Kisah di Balik Cerpen Saya di Buku Antologi Kampus Fiksi Emas 3

PicsArt_04-26-10.35.41

Waktu membaca pengumuman audisi antologi Kampus Fiksi Emas 3, saya tidak pernah menyangka kalau cerpen saya akan masuk di dalamnya. Bahkan saya tidak menyangka akan berhasil menulis cerpen untuk dikirimkan ke sana, Dari dulu saya memang jarang sekali menulis cerpen. Paling banyak dalam satu tahun 2-3 cerpen saja. Itu pun kalau ada ide kuat yang hadir di benak. Memang ada satu kala, saya cukup produktif–dalam hitungan saya–menulis cerpen, tahun itu sekitar 2012, saya menulis lima cerpen, kemudian saya kirimkan ke media dan sebagian masuk ke buku antologi.

Bagi saya, menulis cerpen adalah sesuatu yang sakral. Seringkali, saya menunggu ide-ide cerpen di kepala saya matang untuk menuliskannya.

Tahun ini, ketika membaca pengumuman audisi Kampus Fiksi Emas 3, saya tergetar untuk mengikutinya. Tiap kali akan mengikuti lomba menulis, biasanya saya menunggu getaran itu hadir. Banyak lomba yang secara akal ingin saya ikuti, tetapi tidak dibarengi getaran itu, biasanya pada akhirnya saya akan gagal mengikutinya. Sebut saja saya drama, tapi itu jujur adanya.

Buat saya, Kampus Fiksi yang didirikan oleh Penerbit Diva Press grup ini merupakan keluarga besar dimana saya mendapat banyak hal. Ilmu, keluarga, kenangan, hingga alasan kuat untuk terus datang ke kota Jogja. Karena itu pula, saya ingin sekali memiliki karya bersama mereka. Apalagi tema lomba kali ini begitu seksi: Film, Parfum, dan Musik. Boleh memilih salah satu atau dua, bisa juga paduan ketiganya.

Meski getaran itu kuat sekali, tak sekonyong-konyong ide untuk cerpen datang. Hingga deadline tinggal satu minggu, saya masih tak tahu akan menuliskan apa. Sampai saya melewati jalan menuju rumah, bertemu dengan seorang bapak yang seringkali saya temui. Bapak Malaikat, begitu saya dan Evi menyebutnya. Kami tak tahu nama aslinya, tak tahu pula dari mana asalnya. Yang saya tahu, bapak itu selalu berdiam di tempat yang sama, beberapa ratus meter dari rumah orangtua saya.

Ketika melihat bapak itulah, ide cerpen datang. Bapak ini yang memberi saya inspirasi:

PicsArt_04-26-03.25.18

Saya berimajinasi, seperti apa kehidupannya. Mungkin seperti ini, atau juga seperti itu. Saya gambarkan dalam cerpen, bagaimana kesehariannya setiap kali saya melihatnya. Kadang melamun, kadang menyesap rokok. Tapi tak pernah saya temui beliau berbicara dengan seseorang. Tak jauh dari tempat bapak itu selalu duduk, ada satu bangunan yang pada tahun lalu habis dilalap api. Sampai sekarang saat bangunan itu telah kembali berdiri kokoh, penyebabnya masih spekulasi, belum juga diketahui.

Dua hal itulah yang menjadi inspirasi saya untuk menulis cerpen berjudul Dokumenter Tentang Lelaki yang Menyekap “Seandainya” di Mulutnya. Begitulah, ide seringkali datang dari hal-hal yang dekat, kadang dari hal yang tak terbayangkan. Saya akhirnya mengambil tema film. Dalam waktu tiga hari, cerpen itu selesai saya tulis. Waktu yang terbilang singkat buat saya yang biasanya menulis satu cerpen saja membutuhkan dua minggu hingga satu bulan. Menjelang beberapa jam dari deadline, cerpen itu saya kirimkan ke email panitia. Sambil merapal mantra: kirim lalu lupakan. Pura-pura santai dan tak menunggu waktu pengumuman, padahal ketar-ketir tiap kali anak-anak Kampus Fiksi membincangkan perihal lomba XD Saat membaca 254 judul cerpen yang masuk pun, saya masih terus berusaha santai. Padahal aslinya, membaca judul-judulnya saja hati saya sudah mencelos.

Selain saya, ada Evi juga yang mengikuti lomba ini. Biasanya, kalau kami ikut, hanya salah satu saja yang masuk. Duh, beban banget :’) Namun saya tidak putus harapan, mungkin saja kali ini kami bisa lolos bersama.

Satu bulan kemudian, saat pengumuman 13 judul dan nama yang lolos dalam buku antologi Kampus Fiksi Emas 3, saya membacanya pelan-pelan.

Ada nama Evi…. Saya ikut senang, tapi semakin deg-degan.

Lalu… ada nama saya! Saya pun memekik sambil memeluk Evi yang sedang duduk di pinggir saya. Saya kabarkan berita membahagiakan itu.

Baru kali ini, kami bisa lolos lomba bersama. Rasa bahagianya jadi berlipat-lipat ^_^ Apalagi karya saya bisa satu buku dengan cerpen-cerpen lain yang bagus-bagus. Pemenang pertama, yaitu cerpen karya Siska Nurohmah yang memakai nama pena Lugina W. G. menjadi judul buku antologi Kampus Fiksi Emas 3: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya. Buku ini menjadi buku pembuka tahun 2016. Semoga setelahnya, saya bisa menelurkan karya-karya lain yang diabadikan dalam buku.

PicsArt_04-26-07.29.33

Ini daftar isi bukunya:

1. Wajah-wajah dalam Kaset Pita – Gin Teguh
2. Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan – Amaliah Black
3. Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan – Evi Sri Rezeki
4. Black Butterfly – Sugianto
5. Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya – Lugina WG
6. Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap ‘Seandainya’ di Mulutnya – Eva Sri Rahayu
7. Le Nozze di Figaro – Sayfullan
8. Goodbye – Ghyna Amanda Putri
9. Sepasang Mata Terakhir di Negeri Ini – Frida Kurniawati
10. Cintalah yang Membuat Diri Betah Untuk Sesekali Bertahan – Puput Palipuring Tyas
11. Psikadelia – Farrahnanda
12. Yang Menunggu di Dalam Cermin – Erin Cipta
13. Kisah yang Tak Perlu Dipercaya – Reni FZ

 

PicsArt_04-26-10.24.12

Bersama para penulis antologi Kampus Fiksi Emas 3: Sayfullan, Reni FZ, Farrahnanda, Ghyna Amanda, Sugianto, Evi, dan Frida.

Tentang Bapak Malaikat
Setelah pengumuman itu, saya bertemu dengan Bapak Malaikat. Saya ingin tahu latar belakangnya. Saya tanyakan di mana rumahnya? Butuh dua kali mengulang pertanyaan untuk mendapat jawabannya. Sepertinya, Bapak yang sudah sepuh pendengarannya sudah tidak begitu jelas. Katanya sambil menunjuk ke arah satu gang, rumahnya dekat sana. Saya tanyakan namanya, dia tidak menjawab. Saya tanyakan lagi, dia tetap bergeming. Mungkin Bapak Malaikat tak mau menyebutkan namanya, maka dari itu saya berhenti bertanya. Saya tanyakan apakah bapak masih memiliki keluarga, katanya ada. Tidak jelas dia menyebutkan angka 86. Bingung juga, apa maksudnya anaknya ada sebanyak itu? Rasanya tidak mungkin. Waktu saya mau bertanya untuk kesekian kali, dia menggeleng, sepertinya merasa terganggu. Akhirnya saya sudahi saja obrolan singkat kami.  Lain kali, saya ingin kembali berusaha mengenalnya lebih dekat lagi.
“Terima kasih, Pak, sudah menjadi inspirasi saya. Semoga Bapak selalu sehat.”

 

 

Advertisements

21 thoughts on “Kisah di Balik Cerpen Saya di Buku Antologi Kampus Fiksi Emas 3

  1. Wah, ada muka kucel saya di foto itu >,<
    Asik, bisa sebuku dengan Teh Eva dan Evi 😀
    Si Bapak Malaikat bener-bener misterius…

  2. Selamat ya mama rasi….. senang banget ngelihatnya… coba di share di sini cerpennya biar bisa baca😂😂😆😆

  3. Teh eva selamat yaaa. Btw semoga Bapak Malaikat senantiasa dilindungi oleh Nya yaa. Ngeliat fotonya aja saya ingin menangis. Seperti ada banyak hal yang disimpan bertahun2

  4. Duh dua duanya ada dalam satu buku, gimana kalau ketukar nama dan cerpennya…? saya aja kalau terima komen dari eva atau evi masih mikir ini yang mana ya…..baru setelah masuk blognya baru jelas deh…. 😀

  5. Pingback: 12 Cara Mempromosikan Buku [Bagian Pertama] | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s