hanya satu setengah bulan saja (awal Juni- pertengahan Juli 2016). Saat itu, saya baru lulus kuliah dan masih mencari-cari pekerjaan. Sambil menanti panggilan tes seleksi dan wawancara kerja, saya manfaatkan waktu luang dengan menulis novel.

Selebihnya, dari premis pertama yang berupa paragraf-paragraf sederhana, saya kembangkan outline bersamaan dengan penulisan Dharitri itu sendiri. Worldbuilding, konflik, dan tokoh-tokohnya bermunculan seiring saya menambahkan bab-bab baru. Alhasil, beberapa poin premis pun melenceng dari ide awal tetapi untungnya terarah jadi lebih baik. Sebagai penulis pemula, saya jadikan ini sebagai pembelajaran agar mempersiapkan plot cerita dengan lebih matang sebelum memulai eksekusi. Selama riset, saya tidak menemukan kendala berarti, tetapi ini pun menjadi evaluasi bagi saya supaya lebih banyak mencantumkan detail-detail ilmiah dalam deskripsi cerita.

Sejak awal tahun 2016, saya juga aktif menulis di situs kepenulisan Wattpad. Draf pertama Dharitri saya publikasikan di sana dan mendapat banyak masukan dari para beta readers. Mulai dari awal Juni hingga pertengahan Juli 2016, saya senang sekali tiap kali mempublikasikan bab terbaru Dharitri di Wattpad. Antusiasme pembaca—yang tertampilkan dalam komentar-komentar—menjadi motivasi terbesar saya untuk menulis Dharitri sampai tamat dalam waktu singkat. Yang paling mengejutkan adalah sewaktu Dharitri memenangkan penghargaan Wattys Award 2016 kategori Pilihan Staf. Saya tidak menyangka sesuatu yang saya mulai sebagai iseng-iseng bisa membuahkan hasil seperti ini.

3. Mengapa menulis genre fantasi?

Nella: Sejak kecil, saya cinta mati dengan genre fantasi. Koleksi novel yang saya miliki didominasi oleh genre tersebut. Dengan membaca kisah fantasi, saya merasa bisa melarikan diri dari kejenuhan realita dan pada dasarnya saya memang seorang pengkhayal. Setelah dibuat tergugah oleh banyak cerita fantasi, saya pun terdorong untuk menciptakan cerita karangan saya sendiri. Meskipun baru serius menulis sejak tahun 2015, sesekali saya menulis secara iseng sejak duduk di bangku sekolah. Selama itu pula, genre yang paling sering saya tulis adalah fantasi. Dengan menulis fantasi, saya bisa menumpahkan imajinasi saya menjadi kata-kata dan menyebarkannya ke sesama peminat fantasi lain. Menurut saya itu adalah salah satu sensasi terbaik sebab fantasi adalah pelarian saya dari dunia nyata :’)

4. Kesulitan atau tantangan apa yang dialami ketika menulis Dharitri?

Nella: Tantangan terbesar bagi saya adalah mengundang pembaca. Karena peminat fantasi tidak sebanyak romance/metropop/teen fiction, saya harus menyuguhkan sesuatu yang menarik sekaligus nyaman dibaca. Persaingan juga amat terasa sebab kini cukup banyak penulis fantasi yang bermunculan dalam platform digital seperti Wattpad, Storial, dan lain sebagainya. Saya sadari terkadang gaya bahasa saya masih terlalu baku dan kaku, sehingga saya siasati dengan sedikit bermain diksi dalam penulisan Dharitri. Taktik lain yang saya gunakan adalah penempatan twist yang sedemikian rupa supaya bisa memberikan kejutan bagi pembaca. Namun, secara keseluruhan, saya sikapi proses penulisan cerita dengan santai sebab tujuan saya menulis adalah sebagai relaksasi dan melegakan diri.

5. Nella punya harapan apa pada novel Dharitri?

Nella: Saya tidak berani terlalu berekspektasi, hehe, tetapi saya harap Dharitri bisa menjadi salah satu novel fantasi karya penulis lokal yang patut diperhitungkan. Saya juga berharap Dharitri bisa menginspirasi para penulis Indonesia lain bahwa cerita fantasi tidak harus berlatar luar negeri melulu. Kita juga punya bahan kebudayaan lokal yang berpotensi dikemas menjadi cerita keren, loh!

6. Respon paling unik atau berkesan apa yang didapat dari pembaca Dharitri?

Nella: Bagi saya, semua respons yang masuk dari para pembaca Dharitri sangatlah berkesan dan berguna bagi perkembangan saya ke depannya. Setiap kali saya bolak-balik baca ulasan Dharitri di Goodreads dan Instagram, baik itu berupa kritik pedas sekalipun, semangat saya selalu terpompa kembali. Bahkan saya sampai gatal ingin merevisi Dharitri lagi kalau bisa, hahaha. Respons yang paling unik barangkali adalah kesukaan pembaca terhadap Lal, salah satu Hibrida di Dharitri. Seperti mereka, saya selalu membayangkan punya naga sendiri dan senang mengetahui keinginan mereka serupa dengan saya. Akhir kata, berkat semua respons tersebut, pengalaman menulis Dharitri ini tentu saja menjadi salah satu kenangan paling berharga bagi hidup saya.

DATA BUKU

Judul: Dharitri

Penulis: Nellaneva

Penerbit: Anak Hebat Buku

Cetakan: 1, 2017

ISBN: 9786025469220

Blurb:

Pada tahun 2279, seratus lima puluh tahun setelah Perang Dunia III meletus, sisa umat manusia dikumpulkan dalam naungan Dunia Baru berbasis Persatuan Unit. Dunia baru tersebut diyakini sebagai dunia yang lebih baik bagi umat manusia di Bumi. Pernyataan itu rupanya tidak berlaku bagi Ranala Kalindra.

Ranala yang berusaha kabur dari Persatuan Unit mengalami kecelakaan hingga terdampar di sebuah negeri asing bernama Dharitri dan bertemu dengan makhluk hibrida yang diberi nama Lal. Ranala merasa menemukan rumah baru, yang membuatnya harus menyembunyikan identitas sebagai penduduk Persatuan Unit. Ranala mengubah namanya menjadi Aran, lalu bergabung dengan Adhyasta Hibrida, pasukan elit Bala Karta yang menangani makhluk Hibrida.

Namun, ada seseorang yang mengetahui identitas asli Aran. Seseorang yang selalu mengawasi Aran dan menunggu saat yang tepat untuk menyingkirkannya.

ULASAN BUKU

Terus terang saya tertarik baca Dharitri karena membaca ulasannya di Goodreads.
Novel fantasi lokal yang menyentuh hati pembaca. Kedua, blurb novelnya yang memikat. Ternyata ini fantasi dystopia. Perpaduan ini sangat cukup membuat saya yakin ‘harus’ baca.
Ketiga, cover-nya menariiiik 😍😍😍
Mengingatkan saya pada cover novel fantasi luar negeri.
Kemudian saya melahap prolognya. Dharitri memiliki tipe prolog yang memicu penasaran sehingga membuat pembaca  betah melaju ke bab selanjutnya.

Ini novel distopia. Menceritakan masa depan di ratusan tahun mendatang.
Saya selalu terpukau oleh imajinasi penulis yang bisa membayangkan seperti apa dunia di masa yang jauh. Apalagi lengkap dengan tatanan pemerintah dan sosialnya.
Pasti butuh kerja keras sekali untuk menuliskannya.

Novel ini memakai gaya bahasa baku.
Di bab-bab awal saya merasa seperti tata bahasa buku terjemahan, tapi kemudian berubah ketika Ranala datang ke Dharitri.Menurut saya pas mengikuti cerita, gayanya menyesuaikan dengan di mana latar tempat cerita.
Jalinan kalimatnya enak diikuti dan memiliki kosakata yang kaya. Namun saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang pas. Novel Dharitri menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga leluasa menggambarkan banyak hal tanpa dibatasi ketidaktahuan tokoh bila menggunakan POV 1. Penulis pintar mendeskripsikan detail tokoh dan tempat hingga pembaca bisa membayangkannya dengan jelas di kepala.

Seperti narasi berikut:


Lima tanduk yang mencuat di sekeliling kepala makhluk itu mengindikasikan bahwa dia jelas bukan reptil biasa. Tinggi tubuhnya mencapai gajah dewasa, panjangnya kira-kira empat setengah meter belum termasuk ekor panjang berduri yang menjulur di belakang tubuhnya.

Memang sebagai novel fantasi dengan 2 latar tempat besar berbeda, penjabaran world building-nya harus detail. Penulis berhasil melakukan itu.
Bagi pencinta narasi seperti saya, membaca buku ini seperti sedang dimanjakan. Pembaca disuguhi berlembar-lembar narasi yang kerap kali bahkan tak menyelipkan dialog sama sekali. Saya juga mengapresiasi editornya, karena editan novel ini rapi, sedikit sekali typo 😎

Hal paling menarik dari novel Dharitri adalah fantasi yang mengandung kelokalan yang kental.
Pertama, judulnya saja diambil dari Sansekerta.
Dharitri ini seperti jelmaan Indonesia sekarang. Sistem pemerintahan daerah yang awalnya monarki menjadi republik.
Kedua, nama-nama tokoh, dan lainnya pun kental lokalitasnya.
Seperti pemilihan nama Sambas, Kapuas, Cakra, dan Adhyasta.
Ketiga, lokasi Dharitri sendiri memang di Indonesia.
Menarik sekali ketika penulis membagi bahasa yang digunakan di dunia baru menjadi 3 bahasa. Salah satunya Indonesia.
Nellaneva tampaknya piawai mengulik geografi 😆

Karakter tokoh-tokoh novel Dharitri ini banyak yang unik. Terutama para hibrida alias  binatang artifisial yang merupakan hasil buatan teknologi mutakhir pada masa Perang Dunia III. Imajinasi penulisnya keren! Bisa menciptakan modifikasi-modifikasi berbagai binatang. Pembaca diajak membayangkan binatang hasil persilangan beserta kemampuannya lewat deskripsi detail.

Misalnya penjelasan tentang karakteristik salah satu hibrida bernama Ishara:

Rubah kambing. Habitat: lembah bukit dan pegunungan. Jenis karnivora. Leluhur pertama: modifikasi in vitro, persilangan rubah:kambing dengan rasio berkisar 8:3. Kekuatan: serangan fisik dan penciuman tajam. (Halaman 112).

Lalu tokoh-tokoh Dharitri ini kuat dan kebanyakan di antaranya memiliki kekhasan. Jadi meskipun tokohnya banyak, pembaca tidak akan tertukar-tukar.
Sedihnya, saya kurang menyukai tokoh utamanya Ranala alias Aran 😭
Sedang tokoh lainnya buat saya cukup lovable.
Saya paling suka tokoh Cakra dan Dylan. 😍 Dylan ini kutu buku.

Konflik sudah disuguhkan dari awal, sejak prolog. Pembaca dibuat penasaran dengan keputusan atau pikiran si tokoh utama.
Bab-bab setelahnya misteri dan konflik ditebar beriringan pelan-pelan. Saya tidak merasakan adanya letupan-letupan yang langsung besar. Tapi konflik disampaikan dengan grafik yang kian meningkat. Menuju akhir banyak kejutan diberikan penulis.
Kisah cinta di dalamnya memberi bumbu manis yang menyenangkan 😍
Adegan laganya bagus. Deskripsi pertarungannya jelas dan cukup menegangkan.  Percayalah, menulis adegan pertempuran bukan perkara gampang. Butuh deskripsi yang tepat agar adegan itu tersampaikan dan menimbulkan efek ketegangan. Kalau ada kekurangan, bagi saya hanya pengembangan konfliknya yang terasa agak lambat sampai setengahnya. Padahal konflik sudah disuguhkan dari prolog.
Untungnya grafik konfliknya makin naik, dan pada akhirnya pembaca disuguhkan kejutan-kejutan menarik 😍

Rating 3,5 dari 5 bintang. Saya rekomendasikan novel ini bagi pencinta novel fantasi.

Sebagai penutup, saya ingin membagi quotes favorit saya:

Jadilah sepertiku, menyukai buku-buku. Mereka tidak akan menyakiti.

 

3 Tempat Nongkrong di Lembang Bandung yang Bernuansa Alam dan Instagramable

3 Tempat Nongkrong di Lembang Bandung yang Bernuansa Alam dan Instagramable—Saat diserbu deadline, dalam kepala yang terpikir adalah kepengin jalan-jalan ke tempat yang asri, sejuk, alami, dan tempatnya cakep untuk latar foto. Bukan buat lari dari deadline loh ya XD Sekali dateng ke satu tempat, dapet beberapa keuntungan sekaligus—ya ampun, kedengeran itungan banget ya. Penat karena deadline hilang, seru-seruan, dapet bahan buat postingan pula, eh! Maklumlah ya, sebagai pekerja media sosial, mubazir banget rasanya kalau dapet bahan seksi buat postingan tapi disia-siakan. Istilah kerennya sharing is caring.

Tampang jutek pas lagi dikejar deadline

Selain mencari inspirasi dan menenangkan pikiran, saya juga suka berburu tempat nongkrong untuk suatu hari kalau ada temen dari luar kota ke Bandung, saya sudah punya list tempat untuk mereka kunjungi. Biasanya sih mereka juga sudah ngincer tempat-tempat yang lagi hits di Instagram. Dan memang tempat nongkrong pilihan memenuhi persyaratan instagramable. 3 tempat nongkrong teratas dalam list saya ada di daerah Lembang – Bandung. Tempat-tempat wisata bernuansa alam ini cocok buat:

Nongkrong bareng keluarga, cek!

Nongkrong bareng para sahabat, cek!

Nongkrong sama laptop dan smartphone, cek!

Nongkrong bareng pasangan buat kencan romantis, cek!

Jadi, mau sama siapa pun dateng ke sana, tetep bakalan seru dong. Pastinya juga, tempat-tempat itu ada di aplikasi pencarian tempat: CariAja. Dengan begitu, saya terhindar dari beberapa hal yang tidak diinginkan, kayak nyasar dan enggak tahu kapan tempatnya buka dan tutup. Nyasar itu seriusan deh bener-bener buang waktu dan mengirimkan mood ke belahan bumi paling dasar. Kebayang kan ya, berkat nyasar yang tadinya mau senang-senang seharian, tinggallah mengais-ngais waktu yang tersisa. Tragis sodara-sodara! Tentunya tujuan buat refreshing dari tekanan deadline malah jadi berasa ditabok kiri-kanan sama sang deadline.

Aplikasi pencarian tempat CariAja

3 Tempat Nongkrong di Lembang Bandung yang Bernuansa Alam dan Instagramable

Lembang memang terkenal dengan tempatnya yang masih alami. Saat sampai ke sana, kita langsung disambut oleh hawa pegunungan yang sejuk dan pemandangan alam yang bikin mata betah memandang.

Ini dia 3 tempat wisatanya….

  1. Farmhouse Lembang

Tempat ini terkenal banget dengan Rumah Hobbit-nya. Memang, tempat nongkrong satu ini memiliki nuansa peternakan gaya Eropa. Bangunannya cakep banget. Sejak dari tempat parkir saja, kita udah bisa foto-fotoan karena tatanannya udah bagus. Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp20.000 per orang, mana tiketnya bisa dituker sama susu murni pula.

Waktu Farmhouse Lembang tahun 2016 lalu, kangen ke sana lagi

Farmhouse Lembang cukup luas dengan pembagian beberapa area. Ada rumah bergaya Eropa, taman bunga, air terjun mini, Rumah Hobbit, Kota Koboy, gift shop, kafe dan restoran, sampai gembok cinta. Lengkap dan semua tempat itu asli instagramable!

Gembok Cinta

Buat pasangan, jangan ngelewatin gembok cinta. Romantis gimana… gitu. Kamu dan pasangan bisa beli gembok dengan pilihan warna di gift shop, harganya sekitar 25-30 ribuan. Tulis deh namamu dan pasangan, terus pasang gemboknya di area yang dikelilingi pagar khusus buat menyimpan gembok-gembok. Kuncinya dibuang ke sumur berisi ribuan kunci. Katanya sih, cinta pasangan tersebut bakalan abadi. Iya sih itu cuman semacam mitos aja, tapi seru juga ngeliat gembok bertuliskan nama kita dan dia terpasang di sana.

Saya pernah bayangin, gimana kalau justru tempat itu yang mempertemukan jodoh ya…. Nyari jodoh memang susah, enggak kayak nyari tempat, soalnya tinggal pakai aplikasi pencarian tempat CariAja, hehe…

Peternakan

Namanya juga farmhouse ya pastinya punya keunggulan di peternakannya. Area peternakan ini paling menyenangkan dinikmati bareng keluarga. Anak-anak bakalan seneng banget ngasih makan kelinci, domba, dan binatang lainnya yang bersih, lucu, dan gemesin.

Kelincinya gemesin banget!

Spot Foto Unik

Spot foto paling unik di Farmhouse Lembang adalah Kota Koboy dan Rumah Hobbit. Kota Koboy ini memang didesain biar kita berasa berada di film-film koboy dan Indian 😀 Ada penjara-penjaraan sampai rumah klasik gaya Indian. Pengunjung bisa menyewa baju ala koboy dan noni-noni biar sempurna rasa koboynya.

Rumah Hobbit di Farmhouse berasa ada nuansa ajaibnya

Rumah Hobbit ini bikin saya berasa terlempar ke dunia buku The Lord of the Ring karya J.R.R. Tolkin. Ada beberapa Rumah Hobbit buat spot foto, yang kecil-kecil sampai rumah paling utama. Saat lagi weekend dan musim liburan, antrean buat foto di sana panjaaaang. Siapin aja camilan buat nunggunya.

Farmhouse Lembang buka tiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Letaknya enggak jauh dari dari Terminal Ledeng, tepatnya di Jalan Raya Lembang No. 108. Buat guide ke sana, kamu bisa pake aplikasi pencarian tempat CariAja.

2. De’Ranch Lembang

De’Ranch Lembang tempat nongkrong yang punya suasana peternakan yang kental. Tiketnya sama kayak Farmhouse Lembang Rp20.000 per orang dan juga bisa dituker susu murni dalam kemasan cup. Memang katanya masih satu manajemen sih.

Pengunjung bisa menunggang kuda sambil memakai baju koboy mengelilingi area khusus berkuda. Cocok buat bawa liburan keluarga. Selain itu, ada taman dengan bunga-bunga cantik buat bikin foto romantis. Area ini juga pas buat nongkrong menikmati suasana alami sambil ngobrol-ngobrol.

Foto dulu depan papan De’Ranch Lembang Bandung

Ada juga area taman bermain luas dengan berbagai permainan untuk anak-anak dan dewasa. Jadinya enggak cuman anak-anak yang bisa ngerasain serunya permainan. Waktu bawa Rasi—anak saya—ke sana, dia girang banget main balon udara yang mengambang di atas air. Buat bonding, bisa juga naik sepeda pasangan 😀 Nah, saat udah ngerasa lapar karena kecapean bertualang, kita bisa milih berbagai macam makanan di area kulinernya.

Serunya main balon air

De’Ranch ini buka dari Selasa sampai Minggu, jadi jangan nekad ke sana pas hari Senin, karena… enggak akan bisa masuk. Kayak pengalaman saya dulu XD Bukanya dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, kecuali weekend buka lebih cepet dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore.  De’Ranch Lembang beralamat di Jalan Maribaya No. 17 Lembang. Kalau berniat ke sana tanpa takut kesasar, bisa pakai aplikasi pencarian tempat CariAja ya.

3. Dusun Bambu Leisure Park

Di antara 3 tempat nongkrong bernuansa alami dan instagramable pilihan saya, Dusun Bambu Leisure Park ini yang paling luas dan paling banyak sub pilihan tempatnya. Mulai dari taman bunga, gift shop, sampai taman bermain. Saking luasnya, disediain mobil khusus yang membawa pengunjung ke berbagai tempat di Dusun Bambu ini. Salah satu ciri khas tempat ini adalah bambu-bambu yang dijadikan hiasan di berbagai sisi.

Foto waktu pertama kali ke dusun bambu tahun 2016

Taman Bunga

Tamannya luaaaas dan cantik bangeeeet! Tapi tenaaang… meskipun luas, kita enggak akan kesasar kalau pakai aplikasi pencarian tempat CariAja. Bakalan puas deh menjelajahnya sambil foto-foto. Pemandangannya asli asri dan indah. Bunga-bunga warna-warni, bahkan kita bisa melihat sungai-sungai yang airnya mengalir jernih.

Di antara bunga-bunga yang cantik

Taman Bermain

Ada 2 taman bermain di Dusun Bambu, untuk anak-anak dan dewasa. Pilihan wahananya banyak dan menarik. Mulai dari Di bagian permainan buat dewasa ada permainan yang memacu adrenalin juga. Kalau saya sendiri, paling suka terapi ikan 😀

Taman bermain yang bikin anak-anak betah

Lutung Kasarung

Salah satu yang paling unik dan terkenal di Dusun Bambu ini adalah restoran yang disebut Lutung Kasarung. Pengunjung bisa menikmati makanan di tempat tinggi semacam konsep makan di atas pohon dengan bentuk tempat seperti kandang burung. Kalau mau nikmatin sensasi makan yang beda, bisa coba makan di sini.

Tempat makan berbentuk sarang burung

Dusun Bambu Leisure Park buka tiap hari dengan jam operasional 8 pagi sampai 9 malam. Tapi buat area bermainnya sendiri sih jam 5 sore udah tutup. Silakan datang ke alamat Kolonel Masturi KM 11 Cisarua buat seru-seruan bareng keluarga. Belum pernah ke sana? Tenaaang… ada aplikasi pencarian tempat CariAja kok ^^

Itu dia 3 tempat nongkrong di Lembang Bandung yang bernuansa alam dan instagramable rekomendasi saya.

Bertualang ke Museum di Bandung Tanpa Takut Tersasar

Bertualang ke Museum di Bandung Tanpa Takut Tersasar—Ketika merancang suatu perjalanan, saya biasanya menetapkan empat tujuan (banyak ya). Kepenginnya sekali jalan-jalan bisa membangun bonding, menambah wawasan, mengalami petualangan yang terkenang, sekaligus belajar ngevlog. Maklum, enggak bisa seminggu sekali saya dan keluarga bisa jalan-jalan. Waktu dan budget-nya mesti dibagi-bagi, hehe…. Berdasar berbagai pertimbangan itu, saya membuat rencana petualangan mengelilingi 4 museum di Bandung. 4 museum dalam list saya itu Museum Sri Baduga, Museum Asia Afrika, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, dan Museum Geologi Bandung. Dan… baru kesampean ke Museum Geologi Bandung aja ^^

Manfaat Mengunjungi Museum Untuk Anak

Selain karena saya suka hal-hal berbau sejarah dan waktu kecil pernah bercita-cita jadi penemu fosil, mengunjungi museum punya banyak manfaat buat anak. Seperti:

1. Menambah Pengetahuan

Dengan mengajak anak ke museum, pastinya menambah wawasan anak. Anak-anak bisa belajar tentang sejarah dan sains tanpa merasa bosen. Kayak mempelajari tentang detail-detail dinosaurus, karena ngeliat langsung, anak jadi mau baca tentang keterangan mengenai jenis-jenis, tinggi, dan hal lainnya. Atau belajar tentang berbagai teknologi di masa lampau. Ini sekaligus menambah referensi visual mereka, karena hal-hal yang awalnya cuman bisa diliat di buku dan tayangan, terbentang nyata di hadapan. Dan, bukan cuman si kecil yang bertambah pengetahuannya, orang tua juga. Saat si kecil bertanya ini itu, jawabannya ada di museum, saya jadi enggak pusing nyari jawabannya, eh.

2. Si Kecil Jadi Ingin Tahu Lebih Dalam

Saat melihat banyak hal baru, anak jadi tumbuh rasa penasarannya pada ilmu pengetahuan dan sejarah. Tanpa harus memaksa anak untuk mempelajari sejarah dan pengetahuan, dia sudah curious sendiri ketika banyak ngeliat hal baru.

Kunjungan ke Museum Sri Baduga (Sumber gambar http://museumsribaduga.jabarprov.go.id)

3. Meluaskan Imajinasi

Masuk ke museum, seperti masuk ke dalam dunia petualangan masa lampau. Hal-hal baru yang anak temukan bisa jadi tak terbayangkan sebelumnya, Tentunya ini akan meluaskan imajinasi dan nantinya membuat mereka lebih kreatif.

Bertualang ke Museum di Bandung

Buat memuluskan rencana menjelajah dari museum ke museum di Bandung, saya mesti melewati dua rintangan. Untungnya bukan disuruh meruntuhkan Benteng Takeshi. Tsah! Tantangan pertama adalah bikin si kecil ‘mau’ ke museum. Tiap memilih tempat wisata memang biasanya saya diskusi juga dengan si kecil, dia kepenginnya ke mana. Soalnya saya enggak kepengin pas sampai tempat, anaknya malah bete dan enggak enjoy. Awalnya dia enggak kepengin ke museum. Belum kebayang kali ya kayak apa museum itu. Saya inget kalau dia pernah cerita pengin liat dinosaurus secara langsung setelah nonton film animasi tentang dinosaurus. Tring! Muncul solusi dalam kepala. Saya langsung mengiming-imingi pertemuan dengan dinosaurus. Trik saya berhasil, maka terpilihlah Museum Geologi Bandung sebagai tempat yang pertama kami kunjungi dari rangkaian petualangan museum.

Ternyata-ternyata… di sana dia enggak cuman betah melototin dinosaurus, malahan seneng banget nonton pemutaran film tentang pembentukan bumi, liat kerangka manusia zaman purba, dan… yang paling bikin dia happy adalah mencoba simulator gempa. Dalam petualangan ke museum di Bandung pertama kami itu, jadilah satu vlog.

Sampai kelupaan soal rintangan keduanya. Tantangan kedua ini datang dari saya sendiri. Saya beberapa kali membuat pengakuan memalukan tentang kegagapan saya soal Bandung XD Meskipun sudah puluhan tahun hidup di kota tersayang ini, saya masih setia dengan ketidakhafalan saya akan jalan-jalan di Bandung. Sungguh bukan sebuah prestasi yang membanggakan, apalagi harus diganjar award 😥 Sudah berulang kali saya membuat teman-teman yang melancong ke Bandung ikut tersasar bersama saya. Kasian-kasian-kasian XD Begitu juga dengan perjalanan menuju Museum Geologi Bandung waktu itu. Sempat putar-putar kota dulu sebelum berhasil menemukan tempatnya.

Itu bukan pengalaman terburuk. Saya pernah dua kali ke tempat wisata yang ternyata… sedang tutup! Kebayang kan mangkelnya? Sudah jauh-jauh, eh ternyata enggak bisa menikmati tempat wisatanya 😦 Untungnya teknologi internet dan aplikasi datang sebagai dewa penolong. Dari berbagai pengalaman tragis itu, saya jadi mulai membuat rancangan perjalanan menuju tempat wisata. Bertemulah saya dengan aplikasi CariAja di google play store. Awalnya tertarik dengan slogannya yang berbunyi: What You Are Looking For, Just Right At Your Palm.

CariAja ini aplikasi pencarian tempat wisata, hotel, kuliner, bank, ATM, minimarket, sampai transportasi. Aplikasi ini pengertian sekali pada orang-orang semodel saya yang sulit menghafal jalan, sesusah menemukan teori-teori fisika. Kecenya lagi, aplikasi CariAja ini bikinan lokal loh.

Semudah apa sih jadinya bertualang ke museum di Bandung dengan aplikasi CariAja? Semudah mengerjakan soal matematika anak TK ^^

Fitur-fitur dalam aplikasi CariAja yang memudahkan menikmati petualangan museum di Bandung

  1. Temukan Tempat

Di ‘Beranda’ CariAja ada berbagai pilihan pencarian. Seperti tempat belanja, kesehatan, sampai otomotif. Karena tujuan saya adalah mencari museum, saya mencarinya di ‘Hotel & Wisata’. Nantinya di layar bakal dikasih pilihan lagi sub-sub kategori. Museum ini punya sub kategori sendiri, jadi gampang banget menemukannya.

Berbagai keterangan bakal kita dapatkan ketika mengeklik satu tempat. Bukan hanya alamat lengkap, tapi ada juga nomor telepon yang bisa dihubungi, keterangan mengenai tempatnya, dan jam buka tempat tersebut. Jadinya enggak bakalan deh ada kejadian pas sampai lokasi ternyata tempatnya tutup.

2. Terdekat

Ketika mengeklik pilihan di sub kategori, yang dalam kasus saya adalah ‘Museum’, langsung keluar deh daftar museum dimulai dari yang posisinya paling dekat dengan tempat kita berada. Begitu juga kalau kamu mengeklik ‘Minimarket’, muncul deh berbagai minimarket terdekat dari rumah. Berguna banget untuk menghemat waktu, kan?


3. Dapatkan Arahan

Nah… ini dia koentji supaya tidak tersesat. Malu buka aplikasi CariAja sesat di jalan, eh. CariAja ini ngasih arahan ke tempat yang kita tuju melalui Google Maps atau Waze. Satu langkah supaya perjalanan kita menuju museum-museum di Bandung lepas dari drama sasar menyasar.


4. Tambah Favorit

Punya tempat favorit atau museum favorit? Masukan saja dalam list favorit. Keuntungannya kita bakalan dapet akses cepat dan dapet pemberitahuan promo, diskon, atau acara seputar tempat favorit. Misalnya nih, kalau memasukkan Museum Geologi Bandung ke dalam favorit, kalau ada acara ‘Night at Museum’ nanti kita dapet notifikasinya.


Selain keempat fitur tadi, ada 2 fitur seru lainnya di CariAja. Kamu bisa memakai fitur-fitur ini untuk membantu orang lain. 2 fitur itu ‘Tambah Tempat’ dan ‘Bagikan’. Jadi, kalau nemu tempat-tempat seru di sekitarmu, masukin aja ke CariAja, bisa jadi loh tempat yang kamu tambahkan itu dicari dan dibutuhkan orang-orang. Atau nih, kalau kamu punya tempat usaha juga bisa didaftarin dan ditambahkan sendiri lewat fitur ini. Update terus info tentang tempat usahamu itu ya, kali aja jadi bikin banyak orang berminat. Terus, kita juga bisa membagikan tempat favorit lewat fitur ‘bagikan’ itu, membantu orang buat mengenal tempat-tempat baru. Oh iya, kamu bisa mengunduh CariAja di sini.

Setelah tahu tentang CariAja, saya enggak lagi takut tersasar saat mau bertualang ke museum di Bandung dong. Mau ikut bertualang bareng?

[Blog Tour] Review + Giveaway Buku Dear, Ayah dan Bunda: Diary Pertumbuhan Buah Hati Usia 0-5 Tahun

Kehadiran anak merupakan fase perubahan signifikan dalam kehidupan pasangan. Anak merupakan pribadi lain yang mengubah berbagai rutinitas dan pola pikir pasangan menjadi pola pikir dan peran lain dalam kehidupan yaitu peran sebagai ‘orang tua’. Butuh adaptasi bagi ketiganya dalam menjalani kehidupan. Setiap fase perkembangan anak bukan hanya merupakan hal baru baginya tetapi juga penemuan baru bagi orang tuanya. Anak memiliki karakter dan perasaannya sendiri, karena itu orang tua mesti belajar memahaminya.

Buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini bisa menjadi referensi bagi orang tua untuk mencoba memahami dan menyelami cara pandang anak.

Berkenalan dengan Yenita Anggraini

Yenita Anggraini merupakan ibu dari seorang putra. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran tahun 2009. Setelah berkarier selama empat tahun di bidang kesehatan dan pelayanan, kini penulis bekerja di sebuah instansi pemerintahan daerah. Selain itu ia aktif menulis cerpen, artikel kepenulisan, cerita anak, serta kisah inspiratif yang dimuat di media cetak maupun online, seperti NOVA, Lampung Post, dan basabasi.co.

Hubungi penulis lewat surel: yenitaanggrainianggi@gmail.com

Mengenal Lebih Jauh Yenita Anggraini di Sesi Wawancara

Penasaran enggak sih kayak apa sih penulis ini orangnya? Sampai gimana cerita di balik penulisan buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini… Saya udah ngasih list pertanyaan ke penulis yang saya panggil dengan sebutan akrab ‘Tante Anggi’ ini. Berikut wawancaranya:

1. Apa motivasi Tante Anggi menulis buku ini?
Motivasi saya menulis buku Dear, Ayah dan Bunda ini sebenarnya sederhana sekali. Saya mau setiap orangtua bisa lebih berpikir dan bersikap positif dalam mengamati dunia buah hati yang penuh kejutan, perubahan perilaku, dan juga loncatan-loncatan perasaan. Perasaan positif itu akan menghadirkan rasa nyaman dan bahagia di dalam diri Ayah dan Bunda. Dan saya yakin, hadiah paling besar bagi buah hati adalah orangtua yang selalu berbahagia atas kehadiran mereka.
2. Mengapa di awal bab selalu dibuka dengan cerita dari sudut pandang anak?
Buku ini memang memiliki konsep yang berbeda dengan buku-buku lain. Di buku ini setiap awal bab selalu dibuka dengan cerita dari sudut pandang anak. Ini menarik, karena dengan mencoba bicara dari sudut pandang anak, Ayah dan Bunda perlahan-lahan diantarkan menuju sebuah pemahaman tentang apa yang buah hati rasakan dan apa yang harus Ayah dan Bunda lakukan. Belajar memahami semua itu tentu akan meminimalisir kekeliruan-kekeliruan tidak perlu yang mungkin saja Ayah dan Bunda lakukan melalui rangkaian perkataan, tindakan, dan stumulasi untuk buah hati.
3. Apa kesulitan menulis buku ini?
Kesulitan menulis buku ini tentu  mencoba menafsirkan apa yang buah hati rasakan sehingga bisa menjadi penggalan-penggalan surat yang seolah-olah berasal dari suara hati buah hati. Bagaimana caranya menafsirkan suara janin yang masih di dalam kandungan misalnya? Hehehe…Tapi, yang menjadi inti dari penggalan-penggalan surat itu bukanlah itu benar-benar merupakan suara hati buah hati, tapi bagaimana saya mengubah sudut pandang orangtua yang terkadang berpikir tentang dirinya, keluhannya, rasa sakitnya, letihnya, menjadi hal-hal yang positif. Misalnya : Keluhan-keluhan saat kehamilan tentu menyebalkan, tapi dengan Bunda berpikir bahwa ini adalah cara tubuh untuk mempersiapkan diri menjadi tempat terbaik bagi buah hati selama 9 bulan ke depan, semoga itu menjadi tidak terlalu menyebalkan lagi.
4. Sebagai orang tua, fase apa yang paling sulit ketika mendidik anak?
Sebagai orangtua, setiap fase memiliki kesulitannya tersendiri dalam mendidik anak. Tapi fase saat anak masih belum bisa berkomunikasi selain dengan tangis adalah fase yg membutuhkan kesabaran cukup besar. Membedakan tangisan anak juga butuh waktu yang tidak bisa saya sambi-sambi dengan hal lain. Ada waktunya dia menangis karena lapar, gendongan yang tidak nyaman , suhu yang tidak pas, tempat yang terlalu berisik, dan bahkan ada waktunya dia menangis hanya karena ingin menangis. Ini biasanya kesimpulan yang saya buat saat saya tidak bisa menafsirkan tangisnya.
5. Ceritakan proses menulis buku ini.
Proses penulisan buku ini kurang lebih dua sampai tiga bulan. Saya membagi fasenya menjadi 5 periode di mana tiap fasenya adalah perkembangan anak sejak ia masih di dalam kandungan hingga usianya 5 tahun. Kebetulan saya terbiasa mencatat setiap fase perkembangan buah hati mulai dari kemampuan motorik, kemampuan bicara dan juga perubahan-perubahan perilakunya. Saya juga sering mendokumentasikan pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia lontarkan sejak ia mulai banyak bertanya dalam #celotehzahir di instagram. Catatan-catatan itu banyak membantu saya dalam proses penulisan buku ini selain tentu saja buku-buku parenting yang saya baca, seminar-seminar parenting yang saya hadiri, termasuk juga nasehat, masukan, cerita-cerita dari keluarga dan teman-teman saya.

DATA BUKU

Judul: Dear, Ayah dan Bunda

Penulis: Yenita Anggraini

Penyunting: Ayuniverse

Penerbit: Diva Press

Cetakan: Pertama, Desember 2017

Halaman: 256 Halaman

ISBN: 9786023914838

Blurb:

Dear, Ayah Bunda

Hari ini aku kesal sekali. Aku tahu kita akan pergi ke rumah nenek. Bunda sudah mengatakan itu sejak kemarin, tapi aku tadi sedang bermain, lalu Bunda tanpa bilang apa-apa langsung membereskan mainanku. Bunda harusnya bilang dulu kepadaku bahwa kita akan berangkat.

Seorang anak, meskipun masih kecil, ia tetaplah manusia yang memiliki perasaan. Dengan dalih melakukan yang tebaik–menurut orang tua, terkadang Ayah Bunda justru mengabaikan perasaannya. Padahal perasaan diabaikan akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya ke depan.

Nah, buku ini hadir untuk menemani Ayah Bunda mendampingi tumbuh kembang buah hati sejak ia masih dalam kandungan hingga usia lima tahun. Setiap bagian dibuka oleh narasi dengan sudut pandang anak, sehingga Ayah Bunda seolah diajak membaca curahan hati si kecil.

Berkomunikasi dengan bayi, menghadapi anak tantrum, mengajarinya berbagi, saat anak mengadu, dan lain-lain, dibahas di buku ini. Dengan perspektif baru, Ayah Bunda akan lebih peka terhadap apa yang dirasakan oleh buah hati.

Selamat membaca!

REVIEW BUKU

Awalnya saya mengira bakalan butuh waktu lama untuk menghabiskan buku nonfiksi ini. Maklum, buku jenis nonfiksi bukan tipe bacaan favorit saya. Nyatanya, saya betaaaah sekali membacanya bahkan sampai rela bergadang.

Saya tipe pembaca yang membaca seluruh bagian buku, termasuk kata pengantar. Surprise, pengantar penulis ternyata jadi salah satu part favorit saya. Terus terang, pengantarnya touchy :’) Di luar bahwa saya mengenal sosok Yenita, setelah membaca pengatarnya saya merasa penulis adalah seseorang yang dengan tangan terbuka ingin menjadi sahabat pembaca yang tulus.

Cover buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ ini berwarna-warni dengan ornamen gambar-gambar yang mencirikan isinya. Cover-nya cukup menarik perhatian ^^ Blurb bukunya mencerminkan isinya, jadi pembaca enggak akan misleading.

Dari yang saya tangkap, buku ini berisi tentang proses belajar memahami anak bahkan sejak buah hati masih dalam kandungan. Isinya detail sekali dari mulai periode kehamilan sampai usia anak 5 tahun. Setiap bab dibuka dengan dari sudut pandang anak yang menceritakan perasaannya. Pembaca diajak menyelami dulu respon anak pada setiap fase hidupnya. Seringkali tulisan POV anak berupa diary itu menyentuh saya.

Dear, Ayah Bunda

Maafkan aku ya, jika beberapa minggu ke depan atau malah selama kehamilan akan menjadi hari yang berat untukmu.

–Halaman 14.

 

Disampaikan dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan renyah, buku ini dilengkapi tips-tips yang sangat bermanfaat. Misalnya tips asupan makanan untuk masa kehamilan, bagaimana cara mengelola stres, posisi menyusi yang nyaman bagi anak dan ibu, dan masih banyak lagi.

Pembaca ‘Dear, Ayah dan Bunda’ dibekali banyak pengetahuan biologis sampai psikologis. Misalnya mengenai perubahan tubuh di masa kehamilan, perubahan hormon ibu, manfaat inisiasi menyusui dini, makanan pendamping ASI, cara menstimulasi perkembangan anak, sampai bagaimana menjalin kedekatan antara orang tua dan anak.  Jangan khawatir mati kebosanan saat mebacanya, karena pengetahuan itu ditebar sedikit-sedikit sesuai fase tumbuh kembang anak. Pembaca tidak dijejali berbagai informasi sekaligus. Lagipula tata bahasa penulis yang seakan menjadi ‘sahabat’ pembaca membuat buku ini justru sangat menyenangkan dibaca.

Buku ini memberi saya kesan betapa menyenangkannya menjadi orang tua dengan segala dinamikanya. Bahwa segala tantangan bisa diselesaikan dan dilalui bersama. Benar-benar diajak menjadi orang tua bahagia, bukan pasangan yang terpaksa menjadi orang tua. Penyampaiannya jauh dari kesan menggurui. Penulis begitu mengerti psikologis pembacanya. Saya seperti sedang melakukan konsultasi privat dengan seseorang yang sangat ‘memahami’ keadaan saya. Saya dan anak seperti sedang mencurahkan perasaan tanpa harus berkata apa-apa. Sampai-sampai beberapa kali meneteskan air mata membacanya. Saya jatuh cinta pada cara penulis memaparkan materinya.

Buku ini bukan hanya saya rekomendasikan bagi pasangan yang bersiap menjadi orang tua atau pasangan yang telah memiliki anak usia 0-5 tahun, tapi bagi semua orang tua. Nyata, meski anak saya telah berusia 8 tahun lebih, buku ini tetap sangat related buat saya. Bahkan memberi motivasi untuk terus berusaha menjadi orang tua yang baik.

Rating 5 dari 5 bintang.

Giveaway Time

Ada satu buku ‘Dear, Ayah dan Bunda’ untuk pemenang beruntung. Cara ikutannya gampang kok:

1. Like Fanpage Diva Press

2. Follow akun Instagram @penerbitdivapress dan @eva.srirahayu

3. Bagikan info giveaway ini dengan tagar #DearAyahBunda di Insta story-mu dengan  mention akun saya dan Diva Press

4. Pastikan alamatmu di Indonesia.

5. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun Instagram kamu.

Kamu kepengin jadi orang tua seperti apa?

6. Jawaban ditunggu sampai tanggal 31 Desember 2017.

7. Pemenang diumumkan tanggal 1 Januari 2018.

Ditunggu partisipasinya ^^

Mengenal Tugas Staf di Area Penerbangan

Mengenal Tugas Staf di Area Penerbangan (sumber gambar freepik.com)

Jika kita bepergian dengan menggunakan jasa penerbangan, pasti kita tidak akan asing melihat beberapa petugas yang berpakaian rapi, yang tampak terlihat sibuk di bandara, yang melayani kita mulai dari pembelian tiket, sampai penanganan bagasi kita. Para petugas itu adalah staf penerbangan. Dan berikut ini akan dijabarkan mengenai staf di area penerbangan untuk mengenal tugas staf di area penerbangan.

Pilot

Pilot adalah sebutan profesi untuk orang yang mengemudikan pesawat udara.  Seorang pilot harus menjalani serangkaian ujian resmi atau tes yang diadakan oleh sekolah penerbangan. Jika telah dinyatakan lulus dalam tes, seorang pilot akan mendapat sertifikasi terbang. Sertifikat terbang itu adalah sebuah surat pengakuan kemampuan seorang pilot, yang sudah dianggap mampu untuk menerbangkan sebuah pesawat dengan tipe atau ukuran tertentu. Pilot biasanya disebut dengan Captain. Tugas seorang pilot adalah mengemudikan pesawat.

Co Pilot

Co Pilot adalah seseorang yang ditunjuk untuk membantu pilot dalam menerbangkan pesawat udara. Untuk menjadi co pilot syaratnya hampir sama seperti halnya menjadi pilot yaitu harus mengikuti latihan di sekolah penerbangan. Co Pilot disebut juga sebagai First Officer (FO). Ketika seorang pilot tidak dapat menerbangkan pesawat sementara pesawat masih berada dalam suatu penerbangan yang sedang berlangsung, maka saat itu pula co pilot menggantikan tugas pilot untuk melanjutkan penerbangan.

Tugas-tugas co-pilot ialah menemani captain dan menggantikan tugas captain di dalam pesawat. Pada waktu captain sedang menerbangkan pesawat, co-pilot hanya bertugas memantau jalannya mesin dan membantu pekerjaan captain untuk melakukan navigasi. Menjadi co-pilot tidak harus memiliki pangkat di bawah pangkat captain. Dengan kata lain, pangkat co-pilot dan pilot boleh saja sama-sama berpangkat empat, sebab co-pilot bukan seorang pembantu, hanya saja tetap disebut sebagai wakil captain.

Pramugari

Pramugari adalah staf penerbangan yang akan kita bahas berikutnya. Dalam posisi ini ada dua buah nama yang membedakan jenis kelamin. Untuk petugas pria biasanya disebut dengan pramugara, sedangkan untuk petugas wanita disebut dengan pramugari.

Tugas utama seorang Pramugara maupun pramugari adalah melayani apa pun yang berkaitan tentang kebutuhan penumpang, serta membantu menjaga keselamatan penumpang selama berada dalam perjalanan.

(sumber gambar freepik.com)

Selanjutnya kita akan membahas tugas dan tujuan masing-masing posisi staf penerbangan, antara lain:

Petugas Counter Check-in

Check-in adalah proses pelaporan diri yang berkaitan dengan keberangkatan saat menjadi penumpang, sebelum melakukan suatu perjalanan. Tempat untuk melakukan proses pelaporan tersebut disebut dengan check-in counter. Sesuai dengan prosedur penanganan penumpang di Bandar udara, salah satu proses yang dipandang penting untuk dilakukan oleh penumpang saat menjelang penerbangan adalah pelayanan check-in counter.

Tugas seorang petugas check-in counter yaitu melakukan pemeriksaan tiket sebelum penerbangan dilakukan dan mencocokannya dengan identitas penumpang tersebut apakah sudah sesuai atau belum. Hal ini dilakukan untuk penumpang domestik sesuai dengan KTP/SIM, sedangkan untuk penumpang turis mancanegara wajib menunjukan paspor dan dokumen-dokumen lainnya pada petugas check-in counter.

Petugas Baggage Handling

Tugas seorang petugas baggage handling, yaitu  menangani bagasi. Bagasi yang dibawa oleh penumpang akan ditimbang sebelum melakukan penerbangan. Apabila terjadi kelebihan beban, maka penumpang akan diberikan biaya tambahan.

Demikianlah tadi beberapa posisi yang ada pada penerbangan. Menjadi staf penerbangan adalah suatu impian bagi banyak orang. Dengan adanya ulasan ini semoga bisa menambah informasi untuk mengenal tugas staf di area penerbangan yang semuanya saling bersinergi untuk menjadi perjalanan udara yang selamat, aman, dan nyaman.