Memaknai Arti “Kebersamaan” Sesungguhnya

 

“Kids need their mom present, not your present (Anak lebih membutuhkan kehadiran ibunya, bukan pemberian hadiah).” –Novita Tandry

Terus terang, ketika pertama kali saya mengetahui tengah mengandung Rasi, perasaan saya campur aduk. Antara terharu, takut, dan belum siap. Waktu itu bukan kali pertama saya mengandung. Setahun sebelumnya, saya pernah keguguran saat usia kandungan tiga bulan. Sehingga saya takut hal itu terjadi lagi. Alhamdulillah Rasi lahir ke dunia dengan sangat menggemaskan.

Karena waktu itu saya masih berstatus mahasiswa, beberapa bulan setelah melahirkan, saya kembali aktif di kampus untuk menyelesaikan skripsi. Belum lagi diwisuda, saya diterima kerja di sebuah stasiun radio. Maka setiap hari, sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja, saya selalu mengurus anak dulu. Saya tidak ingin Rasi merasa kehilangan sosok ibunya. Namun, karier saya sebagai pekerja kantoran tidak berumur panjang. Ibu saya mulai kelelahan mengurus Rasi, maklum karena usia, sehingga saya akhirnya berhenti kerja. Saya memilih menjadi freelancer saja supaya bisa lebih banyak di rumah. Pikir saya, palingan sesekali saja ke luar rumah kalau ada pekerjaan yang memang mengharuskan.

Ternyata oh ternyata, menjadi freelancer pun menuntut banyak waktu. Manajemen waktu yang kurang baik membuat kehadiran saya hanya sebatas ‘hadir’, ada di rumah, tapi seringkali jiwa dan hati saya tak di sana.

Waktu Berkualitas Bersama Anak

Meskipun ada di rumah, waktu berkualitas dalam sehari bisa dibagi beberapa waktu. Pertama, sebelum anak berangkat sekolah. Biasanya waktu memandikan anak dan sarapan menjadi waktu yang menyenangkan, karena tidak ada gawai di antara kami. Rasi yang senang bercerita akan berbicara apa saja. Sebisa mungkin saya akan memberi respon excited. Kalau saya merespon seadanya, dia akan protes. Begini misalnya, “Mamah kok gitu ngomongnya? Kalau ngobrol sama Mama Pi suka semangat.” Fyi, Mama Pi itu sebutan buat kembaran saya Evi. Rasi suka memperhatikan saat saya ngobrol dengan kembaran. Makanya dia suka membandingkannya. Anaknya memang kritis.

Kedua, saat makan siang dan makan malam. Waktu-waktu ini sambil makan, kami akan bertukar cerita dengan seru. Kemudian, sebelum tidur, saya akan membacakan buku. Baik itu buku dongeng, ensiklopedia anak, maupun buku cerita dan komik. Kadang kalau bosan dengan buku-bukunya, dia akan meminta saya mengarangkan cerita sendiri.

Ekspresi Rasi tiap makan Lotte Choco Pie

Di luar itu, premium bonding moment kami adalah saat membuat prakarya. Rasi senang membuat origami. Seringkali dia mengajari saya origami yang rumit-rumit. Meskipun saya tidak tertarik pada origami, biasanya saya ikuti sampai setengah jalan. Selebihnya menyerah karena saking rumitnya. Acara membuat prakarya ini akan diakhiri dengan makan camilan bersama. Saya pilih Lotte Choco Pie yang soft cake dan marshmallow-nya dilapisi cokelat premium. Rasi suka sekali pada cokelat soalnya. Sebulan sekali saya menjadwalkan bertamasya ke mana saja. Tidak harus yang jauh-jauh, kadang cukup ke taman dekat rumah. Senang kalau dia lagi jalan-jalan gitu, jadi cepat lapar. Pasti saya sediakan camilan untuk perjalanan. Tentu Lotte Choco Pie siap sedia di tas.

Rasi dan Lotte Choco Pie favoritnya

Nyatanya, waktu-waktu itu tidak cukup untuk Rasi. Kadang pula, saat pekerjaan saya menumpuk, ada waktu berkualitas yang terpungkas. Sehingga meskipun saya ada di sampingnya, pikiran saya melayang-layang pada pekerjaan. Anak-anak memang makhluk paling peka, ketika hal itu terjadi, Rasi akan mengatakan, “Mama kayaknya lagi mikirin kerjaan ya?”

Memaknai Arti “Kebersamaan“ Sesungguhnya di Blogger Gathering With Lotte Choco Pie

Kita tentunya sepakat, tak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua yang baik. Sekolah kehidupan saat menjalaninyalah tempat pembelajaran terbaik. Namun, bagi kita yang masih memiliki orangtua, kita patut bersyukur karena dapat berkonsultasi dan didampingi dalam mengasuh buah hati. Di luar itu, kini teknologi informasi telah memberi banyak artikel untuk belajar dari para pakar ataupun psikolog. Juga telah banyak acara-acara sharing parenting diadakan banyak kalangan. Salah satunya acara “Blogger gathering with Lotte Choco Pie” bersama Kumpulan Emak Blogger (KEB) tanggal 22 April 2017 kemarin. Acara ini bermaksud makin mendekatkan hubungan ibu dan anak, bertajuk “Together, More”. Karenanya, yang diundang bukan hanya para ibu, tapi sepaket dengan anaknya. Makanya disediakan area bermain dan pojok kreatif bagi anak. Sayangnya karena Rasi sekolah, saya tidak bisa mengajaknya. Izinkan saya berbagi pengetahuan dan rasa haru yang saya dapat dari acara itu.

Pojok kreasi untuk anak

Sedari subuh saya bersiap-siap menuju Jakarta. Sesuai perkiraan, jalanan macet karena long weekend. Bahkan kendaraan menuju Bandung seperti jalan di tempat. Untunglah saya datang tepat waktu. Sempat tertegun melihat venue yang ditata sedemikian cantik. Bunga-bunga segar bertengger manis di atas meja, melebur dengan Lotte Choco Pie yang bikin kepengin menggigitnya saat itu juga.

Berpose di meja yang tertata cantik

Acara kemudian dibuka oleh mbak-mbak awet muda Mak Mira dengan interaktif. Setelah sambutan dari Mr. Hiroaki Ishiguro yang merupakan President Director of Lotte Indonesia, Mak Mira menghadirkan tiga narasumber, yaitu Mbak Oci C. Maharani dari Lotte Choco Pie, Carissa Putri sebagai Brand Ambasador Lotte Choco Pie, dan psikolog anak Mbak Novita Tandry.

Mak Mira Sahid sang MC seru

 

Ketika Carissa menceritakan bagaimana ia membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan sebagai public figure, saya merasa… kalau kata Mak Mira sih “ditampar”. Carissa yang sibuknya luar biasa saja bisa. Kok saya yang bukan siapa-siapa, keteteran terus.

Sesi yang paling berkesan buat saya adalah sharing Mbak Novita. Ini saya sampe nangis-nangis 😥 Awalnya Mbak Novita cerita tentang positif negatifnya keadaan para emak di era digital. Godaan terbesarnya, para ibu jadi terus-menerus memegang gawai ketimbang mengasuh anak. Padahal masa kecil anak tidak bisa diulang. Dan waktu begitu cepat berlalu. Memang, bukan sekarang saja, sejak dulu, para ibu memang dituntut multitasking. Saya ingat sejak kecil melihat Mama mengurus rumah, bisnis es, mengasuh anak-anak beliau, menjahitkan baju sendiri untuk orang rumah, sampai membantu Ayah di toko. Kini, di era digital, para ibu mendapat tantangan lain. Seluruh anggota keluarga seringkali sibuk dengan gawainya. Apalagi hal itu terasa sekali pada saya yang memang ‘ngantor’ di media sosial. Batas antara bekerja dan kebutuhan pribadi menjadi setipis kertas. Seringkali saya menjadikan ‘pekerjaan’ alasan untuk terus memelototi gawai. Menurut Mbak Novita, anak-anak generasi sekarang merupakan generasi instan yang daya juangnya agak lemah. Yang bisa mengubah itu semua adalah sentuhan orang tua.

Mbak Novita Tandry sedang memberi materi

Lalu Mbak Novita mengatakan hal yang membuat saya menunduk dalam-dalam. Katanya, “Yang terpenting dari kebersamaan ibu dan anak yaitu bukan hanya badannya yang hadir tapi juga jiwa dan hantinya.” Inilah yang sering luput saya lakukan, merasa sudah berada di rumah bersama anak, satu ruang dan waktu, maka merasa sudah ‘hadir’. Padahal jiwa dan hati saya tengah berkelana ke mana-mana. Kebersamaan yang sesungguhnya bukan hanya menghadirkan tubuh, tapi segenap jiwa dan raga. Kebersamaan baru benar-benar bermakna. Karena memang, ketika saya hanya sekadar ‘ada’, anak tetap merasa diabaikan. Tips dari Mbak Novita dan Carissa adalah sebagai ibu, kita mesti ‘terlibat’ dalam kegiatan anak. Bermain bersama, misalnya. Tentu saja arti ‘terlibat’ dan ‘hanya ada di tempat’ sangat jauh sekali perbedaannya.

Bersama seluruh emak kece Kumpulan Emak Blogger

Lalu sampailah pada moment saya merasa sangat tersentuh oleh kata-kata Mbak Novita, “Ketika kita merasa selalu kurang memberi anak, sesungguhnya kita telah memberi lebih. Ketika kita merasa telah memberi lebih, sebenarnya kita hanya memberi kurang.” Melelehlah air mata saya mendengarnya. Bukan karena saya merasa memberi kurang kemudian sesungguhnya saya telah memberi lebih, tapi ketika saya selalu memberi kurang pun, anak saya merasa saya tetaplah ibunya yang terbaik. Detik itu saya terbayang wajah Rasi ketika seringkali dia berucap, “You’re my best mom!” Padahal sesungguhnya tak sekali pun saya merasa telah menjadi ibu yang baik. Langsung rasanya saya kepengin memeluknya erat.

Para Emak berfoto dengan anak-anak yang telah mengikuti sesi permainan

Seusai sharing parenting, anak-anak mengikuti permainan berkelompok, sementara para ibu menyemangati mereka. Tampak wajah-wajah riang polos kanak-kanak yang meneduhkan. Muka-muka yang mengantar pada keindahan masa kecil. Semoga saya bisa memberi masa kecil yang menyenangkan buat Rasi. Acara blogger gathering kali ini begitu berkesan dan menghangatkan hati. Worth it rasanya menempuh perjalanan jauh, karena saya mendapatkan pengalaman batin. Semoga saya bisa mempraktikkan kata-kata ini: Menjadi orang tua yang memanjangkan kesabaran dan memegang amanah. Karena anak adalah amanah dari Tuhan.

Advertisements

28 thoughts on “Memaknai Arti “Kebersamaan” Sesungguhnya

  1. Sayaa juga sukaa mbaak makan lotte choco piee. Lembuut banget dan bikin nagiih. 😁😊😊 asikknyaa acara blogger gatheringnya. Ada pojok kreasi anak jugaaa. . Hwaa 😁😂😂

  2. kebersaamaan dg anak itu mengasikan ya, saat anak kecil begitu sering kiat bersama mereka , saat mereka dewasa waktu mulai berkurang krn kesibukan dan jarak yg memisahkan

  3. Iya, Va, bersama anak itu berarti jiwa dan raga bersama mereka. Banyak ortu yang salah di bagian ini. Bersama mereka tapi pikiran berkelana ke mana-mana.
    Wah, ambasadornya Carissa Putri ya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s