Di Balik Foto Kita

IMG_20150701_165954edit

Dear Mercy Sitanggang.

Dear, masih ingat cerita di balik foto kita? Foto yang memperlihatkanmu sedang memegang novel Hujan Bulan Juni. Foto yang hasilnya buram seakan diambil dari balik kaca berembun itu diambil tanggal 1 bulan Juli tahun lalu, Dear. Pertemuan itu bersejarah buatku. Karena pertemuan itu telah mengembalikanmu padaku.

Dear, tahun lalu aku mengirimi surat yang ternyata malah menyakitimu. Sungguh itu membuatku sedih. Katamu, setelah membacanya, kamu langsung terdiam. Seingatku, berhari-hari kamu membisu. Diammu makin mengundang gelisahku. Sampai akhirnya kita kembali bertukar kata-kata, berterus terang tentang perasaan kita. Namun rupanya luka belum tuntas mengering.

Lama berselang dari sana, raga kita menemu perjumpaan juga. Kala itu, takut-takut aku menghubungimu, meminta pertemuan, tak apa meski singkat. Cukup lama aku menunggu jawabanmu. Betapa hatiku meloncat girang saat kamu mengiyakan. Selama menunggumu, aku mereka-reka seperti apa jadinya perjumpaan kita itu? Akankah kita kembali erat serupa dulu, ataukah jarak akan terus merajai sanubari. Ternyata kamu pun punya kegalauan yang sama. Dalam detik-detik penantian entah berapa kali aku mengecek handphone, cemas kalau-kalau tiba-tiba kamu membatalkan perjumpaan. Betapa leganya ketika kulihat tubuhmu perlahan nampak dari balik eskalator dengan senyum mengembang yang begitu khas di wajahmu.

Awalnya kita terlibat obrolan basa-basi, sepertinya kita perlu jeda untuk sama-sama menenangkan hati. Kemudian kusodorkan kado ulang tahunmu yang terlambat kuberikan. Novel berjudul hujan, karena aku tahu kamu perempuan penggila hujan. Kamu balik menghadiahkanku novel karyamu sendiri. Setelah itulah foto itu diambilkan oleh seorang tak dikenal yang kita mintai pertolongan. Akhirnya lama-lama pembicaraan kita bermuara pada rasa, perbincangan dari hati ke hati. Kamu telah menanggalkan topengmu, kembali menjadi Mercy-ku. Ada beberapa salah paham yang harus kita luruskan. Sejatinya memang masalah tak mungkin kita elakkan dalam persahabatan.

Ada kelegaan menghangatkan hatiku ketika pulang. Aku telah diberi kado ulang tahun lebih awal: Persahabatan kita. Dear, perasaanku makin bahagia saat membaca ucapan terima kasih di novelmu. Katamu, persahabatan kita tak akan pernah jadi fiksi. Kubayangkan kamu menuliskannya di balkon rumah sambil menyesap kopi yang ruapnya seakan membentuk wajahku.

Dear, mungkin di depan nanti, bakal banyak lagi masalah menyambangi kita. Mungkin ada saatnya kamu malas membalas pesan-pesanku, atau mungkin ada kalanya prinsip kita tak bertemu. Namun aku kini telah sangat yakin, persahabatan kita seperti rintik hujan yang saling menguntai. Kekalnya sebanyak jumlah anak-anak rambut di kepalamu. Foto buram kita itulah yang selalu meyakinkanku.

PS: Selamat atas kelahiran anak karyamu yang baru. Kamu selalu dan selalu membuatku bangga.

 

***Surat sebelumnya Jangan Jadi Fiksi

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Di Balik Foto Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s