[Review] Novel Dharitri: Fantasi yang Kental Lokalitas

 

Beberapa tahun ini saya menyadari kecenderungan genre favorit saya ternyata genre fantasi. Saya suka berselancar di Goodreads membaca-baca ulasannya kemudian memasukan buku-buku tersebut ke dalam wish list. Salah satunya novel Dharitri. Ternyata semesta benar-benar menjodohkan saya dengan novel ini. Yeaaay! Satu hari, saya berkesempatan menjadi salah satu host book tour novelnya.

Saat pertama kali mem-posting foto buku Dharitri, seorang teman menulis komentar bahwa novel ini berasal dari Wattpad. Terus terang saya baru tahu. Saya jadi penasaran bagaimana proses penulisan novelnya, maka saya mewawancari penulisnya: Nellaneva. Yuk, ikuti obrolan kami ^^

Berkenalan dengan Nellaneva

Nellaneva adalah peracau yang terlalu sering berkhayal dan menulis untuk melegakan diri. Dalam kesehariannya, dia mendalami bidang Mikrobiologi dan sedang melanjutkan pendidikan di Osaka, Jepang. Pada waktu senggangnya, dia bergegas mengabadikan imajinasi dalam kata-kata sebelum waktunya di Bumi habis. Nellaneva mulai aktif di dunia kepenulisan sejak tahun 2015. Novelnya yang sudah diterbitkan adalah Dharitri dengan genre fantasi (Histeria, 2017). Karya-karyanya yang berupa puisi, cerpen, dan novel diarsipkan pada situs kepenulisan Wattpad atas nama Nellaneva.

Selain Wattpad, Nellaneva juga dapat dihubungi melalui:
Line: @oja6804t
Instagram dan Twitter: nellaneva94
Email: nellaneva94@gmail.com

Mengenal Lebih Jauh Nellaneva di Sesi Wawancara

Ehm… ehm… ini sesi wawancaranya cukup panjang karena saking penasarannya, saya banyak nanya XD

1. Dapat dari manakah ide menulis kisah Dharitri?

Nella: Seperti cerita-cerita saya yang lain, ide Dharitri datang secara mendadak ketika saya sedang melamun di kamar sebelum tidur. Saat itu, saya membayangkan konsep dunia baru di masa depan. Berdasarkan novel-novel fantasi atau fiksi ilmiah yang sudah beredar selama ini, latar distopia nan futuristik—dengan iringan teknologi canggih—hampir selalu digunakan sebagai latarnya. Saya pun terpikir untuk menciptakan sesuatu yang berbeda: latar utopia berbau tradisional, meskipun jenis dunia demikian pada akhirnya tidak benar-benar saya terapkan dalam Dharitri. Selain itu, minat saya terhadap bahasa Sanskerta mendorong saya untuk menerapkan latar dan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Nusantara. Untuk ide Hibrida sendiri, itu murni dikarenakan kecintaan saya terhadap hewan-hewan eksotis terutama naga.

2. Ceritakan proses penulisan Dharitri yang berkesan. Mulai dari riset sampai draf terakhir.

Nella: Sebenarnya ide tentang Dharitri sudah lahir sejak akhir tahun 2014, tetapi proses penulisannya baru bisa terlaksana pada pertengahan tahun 2016. Namun, karena beragam kesibukan dan kemampuan saya saat itu belum cukup untuk menyusun novel, saya pendam dulu ide tersebut. Tidak benar-benar saya tinggalkan, tetapi hanya menuliskannya sebagai premis terbengkalai di dalam laptop seperti ide-ide cerita saya yang lain. Mulai tahun 2015, menjelang lulus kuliah, akhirnya saya tergoda merampungkan novel di sela-sela mengerjakan skripsi. Setelah novel pertama saya, Tujuh Kelana, rampung pada awal tahun 2016, saya pun terdorong untuk ‘menggodok’ ide Dharitri sebagai novel berikutnya. Proses penulisan Dharitri terhitung sangat singkat, hanya satu setengah bulan saja (awal Juni- pertengahan Juli 2016). Saat itu, saya baru lulus kuliah dan masih mencari-cari pekerjaan. Sambil menanti panggilan tes seleksi dan wawancara kerja, saya manfaatkan waktu luang dengan menulis novel.

Selebihnya, dari premis pertama yang berupa paragraf-paragraf sederhana, saya kembangkan outline bersamaan dengan penulisan Dharitri itu sendiri. Worldbuilding, konflik, dan tokoh-tokohnya bermunculan seiring saya menambahkan bab-bab baru. Alhasil, beberapa poin premis pun melenceng dari ide awal tetapi untungnya terarah jadi lebih baik. Sebagai penulis pemula, saya jadikan ini sebagai pembelajaran agar mempersiapkan plot cerita dengan lebih matang sebelum memulai eksekusi. Selama riset, saya tidak menemukan kendala berarti, tetapi ini pun menjadi evaluasi bagi saya supaya lebih banyak mencantumkan detail-detail ilmiah dalam deskripsi cerita.

Sejak awal tahun 2016, saya juga aktif menulis di situs kepenulisan Wattpad. Draf pertama Dharitri saya publikasikan di sana dan mendapat banyak masukan dari para beta readers. Mulai dari awal Juni hingga pertengahan Juli 2016, saya senang sekali tiap kali mempublikasikan bab terbaru Dharitri di Wattpad. Antusiasme pembaca—yang tertampilkan dalam komentar-komentar—menjadi motivasi terbesar saya untuk menulis Dharitri sampai tamat dalam waktu singkat. Yang paling mengejutkan adalah sewaktu Dharitri memenangkan penghargaan Wattys Award 2016 kategori Pilihan Staf. Saya tidak menyangka sesuatu yang saya mulai sebagai iseng-iseng bisa membuahkan hasil seperti ini.

3. Mengapa menulis genre fantasi?

Nella: Sejak kecil, saya cinta mati dengan genre fantasi. Koleksi novel yang saya miliki didominasi oleh genre tersebut. Dengan membaca kisah fantasi, saya merasa bisa melarikan diri dari kejenuhan realita dan pada dasarnya saya memang seorang pengkhayal. Setelah dibuat tergugah oleh banyak cerita fantasi, saya pun terdorong untuk menciptakan cerita karangan saya sendiri. Meskipun baru serius menulis sejak tahun 2015, sesekali saya menulis secara iseng sejak duduk di bangku sekolah. Selama itu pula, genre yang paling sering saya tulis adalah fantasi. Dengan menulis fantasi, saya bisa menumpahkan imajinasi saya menjadi kata-kata dan menyebarkannya ke sesama peminat fantasi lain. Menurut saya itu adalah salah satu sensasi terbaik sebab fantasi adalah pelarian saya dari dunia nyata :’)

4. Kesulitan atau tantangan apa yang dialami ketika menulis Dharitri?

Nella: Tantangan terbesar bagi saya adalah mengundang pembaca. Karena peminat fantasi tidak sebanyak romance/metropop/teen fiction, saya harus menyuguhkan sesuatu yang menarik sekaligus nyaman dibaca. Persaingan juga amat terasa sebab kini cukup banyak penulis fantasi yang bermunculan dalam platform digital seperti Wattpad, Storial, dan lain sebagainya. Saya sadari terkadang gaya bahasa saya masih terlalu baku dan kaku, sehingga saya siasati dengan sedikit bermain diksi dalam penulisan Dharitri. Taktik lain yang saya gunakan adalah penempatan twist yang sedemikian rupa supaya bisa memberikan kejutan bagi pembaca. Namun, secara keseluruhan, saya sikapi proses penulisan cerita dengan santai sebab tujuan saya menulis adalah sebagai relaksasi dan melegakan diri.

5. Nella punya harapan apa pada novel Dharitri?

Nella: Saya tidak berani terlalu berekspektasi, hehe, tetapi saya harap Dharitri bisa menjadi salah satu novel fantasi karya penulis lokal yang patut diperhitungkan. Saya juga berharap Dharitri bisa menginspirasi para penulis Indonesia lain bahwa cerita fantasi tidak harus berlatar luar negeri melulu. Kita juga punya bahan kebudayaan lokal yang berpotensi dikemas menjadi cerita keren, loh!

6. Respon paling unik atau berkesan apa yang didapat dari pembaca Dharitri?

Nella: Bagi saya, semua respons yang masuk dari para pembaca Dharitri sangatlah berkesan dan berguna bagi perkembangan saya ke depannya. Setiap kali saya bolak-balik baca ulasan Dharitri di Goodreads dan Instagram, baik itu berupa kritik pedas sekalipun, semangat saya selalu terpompa kembali. Bahkan saya sampai gatal ingin merevisi Dharitri lagi kalau bisa, hahaha. Respons yang paling unik barangkali adalah kesukaan pembaca terhadap Lal, salah satu Hibrida di Dharitri. Seperti mereka, saya selalu membayangkan punya naga sendiri dan senang mengetahui keinginan mereka serupa dengan saya. Akhir kata, berkat semua respons tersebut, pengalaman menulis Dharitri ini tentu saja menjadi salah satu kenangan paling berharga bagi hidup saya.

DATA BUKU

Judul: Dharitri

Penulis: Nellaneva

Penerbit: Anak Hebat Buku

Cetakan: 1, 2017

ISBN: 9786025469220

Blurb:

Pada tahun 2279, seratus lima puluh tahun setelah Perang Dunia III meletus, sisa umat manusia dikumpulkan dalam naungan Dunia Baru berbasis Persatuan Unit. Dunia baru tersebut diyakini sebagai dunia yang lebih baik bagi umat manusia di Bumi. Pernyataan itu rupanya tidak berlaku bagi Ranala Kalindra.

Ranala yang berusaha kabur dari Persatuan Unit mengalami kecelakaan hingga terdampar di sebuah negeri asing bernama Dharitri dan bertemu dengan makhluk hibrida yang diberi nama Lal. Ranala merasa menemukan rumah baru, yang membuatnya harus menyembunyikan identitas sebagai penduduk Persatuan Unit. Ranala mengubah namanya menjadi Aran, lalu bergabung dengan Adhyasta Hibrida, pasukan elit Bala Karta yang menangani makhluk Hibrida.

Namun, ada seseorang yang mengetahui identitas asli Aran. Seseorang yang selalu mengawasi Aran dan menunggu saat yang tepat untuk menyingkirkannya.

ULASAN BUKU

Terus terang saya tertarik baca Dharitri karena membaca ulasannya di Goodreads.
Novel fantasi lokal yang menyentuh hati pembaca. Kedua, blurb novelnya yang memikat. Ternyata ini fantasi dystopia. Perpaduan ini sangat cukup membuat saya yakin ‘harus’ baca.
Ketiga, cover-nya menariiiik 😍😍😍
Mengingatkan saya pada cover novel fantasi luar negeri.
Kemudian saya melahap prolognya. Dharitri memiliki tipe prolog yang memicu penasaran sehingga membuat pembaca  betah melaju ke bab selanjutnya.

Ini novel distopia. Menceritakan masa depan di ratusan tahun mendatang.
Saya selalu terpukau oleh imajinasi penulis yang bisa membayangkan seperti apa dunia di masa yang jauh. Apalagi lengkap dengan tatanan pemerintah dan sosialnya.
Pasti butuh kerja keras sekali untuk menuliskannya.

Novel ini memakai gaya bahasa baku.
Di bab-bab awal saya merasa seperti tata bahasa buku terjemahan, tapi kemudian berubah ketika Ranala datang ke Dharitri.Menurut saya pas mengikuti cerita, gayanya menyesuaikan dengan di mana latar tempat cerita.
Jalinan kalimatnya enak diikuti dan memiliki kosakata yang kaya. Namun saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang pas. Novel Dharitri menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga leluasa menggambarkan banyak hal tanpa dibatasi ketidaktahuan tokoh bila menggunakan POV 1. Penulis pintar mendeskripsikan detail tokoh dan tempat hingga pembaca bisa membayangkannya dengan jelas di kepala.

Seperti narasi berikut:


Lima tanduk yang mencuat di sekeliling kepala makhluk itu mengindikasikan bahwa dia jelas bukan reptil biasa. Tinggi tubuhnya mencapai gajah dewasa, panjangnya kira-kira empat setengah meter belum termasuk ekor panjang berduri yang menjulur di belakang tubuhnya.

Memang sebagai novel fantasi dengan 2 latar tempat besar berbeda, penjabaran world building-nya harus detail. Penulis berhasil melakukan itu.
Bagi pencinta narasi seperti saya, membaca buku ini seperti sedang dimanjakan. Pembaca disuguhi berlembar-lembar narasi yang kerap kali bahkan tak menyelipkan dialog sama sekali. Saya juga mengapresiasi editornya, karena editan novel ini rapi, sedikit sekali typo 😎

Hal paling menarik dari novel Dharitri adalah fantasi yang mengandung kelokalan yang kental.
Pertama, judulnya saja diambil dari Sansekerta.
Dharitri ini seperti jelmaan Indonesia sekarang. Sistem pemerintahan daerah yang awalnya monarki menjadi republik.
Kedua, nama-nama tokoh, dan lainnya pun kental lokalitasnya.
Seperti pemilihan nama Sambas, Kapuas, Cakra, dan Adhyasta.
Ketiga, lokasi Dharitri sendiri memang di Indonesia.
Menarik sekali ketika penulis membagi bahasa yang digunakan di dunia baru menjadi 3 bahasa. Salah satunya Indonesia.
Nellaneva tampaknya piawai mengulik geografi 😆

Karakter tokoh-tokoh novel Dharitri ini banyak yang unik. Terutama para hibrida alias  binatang artifisial yang merupakan hasil buatan teknologi mutakhir pada masa Perang Dunia III. Imajinasi penulisnya keren! Bisa menciptakan modifikasi-modifikasi berbagai binatang. Pembaca diajak membayangkan binatang hasil persilangan beserta kemampuannya lewat deskripsi detail.

Misalnya penjelasan tentang karakteristik salah satu hibrida bernama Ishara:

Rubah kambing. Habitat: lembah bukit dan pegunungan. Jenis karnivora. Leluhur pertama: modifikasi in vitro, persilangan rubah:kambing dengan rasio berkisar 8:3. Kekuatan: serangan fisik dan penciuman tajam. (Halaman 112).

Lalu tokoh-tokoh Dharitri ini kuat dan kebanyakan di antaranya memiliki kekhasan. Jadi meskipun tokohnya banyak, pembaca tidak akan tertukar-tukar.
Sedihnya, saya kurang menyukai tokoh utamanya Ranala alias Aran 😭
Sedang tokoh lainnya buat saya cukup lovable.
Saya paling suka tokoh Cakra dan Dylan. 😍 Dylan ini kutu buku.

Konflik sudah disuguhkan dari awal, sejak prolog. Pembaca dibuat penasaran dengan keputusan atau pikiran si tokoh utama.
Bab-bab setelahnya misteri dan konflik ditebar beriringan pelan-pelan. Saya tidak merasakan adanya letupan-letupan yang langsung besar. Tapi konflik disampaikan dengan grafik yang kian meningkat. Menuju akhir banyak kejutan diberikan penulis.
Kisah cinta di dalamnya memberi bumbu manis yang menyenangkan 😍
Adegan laganya bagus. Deskripsi pertarungannya jelas dan cukup menegangkan.  Percayalah, menulis adegan pertempuran bukan perkara gampang. Butuh deskripsi yang tepat agar adegan itu tersampaikan dan menimbulkan efek ketegangan. Kalau ada kekurangan, bagi saya hanya pengembangan konfliknya yang terasa agak lambat sampai setengahnya. Padahal konflik sudah disuguhkan dari prolog.
Untungnya grafik konfliknya makin naik, dan pada akhirnya pembaca disuguhkan kejutan-kejutan menarik 😍

Rating 3,5 dari 5 bintang. Saya rekomendasikan novel ini bagi pencinta novel fantasi.

Sebagai penutup, saya ingin membagi quotes favorit saya:

Jadilah sepertiku, menyukai buku-buku. Mereka tidak akan menyakiti.

 

Advertisements

5 thoughts on “[Review] Novel Dharitri: Fantasi yang Kental Lokalitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s