[Cerpen] “Panggungku” Dimuat di Batak Pos Tahun 2013

 

Sumber gambar yudasmoro (dot) net

Sumber gambar yudasmoro (dot) net

Panggungku*

Oleh: Eva Sri Rahayu

 Aku berdiri di panggung. Menatap penonton yang memberikan standing applause, lalu membungkuk memberi hormat, kemudian melayangkan ciuman jauh. Tiba-tiba saja, wajah-wajah penuh binar kekaguman itupun berubah menjadi pandangan jijik dan menyunggingkan senyum penuh ejekan. Sorot lampu panggung yang biasanya membuatku tampak semakin bersinar, terasa seperti lampu sorot interogasi.

Suara tepuk tangan yang terdengar keras dan seperti tidak akan pernah putus itu ikut berubah menjadi seruan kekecewaan, dan teriakan cemoohan. Semakin keras, semakin meninggi, dan tiba-tiba saja tiang penyangga lampu panggung terlepas menimpaku!

Suara seruan pun berubah menjadi jerit histeris kepanikan.

***

Aku terbangun dengan kesedihan luar biasa, sekaligus rasa lega yang datang sama besarnya. Mimpi. Mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Mimpi itu datang karena aku terlalu khawatir akan pertunjukan nanti malam. Ya, pasti karena itu. Ini bukan pertanda atau de javu. Aku yakin. Aku menghela napas panjang, menenangkan diri, lalu bangkit berdiri dari tempat tidur, berjalan ke jendela yang gordennya masih tertutup.

Kusibakkan gorden, membuka daun jendela, dan membiarkan udara pagi memasuki paru-paruku dengan bebas. Ragaku mungkin ada di kamar ini, tapi jiwaku telah berdiri di pangggung, menunggu tirai terangkat. Malam ini aktingku akan diuji dengan peran yang sangat kontroversial, sangat menantang, sebagai wanita serigala.

Pikiranku kemudian mengembara pada saat-saat pertama kali aku memasuki dunia panggung. Dunia yang kusebut sebagai my neverland. Neverland, sebuah negeri di mana setiap orang bisa terus menjadi seseorang di waktu paling membahagiakan, masa kecil. Tapi bagiku, saat paling membahagiakan adalah saat bisa menjadi siapa saja dengan jutaan cerita yang menyertainya. Neverland-ku adalah negeri panggung.

Panggung pulalah yang mempertemukan aku dengan pria yang kucintai. Gara. Pria yang telah membuatku merasa begitu rendah sekaligus mahadewi. Aku tahu dia mencintaiku dengan sangat besar. Tapi egonya telah menghancurkan semua itu.

Kami sama-sama mencintai panggung. Karir kami pun dimulai di saat yang sama. Aku sebagai aktris teater, dan dia sebagai sutradara muda. Sayangnya, karirku jauh lebih melesat. Aku memiliki bakat alami dan aura bintang yang besar. Semua tokoh yang kuperankan begitu hidup dan bernyawa. Gedung teater tidak pernah sepenuh itu sebelum aku datang. Dalam waktu singkat, kepopuleranku telah menyamai aktris yang melegenda.

Tapi bintang yang cemerlang tidak melekat pada Gara. Semua pertunjukannya gagal, sekalipun aku terlibat di dalam garapan itu, semua penonton dan kritikus menilai pertujukan itu hanya berpusat padaku, sedangkan sutradara tidak memberi sentuhan apa-apa. Berkali-kali seperti itu membuat Mas Putra—pimpinan teater kami—tidak lagi mempercayakan garapan besar padanya. Gara frustrasi.

Aku berusaha menghiburnya, memberinya semangat. Namun sikapku justru membuatnya semakin merasa terpuruk. Sikapnya yang lembut berubah kasar. Setelah itu, aku merindukan malam-malam di awal karir kami. Malam-malam penuh perbincangan tentang mimpi-mimpi, masa depan, dan tentang cinta. Aku menyukai saat-saat dia menceritakan konsep-konsep pertunjukannya, mendiskusikannya dengan berapi-api. Semangatnya itu selalu membuatku percaya, suatu hari, dari tangannya, akan lahir sebuah maha karya. Tapi saat itu tidak juga tiba, dan waktu yang terlewati malah juga menggerogoti cinta kami.

Hujan turun, menimbulkan bau tanah basah, membuatku kembali menginjak bumi setelah lamunan masa lalu melenakan. Tersadar oleh waktu yang terbuang, membuatku bergegas untuk segera pergi ke gedung. Aku perlu menanamkan chemistry untuk pertunjukan malam ini. Kalau mau jujur, aku belum lagi siap tampil. Aku begitu kesulitan menghidupkan karakter ini. Karakter tokoh yang unik, seorang wanita yang dibesarkan oleh serigala, hingga sifatnya seperti serigala. Kesulitan ini pernah juga kukatakan pada Mas Putra.

“Mas, aku ragu memerankan tokoh ini. Aku tidak merasakan trans dengannya,” kataku pada Mas Putra, saat latihan terakhir sebelum gladi kotor.

“Rasi, kamu pasti bisa. Yakin saja, aktingmu bagus,” katanya menenangkanku.

“Tapi aku merasa seperti robot, hanya mengucapkan dialog yang harus kuucapkan, dan bergerak sesuai tuntutan naskah saja!” jeritku frustrasi.

“Tiket sudah sold out, kita tidak mungkin mengundurkan pertunjukan. Jangan manja!” tegas Mas Putra membuatku terdiam dalam diam yang paling diam.

Dan di sinilah aku sekarang, berdiri sendirian di atas panggung yang telah selesai di setting menjadi hutan rimba buatan. Tidak lama kemudian, satu persatu dari tim berdatangan. Mereka menyapaku semringah, memberi semangat. Di negeri Neverland-ku ini, aku tidak pernah sendirian. Setiap pertunjukan adalah hasil kerja keras banyak tangan dan keringat. Mulai dari penjaga tiket, office boy, para penata, hingga aktor dan sutradara. Merekalah yang sesungguhnya menciptakan Neverland-ku.

Pintu gedung terbuka untuk kesekian kalinya. Aku menangkap sosok Gara yang tak sedikit pun menatapku. Padahal aku yakin, dia tahu betul saat ini aku sudah berada di panggung. Tapi bukan itu yang membuat hatiku tersayat. Aku sudah biasa diperlakukan tak acuh seperti itu. Yang membuatku tak enak hati, karena sekilas, aku seperti memergokinya sedang mengerling nakal pada Tira—seorang aktris baru di teater kami. Tira hanya sebentar melintas di depan Gara. Tira sedang berjalan ke arahku, membawakan kostum yang akan kugunakan nanti malam. Tapi hatiku tak bisa dibohongi, aku mencium sesuatu yang tak beres.

***

Aku tidak pernah menyangka pertunjukan ini akan menjadi kuburan bagi karir keaktrisanku. Saat pertunjukan tiba, dengan penuh rasa gugup aku memasuki panggung. Aura panggung yang besar selalu menyedotku, mengubah diriku “menjadi” tokoh yang harus kumainkan, dan bukan “berperan”. Tapi kali ini aku tidak bisa. Aku kebingungan. Berkali-kali aku salah mengucapkan dialog, salah blocking, dan bahkan salah mengambil properti.

Pertunjukan yang harusnya menjadi luar biasa dan mengharu biru itu berubah menjadi sebuah komedi. Tidak pernah terjadi sebelumnya, Mas Putra sebagai sutradara sampai menghentikannya di tengah-tengah, membuat penonton semakin menggila. Mereka berteriak-teriak memaki, dan melempari panggung. Pertama kalinya aku tidak ingin berada di panggung. Aku takut. Melihatku malah terdiam shock, Mas Putra dengan kasar menyeretku ke belakang panggung.

Di pinggir panggung, aku melihat seringai puas muncul di bibir Gara. Apa mataku salah melihat? Apa yang dipikirkan lelakiku hingga bisa berekspresi seperti itu? Tapi pikiran tentang Gara harus segera kusingkirkan, karena Mas Putra segera mendampratku tanpa ampun. Dalam rasa takut dan kecewa pada diri sendiri, aku mendengar semua kata-kata menyakitkan Mas Putra. Tak ada bantahan, bahkan aku sama sekali tak membuka mulut. Aku terus diam, kali ini tanpa ekspresi, tanpa topeng apa pun.

***

Subuh sudah menyapa, tapi gagal membuatku terlelap. Aku sangat gelisah. Bayangan kejadian di atas panggung terus menghantui. Beginikah sakitnya gagal? Beginikah perasaan Gara setiap kali pertunjukan yang disutradarainya berakhir? Aku bukan tak pernah gagal, tapi merasakan jatuh seperti ini … jelas baru pertama kali. Ini bukan hanya sekadar jatuh, tapi hancur. Aku harus menumpahkan kesedihanku pada seseorang, dan orang pertama yang kupikirkan adalah Gara.

Maka aku menelepon Gara, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Aku menyusul ke apartemennya. Tapi setelah aku membuka pintu dengan kunci milikku yang diberikan Gara, dia tetap tidak kutemukan. Sial, ke mana dia?

Dengan segala kecemasan, kesedihan, dan galau yang memuncak, hanya satu tempat yang kupikirkan, panggung! Ya, aku harus kembali ke sana. Menyelesaikan semua keresahan di tempat asalnya. Bukankah berada di panggung selalu membuatku tenang? Bukankah panggung telah menjadi rumah bagiku?

Aku segera pergi ke gedung teater. Gedung telah sepi. Perlahan aku membuka pintunya. Berjalan dalam gelap di antara bangku-bangku penonton. Bangku-bangku yang berderet ini tadi penuh oleh penonton, mereka datang untukku. Sesak sekali dada ini, seperti tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Aku duduk di salah satu bangku, menatap lurus ke depan. Tirai panggung tertutup, tapi cahaya samar dari lampu di baliknya menyusup di antara sela bawah tirai.

Bagaimana perasaan mereka saat melihatku bertindak tolol? Pasti, bukan hanya aku yang kecewa, mungkin mereka lebih merasa kecewa dari yang kurasa. Cukup! Aku tidak bisa selalu menyesali diri bila mengingatnya. Aku beranjak dari bangku penonton, lalu berjalan mendekati panggung.

Samar aku mendengar suara desah napas. Siapa malam-malam begini masih berada di panggung? Di panggungku? Aku mempercepat langkah, semakin mendekati arah suara. Sekarang terdengar bisikan pelan seorang pria, disusul tawa genit seorang wanita. Kusingkap tirai panggung, dan hampir membatu melihat dua sosok yang kukenal tengah bercinta di panggung.

“Rasi!” teriak Gara kaget.

Sedangkan Tira menjerit sambil menutupi tubuhnya. Aku dan Gara berdiri berhadapan.

“Kenapa?” tanyaku singkat dengan nada getir.

Gara membuang muka, tapi sekejap kemudian tertawa keras.

“Mau bergabung bersama kami di panggung ini, aktris besar Rasi?” tanyanya sinis. Nada mencemooh itu semakin membuatku terluka.

“Teganya kamu, di panggungku!” kataku histeris.

“Panggungmu? Egois sekali! Oh, iya, aku lupa. Tadi kamu bermain sangat brilian, Sayang.” Gara bertepuk tangan, suaranya membahana di panggung.

“Cukup! Kamu keterlaluan!”

“Kamu pikir aku sedih melihatmu gagal? Tidak, Sayang, aku berpesta….”

“Inikah … inikah sosok pria yang kucintai?” tanyaku, lebih pada diri sendiri. Sekalipun aku setengah mati ingin menangis, tidak kujatuhkan satu tetes pun air mata.

“Cinta? Jangan pernah bicara cinta. Cinta hanya ada di panggung, setelah itu semuanya hanya mitos,” lanjutnya. Kata-katanya terus mengiris.

Kutatap jauh ke dalam matanya. Mata itu hanya menyorotkan kebencian, membuatku tersentak. Kenapa kamu membenciku, lelakiku? Sudah tidak tersisakah cinta itu? Pandangannya menyadarkanku, tidak ada yang tersisa dari hubungan kami. Mungkin, sebuah perselingkuhan masih bisa kumaafkan, tapi ketika cinta telah menguap, apalagi yang bisa kupertahankan? Dengan sisa harga diri, aku berlalu meninggalkan Gara yang tertawa puas. Suara itu lebih mengerikan dari lonceng kematian.

***

Ajaib, hanya itu kata yang tepat ketika akhirnya aku bisa tidur tanpa bermimpi. Meskipun terbangun dengan kepala pusing dan menerima rentetan kritikan di koran-koran. Nyatanya dunia tidaklah kiamat. Semua ini juga tidak bisa membunuhku. Aku masih bernapas, merasakan angin yang melintas di tengkukku, juga sengatan matahari yang membakar.

Maka aku memberanikan diri untuk sekali lagi berdiri di panggung. Melunaskan hutang kegagalan. Aku telah membulatkan tekad, aku tidak akan menyerah, aku tidak akan meninggalkan negeri Neverland-ku! Aku menemui Mas Putra dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri yang lebih besar daripada yang pernah kurasakan sebelum-sebelumnya. Meyakinkannya agar malam ini tetap diadakan pertunjukan. Mas Putra akhirnya setuju juga.

Tapi kami harus menelan konsekuensi dari kegagalanku kemarin, karena lebih dari delapan puluh persen penonton mengembalikan tiket. Sebelum pertunjukan, tetap terjadi kegaduhan seperti biasa—hanya kali ini, bukan keributan penonton yang tak sabar ingin memasuki gedung—tapi mereka tak sabar ingin mendapatkan uang pengembalian tiket. Semuanya tampak pasrah, tapi tidak bagiku. Aku akan mempertahankan Neverland-ku, aku akan tetap pentas. Walaupun hanya untuk satu atau dua penonton, karena mereka datang untukku. Dan sekali lagi aku memasuki negeri milikku itu.***

 

Bandung, 2012

*Pernah dimuat di Batak Pos tahun 2013 dengan judul Neverland

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “[Cerpen] “Panggungku” Dimuat di Batak Pos Tahun 2013

  1. Dilanjutin boleh ngga? Rasi sukses mengembalikan panggungnya dalam genggaman. Trus Gara melongo. Trus Rasi dapet laki2 lain yg lebih kece. Hehehehe.. Habis gemes bgt sama si Gara

    Betewe ini baguuusss mbaa.. Mba eva suka teater juga ya kayaknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s