[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Anak Pohon Karya Haditha

12368999_10205155733241583_3809306404907955656_n

Cover E-book Anak Pohon

Pertama kali saya tertarik membaca novel “Anak Pohon” karena mengandung kampanye lingkungan di dalamnya. Hadhita penulisnya bercerita sedang giat mengkampanyekan #SaveTheTreeSaveTheWorld salah satunya dengan pemilihan bentuk e-book yang paperless sebagai langkah nyata. Meskipun saya belum terbiasa baca e-book dan lebih suka menghirup bau kertas buku, novel “Anak Pohon” ini jadi e-book pertama yang selesai saya baca.

pin

Siapa Haditha?

Mari kita berkenalan dengan penulis yang aktivis lingkungan ini. Biodatanya bisa kamu baca di pict ini:

1620514_10153609052167872_9203523654857272019_n

Nah kalau yang ini penampakan penulisnya 😀

10329120_10153622649442872_8408494800430820531_n

Fun Fact Novel “Anak Pohon”

  1. Kenapa Handitha nulis Anak Pohon?
    Karena melaluinya saya bernostalgia terhadap desa tempat saya tinggal dulu. Setting ceritanya bertempat di desa Kebonagung. Which is adalah tempat saya 12 tahun pernah tinggal bersama Pakdhe.
  2.  Selain setting, apalagi yang diambil dari kenyataan?
    Memang banyak elemen-elemen dalam cerita yang saya masukkan itu asli. Beneran ada. Seperti sumur dan legendanya, itu betulan ada.
    Sumur itu sendiri…. di samping rumah saya persis. Cuma ya dipoleslah cerita besarnya.
    Sedang karakter yang asli ada itu Laskun, Djabrik, Kamiyadi, Waras, Bowo, Pak Karno, Mas Yulis, dan Ustad Tajir.
    Tapi ya diedit sedikit pembawaan karakter dan umurnya. Menyesuaikan kebutuhan cerita.
  3.  Novel “Anak Pohon” ini berapa kali revisi sebelum drafnya final?
    Dua kali revisi. Draf kasarnya ada konten vulgarnya. Nah, bagian itu yang dipangkas.

Sekarang kita masuk ke pembahasan novelnya.

Data Buku

Judul : Anak Pohon

Penulis : Handitha

Penerbit : Fantasious

Tebal : 208 Halaman

Editor : Dini Novita Sari

ISBN : 9786026922014

Blurb :

Satu kisah misteri mencuat dari keberadaan sebuah pohon angker di bekas runtuhan sumur. Satu misteri yang memberi kehidupan bagi makhluk lain. Misteri yang tak bisa dipecahkan oleh warga sekitar. Misteri yang dibiarkan menjadi legenda menyeramkan. Ini tentang hidup seorang gadis bernama Nuansa Aruna. Seorang gadis anomali yang menyingkir dari pergaulan normal.
Menghilangnya anak-anak perempuan dengan pola yang sama, usia delapan tahun, sore hari, dan pohon keramat. Mengingatkan warga desa terhadap peristiwa yang pernah terjadi bertahun silam. Kabarnya peristiwa itu pernah menimpa Nuansa.
Nuansa yang penasaran semakin terjerumus ke dunia lain ketika berulang tahun ke-16. Bertemu dengan makhluk-makhluk halus penghias mimpi-mimpinya. Semakin ia terlibat, semakin ia menjadi bagiannya. Pada saat tulang belulang ditemukan di dekat pohon angker, luka-luka lama terbangkitkan. Desa Kebonagung bersiap menyaksikan peristiwa yang tak akan dilupakan seumur hidup.

Review

Buat saya, cover Anak Pohon ini menarik, karena mata sosok lelaki yang sepertinya gambaran anak pohon itu menyorotkan kekosongan. Ditambah gambar pohon dalam tubuhnya, memberikan kesan misterius sekaligus horor. Serasi dengan font penulisan judulnya. Cover-nya juga sudah berhasil menggiring gambaran pembaca tentang lokalitas yang cukup pekat di dalamnya. Seandainya judul “Anak Pohon” bukan berwarna merah. dan saya belum membaca blurbnya, saya sepertinya akan mengira novel ini antara novel kisah anak pedalaman atau novel horor. Blurbnya cukup menggambarkan isi novel, tapi masih kurang nendang. Namun sudah cukup membuat pembaca horor penasaran.

Kalaupun Haditha tidak bercerita kalau kebanyakan tokoh-tokoh dalam Anak Pohon diambil dari karakter nyata, membaca novel ini saya sudah bisa membayangkan seandainya tokoh-tokoh itu benar ada, karena memang dituliskan dengan sangat hidup. Selain dari segi fisik, perwatakannya pun sangat jelas. Antara satu tokoh dengan tokoh lain memiliki kekhasan dan tidak saya temukan stereotipe, kecuali tokoh tiga cewek pesolek di kelas Nuansa. Yang meskipun karakter standar teenlit, tapi toh memang selalu ada yang berwatak begitu dalam satu sekolah. Tokoh favorit saya adalah Djabrik dan Laskun yang sebagai anak muda zaman sekarang cukup digambarkan kekinian namun kental kelokalannya.

Kenapa orang harus menghakimi orang lain, sebelum mengenal mereka? -Halaman 54-

Lokalitas dalam novel Anak Pohon saya baca cukup total. Mulai dari pemilihan tempat, legenda, kebiasaan masyarakat, sampai bahasa. Bahasa Jawa bertebaran di setiap bab, membuat saya merasa berwisata ke Jawa. Teknik memberi pengertian pada pembacanya pun tidak menggunakan footnote, sehingga saya tidak sedikit-sedikit mesti melihat ke bawah. Tetapi langsung diartikan di pinggir, kadang dalam satu kalimat. Saya menemukan teknik ini dalam novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala. Kalau peletakannya tidak tepat, bisa jadi aneh. Namun menurut saya di novel ini berhasil. Saya berharap Handhita bakal menulis novel bernuansa lokalitas lagi, tapi bukan horor. Karena kebanyakan novel lokalitas yang saya baca memang mengambil unsur legenda mistiknya sebagai unsur lokalitas terbesarnya.

Konflik novel ini sudah disuguhkan dari awal. Bab per bab menyajikan ketegangan dan misteri. Meskipun tidak begitu rapat. Namun naik turunnya terasa mengalir. Karena tegang, saya beberapa kali berhenti untuk mengambil napas. Novel ini berhasil membuat saya penasaran sampai akhir. Apalagi soal angka “8” yang begitu keramat. Selain masalah mistis, ada juga masalah persahabatan dan cinta. Saya suka bagaimana Haditha menjalin chemistry antar tokohnya. Namun ada satu bab yang saya rasa dragging, yaitu bab Nuansa dan teman-teman band Djabrik. Kelewat panjang sehingga jatuhnya membosankan. Mungkin penulis ingin memperlihatkan keseruan dan warna-warni masa muda. Namun ya menurut saya kebanyakan. Seperti satu halaman untuk lirik lagu, ketimbang memilih lagu barat, akan menjadi nilai tambah jika justru yang ditulis adalah lirik lagu daerah. Lalu satu masalah tentang persahabatan Nuansa-Eka-Nanda diselesaikan dengan mudah sehingga jatuhnya kurang berkesan.

Kata-kata indah adalah seni tertinggi. Bisa sekaligus bermakna juga hampa, tergantung kepada siapakah kata-kata itu dilontarkan. -Halaman 98-

Pemilihan tokoh remaja menurut saya menarik. Karena bisa merangkul pembaca remaja. Memberikan mereka bacaan lokalitas tapi cukup kekinian, sehingga mudah diserap.

Pemaparan setting-nya tergambar jelas, detail tapi tidak kebanyakan. Ending novel ini realistis, sehingga rasanya sangat pas. (Mungkin spoiler)Tidak utopis, tidak juga tragis karena memberikan pengharapan.  Editan novelnya juga rapi, bikin nyaman dibaca. Terakhir, pesan yang disampaikan novel ini sangat menonjol, meskipun penyampaiannya terasa menggurui.
Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini. 3,5 Bintang untuk Anak Pohon.

GIVEAWAY

Ebook Tour

Mau e-book Anak Pohon? Ikutan giveaway-nya yuk. Caranya:

1. Follow akun twitter @hahahaditha dan @evasrirahayu

2. Twit info giveaway ini dengan tagar #AnakPohon dan mention akun twitter saya dan Haditha.

3. Peserta harus memiliki akun gmail

4. Like FP Anak Pohon di Facebook

5. Jawab pertanyaan saya di kolom komentar dengan menyertakan akun twitter kamu.

Ceritakan pengalaman paling berkesan kamu yang berhubungan dengan pohon. Bisa pengalaman seram, menyenangkan, menyedihkan, pokoknya yang berkesan.

 6. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 15-20 Maret 2016. Satu pemenang akan mendapat e-book Anak Pohon. Pengumuman pemenang pada tanggal 21 Maret 2016 jam delapan malam di akun twitter saya.
Ditunggu partisipasinya ^_^

 

Advertisements

11 thoughts on “[Blog Tour] Review + Giveaway Novel Anak Pohon Karya Haditha

  1. Akun twitter saya @danirachmat Teh… Ikutan yaa.
    Pengalaman paling berkesan dengan pohon adala, pepohonan gak pernah bosan menyediakan tempat bermain dan berpetualang buat saya dan adek. Dulu jaman kecil di kampung, kami masih termasuk anak kampung yang gak punya permainan mentereng macem Nitendo ato apalah itu. Jadi sehari-hari sepulang sekolah selain berlarian keliling kampung, kami juga suka memanjat pepohonan bareng anak-anak tetangga. Pohon yang kami panjat mulai dari kersen sampe ke pohon jambu dan belimbing wuluh (yang buahnya ijo kecil-kecil asem). Di atas pohon kami selalu bisa menemukan permainan seru (meskipun takut jatuh) mulai dari tebak-tebakan sampe banyak-banyakan mengumpulkan jambu atau buah kersen. Paling seru adalah ketika orang tua kami mencari dan kami saling cekikikan menahan nafas dan menahan suara waktu melihat orang tua kami kebingungan nyari. Tentu saja cubitan dan pukulan kecil selalu kami dapatkan. Pohon adalah salah satu dunia penuh fantasi buat saya dan adik 😀 *maaf kalo kepanjangan 😀

  2. Pengalamanku bersama pohon sepertinya sama dengan anak-anak kecil kebanyakan. Dulu di depan rumah ada pohon jambu air yg ditanam alm.Kakek. Setelah beberapa tahun, pohon jambu itu tumbuhlah besar dan berbuah. Yang unik dari buah pohon jambu ini adalah bijinya besar, hampir memenuhi separuh isi jambu air itu, jadi daging jambunya juga tipis. Baru kali ini deh nemu jambu air seunik buah dari pohon jambu-ku itu. Kalau pohon itu sedang berbuah, aku dan adikku yg sama-sama perempuan hobi manjat pohon itu dan makan jambu di atasnya. “Udah kayak monyet aja, makan buah di pohon!” kata mamaku hahahaaaa…
    Sayangnya sekarang pohon jambu itu sudah nggak ada, ditebang karena untuk perluasan rumah 😀
    Karena pertanyaan tentang pohon ini, jadi kangen pohon jambu-ku itu deh. Dan sampai sekarang aku juga belum pernah nemuin lagi buah jambu air yg seperti milik pohon jambu-ku dulu itu.

    @nunaalia

  3. Saya tinggal di kawasan apartemen Kalibata City. Persis di depan tower kami, Borneo, ada sebuah pohon mahoni yang sangat besar. Pohon itu satu-satunya pohon asli yang tersisa saat pengolahan lahan kosong untuk 20 tower bangunan vertikal ini. Bukannya tak mau dirobohkan tapi tak bisa. Buldozer didatangkan tapi pohon itu bergeming. Akhirnya para perancang mengubah cetak birunya dan membiarkan pohon yang diduga berusia lebih dari 100 tahun itu berdiri kokoh tak tergoyahkan @hpmelati

  4. Twitter @t2h_okti

    Pohon tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Sejak kecil di Bandung, saya sudah berada di lingkungan kebun yang ditanami berbagai buah-buahan dan pohon cengkeh.
    Kenangan tidak terlupa saat masa sekolah dasar itu manakala kami panen pohon alpukat, kepala saya terkena buah alpukat jatuh sebesar mug! Saya pingsan, sadar sadar kepala sudah diperban. Teman2 ngeledek saya pitak karena kepala saya ada botak sedikit. Rambut saya dipotong sedikit supaya memudahkan mengobati bagian yang benjut kemana buah yang jatuh dari pohon alpukat itu.

    Masa SMP di Tasikmalaya tidak jauh juga dari pohon. Maklum di kampung, sekitar rumah kebun yang banyak ditumbuhi pohon. Ada pohon kersen dekat kolam ikan. Setiap hari saya pasti naik. Ada buah ga ada buah, nangkring di pohon kersen jadi kebiasaan yang mengasikan.

    kelas tiga, saat ada teman ke rumah saya ajak mereka main di pohon kersen itu. Kami berempat naik bareng bareng. Tanpa kami sadari, dahan kersen tidak kuat menahan beban berat kami berempat. Akhirnya dahan patah, tidak bisa turun secepatnya kami berempat semua kecebur ke dalam kolam. Hahaha… Malu tapi dibuat asik aja.

    Ketika ke kampung mau masuk listrik, sekitar tahun 1993an, sepanjang jalan dari kapung ke jalan raya semua pohon yang tanahnya jadi jalan tiang listrik ditebang. Dari sekian banyak pohon yang ditebang itu yang tahu nama dan jenisnya ialah pohon kelapa. Jika buah dan batangnya diambil oleh pemilik, tidak dengan daunnya.

    Kebetulan Nelis teman satu bangku selama tiga tahun di SMP, juga teman satu kampung teman jalan pulang pergi sekolah pandai membuat cangkang ketupat. Selama hampir dua minggu setiap pulang pergi sekolah Nelis dan saya mengambi daun kelapa yang berserakan di jalan. Nelis dengan tekun dan sabar mengajari saya membuat cangkang kelapa. Alhamdulillah saya bisa. Hingga kini setiap lebaran saya lah di keluarga yang menjadi tukang buat cangkang ketupat.

    Sudah pindah ke Cianjur pohon tak lepas juga dari keseharian saya. Selain pohon buah yang sudah umum ditanam di pekarangan, seperti jambu, pepaya, mangga, rambutan dan belimbing, di halaman seputar rumah juga kami punya pohon buah-buahan yang saat ini bisa dibilang langka. Ada asam kranji, huni, campoleh, dipa, salam dan kaweni.

    Gara-gara pepohonan di pekarangan ini hidup kami jadi berwarna. Tetangga ternyata tidak suka kami membiarkan pohon tumbuh lebat. Semua tetangga menyuruh kami menebang pohon di pekarangan kami karena mereka merasa terganggu.

    Banyak nyamuk, banyak sampah daun, banyak binatang seperti ulat, tupai, dan laba laba yang mereka bilang sangat menganggu, sampai sinyal parabola tidak bagus karena pepohonan kami, dan alasan lain. Baik secara terang terangan maupun lewat sindiran tetangga tidak menyukai adanya pepohonan yang kami jaga itu.

    Gara-gara pohon markisa, kami kurang harmonis dengan tetangga karena tetangga marah marah parabolanya digerayangi pohon markisa kami.

    Gara gara pohon sirsak kami dan tetangga belakang rumah seperti ada perang dingin. Tetangga suka tanpa bilang menebas pohon sirsak kami, padahal berada di tanah kami dan tidak mengganggu ke jalan. Tetangga usil itu sering saya rekam saat menebang pepohonan kami. Suatu saat bermasalah, akan saya perlihatkan rekaman video saat dia memotong pepohonan kami dengan goloknya.

    Gara gara pohon kelapa kami, tetangga berkali kali datang ke rumah katanya kelapa hijau milik kami di sudut pekarangan sudah beberapa kali hampir mencelakai orang lewat. Padahal, kelapa itu jauh di dalam pagar kebun kami. Yang ada justru kelapa muda kami itu tak pernah tersisa karena selalu dicuri orang saat kami sedang tidak ada di rumah.

    Tapi karena pohon pohon di halaman kami juga, kami jadi rujukan orang orang hamil di kampung. Apa pasal? Yang ngidam biasa suka makan buah masam untuk dibuat rujak atau makan begitu saja. Alhamdulillah di kami ada markisa masam, sirsak masam, jambu biji masam, huni, kaweni dan dipa yang ternyata jadi favorit para ibu hamil. Jika berbuah, banyak ibu hamil datang untuk meminta buah-buahan yang sudah terbilang langka itu. Baru ada orang yang mendukung kami supaya mempertahankan pepohonan itu, hehe… Ya karena kebutuhan ngidam mereka terpenuhi dari pohon pohon milik kami. Makanya mereka bersikap manis. Entah kalau di belakang kami, atau pohon pohon itu sudah tidak berbuah lagi…

  5. Pingback: Cerita Pohon | Blogger Kampung Blogger Gunung

  6. Nama: Kitty
    Akun twitter: @womomfey
    Link share: https://twitter.com/WoMomFey/status/710990722036436992

    Ceritakan pengalaman paling berkesan kamu yang berhubungan dengan pohon. Bisa pengalaman seram, menyenangkan, menyedihkan, pokoknya yang berkesan.

    Sejak kecil, mamaku sangat suka memelihara tanaman di halaman rumah kami. Suatu ketika, mama menanam sebuah biji mangga arum manis di halaman rumah kami. Perlu waktu yang cukup lama sebelum akhirnya pohon itu besar dan rindang. Meskipun 5 tahun sudah berlalu, pohon mangga itu tak kunjung berbuah juga. Padahal mama sudah tidak sabar untuk memanen buahnya. Aku sih tidak terlalu perduli soal hal itu, karena buatku, pohon mangga itu cukup mengasyikkan karena papa sudah membuatkan ayunan dari ban bekas untukku dan adik-adikku bermain dibawahnya.

    Siapa anak kecil yang tidak suka main ayunan dibawah pohon yang rindang? Pasti semua suka kan. Begitu juga denganku dan adik-adikku. Sepulang sekolah, kami langsung bermain-main dibawah pohon mangga itu. Terik matahari tak sanggup menembus kerindangan dedaunan pohon itu. Angin sepo-sepoi yang semilir membelai kulit kami terasa menyejukkan hati.

    Sayangnya, selain kerindangan daunnya yang menghibur, pohon mangga itu berulah! Dahannya mulai menabrak atap rumahku dan dikhawatirkan akan merusaknya. Hal ini membuat mama dan papaku memutuskan untuk memotong dahannya. Aku dan adik-adikku yang masih kecil tentu saja tidak terima dengan hal ini. Bagi kami, itu sama saja dengan membunuh sahabat bermain kami. T__T

    Akhirnya kami sepakat berdoa setiap kami sedang bermain-main dibawah kerindangannya. Doa lugu bocah-bocah yang berharap agar pohon mangga itu segera berbuah lebat sehingga mama dan papa akan memaafkannya dan tidak jadi memotong dahannya. Entah kenapa, aku dan adik-adikku begitu serius menyikapi hal ini. Dan ajaib! Sehari sebelum pemotongan dahan dilakukan, pohon mangga itu mulai berbunga! Tentu saja hal ini pertanda baik bahwa pohon ini akan segera berbuah.

    Meskipun sudah merajuk kepada mama dan papa agar pohon mangga yang sudah mulai berbunga itu tidak dipotong dahannya, tetap saja dahan yang menabrak atap rumah kami itu dipotong. Akibatnya, dari bekas potongan itu muncul getah bening kemerahan yang buatku nampak seperti darah. Ya… aku dan adik-adikku sampai menangis melihat penderitaan sang pohon mangga. Ketika dijelaskan bahwa itu adalah getah, barulah kami berhenti menangis.

    Sejak saat itu, pohon mangga kami selalu berbuah lebat setiap tahun. Dan ajaibnya, dahan yang dipotong itu tidak tumbuh lagi. Kami lega karena tidak perlu menebang habis si pohon mangga hanya karena dahannya mengenai atap rumah.

  7. Twitter: @kyoungsaeng

    Saat itu human deras, aku tidur di kamar dekat pohon singkong. Tanah dibuat menggunung tiap pohon tersebut berdiri. Aku lupa jam berapa saat itu, antara mimpi dan nyata, seseorang menggalih tanah tergambar jelas dalam mimpi itu, tapi suaranya menggema di telinga. Ingin membuka mata tapi tak berani. Hal yang membuatku bertahan memejamkan mata karena aku melihat dia mengubur sesuatu.

    Selang beberapa bulan tanah tersebut dibangun rumah, tapi pohon pete yang tumbuh besar di halaman tetap dibiarkan, di depannya ada kamar mandi yang terbuat dari semen. Aku sering takut meski pohon tersebut berbuah pete lebat, favorite kakek. Banyak desas -desus tentang pohon tersebut tapi kami anak-anak tak peduli dan terus bermain di bawah pohon pete itu.

  8. Waktu saya SD, saya dan temen-temen saya bikin semacam operasi menghilangkan kuntilanak dari komplek perumahan kami. Caranya dengan memaku semua pohon yang ada di sekitar komplek (jangan ditiru), sampai akhirnya pohon terakhir, tepatnya pohon damar yang letaknya agak jauh soalnya ada semacam di balik bukit kecil gitu dan di sana gelap. Giliran saya yang memaku, dan begitu sadar saya ditinggal berdua, dan yang lain kabur duluan katanya ada suara-suara. gaje emang XD

    @Fatiah_NM

  9. @emmanoer22

    waktu SMP kelas 1 kali ya suka banget manjat pohon mangga sama jambu dibelakang rumah. Sambil bikin ayunan di antara kedua pohon itu, tiap sore nongkrong dibawah pohon itu sambil main ayunan atau masak-masakan bareng teman-teman, ini masak pake beras beneran dan bumbu-bumbu masaknya hasil comot dari dapur mama untuk buat sayur atau lauknya, cuman alat yang dipake untuk memasak ini yang ajaib yaitu dari bekas kaleng susu ataupun kaleng sarden kecil gitu, tungkunya dibuat dari potongan bata yang gak dipake gak higenis mungkin karena kayak cuman mainan anak-anak tapi momennya gak mungkin bisa balik lagi. Ada juga moment main kasti yang kebetulan depan rumah eyangku memang luas dan banyak pohon, jadi selain masak-masakan untuk yang cewek, biasanya juga main kasti dan base yang dipakai itu pohon-pohon aku masih ingat banget ada 5 pohon untuk base dengan jarak 3-5 meteran tiap base’nya, 2 pohon kapas, pohon jambu air, pohon delima, dan pohon mangga. Kejar-kejaran untuk gak kena bola kasti yang dilempar setelah dipukul jauh. 🙂

  10. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta

    Pernah dapet ‘toh’ di pipi dan lengan bawah pas SD. Ketahuannya sih setelah main petak umpet sama temen-temen di SD depan rumah. Bentuknya yang di pipi seperti telapak tangan tapi agak bulat dengan ujung runcing seperti jari. Yang di lengan panjang seperti telapak kaki dengan ujung runcing juga. Katanya, mungkin mereka yang tinggal di pohon menginjakku saat bersembunyi disana tanpa ijin. Tanda kemerahan itu akhirnya hilang sendiri sekitar 2 minggu. Sejak itu, aku gak berani bertingkah aneh-aneh dan tetep ijin kalau ke tempat tertentu

  11. Pingback: 12 Cara Mempromosikan Buku [Bagian Pertama] | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s