Sekilas Tentang Branding Sampai Terbukanya Berbagai Peluang Dari Menulis

Dalam sebuah talkshow di The Japan Foundation Jakarta bertema “Kiat Meniti Karier Sebagai Kreator Profesional” saya menyampaikan bahwa menulis bisa menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Namun, kita tidak membatasinya dengan menulis novel atau buku nonfiksi, tapi lebih luas lagi, yaitu menulis apa saja. Misalnya menulis artikel, skenario sinetron dan script komik, sampai hal yang tampak sepele seperti status atau caption. Kenapa saya mengatakan hal itu? Karena masih banyak yang ragu bahwa menulis bisa menjadi sumber ekonomi. Saya tak akan menjanjikan keajegan menulis sebagai tiang perekonomian keluarga. Tapi kalau ditanya apakah bisa? Jawabannya bisa. Namun, sesuatu yang dijadikan fondasi tentunya harus diusahakan sekuat tenaga. Menulis sebagai profesi beda dengan menulis sekadar hobi. Kita tak lagi bisa tergantung pada mood, dan mesti menyediakan waktu kerja khusus layaknya pekerjaan lain. Selain itu, kita tidak lagi bisa mengandalkan datangnya peluang, tapi terus mencari peluang. Ketika menulis belum bisa menjadi sumber utama perekonomian keluarga, jangan tinggalkan dulu pekerjaan yang lain.

Bicara mengenai peluang, banyak yang bingung, bagaimana cara mencari peluang? Misalnya dengan mengemukakan alasan bahwa “Saya hanya diam di rumah terus, bagaimana bisa peluang datang?”
Mari kita lihat ada 3 kekuatan besar bernama personal branding, komunitas, dan media sosial.

Personal Branding

Menurut Ibu Dewi Haroen seorang pakar personal branding, definisi personal brand adalah diri kita sendiri, siapa diri kita dan hal spesial apa yang kita kerjakan. Merepresentasikan nilai yang kita yakini, kepribadian kita, keahlian kita, dan kualitas yang membuat kita unik di antara yang lain. Kata beliau dalam bukunya berjudul Personal Branding Sukses Karier di Era Milenial, inti dari personal branding adalah melihat diri sebagai merek dan mempromosikannya.
Jadi kalau ada guyonan mengatakan kita sedang melakukan pencintraan berarti tengah memperlihatkan kepalsuan, bisa dibilang itu tak benar. Karena personal brand harus otentik, merefleksikan diri kita yang sesungguhnya. Jika kita mengumbar kepalsuan, kita akan sangat lelah berpura-pura. Kepura-puraan tidak membuahkan konsistensi. Seperti ketika kita berbohong, untuk menutupi dan meyakinkan satu kebohongan akan menyebabkan kita mesti berbohong lagi dan lagi. Saya selalu mengatakan, di media sosial tak semua orang mesti melihat seluruh sisi kita. Kita hanya membagi beberapa hal dan menyimpan hal-hal lain.
Jika personal branding-mu ‘penulis’, maka tunjukkanlah.

Komunitas

Ada banyak keuntungan mengikuti komunitas. Termasuk mendapat job-job menulis. Kita hanya tinggal memilah saja komunitas mana yang menunjang karier dan perkembangan diri. Jika dulu rasanya sulit sekali melakukan kontak dengan penulis senior, editor, dan penerbit, sekarang tidak lagi. Di satu komunitas menulis, tak aneh lagi jika mereka tergabung di dalamnya. Bahkan ada komunitas menulis yang memang didirikan oleh penerbit. Biasanya, mereka pun tak segan berbagi ilmu dan peluang. Misalnya, sedang mencari buku tema tertentu.
Jika masalahnya adalah kita hanya bisa mengikuti komunitas secara online, percayalah, sekarang itu bukan masalah. Kebanyakan komunitas menulis memiliki basis online. Sehingga kita bisa mengikuti banyak komunitas dengan fisik berada di rumah.

Media Sosial

Austin Kleon seorang penulis 3 buku best seller, mengatakan dalam bukunya berjudul Show Your Work bahwa kita tidak boleh malu-malu membagikan proses kreatif kita. Di mana kita membagikannya? Media sosial salah satunya. Ketika kita menceritakan sedang menulis buku atau meriset sesuatu, sekaligus sharing ilmunya, orang-orang akan mulai memercayai kita sebagai penulis.
Tulislah di bio seluruh media sosial kita bahwa kita seorang penulis, cantumkan blog atau referensi karya kita agar mereka bisa membacanya. Sehingga selain branding masyarakat luas juga dapat memetik manfaat dari tulisan kita.

Terbukanya Berbagai Peluang Dari Menulis

Menghasilkan uang hanya satu dari begitu banyak manfaat menulis. Ada berbagai peluang yang tercipta dari menulis. Seperti yang saya alami.
Saya bisa menjelajah ke beberapa kota di Indonesia, seperti Surabaya, Batam, Semarang, Jogjakarta, dan lainnya dari menulis.
Banyak penulis yang diantarkan kata-kata mengelilingi dunia.
Jika saat ini tulisan belum memberikan keuntungan materi, jangan putus asa. Pasti ada banyak manfaat lain yang bisa kita dapat.
Di luar hal itu, yang paling membuat saya terharu adalah ketika tulisan saya membuat pembaca bahagia, membuka wawasan, dan menginspirasi orang lain untuk berkarya juga. Itu hal yang tak dapat ditakar oleh ukuran materi.

Ketiga hal tadi adalah penopang, tetap yang paling utama kualitas karya dan konsistensi.

Ketika hobi menjadi pekerjaan, segalanya bisa jadi tak seindah dulu, ada tanggung jawab yang diemban. Ada kalanya membuat jenuh dan lelah. Namun, segala yang berangkat dari kecintaan akan selalu membuat kita bertahan dan terus berjuang.
Menulislah dengan seluruh perasaan, sungguh-sungguh, dan mengusung gagasan. Kemudian, biarkan kata-kata membukakan peluang untukmu.

*Ditulis untuk sharing with author untuk Komunitas Penulis Cloverline

Advertisements

9 thoughts on “Sekilas Tentang Branding Sampai Terbukanya Berbagai Peluang Dari Menulis

  1. Tulisannya bagus banget, aku juga suka baca karya Austin Kleon karena beneran ngomporin bgt soalnya klo kita ga pamer karya darimana orang tau kita punya value dan pembuka rezeki.

  2. Setuju banget teh, jadi bukan hanya sekadar menulis yah, kita juga harus bisa cari peluang supaya karya kita nggak jadi sia-sia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s