[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Carlos: Persahabatan Lintas Perbedaan

img_20170221_232414

Kisah persahabatan antara manusia dengan hewan ini menarik perhatian saya, karena saya sendiri mengalaminya. Bersahabat dengan kucing. Yang menggelitik kemudian adalah bagaimana penulis mengeksekusinya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang novel Carlos, mari kita kupas dulu tentang penulisnya.

erin-cipta

Kenalan Dengan Erin Cipta

Erin Cipta, ibu dua anak gadis kelahiran Cilacap, 16 April 1979. Tinggal di desa, bertani, dan mengelola perpustakaan umum di lingkungannya.  Kesehariannya mengurus anak dan kucing-kucing piaraan sambil menulis. Hindarilah memintanya bernyanyi, demi kesehatan telinga Anda. Namun jangan sungkan untuk minta dibuatkan mendoan  dan teh sereh jika Anda berkunjung ke rumahnya. Dengan senang hati ia kan membuatkannya.

Alumni Kampus Fiksi ankatan 14 ini kadang menulis untuk media massa, baik di Indonesia maupun di Taiwan. Tentu pula, lebih sering di sosial media. Jika sedang sangat santai, ia akan menulis di storial.co dan blognya.

Bisa dikunjungi di Desa Karangjati, Kec. Sampang, Kab. Cilacap. Atau melalui akun media sosial yang dimilikinya. FB: Erin Cipta, Twitter: @erin_cipta, IG: @erincipta, dan Email: erincipta@gmail.com.

Mengenal Lebih Jauh Erin Cipta Di Sesi Wawancara

Seperti biasa, saya selalu kepengin nanya-nanya sama penulis novel yang saya review bukunya. Berikut wawancaranya:

  1.  Selama proses menulis Carlos, apakah ada kesulitan yang sempat membuat ingin menyerah?
Ketika mencoba menambah jumlah halaman agar memenuhi kouta minimal yang disyaratkan penerbit, aku tak pernah berhasil dengan baik. Dari 3x percobaan, 3x pula naskah ditolak karena jelek sekali. Cerita melebar dan lepas dari rel.
Naskah baru diterima justru ketika kembali ke awal yang hanya berjumlah 102 halaman saja. Itulah mengapa novel ini jadinya tipis sekali

Mau novel Carlos bertanda tangan Mbak Erin Cipta dari Penerbit Diva Press? Mau dong ngikutin kisah sahabat sejati Ye Feng dan anjingnya yang bernama Carlos yang menggetarkan hati.

2. Apa impian Mbak Erin dalam dunia penulisan?

Aku ingin melihat buku yang kutulis diterjemahkan dalam bahasa asing

3. Ceritakan pengalaman pahit dan paling luar biasa sebagai penulis.

Pengalaman menulisku selalu menyenangkan. Bahkan ketika ditolak atau dikritik pedas pun, aku masih bisa bersenang-senang 😀

carlos

Data Buku

Judul : Carlos

Penulis : Erin Cipta

Penerbit : Diva Press

Tebal : 152 Halaman

Editor : Gunawan Tri Atmojo

ISBN : 9786023913664

Blurb :

CARLOS adalah anjing ras Akita yang diadopsi oleh Ye Feng semenjak masih bayi. Anjing itu bukan sekadar hewan piaraan di rumah ini. Ia adalah anggota keluarga. Sejak tiga belas tahun yang lalu Carlos menemani Ye Feng tumbuh dan melalui hari-harinya. Kedekatan Ye Feng dengan anjingnya melebihi kedekatannya dengan anggota keluarga yang lain. Mereka adalah sepasang sahabat baik yang saling tergantung. Cinta melampaui segala sekat antar keduanya.

Anda bayangkan!

Maka sungguh tak masuk di akal bila disuatu hari, dalam papah dan lelahnya, ada anggota keluarga yang mengusulkan supaya Carlos dieuthanasia. Sungguh kejam, jahat –seperti tidak muncul dari lidah manusia yang disebut-sebut menyimpan hati!

Cerita anjing ini bukan sekadar novel tentang kehidupan seekor anjing, tetapi adalah kehidupan itu sesungguhnya. Sebuah cinta, sebuah hubungan batin tak tepermanai, sebuah keagungan yang denyar-denyarnya sungguh mengharukan dan mengguncang jiwa manusia-manusia yang masih merawat kelembutan hatinya.
Bacalah, tahanlah air mata Anda bila mampu!

Review Buku

Tak salah jika dibilang novel Carlos memiliki gaya penceritaan yang sederhana. Namun bukan dalam artian tak memiliki kosakata yang kaya. Erin Cipta menceritakan kisah Carlos dengan lugu, apa adanya, tapi sarat emosi. Begitu memasuki halaman pertama, pembaca belum disuguhkan konflik, tapi bangunan suasana yang langsung menghangatkan hati. Sebagai pembaca, saya langsung dapat merasakan ikatan kuat antara Ye Feng dan anjingnya yang bernama Carlos.

Ia punya cinta yang sangat besar pada sahabat anjingnya. Cinta yang membuatnya mampu menerobos batas-batas kemampuan diri. Cinta yang membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. –Halaman 58

Novel ber-cover yang juga menarik oleh kesederhanaannya ini, dibangun oleh banyak sekali narasi. Sehingga dialog yang tercipta, meski tanpa tambahan keterangan bagaimana si tokohnya berekspresi, ditulis dengan kuat dan terbayang jelas di benak pembaca. Bagi pencinta narasi seperti saya, menyenangkan sekali membacanya, tapi untuk yang lebih menyukai banyak dialog pun, novel ini tidak membuat lelah.

Carlos tipe buku yang lebih banyak menceritakan kisah lewat teknik tell, bukan menggambarkan kejadian. Namun saya dibuat terkejut karena itu bukan ganjalan sama sekali, meskipun kebanyakan kejadian hanya diceritakan saja, saya merasa itu pas-pas saja.  Meski memang ada adegan yang berpotensi menyumbangkan dramitasi lebih jika didetailkan dalam satu kejadian.

Perselisihan mereka bukan untuk perkara yang membuat hati masing-masing terkoyak. Betapa pun beberapa kali mereka tak saling sepakat pada satu hal namun ikatan cinta mereka sudah terlalu kuat untuk memupuk rindu. –Halaman 75

Penokohan dalam novel ini dijelaskan cukup terperinci, termasuk bagaimana fisik anjing Carlos. Terkadang penjelasannya padat dalam beberapa paragraf, lain waktu ditebar ke dalam beberapa bagian. Hubungan emosi antar tokohnya pun terasa kuat. Pembaca dapat merasakan seperti apa kedekatan Ye Feng dengan Carlos, dan bagaimana hubungannya dengan setiap anggota keluarganya. Begitu pula dengan latar tempat kejadian, lewat tugas A Ling, pembantu rumah tangga mereka, pembaca diajak mengenal sudut-sudut rumah. Suasana kejadian pun seringkali diceritakan melalui penalaran panca indera A Ling. Atau dari rasa takutnya pada badai Soudelor, pembaca diberi pengetahuan bagaimana keadaan di Taiwan  sana, mulai dari kerusakan hingga reaksi warga. Kemunculan A Ling ini sempat mendominasi di beberapa bab, tapi saya tak merasa sedikit pun tokoh ini mencuri adegan alias mengambil alih posisi tokoh utama.

Carlos dikisahkan dengan jalinan kata yang baik. Rapi secara penulisan, enak dibaca, dan untaian kata yang bagus. Meski masih ditemukan beberapa kali penjelasan yang berulang. Antara bermaksud memberi ‘penegasan’ atau luput dari editan. Namun yang pasti, kalimat-kalimatnya menyihir karena terasa ber-roh sehingga sampai ke hati pembaca. Saya memang menemukan kata yang typo di beberapa bagian, yaitu kata-kata yang seharusnya dipisah spasi, tapi jadinya berdempetan. Namun tidak mengurangi keasyikan membaca.

Nada lagunya tak teratur,, syairnya pun terbata-bata. Namun sangat jelas terasa itu adalah senandung dari kedalaman hatinya yang paling pingit. Senandung tulus seorang pencinta. –Halaman 81

Konflik dalam novel Carlos, tidak hanya berkutat antara persahabatan Carlos dan Ye Feng, ada pula konflik kuat antara orangtua Ye Feng dalam membesarkannya. Carlos memang bukan novel yang menyampaikan konfliknya dengan ambisius. Konflik tidak disajikan dengan runcing, tapi halus namun mengena. Terus terang novel Carlos berhasil membuat saya menangis sesenggukan. Mulai dari pertengahan hingga akhir. Emosi saya diaduk-aduk, dibawa naik turun. Saya dapat merasakan ketulusan dari cinta lintas perbedaan. Cinta yang memupus keterbatasan, dan membuat percaya cinta memang penuh keajaiban. Seperti juga konfliknya yang halus, penyampaian pesan moralnya pun tersampaikan tanpa membuat pembaca digurui. Dan novel ini memberikan saya pengetahuan tentang anjing.

Saya rekomendasikan novel ini bagi kamu pecinta novel bertema persahabatan dan keluarga. 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

picsart_02-06-01-29-43

Giveaway Time

Cara ikutannya gampang kok:

1. Follow akun twitter @erin_cipta dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #GACarlos dan mention akun twitter saya dan Mbak Erin.

3. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter dan goodreads kamu.

Ceritakan kisahmu yang paling berkesan dengan binatang peliharaanmu

4. Giveaway ini berlangsung dari tanggal sampai 22– 28 Februari 2017. Pemenang akan dipilih sendiri oleh penulisnya dan diumumkan tanggal 1 Maret jam 8 malam di akun twitter saya @evasrirahayu

5. Ada satu novel Carlos bertanda tangan penulis sebagai hadiah

Ditunggu partisipasinya 😀

 

Advertisements

23 thoughts on “[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Carlos: Persahabatan Lintas Perbedaan

  1. Akun twitter: arthms12
    Akun goodreads: goodreads.com/arthms4

    Kisahku yang paling berkesan, ini mungkin ga menyenangkan sih.. jadi aku tuh suka banget melihara binatang, tapi sama mamah jangan dibolehin. Terus nenekku ngasih marmut dan untungnya setelah merayu, mamah ngizinin bawa marmut buat dipelihara di kota. Wkwk. Kebetulan, di depan rumahku ada lapangan berumput, nah gara2 aku masih kecil dan terlalu males ngambil rumput (padahal depan rumah) mamahlah yang akhirnya tiap hari ngambil rumput buat marmutku.

    Omong-omong, marmutku namanya Ref. Karena lama-lama mamahku bosen+cape, jadi aku disuruh ‘ngangon’ sundanya, atau menggembala marmutku di lapangan itu😂 tiap sore, aku bawa Ref makan rumput sambil di kandangin. Sementara aku kadang nyanyi-nyanyi, ngelamun, atau mikirin ide cerita buat cerpen sambil menikmati angin sepoi-sepoi 🙂 terus kadang aku suka mainin anaknya si Ref (ya, nenek kasih sepasang, yg betina punya kakakku, ga dikasih nama sama dia) namanya Raf. Aku sama temenku suka bawa Raf ke lapang, ngasih rumput dan yang bikin ngakak adalah Raf selalu pup setiap abis dikasih satu rumput, dan berulang-ulang terus kayak gitu. Makan-pup-makan-pup😂😂 berhubung aku dulu masih kecil, jadi hal kayak gitu aja dijadiin bahan bercanda. Maafkan aku Raf😂

    Tapi lama kelamaan Ref sakit, kata mamah, Ref makan rumput beracun.
    Saat betina dan anak-anaknya makan, Ref diem aja. Aku jadi sedih banget waktu itu.. terus, akhirnya mamah bilang Ref harus disembelih, kesian katanya kalau harus hidup tapi menderita tapi aku ga setuju dan nangis. Suatu hari aku pulang sekolah, ternyata di baskom udah ada tubuh Ref yang terpotong-potong. *horor banget*😂 Aku langsung histeris dan nanyain ke mamah. Mamah cuma bilang dg santai kalau Ref tadi pagi disembelih. Hiks T_T

    Aku setiap hari selama satu minggu karena kehilangan Ref. Inget tiap kali aku pulang sekolah biasanya aku nidurin Ref dipangkuanku, ngelus dia, sampai dipipisin pun aku cuma ketawa. Sayanggggg banget sama Ref , aku selalu menganggap Ref lebih berarti dr tmn2ku dulu, soalnya aku ini anaknya jarang main keluar.

    Setelah kepergian Ref, sisa marmut: betina dan dua anaknya dipulangkan lagi ke nenekku. Akhirnya rumahku sepi lagi, dan aku jadi sering main keluar sama temen-temenku. Intinya punya peliharaan yang disayangi itu bikin kita betah dan pengen cepet-cepet pulang ke rumah. Nggak pernah bosen dan hiburan tersendiri kalau main sama peliharaan. Sampai sekarang belum dibolehin lagi melihara hewan, tapi aku udah narget mau melihara kucing 😺

    *maaf jadi curhat*

  2. akun twitter: @san_fairydevil
    Goodreads: Tidak ada

    Ceritakan kisahmu yang paling berkesan dengan binatang peliharaanmu:
    Sejak kecil aku sudah punya banya sekali hewan peliharaan. Tujuan utamanya untuk jaga rumah. Ada Sembilan anjing dari yang kampung sampai yang agak kota sedikit. Dari kesembilan anjing itu, ada satu yang paling pintar. DIa hafal siapa tuan dan yang bukan. Dan jika bukan dia akan menggonggong sampai pemilik rumah muncul. Setiap bapak keluar rumah dan dia dirusuh jaga pintu, dia akan duduk tepat di depan gerbang, tapi jika gerbang di gembok maka dia akan mundur ke belakang. Walaupun banyak suara kendaraan yang mirip dan bahkan sering aku atau ibu salah kira, tapi dia hafal. Bahkan ketika aku atau ibu belum mendengar suara kendaraan datang, dia sudah menggonggong lebih dulu. Dan benar, beberapa saat kemudian, bapak datang dan membunyikan klakson. DIa sering diracun, tapi dengan pintarnya dia memuntahkan makanannya saat dia rasa makanan tersebut berbahaya. DIa juga pintar untuk buang bab ditempatnya, tidak disembarang tempat. Namun sayang, setelah dia bertahan paling lama daripada teman-temannya yang meninggal dan juga hilang, dia ikut hilang karena kabur bersama betina. Berhari-hari kita serumah ditambah karyawan bapak keliling komplek hanya untuk mencari dia, tapi sayang, dia tetap tidak ketemu.
    Beberapa tahun kemudian, ketika aku smp kelas dua, saudara sepupuku datang dan ngasih aku satu anak anjing warna cokelat. Hanya jenis anjing biasa. Saat dia datang dia begitu kecil. Tidak pernah seharipun aku tidak bermain dengan dia. Menggendongnya bukan sesuatu yang jarang. Hari-hari berlalu, dari dia masih kecil sampai dia besar. Dari aku masih kuat gendong sampai tidak kuat sama sekali. Setiap pagi, setiap aku mau berangkat sekolah, dia selalu berlari disekeliling kaki dan aku harus berusaha agar dia tidak berdiri dan berusaha menempelkan kakinya ke seragamku.
    Di rumah orang yang paling dia turuti adalah bapak dan baru kemudian aku. Hehehe 😀 Tap lagi-lagi sayang. Banyak orang yang tidak suka dengan kehadirannya. Jadi demi menjaga kerukunan antar tetangga, bapak berniat untuk membuang dia. Malam itu, bapak bilang ke aku, seakan minta ijin untuk membuangnya. Sejujurnya aku ingin menolak, tapi aku tahu itu percuma. Karena walaupun kuberkata tidak, bapak pasti tetap akan membuangnya.
    Besok sorenya, aku sama bapak dan anjingku naik mobil dan keliling pinggiran kota. DIcarikan jalan sejauh mungkin. Lalu ketika sudah sampai daerah yang menurut bapak dia tidak akan kembali, dia dilepas lalu ditinggal begitu saja. Sepulang dari itu aku masuk kamar dan nangis. Untuk beberapa hari, aku masih sering terdengar suara gonggongan dan rintihannya walaupun aku rasa itu hanya imajinasiku.
    Aku bermimpi, suatu hari nanti aku akan membangun atau membeli rumah yang halamannya luas. Aku akan membeli anjingku sendiri. Aku akan merawatnya sendiri. Dan walaupun tetangga atau siapapun melarang, aku bakal tetap beli kemudian merawatnya. Semoga aja mimpiku itu bisa terwujud.
    Dan aku semakin ingin setelah aku menonton film Hachiko monogatari versi western ataupun versi aslinya. Berapa kalipun aku nonton, berapa kalipun pula aku pasti nangis. 🙂

  3. @RaaChoco

    Ceritakan kisahmu yang paling
    berkesan dengan binatang
    peliharaanmu

    Sebenernya aku ga pelihara binatang ka, karena di rumahku ayah, kakak dan adikku menderita alergi, sedangkan hewan peliharaan itu lebih banyak yang berbulu daripada yang enggak. Tapi kakekku punya hewan peliharaan yang aku sukaaaa banget. Burung, sewaktu kakekku masih sehat, beliau suka memelihara berbagai macam burung. Suaranya yang merdu dan berbeda-beda membuatku merasa betah dan tenang saat di rumah nenek. Pagi dan sore kakek selalu memandikannya dengan semprotan air, membersihkan sangkarnya dan memberi makan juga buah pisang secara rutin, belum lagi ditambah siulan kakek yang seirama ketika berinteraksi dengan burung tersebut. Aku sering memperhatikan kakek melakukannya, kadang sesekali bercanda dengan burung tersebut dengan cara mengagetkannya -jangan ditiru- hehehe 😀 , tapi itu kan aku lakukan saat masih SD. Terkadang saat sore hari aku melihat kakek duduk di teras depan rumah sambil membersihkan cincin-cincin milik beliau (dulu belum zaman batu akik ka :D) diiringi siulan yang bersahutan dengan burung-burung peliharaannya. Tapi setelah kakekku wafat, burung-burung tersebut tidak ada yang memeliharanya, jadi diberikan kepada orang lain. Sedih sih, karena itu salah satu hal yang mengingatkan aku dengan kakekku. Suara-suara merdunya sudah tak lagi memenuhi rumah nenekku, semua terasa berbeda setelah kepergian kakek. Burung tak hanya mengingatkanku pada hal yang mengesankan tentang hewan peliharaan, tapi juga mengingatkanku pada kakek. Dan satu hal yang pasti, aku selalu terpesona dengan kecantikan bulu dan keindahan suara burung hingga sekarang, selalu mengingatkanku pada alam.

  4. Jadi, aku punya seekor anjing namanya belo. Nah, elo ini udah jadi sahabat keluarga kami. Dia bebas masuk ke dalam rumah. Belo itu manja kalau sama tuannya, tapi akan galak sama orang yang baru kenal dan datang ke rumah. Nah, pernah nih di rumah tikus pada berkeliaran karna kami penghuni rumah lagi jalan-jalan dan otomatis rumah kosong. Nah, belo juga di bawa sekalian. Sesampainya di rumah, belo langsung lari nangkapin tikus. Kami sedikit terkejut namun senang sekali.

    T: @MrsSiallagan

  5. @bety_19930114

    Cerita dengan hewan peliharaanku ketika aku berusia 8 tahun. Waktu itu, tanpa sengaja aku menemukan anak ayam tepat di depan rumahku. Anak ayam itu kemungkinan terlepas dari rombongan saat mengikuti induknya karena depan rumahku ada kebun kosong yg banyak ayam liarnya. Enah kenapa anak ayam itu bisa keluar dari pembatas tembok yg memisahkan antara kebun kosong dan jalan depan rumahku. Seekor anak ayam tsb sangatlah memprihatinkan. Bulunya yg orange kekuningan terlihat agak kusut dan anak ayam itu kelihatan kebingungan. Akhirnya, aku memutuskan untuk merawat dan memeliharanya. Dia aku beri nama Nio. Beberapa bulan kemudian, ekornya mulai tumbuh. Nio itu sangat jinak bahkan dia selalu mengikuti orang-orang yg lewat, mungkin dia kira induknya. Setiap sore, aku selalu mengajaknya jalan-jalan. Aku terhibur melihat tingkahnya yg lucu dan sudah menganggapnya bagian dari keluarga. Tetapi, sesuatu yg buruk terjadi. Saat aku pikir Nio mengikuti ku dari dapur, ternyata ketika aku menoleh justru mendapati Nio tidak ada di belakangku. Aku kebingungan mencari dan hanya menemukan bercak darah. Aku menyadari bahwa Nio ku telah dimangsa tikus. Nio itu hewan peliharaanku yg pertama dan satu-satunya. Pengalamanku bermain bersama Nio sangatlah berkesan meskipun kebersamaan kami hanya sebentar..

  6. Waktu kelas 2 sd aku punya hewan peliharaan. Bentuknya mirip kiura-kura tapi moncongnya kayak babi. Kalau di daerahku sih disebutnya baneng. Aku kasi nama ‘Sigam’. Aku dapetin sigam di parit besar di pinggir jalan. Waktu itu aku lagi main hujan-hujanan terus ngeliat di dalam parit ada hewan aneh gitu, kecil lagi. Awalnya aku kira kura-kura tapi moncongnya kayak babi. Aku rebutan dgn teman-teman yg cowok buat dapetin Sigam. Sampai-sampai banyak orang yg berhenti dan ngeliat apa yg kami ributkan di parit yg lebarnya dua meter dgn tinggi melebihi anak kecil. Akhirnya aku yg dapetin dan bawa pulang ke rumah. Aku rawat sigam dari kecil sampai besarnya gak ada lgi tempat buat nampung dia. Akhirnya waktu aku smp, sigam dilepasin di sungai belakang rumah kakek. Aku sampai nangis histeris pas dia dilepasin, aku cium-ciumin, sampai muka dan tangan aku kena cakaran dan digigit. Habisnya udh sayang bgt, dari kecil, tapi terpaksa di lepasin. Tapi aku senang sih soalnya kata kakek, baneng itu hewan yg dilindungi jdi gk boleh dipelihara.

  7. Akun twitter : @Zhaa_Riza23
    Akun goodreads : tidak punya

    Waktu kelas 2 sd aku punya hewan peliharaan. Bentuknya mirip kiura-kura tapi moncongnya kayak babi. Kalau di daerahku sih disebutnya baneng. Aku kasi nama ‘Sigam’. Aku dapetin sigam di parit besar di pinggir jalan. Waktu itu aku lagi main hujan-hujanan terus ngeliat di dalam parit ada hewan aneh gitu, kecil lagi. Awalnya aku kira kura-kura tapi moncongnya kayak babi. Aku rebutan dgn teman-teman yg cowok buat dapetin Sigam. Sampai-sampai banyak orang yg berhenti dan ngeliat apa yg kami ributkan di parit yg lebarnya dua meter dgn tinggi melebihi anak kecil. Akhirnya aku yg dapetin dan bawa pulang ke rumah. Aku rawat sigam dari kecil sampai besarnya gak ada lgi tempat buat nampung dia. Akhirnya waktu aku smp, sigam dilepasin di sungai belakang rumah kakek. Aku sampai nangis histeris pas dia dilepasin, aku cium-ciumin, sampai muka dan tangan aku kena cakaran dan digigit. Habisnya udh sayang bgt, dari kecil, tapi terpaksa di lepasin. Tapi aku senang sih soalnya kata kakek, baneng itu hewan yg dilindungi jdi gk boleh dipelihara.

  8. Twitter: @Rinafiitri
    Goodreads: –

    Aku sempat beberapa kali memelihara kucing. Bukan kucing yang sengaja kubeli untuk kupelihara, melainkan kucing kampung yang datang dengan sendirinya ke rumah. Awalnya hanya ingin memberi makan karena kasihan, apalagi sebagian ada yang masih kecil. Tapi lama-kelamaan kucing-kucing itu justru menetap dan jadi bergantung kepadaku. Kucing pertama, sudah agak besar dan usianya sepertinya sudah agak tua. Aku tidak terlalu lama memeliharanya. Dia mati karena memakan racun tikus di rumah tetangga. Kucing kedua, kecil. Aku merawatnya sampai tanpa kusadari ternyata dia betina dan malah sudah mau melahirkan di samping rumah. Dia melahirkan dua ekor anak. Tetapi karena ada keponakanku yang alergi, kucing itu harus diserahkan kepada sepupuku dan di bawa ke rumahnya. Malang nasibnya, kucing itu malah menghilang di sana. Ketika kutanya, dia mengaku bahwa jarang memberikan makan. Kucing yang ketiga, juga kupelihara dari kecil. Tapi ketika sudah agak besar, kucing itu diserahkan kepada pamanku karena dia sudah terlalu banyak mencuri ikan di rumah. Aku waktu itu sangat sedih, yang kuingat aku memutar lagu Jar of Hearts dari Christina Perry sambil menangis mengenang kucing itu. Semoga pertolongan yang kuberikan kepada kucing-kucing itu, bisa memberikan keberkahan bagiku. Aku pernah membaca suatu hadis, “sayangilah makhluk bumi maka engkau akan disayangi makhluk langit”.

  9. twitter : TanyaFcsh_
    goodreads : Tanya

    di saat kebanyakan orang punya hewan peliharaan di rumah mereka, aku punya hewan peliharaan di kelas aku.
    yeaayyy
    jadi waktu aku kelas 11 aku dapet wali kelas yang super duper baik dan keren abis dah!
    bahkan dia sampai membelikan kelas kami 2 pasang hamster
    itulah pertama kalinya aku punya hewan peliharaan
    kehadiran 2 hamster lucu itu sangat memberikan warna berbeda dalam kelas, saat istirahat kami jadi punya aktivitas, yaitu bermain dengan hamster dan juga pada saat pelajaran dan mulai merasa bosan aku biasanya melihat hamster yang asik bermain di roda putarannya atau malah melihat mereka tidur
    setiap minggu kami juga bergiliran membawa pulang hamsternya untuk diberi makan, karena sabtu minggu sekolah libur jadi kalau tidak dibawa pulang hamsternya mati.

    pada saat giliran aku membawanya pulang, kaka dan adik aku exiceted juga loh tapi siapa sangka kalo hamster adalah mahluk nokturnal yang sangat aktif saat malam hari hingga membuat aku tidak bisa tidur karena suara dari roda putaran hamster yang terus berbunyi, tapi itu cukup menarik karena menjadi pengalaman baru buat aku.

    namun umur hamster yang singkat juga membuat mereka harus pergi, namun aku agak sedih sih karena kematian salah satu hamster dikarenakan di makan oleh hamster yang satu lagi
    aku sama sekali tidak menyangka kalo hamster adalah mahluk kanibal yang tega memakan temannya sendiri.

    campur aduk deh perasaanku dengan hewan peliharaan pertamaku ini
    hehehee

  10. Akun twitter : @Afifah_1412
    Peliharaan bagiku dan keluargaku adalah keluarga. Peliharaan kami adalah kucing. Kini kucing ku sudah generasi ke enam dan sedang memiliki anak yg masih kecil. Kucing ku dari generasi pertama merupakan kucing kampung. Ini seharah panjang kucingku. Aku memiliki kucing saat masih sd. Kucingku kucing betina, jadi slalu punya anak dan mmbawa anknya di rmhku. Namun, ketika si anak beranjak dewasa si ibu malah menghilang pergi jauh dari anaknya. Ketika dia sesekali kembali dia sdah tak ingat anknya lg…selalu seperti itu…banyak kenangan tntang kucing. Kucingku yg mati krna sakit, kucingku yg luka, dan ada satu yg paling menyayat.
    Ini tentang kucingku generasi keempat dan ini benar2 terjadi, aku gak bohong dan hiperbola. Saat itu kucingku ada dua. Berwana hitam gelap (kesukaam mbakku) dan Berwarna putih belang coklat. Merkea saudaraan karena lahir dari induk yg sama. Ketika itu kucingku yg hitam memiliki anak dan yg coklat kg memilki anak. Naasnya anak si kucing hitam mati karena tenggelam(untung aku tak melihatnya. Kalo lihat aku oasti sedih banget). Kucing hitamku sangat terpukul. Dia terus mengeong dan melihat tempat tenggelam anaknya. Setiap hari dia mondar mandir mengeong mencari anaknya yag sudah tiada. Ketika itu si kucing hitam melihat anak si coklat putih. Dia mengira itu anaknya, jadi didekati dan dijilati. Walaupun begitu, anak si kucing coklat tak keberatan berdekat dengan “bibinya”. Begitupula si kucing coklat putih juga tak protes malah seolah menawarkan si kucing hitam merawat bersama. Aku dan ibuku bener2 terharu. Indahnya persaudaraan jg tergambar di kucing itu. Sayangnya si kucing hitam pergi karena dia memang kucing kampung. Si kucing coklat putih pun pergi setelah anknya tumbuh dewasa… Ya kini kucing ada tiga di rumah. Generasi keenam dan juga anaknya. Sesekali mereka dari geberasi seblmnya kembali.
    Kami tak pernah protes dan keberatan ketika kucing kami yg dulu kembali.
    Katena kami keluarga

  11. Akun twitter : @Afifah_1412
    Peliharaan bagiku dan keluargaku adalah keluarga. Peliharaan kami adalah kucing. Kini kucing ku sudah generasi ke enam dan sedang memiliki anak yg masih kecil. Kucing ku dari generasi pertama merupakan kucing kampung. Ini seharah panjang kucingku. Aku memiliki kucing saat masih sd. Kucingku kucing betina, jadi slalu punya anak dan mmbawa anknya di rmhku. Namun, ketika si anak beranjak dewasa si ibu malah menghilang pergi jauh dari anaknya. Ketika dia sesekali kembali dia sdah tak ingat anknya lg…selalu seperti itu…banyak kenangan tntang kucing. Kucingku yg mati krna sakit, kucingku yg luka, dan ada satu yg paling menyayat.
    Ini tentang kucingku generasi keempat dan ini benar2 terjadi, aku gak bohong dan hiperbola. Saat itu kucingku ada dua. Berwana hitam gelap (kesukaam mbakku) dan Berwarna putih belang coklat. Merkea saudaraan karena lahir dari induk yg sama. Ketika itu kucingku yg hitam memiliki anak dan yg coklat kg memilki anak. Naasnya anak si kucing hitam mati karena tenggelam(untung aku tak melihatnya. Kalo lihat aku oasti sedih banget). Kucing hitamku sangat terpukul. Dia terus mengeong dan melihat tempat tenggelam anaknya. Setiap hari dia mondar mandir mengeong mencari anaknya yag sudah tiada. Ketika itu si kucing hitam melihat anak si coklat putih. Dia mengira itu anaknya, jadi didekati dan dijilati. Walaupun begitu, anak si kucing coklat tak keberatan berdekat dengan “bibinya”. Begitupula si kucing coklat putih juga tak protes malah seolah menawarkan si kucing hitam merawat bersama. Aku dan ibuku bener2 terharu. Indahnya persaudaraan jg tergambar di kucing itu. Sayangnya si kucing hitam pergi karena dia memang kucing kampung. Si kucing coklat putih pun pergi setelah anknya tumbuh dewasa… Ya kini kucing ada tiga di rumah. Generasi keenam dan juga anaknya. Sesekali mereka dari geberasi seblmnya kembali.
    Kami tak pernah protes dan keberatan ketika kucing kami yg dulu kembali.
    Karena kami keluarga

  12. akun twitter : @mrtlrhmi_
    goodreads : –

    Binatang peliharaanku adalah kucing, jadi waktu bulan Desember kucing aku melahirkan, nah seminggu setelah melahirkan, anaknya ada dua sudah bisa membuka mata, jalan udah bisa tapi masih belum sempura. Kejadiannya terjadi setelah aku pulang UAS semester 1, kebetulan cuma aku di rumah. Sebenarnya gak ada yang dikhawatirkan sih, tapi tiba-tiba saja ada kucing laki yang lewat ketika aku duduk baca buku, kucing laki itu kucingku juga, awalnya aku kira yang dibawa tadi tikus tapi setelah mendengar suara anak kucing baru aku *ngeh kalau yang dibawanya tadi itu anak kucing, kebetulan kucing laki aku itu paling gak suka kalau ada anggota baru yang mau tinggal, dia seolah-olah ngiri gitu, dan biasanya bakal merajuk, seperti gak mau makan, entah apa gitu. Otomatis setelah sadar aku langsung ngelepasin gigitan kucing tadi, tapi susah juga karena dia menggigitnya sangat tajam ibarat menggigit tikus, dan anak kucing itu lehernya sudah berdarah. Aku berhasil melepaskan gigitan itu, tiba-tiba leher anak kucing itu mengeluarkan banyak sekali darah, aku sebenarnya takut darah, tapi karena di rumah gak ada orang, aku memberanikan diri buat bersihin tempat darahnya keluar, lalu membersihkan lehernya. Aku nangis, kasian banget dia masih kecil, kebetulan waktu kucing laki bawa itu ibunya gak ada, jadi ada kesempatan bagi kucing lain untuk masuk. Aku nangis, marah sama kucing yang laki tadi. Sebenarnya aku juga teledor, karena gak nutup rapat wadahnya, aku mikir biar ibunya nanti bakal lebih mudah masuk, dan juga belum pernah kejadian seperti ini. Anak kucing itu nangis karena sakit bekas digigit, aku bingung harus apa, terus gak lama ibunya datang dan langsung bersihan anaknya, kebetulan anaknya yang satu lagi tidak apa-apa. Beberapa hari kemudian anak kucing itu meninggal dan ini membuat aku sedih banget.

  13. akun twitter : @kunthi_kun
    goodreads : –

    Sampai di usiaku sekarang aku pernah berkali-kali memelihara bermacam spesies hewan. Mulai dari ikan, ayam, kucing, anjing, dan burung. Namun yang paling mengesankan adalah anjing dan kucing. Sewaktu SD aku memiliki seekor kucing kampung, kuberi nama Kalkun. Kalkun adalah hewan peliharaanku yang pertama. Kenapa namanya Kalkun padahal dia seekor kucing? Pikirku waktu itu biar agak mirip namaku, ada unsur kun-nya hehehe. Sungguh pemikiran yang sangat cetek. Aku menyayangi Kalkun sama seperti dia menyayangiku. Kalkun ini manja sekali, suka sekali dielus-elus. Aku merawatnya lebih dari 2 tahun usianya, lalu tiba-tiba dia hilang. Kata Ibuk dia ikut betinanya. Entahlah dia kemana, mungkin dia begitu terburu-buru sampai lupa pamitan sama aku. Entahlah, yang jelas aku sedih ditinggal dia.
    Anjing pertamaku bernama Bleki. Yah bisa ditebak dari namanya sudah pasti Bleki ini berwarna hitam. Aku suka sekali dengan ekornya, rimbun seperti kemoceng. Bleki ini jenis anjing campuran, tapi aku kurang tahu campuran apa dengan apa. Aku berteman baik dengan Bleki. Dia bukan sekedar penjaga rumah, namun juga teman curhat. Bagi Ibuk, Bleki sudah seperti anak ketiganya. Aku suka memandikan Bleki, aku suka Bleki karena tak pernah pipis dan pup sembarangan. Aku pernah hampir kehilangan Bleki. Saat itu aku sedang panik karena Ibuk meraung kesakitan, aku berlari menyeberang jalan raya untuk memanggil dokter. Aku tak tahu kalau Bleki ikut lari di belakangku. Tiba-tiba ada suara gonggongan Bleki keras sekali seperti ketakutan. Dia terserempet kendaraan. Aku jadi tambah panik. Sesampainya dirumah aku langsung mencari Bleki yang sudah duluan sampai rumah. Dia meringkuk ketakutan. Kuperiksa seluruh tubuhnya dan Puji Tuhan tidak ada luka. Kupeluk Bleki erat-erat, ternyata aku takut sekali kehilangan Bleki. Dan pada suatu subuh yang dingin, aku benar-benar kehilangan bleki untuk selama-lamanya. Dia selalu keluar rumah pagi-pagi sekali untuk pipis, namun subuh itu dia tak kembali. Dia hilang, lebih tepatnya diculik penjagal daging anjing. Aku menangisinya seharian bahkan saat di kampus aku juga masih sedih memikirkan nasib Bleki yang malang. Bleki sudah seperti adikku, wajar saja jika seluruh anggota keluarga juga sedih kehilangan Bleki.
    Beberapa tahun kemudian aku memelihara anjing lagi. Kali ini namanya Kibo, warnya coklat. Kibo ini kecilnya lucu banget, gendut, kalau jalan geyal-geyol. Kibo ini anjing kampung, jadi cepat sekali tumbuh besar. Kibo lebih tenang dari Bleki. Sama seperti Bleki, Kibo juga tidak suka pipis dan pup sembarangan. Aku menyayangi Kibo seperti aku menyayangi Bleki. Suatu ketika, Bapak pulang dari kantor membawa anak anjing. Anak anjing ras, kecil sekali waktu pertama dibawa ke rumah. Warnanya hitam, tapi kunamai Coco. Coco ini agresif sekali, tidak setenang Kibo. Coco sangat kuat dalam meyeret apapun yang diinginkannnya. Kadang kala Coco dan Bleki bertengkar(mungkin karena sama-sama jantan). Aku menyayangi keduanya. Makanannya tak pernah kubedakan, kalau Kibo kumandikan Coco juga kumandikan. Mereka lucu meski sedikit galak (pada orang asing).
    Suatu senja sepulang dari kampus, aku merasa terpukul karena keduanya sudah tak ada dirumah. Keduanya dijual Bapak. Aku marah sekali waktu itu, sedih juga. Aku menangis semalaman. Aku kehilangan keduanya di waktu bersamaan. Aku merasa kehilangan teman sekaligus adik. Hari-hariku dirumah menjadi semakin sepi setelahnya. Tidak ada lagi yang menunggu kepulanganku di pintu rumah. Aku sungguh sedih.
    Satu setengah tahun telah berlalu. Aku tak akan melupakan Kalkun, Bleki, Kibo, maupun Coco. Keempatnya selalu ada di ingatanku. Kini, aku sudah tak punya peliharaan lagi. Bukannya tidak mau memelihara lagi, aku hanya takut jika akhirnya aku harus kehilangan lagi. Aku takut jika akhirnya harus berpisah lagi. Nanti, saat rasa takutku telah hilang, aku ingin memelihara lagi, lebih bnayak tentunya.

  14. Twitter : @NelyRyanti
    Goodreads : https://www.goodreads.com/user/show/40408635-yanti

    Sebenarnya saya tidak mempunyai hewan peliharaan, entah kenapa, saya memang tidak telaten merawat hewan peliharaan. Jadi secara pribadi saya tidak pernah merawat hewan, bukan berarti saya tidak suka hewan peliharaan, saya hanya suka melihat dan bermain bersamanya.

    Di keluargaku memelihara hewan peliharaan kucing. Awalnya kucingnya hanya satu, tetapi makin lama, bertambah hingga 5 ekor. Itu dari induk yang sama, jadi makin rame rumahku. Dan yang paling memperhatikan kucing-kucing kami, adalah ayahku. Setiap hari ayah memberikan makan kucing-kucing tersebut, bahkan ayah lebih memperhatikan kucing-kucing itu daripada saya anaknya.
    Ayah kalau pergi ke pasar, pasti membeli makanan buat kucing, bukan buat kita, makanan kesukaan kucing, adalah ikan…Dan ayah tidak memperbolehkan kita makan ikan tersebut.
    Makanya kucing-kucing itu sangat deket dengan ayah, setiap ayah pulang dari kerja atau bepergian, mereka sudah menyambut di depan pintu, dan akan mengekor kemanapun ayah berjalan, sambil berisik mengeong. Dan ayah dengan senang hati diikuti kucing-kucing tersebut, sampai jalannya keserimpet. Akhirnya kucing itu pada terdiam setelah diberi makan.

    Kucing ternyata juga mempunyai naluri yaa…dia tahu orang yang benar-benar sayang sama dia. kalau saya yang masuk ke rumah…. kucing diam saja di dalam…tidak akan keluar menyambutku :)..

  15. twitter: @nunaalia
    goodreads: nunaalia

    Ceritakan kisahmu yang paling berkesan dengan binatang peliharaanmu.

    Cerita ini sudah lamaaa banget, kira-kira pas jaman sekolah. Ada kucing liar yg aku dan adikku pelihara dari kecil, kasian aja ngeliatnya terlantar gitu, apalagi kucingnya juga bersih. Jadi deh kita pelihara, buatin rumahnya dari kardus dan rutin kita kasih makan. Kucing itu kami pelihara sampai besar. Yang uniknya, si kucing sepertinya ngerti kalau dia nggak boleh buang kotoran di dalam rumah, karena itu setiap buang air dia keluar, dan kalo malam, karena pintu ditutup, dia akan mengeong di depan pintu seperti minta bukain pintu mau keluar untuk pup atau kencing. Itu yg bikin kami jadi makin suka sama kucing itu. Sebenarnya pas dia besar kami nggak secara khusus memeliharanya, atau nyiapin tempat untuk si kucing, karena dia juga jarang di rumah. Tapi lucunya setiap waktu makan pasti datang hahahaa.

    Itu deh pengalamanku bersama hewan peliharaan

  16. Nama: Haidaroh Sholeh
    Twitter: @haidarohsholeh
    Goodreads: –

    Ceritakan pengalaman tentang hewan peliharaan:
    Sebenarnya kucing hitam itu bukanlah hewan peliharaan kami, ibuku akan marah jika tahu aku ada hewan peliharaan apalagi kucing. Menurut ibuku kucing sangat pesing kalau buang air. Jadi harus jauh jauh dari lingkungan rumah. Tapi kucing hitam itu sejak baru lahir sudah di belakang rumah, dengan ketiga saudaranya yang tidak berbulu hitam.

    Inti cerita kucing hitam itu mengalami luka di kakinya, ada semacam sobek yang membuatnya susah berjalan. Turunlah hujan, maka aku dengan cepat mengamankan kucing itu. Aku masukkan dalam gudang rumah. Aku bungkus selimut dan kardus, saat tak dapat makanan aku kasih makanan. Namun kucing hitam itu tak mau menelan makanan satupun. Akhirnya saya browsing bagaimana mengasih makan untuk kucing yang lemah, yakni mengoleskan di bulunya, dan memasukkannya perlahan pakai sedotan.
    Saya ingat waktu itu di kulkas ada minyak ikan dan telur. Itulah yang saya dapatkan di internet. Saya lakukan terus menerus. Sampai akhirnya dia bisa makan sendiri. Ikan yang saya beri bisa dimakan. Namun apa mau dikata, setelah kondisi pulih, dia justru meninggal. Saya benar benar sedih dengan kepergian kucing hitam itu, dengan sekuat tenaga saya kuburkan di belakang rumah saya. Beserta selimut dan kotak makannya. Entah apa motivasi saya saat itu menguburkan selimut itu. Selamat jalan kucing hitam, sekarang dua saudaramu kemana aku juga tidak tahu. Yang berkeliaran di depan rumahku hanya satu yang berbulu kuning keemasan berekor pendek. Semoga kelak kamu bisa bertemu dengan ketiga saudaramu yang tak berbulu hitam itu.

  17. nama : siti nihlatul fuadah
    twitter : @nihlafuadah09
    goodreads : sitinihlatul

    Jujur, aku memang ga punya binatang peliharan khusus, karna aku gak terlalu suka binatang berbulu, aku lebih suka unggas. Kayak bebek, burung, ayam atau semacamnya lah. kecuali soang, atau yang biasa dipanggil sma kebanyaskan orang itu angsa. Aku lahir dari keluarga petani dan peternak. Jadi wajarkan saja jika aku lebih suka unggas yg mudah menjadi uang dibanding binatang berbulu yang senangnya bermanja-manja. *Ais… matrelialis sekali aku*

    Tapi, memang begitulah keadaannya. Aku memelihara untuk diperjual belikan. tapi ada satu burung namanya Cipo. Sebenarnya itu burung puyuh biasa seperti yg lainnya yg kakekku ternak dikandang. Tapi menurutku dia special. Kalian tahu kenapa?

    Cipo adalah puyuh yang menetas ditanganku. Waktu itu kakekku sedang membersihkan mesin tetas burung puyuh, menyortir satu persatu burung puyuh yang sudah menetas dan membuang telur-telur puyuh yg tdk ikut menetas. Aku bermaksud membantunya dengan memindahkan besek kecil yg berisi telur-telur yg tidak jadi menetas tadi kepembuangan kotoran burung digalian belakang rumah. Agar bau bangkai, kotoran, atau semacamnya tidak menyebar kedalam rumah maka kakek membuat galian itu 2 tahun lalu. (terhitung diwaktu Cipo lahir)

    aku buang satu-satu telurnys. Kenapa satu-satu tdk dekaligus, itukan termasuk telur busuk? Sudah menjadi kebiasaanku untuk bermain terlebih dahulu dengan telur-telur itu ketika membuangnya. Saat itu umurku 8 tahun. Saat dimana seorang anak sedang senang bermain bukan? Sebelum aku membuang 4 butir telur yang tersisa, salah satunya ada yg bergerak-gerak seperti hendak menetas. Aku pegang telurnya, ternyata benar dugaanku telur itu menetas beberapa saat kemudian. Bagaimana gelinya melihat lendir lengket dibadan burung yg baru sja menetas. Dengan otomatis, aku menjerit kesenangan, kakekku datang tergopoh-gopoh menghampiriku. Dia dngn raut wjah kaget seperti bertanya “ada apa?” aku hanya nyengir saja, menyembuinyikan burung keci itu dibelakang punggungku. Aku membawa Cipo kerumah temanku untuk diungsikan, karna kalau ketahuan kakek aku yakin Cipo pasti tak akan kukenali lagi karna akan dicampurkan dengan yang lainnya. Setiap hari aku merawatnya dengan telaten, jangan tanya dari mana kemampuanku ini ku dapat, jelas saja karna setiap harinya pun tanpa ada atau tidaknya Cipo aku selalu mengurus Puyuh yg lainnya bukan?

    Sampai dimana sudah hampir 3 bulan lebh dan Cipo tambah besar. Aku yakin, Cipo yg betina sudah siap dinikahkan. Dengan kepolosanku, aku mencuri jantan dikandang kakek, tak tahu sebenarnya cara menikahkannya bagaimna. Setahuku yg penting disatukan dalam satu kandang. Tapi sayang, sebelum aku menerima dan merasakan hasil dari usahaku merawat Cipo sendirian aku keburu ketahuan kakek. Kenapa kakek bisa tahu? Ternyata kakek seperti cenangan, 1 ekor burung jantan yg raib dari kandangpun ketahuan. Hahahahaha padahal setiap 1 kandang ada 50-60 puyuh dikandang, entah aku dulu yg terlalu polos atau apa. Aku juga gak ngerti sampai sekarang. Yang jelasa, setelah Cipo tdk ada yg pernah lagi jadi peliharaaanku sampai sekarang. Karna menurutku, peternakan juga sudah jadi peliharaan bukan?

  18. mungkin ceritaku gak sebegitu mengesankan, tp cukup menyenangkan jika kuingat kembali.
    aku pecinta kucing, dan sangat suka sama kucing. hewan berbulu yg menggemaskan. sudah puluhan kucing yg ku pelihara secara bergantian. dan sudah puluhan kucing pula yg kuantar utk dimakamkan.
    dari sekian banyak kucing yg ku pelihara, aku mengingat sosok coklat yg masih kecil mungil, waktu di adopsi dan dibawah kerumah umurnya sekitar dua minggu. masih merah dan belum berbulu lebat. namanya cimeng, pemberian dari nyokap. bahkan hal yg sulit dipercaya terjadi, cimeng suka sekali berdekatan dg Paci. bahkan cimeng menyusu pada Paci yg notabene adalah kucing jantan anggora yg punya. mereka kerapkali bermqin bersama di kamarku. meskipun lucu, tingkah kucing ku cukup memyebalkan. gimana enggak, kasurku seringkali menjadi tujuan dia utk tidur siang dan malam. membuat bulunya rontok dan menempel di kasur. kucingku seringkali mencakar seprai, karpet, tas hingga lukisan kanvas ku yg dimana dua hari lagi dikumpulkan sbg tugas ujian. sebel banget. paci dan Cimeng kerapkali menungguku sepulang sekolah di teras rumah. tak jarang mereka menunggu sambil tiduran di atas koset. setiap saat cimeng menenaniku belajar, duduk manis di meja belajar sambil mengibaskan ekornya. saling berbagi eskrim. selalu tau caranya membuatku tertawa. menjadi teman curhat dikala aku sedih dan bahagia. dan bahkan Cimeng menjadi saksi saat aku bertemu My first crush:D yg paling aku suka darinya itu alis, hidung dan melihat pantatnya yg menggemaskan jika berjalan sambil mengangkat ekor cantiknya:D

    hal yg membuatku menyesal adalah saat aku sedang berada di mood yg buruk dan si Cimeng mengganggu ku, tanpa berpikir dan tanpa sengaja aku menginjak ekornya sampai dia menjerit. setelah kejadian itu Cimeng spt menjauh dariku, dan selang empat hari setelah insiden ekor keinjak Cimengku yg malang menemui ajalnya, tepat di bulan ketiga setelah diadopsi oleh keluarga. entah kenapa, setelah bermain di rumput halaman depan rumah dia pulang dlm keadaan sempoyongan, spt orang mabuk dan membuatku tak kuasa melihat dia kesakitan, mengejang dan merintih. bahkan ketika menulis cerita ini saja aku menangis*oke aku alay.
    hal yg tak terlupa adalah saat aku hampir di serang oleh monyet tetangga, si Cimeng dg tubuh kecilnya mengeong, memberi isyarat ancaman tehdp monyet yg sedang tidak di dlm kandang tsb, mencoba terlihat gagah dan sangar dg tubuh kecilnya menantang monyet yg jauh lebih besar darinya. dia mencoba berusaha melindungiku yg bahkan tidak takut sama si monyet. hingga sekarang aku memiliki kucing lain, cimeng tetap di hati. bahkan adikku memasang foto Cimeng di atas televisi di ruang keluarga.
    iyaa, aku tau ini curhat:v jadi maafkan aku kak, jika jawabannya jauh dari pertanyaan yg di ajukan.

    twitter: @Kikii_Rye
    Goodreads: Kiki Ryeo

  19. twitter: @p_ambangsari
    goodreads: goodreads.com/p_ambangsari

    Sekitar 10 tahun yang lalu (ya Allah, lama banget) saya dapat hadiah dari orangtua. Sepulang sekolah ibu menyuruh saya membuka kardus akua. Ternyata itu isinya kelinci! Saya senang banget, ada yg warna putih sama abu-abu. Tapi ibu saya bilang kalo ada tiga. Lho? Ternyata ada yg hitam di pojokan. Saya kira itu kresek palstik 😂😂

    Saya seneng banget dapat hadiah itu. Kala itu saya baru 7 tahun, baru masuk SD. Sekalipun orangtua saya nggak bilang kalau itu hadiah ulang tahun, tapi saya tetap mengklaim itu hadiah ultah untuk saya. Sama seperti anak lain, kalau ada hal baru pasti jadi hal paling diperhatiin. Sama seperti saya. Tiap ada kesempatan pasti duduk di depan kandang kelinci sambil ngelus-elus mereka.

    Beberapa hari kemudian saya nangis. Si item (dipanggil “bapak”), yang saya kira kresek, kaki kanan depan digigit tikus. Dia jadi pincang, pengkor. Saya nangis, kasian sama dia.

    Karena hal itu saya dan keluarga saya makin merawat kelinci dengan hati-hati. Kandangnya udah dibuat lebih baik.

    Beberapa bulan kemudian, si putih (biasa dipanggil “mbok”) punya anak 3. Anaknya imuuut banget. Ada yang warna abu2, ada yang putih polos macam induknya, dan ada yang item.

    Saya sering di rumah sendiri, tiap pulang sekolah saya main sama bayi-bayi itu. Saya bawa mereka masuk ke ruang tamu, ngebiarin mereka lari-lari. Lantai rumah saya modelnya plester, jadi tiap kelincinya lari pasti sambil ngepot-ngepot karena licin. 😂😂

    Kalau saya udah lelah saya sering tidur siang bareng 3 bayi itu di sofa ruang tamu. Rasanya anget. Dan bikin saya nggak merasa sendirian.

    Selang beberapa saat si abu-abu ngelahirin anak juga. Sayang, bagian bawah kandang terlalu lebar space-nya, jadi anak-anak kelinci banyak yang jatuh dari kandang. Ditambah ngelahirin waktu malam hari. Jadi banyak tikus yang memangsa.

    Saya sedih lagi. Si abu2 sebenarnya ngelahirin 12 (rekor dalam dunia perkelincian saya), tapi yang hidup cuma 1. Warna coklat.

    Saya sayaaang banget sama dia. Dia itu keibuan banget. Tapi waktu anaknya besar, si coklat malah bisa dibilang bodoh. Rasa keibuannya kurang, tapi dia tetep aja imut.

    Keluarga saya memelihara kelinci selama hampir 6 tahun. Mulai dari kelinci yang biasa, jenis Australia sampai yang hias jenis Rex dan Anggora pernah dicoba.

    Yang akhir-akhir ini saya ingat yaitu kelinci jenis Rex yang dibeli di Ambarawa. Kelinci itu dibeli saat umurnya belum mencukupi untuk pisah sama induknya. Warnanya… Percaya nggak ada kelinci warna telur bebek? Nyatanya ada! Kelinci itu salah satu favorit saya. Suatu hari pernah dibeli tetangga, tapi saya nggak rela, terus saya diantar ayah saya ambil lagi kelinci itu. Tapi malah, kalau nggak salah, kelincinya ilang gitu aja atau malah mati.

    Yah begitulah, ada suka dan dukanya. Sebenanrnya ini masih separuh yang saya ceritakan #LOL tapi cukup sekian aja. wkwkwk

    Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini saya kangen punya kelinci. Pengen punya lagi tapi saya ragu bisa merawat mereka. Akhirnya saya cuma bisa ngefollow akun IG kelinci 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s