Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit

Bulan Mei tepat setahun lalu, saya dioperasi kista ginjal. Penyakit kista ginjalnya sendiri saya ketahui mendadak. Selang tiga hari setelahnya, saya masuk ruang operasi, lalu menginap beberapa hari di rumah sakit.Β Waktu itu, terus terang saya merasa takut. Berbagai macam pikiran berseliweran di kepala. Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran dan kesehatan. Saya pun bisa berkegiatan lagi dan mewujudkan beberapa impian saya.

Namun, saya tak pernah menyangka. Setahun kemudian, saya harus kembali menjalani operasi. Apalagi di bulan yang sama. Cerita kali ini bermula dari beberapa tahun lalu. Seingat saya–yang sebenarnya tak yakin waktu detailnya–sekitar 5 tahunan lalu, muncul benjolan kecil di kelopak mata kiri. Tidak merah dan tidak sakit. Maka saya biarkan saja. Tak pernah sekali pun saya periksakan ke dokter. Tiba-tiba tahun ini secara perlahan tapi pasti, benjolan kecil itu mulai membesar. Hingga 2 minggu lalu saat saya pergi ke Jakarta mengikuti sebuah acara, benjolan itu telah jelas terlihat namun tidak memerah. Esoknya, saat bangun tidur, saya mendapati benjolan itu sudah memerah dan membesar. Saya ingat-ingat, apa yang saya lakukan sebelumnya yang mungkin membuat keadaannya menjadi begitu. Tiap saya migrain, saya memang sering memainkan benjolan itu, seolah pusingnya akan menghilang. Mungkin itu menjadi salah satu penyebabnya.

Saya agak panik melihatnya. Takut mulai menyergap. Takut ada apa-apa. Maka saya pun memeriksakannya ke dokter. Saya diberi obat untuk beberapa hari. Dari dokter pertama itu, saya diberi rekomendasi untuk periksa ke dokter lain yang katanya sering menangani ‘tindakan’ mengangkat benjolan begini. Tapi baru 2 hari, saya sudah datang lagi, pasalnya benjolannya malah makin membesar. Kali ini menemui dokter kedua. Dari beliaulah saya tahu kalau benjolan ini daging, bukan cairan nanah. Sehingga tidak bisa diberi ‘tindakan’ pengangkatan biasa. Harus melalui operasi. Maka saya dirujuk ke RS Cicendo yang merupakan rumah sakit pusat mata nasional.
Di sana, saya ditangani oleh dokter ketiga. Menurut dokter, nantinya benjolan tersebut harus dicek lab untuk mengetahui jenis penyakit tumor apa.

Berita itu tentu saja membuat saya gentar. Terus terang saja, kali ini saya lebih takut lagi. Setelah menjalani dua kali operasi, saya bukan lantas menjadi kebal mendengar kata ‘operasi’, saya malah makin tercenung. Memori saya yang merekam tahap demi tahap operasi membuat tubuh kian menggigil. Selama dua minggu ini tiap malam saya dihantui mimpi buruk. Saya didera kecemasan dan insomnia.Β Kadang berkelebat pertanyaan, “Mengapa saya lagi, Tuhan?” Namun di kala datang kesadaran, saya paham, segalanya tentu memiliki arti.

Saya pun enggan bercermin dan bertemu orang. Beberapa pekerjaan yang mengharuskan tatap muka atau liputan saya batalkan. Tapi tak lantas saya memperlihatkan kemurungan di media sosial. Saya masih berceloteh tentang drama Korea dan film-film yang saya tonton untuk melepas gundah. Saya hanya mengerjakan pekerjaan yang sudah saya terima jauh sebelumnya. Mengejar sesegera mungkin selesai sebelum jadwal operasi. Di tengah stres yang melanda, saya bersyukur masih bisa bekerja di rumah, meski saya bahkan merasa mendapat sebuah keajaiban tiap kali ada tulisan atau postingan yang saya selesaikan.
Entah Allah merencanakan apa untuk saya. Namun, di waktu-waktu ini saya menjadi lebih dekat dengan Rasi dan keluarga. Bermain bersamanya bersama Prajurit Rumput di rumah. Memang, kalau saya tak mesti pergi ke RS untuk pemeriksaan ini itu yang menghabiskan waktu seharian, saya akan stay sepenuhnya di rumah.

Saya pernah cerita tahun lalu, saya sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Karena sewaktu kecil Rasi sering sakit, belum lagi saat saya yang sakit. Entah berapa lama kalau waktu-waktu itu dikalkulasikan.
Ke depannya, saya tak keberatan berada di rumah sakit, tapi untuk hal-hal membahagiakan seperti menjenguk teman yang melahirkan. Bukan hal-hal murung. Bukan yang mengguratkan kecemasan di wajah keluarga.
Saya berdoa sepenuh hati untuk itu. Saya serahkan segalanya kepada Allah. Karena hanya Tuhan satu-satunya pelindung dan penyembuh.

Insya Allah, operasi saya dilaksanakan besok. Saya minta doa teman-teman semua untuk kelancarannya.
Peluklah saya dengan doa.
Semoga Allah mengijabah, mengusir segala ketakutan dan memberi kesehatan. Dan semoga segala doa baik itu memeluk kalian juga.

Bismillahirrahmannirrahim.

***Ditulis di ruang tunggu pemeriksaan

Advertisements

18 thoughts on “Hari-Hari Yang Saya Habiskan Di Rumah Sakit

  1. Pingback: Tumor Jinak Di Mataku Itu Bernama Lipoma | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s