Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Saat kecil, saya selalu serem tiap mendengar kata tumor. Buat saya yang masih polos itu, tumor berarti kanker. Belum lagi terbayang pemandangan para pasien tumor yang ditayangkan di TV, bikin hati ini terenyuh. Ternyata tumor dan kanker berbeda. Saya enggak pernah menyangka bahwa ketika dewasa saya terkena tumor, bahkan dua kali, di tempat yang berbeda.

Begini ceritanya….

Tahun 2016 lalu saya terkena kista ginjal. Ceritanya bisa dibaca di “Kista Ginjal Mengantarkan Saya Pada Salah Satu Momen Luar Biasa Dalam Hidup”. Operasinya dilakukan pada Bulan Mei. Saya percaya ini bukan kebetulan ketika Allah menghendaki saya menjalankan operasi lagi di bulan yang sama, tepat setahun kemudian. Pasti ada tujuan Allah membuat timing seperti itu. Kali ini, saya terkena tumor yang tumbuh di mata.

Tentang Tumor

Intinya sih kata dokter tumor itu adanya ‘benjolan’ di mana pun letaknya. Saya baru tahu kalau ‘semua’ benjolan itu tumor. Termasuk kista. Tumor jenisnya banyak, tapi secara umum sih dibagi ke dalam tumor jinak dan tumor ganas. Nah, tumor jinak dibagi-bagi lagi.

Dari artikel yang saya baca, tumor secara medis diartikan sebagai berikut:

Penyakit tumor secara medis adalah terbentuknya sebuah neoplasma yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak wajar. Dan beberapa sel yang mengalami pertumbuhan yang sangat cepat akan mengakibatkan sebuah benjolan pada permukaan organ tertentu.

Sumber: penyakittumorjinak.blogspot.co.id

Seperti yang sudah saya ceritakan di “Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit”, benjolan di mata ini tidak serta merta langsung besar. Beberapa tahun sebelumnya, muncul benjolan kecil. Benjolan itu karena tidak sakit, merah, atau pun membesar, saya biarkan saja. Hingga di tahun 2017 benjolan itu mulai membesar, lambat tapi pasti. Sampai suatu pagi benjolan itu tumbuh menyerupai jerawat batu. Besar, merah, dan sakit. Sebagai orang yang panikan dan penakut sekaligus, waktu melihat itu saya pun saya langsung berpikir yang bukan-bukan. Daripada kecemasan saya makin meliar, saya lalu memeriksakannya ke Puskesmas. Dokter Puskesmas langsung memberi rujukan ke rumah sakit. Kemudian oleh dokter pertama, saya diberi obat tetes mata dan salep. Dicoba untuk rawat jalan dulu. Sambil beliau merekomendasikan saya dokter temannya yang biasa melakukan ‘tindakan’. Saya diminta datang seminggu kemudian.

Lipoma di mata saya dulu waktu masih kecil, kelihatan tapi tidak kentara

Namun rupanya benjolan itu malah makin menjadi. Tidak menunggu sampai seminggu, saya sudah memeriksakan mata lagi. Masih di RS yang sama, tapi saya mendatangi dokter kedua yang direkomendasikan itu. Dokter kedua memijit-mijit benjolannya, lalu katanya, “Ini sih bukan cairan, tapi daging. Enggak bisa dikasih tindakan biasa.” Saya tanyakan jenis penyakitnya, tapi dokter menjawab belum tahu. Dokter lalu memberi saya obat salep yang baru. Salep ini memiliki kandung berbeda dari sebelumnya. Dokter meminta saya datang seminggu atau lima hari lagi. Tapi kalau benjolannya hilang, saya tak perlu datang lagi. Begitu kata beliau.

Waktu itu saya berharap sepenuh hati agar salepnya berhasil membuat benjolannya kempes, tapi nihil. Benjolannya terus saja bertumbuh sampai hampir sebesar kelereng. Kecemasan dalam diri saya makin tak terbendung. Saya menjadi kian sulit tidur dan rasanya stres berat. Apalagi benjolannya gatal sekali. Tiga hari kemudian saya datang lagi. Saya masih ingat bagaimana wajah khawatir dokter ketika memeriksa saya.

“Benjolannya diangkat saja ya. Saya beri rujukan ke RS Cicendo,” ucap beliau.

“Dok, apa enggak bisa dioperasi di sini saja?” tanya saya.

“Bisa saja. Tapi kalau ada apa-apa, kalau… misalnya ternyata tumor ganas atau apa, tetap saja nanti akan dirujuk ke sana, karena di sana ada dokter spesialisnya,” jawab dokter dengan nada hati-hati.

Dokter bilang saya tak usah lagi meneruskan memakai salep yang beliau beri karena tidak memberi efek apa-apa. Tapi saya tetap memakainya sekadar untuk menenangkan hati bahwa benjolan saya sedang diobati. Lagipula saya masih merawat harapan adanya keajaiban seandainya ketika saya bercermin keesokan harinya, saya akan melihat mata saya telah sembuh. Sayangnya itu tidak terjadi.

Tidak membuang waktu, besoknya saya langsung ke RS Cicendo. Dokter yang menangani saya langsung memberi putusan untuk operasi. Saya bertanya lagi sebenarnya di mata saya ada penyakit apa?

“Kami belum tahu, nanti kita cek di lab setelah diangkat. Ini jelas bukan kista karena bukan cairan. Letaknya juga tidak lazim.”

Karena dokter khawatir benjolannya akan pecah saat operasi, maka saya akan dibius umum atau bius total. Untuk itu, saya harus menjalani serangkaian pemeriksaan.

Persiapan Operasi

Seperti mengalami deja vu, saya melakukan serangkaian pemeriksaan yang pernah saya lakukan tahun lalu. Yaitu pengecekan paru-paru, tes urine, tes darah, dan tes denyut jantung (elektrogram). Alhamdulillah hasilnya baik semua.

Selanjutnya hasil berbagai tes itu harus diserahkan pada dokter mata yang langsung memberi saya jadwal operasi besoknya. Artinya, hari itu saya mesti menginap di RS untuk persiapan. Terus terang saja secara psikologis saya sama sekali tidak siap. Rasa takut mencengkeram erat. Tapi saya kuatkan diri, toh besok atau minggu depan saya tetap harus menghadapi hari operasi. Lalu saya diminta menemui dokter ahli penyakit dalam dan dokter anestesi untuk mendapatkan acc. Tentunya berbekal seluruh hasil tes. Saat bertemu dokter penyakit dalam bernama Maria, saya ceritakan ketakutan saya. Dengan senyum lembut keibuan beliau berkata, “Saya buang takutnya ya,” sambil beliau seperti mencerabut sesuatu dari tubuh saya. Saya tahu itu sekadar sugesti saja, tapi entah bagaimana saya merasa sedikit tenang.

Oh iya, sekadar info mungkin ada yang belum tahu, dokter anestesi itu dokter yang membius pasien saat operasi. Supaya lebih mengerti, saya kutip penjelasan tentang dokter anestesi berikut ini:

Dokter anestesi merupakan dokter spesialis yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi kepada pasien yang hendak menjalani prosedur bedah atau operasi. Selain memastikan agar pasiennya mati rasa, dokter anestesi juga memantau manajemen rasa sakit dan perawatan intensif pasien
Dokter spesialis ini tak hanya membuat pasien menjadi tidak sadar seluruhnya, mati rasa hanya di sebagian tubuh, atau memberi obat penenang untuk menghilangkan rasa nyeri dan kecemasan pasien. Dia juga memantau secara terus-menerus dan mempertahankan fungsi kritis hidup pasien ketika pasien menjalani seluruh rangkaian prosedur medis bedah, bedah kandungan, atau prosedur lainnya.

Setelah mendapat persetujuan dari kedua dokter, saya mengurus administrasi rawat inap. Sayangnya karena sudah terlalu sore, tidak ada kamar kelas 3 yang tersedia. Sempat terbesit untuk naik ke kelas 2 saja meskipun harus menambah biaya. Namun dipikir-pikir lagi, sesudah operasi biasanya masih butuh banyak biaya untuk pemulihan dan perawatan. Hasil dari konsultasi dengan kakak dan adik saya yaitu Teh Yunis, Teh Ika, dan Evi pun semua sepakat agar saya tak usah naik kelas. Maka saya pun tidak jadi mengajukan kenaikan kelas. Eh, ini kesannya kayak sekolah ya 😀 Bagian administrasi menganjurkan saya untuk menunggu dulu sampai jam 5 sore. Akhirnya saya mendapat kamar juga, tapi masalah lain muncul. Bulan lalu memang saya terlambat membayar BPJS, akibatnya untuk pemakaian operasi dan rawat inap, harus diurus dulu ke kantor pusat. Kalau itu dibilang kesialan, saya malah merasa itu keberuntungan. Karenanya saya malah lega mendengar bahwa operasinya mesti diundur. Memang psikologi saya waktu itu nge-drop sekali.

Besoknya Prajurit Rumput mewakili saya ke RS untuk mengurus penjadwalan ulang operasi dan pergi ke kantor BPJS pusat. Jadwal operasinya diubah ke hari Selasa. Maka pada Senin siang, saya mulai rawat inap. Sebelum masuk ke ruangan yang terdiri dari 10 tempat tidur, seorang suster menjelaskan secara terperinci tentang persiapan operasi yang harus dilakukan. Salah satunya adalah saya diminta untuk keramas dan mandi sore itu. Memang tahun lalu sebelum operasi kista ginjal, saya menyengajakan diri keramas dulu di rumah untuk antisipasi bahwa akan agak lama dari operasi saya bisa keramas lagi, belajar dari pengalaman waktu operasi caesar sebelumnya. Namun saya tidak menyangka bahwa sebelum operasi mata, semua pasien memang diharuskan keramas dulu. Tujuannya adalah karena saat memasuki ruang operasi kondisi pasien dalam keadaan bersih dan steril. Ditakutkan kuman di rambut yang letaknya begitu dekat dengan mata akan masuk saat operasi.

“Jangan khawatir kedinginan, ada air hangat kok di kamar mandi,” ujar Suster.

Sebenarnya saya agak khawatir dengan kondisi fisik yang sepertinya akan terkena flu. Soalnya hidung agak tersumbat. Takutnya gara-gara itu operasinya diundur lagi. Kali ini saya ingin segera melaluinya, tidak ingin terus-terusan merasa takut. Setelah keramas dan mandi, saya banyak makan, baru saat rambut kering saya tidur supaya fit. Malamnya saya disuruh puasa dari jam 2 dini hari. Untungnya saya kebangun untuk sahur. Padahal saya tidak menyetel alarm. Paginya dokter mengecek keadaan saya. Beliau bilang operasi sekitar jam 9 pagi, saya akan dipanggil sekitar setengah jam sebelumnya. Sambil menunggu waktu itu, saya tidur lagi dengan alasan tetap menjaga kondisi kesehatan. Saya bangun dengan kaget karena sudah dipanggil suster untuk naik ke ruang tunggu operasi. Jadinya saya hanya sempat cuci muka alakadarnya.

Untuk prosedur rawat inap dan operasi memakai BPJS akan saya bahas di postingan terpisah.

Operasi Mata

Dulu saya suka heran dengan operasi katarak masal. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin melakukan operasi langsung berjamaah begitu dan sesudahnya pasien bisa pulang hari itu juga. Soalnya sepengalaman saya, dua kali operasi, saya baru bisa jalan setelah beberapa hari. Rupanya memang operasi mata itu berbeda.

Setelah saya berganti baju dengan pakaian khusus operasi, seorang suster memberi infus. Infusnya akan dijalankan sesudah operasi nanti. Kemudian saya diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Di sana ada banyak pasien menunggu giliran dipanggil. Operasinya macam-macam, ada yang retina, katarak, dan lainnya. Kami bertukar cerita dan saling mendoakan. Saya sedikit nge-drop lagi karena ada salah satu pasien yang membicarakan tentang kematian. Rasanya kepengin bilang, “Pak, kalau bisa di ruang tunggu operasi topiknya yang menyenangkan saja.” Dua jam kemudian nama saya dipanggil.

Saya berjalan melewati satu ruang lainnya. Rupanya memang ada banyak ruang operasi di RS itu. Udara ruang operasi sangat dingin, tapi bukan itu yang membuat saya menggigil, lebih karena takut. Saya menahan diri untuk tidak melihat-lihat peralatan medis di sana supaya tidak tambah takut. Mungkin saya memang terlalu berlebihan, karena kalau melihat pasien lain sih tampak tenang-tenang saja. Untunglah tidak lama dari situ saya dibius hingga tidak sadarkan diri.

Pasca Operasi

Saya terbangun dengan cepat, saat melihat sekitar, saya berada di ruang tunggu operasi. Rasa sakit langsung menerpa mata kiri saya yang sudah berhasil dioperasi. Saya lalu dibawa ke ruangan. Sakit di mata bertahan seharian. Namun selain sakit di area mata dan tubuh lemas, selebihnya saya bisa duduk dan mengobrol dengan normal. Satu jam sesudahnya saya malah sudah bisa ke kamar mandi. Karena saya dibius total, maka saya harus puasa lagi selama tiga jam. Setelah 3 jam saya boleh minum sesedok air per lima menit. Kalau tidak muntah dan mual, saya boleh makan. Rupanya saya tidak kehilangan selera makan sama sekali, meskipun sambil menahan sakit, sambil disuapi Evi (kembaran saya) sepiring nasi plus roti tandas tak bersisa.

Mata kiri saya yang diperpan penuh dibuka malam harinya. Suster tidak memasangkan perban penuh lagi, hanya di area luka saja. Meskipun bisa melihat normal, mata saya menjadi bengkak beberapa hari. Ini normal saja katanya. Suster juga membuka infusan yang sudah habis. Beda dengan operasi terdahulu, untuk operasi mata, infusan cukup diberikan satu labu saja. Katanya untuk menjaga cairan tubuh saat puasa.

Besoknya dokter yang mengecek keadaan mata saya mengatakan bahwa saya sudah boleh pulang hari itu. Alhamdulillah. Bekas operasinya pun tidak begitu sakit lagi, hanya sesekali saja terasa nyerinya. Saya dibekali salep dan dua macam obat untuk diminum tiap hari. Mata kiri saya tidak boleh dulu kena air selama seminggu supaya jahitannya kering.

Selama sebulan pakai perban. Perbannya kegedean jadi kesannya yang luka jidatnya ya. Jahitannya padahal kecil di dekat alis.

Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

Satu minggu di rumah saya berusaha setelaten mungkin merawat luka bekas operasi, mengganti kain kasanya dua kali sehari, memakaikan salep, dan minum obat secara teratur. Sampai hari kedelapan saya kontrol sekalian membuka jahitan.

Terus terang saja, saya deg-degan menunggu hasil pengecekan lab. Takut ini itu. Alhamdulillah ternyata tumor di mata saya itu jenis lipoma yang merupakan tumor jinak. Memang menurut dokter tidak tertutup kemungkinan akan muncul lagi. Namun kebanyakan kasus lipoma tidak muncul lagi.

Tentang Lipoma

Lipoma itu benjolan lemak yang tumbuh di kulit dan lapisan otot. Sifatnya tidak berbahaya, karena tidak sakit dan pertumbuhannya lambat. Sebenarnya Lipoma seringnya muncul di area punggung, paha, leher, lengan, perut, atau bahu. Meskipun bisa tumbuh di mana saja. Memang kan, nyata pada kasus saya muncul di kelopak mata.

Lebih jelasnya saya kutip penjelasan dari artikel berikut:

Lipoma biasanya memiliki diameter 1-3 cm. Lipoma dapat tumbuh dan menjadi lebih besar, namun umumnya diameternya tidak lebih dari 5 cm. Jika ditekan menggunakan jari, Lipoma akan mudah bergerak, serta terasa lembek seperti karet. Jika lipoma tumbuh makin besar dan mengandung banyak pembuluh darah atau menekan saraf di sekitarnya, lipoma akan terasa sakit.Jika bertahan selama beberapa tahun, ukuran lipoma tidak akan berubah dan pertumbuhannya sangat lambat. Lipoma bisa tumbuh lebih besar dan lebih dalam, namun hal ini jarang terjadi.

Sumber: http://www.alodokter.com/lipoma

Saya lalu bertanya pada dokter, apa penyebab munculnya Lipoma? Kata dokter, penyebabnya belum diketahui. Pada beberapa orang muncul begitu saja tanpa sebab. Namun kemungkinan karena faktor keturunan. Kalau dari artikel yang saya baca, biasanya lipoma ini muncul pada orang dengan range usia 40-60 tahun. Untuk mengetahui benjolan itu lipoma atau bukan harus dicek ke lab atau CT Scan. Pantesan waktu memeriksa saya dokter tidak memastikan dulu penyakitnya apa, karena memang harus dicek dulu ke lab. Saya juga bertanya, bagaimana cara mencegah agar lipoma tidak muncul lagi? Atau adakah perawatan khusus untuk mencegah munculnya lipoma? Jawabannya: tidak ada. Karena asal-usul lipoma ini masih misterius, jadi tidak ada langkah pencegahan maupun cara agar tidak muncul. Namun menurut dokter, untuk mencegah penyakit tumor secara umum adalah dengan menjaga pola dan gaya hidup, serta konsumsi makanan sehat. Semoga saja ke depannya akan diketahui sehingga tidak akan banyak lagi orang yang terkena lipoma.

Kalau kamu mengalami gejala yang saya alami, jangan takut kalau memang harus dioperasi. Serahkan segalanya pada Tuhan.

Itulah cerita saya, semoga bisa bermanfaat.

Advertisements

20 thoughts on “Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma

  1. Thank you for sharing, Eva. Aku baru tahu Eva operasi. Semoga segera pulih seperti sediakala dan sehat terus ya, Eva. Postingannya menambah wawasan banget. 🙂

  2. Alhamdulillah sudah tinggal merawat luka kecil ya Va. Ikut deg degan membaca kisah runtutnya. Terutama bagian akan dioperasi. Duh… Kebayang perasaanmu

  3. alhamdulillah operasi berjalan lancar. Semoga sehat-sehat terus ya Eva.. *Aamiin.
    Makasih untuk ceritanya. Aku ingat kakakku juga punya benjolan yang tumbuh di paha. Nanti pengalaman Eva aku kasihtau kakak ya. Supaya bisa ditangani segera..

  4. Kalian miripnya bener2 ya mba :D. Aku ga bisa bedain mana eva, mana evi kalo di foto :D.
    Semoga lipomanya jg ga balik2 lagi.. Akupun selalu takuuuut tiap operasi.. Seumur2 baru 3x.. Amandel dan cesar 2x. Duuh ga pgn lagi 😦

  5. Bunyu kamu kayak aku banget, parnoan. Aku aja sekadar mau cabut gigi udah mengigil semua.
    Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Semmoga masa penyembuhannya lekas membaik dan sehat lagi. Aaamin.

  6. Allhamdulillah… tetap semangat kak Ev, tetap jaga kesehatan dan pola makan. Kalo saya yang kena udah desperate banget pasti. hahaha takut dioperasi soalnya. 😀

  7. Wah, baru tahu. Kudu waspada ya kalo Ada benjolan kayak gitu. Walopun awalnya gak sakit. Sehat-sehat selalu, Eva…

  8. Lipoma itu tumor jinak yang gak berisiko banget, tapi cukup mengganggu ya. Di punggung tepat d tengah tulang belakang ada lipoma. Awalnya sy kira itu benjolan biasa. Tapi karena full kerja duduk di depan kompi slama 2 tahunan ini, benjolannya membesar. Mulai terasa deh ganggu banget. Kalau duduk sakit sampai ke leher. Tambah bengkak bnjolannya pas pijet, eh tukang pijetnya gak tau ada benjolan di situ. 😀 Disaranin operasi kecil sama dokter, tapi belum dilakuin nih, Gak berani.

  9. Anak sulung saya kurang lebih pernah mengalami hal yang sama.
    Saya tidak tau apa sama atau tidak. Namun mereka menyebutnya “Kista Ateroma”.
    Benjolan (tidak berbahaya). Anak saya letaknya di kuduk (leher belakang)

    Di operasi sore, malamnya boleh pulang

    Semoga kita semua sehat-sehat selalu

    salam saya

  10. Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar.
    .
    Dulu saya juga pernah mengalami benjolan di lengan kanan yg tumbuh secara perlahan tapi setelah diperiksa ternyata cuma kutil dan bisa hilang dg bedah kecil tanpa anastesi.

  11. Ternyata beda ya antara tumor dan Cancer. Saya pikir cuma beda level stadium aja. Noted nih Lipoma ga hanya tumbuh di area wajar ya, malah bisa numbuh di tempat yang gak wajar.

    Semoga sehat terus ya, Kak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s