Review Novel “Wrecking Eleven” Karya Haris Firmansyah

Novel Wrecking Eleven

Novel Wrecking Eleven

Sebagai pecandu sepak bola kambuhan di ‘hanya’ musim Piala Dunia, saya cukup penasaran dengan novel “Wrecking Eleven” karya Haris Firmansyah ini, selain karena sejak personal literature “Date Note” keluar dan booming, saya memang udah kepoin tulisan Haris di blognya. Bisa dibilang saya suka humor-humor Haris.

Haris-Firmansyah

Siapakah Haris Firmansyah?

Cowok penyuka mie instan dan bergolongan darah A–sama seperti saya–ini merasa wajahnya ganteng di mata tukang parkir. Hobinya makan, tidur, dan bernapas. Kurang percaya diri memfoto diri sendiri, karena itu lebih suka memfoto buku-bukunya yang bertebaran di toko buku, seperti Date Note, 3 Koplak Mengejar Cinta, Cireng Forever, Good Hobby vs Bad Habit, All About Teens Idols, Nyengir Ketupat, dan Wrecking Eleven.

Silakan kalau masih pengin tahu segokil apa orangnya, bisa follow twitter-nya @harishirawling dan baca tulisannya di blog www (dot) harisfirmansyah (dot) com

Data Buku

Judul : Wrecking Eleven

Penulis : Haris Firmansyah

Penerbit : Ping!!! (Diva Press Group)

Tebal : 180 Halaman

Editor : Dyas

ISBN : 9786022791799

Blurb :

Sepak bola menjadi titik balik kemampuanku setelah entah sudah berapa ratus kali kalah dalam pertarungan Tazos, Bayblade, maupun Tamiya. Setelah menemukan passion itu, aku harus berjuang untuk bersama Bang Jep demi mencairkan tim sepak bola Garuda Baja yang sudah setahun dibekukan. Jatuh bangun kami menghidupkan tim kembali….

Duh, kok jadi kayak lagu.

Persatuan dan kesatuan kami diuji ketika kekalahan dan hal lain menghampiri. Rupanya, strategi dan kemampuan saja tidak cukup. Kerja sama sangat dibutuhkan. Apalagi setelah sebagian besar anggota ada yang dapat kontrak iklan sosis dan kacang atom, kumat main PS, milih nemenin ceweknya, piala Wali Kota makin berat didapat. Kami adalah sekumpulan pejuang di lapangan.

“Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat!”

Eva membaca wrecking eleven

Review Buku

Kisah-kisah perjuangan ekskul SMA selalu membuat saya tertarik, pasalnya bagi saya masa SMA itu super indah, jadinya saya suka banget bernostalgia dengan membaca buku-buku remaja. Ditambah lagi menceritakan jatuh bangunnya memenangkan perlombaan. Penasaran bagaimana penulis mengisahkan perjuangan dari nol, semacam from zero to hero. Apakah akan terlalu cepat menang atau sabar menjalin cerita dengan membuat grupnya baru bisa menuai kemenangan setelah lama berusaha.

Baik, kita mulai dengan cover novelnya. Cover-nya buat saya cukup menarik. Pemilihan warnanya seger di mata. Makin ke sini cover Diva Press Group memang makin kece. Blurbnya berkesinambungan dengan cover dan juga menarik. Kemudian di cover ada semacam tagline bertuliskan “Novel romance komedi gokil campur sepak bola”. Karena membaca tagline itu ekspektasi saya bergeser, dari awalnya setelah membaca blurb berpikir novel bakalan didominasi sama cerita bola, menjadi berpikir isi novel berisi kebanyakan kisah cintanya. Ternyata ekspektasi pertama saya yang benar. Bisa dibilang kisah cintanya terasa tempelan, dan saya agak kecewa karena ‘perempuan’ tampak sebagai pemanis. Standar cerita-cerita yang tokohnya didominasi cowok.

Selanjutnya, seorang bocah berambut berantakan dan berkacamata berdiri dengan punggung bengkok. Sekilas, gayanya mirip kakek-kakek narsis. Tapi, kalau diperhatiin lagi, dia niruin habis-habisan tokoh anime L alias Ryuzaki “Death Note”. –Halaman 68

Tokoh dalam Wrecking Eleven semuanya kuat sehingga mudah diingat, dan karakternya unik-unik. Tokoh utamanya, Seto, digambarkan seperti pecundang pada awalnya, yang kemudian perkembangan karakternya ditulis dengan baik. Seto tidak sekonyong-konyong berubah dari si kasat mata, menjadi pusat perhatian. Penyampaiannya halus sehingga pembaca diajak merasakan perjuangan Seto untuk berkembang. Tokoh antagonis masa kecil Seto, Rahmet, juga kuat. Haris membuat Rahmet menyebalkan tapi enggak bikin pembaca benci. Begitu juga dengan lawan-lawan Seto yang lain. Saya suka ketika tokoh antagonis dibuat seperti itu, jadinya enggak hitam putih, dan menulis begitu memiliki tingkat kesulitan tinggi. Kemudian tokoh satu tim Seto di Garuda Baja (Bang Jep, Sion, Tian, Irman, Cakra, dan si kembar Awan-Adi) digambarkan semua memiliki keunikan sendiri, yang meski kadang maksa tapi termaafkan karena karakter-karakter itu memiliki poin penting dalam cerita. Jadi enggak asal unik biar lucu, tapi memiliki tujuan sendiri. Buat saya tokoh-tokohnya lovable.

Setting novel ini cukup tergambar jelas. Saya bisa membayangkan tempat seperti sekolah dan lapangan bolanya, juga nuansa atau keadaan tiap kejadiannya. Namun ada yang ganjil di setting waktunya. Haris memilihan permainan yang oldies, semacam tazos. Novel ini lahir di tahun 2015 dengan tokoh utama masih SMA, jadi kurang tepat dan kekinian ketika memilih permainan itu. Pembaca remaja kita mungkin tak mengenal tazos di masa kecil mereka. Jadi kurang related ^^ Kecuali kalau memang Seto SMA di tahun 2000-2006an. Tentu itu enggak mungkin, melihat Haris memasukan unsur kekinian kentara yang booming di masa sekarang, yaitu meme dan media sosial. Atau masa kejayaan tazos pernah kembali ya? Mungkin saya yang kurang update.

Aku dan Bang Jep ngobrol di kantin sekolah. Kami makan mi ayam berhadap-hadapan. Di meja sebelah kanan, ada dua sejoli yang makan bakso berhadap-hadapan. Sesekali dua sejoli itu suap-suapan. Di meja sebelah kiri, ada sepasang kekasih yang makan batagor berhadap-hadapan. Sesekali ceweknya ngelap mulut cowoknya yang belepotan sambel kacang. –Halaman 49-50

Kemudian masuk ke cerita. Diawali dengan kumpulan anak yang sedang bermain, pembukaan novel ini cukup mengambil perhatian saya, apalagi sejak awal kelucuan sudah dibangun, meski terasa satir. Mungkin terasa remeh ketika konflik awal yang diketengahkan adalah masalah antara anak-anak, tapi justru terasa kuat karena di masa kanak-kanak itulah tokoh utama kita diperlihatkan menjadi pecundang. Untuk anak-anak, masalah mendapat pengakuan dari teman-teman lewat permainan adalah masalah berat. Pengenalan Seto pada passionnya pun  menjadi terasa halus. Salah satu bagian yang paling saya suka adalah saat Seno pertama kali bermain sepak bola di masa kecilnya. Unik aja gitu adegan itu pake gambaran theme song. Ini juga terasa dekat dengan kehidupan karena diam-diam banyak orang suka memberi soundtrack pada kejadian penting dalam hidupnya 😀 Bahasa dan diksi yang dipakai Haris ini sederhana tapi kreatif dan cukup kaya.

Mulyadi gagal karena beerapa halaman rapornya hangus terbakar nilai-nilai merah. –Halaman 26

Konflik demi konflik diberikan bertubi-tubi, tetapi enggak menyesakkan pembaca karena dibalut humor. Terus terang, ini novel komedi pertama yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, biasanya saya hanya senyum-senyum saja. Kelucuan yang dibangun Haris dalam tiap babnya enggak terasa maksa, cukup natural dalam penyisipan berbagai masalah. Kocaknya ini bikin betah baca novelnya. Kalau kamu belum pernah tertawa membaca novel komedi, bisa dicoba loh Wrecking Eleven ini, siapa tahu kita sehati, eh. XD

“Kami jagonya main kode dan sandi,” ucap sang ketua dengan muka prasejarah. “Bagi Anda yang mau memahami kode-kode yang diberikan pasangan, kami akan mengajari Anda. Kami akan ajari Anda sampai mahir. Tidak mahir, uang kembali.” –Halaman 43

Namun, seperti yang saya kemukakan di awal tadi, masalah romance-nya kerasa tempelan banget. Jadinya tagline novel lebih tepat diubah menjadi “novel komedi gokil sepak bola campur sedikit romance“. Lalu keberhasilan klub sepak bolanya kerasa agak cepat, meskipun memang di awal-awal pertandingan piala Wali Kota digambarkan kemenangan Garuda Baja adalah murni keberuntungan. Saya mengharapkan perjuangan yang lebih berdarah-darah soalnya *Plaak!* Kelebihan lain novel ini terletak di deskripsi pertandingan bolanya. Membacanya, saya serasa sedang menonton langsung pertandingan, atau minimal, lagi nonton di TV. Buat kamu yang pecinta bola, enggak akan kecewa membaca novelnya, karena kamu akan mendapat suguhan pertandingan yang banyak dan enggak monoton. Ada pengetahuan tentang istilah-istilah bolanya juga, saya jadi sekalian belajar.

Setelah bola berada di kakiku, Rahmet melakukan sliding tackle yang dia pelajari dari Hyuga. Tapi sliding tackle Rahmet bener-bener kurang ajar. Yang diembat bukan bola, tapi kakiku. -Halaman 20

Selain itu unsur persahabatannya pun cukup menyentuh. Apalagi di bagian akhir. Meskipun pekat unsur komedi, novel ini berisi. Pesannya disampaikan tanpa mengkhutbahi dan ringan diserap.

Pengalaman masa kecilku mengajarkan begitu. Mengikuti arus nggak selamanya bikin kita gaul. Bisa jadi, kita malah hanyut dan tersisihkan. –Halaman 46

Sehabis membaca Wrecking Eleven, saya makin kepengin membaca buku-buku Haris lainnya. Saya rekomendasikan buku ini untuk kamu pecinta bola dan penyuka bacaan komedi.

Advertisements

4 thoughts on “Review Novel “Wrecking Eleven” Karya Haris Firmansyah

  1. Wah makasih ya Teh Eva. Saya suka review ini karena mengulas kelebihan dan kekurangannya. Saya jadi bisa evaluasi lagi. Semoga masih mau review buku saya yang lain. 😀

  2. Baca status2 di FB & Twitter Harris yang lucu, sepertinya memang humornya bagus. Tapi aku belum pernah baca bukunya. Makasih rekomendasinya, Mak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s